Runaway To Nashville

nashville_greetings-close

 

Written By: IJaggys & Slovesw 

Previous Chapters.

.

.

.

“That was so sweet. I think I threw up in my mouth a bit.”

.

.

Nashville

Southeastern Of America

Tennenssee, America.

.

.

DITINJAU dari perspektif Hyukjae, Han Cheonsa akan menjadi delapan puluh persen lebih menyebalkan saat dia sedang merokok. Lelaki itu mungkin oke-oke saja dengan asap rokok yang dikeluarkan gadis psikopat itu, kecuali jika Cheonsa meniupkannya tepat ke dua lubang hidungnya secara terus-menerus.

Dan saat Hyukjae protes (untuk yang ke-sekian kalinya) kepadanya, gadis beriris biru samudra itu akan melubangi jas Ralph Lauren-nya dengan ujung rokoknya yang masih tersulut. Satu paket bencana yang menyebalkan.

“Lucky Strike,” ujar Hyukjae setelah tersedak asap rokok, “seperti bukan kau saja. Kau tahu itu—Lucky Strike; identik dengan rokok banci.”

Kedua belah alis Cheonsa menghampiri satu titik yang sama di tengah-tengah dahinya. Ia menjepit batang sigaret itu di sudut bibirnya, “You think I really give a fuck?

Okay, okay. You win, Cheonsa.”

Dalam balutan jas hitam kulit Cole Haan, siapa pun akan setuju bahwa Han Cheonsa pantas menjadi model motor—euhm, mungkin dengan rating 18+. Membayangkan Cheonsa melakukan adegan seks di atas motor bersama lelaki untuk iklan motor menjadi sedikit konyol, namun tak ayal membuat sekujur tubuh Hyukjae berdenyut.

Hyukjae tak menggubris, membiarkan Han Cheonsa meniupkan asap ke arahnya lagi dan lagi sambil membuka jendela mobil. Han Cheonsa pun mengabaikannya, kembali melanjutkan ocehannya tentang arsitektur The Parthenon sejak dua jam yang lalu mereka keluar dari sana.

Di kursi pengemudi, Heechul melirik mereka berdua melalui spion sambil menertawakan Hyukjae. Ia menginjak pedal gas dalam tempo yang lembut, sementara roda ban Cadillac tua sewaannya menyapu jalanan 25th Ave, Nashville. Tembang andalan Queen, Don’t Stop Me Now merembes keluar dari pengeras suara mobil.

Sembari menyupir, pria dengan rambut pirang terang itu bakal ikut bernyanyi. Sekali pun suara Heechul benar-benar sedikit ‘bermasalah’, Hyukjae mungkin bisa memakluminya. Tapi di sini masalah sesungguhnya: Heechul mengganti lirik yang tidak dihafalnya dengan kata seperti penis atau vagina. Jika setelah ini orang tuamu menemukan Heechul di tengah jalan dan mengira bahwa dia adalah calon menantu yang baik, maka mereka berdua sedang berada dalam dua-tiga langkah menjerumuskanmu ke neraka.

“Bung,” Hyukjae menendang kursi Heechul, “ijin mengemudimu mungkin bakal ditarik setelah ini. Anak-anak dan ibu di luar sana bakal menendang bokongmu.”

This is Nashville, Dickhead,” balas Heechul, jemarinya masih mengetuk-ketuk roda kemudi mengikuti ritme menyanyi Freddie Mercury. Penis dan vagina menggumpal di lidahnya. “The city of music. Nah, sekarang ke mana kita? Kunjungan ke kuil tua itu membuatku sedikit—ah, tidak—banyak bosan.”

Hyukjae menoleh, dan menemukan potongan iris biru samudera itu sedang berkabut. Han Cheonsa. Hyukjae masih ingat betul, sekitar satu minggu yang lalu saat wanita psikopat itu menciumnya. Sampai saat ini, setiap malam Hyukjae selalu memimpikan tubuh Cheonsa yang telanjang tengah tidur di atas tubuhnya. Benar-benar imajinasi paling erotis yang pernah dibayangkannya.

Tetapi, begitu citra dirinya di bawah tubuh telanjang wanita psikopat itu berubah menjadi polisi berengsek berlabel nama Lee Donghae, Hyukjae langsung merasakan gelombang ingin-menendang-selangkangan-siapa-pun saat itu juga.

Cheonsa, layaknya bagaimana orang-orang bilang: hanya bisa dilihat, tak mungkin direngkuh. Dan di situ letak ke-berengsek-an Han Cheonsa. Karena dia tanpa sadar—atau beberapa mungkin sadar—selalu menggodanya, dan Hyukjae tak bisa melampiaskannya kecuali berguyur air dingin setelah itu.

Tapi, menginginkan Cheonsa bagi Hyukjae tak hanya sekadar itu. Lebih dari itu. Hyukjae tak mau mendeskripsikannya lebih lanjut atau dia bakal terlihat seperti pria muram durja a la tenelovela. Yang benar saja, dia pembunuh bukannya aktor opera sabun.

Cheonsa masih menyesap rokoknya, hingga batangnya tandas lebih dari separuh. Asap putih lolos dari bibirnya. Ia terlihat melamun, kendati perangainya menunjukkan bahwa ia menolak untuk dikatakan sedang melamun. Garis romannya dingin, dan ia bahkan tak lagi meniupkan asap ke arah Hyukjae lagi. Seperti bukan Cheonsa saja.

Itu membuat kening Hyukjae berkerut samar.

“Elliston Place,” Han Cheonsa berujar dengan rokok yang digigit di sudut bibirnya, “ada bar yang lumayan di sana. Ikuti saja jalur ini. 26th Ave, lalu belok kiri ke Church Street. Sampai! Dan tidak, Heechul, The Parthenon bukan kuil mengerikan seperti itu. Kau tidak melihat pilar-pilarnya? Langit-langit? Oh, kau benar-benar tertidur ya, tadi?”

“Kau berbeda,” ucap Hyukjae kepada Cheonsa.

“Berbeda apanya?”

“Yah, kautahu,” Hyukjae mengusap tengkuk belakangnya, “not-so-Han-Cheonsa.

Han Cheonsa melepas tautan bibirnya dengan ujung rokok, lalu menaikkan bahunya, “Malam itu, ya? Aku tahu kau benar-benar menginginkan aku untuk berpesta ranjang denganmu malam itu, Hyukjae. But no, sorry, I don’t do sex with beginner.”

Fuck?” Hyukjae menginterupsi, namun Cheonsa sudah terlanjur tertawa riang. Jenis tawa yang tidak wajar bagi pembunuh yang hidupnya terancam dibunuh oleh mafia narkotika Amerika.

“Hei, bisa tolong hentikan pembicaraan tentang rencana seks kalian?” Heechul mengulurkan tangan kirinya ke belakang, mencoba menghentikan dua musuh bebuyutan itu. Lalu Heechul menyambung, “Aku tidak suka mengatakan hal ini. Tapi, Hyukjae, kau mungkin cukup pintar meninggalkan radar GPS Cheonsa di Los Angeles. Dean dan anak buahnya pasti sudah mendatanginya dua atau satu hari yang lalu.”

Hyukjae menunduk, menalikan tali sepatu pantoufle-nya. “Lalu?”

“Lalu,” Heechul menjawab dengan geraman, “kau pasti punya back-up plan, bukan? Kautahu, Dean tidak mungkin melepaskan Cheonsa begitu saja setelah gadis idiot itu melepaskan Taeyong di Seattle.”

Yang Hyukjae rasakan saat itu hanyalah matanya yang tiba-tiba menatap netra Cheonsa dengan perasaan marah yang meluap. Han Cheonsa pasti membenturkan kepalanya di salah satu arena bermain saat itu; melepaskan target hanya karena… dia melihat polisi berengsek Lee Donghae di dalam dirinya?

Yang benar saja. Lelucon.

Tanpa disadarinya, Cadillac itu sudah berhenti di depan Elliston Place.

Let’s grab some beers first,” Cheonsa melangkahkan kakinya keluar dan membanting pintu mobil dengan lekas. Meninggalkan Hyukjae dan Heechul yang saling bertukar pandang kebingungan.

I don’t understand her,” Heechul mendengus, membuka pintu mobil.

Hyukjae menggeleng, “Neither do I.

***

Han Cheonsa langsung duduk di kursi begitu masuk ke dalam Elliston Place. Rokok yang sedari tadi digamit kedua belah bibirnya kini sudah raib terlindas sepatu Macy’s-nya. Ia mengumpat setiap langkah yang dia ambil ke dalam. Han Cheonsa merasa seolah dia baru saja ditendang perutnya oleh Lee Hyukjae.

Si Sialan itu tidak seharusnya menatapnya seperti itu, bukan?

Tapi tidak. Hyukjae terus-terusan menatapnya seakan Cheonsa baru saja memotong penis Barrack Obama—yang mungkin, efeknya sebelas-dua belas dengan apa yang dilakukannya saat ini. Bermain-main dengan klien kelas kakap, Dean, seharusnya bukan menjadi salah satu dari daftar apa yang dilakukan Han Cheonsa di Seattle saat itu.

Sekarang yang dia ingin lakukan saat itu hanya membanting kepalanya di meja bartender.

Elliston Place tak sebegitu ramainya saat itu; masih pukul tujuh malam. Han Cheonsa sudah pernah ke sini dulu—cukup lama sampai ia tak ingat dengan siapa saat itu ia ke sini. Dengan mantan pacarnya?

Uhm, tidak. Dia bahkan tidak ingat pernah menjalin hubungan sejenis ‘pacaran’.

Cognac, please.”

Cheonsa mengangkat satu tangannya di atas meja bartender, meletakkannya dan membiarkan barista itu melayani pesanannya. New Thang milik Redfoo menendang pendengarannya. Tiga puluh lima detik dan cairan cokelat itu sampai di genggamannya.

“Bung,” Cheonsa memanggil barista pirang yang baru saja melayaninya, “wanita tidak suka menunggu, dan aku punya satu teman barista yang bisa melayani cognac-ku hanya untuk lima belas detik. Jadi, kalau setelah ini aku memesan punch dalam lebih dari tiga puluh detik, aku akan memberimu sesuatu sampai-sampai kau menyesal bahwa kau pernah bertemu denganku.”

Si Pirang itu lantas kehilangan rona wajahnya (alias pucat), lalu berbalik mengambil gelas lain untuk Cheonsa.

Cognac itu langsung tandas ke kerongkongan Han Cheonsa. Pikirannya tidak fokus saat itu. Dia pasti bohong kalau dia tidak memikirkan tentang Dean dan kematiannya yang mungkin menjelang beberapa hari lagi—atau mungkin lebih cepat dari itu. Dan Han Cheonsa pasti lebih bohong kalau ia tidak memikirkan Taeyong dan polisi berengsek itu: Lee Donghae.

Shit.”

Kepalanya berdenyut. Masih segar di ingatannya saat Cheonsa merobek lengan Taeyong dan malah menyuruhnya untuk pergi—hanya karena dia bisa melihat diri Lee Donghae di dalam sana. Heechul benar akan satu hal; dia sudah masuk dalam taraf idiot dan sinting.

Cheonsa menjadi merindukan dirinya sendiri saat sebelum kasus Dean dengan Taeyong menghampiri kehidupannya.

Cheonsa ingin meluapkan kemarahannya kepada barista pirang tolol tadi, namun sayangnya peach yang dia minta sudah bertengger di atas meja bartender. Gadis itu bahkan baru sadar sudah lima menit waktu berselang; dan sepertinya instingnya merasa ada yang salah saat itu juga.

“Ke mana si Idiot Hyukjae dan Heechul?”

Cheonsa menjadi sedikit awas; cukup awas bagi wanita yang baru saja menenggak cognac dengan konsentrasi alkohol empat puluh persen. Matanya bergerak liar menyapu ruangan bar. Tangannya mencengkeram pinggiran meja bartender.

Ia tahu ia sedang diawasi.

“Oh, no,” Cheonsa melepas napas gusar, “mereka mungkin sedang berada di kamar mandi. Atau bermain darts. Atau apa pun—tidak, Han.”

Pernyataan yang salah.

Sebab selanjutnya, retinanya menangkap bayangan yang sama sekali tak ingin dilihatnya di Nashville.

Hyukjae, Taeyong, dan Heechul akhirnya masuk ke dalam bar. Dan yang perlu digaris bawahi di sini adalah mereka bukannya masuk dalam keadaan baik-baik saja.

Wajah Hyukjae bonyok di satu sisi dan matanya tidak fokus, sementara Heechul mungkin harus rela bibirnya sedikit sobek. Taeyong pun tidak kelihatan lebih baik. Mereka datang dalam keadaan terborgol dan digiring oleh beberapa pria berjaket kulit hitam mirip sepertinya.

Dan di balik semuanya, ada satu orang yang paling tidak ingin ditemuinya saat itu.

Dean.

Well done, Cheonsa,” Dean mendekat ke arahnya. Seketika bar terasa lebih sunyi baginya. “Sudah terbangun, rupanya. Sayangnya, memilih Nashville sebagai tempat persembunyianmu merupakan hal tertolol yang pernah kaulakukan.”

What do you want from me?

Cheonsa ingin mengambil pisau lipatnya, seperti yang biasa dilakukannya saat dia membunuh targetnya. Namun yang didapatkannya saat itu malah tubuhnya yang tersungkur dari atas kursi dan pukulan di tengkuknya, sebagai jawaban, mengapa tiba-tiba sinar lampu bar menghilang?

***

Ketika melihat Dean dan seluruh anak buahnya berada di dalam bar itu, Hyukjae tidak memikirkan bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Oh, mungkin dia memang menebak beberapa kali tentang keberadaan Dean yang akan berakhir pada skenario pembunuhan wanita psikopat itu di dalam pikiranya.

Lupakan tentang bagaimana dia membenci polisi brengsek itu karena telah menanam beban moral kepada sahabatnya—yang mengidap sociopath.

Sebenarnya, Han Cheonsa bukanlah psikopat. Mungkin kelihatanya memang seperti itu, tapi percayalah wanita itu tidak pernah mengidap sindrom psikopat dimana psikopat biasanya di gambarkan sebagai seorang anti-sosial, tertutup, tidak memiliki kehidupan, mempunyai masa lalu yang buruk—dan seterusnya.

Tapi Cheonsa adalah wanita yang mudah bergaul, dia memiliki kehidupan sebagai seorang designer interior handal yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama gelas wine dan perkumpulan sosial kelas atas (jika tidak sedang membunuh), dia bukanlah orang yang konservatif—dia menerima akan adanya perubahan dan bersikap terbuka pada hal apapun.

Bahkan hingga di detik-detik terakhirnya sebelum dia akan dibunuh, Cheonsa masih menyempatkan dirinya untuk berkomentar tentang bagaimana Dean harus menempatkan setidaknya dua buah jendela di dalam sebuah ruangan yang tidak mendapatkan sinar matahari.

Lihat?

Manusia mana yang lebih mementingkan tata ruang ketika nyawanya sedang berada di unjung tanduk? Hanya Han Cheonsa.

Han Cheonsa bukanlah psikopat—tapi lebih parah dari itu, dia mengidap sociopath. Dia mempunyai kehidupan yang menarik, dia terlihat sempurna, dia akan berpenampilan sebagai seseorang yang tidak pernah melihat kejadian buruk di dalam hidupnya,— dan dia akan menjadi orang terakhir yang akan di selidiki oleh polisi sebagai tersangka di dalam sebuah crime scenes.

Hyukjae berani bertaruh jika Donghae dan Cheonsa berada di dalam satu ruangan dengan mayat bersimbah darah, polisi pasti akan menunjuk Donghae sebagai tersangka utama, walaupun Donghae memiliki wajah yang mengingatkan setiap orang kepada hal-hal kebaikan yang menyebalkan. Seperti membayar pajak tepat waktu, berbakti kepada orangtua, dan menyisihkan sebagian uang untuk di sumbangkan ke fondasi sosial milik Oprah Winfrey.

Jadi sekarang lupakan tentang bagaimana wajah menipu Cheonsa, dan fokus kepada apa yang akan mereka hadapi.

Cheonsa masih sibuk berkomentar dengan dua tangan dan kaki yang terikat dengan kencang di kursi kayu berwarna coklat pudar. Sementara Hyukjae, Heechul, dan Taeyong, duduk di bawahnya dengan kondisi yang tidak jauh berbeda.

See?

Bahkan di dalam kondisi buruk seperti ini, Cheonsa selalu mendapatkan fasilitas lebih mewah dari mereka. Tidak terhitung berapa banyak pukulan yang di layangkan oleh Yunho, algojo milik Dean ke wajah mereka bertiga, tapi Yunho langsung berubah seperti anak kucing ketika Cheonsa berkata bahwa dia ingin jus Sunkist dengan satu kotak cookies dari Famous Amos.

“Kau yang memiliki masalah, mengapa kita yang tersiksa?!” Heechul akhirnya menyuarakan rasa jengkelnya setelah melihat Cheonsa kini tengah menikmati chocolate soufflé yang di suapi oleh Jhonny—salah satu anak buah Dean, yang kebetulan adalah teman Taeyong.

“Benar! Yunho, kau bersikap tidak adil! Mengapa kau hanya menyiksa kita, tapi tidak dengan wanita gila itu?” kali ini suara Hyukjae yang menyahut dari balik tubuh Heechul. Yunho hanya tertawa kecil, jika dia tidak berkerja untuk Dean, dia mungkin akan menjadi teman yang baik untuk mereka.

“Mungkin karena Dean melihat bahwa kalian tidak seberharga itu.” Si wanita gila itu tertawa di sela-sela suapan penuh kasih sayang dari Jhonny. Jhonny di rekrutnya untuk menjadi salah satu timnya, ketika melihat remaja berusia belasan akhir itu menatapnya seperti menyaksikan Power Ranger berwarna pink meloncat dari dalam televisi, dia tahu bahwa Jhonny akan menjadi asistenya yang baik.

Melihat semua itu Taeyong hanya menarik nafasnya dengan tidak tertarik, apa yang salah dengan hidupnya hingga dia harus berurusan dengan orang-orang gila ini? Walaupun wanita yang berada di hadapanya ini adalah malaikat penyelamatnya.

“Oh idiot. Harus berapa kali aku berkata bahwa kau adalah mahluk idiot yang membiarkan korbanmu melangkah hidup—lihat dia sekarang, apakah dia ceria setelah kau selamatkan? Kita bahkan akan mati sebentar lagi! Aku bahkan belum mengucapkan salam perpisahan dengan Heebum!” Heechul berjerit dengan frustasi, dia mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang dia nyanyikan dalam lagu Queen. Penis dan Vagina.

Melihat semua kekacauan itu, Cheonsa hanya tertawa dengan senang—bahkan lebih senang dari yang mereka lihat ketika wanita itu meneguk jus sunkistnya.

“Jhonny, apakah aku terlihat cantik malam ini?”

Heechul dan Hyukjae memejamkan matanya dengan putus asa. Ini adalah salah satu dimana sifat menyebalkan wanita sociopath itu bangkit, memaksa orang untuk berkata bahwa dia terlihat sangat cantik.

Jhonny menaruh piring berisi chocolate soufflé ke meja terdekat, dia mengamati penampilan Cheonsa dari atas hingga bawah.

“Kau terlihat sangat cantik—seperti bintang di film porno yang akan melakukan blow job di atas motor besar.” Jawab Jhonny dengan senyuman polos yang membuat Hyukjae dan Heechul tertawa keras. Taeyong dan Yunho bahkan harus menyembunyikan tawanya disana.

“Aku rela menjadi manajer-mu dalam karirmu sebagai artis telanjang.” Heechul sepertinya belum puas untuk mengolok wanita itu, seakan membalaskan apa yang telah dia lakukan kepada dirinya.

“Waktu bercanda sudah habis. Aku bahkan jauh lebih menarik dari payudara-payudara palsu milik Hugh Hefner itu.” Jawabnya dengan suara sedikit sinis. Dia membiarkan Yunho melepaskan ikatan di tangan dan kakinya, membiarkan Hyukjae dan Heechul menatapnya seperti orang bodoh.

“Yunho is my man,”

“My man? Maksudmu—lawan bermainmu ketika blow job?” itu adalah pertanyaan bodoh yang keluar dari bibir Hyukjae. Mendapatkan pukulan selama beberapa jam ini membuatnya menjadi bodoh. Cheonsa memutarkan bola matanya dengan bosan, sebelum menyuruh Jhonny untuk melepaskan ikatan mereka.

“Yunho adalah orang yang berkerja untuk Ayahku di London. Ketika aku membebaskan Taeyong, aku tahu bahwa Dean akan membunuhku. Jadi aku mengirimkan Yunho untuk berkerja dengan mereka, dan memberitahukan semua informasi yang aku butuhkan.” Ketika menjelaskanya Cheonsa bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang datang dengan penuh rencana, dia cendrung terlihat seperti orang yang putus asa karena nyawanya akan berakhir sebentar lagi—setidaknya itu yang disimpulkan Hyukjae ketika wanita itu bersikap tidak seperti biasanya beberapa hari kebelakang.

Ayah Cheonsa adalah ketua sindikat kejahatan transnasional terorganisir di London. Tapi hingga detik ini Hyukjae maupun Heechul tidak pernah bertemu dengan Ayahnya.

“Kau datang dengan semua rencana ini?” Heechul berkata dengan ekspresi wajah cukup jengkel ketika Jhonny akhirnya berhasil membuka ikatanya.

“Ya, semuanya telah di rencanakan. Aku tidak bodoh dengan menyerahkan nyawaku kepada Hyukjae yang amatir, bahkan dalam urusan sex, ugh beginner.”

Hyukjae menatap Cheonsa dengan tidak setuju ketika wanita sociopath itu melirik dengan remeh ke arahnya.

“Aku tahu Dean akan mengejarku ke Nashville, tapi aku tidak tahu bahwa dia akan menyeret kalian.” Kali ini suara Cheonsa terdengar lebih prihatin ketika menatap luka lebam di wajah Hyukjae, dan bibir Heechul yang sedikit robek.

Jadi jika dia datang dengan semua rencana matang, kenapa mereka harus disiksa oleh Yunho jika memang Yunho berkerja untuknya? Atau jangan-jangan Cheonsa sengaja mengerjai mereka.

“Untuk pukulan-pukulan itu, Yunho hanya memastikan bahwa Dean tidak curiga dengan kita,” dia berjalan melewati Jhonny yang entah sejak kapan berdiri seperti dayang-dayangnya.

“Jhonny akan mengantarkan kalian keluar, aku akan menyusul 15 menit kemudian.” Mendengar kalimat perintah itu, Hyukjae dan Heechul langsung menolak tidak setuju—membiarkan Cheonsa bersenang-senang sendiri, jelas bukan mereka.

‘BRAAK!’

Pisau lipat dari tangan Cheonsa melayang begitu saja, menghujam tepat di jantung salah satu anak buah Dean yang akan memasuki ruangan itu.

“Sorry, my bad.” Ucapnya tanpa rasa bersalah, lalu menarik pisau itu dari sana.

‘BUUGH!’

Kali ini Hyukjae menghantamkan pukulanya ke seorang pengawal yang berjaga di depan pintu kerja Dean, hingga tidak sadarkan diri. Heechul disampingnya, sibuk membenarkan rambutnya dengan jari-jarinya. Tidak ada yang boleh melihat seorang diva seperti Kim Heechul dalam penampilan buruk, pikirnya.

Yunho menendang pintu kerja itu dengan keras, hingga Dean harus menutup telefonya dan menatap mereka dengan terkejut. Ketua mafia itu cukup terkejut untuk seukuran ketua kartel terbesar di Amerika selatan.

“Apa yang kalian lakukan disini?” suara Dean masih stabil walaupun dia berusaha keras untuk meminta bantuan kepada anak-anak buahnya yang lain, melalui pesawat telefon yang sudah di hancurkan Jhonny dan Taeyong dengan sepatu mereka.

“Aku pikir kau memang ingin bertemu denganku Dean! Astaga! kau bahkan menculiku dan teman-temanku hanya untuk menemuimu disini.” Cheonsa memutuskan untuk duduk di atas meja yang berhadapan dengan Dean yang sudah pucat pasi ketika melihat pisau lipat Cheonsa sudah berlumur darah.

“Aku tahu, aku membuatmu marah. Aku memang tidak bersikap seperti diriku akhir-akhir ini.” Cheonsa mengawalinya dengan suara ringanya, seakan dia sedang bercerita kepada psikolognya.

“Ada seorang polisi dari San Francisco—dia mengingatkanku kepda Taeyong, dan aku pikir Taeyong mungkin bisa menjadi polisi seperti dia.” Alasan terburuk dan terbodoh yang bisa di ucapkanya di depan ketua mafia yang gusar.

Cheonsa mengeluarkan kertas cek kosong dari saku jeansnya, lalu mengambil pulpen yang dipegang Dean dan menuliskan sesuatu disana sebelum menyodorkanya kearah pria itu.

“Itu adalah cek kosong yang telah aku tandatangani, kau bisa mengisi nominalnya semamumu. Anggap saja itu untuk menebus apa yang aku lakukan, dan aku tahu itu membuatmu jengkel. Tapi kita masih bisa berteman, bukan?” tawar Cheonsa dengan senyuman bersahabatnya, walaupun satu tanganya masih mencodongkan pisau lipat itu kearah leher Dean.

“Kau tidak akan bisa bebas semudah itu. Aku akan membuat perhitungan dengan semua ini. Aku akan membunuhmu ketika aku sudah membunuh teman-temanmu yang lain, bahkan aku akan membunuh polisi San Francisco itu karena telah membuatmu melupakan jati dirimu sendiri.” Walaupun Dean mengancam tapi entah bagaimana Hyukjae menemukan kata kesepakatan tentang apa yang pria itu bilang mengenai polisi San Francisco.

Cheonsa tidak bergeming, matanya menatap Dean dengan tenang. Pisau lipat itu dia taruh di atas meja, dengan kedua tangan terangkat di udara. Untuk beberapa saat Dean tersenyum setelah melihat pembunuh bayaran itu menyerah dengan gampang, tapi semua itu tidak berlangsung lama ketika Cheonsa mematahkan beberapa jarinya dengan tangan kosong.

“Aku bisa membunuhmu dengan tangan kosong Dean, aku bahkan bisa membuatmu berhenti bernafas bahkan sebelum kau menyadarinya.”

Taeyong dan Jhonny menatap wanita itu dengan tidak percaya, wanita yang mereka pikir datang dari fantasi mereka terhadap Power Rangers, bisa membunuh orang dengan tangan kosong.

“Aku tahu bahwa kini kau tengah menunggu selundupan heroin yang berharga lebih dari lima juta dollar, dari mafia di Sacramento. Kapal itu kini tengah mengarungi perairan Meksiko, sebelum berlabuh di Puerto Rico. Yang tidak kau ketahui adalah, aku bisa menghilangkan selundupan heroin itu jika aku mau—dan membuatmu diburu oleh ratusan pembunuh bayaran yang disewa oleh mafia Sacramento karena kau baru saja menghilangkan harta karun mereka.”

Wajah Dean kini kembali pucat—seperti kehilangan nyawanya, darimana wanita psikopat ini mengetahui semuanya.

Dia bersyukur mendengar pesan suara dari Tablo, dan informasi dari Yunho atau jika tidak nyawa mereka akan terbunuh malam ini.

“Jika kau berani menyentuh sehelai rambut dari mereka. Aku akan memastikan bahwa kematianmu akan terasa sangat menyakitkan.” Bisik Cheonsa dengan senyuman cerianya sebelum berjalan meninggalkan Dean yang masih terdiam seperti mayat hidup di ruang kerjanya.

Membiarkan suara Heechul mengeluh bahwa dia tidak sempat beraksi di dalam sana.

***

 

.

Los Angeles

Southern California

California, America.

.

.

Hyukjae menatapnya dengan jengkel, ketika melihat Cheonsa mengusirnya dari kamarnya sendiri dan membiarkan Taeyong dan Jhonny menempati kamarnya. Mereka bahkan belum genap satu jam kembali dari Nashville, dan wanita itu sudah kembali memancing emosinya.

Dasar wanita sociopath brengsek.

“Kau bisa tidur di sofa, dan itu akan menyenangkan Hyukjae!” suaranya begitu ceria, seakan-akan mengusirnya bukanlah masalah besar. Sudah cukup dengan masalah Taeyong—dan kini Jhonny hadir dalam kehidupan mereka.

“Kau tidak serius untuk merawat mereka berdua—di kamarku, bukan?” dia tidak masalah jika wanita sociopath itu memutuskan untuk merawat kucing atau anjing, atau bahkan Iguana seperti yang dia berikan kepada Haru di pesta ulang tahunya. Tapi yang di rawatnya adalah dua anak manusia, yang entah bagaimana cukup dewasa untuk memulai kehidupan mereka sendiri.

“Hyukjae, mereka berdua sangat manis! Bagaimana bisa aku membuang mereka di jalanan dan membiarkan Dean membunuh mereka dalam 10 bagian?”

Alasan.

Alasan klise yang pernah di dengarnya. Dia tahu bahwa alasan Cheonsa memutuskan untuk merawat Taeyong karena dia masih terbayang si polisi brengsek itu. Untuk Jhonny—mungkin karena Jhonny bisa menyuapinya chocolate soufflé dengan penuh kasih sayang.

Menyadari raut wajahnya yang berubah, Cheonsa kembali memutar arah pembicaraan.

“Tenang saja kau akan mendapatkan kamarmu yang berisi gambar payudara palsu itu kembali. Besok aku akan mengantarkan mereka ke San Francisco, untuk tinggal bersama Donghae sebelum aku mendapatkan apartemen untuk mereka.” Jelas Cheonsa dengan satu tangan memakan sisa potongan kue ulang tahun yang di belikan oleh Hyukjae minggu lalu.

“Kau sekarang terdengar seperti pengurus panti asuhan yang kekurangan dana,” sindirnya sebelum dia merebahkan tubuhnya di atas sofa abu-abu milik Heechul, yang entah sudah berapa kali di hiasi oleh air kencing Heebum.

Samar-samar dia bisa mendengar suara jeritan Heechul dari dalam kamarnya, Heechul pasti tengah histeris melihat sudut bibirnya yang sobek.

Luka di wajahnya memang tidak terlalu parah, hanya beberapa luka lebam yang akan menghilang dalam hitungan hari—tapi tetap saja dia harus menekan luka-lukanya dengan sekantung es yang dibawakan Taeyong ketika mereka berhenti di sebuah gas stop karena Cheonsa berkata dia membutuhkan diet coke.

Cheonsa duduk di tengah sofa, menutup pemandangan Hyukjae dari layar televisi yang tengah memutar serial Baywatch dengan wanita-wanita seksi yang berlari di tepi pantai.

“Menurutmu apakah Dean akan menyerah?” walaupun Cheonsa sudah mengalahkan Dean dengan telak, tapi Hyukjae masih takut bahwa di luar sana nyawa Cheonsa masih terancam.

“Aku tidak tahu. Tapi setidaknya untuk saat ini kita aman. Yunho akan tetap mengawasi Dean dari jauh atas perintah Ayahku. My father somehow trying to sell me a safe-zone, but I am not buying it.” Ini adalah pertama kalinya Cheonsa menjelaskan tentang Ayahnya lebih dari dua kata. Hyukjae menatap Cheonsa yang masih sibuk dengan kaleng Mountain Dew dan cream dari kue tartnya, sebelum mengalihkan pandanganya ke tv lagi.

“Sebenarnya aku menyukai sofa ini, jadi kau tidak perlu membawa Taeyong dan Jhonny ke apartemen polisi brengsek itu.” Gumanya dengan tatapan mengarah ke layar tv.

Cheonsa menolehkan pandanganya dari David Hasselhoff yang bertelanjang dada di dalam layar tv kearah Hyukjae, yang masih menatap payudara para pemain Baywatch dengan serius. Dia terus menatap Hyukjae dengan iris samudranya hingga Hyukjae kembali tidak fokus.

“Aku serius, mereka bisa mengambil kamarku.” Ucapnya dengan jengah, Cheonsa sekali lagi menatapnya sebelum wanita itu tersenyum singkat dan ikut merebahkan dirinya diatas sofa itu—dan masuk ke dalam pelukan Hyukjae.

“Baguslah, dengan begitu aku memiliki alasan untuk menemanimu tidur di sofa setiap malamnya.” Bisik Cheonsa dengan satu tangan menarik tangan Hyukjae agar memeluknya lebih erat.

“Kau bilang apa?” Hyukjae menatapnya dengan tidak percaya, mungkin ini hanya halusinasinya saja—atau mungkin ini hanyalah fantasi yang berkepanjangan tentang bagaimana dia memimpikan tubuh telanjang wanita itu berbaring di atasnya, sejak wanita itu mencium bibirnya.

“Kau bilang apa?” dia mengulang pertanyaanya lagi, tapi wanita sociopath itu tetap tidak menjawabnya.

Hyukjae merendahkan wajahnya untuk menatap wajah Cheonsa, mata berwarna samudra itu menatapnya dengan tenang.

“Apa yang kau bilang?”

“Aku bilang—Kau dan David Hasselhoff akan menjadi pasangan gay yang hebat jika kalian berada di atas ranjang setiap malamnya.” Jawab Cheonsa dengan tenang, tapi Hyukjae masih menatap bola matanya dengan serius.

“Hey stop staring into my eyes, you’re freaking me out. Just look at my breasts like everybody else does.” Ucapnya dengan satu tangan menunjuk kearah dadanya.

“That was so sweet. I think I threw up in my mouth a bit.” Sadar bahwa wanita itu kini tengah kembali menggodanya, membuat dia kembali ke posisi semula dan kembali menonton Baywatch.

Dia bisa mendengar suara tawa penuh kemenangan dari bibir Cheonsa.

“Fuck you, Han Cheonsa.” Umpatnya tanpa berusaha merubah posisi mereka. Sekali lagi dia masih bisa mendengar suara tawa Cheonsa dan hembusan nafas hangat yang menyapu kulit lehernya.

“Fuck you too, Lee Hyukaje.” Balasnya sambil mengeratkan pelukan Hyukjae di tubuhnya, dan tanpa tersadar Hyukjae kini tengah tersenyum ketika mendengar suara Cheonsa di udara.

For Hyukjae, maybe it’s just cuddle up on the couch—kind of relationship.

But for Cheonsa, late night cuddles are simply needed.

.

.

-END OF RUNAWAY TO NASHVILLE-

.

.

.

.

Taeyong and Jhonny From SMRookies

SM-ROOKIES-image-sm-rookies-36477307-1024-575 

Left: Taeyong  | Right: Jhonny

.

.

***

.

.

 

IJaggys: Hai! Ini adalah FF collab pertama aku selama nulis FF, dengan slovesw! Semuanya dimulai karena ada anon di ask.fm yang pengen liat kita collab, so here it is. Semoga di FF Collab perdana aku, rating A Shoot bakal naik (because I’m super in love with this series, eventough with low feedbacks and rating #deardiary) Last! Jangan lupa tinggalin komen ya untuk ngehargain hasil karya kita berdua ya :). Anyway aku gabutuh likes kalian—because it’s not helping, aku cuma pengen baca komentar unyu-unyu kalian—I am still me. xx

.

.

Slovesw: Hello. This is Tata speaking. Sooo ini adalah ff pertamaku collab sama kak Sonia HAHAHA don’t forget to leave your review yaaa guys. We will always appreciate it. And, makasih juga sama kak Sonia udah nyemangatin nulisku juga hohoho btw aku bikin ff collab ini 6 hari while kak Sonia bisa rampung satu jam doang… (Keliatan yg amatir siapa yg expert siapa huhu) daaan nggak lupa makasih juga buat siapa pun kamu anon unyu-nya kak Sonia yang udah ngirim question supaya kita bisa collab HAHAHA. Thank you aaand see you guys!!

.

.

.

LOVE IT. MEAN IT.

xo

IJaggys | slovesw

 

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: