Fate [7/9]

bhj

Author : Daisy, Flower.

FATE part 7

Genre    : Romance, Comedy, Mystery, Fantasy | Length : Series | Rated    : PG -13 | Cast: ~ Lee Dong Hae ~ Cho Kyu Hyun ~ Kim Hana ~ Kim Hyesa

***

 

Link part sebelumnya :

Part 1 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/04/16/fate-1/

Part 2 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/12/fate-2/

Part 3 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/14/fate-3/

Part 4 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/16/fate-4/

Part 5 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/18/fate-5/

Part 6 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/20/fate-6/

 

Happy Reading…..

 ****

Hana sudah melewati batas kebosanan.

 

Buku-buku lama yang halamannya sudah berwarna kekuningan berserakan dimana-mana. Hana menggali-gali rak bukunya, membuang buku-buku yang ia benci dan menata rapi buku-buku yang ia sayang.

 

Ah… ada satu lagi… Hana menggapai buku yang ada di bagian rak yang paling dalam dan paling berdebu. Ia menariknya perlahan, merasakan betapa lemas dan rapuh buku yang ia pegang.

 

Saat ia selesai menarik buku tersebut ia mengusap debu dari buku itu dan menahan diri agar tidak bersin. Ia melihat judulnya.

 

‘The Summoner’

 

Dengan jantung yang berdegup kencang Hana membuka bukunya, ke halaman pertama.

 

Entry 1 : Pertemuan Dengannya

 

Namaku Jung Soohyun. Aku seorang manusia biasa di antara manusia-manusia biasa lainnya. Tetapi beberapa hari yang lalu aku menemukan manusia yang tidak begitu biasa.

 

Aku baru saja pindah dan aku tidak tahu apapun, tetapi detik kita sampai tetanggaku yang baru langsung mengatakan bahwa aku tidak boleh masuk ke hutan di atas lembah yang tidak jauh dari sungai.

 

Kenapa? Tadinya kukira ada hewan buas. Tetapi ternyata saat aku menyelinap aku menemui sebuah rumah kecil. Rumahnya sangat kecil, tetapi tetap terlihat mewah dan penuh kehidupan.

 

Aku menemui seseorang disana.

 

Ia sedang melipat kertas-kertas menjadi bentuk burung. Tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa dengan kata-kata yang dia ucapkan lipatan kertas itu bisa menjadi burung sungguhan!

 

Hanya dengan kata-kata ‘Live’ dan ucapan bahasa lain yang tidak kukenal ia dapat membuat kertas burung itu benar-benar terbang ke angkasa!!

 

Lalu ia meletakkan tangannya ke tanah dan mengangkatnya, tanahnya bergerak dan membentuk rupa manusia. Tanahnya mengeras dan mengelupas, menghasilkan rupa manusia!!

 

Aku saja tidak percaya! Aku sempat berfikir bahwa aku bermimpi, tetapi tidak!

 

Aku mendengarnya berkata pada manusia tanah itu.

 

“Kau sudah menunggu lama ya?”

 

Manusia itu tidak menjawab dan hanya menatap orang itu dengan wajah kosong.

 

“Kau harus kuberi nama…” Ia melihat ke sekitarnya dan melihat sebuah kupu-kupu tidak jauh darinya. Lalu manusia tanah itu bergerak mendekati serangga itu.

 

“Kupu-kupu?” Ucap orang itu, masih fokus pada manusia tanah, “Cho. Bahasa jepang ‘kupu-kupu’”

 

Manusia tanah itu berputar menghadap ‘pesulap’ itu dan membuka mulutnya, “Kyuhyun.” Ucapnya.

 

“Cho Kyuhyun?”

 

Manusia tanah itu tidak bereaksi dan hanya menatap orang yang membangkitkannya.

 

“Baiklah Cho Kyuhyun,” Ucap sang pembangkit, ia menjabat tangan Kyuhyun, “Aku temanmu.”

 

Aku tidak berani berada di dekat mereka terlalu lama, jadi aku langsung melarikan diri. Rasanya sangat tidak mungkin ini terjadi.

 

Apakah ada orang yang akan mempercayaiku? Apa pembaca buku ini pada generasi yang akan datang akan meyakini kebenaran yang aku beritahu ini?

 

Tidak perduli jika pembaca berikutnya ini percaya atahu tidak, buku ini akan menjadi catatan pribadiku tentang pembangkit itu.

 

‘The Summoner’

 

BRAK

 

Bunyi pintu yang dibanting menyadarkan Hana dari bacaannya.

 

“Hye-chaan?”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Kyu.”

 

Lelaki itu membuka matanya perlahan. “Hae…”

 

Donghae yang berdiri dan menunduk untuk melihat Kyuhyun yang tiduran di tanah tidak memberikan senyuman seperti biasanya.

 

“Kau meninggalkan tubuh perempuan malang itu tergeletak di gang.”

 

Kyuhyun memejamkan matanya dan mencubit batang hidungnya, “Ah…”

 

Suara deringan hp tidak jauh dari mereka membuat Donghae pindah fokus dan beranjak menuju tas Kyuhyun yang dilempar olehnya tidak lama sebelum Donghae datang.

Lelaki itu membuka tas Kyuhyun tanpa memegang tas itu sendiri, sebuah hp melayang keluar dari tas menuju tangan kanan Donghae.

 

“Hana?” Ucap Donghae yang melihat nama pemanggil yang tertera di layar hp temannya. Ia tidak menjawab panggilan itu dan menaruh kembali alat elektronik itu ke dalam tasnya.

 

Kyuhyun tidak bereaksi sedikitpun, bahkan saat Donghae duduk di sebelahnya dan menyodorkan minuman darahnya lelaki itu tetap tidak bergerak.

 

“Hyesa…” Bisik Kyuhyun lemah, ia merasa matanya memanas. Tenggorokannya seperti diikat dan rasa sakit di bawah dadanya membuatnya tidak tahan lagi.

 

Ia menangis.

 

Donghae menatap temannya. Ekspresi dingin menghias wajahnya.

 

“Payah kau.”

 

Lelaki itu mengangguk, air matanya mengalir lebih deras.

 

“Kau mengerti sekarang?” Tanya Donghae yang sekarang menatap langit malam, “Betapa mudahnya seorang wanita dan rasa cinta dapat melumpuhkanmu. Membuatmu begitu rentan.”

 

Kyuhyun tidak ingin mendengarnya. Tetapi ia tidak kuat menaikkan tangannya untuk menutup telinganya. Lumpuh.

 

“Tetapi pada saat yang bersamaan…” Kali ini Donghae menatap temannya yang malang dan mengusap keningnya, “… Kau merasa bahagia kan?”

Kyuhyun tidak membalasnya. Ia hanya menaruh tangannya yang lemah di atas tangan Donghae di keningnya.

 

Aku tidak ingin kehilangannya

 

Donghae mengangguk, “Maka berjuanglah untuknya.”

 

Bagaimana? Aku tidak tahu caranya

 

Donghae mengeluarkan suara tawa yang kecil, “Susah sekali kau ini. Kau tidak perlu tahu. Rasakan saja, instingmu akan membantu.”

 

Tapi jika instingku salah?

 

Donghae melepaskan tangannya dari pegangan temannya, “Aku akan menolongmu, tenang saja.”

 

Donghae mengambil hp dari celananya dan menghitung mundur. “5…4…3..2..”

 

Saat itu juga hp-nya berdering. Nama yang baru saja tertera di layar hp Kyuhyun sekarang tertera di layar hpnya sendiri.

 

“Yak. Na~Ya sepertinya sangat khawatir.” Hela Donghae, “Aku harus pura-pura tidak tahu.”

 

Donghae menerima panggilan itu dan menjawab dengan senyuman innoncent, “yeoboseyo?”

 

“Oppa kita harus berbicara.”

 

Senyuman langsung terhapus dari wajah Donghae saat ia mendengar intonasi Hana. Ia menatap Kyuhyun sambil menjawab dengan suara sepolos mungkin, “Tentang apa?”

 

“Temui aku di smile cafe. Tolong oppa. Ini penting.”

 

Tanpa basa basi lebih lanjut telfon langsung berakhir dan Donghae membatu. Ia tetap menatap Kyuhyun dengan panik.

 

“Kyu…”

 

Kyuhyun sudah tidak lagi mengeluarkan air mata dan membalas tatapan temannya. “Dia tahu?”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Plak!

 

“Aduh!”

 

Donghae yang baru saja menginjakkan kaki ke dalam cafe merasa tamparan yang kuat di pipinya.

 

Ia melihat pelakunya.

 

Hana.

 

“Wae?!” Teriak Donghae dengan marah sambil memegang pipinya.

 

Hana tidak menjawab dan menarik kerah Donghae untuk mengikutinya keluar. Orang-orang yang di dalam cafe hanya dapat menatap bingung dan takut melihat perempuan yang begitu garang.

 

Salah satu orang di dalam cafe itu tidak sengaja keceplosan, “Dia bukannya yang mau jadi dokter itu ya?”

 

Semua orang berekspresi heran.

 

“Kalau dia jadi dokter aku tidak ingin berobat kepadanya…”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Ia tidak benar-benar tertidur.

 

Ia hanya merebahkan badannya dan menutup matanya agar Hana dapat tenang dan pergi bertarung seperti seorang ayah yang memperjuangkan anaknya.

 

Terkadang Na~Ya bisa menjadi lebih macho dari lelaki ya…

 

Hyesa merasa bibirnya membentuk senyuman kecil saat membayangkan jika Hana benar-benar menjadi lelaki.

 

Mungkin selama ini Hana jomblo karena saat ia sedang bersemangat ia membuat kehormatan seorang lelaki hancur berkeping-keping.

 

Saat SMA Hyesa pernah dibully karena bahasa jepangnya yang salah-salah dan ia tidak bisa bergaul dengan baik bersama teman teman kelasnya yang lain.

 

Saat itu ia tidak bisa terlalu dekat dengan Hana karena Hana sering dipanggil guru ke sana kemari entah untuk alasan apa.

Jadi biasanya ia akan duduk sendirian.

Hingga suatu saat seorang lelaki mendatanginya dan menyatakan perasaannya.

 

Dengan hati yang berat Hyesa menolak lelaki itu dan keesokan harinya ia diperintahkan untuk tetap di kelas saat pulang sekolah oleh beberapa orang karena ingin menyelesaikan tugas kelompok.

 

Tetapi yang datang hanya segerombolan lelaki yang memiliki niat yang aneh-aneh.

 

Saat itu Hyesa merasa benar-benar pasrah akan keadaan. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia sempat berfikir bunuh diri adalah satu satunya jalan keluar. Ia sempat berfikir bahwa tidak apa-apa jika ia mati. Tidak akan ada yang peduli.

 

Tetapi saat itu Hana masuk ke dalam kelas dan menghajar mereka dengan nyali yang menyaingi sepuluh pria sejati.

 

Tentu saja ia kalah dan akhirnya berdarah-darah. Tetapi ia mengancam mereka.

 

“Jika kalian tidak berhenti aku akan teriak!! Guru-guru akan menemui kalian!! Dan jika aku sudah kalian bunuh setelah itu, setidaknya aku akan mati mengetahui masa depan kalian akan tercoreng!!”

 

Hyesa merasa air matanya bercucuran kembali. “Na~Ya…”

 

Ia memeluk bantal kecil di atas sofa yang sedang ia tiduri itu. Terbayang wajah Kyuhyun yang tersenyum padanya. Baunya. Kehangatannya.

 

“Na~Ya… Jangan apa-apakan dia…” Bisik Hyesa.

 

Wajah Kyuhyun berubah menjadi sosok monster. Matanya merah. Wajahnya penuh dengan darah yang bukan merupakan darahnya sendiri.

 

Adegan itu terus berputar dalam kepalanya.

 

Hingga ia tertidur. Membawa ingatan itu kedalam alam bawah sadarnya.

 

Aku tidak mengenalmu…

 

Click.

 

Pintu depan terbuka.

 

Click.

 

Lalu tertutup lagi.

 

Tidak ada suara hentakan kaki. Tidak ada suara angin.

 

Tetapi Kyuhyun sudah berdiri di hadapan perempuan yang tertidur itu. Ia melihat Hyesa berputar-putar pindah posisi. Ia tidak tenang.

 

Kyuhyun duduk di depannya. Dengan pelan ia menyentuh kepala Hyesa dan memijatnya pelan. Ia mengelus kepalanya, menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Sampai Hyesa diam dan terlihat nyaman.

 

“Chagi…” Ucap Kyuhyun pelan. Tangan kirinya bersiap di bawah lutut Hyesa, “Seharusnya kau tidak tidur disini.”

 

Dengan mudah ia mengangkat tubuh Hyesa yang kecil dan membawanya ke kamarnya.

 

Ia meletakkan Hyesa di atas tempat tidurnya dengan pelan. Seperti seorang pangeran meletakkan putrinya.

 

Kyuhyun menarik selimut untuk menutupi badan Hyesa lalu duduk di sampingnya. Ia mendengar Hyesa menggumam.

 

“A….A…”

 

Seakan mengerti Kyuhyun mengusap badannya dari selimut, “Hana belum kembali, chagi…”

 

Sekali lagi Kyuhyun mendengar Hyesa menggumam dan ia mendekatkan telinganya untuk mendengar lebih jelas.

 

“Pa…Op…pa…”

 

Seribu pedang menusuk jantung Kyuhyun saat ia mendengarnya.

 

Dengan mata yang memerah ia tersenyum dan mengecup pipi Hyesa, “Oppa disini…”

 

“Maafkan aku chagi… Tapi izinkan aku di sini sebentar…”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Aku ingin memiliki Hyesa…”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Na~Ya…”

 

“Jangan panggil aku itu Donghae”

 

Lelaki itu merasa tersinggung. Berani-beraninya adik kelasnya sendiri memanggilnya dengan tidak formal. Tetapi ia tidak bisa melawan dari tarikan Hana.

 

Lebih tepatnya tidak ingin melawan.

 

Hana berhenti sesampainya di taman tempat mereka kencan untuk pertama kalinya. Ia menguatkan pegangannya pada kerah Donghae dan menariknya agar wajahnya tepat di depan wajah Hana.

 

“Donghae” Mulai Hana dengan suara yang agresif, ia melihat tangannya yang bebas mengepal, “Jelaskan segalanya.”

 

“Jelaskan…apa?” Donghae melihat mata Hana yang memancarkan betapa marahnya dirinya. Tetapi Donghae mengetahui bahwa Hana tidak marah padanya.

 

Dengan kekuatan yang dimilikinya, Hana mendorong Donghae hingga ia hampir jatuh terduduk.

 

“Oppa!” Teriak Hana dengan nada tidak sabar, “Jangan pura-pura tidak tahu!!”

 

“Aku tidak tahu apa-apa!” Balas Donghae, ia melihat Hana menggeram lalu mendekatinya. Dengan cepat ia langsung menahan tangan Hana yang hendak menarik kerahnya lagi.

 

“Oppa! Jangan mengulur-ulur waktu!” Hana tetapi berusaha melepaskan pegangannya, matanya terasa panas.

 

“Aku tahu apa yang terjadi! Aku bisa mengira-ngira! Tapi aku tidak terima jika oppa berbohong!”

 

Donghae yang semakin mundur merasakan punggungnya mengenai pohon. Apa yang harus kulakukan?!

 

“Aku tahu oppa mengetahui sebab Hyesa menangis!! Aku tahu oppa ingin menyembunyikannya!! Aku mengerti Oppa pasti membela Kyuhyun sunbae!!”

 

“Apa yang kau tahu?! Hah?!” Balas Donghae dengan suara yang keras. Menandingi perempuan yang sekarang terdiam kaget mendengar suaranya.

 

“Kau tidak tahu apa-apa!!” Donghae menguatkan pegangannya pada kedua pergelangan tangan Hana, “Jangan sok tahu!! Kau tidak mengerti apapun, dengar itu?!”

 

Hana seperti kehilangan kata-kata melihat Donghae memarahinya kembali. Hana hampir menyerah tetapi bayangan Hyesa yang menangis kembali memasuki pikirannya.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Hye-chan tidak usah khawatir, OK? Lelaki yang tadi tidak akan mengganggumu selagi aku ada di sini! Guru-guru sudah kuberi tahu kok!”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Rasa marah yang membara kembali menguatkan perempuan itu. Hana kembali mendorong tangannya menuju kerah Donghae, matanya yang memanas sudah mulai berair.

 

“Kau juga tidak mengerti apa-apa!!”

 

Donghae melepaskan tangan Hana dan mendorongnya menjauh. “Memang!! Lalu apa?! Kau maunya apa?!”

 

“Aku mau kebenaran!!” Ucap Hana lantang, ia berdiri tegap, raut wajahnya seperti seorang pejuang,

“Beritahu aku. Kyuhyun sunbae itu apa?”

 

Donghae terdiam.

 

“Jadi kau bukan kesini untuk menanyakan kenapa Hyesa menangis?”

 

Pertanyaan yang menghancurkan suasana.

 

Hana menghela dan memijat keningnya yang terasa pusing, “Dari tadi… aku sudah menamparmu dan menarik kerahmu dan mendorongmu… lalu ini yang kau balas?”

 

“Memang kenapa?”

 

Dengan rasa kesal Hana melepaskan sendalnya dan melemparnya ke arah Donghae yang menghindar, “Yak!!”

 

Hana menghembus nafas dengan pelan, “Maafkan aku oppa, aku tidak bisa menahan diri.”

 

Donghae hanya membalas itu dengan tatapan sinis.

 

“Aku tahu Kyuhyun sunbae tidak akan sekeji itu, aku tahu ia tidak akan melakukan apapun yang jahat pada Hye-chan.” Mulai Hana dengan kesal, mencoba untuk sabar, “Pasti Hye-chan melihat sesuatu.”

 

Donghae memilih untuk diam, membiarkan adik kelasnya meneruskan.

 

“Lalu…”

 

Hana memegang tas kecilnya dengan erat untuk merasakan buku harian yang tua. Ia memasukkan tangannya ke dalam tas kecilnya dan memperoleh 3 origami putih berbentuk burung.

 

Mata Donghae membesar. Tangannya terasa gatal.

 

“Oppa tahu ini apa?”

 

“Origami burung.” Jawabnya dengan cepat.

 

Hana mengangguk dan mengeluarkan 3 pisau kecil dari tasnya.

 

“Na~Ya, jangan aneh-aneh.”

 

Hana menggeleng dan memasukkan ketiga pisau ke dalam origami burung. Ia meletakkan ketiganya di tanah lalu mengeluarkan satu pisau yang besar.

 

Sekali-sekali Hana menyempatkan diri menatap Donghae yang terlihat tidak nyaman. Ia memerhatikan gerakan bola matanya. Jari-jari tangannya. Cara berdirinya.

 

Apakah ini benar?

 

Hana memposisikan ketiga origami burung dan mengangkat pisau yang paling besar ke atas salah satu origami.

 

“Na~Ya. Kau aneh. Sedang apa sih?”

 

Hana tidak mendengarkannya. Ia duduk di hadapan ketiga origami itu dan memegang pisau agar menghadap ke arah salah satu origami.

 

Dengan cepat ia langsung menusuk burungnya. Lalu menaikkan piasu untuk menusuknya kembali. Berulang-ulang sampai 5 kali.

 

Donghae tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Perempuan di depannya sudah benar-benar gila!

 

Setelah selesai Hana mengangkat pisaunya ke atas origami yang kedua, “Ini akan berakhir dengan cepat jika oppa langsung berkata yang jujur.”

 

“Mwo?! Aku tidak mengerti apa-apa!” Donghae mengangkat kakinya untuk beranjak ke posisi Hana tetapi terdiam saat Hana sudah bersiap menikam origami yang kedua.

 

Srak! Srak! Srak! Srak! Srak!

 

Hana mengambil pisau dalam origami kedua dan membuangnya, lalu ia menghadap origami yang terakhir.

Tanpa berfikir dua kali Hana langsung menancapkan pisaunya ke dalam origami terakhir. Tetapi saat mencoba menarik pisaunya kembali ternyata pisaunya tidak bisa dikeluarkan.

 

Seperti ada yang lengket.

 

Hana menatap Donghae yang membatu. Matanya tertuju pada origami yang Hana pegang.

 

Perempuan itu menarik pisaunya dengan pelan dan akhirnya dapat mengeluarkannya dari origami.

 

Tetapi ujung pisaunya dinodai cairan merah.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Hati yang setajam pisau.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Hana terkagetkan. Ia melihat ke arah Donghae lalu kembali ke origami itu sebelum perlahan membuka origami di hadapannya yang bagian dadanya telah berwarna merah akibat cairan apapun itu yang ada di dalamnya.

 

Bukannya menemukan pisau kecil. Ia menemukan sebuah jantung yang masih berdetak dengan luka bekas tikaman pisau.

 

Hana tidak bisa bernafas.

 

Tidak…mungkin…

 

Tiba tiba suara kepakan sayap keluar dari tas Hana. Ia melihat ke belakangnya dan melihat sekilas warna putih melintas dan menuju angkasa.

 

Mata Hana membesar, tubuhnya gemetar.

 

Aku memang menyimpan satu origami di dalam tasku…

 

“Sociopath macam apa kau ini?” Tanya lelaki itu.

 

Hana menatap Donghae. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Tetapi Hana dapat melihat tanda-tanda kemarahan padanya.

 

Alisnya. Matanya. Caranya berdiri.

 

“Aku tidak percaya… Benar-benar ada…” Hana melepaskan piasunya,“Suge…”

 

Donghae memalingkan wajahnya untuk melihat ke angkasa. Datanglah burung origami kepadanya dan mendarat tepat di atas bahu kirinya.

 

Lelaki itu tetap tidak ingin menatapnya, matanya tertutup oleh tangan yang meraba keningnya, “Kau ingin tahu apa? Ha?”

 

Dengan hati yang berdebar kencang Hana menatap Donghae mantap. Hana memegang tasnya erat untuk merasakan buku Jung Soohyun lagi, untuk memastikan apapun yang terjadi di sini bukanlah mimpi.

 

“Kyuhyun sunbae.” Ucapnya pelan.

 

“Aku ingin tahu tentang Kyuhyun sunbae.”

 

Aku ingin menyimpan keingintahuanku tentang Oppa untuk sementara ini.

 

Saat datang waktunya aku akan bertanya. Dan kau akan menjawab. Ne, Oppa?

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Kau memanggilku?”

 

Donghae mengangguk, ia menunjuk ke arah perempuan yang masih terduduk memperhatikan jantung kecil di telapak tangannya dengan dagunya.

 

Kyuhyun mengangguk dan jalan ke arah perempuan itu. Ia melihatnya mengangkat wajahnya.

 

“Hana.”

 

Perempuan itu tidak menjawabnya, ia hanya menatapnya. Jantung kecil di tangan kanannya ia remas hingga darah keluar dan jantung itu terlihat keunguan.

 

“Aku bukan manusia. Aku yakin kau tahu itu sekarang?”

 

Hana tidak berubah, ia hanya berkata dengan suara lemah, “Tidak usah basa-basi.”

 

Kyuhyun tersenyum.

 

“Jangan kaget.”

 

Dalam waktu 5 detik Hana terkapar di tanah dengan wajah pucat pasi

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Rasanya memalukan ditarik-tarik seperti anjing.”

 

Donghae tersenyum, membiarkan lengan bajunya ditarik oleh perempuan berjiwa ahjumma (setelah sadar Hana langsung menarik Donghae dan Kyuhyun) yang galak untuk menuntun mereka pulang. Ya

 

Ke apartemen Hyesa, lebih tepatnya.

 

“Berhenti mengeluh. Ahjumma nanti marah…” Balas Kyuhyun pelan.

 

Hana yang bermuka merah menatap mereka dengan kesal dan menggenggam lengan baju mereka lebih erat seraya menarik mereka untuk mempercepat perjalanan.

 

“Hayaku…” (Cepatlah)

 

“Kyu, ahjumma berbahasa alien lagi.”

 

“Ahjumma, kita tidak bisa mengertimu.”

 

Hana yang semakin memerah karena olokan mereka dengan spontan menjawab kembali dengan bahasa jepangnya.

 

“Fuyukai desu!” (Kalian menyebalkan!)

 

“Apa? Fuyunghai?”

 

“Apa kita akan makan-makan ahjumma?”

 

Kedua lelaki cekikikan melihat Hana yang mulai berbicara cepat dengan bahasa jepangnya dengan suara agresif dan mencubit lengan mereka.

 

“Seriuslah sedikit!” Ucap Hana akhirnya dengan bahasa korea (walau masih dengan logat jepangnya).

 

“Syukurlah ahjumma sudah kembali normal.” Balas Donghae. Hana mengeraskan cubitannya, menyebabkan lelaki itu meraung kesakitan (walau masih tertawa) dan meminta ampun.

 

“Hae, kasihanilah dia, sudah susah payah menolong kita,” Dukung Kyuhyun, Hana langsung melepaskan cubitan pada lengannya dan Kyuhyun tersenyum licik.

 

“Dia kan sudah tua renta.”

 

Perjalanan menuju apartemen Hyesa dipenuhi oleh teriakan kesakitan.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Hyesa terbangun.

 

Ia memegang kepalanya, mengingat-ngingat mimpi buruk yang baru saja menguasai alam bawah sadarnya.

 

Wajah Kyuhyun yang kesakitan. Meraung. Matanya merah. Wajahnya penuh darah.

 

Ia melihat wajah Donghae, sunbaenya sendiri berdiri tidak jauh dari kekasihnya tanpa atasan baju. Dadanya bolong dan dialiri oleh darah.

 

Lalu ia melihat dirinya sendiri. Terperangkap dalam sangkar burung, tidak bisa bebas. Ia berteriak ketakutan melihat kekasihnya menghampirinya dengan mulut terbuka, menunjukkan taringnya yang tajam dan berdarah-darah.

 

“ Aku lapar…” Ucapnya dengan suara rendah, hembusan nafasnya melewati gigi dan lendirnya yang penuh darah.

 

Hyesa tidak bisa bergerak menjauh dari lelaki itu. Kyuhyun menggapai ke dalam sangkar, menyebabkan Hyesa berteriak lebih keras dan berusaha mendorong tangannya yang berkuku panjang seperti macan agar tidak menyentuhnya.

 

“Oppa!! Oppa!!”

 

Mengapa yang dipanggil Oppa?

 

Padahal pria yang di hadapannya ingin memakannya hidup-hidup.

 

Ia melihat Donghae menatapnya, seringainya seperti hyena buas. Ia menunjukkan sesuatu di telapak tangan kirinya.

 

Jantung.

 

‘Jantung Hana…?’

 

‘Saat pisau menancap kulit seputih salju, kesucian kulit itu terganggu bukan?’

 

“Oppa!!!”

 

Hyesa menutup matanya, jantungnya berdegup kencang.

 

‘Semua mimpi pasti memiliki arti.’

 

Perempuan itu merasakan matanya memanas. Ia memegang erat selimutnya dan menutupi tubuhnya yang terasa begitu rentan dengan emosi.

 

Air matanya jatuh, satu per satu. Ia merasa begitu keji, menganggap kedua sunbaenya sejahat iblis.

 

“Aku payah… Hanya menangis di sini…” Bisiknya dengan suara yang lemah. Ia mengusap kedua matanya dengan selimut dan merebahkan badannya lagi.

 

Ia sendiri lagi.

 

Seperti sebelumnya, ia selalu sendiri.

 

Terbiasa dengan rasa hampa

 

Hyesa melepas selimut dari genggamannya dan beranjak menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Matanya yang merah pasti akan membuat Hana bertanya-tanya saat ia pulang.

 

Ia menyalakan lampu kamar mandi dan menyalakan keran. Suara air yang mengalir mengingatkannya pada suara sungai.

 

Hyesa menutup keran itu kembali, merasakan bibir bawahnya bergetar.

 

“Oppa… Aku hanya bermimpi kan? Tidak mungkin ini benar…”

 

Sekali lagi Hyesa memberanikan diri untuk menyalakan keran tanpa menghiraukan suara air dan dengan cepat membasuh wajahnya dengan air yang dingin.

 

Ding. Dong.

 

Hyesa mengangkat wajahnya. Suara bell apartemennya membuatnya menutup keran dan segera mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.

 

Ding. Dong. Ding. Dong.

 

“Yaa.. Tunggu!” Seru Hyesa yang mengganti pakaiannya.

 

Sekali lagi terdengar bunyi bell dan Hyesa sudah berada di depan pintu, tangannya yang lincah membuka kunci satu persatu.

 

Tangannya hendak membuka pintu saat pintu terbuka dari luar.

 

“Na~Ya?”

 

Tapi yang terlihat bukanlah wajah perempuan yang ia kenal. Melainkan wajah seseorang yang membuangnya jauh kembali ke dalam nostalgia.

 

“…Kau?”

 

TBC

Disclaimer : Kyuhyun dan Donghae adalah milik kedua orang tua mereka, ELF dan SM. We own nothing kecuali OC yang gaje.Ini hanyalah Fanfiction belaka. Don’t plagiat, Don’t Bash dan kami mengharapkan komen dan likenya ya Guys… Gomawo^^

Catatan Author : Annyeong semua~ gak kerasa udah setahun kkkk. Buat yang nungguin FF ini mianhe, baru bisa di publish. Karena tau lah penyakit2 author itu kkk. Sebagai gantinya part end nya sudah selesai yeay!!! Selama menikmati \(‘0’)/

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: