Sweet Candy [3/?]

jmm

SWEET CANDY [Part 3]

By: Shin Hyeonmi

https://eunhaewife.wordpress.com/

 

Lee Donghae | Kim Ryeon | Lee Joon

***

The story idea is not mine, I just made the fanfiction version from stories I’ve ever read a few years ago.

***

 

 

 

Di tempat parkir mobil, untuk kesekian kalinya Ryeon menatap Donghae dengan sembunyi-sembunyi. Benar, lelaki itu memang tampan. Donghae juga sosok yang cukup mudah ia ajak mengobrol, meskipun sebenarnya mereka sendiri baru dua kali terlibat obrolan bersama. Dan sesungguhnya hal yang paling penting dari itu semua adalah seandainya Ryeon berniat untuk mencoba lebih dekat dengan pria itu, jalannya telah terbuka cukup lebar, karena dukungan dari Hyeonmi telah sepenuhnya ia dapatkan.

Tapi dari semua itu, yang menjadi masalah adalah perasaannya. Gadis itu masih sering memikirkan tentang Lee Joon, terlebih sejak insiden terakhir, dimana pria itu nekat mendatanginya di hotel. Setampan apapun seorang Lee Donghae, entah mengapa gadis itu masih belum bisa merasakan debaran jantung yang berbeda seperti yang pernah ia rasakan dulu saat bersama dengan Lee Joon. Selama ini mungkin hanya salah-salah tingkah yang sering dilakukan Ryeon ketika berada di dekat Donghae.

Sesungguhnya gadis itu sendiri juga merasa bersalah ketika mengingat janji yang ia buat dengan Hyeonmi. Gadis itu sendiri bahkan tak mengerti, mengapa ia sempat membuat janji seperti itu. Sepertinya saat itu ia hanya asal membuat janji pada Hyeonmi, dan sama sekali tiak memikirkan konsekuensi yang harus ia tanggung setelahnya. Bukankah ini tentang masalah hati? Dan bukan sebuah perkara mudah untuk menyukai seseorang begitu saja. Selain itu sepertinya saat itu ia terlalu terbawa suasana setelah mendengarkan cerita tentang Donghae yang pernah merasa kecewa karena masa lalunya.

Lamunan Ryeon pada akhirnya pecah setelah tiba-tiba terhenti setelah sosok yang sebelumnya ia perhatikan dari dalam mobil itu kini beralih mengetuk kaca jendela mobilnya. Dengan sedikit terkejut gadis itu membuka kaca jendelanya kemudian.

“Kau mau pulang?” tanya Donghae saat itu juga setelah kaca jendela Ryeon terbuka.

“Aku?” Ryeon malah berbalik bertanya, “Ne, kakakku belum kembali dari Yeonju, jadi aku perlu ke hotel untuk mengisi kekosongan.” Jawab Ryeon asal.

Sesungguhnya ia tak memiliki jadwal apapun setelah ini, dan mengatakan bahwa sebentar lagi ia harus pergi ke hotel adalah sebuah kalimat refleks yang tiba-tiba saja melucur dari bibirnya.

“Benarkah?” kata Donghae kemudian menghembuskan nafasnya pelan, “Kupikir kita bisa minum kopi sebentar siang ini, tapi sepertinya kau cukup sibuk?” kata Donghae sedikit kecewa.

Mendengar hal itu Ryeon merasa lega seketika, sepertinya alasan yang ia buat untuk ke hotel tadi benar-benar sesuai. Bukannya ia tak ingin berada satu tempat lagi dengan Donghae, hanya saja ia takut jika terlalu lama mengobrol dengan lelaki itu hal yang tadinya ia harapkan, yaitu menyukai pria ini akan benar-benar terjadi. Sejujurnya ia belum siap jika harus kembali jatuh hati pada lelaki lain ketika masalahnya dengan Lee Joon bahkan belum selesai.

“Yak, Kim Ryeon, apa hobimu adalah melamun?” kata Donghae tiba-tiba sambil menggerakkan tangannya tepat di depan mata Ryeon, membuat gadis itu seketika malu karena kedapatan sedang berkonsentrasi pada hal lain padahal Donghae sedang berbicara dengannya.

Lee Donghae pabo. Seharusnya ia menyadari bahwa alasan dari Ryeon yang secara tiba-tiba melamun itu adalah dirinya sendiri.

“Oh, mianhae Donghae-ssi,”

“Gwenchana, bagaimana dengan besok malam?” tawar Donghae lagi.

Sejenak Ryeon berpikir kembali, mecoba mencari alasan lainnya untuk tidak bertemu dengan Donghae. Pikirannya saat ini lagi masih sedikit kacau dan ia tidak ingin bersama dengan Lee Donghae pikirannya justru akan semakin kacau lagi.

“Mian, ada beberapa tugas kuliah juga yang harus segera ku selesaikan Donghae-ssi, jika ada waktu akan ku hubungi kau,” kata Ryeon lega setelah memaparkan alasannya yang lagi-lagi sebenarnya itu hanyalah karangan Ryeon semata.

Berlawanan dengan Ryeon yang lega setelah mati karena berhasil mengatakan alasannya, Donghae justru terlihat mengernyitkan dahinya. Bukankah Ryeon dan Hyeonmi, adiknya adalah teman stau kelas, lalu jika Ryeon mengatakan ia memiliki banyak tugas kuliah megapa justru yang terlihat pada Hyeonmi akhir-akhir ini sepertinya tidak ada beban kuliah sama sekali.

Ahh, atau memang karena Ryeon adalah mahasiswa cerdas, itulah mengapa gadis itu sangat serius pada tugas-tugasnya, pikir Donghae. Lagipula Ryeon juga merupakan salah satu penerus Kingdom Hotel, jadi wajar jika tuntutan nilainya harus lebih tinggi. Sangat berbeda dengan Hyeonmi, bahkan dipaksa belajarpun gadis itu tidak akan pernah bisa memahami setiap bahan ajarnya dengan mudah. Lain halnya jika Donghae mengajak Hyeonmi untuk pergi berjalan-jalan atau berbelanja beberapa barang branded, pasti kemampuan otak gadis itu akan lebih cepat seratus kali lipat.

“Mian, aku harus segera pergi,”

Segera setalah itu, Ryeon segera menutup kaca mobilnya dan mulai menyalakan mesin, padahal Donghae saat itu masih berada tepat di depan kaca mobil itu. Terpaksa Donghae segera berdiri tegak dan mengambil mundur beberapa langkah karena mobil Ryeon yang akan segera berjalan.

Setelah menjalankan mobilnya, Ryeon sempat melirik sejenak sosok Donghae dari kaca spion mobilnya. Lelaki itu masih berdiri di tempat tadi dengan sedikit termenung, sementara Ryeon seketika itu juga mengembuskan nafasnya lega. Bodoh, kali ini ia benar-benar telah melewatkan chance of a life time dengan menolak ajakan lelaki setampan Lee Donghae.

**

Hyeonmi melemparkan tasnya ke sofa di ruang kerja Donghae sebelum kemudian membiarkan tubuhnya saat itu juga ambruk diatas sofa tersebut. Bibirnya sejak tadi tak berhenti cemberut, tepatnya setelah gadis itu mendengarkan cerita Donghae tentang kejadian tadi siang sepulangnya ia dari kuliah di tempat parkir.

Hyeonmi sama sekali tidak paham mengapa Ryeon justru terkesan menjaga jarak, padahal kakaknya yang selama ini sangat dingin pada perempuan tanpa sadar telah menunjukkan kemajuan.

Sementara Donghae yang saat ini tampak santai dan mulai sibuk dengan pekerjaanya kembali, sesungguhnya mulai merasakan gusar karena Ryeon yang tampaknya benar-benar tidak ingin mengobrol bersamanya lagi. Padahal tujuannya tidak lain hanyalah ingin menambah teman baru, lagipula mengingat latar belakang keluarga Ryeon yang merupakan pemilik Kingdom Group, bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti mereka akan terlibat dalam kerjasama bisnis, dan sepertinya akan lebih mudah jika melakukan kerjasama ketika secara personal mereka telah cukup dekat.

“Argh,” teriak Hyeonmi seketika yang membuat Donghae saat itu juga segera menatap heran pada Hyeonmi.

Tak ada gejala apapun pada gadis itu, akan tetapi tiba-tiba saja ia berteriak seperti orang kesakitan, padahal yang ia lihat tak ada benturan atau apapun pada tubuhnya.

“Yak Hyeonmi-ah, waeyo?” tanyanya.

“Oppa, seharusnya saat Ryeon menolak ajakanmu tadi kau segera ingat padaku, apa aku selama ini terlihat sangat sibuk dengan tugas kuliahku?” protes Hyeonmi, “Dan satu lagi, kuberitahu padamu jika tadi Ryeon hanya membuat alasan, sama sekali tidak ada tugas kuliah yang menyita waktu kami, jadi besok kau harus mengajaknya bertemu dan mengobrol kembali,” lanjut Hyeonmi.

Alis Donghae seketika itu juga terangkat, heran melihat Hyeonmi yang mulai mengomel panjang lebar. Bukankah seharusnya ia yang kecewa karena penolakan Ryeon, tapi mengapa justru Hyeonmi saat ini yang terlihat kecewa.

Selesai mengucapkan semua yang ingin ia ucapkan, saat itu juga Hyeonmi mulai berdiri dan menyambar tasnya. Sejenak ia menatap tajam ke arah Donghae seperti mengancam pria itu untuk benar-benar menuruti perkataannya besok, lalu kemudian ia kembali berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan kerja Donghae.

“Kau mau berjalan-jalan di kantor lagi? Hati-hati sepertinya hari ini Hyukjae datang kemari,” kata Donghae sebelum gadis itu benar-benar keluar dari ruangnnya.

“Ani, aku mau berjalan-jalan di Hongdae saja, aku punya janji dengan sunbae-ku,” jawab Hyeonmi singkat sebelum kemudian ia benar-benar pergi dari ruangan itu.

Donghae hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah laku adiknya itu setiap hari. Pukul berapapun gadis itu pulang kuliah, tetap saja ia akan sampai di rumah malam hari bersamaan dengan Donghae yang pulang kerja.

Biasanya pulang kuliah gadis itu memang ikut Donghae ke kantor jika ia benar-benar tidak memiliki kegiatan, atau ia akan pergi berjalan-jalan sebentar karena letak kantor Donghae yang cukup dengan dengan daerah pertokoan Hongdae. Untuk apa lagi jika bukan melihat-lihat fashion yang saat ini berkembang, selain itu tak jarang pula Hyeonmi meminjam kartu kredit milik Donghae untuk pergi berbelanja barang-barang yang ia inginkan.

Selebihnya jika ia tidak melakukan hal itu, gadis itu akan sibuk dengan kekasih barunya yang merupakan model dan juga aktor yang mulai populer itu. Atau bisa jadi jika tidak bersama dengan kekasihnya maka gadis itu akan sibuk dengan lelaki-lelaki lain kenalannya. Yang pria itu ketahui, sejak berpisah dari Hyukjae, gadis itu mulai berubah, memiliki banyak teman lelaki dan juga sering bergant-ganti kekasih.

**

Three Days Later..

 

Senin pagi, setelah insiden hari jumat ketika Ryeon menolak ajakan Donghae, gadis itu terkejut setengah mati saat melihat Donghae duduk manis di depan gerbang fakultasnya. Donghae tersenyum melihat Ryeon yang tengah berjalan mendekat kearahnya untuk segera masuk ke dalam gedung fakultas.

“Donghae-ssi, waeyo?” tanya Ryeon kikuk.

Saat itu juga Ryeon merasakan seluruh pasang mata mahasiswa fakultasnya yang berada di sekitar sana mulai memandanginya. Apakah ini sesuatu yang salah jika seorang lelaki setampan Donghae tiba-tiba saja berdiri di depan pintu fakulkas hanya untuk menunggu kedatangan Ryeon? Ahh, atau mungkin kebanyakan orang ini salah paham seperti Ryeon dulu, yang mengira bahwa Donghae adalah kekasih Hyeonmi tapi saat ini pria itu justru menemui Ryeon.

“Mmmm,,, aniyo, aku hanya ingin bertanya apa kau ada waktu luang, aku ingin mentraktirmu secangkir kopi,”

“Hah?” saat itu juga Ryeon nampak semakin bingung.

“Em… kau tahu Hyeonmi… selama akhir pekan kemarin gadis itu terus menerus mengomel, katanya tidak ada tugas kuliah apaun yang harus segera kalian selesaikan,”

Mata Ryeon seketika itu juga membulat, dan dia segera mencari-cari sosok Hyeonmi di dalam gedung fakultasnya. Saat itu matanya berhasil menangkap Hyeonmi yang tengah duduk di depan salah satu pintu kelas, namun gadis itu justru sengaja membuang mukanya dan tak menatap balik Ryeon. Ryeon yakin, pasti saat ini gadis itu sedang marah padanya.

“Ahh, tapi sepertinya kau benar-benar sibuk, mian aku terlalu mengganggumu,” kata pria itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tak terasa gatal, “Baiklah, aku harus segera berangkat ke kantor sekarang juga,” lanjut pria itu kemudian dan segera melangkah pergi dari hadapan Ryeon.

Ryeon menghela nafasnya. Gadis itu tahu, janji yang pernah ia buat dengan Hyeonmi adalah janji yang benar-benar konyol namun sekonyol apapun itu tetaplah janji yang harus ia penuhi. Meskipun saat ini ia masih merasa ragu karena teringat mantan kekasihnya, ia sadar kemungkinan pria itu akan segera berubah itu sangat kecil. Proses rehablitasi membutuhkan waktu yang tak singkat, itupun juga membutuhkan kemauan yang kuat dari setiap individu untuk kembali menjadi seseorang yang bersih.

Mungkin Ryeon juga tidak akan dengan mudah bisa menyukai sosok Donghae. Lagipula ini juga hanya sebatas menemani, bukan kencan yang sesungguhnya, kenapa harus menjadi hal yang rumit?

“Rabu malam, apa kau sibuk?” Ryeon berbalik dan menatap Donghae sambil sedikit memamerkan senyumannya pada lelaki itu.

Donghae tersenyum kecil, “It’s okay, perlu ku jemput di hotelmu?” tawar Donghae.

“Aniyo, aku tidak tinggal di hotel. Akan ku kirimkan alamatku padamu,”

**

Lee Jiwon berdiri di depan pintu kamar Joon dengan perasaan yang kacau balau. Ia ragu harus mengetuk pintu kamar kakak lelakinya itu atau tidak. Sudah beberapa hari kakaknya tak pulang, dan kali ini saat pria itu pulang ia bermaksud untuk mengajaknya di acara makan malam keluarga nanti malam. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Joon. Suara Joon menjawab dari dalam, menyuruhnya menunggu sejenak sebelum pria itu membukakan pintu.

“Joon-oppa,,”

“Waeyo?”

“Nanti malam, appa mengajak kita untuk makan malam bersama,”

“Oh,” sahut Joon pendek, “Eomma ikut?”

Jiwon menggeleng pelan, “Hanya kita bertiga, Appa ingin mengenalkanku pada salah satu anak teman bisnisnya,”

Kedua orang tua Joon telah cukup lama bercerai. Alasannya tidak jelas, hanya saja itu yang terbaik daripada mereka berdua tetap hidup satu atap namun setiap hari peperangan tidak pernah berhenti.

Pertengkaran yang dahulu terjadi diantara kedua orangtuanyalah yang membuat Joon pada akhirnya menjadi agresif dan seperti ini. Terlebih lagi kini, ayahnya tengah sibuk mencarikan sosok pendamping untuk Jiwon, adiknya, dengan sosok yang bisa memegang kendali atas bisnisnya nanti.

Seandainya Lee Joon tidak seburuk itu, mungkin ayahnya akan mewariska bisnisnya kepada satu-satunya anak lelaki di keluarganya tersebut, hanya saja karena saat ini kondisinya yang benar-benar buruk itu membuat ayahnya tak berniat melirik Joon sama sekali meskipun ia adalah anak kandungnya.

“Aku yakin Appa tidak mengharapkanku untuk ikut acara makan malam itu,” kata Lee Joon kembali masuk ke dalam kamarnya.

Jiwon mengikuti langkah Joon masuk ke dalam kamarnya. “Aniyo, aku ingin kau datang di acara itu, kau adalah kakakku,” jawab Jiwon.

“Mianhae, aku tak bisa berjanji.”

Sekali lagi Jiwon menghela nafasnya melihat tingkah keras kepala kakaknya. Belum lagi melihat kondisi tubuhnya saat ini yang makin terlihat pucat.

Beruntung dulu Jiwon sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, sehingga ia tidak melihat sendiri bagaimana pertengkaran kedua orang tuanya setiap hari. Tapi berbeda dengan kakaknya yang setiap hari melihat pertengkaran tersebut. Terkadang, gadis itu hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri, jika saja dulu ia tidak egois meninggalkan kakaknya sendirian di rumah itu, mungkin pria itu takkan menjadi seperti ini.

**

“Kim Ryeon, ada hal yang harus kita bicarakan,” Hyeonmi menghalangi Ryeon yang akan segera masuk ke dalam kelasnya, “Hanya sebentar.” tambah Hyeonmi yang melihat wajah Ryeon sedikit enggan menuruti permintaannya.

Ryeon menengok jam tangannya sejenak, melihat sebentar lagi mata kuliah pertamanya akan segera dimulai. Tapi melihat bagaimana saat ini Hyeonmi memohon kepadanya, terpaksa gadis itu menuruti.

Hyeonmi membawa Ryeon menuju sebuah gazebo yang terletak di tengah-tengah taman fakultasnya. Sesampainya disana Hyeonmi duduk di salah satu sisi kursi dan membiarkan Ryeon untuk duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya ia mulai berbicara.

“Tentang permintaanku beberapa hari yang lalu,” kata Hyeonmi setelah Ryeon duduk.

Matilah, bathin Ryeon. Hyeonmi pasti ingin membahas tentang penolakannya pada ajakan Donghae kapan hari, “Mian, Hyeonmi-ah, aku..” Ryeon berusaha menjelaskan.

Yess, I know, karena itulah kita perlu bicara,” potong Hyeonmi lirih.

Ryeon mengerjap seperti baru mendengar Hyeonmi akan mencabut serpihan kayu yang masuk ke dalam jarinya. Tapi benarkah seperti itu? atau mungkin itu hanya feeling yang dirasakan oleh Ryeon.

“Mm.. maksudmu?”

“Aku berniat untuk membatalkan kesepakatan itu, tentang permintaan mendekati Donghae-oppa,” Dan kini Ryeon merasakan Hyeonmi ternyata benar-benar mencabut serpihan kayu tersebut.

“Kau serius?” tanya Ryeon tak percaya masalahnya dengan Donghae bisa selesai dengan semudah ini. Kini ia tak perlu lagi memaksakan dirinya untuk mendekati Donghae. Dan yang paling penting dari itu semua adalah ia tak perlu lagi merasa khawatir dengan kemungkinan mengkhianati Joon.

“Ya. Kau terlihat tertekan. Mian, bukan itu maksudku..” kata Hyeonmi, “Kau tahu kan, permintaanku saat itu karena aku benar-benar suka berteman denganmu, dan sejujurnya awalnya kupikir kalian akan serasi tapi sepertinya itu hanya perasaanku dan kenyataannya benar-benar berbeda,”

Ryeon mendekat pada Hyeonmi, memeluk gadis itu sambil sesekali mengusap punggung Hyeonmi, “Harusnya aku yang minta maaf, karena tak berjuang sedikitpun,”

“Ani, aniyo. Aku yang salah karena meminta hal konyol itu padamu. Seharusnya aku paham bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, seperti aku dan Jongsuk-oppa,” kata Hyeonmi kemudian.

Ryeon melepaskan pelukannya saat itu juga dan menatap ragu wajah Hyeonmi. Kali ini gadis itu tak memasang tampang memelasnya lagi melainkan mulai memberikan senyuman-senyuman tak jelas padanya.

Jika ia mengingat kalimat Hyeonmi sebelumnya bukankah itu seperi mengisyaratkan bahwa hubungan Hyeonmi dan Jongsuk telah kandas, namun mengapa justru gadis itu sama sekali tak terlihat sedih atau sebagainya?

“Aku mendapatkan yang baru,” kata Hyeonmi kemudian, “Junhyung-oppa,” kata gadis itu singkat lalu segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruang kelas mata kuliahnya yang pertama meninggalkan Ryeon yang masih terkejut atas pengakuannya.

Ryeon beberapa kali mengedipkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Hyeonmi. Bukankah baru beberapa hari yang lalu gadis itu mengatakan bahwa ia tertarik pada Junhyung? Lalu mengapa dia bisa secepat itu menggaet lelaki itu, dan lagi megapa cepat sekali bagi Hyeonmi untuk melupakan masa lalunya dan segera beralih ke sosok lain. Seandainya ia juga sosok yang sama seperti Hyeonmi, yang mudah melupakan seseorang di masa lalunya, maka ia ingin dengan mudah melupakan Lee Joon.

**

Sore itu, banyak pasang mata kembali menatap Ryeon, kali ini dengan tatapan sinis. Jika pagi tadi ia dikejutkan dengan Donghae yang menungguinya di depan pintu fakultas, kali ini giliran Joon yang berada di sana. Membuat banyak pasang mata itu menatap tajam ke arah Ryeon, yang mungkin mengira bahwa Ryeon adalah playgirl karena beda orang yang ia temui antara pagi dan sore hari.

“Apa yang kau lakukan disini? Sudah pernah kubilang, aku tak ingin melihatmu lagi. Pulanglah.” Kata gadis itu seketus mungkin.

Dalam hati semua yang dikatakan oleh Ryeon sangat berbeda dengan yang ia rasakan. Sejujurnya ia sangat merindukan lelaki ini. Bagaimana mungkin setelah menjalin hubungan dengan pria ini, ia bisa melupakan semua hal tentang Joon dengan begitu cepat. Bahkan setelah lelaki setampan Lee Donghae berusaha menyusup ke dalam pikirannya, ahh tidak mungkin yang lebih tepat adalah lelaki yang coba disusupkan oleh Hyeonmi.

Pria itu tersenyum lemah, awalnya tadi ia memang tidak ada niatan untuk datang kemari menemui Ryeon. Ia hanya ingin kabur dari adiknya yang terus terusan memintanya untuk hadir dalam acara makan malam yang benar-benar memuakkan itu.

Dan disinilah pelariannya saat ini. Pria itu sempat berjanji dalam hati jika saat ia menemui Ryeon nantinya gadis itu mau berbicara sedikit saja padanya, maka nanti malam ia akan datang ke acara makan malam itu dan berusaha untuk menjaga sikapnya agar tak mengacau di acara itu. Dan ternyata janjinya tadi memang harus ia tepati, karena Ryeon masih mau berbicara dengannya walaupun seketus ini.

“Aku akan tetap disini sampai kau pergi, dan ada satu hal yang ingin ku bicarakan,”

Ryeon menghela nafas. Sesungguhnya sebagian dalam dirinyapun tak tega untuk mengusir pria ini. Bahkan ia ingin memiliki waktu yang lebih untuk sekedar menatap Joon, ia ingin menahan lelaki itu untuk.. tetap disini.

“Asal kau mau berjanji setelah ini takkan muncul lagi di hadapanku,” jawab Ryeon.

“Tergantung,” jawabnya sambil tersenyum paksa, “Tergantung jawabanmu,”

“Jawabanku? Bukankah sejak tadi kau belum mengatakan apapun,”

Ryeon menelan ludanya dengan susah payah. Dia benar-benar merindukan lelaki ini, tapi ia tak sanggup jika harus kembali pada lelaki ini dan melukai hati ayahnya lagi. Bukankah ini berarti jika hatinya juga belum sembuh benar? Tapi Ryeon tahu, Joon bukanlah lelaki yang baik untuknya. Ryeon ingat bagaimana dulu ia melihat jasad tak bernyawa ibunya yang tertabrak oleh mobil pengkonsumsi narkoba, dan pria ini adalah termasuk golongan yang sama dengan orang yang telah membunuh ibunya.

“Aku ingin kembali,” katanya pelan, “Ryeon-ah, kumohon kembalilah padaku,”

Gadis itu melotot. Mengapa pria ini bisa meminta hal seperti itu lagi, padahal saat terakhir kali mereka bertemu ia ingat dengan jelas telah mengatakan tak ingin kembali padanya. kecuali jika lelaki itu mau berubah menjadi lebih baik dan meninggalkan dunianya saat ini.

Mungkin..

Apa mungkin itu berarti bahwa pria ini akan segera lepas dari dunianya saat ini? dan berusaha untuk berubah demi Ryeon? Seandainya itu benar, maka Ryeon akan dengan senang hati kembali padanya.

“Joon-ah, dengarkan baik-baik, aku.. aku..” Ryeon tak tahu harus berkata apa, dadanya terasa sesak, seperti akan meledak karena terlalu kacau perasaannya.

“Ryeon-ah, kumohon, aku tak bisa kehilanganmu,”

Ryeon menutup matanya, berusaha menahan tetes air matanya yang hampir jatuh. Gila, saat ini ia bahkan masih berada di area kampus dan ia tak ingin ada orang lain yang melihatnya menangis disini. Tapi kata-kata yang diucapkan lelaki ini beberapa saat yang lalu, benar-benar berbeda. Ryeon sudah mengenalnya cukup lama, pria itu bukanlah pembual. Tapi saat ini? Pria itu bahkan bisa mengatakan hal itu di depan Ryeon, itu pasti bukanlah hal yang mudah.

“Kau akan berubah?” tanya Ryeon takut-takut.

Pria itu terpaku, lalu menggeleng kecut, “Asal kau janji untuk tetap berada di sampingku, aku janji.”

Ryeon merasakan dirinya seperti cangkang telur yang dilempar ke langit, kemudian melambung tinggi, tapi kemudian ia terjatuh lagi ke bumi. Bahkan berbenturan dengan tanah sehingga pecah. Hancur berantakan.

Mengapa pria ini nekat kembali padahal ia sadar, syarat utama yang diinginkan oleh Ryeon belum bisa ia penuhi.

“Mian,, aku tak bisa,”

“Wae?”

Kenapa? Iya kenapa? Aku juga masih memiliki perasaan yang sama dalamnya denganmu Joon-ah, asalkan kau mau berusaha. Ryeon membatin pahit. Tuhaaaan. Tolong jangan kau persulit hidupku, aku benar-benar tak bisa merasakan sakit hati lagi.

“Ada orang lain,” Kata-kata itu meluncur keluar dari bibir Ryeon begitu saja tanpa ia pikirkan akibatnya sama sekali.

“Gotjimal,” teriak pria itu kencang setelah sebelumnya lelaki itu sempat terpaku beberapa detik. Untung saja saat itu tak ada mahasiswa lain yang sedang berada di sekitar mereka, meskipun Ryeon sempat melihat beberapa orang yang berada di ujung sempat menoleh ke arah mereka.

“Aku tak berbohong,” balas Ryeon ketus.

Ia sudah terlanjur basah dengan kata-katanya, jadi tak ada alasan lain bagi Ryeon untuk melanjutkannya. Jika hanya dengan itu Joon mau menjauhinya, itu artinya ia tak diijinkan untuk ragu-ragu.

“Seperti apa dia?” tanya pria itu pahit.

“Perlukah aku menjelaskannya? kau bukan lagi siapa-siapa lagi,” jawab Ryeon masih mempertahankan keketusannya.

Bukankah benar jika saat ini ia menganngap hubungannya dengan Lee Joon tak ada harapan lagi, jadi untuk apa ia mempertahankan harapan semu?

“Kau takkan bisa menemukan lelaki yang lebih baik dariku,”

“Kata siapa? Semua yang ada padanya jauh lebih baik!”

Lee Joon mendengus, meremehkan, “Dia hanya pelarian. Aku tahu perasaan itu masih ada, sama seperti yang ku rasakan. Tapi appa-mu, oppa-mu, dan semua orang kau kau kenal melarangmu, itulah sebabnya kau memilih untuk ikut memusuhiku,” pria itu menatap Ryeon tajam.

Cepat-cepat Ryeon mengalihkan pandangannya. Sejak dulu, ia tidak akan pernah bisa membalas tatapan tajam yang dimiliki pria ini.

“Apa yang kau tahu tentang dia?” tantang Ryeon.

Senyap. Yang terdengar hanyalah deru kendaraan yang keluar dari area parkir menuju jalan di luar. Setelah itu Lee Joon mulai melangkah pergi dari hadapan Ryeon. Sementara Ryeon merosot lemas di tempat itu juga.

**

“Tak bisakah kau datang dengan penampilan yang lebih baik?” Lee Joon baru saja akan meneguk segelas air putih yang dihidangkan diatas meja makan, namun lagi-lagi pria itu harus mengentikannya karena suara sang ayah tiba-tiba menginterupsi.

Pria itu kemudian tersenyum kecut setelah mendengar ucapan dari sang ayah. Selama ini ia sudah terlalu sering dihina dan diremehkan seperti itu, itulah sebabnya bukan parkara yang sulit lagi baginya untuk mengacuhkan apa yang dia dengarkan.

“Aku datang kesini untuk Jiwon, bukan untuk siapa-siapa,” jawabnya enteng,”Apalagi untuk melihat berapa banyaknya harta yang kau miliki, aku tidak ingin sama sekali,” lanjutnya.

Ayahnya sedikit tertawa mendengar kalimat yang diucapkan oleh Joon. Anak laki-lakinya itu kini benar-benar telah menjadi sosok yang asing, yang benar-benar tidak akan pernah ia masukkan dalam daftar ahli warisnya nanti.

Sementara Joon, telah berusaha setengah mati untuk tetap berada di ruangan tersebut untuk adiknya, akan tetapi ujung-ujungnya ketika kalimat penghinaan tersebut kembali ia dengarkan dari bibir orang yang pernah ia panggil appa tersebut, rasa muaknya semakin lama tak akan bisa ia bendung lagi.

“Baiklah, jika kehadiranku disini memang tidak pernah diharapkan, aku akan pergi.” Katanya sambil berdiri dan segera meninggalkan ruangan tersebut.

Jiwon yang tadinya hanya diam, seketika itu juga mengangkat wajahnya. Berharap kakaknya itu hanya mengatakan bualan dan tak benar-benar pergi dari ruangan tersebut. Akan tetapi faktanya, kakak lelakinya itu benar-benar pergi dari sana, tanpa mengidahkan kembali harapan Jiwon.

**

Two Days Later..

 

Ryeon kembali memungut sebuah jepit rambut berwarna biru tua dari meja riasnya lalu memasangkannya manis pada poni rambut yang ia miliki. Rabu malam, akhirnya datang juga, ketika Ryeon mengiyakan permintaan Donghae untuk minum kopi bersama.

Tak ada hal spesial yang sengaja dipersiapkan Ryeon, semenjak Hyeonmi memutuskan untuk membatalkan perjanjian antara mereka semuanya terasa lebih santai untuk Ryeon. Saat berkomunikasi dengan Donghae melalui ponselpun semuanya terasa mengalir begitu saja, tidak ada hal-hal yang coba Ryeon buat-buat seperti dahulu ketika masih terikat perjanjian itu dengan Hyeonmi.

Sesaat gadis itu menoleh pada jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul tujuh, mungkin sebentar lagi Donghae akan sampai. Diraihnya kemudian salah satu tas yang dia miliki, lalu mulai memasukkan beberapa perlengkapan yang ia butuhkan seperti dompet, sisir rambut, parfum dan juga bedak ke dalam tas tersebut. Setelah semuanya masuk, kembali ia berdiri dan merapikan dandanannya sekali lagi sebelum kemudian ia melangkah keluar kamar.

“Ryeon-ah, kau mau kemana?” tanya seorang wanita sesaat setelah Ryeon menutup pintu kamarnya. Ryeon tersenyum tipis sambil menatap wanita itu, Park Sojin, kakak iparnya yang artinya adalah istri dari Kim Jongwoon kakak lelakinya.

“Aku ada janji dengan temanku eonni,”

“Sepertinya ada yang berbeda dengan penampilanmu hari ini? Apa seorang lelaki?” tanya kakak iparnya lagi.

“Ani, dia teman biasa, sudahlah aku keluar dulu, anyyeong.” Kata Ryeon cepat-cepat sambil menghambur keluar rumah tersebut.

Dengan langkah yang sedikit lebih cepat, gadis itu segera masuk ke dalam lift dan mulai menekan angka paling bawah dari bangunan apartemen tersebut. Di detik itu juga ia menghembuskan nafasnya lega karena telah berhasil keluar dari introgasi kakak iparnya, meskipun ia yakin nanti ketika pulang ia pasti akan mendapatkan introgasi lagi dari kakak iparnya, atau mungkin tidak hanya Sojin yang menginterogasinya nanti, akan tetapi Jongwoon juga.

Ahh lupakan biarkan saja, Ryeon tak mau terlalu mengambil pusing apa yang akan terjadi nanti. Sesampainya ia di lantai bawah, kembali ia melangkah keluar, menuju pelataran gedung apartemen di depan. Dan ternyata sesampainya ia disana ia dapat dengan cepat menemukan mobil Donghae yang telah berhenti di depan.

“Kau sudah lama sampai?” tanya Ryeon setelah masuk ke dalam mobil Donghae.

“Ani baru saja aku mematikan mesin mobilku, dan kulihat kau keluar dari gedung apartemen,” jawab Donghae sambil memberikan senyumnya pada Ryeon.

Demi apapun, seandainya bisa Ryeon berkata pada Donghae, ia ingin pria ini menghentikan senyumannya yang mematikan ini. Meskipun Ryeon telah merasakan lebih nyaman saat ini dengan Donghae karena pembatalan perjanjiannya dengan Hyeonmi, tapi tetap saja jika pria ini memberikan senyum seperti ini wanita mana yang akan bisa menolak pesonanya?

“Jadi kau tinggal disini?” tanya Donghae kemudian mulai basa-basi.

“Ani, kakakku yang tinggal disini,” jawab Ryeon cepat, “Aku tinggal bersama appa di rumah kami, di Apgujeong, tapi karena saat ini appa sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis, jadi aku menumpang tinggal di rumah kakakku,” jelas Ryeon.

Ryeon diam, setelah menjelaskan pada Donghae. Sementara Donghae tampak manggut-manggut setelah mendengarkan penjelasan Ryeon tersebut masih sambil berfokus mengemudikan mobilnya menembus jalanan malam Seoul.

Sesungguhnya ada banyak hal yang tadinya ingin Donghae tanyakan pada Ryeon, tapi tiba-tiba rasanya semua itu menguap begitu saja. Entah apa sebabnya, tiba-tiba saja pikiran Donghae saat itu juga kosong dan tak tahu harus mengajak Ryeon mengobrol apa lagi. Padahal ini baru saja mereka bertemu, belum sampai lima menit, lalu bagaimana nanti Donghae akan menghabiskan waktunya di coffe shop jika saat ini ia bahkan kehabisan topik perbincangan.

“Em.. Ryeon-ah, apa kau sudah punya kekasih?” satu pertanyaan tersebut tiba-tiba meluncur dari bibir Donghae.

“Ne?”

“Kau.. sudah punya kekasih?”

Ryeon kembali diam, menatap Donghae lurus-lurus yang tengah mengemudikan mobilnya. Mengapa tiba-tiba Donghae bertanya hal itu padanya? Mungkinkah.. Donghae menyukainya? Pikir Ryeon panik. Oh tidak, tidak, cepat-cepat Ryeon menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pemikirannya tersebut.

“Mm.. wae?” tanya Ryeon balik, pernah suatu hari Ryeon membaca dari majalah tentang bagaimana tindakan yang perlu diambil seorang wanita jika mendapatkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, menanyakan kembali.

“Ani, hanya ingin tau. Mian jika membuatmu tersinggung, aku tidak bermaksud apa-apa,” jawab Donghae cepat sambil satu tangannya berusaha menggaruk rambutnya yang sesungguhnya sama sekali tidak gatal.

“Ani, aku tak memiliki kekasih,” bibir Ryeon menjawab tanpa terkendali. Dan seketika itu juga gadis itu menunduk merasakan panas di wajahnya karena malu. Ryeon sadar bibirnya baru saja membuat sebuah kesalahan karena lepas kontrol.

“Berapa lama?”

“Hampir tiga bulan.” jawab Ryeon, sementara tangannya mulai memainkan kuku-kuku jemarinya sendiri, dan berkali-kali gadis itu coba mengalihkan pandangannya menatap jalanan luar.

“Berapa lama hubungan kalian?”

“Satu tahun… mungkin sekitar setahun?”

Donghae kembali manggut-manggut, dan Ryeon mulai merutuki dirinya sendiri, mengapa hal yang mereka bicarakan saat ini berubah menjadi sesi tanya jawab seperti ini. Dan, bodohnya mengapa Ryeon tak bisa diam saja, berhenti menjawab pertanyaan Donghae.

“Boleh kutahu.. kenapa kalian berpisah?”

Seketika itu juga Ryeon merasakan ada yang mengiris bagian dalam hatinya saat Donghae menanyakan hal tersebut. Mengingat Joon yang selalu membuat Ryeon merasa terbelah menjadi dua dalam keadaan hidup-hidup. Sakit dan kecewa, karena ia ternyata tak pernah dianggap lebih daripada dunia yang saat ini dipilih oleh pria itu. Rasa sakitnya, seolah kembali seketika itu juga. Sakit dan perih, selalu dirasakan gadis itu ketika mengingat masa lalunya tersebut.

“Mian, mianhae, aku sudah lancang. Tidak seharusnya aku bertanya hal pribadi seperti itu,” Donghae seperti baru sadar dari hipnotis, dan segera fokus kembali pada jalanan di depannya, “Temanku merekomendasikan sebuah cafe yang cukup bagus di daerah Yeouido, kau mau mencoba kesana?” Lanjut pria itu.

Jika Donghae telah lebih dahulu sadar dari hipnotisnya, saat itu giliran Ryeon yang tersadar, “Ne.” Jawab gadis itu singkat. Yeouido bukanlah tempat yang asing lagi untuk Ryeon kunjungi, semasa ia masih bersama dengan Lee Joon dulu, mereka sering pergi kesana, menghabiskan waktu di beberapa cafe yang ada disana, dan juga sering berjalan-jalan ke Sungai Han.

Jawaban singkat yang ditunjukkan oleh Ryeon tadi sudah merupakan salah satu pertanda bahwa gadis itu telah menarik garis batas, dan memutuskan Donghae harus tetap berdiri di belakang gadis tersebut. Bukankah perjanjiannya dengan Hyeonmi telah berakhir, itu artinya ia tak perlu terlalu dekat dengan Donghae dan harus berusaha keras untuk menyukai pria itu. Ia tak ingin mengecewakan perasaan Lee Joon nantinya jika pria itu benar-benar memutuskan untuk berubah, meskipun Ryeon tahu sendiri sulit bagi pria itu untuk berubah.

Dan mereka akhirnya sama sekali tak saling bicara sampai kini mobil yang membawanya telah berhenti di depan sebuah coffe shop besar yang ada di daerah Yeouido. Ryeon menarik nafasnya dalam-dalam ketika melihat cafe tersebut. Dari semua cafe yang ada di Yeouido, mengapa harus tempat ini yang mereka kunjungi. Tempat yang paling sering dikunjungi oleh Ryeon dan Joon dulu ketika mereka masih bersama.

Sampai Donghae turun terlebih dahulu dari mobil, dan membukakan pintu di samping Ryeon, gadis itu baru sadar dari lamunannya kembali. Awalnya ia ragu untuk turun dari mobil tersebut, namun mengingat janjinya pada Donghae sejak hari senin tersebut akhirnya membuat gadis itu memutuskan untuk turun dari dalam mobil Donghae.

Detakan jantungnya tiba-tiba berubah lebih cepat dari biasanya, seperti Ryeon bisa menebak sesuatu hal diluar pikirannya akan segera terjadi. Namun Donghae yang tengah berjalan beberapa sentimeter di depannya membuat Ryeon tak bisa berkutik dan terpaksa mengikuti pria itu dari belakang.

Dan benar saja, saat mereka baru saja akan masuk lewat sebuah pintu kaca di cafe tersebut, kedua mata Ryeon langsung dapat menatap sosok Joon dengan salah seorang temannya yang akan segera keluar dari cafe tersebut. Seketika itu juga Ryeon mengentikan langkahnya, membuat Donghae saat itu juga berbalik dan menatap heran pada Ryeon. Gadis itu tak bisa menutupi wajahnya yang pucat pasi. Tas jinjing yang tadi digenggamnya nyaris meluncur turun ke tanah jika Donghae tidak dengan reflek mengambilnya.

“Wae?” tanya Donghae cemas.

“Disana, pria itu..” Ryeon menunduk, bulu kuduknya berdiri dan dia sama sekali tak berani menatap kembali sosok yang tengah berjalan keluar itu lagi.

Saat itu juga Donghae menoleh ke dalam, dan melihat seorang pria yang tengah keluar dan membuka pintu cafe tersebut. Pria itu berhenti saat itu juga ketika melihat sosok Ryeon yang tengah berdiri mematung di depan bersama dengan Donghae.

“Mantan kekasihmu?” tanya Donghae lirih, bisa dipastikan hanya mereka berdua yang dapat mendengarkan apa yang dikatakan Donghae saat itu.

“Kim Ryeon?”

Belum sempat Ryeon menjawab pertanyaan Donghae, seorang pria yang bersama dengan Lee Joon memanggilnya terlebih dahulu. Ryeon mengangkat pandangannya, dan menemukan Lee Joon yang juga cukup terkejut melihat kehadirannya di tempat tersebut. Saat itu juga, tanpa perlu mendengar jawaban Ryeon, Donghae bisa memastikan bahwa salah satu dari pria ini memang mantan kekasih dari Kim Ryeon.

Ryeon sekuat tenaga menunjukkan ekspresi baik-baik saja, dengan sedikit kaku gadis itu mencoba tersenyum, “Ne-neh.. Dongwoon-ssi.. long time no see..” jawabnya kaku. Son Dongwoon, adalah salah satu teman Lee Joon yang ia kenal, dan seingat Ryeon pria itu sebelumnya juga sempat menggunakan obat-obatan yang sama seperti yang sering dikonsumsi oleh Joon. Tapi jika melihat kondisi Dongwoon saat ini, sepertinya cukup banyak perubahan drastis yang ada pada pria itu sekarang sejak terakhir kali yang Ryeon lihat. Dongwoon yang sekarang terlihat lebih gemuk, dan lebih dari itu semua ada semangat hidup yang sangat terlihat dari pria itu, berbeda dengan Lee Joon.

Pandangannya kemudian beralih pada Lee Joon, semakin hari tubuhnya terlihat semakin kurus, kedua matanyapun terlihat cekung, dan lebih dari itu tulang pipinya bahkan sangat terlihat menonjol. Rasanya ia tak bisa menahan diri untuk melihat lipatan siku Joon, masih banyak bekas suntika disana yang membuatnya bergidik ngeri, “Mmm.. Lee Joon-ah.” Sapa Ryeon.

Tersadar pada sosok Donghae yang saat itu juga berdiri di hadapannya, seketika itu juga Ryeon mengamitkan tangannya di lengan Donghae. Berusaha memperlihatkan hal tersebut di depan kedua mata Lee Joon.

“Nugu?” Tanya Joon tanpa basa-basi, tatapannya saat itu menuju pada kaitan tangan Ryeon yang berada di lengan Donghae.

“Dia..” Ryeon terbata, tapi sama sekali tak berusaha melepaskan kaitan tangannya di lengan Donghae. Hanya satu yang ia rasakan saat mengamit lengan Donghae, aman, dan dia takut jika melepaskan tangannya maka ia akan jatuh lemas karena berada di hadapan Joon dengan kondisi seperti ini, “Kenalkan, Lee Donghae, kekasihku.”

Saat itu juga Joon seperti seorang pasien yang baru saja mendengar vonis mematikan dari dokternya. Sementara Donghae menoleh kearah Ryeon dengan tatapan heran, tak mengerti, namun pada detik berikutnya pria itu mengerti drama apa yang kini tengah dimainkan oleh Kim Ryeon.

Lain halnya dengan Ryeon yang merasa seperti berada diujung tebing, siap menerjunkan dirinya ke jurang yang terhampar di hadapannya. Apa yang baru saja ia katakan? Mengapa kata-kata itu terucap begitu saja? Apakah hal itu adalah sebuah dorongan emosinya, yang merasa marah karena melihat Joon masih tetap pada kondisinya terakhir kali mereka bertemu? Apa itu pengaruh kekecewaannya yang sampai detik ini masih belum melihat usaha pria itu sama sekali? Benar, gadis itu marah dan kecewa, dan kali ini ia ingin Joon juga merasakan bagaimana marahnya ia.

“Donghae-ah, kenalkan ini Lee Joon dan juga Dongwoon. Joon-ah, Dongwoon-ah, kenalkan dia Donghae.” Kata Ryeon berusaha menekankan intonasi suaranya menjadi sedatar mungkin.

Donghae mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dongwoon dan juga Joon, namun ketika tangan itu ia ulurkan pada mantan kekasih Ryeon tersebut pria itu tetap diam, sampai akhirnya Donghae menarik kembali tangannya. Saat itu juga Ryeon tercekat melihat bagaimana respon Joon.

“Mianhae, Kim Ryeon. Mianhae.”

Dan Lee Joon saat itu juga berlalu pergi dari sana disusul oleh Dongwoon yang mengikutinya dari belakang dengan sedikit bingung harus berbuat apa melihat kejadian itu tadi, mereka meninggalkan Ryeon dan Donghae yang masih diam tanpa tahu harus berkata apa.

**

“Mian,” kata Ryeon pada Donghae.

Kali ini mereka berdua duduk berdampingan di salah satu kursi kayu yang ada di pinggir Sunghai Han. Setelah apa yang terjadi tadi di depan cafe, Ryeon tampak begitu shock, sehingga Donghae memutuskan untuk membatalkan keinginannya mengajak Ryeon masuk ke dalam, dan membawa gadis itu ke tempat yang lebih sepi untuk menenangkan diri, Sunghai Han.

“Gwenchana, aku hanya sedikit terkejut tadi.”

Ryeon mendongak, menoleh menatap Donghae, merasa sangat berterimakasih. Pria ini benar-benar baik, bahkan dia tak terlihat marah saat Ryeon mangaku-aku dirinya adalah kekasih Donghae tadi. Padahal selama ini gadis itu sudah cukup sering membuat Donghae tersinggung dengan kelakuannya yang tiba-tiba menjauh atau menolak ajakan Donghae.

Entah mengapa, saat ini tiba-tiba saja Ryeon merasa ia harus melepaskan bebannya dengan bercerita pada orang lain bagaimana perasaannya saat ini yang kacau pada mantan kekasihnya. Sepertinya ia sudah tak sangup lagi untuk memendam semua ini sendiri lagi, dan ia butuh tempat untuk berbagi.

“Pria itu tadi, Lee Joon, kami putus karena keluargaku menentang hubungan kami,” jelas Ryeon lirih.

Alis Donghae terangkat sedikit. Hanya itu, selain itu ia tak menunjukkan tanda-tanda keterkejutannya yang lain.

“Kau ingat aku pernah bercerita tentang penyebab eomma-ku meninggal?” Ryeon kembali menatap Donghae sejenak, lalu berpaling menatap aliran air Sunghai Han di depannya, “Eomma meninggal karena mobilnya dihantam oleh seorang pengemudi mabuk, saat itu setelah polisi menyelidiki lebih lanjut ternyata dia berada dalam pengaruh obat-obatan terlarang. Dan pria itu, Lee Joon, saat kami masih bersama tiba-tiba saja ia memutuskan untuk menggunakan obat-obatan sejenis itu.”

“Joon selama ini hidup dalam kekacauan keluarganya, dan pilihan untuk menjadi seperti ini adalah rasa kecewa pada keluarganya. Mabuk-mabukan, membuat kekacauan, dan berkelahi adalah apa yang dia lakukan setiap hati. Melihatnya dengan kondisi babak belur setiap hari, luka memar, dan bahkan bekas-bekas suntikan ibat terlarang di sekujur tubuhnya bukanlah hal yang baru lagi untukku,” Ryeon masih berusaha keras melanjutkan ceritanya pada Donghae meskipun pada akhirnya nafasnya mulai tersengal karena tak dapat menahan air matanya yang bahkan akan terjatuh, “Itu sebabnya appa sangat menentang hubungan kami, appa bahkan memintaku bersumpah di depan makan eomma untuk meninggalkan lelaki itu dan tak kembali padanya sebelum dia benar-benar bersih dari pengaruh obat-obatan itu,”

Saat itu juga Ryeon menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya pecah saat mengingat bagaimana saat itu ia diseret oleh ayahnya ke makam ibunya untuk melakukan sumpah.

Namun dari semua itu yang paling tak bisa Ryeon terima adalah mengapa air matanya pecah disini, di depan seorang pria setampan Lee Donghae. Sekali lagi, Kim Ryeon kau telah menjatuhkan harga dirimu di depan pria ini.

Melihat hal itu, Donghae justru mendekat pada Ryeon, merangkulkan tangan kirinya di bahu gadis itu, lalu memeluknya dari samping. Melihat seorang wanita menangis seperti ini, mau tak mau membuat Donghae pada akhirnya merasa iba, terlebih lagi ini menyangkut perkara hati. Berkali-kali pria itu menepuk pelan punggung Ryeon, berusaha membuat gadis itu merasa lebih baik.

“Sudah beberapa kali dia menemuiku dan mengatakan ingin kembali, dan aku selalu menolaknya. Sampai yang terakhir kalinya dia datang, dan terpaksa kukatakan bahwa aku telah memiliki kekasih. Itu hanya alasan yang kubuat, saat itu ia terlihat marah. Dan tadi, saat melihat pria itu lagi, aku merasa marah, kecewa karena melihatnya masih sama tak ada perubahan. Sejujurnya apa yang ku katakan tadi benar-benar diluar kendaliku. Mian, aku terpaksa berbohong dengan mengatakan kau adalah kekasihku, sungguh semua itu benar-benar diluar kendaliku,”

Donghae saat itu juga melepaskan pelukannya pada tubuh Ryeon, dan menatap dalam manik-manik mata Ryeon. Tangannya yang tadi memeluk tubuh gadis itu, kini beralih menangkup wajah Ryeon dan membuat gadis itu balik menatap kedua matanya.

“Gwenchana,” kata Donghae pelan, “Bukankah kita juga tak mengetahui jika pria itu ada disana?” lanjutnya.

Melihat Donghae dalam jarak yang sedemikian dekat tersebut tiba-tiba saja membuat Ryeon salah tingkah. Dengan cepat gadis itu melepaskan tangkuan tangan Donghae padanya, dan mengalihkan pandangnnya kearah lain selain pria itu.

“Sejujurnya aku benar-benar merasa buruk di depanmu, terlebih lagi saat ini kau harus mendengarkaku, pasti membosankan kan?,”

Pria itu kembali tersenyum, meluruskan pandangannya pada aliran sungai Han dan mengambil nafasnya berat kemudian, “Ryeon-ah, dengarkan aku. Aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Dan justru aku merasa tersanjung karena kau percaya dan mau bercerita padaku. Tidak semua orang mau terbuka tentang masa lalunya seperti kau bercerita padaku tentang masa lalumu kan?” tanya Donghae lagi sambil kini kembali menatap Ryeon dengan senyuman yang mengukir di bibirnya.

“Gomapta,” jawab Ryeon pelan, “Boleh kuminta satu hal padamu? Tolong rahasiakan hal ini dari siapapun, termasuk Hyeonmi.”

Donghae mengangguk, “You have my word,”

**

Lee Joon menarik lebih keras lagi gas mobilnya dengan kencang sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak peduli lagi dengan bagaimana tadi temannya, Dongwoon apakah masih bersama dengan Ryeon ataukah ikut pulang mengambil mobilnya dan lalu bergegas pergi. Perasaannya benar-benar hancur, campur aduk tak karuan. Apa yang dikatakan Ryeon sebelumnya bukanlah sebuah kebohongan, gadis itu telah benar-benar memiliki kekasih.

Pria itu sempurna, ketika Joon mengingat kembali sosok itu, sepertinya ada sebuah pukulan dahsyat di dadanya. Pria itu sehat, tegap, dan sepertinya benar-benar mampu melindungi Ryeon, itulah yang dibutuhkan gadis itu, tak seperti dirinya yang ringkih karena obat-obatan itu. Ia mungkin juga tak memiliki masa depan.

Sakit memang rasanya, tapi pria itu mengakui dari lubuk hatinya yang paling dalam jika sosok Donghae memang lebih pantas untuk Ryeon daripada dirinya. Tapi rasa sakit yang ia rasakan saat ini seolah datang bertubi-tubi menyerbunya, benar-benar kejam. Ia masih begitu menyayangi gadis itu, meskipun sebaik apapun kekasihnya saat ini, ia masih belum bisa merelakan hatinya.

Pria itu sampai di rumah dan memakirkan moblnya sembarangan di carport. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnyasetelah itu juga, dan kemudian mengunci rapat pintu kamar itu. di dalam, ia membuka lemarinya dengan cepat, mencari barang yang barusaja ia beli siang tadi. Saat ini ia benar-benar membutuhkan barang tersebut, lebih dari sebelum-sebelumnya.

 

*TBC*

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: