Pacify Her [1/?]

 

ph

.

Written By: IJaggys

Prolog

.

I wish I could give you more. I wish I knew what was left in me to give.

.

.

.

Hand sanitizer reportedly kills 99.9% of all common germs, without water. However, it’s that other 1% that really fucks you up, man. Lee Hyukjae menunjuk kearah Choi Siwon yang tengah sibuk membasuh tangannya dengan produk pembersih tangan, berbentuk Bugs Bunny milik putranya.

Dari kejauhan mereka bisa melihat Lee Donghae turun dari Aston Martin-nya, membawa beberapa bungkusan dari toko boneka terkenal, dengan putrinya, Lee Sara yang telah berlari kearah teman-temannya di ruang bermain.

“I’ll see you inside.” Lee Nara mengulaskan senyumannya kepada suaminya, ketika dia melihat teman-temannya telah berada disana—memegang gelas wine, dan duduk disebuah ruang tunggu berisikan sosialita muda yang mengantarkan anak-anak mereka.

Shopping at mall with my daughters again, and I can’t help but think I must have been a real mother in a previous life. Donghae membuka pembicaraan mereka dengan menaruh tas berisi boneka itu disamping boneka dinosaurus milik putra Hyukjae.

It hasn’t always been easy, but it’s always been worth it. Siwon menjabat tangan Donghae, lalu menunjuk kearah barisan pria yang sibuk membawa semua peralatan putra-putri mereka di hari pertama ini.

Hyukjae menawarkan satu gelas wine kepada Donghae, dan membiarkan sahabatnya itu melepas penatnya dengan cairan berwarna ungu gelap tersebut. Ini adalah hari pertama putra dan putri mereka masuk sekolah.

Bukan sekolah sebenarnya, karena sekolah ini dikhususkan bagi mereka yang memiliki orang tua dengan penghasilan tak terbatas serta memiliki akun saham dalam putaran Wall Street. 

“Aku baru saja menyelesaikan administrasi untuk satu tahun ke depan, dan untuk mengajar putraku membaca—mereka membutuhkan sekiranya beberapa ribu dollar. Apa itu tidak berlebihan?”

Siwon adalah pemilik perusahaan automotif terkenal di Asia, jelas hal seperti ini bukan masalah besar untuknya—namun apakah putranya yang baru saja menginjak sekolah dasar membutuhkan pelajaran mengendarai helicopter?

“Ya, sebenarnya uang bukan masalah bagiku. Tapi aku rasa masih banyak sekolah lain yang bisa mengajarkan anak kita membaca dan menghitung, tanpa harus pergi ke negara Eropa setiap bulannya.”

Hyukjae berseru dari samping Donghae. Dia adalah pengusaha cargo terkenal, namanya telah masuk ke dalam daftar taipan di Asia.

“Istri-istri kita tentu tidak akan memikirkan hal itu, mereka tidak akan mungkin mau memasukan anak-anak kita ke sekolah biasa. Hal itu bisa merusak reputasi mereka.”

Donghae masih ingat ketika Nara, istrinya—telah merencanakan akan menjadi apa kehidupan putri mereka di depannya. Masuk ke dalam sekolah yang telah dia tentukan, dan menjadi apa yang dia inginkan.

“Bagaimana kabar eksplorasi minyak bumi yang berada di Lubbock?”

Mendengar jawaban Siwon, membuat Donghae menghentikan lamunannya. Dia menaruh gelas wine itu di meja terdekat, lalu kembali mengingat pekerjaannya yang menumpuk.

“Aku masih mencari titik didihnya, kandungan hidrokarbon dan alkananya masih dikembangkan. Mungkin, menunggu hingga konduktivitas termal-nya sesuai.”

Dia adalah pemilik perusahaan tambang yang bergerak dalam ekspolarasi sumber daya alam, sehingga semua orang tahu bagaimana Donghae mencetak keberuntungganya sendiri.

“Aku sungguh tidak mengerti apa yang kalian bicarakan—tapi aku mengerti apa yang akan aku bicarakan.” Hyukjae merubah posisi duduknya hingga membelakangi istri-istri mereka, dia tersenyum senang sebelum memulai eskplorasinya.

“Tadi aku membaca daftar hadir orang tua yang memasukan anak-anak mereka tahun ini, hampir seluruhnya aku telah mengenal siapa mereka. Tapi ada satu nama yang asing—dia tidak memiliki suami, atau yah, tidak ada nama pria disamping namanya.”

Siwon dan Donghae menatap kawannya itu dengan malas, mereka sudah tahu apa yang akan dibicarakan Hyukjae. Tentu saja masalah wanita. Seakan dengan kehidupannya sekarang, Hyukjae tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya.

“Aku rasa, wanita ini mungkin menarik. Kalian tentu tidak akan melewatkan seorang Ibu muda tanpa pria disisinya—ini bisa menjadi permainan panas.” Hyukjae tersenyum penuh arti, seakan melupakan tujuannya kemari untuk mengantar putrinya bukan untuk mencari wanita-wanita muda yang tidak memiliki pendamping.

“Aku sungguh tidak ingin memulainya, tapi analisamu selalu salah. Tahun lalu saat kita memasukan anak-anak kita ke kindergarten, kau berkata ada seorang wanita yang hadir tanpa suaminya—dan ternyata dia telah berumur diatas lima puluh tahun, untuk mengantarkan cucunya.”

Donghae hanya tertawa mendengar konfrontasi dari Siwon yang membuat Hyukjae memutarkan matanya dengan bosan dan berkata bahwa itu salah paham semata.

Pembicaraan mereka harus dihentikan ketika dering bel berbunyi, Siwon mengatakan bahwa akan ada pertemuan pertama antar orang tua agar saling mengenal. Tidak hanya bagi para Ibu, tapi juga sang Ayah wajib hadir dipertemuan ini.

“Sayang, aku akan duduk dengan Siwon dan Donghae.” Hyukjae mengecup kening istrinya yang telah sibuk dengan teman-temannya. Tujuan sebenarnya hanya untuk terbebas dari istrinya ketika matanya mulai melirik wanita lain.

Eh, kita berada di ruang kelas. Lucu sekali. Aku ingin duduk denganmu, aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya duduk bersama anak tertampan di kelas ketika sekolah dulu.” Hyukjae menarik satu bangku disamping Siwon dengan cekatan, membuat Siwon menatapnya dengan heran.

Sementara Donghae, dia duduk disamping meja Siwon dan Eunhyuk—membiarkan bangku disisinya tidak terisi, karena semua orang datang dengan pasangannya masing-masing.

Dia memikirkan banyak hal, tentu saja. Ini adalah hari pertama ajaran baru, dia membayangkan apa yang tengah Jun lakukan. Putranya itu—apakah Cheonsa mengantarkannya ke sekolah, atau apakah Cheonsa memutuskan untuk menundanya hingga dia tiba disana?

Tidak ada yang tahu. Dia tidak lebih dari seorang pria bajingan yang membiarkan wanita dan putra yang dicintainya melanjutkan kehidupan mereka tanpa dirinya. Dia bahkan tidak menghubungi Cheonsa untuk bertanya apa yang akan wanita itu lakukan untuk Jun.

Dia tidak ubahnya seorang pria yang menganggap kehadiran mereka berdua seperti sebuah benda yang tidak harus dia perhatikan.

Bunyi ketukan pintu membuat perhatiannya kembali teralih ke dunia nyata. Bayangan seornag wanita berdiri didepan sana, hingga sang kepala sekolah membukakan pintu kelas itu dan membiarkan wanita berjalan perlahan.

“Maaf aku terlambat.” Suaranya begitu rendah, namun kehadirannya berhasil menghentikan semua aktivitas yang berada disana. Semua mata menuju kepadanya, dengan wajah tenangnya dia berdiri di depan kelas, seakan menghinoptis semua yang berada disana.

Donghae merasakan nafasnya tercekat, dan pita suaranya menghilang entah kemana. Wanita yang selalu berada di pikirannya, kini berdiri di hadapan semua orang dengan iris samudra yang menenangkan.

“Aku Han Cheonsa—Orang tua dari Lee Jun.” dia berkata dengan sangat tenang, matanya tak sengaja bertemu dengan Donghae—pria yang berada di dalam kehidupannya. Untuk beberapa saat dia terpaku, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Apa anda datang sendiri? Atau apakah Ayah Jun akan menyusul?” Kepala sekolah itu bertanya dengan senyuman ramahnya. Cheonsa kembali terdiam, dia menundukan wajahnya—memikirkan apa yang seharusnya dia katakan.

Ya, Ayah Jun berada disini. Dia telah hadir lebih dulu.

Tapi semuanya tidak akan semudah itu.

“Aku hanya sendiri.” Hanya itu yang bisa dia katakan. Tatapan dan kalimat berbisik memenuhi ruangan itu, dia tahu apa yang mereka pikirkan. Wanita muda, tanpa suami—dan telah memiliki seorang anak. Konotasinya tidak akan terdengar baik.

Kepala Sekolah itu tertegun sebentar, sebelum membaca data milik Lee Jun dan tidak menemukan nama sang Ayah disana.

“Mungkin dia adalah wanita simpanan. Kau tahu—wanita secantik dia, datang dengan penampilan sempurna, memasukan anaknya ke sekolah mahal seperti ini—juga tidak ada suami. Kehidupan pasti sangat menyenangkan untuknya.” Sena, istri dari Hyukjae berbisik kearah Nara yang masih mengamati wanita itu.

“Wanita itu sungguh tipe Donghae.” Suara Heena, istri dari Siwon kembali menambahkan dengan senyuman penuh candanya, ketika dia melihat mata Donghae yang tidak berkedip saat melihat wanita itu masuk ke dalam sana.

“Ya, tapi aku rasa Donghae cukup pintar untuk tidak berurusan dengan wanita simpanan seperti dia.” Nara mengulaskan senyumannya, dan membiarkan Heena serta Sena menggodanya bahwa Donghae akan meminta nomor telepon wanita itu secara halus ketika acara ini berakhir.

“Anda bisa duduk di samping Tuan Donghae.” Suara kepala sekolah itu bergema disana, dan membuat Hyukjae menjerit tertahan karena dia merasa menyesal telah memilih duduk bersama Siwon. Seharusnya dia yang menemani wanita sempurna incarannya itu.

Hanya ada satu bangku kosong, dan itu berada disamping Donghae. Dengan langkah yang berat, Cheonsa duduk disamping pria itu tanpa menolehkan wajah sama sekali.

Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara, Cheonsa lebih memilih menatap ke arah lain, sementara Donghae memandang lurus kearah depan dengan tatapannya yang kosong.

Dan entah untuk berapa lama, dia merasakan tangan pria itu mengenggam tangganya dalam diam—sebelum dia melepaskan tangan pria itu secara perlahan, dan dia bisa mendengar suara pria itu berguman dengan lirih.

“I’m sorry, Han.”

.

***

.

Lee Donghae menatap Cheonsa ketika mengecup kening Jun yang telah tertidur, sebelum menutup pintu kamar putra mereka. Donghae berdiri di ujung ruangan, tidak yakin apa yang harus dia lakukan setelah kejadian mengejutkan hari ini.

“Do you wanna talk about it?” 

Suara Donghae akhirnya memecah keheningan diantara mereka. Donghae sudah berada disana empat jam yang lalu, namun Cheonsa bahkan tidak mengangkat wajahnya ketika dia mengecup keningnya.

“What do you want to talk about?” Cheonsa mengambil beberapa mainan milik Jun yang tercecer dilantai lalu memasukannya ke sebuah kotak besar berisi koleksi mainannya. Suaranya begitu ringan, sehingga Donghae tidak bisa menebak apa yang tengah dia pikirkan.

Dia yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu dia mungkin akan berteriak dan membanting semua barang yang berada di hadapannya, setiap kali pria itu meninggalkannya untuk wanita lain.

Tapi semakin berjalannya waktu, dia tersadar bahwa semua teriakan itu tidak ada gunanya. Bahwa semua yang dia lakukan tidak akan pernah membuat Lee Donghae menjadi miliknya seutuhnya.

I promise, you’ll never have to worry about this again. Bahkan ketika mengatakannya, dia terdengar seperti seorang pria yang tidak bisa melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Dia hanya bisa berjanji. Memenuhi barisan janji kosong miliknya yang berada di udara.

“Aku akan memindahkan Jun ke sekolah lain, tapi kebijakan dari pihak sekolah melarang perpindahan sebelum satu tahun pelajaran.” Cheonsa tidak terlihat marah atau bahkan kecewa, dia hanya tersenyum singkat seakan-akan tidak ada yang terjadi, atau mungkin hal seperti ini sudah tidak bisa menyakitinya lagi.

I wish I could give you more. I wish I knew what was left in me to give, Han. Dia sungguh mencintai Cheonsa, tapi dia tahu bahwa semua itu tidak pernah cukup—bahwa Cheonsa menginginkan sesuatu yang tidak pernah dia bisa berikan, sesuatu yang membuatnya menyesal mengapa takdir tidak pernah mempertemukan mereka lebih dulu.

“No, it’s okay. Thank you for never making me feel like I’m too much to handle, Lee.” Cheonsa mengecup sudut bibir Donghae dengan perlahan, lalu membiarkan pria itu memeluk tubuhnya dengan erat.

Bahkan ketika dia telah mengetahui bahwa kisah ini tidak pernah berpihak kepada dirinya, dia tetap membiarkan tangan kokoh itu merengkuhnya dan menghancurkannya lebih dalam.

Karena dia sangat mencintainya, hingga dia membiarkan semua rasa sakit itu menghancurkannya dalam diam.

Han Cheonsa sangat mencintai Lee Donghae.

.

***

.

Dia tidak bisa memejamkan matanya, seberapapun dia menginginkan itu. Setelah mendengar suara Donghae yang berderu halus, dengan pelukannya yang melonggar di tubuhnya, dia bisa memastikan bahwa pria itu telah jatuh tertidur pulas.

Cheonsa melepaskan tangan kokoh Donghae dari tubuhnya perlahan, tidak ingin membuatnya terjaga. Dengan sangat lembut, dia mengecup sudut bibir Donghae sebelum mengambil pakaiannya yang berada di lantai.

Lee Donghae akan selalu mengajaknya melupakan seluruh masalah mereka dengan sentuhan lembutnya. Dia bahkan tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri, semenjak bertemu dengan pria itu—Cheonsa bahkan tidak bisa menentukan apa yang harus dia lakukan dalam hidupnya.

Dia masih ingat pertemuan pertama mereka. Di bawah awan kota abadi, Roma. Pertemuan itu terasa seperti kemarin, walau nyatanya semuanya telah berlangsung selama enam tahun.

Donghae tersenyum manis ke arahnya, mengangkat satu gelas wine ketika pandangan mereka tak sengaja bertemu, di tengah hiruk pikuk orang yang tengah menikmati gemerlapnya pesta pergantian tahun. Seorang wanita berdiri disampingnya, mengecup bibirnya dengan lembut, tapi itu semua tidak membuat dirinya berhenti menatap pria itu.

Dia tidak pernah menyangka bahwa pertemuan tak terencanakan di sebuah meja bar yang menyorot keindahan kota Roma, akan membawanya ke sebuah kehidupan yang begitu rumit.

Donghae mengejarnya, menahan kedua tangannya dan memberikan sebuah sentuhan lembut di bibirnya. Setelah itu semuanya berjalan begitu cepat—sangat cepat sehingga dia tidak bisa mengingat, mengapa dia memilih untuk tenggelam dalam sentuhan lembut Donghae di setiap jengkal tubuhnya.

Hingga akhirnya Donghae datang dengan sebuah janji yang tidak pernah bisa dia tepati.

.

‘Aku mencintaimu, menikahlah denganku.’

.

Kata-kata itu seharusnya terasa begitu indah untuk setiap wanita yang mendengarnya, tapi ketika mendengar kata-kata itu—Cheonsa merasa hati terkecilnya mengatakan bahwa dia tidak seharusnya berada disana, menatap seorang pria milik wanita lain yang bertekuk lutut dihadapannya—memintanya untuk menjadi miliknya seutuhnya.

Dia tahu bahwa bagi Lee Donghae, dia tidak lebih dari wanita lain yang hadir di kehidupannya. Setiap kali dia menatap pantulan dirinya di cermin, dia merasa seperti tengah menatap seorang wanita yang sangat kejam. Wanita yang tidak memiliki perasaan, mengambil suami wanita lain hanya untuk kepuasannya sendiri.

Jadi setiap kali Donghae meninggalkannya, dia tahu bahwa dia pantas untuk mendapatkannya. Karena wanita lain tidak akan mungkin mau bersanding sebagai wanita simpanan—menghancurkan sebuah hubungan harmonis, dan menjadi benalu di dalamnya.

Apakah dia wanita yang sangat kejam?

“Why are you still awake?” suara berat Donghae memecah lamunannya. Donghae menatap istrinya dengan bingung.

Cheonsa duduk di sebuah sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur, tubuh indah itu hanya dibalut oleh kemeja putih tipis miliknya. Dan Cheonsa terlihat tidak begitu menguasai keadaan, wanita bermata samudra itu menatap Donghae untuk beberapa saat sebelum mengulaskan senyuman singkatnya.

I ask myself this question all the time. It is 5:35 am and I usually sleep around 5 or 6. Akhir-akhir ini dia sulit untuk tertidur dengan lelap, bayangan akan Donghae meninggalkannya terus berputar di dalam kepalanya. Rasa takut itu datang entah dari mana, setiap kali dia melihat sosok itu melangkah keluar dari apartemennya.

“Have you tried some sleeping pills? Insomnia would be kind of overly diagnosing you, maybe this is some sleeping disorder that could be corrected. Donghae membuka selimut disampingnya, mengajak Cheonsa untuk kembali berada disisinya. Dia sangat merindukan wanita itu, dan dia tidak memiliki waktu banyak untuk bersamanya.

I was not always like this, so maybe this is just a stage.” Jawab Cheonsa sambil menghempaskan tubuhnya disamping Donghae, dan membiarkan pria itu memeluknya dengan erat. Donghae mengecup bahu Cheonsa dengan lembut, membiarkan mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“I know what you are thinking,” Donghae tahu apa yang wanita itu pikirkan. Banyak hal yang menghantui mereka, dia tahu bahwa dia tidak bisa selamanya menyembunyikan semua ini dan bersikap menjadi seorang pria suci yang tidak memiliki kesalahan.

I cannot let you go. You’re deeply ingrained in my mind, and I’m always looking at the little flowers that you planted in my memory.

Cheonsa tidak menjawab, dia hanya terdiam untuk waktu yang sangat lama. Sebelum dia melepaskan pelukan itu dari tubuhnya, dan menatap Donghae dengan samudranya yang indah.

Will you come and watch sunrises with me? Cheonsa mengarahkan wajahnya ke jendela yang mempertunjukan semburat fajar pagi dari lantai teratas di gedung mewah tersebut.

Donghae tahu bahwa Cheonsa selalu menghindari setiap pembicaraan dimana dirinya meminta agar wanita itu untuk terus bertahan disisinya.

Tanpa menunggu jawaban darinya, Cheonsa meninggalkan tempat tidur dan membuka pintu kaca balkon—lalu membiarkan wajahnya terhembus angin pagi yang menusuk.

Samar-samar dia bisa mendengar langkah Donghae disana, dia menolehkan wajahnya kearah pria itu. Dibawah sentuhan angin pagi, Donghae terlihat seperti pahatan sempurna yang dikirimkan oleh surga untuk dirinya.

If I pass out outside on the balcony, that’s kinda like camping right? Donghae menyapa istrinya dengan satu kecupan lembut di keningnya, satu tangannya masih berusaha memakai kaus hitam polos yang diambilnya dari lemari. Ini adalah rumahnya, ini adalah kehidupannya, semua ini adalah miliknya—hanya saja semua ini tidak akan pernah menjadi kehidupannya yang sebenarnya.

Cheonsa hanya tersenyum singkat sebelum memejamkan matanya dan membiarkan angin pagi kembali menyentuh permukaan kulitnya. Donghae menatap semua itu dalam diam, menyaksikan bagaimana kesempurnaan yang indah berdiri menjadi sebuah rasa yang tidak pernah bisa dia ungkapkan.

You love the wind, bisik Donghae dengan suara rendahnya—membuat Cheonsa membuka kedua matanya dan menatap pria itu dengan senyuman indahnya.

“I just like feeling things,” kata-katanya terpotong diudara sebelum akhirnya dia menatap Donghae untuk yang terakhir kalinya.

“and you.” Lanjutnya dengan tenang, sebelum mencium bibir Donghae dengan lembut.

Because at the end of the day, we all want to come home to a pair of arms where we feel loved and important.

And so do Han Cheonsa.

.

***

.

I’m just glad that the good memories I have from my childhood didn’t involve a phone screen.” 

Lee Sara menatap Ibunya dengan kesal saat Ibunya mengambil ponsel dari tangannya, hanya karena dia memainkan ponselnya saat mereka tengah menunggu mobil yang tengah diambilkan petugas valet parkir di sekolah itu.

“Hey—Donghae—ini aku, ya—aku tengah menjemput Sara di sekolah. Aku hanya ingin menanyakan kapan kau akan kembali dari perjalanan bisnismu?—Maksudku kau tidak biasanya pergi di hari kerja—baik, aku akan menunggumu dirumah.” Nara memutuskan sambungan teleponnya ketika suaminya itu mengakhiri pembicaraan mereka secara sepihak.

Memang itu yang selalu Donghae lakukan. Memutus pembicaraan mereka. Bahkan pertengkaran adalah hal yang lumrah dalam kehidupan pernikahan mereka, Donghae seakan tidak berusaha lebih untuk memperbaiki apa yang telah bobrok dalam pondasi hubungan mereka.

Dia selalu berpikir bahwa Donghae memiliki wanita lain—wanita yang bisa membuatnya melupakan segalanya, tapi itu semua tidak pernah terbukti. Entah dia yang menutup matanya, atau memang Donghae tidak pernah memiliki siapapun selain dirinya.

Derap langkah seseorang membuatnya terusik dari pikirannya, wanita sempurna yang dilihatnya kemarin—kini berjalan dengan seorang anak laki-laki yang mengekor manis dibelakangnya.

Wanita itu menyerahkan satu kunci mobil berlambang Rolls Royce ke seorang petugas valet dengan senyuman ramahnya. Bahkan dilihat darimanapun, wanita itu terlihat begitu sempurna.

Cheonsa—jika dia tidak salah mengingat, Cheonsa adalah nama dari wanita sempurna itu. Dia membayangkan apa yang akan dilakukannya jika dia menjadi wanita itu, bagaimana rasanya hidup dengan sosok sempurna yang membuat pria manapun rela bertekuk lutut dihadapannya.

Cheonsa, wanita itu, lebih terlihat seperti sosok yang keluar dari buku dongeng. Nara tidak merendahkan dirinya, dia tahu bahwa dia tidak kekurangan apapun—dia memiliki kecantikan dan kelebihan yang membuatnya mendapatkan semua yang dia inginkan detik ini.

Tapi tetap, bayangan atas wanita sempurna seperti Cheonsa selalu memenuhi pikirannya. Apa yang mereka pikirkan? Apa yang mereka lakukan? Bagaimana kehidupan mereka? Bagaimana rasanya terbangun dengan tatapan berwarna biru samudra itu?

“Mom, our car is here.” Suara Sara membuatnya kembali dari pikirannya. Kini dia melihat wanita sempurna itu tengah menunduk untuk membersihkan remah biscuit dari bibir putranya dengan tatapan penuh kasih sayang. Satu hal yang tidak pernah dia lakukan sejak dulu.

Dia selalu memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membuat Lee Donghae tetap bersamanya, hingga dia bahkan melewatkan waktu berharganya bersama putrinya, dan kini dia menyadari sesuatu.

Bahkan jika benar bahwa wanita itu adalah seorang wanita simpanan—dia tidak akan pernah menyalahkannya, karena di matanya wanita itu jauh lebih baik dari wanita-wanita yang menempati kedudukan utama.

Seperti dirinya.

.

***

.

Lubbock, Texas.
Northwestern of America.

.

Seorang pelayan mengetuk pintu ruangan pribadi itu dengan perlahan, dibelakangnya beberapa orang dengan puluhan berkas penting menunggu dengan cemas.

Suara seorang pria berdeham dengan keras, menandakan bahwa mereka boleh memasuki ruangan itu. Teriknya matahari yang bersinar terang di atas langit Texas, tidak membuat pria itu menghentikan kegiatannya menarik busur panah di dalam ruang terbuka yang luas di dalam sana.

Pria itu masih mengarahkan busurnya ke arah target panahan, menunggu beberapa bawahannya mengabarkan apa yang mereka dapatkan di lapangan hari ini.

Eksplorasi minyak bumi telah dilakukan, persaingan antara dua perusahaan besar memunculkan berbagai macam presepsi dari analisa ekonomi dunia.

“Proyeksi penggunaan energi dari EIA telah berhasil di akuisisi oleh perusahaan Lee Seven Seas—kita telah tertinggal jauh dalam indikator emisi karbon global, jika ini terus terjadi, maka akan berdampak buruk bagi perusahaan kita.” Tepat setelah penjelasan itu terucap, busur panah itu melesat kencang ke sebuah gelas kaca berisi wine yang tidak jauh dari sana.

Pria itu menatap mereka semua dengan ekspresi wajahnya yang datar, tatapan matanya begitu menusuk sehingga tidak ada dari mereka yang berani menaikan wajahnya.

Dia tersenyum singkat, mengetahui bahwa dia cukup lengah dan membiarkan Lee Donghae mengambil peluang yang dia punya.

“Siapkan private jet sekarang, aku akan kembali ke Seoul.” Ucapnya dengan tenang seraya menjatuhkan busur panah itu dari tangannya.

Dia menatap langit Texas untuk beberapa saat sebelum menatap semua bawahannya dengan tajam.

“Dan aku akan memastikan bahwa kehadiranku kali ini, akan terasa menyakitkan untuk Lee Donghae.” Bisiknya dengan dingin.

.

.

-TOBECONTINUED-

.

.

Since, Pacify Her has so much to offer I decided to turn it as series. It’s basically, adult-romance kinda angst but who knows. Guess, who is coming to Seoul? Drop a comment if you love this story and to support author’s work.

 

xo

IJaggys

4 Comments (+add yours?)

  1. indahryeo
    Jan 25, 2017 @ 12:36:27

    Wahhh gila keren amattt.. ide ceritanya antimainstream next part ditunggu thor …

    Reply

  2. aphroditeinme
    Jan 25, 2017 @ 21:29:24

    CHO KYUHYUN?! feeling aku sihh Kyuhyun yang dateng ke seoul kkkk~~
    Pacify Her udh di publish di blog pribadi Ijaggys kan ya? tapi ceritanya kok berasa ada yg beda yaa?? hihiii~ Semoga beneran dilanjutin sbg series ampe selesaiii!! Can’t waittt for it duhai my Fav author ever!;))))

    Reply

  3. missrumi
    Jan 27, 2017 @ 22:10:26

    Yaay!!!
    kirain mau lanjutin soal grup rumah nanas alias wanita nylon dan dayang dayangnya yang penasaran bakal diapain Kyuhyun.
    well, ini author ck! pengen ketemu deh, pengen nanya kok bisa ceritanya selalu anti-mainstream? Suka banget deh!

    Reply

  4. Indah
    Mar 26, 2017 @ 21:17:29

    Cinta yang aneh. Kasihan cheonsa. Kenapa harus bertahan saat luka yang ditorehkan begitu memilukan. Berharap setelah ini mereka broke uo.
    😁😁😁😁

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: