Only You

km

Only You

Author: elizeminrin

Kim Ryeowook & Shin Minrin | Romance, Friendship, Memories |  PG-13 |Oneshot

***

“Acara ini juga sekaligus pertunangan puteriku dan putera Tuan Kim.” Tuan Shin mengumumkan tujuan awal jamuan makan malam dengan rekan-rekan bisnisnya.

“Puteriku Shin Minrin dan Kim Ryeowook.”

Yeoja bernama Shin Minrin yang berdiri agak di belakang seketika membelalakan matanya terkejut. Dia bertunangan dengan Kim Ryeowook? Ada apa ini? Tidak ada yang memberitahunya tentang pertunangan ini. Semua mata yang tadi tertuju pada ayahnya yang berbicara di depan langsung menatapnya dan itu benar-benar membuatnya salah tingkah.

Untuk sesaat Minrin masih terpaku di tempatnya sampai sang kakak yang berdiri di sampingnya menyikut lengannya pelan. Karena tidak respon, Ranran kakak perempuan Minrin langsung menggandeng adiknya itu berjalan ke depan.

Shin Minrin puteri bungsu keluarga Shin itu menatap kedua orangtuanya terkejut setelah apa yang appa nya tadi katakan. Tunangan? Dengan namja yang bahkan tidak dia kenal. Ini pasti salah, pikirnya. Bagaimana mungkin appanya menyuruh bertunangan dengan anak rekan kerjanya. Astaga…apa ini bagian dari bisnis?

“Eomma..apa maksudnya ini?” tanyanya pada Nyonya Shin.

Wanita berusia 45 nan tahun itu hanya tersenyum sembari member isyarat pada puterinya untuk berdiri di samping appanya. Gadis itu akhirnya tidak punya pilihan, apalagi ketika dilihatnya semua orang menatapnya. Dia bisa melihat seorang namja yang juga berdiri di samping tuan Kim. Tapi sama sekali tidak ada minat bagi Minrin untuk bertatap muka dengannya.

Kejadian itu berlangsung sangat singkat. Dan dalam sekejap dia sudah menjadi tunangan namja bernama Kim Ryeowook yang sama sekali tidak dia kenal. Oh ayolah…bertemu sebelumnya saja belum.

“Kenapa appa melakukan ini?” Tanya Minrin dingin ketika acara itu sudah berakhir. Mereka kini tengah duduk di ruang keluarga.

“Minrin-ya, semua sudah direncanakan. Mau tidak mau kau sudah bertunangan dengannya.” Nyonya Shin menjelaskan dengan sabar.

“Shirro, eomma..aku tidak mau!!” balas Minrin tegas. Demi apapun dia tidak suka diperlakukan seperti ini. Apa mereka tidak tahu, kalau dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya? Aigoo.

“Kau akan mengerti alasannya nanti.” Ucap Tuan Shin kali ini.

Minrin hanya mendengus kesal, apalagi ketika kedua orang tuanya itu langsung berlalu meninggalnya sendiri. Ini benar-benar sudah gila. Tak henti-hentinya Minrin bersungut-sungut kesal. Kenapa harus dia? kalau ini bisnis bukannya masih ada eonnienya?

Selama 20 tahun hidupnya baru kali ini orang tuanya menentukan arah jalan hidupnya. Bukankah selama ini mereka selalu menghormati keputusannya, tapi sekarang penolakannya saja tidak mereka dengar. Kenapa juga mereka melakukan ini? Oh jangan bilang bisnis keluarganya sedang tidak baik, lalu dia yang dikorbankan untuk menikah dengan anak rekan kerja ayahnya untuk menyelamatkan perusahaan seperti di cerita drama.

Tidak Minrin-ya.

Minrin menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Bagaimanapun juga dia harus mencari cara agar tidak akan ada pertunangan dalam waktu dekat ini termasuk pernikahan.

“Yak, waegure Minrin-ya?” Ranran, kakak perempuan yang hanya satu tahun lebih tua darinya itu entah dari mana sudah berdiri di belakangnya, menepuk pundaknya keras.

Minrin menolehkan kepalanya masih dengan suasana kesal di hatinya. “Eonnie-ya, bisa tidak kau tidak mengagetkanku?” teriaknya tambah frustasi dan kesal.

Ranran yang sepertinya sudah tahu apa yang tengah adiknya itu pikirkan hanya tersenyum. Tapi di saat seperti inilah dia paling senang menggoda adiknya ini. “Chukkae atas pertunanganmu” ucapnya.

Minrin melirik eonnienya itu tajam. “Yaisshh, aku heran kenapa tidak eonnie saja yang dijodohkan dengan namja itu.” gerutunya. Dia benar-benar berharap eonnie nya ini yang akan berada di posisinya.

“Dan membiarkan setan itu membunuhku? Oh..andweyo, saeng..” Ranran menolaknya dengan halus. Dia duduk di samping adiknya itu, membolak-balikkan majalah dengan malas.

Ya bagaimanapun juga Minrin tahu eonninya itu sudah mempunyai Cho Kyuhyun. Meskipun bagi Minrin Kyuhyun itu benar-benar seperti setan. Benar-benar menyebalkan. Satu hal yang membingungkannya adalah bagaimana bisa eonnienya itu jatuh cinta pada makhluk menyeramkan seperti itu.

“Eonnie-ya, kenapa kau bisa menyukai orang seperti itu? maksudku, kau mungkin akan lebih baik jika bersama orang bernama Kim Ryeowook itu.” Kata Minrin tapi Ranran langsung menggeleng dengan tegas.

“Kau akan tahu kalau kau sudah menemukan takdirmu.” Ucap Ranran serius, yang sedikit membuat Minrin bergidik ngeri.

Takdir? Cinta? Astaga…jadi bagi eonnienya, Cho Kyuhyun itu takdirnya?

Ranran tersenyum manis dan beranjak dari tempat duduknya. Dia menepuk pundak adiknya itu pelan “Kau akan merasa beruntung saat menemukan takdirmu.” Ucapnya dengan nada serius

Minrin hanya mengamati punggung kakaknya itu yang menghilang di balik pintu dengan pikiran yang semakin kacau. Takdir? Apa dia masih mempunyai takdir itu? Dia pikir takdir itu akan datang, takdirnya dengan orang misterius yang dia temui tiga belas tahun yang lalu di rumah sakit bukannya bersama orang yang sama sekali tidak dia kenal.

 

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Udara benar-benar terasa menyejukan, karena ini sudah memasuki musim gugur yang artinya udara tidak hanya menyejukkan tapi sudah mulai agak dingin. Minrin mengeratkan mantelnya dan berjalan dengan agak malas ke sebuah café kecil di ujung jalan. Hari ini dia harus menyelesaikan semuanya. Menemui namja bernama Kim Ryeowook itu dan mengatakan dia tidak bisa meneruskan pertunangan ini.

Sesampainya di sana dia menyadari tidak terlalu banyak orang yang datang. Minrin mengambil tempat duduk di dekat jendela. Beberapa menit kemudian satu persatu pengunjung datang. Mungkin untuk makan siang, pikirnya. Apalagi ini memang sudah waktunya makan siang. Detik jarum jam terus berlalu, tapi tidak terlihat tanda-tanda namja itu akan datang. Minrin hampir menyerah dan berpikir untuk pulang dari pada menunggu, hingga akhirnya seorang namja bertopi sudah berdiri di depannya.

Minrin mendongakkan kepalanya. “Annyonghaeseo. Minhaeyo aku membuatmu menunggu.” Ucapnya.

Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Namja itu tersenyum manis pada Minrin. DIa baru menyadarinya sekarang atau entah apa yang merasuki pikirannya hingga dia berpikir orang ini memiliki senyum yang menenangkan. Untuk sesaat Minrin tidak berkedip ketika disuguhi wajah polos milik namja di depannya ini. Orang ini meski ada sesuatu yang membuat Minrin mengakui dia lumayan, tapi tetap saja hatinya tidak akan tergoyahkan hanya sekali pandang bukan?

Minrin menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menghilangkan pikiran konyolnya. “Ah ne Annyonghaeseo.” Balas Minrin sedikit gugup.

Andweyo, Minrin-ya.

Minrin menahan dirinya kuat-kuat. Dia mempersilahkan orang itu duduk. Dan yang terjadi selanjutnya adalah percakapan diantara keduanya. Dan dari percakapan itu Minrin tahu Kim Ryeowook adalah seorang mahasiswa semester akhir di Inha University. Tidak seperti Minrin yang cuek, dingin dan tidak peduli dengan penampilan, melihat namja itu bisa dipastikan kepribadian mereka berdua bertolak belakang. Orang ini jelas sangat memperhatikan penampilan. Diam-diam Minrin tersenyum menyadarinya, karena ini berarti dia menemukan satu alasan untuk menolak pertunangan ini.

“Apa kau senang dengan perjodohan ini, Ryeowook-ssi?” tanya Minrin akhirnya. ini sudah mencapai point terpenting. Jika orang ini menolak, maka tidak ada alasan lain untuk melanjutkan pertunangan.

Ryeowook terlihat berpikir.”Aku tidak pernah keberatan dengan rencana orang tuaku.” Ucapnya santai yang langsung membuat Minrin lemas.

Orang ini benar-benar tidak membantu. Minrin menahan diri untuk tidak berteriak meski dalam hatinya dia sudah ingin melakukannya di depan namja ini. “Apa artinya kau setuju?”

“Waey? Apa kau tidak suka?” Ryeowook balik bertanya.

Minrin menggeleng cepat. “Eo..dan kau bicara seperti tadi semakin mempersulitku menolak perjodohan ini.” gerutunya.

“Kenapa kau setuju saja? Kau tidak merasa orang tuamu terlalu jauh mengurusi kehidupan pribadimu? Maksudku kau tidak mau menikah dengan orang yang kau cintai?” lajutnya sedikit dengan nada tinggi.

Ryeowook tertawa kecil mendengarnya. Dan jujur ini membuat Minrin sedikit kesal.

“Bagaimana kalau aku memberimu pilihan?” kata Ryeowook menawarkan.

“Kita lanjutkan pertunangan ini setelah itu kita berpisah sebelum pernikahan. Katakan saja pada mereka kita tidak bisa bersama. Dengan begitu kau dan aku sudah memenuhi keinginan orang tua kita dan juga keinginan…kita sendiri.” Jelas Ryeowook panjang lebar. Minrin mendengarnya dengan seksama.

Satu hal yang terlintas di pikirannya adalah orang ini sudah gila. Kalau sama-sama menolak kenapa tidak dibatalkan sekarang saja? Kenapa harus melanjutkan sampai pertunangan?

“Yak, kalau kau juga tidak setuju kita tinggal bilang pada orang tua kita bahwa kita sama-sama tidak mau dijodohkan dengan begitu hidup kita akan kembali normal, tidak harus berbuat seperti itu kan?” balas Minrin tidak sabar.

Ryeowook kembali tertawa ringan. “Apa aku mengatakan aku tidak setuju? Derngarkan aku nona Shin, sama sekali tidak terlintas dalam benakku untuk mengatakan keberatan atas pertunangan ini.”

 

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Ranran tengah duduk dengan santai di ruang tengah ketika dikagetkan Minrin yang pulang dengan wajah kusut dan frustasi. Gadis itu sudah seperti terkena insomnia beberapa malam hingga membuatnya benar-benar terlihat menyedihkan.

“Waey? Apa tidak berjalan lancar?” tanyanya pada Minrin. Sepertinya ini ada hubungannya dengan namja itu. Dia tahu adiknya ini sedang berusaha membatalkan pertunangan bagaimanapun caranya.

Minrin menghempaskan tubuhnya di samping sang kakak dan mengangguk lemah. “Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang itu.” Gerutunya. Ranran mengerucutkan keningnya, heran.

Kemudian Minrin menceritakan semuanya pada Ranran. Tentang rencana Ryeowook yang menurut Minrin benar-benar gila. Menyuruhnya tetap bertunangan paling tidak dua atau tiga bulan lalu membatalkannya sebelum pernikahan. Tentang menghormati keputusan orang tua dan tidak mengecewakan mereka tanpa mengesampingkan keinginan pribadi.

Ranran tersenyum girang setelah cerita itu mengalir dari bibir adiknya. Dan yang terlintas dalam pikirannya adalah Ryeowook cukup bijaksana meski caranya sedikit tidak masuk akal. Sudah pasti Ryeowook tahu Minrin tidak akan menerima perjodohan ini, tapi di sisi lain mereka berdua tidak mungkin mengecewakan orang tua masing-masing.

“Eonnie-ya, kenapa kau tersenyum seperti itu?” Bukannya membantu tapi sepertinya kakak perempuannya ini juga mendukung rencana Ryeowook.

“Lalu, kau sendiri bilang apa? Apa kau setuju?” tanya Ranran tidak menghiraukan pertanyaan Minrin.

Minrin menatap Ranran, ragu untuk menjawab. Sesaat kemudian dia mengangguk pelan. “Aku tidak punya pilihan. Alasannya terlalu masuk akal.” Jawab Minrin .

Ya..Minrin tidak tahu ini benar atau salah. Satu hal yang ada di pikirannya saat menyetujui rencana itu adalah jika benar ini tentang menyelematkan perusahaan, maka dia akan melakukannya demi keluarganya. Bukankah Ryeowook bilang mereka bisa membatalkan pertunangan sebelum pernikahan? Jadi, mereka bertunangan dan jika perusahaan keluarganya membaik, dia akan segera mengumumkan pembatalan pertunangan ini.

 

 

Semua berjalan sesuai rencana. Mereka benar-benar melakukannya, berpura-pura seperti sepasang kekasih terutama jika di depan kedua orang tua mereka. Beberapa kali Ryeowook mengajak Minrin keluar sekedar meyakinkah orang tua mereka bahwa mereka berdua sudah bisa menerima pertunangan ini. Dia bahkan tidak keberatan menjemput Minrin untuk mengantarnya ke kampus. Apapun yang bisa meyakinkah semua orang bahwa mereka benar-benar sepasang kekasih.

Seperti sore itu, Ryeowook meminta Minrin menemaninya. Entah ini termasuk dalam kesepakatan atau tidak tapi Minrin tidak bisa menolak apalagi ketika eomma nya sendiri yang memaksanya untuk pergi.

“Waeyo Ryeowook-ssi? Bukankah kau biasanya meminta persetujuanku untuk pergi keluar, tapi ini..kau bahkan tidak mengatakan sebelumnya padaku.” Ucap Minrin ketika mobil yang mereka kendarai semakin jauh meninggalkan kediaman Minrin.

Minrin bisa melihat Ryeowook tersenyum “Sampai kapan kau memanggilku seperti itu? aku lebih suka kau memanggilku oppa atau Ryeowook-ah.” Bukannya menjawab Ryeowook justru mengalihkan pembicaraan.

Minrin memalingkan wajahnya dan memilih menatap lurus ke depan. Ini sudah hampir satu bulan, tapi bagi Minrin Ryeowook masih seperti orang asing baginya. Orang yang tiba-tiba hadir di hidupnya, bagaimana mungkin dia bisa leluasa memanggilnya dengan sebutan itu. Apalagi mengingat ada sebuah perjanjian diantara mereka berdua yang satu atau dua bulan lagi akan segera berakhir. Setelah ini, semua akan kembali seperti semula.

“Yak, Minrin-ya..” panggil Ryeowook karena pertanyaannya tidak dihiraukan Minrin.

“Jangan pernah berharap aku memanggilmu seperti itu.” ucapnya sedikit dingin tanpa menolehkan kepala.

Ryeowook menatap minrin sekilas dan memilih diam setelah itu.Tidak ada pembicaraan lebih jauh setelah itu. Ryeowook juga tidak mencoba mengajak bicara yeoja yang duduk di sampingnya. Bukannya tidak mau, tapi sepertinya mood yeoja ini sedikit menurun sejak dia menjemputnya tadi.

Ryeowook melajukan mobilnya dengan pelan ketika memasuki jalan yang sempit. Sedangkan pohon-pohon yang tumbuh di kanan kiri mereka hanya tinggal ranting tanpa daun. Musim gugur masih berlangsung. Angin bertiup menebarkan daun-daun di sepanjang jalan yang mereka lalui. Tidak berapa lama kemudian, Ryeowook menghentikan mobilnya di dekat sebuah danau kecil. Di tepi danau itu ada sebuah pohon besar yang juga hanya tinggal rantingnya.

Ryeowook turun dari mobilnya yang diikuti Minrin. Dia berjalan mendekat kea rah danau itu dan duduk di bawah pohon tadi. Minrin mengikutinya dengan diam.

“Kenapa kau membawaku ke sini?” Tanya Minrin, dia ikut duduk di samping Ryeowook.

Sekali lagi Ryeowook hanya tersenyum. Sebuah senyum yang Minrin akui sangat manis. “Kau sangat stress akhir-akhir ini, makanya aku mengajakmu untuk menghirup udara segar.”

Minrin mendongakkan kepalanya. Dari mana dia tahu akhir-akhir ini pikirannya memang agak stress karena tugas yang menumpuk?

“Kau benar-benar memperhatikanku ketika menjemput dan mengantarku ke kampus? Aigoo…tidakkah itu berlebihan, Ryeowook-ssi?” ucap Minrin sedikit mencibir.

Selalu saja seperti ini. Minrin selalu tidak bisa menerima semua kebaikan yang namja ini tawarkan. Setiap Ryeowook mengulurkan tangan untuk membantu selalu dibalas minrin dengan ucapan dingin atau cibiran seperti tadi.

“Kuere. Itu benar. Seharusnya kau berterimakasih padaku.” Balasnya sedikit bercanda.

Minrin menolehkan kepalanya. “Gomawo..” ucap Minrin memaksakan diri dengan ekspresi yang bisa dikatakan sangat datar.

“Yak, apa seperti itu mengucapkan terima kasih? Aigoo..” Ryeowook menggelengkan kepalanya pelan.

“Waey? Kau tidak suka?” balas Minrin. Tapi hanya dibalas Ryeowook dengan senyum.

“Aniya..” jawabnya. Minrin mendengus kesal dan memilih mengalihkan perhatiannya pada sekelompok burung yang terbang rendah di sekitar danau itu

Diam-diam Ryeowook memperhatikan gadis itu. Yeppoda..

Entah apa yang dipikirkan Ryeowook. Tapi seakan melihat gadis itu sedikit membuat perutnya bergejolak.

“Ah..Minrin-ya, kau mau mengambil foto? Ayo kita berfoto..” ajak Ryeowook kemudian. Minrin menoleh dan mengernyit heran.

“Kau suka sekali selca. Tapi baiklah…aku sedang berbaik hati padamu.” Ryeowook tersenyum dan mengambil ponselnya. Dia menggeser duduknya lebih dekat pada Minrin

Kenapa dia selalu bisa menyembuhkan mood seorang Minrin yang buruk? Kenapa dia selalu bisa tetap tersenyum menerima perlakukan dingin dan cibiran Shin Minrin?

Diam-diam tanpa di ketahui seorang Kim Ryeowook, Minrin menyembunyikan senyum nya sekarang. Mereka mengambil beberapa gambar bersama.

“Aku senang kau tersenyum seperti itu.” ungkap Ryeowook tanpa diduga oleh Minrin.

Minrin menolehkan kepalanya, menatap Ryeowook sedikit terkejut. Kalimat itu…

“Waey?”

“Aniya..” jawab Minrin cepat.

Hanya saja kalimat itu adalah kalimat yang selalu teman masa kecilnya katakan pada Minrin sepuluh tahun yang lalu. Tapi tentu saja orang itu bukanlah Ryeowook. Namja itu..teman masa kecilnya saat di Incheon sudah pergi dan menetap di Jepang dan sejak saat itu Minrin tidak lagi mendengar kabarnya. Mataharinya.

Tanpa mereka sadari hari sudah agak sore, bahkan matahari sudah hampir tenggelam, menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Warna jingganya terpantulkan pada air danau yang membuatnya juga berwana serupa.

“Aku sangat menyukai matahari. Kau tahu kenapa?” Ryeowook menolehkan kepalanya menghadap Minrin. Gadis itu hanya menggeleng tanpa minat.

“Ku beritahu alasan pertamanya. Karena matahari itu selalu bisa membuat semua orang tersenyum dengan kemunculannya. ” Ryeowook kembali menatap arah matahari terbenam. Tangannya terulur ke atas, ke arah matahari, seakan ingin menggenggamnya.

Minrin mengernyitkan dahinya. “Matahari selalu memberi kehangatan, dia selalu memberikan sinarnya untuk siapapun. Dan itu selalu membuat semua orang tersenyum.” Ryeowook melanjutkan.

“Huh? Aku rasa tidak selalu seperti itu.” ucap Minrin entah kenapa mendadak menaruh minat pada pembicaraan ini. “Saat mendung matahari tertutup, dan itu tidak akan membuat manusia senang, kan?” bantah Minrin.

Ryeowook mengalihkan perhatiannya pada Minrin “Itu berarti yang membuat orang tidak tersenyum bukan matahari tapi mendungnya.” dia mengacak puncak kepala Minrin lembut yang cukup membuat gadis itu tercengang. Ryeowook tertawa riang.

Beruntung Minrin bisa menguasai diri. “Yaisshh…tetap saja matahari tidak selalu membuat orang-orang tersenyum.” katanya bersikeras.

Matahari tidak selamanya membuat orang-orang tersenyum. Saat mendung, saat hujan dan bahkan saat matahari bersinar terlalu terik, tidak semua orang akan menyambutnya lagi dengan tersenyum.

“Matahari selalu punya caranya sendiri untuk membuat orang lain tersenyum setelahnya.” Balas Ryeowook tidak mau kalah.

“Karena dia tidak akan mengingkari janji untuk selalu kembali memberi kehangatan.”

Dan sekali lagi ucapannya kembali membuat Minrin mengingat kenangan masa lalu. Tentang Matahari yang tidak pernah ingkar janji. Sebelum Ryeowook jelas sudah pernah ada yang bilang seperti itu padanya.

 

“Aku janji akan kembali.” Ucap anak kecil berusia sepuluh tahun itu tegas. Sedangkan anak perempuan yang sedang diajak berbicara hanya bisa mengangguk, berusaha memegang janji temannya itu.

“kau janji, Sun?” tanya si gadis kecil

“Seperti kataku, aku adalah matahari untukmu, matahari tidak akan ingkar janji.”Balas anak laki-laki itu dan gadis kecil itu pun tersenyum.

Bagaimana jika matahari melupakan janjinya? Bagaimana jika dia sudah lelah memberikan kehangatan untuk kehidupan makhluk hidup?

Memori-memori itu terus berputar di kepala Minrin. Menciptakan sebuah jalan kecil untuknya kembali ke masa itu meski sekedar dalam ingatan. Tapi nyatanya itu tetaplah hanya sebuah ingatan masa lalu, sebuah janji masa lalu yang bahkan mungkin sudah dilupakan oleh si pembuatnya. Hanya saja bolehkan Minrin berharap janji itu masih ada?

Minrin membenamkan kepalanya di atas bantal. Untuk pertama kalinya dia merindukan Sun nya, teman masa kecilnya. Jelas semua berawal dari ucapan Ryeowook di danau tadi. Apa mataharinya sudah benar-benar melupakan janjinya dulu?

 

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minrin kecil pada seorang anak laki-laki yang tengah duduk di sebuah bangku yang terletak di atap rumah sakit.

Anak laki-laki itu menoleh “Melihat matahari terbit.” Ucapnya singkat sebelum akhirnya kembali memperhatikan ufuk timur.

“Apa aku boleh duduk di situ?” tanya Minrin ragu-ragu. Anak itu mengangguk.

“Siapa namamu?” tanya Minrin membuka percakapan.

“Sun.”

“Sun?” ulang Minrin heran. Nama yang aneh. “Apa maksudmu matahari?” tanya minrin dengan polos. Anak itu mengangguk.

Dari situlah semua berawal. Minrin mengenal Sun saat di rumah sakit. Mereka berteman. Tidak. Bahkan bisa dibilang mereka bersahabat.

Ini sudah hari ketiga mereka bersama. Sejak pertemuan di atap itu, mereka semakin dekat. Mungkin karena saat ini tidak banyak pasien anak-anak yang di rawat di sumah sakit ini. Jadi, bagi Minrin menemukan teman yang seumuran dengannya sangat menyenangkan.

“Hey..” Panggil Sun menggantungkan kalimatnya. Dia harus memanggil gadis yang duduk di sampingnya ini apa? Seingatnya sejak pertemuan pertama mereka Sun tidak tahu nama gadis ini.

Minrin menoleh “Waey?”

“Yak, apa aku harus selalu memanggilmu dengan Hey?” Sun berdiri di depan Minrin.

Minrin mengerjapkan matanya pelan, terlihat bingung. Tapi akhirnya dia tertawa kecil, menyadari maksud sahabat barunya itu “Kau mau memanggilku apa?” tanyanya balik.

Sekarang Sun yang terlihat bingung. Dia kembali duduk di samping Minrin dalam diam. Gadis ini sepertinya tidak mau memberitahukan namanya, pikir Sun. Dia memperhatikan sekelompok bunga matahari yang ada di depan mereka dan seakan baru mendapat ide, anak kecil itu pun langsung berdiri dengan girang.

“Hebaragi.” Serunya yang sedikit membuat Minrin terlonjak.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu hebaragi? Bunga matahari. Aku matahari dan kau bunga matahari. Ahh…bukankah itu bagus?” Sun benar-benar terlihat puas dengan nama itu.

“Hebaragi waey? Kenapa tidak mawar atau lotus atau dandelion yang bisa terbang kemana-mana. Aku tidak suka bunga matahari.” Seru Minrin keberatan. Dia memasang muka cemberut sekarang.

“Karena hebaragi selalu menatap ke arah matahari.” Jawab Sun. Dia menunjuk bunga matahari di depan mereka yang memang selalu mengarah ke atas, ke arah dimana matahari berada.

Saat matahari terbit, hebaragi akan mengarah ke timur. Ketika siang dan matahari berada di tengah-tengah, maka hebaragi juga akan mengikutinya. Bahkan ketika matahari akan tenggelem, hebaragi akan mengantarkannya. Karena itulah dia dinamakan bunga matahari.

 

Minrin membuka matanya ketika sinar matahari mulai memasuki celah di jendela kamarnya. Matahari terbit. Dia tersenyum mengingat mimpinya semalam. Tiga belas tahun ini mungkin pertama kalinya dia memimpikan teman masa kecilnya itu. Tidakah hebaragi terlalu lama dalam kegelapan dan merindukan mataharinya?

Untuk sesaat Minrin masih termenung di atas tempat tidurnya. Dan akan tetap seperti itu, jika Ranran tidak masuk dan mengagetkannya. Dia pun kembali menutup mukanya dengan selimut.

“Yak, bangunlah!” gadis itu sudah naik ke atas tempat tidur Minrin dan mengoyang-goyangkan tubuh adiknya. Minrin hanya berdehem pelan dengan pura-pura masih tidur.

“Minrin-ya, irona..palli!” seru Ranran.

Minrin menyibakkan selimut yang menutup kepalanya dengan kesal. “Yaisshhh!! Eonnie, kau menggangguku.” Teriaknya.

“Aku tidak akan menganggumu kalau kau bangun sekarang. Lihat sudah jam berapa sekarang? Aigoo…kau ini yeoja pemalas.” Ranran berdiri dan menarik selimut Minrin, memaksanya untuk bangun.

“Eonnie-ya, kau tahu semalam aku baru tidur jam tiga gara-gara harus menyelesaikan tugas kuliah. Jadi, biarkan aku tidur sebentar lagi sebelum kuliah dimulai.” Minrin kembali menutupi tubuh dan mukanya dengan selimut.

Ranran hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat kelakukan adiknya ini. “yak, kau tidak mau bertemu dengannya?” tanya Ranran sedikit lebih lembut sekarang.

Tanpa menunggu reaksi dari Minrin, gadis itu sudah duduk di kursi dan meraih sebuah note yang terletak di atas meja.

“Nuguya? Kim Ryeowook? Tidak terimakasih.” Ucap Minrin cepat.

“Aniya..tapi Donghae oppa.” Balas Ranran sembari membolak-balik beberapa lembar note yang bertuliskan hal yang absurd baginya. Sun dan hebaragi.

“Iggeu mwoya?”

Dalam sekejap Minrin membelalakan matanya dan langsung menatap eonnienya itu. “Eonnie, apa maksdumu?” tanyanya tanpa menghiraukan pertanyaan eonnienya tadi. Itu tidak penting, Minrin bisa menjelaskannya kapan-kapan. Saat ini yang terpenting adalah apa maksdunya bertemu dengan Hae oppa.

“Kyuhyun bilang akan mengajak Donghae oppa ke sini. Ku rasa sebentar lagi mereka sampai. Kami berencana pergi ke Lotte World” Jawab Ranran akhirnya. Dia masih asyik membaca tulisan-tulisan singkat di note itu tanpa mengetahui bahwa adiknya itu mungkin sudah sedikit terkena serangan jantung mendadak.

Lee Donghae, orang yang membuat Minrin merasakan cinta untuk pertama kalinya. Cinta monyetnya, mungkin. Dia adalah sunbe waktu SMA. Entahlah itu cinta atau hanya kekaguman sementara. Tapi yang jelas si mulut besar Cho Kyuhyun itu mengatakan semuanya pada Donghae. Saat itu Minrin bisa mengelak karena Donghae sudah pergi ke Jepang. Dan sekarang dia kembali.

Awalnya Minrin menolak ajakan eonnienya untuk pergi. Seharusnya dia tahu tujuan si evil Kyuhyun itu mengajak Donghae. Dan tebakannya benar. Dia dipaksa mereka bertiga untuk ikut pergi, lebih tepatnya Kyuhyun yang memaksa untuk menemani namja bernama Lee Donghae itu.

“Tau begini lebih baik aku tidak ikut.” Gerutu Minrin kesal. Dia memperhatikan kakaknya dan juga Kyuhyun yang asyik bermain roler coster. Donghae yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum pelan.

“Kajja, kita pergi sendiri.” Ajaknya.

Minrin mengangguk. Mereka pun berjalan sendiri. Lotte world selalu sama seperti dulu. Donghae mengajak Minrin bermain wahana, tapi gadis itu menolaknya. Dia lebih memilih duduk-duduk di bangku, mengibas-ibaskan tangannya karena cuaca yang panas.

Beberapa kali Minrin mencuri pandang kea rah Donghae yang duduk di sampingnya. Apa yang harus dia lakukan jika orang ini membicarakan kejadian waktu itu. Minrin menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Kenapa kau tegang begitu?” tanya Donghae tiba-tiba.

Minrin mendongakkan kepalanya terkejut. “Aniyo. Apa aku terlihat seperti itu?” tanyanya dengan sedikit salah tingkah.

DIa lebih memilih menundukkan kepalanya setelah itu, atau menatap kemana saja asal tidak menatap orang di sampingnya itu.

“Kau sama sekali tidak berubah, Rin-ah.” Donghae mengacak rambut Minrin pelan yang langsung membuat Minrin tercengang.

Detak jantung nya menjadi sedikit tidak karuan.

“jinjjayo? Aku memang selalu seperti ini.” Minrin tertawa ringan, berusaha mencairkan suasana tegang, lebih tepatnya suasa tegang dalam dirinya.

Donghae kembali tersenyum. Minrin akui senyum itu juga masih sama seperti dulu.

Ddrrt ddrrt..

Tiba-tiba getar ponsel di saku Minrin menyadarkannya.

 

From : nappeun namja

Eodiseo? Aku datang ke rumah mu, tapi mereka bilang kau sedang pergi. Bisakah kita bertemu?

 

Minrin terlihat ragu setelah membaca pesan itu. Haruskah dia menjawab?

“Nappeun namja? Nuguya?” Donghae ikut membaca pesan itu penasaran. Dengan cepat Minrin menajauhkan ponselnya.

“Aniyo..dia hanya orang menyebalkan yang selalu menggangguku.” Jawab Minrin cepat. Tidak mungkin dia mengatakan pesan itu dari orang yang sudah menjadi tunangannya.

Dia tersenyum pada Donghae. “Oppa, kajja kita pergi. Aku rasa Kyuhyun dan Ran eonnie sudah selesai.” Ajaknya kemudian.

Donghae memperhatikan Minrin yang sedikit grogi tapi kemudian dia mengangguk. Dia bangkit berdiri dan berjalan di samping gadis itu.

“Kau masih tidak mau memanggil Kyuhyun dengan oppa?” tanyanya mencari bahan obrolan.

Minrin mengangguk. “Dia meneyabalkan, jadi aku tidak akan pernah memanggilnya oppa.” katanya menjadi kesal jika teringat orang itu selalu membuat masalah padanya.

“Kau benar-benar tidak berubah.” Donghae tersenyum.

Melihat senyum itu membuat Minrin berharap dia tidak bertemu Ryeowook sebelumnya, jadi dia bisa dengan tenang memulai semuanya dengan namja ini.

Tidak berapa lama kemudian Ranran dan Kyuhyun terlihat berjalan ke arah mereka dengan berpegangan tangan. Minrin mendengus kesal. Evil yang satu itu benar-benar sengaja melibatkannya dalam situasi tidak mengenakkan seperti ini. Dia memandang kesal pada Kyuhyun yang sengaja menunjukkan kemesraan nya dengan eonnienya.

“Eonnie, aku harus pulang.” Kata Minrin kemudian.

“Waey? Kau tidak merasa nyaman adik ipar?” goda Kyuhyun yang langsung membuat Minrin mendelik padanya. Minrin pastikan jika dia hanya berdua dengan namja yang satu ini, dia yakin sudah mematahkan semua tulang-tulangnya.

Kyuhyun baru diam ketika Ranran menyikut lengannya pelan.

Minrin mengabaikan ucapan Kyuhyun dan kembali beralih pada Ranran. “Kau mengijinkan atau tidak, aku tetap akan pergi.” Ucapnya lagi.

“Kau tidak apa-apa pulang sendiri? Aku dan Kyuhyun oppa harus pergi ke suatu tempat” kata Ranran kemudian.

“Yak, eonnie aku bukan anak kecil yang akan tersesat di kota seoul ini.” seru Minrin.

“Aku akan mengantarnya.” Dengan cepat Donghae menawarkan diri.

Minrin menolehkan kepalanya. “Aniyo..tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Tolaknya cepat.

“Sudahlah adik ipar, kau pulang bersama Hae hyung saja.” Kyuhyun menengahi yang sudah pasti semakin membuat Minrin ingin mematahkan tulang lehernya.

“Aku rasa lebih baik begitu. Gomawo Donghae-ssi..” refleks Minrin mendelik kea rah eonnienya itu. kenapa dia selalu mematuhi makhluk evil itu. Minrin geram apalagi ketika Kyuhyuh tersenyum penuh kemenangan padanya.

Akhirnya Minrin memang tidak bisa menolak tawaran Donghae untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya dia tidak keberatan Donghae mengantarnya pulang, masalahnya adalah di rumah saat ini Ryeowook sedang menunggunya. Dan Minrin tidak tahu harus berbuat apa jika mereka berdua bertemu.

Sudahlah. Minrin menghembuskan nafas dengan pasrah.

Selama perjalanan dia sama sekali tidak mengajak Donghae bicara. Pikirannya terus melayang memikirkan bagaimana reaksi Ryeowook jika melihatnya pulang bersama seorang namja.

Tapi tunggu dulu. Kenapa dia harus memikirkan itu? Bukankah sejak awal dia tidak menyukai pertunangan ini? lalu kenapa dia harus merasa bersalah pada Ryeowook? Bukannya dia juga tidak akan peduli jika namja itu pulang bersama seorang yeoja?

Shin Minrin, kau pasti sudah tidak waras.

Minrin menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras.

“Gwaenchanayo?” tanya Donghae ketika melihat sikap Minrin yang sedikit gelisah.

Minrin mendongakkan kepalanya dan menggeleng pelan, “Aku tidak apa-apa.”

Tapi nyatanya dia memang gelisah. Beberapa kali dia mengecek ponselnya, antara menghubungi Ryeowook dan mnegatakan tidak bisa bertemu atau justru membiarkan Donghae tahu dia sudah bertunangan.

Kenapa dia harus mempermasalahkan itu? Apa diam-diam dia menyukai namja itu, Kim Ryeowook?

 

Mobil yang mereka kendarai akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Shin. Minrin memandang mobil putih yang juga terpakir di sana dengan gelisah, bahkan semakin gelisah sekarang. Dia tahu siapa pemilik mobil itu.

“Kau..kau mau mampir?” tanya Minrin menawarkan. Tapi jujur dia berharap Donghae akan menolak tawarannya kali ini.

Belum sempat Donghae menjawab seseorang sudah membuka pintu rumah dan memperhatikan keduanya.

“Minrin-ya.” Panggilnya. Minrin menolehkan kepala dan dia lihat Ryeowook berdiri di sana. Sepertinya dia tadi bersiap untuk pergi dan justru bertemu dengan Minrin di depan rumah.

“namja itu siapa? Temanmu?” tanya Donghae dengan berbisik.

Minrin hanya bisa menatap Donghae, ragu untuk menjawab. Sementara dia rasakan Ryeowook sudah berdiri di sampingnya. Minrin semakin tegang dibuatnya. Apa Ryeowook akan memperkenalkan diri sebagai tunangannya?

“Sepertinya kita lanjutkan tugas kuliah kita lain kali saja. Kau sepertinya sedang sibuk. Mianhae, aku membuat kalian pulang cepat.” Ryeowook membungkuk hormat di depan Donghae, Minrin pun dibuat terkejut dengan sikapnya tadi.

“Kau teman kuliahnya?” tanya Donghae.

“Ne, kami satu jurusan. Kim Ryeowook imnida. Aku benar-benar minta maaf karena menganggu waktu kalian tadi. Minrin-ya, aku harus pergi sekarang. sampai jumpa besok.” Dia berbalik ke arah Minrin dan tersenyum.

“Aku yang harus meminta maaf karena menganggu waktu kalian untuk mengerjakan tugas kuliah.” Ucap Donghae.

“Animida, tugasnya sudah hampir selesai sekarang, benarkan Rin-ah?” Ryeowook menatap Minrin penuh arti. Ada sesuatu yang dia sembunyikan. Minrin hanya mengangguk dengan lemah.

“Baiklah, aku harus pergi sekarang.” Ryeowook membungkuk singkat pada Donghae sebelum pergi.

Minrin hanya menatap punggung itu yang menjauh pergi , bahkan dia mengantar kepergian mobil putih itu menghilang dari pandangannya.

Jelas ada yang berbeda dari tatapn Ryeowook tadi. Apa dia marah padanya? Tapi kenapa dia tetap tersenyum seperti biasanya?

 

Bahkan ketika malam sudah tiba, Minrin masih terus memikirkan sikap Ryeowook tadi. Dia bilang sebagai teman kuliahnya saja tapi dari sorot matanya Minrin bisa melihat ada kekecewaan atau bahkan sedikit kemarahan. Tapi kenapa?

Apa selama ini..?

“Aniya..” Minrin menggelengkan kepalanya. Dia meraih bantal di depanya dan memukul mukanya sendiri dengan bantal itu, berusaha menghilangkan pikiran bodoh yang tiba-tiba memenuhi otaknya. Kenapa dia bisa berpikir Ryeowook menyukainya. Tentu saja itu adalah hal terbodoh yang dia pikirkan. Tidak mungkin Ryeowook menyukainya, jelas-jelas mereka berdua tidak setuju dengan pertunangan ini.

 

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

 

“Haebaragi, kenapa kau memanggilku haebaragi? Aku lebih suka menjadi dandelion yang bisa terbang bersama angin.” Minrin memungut bunga dandelion dan meniupnya pelan yang langsung menebarkan kelopak-kelopak kecilnya.

Sun memperhatikannya, kemudian dia ikut memetik bunga dandelion yang tinggal satu. Meniupnya dan melihat kelopak-kelopak kecil dandelion terbang bersama angin.

“Kalau kau dandelion, kau akan menemukan tempat baru dan akan melupakan yang lama.” Jawabnya.

“Sedangkan haebaragi selalu setia pada pilihan semula, yaitu tetap menatap ke arah matahari.” Sun melanjutkan.

Minrin menolehkan kepalanya. “Jadi kau ingin aku tetap menatapmu seorang?” tanyanya sedikit mencibir.

“Kuere, hanya padaku.” Sun mendongakkan kepalanya ke atas dan menyipitkan matanya untuk berusaha melihat matahari yang berkilau terang.

“Aku tidak mau. Siapa bilang aku akan menikah denganmu? Aku akan menemukan pangeran yang lebih tampan dan tinggi darimu, Sun.” Minrin tersenyum membayangkan hal itu.

“Jika suatu saat, aku membuatmu tetap menatapku apa kau juga akan mengelak?”

 

Minrin membuka matanya dengan nafas yang tidak beraturan. Ini sudah entah keberapa kalinya dia selalu memimpikan Sun. Seakan mimpi-mimpi itu menuntunnya kembali ke masa lalu. Dandelion dan haebaragi. Dia memnag sudah memutuskan menjadi dandelion, ketika dia sadar Sun nya tidak mungkin menempati janjinya untuk kembali. Tapi kenapa mimpi-mimpi itu seakan memperingatkannya akan sesuatu.

Dia mungkin masih tidur terlentang di tempat tidurnya jika jam di dinding tidak menujukkan pukul tujuh lebih.

“Mwo? Jam 7?” pekiknya.

Dia pun segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan kea rah kamar mandi. Dia membasuh mukanya dnegan air dingin, berharap dia tidak akan mengingat mimpi itu lagi. Entah kenapa mimpi itu seakan menjadi mimpi yang sedikit menakutkan.

 

Hari ini Minrin berencana menemui Ryeowook. Entah apa yang dipikirkannya untuk menemui namja itu. Tapi dia merasa ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.

Minrin menemukan namja itu tengah duduk dengan headset yang terpasang di kedua telinganya. Kenapa melihatnya seperti itu, membuat Minrin berpikir namja itu tidak terlalu buruk. Dan dia tahu namja itu mengambil jurusan music modern yang itu berarti dia mempunyai kemampuan dalam hal bermusik. Bukankah itu keren..mempunyai namja yang seorang pemusik.

Namja? Apa Minrin tidak sengaja mengira Ryeowook namjanya? Baiklah otanya benar-benar sedang tidak waras sejak kemarin.

Dia pun berjalan dengan pelan menghampiri Ryeowook. Ryeowook hanya diam, meskipun sebenarnya dia mneyadari kehadiran Minirn di sampingnya.

“Yak, Ryeowook-ssi. Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini huh?” Minrin duduk di samping Ryeowook dan ikut memperhatikan arah pandang namja itu.

“Kau sendiri?” tanyanya balik tanpa sedikit pun repot-repot menatap Minrin.

Minrin mengerucutkan bibirnya kesal. “Soal kemarin, mianhae..” katanya akhirnya. Ya..bukannya dia kesini untuk meminta maaf? Jadi selesaikan urusan dengan namja ini dan segera pergi dari tempat ini.

Kali ini Ryeowook menolehkan kepalanya. “Seperti kataku kemarin, sepertinya tugas kita sudah segera berakhir. Kau tidak usah meminta maaf karena hal sepele seperti itu.”

Minrin sedikit tercengang dengan ucapannya barusan. Seperti dugaannya ada yang tidak benar di sini. Apa maksudnya dengan tugas sudah berakhir?

“Aku akan segera bilang pada orang tua kita untuk segera membatalkan pertunangan termasuk soal pernikahan.” Lanjutnya lagi.

Minrin mengerjapkan matanya pelan. Berakhir? Apa itu berarti dia tidak harus menikah dengan namja di sampinya ini? Deharusnya dia senang tapi kenapa bukan rasa senang yang dia rasakan?

“Namja yang kemarin. Apa Kau menyukainya?” tanya Ryeowook kemudian.

“Aku memang tidak mau memaksakan kehendak orang lain. Tapi aku lebih suka kau menjadi haebaragi dari pada dandelion.” Ucapnya seidkit membingungkan.

Haebaragi? Dandelion?

Kenapa dua hal itu harus kembali dengar. Kenapa lama-lama dia seperti melihat Sun nya ketika bersama Ryeowook?

Minrin menatap Ryeowook lekat. “Kenapa kau mengatakan itu? haebaragi, dandelion..dari mana kau tahu semuanya?” tanya Minrin dingin dengan nada yang sedikit tinggi.

“Apa yang kau bicarakan? Kau seperti baru saja melakukan kesalahan dan seakan-akan aku mencurigaimu.” Ryeowook tertawa ringan.

“Sudahlah. Kita bicara lain kali. Aku harus pergi sekarang.” Minrin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh.

Diam-diam Ryeowook terus memandangi sosok yeoja itu menjauh darinya. Semua akan segera berakhir sekarang.

 

Minrin menenggelamkan diri bersama buku-buku di perpustakaan setelah itu. Pikirannya benar-benar kacau. Ada yang tidak beres denganya. Entahlah apa itu.

“Ryeowook dan Haera akan berduet dalam upacara kelulusan nanti. Aku benar-benar tidak sabar. Mereka berdua memiliki suara yang indah.”

Minrin melirik dua orang yeoja yang duduk tidak jauh darinya. Kenapa mereka harus menyebut namja itu. ini benar-benar meruntuhkan konsentrasi yang tadi dia bangun. Dia mengacak kepalanya frustasi.

“Mereka juga sangat cocok bersama. Aku berharap mereka benar-benar akan bersama nanti.” Salah satu dari mereka mengomentari.

Sekarang Minrin benar-benar sudah kehilangan konsentrasinya. Dia pun menutup bukunya dengan sedikit bertenaga dan menimbulkan suara keras. Dia beranjak berdiri dan memilih pergi keluar dari perpustakaan itu.

Haera? Siapa itu Haera?

Dia berjalan dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya. Apa dia sedang kesal karena gadis bernama Haera itu?

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Ryeowook tengah berjalan bersama seorang yeoja. Cantik, pikirnya. Kenapa dia tiba-tiba tidak suka melihat namja itu tertawa lepas dengan yeoja itu. Dia tidak pernah melakukan hal itu padanya sebelumnya. Tidak pernah karena Minrin akan selalu bersikap dingin padanya.

“Bukankah itu Haera eonnie? Ah..dia benar-benar cantik.” Minrin memperhatikan dua orang yeoja yang tadi bersamanya di perpustakaan senyam-senyum melihat gadis tadi dan juga Ryeowook.

Jadi dia yang bernama Haera?

 

 

“Haera?” Tanya Ryeowook heran.

Dia sudah heran sejak Minrin tiba-tiba datang ke apartementny. Dan sekarang dia mengatakan bahwa Ryeowook memutuskan pertunangan lebih cepat dari perjanjian karena Haera. Kenapa yeoja itu bisa berpikir sedangkal itu?

“Kau tiba-tiba memutuskan pertunangan secepat ini karena Haera kan?” Minrin mengulangi.

Ryeowook hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. “Aigoo…kau menemuiku karena ingin bertanya itu? Apa kau cemburu?”

“Aniya..bukan begitu. Aku hanya heran kau memutuskan pembatalan pertunangan secepat ini. Setelah melihatmu dengan Haera kemarin, aku berkesimpulan gadis itulah alasannya. Kau menyukainya kan?” tebak Minrin asal.

“Tapi bukankah kau juga setuju? Lebih cepat lebih baik. Kau bisa melanjutkan hubunganmu dengan namja itu.” Ucap Ryeowook mendadak menjadi dingin ketika membicarakan tentang Donghae.

Minrin menatap namja di depannya itu tajam. “Ya. Aku setuju, ini lebih baik sekarang. kau bisa bersama Haera dan aku bisa bersama Donghae oppa. Ini cukup adil.” Balasnya.

Tapi bagaimana jika sejujurnya dia tidak bisa melakukan ini? Entah kenapa kehadiran namja itu selama dua bulan terakhir ini tidak sepenuhnya membuat Minrin kesal. Bagaimana jika kenyataannya sekarang dia sudah mulai menyukai orang ini?

Diam kemudian. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari keduanya. Minrin menggigir bibir bawahnya. Ini tidak benar. Kenapa tiba-tiba dia tidak ingin kehilangan namja ini?

Ryeowook menatap Minrin dalam. Sementara gadis itu memilih sedikit menundukkan kepalanya, berpura-pura sibuk dengan cola di depannya.

“Minrin-ya, apa kau ingin tetap menjadi dandelion?” tanya Ryeowook tiba-tiba.

Minrin menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya terkejut.

“Apa kau tetap tidak bisa menjadi haebaragi untuk Sun?” tanyanya lagi. Sekarang Minrin sedikit membalalakan matanya.

“Aku kau tetap tidak bisa menyukai Sun?”

“Hentikan.” Potong Minrin dingin.

“Kau tidak tahu apa-apa tentang Sun, berhentilah mengatakan itu. Apa Ran eonnie yang mengatakannya padamu?” seru Minrin berubah seidkit marah.

Ini pasti ulah kakak perempuannya itu. Dia yakin, Ranran sudah menceritakan semua isi notenya pada namja ini. Karena itu Ryeowook selalu terlihat sama dengan Sun nya.

“Apa kau menyukaiku, Ryeowook-ssi? Sampai-sampai kau mempelajari isi note ku yang Ran eonnie katakana padamu. Huh, menggelikan.” Kata Minrin mencibir.

Tapi selalu tidak ada penolakan ketika Ryeowook menerima kalimat cibiran seperti itu dari Minirn. Dia tetap tersenyum seperti biasanya.

“Apa kau juga menulis bahwa Sun akan menempati janjinya apapun yang terjadi?”

Minrin kembali membelalakan matanya. Dia yakin dia tidak menuliskan hal itu di notenya, lalu dari mana Ryeowook tahu soal itu?

“Baiklah kurasa cukup bersandiwaranya sampai di sini.” Ryeowook menyerah. Dia beranjak berdiri, masih menatap Minrin dengan lekat.

“Senang bertemu denganmu lagi haebaragi. Bukankah aku menempati janjiku?” ucap Ryeowook yang sekarang benar-benar membuat Minrin terkejut.

“Akhirnya aku tahu siapa namamu. Cukup sulit mencari tahu nama pasien yang di rawat di rumah sakit itu tiga belas tahun yang lalu.” Ryeowook tersenyum.

Akhirnya dia bisa berjumpa dengan haebaraginya. Apa dia kejam sudah membohongi gadis ini?

Minrin terlihat masih shock di tempatnya. Perlahan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Haruskah dia menangis sekarang setelah mengetahui semuanya? Bagaimana mungkin namja ini, Kim Ryeowook adalah Sun nya, teman masa kecilnya di rumah sakit itu.

“Nappeun namja.” Hanya itu yang mampu Minrin ucapkan. Dia menundukkan kepalanya dalam.

Bagaimana mungkin dia membohonginya selama ini? membohonginya bahwa sudah sejak lama dia kembali.

Ryeowook berjalan mendekati Minrin. Dia berdiri di samping gadis itu dan merengkuh kepalanya dalam pelukannya.

“Mianhae..” ucapnya.

Minrin masih diam. Dia memejamkan matanya dan menangis dalam diam.

“Kenapa kau melakukan ini? kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya? Huh…benar-benar sebuah kebetulan ternyata kau yang bertunangan denganku.” Minrin menghempus air matanya yang membasahi pipinya.

“Kebetulan?” Ryeowook melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Minrin, menatapnya lembut.

“Itu takdirmu. Kau ditakdirkan untuk bersamaku. Jadi berhentilah mencoba jadi dandelion. Kau lihat kan aku berhasil membuatku menatapku seorang.” Ryeowook tersenyum manis pada Minrin. Ini pertama kalinya Minrin menyadari senyum nya memang sama dengan Sun.

“Huh? Kau percaya diri sekali.” Minrin melepaskan kedua tangan namja itu yang masih menangkup wajahnya.

“Aku tidak bilang aku menyukaimu. Dan lagi kau bilang akan segera memutuskan pertunangan ini kan?”

“Kau masih menyangkalnya? Selama tiga belas tahun ini kau sama sekali tidak melupakanku. Dan lagi, aku tahu kau cemburu mengenai Haera. Itu cukup membuktikan kau sudah menatapku sejak dulu. Haebaragi memang ditakdirkan untuk menatap Sun seorang.”

Diam-diam Minrin membenarkan ucapan Ryeowook barusan. Sekarang dia tidak ragu lagi, kenyataannya dia memang sudah jatuh cinta dengan namja ini sejak dulu. Bahkan mungkin saat pertama kali mereka bertemu lagi, Minrin tidak suka melihatnya, itu karena dia belum menyadarinya saja.

“Gomawo, karena tetap menempati janji”

Matahari memang akan menempati janjinya untuk kembai menyinari setiap makhluk hidup. Dan Minirn berterimakasih karena Ryeowook menempati janjinya untuk membuatnya tersenyum. Meski untuk sesaat haebaragi sedikit berpaling, tapi pada akhirnya hanya Sun lah yang akan dia tatap. Dan Minrin akui dia tidak bisa lagi mengelak sekarang.

“Chakkaman, kau bilang tidak setuju dengen pertunangan ini. Tapi sekarang..” Minrin menggantungkan kalimatnya. Dia menatap Ryeowook penuh tanya.

“Kau masih berpikir pertunangan ini soal bisnis?”

Minrin semakin tidak mengerti. Tapi Ryeowook hanya tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi kiri Minrin singkat.

Apa dia yang sudah merencankan ini sejak awal?

 

-THE END-

 

 

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. kyura2 ninja
    Feb 26, 2017 @ 12:17:23

    keren kak sequelnya dong
    hehehe…(ngarep) 😉

    Reply

  2. nuy
    Feb 26, 2017 @ 18:47:41

    sequel..sequel donk author..
    Akhirnya aku membaca ryeowook oppa. setidaknya ini mengurangi rasa kangenku..hehehe

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: