Sweet Candy [2/?]

jmm

SWEET CANDY [Part 2]

By: Shin Hyeonmi

https://eunhaewife.wordpress.com/

 

Lee Donghae | Kim Ryeon | Lee Joon

***

The story idea is not mine, I just made the fanfiction version from stories I’ve ever read a few years ago.

***

  

 

“Okay. This is the finish of class today. Thanks for your attention guys. And see you next week.” Kata professor Jung mengakhiri perkuliahan siang itu.

Ryeon memaksukkan buku catatannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa, dan segera berjalan keluar dari kelas tepat setelah sang professor membuka pintu dan keluar. Apa yang dilakukan gadis itu memang sedikit berbeda hari ini, atau mungkin hari-hari biasanya juga memang berbeda. Jika kebanyakan para mahasiswa-mahasiswa lainnya akan mulai berkumpul ketika jam kuliah mereka telah habis lalu menghabiskan waktu mereka untuk sekedar mengobrol atau mulai berpesta, tapi tidak untuk Ryeon. Gadis itu akan lebih banyak memilih waktu kosong yang ia miliki untuk segera ke hotel, menemui kakaknya disana untuk belajar lebih banyak lagi tentang pengelolaan manajemen hotel. Setidaknya begitulah kehidupan yang selama ini ia jalani sebagai salah satu pewaris dari bisnis yang telah di jalani oleh ayahnya selama lima belas tahun terakhir di Kingdom Hotel.

Ryeon memang bukanlah satu-satunya ahli waris di bisnis keluarganya yang berkembang pesat ini, gadis itu memiliki seorang kakak laki-laki, Kim Jongwoon yang bahkan dapat dipastikan akan mewarisi kursi sebagai komisaris utama nantinya. Dan hari ini, berhubung sang kakak sedang memiliki agenda lain yakni mengurus berkas-berkas penting di Yeonju dan juga karena ayahnya masih belum kembali dari Jepang maka dengan terpaksa gadis itu harus mengambil kendali hotel, terlebih lagi beberapa jam setelah ini beberapa tamu VIP di hotel akan mengadakan meeting di resto hotelnya.

“Kau mau langsung pulang?” cegah Hyeonmi tepat ketika Ryeon hendak keluar dari ruangan kelasnya.

“Ne, aku memiliki jadwal penting hari ini,” jawab Ryeon, lalu gadis itu kembali melangkahkan kakinya melewati Hyeonmi dan mulai berjalan cepat.

Hyeonmi tak begitu saja diam. Gadis itu berlari mengikuti langkah Ryeon mencoba menghalangi Ryeon yang akan segera meninggalkan area fakultas dan menuju tempat parkir.

“Yak..yak..yak.. kau tidak lupa janjimu kemarin kan?”

“Janji?” Ryeon berhenti sejenak, menatap Hyeonmi sambil menhembuskan nafasnya pelan, “Hyeonmi-ah, tapi hari ini aku sibuk. Mengertilah,” kata Ryeon, kembali setelahnya gadis itu berjalan meninggalkan Hyeonmi.

Lagi, Hyeonmi tak tinggal diam begitu saja, gadis itu kembali berlari mengikuti Ryeon, menarik pelan lengan gadis itu mencoba menghentikan langkahnya.

“Hanya 30 menit? Ah, tidak lima belas menit saja, kumohon !! ” pintanya lagi sambil kembali menghalangi jalan Ryeon.

Ryeon masih belum menjawab. Dia ingat betul pada janjinya, tapi urusannya kali ini lebih penting.

 

Drrrt…drrrtt..

 

Sesaat Ryeon mengalihkan pandangannya pada ponselnya, panggilan dari asisten Min yang sejak pagi sudah berada di hotel. Ini pasti menyangkut masalah pertemuan tamu VIP itu, dan gadis itu yakin ini adalah masalah penting.

“Yoboseyo?” katanya sesaat setelah menjawab telepon.

“Arraseo. Tetap persiapkan semuanya saat ini.” Lanjutnya lagi.

Ryeon menutup panggilannya. Kemudian berbalik menatap Hyeonmi.

“Hanya lima belas menit. Tidak lebih.” Kata Ryeon yang membuat Hyeonmi tersenyum seketika.

**

Ryeon melangkah memasuki area parkir mobil. Awalnya ia cukup kesal pada permintaan Hyeonmi yang seolah-olah terlalu memaksanya, terlebih lagi gadis itu menuntutnya secara berlebihan, padahal ia harus menyambut tamu VIP di hotel setelah ini. Beruntung, karena nyatanya acara tersebut mengalami penundaan selama dua jam.

Sesaat ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menemukan sosok yang ia cari. Lee Donghae, pria itu saat ini tengah bediri di samping pintu mobilnya, menunduk seperti memperhatikan sepasang sepatu yang ia kenakan. Lagi-lagi ia terpesona melihat pria itu, stelan jas yang dipakainya, gaya rambutnya, semuanya benar-benar tampak sempurna.

Gadis itu menutup matanya menarik napasnya berat dan membuka pandangannya kembali sebelum mulai melangkahkan kakinya, kali ini sedikit ragu. Just do it, Kim Ryeon! Gadis itu berusaha menyemangati dirinya sendiri. Now or never, katanya sambil berjalan mendekati pria itu.

Sesampainya di depan Donghae, fikirannya blank. Seolah bumi berhenti berputar begitu saja. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Hyeonmi hanya mengatakan untuk mendekati sosok ini, tapi harus bagaimana cara yang ia lakukan? Langsung mengajak berbicara? Bukankah itu terlihat sangat murahan?

Merasa ada yang mengamatinya, pria itu mendongak menatap sosok Ryeon yang saat ini tengah berdiri persis di hadapannya.

“Kau teman Hyeonmi bukan?” tanya pria itu.

Ryeon tak langsung menjawab, justru gadis itu terlihat menengok ke sebelah kanan dan kirinya, membuat Donghae mengerutkan keningnya setelah melihat tingkah yang ia tunjukkan, “Kau berbicara denganku?”

“Dengan siapa lagi? Apa ada orang lain sekarang ini di hadapanku?” jawab pria itu sambil memamerkan sedikit senyumnya.

Hanya sedikit tersenyum saja pria itu telah sukses membuat Ryeon salah tingkah, bagaimana jika ia benar-benar tersenyum penuh padanya, mungkin langitnya akan segera runtuh seketika, “Ahh, ne. Hyeonmi..” sesaat ia menghentikan ucapannya. Gadis itu terlihat menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali, hanya saja tadi ia dan Hyeonmi belum sempat membuat alasan yang sama, bagaimana nanti kalau ternyata alasan yang mereka buat berbeda.

“Dia sedang mengerjakan tugas kelompok kan? Gadis itu sudah memberitahuku.” Kata Donghae sambil memperlihatkan layar ponselnya yang berisi pesan dari Hyeonmi padanya, “Kau mau pulang?” lanjut pria itu.

Ryeon mengangguk, “Apa kau bosan menunggu adikmu sendirian? Mau kutemani?” tawarnya.

“Jika kau tidak keberatan. Masuklah ke mobilku”

**

Hyeonmi berdiri sambil mengamati sekeliling gedung modern music. Matanya sibuk mencari-cari sosok yang sering dibicarakan teman-teman kuliahnya. Menurut beberapa info yang ia dapat pada jam dan hari ini sosok tersebut selesai mengikuti kelas dan pasti akan menuju gedung kegiatan mahasiswa. Tapi bahkan gadis itu sudah menungguinya selama sepuluh menit disini, sosok yang di tunggu-tunggu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Padahal tadi ia hanya berjanji limabelas menit pada Ryeon.

Gadis itu masih tetapi memperhatikan pintu kelur salah satu gedung hingga beberapa menit setelahnya ia berhasil menemukan sosok Yong Junhyung yang ia tunggu-tunggu.

Hyeonmi segera berlari mendekati pria itu. Tangannya bergerak menepuk pundak Junhyung dari belakang, membuat pria itu menoleh seketika ketika merasakan seseorang memukul pelan punggungnya.

“Ne? Nuguseyo?” tanya Junhyung,

“Yong Junhyung?” tanya Hyeonmi balik tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya ditujukan kepadanya.

Pria itu terlihat mengerutkan keningnya.

“Sempurna. Anyyeonghaseo, Shin Hyeonmi imnida. Aku mahasiswa semester pertama dari kelas manajemen. Senang bisa bertemu denganmu, sunbae.”

**

“Kau pengguna mobil Audi juga?” kata Ryeon ketika memasuki mobil Donghae. Sesaat gadis itu memperhatikan ornamen-ornamen kecil yang terpasang di dalam mobil lelaki itu. “Sepertinya kita memiliki selera yang sama dalam hal mobil.” Lanjut Ryeon.

“Belum tentu.” Sanggah Donghae seketika yang cukup ampuh membuat Ryeon malu. Lagipula bagaimana bisa baru dua kali bertemu dengan sosok ini dia sudah berani-beraninya mengatakan bahwa mereka memiliki selera yang sama. Bukankah itu juga terdengar seperti Ryeon berharap bahwa ia memang memiliki kesamaan dengan Donghae?

“Yaaah, hanya dengan sekali melihat saja bukankah sangat terlihat perbedaannya, lihat mobilmu, kau memilih warna putih, sedangkan aku memilih warna hitam, bagaimana itu bisa dikatakan sama?” lanjut laki-laki itu sambil menunjuk ke arah mobil Ryeon yang memang secara kebetulan terparkir tepat di depan mobil milik Donghae.

Sial, batin Ryeon. Ternyata hanyalah sebuah pancingan agar Ryeon merasa malu pada kalimat yang dia ucapkan karena setelah itu nyatanya Lee Donghae pun menyambung topik pembahasan yang ia mulai.

Cukup lama mereka berdua akhirnya mengobrol bebas, seperti pertemuan pertama mereka sehabis dari pemakaman beberapa hari yang lalu. Saat seperti ini sesungguhnya gadis itu sendiri cukup ragu dengan apa yang dikatakan Hyeonmi sebelumnya bahwa Donghae cukup dingin dengan wanita itu benar? Karena faktanya saat ini toh mereka bahkan bisa mengobrol berdua dengan sangat santai dan sama sekali ia tak merasa jika Donghae adalah sosok yang dingin pada wanita.

Tok..tok..tok.

Kali ini mereka berdua menoleh ke arah kaca jendela yang terletak di sebelah Ryeon. Menemukan sosok Hyeonmi yang telah berdiri tepat di depan pintu mobil. Tak lama tangan Ryeon mulai bergerak membuka pintu dan segera setelahnya ia keluar dari mobil tersebut.

“Heiss,,,sepertinya kalian benar-benar dekat?” kata Hyeonmi sedikit menyindir.

“Mwo?” jawab Ryeon tak terima.

Entah mengapa meskipun dia juga merasa sedikit berdebar jika berada dekat dengan lelaki ini, tetapi Ryeon masih seakan memberi batasan di hatinya untuk tak begitu mudahnya hanyut terbawa perasaan, dia masih mencintai Lee Joon, masih, dan ia yakin suatu saat nanti masih akan ada kesempatan untuknya kembali pada Lee Joon.

“Kau sudah selesai mengerjakan tugas kelompok?” potong Donghae sebelum sempat kembali membalas Hyeonmi.

“Ne, oppa. Kita makan siang sekarang?” jawab Hyeonmi dengan wajah sumringahnya, “Ahh, Ryeon-ah, gomawo, sudah menemani pacarku.” Sengaja gadis itu menekankan kata ‘pacarku’ pada Ryeon dengan maksud ingin kembali mengingatkan insiden salah paham yang dilakukan Ryeon kemarin.

“Issh, baiklah, aku pulang dulu.” Jawab Ryeon dengan wajah cemberutnya dan segera berbalik menuju mobilnya.

Hyeonmi sedikit cekikikan melihat tingkah Ryeon yang masih tampak begitu malu atas insiden salah tafsirnya kemarin. Meskipun disisi lain gadis itu juga merasa senang karena berkat insiden salah tafsir itu juga ia jadi memiliki kesempatan untuk mendekatkan Ryeon dengan kakaknya sendiri.

Mendengar suara pintu mobil yang ditutup, Hyeonmi segera memalingkan wajahnya dan mendapati sosok Donghae yang kini sudah bersiap di balik kemudi mobilnya. Dengan sigap gadis itu segera berhambur masuk ke dalam mobil milik Donghae dan mengenakan sabuk pengamannya.

“Jadi apa yang ingin Anda makan siang ini nona Shin?” tanya Donghae ketika mulai melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.

“Em…makarel, makarel rebus sepertinya enak.”

Donghae diam sejenak, dan mempertimbangkan usulan adiknya sambil masih terus berfokus mengemudikan mobilnya, “Boleh juga, makarel rebus dengan daun lobak.” Katanya kemudian.

Mendengar kata lobak yang diucapkan Donghae membuat gadis itu dengan segera mendengus sebal. Kakaknya ini memang seorang pemaksa yang selalu mencekokinya dengan berbagai macam sayuran yang sudah jelas-jelas sangat tidak di sukai Hyeonmi, “Kita belum makan, tapi kau bahkan sudah menyebutkan nama sayuran paling menjengkelkan itu, oppa.”

Donghae sedikit terkekeh mendengar penuturan adiknya yang tampak begitu sebal. Menggoda Hyeonmi dengan menyuruhnya makan sayur-sayuran seperti ini memang salah satu kesukaannya. Hyeonmi sangat tidak menyukai sayuran, itulah mengapa daya tahan gadis itu sedikit lemah dibandingkan wanita-wanita lain, beruntung dari ukuran tubuhnya gadis itu tak bermasalah dan bahkan tertolong oleh kedua pipinya yang chubby, sehingga tidak memperlihatkan jika sebenarnya dia sering sakit-sakitan.

“Ahh, mian Hyeonmi-ah, sepertinya nanti aku tidak bisa menemani makan siangmu sampai selesai. Aku perlu menyiapkan beberapa berkas untuk rapat setelah ini.” kata Donghae masih sambil melajukan mobilnya.

“Kau gila, lalu kau akan meninggalkanku sendirian di restoran?” protes Hyeonmi.

Donghae melirik sedikit ke arah Hyeonmi lalu kemudian tersenyum pada gadis itu, “Aigoo. Aku tidak seburuk itu. Akan kupanggilkan Eunhyuk untuk menemanimu.”

“Kau benar-benar gila oppa. Kau menyuruhkan makan siang bersama playboy gila itu? Andwee.” protesnya lagi.

Bersama dengan Eunhyuk adalah merupakan pilihan yang benar-benar buruk. Hyeonmi sangat membenci sosok tersebut, bahkan hanya melihat wajahnya sesaat saja sudah akan membuat emosinya naik seketika.

“Lalu apa kau mau pulang? Sepertinya akan menarik jika kau di rumah dan eomma akan memintamu untuk membantu mempersiapkan makan malam hari ini.” goda Donghae kemudian

“Oppa.”

“Pilihlah mana yang lebih baik, berpanas-panasan di dapur atau makan bersama sahabat terbaikku itu.”

Hyeonmi menurut, ia tidak punya pilihan lain, dari pada harus berjibaku di dapur. Sebenarnya ia malas sekali jika bertemu kembali dengan Eunhyuk, lelaki itu selain merupakan sahabat baik kakaknya, ia juga merupakan salah satu mantan kekasihnya beberapa tahun yang lalu. Lelaki itu adalah kekasih pertama Hyeonmi, yang mengajarkan gadis itu tentang cinta kasih antara lelaki dan perempuan, dan lebih dari semua itu, lelaki itu juga yang mengajarkan pada Hyeonmi pertama kali tentang rasa sakit hati.

**

“Mianhae aku terlambat.”

Hyeonmi mengangkat pandangannya saat mendengar suara seorang lelaki yang baru saja sampai di mejanya. Matanya menatap lurus pada lelaki itu yang kini tengah mengenakan stelan jas lengkap namun sudah mulai tampak berantakan karena kancing bagian atasnya yang terbuka.

“Kami juga baru saja sampai.” Jawab Donghae.

Untuk sesaat pria dengan nama lengkap Lee Hyukjae tersebut menatap Hyeonmi lekat, lalu mulai mengambil posisi duduk tepat dihadapan Hyeonmi. Bibirnya tersenyum saat melihat Hyeonmi yang tampak tak mempedulikannya lagi dan justru asik bergelut dengan makanan yang terhidang di hadapannya.

“Omo, Hyeonmi-ah, kau semakin cantik.” Goda Hyukjae pada Hyeonmi yang sama sekali tak di dengarkan oleh gadis itu, “Siwonnie, odie?” tanyanya pada Donghae.

Donghae tersenyum sejenak sebelum menjawab pertanyaan Hyukjae, “Tidak ada, dia memiliki beberapa jadwal yang tak bisa ditinggalkan.”

“Yak, jadi kau berbohong padaku.”

“Jika aku tidak berbohong, kau tidak mungkin datang kesini apalagi kalau kau tahu ada Hyeonmi disini.”

Pria itu diam sejenak mencermati penjelasan Donghae. Tentu saja jika Hyukjae tahu siang ini Donghae bermaksud mempertemukannya dengan Hyeonmi sudah pasti ia akan menolak. Jika Saja tak terlalu banyak kenangan indah yang terjadi antara mereka berdua layaknya Hyukjae dengan mantan-mantan kekasihnya yang lain, mungkin pria itu tidak akan mempermasalahkan jika bahkan ia harus bertemu setiap hari dengan gadis itu. Hanya saja, gadis ini benar-benar berbeda dengan masa lalunya yang lain. Tapi mengapa justru Hyeonmi mau bertemu dengannya? Mungkinkah gadis itu sudah mulai membiasakan untuk bertemu dengannya lagi?

Merasa sedang diperhatikan, Hyeonmi seketika itu juga menghentikan aktivitas makannya dan balik menatap tajam kearah Hyukjae. Tentu saja tatapan secara terang-terangan seperti ini adalah hal yang paling tidak nyaman, begitupula dengan yang dirasakan oleh Hyeonmi. “Aku juga tidak mau. Tapi dia memaksaku.” Kata Hyeonmi sambil menunjuk sosok Donghae di sampingnya.

“Lalu kenapa kau tidak menolak saja?” tanya Hyukjae pada Hyeonmi.

“Aku tidak punya pilihan.”

“Benarkah? Kenapa kau tidak pergi saja dengan kekasihmu, siapa itu, Lee Jongsuk.” Hyukjae coba mengingat-ingat nama kekasih Hyeonmi yang selalu dibangga-banggakan gadis itu. lelaki yang berprofesi sebagai model dan juga kini mulai merambah ke dunia akting, “Ahh, tampangnya bahkan tidak lebih tampan dariku.” Celanya lagi.

Lelaki manapun tidak pernah ingin dan suka jika ia dibanding-bandingkan. Begitupula dengan Hyukjae yang selama ini selalu mendengar Hyeonmi membanding-bandingkan dirinya dengan Lee Jongsuk yang kini berstatuskan sebagai kekasih Hyeonmi. Padahal hubungan mereka juga baru berumur lima bulan, tidakkah itu terlalu berlebihan jika dalam hubungan yang baru seumur jagung itu Hyeonmi terlalu mengagung-agungkan kekasihnya?

“Tapi dia lebih tinggi darimu. Dan tutup mulutmu itu, jangan banyak berkomentar tentang kekasihku, Lee Hyukjae-ssi.” Hyeonmi yang tak terima segera membungkan mulut Hyukjae dengan sepotong makarel yang menjadi makanannya siang ini.

Pertengkaran dari sepasang mantan kekasih ini memang selalu terjadi ketika mereka bertemu satu sama lain. Donghae sendiri sesungguhnya heran mengapa mereka bisa menjadi seperti ini padahal dulunya mereka saling melindungi saat masih bersama.

Tetapi kini, ketika keduanya bertemu maka mereka akan saling menyudutkan satu sama lain dengan pasangannya masing-masing, padahal keduanya sama saja semenjak berpisah seringkali berganti-ganti kekasih dan menjalin hubungan dengan lawan jenisnya dalam waktu yang singkat.

“Yaak, sudah, sudah. Hentikan. Apa kalian akan terus berdebat hah?” potong Donghae tepat ketika Hyukjae bermaksud untuk menjawab Hyeonmi.

Keduanya diam sejenak, namun masih dengan tatapan tajam menatap satu sama lain. Bagaimana bisa dua orang yang dulunya saling menyayangi kini bisa berubah menjadi saling membenci seperti ini?

“Hyuk, setelah ini kau bisa menolongku?” Donghae mulai membuka percakapan diantara mereka kembali.

“Wae? Masalah gugatan konsumen lagi?” Hyukjae adalah salah satu dari tim pengacara yang dimiliki oleh perusahaan dimana saat ini Donghae bekerja.

Lagi-lagi Donghae tersenyum singkat, sambil menarik gelas minumannya dan mulai meneguknya beberapa kali pria itu kembali menatap Hyukjae, “Tidak seberat itu.”

Beberapa saat kemudian Donghae melirik Hyeonmi yang sedang asik dengan makanannya dan mulai sibuk dengan ponselnya. Semenjak gadis itu berpacaran dengan Lee Jongsuk, ia kini lebih memang lebih sering mengupdate kegiatan kekasihnya itu melalui SNS.

“Temani Hyeonmi, karena aku harus menemani Jungsoo-hyung bertemu dengan klien kami dari Kanada.” Kata Donghae pelan.

Setelah mengatakan keinginannya tadi, sejenak Donghae dapat mengamati dua perubahan tingkah mantan kekasih tersebut. Hyeonmi yang seolah nampak tenang, sebelumnya terlihat sedikit menghentikan gerakan tangannya diatas layar ponsel, sementara Hyukjae seketika itu juga menghembuskan nafasnya berat atas permintaan Donghae.

**

“Apa mereka sudah sampai?”

Ryeon keluar dari ruangan kakaknya dengan mengenakan stelan kerja formal, memperlihatkan sisi lain dari sosok Ryeon yang selama ini selalu berdandan kasual ketika berada di kampus.

“Ne, Presdir Wonder Grup dan salah satu Direktur Divisinya telah sampai, saat ini mereka sedang menunggu kedatangan tamu mereka yang berasal dari Kanada.” jawab salah satu staff hotel yang biasanya mengurusi kegiatan kakaknya, Kim Jongwoon.

“Baiklah, haruskah aku masuk sekarang?” tanya gadis itu kemudian

“Ne, sajangmin”

Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian, lagi-lagi harus bertemu dengan salah satu petinggi perusahaan yang ada di Korea seorang diri. Ini bukanlah kali pertama untuknya menyambut tamu kelas VIP seperti ini, selama ini gadis itu cukup sering menggantikan peran kakaknya ketika sedang sibuk.

Perlahan sepasang sepatu heels setinggi sembilan sentimeter itu mulai membawa kaki Ryeon melangkah menuju ruang rapat yang ditempati oleh petinggi dari Wonder Group tersebut. Dengan pasti kemudian tangannya mulai mengetuk pelan pintu ruang pertemuan tersebut, dan kemudian ia segera membuka pintu tersebut.

“Annyeonghaseo” sapa Ryeon pelan.

“Oh, Kim Ryeon.”

Untuk beberapa saat Ryeon tampak terkejut dengan dua orang yang telah berada di dalam ruangan tersebut. Satu orang disana adalah Park Jungsoo, Presdir dari Wonder Group yang memang sudah pernah ia temui saat mengadakan pertemuan di hotel ini juga, dan satu lagi, Lee Donghae, lelaki yang baru saja tadi siang ketika pulang dari kampus ia temui.

Dengan ragu Ryeon melangkahkan kakinya mendekat pada dua orang tersebut, diikuti oleh salah seorang staff hotelnya yang membawakan wine untuk dituangkan Ryeon pada gelas milik kedua orang tersebut.

“Suatu kebanggaan karena Presdir Wonder Grup kembali mengadakan pertemuan disini,” kata Ryeon sambil meraih botol wine yang dibawakan oleh staffnya.

Gadis itu kemudian membuka tutup botol wine nya dan mulai menuangkannya ke dalam dua buah gelas kosong yang terhidang di hadapan Jungsoo dan juga Donghae. Hal yang tak bisa coba ditutupi Ryeon adalah ketika tangannya mulai bergetar saat menuangkan wine ke dalam gelas milik Donghae. Bagaimana tidak, pria itu sejak tadi manatap tajam kearahnya seperti terkejut dengan keberadaannya disini, padahal sesungguhnya bukan hanya Donghae yang terkejut tetapi Ryeon juga tak kalah terkejut.

“Kamshamnida Ryeon-ssi. Perkenalkan, ini Direktur baru kami di Divisi Pemasaran, Lee Donghae.” Kata Jungsoo memperkenalkan Donghae, “Dia anak kedua dari Komisaris Kim, adik perempuan Kim Jongwoon yang saat ini mengelola bisnis perhotelan Kingdom yang ada di Seoul.” Lanjut Jungsoo memperkenalkan Ryeon pada Donghae.

“Anyyeonghaseo Lee Donghae-ssi,” sapa Ryeon dengan wajahnya yang mulai memerah karena malu.

“Ne, Senang bertemu denganmu kembali Kim Ryeon-ssi.”

**

“Chagi, besok aku pasti akan menjemputmu, ne? Sudah, ku tutup teleponnya. Saranghae.”

Hyeonmi tak bisa menyembunyikan betapa muaknya ia saat ini harus duduk satu meja dengan lelaki pengumbar kata-kata cinta. Entah sudah berapa wanita yang sejak tadi ditelepon oleh Hyukjae, dan dari semua wanita-wanita itu hampir tidak ada satupun yang tidak terkena bualan dari playboy tersebut.

“Kenapa kau tidak menelepon oppa-ku saja daripada harus menelopon wanita-wanita bodoh itu?” tanya Hyeonmi pada Hyukjae.

Sesungguhnya Hyeonmi malas untuk mengajak bicara lelaki ini, hanya saja jika ia tidak segera mengajak Hyukjae berbicara terlebih dahulu maka buka tidak mungkin pria itu akan kembali menelepon wanita lain, seperti yang dilakukannya sejak tadi.

Lelaki itu tersenyum sejenak, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan. Digesernya kembal minuman berisi jus strawberry yang ia pesan lalu kemudian mulai meneguknya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Hyeonmi.

“Untuk apa? Bukankah Donghae bilang dia akan segera datang?” tanya Hyukjae balik, namun sebelum Hyeonmi kembali berbicara pria itu sudah mendahuluinya kembali, “Kalau kau keberatan mendengarkanku menelepon wanita-wanitaku, kenapa tidak kau telepon kekasihmu saja?” tantang Hyukjae.

Hyeonmi hanya tertawa kecut mendengar tantangan yang dilontarkan Hyukjae, “Kau pikir kekasihku tak punya pekerjaan seperti kekasihmu itu hah? Dia sedang sibuk pemotretan hari ini.” jawab Hyeonmi sedikit kesal.

“Benarkah? Apa kau pernah sekali saja mengikuti aktivitasnya? Kudengar pekerjaan sebagai seorang model itu juga di kelilingi banyak wanita-wanita cantik. Apakah kau yakin kekasihmu akan baik-baik saja?” kata Hyukjae lagi, “Aku tidak berbohong, Siwon sendiri yang menceritakannya padaku.”

Choi Siwon adalah salah satu teman dekat Donghae selain Hyukjae. Mereka bertiga sudah berteman sejak sama-sama masih bersekolah. Meskipun kini ketiganya telah menggeluti pekerjaannya masing-masing dimana Donghae bekerja di sebuah perusahaan, Hyukjae sebagai seorang pengacara, dan juga Siwon yang kini telah menjadi seorang aktor akan tetapi mereka tetap sering berkumpul bersama.

“Tapi kekasihku berbeda dengan Siwon-oppa, dia tidak akan begitu mudahnya terpikat dengan wanita-wanita itu.” sanggah Hyeonmi.

“Belum tentu, saat ini kau memuji kekasihmu, tetapi beberapa bulan lagi ketika kau putus pasti kau akan bertingkah seperti tak pernah mengenalnya,” Lee Donghae tiba-tiba saja menginterupsi mereka berdua.

Hyeonmi menoleh dan mendapati Donghae yang sudah berdiri tepat di belakangnya dengan senyuman membela Hyukjae yang ada di depannya. Bukannya membela adiknya yang mulai diserang oleh playboy sialan itu, justru pria itu saat ini berada di pihak Hyukjae untuk ikut menyerangnya.

“Donghae betul, tidak jauh berbeda dengan apa yang kau lakukan padaku,” kata Hyukjae lagi sambil kemudian mulai mengacak rambut Hyeonmi pelan.

Salah satu kebiasaan Hyukjae yang tidak bisa ia hentika ketikan berhadapan dengan Hyeonmi adalah mengacak rambut gadis itu sehingga membuatnya semakin marah. Entah mengapa melihat Hyeonmi yang marah justru membuatnya merasa senang karena berhasil membuat gadis itu kembali menunjukkan sisi kekanakannya.

“Kau juga sama saja hyuk, kalian berdua itu sama saja,” protes Donghae, “Sudahlah, Hyeonmi kita pulang sekarang,” ajak Donghae kemudian.

“Hanya seperti itu? Yak, kau harusnya berterimakasih padaku karena sudah menjaga gadis cerewet ini,” terang Hyukjae tak terima.

“Kau salah, sejak tadi aku yang menjagamu saat kau menelepon wanita-wanita sialan itu,” Hyeonmi yang tak terima seketika itu juga memukuli lengan dan tubuh Hyukjae berkali-kali hingga membuat pria itu kesakitan.

“Hentikan, hentikan,” potong Hyukjae, “Baiklah, hati-hati di jalan Donghae-ah. Jaga baik-baik mantan kekasihku yang paling cantik ini. Arra?” kata pria itu kemudian sambil menyentil pelan dagu Hyeonmi.

Sebelum sempat Hyeonmi kembali memukulnya, lagi-lagi Hyukjae sudah lebih dahulu berlari menuju meja kasir untuk membayar pesanannya hari ini.

**

Ya Tuhan… kenapa harus lelaki ini lagi? Batin Ryeon saat ia tepat baru saja keluar dari pelataran hotel untuk mengambil mobilnya.

“Aku mengganggu waktumu?” tanya lelaki di hadapan Ryeon tersebut.

Ryeon masih menatap lelaki itu intens dan tak mampu berkata apapun karena begitu terkejut melihat lelaki ini masih dengan berani muncul di hadapannya setelah semua yang terjadi.

“Untuk apa kau kesini?” desis Ryeon marah.

Dalam hati sesungguhnya gadis itu masih bersyukur karena Lee Joon datang menemuinya saat kakak dan juga ayahnya sedang tak berada di Seoul. Jika saja mereka ada di Seoul dan melihat keberadaan Lee Joon disini sudah pasti tim keamanan hotel akan segera dikerahkan untuk mengusir pria itu secara tidak hormat. Kemarahan ayah Ryeon pada Lee Joon selama ini sudah cukup menjadi bukti bahwa kehadirannya sama sekali tidak diharapkan.

“Ada yang perlu kita bicarakan, tentang keputusanmu tempo hari, Ryeon-ah..”

“Keputusan mana yang kau maksud? Sejauh ini semua keputusanku adalah benar,”

Lee Joon menghela nafasnya dan menatap tak percaya sosok Ryeon yang kini tampak begitu keras. “Keputusan tak ingin bertemu denganku lagi,” jawabnya lirih.

“Dari semua keputusanku, itu adalah yang paling benar,” kata Ryeon tegas.

Lee Joon mengalihkan pandangannya sejenak ke sekeliling sebelum kemudian kembali menatap Ryeon, dan Ryeon hanya bisa menyembunyikan perasaan ibanya ketika menyadari betapa buruknya kondisi Lee Joon kini. Tubuhnya yang terlihat semakmin kurus, dan juga wajah itu yang tampak tak sesegar dulu ketika awal-awal hubungan mereka.

Sejujurnya Ryeon sendiri juga merasakan hal yang sama ketika ayahnya melarang dirinya untuk bertemu dengan Joon lagi. Tapi diluar semua itu ia tahu bahwa ayahnya hanya ingin merencanakan hal yang lebih baik untuk Ryeon. Ayahnya tidak ingin Ryeon ikut terlibat ke dalam dunia kelam yang kini dijalani oleh Lee Joon. Dan kini Ryeon telah berada di persimpangan keputusan tersebut, ia tak ingin semua usahanya selama ini sia-sia sehingga ia harus tegas pada lelaki ini meskipun dibalik itu semua ia harus menyimpan perasaan sakit.

“Waeyo?” tanya Joon pelan.

“Aku tidak bisa mempercayaimu lagi.”

“Tentang apa? Narkoba? Ryeon-ah, aku..”

“Cukup. Sudah cukup, sejak dulu kau selalu berjanji akan segera berhenti dari kehidupanmu saat ini, kau bahkan berjanji untuk berhenti mengecewakanku, tapi apa? Semuanya ingkar. Kau bahkan ingat betul kan bahwa obat-obatan yang kau konsimsi itulah yang telah merenggut nyawa ibuku?”

Susah payah Ryeon mencoba menahan, tapi air matanya tak bisa menuruti keinginannya. Butiran air tersebut kemudian mulai jatuh membasahi pipi Ryeon, membuat gadis itu menangis tersedu-sedu.

“Kau malu untuk tetap berada di sisiku?”

Ryeon mendongak, tersenyum pahit, “Ne.”

“Ryeon-ah..”

Lagi, gadis itu tak menggubris permohonan Joon. “Aku sangat malu berada di sisimu, kau adalah orang yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri. Kau lihat bagaimana dirimu saat ini? dengan kondisi yang sangat menyedihkan ini kau datang padaku? Kau bukan Lee Joon yang pernah ku kenal.”

Lee Joon terduduk seketika di hadapan Ryeon, mengatupkan kedua tangan ke wajahnya. Ryeon telah berusaha membuang muka, tetapi ia masih tetap saja dapat melihat luka-luka bekas suntikan di pergelangan tangan Joon.

“Mianhae, Ryeon-ah..”

“Untuk apa? Bukankah kau juga tak bisa meninggalkan kehidupanmu berapa kalipun aku memohon? Hanya janji dan janji itu tak pernah sekalipun kau tepati. Aku yang minta maaf.”

“Aku masih menyayangimu,”

“Sayang? Haha..” Ryeon berusaha tertawa sesinis mungkin, padahal dalam hatinya terasa sakit setengah mati, “Bukan seperti ini pembuktian yang kuinginkan,”

“Ini semua karena aku kecewa Ryeon-ah, kumohon.” Lee Joon tiba-tiba berdiri dan mencengkeram bahu Ryeon, mengguncang-gucangkan tubuh Ryeon. Secara tidak langsung hal ini semakin membuat Ryeon menatap bekas-bekas suntikan tersebut di tubuhnya. Beberapa saat setelahnya gadis itu memejamkan matanya dan menghirup nafasnya dalam.

“Kecewa pada siapa? Keluargamu? Kau pernah memilikiku, kau ingat saat itu aku bahkan menawarkan diri untuk membantumu. Bahkan demi hidupmu sendiri kau tak bisa berjuang, lalu apa lagi yang harus kuperjuangkan? APA?” di detik itu juga emosi Ryeon pecah, kembali ia menutup matanya lagi dan menarik nafasnya dalam-dalam, “Mian, kuharap ini menjadi percakapan terakhir kita.”

Cepat-cepat Ryeon melepaskan tangan Lee Joon dari bahunya lalu berlari menuju mobilnya, meninggalkan pria itu berdiri seorang diri disana. Setelah masuk ke dalam mobil, kembali gadis itu menangis sejadi-jadinya.

**

“Hyeonmi-ah, temanmu yang bernama Ryeon itu,” Donghae tiba-tiba saja membuka suaranya ketika suasana hening sebelumnya tercipta saat ia tengah fokus menyetir.

Seketika itu juga Hyeonmi menoleh menatap Donghae yang masih berusaha tampak tenang mengemudikan mobilnya, “Ryeon? Wae? Oppa, kau menyukainya?” tanya Hyeonmi kemudian dengan antusias.

Reflek, Donghae seketika itu juga mengurangi laju mobilnya sehingga membuat mereka berdua tiba-tiba terdorong ke depan. Beruntung keduanya menggunakan sabuk pengaman sehingga tidak ada satupun yang terbentur bagian depan mobil, begitupula dengan kondisi jalanan yang saat ini sedikit lengah sehingga tidak terjadi masalah apapun ketika Donghae secara tiba-tiba mengurangi kecepatannya.

“Ige mwoya? Yak, aku bahkan belum selesai mengatakan padamu kalau ternyata dia adalah anak kedua pemilik Kingdom Hotel.” Protes Donghae atas ucapan Hyeonmi.

Detik itu juga kemudian Hyeonmi kembali mengarahkan tubuhnya ke depan, menatap jalanan yang kini telah dilalui mobil Donghae dengan kecepatan normal lagi. “Aku bahkan tak mengetahuinya. Dari mana kau bisa tahu, apa kau benar-benar menyukainya? Yak dia benar-benar wanita yang baik, percayalah.” Puji Hyeonmi lagi.

Sesaat Donghae tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Hyeonmi, seperti seorang mucikari yang tengah berusaha untuk menjajakan anak buahnya.

“Meetingku tadi diadakan di Kingdom Hotel, dan Ryeon yang menyambut kami hari ini, menggantikan kakaknya yang sedang bertugas di Yeonju, bagaimana kau berpikir aku menyukai gadis itu hanya karena hal seperti ini?” kata Donghae kemudian.

“Eeeei… selama ini kau bahkan tidak pernah mau melirik satupun temanku. Sedangkan, Ryeon yang baru beberapa kali kau temui sudah berhasil membuatmu teringat terus menerus padanya, bukankah ini sama seperti kau memiliki perasaan padanya?” goda Hyeonmi lagi.

Saat itu juga Donghae menggerakkan tangan kanannya untuk menjitak pelan puncak kepala Hyeonmi. Gadis itu benar-benar handal sekali jika diminta untuk menggodainya hingga membuat Donghae merasa malu seketika,“Yak, perasaan manusia tidak semudah itu bisa kau artikan.” Kata Donghae.

“Jinjayo? Lalu seperti apa perasaanmu pada Ryeon?” tanya Hyeonmi.

Saat itu juga Donghae hanya diam, tak bisa menjawab pertanyaan adiknya. Entahlah seperti apa perasaannya sesungguhnya pada gadis itu, ia sendiri juga tak bisa mendiskripsikannya. Sejak awal sesungguhnya ia tak memiliki ketertarikan pada gadis itu, akan tetapi setelah menemukan beberapa kekonyolan yang dimiliki Ryeon, mengapa ia jadi memikirkan gadis itu?

 

*TBC*

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: