Le Lotus Blanc [1/?]

hb

Author: Aryn
Le Lotus Blanc Part 1 (A Case of You)
Cho Kyu-Hyun, Lee Dong-Hae, Cho Sun-Ae |  Romance, Comedy, Family, Sad | PG-15  | Chapter

***

A Case of You…

Sun-Ae tidak meminta yang muluk-muluk, ia hanya menginginkan bola bulu itu pulang bersamanya hari ini. Iya, sekarang, bukan sebentar, besok, apalagi nanti. Kyu-Hyun kan sudah berjanji, dan Sun-Ae sama sekali tidak menolerir keterlambatan pemenuhan janji Kyu-Hyun. Tidak untuk kali ini.

“Dengar ya, aku sudah berada di tingkat yang kau inginkan—bahkan lebih dari apa yang kita sepakati—aku juga lulus lebih cepat dari prediksimu atau dari dirimu sendiri yang senang sekali kau gemborkan itu. Pokoknya aku tidak mau tahu. Ganti baju dan cepat angkat bokong indahmu sebelum aku lepas kendali dan menendangmu sampai terjungkal di depan pagar rumah.”

Kyu-Hyun duduk di sofa nyaman ruang tengah sambil membolak-balik majalah setelah meletakkan tugas akhir Sun-Ae yang sudah diuji dan didaftarkan. Ia mendengar saudarinya mengomel, menggerutu, sampai mengumpat di depannya sejak tadi, dan ia hanya tersenyum setelah melirik jendela kaca. “Masih hujan.”

“Kau tidak basah di dalam mobil.”

“Dingin.”

“Matikan saja AC-nya.”

“Aku sedang malas menyetir.”

“Aku menyetir.”

“Kau yakin tidak ada kelas on-line sore ini?”

Sun-Ae menatap Kyu-Hyun dengan mata disipitkan, keinginan untuk menguliti kakaknya berkilat-kilat di mata hitamnya. “Aku baru saja lulus.”

Hampir terbahak, Kyu-Hyun berusaha memasang wajah datar. “Kau masih punya beberapa kelas yang harus kauikuti kalau kau lupa.”

Kilatan di mata Sun-Ae berubah menjadi kobaran api perang. “Masih. Satu lagi. Tapi aku sudah lulus kira-kira empat jam yang lalu. Nilaiku juga sudah kau pelototi seharian.”

Kyu-Hyun mendengar suara itu, di dalamnya terkandung permohonan, kejengkelan dan juga ancaman. “Oke, apa maumu?”

“Bola bulu itu.”

“Sayang, itu bukan bola bulu.”

“Terserah apa namanya. Aku ingin dia sudah di kamarku malam ini.”

“Aku bisa melakukannya dengan mudah.”

“Maka lakukanlah.”

“Dengan satu syarat.”

“Brengsek.”

“Dua kalau begitu.”

“Brengsek. Brengsek. Brengsek.”

“Jadi, satu atau dua?”

Berpikir dua kali untuk terlibat dalam permainan bodoh kakaknya, Sun-Ae merengut sebelum menendang tulang kering Kyu-Hyun kuat-kuat, menampar bokongnya dan menjambak rambut kakaknya hingga beterbangan. “Kau masih bertanya?”

Terkejut mendapati gumpalan rambutnya sendiri di lantai, Kyu-Hyun hanya dapat meringis perih sepeninggal Sun-Ae. Adiknya sudah naik ke kamar di lantai dua. Terdengar derap langkah kaki yang dientakkan keras-keras, lalu suara pintu dibanting diikuti dengan getar di jendela kaca. Kemudian suara Sun-Ae memaki-maki Kyu-Hyun dengan kata-kata kasar menyusul di belakang, bersahutan dengan gemuruh petir dan hujan deras bulan oktober.

Sun-Ae sendiri dibuat kesal setengah mati, dengan ubun-ubun berasap ia mondar-mandir di dalam kamar tidur Kyu-Hyun, berusaha mencari semacam brankas yang mungkin disembunyikan pria itu. Mungkin di balik lukisan porno di dekat tempat tidur, atau di almari, atau di rak dasi, rak jam tangan, rak sepatu… atau mungkin ditelannya brankas sialan itu!

Ayolah, bola bulu itu tidak semahal cincin berlian yang dihadiahkan Kyu-Hyun pada wanita-wanita bodohnya, juga tidak akan mengurangi barang nol koma satu persen pundi-pundi kekayaan si jerapah gendut itu, tidak akan membuatnya jatuh miskin seketika…

Tapi mampu membuatku tidak makan beberapa bulan.

Tapi pria itu sudah janji. Hidup atau mati, janji ya janji.

Sun-Ae menghancurkan kamar Kyu-Hyun. Bukan, dia hampir memusnahkannya karena rupa kamar Kyu-Hyun sekarang tidak bisa dianggap kamar lagi.

Cho Kyu-Hyun merawat adiknya seorang diri sejak mereka berdua masih sangat belia, ditinggalkan berdua di depan gerbang panti asuhan Busan membuat Kyu-Hyun dan Sun-Ae yakin kedua orang tuanya memang tidak memiliki pilihan lain, atau kalau pun punya, mereka juga punya pertimbangan lain mengapa mereka bisa dengan mudahnya meninggalkan darah daging mereka sendiri.

Melihat Sun-Ae tumbuh membuat Kyu-Hyun takjub, juga cemas. Secara tidak langsung wanita itu bergantung pada Kyu-Hyun, hanya Kyu-Hyun tempatnya berbagi. Hanya Kyu-Hyun tempatnya pulang. Dan karena itulah Kyu-Hyun tidak ingin satu-satunya keluarga yang dimilikinya hidup melarat. Besar di panti dan berkembang di jalanan bau pesing membuat mereka berdua tumbuh mandiri, dalam artian bahwa mereka memandang hidup ini lebih luas dari pada remaja seusia mereka dulu, bahwa banyak hal yang harus dipikirkan sebelum bertindak. Bahwa setiap hal memiliki risiko masing-masing dengan tingkat yang berbeda-beda.

Berbekal pendidikan seadanya dari sekolah pinggir desa, mereka berdua mencoba mengubah nasib datang ke Seoul, melakukan apa yang bisa dan mampu mereka lakukan. Menerima bayaran mulai dari yang layak sampai dengan makanan sampah. Semua itu proses. Asalkan mereka masih memiliki satu sama lain, proses itu adalah penggalan pengalaman yang menjadi pelajaran berharga.

Hingga akhirnya pengalaman berulang itu yang membawa mereka hingga titik ini. Kyu-Hyun membangun perusahaan otomotifnya sendiri, bekerja sama dengan beberapa perusahaan raksasa Cina dan Amerika Serikat untuk menghasilkan monster-monster jalanan bergengsi. Dengan itu saja Kyu-Hyun sudah bisa menguasai beberapa property yang tersebar dibeberapa Negara atas namanya, juga nama Sun-Ae yang tentu tidak diketahui wanita itu. Serta beberapa saham yang ditanamnya di perusahaan vaksin komputer yang tiap bulan menghasilkan beberapa tambahan angka nol di tabungan pribadi Sun-Ae, yang, sekali lagi, tentu saja tidak diketahui wanita itu.

Walau terbilang sangat muda, Kyu-Hyun dikenal berotak encer. Ia berhasil menggerakkan perusahaannya sekaligus menjadi orang tua tunggal bagi Sun-Ae. Sejak ia mendengar dari biarawati bahwa seorang balita gendut dengan pipi merah muda dan berliur itu adalah saudarinya, Kyu-Hyun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan bertahan. Bahwa ia akan hidup demi balita gendut itu.

Dan balita gendut itu telah bertumbuh.

Dia menjadi wanita menawan; dengan rambut hitam panjang yang lurus dan bola mata besar yang tidak dimiliki wanita korea pada umumnya. Kulitnya putih pucat seperti milik Kyu-Hyun sendiri, bibirnya sewarna jeruk bali dan lebih sering menimbulkan cengiran licik daripada tersenyum manis. Kakinya jenjang, tubuhnya berhenti di telinga Kyu-Hyun jika mereka berjalan berdua. Dan wanita itu kurus, entah ke mana perginya setiap makanan porsi kuli yang masuk ke dalam mulutnya. Sampai-sampai Kyu-Hyun pernah mengira adiknya cacingan.

“Kamarku pasti sudah selesai, bukan?”

Kyu-Hyun melihat balita gendut yang telah berubah wujud itu, sekarang ia lebih mirip rubah ekor sembilan, wajahnya memerah, tapi matanya tetap datar.

Didesak keinginan kuat untuk meremas wajah Kyu-Hyun, Sun-Ae maju selangkah. “Aku menginginkannya.”

Mengerti baik ia dan saudarinya tidak bisa bertahan lebih dari ini, Kyu-Hyun mengangguk pelan dan menyilangkan sebelah kakinya. “Oke, kau hanya perlu melakukan satu hal untukku.”

Sun-Ae menjawab dengan satu lirikan tajam yang waspada.

“Koki kepala La Catégorie,” kata Kyu-Hyun sembari menyerahkan majalah berisi katalog makanan kepada Sun-Ae. “Dapatkan nomor pribadinya untukku.”

Sun-Ae meraih majalah itu sewot, “Kau—mengencani Koki Kepala?” belum selesai keterkejutannya, bom lain seakan jatuh di kepalanya. “Kau mengencani seorang pria?”

Kyu-Hyun menyeruput kopi hitamnya. “Kau mengatakannya seolah-olah kau jijik padaku.”

“Memang,” sahut Sun-Ae tanpa berpikir. “Kau sudah ke Dokter?”

“Hm, akan kulakukan. Jadi, kau tidak bisa melakukannya?”

“Memangnya aku berkata begitu?”

“Oke, kau punya waktu satu minggu.”

“Satu minggu terlalu lama.” Sun-Ae membuang majalah itu, dalam hati bersorak karena bola bulu putih itu akan tidur bersamanya di bawah pohon natal tahun ini. “Tunggu.” Sun-Ae meraih majalah lalu membalik halamannya secepat kilat. “Koki Kepala ini? Pria ini?” Ia melotot membaca dua halaman full tentang sang Koki. “Lee Dong-Hae yang ini?”

Kyu-Hyun mengangguk puas, terlalu bahagia untuk tidak tersenyum melihat reaksi saudarinya. “Kau sudah berjanji. Terlambat untuk mundur sekarang.”

Sun-Ae membaca setiap kalimat yang ditulis dalam halaman itu dengan geram. Ia melihat cengiran usil Kyu-Hyun dari balik majalah.

Memang, kemampuan Cho Kyu-Hyun membuat Sun-Ae murka tak perlu lagi diragukan.

***

Dua jam kemudian, Sun-Ae sudah berdiri di depan La Catégorie yang ramai.

Restoran lima tingkat itu terbuat dari susunan ribuan bata merah dan jendela kaca. Pintu utamanya dipayungi atap batu yang diselimuti tanaman rambat hijau tebal dan terlihat segar karena air hujan. Hampir lima puluh persen bangunan itu transparan, melalui kaca bening yang dibingkai segi empat terlihat para pengunjung yang berbincang-bincang maupun mengadakan pertemuan sembari santap siang. Dari langit-langit restoran menjuntai lampu-lampu gantung yang berpendar memantulkan cahaya oranye yang memberi kesan hangat La Catégorie. Terdapat beberapa tangga besi ukir berwarna hitam di setiap lantai, lengkap dengan seorang pelayan berbusana serba hitam dan senyum ramah di dasarnya.

Dari kejauhan, La Catégorie tidak terindentifikasi sebagai sebuah restoran mahal, namun ketika Sun-Ae berdiri di trotoar seberang bangunan itu ia terdiam sambil sesekali menghela napas, lalu sempat berpikir mungkin Kyu-Hyun mengerjainya dengan memasukkannya ke La Catégorie mewah itu. Tapi apa boleh buat? Sun-Ae melangkah masuk ke dalam La Catégorie. Di sisi kiri pintu putar terdapat sebuah rak payung dan gantungan mantel berukir dari kayu jati. Sun-Ae meletakkan mantel lusuhnya di sana, sambil terpesona dengan keindahan yang ditawarkan La Catégorie.

Kehangatan membanjirinya di dalam La Catégorie sementara titik-titik air menghujam bagai ribuan jarum dari balik jendela kaca. Dari jendela kaca yang basah itulah Sun-Ae bisa melihat tiga batang pohon maple lebat yang daunnya merah dan cokelat, pohon-pohon itulah yang menyembunyikan La Catégorie, sekaligus menonjolkan keindahannya untuk musim gugur di penghujung oktober yang berhujan.

Sun-Ae memerhatikan orang-orang yang datang, semuanya menikmati waktu santap siang mereka dengan hidangan di atas meja. Ia lalu menoleh ke sebuah papan hitam yang bersandar tidak jauh dari sebuah pohon palem hidup dekat kursi nyaman. Menu spesial hari ini ditulis dengan kapur berwarna hijau dan merah dengan penuh seni: Soupe à l’Oignon Gratinée, Crème Brulee & Sirup Cordial (Lavender).

Dengan membacanya saja Sun-Ae sudah bisa merasakan sup daging sapi dengan crouton dan keju gruyère meleleh di mulutnya, belum lagi puding karamel hangat dan sirup lavender… Demi Tuhan, kapan terakhir kalinya ia mencicipi hidangan perancis nikmat itu? Kapan terakhir kali ia memanjakan lidahnya? Terakhir kali ia ingat makan Croissant keras sebelum waktunya dirampas tugas akhir.

“Selamat siang, Miss. Ada yang bisa kami lakukan untuk Anda?”

Sun-Ae menoleh pada pria tinggi berambut pirang dengan bahasa Korea yang aneh, dengan aksen Perancis yang sangat kental. Matanya kelabu dan bersinar ramah. Ia mengenakan busana serba hitam dengan syal bercorak sederhana berwarna emas.

“Aku bermaksud menemui Lee Dong-Hae. Ah, Koki Kepala di sini.”

Jacob—dari yang bisa Sun-Ae baca di name tag baju bagian dadanya—tersenyum tanpa mengurangi kadar keramahannya. “Mr. Lee sedang tidak di tempat saat ini. Tapi kalau ada sesuatu yang penting, kami bisa menghubungkan langsung melalui Manager restoran.”

“Tentu, ini penting.” Ini penting buatku. “Dimana aku bisa menemuinya? Maksudku, Manager restoran?”

Jacob lalu mengantarkan Sun-Ae ke konter bagian penerima tamu, di dekat sebuah meja dari marmer hitam di sepanjang jendela kaca, di tempat itu beberapa turis menyesap anggur mereka dari atas kursi tinggi.

“Thanks, Jacob.”

“Dengan senang hati, Miss.”

Karena Jacob telah meninggalkannya dan tenggelam pada kerumunan pelanggan lain, Sun-Ae beralih pada wanita dengan potongan rambut bob yang feminim. Ia tersenyum tak kalah ramah dari Jacob.

“Jacob mengatakan Anda ingin menemui Mr. Lee, dan Jacob tentu sudah mengabarkan pada Anda bahwa Mr. Lee sedang tidak di tempat, Miss…”

“Panggil aku Sun-Ae saja.”

“Dan Anda sedang bicara dengan Maria.” Wanita yang mengenalkan dirinya secara lengkap sebagai Maria Chole itu mengetik sesuatu di komputernya, mungkin identitas Sun-Ae, dan maksud kedatangannya. “Jadi Anda ingin menemui Mr. Lee untuk keperluan,”

Aku ingin nomor pribadinya! “Itu, aku… untuk penelitian.”

Chole mengangguk dengan masih tersenyum. “Mahasiswa?”

“Law Student, Sorbonne University, Grade 6.” Sun-Ae mengeluarkan kartu identitasnya dan kartu mahasiswa. Lalu memperhatikan Chole mengetik nomor-nomor itu ke dalam komputernya lagi. Benar-benar pekerjaan lama… Aku hanya ingin menemui si Dong-Hae itu, bukannya presiden.

Lalu Chole mendongak lagi. “Suatu kehormatan bagi kami, Miss Sun-Ae.”

“Panggil aku Sun-Ae saja.”

“Baiklah Miss Sun-Ae,” Chole melanjutkan dengan lembut dan tetap ramah. “La Catégorie sebagai objek penelitian izin pendirian kami terima dengan baik, tapi Anda juga harus menyerahkan surat pengantar dari Kampus Anda.”

“Oh tentu, tentu.” Hampir berteriak bahagia, Sun-Ae merogoh ponselnya dan membuka e-mail. “Ini dia, surat elektronik untuk penelitian, tanpa batasan narasumber, tertulis dengan jelas. Tanda tangan Dosen Pengampu Mata Kuliah dan Cap Fakultas. Kupikir ini lebih dari cukup, bukan begitu, Chole?”

Chole lebih bahagia lagi. “Benar. Lebih dari cukup. Akan diproses hari ini juga, tidak akan lama. Jacob akan menunjukkan tempat untuk menunggu.”

“Ya, ya, Thanks.” Sun-Ae tersenyum puas, surat izin dua bulan lalu belum habis tenggang waktunya. Brilian. “Oh ya, kapan bosmu pulang? Maksudku, si Koki?”

Chole sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Sun-Ae, yang membuatnya ingin pergi dan menempelkan pantat Jacob di kursinya adalah mata hitam wanita itu yang datar namun mengintimidasi.

“Dua hari lalu Mr. Lee berangkat ke Nice, menghadiri festival makanan Eropa. Kudengar pesawatnya sudah take off, namun belum pasti kapan tiba di restoran.”

Oke, mungkin Lee Dong-Hae tidak bisa kutemui hari ini. Mungkin besok, yah, aku harus kembali lagi besok.

Sun-Ae dibiarkan duduk di salah satu sofa cokelat setelah menunggu sepuluh menit untuk mengosongkan tempat, hari beranjak sore dan La Catégorie semakin ramai. Sun-Ae duduk di dekat seorang wanita dengan setelan hijau lembut dan warna sepatu mocca kalem. Wanita itu meminum teh melati yang harum, sambil sesekali membolak-balik majalah yang sama seperti yang Sun-Ae lihat di rumah.

Sebagai bentuk penerimaan para pelajar, La Catégorie menghadiahkan Gaufres dan Lemonade gratis untuknya. Yang keduanya tentu sudah kandas.

“Tidak, anak itu tidak menyukai mawar merah.” Sun-Ae mendengar wanita itu berbicara lewat telepon, suaranya pelan dan lembut, sesekali ia tersenyum pada Sun-Ae. “Kau bisa memberiku seikat Bluebells? Nah. Itu pilihan baik. Jadi, siapa namamu, Anak Muda?”

Sun-Ae menoleh dan memaksakan senyum sopan ketika wanita itu telah menyimpan ponsel ke dalam tas tangan. “Sun-Ae. Namaku Cho Sun-Ae.”

Wanita itu tersenyum ramah. “Aku Kyung-Soo. Menunggu teman?”

“Tidak, aku datang untuk penelitian. Ingin menemui Koki Kepala di sini.”

“Aku juga,” jawab Kyung-Soo sembari mengangguk pelan. “Jadi, kita menunggu bersama.”

“Dia akan pulang hari ini?”

“Kudengar begitu.”

“Berita bagus.”

Lalu Chole datang dan menyerahkan kartu yang berisikan nama Sun-Ae serta identitasnya sebagai mahasiswa peneliti lengkap dengan logo La Catégorie dengan tinta emas. Chole mengangguk sopan pada Kyung-Soo.

“Tambahan teh, Ma’am?”

“Ya, dan Lemonade untuk wanita muda ini.”

“Tidak perlu, aku tidak lama.”

“Tidak masalah, kau bilang kau menunggu Koki Kepala?” Ketika Sun-Ae mengangguk, Kyung-Soo meminta tambahan Crepes sekalian.

***

Gelas Lemonade ke tiga Sun-Ae datang setelah hampir satu jam lebih ia duduk dan berbincang-bincang bersama Kyung-Soo. Wanita itu begitu ramah, lemah lembut dan juga bersahaja, ia menjelaskan bagaimana pertama kali ia datang ke La Catégorie dan tertarik mencoba setiap menu yang tersedia. Berangkat dari sana, Sun-Ae ditarik untuk bercerita tentang sekolahnya di Perancis, kehidupannya yang jauh dari satu-satunya keluarga yang ia miliki sampai dengan sekolah musik yang dibangun Kyung-Soo untuk anak-anak kurang mampu.

            “Kita harus pergi menonton musikal akhir minggu ini. Sejong Center sekarang mulai fokus menampilkan teater yang biasanya ditampilkan di Broadway, jadi banyak sekali pilihan.”

            Karena Sun-Ae juga senang menonton teater, ia menyanggupi. Walau agak ragu karena ia membuat janji bersama orang yang baru dikenalnya belum sampai dua jam yang lalu.

            Di tengah percakapan mereka menentukan teater terbaik, pintu putar bergerak, diikuti bunyi bel kecil di atasnya. Sun-Ae menoleh dan mendapati dirinya terpaku pada seorang pria dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans robek-robek dan sepatu santai berjalan menuju Chole di balik meja, kemudian ia tersadar ketika Kyung-Soo mengatakan bahwa ia harus pergi sebentar dan akan kembali secepatnya.

            Itu dia, Lee Dong-Hae si Koki Selebriti yang katanya hebat dengan atau tanpa apronnya. Aku harus mendapatkan nomor ponselnya! Sun-Ae baru berdiri ketika pria itu berjalan pelan ke arahnya.

            “Kau Cho Sun-Ae?”

            “Ya.”

            “Ikut aku.”

            Sun-Ae mengekor di belakangnnya dan memerhatikan pria itu. Punggungnya tegap, kulitnya putih, suaranya terdengar tegas dan langkah kakinya mantap. Wangi pria itu terdiri dari campuran aroma lemon segar dan bergamot, ada sedikit campuran mint, dan kayu guaiac kalau hidung Sun-Ae tidak bermasalah. Serta aroma maple sirup samar yang sesekali menguar ketika angin menabrak tubuhnya. Dan mungkin masih banyak lagi wewangian yang tidak dimengerti Sun-Ae. Itu, pikir Sun-Ae, adalah aroma maskulin yang tercipta dari ramuan parfum mahal yang sulit ia identifikasi. Namun ia tahu apapun wewangian yang digunakan pria ini, wewangian itu membuatnya begitu manis, begitu membangkitkan selera untuk mencicipinya.

            Dia benar-benar Lee Dong-Hae. Dan Sun-Ae sebal mengakui bahwa pria di hadapannya ini terlihat jauh lebih memesona daripada yang ia pelototi di gambar atau pun yang tersebar di internet.

            Sun-Ae di bawa ke lantai empat, yang ruangannya terbagi dan terpisah oleh kaca kristal antik, di tengah ruangan terdapat replika Louvre yang gemerlapan. Ruangan di lantai empat itu kental akan gaya Art Deco yang modern. Oleh karenanya banyak menggunakan bahan-bahan mahal; ornamen yang digunakan lebih beraturan juga menggunakan garis-garis lurus, dan persegi. Di tengah-tengah semua kemewahan itu terselip seikat besar bunga mawar putih segar yang membuat Sun-Ae merasakan kehidupan Kota Paris yang penuh romantisme.

            “Kau tahu siapa aku?” tanya pria itu menatap Sun-Ae lurus-lurus. Kaca mata hitamnya sudah ditanggalkan, dan Sun-Ae bisa melihat bola mata sewarna madu itu bersinar-sinar lembut walau pemiliknya sepertinya sedang tidak dalam mood yang baik.

            “Lee Dong-Hae, Koki Kepala sekaligus pemiliki tempat ini.”

            “Oke. Lagi?”

            “Apa? Kau—mungkin baru saja kembali dari Nice. Itu yang dikatakan wanita yang mengaku sebagai Chole di bawah sana.”

            “Ya, Chole sekretaris di sini. Dan wanita yang nyaris kau tipu.” Dong-Hae berdiri di depan Sun-Ae, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Kau mengaku akan melakukan penelitian di sini, memperlihatkan surat izinmu yang keluar beberapa bulan lalu. Dan Chole memberimu kartu akses penelitian.”

            “Ya, benar. Dan sebenarnya aku menunggumu, begini,”

            “Tapi yang kutemukan sebaliknya,” sela Dong-Hae cepat, tidak memberi Sun-Ae kesempatan membuka suara. “Kau menipunya. Fakultasmu jelas melarang penelitian terhadap restoran dan hotel terdaftar. Logikanya, untuk apa kau meneliti tempat yang sudah didaftarkan dan jelas peraturannya? Kau boleh meneliti apa pun, asalkan bukan restoran dan hotel bersertifikat. Bahkan peraturan itu tercantum jelas di website kampusmu.” Dong-Hae menarik napas, tetap menatap Sun-Ae lurus dan kejam. “Dan kau sudah lulus. Tidak perlu meneliti apapun kecuali kalau kau ingin mencari masalah.”

            Sadar bahwa ia baru saja ketahuan, Sun-Ae mengangguk kecil. “Baiklah, aku mengaku salah, tapi aku tidak menipu. Aku baru memikirkannya tadi saat berada di depan Chole, mengingat tempat ini sangat terstruktur dan kemungkinannya besar kau tidak bisa ditemui secara pribadi. Jadi aku terpaksa melakukannya. Tujuanku bukan itu.”

            Dong-Hae lelah, ia menghabiskan waktunya berjam-jam di pesawat dan kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Ia punya beberapa acara yang harus ia hadiri sebentar lagi, juga punya beberapa janji yang dibatalkan lengkap dengan kerugian-kerugian yang menyertainya. Dan gangguan kecil seperti ini benar-benar melengkapi penderitaannya.

            “Apa maumu?”

            Sun-Ae gugup tanpa alasan, ia berkeringat mendapati pria ini lebih gelap dari Kyu-Hyun.

            “Nomor pribadimu.”

            Setelah beberapa detik, kerutan samar di dahi Dong-Hae mengendur, untuk sekejap matanya berkilat geli sebelum wajahnya kembali mengeras dan matanya kembali menatap Sun-Ae lurus-lurus. “Pergi dari sini sebelum aku menyuruh anak buahku menelepon polisi.”

***

Sun-Ae bersedekap keluar dari ruangan di lantai lima, sialan betul Lee Dong-Hae itu. Dasar pria sombong! Apa susahnya memberikan nomor pribadi padaku? Toh aku tidak akan menyalahgunakannya, aku juga bukan seorang penguntit. Kecuali kalau dia yang berpendapat seperti itu. Dan sepertinya memang benar dia berpendapat demikian.

Sun-Ae tenggelam dalam suasanan hiruk pikuk La Catégorie ketika hari sudah sepenuhnya gelap, kali ini setiap ruangan penuh oleh pengunjung yang kebanyakan turis luar daerah, sepertinya lantai dasar sudah direservasi untuk acara malam ini, Sun-Ae bisa melihat angsa utuh dihidangkan di atas meja panjang dengan berbagai hidangan lauk pendamping. Sun-Ae berjalan melewatinya, menerobos aroma rempah yang menggoda, lalu sampai di dekat pintu putar.

Saat ia hendak mengambil mantelnya, Sun-Ae melihat selebaran itu. Sebuah pengumuman yang tertempel di dinding kaca—yang sekiranya adalah sebuah mading restoran—di dekat perapian yang menyala-nyala.

“… Dicari, seorang pelayan untuk mengabdikan dirinya di La Catégorie selama satu tahun penuh. Dengan waktu kerja Senin-Jum’at pukul 09.00 sampai dengan 00.00. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kontak yang tertera atau langsung mendatangi La Catégorie Seoul pada jam kerja…”

Sesuatu yang menyerupai bola lampu berpendar di atas kepala Sun-Ae.

Kalau aku bekerja di sini, aku akan sering melihatnya. Kalau aku sering melihatnya, aku bisa dekat dan berbincang-bincang dengannya. Kalau aku sudah dekat, aku akan mendapatkan nomor ponselnya dengan mudah.

Kalau nomor ponsel itu sudah di tanganku, Kyu-Hyun akan menepati janjinya.

Oke. Sun-Ae berbalik dan saat itu pula bagian depan sweater putih yang dikenakannya basah oleh cairan kuning yang hangat.

“Nona Sun-Ae,” Kyung-Soo mencoba membersihkan sweater Sun-Ae, lalu rambut wanita itu yang juga terkena teh melati dari cangkirnya. “Aku benar-benar minta maaf. Aku baru saja ingin menyapamu lagi tapi kau berbalik dengan sangat cepat jadi aku,”

“Tidak apa-apa, Nyonya. Sungguh.” Sun-Ae melihat dari balik bahu Kyung-Soo, Lee Dong-Hae menuruni tangga dengan angkuh. Lalu ia melihat meja Chole, wanita itu tidak ada di tempatnya. “Chole tidak ada…”

“Ya?”

“Oh, bukan apa-apa. Chole—maksudku, wanita yang berada di belakang konter penerima tamu—dia tidak di sana.”

Kyung-Soo menyerahkan selembar sapu-tangan untuk Sun-Ae. “Aku melihat Chole naik ke lantai empat. Sudah bertemu dengan Dong-Hae? Itu dia orangnya.”

Sun-Ae mengangguk geram, mencoba menelan kekesalannya. “Sudah. Baru saja. Dan bermaksud menemuinya lagi sekarang.”

Kyung-Soo tersenyum. “Kebetulan sekali, dia menuju ke sini.”

Dong-Hae benar-benar datang pada Sun-Ae dan Kyung-Soo, pria itu menatap Sun-Ae sinis, lalu ia baru akan menyapa Kyung-Soo ketika Sun-Ae maju dan berdiri tegak di hadapannya. “Izinkan aku bekerja di sini.”

Dong-Hae menyingkirkan wanita itu dengan sebelah tangan lalu beralih pada Kyung-Soo. “Maaf terlambat.”

“Aku ingin bekerja di sini,” sela Sun-Ae setelah melirik Kyung-Soo. “Bukan setahun, cukup satu minggu. Ada sesuatu yang perlu kulakukan, aku harus melakukannya. Harus dan segera.”

Dong-Hae menghela napas, ia berbalik dan menatap Sun-Ae. Sun-Ae melihat mata itu—teduh dan menenangkan—namun sekarang bukan kesan itu yang dipancarkannya, mata sewarna madu jernih itu menatapnya dingin.

“Sudah kuperingatkan kau,” katanya dengan suara berat. Jari telunjuknya terangkat di depan wajah Sun-Ae. “Aku tidak bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padamu setelah ini, aku—“

“Dengar, kau tidak akan bangkrut dengan mempekerjakanku di restoranmu ini, sama dengan kau tidak akan langsung mati besok kalau memberiku nomor pribadimu sekarang. Jadi kau—“

“Kau yang dengar,” sela Dong-Hae tegas dan cepat. “Aku tidak tahu siapa kau. Aku tidak mengenalmu, dan sama sekali tidak berniat mencoba mengenalmu. Jadi angkat kakimu dari tempat ini sebelum aku kehilangan kesabaran dan—“

Dong-Hae berhenti ketika Kyung-Soo menekan lembut pundaknya dengan sebelah telapak tangan, lalu tersadar bahwa beberapa pengunjung restoran terdiam dan memerhatikan mereka. Dong-Hae mengembuskan napas dalam keheningan, sebelum ia sempat berpikir jernih, wanita itu kembali memulai peperangan.

“Kau akan mempekerjakanku di La Catégorie untuk satu minggu ke depan, bukan begitu, Mr. Lee?”

Dong-Hae menatap mata hitam itu. Dan takut kalau ia terjebak dan tidak bisa keluar dari sana.

Ia lalu memandangi Kyung-Soo, wanita itu memandangi Dong-Hae lalu mengangguk penuh pengertian. Dan Dong-Hae pun sadar tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.

***

Untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman pengusiran dini atau pun penolakan keras dari Dong-Hae, malam itu Sun-Ae memutuskan untuk tetap tinggal di La Catégorie. Sun-Ae tidak tahu siapa Kyung-Soo, tapi menarik kesimpulan bahwa wanita itu adalah seseorang yang dekat dengan Dong-Hae, dan memiliki peran penting di La Catégorie.

Tadi Dong-Hae dan Kyung-Soo berbicara sebentar, wajah Dong-Hae jelas terlihat murka setelah mendengar penjelasan Kyung-Soo—yang Sun-Ae pikir, sebagai saran untuk mempertimbangkan dirinya bekerja sementara di La Catégorie—kemudian dengan penuh perhatian Kyung-Soo mengusap lengan Dong-Hae, secercah senyum samar tersungging di bibir pria itu ketika ia mengangguk sopan, lalu senyumnya lenyap ketika matanya bertemu dengan mata Sun-Ae untuk mengabarkan bahwa wanita itu diterima bekerja sementara di La Catégorie.

Bagus. Aku, Cho Sun-Ae, adalah mahasiswi lulusan Sorbonne yang jauh-jauh ke Seoul untuk menjadi seorang pelayan di restoran elit milik si Pria Lemon yang sombong. Hebat. Hebat sekali.

“Kau, murid baru, bersihkan meja V.”

Sun-Ae sudah mengenakan pakaian serba hitam yang juga dikenakan semua orang yang terdaftar sebagai karyawan Dong-Hae, rambutnya yang pantang sekali diikat kini digelung rapi berkat bantuan Chole. Chole bilang malam ini pasti ramai karena penghujung minggu dan banyak orang penting yang akan datang—samar-samar kudengar gossip di dapur katanya si sombong itu baru saja mendapatkan bintang Michelin dua—jadi para awak media atau orang-orang yang secara berlebihan peduli pada makanan akan datang. Cih, apa peduliku? yang kubutuhkan hanyalah nomor pribadinya.

Sun-Ae bergegas membersihkan meja V, melirik sekilas pada lantai dasar La Catégorie yang ramai namun teratur. Para pramusaji berkeliaran dengan nampan berisikan gelas sampanye yang berkilauan, di sisi-sisi ruangan penuh dengan makanan utama dan juga rak enam tingkat yang menyajikan canapés berbagai toping.

Sun-Ae bisa diabetes kalau ia berlama-lama di sini dan tidak mampu menahan diri.

Pada jam-jam awal ia melakukan pekerjaan dengan lumayan baik, tidak ada rintangan berarti kecuali lirikan tajam Dong-Hae yang mengekorinya setiap ia berseliweran melayani tamu. Sun-Ae berharap bisa menjebloskan pria itu ke neraka jahanam ketika melihat wajahnya yang meremehkan Sun-Ae setiap kali ia mencoba melakukan pekerjaannya. Jelas—sangat jelas—terlihat bahwa pria itu ingin mengenyahkan Sun-Ae dari restorannya.

Lee Dong-Hae bangkit dari sofa nyaman dan menyambut sekelompok bule Itali yang sepertinya telah ia nantikan. Chole menyikut Sun-Ae ketika mereka berdua berdiri sejajar di dekat Hidrangea biru yang subur.

“Dia luar biasa, bukan?”

Sun-Ae memandangi seorang pria bertubuh kekar, berjanggut lebat dan berkaca mata. Lengkap dengan bintik cokelat di pipinya. “Yeah, tapi bokongnya agak terlalu besar.”

Kali ini sikutan Chole lebih keras. “Bukan Mr. Pete! Kubilang, Bos kita.”

Ah… si sombong itu?

Dia memang agak berbeda. Kali ini ia mengenakan kemeja putih tipis dan jas semi formal berwarna kelabu yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya yang cokelat gelap di biarkan tersisir ke atas dan di tata dengan gel secara acak. Menyebalkan sekali. Kalau seperti itu ia tidak terlihat seperti pria yang suka merendahkan orang.

“Kau lihat wajahnya?” Suara Chole menyela jalan pikiran Sun-Ae. “Aku pernah melihatnya bangun tidur ketika harus lembur membuat dua rak canapés, kami semua kusut dan kusam, tapi wajahnya tetap sama. Berseri.”

Sun-Ae memerhatikan Lee Dong-Hae yang tersenyum setelah menjabat dan mengecup pipi salah satu tamu wanitanya, lalu mendengus. Berseri dari Hongkong, selama delapan jam terakhir wajahnya menggelap dan keras setiap kali melihatku. Dia terlihat seperti ingin mematahkanku dan mencampurnya ke adonan kue. Dia jelas membenciku. Tapi tunggu dulu, sekali lagi, apa peduliku?

“Begini, Chole,” kata Sun-Ae setelah Dong-Hae dan antek-anteknya duduk di kursi kulit. “Aku sangat menyesal dengan apa yang kulakukan tadi, maksudku, kau tahu, aku tidak bermaksud melakukannya.”

“Tidak bermaksud menipuku, oke.”

“Tidak. Tidak sama sekali.” Sun-Ae merasa tidak enak hati, tapi ia menyimpannya di sudut kepala. “Aku terikat perjanjian dengan kakakku. Perjanjian bodoh yang menyeretku datang ke sini.”

Chole terlihat anteng mendengarkan, ia memandangi Sun-Ae dan tersenyum. “Karena aku menyukaimu, jadi tidak apa-apa. Aku punya saudara yang sering kuajak taruhan dengan bayaran es krim. Jadi, kakakmu menyuruhmu ke sini.”

Sun-Ae menggeleng. “Lebih dari itu, ada yang harus kudapatkan dari bosmu, bos kita sekarang. Dan aku menganggapnya terlalu mudah pada awalnya.”

“Jadi sekarang kau tahu bahwa hal itu sulit.”

“Bahkan rasanya mustahil.”

“Jadi kakakmu menyuruhmu datang merebut La Catégorie beserta karyawannya dari genggaman Lee Dong-Hae?”

Sun-Ae tersenyum kecil. “Itu lebih gila lagi. Tapi tidak. Bukan itu masalahnya. Pria sombong itu, maksudku bos kita, aku hanya harus mendapatkan nomor pribadinya.” Sun-Ae menunggu Chole, namun wanita itu hanya mengernyit kecut menatapnya. “Jadi… aku bertanya-tanya apakah kau punya nomor pribadinya—mengingat kau sekretaris di sini—dan mungkin dekat dengan bosmu, bos kita itu.”

Chole menggeleng tak percaya. “Sepertinya sekarang aku setuju dengan bos saat dia bilang kau itu gila.”

“Dia bilang aku gila?” Sun-Ae menoleh cepat dan tepat pada saat itu matanya bersirobok dengan mata Dong-Hae.

“Tindakanmu yang gila.” Chole melenggang anggun pergi meninggalkan Sun-Ae, high heelsnya mengetuk lantai dan membuat Sun-Ae jengkel. Ketukan itu bagai palu yang mengetuk kepalanya. Ketukan itu berhenti sejenak, lalu terdengar lagi, lalu ia melihat Chole berdiri di hadapannya. “Ayo bekerja sebelum pria sombong yang ingin sekali kaucakar itu mengeluarkan taringnya.” Chole meraih tangan Sun-Ae dengan ramah, lalu mulai berceloteh tentang cara membawa nampan minuman. “Ah ya, menurutku kau tidak perlu mencari masalah dengannya, dan mulai memperhitungkan rencana yang kau susun bersama kakakmu itu.” Chole menatap Sun-Ae sungguh-sungguh, berharap wanita itu tidak membiarkan dirinya terlibat masalah besar.

Sun-Ae menatap Chole tak mengerti, kemudian ia menatap Dong-Hae dari balik bahu para tamu. “Memangnya ada apa dengan pria itu?”

Chole hanya menghela napas, lalu tersenyum tipis dan ikut memandangi Lee Dong-Hae. “Tidak apa-apa. Hanya saja untuk mendapatkan nomor pribadinya… itu terdengar tidak mungkin dilakukan, seperti katamu. Dan kalau boleh jujur, dia tidak seterbuka itu. Juga tidak dekat dengan siapa pun. Termasuk aku.”

***

Lee Dong-Hae duduk di kursinya dan tersenyum pada para koki ternama yang menjadi tamunya. Beberapa dari mereka memuji restoran, kinerja karyawan, dan usaha keras Dong-Hae sendiri. Memuji setiap makanan yang disajikan sembari sesekali bertukar pikiran. Semuanya berjalan dengan lancar sebelum Dong-Hae kehilangan konsentrasinya.

Dong-Hae melihat wanita itu tersenyum.

Wanita gila yang menghirup udara dalam lingkungan yang sama dengannya dalam beberapa jam terakhir tersenyum bersama Chole di dekat rangkaian Hidrangea. Seragam hitam membuat kulit putih pucatnya semakin terlihat pucat, tubuh kurusnya menjulang tinggi dan tegap, bibirnya penuh sewarna berry yang dipulas madu asli. Walau terdengar sinting, saat melihatnya tersenyum Dong-Hae sempat berharap ia bisa mencicipi bibir itu barang sebentar, merasakan manisnya madu dan menghabiskannya sendirian. Rambutnya yang berkilau ia biarkan ditata oleh Chole, rambut itu tidak lagi membingkai wajahnya seperti pertama kali Dong-Hae melihatnya, namun kini memperlihatkan tengkuknya yang kurus, dan belikatnya yang menonjol dan menantang. Dong-Hae harus menahan diri dengan mengalihkan pandangannya dari wanita itu, walau tanpa hasil.

Dong-Hae tidak mendengar apa yang Sun-Ae dan Chole bicarakan, tapi wanita itu terlihat bimbang. Wajahnya datar namun mata hitamnya selalu terlihat awas. Ketika Dong-Hae dikejutkan dengan tatapannya yang tiba-tiba, ia tahu mata itu belum kehilangan pesonanya.

Mata hitam itu bersinar ketika bertemu dengan matanya. Dan Dong-Hae berharap ia tidak melakukannya. Berharap ia tidak membiarkan dirinya jatuh lalu tenggelam dalam mata itu. Usahanya hampir saja gagal jika Sun-Ae tidak pergi dari sana.

Dan kenapa pula Chole mengizinkan wanita itu berkeliaran di sekitarnya?

Dong-Hae menatap punggung Sun-Ae yang membersihkan meja XI ketika tamunya sudah pergi. Wanita itu tidak terlihat senang, namun juga tidak terlihat tidak senang. Wajahnya biasa saja, datar dan sama sekali tidak ekspresif, jadi Dong-Hae tidak tahu bagaimana suasana hatinya.

Dong-Hae berjalan meninggalkan Sun-Ae dan berharap wanita itu segera pergi dari restorannya. Ia sudah duduk di salah satu kursi baca dekat rak buku ketika mendengar teriakan seseorang.

“Kau taruh di mana matamu saat bekerja? Dasar perempuan bodoh.”

Dong-Hae melangkah secepat kilat ke sumber keributan, lalu menemukan seorang tamu wanita dengan syal bertotol hitam putih yang basah karena kuah mi seafood. Dan setelah mengikuti arah pandangnya, Dong-Hae berhenti pada mangkuk keramik yang dipegang Sun-Ae. Yang isinya tertinggal setengah.

“Apa yang kaulakukan?” tanya Dong-Hae ketus pada Sun-Ae setelah menyerahkan kain serbet bersih pada tamu wanita yang memerah. “Aku bertanya padamu, apa yang kaulakukan?”

Sun-Ae menatap Dong-Hae dan wanita itu bergantian. “Aku melakukan tugasku,” jawabnya ringan. “mengantarkan makanan.”

“Wanita ini tidak memakai matanya! Dia menyiramku dengan kuah mi sialan yang mendidih itu!”

Mendengar semburan si tante norak itu Sun-Ae semakin berniat menyiramkan mi seafood mendidih bukan hanya pada pakaiannya, tapi ke sekujur tubuhnya.

“Aku tidak sengaja melakukannya, lantai di sini licin karena tamu ini menumpahkan minumannya, itu belum dibersihkan. Lalu aku lewat dan kuah mi ini jatuh sedikit mengenai pakaiannya, itu saja.” Sun-Ae menatap Dong-Hae, tapi pria itu seolah telah menetapkan bahwa dirinyalah yang bersalah. “Kau tidak percaya? Bisa tanyakan pada yang lain.” Sun-Ae memandangi tamu wanita itu dengan geram dan tangan terkepal. “Aku juga sudah minta maaf.”

“Minta maaf tidak akan cukup, Nona Muda!” sembur tamu wanita itu sekali lagi. “Dan kau? Lihat dirimu! Pelayan sepertimu tidak akan mampu membayar bahkan hanya untuk ongkos cuci pakaianku yang kau kotori!”

“Permisi, Nyonya, jaga bicaramu.”

“Lihat?” Tamu wanita itu bangkit berdiri dan menunjuk wajah Sun-Ae dengan telunjuknya secara membabi buta. “Kau sebut dirimu pelayan? Dan kau.” Tamu wanita itu beralih pada Dong-Hae dengan mata berkilat-kilat penuh amarah. “Kupikir kau pemilik restoran terbaik di negeri ini, tapi lihat, bagaimana bisa kau membiarkan orang seperti ini masuk ke restoranmu dan bekerja tanpa menggunakan otaknya?”

“Nyonya, kau—“Dong-Hae menahan dirinya untuk tidak menyeret tamu wanita itu keluar, ia menghela napas lalu menunduk sopan. “Maafkan atas kelalaian kami. Anda bisa memesan apa pun hari ini tanpa membayar sebagai permintaan maaf.”

Terlihat agak tenang, wanita itu menurunkan tangannya, walau masih mengomel.

“Saya mewakili La Catégorie meminta maaf sebesar-besarnya.” Dong-Hae memberikan serbet baru dan membantu mengatur meja tamu wanita itu. Sekilas Dong-Hae melihat gold card milik tamu wanita itu, kartu itu diberikan bukan pada sembarang orang, melainkan para penilai makanan dan restoran, foodblogger dan para koki serta pemilik restoran seperti dirinya.

“Suruh wanita bodoh itu meminta maaf padaku.” Tamu wanita yang terlihat bahagia dengan steak daging asli yang disiapkan menunjuk Sun-Ae dengan garpunya. “Kau. Kemari.”

Sun-Ae menatap Dong-Hae dengan tatapan yang menyiratkan kata-kata aku-sudah-minta-maaf-pada-tamu-sialanmu-ini, tapi kata-kata itu hanya dimengerti mereka berdua dan tidak sampai meluap keluar. “Maafkan aku atas kekacauan yang terjadi. Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”

Dong-Hae melihat wajah Sun-Ae. Sekarang baik wajah dan matanya sama sekali tidak mencerminkan perasaannya, entah dia menyesal, bahagia, atau pun ingin mencekik tamu wanita itu tepat di kursinya, Dong-Hae tidak tahu.

“Ya. Sudah seharusnya kau meminta maaf.” Sun-Ae menunduk sebentar dan membalik badan, ia pikir kekacauan itu berakhir sampai di sana, tapi sepertinya ia terlalu cepat menarik kesimpulan. Tamu wanita itu kembali memborbardirnya dengan kejam. “Pergi dan jangan tampakkan wajah lusuhmu di depanku. Dan ingat, lain kali gunakan otakmu saat bekerja. Memangnya orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun atau tata karma di meja makan? Pantas saja….”

Di antara granat yang meledak itu, barulah Dong-Hae menemukan seberkas ekspresi di dalam mata kelam Sun-Ae. Dan Dong-Hae percaya bahwa dirinya lebih memilih agar mata itu tetap datar daripada harus bersinar sayu dan sedih.

“…Orang tuamu memang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu, bukan? Tidak mendidik anak-anaknya. Jadi kau sembrono dan memperlakukan orang lain tanpa etika. Miris sekali. Kaum seperti kalian memang seharusnya mengikuti pelatihan kepribadian, atau—“

“Hentikan.”

Sun-Ae menoleh dan mendapati Dong-Hae meraih tangan tamu wanita itu, mengempaskan garpu yang dipegangnya dan menariknya berdiri dari kursi. Belakangan Sun-Ae tersadar bahwa Dong-Hae bukan hanya menarik wanita itu dari kursinya, tapi juga menarik wanita itu agar keluar dari restorannya.

Terdengar ribut-ribut ketika Dong-Hae dan tamu wanita itu menyeberangi ruang makan, beberapa tamu berbisik dan memerhatikan mereka dengan berbagai pendapat; ada yang setuju bahwa pembuat onar itu sebaiknya dikeluarkan, sampai ada bisik-bisik yang menyudutkan Lee Dong-Hae, mengatakan bahwa pemilik restoran sekelas La Catégorie telah berlaku kasar dan semena-mena pada tamunya.

Dong-Hae kembali dengan wajah tenang, namun Sun-Ae bisa membaca sisa-sisa amarah yang terpancar dari sekujur tubuh pria itu. Lee Dong-Hae muncul dari pintu putar, seolah tidak ada yang terjadi, ia menjentikkan jari dan Jacob muncul untuk membersihkan meja mantan tamu wanitanya. Dong-Hae tersenyum pada seorang gadis kecil berambut kuning yang melintas setelah mendapat kacang mede dengan taburan gula di kotak permen. Dong-Hae mengusap kepalanya sekilas, menunduk, lalu gadis itu menghadiahinya kecupan manis di pipi sebelum kembali berlari pergi.

Dan Dong-Hae berjalan begitu saja melewati Sun-Ae.

Tanpa berbalik.

Sun-Ae menatap Jacob dengan heran. “Bosmu selalu seperti itu?”

Jacob tersenyum riang sembari meletakkan garpu makan. “Dia memang seperti itu. Dia memang selalu keren.”

Keren dengkulmu, geram Sun-Ae. Dong-Hae ia yakini hanya tidak ingin La Catégorie menjadi pusat adu mulut antara dirinya dan wanita tadi. Dong-Hae hanya sedikit lebih pintar untuk memprediksi bahwa tempat ini bisa gulung tikar kalau Sun-Ae dibiarkan berlama-lama bersama tamu wanita tadi.

Merasa bosan—lebih tepatnya aneh—Sun-Ae menatap Jacob lagi, “Jadi begini, apakah kau punya nomor pribadi bosmu yang katamu keren itu?”

Jacob menoleh dan menggaruk tengkuk, “Ah, kalau itu—“

“Pinjam ini sebentar.”

Jacob melihat Sun-Ae di bawa pergi. Dan Bosnya menyeret Sun-Ae seperti menyeret sekarung kubis. Sun-Ae yang kurus ditarik dengan tidak ramah menuju lift, dan mereka akan berhenti di lantai lima.

Sun-Ae merasakan genggaman Dong-Hae di telapak tangannya. Tangannya lembut, dan hangat. Dan wewangian pria itu menyerbunya tanpa ampun, membuatnya harus berulang kali menyadarkan diri untuk tetap bisa berdiri tegak.

Dong-Hae tidak mengatakan apa-apa selama mereka berdua menuju lantai lima, setibanya di sana ia tetap menarik Sun-Ae ke dalam ruangan yang jauh lebih hangat.

Sesampainya di dalam ruangan Sun-Ae melihat sebuah piano klasik berwarna hitam di dekat jendela, juga terdapat tiang berukir tempat lilin-lilin wangi berbentuk teratai putih yang berpendar menyampaikan kehangatan.

Dan Lee Dong-Hae sendiri.

Pria itu melepaskan genggaman tangannya dan menutup mata sebelum menghela napas berat.

“Pergilah dari sini,” katanya dengan suara pelan. “Aku akan membayarmu seharian penuh dan berjanjilah kau tidak akan kembali lagi.”

Sun-Ae melihat mata itu, dentingan musik dari pemutar musik dekat replika menara Eiffel, ruangan yang hangat, dan hujan di luar, semuanya menyatu dengan sosok Lee Dong-Hae yang terlihat lelah. “Aku sudah minta maaf.”

“Sejak pukul berapa kau mengenakan seragam ini?”

“Kubilang aku sudah meminta maaf.”

Dong-Hae mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan meletakkannya di atas telapak tangan Sun-Ae. “Pulanglah. Kau tidak dibutuhkan di sini.”

Sun-Ae sempat merasa bahwa ia terlalu banyak menimbulkan masalah bagi pria yang tidak dikenalnya, sekaligus pria yang juga tidak pernah mempersulitnya, sempat terbersit keinginan untuk keluar dari sana dan mengikuti perintah Dong-Hae, tidak pernah kembali lagi. Tapi keinginan itu tinggal angan ketika ia melihat sesuatu di dekat lilin teratai putih.

“Kau—“

“Kau tidak berguna di sini. Tidak bisa membuat apa pun walau hanya minuman blender. Tidak becus membersihkan meja dan melayani tamu. Kau lihat sendiri tadi. Bertahun-tahun aku merintis restoran ini, dan bertahun-tahun pula aku tidak pernah menyeret tamuku melalui pintu putar itu, tapi hari ini, karena kau aku melakukannya.”

Sun-Ae memandangi sekitar ruangan dengan alis berkerut. Kemudian tatapannya berhenti lagi pada mata Dong-Hae. “Aku tidak ingat kalau aku menyuruhmu menyeret wanita itu keluar dari restoranmu.”

“Ya. Kau benar,” sahut Dong-Hae dingin. “Dan aku ingat bahwa aku harus mengikuti naluriku untuk menendangmu jauh-jauh. Pergi dari sini.”

“Aku akan tetap bekerja di sini.”

“Tidak. Kau akan keluar sekarang. Lepas bajumu.”

“Bajingan sialan.”

“Lepaskan seragammu sekarang atau aku akan merobeknya.”

Sun-Ae terkejut ketika pria itu menyambar syal emas dilehernya dan membuka ikatan pita hitam seragam itu. Sun-Ae mundur selangkah, ia melihat kemarahan menakutkan menari-nari di mata Dong-Hae.

“Aku tidak akan ke mana-mana.”

Dong-Hae berhenti dan mengerutkan alis. Ia tidak suka melihat wanita itu.. ia tidak pernah suka. Dong-Hae berbalik pergi, dan Sun-Ae ditinggalkan sendirian.

Saat kembali, Dong-Hae menarik lengannya kasar dan membuatnya jatuh terduduk di sofa berwarna marun. Ketika Dong-Hae meletakkan kompresan es batu di punggung tangannya, saat itulah Sun-Ae semakin dibuat tidak mengerti. Kompresan itu dibiarkan mengurangi rasa terbakar dari kuah mi seafood yang tumpah tadi, dan dibiarkan dibawah tangan Dong-Hae di atas punggung tangan Sun-Ae untuk beberapa saat.

“Maaf,” kata Sun-Ae pelan bagai embusan angin. “Aku tidak sengaja melakukannya.”

Dong-Hae tidak langsung bicara, tapi otot-otot wajahnya mengendur, tidak setegang tadi. “Keluarlah dari sini.”

Suara berat Dong-Hae bertepatan dengan alunan music yang berganti. Samar-samar, alat music dekat lilin teratai mengeluarkan suara berat seorang pria, pelan dan damai. Indah dan merdu. Sun-Ae hampir mendesah ketika lirik lagu itu berkumandang di setiap penjuru ruangan. A Case of You. Sun-Ae menatap wajah Dong-Hae. Lalu terkejut dengan sentakan keras di dadanya.

“Aku memang tidak bisa memasak,” kata Sun-Ae akhirnya, sementara lagu dibiarkan tetap mengalun. “Tidak bisa melayani tamu seperti katamu.”

“Sangat benar.”

“Tapi aku bisa membantumu mengurus rumah. Membersihkan peralatan dapur, mencuci pakaian atau piring makan. Aku bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik.”

Dong-Hae mengganti kompresan es batu dengan kain hangat, tidak sadar ia mengusap punggung tangan Sun-Ae. “La Catégorie bukan rumah.”

“Bukan. Memang bukan. Aku bisa melakukannya di rumahmu.” Sun-Ae melihat Dong-Hae mengangkat wajah, namun matanya tidak menatapnya sinis. Mata itu kebingungan. “Aku akan bekerja untukmu. Di rumahmu.”

Dan nyaris sampai dentingan piano terakhir lagu itu, Dong-Hae tidak memberikan jawaban. Ia berdiri di hadapan Sun-Ae dan memerhatikan wanita itu dalam diam. “Baiklah,” katanya akhirnya. Wanita itu di rumahnya, tidak di La Catégorie dengan waktu kerja yang lama. Artinya ia juga tidak perlu melihat wanita itu sepanjang hari. Tidak perlu membuat dirinya merasa kesal setiap hari. “Jaga sikapmu selama bekerja padaku.”

Sun-Ae ingin tersenyum, tapi ia tidak bisa tersenyum. Kalau ia bertanya sekarang, apakah pria itu akan langsung mengusirnya seperti apa yang selalu dilakukannya delapan jam terakhir ini?

“Itu—“

“Kau bisa mulai bekerja besok, kutunggu pukul 08.00. Lewat dari itu, kuanggap kau setuju untuk tidak menampakkan dirimu di hadapanku lagi.” Dong-Hae menggulung lengan jasnya setelah melirik sekilas punggung tangan Sun-Ae yang tak lagi memerah. “Keluar.”

Sun-Ae bangkit berdiri, dan sekali lagi, ia menoleh ke arah lilin teratai putih yang dibaliknya tersembunyi wajah bahagia seorang Lee Dong-Hae yang memeluk seorang wanita dalam balutan pakaian pengantin.

Setelah lagu selesai, Sun-Ae menyimpan rasa penasarannya rapat-rapat dan memutuskan untuk tidak bertanya siapa wanita yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya itu.

 

-TBC-

Catatan Author : Plagiat? Malu sama upil. Yang punya malu sama upil dan berminat baca : haeverlastingfriends.wordpress.com

3 Comments (+add yours?)

  1. Ilana Hawa
    Feb 16, 2017 @ 16:39:40

    bagus bangeeetttt..suka deh sama ff-nya ^^ penasaran sama kelnjutannya…

    Reply

  2. josephine azalia
    Feb 16, 2017 @ 20:09:17

    yassss nexxxttttt

    Reply

  3. Mesi
    Feb 16, 2017 @ 23:07:48

    Waaaa 😊

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: