When Fanfiction Becomes Real

kkkk

 When Fanfiction Becomes Real

Author  : donadkyu

Cast: Choi Hyunhee (OC) | Cho Kyuhyun | Genre: AU, Romance, Wedding, Dream | Rating: PG-13

 

***

Dia tersenyum sembari matanya tetap terpaku pada laptop. Matanya memancarkan ketertarikan akan sesuatu yang ada di layar.

“Kenapa ada namja setampan itu?” ucapnya pelan. Lagi-lagi senyum miliknya itu muncul. Dalam sekejap, otaknya mulai berimajinasi dan tangannya mulai bergerak lincah menjelajahi keyboard laptopnya. Dia tenggelam dalam dunia fanfiction.

 

-When fanfiction becomes real-

 

“Choi Hyunhee!”

Teriakan keras itu tidak banyak berpengaruh pada yeoja yang masih saja meringkuk malas dalam tempat tidurnya. Perubahan yang terjadi hanyalah dirinya yang berubah posisi meringkuk ke kanan, menjadi ke kiri.

Merasa tak mendapat tanggapan dari anak perempuannya itu, sang ibu naik tangga ke lantai dua rumah mereka dan menuju ke kamar Hyunhee. Dengan cepat, dibukanya kamar itu dan warna sapphire blue mulai menyeruak mata sang ibu karena kamar anaknya memang didominasi warna itu.

Ya! Dasar pemalas! Bangun sekarang juga!” Ibunya kembali berteriak.

Hyunhee mulai bereaksi. Dia bangun dari tidurnya dengan mata masih setengah terbuka. “Baiklah, baiklah. Aku bangun eomma. Aku sudah bangun,” ucapnya. Perlahan, dia berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di sebelah kamarnya. Langkahnya masih gontai karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali.

Sementara itu, ibunya belum berpindah posisi. Dia masih menatap anaknya yang berjalan menuju ke kamar mandi. Tiba-tiba, suara yang cukup keras terdengar. Yang berikutnya terdengar, adalah suara eluhan panjang dari sang anak. “Aissh… appo!” keluhnya sambil mengusap bagian kepalanya yang terpentur pintu.

Ibunya tersenyum menahan tawa. “Sepertinya sekarang kau sudah bangun. Cepat mandi!” ucap sang ibu sambil berjalan menuju anaknya. Dia mengusap kasar kepala anaknya seolah merasa gemas dengan kelakuannya itu dan kemudian meninggalkan anaknya seorang diri yang masih mengusap kepalanya.

***

Dia segera memejamkan matanya setelah sampai duduk di bangku panjang yang terletak di taman kampusnya, Kyunghee University. Seulas senyumnya muncul ketika mendengar suara merdu dari earphone miliknya.

Seseorang berjalan mendekat kearah orang itu. Dia duduk tepat disebelahnya dan menatap kearah yeoja itu didampingi senyuman khasnya. Namja itu tetap diam. Dia memilih untuk menikmati ekspresi diwajah orang yang saat ini sedang ditatapnya. Sepertinya, yeoja itu tidak mengetahui keberadaan orang yang sekarang disampingnya.

Dari kejauhan, seseorang menatap mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya. “Kenapa Hyunhee bersama Sandeul saat ini?” ucapnya lirih. Kemudian, dia berjalan mendekat untuk menanyakannya kepada sahabat dekatnya itu. Dia semakin bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Hyunhee menutup mata dan dia mengenakan earphone. Hyesun tahu persis itulah kebiasaan Hyunhee ketika sedang menikmati sebuah lagu. Sedangkan Sandeul, sedang asyik menatap Hyunhee.

“Apa yang sedang kau lakukan, hee-ya?” tegur Hyesun. Hyunhee membuka mata dengan senyum yang masih menempel. “Bukankah kau tahu persis apa yang sedang aku lakukan?” jawabnya sembari menunjuk kearah telinganya, lebih tepatnya kearah earphone.

Menyadari kehadiran seseorang disebelahnya, dia terkesiap. Hyunhee bergeser kekiri untuk menambah jarak diantara dia dengan Sandeul. “Kenapa… kau…” Hyunhee tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dia masih merasa bodoh karena tidak menyadari orang yang selama ini dihindarinya.

Senyum di bibir Sandeul yang semula tulus, kemudian berubah. Wajahnya berubah menjadi wajah yang dipenuhi penyesalan. “Maafkan aku, Hee-ya,” ucapnya. “Aku tahu kau menghindariku. Tapi aku ingin menjelaskan kepadamu tentang─”

“Hentikan!” potong Hyunhee. Dia memutuskan untuk segera pergi sebelum luka─yang sepenuhnya sembuh itu─akan terbuka kembali. “Aku tidak membutuhkan penjelasanmu. Aku sudah melepasmu dan sekarang hiduplah bahagia dengan Hyora. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu.” Hyunhee berdiri dan dengan cepat menarik tangan Hyesun lalu pergi menjauh, meninggalkan Sandeul yang masih diam terpaku menatap kepergian mereka.

***

Gwaenchanayo?” tanya Hyesun khawatir. Sikap Hyunhee berubah setelah waktu itu. Dia terus saja terdiam dan tak bereaksi meskipun earphone yang bersuarakan penyanyi favoritnya itu masih tetap mengalun.

“Hee-ya,” panggil Hyesun karena Hyunhee tidak menjawab pertanyaanya. Hyunhee seolah sadar dari lamunan, dia dengan cepat mengatakan sesuatu. “Ah… ada apa? Kau tadi memanggilku?”

Entah mengapa, Hyesun merasa semakin sedih dengan hal yang dilakukan Hyunhee. Sahabatnya itu memang terbiasa menahan semua kesedihannya. Yeoja AB ini memang tidak bisa di tebak dan lebih sering menutup diri meskipun terhadap sahabatnya sendiri.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat murung?” tanya Hyunhee. Dengan suara lirih Hyesun berkata, “Jangan menahan diri. Menangislah. Rasanya sakit saat kau berusaha menutupi perasaanmu.”

Hyunhee terdiam mendengar perkataan Hyesun. Namun tak disangka, matanya mulai terasa basah dan air yang terkumpul dimatanya pun mulai menetes. Hyunhee menangis.

Hyesun mendekat kearah sahabatnya itu dan kemudian memeluknya erat, berharap bisa memberikan ketenangan. “Tak apa. Menangislah,” ucapnya. Dalam pelukkan sahabatnya, Hyunhee menangis terisak, berusaha meluapkan semuanya.

***

Dengan mata masih agak sembab, dia pulang kerumah. Sambil berusaha menghindari tatapan keluarganya dirumah, dia berjalan cepat menuju kamarnya. Namun, ketika sampai diruang keluarga, Ibunya memanggilnya. “Hee-ya, ayo makan!”

Langkah Hyunhee terhenti sejenak. Tanpa berbalik, dia berkata, “Aku tidak lapar. Kalian makan saja.” Hyunhee segera berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua rumah yang cukup luas itu. Sang Ibu dan Ayah saling bertatapan, merasakan keanehan anak mereka. Namun, mereka memutuskan untuk tidak mengganggu anaknya terlebih dahulu sampai suasana hatinya membaik.

Sesampainya dikamar, dengan cepat ditutupnya pintu kamar itu. Yang dia lakukan berikutnya adalah berbaring di tempat tidurnya. Dipeluknya boneka panda kesayangannya itu dan air matanya lagi-lagi menetes.

Aku akan baik-baik saja. Besok aku akan menjadi orang yang baru, pikirnya.

Tangis itu, lama kemudian berubah menjadi rasa kantuk. Dengan wajah masih memperlihatkan bekas air mata, matanya mulai terpejam dan dia mulai masuk ke alam mimpi.

 

-When fanfiction becomes real-

 

Pagi telah menjelang. Dengan senyum tipis, dia menuruni tangga dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama.

Good morning,” sapa Hyunhee kepada ayah dan ibunya. Sapaan itu dibalas senyuman oleh ibunya sementara sang ayah hanya berdehem singkat sambil tersenyum geli menatap anaknya. Kemudian ayahnya itu kembali sibuk dengan surat kabar yang saat ini sedang dibacanya.

Hyunhee segera duduk di hadapan ayahnya, menanti makanan terakhir yang akan dibawa ibunya dari dapur. Matanya menatap tak sabar ke arah makanan-makanan yang tersaji dihadapannya. Meskipun badannya kurus, dia memang sangat menyukai makanan.

Makanan terakhir pun datang. Senyum bahagia Hyunhee semakin merekah. Ibunya mengambil posisi tepat disebelah ayahnya dan mereka pun makan bersama.

Di tengah konsentrasi makannya, suara ayah Hyunhee memecah keheningan. “Ada yang ingin ayah bicarakah kepadamu,” ucapnya. “Ayah dan Ibu telah memikirkan hal ini baik-baik dan kami yakin bahwa inilah yang terbaik untukmu.”

Hyunhee menghentikan makannya, sedikit merasa aneh dengan nada bicara ayahnya. Dia tetap terdiam menunggu sang ayah meneruskan bicaranya. “Kau akan kami jodohkan.” Kata-kata itulah yang meluncur dari mulut ayahnya. Hyunhee mengangguk-angguk kecil. Namun, seolah baru sadar dari mimpi, dia berteriak hingga bagian-bagian kecil makanan yang dikunyahnya menyembur keluar, “Eee… dijodohkan?”

Orangtua Hyunhee merasa biasa saja dengan reaksi Hyunhee karena mereka tahu bahwa anaknya pasti akan kaget mendengar rencana mereka. “Kenapa aku dijodohkan? Aku tidak mau menikah dengan orang yang aku kenal. Mungkin saja dia ahjussi-ahjussi yang tidak laku─” Dengan cepat, ibunya memotong perkataan Hyunhee, “Dia masih muda.”

Hyunhee terdiam. Dia memikirkan lagi kiranya hal apa yang bisa membuat orangtuanya membatalkan perjodohan. “Bukankah eomma tahu kriteriaku? Pasti dia tidak─” Lagi-lagi, ibunya memotong perkataannya, “Dia tampan, tinggi, memiliki suara indah, dan masih banyak keunggulan lainnya.” Ibunya membanggakan calon jodoh Hyunhee layaknya orang sedang membanggakan sebuah produk yang sedang dipromosikan.

Hyunhee berpikir sejenak. Benarkah orang itu seperti yang digambarkan ibunya? Tampan, tinggi, bersuara indah? Memangnya dia artis?

Kemudian, Hyunhee mulai memikirkan alasan yang lain. “Ah… apakah dia bisa main game? Aku tahu, dia pasti tidak─”

“Dia seorang gamer, kau tahu?” potong ibunya lagi.

Ok, Hyunhee kalah telak. Namun, masih saja berusaha untuk mengelak dengan mengeluarkan kata sanggahan. “Tapi aku─”

“Tenanglah, kami sudah memikirkannya matang-matang. Kami yakin inilah yang terbaik untukmu.” Kali ini sang ayah yang memotong perkataan Hyunhee. Hyunhee mendengus pelan sambil berkata, “Terserah kalian saja.” Orangtuanya tersenyum kecil saat mendengar anaknya yang cukup keras kepala ini menerima keputusan mereka. Sedangkan Hyunhee berusaha menjejalkan makanan-makanan yang─tadinya─tampak lezat dimatanya itu dengan lesu.

Semoga bukan hal buruk yang terjadi, harapnya dalam hati.

***

Hari ini adalah hari pertemuan untuk Hyunhee dengan calon suaminya. Hyunhee yang biasanya mengenakan T-shirt, celana jeans serta sneakers, hari ini dipaksa berdandan dengan mengenakan gaun selutut warna putih serta higheels. Wajah tersiksa amat sangat nampak pada dirinya. Namun, dia sudah pasrah saat ini. Dia memang terbiasa memberontak, namun ada saat dimana dia harus menuruti keinginan orangtuanya. Dan… itulah yang saat ini dia lakukan.

Didalam restoran terkenal di Korea─yang merupakan tempat pertemuan mereka─ini, Hyunhee masih terduduk lesu didampingi kedua orangtuanya disamping kanan dan kiri. Dalam pikirannya, masih terbayang bagaimana kehidupannya di masa depan bersama orang yang tak dikenalnya. “Aigoo~ dia sudah datang,” ucap ibunya sambil mengguncang lengan Hyunhee.

Dengan malas, dia menoleh kearah orang itu dan…

“Cho Kyuhyun…”

Entah apa yang terjadi dengan matanya, sehingga saat ini dia merasa melihat idolanya. Dia berusaha mempertajam penglihatnya, namun hasilnya tetap sama. Kali ini dia mengejapkan matanya. Satu kali… dua kali… dan masih tetap sama. Apakah dia benar-benar tidak bisa lepas dari sosok yang selalu dipikirannya itu?

Aissh… aku pasti sudah gila,” desahnya lirih.

Orang yang wajahnya serupa dengan bintang hidupnya─Cho Kyuhyun─itu, semakin mendekat kearahnya. Dalam benaknya, dia bertanya-tanya kenapa imajinasinya masih saja belum berubah? Dia semakin yakin bahwa dia sudah gila!

Orangtuanya menuntun Hyunhee untuk berdiri dan menyambut tamu─keluarga calon menantu mereka─yang sudah mendekat. Akhirnya, mereka pun berdiri berhadapan dan saling membungkuk memberi hormat.

Aneh, wajah Cho Kyuhyun belum juga hilang. Hyunhee menghembuskan nafasnya sambil menggerutuki dirinya yang semakin gila karena imajinasinya yang berlebihan.

“Perkenalkan dirimu,” perintah Tuan Choi kepada anaknya, Hyunhee. Dengan lirih, Hyunhee memperkenalkan diri. “Annyeonghaseyo, Choi Hyunhee imnida. Bangapseumnida.” Tampak sekali kebahagiaan di wajah para orangtua yang ada disana. Sedangkan, calon suami─yang di dalam imajinasinya berwajah Kyuhyun itu─memasang wajah datar.

Cho Kyuhyun imnida. Bangapseumnida,” ucap namja itu.

Hyunhee kembali mengejap. Apakah otaknya sudah gila? Kenapa namanya pun sama? “Cho Kyuhyun? Apakah aku benar-benar sudah gila?” Hyunhee yang tanpa sadar mengucapkan apa yang ada dipikirannya.

Nde?” Orang itu menatap aneh ke arah Hyunhee. “Apa maksudmu dengan ‘gila’?” sambungnya.

“Bahkan suaranya pun mirip. Sepertinya aku benar-benar gila.” Lagi-lagi, Hyunhee menyuarakan apa yang ada dipikirannya. Namja di hadapannya itu memicingkan mata.

Melihat keanehan anaknya sedang kambuh, Nyonya Choi menyenggol lengan Hyunhee pelan, namun Hyunhee bisa merasakannya. Beliau mencondongkan tubuhnya kearah Hyunhee, bermaksud membisikkan sesuatu. “Kau jangan bertindak bodoh. Apa maksudmu dengan semua itu?” tanya Nyonya Choi lirih. Beliau kemudian kembali ke posisinya dan tersenyum kecil kepada calon besannya.

Kali ini, giliran Hyunhee yang melakukannya. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah ibunya dan membisikkan sesuatu. “Eomma, ada yang salah dengan otakku. Dia terlihat seperti Cho Kyuhyun idolaku. Bukankah itu cuma khayalan?”

Nyonya Choi menoleh ke arah Hyunhee dan menatap anaknya dengan tatapan betapa-bodohnya-anakku sedangkan Hyunhee membalas dengan tatapan tak mengerti. “Aissh… dia itu Cho Kyuhyun. Penyanyi terkenal itu,” ucap beliau dengan nada kesal.

Hyunhee kembali ke posisinya. Dia menatap namja yang tampak bosan dihadapannya ini. Kemudian, pandangannya menerawang sambil memikirkan sesuatu. “Cho Kyuhyun?” Hyunhee kembali menyuarakan pikirannya. Ucapan tanpa sadar itu dibalas dengan deheman singkat serta tatapan aneh yang belum berubah dari mata orang itu.

“Cho Kyuhyun?” Kali ini dia tersadar, namun dengan nada ingin menyadarkan diri sendiri. Orang dihadapannya tidak bereaksi.

“CHO KYUHYUN?” pekiknya. “CHO KYUHYUN PENYANYI ITU?”

Dengan malas, orang dihadapannya mengangguk. “Ne,” ucapnya singkat.

Hyunhee menatap tak percaya ke arah Kyuhyun. Dengan mulut setengah terbuka, otaknya memikirkan sesuatu. Apakah ini mimpi? Apakah kenyataan? Bagaimana bisa dia dijodohkan dengan artis? Dan dia adalah CHO KYUHYUN!

Meskipun dia sering membayangkan hal mustahil ini terjadi seperti pada fanfiction, apakah mungkin fanfiction itu menjadi nyata? Dijodohkan dengan seorang artis yang sebelumnya hanya dilihat melalui televisi, menikah dengannya, hidup bersamanya, itu semua adalah kehidupan fanfiction! Lalu apakah semua hal itu akan menjadi nyata? Semua hal khas di fanfiction, jatuh cinta, ciuman, romantisme, kehidupan sempurna, apakah akan jadi nyata? Hyunhee sendiri masih bergelut dengan pikirnya saat ini. Entahlah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

***

Semuanya berlangsung dengan cepat. Pertemuan, pernikahan diam-diam, tak terasa semuanya telah terjadi. Pernikahan ini memang dirahasiakan dengan alasan untuk keselamatan Hyunhee. Kini, mereka sedang terdiam di apartement mereka melakukan kegiatan masing-masing. Kyuhyun sibuk dengan PSP ditangannya sedangkan Hyunhee sibuk menonton televisi. Sesekali, Hyunhee melirik kearah Kyuhyun namun kemudian kembali menatap ke layar televisi meskipun pikirannya tidak terpusat disana.

Hyunhee menghembuskan nafasnya sesaat. Kemudian, dia menoleh ke arah Kyuhyun. “Kenapa kau menerima pernikahan ini?” tanya Hyunhee pada akhirnya.

Kyuhyun masih nampak sibuk dengan PSP-nya namun dia akhirnya angkat bicara. “Entahlah. Aku sebenarnya juga tidak setuju. Aku datang kepertemuan karena mereka mengancam akan menghancurkan PSPku. Tapi setelah mendengar bahwa kau suka bermain game, kemudian aku berpikir bahwa aku akan baik-baik saja. Setidaknya aku mempunyai lawan main dirumah.”

Hyunhee mengernyitkan dahi mendengar jawaban Kyuhyun, merasa aneh dengan jawaban tersebut. “Cih, alasan macam apa itu?” desah Hyunhee pelan. Namun sepertinya Kyuhyun bisa mendengar suara itu karena sempat terjadi perubahan mimik wajahnya sesaat.

“Lalu apa alasanmu menerima perjodohan ini? Sepertinya kau tidak mengetahui bahwa akulah orang yang akan dijodohkan denganmu,” kata Kyuhyun. “Melihat reaksi gilamu saat kita bertemu, itu adalah bukti bahwa kau benar-benar tidak tahu siapa orang yang akan menjadi suamimu,” sambungnya.

Hyunhee tersenyum tipis mendengar pertanyaan Kyuhyun. “Aku merasa harus menuruti perkataan mereka kali ini. Aku sudah terlalu banyak membantah,” jawabnya.

“Aaa… pembangkang rupanya,” tanggap Kyuhyun.

Hyunhee mengernyitkan dahinya kembali. Dia merasa sedikit emosi namun berusaha menahannya. Dia tidak bisa membantah karena itulah kenyataannya. Hyunhee adalah orang yang suka membangkang juga keras kepala.

Kyuhyun kemudian menghentikan permainannya. Diletakkannya PSP itu di meja yang terletak disebelahnya. Perlahan, dia mendekat ke arah Hyunhee berada. Tak lama kemudian, dia sudah duduk disebelah Hyunhee. Hyunhee yang mengawasi pergerakannya sedari tadi, merasa aneh dengan apa yang Kyuhyun lakukan.

“Kau fansku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Hyunhee tersentak. Keringat dinginnya mengucur. Tiba-tiba mulutnya terasa seolah terkunci. Dia tidak ingin mengakui fakta bahwa Kyuhyun adalah pujaannya. Sifat narsis penyanyi solo favoritnya itu bisa meluap-luap jika mengetahui fakta itu, pikirnya.

“B… Bagaimana kau bisa… berpikiran seperti… itu?” Sial. Mulutnya merasa kaku. Kenapa dia bisa terbata-bata mengatakan hal itu? Sepertinya rasa gugup berhasil menguasai dirinya sehingga dia jadi seperti itu.

Fakta kegugupan Hyunhee membuat Kyuhyun mengeluarkan senyum kemenangannya. “Kau ingin bukti?”

Hyunhee tak menjawab. Dia bergerak ke kiri, berusaha menambah jarak antara mereka berdua.

“Pertama, kau merasa sangat kaget. Bahkan aku bisa mengatakan sangat kaget─”

“Tunggu! Aku pikir itu… reaksi wajar saat… mengetahui orang yang akan menikah denganmu adalah seorang… artis,” potong Hyunhee dengan cepat.

Seorang yang kau puja, batin Hyunhee.

“Terserah dengan pembelaan dirimu itu. Yang aku tahu, itu alasan pertama.”

Hyunhee berniat untuk kembali memotong perkataan Kyuhyun namun dengan cepat Kyuhyun mengatakan perkataan selanjutnya sehingga Hyunhee mengurungkan niatnya.

“Alasan kedua adalah…” Kyuhyun menggantungkan perkataannya. Dia bergeser, bermaksud untuk mendekat kearah Hyunhee.

Kegugupan Hyunhee kembali membuncah. Tak terasa, dia menahan nafasnya saat Kyuhyun mendekat. Perlahan, dia kembali menghindar. Sekuat tenaga dia berusaha menutupi kegugupannya meskipun dia tahu bahwa hal itu tidak membuahkan hasil.

Tiba-tiba, tawa Kyuhyun meledak. Dia tertawa terbahak-bahak. “Itulah alasan kedua. Kau gugup. Andai saja kau bisa melihat sendiri wajahmu saat ini,” ucapnya disela tawa.

Hyunhee mendengus kesal meskipun wajahnya telah berubah warna dari pucat menjadi merah padam. “Aissh…” Hyunhee bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan cepat menuju kamarnya serta menutup pintu kamarnya sehingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. Sementara Kyuhyun masih memegang perutnya sembari tertawa terbahak-bahak.

***

Perlahan, pintu kamar itu terbuka. Hyunhee memposisikan kepalanya diluar pintu untuk mengamati keadaan sekitarnya. Sunyi. Pasti Kyuhyun sudah pergi pagi tadi, pikirnya. Meskipun Kyuhyun adalah artis pendatang baru, namun karirnya langsung melesat karena kemampuan menyanyinya yang luar biasa. Jadi, wajar saja jika Kyuhyun sibuk.

Merasa tidak ada ancaman, dia melenggangkan kakinya menuju ke ruang tengah dan kemudian ke dapur karena lapar. Dia melewati jam dinding yang ada di sana. Jam 9 KST. Senyum kecilnya muncul. “Ada kemajuan ternyata,” ucapnya pelan. Kebiasaannya bangun siang belum juga menghilang meskipun saat ini ada kemajuan. Biasanya jam 10 dia masih terlelap. Namun kali ini jam 9. Setidaknya, itu bisa disebut kemajuan untuknya.

“Tidak ada yang bisa dimakan,” keluhnya saat melihat dapur yang kosong, hanya berisikan snack-snack. Apartement ini adalah apartment Kyuhyun. Mereka diharuskan untuk tinggal bersama. Dan Hyunhee bersyukur bahwa apartement ini memiliki dua kamar sehingga mereka tidak perlu tidur bersama.

Hyunhee menghembuskan nafasnya. Tanpa aba-aba, dia kembali ke kamar dan berganti baju. Sesaat kemudian, dia pergi dari apartement menuju ke supermarket. Satu setengah jam kemudian, dia kembali ke apartement. Kantong kertas yang dibawanya menggunakan tangan kiri itu tampak penuh. Sedangkan tangan kanannya membawa pizza daging yang sangat disukainya. Saat ini terlihat dia kesulitan melepas sepatunya. Dia menunduk sambil menggerak-gerakkan kakinya agar sepatunya terlepas.

“Kau sudah pulang?”

Hyunhee mendongak dan melihat Kyuhyun sedang bersantai di sofa ruang tengah. Hyunhee menghentikan gerakan saat melihat Kyuhyun berdiri dan berjalan mendekat kearahnya. Terpaku karena Kyuhyun nampak sangat tampan dengan celana panjang warna putih serta kaos hitam. Kemudian, Kyuhyun berhenti tepat didepan Hyunhee.

“Darimana saja kau? Kenapa pergi tanpa memberitahuku?” tanya Kyuhyun.

Hyunhee mengejap. “Aku… aku baru saja belanja. Kenapa kau ada disini?”

Kyuhyun mendengus kesal. “Aissh… Kau tidak suka melihatku di apartementku sendiri?”

“Bukan begitu. Aku─”

“Sepertinya kau membawa makanan. Masuklah! Jangan berdiri di depan pintu. Nanti makanannya dingin.” Kyuhyun kemudian berjalan santai meninggalkan Hyunhee seorang diri yang masih membawa belanjaannya tanpa membantu yeoja itu.

Hyunhee menarik nafas, lalu menghembuskannya seolah ingin menenangkan diri. Kemudian, dia berjalan menyusul Kyuhyun masuk ke ruang tengah apartement. Diletakkannya pizza di meja yang terletak tepat dihadapan Kyuhyun. Sedangkan dirinya terus berjalan ke dapur dan meletakkan kantong belanjaannya. Saat dia kembali ke ruang tengah, dia melihat kyuhyun memakan 1 potong pizza daging. Sedangkan sisanya di bagi menjadi dua, 5 potong dan 2 potong.

Untung saja dia tidak menghabiskannya. Rupanya dia masih mengerti tata krama. Dia hanya mengambil 3 potong Pizza saja, batin Hyunhee.

Hyunhee duduk disamping Kyuhyun dan mengambil salah satu dari 5 potong pizza tersebut. Namun, tangan Kyuhyun dengan cepat menepisnya.

“Itu punyaku. Kau yang itu,” ucap Kyuhyun sambil menunjuk 2 potong pizza yang diletakkan terpisah.

Hyunhee nampak kesal dengan apa yang dilakukan Kyuhyun. “Ya! Kenapa kau mendapat pizza yang lebih banyak??!?” teriak Hyunhee.

Disela-sela makannya, dia menjawab, “Karena aku sangat lapar sekarang.” Dia kembali menggigit potongan pizza yang ada ditangannya. “Hei, ini enak sekali, kau tahu? Lain kali, beli yang banyak, ne?”

Mendengar ucapan Kyuhyun, Hyunhee nampak makin kesal. Dia menarik nafas, berusaha untuk menenangkan diri serta berharap diberikan kesabaran untuk menghadapi setan yang ada di depannya ini.

“Semakin hari, aku semakin sadar kenapa orang-orang menyebutmu setan,” gerutunya pelan. Tangannya mengulur mengambil salah satu dari 2 potong pizza miliknya. Namun lagi-lagi Kyuhyun menahan tangannya. Hyunhee kembali menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal. “Ada apa lagi?”

“Setan? Apa maksudmu dengan setan? Aku ini penyanyi solo tertampan di korea. Berkelakuan baik juga─”

Mendengar Kyuhyun mulai membanggakan dirinya, Hyunhee berusaha untuk membuat setan tengil itu untuk diam kembali. “Ya… ya… terserah kau saja. Aku mau makan,” ucapnya. Kemudian Hyunhee kembali mengambil pizza itu dan menyantapnya dengan lahap tanpa memperdulikan Kyuhyun.

***

“Kenapa kau ada dirumah?” tanya Hyunhee kepada Kyuhyun yang masih nampak santai di sofa. Sedangkan Hyunhee sibuk menata belanjaan yang tadi dibelinya ke dalam rak penyimpanan.

“Kau tidak ingin aku dirumah?”

Hyunhee menghentikan aktivitasnya. Dia menarik nafas dan kemudian meneruskan kegiatannya kembali. “Tidak bisakah kau tidak berpikiran buruk kepadaku?”

“Aku sedang tidak ada kegiatan hari ini,” sahutnya. “Hei, kenapa kau banyak sekali membeli makanan instan?” tanya Kyuhyun.

Hyunhee berbalik untuk mengambil belanjaannya yang lain, namun ada sosok yang menghalanginya. Jarak mereka sangatlah dekat. Kegugupannya kembali muncul. “Y… Ya! Kenapa kau muncul tiba-tiba? Sejak kapan kau ada disini?” tanyanya. Dia sempat terbata-bata namun akhirnya bisa mengendalikan nada suaranya.

“Aku? Aku baru saja kesini. Hanya ingin tahu apa yang sedang kau lakukan,” jelasnya. Kyuhyun mengernyitkan dahinya menanggapi reaksi Hyunhee karena terlampau aneh.

Hyunhee mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Kyuhyun. Kemudian, dia melewati Kyuhyun lalu kembali memasukkan makanan-makanan instan itu ke dalam rak penyimpanan.

“Kenapa banyak sekali makanan instan? Kau tidak memasak?” tanya Kyuhyun.

“Aku tidak pandai memasak. Hanya bisa membuat beberapa makanan saja,” jawab Hyunhee. “Akhirnya selesai!” serunya. Dia berbalik dan kembali melihat Kyuhyun masih di tempat yang sama. Wajahnya memanas, entah semerah apa wajahnya saat ini. Yang dia lakukan berikutnya adalah berbalik menghadap rak dan mengambil sebungkus ramyeon instan. “Kau mau?” tawarnya tanpa mengubah posisi.

“Baiklah. Sepertinya aku juga masih butuh makan,” jawabnya yang kemudian berjalan kembali meninggalkan Hyunhee seorang diri di dapur.

Hyunhee berbalik menatap Kyuhyun yang menjauh kemudian mendengus pelan. “Dasar, perut karet! Masih belum puas makan 6 potong pizza besar.”

“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Kyuhyun sambil berbalik.

“A… Tidak. Aku tidak mengatakan apapun,” jawab Hyunhee yang tentu saja berbohong. Sedikit merasa heran. Telinga Kyuhyun ternyata peka jika menyangkut tentang dirinya. Kyuhyun mengangguk-angguk kecil kemudian kembali berjalan.

“Sepertinya kau harus lebih berhati-hati, Choi Hyunhee,” ucapnya kepada diri sendiri.

***

Dengan senyum terpampang jelas diwajahnya, dia membawa panci kecil berwarna kuning keemasan yang biasanya digunakan untuk memasak ramyeon ke ruang tengah. Setelah sampai, dia duduk di sebelah Kyuhyun dan meletakkan panci itu ke meja yang ada dihadapan mereka. Ketika tutup panci itu dibuka, kuah yang mengepul serta aroma sedap khas ramyeon sangat terasa di apartement ini. ketika Hyunhee sudah memegang sumpit dengan tangan kanannya, tiba-tiba Kyuhyun mengambil sumpit tersebut. Hyunhee melirik marah ke arah Kyuhyun.

Ya! Kenapa kau mengambil sumpitku?” protes Hyunhee.

Seolah tidak mendengar suara Hyunhee, Kyuhyun menggeser panci tersebut sehingga tepat berada didepannya. “Bukankah tadi kau menawarkan padaku ramyeon ini?” ucapnya.

Mwo? Kapan aku menawarkan…” Kata-kata Hyunhee terhenti ketika dia mengingat sesuatu. Dia teringat ketika menawarkan Kyuhyun ramyeon itu.

“Kau sudah ingat?” ucapnya yang kemudian menyeruput ramyeon itu menggunakan sumpit sehingga menimbulkan suara khas.

“Tapi… tapi…”

“Apa?” tanya Kyuhyun disela makannya.

Hyunhee menelan ludah saat menatap Kyuhyun menyantap ramyeon. “Hanya ada satu panci. Aku juga sangat lapar. Bukankah kau sudah makan banyak pizza tadi?” ucap Hyunhee memelas.

Kyuhyun menghentikan acara makannya dan menoleh ke arah Hyunhee. “Kau juga mau?” tawarnya. Dengan anggukan pelan, Hyunhee menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Kalau begitu, kita makan bersama. Bagaimana?”

Hyunhee tercekat. “Makan bersama?” ucapnya lirih.

“Benar. Bukankah tidak ada dua panci disini. Tapi, kita masih punya sumpit lebih. Jadi, ayo makan bersama,” jelas Kyuhyun.

Hyunhee nampak menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan. Bagaimana bisa dia makan bersama idolanya? Rasa gugup selalu bisa menguasainya. Dia juga takut jika Kyuhyun akan semakin membanggakan dirinya dan bisa menindasnya karena Hyunhee adalah tipe orang yang mudah dibohongi serta ditindas karena kepolosannya atau bahkan lebih pantas disebut kebodohannya.

“Kau tidak mau makan bersama idolamu?”

Suara itu benar-benar merusak mood Hyunhee. Baru saja dia memikirkannya dan sekarang benar-benar terjadi! Apa yang dia katakan tadi? “I… do… la?”

“Benar. Mungkin ini adalah suatu kebanggan untukmu karena bisa makan satu ramyeon bersamaku. Bukankah ini hal yang jarang terjadi untuk fans biasa?” Lagi-lagi Kyuhyun membanggakan dirinya.

Hyunhee mendengus kesal. “Rasa percaya dirimu sangatlah besar Cho Kyuhyun.”

“Tentu saja. Jika aku tidak percaya diri, bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang artis?”

Aisshjinjja.” Hyunhee menatap Kyuhyun dengan tatapan kesal. Kemudian, tatapan tersebut turun ke ramyeon yang dalam benaknya sedang melambaikan tangan menanti untuk disantap. Aroma khas ramyeon, menambah rasa laparnya saat ini. Tak terasa, dia menelan ludahnya.

Kyuhyun tertawa keras melihat yeoja yang ada dihadapannya ini. “Bagaimana? Makan bersama?” Lagi-lagi Kyuhyun menawarkan opsi yang cukup menakutkan untuk Hyunhee.

Hyunhee kembali mendengus. Dengan cepat, di ambilnya ramyeon itu dan segera berlari kekamarnya untuk menghindari Kyuhyun.

Ya! Kenapa kau membawa ramyeonnya, hah? Aku masih lapar!” teriak Kyuhyun. Dia terus saja berteriak sambil mengamati Hyunhee yang berlari ke kamarnya.

“Aku tidak peduli! Aku lebih lapar darimu!”

Setelah itu, suara pintu tertutup pun terdengar. Kyuhyun nampak kesal namun kemudian terkekeh. “Setidaknya, ambil sumpit dulu, bodoh!” ucapnya sambil menatap sumpit yang masih ada dalam genggamannya.

***

Malam harinya, Kyuhyun nampak resah saat menonton televisi. Dia berkali-kali melirik jam kecil dengan aksen sederhana yang ada diatas televisi. Dihembuskan nafasnya sejenak dan kemudian bangkit menuju kamar Hyunhee.

“Choi Hyunhee!” panggilnya sambil mengetuk pintu. Hyunhee membalas dengan deheman. “Choi Hyunhee!” Dia berusaha memanggil untuk kedua kali dan lagi-lagi di balas dengan deheman. Merasa diacuhkan, tanpa aba-aba Kyuhyun masuk kedalam kamar. Dia melihat Hyunhee sibuk berkutat dengan laptopnya. Dia nampak serius. Berbagai ekspresi muncul dari wajah manisnya itu. Untuk sejenak, Kyuhyun dibuat terpesona olehnya. Nampaknya Hyunhee tidak menyadari kehadiran Kyuhyun.

Penasaran, Kyuhyun mendekat perlahan ke arah Hyunhee. Dia melihat tangan Hyunhee nampak lincah menari pada keyboard. “Lee Donghae mendekat ke arah Hyesun dan kemudian menciumnya? Aigoo…” ucap Kyuhyun sambil membaca tulisan yang ada pada layar laptop itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dengan cepat, Hyunhee menutup laptopnya itu. Hyunhee berbalik dan dia melihat Kyuhyun tepat dibelakangnya. Astaga, dia tertangkap basah saat melakukan hobinya! Bagaimana jika Kyuhyun tahu kalau dia gemar menulis fanfiction tentang Kyuhyun? “Ya! Kenapa kau ada disini? Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamarku?”

“Apa yang sedang kau tulis? Siapa Lee Donghae? Siapa Hyesun?” tanya Kyuhyun seraya memborong pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Hyunhee terlebih dahulu.

“Aku sedang… menulis,” jawab Hyunhee gugup.

“Aku tahu kau sedang menulis, tapi apa yang kau tulis?”

Fanfiction,” jawab Hyunhee pada akhirnya.

Kyuhyun mengangguk-angguk menanggapi jawaban Hyunhee. “Jadi… kau seorang penulis?”

“Begitulah.”

Kyuhyun mendekat kearah Hyunhee, mencondongkan tubuhnya untuk menatap wajah yeoja itu lebih dekat. Sontak, Hyunhee melakukan hal sebaliknya. Dia menjaga jarak dari Kyuhyun. “Apakah ada fanfiction tentangku?”

Hyunhee mengejapkan matanya. “Fanfiction? Tentangmu?”

Kyuhyun kembali keposisi semula, posisi tegap. “Iya. Aku yakin pasti ada fanfiction tentangku,” ujar Kyuhyun bangga.

“Banyak sekali,” kata Hyunhee malas. Dan aku salah satu yang membuatnya,batinnya.

“Benarkah? Sebanyak itukah fansku?” Lagi-lagi Kyuhyun membanggakan dirinya.

“Mungkin,” jawab Hyunhee pendek. “Jika kau penasaran, cobalah mencari. Kau akan menemukan berbagai fanfiction tentangmu. Adegan-adegan romantis, kelakuan gilamu─” Kata-kata tadi membuat Kyuhyun bereaksi. Dia menatap kesal ke arah Hyunhee meskipun sesaat. “Tunggu. Aku belum selesai bicara dan itulah kenyataannya. Kau memang berkelakuan gila. Ada juga yang membuatmu seperti seorang agen, orang sakit atau bahkan sebagai arwah. Tak jarang ada kisah tragis tentangmu,” terang Hyunhee.

Sesaat, Kyuhyun nampak bergidik. Namun rasa penasaran lebih menguasainya. “Aku akan membacanya. Silahkan lanjutkan aktivitasmu.” Kyuhyun berjalan menuju pintu, bermaksud untuk meninggalkan kamar Hyunhee menuju ke kamarnya. Setelah sampai di depan pintu, dia berbalik. “Ah, tidak. Memasaklah! Aku lapar. Setelah itu, baru kerjakan lagi kegiatanmu,” ucapnya. Baru setelah itu, dia pergi ke kamarnya.

***

Hari demi hari telah berlalu. Kehidupan Hyunhee juga Kyuhyun yang dipenuhi konflik-konflik sepele terus saja berlanjut. Sifat evil Kyuhyun juga sifat mudah tertindas Hyunhee selalu terlihat mencolok. Kyuhyun selalu berhasil membuat Hyunhee kesal ataupun gugup. Namun kali ini ada yang aneh. Sedari tadi, Kyuhyun terus mengamati Hyunhee. Pandangan yeoja itu kosong.

Saat ini, mereka sedang duduk berdua di sofa. Tatapan Hyunhee masih sama. Kyuhyun mengernyitkan dahinya kemudian menghembuskan nafas. Ada rasa tak nyaman melihat ‘teman hidup’nya berubah menjadi aneh.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun. Hyunhee diam tak bergeming. “Hyunhee-ya?” panggil Kyuhyun. Namun, lagi-lagi Hyunhee terdiam. Kyuhyun meninju lengan Hyunhee pelan. Kali ini ada reaksi. Hyunhee nampak menunduk. Namun setelah beberapa saat, dia tetap terdiam.

Kali ini Kyuhyun membungkukan tubuhnya dan mendongak menatap wajah Hyunhee. “Kau… menangis???” ucapnya terbata. Dia tidak menyangka bahwa Hyunhee bisa menangis. Meskipun dia tahu bahwa Hyunhee adalah salah satu korban favoritnya, tapi dia tidak suka melihat yeoja itu menangis. Bagaimanapun, menurutnya Hyunhee bukan orang yang mudah menangis.

“Apa yang terjadi? Apakah pukulanku tadi keras? Kau sedang sakit?” Runtutan pertanyaan keluar dari bibir Kyuhyun karena panik yang menguasainya. Dia semakin panik saat tangis tanpa suara itu mulai berubah dan isakan mulai terdengar.

Tiba-tiba, Kyuhyun teringat sesuatu. Dia pernah membaca hal ini di fanfiction. Merasa sedikit aneh, namun dia merasa bahwa inilah yang harus dia lakukan. Dengan gerakan singkat, dia merengkuh Hyunhee kedalam pelukannya.

Hangat. Itulah yang mereka rasakan. Suatu perasaan aneh menyusup di hati Kyuhyun. Dia tidak tahu apa itu, tapi yang dia yakini saat ini adalah pelukan ini terasa benar. Dia merasa Hyunhee-lah yang harus ada dalam pelukkannya.

“Jangan menangis. Katakan sesuatu! Jangan membuatku khawatir,” kata Kyuhyun.

Hyunhee membalas pelukkan Kyuhyun. Kemudian, dia mengatakan sesuatu. “Aku…”

“Kau kenapa?”

“Aku… ingin…”

“Apa yang kau inginkan?”

Hyunhee masih terisak hingga akhirnya sebuah kalimat berhasil melesat keluar dari bibirnya. “Aku ingin osam bulgogi!”

Osambulgogi?” Hyunhee mengangguk dalam pelukkan Kyuhyun.

Dia menangis karena ingin makan osam bulgogi?

***

Mashita!” ucap Hyunhee saat dia memakan potongan cumi osam bulgogi. Hyunhee makan dengan lahap. Sedangkan Kyuhyun masih menatap heran kearah orang yang berada dihadapannya.

Merasa diperhatikan, Hyunhee menghentikan aktivitas makannya sejenak dan menatap Kyuhyun. “Kau tidak makan?” tanya Hyunhee. Kyuhyun hanya menggeleng. “Kalau begitu, itu… boleh kumakan?” tanyanya lagi sambil menunjuk osam bulgogi milik Kyuhyun.

“Ambillah! Aku tidak lapar,” jawabnya. Tanpa merasa aneh sedikitpun, Hyunhee tersenyum dan kemudian meneruskan makannya .

15 menit kemudian, Hyunhee berhasil menghabiskan masakan pedas itu. “Aaa… kenyangnya…” ucap Hyunhee sambil merentangkan tangannya keatas seolah mengulurkan badan. Kemudian, seulas senyum manis terpampang diwajahnya. “Gomawo.”

Lagi-lagi Kyuhyun terpaku untuk sesaat. Senyum tipisnya muncul lalu kembali menghilang. “Kita harus segera pulang. Aku tidak ingin ada berita bahwa Cho Kyuhyun sedang makan bersama yeoja rakus,” ucapnya yang kemudian bangkit dan mulai berjalan keluar setelah membayar makanan.

Hyunhee segera menyusul Kyuhyun yang saat ini sudah masuk ke dalam mobil. Hyundai hitam itupun segera melaju menyusuri jalan korea menuju ke apartement mereka.

Selama perjalanan, mereka hanya diam. Hyunhee menatap ke arah luar dan Kyuhyun sesekali melirik ke arah Hyunhee.

“Apakah kau benar-benar menangis hanya karena osam bulgogi?” tanya Kyuhyun pada akhirnya.

Hyunhee mengalihkan wajahnya dan menatap Kyuhyun. “Apa kau bisa dipercaya?”

Kyuhyun tetap berkonsentrasi menyetir, namun saat ini dia mengernyitkan dahinya seolah pertanda bahwa dia mendengarkan apa yang diucapkan Hyunhee. “Kau tidak percaya dengan idolamu sendiri?” Hyunhee mendengus. “Baiklah. Kau bisa percaya padaku. Lagipula aku juga tidak tahu akan menceritakan masalah ini kepada siapa,” lanjutnya.

“Aku… melihat orang yang pernah ku sayang… sedang berpelukkan bersama selingkuhannya.” Aneh. Dia tidak suka fakta bahwa Hyunhee menangis karena orang lain.

“Kau masih menyukai orang itu?” tanya Kyuhyun was-was.

Hyunhee menggeleng. “Tidak. Sepertinya aku sudah tidak menyukainya lagi. Hanya terasa aneh saja.” Seulas senyum muncul dibibir Hyunhee. “Tadi, ketika aku melihatnya, aku tiba-tiba ingin makan osam bulgogi. Jadi, itulah alasan mengapa aku meminta osam bulgogi.”

Kyuhyun sontak menatap Hyunhee. Hyunhee membalas tatapan Kyuhyun seolah tak terjadi apa-apa. Aneh. Itulah kesan Kyuhyun terhadap Hyunhee. “Apa hubungan antara dia dengan osam bulgogi?”

“Tidak ada. Tiba-tiba aku terbayang osam bulgogi dan aku sangat lapar.”

Kyuhyun kembali berkonsentrasi ke jalan. Dia menghembuskan nafas pelan. “Apa golongan darahmu?”

“AB,” jawab Hyunhee singkat.

“Pantas saja,” ucap Kyuhyun lirih. Sepertinya Hyunhee tidak mendengar ucapan tersebut karena tidak ada kalimat protes yang terlontar darinya.

Mobil pun berhenti di tempat parkir apartement. Memang tak dibutuhkan waktu lama dari apartement menuju restaurant bulgogi. Dengan cepat mereka berjalan menuju apartement mereka yang terletak dilantai 2.

Kyuhyun memasukkan password dan Hyunhee membuka pintu. Dia setengah berlari ketika memasuki apartement. Sialnya, dia tersandung undakan di apartement mereka. Namun, Kyuhyun berhasil menarik tangannya sehingga Hyunhee berada di pelukkannya saat ini.

Suasana seketika hening. Aneh, mereka tidak bergerak seolah nyaman dengan posisi mereka. Rona merah muncul diwajah keduanya.

Tiba-tiba, pikiran Hyunhee melayang ke fanfiction yang baru saja dibuatnya kemarin. Dua orang saling berpelukkan. Saat ini Kyuhyun sedang memeluknya erat. Lalu kedua orang yang saling berpelukkan itu melepaskan pelukkannya namun tangan sang namja ada di bahu sang yeoja. Sungguh aneh, Hyunhee merasa pelukkan Kyuhyun mulai mengendor dan akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukkannya. Namun, tangan Kyuhyun yang semula memeluk Hyunhee, kali ini berpindah ke bahu. Hyunhee menunduk. Tangan Kyuhyun mendorong dagu Hyunhee, memaksa agar Hyunhee menatap Kyuhyun.

Entah khayalan atau bukan, Hyunhee merasa Kyuhyun mendekatkan wajahnya. Benar. Hyunhee yakin. Wajah Kyuhyun nampak lebih jelas saat ini. Semakin dekat dan semakin dekat. Bodoh! Yang dilakukan Hyunhee saat ini bukanlah mendorong Kyuhyun tapi malah menutup mata.

“Hyunhee!!!” Samar-samar, Hyunhee mendengar suara ibunya berteriak. “Choi Hyunhee!!!” Kali ini lebih jelas. “CHOI HYUNHEE!”

‘Bruuuuk’

Hyunhee terjatuh dari tempat tidur dan dunia mimpi pun berakhir. Dia terbangun. Dari posisi terlentang, dia bangkit hingga akhirnya terduduk. Rambut pendeknya nampak berantakan. Matanya masih setengah terbuka, pertanda masih belum bisa berpikir jernih. Kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya.

“Haruskah eomma berteriak untuk membangunkanmu?” ucap nyonya Choi.

Hyunhee terdiam. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Masih terngiang berbagai hal yang terjadi bersama Kyuhyun. Apakah itu mimpi?

“Apa yang sedang kau pikirkan? Bangun! Jangan lupa hari ini datang ke acara ulang tahun sepupumu!” ucap nyonya Choi yang kemudian berjalan meninggalkan kamar Hyunhee.

Bangun? Jadi semua itu benar hanya mimpi belaka?

Ada rasa sedih menyusup dihati Hyunhee. Semua hal yang terjadi itu hanya mimpi. Mimpi berdasarkan kisah-kisah klasik fanfiction.

Menyadari tentang fakta unik dirinya, mata sipitnya membulat sesaat meskipun tak tampak. Dengan cepat, dia berdiri dan menuju ke meja tempat laptopnya berada lalu duduk nyaman di kursi kecil pelengkap meja itu. Tangannya tampak bergerak cepat. Berbagai ide mengenai mimpinya mengalir begitu saja. Kisah cinta seseorang yang tanpa disadari kisah tersebut layaknya sebuah kisah cinta yang umumnya terjadi di fanfiction.

***

Sore itu, Hyunhee─dipaksa─mengenakan gaun. Dengan sangat terpaksa, dia mengenakan gaun putih selutut miliknya yang tentu saja intensitas pakainya dapat dihitung dengan jari. Hari ini adalah hari ulang tahun sepupunya. Dengan membawa hadiah berupa CD serta tanda tangan dari Kim Jongwoon, penyanyi solo favorit sepupunya itu, dia mulai memasuki tempat pesta diselenggarakan.

Ramai dan serba merah. Itulah kesan pertama saat Hyunhee memasuki lokasi pesta. Sebenarnya, dia sedikit merasa tidak nyaman dengan keramaian. Namun, dia tidak mungkin tidak menghadari acara ini bukan?

Hyunhee memandang berkeliling, bermaksud untuk mencari Lee Sungyeong, sepupunya. Pandangannya menangkap Sungyeong sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya. Hyunhee tersenyum dan kemudian berjalan mendekat.

“Sungyeong-ah,” panggil Hyunhee ketika dia sudah dekat dengan Sungyeong. “Hee-ya!” Sungyeong berbalik dan kemudian langkah Hyunhee terhenti. Dia melihat seseorang yang tadinya terhalang Sungyeong. Masih dalam keadaan terpaku, Sungyeong menarik tangan Hyunhee dan membawanya mendekat kearah teman-temannya.

“Dia sepupuku, Choi Hyunhee,” ucap Sungyeong kepada teman-temannya bermaksud untuk memperkenalkan Hyunhee. “Sepertinya dia kaget melihatmu disini,” kali ini kata tersebut ditujukan untuk salah satu namja yang ada dihadapannya.

“Jadi dia sepupu yang jadi korbanmu itu?” ucap salah seorang namja berperawakan tinggi, lebih tinggi dari namja disebelahnya. “Hyunhee-ssi, saat dia memaksamu makan sesuatu yang tidak kau suka, jangan lakukan! Simpan makanan itu dan berikan padaku, ne?” sambungnya.

Hyunhee melirik sepupunya dengan tatapan kesal. Dia teringat fakta bahwa sepupunya suka memaksa dirinya untuk memakan makanan yang sama sekali tidak dia sukai.

Sungyeong lantas memukul kepala namja itu meskipun dia butuh usaha ekstra karena perbedaan tinggi badan. “Ya! Shim Changmin! Tak bisakah kau memikirkan hal lain selain makanan?” Namja itu mengusap bagian kepalanya yang terkena pukulan, berusaha menghilangkan rasa sakit.

“Kau benar-benar masih sangat menakutkan Sungyeong-ah,” Kali ini namja yang ada dihadapan Sungyeong yang berbicara.

Sungyeong mendengus. “Aissh… Cepat perkenalkan diri kalian.”

Hyunhee tersenyum kecil mengamati tingkah laku mereka. Namun saat dia mengamati namja itu, jantungnya berdegup kencang.

“Kami adalah Kyu-line! Orang-orang yang lahir di tahun ’88. Aku Shim Changmin. Panggil aku Changmin oppa,” ucap namja perawakan tinggi yang memiliki wajah selayaknya anak kecil itu. Lagi-lagi sebuah pukulan kembali mendarat di kepala Changmin.

Appo…” kata Changmin lirih dengan wajah memelas dan dia kembali mengusap kepalanya.

“Aku Cho Kyuhyun. Senang berkenalan denganmu, Hyunhee-ssi.”

Hyunhee membeku. Dia tak mampu mengatakan apapun. Namun otaknya masih sedikit bekerja sehingga dia tersenyum manis saat ini.

Mungkinkah ini awal yang baru? Awal kisah baru di dunia nyata, bukan hanya sekedar mimpi? Kisah-kisah fanfiction yang sering ditulis dan dibacanya apakah akan menjadi nyata? Entahlah. Dia tidak tahu dan tidak bisa menduga. Tapi dia yakin, ini adalah awal yang baik dan akan berakhir happy ending selayaknya fanfiction.

 

-END-

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: