Believe Fate

jnkkk

Believe Fate

Written By: Angela Hwannie Sparkyuelforever

Rated : G | Length: Oneshot

Genre : Urban-life, Relationship, Triangle Love.

***

Summary:

  • Choi Eun-Hwan ; Anak bungsu dari keluarga Choi. Berumur 20 tahun. Kuliah di Kyunghee University jurusan Hubungan Internasional. Menyukai musik dan mahir bernyanyi, menari, rap, piano, biola, dan gitar. Orang yang dingin, bisa juga menjadi periang, tergantung suasana.
  • Cho Kyu-Hyun ; Anak bungsu dari keluarga Cho. Berumur 24 tahun. Pewaris utama perusahaan Cho Corp. Sedang melanjutkan S2nya di Kyunghee University jurusan Bisnis Manajemen. Menyukai music dan mahir bernyanyi, menari, piano, harmonika, dan klarinet. Orang yang lembut dan jahil.
  • Jo Young-Min ; Sahabat terdekat Eun-Hwan. Teman sekelas Eun-Hwan juga di kampusnya. Menyukai Eun-Hwan saat pertama kali bertemu, tapi Eun-Hwan tidak mempunyai perasaan apapun padanya.
  • Choi Min-Ho ; Anak kedua dari keluarga Choi. Berumur 21 tahun, sedang melanjutkan S2nya di Inha University jurusan Bisnis Manajemen. Kakak lelakinya Eun-Hwan.
  • Choi Si-Won ; Anak sulung keluarga Choi. Berumur 25 tahun. Pewaris utama perusahaan Choi Corp. Kakak lelakinya Eun-Hwan.
  • Cho Ah-Ra ; Anak sulung dari keluarga Cho. Berumur 27 tahun. Kakak perempuannya Kyu-Hyun.
  • Choi Ki-Ho ; Pemilik utama Choi Corp. Ayah dari 3 Choi bersaudara.
  • Cho Young-Hwan ; Pemilik utama Cho Corp. Ayah dari 2 Cho bersaudara.

 

***

Myeongdong Street. 12 June 2012. 02.30 p.m.

Kepala diangkat ke atas, jalan bak model, suara sepatu hak tinggi yang terus melangkah. Begitu bukan gaya seorang anak dari pemilik perusahaan terkaya dinegaranya, Choi Corp? Bahkan orang-orang disekelilingnya memerhatikannya, betapa anggun, cantiknya wanita itu.

Pemilik Choi Corp, Choi Ki-Ho memiliki 3 anak. Yang pertama, Choi Si-Won, ia adalah pewaris utama Choi Corp, yang sekarang bekerja sebagai kepala marketing di Choi Corp, umurnya 25 tahun. Yang kedua, Choi Min-Ho, berumur 21 tahun, sedang melanjutkan S2nya di Inha University jurusan Bisnis Manajemen. Dan yang terakhir, Choi Eun-Hwan, berumur 20 tahun, sedang kuliah di Kyunghee University jurusan Hubungan Internasional.

Sebenarnya, Eun-Hwan ingin menggeluti bidang seni musik. Ia menguasai 3 alat musik, piano, biola, dan gitar. Vocalnya juga bisa dibilang bagus, sangat bagus malah. Tapi 1 seni yang paling ia geluti, Dance. Ia bahkan sering diundang untuk mengisi berbagai festival dance.

Tetapi, ayahnya tidak mendukung cita-citanya itu. “untuk apa kau menari, nyanyi, main alat musik hah?! Itu hanya hobi! Kau tidak ingin memiliki masa depan jika terus-terusan seperti itu?!” Eun-Hwan bahkan masih mengingat betul apa yang dikatakan ayahnya.

Ia sangka ayahnya akan menyetujui cita-citanya, ternyata tidak. Itu adalah pertama kalinya ayahnya membentaknya seperti itu.

“Ya! Yeodongsaeng, kau memikirkan apa sih daritadi? Melamun saja kerjaanmu!” bentak Min-Ho yang berjalan dibelakang Eun-Hwan sedari tadi berusaha menyusul langkah Eun-Hwan yang cepat. Eun-Hwan melirik sedikit ke arah kanan, “diam kau!” ketusnya.

“waeyo, waeyo? Kau memikirkan kata-kata abeoji kemarin?” Tanya Min-Ho.

_Flashback_

Choi’s House. 11 June 2012. 09.00 a.m.

Kau tahu, Eun-Hwan~ah? Perusahaan kita mengalami kemunduran kecil. Ya, kau tahu lah, semakin banyak kemunduran akan menjadi kemunduran besar kan? Satu-satunya cara agar perusahaan kita naik lagi, abeoji ingin menyatukan perusahaan kita dengan perusahaan Cho Corp.” abeojinya berkata.

Eun-Hwan mengerutkan dahinya, tak mengerti untuk apa abeojinya menjelaskan hal tersebut kepadanya. “lalu?” Tanyanya. “abeoji sudah setuju dengan Cho Young-Hwan ahjussi, akan menjodohkanmu dengan anaknya.” Lanjut abeojinya santai.

Eun-Hwan membulatkan matanya. “MWO? Ya tuhan!” ia langsung memijit dahinya yang tiba-tiba sakit. “dan abeoji harap, kau tak menolaknya, Eun-Hwan~ah.” Eun-Hwan memejamkan matanya dan menggertakkan giginya, tanpa menjawab apapun ia keluar dari ruang kerja ayahnya.

_Flashback End_

Terkadang ia berpikir, kenapa orang tua zaman sekarang terlalu gila harta? Mengorbankan anak sendiri demi harta? Haha, lucu sekali. “Tak usah membahasnya, bodoh. Lebih baik kau urus pacarmu agar tidak menempel pada namja lain.” Ucap Eun-Hwan ketus pada Min-Ho.

“Mwo? Ya ya ya! Dia yeoja baik-baik tahu! Itu temannya, aku percaya padanya! Dasar bodoh!” Eun-Hwan mendengus sinis, “haha terserahmu, aku tidak peduli.” Jawabnya. Ia melirik mobilnya yang sudah didepan mata, lalu mengambil kunci mobil dari tas tangannya. “Kau menyetir. Aku capek.” Ucapnya sambil melempar kunci mobil tersebut kea rah Min-Ho dan segera ditangkap secara refleks oleh Min-Ho.

Min-Ho hanya menarik nafas pasrah, sampai kapan dongsaengnya akan seperti itu?

Cho’s House. 12 June 2012. 02.24 p.m.

“Kyu-Hyun~ah, kau tak ada niat mencari istri?” pancing Cho Young-Hwan. Berbeda dengan Choi Ki-Ho yang penuh keseriusan, Cho Young-Hwan penuh dengan rasa humor.

Kyu-Hyun mengalihkan pandangannya dari laptop, memandangi abeojinya. Merasa omongan abeojinya tidak begitu penting, ia memfokuskan padangannya pada laptop lagi lalu berkata, “nanti saja.”

Cho Young-Hwan menggelengkan kepalanya, merasa heran kepada anak bungsunya itu. “lalu, tipe wanita idamanmu bagaimana? Siapa tahu ada anak rekan bisnis abeoji yang cocok denganmu.” Tanya abeojinya lagi.

Kyu-Hyun menghembuskan nafas, “aigoo~ abeoji, katakan maksudmu dan jangan basa-basi.” Ucapnya sinis. Ayahnya berdehem sebentar, salah tingkah. “oke. Maksud abeoji, jika kau tak punya calon untuk istrimu masa depan, abeoji akan menjodohkanmu dengan anaknya Choi Ki-Ho ahjussi. Oke, bukan akan, tapi telah menjodohkanmu. Abeoji sudah ngomong dengan Ki-Ho.” Jelas abeojinya.

Kyu-Hyun mengerjapkan matanya, lalu menoleh dalam satu sentakan, “apa maksud abeoji? Menjodohkan? Hah! Ini zaman modern! Kau..” ucapan Kyu-Hyun terpotong oleh abeojinya yang langsung berbicara lagi, “aku belum selesai bicara, Kyu-Hyun~ah!”

Kyu-Hyun menggertakkan giginya, “oke, lanjutkan!” suruhnya. “aigoo, kenapa aku harus punya anak tak sopan sepertimu hah?!” gumamnya pelan, namun terdengar di telinga Kyu-Hyun. Tapi ia diam saja, berusaha tidak peduli. “Kau sudah 24 tahun Kyu-Hyun~ah, berniat menjomblo terus-menerus?”

Kyu-Hyun menaikkan alisnya, “abeoji, kau tak tahu semua karyawanmu itu mengidolakanku? Ganti kalimat jomblo dengan single. Aku tidak ngenes seperti itu.” Ucap Kyu-Hyun. “jangan seperti eomma deh, apakah kalian berdua berganti profesi?” lanjutnya.

“Lalu? Bagaimana dengan mereka? Ada yang masuk sebagai tipemu?”

“tidak ada. Tidak ada yang menarik perhatianku.”

“oh, astaga. Kau suka yang seperti apa sih?”

“aku sendiri pun tak tahu.”

Ayahnya menutup wajahnya, merasa bingung sendiri. “begini saja, akan kupertemukan kau dengan Eun-Hwan, lihat saja kau akan tertarik atau tidak.” Kata ayahnya pada akhirnya.

Kyu-Hyun mengangguk-angguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Choi’s House. 12 June 2012. 08.00 p.m.

Choi Si-Won masuk ke ruang makan keluarga Choi setelah mandi dan berganti baju. Lalu ia menemukan kedua dongsaengnya dan eommanya.

“halo, tuan muda Choi Si-Won yang super sibuk. Kemana saja kau baru kelihatan?” canda Min-Ho. Si-Won tertawa kecil, “pekerjaan numpuk sekali. Dan ada proyek besar yang harus kupelajari.” Jawabnya.

Min-Ho menggeleng-geleng merasa heran, “aigoo, tuan muda kita. Ckck.” Jawab Min-Ho.

Si-Won duduk di salah satu kursi yang tersedia disitu lalu memerhatikan yeodongsaengnya yang mengaduk-aduk makanan lalu memakannya dalam porsi besar. “astaga, pelan-pelan sayang. Kau bisa keselek nanti.” Ucap Si-Won perhatian lalu menyodorkan segelas air putih.

Eun-Hwan melirik sedikit, “taruh saja disitu.” Ucapnya dingin tanpa berusaha menyambut air putih yang disodorkan oppanya lalu menyuapkan lagi sesendok besar nasi kedalam mulutnya. Si-Won menurut saja sambil mengangguk-angguk lalu mengambil nasi dari bakul besi yang ada didepannya.

Ia mengaduk-aduk nasinya, lalu mengambil piring kecil berisi kimchi yang ada di dekat eommanya. “ini.” Eommanya menyodorkan mangkok berisi sup kepiting. “gomawo, eomma.” Kata Si-Won pada eommanya.

“Cheonmanaeyo sayang.” Jawab eomma sambil tersenyum lembut. Tiba-tiba Si-Won menatap Eun-Hwan penuh minat. Eun-Hwan balas menatapnya heran, sambil menaikkan sebelah alisnya. “hey, Eun-Hwan~ah, bukannya abeoji dengan Young-Hwan ahjussi ada perjanjian?” Tanyanya sambil mengulum senyum.

Eun-Hwan menghela nafas, “iya, berniat menjodohkanku kan demi perusahaan? Ckck tidak abeoji tidak anaknya sama saja.” Jawab Eun-Hwan ketus. Si-Won tersenyum, mencoba merayu dongsaengnya, “dia tampan Eun-Hwan~ah. Tinggi, etikanya bagus, orangnya cool, sama sepertimu. benar-benar tipemu kan?”

“kau kira aku tertarik?” Tanya Eun-Hwan.

“siapa tahu?” Tanya Si-Won balik makin tersenyum lebar.

“oh ya, dia juga suka musik. Sama sepertimu.” tambah Si-Won.

Eun-Hwan menatap Si-Won, “bisa apa dia?” tanyanya. Siwon tak bisa menahan tawa kecilnya saat mendengar dongsaengnya itu tertarik jika menyangkut musik. “nyanyi, dance, piano, harmonika, dan klarinet.” Jawab Si-Won.

Eun-Hwan mengangguk-angguk. “oh ya, tadi abeoji bilang, ia ada rencana makan malam dengan keluarga Cho. Yah ingin mempertemukanmu dengan Kyu-Hyun juga sih.” Kata Si-Won pada Eun-Hwan.

Eun-Hwan membulatkan matanya. “MWOYA?! Siapa Kyu-Hyun? Yang ingin dijodohkan denganku itu? Astaga!” Eun-Hwan geleng-geleng kepala, tidak mengerti dengan jalan pikiran abeojinya.

Ganga Restaurant. 14 June 2012. 07.00 p.m.

Eun-Hwan turun dari mobil dengan anggunnya, sepatu hak tinggi 10 cm miliknya menyentuh tanah. Wajahnya tetap saja cemberut, tapi ia berusaha menutupinya dengan wajah dinginnya. Tubuhnya dibalut gaun berwarna pearl blue selutut tanpa lengan, dengan rambut coklatnya diurai bergelombang.

Lalu turun Si-Won dan Min-Ho memakai jas dengan kemeja sebagai dalamannya. Ibu dan ayahnya turun juga, dengan baju yang tak kalah mewah.

Mereka masuk ke dalam restoran, disambut dengan beberapa belas pelayan yang berada di dalam pintu. Eun-Hwan hanya memandang ke depan. Ia hanya memikirkan bagaimana pasangannya nanti.

Mereka masuk ke bagian VVIP restoran itu, dan menemukan keluarga Cho sudah duduk di salah satu meja makan panjang yang telah disediakan. Ki-Ho langsung menyalami Young-Hwan dan mengobrol-ngobrol. Begitu juga dengan ibu-ibu yang hobi ngerumpi.

Eun-Hwan, Min-Ho, dan Si-Won hanya duduk disamping ibu mereka. Sedangkan diseberang mereka ada Kyu-Hyun dan Ah-Ra. “Eun-Hwan~ah, itu calon suamimu sepertinya. Cepat sapa!” goda Min-Ho pada Eun-Hwan. Eun-Hwan menoleh ke Min-Ho, “diam kau bodoh!” desisnya.

Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun. Wajahnya tidak terlalu jelas karena ia lagi memerhatikan iPadnya dan sibuk mengutak-atik benda tersebut. Hah! Apakah orang ini tidak punya sopan santun sama sekali? Seharusnya ia menyapa atau menyalaminya saat keluarga Choi datang! Bukannya pura-pura tidak tahu dan mengalihkan perhatian! Tapi bagus juga, setidaknya ia tidak perlu repot-repot tersenyum dengan calon suami-nya itu

“ini kah yang namanya Eun-Hwan? Aigoo, yeppeuda!” kata Ah-Ra sambil memandang Eun-Hwan. Astaga ini lagi satu pengacau, tapi Eun-Hwan hanya memaksakan seulas senyum terima kasih karena sudah dipuji. “ye. Eun-Hwan imnida, Bangapseumnida.” Jawab Eun-Hwan sambil berdiri lalu membungkuk sedikit lalu ia duduk lagi.

Kali ini, Kyu-Hyun memasukkan iPad-nya kedalam tas, lalu mengangkat kepalanya dan menatap sekeliling. “Kyu-Hyun~ah, apa yang kau lakukan tadi? Calon istrimu sudah datang sedari tadi.” Kata Young-Hwan sambil tertawa. Kyu-Hyun menatap Eun-Hwan, Eun-Hwan juga balas menatap Kyu-Hyun.

Sekarang baru Eun-Hwan melihat wajahnya. Tulang pipi yang cukup tirus, bibir yang berisi, hidung mancung, mata hitam yang berkantung, dan rambut coklat yang berantakan. Apa ia bukan manusia? Tidak ada manusia bisa setampan itu! Desisnya dalam hati.

Min-Ho menyikut lengan dongsaeng-nya, “aigoo, dongsaeng! Kau sudah tertarik padanya? Ini pertemuan pertama lho. Kekeke~” bisiknya. Mendengar itu, Eun-Hwan langsung meninju paha Min-Ho keras-keras. “dongsaeng-ah! Appo!” ringisnya sambil mengusap-usap pahanya yang tadi ditinju. “Ra-sa-kan!” jawab Eun-Hwan ke telinga Min-Ho. Sedangkan Min-Ho hanya mendengus.

*****

Kyu-Hyun menatap Eun-Hwan, ah tepatnya di bagian mata. Mata coklat, mata itu terlalu mematikan. Oke ini terlalu berlebihan, tapi ia tak punya kata-kata lain untuk mendeskripsikannya. Wajah yang dingin, rambut bergelombang, make-up tipis. Oke, sepertinya ia kalah taruhan dengan abeojinya.

“ayo kita mulai makan, didepan kita sudah tersedia makanan khas dari restoran ini.” Ajak Choi eomma dan mereka pun mulai makan. Eun-Hwan mengaduk-aduk nasinya, lalu mengambil sesendok kecil nasi dan memasukkannya ke dalam mulut. Mencoba menjaga image, sepertinya.

“ah, Kyu-Hyun, Eun-Hwan~ah, kapan kalian mulai nikah? Atau mau bertunangan dulu?” kata Ki-Ho. Eun-Hwan membulatkan matanya, lalu terbatuk-batuk sebentar. Kyu-Hyun menyodorkan air putih ke depan Eun-Hwan agar lebih mudah untuk diraih.

Eun-Hwan mengerjapkan matanya sebentar, lalu menatap Kyu-Hyun, “gomawo.” Ia meraih gelas berisi air putih itu. Saat tangannya sudah menyentuh gelas, Kyu-Hyun memegang gelas itu lagi. Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun lagi, bingung.

Aish, kenapa aku memegangnya lagi? Babo! Babo! Pikir Kyu-Hyun dalam hati. Ia menarik tangannya, “mianhae.” Gumamnya pada Eun-Hwan. “gwenchana.” Jawab Eun-Hwan santai lalu meminum air putih itu. “abeoji, aku rasa kami belum mengenal satu sama lain, dan kami harus langsung menikah?” Tanya Eun-Hwan pada abeojinya.

Abeojinya tertawa, lalu mengangguk-angguk, “baiklah, kalian setidaknya bisa berkenalan dulu kan?” kata abeojinya. Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun sebentar, lalu menganggukkan kepalanya.

Setelah itu Eun-Hwan terus melanjutkan makannya tanpa berbicara sedikitpun, meskipun abeoji dan eommanya selalu berbicara agar meringankan suasana.

Kyunghee University. 16 June 2012. 02.30 p.m.

“Kau? Dijodohkan? Astaga, kau kira ini zaman dahulu kala? Ckck.” Dengus Young-Min setelah mendengar Eun-Hwan akan dijodohkan oleh abeojinya. Lalu, bagaimana perasaannya setelah ini? Ia akan bersabar lalu menganggap semuanya akan berlalu, begitu?

Eun-Hwan melipat tangannya didepan dada, ia beriringan jalan dengan Young-Min. “kau kira aku mau hah?!” jawabnya ketus. Aigoo, bahkan sahabatnya itu tidak ada niat sama sekali untuk membantu temannya kabur atau apa pun?

Youngmin menutup matanya, agak lama, lalu membukanya lagi. “bagaimana? Kau sudah bertemu orangnya?” Tanya Young-Min. “sudah, kemarin keluargaku mengadakan makan malam bersama keluarganya.” Jawab Eun-Hwan. “lalu?” Tanya Young-Min, lagi.

“yah, dia tampan, kuakui. Kudengar dari Si-Won Oppa dia suka musik. Dan kau tahu? Pandangan matanya setiap kali menatapku itu membutakan, aku tak tahu ada apa dimatanya itu.” Jawab Eun-Hwan, sebari mengingat-ingat. “kau terlalu berlebihan, Eun-Hwan~ah.” Ucap Young-Min sambil menggeleng-geleng.

Eun-Hwan mengangkat sebelah alisnya, “aku tak punya kalimat lain untuk menjelaskannya.” Jawabnya enteng. “lalu bagaimana? Kau setuju saja dengan perjodohan itu?” Tanya Young-Min.

“mau bagaimana memangnya? Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku juga tidak ingin membuat abeoji jantungan jika aku tiba-tiba membantahnya.” Jawab Eun-Hwan sambil mengedikkan bahunya. “yah dengan harapan aku bisa mengubah sedikit pandanganku terhadap Kyu-Hyun.” Lanjutnya.

Mereka berhenti di dekat halte bus. “kau tidak membawa mobilmu, nona?” sindir Young-Min. Eun-Hwan menoleh sedikit ke arah Young-Min, “tidak, aku muak, kau tahu? Aku ingin naik bus saja.” Jawab Eun-Hwan. “Hey, kita kerumahmu saja, bagaimana? Aku tidak ingin dirumah dan diejek oleh Min-Ho oppa.” Kata Eun-Hwan.

“baiklah, ayo kita kerumahku,” Youngmin menyetujui lalu menggenggam tangan Eun-Hwan. Eun-Hwan hanya menganggap itu genggaman sahabat, mungkin? Jadi ia tidak menolaknya. Mereka pun naik ke bus dengan tujuan Yeouido.

Youngmin’s House. 14 June 2012. 02.45 p.m.

“ayo main game.” Ucap Young-Min setelah mereka sampai di rumahnya. Eun-Hwan hanya mengangguk. Young-Min berjalan ke arah TV-nya lalu menyalakan PS3 nya dan menarik 2 buah stiknya sedangkan Eun-Hwan langsung duduk di sofa. “nih!” Young-Min menyodorkan salah satu stik kepada Eun-Hwan.

Young-Min asik memilih-milih kaset PS yang berada di kotaknya. “kau mau main apa?” Tanya Young-Min pada Eun-Hwan. “emm, Tekken 6 saja, atau Final Fantasy Crisis Core kalau ada.” Jawab Eun-Hwan. Young-Min mencarinya, lalu mengeluarkan kaset tersebut dari tempatnya dan memasukkannya ke dalam disk PS.

Mereka main game, sampai tak disangka langit mulai gelap.

“Sexy, free and single I’m ready too, Bingo.” Suara telepon itu cukup mengagetkan Eun-Hwan. Ia menaruh stik PSnya dan membuka resleting tasnya lalu mencari handphone-nya yang terus berdering. Ia mendapatkannya.

Ia memandang layar handphone tersebut lama lalu mengerutkan keningnya. Ia tidak mengenal nomornya, no name lagi. Ia menekan tombol answer, “yoboseyo?” ucap Eun-Hwan memulai. “yoboseyo, Eun-Hwan~ah?” ucap orang diseberang, canggung.

“ye, nuguseyo?” Tanya Eun-Hwan.

“emm, Kyu-Hyun imnida.” Jawab Kyu-Hyun.

Eun-Hwan membulatkan matanya, untuk apa orang ini menelepon? Batinnya. “iya, ada apa menelepon?” Tanya Eun-Hwan lagi. Ia berusaha agar suaranya tidak terdengar ketus, tapi sepertinya sia-sia.

Seakan tidak menyadari nada ketus Eun-Hwan, Kyu-Hyun dengan santainya menjawab, “emm, Ki-Ho ahjussi menyuruhku untuk menjemputmu, ia bilang kau tak bawa mobil.” Kyu-Hyun mencoba menjelaskan. “mwo?” Eun-Hwan membulatkan matanya, lagi. “kenapa tidak Min-Ho oppa saja? Atau Si-Won oppa? Atau aku bisa menyuruh Young-Min yang mengantarku.” gumamnya berbisik.

Young-Min yang berada disampingnya hanya menatapnya, bingung. Ia mengedikkan bahunya, lalu menatap layar TV lagi, melanjutkan gamenya yang sempat tertunda.

“jadi, kau bisa memberitahuku dimana kau berada sekarang, Choi Eun-Hwan ssi?” Tanya Kyu-Hyun. “aku ada diapartemen temanku, di daerah Yeouido, apartemen Culture nomor 4002.” Eun-Hwan menjawab. “baiklah, tunggu aku disitu.” Kata Kyu-Hyun lalu mematikan sambungan telepon tersebut.

“siapa itu?” Tanya Young-Min setelah Eun-Hwan memasukkan handphone-nya kedalam tas. “Kyu-Hyun. Ia bilang ingin menjemputku karena disuruh abeoji.” Jawab Eun-Hwan lalu mendesah keras.

Young-Min hanya mengangguk, tidak merespon sama sekali. “tidak berniat untuk menghiburku hah?!” Tanya Eun-Hwan, pura-pura marah. Young-Min menyengir, “aku bingung untuk menghiburmu seperti apa. Hahaha.” Jawab Young-Min sambil tertawa. Dan Eun-Hwan pun ikut tertawa.

Kona Beans Cafe. 16 June 2012. 07.30 p.m.

“kau ingin pesan apa?” Tanya Kyu-Hyun pada Eun-Hwan saat pelayan menanyakan pesanan mereka. “terserah kau saja.” Jawab Eun-Hwan sambil mengutak-atik handphonenya. “oke. Fish & Chips-nya dua dan milkshake cokelatnya dua.” Ucap Kyu-Hyun pada pelayan itu dan kemudian pelayan tersebut pergi.

“yang lelaki tadi kekasihmu?” Tanya Kyu-Hyun.

“siapa? Young-Min? tidak, dia hanya sahabatku.”

“sepertinya dia menyukaimu.”

“atas dasar apa kau bisa menyimpulkan begitu?”

“dia terlalu perhatian padamu.”

“kau cemburu?” Tanya Eun-Hwan sambil mengangkat sedikit alisnya.

“cish, kau kira aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama seperti di drama-drama? Hanya dalam mimpimu, Hwannie~ya.” Jawab Kyu-Hyun sambil tertawa mengejek. “Hwannie? Siapa yang mengijinkanmu memanggilku dengan nama aneh itu?” Tanya Eun-Hwan sambil mendengus.

“hey, kau tahu? Aku ini bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Dan aku dengan mudahnya berbicara akrab denganmu? Dan ngomong-ngomong, kita belum terlalu kenal. Kau kuliah dimana?” jelas Kyu-Hyun. “Kyunghee University. Jurusan Hubungan Internasional. Aku juga termasuk orang yang pendiam, aku hanya akrab dengan Young-Min.” Jawab Eun-Hwan seadanya.

“oh, cita-citamu sebagai diplomat?” Tanya Kyu-Hyun sambil tersenyum. “tidak, aku ingin menjadi koreografer sebenarnya. Yah tapi abeoji tidak mengijinkan. Oh iya, aku dengar dari Si-Won oppa kau juga suka musik.” Jawab Eun-Hwan lagi.

Kyu-Hyun makin melebarkan senyumnya, jarang sekali ia bisa tersenyum sebanyak ini kepada orang lain. “ya, tapi aku rasa itu hanya sebagai hobi. Ah, aku ada project konser ochestra. Beberapa lagu sudah aku tulis, sebagian lagi kita akan cover lagu orang lain. Bagaimana? Kau mau ikut?” Tanya Kyu-Hyun menawari.

Mata Eun-Hwan berkilat-kilat senang, “boleh, siapa saja? Instrument apa saja yang akan ada?” jawabnya tertarik. “kau bisa main piano kan? Kebetulan aku kekurangan orang untuk memainkan piano.”

“tentu. Kau sendiri pegang apa?”

“aku? Harmonika dan keyboard.”

“maruk sekali kau.”

“hahaha, oh iya, kami juga kurang buat gitar 1.”

“gitar? Rasanya Young-Min bisa. Akan kutanyakan dia.” Eun-Hwan masih tersenyum.

“gomawo, Hwannie~ya.” Kata Kyu-Hyun. Eun-Hwan mengangkat sebelah alisnya. “aigoo, itu nama apa sih? Kenapa namaku jadi aneh seperti itu?” ia tertawa aneh. “tidak apa-apa kan? Tidak ada yang memanggilmu seperti ini, hanya aku, hanya boleh aku, oke? Dengan begitu akan ada anggapan aku special dimatamu.”

Choi’s House. 16 June 2012. 09.30 p.m.

“bagaimana kencannya, adik cantik?” goda Min-Ho saat Eun-Hwan mulai masuk ke pelataran rumahnya. “diam kau!” sahut Eun-Hwan kesal, lalu tersenyum lagi. “aigoo, senyumanmu itu langka, tahu? Kenapa kau bisa tersenyum-senyum sendiri kali ini, hah?!” Tanya Min-Ho sebari mendekati Eun-Hwan.

Eun-Hwan menoleh sebentar ke arah Min-Ho, lalu mengedikkan bahu dan tersenyum lagi. Ia tidak memerdulikan Min-Ho yang melongo dan naik ke lantai dimana kamarnya berada. Ia masuk ke kamarnya, dan menutup pintunya dalam satu sentakan. “hey hey kau kenapa?” Tanya Si-Won pada Min-Ho saat melewati ruang depan ingin ke dapur.

Min-Ho melirik Si-Won, “hyung, menurutmu kenapa Eun-Hwan senyum-senyum begitu? Dia tidak gila atau semacamnya, kan?” Tanya Min-Ho sambil mengikuti Si-Won yang ingin ke dapur. “dia habis darimana memangnya?” Tanya Si-Won kembali karena tidak tahu-menahu apa yang dibicarakan dongsaengnya.

“aku dengar tadi abeoji menyuruh Kyu-Hyun untuk menjemputnya dirumah Young-Min. Terus dia ngajak Eun-Hwan makan. Bisa disebut kencan kan hyung?” jelas Min-Ho. Si-Won tersenyum. “sampai kapan kalian membicarakanku disitu hah?!” teriak Eun-Hwan dari atas.

Si-Won tertawa, lalu menyikut Min-Ho yang pura-pura tidak tahu dan mengaduk gelas yang hanya berisi air putih.

Kyunghee University, International Ship Class. 17 June 2012. 08.00 a.m.

“babo~ya, kau hampir terlambat! Kenapa baru datang hah?!” Tanya Young-Min setelah Eun-Hwan duduk di sampingnya. Lee sonsaengnim sudah datang bersamaan dengan Eun-Hwan, yah untung saja Lee sonsaengnim itu orangnya kalem. Coba kalau galak seperti Kang sonsaengnim? Ia akan di alpha selama sebulan, mungkin.

Eun-Hwan hanya menyengir, “kemarin aku sibuk latihan sampai larut malam. Yah aku lama tidak latihan piano sih. Terakhir kali aku latihan waktu persiapan konser tahun lalu.” Jelasnya. Young-Min mengangkat alisnya, “memangnya buat apa sih? Konser baru?” Tanyanya pada Eun-Hwan.

Ia mengangguk antusias, “kemarin Kyu-Hyun bilang ia akan menyelenggarakan konser Orchestra. Dia juga bilang ia kekurangan Gitar 1. Kau mau ikut?” Eun-Hwan menawari ke Young-Min.

Young-Min memejamkan matanya sebentar, bepikir. Beberapa minggu kedepan jadwalnya akan kosong. Tidak tabrakan dengan jadwalnya. “siapa bilangmu tadi? Kyu-Hyun? Calon suamimu itu?” Tanya Young-Min memastikan.

Eun-Hwan mendengus, mau tidak mau ia mengangguk. “saat pulang dari rumahmu kemarin ia memberitahuku.” Kali ini Young-Min yang mendengus. Ia ingin ikut, lagipula ia lama tidak mengikuti konser orchestra. Tapi, kali ini calon suami Eun-Hwan yang mengajaknya? Astaga, ingin menyeburkan diri ke neraka?

Setelah pikirannya berperang sedari tadi, ingin ikut atau tidak, ia akhirnya memutuskan. “baiklah, aku ikut.” Eun-Hwan tersenyum. “baiklah, nanti kau kuhubungi kapan latihannya.” Jawabnya.

“Jo Young-Min! Choi Eun-Hwan! Sampai kapan kalian akan mengobrol hah?! Cepat keluar!” teriak Choi Sonsaengnim. Sepertinya mereka harus merubah kata kalem tadi menjadi sangar, ini sangat kebalikan. “ye sonsaengnim.” Jawab Eun-Hwan lalu berdiri, melihat Young-Min yang masih saja bingung, ia langsung menepuk bahunya, “ppali keluar!” suruh Eun-Hwan.

Young-Min pun ikut berdiri dan berjalan keluar kelas, sedangkan Eun-Hwan mengikuti dari belakang. “kalian saya alpha kali ini.” Kata Choi sonsaengnim keras. “MWOYA?!”

Practice Building.  25 June 2012. 11.00 a.m.

“kenalkan, ini Young-Min, Young-Min~ah, ini Kyu-Hyun.” Ucap Eun-Hwan berusaha mengenalkan Young-Min ke Kyu-Hyun dan sebaliknya. Keduanya bersalaman singkat, Kyu-Hyun hanya tersenyum tipis, sedangkan Young-Min tersenyum ketus. Buat apa susah-susah tersenyum dengan orang yang mau merebut Eun-Hwan dari tangannya? Oke ini bukan merebut dan mungkin bukan maunya, tapi bisa saja bukan ia menyukai Eun-Hwan?

Tapi sepertinya Kyu-Hyun tidak menyadarinya. Ia langsung berjalan ke arah keyboard-nya berada. “itu noonaku, Hwannie~ya. Kau tahu kan?” tanyanya pada Eun-Hwan. Eun-Hwan mengangguk. Ah-Ra tersenyum ke arah Eun-Hwan, begitu juga Eun-Hwan membalasnya. Ah-Ra memegang violin 1. “itu pianonya, kau bisa langsung latihan disitu.” Tambah Kyu-Hyun lagi. “dan Young-Min~ah, itu gitarnya.” Lanjutnya sambil menunjuk gitar yang berada diujung ruangan.

Eun-Hwan berjalan ke arah kanan, dimana pianonya berada. Ia mulai menekan tuts-tuts piano itu, menjadi sebuah nada yang bagus. Begitu juga dengan Young-Min, ia memetik senar gitarnya dengan nada-nada dasar.  “didepan kalian sudah kusediakan file berisi kertas-kertas not lagu yang akan kita mainkan. Sudah saya urutkan, jadi buka halaman pertama dan lancarkan permainan di lagu itu. Saya tahu kalian semua professional disini tanpa perlu aku tuntun lagi kan?” kata Kyu-Hyun sambil melihat sekeliling.

Mereka mulai latihan dengan lagu pembuka, yang diciptakan oleh Kyu-Hyun. Judulnya? Ia bilang The Sound of Heart. Belum ada lirik, hanya ada nada. Jadi ia memutuskan memasukkan lagu itu dalam list song orchestra. Instrument utama disini biola, piano, gitar, drum, harmonika, keyboard, dan bass. Sedangkan yang dibelakang, instrument pengiringnya ada biola, cello, dan alto.

Dengan tempo cepat, mereka berusaha agar suara semua instrument itu synchrone dengan nada yang diinginkan, agar menjadi sebuah nada yang beraturan dan bagus. Sampai akhirnya mereka break sebentar, mengambil nafas, Kyu-Hyun berkata, “kita punya waktu sebulan lebih latihan disini, santai saja, tapi tolong jangan main-main. Jika kalian mempunyai masalah bisa dibicarakan pada saya.”

Semuanya mengangguk serentak, terkecuali Eun-Hwan. Ia memandangi lembar not lagunya dengan bingung. Kyu-Hyun menoleh ke arahnya, “kau kenapa, Hwannie~ya?” tanyanya. Eun-Hwan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Kyu-Hyun, “tidak, hanya saja permainanku tidak enak kedengarannya.” Jawab Eun-Hwan sambil menyengir minta maaf pada Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun ber‘oh’ ria. Lalu ia berdiri dari kursinya, berjalan ke arah Eun-Hwan dan duduk disampingnya. Saat Kyu-Hyun duduk disamping kiri Eun-Hwan, ia agak geser kesebelah kanan lebih menjauh. Kyu-Hyun hanya tersenyum kecil, memaklumi. Mungkin gadis itu masih canggung?

Young-Min memandang mereka, mengerutkan dahinya, tanda tidak senang. Apa tadi nama panggil Kyu-Hyun pada Eun-Hwan? Hwannie~ya? Ingat, tidak ada laki-laki yang tidak menyukai wanita yang dipanggilnya dengan mesra begitu. Atau jangan-jangan dia tidak sadar panggilan itu terdengar mesra? Dan Eun-Hwan tidak membantah sama sekali saat dipanggil seperti itu? Astaga, ini perjodohan yang kebetulan atau apa?

“bagian mana yang kau merasa aneh saat memainkannya, Hwannie~ya?” Tanya Kyu-Hyun lembut. Eun-Hwan pun menunjuk bagian yang sedari tadi dipelototinya. “aku ingin dengar kau memainkannya dulu.” Suruh Kyu-Hyun. Eun-Hwan pun mulai memainkannya dengan canggung. “tempomu terlalu cepat, aku akan menyontohkannya, begini.” Kyu-Hyun langsung menyentuh tuts-tuts itu dan menjadi nada yang indah dan lebih synchrone daripada nada yang dimainkan Eun-Hwan.

“bagaimana? Kau mengerti?” Eun-Hwan mengangguk ragu, lalu mulai memperlihatkan permainannya yang mungkin, lebih membaik. Kyu-Hyun tersenyum mendengarnya.

H & G Café. 25 July 2012. 01.00 p.m.

“ada apa kau menyuruhku kesini?” Tanya Young-Min ketus. Ia bahkan tak mengingat pernah berbicara lembut pada seorang Cho Kyu-Hyun. “duduklah. Aku ingin menanyakan sesuatu.” Kyu-Hyun mempersilahkannya. Young-Min pun duduk di hadapan Kyu-Hyun. “apa? Cepat, tidak usah basa-basi.” Ketusnya lagi.

“kau menyukai Eun-Hwan?” Tanya Kyu-Hyun langsung. Yah sesuai permintaan Young-Min, ia tidak basa-basi kan? Young-Min mengangkat sebelah alisnya, bagaimana ia tahu? “atas dasar apa kau menanyakan hal itu?” Tanyanya. Ia tidak ingin Kyu-Hyun tahu, oh kenapa? Ia tidak ingin Kyu-Hyun mengalah dan membatalkan perjodohan itu lalu membuat Eun-Hwan susah. Hah, itu seperti di drama-drama saja.

“aku beritahu kau, aku boleh jujur kan? Aku menyukainya.” Ucap Kyu-Hyun, suaranya menajam, pandangannya pun begitu. Young-Min hanya tersenyum sinis, ia sudah tahu. Dari cara Kyu-Hyun memerhatikan Eun-Hwan, memanggilnya, mengajari di bagian yang tidak dimengerti olehnya, menatapnya, menawarkan bantuan untuknya, dan lain-lain. Ia bahkan tidak heran jika Eun-Hwan juga menyukai Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun mengerutkan keningnya, “kau tidak terkejut sama sekali?” tanyanya. “aku sudah tahu, bahkan dari melihat kau memerhatikannya saja itu sudah bisa dibilang suka. Tidak ada lelaki yang sebegitu perhatiannya pada wanita yang akan dijodohkan padanya kecuali dia menyukai wanita tersebut. Pada umumnya lelaki tidak suka dikekang kan?” jelas Young-Min, ia berusaha untuk tersenyum sekarang. Senyum pertamanya untuk Kyu-Hyun.

“kau tahu? Aku menyukainya. Jauh, bahkan sebelum dia mengenalku. Kami dekat karena suatu project dance. Dia orang yang susah didekati, bahkan ia tak punya teman satupun. Terlalu pendiam, terlalu ketus dan kasar. Tapi, jika kau mengenalnya kau akan bertemu dengan soulmate-mu. Dia akan berusaha mengerti kekuranganmu, kesalahanmu. Berusaha menghargaimu, meskipun kau tak menghargainya sekalipun. Hal itulah yang membuatku tertarik padanya.” Jelas Young-Min. Kyu-Hyun tersenyum, ia memiliki orang yang sependapat dengannya.

Star Museum Ballroom. 05 August 2012. 08.00 p.m.

Setelah sebulan lebih latihan, mereka pun melaksanakan konser orchestra ini. Total lagu? 20 lagu. Lagu ciptaan Kyu-Hyun dan lagu cover berjumlah 20 lagu. Dilaksanakan di SM Ballroom, dengan kapasitas 5000 orang, kursi terisi penuh. Oh, jangan heran, seorang Cho Kyu-Hyun yang menyelenggarakannya. Lalu Cho Corp dan Choi Corp sebagai sponsornya.

Perlahan tirai dibuka, memperlihatkan berbagai orang dengan masing-masing instrumentnya. Piano diujung sebelah kanan, keyboard diujung sebelah kiri. Biola, gitar, drum, bass, harmonika ditengah. Pemain pengiring berada di belakang.

Pembuka konser itu, lagu The Sound of Heart, instrument biola menjadi pembuka, lalu drum dan bass menyusul, lalu piano, keyboard, harmonika, dan terakhir, gitar. Lalu, setelah lagu tersebut berakhir dengan sukses, lalu lagu yang dimainkan dengan flute dan biola dan lain-lain. Bahkan ada lagu cover untuk Dance Solo.

Di lagu terakhir pun dimainkan dengan sukses. Tirai ditutup kembali pertanda selesai konser. Tetapi, tiba-tiba tirai dibuka lagi, sedikit. Para staf mengangkat keyboard keluar, lalu mereka masuk kedalam backstage lagi, Kyu-Hyun berjalan keluar dengan santainya, lalu duduk di kursi yang disediakan didepan keyboard. Tirai pun ditutup lagi.

Penonton mulai berteriak, terutama para wanita. Oh maklum, siapa yang tidak menyukai wajah tampan dari pewaris Cho Corp?

Semua pemain instrument utama dan pemain instrument pengiring mengerutkan keningnya, lho? Ini tidak masuk scenario rasanya. “maaf menganggu, mungkin para staf dan penonton akan bingung kenapa saya keluar lagi saat acara ini selesai. Tapi saya beritahu, acara ini masih hampir selesai. Lagu terakhir, dimainkan oleh saya. Dan ini special untuk seseorang.” Jelas Kyu-Hyun sambil menggunakan mic. “ini special untuk Choi Eun-Hwan. Nae Hwannie~ya, saranghaeyo. Would you marry me?” ungkap Kyu-Hyun. Penonton berteriak, tersenyum penuh haru. Sangat terenyuh mungkin dengan kalimat Kyu-Hyun?

Di dalam backstage, Eun-Hwan mengerjapkan matanya beberapa kali. Semua staf, pemain instrument, memandang ke arahnya. Apa tadi yang dikatakan Kyu-Hyun? Ia mencintainya? Ia tak salah dengar kan? Ia mengerjapkan matanya lagi. Tiba-tiba tirai dibuka lagi. Semua staf dan pemain masih memandangnya, seakan berkata “hey, kau tak ingin mendatanginya, hah? Cepat sana keluar!”

Young-Min berdiri dari kursinya, meletakkan gitarnya di samping kursinya. Ia berjalan ke arah Eun-Hwan. “tunggu apa lagi, Eun-Hwan~ah? Dia sudah menyatakan perasaannya padamu. Ppaliwa keluar, aku sudah merelakanmu untuknya.” Ucap Young-Min, berusaha tersenyum. Hatinya sakit, jujur. Eun-Hwan makin bingung dengan kalimat Young-Min. Ia ingin menanyakannya, tapi ia sudah didorong oleh Young-Min agar keluar dari backstage.

Ia melirik ke panggung, disana Kyu-Hyun duduk, menatapnya sambil tersenyum. “duduklah disitu, Hwannie~ya.” Ucap Kyu-Hyun sambil melirik kursi yang berada 1 meter disampingnya. Eun-Hwan hanya menurut, ia duduk disitu sambil memerhatikan Kyu-Hyun. Kyu-Hyun menekan tuts-tuts keyboardnya. Menjadi nada lagu yang bagus. Isn’t She Lovely, lagu yang dinyanyikan Steven Wonder.

Ia menyanyikan lagu itu, masih tetap menekan tuts-tuts keyboardnya.

Isn’t she lovely
Isn’t she wonderful
Isn’t she precious
Less than one minute old
I never thought through love we’d be
Making one as lovely as she
But isn’t she lovely made from love

Isn’t she pretty
Truly the angel’s best
Boy, I’m so happy
We have been heaven blessed
I can’t believe what God has done
through us he’s given life to one
But isn’t she lovely made from love

Di bagian diksi lagu (bagian tengah lagu) ia mengeluarkan harmonika dari saku jasnya, dan memainkan harmonika tersebut sesuai nada. Keyboard masih tetap bermain. Eun-Hwan menatapnya kagum, bahkan kemampuan lelaki ini tak pernah masuk ke dalam otaknya.

Ia selesai memainkan harmonikanya, ia taruh lagi didalam sakunya. Ia mainkan lagi keyboardnya dan menyanyi lagi.

Life and love are the same
Life is Aisha
The meaning of her name
Londie, it could have not been done
Without you who conceived the one
That’s so very lovely made from love

Diakhir lagu, ia tutup dengan permainan harmonikanya lagi.

Penonton bertepuk tangan, ditambah teriak histeris dari wanita. Kyu-Hyun menatap Eun-Hwan, lalu tersenyum. “saranghaeyo, Hwannie~ya, would you marry me?” ulang Kyu-Hyun lagi. Eun-Hwan mengerjapkan matanya, lalu menjawab, “I do. Nado saranghae, Kyunnie~ya.” Jawab Eun-Hwan tersenyum.

Penonton tepuk tangan, lalu Kyu-Hyun berdiri, berjalan ke arah Eun-Hwan, lalu memeluknya. “jeongmal saranghada.”

Namsan Restaurant. 05 August 2012. 11.45 p.m.

“hari ini, sukses!” teriak Sung-Min, si pemain bass, lalu meneguk wine dengan gelas kecil ditangannya. Yang lain pun berteriak senang.

Kyu-Hyun memandang Eun-Hwan yang berapa kali meringis, memandang aneh tumpukan botol wine diatas meja. “kenapa? Kau ingin wine?” Tanya Kyu-Hyun tidak mengerti. Eun-Hwan memandang Kyu-Hyun, lalu menggeleng, “aku tidak suka minuman beralkohol. Aku tidak suka baunya.” Jawab Eun-Hwan.

Mereka pergi ke Namsan Restaurant, setelah konser orchestra itu selesai. Seluruh staf, para pemain instrument, dancer.

“Hwannie~ya, ppali ikut aku.” Ajak Kyu-Hyun sambil berdiri lalu menarik tangan Eun-Hwan. Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun bingung, tapi ia menurut saja. Mereka menaiki lift, sampai lantai teratas, atau lebih tepatnya atap restoran itu.

Kyu-Hyun berjalan, masih mengenggam tangan Eun-Hwan, ke arah pagar pembatas atap tersebut. Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun bingung, kenapa ia dibawa kesini? “Kyunnie~ya, buat apa kita kesini?” tanyanya.

Tiba-tiba pintu darurat itu terbuka, keluar pelayan restoran dengan kereta dorong. Dahi Eun-Hwan semakin mengerut, ini apa sih? Pikirnya. Pelayan itu menaruh kereta dorong tepat didekat mereka. Diatas kereta dorong ada sebuah makanan, mungkin? Lalu si pelayan membuka penutup makanan tersebut dan mengeluarkan lilin berangka 21 tahun lalu menyalakannya menggunakan korek api.

Si pelayan menancapkan lilin tersebut tepan ditengah kue, lalu ia pergi dan masuk ke dalam pintu darurat restoran tersebut. Eun-Hwan menatap Kyu-Hyun bingung, kerutan di dahinya bertambah. Kyu-Hyun menatap Eun-Hwan balik sambil tersenyum lebar.

“jangan mengerutkan dahimu seperti itu. Nanti diwajahmu akan banyak kerutan, tahu?” ucap Kyu-Hyun sambil tertawa kecil. Eun-Hwan hanya mendengus kesal, “kau ulang tahun?” tanyanya. Kyu-Hyun menganga, dia bahkan tidak mengingat ulang tahunnya sendiri?

“Hwannie~ya, kau bahkan tak mengingat ulang tahunmu sendiri?” Tanya Kyu-Hyun heran. “ini tanggal berapa sih?” Tanya Eun-Hwan polos. Kyu-Hyun menggeleng frustrasi, “hari ini tanggal 5 Agustus, Hwannie~ya. Aigoo~”

“oh iya, hehehe.” Eun-Hwan nyengir minta maaf. Latihan yang banyak membuat ia lupa hari ulang tahunnya sendiri, mungkin?

“saengil chukka hamnida, saengil chukka hamnida, saengil chukka saranghaneun Hwannie~ya, saengil chukka hamnida!” sorak Kyu-Hyun. Lalu memeluk Eun-Hwan erat, Eun-Hwan membalasnya.

Kyu-Hyun melepas pelukannya, “nah, tiup lilinnya sekarang!” suruhnya. Eun-Hwan menurut, ia mendekati kue tart yang sudah dihiasi lilin tersebut, “wait! Birthday wish dulu!” tambah Kyu-Hyun lagi. Ia mengatupkan tangannya dan menutup matanya sebentar, sudah selesai mengucapkan permohonannya, ia meniup lilin di kue tart itu.

Kyu-Hyun bersorak, lalu bertepuk tangan. “kau minta apa tadi?” Tanya Kyu-Hyun ingin tahu. “tidak boleh tahu! Nanti tidak terkabul.” Jawab Eun-Hwan penuh rahasia. Kyu-Hyun langsung cemberut, Eun-Hwan tertawa lalu mencubit hidung Kyu-Hyun.

Mereka tidak sadar, dari pintu darurat, sepasang mata sedih memperhatikan mereka. Jo Young-Min, mau tak mau ia harus merelakannya kan? Eun-Hwan mencintai Kyu-Hyun, bukan mencintainya. Dan ia harap juga, Kyu-Hyun bisa menjaga Eun-Hwan baik-baik, untuknya.

Perlahan Young-Min menutup pintu darurat itu, lalu pergi ke bawah dimana para staf dan pemain berada. Ia harus belajar merelakan Eun-Hwan, mungkin?

“saranghae, Hwannie~ya.” Ucap Kyu-Hyun ditelinga Eun-Hwan. “nado saranghae, Kyunnie~ya.” Jawab Eun-Hwan sambil tersenyum. Tiba-tiba, kembang api meletus indah di langit. Mempertandakan Choi Corp dan Cho Corp telah bersatu, bukan karena paksaan, tapi karena cinta.

Demi tuhan, aku mencintainya, bahkan jauh sebelum aku menyadarinya dan memberitahunya.

Tolong, jaga dia, jangan buat dia sedih, berikan kesedihannya padaku.

Jangan membuatnya sulit, buatlah dia mudah untuk melakukan apapun.

ENDING

2 Comments (+add yours?)

  1. Jung MinHee
    Dec 29, 2016 @ 21:53:54

    Hi! Cuman mau bilang kalo ceritanya secara outline dan tema bagus, cuman pengemasan alur dan bahasanya yg gk baku mengurangi kenyamanan, mungkin selanjutnya bisa pake bahasa baku aja biar lebih enak. Gomawo & hwaiting!!

    Reply

  2. kylajenny
    Aug 06, 2017 @ 11:50:11

    Suka ceritanyaaaa
    Kasian jo young min hehe

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: