Lilin Harapan

14610952_1794901864090153_8283723165509076544_n

Lilin Harapan

~ KyuKyo^^ Present ~

Lenght : Vignette | Genre : Sad Romance (Maybe) | Main Cast : Cho Kyu Hyun | Jung Il Na (OC) | Lee Dong Hae | Cover : MuhayatSJArt ♡♡♡ | Rating : General

 

“Lilin Harapan kan abadi,”

 

 

**************

 

Dari potongan kumpulan memori usang yang tersimpan di sudut otak. Jantungnya berdegup abnormal kala untaian masa lalu kembali terbesit dalam benak Il Na. Rasanya nyilu, sesak, menghimpit napas. Tubuhnya bergetar hebat, suhu udara terasa mendingin, napasnya memendek. jiwanya terasa koyak tiba-tiba.

 

‘Aku pernah mencintaimu,’ rajutan kata yang Kyuhyun bisikan ke indra rungu gadis itu kemarin hari kembali mendengung. Perasaannya berbalas, tepatnya telah berlalu. Kesimpulannya, sia-sia. Tak ada guna.

 

Kemelut keputus asaan harus Il Na tanggung sekarang. Cinta dalam diam harusnya ia akhiri sedari dulu. Sayangnya, bagai benih liar yang tumbuh dengan sendirinya, perasaan gadis itu berkembang tanpa bisa ia kendalikan.

 

‘Jawabanku hari ini, seharusnya bisa menyadarkan posisimu, bukan? Hentikan atau kau akan jadi satu-satunya orang yang paling tersiksa karena kisah ini,’ Il Na memasang headset ke telinganya, lantas memutar musik dari ponsel miliknya dengan volume paling penuh. Berharap bahwa untaian kata yang Kyuhyun dengungkan lainnya tak’kan lagi ia dengar, ditambah lagi gelak tawa orang-orang yang memandangnya rendah hari itu.

 

Meringkuk di lantai dingin, tangan gadis itu memainkan satu tangkai bunga akasia kuning. Tersenyum miris, embun dari ceruk netranya jatuh tanpa kompromi.

 

******

 

Renyai hujan telah usai terjun ke bumi. Menyisahkan udara lembab yang menenangkan, aroma khas tanah basah menambah esensi ketentraman jiwa bagi siapapun yang bersyukur atas nikmat Tuhan yang satu ini. Si pelangi muncul malu-malu di kanvas langit. Melukiskan ragam warna cantiknya. Mengantar si mendung yang mulai tersisih digantikan sinar sang surya.

 

Il Na keluar dari ruang musik, langkahnya terhenti di ambang pintu kala sepasang manik netra hitam kecoklatan miliknya menangkap siluet Kyuhyun yang berdiri di tengah lorong, tengah bersandar di lokernya sembari membaca buku. Gadis itu ganti menatap lilin dan korek yang kebetulan tangannya genggam. Bibirnya pun tertarik sebelah. Ia lantas menyalakan sumbu si lilin dengan api dari korek, benda putih panjang itu kini menyala.

 

Langkah Il Na mulai tercipta, lajunya kian cepat dari sebelumnya. Semakin cepat, lebih cepat melewati lorong. Fokus pandangnya tertuju pada satu titik. Hingga akhirnya, pada detik ke sembilan belas gadis itu telah sampai di hadapan sang artis kampus, Cho Kyuhyun.

 

“Nenekku pernah bilang padaku bahwa lilin cinta bisa mati, lilin kepercayaan juga bisa mati, tapi tidak dengan lilin harapan–” Jeda singkat itu diisi oleh embusan napas keduanya yang terhela bergantian. Kyuhyun terbungkam. Bukunya terabaikan, Atensinya terfokus penuh pada sosok Il Na yang tiba-tiba hadir di hadapannya.

 

“Lilin harapan tak akan mati jika orang yang berkeyakikan itu tetap berpegang teguh pada apa yang ia percayai. Realitasnya aku tak lagi peduli pada apa yang kuyakini tentangmu, Lilin harapanku perihal aku yang mencintaimu telah padam… semua selesai … hatiku mati….” Di akhir kalimat itu Il Na meniup lilinya, sang api lenyap. Kyuhyun terhenyak.

 

“Tidak tahu dan tak lagi mau tahu tentang bagaimana cara kau bisa mengetahui perihal perasaanku padamu. Pastikan kau tidak membongkar perasaan seseorang di khayalak umum lagi. Apalagi untuk ukuran mereka yang mengagumimu dalam diam. Serisih apapun kau karena itu, cinta mereka tetaplah tulus. Tak seharusnya kau mempermalukanku seperti sepekan yang lalu. Tanpa alasan jelas kau mengungkapkan apa yang aku jaga selama ini kepada semua orang, aku terluka. Seharusnya jika kau memang berniat mendepakku, menjauhkanku dari lingkupmu, lakukanlah dengan benar! perlakukan aku dengan baik dan terhormat. Mencintai bukanlah kesalahan.” Il Na mungkin mengungkapkan isi hatinya itu dengan melodi suara yang konstan, faktanya setiap kata yang ia tuturkan bagai memiliki jiwa sendiri. Sukses membuat si pria yang gadis itu tegur menelan dan memahami dalam-dalam maksud ucapannya.

 

“Ungkapan tentang seorang gadis yang lebih baik dicintai ketimbang mencintai memang benar–” kembali ada jeda, Kyuhyun menelan salivanya dengan sulit. Pria itu menunduk dalam, merasa malu pada kelakuannya tempo hari, sadar jika dirinya memang salah tindakan.

 

“Tenang, aku tak menyesal pernah mencintaimu… malah berterimakasih untuk edukasi yang kudapatkan dari kisah kita… jika kau ingin mengungkit hal ini suatu hari nanti, aku tak kan lagi malu. Karena aku bukanlah pendosa….” Il Na menatap pria itu kosong. Menghela napas dalam, seolah membuang segala beban yang selama ini menghimpit ulu hati hingga memberatkan bagian dadanya.

 

“Terimakasih karena kau aku bisa merasakan pernah dicintai lalu tidak lagi, antara perbedaan mencintai tanpa dicintai dengan dicintai lalu balik mencintai dalam artian saling mencintai,” Il Na menatap lurus ke depan, lalu ukiran senyum hangat bibirnya ciptakan. Binar bahagia tergambar di netranya tanpa Kyuhyun sadari.

 

“Baiklah, sampai jumpa… semoga harimu menyenangkan….” Tutur Il Na kemudian, mengakhiri segala petuah yang gadis itu tujukan pada Kyuhyun. Memilih segera pergi tanpa menunggu izin dari si pria yang setia membungkam mulutnya.

 

Melewati Kyuhyun, segala kisah cinta dalam diamnya telah usai, Il Na telah menutup lembaran kisahnya menyangkut pria itu. Semua tentangnya telah berakhir. Berganti sebuah kisah yang lain ketika uluran tangan Donghae tertuju padanya. Benar-benar mengukir kisah baru di lembar buku yang kosong kala tautan tangan keduanya bersatu.

 

Dan satu waktu itu, Kyuhyun sadar. Bagai melepas permata untuk emas imitasi. Ia telah melepaskan seorang gadis yang berharga.

 

****

 

♥ Epilog

 

[Tujuh hari yang lalu]

 

‘Jawabanku hari ini, seharusnya bisa menyadarkan posisimu, bukan? Hentikan! Atau kau akan jadi satu-satunya orang yang paling tersiksa karena kisah ini,’ Ucapan Kyuhyun beberapa menit lalu kembali terputar dalam benaknya, Il Na masih berdiri diposisinya, menunduk dalam. Menyembunyikan muka ayunya yang kini basah karena embun dari ceruk netranya. Merasa malu, marah, sedih, kecewa, segalanya berpadu dalam satu kubangan emosi. Untuk ukuran keterkejutan jelas jika Il Na merasa amat tertampar oleh kenyataan. Duduk dalam diam membaca novel tiba-tiba dirusak oleh kehadiran Kyuhyun yang tanpa ia sangka membuat pengumuman perihal memergoki perasaanya di depan banyak orang.

 

Taman itu kini telah sunyi. Selembar daun kering dari pohon akasia yang menaunginya terembus bayu, melayang terjun, sebab gravitasi jatuh ke bawah, mendarat di rambut hitam gadis itu. Sebuah tangan terulur, mengambil si daun kecoklatan.

Il Na mendongak menyadari kehadiran seseorang. Didapatinya senyum hangat milik Donghae, si kawan satu fakultas dengannya.

 

“Sudah cukup menangisnya? Kau jelek kalau menangis,” turur pria itu lembut sembari mengukir senyum menguatkan. Menciptakan secuil ketenangan di kalbu Il Na.

 

“Kurasa ini waktunya–” Donghae menghela napasnya. Kembali mengukir senyum hangat. Tangan pria itu membuang si daun, lantas kembali terulur, menghapus jejak embun dari netra Il Na, lalu menangkupkan tanganya di pipi gadis itu. Mendapati itu Il Na terhenyak.

 

“Kau sudah mendapati kenyataan kisah cintamu dengannya’kan? Jadi biarlah aku mengganti kisah cinta dalam diammu yang berakhir sedih itu. Mari membuat kisah cinta yang benar. Tentang saling mencintai….” Tutur Donghae kemudian, Il Na bungkam, embun dari netranya berhenti terproduksi seketika.

Detik dan menit dari waktu sejenak berlagu tanpa deru bunyi. Mengisi jeda diamnya Il Na sebab pengakuan Donghae. Si pria tak tahan menunggu.

 

“Mengagumi dalam diam dalam tempo lama tidak enak’kan? Aku harap kau memahami apa yang kurasa kkkk–” Ucap Donghae sembari terkekeh, berharap si gadis segera merespon, Il Na pun mengerjap. Jadi, makna kisah ini tentang dia yang melihat orang lain dan orang yang lain melihatnya.

 

“Ini kode agar aku tak kau tolak hehe,” sambung pria itu lagi, merasa amat malu sebenarnya.

Il Na menampik halus tangan Donghae, memundurkan langkahnya, menciptakan jarak antaranya dengan pria itu. Il Na menatap Dong Hae linglung. Baru saja hatinya dipatahkan di detik ini seseorang datang dan menawarkan sebuah services kisah cinta yang indah. Tahu perihal keraguan gadis itu, Dong Hae pun melanjutkan kata, “Kuberi kau waktu untuk menetralkan hatimu lagi, mengosongkannya agar aku bisa menetap disana dengan damai… Terhitung sejak hari ini, sepekan lagi aku harap kau memberikan jawaban. Pertemuan pertama hari itu, ketika aku mendapatimu dan kau mendapati kehadiranku, aku akan tersenyum, jika kau menolak abaikan saja aku, jika kau menerima hatiku, tersenyumlah! Berjalanlah ke arahku, kuulurkan tanganku untukmu, ketika tangan kita saling menggenggam, detik itulah kisah kita akan dimulai….”

 

(Harapan tak akan padam, jangan lupa jika satu harapan mati maka akan tumbuh harapan lainnya, Karena lilin harapan kan abadi)

 

 

**** FIN ****

 

Terimakasih untuk Admin ^_^ ♥
Terimakasih Mbak Aisyah buat quotesnya yang menginspirasi kkkkk 😉
Terimakasih untuk semuanya yang sudah mampir untuk baca 😀 ^_^
Untuk ukuran seorang fangirl iseng yang hoby nulis 🙂
FF ini memang jauh dari FF Author senior yang lainnya ^_^
Tapi sekali lagi, lilin harapan kan abadi 😉
Saya tetap berharap respon Chingudeul sekalian 😀 Mari saling menghargai 😉 Satu respon sangat berarti 😉 Need asupan vitamin kkkkk 😉
Maaf untuk segala kekurangan di FF ini 😉
Sekali lagi terimakasih banyak 😀 Di tunggu yah masukannya 😉
My FB : Jung Ha Kyo Elf
#Deepbow 😀 😉

 

 

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: