I Left My Heart In San Francisco

sanfransisco

.

.

Previous Chapter

By: IJaggys

.

“You know, if I were you, I’d have sex with me.”

 

 

.

.

.

San Fransisco

Northern California

California, America.

 

HYUKJAE akan menjemputnya pukul sembilan malam dan setelah itu mereka akan melesat ke Las Vegas untuk bermain monopoly. Monopoly di mesin judi.

Pria itu bukan pemain judi yang baik, dia seperti tokoh utama dalam lagu Waking Up In Vegas milik Katty Perry. Begitu payah dan sangat payah, hanya beberapa hal yang dikuasai Hyukjae dengan baik di dalam Casino; merengkuh tubuh Cheonsa, mengisi burgundy milik wanita itu jika habis dari gelasnya, dan menyemangati wanita psychopath itu ketika bermain dengan uang-uang hasil bayaran dari pembunuhan mereka. Itu adalah ritual mereka dalam melepas penat.

Seharusnya dia dan Hyukjae sudah berada di dalam Raven Black keluaran Mustang di tahun 1968 yang melaju cepat melewati barisan tanah tandus di sekitar California, sambil mendengarkan Radio Star dari Radiohead berkumandang dengan keras disana. Tapi itu tidak bisa terjadi setelah Heechul menelfon bahwa seseorang menyewa jasa design interiornya.

Jika tidak sedang membunuh orang, Han Cheonsa lebih senang menekuni kedok pekerjaanya sebagai seorang designer interior handal yang pernah masuk ke dalam majalah ELLE Home Decor, sebagai designer interior dari Asia yang paling berpengaruh di California. Heechul akan berperan sebagai manajernya yang terobsesi dengan cat rambut berwarna cerah dan kucing berwarna hitam.

Lain halnya dengan Hyukjae, jika dia tidak sedang membunuh orang, dia akan berkedok sebagai barista di sebuah club malam terkenal di California. Alasanya dia memilih pekerjaan ini karena dia bisa bertemu dengan wanita-wanita cantik kapan saja, dan bisa mengajak mereka tidur dengan gampang.  Tipikal pemikiran seorang Lee Hyukjae.

Cheonsa menekan bel yang tertempel di pintu apartemen berwarna abu-abu tua tersebut, dia harus menunggu lebih dari satu menit hingga pintu itu terbuka dan seorang pria tersenyum hangat menyambutnya.

“Jackass.” Itu adalah kalimat sapaan pertama dari wanita psychopath itu untuk klienya hari ini. Lee Donghae berdiri disana dengan senyuman puasnya, tanpa memperdulikan umpatan kasar wanita itu. Dia berhasil membuatnya datang kemari, dan tidak ada Hyukjae disekitarnya, ini akan menyenangkan.

“Apakah Heechul berkerja sama denganmu? Karena jika dia berkerjasama denganmu aku akan membuat kucingnya tidak memiliki kulit.” Ancamnya dengan suara yang terdengar sangat santai untuk seseorang yang sedang melakukan invansi pembunuhan pada kucing.

“Aku tidak berkerja sama denganya. Aku bahkan tidak tahu bahwa kau adalah designer interior yang aku sewa.” Cheonsa tahu bahwa polisi ini berbohong, dilihat dari raut wajahnya Donghae terlihat seperti seorang pria yang telah merancanakan matang-matang bahwa malam ini dia harus berhasil menidurinya.

“Baiklah aku berbohong tentang yang pertama. Tapi aku benar-benar membutuhkan seorang designer interior.” Jelasnya sambil menunjuk ruangan apartemenya yang masih kosong dengan cat putih buram yang tidak pernah diselesaikan oleh pemilik lamanya.

“So you’re moving out from Buffalo?” Lebih terdengar seperti pertanyaan basa-basi dari wanita itu. Bisa dia lihat bagaimana tidak tertariknya wanita itu disini, pikiranya jelas bukan di tempat ini–mungkin dia sedang memikirkan Hyukjae atau mungkin dia sedang memikirkan bagaimana fantastisnya seorang Lee Donghae di atas ranjang.

Dia akan mengambil kesimpulan terakhir dalam analisanya. Donghae berjalan mendekat ke arah Cheonsa yang masih menerawang lantai kayu yang sudah kehilangan warna aslinya karena tidak pernah dibersihkan. “Ya, aku dipindah tugaskan kemari. Mungkin Tuhan menjaga kita agar kita tidak pernah terpisah.” Jika normalnya Cheonsa akan mengeluarkan pisau lipatnya dan merobek penis setiap pria yang menggodanya dengan ujung pisaunya yang bergerigi, kali ini dia terlihat lebih santai dengan tersenyum sugestif ke arah pria itu.

“How bad, I don’t believe in god. So you’d better try again to get me laid, loverboy.” mendengar suara rendah itu begitu menggoda di pendengaranya, dan merasa mendapatkan akses untuk lebih mendekat–Donghae menarik langkahnya lebih panjang hingga kini dia merasakan tubuhnya menyentuh punggung wanita itu.

“Jadi rangkaian seperti apa yang kau inginkan untuk rumahmu? Rumah yang memiliki jeruji besi?” Ucapnya tanpa memperdulikan bahwa kini Donghae secara perlahan menyusupkan kedua tanganya di pinggang Cheonsa dan menariknya ke dalam pelukanya dalam satu hentakan nafas.

Dia bisa merasakan pria itu mengecup lehernya dengan lembut, dan membenamkan wajahnya di leher jenjang miliknya. Dia bisa saja melukai Donghae kapanpun dia mau, dia bisa saja membunuh Donghae dan membakar mayatnya di dalam apartemen ini, tapi dia tidak melakukanya. Dia hanya membiarkan Donghae terus memeluknya dengan erat, seakan inilah hal yang memang dia inginkan sejak dulu.

“I’ve never felt like I was home.”

Bisiknya sebelum melepaskan pelukanya dari tubuh Cheonsa. “Aku besar di panti asuhan, aku tidak tahu siapa orangtuaku. Jadi aku tidak tahu apa itu sebuah rumah.” Suara itu terdengar ringan, namun ringan yang membuat semua orang tahu bahwa semuanya tidak semudah itu.

Cheonsa hanya berdiri terdiam disana. Dia bukan seorang psikolog dia adalah seorang psikopat, jadi dia tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk menenangkan seseorang. “Do you have a family, Han?” Setelah mendengar nama itu diucapkan Cheonsa bisa merasakan sensasi aneh di tubuhnya. Donghae adalah orang pertama yang memanggilnya Han selain Ayahnya. “I don’t answer personal question, just strictly to bussiness.” Jawabnya dingin. Bola mata berwarna samudranya kini terlihat lebih dingin dari sebelumnya.

“Apakah kau pernah merasa bersalah setelah membunuh mereka?”

Kini tatapan samudra itu semakin dingin, seakan Donghae mengundang pertanyaan yang salah. “How do I kill you without looking rude?” Pertanyaan penuh sarkasme dari wanita psychopath itu membuat Donghae tersenyum, dia tidak terasa terancam, dia bahkan menikmati pembicaraanya dengan wanita yang berhasil membuatnya bertingkah seperti remaja awal yang mendapatkan boner pertamanya hanya dengan menatap wajah itu.

“Aku akan mengirimkanmu rancanganya dalam tiga hari. Kau bisa menghubungi Manajerku.” Donghae bisa merasakan kekecewaan karena wanita itu sudah menelfon Hyukjae untuk menjemputnya lebih cepat. Dia memang memikirkan Hyukjae selama ini.

Donghae mengantarnya hingga ke depan pintu, menatap wanita yang di gilainya itu sudah berjalan cepat meninggalkanya. Dia mengentikan langkahnya dan menatap Donghae berserta apartemen kosongnya dengan tidak tertarik.

“When you’re dead inside it’s easier to sleep.” Ucapnya dengan senyuman simpulnya berusaha untuk tetap profesional kepada klienya. Donghae kembali berjalan mendekat ke arahnya, kali ini cukup dekat sehingga dia bisa merasakan nafas hangat pria itu di wajahnya.

“We all have to get through what we’ve started. You can’t escape what is inevitable and that’s how it works.” Bisik Donghae dengan senyuman memabukanya, mencoba peruntunganya sekali lagi untuk mendapatkan wanita psychopath itu di atas ranjang.

“You know, if I were you, I’d have sex with me.” Goda Donghae dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Cheonsa yang masih terdiam membiarkan Donghae menyapukan kecupan halus di sudut bibirnya. “I like your face. It’s honest. It’s real, Han.” Bisiknya sekali lagi sebelum mengecup sudut bibirnya seakan menggoda jiwa terliar yang dimiliki wanita itu.

“I don’t do sex with my client.” Tolaknya sambil mendorong tubuh Donghae menjauh darinya. “Dan juga karena aku bisa memotong penismu ketika kita diatas ranjang. Aku tidak ingin kau bernasib malang.” Ketika menyelesaikan ucapanya dia mengeluarkan pisau lipatnya, tanda bahwa dia tidak bermain dengan ucapanya tadi.

“I am a monster, never forget that.” Bisiknya dengan sebuah kecupan lembut di ujung bibir Donghae sebelum meninggalkanya, membiarkan Donghae terdiam disana menatap punggung Cheonsa yang semakin menjauh dan detik itu dia sadar bahwa—

“Sial, sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadanya.”

.

.

.

-END OF I LEFT MY HEART IN SF-

.

.

.

Based on prompts: “I’m an interior decorator and you hired me to fix up your apartment au.”

P.S: I am totally in love with this series even if no ones want to read this trash. Yeah.

 

LOVE IT. MEAN IT.

ijaggys

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: