You Were the One

you-were-the-one

Author: Park Jinhee

 You Were the One

Tag (tokoh/cast) : Kim Kibum & Moon Younggi (OC) | Genre :Songfic, Angst | Rating : General | Length : One shot

***

 

3 tahun yang lalu.

Daegu, 24 Oktober 2013

Udara pagi di Daegu cukup menyegarkan paru-paru. Jendela belakang pojok kanan sedikit terbuka mengakibatkan rambut hitam legam itu terurai. Younggi merasakan nikmatnya bernafas saat itu. Entah mengapa Shim saem menjadi terlihat lebih muda dan tampan pada hari itu, ketika sinar matahari tepat menyinari wajah oval yang dimilikinya. Tanpa sadar, Younggi meratapi Shim saem dengan serius.

Mata bulat sempurna yang ia gunakan untuk mengawasi murid-murid nakal.

Rambutnya rapih, seperti akan menghadiri acara pesta formal.

Wajah oval cocok untuk didebutkan oleh agensi-agensi ternama.

Dan lihat bi…

“Moon Younggi!”

Lamunan itu terbuyar dengan cepat Younggi pergi ke alam sadar. “Iya saem?”

“Apakah kamu sudah selesai mengerjakan semuanya?” mata tajam Shim saem tertuju pada Younggi. Shim saem berjalan mendekati meja Younggi. Jantungnya berdebar-debar.

“Hehehe… Saya berhasil mengerjakan satu nomor 4 saja, saem.” Ujar Younggi. Kepalanya diarahkan ke sumber suara dan mengeluarkan sedikit jurus aegyo. Perasaan ini membuatnya semakin tidak enak. “Habis, saya tidak mengerti mengapa ini bisa berubah menjadi ini…”

“Huh… Ternyata saya salah mengrapakanmu terlalu tinggi.” Sebuah kata singkat yang pedas sudah dilontarkan hari ini. Ini momen yang membuat perasaan Younggi tercampur aduk, ternyata ia juga salah memandang Shim saem yang sempurna tetapi berhati setan.

Neeettt!!! Neeettt!!!

Dengan berbunyinya bel pulang sekolah, suasana di kelas 1C mulai meramai. Beberapa anak-anak yang terlihat mengantuk, bangun dengan mata segar bugar. Shim saem masih berdiri di depan kelas kesal dengan tingkah laku mereka. “Diam!” Shim saem mengeluarkan suara lantang. “Tugas hari ini menjadi tugas rumah. Dan ingat hari Rabu depan, kalian akan ada test pecahan aljabar.”

“Baik saem…”

Younggi mentapi kepergian Shim saem. Kaki Shim saem telah menginjak area koridor “Yori-ah! Siapa yang akan menyangka ada guru seperti dia? Dari luarnya saja tampan, gagah, wajah favorit bagi seluruh siswi tetapi dalamnya jahat, tajam, dan penuh kebencian!” ia mengeluarkan seluruh uneg-unegnya semaksimal mungkin. “AishJinjja!”

“Younggi-ah, tak apa lah… Susah untuk mendapatkan guru tampan yang bisa mengajari murid-murid, apalagi pada suhak (pelajaran matematika).” Teman bangku depannya melontarkan opininya tentang guru tersebut. “Lagi pula juga aku tidak pernah kena marah, sekalipun aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan.”

Younggi mengalihkan kepalanya dan fokus merapihakan barang yang berserakan di atas meja seperti kotak pensil, make up pouch, liptint, bando, buku-buku catatan, dan lainnya. Dengan kasar –moodnya masih tidak baik karena Shim saem– Younggi memasukkan barang-barang tadi ke dalam tas kelinci miliknya, tak ada waktu lagi untuk membuang-buang waktu di sekolah.

Seseorang laki-laki menghampiri Younggi dengan ekspresi sedikit kesal. “Younggi-ah! Mengapa kau masih saja melirik Shim saem? Tidak kah aku cukup terlihat ‘toughful’ dibandingkan dia?” suara itu, suara Kim Kibum, manusia favorit Younggi.

Pada saat yang sama, Younggi dan Yori mengelak pernyataan Kibum. “Changmin saem lebih gagah!”

“Dan jauh lebih dia pintar matematika dibandingkan kau!” Yori tidak cukup sampai disitu untuk membantah Kibum.

Ya! Kang Yori! Jangan menyakiti hati uri Kibumie…” tangan Younggi mengelus-elus dada Kibum. Younggi dan Kibum kembali merekat satu sama lain. Seperti yang orang-orang akan pikirkan, mereka berdua adalah sepasang kekasih satu SMA, bahkan mereka menempati kelas yang sama.

Setelah Younggi pamit pada Yori, mereka berjalan terlebih dahulu. Ada beberapa murid yang menyoraki Kibum saat ia menggandeng tangan Younggi. “Ouwww… Kim Kibum!” mereka adalah teman-teman dekat Kibum, diantaranya ada Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun dan Henry Lau. Henry Lau merupakan teman dekat pertama Kibum. Dengannya Kibum mencoba memperlancar kemampuan Bahasa Inggris.

Younggi dan Kibum meneruskan perjalanan pulang mereka. Mata Younggi dimanjakan dengan berbagai warna kelopak bunga yang gugur di sepanjang trotoar. Kibum merasakan kesejukan berjalan di bawah pohon-pohon tersebut. Ia memungut seputik bunga yang masih utuh dan menyelipkan di sela-sela telinga kiri Younggi. “Kau terlihat begitu cantik.”

Terangkatlah kedua pipi Younggi, peremupan itu tidak bisa mengelak hal tersebut. Tidak ada cara untuk menyembunyikan rasa senang bercampur malu di hadapan Kibum. Ia mencoba memikirkan cara agar dirinya terlihat santai. “Aku sudah tahu itu.”

Tak tersadar sepatu putih Younggi terlepas dari kaki kanannya. “Omo!”

Inisiatif Kibum untuk mengambil sepatu semakin meninggi. Dengan cepat Kibum mengambilnya, tetapi ia memiliki ide usil untuk menghalang-halangi Younggi mendapatkan sepatu milik gadis itu. Younggi sedikit kesal dengan perilaku Kibum. Ia tahu bahwa Kibum melakukan itu hanya sekedar candaan, tetapi bagaimana jika kaos kaki pink yang ia pakai menjadi kotor?

“Ok ok, aku akan berikan padamu.” Tak lama kemudian Kibum menyerah dari pukulan halus Younggi. “Lagi pula, mengapa kamu selalu menginjak sepatu?”

Younggi menatap sepasang sepatunya, mengapa hal itu selalu ia lakukan? Younggi sendiri tidak tahu. “Geulsse… Mungkin sudah kebiasan.”

 

Tepat di samping telinga Kibum merebahkan badannya di atas kasur putih susu, telepon genggamnya berdering. Seketika itu rasa penasaran berasama kesal muncul begitu saja, siapa yang menelpon pagi-pagi begini? “Yeobseyo?” Kibum cepat-cepat mengangkat panggilan dan menyapa orang itu tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang sedang menelpon. Suaranya masih serak, karena bangun tidur.

“Kibum-ah…” baru ketika orang tersebut berbicara, Kibum langsung mengenali suara itu. Orang yang menelponnya pagi-pagi adalah Moon Younggi. “Ya! Jangan bilang kau baru saja bangun tidur eoh?”

“Hm. Wae?

“Eumm… Apakah hari ini kau sudah membuat jadwal dengan seseorang?” Kalau Younggi menanyakan itu, Ia tahu pasti dia akan dimintai untuk pergi menemuinya. Ia sudah tahu persis tipe gadis seperti Younggi.

“Aku tidak ada jadwal… Kau mau pergi nonton film?” tanya Kibum tanpa basa-basi.

Younggi tidak langsung menjawab pertanyaan Kibum. “Yeobseyo?” Kibum memastikan telepon itu masih terhubung. “Ya? Hmm… Hari ini eomma pergi ke Cheongdo, eomma bilang akan pulang nanti malam. Entah lah ada urusan apa, mungkin ibu-ibu…”

“Lalu?”

“Ya… Kau tahu, appa berada di Seoul.” Terjadi jeda sebentar. “Apakah kau mau ke rumahku? Aku ingin menonton film horror. Kau tahu kan apa yang terjadi film horror dan aku tanpa ditemani seorang? Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menontonnya!”

“Hm, ya sudah. Aku akan ke sana jam 11.” Jawab Kibum, suaranya masih terdengar seperti orang yang malas sekali untuk bangun. “Kamu tidak akan membakar rumahmu kan? Jika kau sendirian di rumah.”

Neo!!! Kau kira aku itu apa!? Aku bukanlah anak kecil yang tidak bisa ditinggal sendirian di rumah!” Younggi membesarkan volume dan dinamika suaranya, membuat Kibum terkejut dan refleks menjauhkan handphone yang digenggam. “Ya sudah aku tunggu jam 11 di depan rumah. Aku tutup….

Dengan paksa Kibum menyeret seluruh badannya untuk pergi beranjak dari kasur. Tubuh fitnya membutuhkan sedikit peregangan. Matanya mulai terbuka penuh ketika ia mencium aroma samgyetang –sup ayam Korea- dari lantai bawah. Pasti eomma sedang memasak. Kibum melangkah cepat menuju ke dapur.

 

Younggi berdiri menyender kepada pilar rumah tak sabar menunggu kedatangan Kibum. Gadis itu mengenakan sweater ungu dan celana putih bercorak polkadot hitam untuk menghangatkan tubuhnya dari angin musim gugur. ‘Ia bilang jam 11 akan berada di depan rumah’ gumamnnya. Sekarang jarum jam menunjukkan pukul 10.55. Memang belum waktunya, tetapi ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan Kim Kibum.

Tak lama kemudian bayangan laki-laki menggunakan kaos putih, jaket merah dan celana jeans sudah terlihat mendekat. Ekspresi Younggi yang tadinya murung, berubah menjadi sangat ceria. Kedatangan Kibum bisa mengubah moodnya naik drastis. “Kibum!” Dari jarak 3 meter laki-laki itu tersenyum.

Kebetulan sekali ibu Younggi sudah bersiap-siap untuk pergi ke Cheongdo. Terlihat dari bawaan yang beliau tenteng pada tangan kanan dan kiri selain kunci mobil. Mungkin tidak begitu berat, hanya saja terlihat sangat merepotkan. “Eommoni, biar Kibum saja yang menaruh barang-barangnya ke dalam mobil.” Dengan sigap Kibum mengangkat tas-tas echo bag kedalam bagasi mobil.

Ah, gomawo Kibum-ah.” Setelah selesai, ibu Younggi pamit kepada anaknya dan juga Kibum.

Rumah Younggi terlihat bersih dan rapih. DVD player sudah siap, semangkuk besar berisikan popcorn instan dan dua kaleng soda berada di atas meja. ‘Perempuan itu sudah menyiapkan semua ini tanpa melewatkan semua detailnya.’ Pikir Kibum. Lamunan Kibum buyar ketika Younggi memanggilnya, “Mwohae? Ayo duduk sini!”

Sebenarnya Kibum tidak suka menonton film horror. Kali ini hanya sebagai syarat ia menemani Younggi. Alasannya bukan karena takut hantu atau banyak adegan ‘thriller’, tetapi setiap kali ia menonton film horror terdapat perasaan aneh dan ia benci dikagetkan oleh makhluk-makhluk alam tanah. Coba saja hantunya tidak muncul secara tiba-tiba, mungkin ia tidak masalah menonton film horror.

Kibum menatapi wajah Younggi, gadis itu terlihat serius sekali. Matanya tidak terlepas dari subtitle Korea yang berganti-ganti. Bahkan Younggi tidak menyentuh popcorn yang telah ia buat. Pemandangan itu membuat Kibum tertawa. “Kau serius sekali sih.” Wajah Younggi menengok ke arah Kibum ekspresinya berubah sedikit kesal. “Iya iya… kau akan aku biarkan serius.”

Kali ini pandangan Kibum tertuju pada satu pusat dan dia tidak bisa mengalihkan kemana-mana. Sesuatu itu adalah kunciran Younggi. Sungguh gadis itu tidak bisa berapih-rapih diri. “Ya lihat dirimu, kau ini perempuan, tetapi menguncir benar saja tidak bisa.” Tangan Kibum telah menyentuh rambutnya, menggenggam satu lingkaran rambut dan melilitnya dengan karet hitam. “Nah, begini lebih baikkan?”

Senyum Younggi mengembang, perlahan kepalanya diletakkan kepada pundak Kibum. Bibirnya membuka, hendak mengatakan sesuatu. “Kau, tahu apa yang lebih seram dari film horror?” tanyanya. Kibum tidak menjawab, melainkan menunggu jawaban Younggi. “Kehilangan seseorang yang dicintai.”

====

2 tahun yang lalu.

18 Januari 2014

Hari ini adalah hari terakhir Younggi berada di Hoksu High School. Untuk menghabiskan waktu-waktu terakhir bersama Moon Younggi, kelas 3C mengadakan pesta kecil-kecilan saat pulang sekolah. Choi Siwon, si anak kaya memesan pizza dan 2 dus soda botol. Suasana dalam kelas ramai, senang, dan juga sedih mengetahui bahwa mereka akan berkurang satu personil kelas.

Aedeula!! Tolong menghadap ke sumber suara.” Teriak Yunho, sang ketua kelas. Tampangnya menujukkan keseriusan, seluruh siswa kelas 3C mengarahkan badannya menghadap Yunho. “Ya, Song Gina! Turunkan hpmu, setelah ini kamu bisa selfie bersama Younggi lagi.” Gina malu menjadi pusat perhatian beberapa siswa. “Aku Jung Yunho sebgai ketua kelas ingin menyampaikan beberapa pesan. Terimakasih kepada Moon Younggi telah menjadi bagian dari kami selama 2 tahun lebih ini. Singkat saja, kita disini masih akan menganggapmu sebagai keluarga Hoksu Higschool kelas 3C. Aku harap jika kamu sudah berada di Seoul, kamu tidak pernah berhenti menghubungi kami.”

Keheningan melanda seluruh ruangan. Tidak ada satu pun murid yang mampu membuka mulut, mereka semua terlarut dalam kesedihan. Tanpa disadari, air mata membasahi pipi Yunho. “Ah mian. Ada yang ingin menyampaikan pesan lagi? Uhm… Mungkin Kibum?”

Kibum maju ke depan kelas, berdiri menghadap teman-teman kelasnya. “Mungkin aku egois, aku sudah tahu hal ini dari beberapa hari yang lalu.” Siswa-siswi yang lain menyorakinya, Kibum tersenyum sedikit. “Sebenarnya, aku kesal. Mengapa tidak menunggu setelah kau lulus SMA? Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk menahanmu sedikit lagi, akan ku lakukan. Tetapi, kau lebih membutuhkan orang yang menunggumu di Seoul.” Beberapa siswa penasaran mendengar kalimat terakhir Kibum, apa yang dimaksud ada orang lain yang lebih membutuhkan Younggi dibanding Kibum?

Mata Kibum memandangi lurus pada kedua mata Younggi. “Aku tahu dia manusia yang kuat. Semoga, aboenim cepat sembuh. Terakhir, jangan lupakan semua kenangan di Daegu, termasuk aku. Aku tahu suatu saat kita akan berjumpa lagi. Hari ini, hari terakhir aku mengantarmu pulang.” Kibum mengakhiri pesan-pesannya dan berlari menuju bangku sebelah Kyuhyun dan Ryeowook.

Melihat suasana sedih terbawa oleh pesan-pesan Kibum dan ketua kelas Jung Yunho juga dibendam dalam kesedihan, Eunhyuk dan Junsu berseru dari tempat mereka berdiri. “Aegoo… Younggi tidak akan benar-benar pergi meninggalkan kita, mengapa kalian melihat Younggi seperti orang yang akan pergi selamanya?” lontar Eunhyuk. Junsu menendang kaki Eunhyuk berkat ucapannya yang tidak-tidak. “Ya! Hyuk! Dari pada kita semuanya bersedih, berada di atmonsfir yang tidak enak, sepertinya kita harus makan pizza yang banyak. Kalian tenang saja, Siwon akan mentraktik 100 box pizza jika ini memang masih kurang!”

“Hohoho…” Siwon berlagak seperti bos. “Iya, kalian semua tenang. Aku akan mentraktir kalian lagi.”

 

Mobil box sudah sampai di depan pintu rumah Younggi, sedang parkir menunggu barang-barang yang akan diangkut. Sepertinya tidak semua barang akan di bawa ke Seoul, mobil box itu terlihat kecil dan barang terbesar hanyalah sebuah jam dinding antik, selebihnya hanyalah 5 buah box besar dan 3 box kecil. Semua terlihat normal, seperti orang yang ingin pindahan. Kecuali satu,

Eomma?” Kibum heran melihat ibunya berdiri mengobrol dengan ibu Younggi. Dari gaya perbincangannya, sepertinya mereka berdua membicarakan hal yang cukup serius. “Eomma, mengapa ada di sini?”

Ibu Kibum tersenyum, kedua eye smile yang beliau miliki terlihat sempurna. “Ini, eommanya Younggi akan menyewakan rumah ini kedepannya. Jadi, eommanya Younggi menitipkan ke eomma.

“Ah… Begitu.”

Eomonim, biar Kibum yang bantu.” Kibum tak tega melihat wanita-wanita yang mengangkat barang-barang. Itu bukan pekerjaan wanita menurutnya, pekerjaan itu hanya layak dilakukan oleh laki-laki.

5 box besar sudah masuk semua kedalam mobil box. Kibum mengintip pintu ruang tamu yang sedikit terbuka, kursi raung tamu masih ada. Tidak semua dibawa, mungkin suatu saat mereka akan kembali? Atau benar-benar hanya disewakan? Kibum berharap Younggi akan kembali suatu saat.

Younggi sudah ditunggu ibunya di dalam mobil. Younggi ingin mengatakan kalimat terakhirnya ia sebelum ia berada jauh dari Kibum, bibirnya terbuka tetapi megapa tidak ada satupun kata yang terucapkan? Mata Younggi terbelak, pelukan hangat meresap ke dalam tubuhnya. “Jalga… Jaga baik-baik di sana.” Ucap Kibum lembut.

====

Seoul, 8 Agustus 2016

Di dalam ruang bertemakan perpaduan antara merah muda dan ungu, Younggi duduk menatapi laptop putih. Gadis itu sedang melihat-lihat berbagai model dress tertampang pada layar. Dua jarinya menggerakkan cursor ke atas-bawah, melihat setiap detail baju-baju tersebut.

“Akan bagus jika aku punya dress ini,” ungkapnya pada diri sendiri “dan akan bagus jika aku memiliki uang lebih. Ckckck….”

Younggi menghembuskan nafasnya keras Dagu runcing bertopang pada tangan kiri yang sedang menganggur. Kakinya disilangkan di bawah kursi, hingga sandal kelinci yang ia kenakan bertemu satu sama lain.

Daun pintu bergerak ke bawah, sepertinya ada orang yang ingin masuk kamar Younggi. “Younggi-ya.…” ibu Younggi memanggilnya dengan lembut. “Sudah 9.30, kau harus istirahat nak. Kamu ingat kan besok kita akan ke Daegu?”

Sesaat Younggi tertegun, selama satu hari ia bisa melupakan fakta besok ia akan kembali ke kota masa sekolah menengahnya. Sekuat tenaga ia menyembunyikan ekspresi itu, dengan kikuk ia merapihkan laptopnya dan merebahkan badan ke atas kasur. Mengingat besok akan ke Daegu, kedua kali Younggi menghembuska nafasnya berat. “Semoga semua akan baik-baik saja.” Lalu ia cepat-cepat menutup matanya.

 

Hari ini udara terasa begitu dingin, hari ini merupakan hari pertengahan musim dingin. Kibum mengghambuskan nafas diikuti dengan uap dingin dari mulutnya. Laki-laki itu memilih untuk cepat-cepat memasuki rumah. Tubuh Kibum masih saja tak kebal dengan udara dingin, ia ingin sesuatu yang hangat. Ia bergegas menggambi sebuah cangkir dan mengisikannya dengan air hangat dicampur dengan bubuk susu cokat. Di saat ia tengah menikmati coklat hangat, terdengar seseorang mengetuk pintu. “Ya, tunggu sebentar.” Ucapnya agak keras.

Kibum melangkahkan kakinya lebih cepat agar tamu tersebut tak menunggu terlalu lama. Ia membukakan pintu. Orang yang pertama ia lihat adalah ibunya dan beberapa orang yang mengikuti. Ibu Kibum masuk, dan disusul oleh wanita berumuran sekitar sama dengan ibunya dan … seorang gadis yang sangat familiar.

Kibum menatap mata gadis di depannya. Tatapan mata itu sedikit berbeda, ada rasa terkejut? Kibum ingin memanggil nama itu. Bibirnya sudah membuka sedikit celah tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Younggi, ayo masuk. Apa yang kamu lakukan di situ?” terdengar suara ibu Younggi memanggil. Younggi tak menghiraukan Kibum, ia hanya melewati tubuhnya begitu saja. Perempuan itu meninggalkan Kibum berdiri terpaku di depan pintu dengan kata “Permisi.”

Kibum membiarkan tubuh Younggi melewati dirinya. Tidak ada perubahan dari Younggi, semuanya masih sama… dan juga cara ia menggunakan sepatu, masih sama seperti dulu, ia masih suka menginjak sepatu bagian belakang.

 

Younggi berjalan memasuki ruang keluarga sesuai dengan perintah ibunya. Ia berkeliling mengamati beberapa barang yang masih ia bersama ayah dan ibunya tinggalkan. Dua buah benda menjadi pusat perhatian Younggi, satu pasang miniatur wanita dan pria. Terpaku sejenak, sebuah momen tampil pada benak Younggi.

“Younggi-ya, igo bwa.” Kibum memerlihatkan miniatur wanita yang berbibir sangat tebal yang telah dicorat-coret.

Ya! Apa-apaan ini?” kata Younggi sampil terlawa melihat miniatur itu. “Kalau begitu, berikan aku spidol hitam itu.” Perintah Younggi sambil menurnjuk pada spidol hitam.

Dengan serius ia terus menggambar. “Kau buat apa?” tanya Kibum.

Jjan!” Younggi menunjukkan miniatur pria dengan wajah berjenggot dan menggunakan kaca mata hitam.

Mwoya…

Younggi tak sadar ia telah menatapi miniatur itu dengan lama sebelum ibunya memanggil. “Younggi, tolong ambilkan meteran.” Terdengar perintahnya. “Ye.” Jawabnya singkat.

Younggi berjalan kembali ke tempat ibunya berada dengan tangan kanan yang membawa alat yang disebut ‘meteran’. “Kau bisa bantu ibu mengukur panjang jendela, kan?” perintah ibunya lagi. Tanpa mengelak, Younggi mengangguk setuju.

Ia menyangkutkan ujung meteran, lalu pada jarak sekitar dua puluh centimeter meteran itu terlepas dari jendela. Tidak megeluh, Younggi mencoba kedua kali. Hasilnya tetap sama, pada jarak delapan belas centimeter meteran terlepas dari sanggahannya. Kibum mencoba untuk membantu Younggi, ia memegangi ujung meteran itu.

 

Kibum mencoba untuk membantu Younggi yang terlihat kesulitan mengukur panjang jendela ruang tamu. Sambil bertekuk lutut, Kibum mengambil ujung meteran yang terjatuh. Lalu, ia berdiri dan memegangi sampai Younggi selesai mengukur panjang jendela.

Matanya terpaku pada rambut Younggi, ‘benar-benar gadis itu tidak bisa rapih!’ gumam Kibum dalam hati. Sesaat Younggi menyadari bahwa Kibum sedang memerhatikan kunciran rambut yang berantakan, segera ia melepaskan kunciran rambut itu. Ia menatap mata Kibum seyara mengatakan …

“Maaf, kita tidak bisa bersama lagi.”

Gadis itu meninggalkan Kibum berdiri terpaku dengan tatapan kosong.

-END-

 

 

Catatan Author:

Cerita ini diadaptasi dari MVnya Yesung yang Here I Am. Kenapa aku pilih lagu ini? Karena suka banget sama lagunya, terus juga dari dulu nungguin album solo Yesung. Dan ternyata Yesung kesampaian buat album solonya, yah jadi cerita ini apresiasi buat Yesung oppa yang udah kerja keras. ^^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: