Sweet Candy [1/?]

jmm

SWEET CANDY [Part 1]

By: Shin Hyeonmi

https://eunhaewife.wordpress.com/

 

Lee Donghae | Kim Ryeon | Lee Joon

***

The story idea is not mine, I just made the fanfiction version from stories I’ve ever read a few years ago.

***

 

 

“Berjanjilah, di depan makam eomma, bahwa kau tidak akan pernah kembali pada lelaki itu sebelum dia benar-benar berubah”

“Aboji….”

“Berjanjilah, kau tidak akan berhubungan dengan pria yang sama seperti pembunuh eomma-mu”

“…..”

“Berjanjilah, Kim Ryeon!!”

“Aku.. aku berjanji, akan meninggalkan Lee Joon.”

**

Two Months Later,

 

Ryeon tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya ketika beberapa orang mahasiswa masuk ke dalam ruangan yang sama dengannya. Hari ini adalah hari pertama baginya memasuki kehidupan baru sebagai seorang mahasiswi, meskipun beberapa jadwal mata kuliah yang telah ia ambil pada semester ini bukanlah hal yang asing lagi untuk gadis itu.

Good morning,”

Gadis itu menoleh, menatap pada seorang gadis lainnya yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut dan mengambil duduk pada kursi yang terletak beberapa baris di belakangnya. Seperti ada sesuatu yang cukup familiar bagi Ryeon ketika melihat gadis yang saat masuk itu tadi menyapa mahasiswa-mahasiswa lain dengan bahasa inggris.

Mungkinkah ia mengenalnya?

Tidak, ini bahkan masih hari pertama perkuliahan, jadi mana mungkin Ryeon sudah mengenal gadis itu terlebih dahulu?

Atau mungkin gadis itu adalah salah satu member VIP di hotel keluarganya? Ahh, tidak mungkin, jawab gadis itu sendiri dalam hati.

Tepat setelah itu, seperti ada potongan gambar lain yang terlintas di pandangan Ryeon. Tadi pagi, di jalan dari tempat parkir mobil kampusnya menuju gerbang fakultas. Benar sekali, gadis itu adalah gadis yang tadi pagi berjalan di depannya saat akan masuk ke dalam gedung fakultas.

Ryeon tersenyum sebentar, menyadari dirinya sendiri yang ternyata begitu memerhatikan salah seorang mahasiswa baru tersebut. Atau mungkin lebih tepatnya gadis itu sedang mendapati bahwa dirinya benar-benar seperti seseorang yang tidak memiliki kesibukan lain sehingga hal-hal kecil dan tidak penting tersebut sangat dia ingat baik-baik.

Jawabannya salah. Mungkin bukan gadis itu tadi yang tengah ia perhatikan saat perjalanan masuk ke dalam gedung fakultas, tapi lebih tepatnya seseorang yang ikut berjalan menemani gadis itu tadi. Seorang pria yang sangat berhasil membuat fokus perhatian Ryeon teralih padanya.

Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan. Untuk apa? Untuk apa ia sampai memerhatikan pria itu? Pria yang toh sudah jelas-jelas adalah kekasih dari gadis yang sama-sama mengambil mata kuliah dengannya itu tadi.

**

“Agashi, bagaimana hari pertamamu menjadi mahasiswa?” sahut suara di belakang ketika Ryeon baru saja keluar dari gerbang fakultas. Ia berbalik, memandang laki-laki itu dengan tatapan nanar. Dia bisa menebak bahwa sama sekali tak ada perubahan yang terjadi pada pria ini, sedikitpun tak ada semenjak perpisahan mereka dua bulan yang lalu.

“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak menemuiku sebelum kau berubah.” ucapnya dingin.

“Aku merindukanmu Ryeon-ah, sangat.” jawabnya. Tak memperdulikan perkataan yang terucap dari bibir Ryeon.

Nado, aku juga sangat merindukanmu, Joon, batin Ryeon.

Sementara itu, pandangan mata gadis itu mulai menelisik. Mengamati setiap sisi tubuh pria itu, dan terhenti pada luka-luka kecil bekas suntikan di pergelangan tangannya. Rasanya semakin sakit di dadanya melihat luka demi luka tersebut.

Janji itu, seketika ia teringat kembali. Janji yang ia ucapkan untuk ayahnya saat mereka berkunjung ke makam ibunya beberapa bulan yang lalu. Janji untuk meninggalkan pria yang sangat dibenci oleh ayahnya. Tidak. Bukan seperti itu. Ayahnya tidak membenci sosok ini, ia hanya tak suka jika Ryeon menjalin hubungan dengan pria yang tak bisa diharapkan seperti Joon.

“Mianhae, aku masih tetap pada pendirianku Lee Joon-ssi.” katanya singkat kemudian berlalu meninggalkan Joon yang masih berdiri mematung di tempat itu.

Ryeon mempercepat langkah kakinya. Ia tak ingin siapapun melihat butiran air itu jatuh dari kedua matanya. Ia tak ingin dianggap sosok yang lemah apalagi dihadapan Joon. Gadis itu sedikit berlari ketika langkahnya telah mengantarkannya sampai di area parkir. Dengan segera gadis itu masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu dengan cepat. Ia lebih memilih menumpahkan seluruh air matanya ketika sampai di dalam mobil audi hitam miliknya.

Semua ini sudah berjalan selama dua bulan. Sejak perpisahannya dengan pria itu dan hingga sekarang ia benar-benar belum bisa melupakan Joon. Hanya perasaan rindu yang semakin mendalam yang terus menerus semakin menyiksa batinnya.

Bukankah perpisahan itu memang menyakitkan? Dan saat ini semua itu bahkan sangat menyiksanya, tapi tidak ada jalan keluar lain yang bias ia ambil. Berpisah adalah satu-satunya cara agar pria itu berubah dengan meninggalkan seluruh obat-obatan yang selama ini ia konsumsi.

Salahkah dirinya jika hanya melimpahkan kesalahan ini pada Joon atas kondisinya? Bahkan seharusnya ia tak boleh menyalahkan Joon atas tingkahnya itu. Keluarganyalah yang membuat laki-laki itu tumbuh seperti ini. Obat-obatan itu hanyalah pelarian yang pada akhirnya dengan terpaksa ia piliha karena tak mendapatkan apa yang dia inginkan dari keluarganya. Sekali lagi, Joon tak sepenuhnya bersalah, jika saja kedua orang tuanya harmonis, pasti ia tak akan memilih jalan tersebut.

**

“Oppa, please stop.”

Ryeon menoleh ke belakang, samar-samar mendengar suara yang tak asing oleh pendengarannya. Gadis itu lagi, gadis yang sama seperti yang tadi pagi ia temui dalam perjalannya ke kampus dan bahkan mengikuti mata kuliah yang sama dengannya.

“Yak! Hyeonmi-ah, kau ingat kapan terakhir kali makan sayur hah? Buka mulutmu!” kata pria di hadapannya sambil menyodorkan garpu yang berisi salad ke mulut gadis itu.

Dari tempatnya, Ryeon dapat melihat dengan jelas ekspresi wajah gadis itu yang tampat sebal, lalu kemudian tetap saja ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari pria itu. Oh manisnya, betapa beruntungnya gadis itu telah mendapatkan seorang kekasih yang tak hanya tampat dari segi wajah, akan tetapi ia juga cukup memperhatikan sang kekasih.

Ryeon tak sanggup lagi mengelak pesona yang dimiliki pria itu. Pria itu bahkan memiliki taraf rupawan yang sangat tinggi, sama halnya dengan Lee Joon, bedanya pria itu memiliki masa depan yang lebih baik dari pada mantan kekasihnya. Lagi, gadis itu kembali menoleh ke belakang untuk memerhatikan pria itu lagi, menatapnya, dan hanya menatapnya, sepertinya sudah cukup. Bukankah ia juga tidak mungkin berharap lebih karena pria itu adalah kekasih dari salah satu teman kampusnya.

“Mencari siapa kau?” ucap seorang lelaki yang baru tiba dan menghampiri Ryeon. Sontak wajahnya memerah ketika kedapatan sedang mengamati orang lain yang duduk di belakang.

“Oppa, kau mengagetkanku.” ia mendaratkan pukulan ringan kearah Kim Jongwoon. Sebenarnya dia cukup terbiasa dibuat terkejut oleh kakaknya ini, tapi entah mengapa rasanya kali ini ia seperti kedapatan sedang melakukan hal yang sangat memalukan hingga membuat wajahnya kini seperti udang rebus.

“Benarkah kau terkejut? Aneh, biasanya aku selalu gagal membuatmu terkejut. Tapi sedang apa kau tadi nona Kim? Kau iri dengan pasangan kekasih itu?” tebak Jongwoon

Pasangan kekasih? Benar, bahkan kakaknya saja juga mengatakan mereka pasangan kekasih, jadi anggapannya tadi bukanlah sebuah kesalahan kan? Tapi apa pedulinya? Siapa mereka? Bahkan ia sendiri juga tak mengenal gadis itu secara dekat.

Deg. Tapi kenapa ia sampai berpikir seperti ini? Apa ia iri pada Hyeonmi? Ahh, demi apapun, ia tak iri dengan Hyeonmi dan kekasihnya, hanya saja ia sendiri tak tahu mengapa rasanya ingin sekali lagi memandang wajah rupawan lelaki itu.

“Aniyo. Aku tak iri oppa, gadis itu, kurasa dia juga mahasiswa baru di kampusku, dan aku hanya ingin memastikan apakah dia benar salah seorang yang tadi mengikuti mata kuliah yang sama denganku. Ahh, sudahlah kenapa harus membahas hal yang tidak penting.” Jawab Ryeon berusaha mengelak.

“Benar juga, daripada membicarakan orang lain lebih baik kau menceritakan bagaimana kuliah pertamamu hari ini? Ahh, bagaimana dengan teman laki-lakimu, adakah yang lebih tampan dari oppa-mu ini?” rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Jongwoon. Sebenarnya hal semacam ini wajar saja jika terjadi diantara mereka, karena intensitas pertemuan kakak-adik ini bisa terbilang tak seperti dulu lagi semenjak pernikahan Jongwoon dengan Park Sojin.

“Tidak akan ada yang bisa menandingi ketampananmu oppa.” Jawab Ryeon. Entahlah, kali ini ia sama sekali tak berniat untuk beradu mulut dengan oppa-nya mengenai masalah ketampanan. Membiarkan oppa-nya itu makin percaya diri sepertinya tidak aka menjadi masalah yang terlalu besar kali ini.

“Aku merasa ada yang aneh dengan dongsaengku yang paling cantik ini, wae? Malhaebwa!” lelaki itu mengusap lembut puncak kepala Ryeon. Jongwoon mengetahui dengan benar seluruh sifat Ryeon, bagaimanapun usaha gadis itu untuk menutupi kesedihannya, semua itu akan terlihat sangat nyata di depan Jongwoon.

“Dia menemuiku oppa” ucap Ryeon lirih. Detik berikutnya semuanya terasa hening. Ryeon tak sanggup menjelaskannya lebih lagi, karena saat ini lidahnya bahkan teramat kelu.

Lee Joon, satu-satunya nama yang terlintas di kepala Jongwoon. Tidak ada orang lain lagi selain pria itu. Pria yang egois, menurut penilaian Jongwoon. Setidaknya ‘egois’ memang cukup tepat menggambarkan watak yang dimiliki Joon. Bukannya Jongwoon tak tahu mengenai kehidupan keluarga Joon yang kurang harmonis, tapi menurutnya bagaimanapun tersiksanya pria itu dengan keluarga yang kurang harmonis seharusnya dia tetap memiliki impian dan berjuang untuk masa depannya, bukannya malah mabuk-mabukan sepanjang malam.

“Kau masih mencintainya?” Tanya Jongwoon

Ryeon menjawabnya dengan anggukan. Tenggorokannya masih terasa begitu berat untuk sekedar menjawab pertanyaan Jongwoon dengan kata-kata, dan jikapun ia harus memaksakan suara itu keluar dari mulutnya, pastinya hanyalah serak yang keluar dari bibir mungil itu. Huuuuh…pria itu mendesah pelan. Cinta itu memang rumit. Cinta bisa membuat orang terbang karena terlalu bahagia dibuatnya, seperti kisah cinta yang ia alami dengan Park Sojin, istrinya. Namun disisi lain, cinta itu juga bisa menyengsarakan orang, seperti apa yang kini terjadi pada adiknya.

“Ryeon-ah, kau harus tetap pada keputusan dan janji yang telah kau buat pada appa, kalau kau memang mencintainya, kau tak boleh membiarkan lelaki itu seperti ini terus-menerus, dia harus berubah, paling tidak untukmu, tapi itu jika dia memang benar-benar mencintaimu. Kau tahu sendiri kan betapa bodohnya lelaki itu.”

**

“Hyeonmi-ah, dari mana saja kau? Dasar gadis nakal, tadi pagi eomma sudah mengatakan padamu kan untuk membantu eomma memasak makan malam hari ini.” kata-kata itu keluar dari mulut nyonya Lee saat mendapati anak gadisnya yang pulang tepat saat jam makan malam. Wanita itu tak habis pikir lagi bagaimana lagi caranya untuk membuat Hyeonmi masuk dapur. Gadis itu sama sekali tak pernah mau mengerjakan pekerjaan yang melekat dengan sosok seorang ibu rumah tangga, padahal suatu saat nanti iapun harus menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak.

“Mianhae eomma, oppa memintaku untuk menemaninya di kantor tadi.” Jawab Hyeonmi cengengesan. Walaupun dia sama sekali tak membantu ibunya memasak makan malam hari ini toh nyatanya makanan telah terhidang dengan sempurna di meja makan.

“Yak, jangan mencoba melemparkan kesalahanmu pada orang lain.” Suara yang bersumber dari lantai dua, memaksa Hyeonmi untuk menengok sang empunya suara dari anak tangga. Dia berhenti disana, di anak tangga paling atas dengan kedua tatapan matanya menusuk kearah Hyeonmi. Gadis itu lagi-lagi hanya membalas kekesalan yang jelas terpancar dari Lee Donghae dengan evil smirknya.

Tak mau berhenti di tangga terlalu lama, Donghae kembali meneruskan langkah menuju kamarnya yang memang terletak di lantai dua. Ia tak mau membela diri berlebihan, baginya kalimatnya tadi sudah cukup. Toh ibunya pasti bisa menarik kesimpulan sendiri. Dan semua orang juga sudah tahu bagaimana kejahilan dan bandelnya Hyeonmi.

**

Next Day

 

Ryeon memarkirkan mobil audi hitamnya dengan sempurna. Kemampuan menyetir gadis itu memang tak perlu diragukan lagi, bahkan dengan nilai plus yang dimiliknya ini seringkali Kim Jongwoon, meminta bantuannya sebagai supir pribadi untuk istrinya, tentunya dengan bayaran yang mungkin bisa dibilang lima kali lipat dengan gaji seorang supir. Jangan salah, walaupun untuk keluarganya sendiri, gadis ini masih akan tetap memperhitungkan keuntungan yang di dapatnya.

Sepatu flat yang menghiasi kadua kakinya itu kini mulai melangkah pelan meninggalkan area parkir kampus. Setidaknya jalan kaki dari tempat parkir hingga kelas akan terasa menyegarkan pagi ini karena udara pagi ini cukup bersahabat menyapa para mahasiswa yang akan memulai menimba ilmunya.

“Chogi.” Teriak seorang wanita yang membuat Ryeon menghentikan langkahnya sesaat dan menoleh mencari si sumber suara. Gadis itu lagi, Shin Hyeonmi? jika ia tidak salah ingat itulah nama yang sempat diucapkan oleh lelaki yang bersamanya kemarin.

“Chankaman”, tambah gadis itu. Untuk apa dia memanggilku? Tanyanya dalam hati. Dan lelaki itu, kekasihnya, masih saja mengikuti langkah Hyeonmi yang sedikit berlari menuju ke arahnya.

“Kau mengambil mata kuliah yang sama denganku lagi? Kajja kita masuk bersama. Oppa, cukup sampai disini saja, kau tak perlu mengantarkanku sampai ke depan. Anyyeong.” Kata Hyeonmi langsung mengamit lengan Ryeon untuk berjalan bersamanya. Sementara Ryeon memandang gadis ini dengan heran, baru sekali mereka bertemu dan gadis ini mengapa memperlihatkan sikap sangat akrab kepadanya.

“Hei, jangan melihatku seperti itu Ryeon-ah. Kim Ryeon? Benar kan namamu Kim Ryeon?” Tanya Hyeonmi membuka percakapan diantara mereka. Ryeon hanya menjawabnya dengan anggukan ringan.

Sepertinya gadis ini memang cukup mudah bergaul, dia bisa akrab dengan siapapun walaupun orang itu baru saja ia kenal. Lihat saja sekarang, bagaimana gadis itu tampak begitu dekat dengan Ryeon, begitupula jika ia tidak salah ingat kemarin saat pertama kali masuk kelas, gadis ini bahkan menyapa dengan bahasa inggris pada teman-teman sekelasnya. Berbeda sekali dengan Ryeon yang sedikit tertutup.

“Kemarin aku melihatmu makan siang di salah satu resto Itaewon yang letaknya cukup dekat dengan kantor ayahku. Kau bersama kekasihmu kemarin?” Tanya Hyeonmi lagi. Kekasih? Ryeon mencoba mengingat sosok pria yang dimaksud Hyeonmi. Ahh pasti Jongwoon-oppa, lagipula mana mungkin dia melihat Lee Joon yang juga menemuinya kemarin.

“Aniyo. Dia kakakku. Kau sendiri? Lelaki itu tadi, kekasihmu?” tanya Ryeon.

Hyeonmi menghentikan langkahnya sesaat mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Ryeon. Sontan hal itu membuat Ryeon merasa tak nyaman, mungkinkah dia terlalu menanyakan urusan pribadi seseorang? Tapi bukankah sebelumnya tadi Hyeonmi juga bertanya mengenai kekasih padanya.

“Apa kami terlihat seperti sepasang kekasih?” Tanya Hyeonmi lagi, tak menunggu jawaban dari Ryeon, gadis itu meneruskan ucapannya “Kami serasi bukan?” lanjutnya yang kemudian diikuti senyum yang mengembang dari kedua bibirnya, memperlihatkan wajah senyuman manisnya.

**

Hembusan angin sore hari ini terasa begitu menusuk kulit sampai ke tulang. Ryeon sedikit mengeratkan cardigan yang melindungi tubuhnya dari semilir angin yang berhembur di area pemakaman. Ia mengehentikan langkahnya sesaat ketika ia sampai di salah satu kios yang menjual bunga-bunga untuk para pelayat yang akan berkunjung ke makam. Ryeon memutuskan untuk membeli beberapa ikat bunga untuk ia letakkan nanti diatas makam Ibunya. Gadis itu hanya perlu menunggu beberapa menit saat si penjual bunga itu memilihkan bunga-bunga yang segar untuknya.

“Ahh, Donghae-ssi, sudah lama kau tak berkunjung kemari.” Ucap penjual bunga itu tepat seteah ia selesai menyusun bunga yang dipesan oleh Ryeon dan memberikannya pada gadis itu.

Gadis itu menoleh dan terkejut melihat seorang pria yang kini bahkan telah berdiri di sampingnya, sedang melihat-lihat beberapa jenis bunga yang berwarna kunging di salah satu vas besar. Dia, laki-laki ini, bukankah dia kekasih Hyeonmi? Benar, dia lelaki yang selalu mengantar-jemput Hyeonmi setiap hari ke kampus, dan dia juga orang yang kemarin ia lihat sedang makan siang bersama Hyeonmi.

“Ne, tolong rangkaikan bunga untukku,” jawab pria itu pada sang pemilik toko bunga.

Setelahnya pria itu balas menoleh kearah Ryeon dan memberikan senyumnya pda gadis yang masih menatapnya dengan ekspresi terkejut itu. Bodoh, kenapa kau malah memberiku senyuman yang begitu mematikan, batin Ryeon. Tidak, tidak boleh, ia tak boleh terpesona pada lelaki yang telah memiliki kekasih, tidak boleh. Tapi sungguh senyumannya itu, bahkan mampu mengalahkan senyuman terindah yang selama ini hanya ia temukan di wajah Lee Joon, mantan kekasihnya.

“Bunga yang cantik, untuk orang yang kau sayangi?” kata pria itu tiba-tiba sambil menatap sebuket bunga yang berada di genggaman tangan Ryeon.

“Ne.. ne?” jawab Ryeon terbata, lalu gadis itu menoleh ke samping kiri dan kanannya, memastikan apakah ada orang lain di sekitarnya yang sedang diajak bicara oleh pria ini. Tapi ia sama sekali tak menemukan pelanggan lain di toko bunga itu selain mereka berdua.

“Kau.. aku bicara denganmu, agashi.” Kata pria itu lagi sambil menunjuk Ryeon yang masih tampak bingung.

“Ahh.. ne,” jawab Ryeon pelan, gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya sejenak pada Donghae, mengisyaratkan bahwa ia akan pergi lebih dahulu yang kemudian juga dijawab sengan sebuah senyuman oleh pria itu.

Tapi tepat sebelum Ryeon keluar dari toko tersebut, kembali gadis itu menoleh menatap pria yang masih tampak sibuk melihat-lihat beberapa jenis bunga itu sekali lagi, “Chogi mian, tapi bukankah kita sering bertemu?” kata Ryeon sambil berusaha menunjukkan ekspresi mengingatnya, “Bukankah kau pria yang sering mengantarkan Hyeonmi? Bukankah kau adalah kekasih Hyeonmi?” lanjut gadis itu.

“Ne? Kekasih?” Tanya laki-laki itu.

*

Shin Hyeonmi sialan, umpat Ryeon. Beberapa saat lalu, setelah ia selesai mengunjungi makam Ibunya, orang yang dia pikir adalah kekasih Hyeonmi itu ternyata menunggunya diluar gerbang kompleks pemakaman. Pria itu bahkan mengajak Ryeon untuk sekedar mengobrol bersama di coffe shop yang hanya berjarak dua kompleks dari lokasi pemakaman.

Namanya Lee Donghae. Dan dia bukan kekasih Hyeonmi, lebih tepatnya pria ini adalah kakak laki-lakinya dan dugaannya selama ini ternyata salah besar. Selain itu tadi pagi, gadis itu ternyata sengaja membohongi Ryeon dengan sama sekali tidak mengatakan hal yang sebenarnya.

Ia dan Hyeonmi bahkan barusaja berteman, dan bagaimana mungkin ia telah sukses dipermainkan, lebih parah lagi sekarang pria bernama Lee Donghae ini tertawa sejadi-jadinya karena ia mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.

“Agashi, ku traktir kau secangkir kopi hari ini. Minumlah!” ucap Donghae disela-sela tawanya.

Ryeon mengumpat sebal dalam hati karena tipu daya yang dibuat oleh Hyeonmi. Tapi lelaki yang berada di depannya ini, hei tidakkah dia cukup berlebihan juga untuk menertawakan kebodohannya tadi. Setidaknya pria bernama Donghae ini bisa cukup merespon dengan sewajarnya saja bukan? Mengapa ia justru menertawakannya secara berlebihan seperti ini, sejujur hal ini membuat Ryeon semakin malu.

“Bisakah kau menghentikan tawamu itu Donghae-ssi,” kata Ryeon sambil mengipasi wajahnya dengan telapak tangan. Ia bahkan bisa menebak jika wajahnya kini telah memerah, tak ubahnya udang rebus. Lagi gadis itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri, mengapa wajahnya ini sangat tak berkompromi dengannya.

“Mian, mian.. Mmm, boleh kutau, siapa yang kau kunjungi di makam tadi?” Tanya Donghae hati-hati. Sesungguhnya topik seperti ini adalah hal yang cukup sensitive untuk dibicarakan, tapi bukankah wajar jika ia menanyakan hal tersebut, toh hari ini mereka bertemu juga di tempat yang tak melenceng dari topik yang ia bahas.

“Eomma.” Jawab gadis itu pelan, seketika semburat kesedihan itu tergambar di wajah manis Ryeon.

“Mian. Aku tak bermaksud membuatmu sedih.” Donghae merasa bersalah saat menyadari pertanyaannya tadi dapat membuat gadis di depannya menjadi sesedih ini.

“Ani. Aku hanya sedikit teringat kenangan bersama eomma.” kata Ryeon menenangkan Donghae, “Kau sendiri, siapa yang kau kunjungi Donghae-ssi?”

“Sama denganmu. Aku juga mengunjungi eomma-ku.” Jawab Donghae. Kini giliran Ryeon yang merasa bersalah atas pertanyaan yang ia lontarkan.

“Tidak, jangan meminta maaf. Aku sama sekali tidak sedih. Justru aku sangat tenang karena dia sudah mendapatkan tempat terbaik disana. Aku bahagia karena dia sudah terbebas dari sakitnya.” Lanjut Donghae.

“Sakit?” tanya Ryeon pelan berusaha sebisa mungkin agar tidak menyakiti perasaan pria itu.

“Ne. Saat kecil, keluar masuk rumah sakit adalah hal yang biasa untukku, aku tidak punya teman di rumah, sedangkan appa harus menemani eomma yang dirawat karena menderita aneurima otak. Dan lima belas tahun yang lalu, penyakit itu telah mengantarkannya untuk lebih dekat dengan Tuhan.” Jawab pria itu dengan tatapan matanya yang mulai kosong, mengingat detik-detik saat ia benar-benar kehilangan sosok ibunya.

“Lima belas tahun? Saat hyeonmi masih berusia 5 tahun?” Ryeon kini memasuki usia 20 tahun, dan yang ia tahu usia Hyeonmi juga sepantaran dengannya. Jika Donghae mengatakan Ibunya telah meninggal 15 tahun yang lalu, itu berarti ketika itu usia Hyeonmi masih lima tahun.

Ryeon tak menyangka bahwa gadis yang ia temui itu, yang terlihat ceria ternyata memiliki luka kehilangan ibunya, sama seperti ia yang saat ini juga menjalani hari tanpa kasih sayang seorang ibu.

“Aniyo. Mungkin Hyeonmi belum mengatakannya padamu. Hyeonmi bukanlah adik kandungku. Tiga tahun setelah kematian eomma, appa menikah lagi dengan Hyeonmi-eomma.”

Donghae mulai bercerita panjang lebar mengenai keluarganya. Bagaimana ia bisa kembali ersenyum semenjak kepergian ibunya. Bagaimana kebahagiaan di rumahnya datang lagi semenjak pernikahan kedua ayahnya. Bagaimana lelaki itu ia mulai terasa terhibur dengan tingkah manja dan jahil Hyeonmi yang membuat pria itu sangat menyayangi Hyeonmi layaknya saudara kandungnya sendiri.

Ryeon sedikit mengutuk dirinya sendiri, kenapa ia bahkan tak bisa dengan cepat menyadari keanehan marga yang disandang dua orang bersaudara itu, Lee dan Shin. Bukankah seharusnya dia bisa merasakan keganjilan itu sejak awal.

“Ahh, mianhae. Kupikir aku telah membicarakan hal yang membosankan.” Kata pria di depannya setelah menyadari ekpresi suram yang ditunjukkan oleh Ryeon.

“Aniyo. Aku suka mendengarkan ceritamu Donghae-ssi” jawab Ryeon ringan dengan senyuman yang tersungging tulus dari dalam hatinya.

“Benarkah?” jawab pria itu dengan sedikit senyuman yang dia tunjukkan. Demi Tuhan, bahkan kali ini Ryeon kembali merutuki dirinya sendiri yang hampir dibuat tak sadarkan diri karena senyum yang diberikan pria itu, “Lalu kau sendiri, sudah berapa lama eomma-mu pergi?”

Ryeon menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menceritakan kisahnya pada Donghae, “Tiga tahun. Malam itu, eomma mengantarkan appa yang berangkat ke Jepang untuk kunjungan bisnis, dan saat perjalanan kembali dari bandara sebuah mobil dari arah berlawanan menghantam mobil yang ditumpangi eomma dan supirnya. Setelah penyidikan, polisi menemukan bahwa mobil yang menghantam mobil yang dikendarai eomma disebabkan pengaruh obat-obatan terlarang yang dikonsumsi oleh pengemudinya.” Gadis itu berhenti, tenggorokannya terasa ngilu ketika mengingat setiap detil peristiwa yang telah merenggut nyawa orang teramat ia kasihi.

“Hal yang sangat berat untuk kami menerima kepergian eomma. Terlebih jika mengingat penyebab kepergiannya,” lanjut Ryeon.

Lee Joon, seandainya pria itu bisa mengerti dari sudut pandang Ryeon dan keluaganya. Obat-obatan yang sama seperti yang dia konsumsi itulah yang telah merenggut nyawa ibunya, itulah yang membuat ayahnya berada di garis paling depan yang tidak mengijinkan hubungan mereka.

**

Next Day

 

“Berhenti tertawa Hyeonmi-ah. Kau dan kakakmu tidak ada bedanya saat menertawai orang lain.” Kata Ryeon sambil sedikit menjitak puncak kepala Hyeonmi yang saat ini tengah menertawakannya habis-habisan karena salah paham kemarin.

Selesai mata kuliah terakhir hari ini Ryeon sengaja menarik paksa Hyeonmi ke salah satu gazebo yang terletak di taman kampus. Sambil memasang wajah yang marah gadis itu menceritakan betapa malunya dirinya kemarin saat bertemu dan mengatakan bahwa Donghae adalah kekasih Hyeonmi. Jika saja kemarin pagi gadis itu tak berbohong padanya dan mengatakan yang sejujurnya bukankah ia tak perlu menghadapi situasi memalukan seperti kemarin sore.

“Appo” kata Hyeonmi seketika sambil mengusap kepalanya yang baru saja mendapatkan hadiah jitakan dari Ryeon, “Mianhae. Tapi ini apa saja yang kau lakukan dengan Donghae-oppa kemarin di coffe shop? Ahh, apa kalian berkencan?” tanya Hyeonmi kembali.

Seketika mata Ryeon membulat kearah Hyeonmi. Hanya sekedar minum kopi bersama apakah semudah itu diartikan sebagai kencan?

“Ani. Kami hanya minum kopi bersama.”

Hyeonmi mendesah mendengar jawaban dari Ryeon. Layaknya seorang anak kecil yang memiliki pengharapan tinggi tapi tiba-tiba harapan itu hilang seketika, begitulah yang dapat Ryeon tangkap pada Hyeonmi.

“Ahh, arraseo. Tapi, apa kau tidak tertarik pada kakakku? Bukankah dia pria yang cukup tampan?” kata Hyeonmi lagi kembali bersemangat.

Tampan, bahkan sangat tampan, kata Ryeon dalam hati. Tapi apa gunanya tampan jika bahkan hati dan pikirannya masih saja terpenuhi kenangan bersama Lee Joon.

“Benar kau tak tertarik padanya? Menurutku kalian berdua cukup serasi. Apa kau sudah memiliki kekasih?” lanjut Hyeonmi lagi.

Ryeona menggeleng yakin pada jawabannya, “Wae?”

“Donghae-oppa saat ini juga tidak memiliki kekasih. Tidakkah kau berminat untuk menjadi kekasihnya?”

“Ige mwoya?” potong Ryeon sambil menjitak kepala Hyeonmi sekali lagi.

Gadis itu sadar jika Donghae adalah pria yang tampan, lalu apa yang salah jika dia tampan? Apakah ada yang salah jika orang tampan seperti itu tidak memiliki kekasih? Apakah orang yang tidak memiliki kekasih itu tak normal? Lalu bukankah dia juga tak memiliki kekasih, apakah dia juga terlihat seperti orang tak normal?

“Maafkan jika aku terkesan memaksamu Ryeon-ah. Dan sepertinya aku juga telah membuat Donghae-oppa tak ubahnya barang yang dijual.”

Gadis itu melemah, seolah langit-langit pengharapannya runtuh dan menghilang entah dimana, membuat Ryeon merasa tak nyaman juga pada akhirnya,

“Gwenchana. Tapi mengapa kau sangat bersemangat?”

“Ah.. ani..” Hyeonmi menghembuskan nafas pelan-pelan, “Sebenarnya ada rahasia yang ingin ku ceritakan padamu, tapi bisakah kau berjanji untuk menjaga rahasia ini.”

Ryeon mengerutkan keningnya, ia dan Hyeonmi baru saja berteman dan tidak terlalu dekat seperti ini, tapi gadis itu bahkan menceritakan rahasia itu padanya yang tak boleh diketahui oleh siapapun.

“Kau pasti sudah tahu kan aku dan Donghae-oppa bukanlah saudara kandung. Tapi Donghae-oppa sangat menyayangiku bahkan layaknya saudara kandung. Sama halnya denganku.”

Ryeon diam mendengarkan cerita Hyeonmi. Tak ada yang salah bukan kalaupun mereka adalah saudara tiri dan saling menyayangi satu sama lain?

“Sejujurnya aku merasa kasihan melihat Donghae-oppa saat ini. Pria itu selalu dingin pada setiap wanita yang coba mendekatinya. Tapi semua ini bukan kesalahan oppa-ku.” lanjutnya

“Waeyo?”

“Ada satu wanita yang benar-benar dia cintai. Sayangnya, dia bukanlah gadis yang baik, dia hanya memanfaatkan apa yang Donghae-oppa miliki, ia juga bahkan pernah membuat Donghae-oppa menjadi pembangkang.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Gadis itu tidak mencintai Donghae-oppa seperti Donghae-oppa mencintainya. Wanita itu menghilang, meninggalkan oppa sendirian tanpa kabar saat Donghae-oppa bahkan telah merelakan seluruh hal yang dia miliki. Dan semenjak itu, dia seperti lelaki yang takut untuk memulai kembali sebuah hubungan. Entah apakah ia masih berharap pada wanita itu atau ia benar-benar tak ingin lagi dekat dengan seorang wanita. Jadi bisakah kau membantuku?” tanya Hyeonmi.

“Apa yang bisa ku bantu?” tanpa sadar gadis itu menawarkan dirinya.

Sejenak Hyeonmi menatap penuh harap lagi pada Ryeona “Bisakah kau dekati oppa-ku?”

“Mwo?”

“Jika kau dengan oppa-ku, aku akan mendukungmu. Aku bahkan tak tahu apa alasannya, hanya saja kupikir kalian berdua memiliki kecocokan. Dan.. coba lihat kita tidak terlalu dekat, tapi aku bahkan percaya bahwa seorang Kim Ryeon akan bisa menjaga rahasia ini, kupikir kau orang yang benar-benar baik, ah tidak bukan hanya baik, tapi kau juga bisa menjaga oppa-ku.”

“Tapi…” Ryeon memutar otak, mencoba berpikir secepat mungkin agar bisa keluar dari situasi ini, tapi sepertinya ia baru menyadari bahwa dengan bertanya apa yang bisa dia bantu pada gadis itu tadi adalah awal kesalahannya dimulai. “Apa ini akan baik-baik saja? Dan lagi.. aku bahkan baru bertemu dengannya sekali.”

Hyeonmi berdehem, mencoba menenangkan pikirannya, setidaknya untuk bisa meyakinkan Ryeon dia harus tetap tenang agar gadis itu tak berpikiran salah mengenai dirinya “Tenang saja, selain tampan, dia adalah pria yang baik.. bukankah kau juga telah mengobrol langsung dengannya, ayolah… kumohon!” pinta Hyeonmi sambil menyatukan kedua tangannya di hadapan Ryeon dengan mata tertutup.

Ryeon masih terdiam memikirkan berbagai kemungkinan yang akan dia hadapi jika menerima penawaran gila dari Hyeonmi ini.

“Aku tidak berharap kalian akan berkencan. Aku hanya memintamu kamu untuk dekat dengannya. Hanya berteman. Tapi jika pada akhirnya kalian menjalin hubungan yang lebih serius, kau harus tahu bahwa aku sangat mendukung penuh.”

Ryeon menghela nafas, ada keraguan dalam dirinya. Seperti ada hal yang mengganjal dalam perbincangannya dengan Hyeonmi tadi. Apa gadis itu memiliki maksud tersembunyi? Dan apakah jika dia menyanggupi permintaan Hyeonmi tadi ia akan mengkhianati Lee Joon?

Dan sekali lagi ketika Ryeon mencoba menatap dalam kedua bola mata Hyeonmi, gadis itu tak bisa menangkap maksud apa yang tersimpan darinya selain tingkah yang semakin berharap yang pada akhirnya membuat gadis itu tak tega.

“Arraseo, akan ku coba.”

“Kau serius?” Hyeonmi seketika itu juga memeluk Ryeon.

Aku melakukan ini hanya untuk menolong Hyeonmi, bukan karena aku menyukai Donghae, kata Ryeon dalam hati mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Aku tidak menghianatimu Lee Joon-ah, percayalah.

“Yakk..yak.. apa kau tahu Junhyung?” tanya Hyeonmi lagi setelah melepaskan pelukannya pada Ryeon.

Sejenak gadis itu berpikir, mengingat-ingat nama yang baru saja disebutkan Hyeonmi, sepertinya tak terdengar asing untuknya, tapi ia ragu. “Nugu?”

“Dia adalah pria populer dari kelas modern music. Kau tahu betapa tampannya dia, dan banyak sekali gadis-gadis yang mengantri untuk mendapatkannya. Sepertinya aku perlu berjuang keras untuk bisa mengalahkan gadis-gadis itu.”

Ia ingat nama itu adalah nama yang sering ia dengar ketika melewati gerombolan gadis-gadis yang tengah bergosip. Dan ia tak mengira jika Hyeonmi yang awalnya ia pikir memiliki selera berbeda dengan gadis-gadis itu ternyata sama saja. Dan lagi saat ini ia bahkan hanya bisa menatap heran pada Hyeonmi yang cukup berlebihan mendiskripsikan Junhyung.

 

Drrrtt…drrttt…

 

Hyeonmi kembali tersadar setelah sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Gadis itu merogoh tasnya dan membuka siapa yang tengah menelfonnya. Sesaat gadis itu tersenyum membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Segera ia berbalik menghadap ke arah Ryeon dan menunjukkan pada gadis itu nama penelfonnya.

 

Calling,

Lee Jongsuk

 

“Lihat, ini baru kekasihku. Kau salah jika mengira kekasihku adalah Donghae-oppa.”

Ryeon mengangkat satu sisi alisnya, sedikit terperangah pada ucapan Hyeonmi. Jika gadis itu saat ini sudah memiliki kekasih lalu apa artinya perkataannya tadi tentang Junhyung?

“Mwoya? Kau bahkan sudah memiliki kekasih, kenapa tadi kau bersemangat untuk mendapatkan Junhyung?”

Ne, oppa?”

Terlambat, saat ini Hyeonmi bahkan tak mendengarkan seluruh ucapan Ryeon setelah mengangkat telepon dari lelaki yang katanya adalah kekasih Hyeonmi.

“Ah, ani ani. Aku sudah selesai? Ani, hari ini Donghae-oppa tidak menjemputku, kau mau menjemputku?”

Ryeon menegadah, memperhatikan Hyeonmi yang sekarang telah berdiri mengemasi beberapa barangnya kembali masuk ke dalam tas.

“Ne, arraseo, kutunggu di depan pintu gerbang masuk.”

Sekali lagi, Ryeon hanya bisa menatap heran pada gadis itu. Tidak sopan, dia bahkan tanpa berpamitan langsung pergi berjalan meninggalkan Ryeon seorang diri di taman.

 

*TBC*

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: