Avery Angel [1/?]

mnj

Author: Aryn
Cho Kyu-Hyun, Lee Dong-Hae, Cho Sun-Ae
Romance, Comedy, Sad | PG-15  | Chapter

Avery Angel

Once upon a time, an angel and a human fell in love.

It did not end well.

***

“Santa tidak akan datang untuk anak yang cemberut.”

Itu kata pamanku ketika aku hanya mematung di depan rumah kami—rumah paman yang juga kutinggali. Usiaku sekarang tujuh, dan sudah boleh membawa sepeda ke sekolah. Ini adalah natal ke enamku bersama paman dan bibi Kim. Aku hanya berdiri di depan pagar sementara banyak mobil yang hilir-mudik di lorong sempit perumahan ini. Ada mobil polisi, dua. Mobil dengan sirine nyaring, dan tiga mobil pemadam api. Banyak orang lalu-lalang di jalanan, padahal ini musim dingin. Salju sudah turun sejak minggu-minggu kemarin, dan ketika aku masuk sekolah pun salju tak mau mengalah dan tetap mempersulit langkahku—membuat kakiku tenggelam.

Dua blok dari rumah paman, api berkobar-kobar dan petugas pemadam berdiri sambil mengarahkan slang air ke seluruh bagian bangunan yang hangus. Itu The White Cloud—Bahasa Inggris, yang berarti Si Awan Putih. Panti asuhan khusus anak cewek. Anak-anak di sana kebanyakan bergabung dalam paduan suara gereja. Kebanyakan mereka tinggi, lebih tinggi dariku dan sering memberiku permen kalau aku lewat, atau puding, atau, apa saja yang bisa mereka jejalkan dalam keranjang sepedaku. Katanya mereka sudah kuliah, tidak sama denganku yang masih di sekolah dasar. Ada yang sudah kerja juga.

Beberapa yang sudah punya anak kadang datang dan bilang merindukan suasana panti. Baiklah, sepertinya bukan anak-anak cewek, tapi orang-orang yang disebut perempuan, yang sudah besar, namun belum menemukan keluarga, rumahnya di sana. Di The White Cloud.

Kecuali satu.

“Hei kau.”

Anak perempuan, yang begitu kecil itu terlihat sangat berantakan.

Ia mengenakan baju terusan—sepertinya itu baju tidur—yang jelek. Terdapat sobekan yang mengitari kerahnya yang bermotif bunga-bunga kecil, di pergelangan tangan kiri baju itu benang-benangnya terlepas, semrawut, keluar dari jahitannya. Aku yakin terusan itu dulunya berwarna putih, karena yang kulihat sekarang keabu-abuan, dengan coreng-coreng debu dan warna hitam di mana-mana. Wajahnya kusam, bekas asap bangunan kurasa, rambutnya kering, matanya merah. Wajahnya datar dan ia membawa boneka rombeng dalam pelukannya. Seperti biasanya, dia seram.

Dan saat ini, dia menatapku.

“Jangan ganggu aku, pendek.”

“Kau mau ke mana?” Ia terlihat bingung—sama sepertiku—tapi dia tetap tenang, dan tetap berdiri di jalan dengan kaki telanjang dan kotor. Dan terlambat aku sadari, berdarah. “Salju sudah turun.”

“Kau kira aku buta?” sahutnya. Ia lalu melihat piyama biru bergaris yang kukenakan, yang baru dibelikan paman dua hari yang lalu, sudah dicuci, diseterika, dan disemprot dengan wewangian yang sangat harum. Apa yang dia pikirkan? Rambutnya yang hitam dan lengket diterpa angin, dia bergidik. “Kau punya biskuit?”

Kalau boleh jujur, aku benci dia. Maksudku, sudah lama aku tinggal di rumah paman, hampir semua orang panti kukenal dan mengenalku. Dan ramah. Kecuali dia. Pendiam, suka melamun, kasar, dan kejam. Aku benci melihat matanya. “Uh-uh. Biskuit?”

Ia memerhatikanku. Atau piyamaku. Lalu menggerakkan kaki telanjangnya yang terbenam salju yang belum dikeruk paman. “Lupakan.”

“Kau mau ke mana?” tanyaku lagi. Hei, aku penasaran. “Panti terbakar.”

“Tahu kok,” jawabnya singkat. Ia berbalik, melihat kobaran api yang mulai tenang, menyisakan bangunan yang hangus dan hitam di atas tanah salju yang putih bersih. “Bagus, ya? Ambilkan aku biskuit.”

Aku—entahlah—mungkin aku flu atau sakit pikiran. Aku melepas atasan baju tidurku, dan memberikannya pada anak cewek itu. Dia tidak bilang terima kasih. Dan aku juga tidak mengharapkannya.

Aku berlari ke dalam rumah untuk mencari sekeping biskuit (hanya berjaga-jaga, mungkin anak cewek itu ketakutan, butuh teman atau semacamnya, atau dia hanya benar-benar butuh makan).

Ketika aku kembali, dia tidak di sana. Dan hujan salju telah berubah menjadi badai.

Aku menemukan gantungan pohon natal mengilap di tangga tempatku berdiri tadi. Dan semakin tidak mengerti.

Siapa yang menginginkan penguin di pohon natal mereka?

Mungkin anak cewek penghuni panti itu yang akan melakukannya. Satu-satunya. Sama seperti waktu dia bilang api yang melenyapkan tempat tinggalnya itu bagus.

Sejak malam itu aku tidak pernah melihatnya lagi.

Ya sudahlah. Lagipula, dia aneh.

***

Itu adalah sebuah tempat yang terang benderang namun tidak menyakitkan mata. Didominasi warna putih gading, dan dibanjiri sinar matahari yang hangat. Awan-awan tipis sesekali terbang dengan tenang di sekeliling air mancur biru—yang nampaknya turun dari langit—dan bermuara di dekat pohon oak rindang bak danau permata berkilauan. Di dekat pagar-pagar kayu bercat putih, tumbuh tanaman rambat hijau yang subur, dengan jejeran kebun mawar dan hydrangea putih bersih. Tanahnya beralaskan rerumputan yang dipangkas pendek dan dibatasi kerikil-kerikil bulat sama rupa semacam untuk relaksasi. Tempat itu luasnya berhektar-hektar. Begitu pula keindahannya. Ketika matahari mulai turun, tempat itu akan merona dengan semburat hasil pencampuran warna merah muda lembut, violet dan jingga. Semua yang datang ke tempat itu bahagia, dan tidak pernah ingin pergi. Itu adalah tempat yang menawarkan, sekaligus menjanjikan kebahagiaan abadi.

Di bagian kanan, di sisi timur tempat biasanya matahari muncul dengan bahagia, sebuah pintu raksasa terbuka dengan perlahan. Bungalo itu terlihat begitu indah. Sederhana, namun indah. Ada semacam kolam dengan air biru seperti di halaman utama, dengan ikan-ikan emas yang mengendap tidur. Di sekeliling kolam, plumeria ungu sibuk menebarkan pesonanya. Ada bangku kayu—model bangku taman dengan ukiran—dan dikelilingi dedaunan baru mekar. Wangi udaranya menenangkan. Wewangian yang bisa membuat dadamu terasa ringan, membuat pikiranmu jernih. Mereka yang datang di sini tidak punya masalah, tidak lagi terikat pada dunia. Atau malah sebaliknya.

“Apa?” Wanita itu berambut panjang, nyaris menyentuh lututnya yang kurus. Matanya bulat besar, hitam cemerlang. Bibirnya tidak terlalu tipis, tidak juga berlebih. Bibir ranum itu sewarna kuncup mawar merah muda. Kulitnya pucat, nyaris transparan.

“Begitukah caramu bicara padaku?” Pria yang duduk di bangku taman sambil melipat kakinya itu bahkan sudah transparan. Kulitnya yang nyaris tembus pandang berangsur-angsur memadat dan jelas ketika ia mendongak. “Perlu kubantu membenturkan kepalamu?”

“Yah,” Wanita itu mengangkat bahu sambil lalu. “Apa?”

“Turunlah ke bumi.” Pria itu bangkit dan menekan ibu jarinya ke pergelangan tangan si wanita. Tepat di tempat nadinya dulu pernah berdenyut. “Ini perintah.”

“Aku tidak akan kemana-mana.”

“Ini perintah,” ulang pria itu. “Kau mengerti apa artinya itu.”

Itu berarti tidak ada penolakan. Apalagi perlawanan.

Pria itu menekankan ibu jarinya ke kening sang wanita. “Kau melihatnya?”

“Ya. Seorang pria. Mencoba bunuh diri.”

“Itu kau.” Sang pria tersenyum singkat. “Kau—bagian dirimu yang lain—mengalami penderitaan hebat secara duniawi hingga memutuskan ingin mengakhiri hidup. Mengacaukan sistem kehidupan. Mengacaukan aturan. Aku benci orang yang melanggar aturan.”

Wanita itu menatap wajah sang pria ketika jemari yang menyentuh keningnya terasa beku. “Masalah buatku?”

“Itu kau.” Pria itu sama tenangnya dengan dirinya sendiri. Tenang, sekaligus kejam. “Dengarkan aku, dan pergilah.”

“Sebaiknya apa yang kau katakan itu penting.”

“Aku bukan penjaga gerbang neraka, apa yang keluar dari mulutku pantas kaupercaya. Aku sudah menyimpan semuanya di sana.” Pria itu mengetuk kening si wanita kurus. “Dan akan menjelaskan sisanya padamu. Namamu Sun-Ae. Dua puluh empat tahun. Kau adalah utusan-dari-atas sekaligus bagian-lain-dari-diri-seorang-manusia—manusia yang barusan kaulihat itu. Di tempat yang di sebut dunia, bumi, atau wadah dimana manusia bersuka ria, saling mencintai, dan saling membunuh, kau tidak memiliki siapa pun. Apa pun. Kewajiban pertamamu adalah masuk dalam kehidupan pria itu. Membantunya. Kau dilarang berbohong padanya. Sisanya, kau akan diberitahu nanti. Dan, rahasia ini hanya kita berdua termasuk pria itu, tanpa intervensi dalam bentuk apa pun. Pergi.”

Wanita itu menjauh dan meraih gagang pintu. Tubuhnya terasa melayang. Ketika nanti ia keluar dari bungalo itu, ia tidak akan menemukan pelataran keindahan lagi. “Bagaimana aku bisa bicara denganmu?”

“Aku selalu bersamamu.”

“Bagaimana?”

“Kau hanya perlu mengingat satu hal. Ingat baik-baik dan jangan lupakan. Aku Kyu-Hyun. Cho Kyu-Hyun.”

***

Mana yang lebih mengerikan? Melihat orang yang kausayangi berada di pinggir jurang kematian, atau melihat kematianmu sendiri? Kalau boleh memilih, ia sungguh tidak ingin memilih salah satunya.

Jalanan Gangnam masih begitu ramai meski hari tak bisa dikatakan terang. Sekarang sudah memasuki pukul 23.58, bulir salju tipis mungkin akan turun besok pagi. Jajaran toko sudah dihias sedemikian rupa untuk perayaan natal. Restoran cepat saji memangkas harga yang menurut mereka habis-habisan, yang kita semua tahu sudah dinaikkan jauh sebelum ini. Etalase toko fashion memamerkan koleksi akhir tahun bernuansa krem, hijau lumut dan merah menyala. Ada aroma lezat daging berlemak di udara yang datang dari gerobak keliling dan kios pinggir jalan. Padahal hampir larut, tapi orang-orang masih betah di jalanan.

Lee Dong-Hae memasuki flat kecilnya yang tenang sambil terhuyung-huyung. Flatnya gelap ketika ia masuk. Ia melepas sepatu, melemparnya sembarang arah, lalu membanting pintu. Dong-Hae nyaris memejamkan matanya ketika ia melewati ruang tamu sempit, ruang tengah yang sesak, dan akhirnya membuka lemari pendingin untuk sebotol air mineral.

Dong-Hae memasuki kamarnya. Sengaja tidak menyalakan lampu, ia langsung merebahkan diri di kasurnya yang empuk dan luas. Ia bergerak sedikit, memejamkan mata, lalu bergumam sendirian.

“Apa sebenarnya yang kaupikirkan?” Dong-Hae menghela napas. Ia menjambak rambutnya frustasi. “Apa yang sudah kaulakukan?”

“Tidak ada.”

Matanya benar-benar berat, perih, dan mungkin sangat merah. Tapi ketika mendengar suara itu, matanya langsung terbelalak, kaget, lalu menjadi segar. “Siapa kau?”

Ada seseorang di kasurnya. Seseorang itu tidur di sampingnya dan menyembulkan kepala dari dalam selimut. Seorang wanita. “Halo.”

Dong-Hae bangkit, kemudian ia berjalan cepat—berlari—dan menekan saklar lampu sekuat tenaga. Ketika kamarnya terang benderang, ia benar-benar melihat sosok wanita di atas kasurnya, tenggelam dalam selimutnya, dan menatapnya. Sempat terpikir oleh Dong-Hae apakah ia salah memasuki kamar, jadi ia melongo, dan mengecek jendela, jadi ini benar kamarnya. Dan sepanjang ingatannya, ia lajang. Belum menikah, dan belum tertarik mengundang wanita ke kamarnya itu untuk menikmati seks satu malam yang manis.

“Siapa kau?” tanyanya pelan. Ia sudah terlalu lelah untuk melakukan lebih. “Apa yang kaulakukan di tempat ini, di kamarku?” Wanita itu kemudian duduk. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, ketika selimutnya sedikit melorot, Dong-Hae reflex menghela napas. “Dan mengapa kau telanjang?”

“Aku Sun-Ae. Itu namaku,” Sun-Ae menjepit selimut kuat-kuat di bawah ketiaknya, lalu merapikan rambutnya yang seperti baru saja diterjang ternado. “Aku di sini untuk membantumu.”

“Aku tidak merasa memerlukan bantuan apapun. Aku tidak peduli, aku ingin kau pergi.” Karena Sun-Ae tidak bergerak, Dong-Hae memejamkan matanya dan percaya, bahwa sampai detik ini ia masih sangat menghormati spesies yang satu ini. “Nona, aku tidak akan melaporkan gangguan ini pada polisi kalau kau bersedia pergi dalam dua menit. Waktu berjalan.”

“Aku Sun-Ae, bukan Nona. Kau tidak akan melaporkanku ke polisi. Aku tidak akan pergi. Aku tidak bisa pergi.”

“Baiklah,” Ketika itu, Dong-Hae sudah duduk bersila di lantai sementara Sun-Ae duduk di ayunan santai berbentuk setengah cangkang telur beralaskan bantal-bantal empuk. “kenapa kau tidak bisa pergi?”

“Karena aku datang untuk membantumu.” Sun-Ae memandang berkeliling. Tempat ini dingin sekali. “Aku adalah dirimu.”

Setengah mendengus, Dong-Hae menatapnya lekat-lekat. Ada pancaran kemarahan, rasa tidak percaya, dan kebingungan melintas di matanya. “Lelucon macam apa itu? Sekarang, katakan apa yang kauinginkan. Uang? Aku tidak memiliki banyak. Tapi mungkin cukup untuk keperluanmu,” Dong-Hae menyapukan pandangannya dari kaki hingga rambut Sun-Ae. “untuk memperbaiki diri, membeli baju dan kembali ke tempat asalmu.”

“Aku tidak bisa kembali ke sana begitu saja. Aku harus tinggal bersamamu sampai waktunya nanti. Itu yang dia katakan.”

“Sayangnya, aku tidak menginginkanmu di sini. Siapa orang bodoh yang mengarang cerita kanak-kanak di masa modern ini? Beritahu dia, itu tidak berhasil. Sekarang, keluar. Waktumu habis.”

“Aku juga tidak menginginkanmu.” Sun-Ae sudah diseret keluar oleh Dong-Hae. Dengan kasar, karena Dong-Hae terkejut wanita itu menyimpan lumayan banyak kekuatan di dalam tubuh kurusnya. “Dia bukan orang bodoh. Meskipun brengsek, dia—Cho Kyu-Hyun—tidak bodoh.” Sun-Ae telah melewati ruang tengah dan ruang tamu bagai terbang, dia tidak berteriak, dan Dong-Hae tidak memandangnya sama sekali. “Aku hanya bisa pergi setelah menyelesaikan semuanya, dan ketika itulah waktuku juga habis. Tidak bisakah kaumengerti?”

“Tidak. Selamat malam.”

Ayunan pintu berhenti dan berdentum keras dua senti di depan hidungnya. Sun-Ae menunduk dan melihat lembaran uang dalam genggamannya. Ia memperbaiki selimutnya lagi, lalu menyusuri lorong-lorong dengan pintu-pintu tertutup, meninggalkan kamar bernomor 1518—kamar Dong-Hae—dengan langkah pelan, membuat selimutnya yang tebal dan panjang menyapu lantai.

Ketika ia sampai di penghujung lorong itu, ia mendapati sebuah jendela kaca besar. Di luar sedang turun butir-butir putih. Salju. Bisikan itu datang lagi. Otaknya diberitahu bahwa itu bernama salju. Bukan sesuatu yang bisa dimakan tetapi cukup mengasyikan. Warnanya putih bersih, lalu menjadi tercemar ketika bersatu dengan tanah. Dia suka warna putih. Di tempat di atas awan, Kyu-Hyun memberinya pakaian berwarna putih, menyuruh—memerintahnya—menanam dan merawat bebungaan putih. Di atas sana putih tidaklah dingin seperti di bawah sini. Di atas sana, dia tidak pernah dibentak (Kyu-Hyun mungkin melakukannya, tapi bukan bentakan seperti itu), tidak pernah diseret, tidak pernah diusir. Sialan betul Lee Dong-Hae itu.

Sun-Ae berbalik.

Dan mulai membuat keributan.

Ia mengangkat tangan, dan mengayunkannya di depan pintu 1518. Ia menggedor, berteriak dan menendang pintu itu. Berkali-kali. Lagi Lagi. Lagi. Aku harus masuk. Lalu ia berhenti. Sesuatu seperti cairan, agak kental dan berbau aneh, meluncur turun dari hidungnya. Cairan itu menetes-netes di selimut yang putih. Sun-Ae mengusapnya dan memainkannya. Warnanya merah. Dan terus mengucur, ia tidak bisa menghentikannya. Darah. Ia diberitahu lagi. Darah. Tidak begitu baik.

“Dong-Hae!”

Puluhan gedoran, disusul tendangan selanjutnya ia lakukan sementara hidungnya tetap tidak bisa berhenti mengeluarkan darah. Sun-Ae menggigil. Tubuhnya mulai gemetaran, tapi tidak mengurangi kekuatannya untuk menggedor dan menendang.

Empat menit kemudian, ia berhenti, berjongkok, dan kebingungan.

Ia melihat telapak tangannya, lalu menempatkannya di bawah hidung, sambil tersengal-segal. Ia berbalik untuk kembali menggedor. Lalu melihat Dong-Hae di sana. Pria itu berdiri, menatapnya, dan ketakutan.

“Ada darah di bajumu.”

“Dan darah di sekujur tubuhmu.”

Dong-Hae membiarkan Sun-Ae duduk di atas konter dapurnya yang sempit, sementara kran air mengisi bak gantung dari keramik di dekat wanita itu. Sudah tidak terlihat darah dari hidung Dong-Hae, begitu pula Sun-Ae, tapi masih berbekas di mana-mana. Dong-Hae membuka bajunya, ia bertelanjang dada mengitari dapur, lalu menyambar sehelai kaus tipis dan mengenakannya. Ia mengambil tas yang ditinggalkan tukang cuci keliling langganan flat itu, mengeluarkan kaus lagi dan celana trening kemudian berdiri di hadapan Sun-Ae.

“Dong-Hae, wajahmu putih sekali.”

“Aku merasa perlu menyodorkan cermin ke mukamu. Kau bukan lagi pucat, tapi nyaris transparan.” Dong-Hae menampung air dengan sebelah tangannya, mengusap kepala Sun-Ae, lalu terkejut mendapati bukan hanya tubuhnya, bahkan helai-helai rambutnya terasa begitu dingin. “Mimisan di musim dingin. Kau memang tidak waras.” Dong-Hae membersihkan sisa-sisa darah di tubuh Sun-Ae, lalu ketika tangannya berada di atas selimut di dadanya, ia mengangkat sebelah alis dan melempar pakaian pada wanita itu. “Kenakan ini.” Sesaat kemudian, Sun-Ae sudah mengenakan kaus dan trening—yang membuatnya terlihat seperti orang-orangan sawah—lalu Dong-Hae mengikat rambutnya yang panjang dengan tali, menyuruhnya duduk di kursi meja makan.

“Apa ini?” Sun-Ae duduk dan ngeri melihat cacing dalam mangkuk berenang-renang dalam cairan putih. “Kau membunuh dan mengawetkan makhluk lain, lalu menghidangkannya sebagai makan malam.”

“Aku minta maaf kalau di duniamu, makaroni itu hidup dan bernapas.” Dong-Hae duduk di hadapannya, lalu menyodorkan cangkir berisi teh. “Telan itu.”

Sun-Ae mungkin menyeruput teh, tapi ia tetap memberengut pada mangkuk makaroni dengan bubuk keju. “Aku tidak suka mengunyah apa yang kaupanggil sebagai makaroni.”

“Kalau begitu, selamat kelaparan.” Dong-Hae bangkit dari kursi dan meninggalkan Sun-Ae di dapur, di sana hanya diterangi sebuah lampu gantung karena lampu ruangan lain telah dimatikan. Ia berjalan menuju kamarnya, dan sengaja tidak mengunci pintu utama. Mungkin wanita itu nanti akan pergi, setelah mengutil beberapa barang elektronik miliknya yang cukup bernilai, terserah. Hari ini ia tidak berniat berurusan dengan apa pun, dengan siapa pun, jadi biarkan saja. Sejenak Dong-Hae berhenti, berbalik, kemudian melihat wanita itu. Dia menggenggam cangkir teh seakan benda itu sangatlah rapuh, dan menatap mangkuk makaroninya dengan ngeri, seolah makaroni itu yang akan hidup dan menelannya kalau ia benapas keras-keras. Dia, wanita itu, Dong-Hae mengamati, terlihat tidak berbahaya. Bahkan ketika penerangan tidaklah cukup, matanya jelas berkilauan, wajahnya yang tirus dan begitu putih dibingkai rambut hitam berantakan. Pada suatu waktu dalam hidupnya—yang ia sesali datang pada saat ini—ia merasa perlu melindungi seseorang. Dan kali ini adalah wanita yang duduk tenang sambil menikmati badai di balik jendela.

Wanita itu, gemuruh badai, dan suhu dingin yang menusuk tulang. Dong-Hae, entah bagaimana, terpesona karenanya.

“Tak bisakah kau diam?”

“Kau belum tidur?”

Dong-Hae hanya menatap jengkel Sun-Ae yang berputar-putar dalam ayunan cangkang telur di kamarnya. Setelah bertahan untuk tidak menyentuh makaroni, Sun-Ae mengekori Dong-Hae ke dalam kamar. Karena Dong-Hae langsung tidur dan tidak berkata apa-apa lagi, ia duduk di ayunan. Semua lampu sekarang sudah diredupkan, jadi cahaya hanya berasal dari lampu di persimpangan jalan yang menembus jendela. Meski pun begitu, Dong-Hae masih bisa mendengar Sun-Ae bernapas pelan-pelan, seakan tidak ingin membangunkan beruang tidur, yang berarti dirinya. Gesekan besi dari ayunan yang tak dibiarkan berhenti oleh wanita itu hanya semakin menganggunya.

“Siapa pun kau, enyahlah.”

“Tidak bisa.” Sun-Ae menatap keluar jendela. Melihat langit. “Hei, Dong-Hae, kenapa sih salju itu dingin?”

“Ha? Tentu karena ini musim dingin.”

Melihat Dong-Hae menutup kepalanya dengan bantal, Sun-Ae menundukkan kepala. Pria itu tidak memiliki selimut lagi selain yang telah dikotorinya. Jadi ia naik ke tempat tidur dan duduk di dekat pria itu.

“Siapa yang mengizinkanmu datang ke tempat tidurku?” Dong-Hae sangat ketus, tapi Sun-Ae sama sekali tak peduli. Harus diakuinya, dia suka berada di dekat pria itu.

“Tidak ada yang melarangku,” jawab Sun-Ae sambil lalu. Ia memainkan jari-jari Dong-Hae di bawah bantal, lalu tersentak pelan mendapati telapak tangan pria itu sangatlah hangat. “Kenapa kau bisa mimisan?”

“Aku pusing seharian ini. Banyak masalah. Kau salah satunya. Tidak berniat membantu dengan keluar lewat pintu depan?”

“Kau tahu jawabannya.”

Karena benar-benar lelah dalam upayanya menyingkirkan wanita itu, Dong-Hae tidak bergerak. Diam-diam hanyut dan mengantuk karena jari-jarinya dimainkan oleh wanita itu seperti bayi yang menggenggam jari-jari orang dewasa. Dong-Hae membiarkan tubuhnya menjadi rileks, membiarkan masalahnya menguap pergi. Dan ketika akhirnya ia hampir terbuai mimpi, ia membuka matanya dan melihat wanita itu tertidur pulas di sampingnya.

Dong-Hae melihat jari-jari wanita itu menggenggam jari manisnya. “Demi Tuhan,” Dengan frustasi, ia berusaha melepaskan genggaman itu lalu turun dari tempat tidur dan menyiapkan air hangat. Ketika kembali, ia mengangkat wanita itu, menempatkan kepalanya di atas bantal, dan meletakkan sepotong kain yang telah dibasuh air di dahinya. Dong-Hae memandangi wajah wanita itu; menyerupai mayat. Dong-Hae menghela napas, dan memutuskan untuk menjaganya sepanjang sisa malam.

“Ada ribuan kelahiran dengan nama itu. Kau harus memiliki setidak-tidaknya marga, alamat terakhir, atau orang yang bisa kauhubungi atau kami hubungi. Kerabat, keluarga jauh, rekanan, teman sebaya, teman lingkungan akademik, tetangga, tukang susu, tukang koran yang kaukenal, siapa pun?”

“Aku tidak mengetahui apa pun yang berhubungan dengannya. Tukang susu, tukang koran, tukang-tukang lainnya. Dia hanya ingat namanya Sun-Ae dan mengacau di flatku semalam.” Dong-Hae melihat seorang polisi bertubuh tambun, berkulit hitam mengilap dan berambut keperakan duduk bersandar sambil menari-narikan jemarinya di atas keyboard, lalu menggeleng-geleng. “Dan… kurasa dia mungkin sedang sakit. Kita bisa mencari data tentang orang hilang yang sedang sakit.”

“Itu juga tidak mudah, Anak Muda.” Polisi itu—Steve Coan—dari yang terbaca di tanda pengenalnya, menatap Sun-Ae yang duduk di samping Dong-Hae. “Nona Sun-Ae, kau yakin tidak mengenal siapa pun di sini—di Seoul—dan tidak ingat di mana rumahmu atau dari mana kau berasal?”

“Dia.” Sun-Ae menunjuk Dong-Hae dengan bahagia. “Kami adalah satu.”

Pandangan Steve pada Dong-Hae yang awalnya ramah dan cukup prihatin, berangsur-angsur berubah menjadi pemahaman. “Oh,” katanya. “Aku mengerti.”

Dong-Hae juga mengerti. Oleh karena itu, ia menggeleng tegas. “Tidak. Bukan seperti itu. Aku melalui hari yang melelahkan, aku pulang ke flatku dan menemukannya telanjang di ranjangku.”

“Oh yeah, tentu.”

“Oh sial.” Dong-Hae mengusap wajahnya tidak sabaran. “Dia bukan siapa-siapa. Aku tidak tidur dengannya.”

“Dia tidur denganku semalam setelah membersihkan tubuhku.”

“Nah.” Steve nyaris terkekeh menatap Dong-Hae. “Anak muda, lebih baik kauantarkan dia ke tempat di mana kau menjemputnya. Karena aku paham dan mungkin pernah berada di posisimu, jadi kantor polisi bukanlah solusi masalah kalian. Mudah, kan?”

“Tidak.” Dong-Hae menggeleng, dan merasa sangat lelah dihari yang masih sangat pagi. “Aku tidak mengenalnya, Sir. Tidak melakukan apa pun dengannya. Aku sempat mengusirnya semalam, tapi dia menggedor pintuku dan nyaris membuat kericuhan. Aku menemukannya masih di depan pintu, berisik, dan mimisan. Aku hanya melakukan sesuatu yang kuanggap sebagai apa yang bisa dilakukan Warga Negara yang baik. Termasuk membawanya ke sini. Aku tidak tahu siapa dia.” Dong-Hae menegaskannya sekali lagi, dengan sikap dan nada bicara yang sungguh-sungguh, lalu berangsur-angsur, merasakan Steve mulai mempertimbangkan. “Tempat ini adalah tempat terbaik untuknya.”

“Baiklah,” kata Steve setelah beberapa saat. “Kau boleh meninggalkannya di sini, kami akan memasukkan dan menyebarkan identitasnya sebagai orang hilang, juga melakukan tes kesehatan bila diperlukan. Dan jika selambat-lambatnya tiga puluh hari tidak ada yang menjemputnya, atau ternyata dia benar-benar sakit seperti yang kaukatakan, dia akan mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sebagai gantinya, Anak Muda, kau harus meninggalkan nomor pribadimu untuk kami hubungi. Untuk berjaga-jaga.”

“Yah, tentu. Tentu saja.” Dong-Hae dengan sigap memberikan apa saja yang harus diberikan, lalu nyaris berjingkrak-jingkrak ketika meninggalkan Sun-Ae dan Steve berdua saja.

“Nah, Nona Sun-Ae, kau bisa menunggu sebentar di sini sementara aku menyalin berkasmu.”

Dong-Hae mendengar langkah Steve, lalu berbalik dan menemukan Sun-Ae duduk di tempat yang sama ketika Dong-Hae duduk di sampingnya. Ini musim dingin, Dong-Hae mengenakan kemeja berbahan tebal panjang dilapisi mantel hangat berbulu. Di tubuhnya juga sengaja ditempelkan beberapa pack penghangat. Semua orang, termasuk polisi yang bertugas yang dilihatnya hari itu mengenakan mantel polisi paling tebal, khusus untuk musim dingin, dan menggosokkan telapak tangan mereka pada mug kopi panas. Sementara angin pagi memporak-porandakan lapisan kulitnya, wanita itu duduk di sana, di kursi besi dengan kaus pendek yang tipis, dan celana trening kebesaran yang sama sekali tidak menjamin kehangatan, tanpa alas kaki dan rambut berantakan. Wajahnya lebih pucat dari yang terakhir kali Dong-Hae ingat, wanita itu tidak begitu peduli bibirnya berubah menjadi biru dan hanya sibuk memainkan kukunya.

Dong-Hae pun tidak sadar mengapa ia tiba-tiba tidak ingin pergi tanpa wanita itu.

Tali yang Dong-Hae raih sembarangan ditumpukan peralatan dapur masih bergelayut dirambut kusut wanita itu. Dia mengangkat wajah dan menatap Dong-Hae. Astaga, siapa yang sanggup menatap matanya? Dong-Hae berbalik, dan memutuskan untuk pergi. Ia meninggalkan masalahnya di sana. Keputusannya sudah tepat. Ia meyakininya sepanjang jalan pulang dengan susah payah.

Ketika Dong-Hae sudah meninggalkan kantor polisi, Sun-Ae merasa sendirian. Maksudnya, benar-benar sendirian. Kyu-Hyun bilang dia akan diberitahu sisanya, dan ia hanya mengikuti aturan. Masuk ke hidup Dong-Hae dan membuatnya melupakan masalahnya. Lihat? Padahal Sun-Ae belum melakukan apa pun, tapi pria itu sudah menyingkirkannya.

Sun-Ae selalu yakin bahwa dirinya tak bisa disingkirkan dengan mudah.

Tapi pesan Kyu-Hyun itu membuatnya berpikir lagi. Apa yang bisa dia dapatkan di kantor polisi selain roti lapis mentega yang sangat tidak enak dan teh tawar mengerikan itu? Siapa yang bisa ditemuinya, apa yang harus ia lakukan, bagaimana ia melakukannya, Sun-Ae tidak tahu. Belum.

Sekarang Steve sudah meninggalkannya sendirian. Ia tidak bisa melihat orang lain di sekitarnya dalam ruangan serba putih itu. Putih, dingin, dan sunyi. Sun-Ae memikirkan rumahnya di atas awan. Pertama kali ia datang ke sana, ia tidak diberi tugas apa pun selain bersama Kyu-Hyun, terus bersama Kyu-Hyun dan mungkin sesekali berkelahi dengan pria itu. Lalu mengatur cahaya bintang, melihat orang-orang meninggal masuk ke satu pintu dan pintu-pintu lain. Mendengar tawa bayi pertama yang diutus ke bumi. Memainkan warna-warna saat senja. Mendengar Kyu-Hyun menyombongkan diri karena kehebatan dan ketampanannya. Yah, Sun-Ae tidak akan mengakui kalau ia merindukan pria itu.

Waktu yang berjalan di bumi membuatnya semakin merindukan segalanya. Tanpa terasa, Sun-Ae hanya memainkan kukunya sambil duduk bersandar, sesekali ia memejamkan mata dan berusaha berkomunikasi dengan Kyu-Hyun, tapi si brengsek itu tidak menyambutnya sama sekali. Ketika ia membuka mata, di luar sudah gelap dan para polisi sudah berganti tugas jaga. Steve sudah tidak ada. Sun-Ae merasa semakin asing, dan sialan, ia tidak tahan.

“Kyu-Hyun?” bisiknya pelan melihat pergerakan di balik pintu. Pria itu bisa muncul di mana saja, kenang Sun-Ae dalam hati. Dan menyebalkan, mengapa ia bisa merasakan perasaan dengan begitu jelas? Dulu Kyu-Hyun bilang, kaum seperti mereka tidak memiliki perasaan. “Kyu? Kau tahu harus membayar semua ini. Aku tidak mau di sini.” Tapi hanya angin yang membuat pintu itu bergerak-gerak. Sun-Ae mencoba menutup mata lagi, namun sebelum ia berhasil, air matanya turun dan menghilang sama cepatnya. Demi segalanya yang kudus, kenapa tubuhku banyak berubah dan terus mengeluarkan benda-benda aneh? Air mata. Itu katanya. Aku menangis. Kenapa pula aku harus menangis?

“Nona Sun-Ae?” Seorang petugas polisi wanita yang tak dikenalnya muncul di pintu. “Jemputan Anda sudah datang.”

Jemputan? Cho Kyu-Hyun datang untuk membawaku pulang.

“Ya. Terima kasih.”

Ketika petugas itu berbalik, Dong-Hae muncul di belakangnya dan langsung menatap matanya. “Dong-Hae?”

“Ya. Aku.” Pria itu memasuki ruangan, memandangi Sun-Ae, dan merasa dirinya tercabik-cabik. “Mereka tidak memberimu alas kaki.”

Sun-Ae nyengir. “Kau datang.”

“Ayo pergi.” Tanpa sadar, Dong-Hae menggenggam tangan Sun-Ae dan membawanya jauh-jauh dari sana. Ketika mereka telah berjalan di trotoar di tengah pusat kota, Dong-Hae sibuk sekali dengan pikirannya. “Kau harus diberi makan, harus punya pakaian layak dan alas kaki. Ayo masuk.” Dong-Hae membawa Sun-Ae berbelanja, tidak lama dan ketika mereka singgah ke sebuah rumah makan bubur daging, Sun-Ae sudah terlihat lebih baik, setidaknya. “Maaf aku meninggalkanmu sendirian.”

Sun-Ae menyiksa iga sapi di mangkuk bubur keduanya. “Sendirian itu tidak asik ya?” Matanya berkilauan ketika mengoyak daging dengan giginya. “Dong-Hae, ini lezat sekali.”

Dong-Hae mengangguk, rasa bersalah menerjangnya tanpa bisa ia cegah. Saat ini ia lega karena mengambil keputusan yang tepat dengan menjemput wanita itu. “Makanlah. Wajahmu tidak pucat lagi setelah makan banyak.”

“Aku suka sekali iga sapi,” ujar Sun-Ae sambil menepuk-nepuk perutnya yang penuh. Mereka sudah berjalan lagi, berupaya membiarkan isi perut wanita itu turun alih-alih keluar lagi. Dong-Hae berjalan di sampingnya, terlihat cukup tenang meski banyak pikiran, ia membiarkan Sun-Ae menggenggam ujung kemejanya. “Apa itu?”

Dong-Hae menoleh, dan mengangguk. “Pohon Natal.”

“Kenapa benda seindah itu dibiarkan berada di luar? Nanti bisa diambil orang.”

“Pohon Natal itu memang tempatnya di sana. Kau tidak pernah lihat?”

Sun-Ae melangkah menuju Pohon Natal yang menjulang tinggi besar. Pohon Natal itu dipajang di depan sebuah toko roti mahal, tempatnya strategis di antara bangku-bangku pengunjung sekaligus di pinggir rute khusus pejalan kaki. Berwarna hijau, di hias lampu-lampu bulat berwarna merah dan emas, dengan bunga mekar yang meriah. Di sekelilingnya salju terkumpul dan mengendap dengan damai. Di dasar Pohon Natal yang beralaskan jerami bercampur salju putih, terdapat beberapa kotak hadiah berpita warna-warni. “Belum. Baru lihat sekarang. Aku dan Kyu-Hyun punyanya Pohon Oak dekat danau. Pohon Natal ini indah.” Sun-Ae memainkan loncengnya, lalu menatap bintang yang bersinar di puncak Pohon Natal. “Kau punya tidak, Pohon Natal?”

Dong-Hae yang sepintas memerhatikan jalanan hanya mengangkat bahu, ketika ia berbicara, napasnya menciptakan uap di udara. “Kenapa harus?”

Sun-Ae mengangguk, tapi matanya tak berpaling dari Sang Pohon Natal. “Itulah, kenapa harus?”

“Terserah kau sajalah.” Ketika mereka sudah sampai ke flat Dong-Hae, badai mulai mengamuk lagi. Awan bergulung-gulung membentuk gumpalan hitam jelek di langit, sementara petir menyambar-nyambar dan menggetarkan bingkai jendela kaca. Dong-Hae memerhatikan Sun-Ae yang duduk ala Katak di depan Pohon Natal yang hampir selesai dihias. “Kau belum menancapkannya di atas? Biar aku saja.”

“Aku saja.” Sun-Ae berdiri, lalu meletakkan sebuah bintang kuning di puncak Pohon Natal yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. “Sudah. Ini Pohon Natal Dong-Hae.”

Dong-Hae menekan tombol On pada kabel penghubung, dan lampu-lampu kecil bodoh di sekitar Pohon Natal Dong-Hae berkelap-kelip. Cahayanya memantul di wajah wanita itu. “Nah, kau bisa memelototi Pohon Natal Dong-Hae-mu itu seharian. Jangan ganggu aku.”

Sun-Ae duduk di ayunan cangkang telur—yang diam-diam jadi tempat kesukaannya di kamar Dong-Hae—selain dalam pelukan pria itu. Ia benar-benar memelototi Pohon Natal Dong-Hae selama satu jam penuh, sementara Dong-Hae sibuk dengan kertas-kertas dan gitarnya. Senang rasanya melihat pria itu bekerja. Dia menyalin, menulis, memeriksa layar laptopnya, dan menerapkannya pada petikan gitar. Jadi kamar Dong-Hae yang tak lagi begitu dingin terasa menyenangkan.

“Apa?” tanya pria itu tak ramah. “Untung saja aku ingat Bibi mengirimku Pohon Natal bodoh itu dua tahun lalu.” Dong-Hae beralih pada layar laptop dan mencari data apapun tentang seorang pengidap bipolar. “Apa lagi?”

Sun-Ae menatap bintang di Pohon Natal. Dong-Hae sebenarnya tak semenakutkan itu. Juga tak sekejam itu. “Kau datang lagi untuk menjemputku dari sana. Apa yang membuatmu kembali?”

Dan itu, adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Dong-Hae. “Aku akan memeriksa persediaan makanan atau kau terpaksa tidak makan malam ini.”

Dan kau mengizinkanku tinggal, pikir Sun-Ae.

Karena keluar dari kamar dan berputar-putar di dapur hanya semacam alibi agar dirinya tidak harus menjawab pertanyaan itu, Dong-Hae kembali dengan cepat dan duduk di meja kerjanya di dalam kamar. Lalu melihat Sun-Ae lagi. Ia masih duduk di cangkang telur, menatap Pohon Natal dengan wajah datar.

“Tadi kau menyebut nama lain.”

“Aku? Siapa?”

“Kyu-Hyun. Siapa dia?” Aku bisa menemukannya untuk membawamu pergi sejauh mungkin.

“Oh, si Brengsek. Dia hanya Kyu-Hyun. Cho Kyu-Hyun.” Sun-Ae berhenti, membayangkan seorang pria tinggi pucat berambut hitam, bermata biru dan bersayap gagah. Dan tubuhnya serasa dibakar api neraka ketika mengingat bahwa pria itulah yang menyelamatkannya.

“Kau mengenalnya? Bagaimana bisa aku mengantarkanmu padanya? Atau kau ingin, harus menghubunginya sekarang. Aku harus bertemu si Kyu-Hyun itu.”

“Jangan, kau tidak bisa melakukannya.” Sun-Ae menatap Dong-Hae, melihat ke dalam matanya. Meski kau nyaris melakukannya kemarin. “Mengapa kau mencoba bunuh diri?”

Dong-Hae tercengang, terkejut, dan merasa tak nyaman. “Apa katamu?”

“Kau berencana melompat dari atap rumah sakit kemarin. Pukul enam belas lima dua. Putus asa, sedih, terpuruk. Mengapa?”

“Hari ini kau begitu banyak melontarkan pertanyaan yang semestinya tak kautanyakan.” Karena tidak yakin apa yang dirasakannya, Dong-Hae hanya diam sementara Sun-Ae memandanginya dengan tatapan kosong. “Sebenarnya siapa kau?”

Tatapan kosong wanita itu mengeras. Berubah dingin dan menakutkan. Berangsur-angsur matanya berubah biru. “Aku adalah dirimu. Aku sudah mengatakannya.”

“Itu jelas omong kosong.”

“Kita lihat apa kau bisa mengatakannya sebagai omong kosong ketika aku tahu apa yang terjadi padamu kemarin padahal tak ada satupun orang di tempat itu. Aku tahu semua kenangan terbaik dan terburukmu, termasuk ketika kau lulus dari Juilliard dan pulang sebagai lulusan terbaik, bekerja pada sekolah musik di Amerika selama dua tahun, Nice, selama tujuh bulan, sebelum akhirnya kembali ke Seoul. Kau punya anak anjing, dia bisanya tidur di ayunan ini, sedang sakit, radang pankreas, dirawat di klinik khusus binatang peliaraan sampai besok. Kira-kira tiga bulan yang lalu, kau pulang ke rumah paman dan bibimu, mendapat pudding lagi dari panti asuhan dekat sana, dan menabrak seorang wanita ketika akan kembali ke flatmu ini. Paman dan bibimu tidak diberitahu, karena wanita itu yang menginginkannya. Kau merawatnya sampai pulih. Wanita itu sendiri adalah seorang dokter. Dan kau jatuh cinta padanya.”

“Tutup mulutmu.” Dong-Hae sendiri mematung di tempatnya. Tatapannya dingin, menusuk, dan kejam. “Kau tidak berhak mengatakan semuanya.”

“Aku sangat berhak mengungkapkan apa yang kuketahui—yang kualami—aku adalah kau. Aku seperti ini karena aku jiwa yang tidak utuh. Berkeliaran dan bertugas melindungimu sementara kau berusaha mengusirku. Hebat sekali.”

Dong-Hae memandanginya. Mata bertemu mata. Mereka saling menyakiti satu sama lain. “Jadi kau adalah aku.”

Mendengar nada rendah dan tertekan itu, Sun-Ae sedikit melunak. “Seperti yang kukatakan.”

“Bagaimana caranya agar kau benar-benar pergi ke tempatmu semula?”

Masih berusaha menyingkirkanku, bisik Sun-Ae dalam hati. Yah, mereka berdua memang keras kepala.

“Setelah tugasku selesai.”

“Kapan itu?”

“Tergantung.” Tergantung seberapa sulit menarikmu kembali, dan meredakan gejolak mengerikan di dalam dirimu.

“Baiklah. Apa yang bisa kulakukan untuk mempercepat tugasmu?”

Pria ini tak menyerah. “Mengizinkanku berada di sisimu.”

“Kupikir tadi ada cekcok rumah tangga.” Kyu-Hyun berdiri di belakang Sun-Ae. Wanita itu menghadap ke arah cermin gantung di atas bak keramik di dapur. Sementara Kyu-Hyun mengolok-oloknya, wanita itu sibuk memangkas rambutnya dengan pemotong ramput. “Pemotongnya sudah berkarat.”

“Simpan pendapatmu itu, Bung. Aku sedang kesal.”

Kyu-Hyun tersenyum sekilas. Maklum. “Kau kan memang selalu kesal.”

Ketika berbalik, rambutnya yang sepanjang lutut berakhir di bawah payudaranya dengan sangat tidak rapi, dan panjang yang tak sama. “Kau yang membuatku tahu tentang pria itu. Padahal kau bilang aku adalah dirinya, aku harusnya tahu lebih banyak dari apa yang kusembur tepat ke wajahnya barusan. Kalau aku tahu semuanya, aku bisa mengerti dan menyusun langkah-langkah untuk menghadapinya. Ini tidak mudah, tahu? Tidak semudah ketika aku ingin bicara denganmu di atas sana, hanya dengan menatap matamu dan kau membacaku bagai buku terbuka. Demi penjaga neraka selingkuhanmu itu, Dong-Hae adalah manusia.”

“Manusia yang menarik. Ah, Kangin bukan selingkuhanku.” Kyu-Hyun mengitari dapur, menatap jijik makanan manusia, lalu melihat badai dari balik jendela. Ketika ia mengekori Sun-Ae masuk ke kamar, ia bertanya, “Ini Pohon Natal Dong-Hae-mu?”

Sun-Ae memberengut padanya.”Ya. kau datang ketika aku tidak lagi membutuhkanmu. Dasar tak berguna.”

“Nona,” Kyu-Hyun memanggil Sun-Ae seperti Dong-Hae memanggilnya. “Kau tidak boleh marah-marah.” Lalu kembali ke suaranya yang semula, dengan serius. “Kau mengalami hari yang melelahkan.”

“Bagus kalau kau tahu.” Aku menghubungimu berjam-jam di kantor polisi dan kau mengabaikannya. Nah, itu dia. “Kau tahu kalau Dong-Hae akan kembali.”

“Hm-mm.” Kyu-Hyun memandanginya. “Manusia, sifat dasarnya adaah berubah-ubah. Hatinya tak tentu.”

“Kau mempermainkannya.” Ketika Sun-Ae melangkah dan berdiri tepat di depannya, Kyu-Hyun tetap tak bergerak. Pria itu hanya memerhatikan Sun-Ae dengan sabar. “Mengapa kau melakukannya?”

“Kau tentu tidak ingin gagal di hari pertama.” Kyu-Hyun mengusap pipi wanita itu dan tertawa. Lalu ia melangkah ke Pohon Natal. “Ada penguin.”

“Yah, dan selusin balon warna-warni.” Sun-Ae menggeleng. “Kau membuatku terlihat bodoh di sini.”

“Tidak,” sahut Kyu-Hyun tegas. “Kau sama sekali tak terlihat seperti itu. Kau yang terbaik. Tahu tidak apa artinya ini?”

Sun-Ae melihat gantungan penguin yang Kyu-Hyun ambil dari Pohon Natal Dong-Hae. “Tidak. Tapi benda itu berumur dua puluh tahun atau lebih.”

“Ya. Daripada merpati, penguin adalah lambing kesetiaan. Penguin hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya, kalau pasangannya mati lebih dulu, penguin yang ditinggalkan akan menunggu ajalnya alih-alih mencari pasangan lain. Anak kecil mengerti tidak?”

“Tidak,” sahut Sun-Ae muram. “Aku belum pernah berpasangan dan tidak akan memercayai apa yang dikatakan makhluk yang juga tak punya pasangan. Gantungan itu berarti bagi Dong-Hae. Jauhkan tanganmu.”

“Galak sekali malaikat Dong-Hae ini.”

“Jangan sebut aku malaikat.”

“Sepertinya memang bukan. Apa rencanamu?”

Sambil duduk dan memerhatikan ruangan pribadi Dong-Hae, Sun-Ae mengangkat bahu. “Mencoba memahaminya. Terima kasih kau tidak memberitahu apa pun sehingga aku terlihat begitu linglung. Aku akan mulai membacanya dari kamar ini, apa pun yang bisa kudapatkan. Lalu mencari wanita jalang yang dicintainya itu dan—ah, sialan.”

“Kau menangis.”

“Kau harusnya memblokir reaksi-reaksi menyebalkan manusia untukku, lihat? aku tidak bisa terus muncul di hadapannya dalam keadaan seperti ini. Keadaan patut dikasihani. ”

“Dengar,” Kyu-Hyun mengusap air matanya. “Dong-Hae adalah dirimu. Kau merasakan apa yang dia rasakan. Karena duniamu dan dunia pria itu berbeda, reaksi yang datang juga berbeda.” Ketika Kyu-Hyun berbicara padanya, Sun-Ae merasa dadanya ditinju berulang kali. “Kau memahaminya lebih dari pria itu sendiri. Kau tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika pria itu tidak bisa melakukannya. Saat pria itu berbahagia, kau bisa kembali dan merasa dirimu utuh kembali. Merasa sempurna. Sebaliknya, ketika pria itu terluka, kau bisa berkali-kali lipat merasakan kesakitan tak tertahankan. Itulah hukumnya. Pria itu, Sun-Ae. Hatinya. Sekarang, temui dia.”

Sun-Ae berlari pergi. Dadanya seakan memar, sakit sekali. Ia berhenti, berbalik, dan tidak menemukan Kyu-Hyun di manapun. Sebelum ia berlari lagi untuk menemukan Dong-Hae, ia melihat si Pinguin kembali ke tempatnya di Pohon Natal.

-TBC-

Catatan Author : Plagiat? Malu sama upil. Yang punya malu sama upil dan berminat baca : haeverlastingfriends.wordpress.com

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: