Love Is Bread [2-END]

bread

Author : Kim Ririon

Love Is Bread

Length : Twoshoot | Rating : PG13 | Genre : SAD,Romance,Little Comedy | Cast : Shin Taehya, Lee Donghae, Kim Jong In

***

 

 

KEBENCIAN. Ya, hanya kata itu yang melintas pikiranku sekarang ini. Hari ini sungguh menyesakkan bagiku. Rasanya begitu sakit dan sulit bagiku untuk bernafas. Ini semua gara-gara kau oppa. Mengapa kau harus melakukan hal seperti itu hah?!

FLASHBACK ON

“O-oppa??” ucapanku terhenti karena hal yang baru saja aku lihat. Aku tak bisa menahan rasa sesak yang segera memenuhi rongga dadaku ini.

“T-Taehya?” dia sadar dengan kehadiranku dan segera menghentikkan ‘kegiatan’nya dengan yeoja tak tau malu itu. Dengan gontai aku mulai berjalan meninggalkan tempat itu. “Taehya-ah! Taehya!” panggilnya lagi namun tak ku hiraukan. “CHANKAN!” dia mengejarku dan menahan tanganku. “mwoya?” tanyaku dingin tanpa berbalik kepadanya. Aku tak mau melihat wajah orang yang baru saja membuat hatiku hancur itu. “dengarkan oppa dulu!” dia membalikkan tubuhku dan dengan eratnya memegangi kedua bahuku.

“itu semua tak seperti yang kau pikirkan honey.. semua itu hanya-“ ku potong ucapannya “mwoya? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Apalagi yang akan kau jelaskan eoh?!”. “Jongin-ah~” yeoja centil itu datang dan segera bergelantungan di lengan namja bernama lengkap Lee Jong In. “cih!” segera aku membuang muka. Adegan di depanku ini benar-benar membuat perutku sangat mual sekarang. Bagaimana seorang yeoja paling terkenal di sekolah yang terekenal baik hati itu bisa merebut kekasih orang lain.

Jongin yang tak segera menyingkirkan yeoja itu membuatku semakin tak tahan berada di sini. Aku menjadi semakin malas untuk mendengarkan apa yang dia sebut sebagai penjelasan itu. Bahkan dengan melihat mereka berdua tepat di depan mataku seperti ini sudah cukup sebagai penjelasan untukku. Sudah jelas dia selingkuh, sudah jelas dia menyakiti hatiku dan sudah jelas hubungan kami….segera berakhir.

“mari kita berpisah oppa” dan itu apa yang aku ucapkan terakhir kali sebelum aku pergi meninggalkannya. “Taehya-ah ani- keuge- ahh! Molla!” masih dapat ku dengar jelas suaranya dari kejauhan. Oppa.. mengapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau berselingkuh? Haruskah hubungan kita berakhir dengan menyedihkan seperti ini? Hatiku in sangat sakit oppa. Kau..dan yeoja itu! Aku benci kalian! Aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi.

Berjam-jam sudah danau yang indah di hadapanku ini menyaksikan mataku ini terus mengeluarkan air mata. “hiks..hiks..hiks..” hatiku menjadi sangat sakit saat mengingat kejadian tadi. Mereka..berciuman. Ya! Tepat di depan mataku. Dia yang bertahun-tahun ini aku cintai ternyata adalah seorang pengkhianat. PENGKHIANAT. “AKU BENCI KALIAN!” dengan sekuat tenaga aku terus menerus melemparkan batu-batu kecil ke danau. Dengan begini rasa sakitku akan berkurang sedikit demi sedkit.

“jangan terlalu sering meluapkan amarahmu lewat batu itu, batu itu memang tak hidup tapi jika kau bayangkan batu itu adalah dirimu sendiri apa kamu ingin menjadi pelampiasan amarah seseorang?” suara yang tiba-tiba muncul itu menghentikan tangisanku. Aku menoleh ke arah sumber suara yang sudah berdiri tepat di sampingku. Ternyata..orang itu lagi. Namja itu lagi. “dangshin.. wae yeogi isseoyo?” tanyaku yang tak tau harus berkata apalagi. Pikirkanku belum benar-benar jernih sekarang.

“bukankah ini tempat umum? Wajar saja kan jika aku kemari?” namja itu mengambil duduk tepat di sampingku. Dia menutup mata dan menikmati setiap hembusan angin yang menimpa wajahnya. Sunyi. Hanya itu yang terjadi di antara kami  selama beberapa saat. Aku menghentikan tangisanku, tak enak kepadanya. Aku juga tak mau terlihat seperti anak kecil karena itu. Dia hanya terus menikmati hembusan angin. Sepertinya dia juga sedang menenangkan diri.

“kenapa kau terus memandingiku seperti itu eoh?” segera aku mengalihkan pandangan ketika namja itu membuka matanya. “sudahlah.. apapun masalahmu itu lupakan saja untuk sejenak waktu. Sekarang tenangkan dirimu dulu” ujar namja itu dengan suara lembutnya yang menenangkan. Dia tersenyum dengan sangat manis dan berdiri dari duduknya. “kajja!” sebuah tangan kekar terulur dihadapanku. Ya, itu tangannya. “eodi-“ ucapanku belum selesai dan namja itu sudah menarikku.

“yaaa! Lepaskan tanganku!” namja itu terus menarikku tanpa mau sekalipun mendengarkan protesku. “naiklah!” dengan sedikit paksaan dia memasukkanku ke dalam mobilnya. Aku hanya menurut. Percuma saja protes. Dia tak pernah mau mendengarkanku. Dan dengan kecepatan sedang namja itu mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota Seoul yang cukup tenang hari ini.

SREET. Tak berapa lama mobil ferrari berwarna putih ini terpakir di sebuah taman kota. “kau turun dan pergilah ke bangku di bawah pohon itu. Aku akan segera kembali”  dan tanpa menunggu jawabanku namja itu pergi begitu saja. “huuuuh..” aku menghela nafas. Namja itu selalu melakukan apapun yang dia mau. Dasar! Tapi ya sudahlah lebih baik aku ikuti saja apa maunya.

Ternyata rasanya enak juga di sini. Udaranya segar, bunga-bunga yang bermekaran terlihat sangat indah, dan juga anak kecil yang berlarian sungguh terlihat menyenangkan. “jja!” benar saja, tak begitu lama namja itu kembali dengan sebuah ice cream di tangannya. “untukmu” ujarnya saat aku tak segera mengambilnya. “dangshin?” tanyaku. Ku lihat dia hanya membawa satu, dimana miliknya?

Lagi, dia mengambil duduk di sampingku. “cepat ambil! Ini bukan ice cream sembarangan. Ini ice cream khusus untuk seorang yeoja yang sedih bersedih. Aku mendapatkannya dengan susah payah, jadi kau harus segera memakannya”. Aigoo.. lelucon macam apa itu? Tak lucu sama sekali. Tapi entah kenapa bibirku ini terangkat dan alhasil tanpa ku sadari aku sudah bisa tersenyum. Aku mengambil ice cream choco cookies itu dari tangannya.

Benar saja. Ice cream yang meleleh segera membuat mulutku dingin. Dan ku rasa hatiku juga menjadi sedikit dingin. Tapi.. ini karena ice cream atau senyuman namja itu?? Senyumnya yang manis dan menenangkan itu.. matanya yang indah.. wajahnya yang- YAA! Shin Taehya! Apa yang kau pikirkan eoh?! ANI ANI!

“kau lihat mereka?” namja itu menunjuk beberapa anak kecil yang sedang berlarian sambil tertawa-tawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Tak peduli dia melihatnya atau tidak, aku hanya mengangguk kecil. Masih sibuk dengan ice cream-ku. “kau harus menjadi seperti mereka yang hidup tanpa beban. Bahkan tawa mereka dapat membuat beban orang lain berkurang” dia menatapku dan tersenyum tulus. Jujur, kata-katanya benar-benar menenangkanku. Dia benar, aku setuju dengannya. “lupakanlah masalahmu. Hadapilah dengan tenang maka semuanya akan segera selesai.”

“nde. Gomawoyo” ucapku dengan sedikit senyuman. Ya, entah kenapa aku ingin tersenyum kepadanya. Namun tiba-tiba aku ingat sesuatu saat melihat seseorang lewat dihadapn kami sambil memakan roti. “keundae.. apa kau tak menjaga toko hari ini?” tanyaku. “toko ku tutup untuk sementara waktu sebelum aku-“

DRRT. DRRT. DRRT. Sepertinya ponselnya bergetar menandakan ada sebuah panggilan.

“yeoboseyo?”

“….”

“ne, naya”

“….”

“geurae, aku akan segera ke sana”

PIP. Dia megakhiri panggilan itu. “euung.. aku harus segera pergi. Apa kau mau ku antar sekarang?” tanyanya.

“aniyo. Kau pergi saja. Sepertinya kau sedang terburu-buru” ujarku.

“mianhae. Jja!” dia menyerahkan sebuah paper bag yang tak ku sadar sedari tadi terus dibawanya. “kkanda” dan dia segera berlalu meninggalkan. Ku lihat isi paper bag itu. “roti? Aah.. roti. Ne, ne. keundae.. ah ya! Aku lupa menanyakan namanya lagi. Pabbo pabbo pabbo!”.

~~

Ku ambil paper bag yang berada di meja nakasku. Sepertinya enak roti-roti itu ku makan sekarang. Pikirku. Baru 1 suap dan yang terjadi adalah wajah namja itu terus melintas di otakku.  Senyumnya, wajahnya, suaranya juga selalu terngiang di telingaku. Dia selalu ada di saat-saat aku mengalami kesulitan. “bagaimana kalau aku besok ke toko rotinya? Yap! Maja! Aku akan menanyakan namanya besok” dan ku putuskan untuk tidur setelah jam menunjukkan pukul 09.00 malam. Aku tak mau kesiangan lagi.

‘semoga namja itu ada di toko’ dan segera setelah matahari terbit aku pergi ke toko roti itu. Sambil terus memikirkan namja itu rasanya langkah kakiku sangat ringan dan tak sadar bibirku ini bersenandung kecil. Ehehehe.. entahlah, rasanya sangat menyenangkan. Dan.. masalahku dengan orang-orang itu ku rasa juga sudah mulai ku lupakan.

“ige wae? Tokonya tutup?” namun sayang, setibanya di sana tokonya terkunci. Itu berarti ada 2 kemungkinan belum dibuka atau tak akan dibuka. “Taehya?” sebuah suara terdengar dari arah belakangku. “Donghoo oppa?” Ya, dia Donghoo oppa. Seseorang yang bekerja di toko roti ini. “kenapa kau di sini?” tanyanya setelah sebelumnya kami saling memberi salam. “keuge.. sebenarnya aku ingin mampir sebentar ke toko. Tapi ternyata tutup. Waeyo oppa?”. “ah itu karena hari ini sajangnim sedang mengadakn acara besar.”

“acara besar? Mwoya?” tanyaku memperjelas. “pesta pertunangan” jawab Donghoo oppa singkat. “m-mwo? Tunangan?” dan entah kenapa aku kecewa mendengarnya. “ne. bahkan aku baru saja dari acara itu.” Aku tak tau harus mengatakan apalagi. Aku seperti mengalami de javu. Rasanya hatiku ini seperti kemarin saat aku melihat Lee Jongin itu. “aah.. arraseo”

Dengan gontai aku terus berjalan dan tanpa sadar kaki ini membawaku menuju danau itu kembali. Ya, aku hanya kembali duduk dan air mata perlahn membasahi pipiku. Aku masih berharap ini semua hanaya mimpi dan namja itu akan datang kepadaku saat aku menangis. Namun aku menunggu begitu lama NIHIL. Tak ada siapapun yang datang menemuiku.

 

2 YEARS LATER

Hari itu aku pulang dengan hati yang kembali menjadi kosong dan dingin. Aku menemukan kakakku, Shin Soo Hee ada di rumah. Katanya dia datang untuk menjemputku dan akan membawaku ke Amerika. Dia tau aku sangat tak suka itu dan lebih baik aku tinggal di Korea seorang diri. Namun entah kenapa ku pikir itu yang terbaik. Ya, aku memutuskan untuk tinggal di California sejak saat itu.

Seperti biasa, sore hari di akhir pekan seperti ini aku gunakan untuk berkeliling di sekitar rumah. Udaranya sedang bagus sekarang ini. BRAK. Entah aku yang sedang tak fokus atau namja ini yang tak memperhatikan jalannya, aku tersungkur jatuh karena bertabrakan. “Y- ige mwoya?” ku pungut sebuah paper bag yang sepertinya terjatuh saat tabrakan tadi. Paper bag itu benar-benar sama persis dengan sebuah paper bag yang ku terima 2 tahun lalu. Bahkan isinya adalah roti yang sama. Ya, roti dalam paper bag dari namja itu.

“I’m sorry” sang penabrak itu membantuku berdiri dan mengambil paper bag-nya.

“dangshin/neo?!” aku tak percaya ini. Itu dia. Namja pemilik toko roti itu. Tapi bagaimana bisa dia.. “hey! Akhirnya kita bertemu lagi.”

“e-eo. Keundae.. bagaimana kau bisa ada di sini? Mana istrimu?” sejenak dia terlihat bingung dengan pertanyaanku lalu tertawa terbahahk-bahak. “waeyo?!” tanyaku kesal. Seperti biasa namja ini selalu berbuat sesuka hatinya.

“istri? Hahahaha.. pasti kau salah paham eo? Apa kau mendengarnya dari Donghoo?” aku hanya memasang tampang kesal sekaligus bingung. “yang bertunangan itu hyungku, bukan aku.”

Aku membelalakan mata sempurna. Haish! Benar-benar memalukan! Bisa-bisanya aku salah paham seperti bahkan sebelum bertanya. “apa sekarang kita bisa saling memberi salam dengan benar? Aku mengangguk semangat. “Annyeong haseyo.. Shin Taehya imnida.

“Annyeong haseyo.. Lee Donghae imnida.”

 

~~END~~

Note : Annyeong Chingu …. Aku dateng lagi nih dengan kelanjutan FF LIB yg menurutku fakta bgt and untuk setiap kata yang tertera disini adalah pure milik saya.
Warning : Hati-hati buat yang di bawah 16 atau 17 tahun. FF ini mungkin saja, akan mengkontaminasi pikiran kalian. So, sebelum di baca lebih lanjut, silahkan tekan tombol merah pada pojok kanan layar komputer anda  Mungkin FF ini masih banyak kekurangan bahkan cenderung membosankan. Untuk itu mohon bimbingannya.

Sorry for typo

~oOo~

2 Comments (+add yours?)

  1. kyura2 ninja
    Dec 17, 2016 @ 18:41:03

    butuh sequel kak…… o_O

    Reply

  2. DOMPHI
    Dec 18, 2016 @ 18:15:54

    Huaaa akhir yang manis 😍😍

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: