A Piece Of Promise

m

A Piece Of Promise

Author: Minhye_harmonic

Casts: Sungmin, Kyuhyun, and Minhye. | Romance| PG-13 | Oneshot

***

BAU anyir darah. Kepulan asap dari kap mobil yang membuat sesak. Minhye mengerjap, matanya langsung tertuju pada sosok yang tak jauh darinya, terkapar bersimbah darah. Bergetar, ia berusaha maju, menuju sosok itu. Sayang, tubuhnya tak mau digerakkan. Terpaku di tempat. Minhye menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa amat pening. Ada cairan hangat yang menyentuh telapak tangan dan mengalir menuruni dahinya.

Tangan Minhye terjulur pelan, gemetar hendak menyentuh wajah itu. “S-Sungmin……” Panggilnya lirih.

Pemuda yang dipanggilnya hanya diam. Tidak bergeming. Bahkan mata coklat penuh damai miliknya tak kunjung muncul dari balik kelopak mata.

“Sungmin…” Kali ini Minhye mengeraskan suaranya.

Masih sama. Pemuda tampan berambut blonde itu tidak menjawab.

“SUNGMIIIN!!!!!!!!!!!!!!!!”

***

TERIAKAN Minhye memenuhi langit-langit flat. Dia terbangun dengan tubuh basah oleh peluh. Wajahnya bergetar takut. Cepat-cepat ia membuka laci nakas di samping tempat tidur. Mengambil ponsel. Sedetik kemudian Minhye membanting ponselnya ke ranjang. Lupa, ia benar-benar lupa kalau dua minggu lalu ponselnya terjatuh ke bak cuci piring dan dia belum sempat menggantinya.

            Tidak. Minhye mendesah resah. Tidak. Itu pasti hanya mimpi. Berusaha menyakinkan diri sendiri.

***

SEBULAN berlalu semenjak mimpi mengerikan itu untuk pertama dan terakhir kali datang. Menganggu pikiran Minhye, membuatnya hampir tidak fokus menjalani sekolah. Padahal tugasnya semakin menumpuk menjelang libur musim panas ditambah ia juga sudah kelas tiga sekolah menengah atas.

Sekarang, dia harus bergegas menuju perpustakaan Tokyo. Mengerjakan tugas yang semestinya jadi tugas liburan musim panasnya nanti. Dia ingin menghabiskan waktu liburannya di korea tanpa memikirkan tugas musim panas. Menghabiskan waktu bersama Sungmin.

Lampu lalu lintas berubah merah. Tubuh Minhye terpaku seiring dengan iris mata coklat kelamnya yang berusaha mengenali sosok di seberang sana. Berambut blonde dengan wajah babyface, tersenyum lembut. Dia…Sungmin.

            Perasaan Minhye bercampur aduk saat jemari Sungmin bertaut dengan jemarinya—yang entah kapan sudah berada di hadapannya. Tersenyum amat manis. Senyum yang sangat Minhye rindukan.

            “Sungmin-ah, kenapa kau datang?” Mereka berjalan sepanjang trotoar. Mengayun-ayunkan gandengan tangan mereka.

            “Ada masalah aku datang?” Sungmin semakin terlihat imut dengan wajah cemberut. Jadi, jangan salahkan Minhye kalau tangannya tanpa sadar telah sibuk mencubit pipi Sungmin.

            “Aigo! Neomu kiyowo, uri Minnie~” Sebelum Sungmin membalas, Minhye sudah berlari, menghindar.

            Beberapa pejalan kaki yang berpapasan dengan mereka terkikik pelan. Betapa mesranya……

            Mereka kini duduk di bangku kayu tepat di bawah pohon sakura yang masih mempunyai sisa-sisa mekaran kemarin. Sungmin mendongak, takjub menatap bunga sakura.

            “Sepertinya aku datang di saat yang tepat.” Gumamnya pelan. Lagi-lagi mengeluarkan senyum favorit Minhye. “Pohon sakuranya amat indah..”

            Tawa Minhye pecah, “Astaga, Sungmin. Musim semi hampir berakhir, bunga sakura yang bermekaran tinggal menghitung jari. Apa indahnya coba?”

            Minhye tidak pernah serius setiap kali ia mengeluarkan kalimat sinis. Toh, Sungmin sudah terbiasa dan ia tidak pernah keberatan sama sekali. Membuat gadis itu tak usah susah payah untuk meminta maaf—seperti yang ia lakukan kalau tak sengaja berkata sinis pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya.

            Mereka melanjutkan perjalanan. Menuju stasiun kereta bawah tanah. Sungmin bilang, mereka akan pergi ke Universal Studio di Osaka. Minhye tidak banyak bertanya, kesempatan ini tidak pernah terjadi. Lagipula ia butuh refreshing sejenak dari aktifitas belajar. Dan selama ia menimba ilmu di Jepang tak pernah sekalipun dia pergi ke sana. Tak ada teman dan terlalu sibuk belajar selalu menghalangi keinginannya untuk memuaskan keinginan untuk berjalan-jalan di Universal Studio.

***

HARI ini amat menyenangkan. Sungmin membeli tiket VIP untuk mereka berdua, membuat mereka tidak perlu mengantri untuk menikmati setiap wahana. Minhye menyukai semua wahana—kecuali wahana apa saja yang berputar. Membuat Minhye sejenak bisa melupakan tugas-tugas musim panas dan mimpi yang menghantui pikirannya akhir-akhir ini.

            “Sungmin-ah! Kenapa kau terlihat lebih imut daripada aku!” Protes Minhye tak terima saat melihat hasil foto mereka dari photobox tadi. Menyendok sebongkah besar ice cream coklat kesukaannya, masuk sekali suap.

            Mereka memutuskan untuk melepas penat setelah hampir seharian bermain di kedai kecil dekat jalan masuk stasiun kereta bawah tanah.

            Sungmin tertawa. Yang pertama karena kalimat protes Minhye. Kedua, melihat Minhye yang langsung memegangi kepalanya setelah sukses menelan ice cream. Gadis kecilnya itu selalu saja bisa membuatnya tertawa.

            Tapi bagi Minhye ini terasa aneh. “Kkeundae, Sungmin-ah. Kenapa kau mengajakku kemari? Apalagi sampai membeli tiket VIP segala.”

            Ekspresi Sungmin mendadak berubah ganjil. “Aku hanya ingin bersenang-senang bersamamu.”

            WUS. Wajah Minhye memerah. Menunduk, pura-pura sibuk dengan ice cream-nya. “Lalu…ini kan bukan hari libur—kau bolos ya?!” Minhye mengangkat wajahnya yang sudah tidak terlalu merah, menuding tepat di depan hidung Sungmin.

            Sungmin hanya tersenyum masih dengan ekspresi ganjilnya. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya ke meja yang menghalangi mereka berdua. “…Bogoshippoyo.”

            JEEZ.

            “…jeongmal bogoshippo…”

            TING. Muka gadis penyuka literatur itu sudah seperti kepiting rebus. Sungmin memang selalu berkata manis padanya, tapi tak pernah semanis ini dan semendadak begini.

            Suasana jadi sedikit kikuk—menurut Minhye. Sungmin sudah kembali ke posisi semula, menyunggingkan senyum puas. Minhye lagi-lagi (pura-pura) sibuk mengaduk ice cream meleleh yang sudah tak ingin ia makan lagi. “…B-bagaimana kuliahmu?” Mencoba mengalihkan pembicaraan.

            “Tidak sesibuk kemarin.” Sungmin nyengir. Melambai pada pelayan, meminta bon. Meletakkan beberapa lembar yen begitu selesai membaca bon.

            Gadis itu mengernyit, merasa ganjil. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Memilih mengikuti langkah Sungmin keluar kedai dalam diam. Tanpa permisi (lagi), Sungmin menautkan jemari mereka. Membuat semburat merah tipis mewarnai pipi keduanya.

            Langkah mereka pelan menuruni tangga. Minhye tak berkedip menatap punggung atletis itu. Berharap akan seperti ini, selamanya…

***

MEREKA mengenal semenjak kecil. Dipertemukan oleh acara keluarga mereka. Di bawah meja makan. Gadis kecil lima tahun itu bosan saat melihat orang-orang dewasa berbicara hal yang tidak ia mengerti dan mencubit pipinya sesekali. Maka, saat mata Eomma-nya luput sejenak darinya, ia kabur, bersembunyi di bawah meja makan yang tertutup taplak meja panjang hingga ke lantai. Sesekali tangan mungilnya mengambil makanan di atas meja.

Sungmin, bocah sepuluh tahun itu sedikit merajuk pada Eomma-nya, psp-nya ditahan. Bosan bersikap manis. Jelas, sembunyi-sembunyi ia pergi dari sisi Eomma-nya. Memilih kolong meja sebagai tempat persembunyian. Amat terkejut mendapat seorang gadis kecil tengah melahap coklat dengan mulut belepotan sama terkejutnya melihat dirinya yang tiba-tiba masuk ke dalam bawah meja yang sedikit remang. Hampir saja gadis kecil kita berteriak kaget, tapi Sungmin dengan cepat meletakkan telunjuk ke bibir, menyuruh Minhye diam. Membuat suasana sedikit kikuk. Jadilah mereka berkenalan sembari menunggu acara selesai. Berbincang canggung di kolong meja.

“Sudah sampai.”

“Eh?” Minhye mengerjap, menatap Sungmin bingung.

Mata Sungmin melirik pintu di sampingnya. Minhye mengikuti arah lirikan. “…Ah… mian…” Sahutnya gugup. Entah mengapa Minhye merasa amat gugup kali ini.

Sungmin nyengir lebar, “Wae?” Tangannya terangkat, menyentuh dahi Minhye, “Tidak panas kok.” Gumamnya kecil.

Wajah Minhye sudah mengepulkan asap. Astaga, tak pernah ia se-gugup dan se-deg-degan begini.

“Omong-omong,” Minhye berdehem, “Gomawo Sungmin-ah…” Dia berusaha tersenyum manis (tapi lebih terlihat seperti menyeringai) sebelum memasukkan kombinasi angka untuk masuk ke flatnya.

Baru saja Minhye hendak mendorong pintu, Sungmin menahannya, “Chamkanman…”

Menoleh, menatap Sungmin dengan tatapan gugup, senang, deg-degan.

“…Aku…” Ada jeda panjang, tatapan mereka beradu, Sungmin melepas cincin di jari manis kanannya. Memakaikannya ke jari manis kanan Minhye. “…ingin kau menyimpan cincin ini…”

***

            “Bo-Bohong…” Suara Minhye serak ditengah sedu sedan.

            Kyuhyun diam. Menatap punggung gadis di hadapannya yang gemetar tanpa melakukan apa-apa. Mendongak, langit amat mendung.

            “SUNGMIN NAPPA!” Gadis itu menjerit pilu. Lemas terduduk di atas rumput pemakaman. Wajahnya sudah basah oleh air mata yang semakin menderas. Padahal baru beberapa minggu yang lalu ia senang melihat Sungmin mengunjunginya di Jepang. Bersenang-senang bersama.

            Tes. Rintik pertama.

            “Ayo kembali.”

            Tapi Minhye tidak menghiraukan ajakan Kyuhyun, “Sejak kapan?” Tanya-nya lirih.

            “Lima Juni…” Dingin Kyuhyun menjawab. Gerimis mulai berubah menjadi hujan.

            “Lima—“ Tercekat di tengah kalimat. Bukankah hari itu Sungmin mengajaknya bersenang-senang? Minhye buru-buru membuka ranselnya, mengeluarkan foto mereka saat di Jepang kemarin. Astaga, disemua foto-foto itu hanya ada dirinya seorang saja.

            Seharusnya ia bisa menyadari bahwa mimpi buruk kemarin itu bukan hanya bunga tidur belaka. Seharusnya ia tidak terlalu berpikir terlalu positif.

Seharusnya dia tahu, kenapa hari itu aneh sekali. Genggaman yang tidak seperti biasanya, ekspresi ganjil dan mata yang terlihat kosong.

Dan ada satu hal yang benar-benar ia sesalkan. Minhye tak pernah mengatakan perasaannya yang sebenarnya terhadap Sungmin. Harusnya kemarin ia bilang bahwa ia amat mencintai pemuda itu. Pada akhirnya, penyesalan selalu datang belakangan. Matanya melirik cincin yang disematkan Sungmin. Mendesis perih. Rasanya ingin sekali Minhye melempar cincin itu, tapi dia sudah janji. Sudah janji.

            Biarlah menepati janji ini untuk kebahagiaan Sungmin yang mungkin kini mengawasinya dari atas sana. Meski cincin ini memberikan sakit yang tak terperikan. Minhye sudah berjanji.

***

“Sungmin-ah…aku ingin sekali ke taman bermain.”

“Kau mau ke sana?”

“Ya!”

“Baiklah, saat kita dewasa nanti aku akan mengajakmu ke sana!”

“Kenapa saat kita dewasa? Kenapa bukan sekarang?”

“Karena kalau kita dewasa, kita bisa pergi berdua saja!”

Jinjja?!”

Ne!”

Yakso?”

“Um! Yakso!”

-THE END-

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: