Fate [8/9]

bhj

Author : Daisy, Flower.

FATE part 8

Genre    : Romance, Comedy, Mystery, Fantasy | Length : Series | Rated    : PG -13 | Cast: ~ Lee Dong Hae ~ Cho Kyu Hyun ~ Kim Hana ~ Kim Hyesa

***

Link part sebelumnya :

Part 1 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/04/16/fate-1/

Part 2 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/12/fate-2/

Part 3 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/14/fate-3/

Part 4 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/16/fate-4/

Part 5 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/18/fate-5/

Part 6 : https://superjuniorff2010.wordpress.com/2015/06/20/fate-6/

Happy Reading…..

 ****

 

Donghae melihat Hana mondar-mandir tidak karuan. Kyuhyun berdiri di tempatnya tidak bergerak sedikitpun.

 

Ia melihat di sekelilingnya.

 

Sudah tidak dipertanyakan lagi. Batinnya, dengan simpati menatap Hana yang semakin panik dengan tiap detik yang berlalu.

 

“Kyu?”

 

Temannya yang diam melihat Donghae yang menatapnya dengan ekspresi yang keras, “Hae, apa yang terjadi?”

 

“Hye-chan!!”

 

Suara Hana menggema di apartemen mereka yang kecil, membuat jantung kedua pria berdegup lebih kencang.

 

Suara Hana yang menjadi lebih melengking dan serak membuat bulu kuduk mereka naik. Seolah pikiran Hana terpancar melalui suaranya ke dalam otak mereka.

 

Hyesa dimana?

 

Tidak mungkin Hyesa pergi sendiri kan? Atau di ke supermarket?

 

Jangan sampai apa-apa terjadi padanya, Tuhan!

 

Hana yang sudah selesai membalikkan seluruh apartemen mengambil hp-nya dan memencet speed-dial Hyesa.

 

Tidak dijawab.

 

Hana merasa wajahnya semakin memanas, matanya berair. Tuhan, jangan sampai apa-apa terjadi padanya! Tuhan, tolonglah!

 

Sekali lagi Hana mencoba menelfonnya, Donghae dan Kyuhyun berdiri di depannya, dengan tangan yang mengepal.

 

Tuut… tuut…

 

“Hye-chan… Jawablah…” Pinta Hana dengan tangisan. Ia tidak bisa membayangkan adiknya sendiri dalam keadaan buruk.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Na~Ya, tidak usah repot-repot membelaku… Aku baik baik saja…”

 

Hana yang berdarah-darah menatap Hyesa dengan bingung, “Baik-baik saja? bajumu robek-robek seperti itu dan kau mengatakan kau baik-baik saja?”

 

Hyesa tidak membalasnya dan menunduk. Hana melanjutkan.

 

“Selama aku disini aku tidak akan meninggalkan Hyesa sendiri, mereka akan kabur, aku sudah mengatakan pada guru-guru.”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Maafkan aku Hyesa…

 

Tidak ada jawaban dari panggilan Hyesa.

 

Hana terduduk lemas di lantai, tidak dapat lagi menahan air matanya, “Ya tuhan… Semoga Hyesa tidak apa-apa…”

 

Donghae tidak dapat menatap perempuan itu. Ia melihat ke arah lain, mencari-cari tanda.

 

Kyuhyun merasa dirinya bersalah. Karena ulah dialah yang begitu ceroboh Hyesa bisa berada dalam situasi ini.

 

“Mungkin ia hanya ke supermarket…” Ucap Donghae, mencoba meringankan suasana, “…Kita… tidak bisa menarik kesimpulan begitu saja…”

 

Hana menatap kakak kelasnya, air mata masih mengalir di pipinya, “Ia tidak mengganti baju menjadi baju pergi, ia hanya mengganti piyama…” Ucap Hana pelan.

 

“Ia tidak membawa dompet, jeansnya masih digantung…” Hana mulai terisak, “Pintunya dibuka dari luar karena gagangnya berminyak saat kita datang…” Suaranya tertahan dan Hana berhenti berbicara.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Mata Hana membesar, ia melihat ke arah Kyuhyun yang juga memberikan ekspresi kaget. Hana tersenyum, “Ah… Hyesa!” Ucapnya dengan bahagia.

 

Kedua kakak kelasnya langsung memposisikan diri di belakang Hana untuk melihat nama yang tertera di layar hp-nya. Dalam satu detik itu, rasa terbodohi mengisi hati mereka dan Hana memencet ‘terima’.

 

Dan dalam detik itu juga rasa bahagia mereka dihancurkan.

 

Di dalam layar hp Hana terlihat latar yang terangnya samar-samar. Terdengar suara gesekan yang keras. Seperti meja yang didorong di atas lantai.

 

Tiba-tiba terlihat bayangan seorang perempuan yang duduk di kursi. Ia terlihat seperti mencoba berdiri. Terlihat tali yang mengikatnya ke kursi. Terlihat lakban yang menutup mulutnya.

 

Kyuhyun merasa dadanya tertikam. Matanya membelalak. Ia merebut hp dari tangan Hana dan mencoba melihat lebih jelas, “HYESA!”

 

Perempuan yang terduduk berhenti bergerak dan menengok ke arah kamera. Ia menunduk.

 

“HYESA! JAWAB AKU!” Kyuhyun tidak dapat memercayainya, matanya memerah, “CHAGI? CHAGI APAKAH ITU KAU?”

 

Bibir bawah Hana bergetar, ia juga tdak bisa mempercayainya. Ia menggenggam bajunya dengan tangannya yang berkeringat. Melihat Kyuhyun yang mulai gemetar hebat Hana tidak kuat untuk melihat layar hp-nya.

 

“Ketahuan ya?”

 

Suara yang menjawab dari sisi lain mengagetkan mereka.

 

Bagi Hana, suara itu merupakan suara yang menariknya kembali ke dalam amarah yang dalam.

 

“Siapa itu? Ah? Kekasih barumu ya?” Tanya suara itu, ia tertawa dan video bergoyang.

 

“Dan itu? Ah iya, Hana-chan~” Ia menyebut nama Hana dengan nada yang menjijikan. Hana mengigit lidahnya.

 

“Apa kabar~? Dirimu tidak berubah sama sekali ya~!”

 

Hana mengepal tangannya, “Jung Taekwoon.” Ludahnya, namanya terasa seperti narkoba yang pahit di atas lidahnya.

 

Taekwoon tertawa, “Kau masih mengingatku? Wah, aku merasa terharu~”

 

“Kau, setan, menjijikan!” Teriak Hana seraya mendekatkan diri ke hp-nya yang berada di genggaman Kyuhyun yang tercampur dengan rasa marah dan bingung.

 

“Dari awal aku menemuimu, sampai sekarang!” Hana benar-benar teriak sekuat tenaganya, mukanya yang semakin merah oleh emosi membuatnya tampak begitu sangar, “MAKHLUK HINA!”

 

Kyuhyun menatap kembali layar hp, tidak kalah marah dengan Hana, “Apa yang kau lakukan pada gadisku?!”

 

Taekwoon yang ketawa cekikikan berhenti. “Gadismu?” Ulangnya dengan nada tak sudi.

 

“Akan kutunjukkan apa yang akan kulakukan pada ‘gadismu’”

 

Video bergoyang lagi, Taekwoon meletakan hp di atas lantai. Terlihat wujudnya yang muncul di hadapan Hyesa dalam video itu dengan tangan kanannya yang diangkat.

 

Dengan cepat tangannya mengenai pipi Hyesa.

 

PLAK!

 

Kyuhyun menggeram, “CHAGI!!”

 

Sekali lagi Taekwoon mengangkat tangannya untuk memukul perempuan itu.

 

Kyuhyun tidak kuat lagi. Hp di genggamannya sudah hancur.

 

Pipi yang seputih porcelain, yang seharusnya diraba dengan sayang. Kulitnya yang hangat yang begitu dirindukannya.

 

Panas.

 

Rasanya panas.

 

Donghae menatap temannya yang terdiam. Giginya sudah bukan gigi manusia. Matanya sudah tidak cokelat hangat. Jari-jari tangannya yang indah sudah berubah wujudnya.

 

Menjadi iblis yang begitu mengerikan.

 

Kyuhyun membalikkan badan untuk menghadap necromancer (semacam penyihir) yang terdiam. Suaranya berubah menjadi suara monster yang rendah dan serak.

 

“Dimana?!” Tanyanya, amarahnya terpantul dari matanya yang merah darah.

 

Donghae meraba kepalanya. “Tidak terlalu jauh. Gudang mannequin. Dekat perkampungan lama.”

 

Hana tidak ingin menanyakan apa yang terjadi, dengan tangan yang gemetar ia mengambil kunci mobilnya.

 

Kyuhyun merebutnya dari tangan perempuan itu dengan kukunya yang panjang, menggesek permukaan kulit tangan Hana.

 

Ia menarik kerah Donghae dan mengajaknya lari keluar “Cepat!”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

“Maafkan aku,” Ucap Taekwoon dengan lembut seraya mengelus pipi Hyesa yang merah, “Tidak semestinya aku melakukan ini padamu.”

 

Perempuan itu tidak bisa bergerak sedikitpun, air matanya yang asin mengenai kulit pipinya yang merah. Rasanya perih.

 

“Ah… seharusnya aku tidak memukulmu dengan keras…”

 

Ia mendekatkan bibirnya ke pipi Hyesa dan menciumnya lembut.

 

Air mata Hyesa semakin deras mengalir. Rasa perih di pipinya dan tekstur bibir Taekwoon semakin menambah kepedihannya. Oppa… Oppa tolong aku…

 

Tap tap

 

Suara sepatu heels yang menyentuh lantai dengan elegan membuat Hyesa mengangkat wajahnya. Ia tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan gudang yang berbau kayu tetapi ia dapat melihat bayang-bayang tubuh seorang perempuan dengan badan yang melekuk begitu indah mendekatinya. Dengan segera Taekwoon menyingkir.

 

“Jadi ini? Kim Hyesa?” Tanyanya. Suaranya mengingatkan Hyesa akan kue red velvet. Menggoda. Tapi entah kenapa begitu familiar.

 

Kini wanita itu bediri tepat di hadapannya. Hyesa dapat mencium bau parfumnya. Bau yang tidak asing.

 

Wanita itu mengangkat dagu Hyesa dengan paksa, kukunya yang panjang menancap ke dalam daging dagunya.

 

Mata Hyesa membesar. Ia benar-benar tidak percaya.

 

Wanita di depannya memiliki wajah yang ia temui setiap hari.

 

Wajah yang duduk di bangku tepat di sebelahnya.

 

Wajah yang pertama kali menyapanya pada hari pertama sekolah.

 

Ha…ru…?

 

Wanita itu tersenyum kesal, “Ya, ini aku Hyesa. Kau tidak akan pernah menyangka, kan?”

 

Ia melepaskan kukunya dari dagu Hyesa. Membiarkan darah mengalir dan jatuh sedikit demi sedikit ke lantai gudang yang begitu kotor dan berdebu.

 

“Tadi…” Mulai Haru yang berjalan mengitari badan Hyesa yang terduduk lemas di atas kursi, “Aku mendengar kau memanggil ‘oppa’…”

 

Ia sudah kembali ke posisi awal di depan Hyesa, memainkan jari tangannya dan kukunya yang melengkung seperti cakar harimau.

 

“Coba kau ulang lagi.”

 

Dengan kasar Haru merobek lakban dari bibir Hyesa, rasa perih membuat Hyesa semakin menunduk. Ia tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya. Tidak di depan wanita yang tidak pernah ia sangka menjadi begitu jahat.

 

Haru menarik rambut Hyesa, memaksanya untuk melihat wajahnya yang dahulunya lemah lembut berubah 180 derajat.

 

“Coba! Gunakan bibirmu yang begitu dicintai Kyuhyun!”

 

Hyesa tidak bisa berkata apapun. Emosinya bercampur aduk. Amarah, ketakutan, kebingungan.

 

“Ayo! Katakan!”

 

Hyesa bergidik. Ia bisa merasakan detakan jantungnya mempercepat. Semakin kencang mengenai tulang dadanya.

 

“Perempuan tidak berguna!” Teriaknya seraya mengangkat tangannya.

 

Hyesa menutup matanya. Menunggu rasa perih yang tidak lama lagi akan mendominasi kedua pipinya.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

Kyuhyun menyalakan mobil dengan tidak sabar. Kukunya yang panjang merusak setiap bagian interior mobil yang disentuhnya.

 

“Yak. Kyu, hati-hati. Ini bukan mobilmu…” Ucap Donghae pelan. Ia sudah masuk ke dalam mobil dan ia menunggu dengan sabar.

 

Kyuhyun menggeram. Ia tidak perduli lagi, “BERISIK. BIARKAN AKU BERFIKIR.”

 

Tiba-tiba pintu belakang terbuka dan muncullah Hana yang segera mendudukkan diri di belakang kedua lelaki yang sekarang memperhatikannya.

 

Donghae tersenyum, “Kyu, ada prajurit yang ingin bergabung.”

 

Kyuhyun mengaum marah, kali ini ia merobek kursi depan, membuka pintu dan membuang bagian kursi yang ia robek untuk melihat perempuan yang tidak bergerak sedikitpun.

 

“KAU.” Ucapnya dengan nada sinis, tangannya ia julurkan untuk menarik kerah baju perempuan itu, “TURUN! KAU HANYA MENYUSAHKAN SAJA!”

 

Hana tidak bergeming, melainkan wajahnya semakin penuh dengan amarah, “Aku ingin pergi dengan kalian! Aku tidak ingin duduk sendirian di rumah tanpa guna!”

 

Kyuhyun menggeram, “INI BUKAN URUSANMU! KAU TIDAK TAHU APA YANG KURASAKAN!”

 

Kali ini Hana memegang tangan Kyuhyun yang semakin mengepal di kerahnya, “Kau kira hanya kau yang merasa seperti ini?!”

 

Kuku Hana menusuk kulit lelaki itu yang keras, “Kau kira kau saja yang marah?!”

 

“EGOIS! DASAR EGOIS!” Teriak Hana, air matanya mengalir. Bukan air mata kepedihan, melainkan air mata keberanian, “AKU JUGA MERASA SEPERTI ITU! SELAMA INI HYESA YANG MERAWATKU!”

 

“KAU KIRA AKU TIDAK MENYAYANGINYA?!”

 

Dengan kekuatan yang dimilikinya Hana menarik lengan Kyuhyun hingga kerahnya sobek. Donghae bersiul, tidak bisa menyembunyikan senyuman bangga.

 

“Kyu, biarkan dia ikut.”

 

Kyuhyun berhenti sejenak, lalu menghela dan memutar badan ia meletakkan kedua tangannya di setir mobil, “Baiklah…”

 

Ia menggerakkan gigi mundur, “Tapi jika kau mati. Itu bukan tanggung jawabku.”

 

Mobil mundur dengan cepat keluar dari posisi parkir dan segera berjalan menjauh dengan kecepatan tinggi, bunyi mesin mobil begitu kencang dan besar sama seperti rasa marah pengemudinya.

 

Hana merasakan jantungnya berdegup semakin kencang. Ia tidak bisa bersandar.

 

Donghae memerhatikan perempuan itu. Ia menjulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Hana. Perempuan itu menatapnya.

 

“Aku ingin tahu, siapa itu Jung Taekwoon.” Bisiknya, ia merasakan Kyuhyun mengangkat bahunya, tegang.

 

Hana memalingkan wajahnya, “Dia…”

 

Donghae menggelengkan kepalanya, “Kau tidak perlu menjelaskan. Berikan tanganmu.”

 

Hana menurutinya, ia membiarkan Donghae memegang tangan kanannya dengan erat, dengan kehangatan yang tidak dikenali oleh perempuan itu.

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Flash Back

 

Jepang, 2 Years Ago

 

“Jung Taekwoon!”

 

Lelaki yang berkacamata itu tidak mengangkat wajahnya. Ia masih sibuk dalam dunianya sendiri, dunia yang berada di genggaman tangannya.

 

“Main Hp terus anak ini…”

 

PLAK!

 

Bunyi penggaris yang dipukulkan ke meja membuat suasana kelas lebih hening, diikuti dengan suara teriakan Pak Amanogawa.

 

“Taekwoon! Berapa kali harus kupanggil namamu?” Tanyanya dengan suara tinggi, “Ini hanya untuk absen, semalas apa kau sampai menaikkan tangan dan menyebut ‘hadir’ begitu susah untuk dilakukan?”

 

Taekwoon mengeluarkan earphone dari dalam tasnya, sama sekali tidak memerhatikannya, “Jika begitu, tulis saja aku absen hari ini.”

 

Sekelas heran, mereka berbisik ‘Keterlaluan!’, dan ‘Apa dia tidak tahu sopan santun?’

 

“Aku datang ke sini juga karena terpaksa. Hukum saja aku. Aku tidak perduli.” Katanya sinis, earphone siap untuk dimasukkan ke dalam telinganya.

 

Kali ini Pak Amanogawa meletakkan penggarisnya di atas meja Taekwoon. Tangannya yang gatal meraih kuping siswa itu dan ia menariknya keluar kelas, menutup pintu dengan rapat agar tidak ada siswa yang mengintip.

 

Ia berhenti di dekat tangga dan melepaskan telinga Taekwoon yang mulai memerah.

 

“Taekwoon,” Mulainya lembut, “Apa yang terjadi padamu? Kau murid yang paling pintar di sekolah ini, tidak ada yang pernah mengalahkan nilaimu. Bapak ingat pertama kalinya kau datang ke sekolah ini, matamu penuh dengan binaran.”

 

Ia menepuk bahu Taekwoon, “Kemana binaran itu Taek~ie?”

 

Taekwoon menggeleng, “Tidak tahu…”

 

“Jangan biarkan ini mempengaruhi kerjamu, aku tahu kau pintar, tapi tanpa semangat kau tidak berguna.”

 

Sekali lagi Pak Amanogawa menepuk bahunya dengan sayang, “Pergilah ke BK, mungkin kau harus menceritakan sesuatu yang terpendam.”

 

Itulah yang tidak dilakukan oleh Jung Taekwoon.

 

Ia pergi menjauh dari ruangan BK. Ia ke perpustakaan. Ke atap. Berkeliaran di sekolahan tanpa tujuan hingga akhirnya ia duduk tenang di taman sekolah.

 

Ia mengira bahwa ia akan sendirian. Tetapi keheningan taman diganggu oleh suara langkah kaki.

 

Ringan. Berarti tidak berbobot. Malu-malu. Berarti seorang perempuan.

 

Taekwoon bisa mendengarnya semakin mendekat. Bau parfum perempuan itu mulai tercium olehnya.

 

Seperti musim panas.

 

“A-ah… Se..la..mat…pagi…” Ucap perempuan itu saat melihatnya. Bahasa Jepangnya terdengar aneh dan terbata-bata.

 

Taekwoon memiringkan kepalanya, “Eh? Sekarang kan siang…”

 

Perempuan itu berhenti dan tertawa malu, “A-ah.. Mianhe- Ah! Maksudku.. anu…”

 

“Gomen?”

 

“Ah… iya itu!” Ucap perempuan itu senang, lalu ia berhenti, tampaknya akan tersadar sesuatu, “Ah… Kamu… tahu?” Tanyanya pelan dengan bahasa Jepangnya yang aneh.

 

Taekwoon segera mengerti dan mengubah bahasanya, “Iya, aku dari Korea. Kau juga kan?”

 

Perempuan itu mengangguk senang, “Iya! Ternyata ada yang dari Korea juga ya!”

 

Taekwoon bergeser dari tempat duduknya dan menepuk tempat kosong di sebelahnya, “Kau mau duduk?”

 

Perempuan itu menggeleng, “Aku sedang ditunggu temanku… Ia dipanggil guru dan sekarang sudah keluar, tetapi aku tidak tahu ia dimana.”

 

Taekwoon mengangguk dan melihat sekitarnya. Ada perempuan lain yang terlihat sibuk mondar-mandir, Ia langsung menunjuknya, “Dia kah?”

 

Perempuan itu mengikuti arahan jari Taekwoon dan mengangguk, “Iya! Itu Na~Ya!”

 

Ia membungkuk, “A-arigatou!” Ia hendak berjalan menuju temannya saat ia berhenti, “Ah, iya, namamu siapa?”

 

“Taekwoon. Jung Taekwoon.” Balasnya cepat.

 

“Aku Hyesa,” Ucap perempuan itu dengan senyuman manis, ia menggapai tangan Taekwoon, “Anu… Maukah kau bertemu di sini lagi?”

 

Taekwoon merasa aneh. Perutnya seolah diaduk-aduk, tangan Hyesa yang lembut dan kecil seakan mengubahnya dalam sepersedetik.

 

Kemana binaran itu Taekie?

 

“Iya…”

 

Hyesa tersenyum senang dan beranjak pergi, meninggalkan lelaki itu dalam kebingungan.

 

Binaranku…?

 

78 jam

 

“Aku menyukaimu.”

 

15 hari

 

“Aku mencintaimu.”

 

2 bulan

 

“Jadilah milikku.”

 

6.5 detik.

 

“Maafkan aku.”

 

*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*

 

Suara pukulan keras mengisi ruangan gudang, menggema di lorong-lorong.

 

Taekwoon menutup matanya, “Haru… bisakah kau lebih lembut?”

 

Wanita itu berdiri tegap, menatap hasil kreasinya yang sudah membiru dan berdarah, terdiam seolah tidak memiliki nyawa. Ia meludah di dekat kaki korbannya, “Lembut? Tenang saja aku tidak akan membunuhnya.”

 

“Tetapi aku tidak mau melihatnya dirusak seperti itu…”

 

Haru menengok ke arahnya, alisnya menikuk tajam, “Dirusak? Ini bisa sembuh. Lagipula kau hanya terobsesi dengannya. Kau akan bosan, tunggu saja.”

 

Suara mesin mobil yang keras membuat Taekwoon bergidik, sedangkan Haru tersenyum lebar.

 

“Kau dengar itu?” Tanya Haru, seraya menarik rambut Hyesa, “Pangeranmu datang.”

 

Taekwoon mematikan semua lampu gudang, ia mengambil sebuah mannequin dan meletakkannya di depan Hyesa.

 

Haru melepaskan pegangannya pada rambut Hyesa, matanya yang kuning seolah semakin terang dalam kegelapan.

 

“Tapi apakah dia dapat menyelamatkan putrinya?”

 

*~*~*~*~**~*~*~*~*~*~*

 

Kyuhyun tidak segan-segan menendang pintu mobil hingga lepas dan bergegas keluar.

 

“KAU GILA! AKU BARU SAJA MENYUCI MOBILKU!”

 

Donghae keluar dengan tawaan kecil, menutup rapat pintunya dan berjalan menuju Kyuhyun, ia berjalan dengan menjentikkan jarinya, “Ah~ Kyu, tunggulah sebentar…”

 

Hana berlari mengikuti mereka, matanya tertuju pada gedung yang besar. Hyesa… Di sini…?

 

Hana merasa bibirnya bergetar lagi. Ia mengepalkan tangannya. Tuhan… Tolonglah…

 

Kyuhyun yang sudah berdiri di depan pintu mengangkat kakinya, lalu dengan satu gerakan yang cepat ia menendang pintu itu. Pintu langsung terpental masuk, menghasilkan bolongan besar.

 

Kyuhyun yang tidak sabar menggeram dan hendak berjalan memasuki gudang tetapi Donghae menghentikannya.

 

Ia memegang bahu temannya dan menatap Hana yang berada tepat di belakangnya, “Tetap di belakangku, jangan kemana-mana.” Ucapnya pada gadis yang ketakutan, Hana mengangguk cepat.

 

“Kita akan coba bernegosiasi dulu…” Selesainya, tangannya menggapai tangan Hana dan meremasnya, “Kita akan mendapatkan Hyesa kembali.”

 

Tiba-tiba terdengar suara tawaan perempuan yang lembut. Suaranya membuat Hana semakin merinding, tangan Donghae yang belum lepas dari tangannya sendiri terasa semakin erat genggamannya.

 

“Haah… Akhirnya kalian datang juga…” Seru suara itu dengan intonasi mengejek.

 

Mata Kyuhyun memerah, pupilnya bergerak, memutar, menyesuaikan dengan kegelapan gudang. Ia dapat melihat wujud seorang perempuan yang berdiri di depannya. Bentuk tubuhnya sendiri adalah definisi dari kata ‘indah’.

 

Tidak salah lagi.

 

Kyuhyun melaju ke dalam kegelapan, menabrak wanita itu dan menjatuhkannya. Donghae yang terkagetkan menarik Hana masuk dan menjentikkan jarinya, membuat lampu menyala.

 

Kyuhyun sudah berada di atas wanita itu, tangan kanannya terkepal dan diangkat, siap untuk meninju. Tangan kirinya memegang kedua pergelangan tangan wanita itu di atas kepalanya.

 

Tapi ternyata wanita itu hanyalah manequin.

 

Donghae mengerutkan alisnya, di sekeliling mereka tergeletak puluhan mannequin, mannequin utuh, kepala, tangan, kaki.

 

Semuanya terkutuk…

 

Mata Hana tertuju pada tengah ruangan. Seorang perempuan duduk lemah di atas kursi. Badannya diikat, rambutnya berantakan, badannya biru-biru dan darah mengalir dari kepalanya.

 

Jantung Hana seolah berhenti.

 

Hana tidak dapat berbicara, badannya bergerak sendiri. Ia melepaskan tangannya dari Donghae dan lari sekencang yang dikehendaki kakinya menuju adiknya.

 

“HYE-CHAN!!”

 

Mata Donghae melebar, “ HANA! JANGAN!”

 

Saat itu juga mannequin di bawah dominasi Kyuhyun bergerak melepaskan pegangan iblis yang tidak fokus dan berhasil meninju perutnya sebelum berdiri untuk mengejar perempuan itu.

 

Kyuhyun yang tersentak kaget langsung memanjangkan kukunya dan menarik pergelangan kaki mannequin itu sampai terjatuh lalu mengangkatnya lagi untuk melemparnya dengan keras ke sudut ruangan.

 

Hana sudah berjarak 3 m dari Hyesa dan baru saja ingin memanggil adiknya sekali lagi ketika ia merasa tubuhnya terhempas ke belakang dan ia terpental mundur.

 

Dengan cepat Donghae menariknya sebelum jatuh dan memegang erat tangannya.

 

“Aih, belum apa-apa saja sudah seperti ini…” Ucap suara itu lagi.

 

Suara hentakan sepatu heels membuat ketiga tamu melihat ke arah rak mannequin. Seorang perempuan cantik keluar dari persembunyiannya di belakang rak dan berjalan dengan elegan menuju tengah ruangan.

 

“Selamat datang,” Sapanya dengan senyuman, matanya menyapu Kyuhyun dan Donghae dengan sinis, “Kedua sunbae tersayang.”

 

Ia tidak menatap Hana dengan lama, “Kau menghalangi keseruan, pulanglah. Kau tidak berguna.”

 

Kyuhyun mengepalkan tangannya, urat di sisi keningnya terlihat menonjol begitu jelas, “Haru… Perempuan rendahan!” Teriaknya.

 

Hana merasa pernah mendengar nama itu dan mencoba melepaskan diri, tetapi kini Donghae memegang kedua tangannya dan menariknya keras.

“Haru? “ Ulang Hana, “Kau teman Hyesa kan? Kau berada di kelas yang sama dengannya, bukan?!”

 

Wanita itu mendengus, “Iya, sedihnya, aku sekelas dengan si jalang ini.”

 

Ia mengangkat kakinya dan menendang perut Hyesa dengan tendangan sabit, sepatu heels-nya yang runcing menambah kesakitan dan hembusan nafas Hyesa menggema dalam ruangan yang berdebu itu.

 

Air mata Hana tidak dapat ditahan, ia mengeluarkan teriakan marah.

 

Kyuhyun menggeram ia tidak bisa bergerak, badannya terasa begitu panas tidak tega melihat Hyesa disiksa begitu kejam. Donghae menahan dengan susah payah, sambil menahan Hana dengan kedua tangannya ia manahan Kyuhyun dengan rantai kata-kata kutukan yang keluar dari mulutnya agar ia tidak bergerak.

 

Kyuhyun bahkan tidak dapat bicara.

 

Sekali lagi Haru menendang. Menghasilkan suara yang begitu keras.

 

‘Chagi. Bertahanlah.’

 

Haru menggeram iri, suara Kyuhyun berada di dalam kepalanya, membisikkan kata-kata yang begitu menjijikan baginya. Ia menambah kekuatannya pada tendangan ketiga.

 

‘Aku tidak akan membiarkanmu tersakiti. Tidak akan kubiarkan wanita murahan ini menyentuhmu.’

 

Haru benar-benar tidak tahan dan dengan jentikkan jarinya Hana tertarik dari genggaman Donghae. Badannya bergerak menuju Haru yang menghempaskannya ke arah rak besi dengan gerakan seperti mengusir lalat.

 

Donghae tersentak kaget dan berhenti mengucapkan mantranya. Kyuhyun kini lepas dan kakinya yang gatal sudah bergerak menuju Haru dengan kecepatan tinggi.

 

Dengan teriakan ia menarik kepalan tangannya dan mencoba memukul Haru yang kini tidak jauh lagi darinya.

 

Tetapi tubuh seorang lelaki muncul di hadapannya dan ia mengeluarkan pisau lipat dari kantungnya untuk menikam perut Kyuhyun yang tengah melaju.

 

Pada saat yang bersamaan badan Hana sudah berjarak 10 cm dari rak besi, kepalanya yang akan mengenai rak tentu saja akan mengakibatkan luka fatal.

 

Donghae merasa dunia berhenti.

 

Ia tersenyum lebar. Perutnya terasa seolah tergelitik.

 

Pada detik selanjutnya Haru menyadari kejanggalan.

 

Pukulan Kyuhyun yang dituju untuk Haru kini tertuju kepada wajah lelaki di depannya dan mengenainya hingga ia terpental mendekati Haru.

 

Badan Hana berhenti melaju di udara mendekati rak dan kini mengambang di udara dan pelan-pelan turun hingga kakinya yang gemetar lemah dapat menopangnya untuk berdiri.

 

Mata Haru tertuju pada Donghae. Lalu kembali ke Hana yang dengan lemah mengambil sebuah pipa besi ringan dan memegangnya erat.

 

‘Dia…?’

 

Haru melihat Kyuhyun yang wajahnya sudah berubah. Bola matanya berwarna hitam pekat dan pupilnya berwarna kuning. Otot-otot pada lengannya begitu menonjol dan kukunya memanjang, berwarna hitam. Terlihat Donghae mengucapkan mantra, menghentikan gerakan temannya.

 

Lelaki di depan Haru mengusap darah dari hidungnya dan tertawa, “Kau kuat juga ya…”

 

Suaranya membuat Hana bergidik.

 

Jung Taekwoon.

 

Taekwoon membuang pisau lipatnya hingga berada di dekat kaki Hyesa dan matanya segera menemui tubuh Hana yang masih gemetar.

 

“Wah? Hana-chan?” Sapanya sambil menyeringai, “Kau sudah dewasa ya!”

 

Hana merasa tekanan pada tangannya menambah akibat menggenggam pipa terlalu erat. Ia tidak menjawab, tatapannya mantap pada Taekwoon.

 

“Haa… Tapi…” Ucapnya dengan wajah serius,

 

“Bagian depanmu… kurang menarik menurutku…”

 

Donghae yang masih mengucapkan mantra dengan instingnya langsung memutar kepalanya ke arah Hana.

 

Begitu juga dengan Kyuhyun yang langsung mengamati dada perempuan yang menutupi diri dengan pipa besi (yang sama sekali tidak menolong) dan memberi tatapan galak.

 

Haru mengembuskan nafas, “Aish… lelaki…”

 

Atmosfer itu hanya berlangsung beberapa detik. Haru menggerakkan tangannya, tiba-tiba suara decitan kayu terdengar.

 

Hana memutar badannya. Suaranya terdengar tidak jauh darinya.

 

Kyuhyun tidak membuang-buang waktu, ia mencoba berlari menuju Hyesa tetapi Taekwoon mengambil kesempatan untuk menarik baju Kyuhyun untuk menjauh.

 

“Kekasih macam apa kau?” Tanyanya sinis, seraya mendorong Kyuhyun lebih jauh, “Kekuatan supernatural? Hah! Aku bisa mendorongmu dengan mudah!”

 

Kyuhyun menggeram, kukunya yang panjang dan hitam ia tancapkan ke dalam kulit lengan Taekwoon, ia menjerit.

 

Iblis itu menengok ke arah Donghae. Temannya masih tidak memberikan aba-aba. Mata Donghae terfokus pada Haru.

 

Haru menggerakkan jari-jarinya, seperti seorang pianis profesional yang bermain dengan elegan.

 

Tiba tiba ruangan bergetar.

 

Suara hentakan kaki ada di mana-mana.

 

Lalu teriakan batin Hyesa menggema di telinga Kyuhyun.

 

“NA YA!!!”

 

Kyuhyun mencengkram lengan lelaki itu dan menendang perutnya, cakarnya yang tertancap dalam kulitnya menyobek Taekwoon begitu dalam, darah terciprat ke lantai dan ke bajunya.

 

Ia memutar kepalanya, mencari Hana tetapi perempuan itu seolah menghilang.

 

Lalu ia melihat Donghae, tangannya terangkat.

 

Kyuhyun tersenyum.

 

‘Sudah lama ya, Hae?’

 

TBC

Bagaimana?? Maaf kalo jelek.. ini ff pertama kita… jadi kita mohon untuk saran dan kritiknya^^

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: