The Lone Ranger From Texas

texas

.

.

Previous Chapter

By: IJaggys

.

“Wine, You, and Donghae—what a perfect threesome.”

.

.

.

Dallas–Fort Worth

Southern Central

Texas, America. 

.

LEE HARU akan berulang tahun, dia menelfon Hyukjae dengan suara kerasnya dan berkata bahwa Hyukjae harus datang ke pesta ulang tahunya. Jika tidak, Hyukjae bukan lagi paman kesayanganya.

Melihat Tablo tersenyum di depan pintu rumahnya dengan beberapa pohon kaktus khas Texas, membuat Hyukjae sedikit bergidik. Dia seperti tengah melihat bayangan dirinya di cermin, mereka begitu mirip dengan jenis senyuman menyebalkan yang sama, oh tentu saja, Tablo adalah kakak kandungnya.

“Keeping yourself busy?” Jika normalnya semua kakak akan menyambut kedatangan adik nya dengan hangat, Tablo justru melemparkan satu sekop pengeruk tanah ke arahnya dan mengajaknya ke halaman belakang.

“Haru menyuruh kita untuk menanam ubi sebagai doa  kepada bumi di hari ulang tahunya.” Tablo menjelaskanya dengan tatapan –Haru terobsesi menjadi peri bumi sekarang-.

Di ulang tahunya yang lalu, Haru terobsesi menjadi Oprah Winfrey sehingga Tablo dan Eunhyuk harus merangkai pesta ulang tahunya seperti acara talkshow tersebut.

“Aku mengundang Donghae hari ini.” Tanganya berhenti mengayunkan sekop itu ketika kakaknya menyuarakan nama itu ke udara.

Sebelum dia berhasil membuka mulutnya, Tablo menunjuk ke arah rumah pohon yang berada di sana dan dia bisa melihat Haru kini tengah tertawa senang di dalam pelukan Donghae dan boneka unicorn-nya.

Si sialan itu pasti menyogok Haru untuk mengundangnya ke pesta ulang tahunya dengan boneka unicorn.

“Dia ingin menjebloskanku ke penjara–sebenarnya dia telah melakukanya atas tuduhan pelanggaran lalu lintas.” Tablo bisa mendengar suara adiknya yang meninggi, walaupun Hyukjae tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia akan mengamuk disana dan menenggelamkan Donghae ke dalam kolam kura-kura milik Haru.

“Tenang saja, hari ini dia datang bukan untuk memburumu tapi lebih kepada memburu kekasihmu. Haru yang membocorkanya kepadaku.” Bisik Tablo dengan tatapan sedikit menggoda. Setahunya selama Hyukjae berkerja bersama Heechul dan Cheonsa, dia tidak pernah menyangka bahwa Hyukjae akhirnya menatap Cheonsa sebagai seorang wanita yang menarik bukan hanya sekedar wanita psychopath yang bisa memotong penisnya kapan saja.

Dan ketika Donghae datang pagi tadi, berkata kepada Haru bahwa dia mengharapkan Cheonsa datang kemari, Tablo tahu bahwa persahabatan Hyukjae dan Donghae tengah di ambang maut. Bukan karena Donghae akan menjebloskan Hyukjae ke penjara, tapi lebih kepada siapa yang berhasil mendapatkan Cheonsa telanjang di atas tempat tidur mereka.

Benar-benar tipikal persaingan di antara pria.

“Kau bisa menciumnya sekarang dan normalnya dia tidak masalah dengan semua itu.” Si gila Heechul datang dengan topi bunga-bunganya, membawa tiga buah cupcake dan satu pisau dapur di tanganya.

“Benar, kau bisa menciumnya sebelum Donghae melakukanya untukmu.” Kali ini Tablo yang mengikuti arah Heechul, dengan tatapan yang terarah ke Cheonsa yang baru saja turun dari mobilnya.

“Tidak seperti kalian, aku adalah pria yang melarang keras hubungan percintaan di dalam sebuah pertemanan.” Heechul mencibir di belakangnya, tanda bahwa dia tidak percaya dengan kata-kata klisenya tadi. Hanya orang gila yang menolak seorang Han Cheonsa.

“You’re running late.” Meskipun dia berada di tengah tekanan bahwa dia harus mencium wanita psychopath itu sekarang, dia tetap berusaha senormal mungkin sebelum wanita itu mencakar wajahnya karena mengecup bibirnya sembarangan.

“Tidak sepertimu yang hanya menanam ubi, aku harus mematahkan beberapa kepala sebelum datang kesini.” Jawabnya sedikit sinis sambil melemparkan pisau lipatnya kearah Hyukjae.

Setelah menikah dan memiliki keluarga—kakaknya itu memutuskan berhenti dari pekerjaanya sebagai hitman. Tablo melarang semua orang yang bersenjata masuk ke dalam rumahnya, untuk keselamatan Haru tentu saja. Walaupun diam-diam Tablo masih menerima tawaran untuk menghabisi beberapa nyawa di dalam pergerakan kartel mafia di utara Meksiko sana.

Cheonsa membawa sekotak sangkar besar berwarna merah muda dari belakang mobilnya. Dia berjalan dengan tenang menuju rumah pohon, satu tanganya masih mendongak di pinggangnya dan satunya lagi meneriakan Haru agar turun dari sana.

Tablo dan Heechul duduk di kursi kayu tidak jauh dari sana, lalu mata mereka berdua menatap pemandangan yang ada di hadapanya dengan tertarik. Hyukjae, Cheonsa, dan Donghae berada di dalam satu lapangan. Tambah Haru, bagaimana gadis kecil itu berteriak dengan senang ketika Cheonsa memberikan sebuah iguana sebagai hadiah ulang tahunya.

“Mari kita bertaruh siapa yang berhasil mendapatkan Cheonsa hari ini.” Tawar Tablo dari balik botol bir-nya, “Maksudmu, mari kita bertaruh penis siapa yang berhasil di potong oleh wanita itu lebih dulu?” Timpal Heechul dengan tawa gilanya, dia sudah lama tidak mendapatkan hiburan seperti ini.

“Kau kemari untuk menangkap kami?” Walaupun Hyukjae sudah tahu motifnya, tapi tetap saja dia masih ingin menyuarakan kekecewaanya kepada mantan sahabatnya itu. Bukanya menjawab Donghae justru tertawa kecil dengan mata yang teralih ke arah Cheonsa yang masih sibuk menjelaskan bagaimana Iguana pemberianya bisa memakan anak ayam dengan satu lahapan kepada Haru.

“Aku kemari untuk menangkap kekasihmu.” Jika Donghae yang dulu dikenalnya adalah seoang anak laki-laki pemalu yang selalu bersemu merah setiap kali menatap seorang gadis. Kini Donghae telah berubah menjadi pria yang straightfoward. Dia kalah satu langkah.

“Kekasih? Aku bahkan pernah melihatnya meniduri wanita lain di hadapanku.” Jawab Cheonsa dengan suara bosan tanpa memperdulikan Hyukjae yang ingin menjambaknya.

Dia telah melalui berbagai hal dengan Cheonsa, dan menjadikanya seorang kekasih bukanlah salah satu dari sana. Masalahnya, dia dan Cheonsa sangat mengenal satu sama lain, sehingga mereka begitu mengetahui semuanya, mereka terlalu sama dan Hyukjae tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan seorang wanita yang pernah memotong penis-penis pria di depan matanya.

“Jadi apakah aku masih memiliki harapan denganmu?” Mata Cheonsa melebar dengan tertarik, mata samudranya menatap Donghae dari atas hingga bawah–dia lalu menatap Hyukjae yang masih berdiri di sampingnya tanpa memperdulikan Haru yang sudah sibuk dengan Iguananya. Anggap saja Haru disana menjadi seorang figuran—yang sibuk menggendong Iguana-nya tanpa rasa takut, hanya sebagai tim penggembira.

“Kalian bisa memulainya tanpaku,” Hyukjae melangkahkan kakinya menjauh dari mereka, membiarkan Haru mengekor dibelakangnya sebelum berlari ke pelukan Tablo di porch kayu mereka. Terlihat jelas bagaimana tertariknya Cheonsa dengan tawaran Donghae—dan bagaimana liarnya mata Donghae menatap bibir merah Cheonsa.

Jadi dia memikirkan situasi terburuknya. Malam ini Donghae akan merayu Cheonsa dengan manis, lalu mereka akan bercinta begitu lembut hingga di pagi hari, salah satu dari mereka terbangun dan menyadari betapa mereka membutuhkan satu sama lain. Dan beberapa bulan kemudian Hyukjae akan mendengar kabar bahwa mereka akan segera menikah dari dalam jeruji besi di iringi kisah prostitusi di Thailand atau human trafficking di Afrika sana dari teman satu sel-nya.

Benar-benar bernasib buruk.

Samar-samar dia bias mendengar suara tawa Heechul dan Tablo di luar sana sebelum dia duduk di atas sofa bermotif bunga dengan siaran Barney and Friends di televisi.

Heechul dan Tablo pasti mentertawakan kekalahanya. Siapa yang bisa melawan pesona Lee Donghae? Pria yang lebih cocok menghiasi majalah dengan wajah coverboy-nya—dibandingkan dengan dia yang memiliki gusi-gusi besar dengan senyum seburuk Tablo. Benar-benar bernasib sial.

“Just because you’re not paranoid, doesn’t mean they are not out to get you.” Dia mengalihkan pandanganya dari televisi setelah mendengar suara itu menyela suara Barney disana. Wanita psychopath itu duduk disampingnya, dengan satu tangan yang merebut remote tv dari genggamanya.

“Sometimes I let the lazy, ugly words go just to see if you’re really listening.” Sambungnya setelah Hyukjae menatapnya dengan bingung. Seharusnya dia bersama Donghae sekarang, saling menelanjangi satu sama lain. “Wine, You, and Donghae—what a perfect threesome.” Di dalam mimpi teliarnya dia tidak pernah berpikir bahwa wanita psychopath itu akan mengajaknya melakukan fantasi terliar setiap pria—threesome.

Sisihkan dulu pikiran bahwa dia tidak akan mengencani sahabatnya sendiri—ini adalah threesome, fantasi terliar yang di dapat setiap anak remaja ketika mengalami ereksi pertamanya. Dan yang menawarkanya adalah Han Cheonsa—ereksi pertama setiap remaja yang menatap mata samudranya lebih dari satu menit. Jadi Hyukjae akan mengenyampingkan laranganya, dan menatap tawaran threesome antara dirinya, Cheonsa dan Donghae adalah sebuah hubungan professional di atas ranjang.

Win win solution.

Cheonsa tertawa melihat wajah Hyukjae yang menatapnya dengan serius, dia mendekatkan tubuhnya ke arah sahabatnya itu lalu kembali tertawa. “Mens are so cute when they think that they own womens, when the truth is that it’s the opposite.” Ucapnya dengan senyuman puasnya. Wanita psychopath ini kembali mengerjainya lagi.

“You had me at angry sex.”

Wanita itu kembali tertawa mendengar umpatan Hyukjae. Dia berhasil—berhasil menjebak dua pria bodoh itu dengan hanya iming-iming bahwa mereka bisa mendapatkanya di atas tempat tidur.

Walaupun dia kesal setengah mati dengan wanita gila itu, tapi dia tidak bisa menutupi rasa bahagianya ketika melihat wanita itu berada disampingnya. Setidaknya Donghae belum berhasil—atau tidak akan pernah berhasil mengambil wanita gila ini dari sisinya.

You are such a dangerous creature, fuck you.”

Bukanya memaki Hyukjae, Cheonsa justru kembali mendekatkan tubuhnya kearah Hyukjae. Dia menatap wajah itu untuk beberapa detik, menyentuh leher Hyukjae dengan satu tanganya, sebelum membisikan sesuatu dari bibirnya, “Your throat looks so bare without my hand.” Dan setelah suara itu terdengar dia bisa merasakan jari-jari itu mencekik lehernya.

“BERHENTI MENCEKIKU WANITA GILA!” Cheonsa kembali tertawa dengan girang setelah melihat bekas memar di leher Hyukjae yang memerah karena ulahnya. Benar-benar wanita psychopath. Dia menarik pisau lipat dari saku jeans Hyukjae yang tadi dititipkanya. Waktunya untuk kembali membunuh, sebelum dia mengambil masa liburnya ke Maui saat musim panas.

Hyukjae masih mengumpat dengan kesal dibelakangnya, tidak perduli dengan suara Barney yang menyanyi dengan nyaring dari balik televisi. Hyukjae menatap punggung Cheonsa yang semakin menjauh sebelum punggung itu terhenti dan menolehkan wajahnya ke arahnya.

“Hey Hyukjae, I like the fact that you exist.”

Suaranya terdengar begitu ringan sebelum meninggalkan Hyukjae yang masih menahan senyuman yang menggumpal di bibirnya.

“Sial, wanita psychopath itu sepertinya berhasil memperalatku lagi.”

-END OF A LONE RANGER FROM TEXAS-

Hi! After what seemed a year, finally new chapter of A shoot has awaken LOL comments are greatly appreciated!

xo

ijaggys

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: