Acacia Girl

j

Author : Specialshin
Length : Oneshot
Cast/Tags : Super Junior, Lee Hyukjae, Lee Sungmin
Rate,Genre : All Age, Romance
disclaimer : All besides the sj’s cast rightully mine. 

***

“Gardenia lagi?” tanya Haneul sambil mengikatkan lima buah Gardenia dengan tali khusus lalu membungkusnya dengan plastic bening bermotif  cantik dan memberi pita putih di bawahnya, agar warnanya senada.

Eunhyuk hanya menatap tangan cekatan Haneul yang membungkus bunga bunga tersebut, dan mengambil kartu kecil putih dari tumpukan kartu di mejanya. Ia membuka bolpoin dan siap siap menulis. “Park Hyera lagi?” tanya Haneul ringan sementara Eunhyuk hanya mengangguk.

“Kau tahu? Kebiasaan ini sudah kau lakukan sejak SMA. Kalau suka katakan saja,” kata Haneul ringan sambil menulis ‘dear Park Hyera’ di kartu putih tersebut.

Eunhyuk, Hyera dan Haneul sudah saling mengenal sejak di bangku SMA. Tetapi Eunhyuk tidak tahu kalau Haneul memendam perasaan kepadanya. Kisah cinta rumit ini seperti belum lengkap saja ditambah dengan fakta bahwa Eunhyuk juga mencintai Hyera sejak lama. Dan seperti belum cukup juga, Heaven’s Florist adalah toko bunga langganan keluarga Eunhyuk sejak lama, dan sekarang Haneul yang mengelolanya.

Eunhyuk hanya tersenyum kecil. “Kalau bisa sudah kukatakan dari dulu dulu saja,” jawabnya lemah. Hyera menatapnya pengertian lalu mengulurkan tangan untuk menepuk pundak pria itu pelan. “Kalau saja bisa kukatakan, Han…”

Haneul hanya tersenyum pengertian. Dipaksakan lebih tepatnya. “Yah.. setidaknya kau mengatakannya secara tidak langsung. Gardenia. Secret love,” katanya membuat Eunhyuk menoleh padanya cepat.

“Ini,” Haneul menyerahkan sebuket Gardenia yang selesai dibungkusnya dan sebuah pot mini kecil berisi tanaman dengan bunga kuning kecil kecil. “Seperti biasa, pembelian lima tangkai Gardenia mendapatkan bonus. Aku memilihkanmu Akasia,” kata Haneul manis.

Eunhyuk mengambil pot kecil itu hati hati. Selalu begitu, setiap habis membeli Gardenia setiap tahunnya, Haneul selalu memberikannya pot Akasia itu. Entah apa maksudnya. Sekian banyak bunga yang lebih simple untuk diberikan, mengapa harus Akasia? Tetapi untuk itu, Eunhyuk tidak pernah repot repot menanyakan.

“Kenapa harus Akasia?” Eunhyuk sepertinya tidak bisa membendung penasarannya lagi. Haneul hanya menjawabnya dengan senyum misterius. “Memang butuh penjelasan ya?” katanya. Sementara Eunhyuk yang jarang berminat untuk bertanya lebih jauh memilih untuk diam.

Ini sudah tahun ke delapan, di tanggal yang sama Eunhyuk membeli lima tangkai Gardenia. Dan ke delapan kalinya pula ia mendapatkan Akasia.

Eunhyuk mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menaruhnya diatas meja kayu klasik di depan Haneul. “Semoga beruntung, Hyuk,” ujar Haneul singkat sebelum Eunhyuk keluar melalui pintu yang mengayun tertutup secara otomatis.

-oOo-

HANEUL POV

“Hwang Haneul pabo. Bodoh. Munafik,” kudengar bibirku merutuki diriku sendiri. Tapi memang benar adanya. Aku memang munafik.

Yeah, aku memang sudah menyimpan perasaan pada Lee Hyukjae semenjak kami masih di bangku SMA tetapi sepertinya memang tidak ada gunanya memberi tahukan ini. Toh dia begitu mencintai Park Hyera.

Tidak… dia tidak mencintai Park Hyera tetapi aku tidak yakin dengan itu. Eunhyuk waktu SMA adalah seorang Playboy yang bisa mendapatkan wanita manapun yang diinginkannya. Dia tampan, dan berasal dari keluarga kaya. Tetapi bukan itu yang membuatku jatuh padanya. Bukan.

Eunhyuk dulu adalah teman sebangkuku. Aku hanyalah gadis biasa waktu itu. Kehidupanku juga biasa saja, malah cenderung datar. Aku begitu tertarik pada bunga, entah apa alasannya. Aku tidak tertarik pada apapun lagi. itulah yang menyebabkanku jauh dari teman temanku. Hidupku datar. Biasa saja.

Tetapi Lee Hyukjae-lah yang membuatnya luar biasa. Dia datang sebagai anak baru di tahun keduaku, dan merubah segalanya. Dia ditetapkan menjadi teman sebangkuku. Dia benar benar playboy waktu itu. Tidak ada wanita yang tidak bertekuk lutut padanya.

Aku juga, bertekuk lutut padanya. Tetapi bukan karena wajahnya, atau uangnya. Tetapi karena sifatnya. Dia begitu luar biasa dan tahu caranya membuatku tertawa. Lebih tepatnya ia membuatku tertawa setiap hari dengan jokes konyolnya.

Dia bahkan dengan gamblangnya menceritakan padaku hal hal lucu tentang kekasih kekasihnya. Betapa mudahnya mendapatkan mereka, betapa mereka begitu besar kepala ketika dipuji. Aku selalu tertawa mendengar cerita Eunhyuk tentang gadis gadisnya. Aku tidak pernah cemburu, toh mereka semua hanya boneka mainan.

Dan itulah yang membuatku ketergantungan. Senyumnya. Gummy-Smilenya.

Tetapi senyum itu berbeda. Semakin manis, semakin tulus ketika tiba tiba ia mulai jatuh cinta pada gadis itu. Gadis sakit sakitan itu. Park Hyera. Gadis teman seangkatanku, hampir invisible. Biasa saja, tidak terlalu pintar tetapi aku tahu dia baik hati. Eunhyuk kali ini jatuh cinta, dan ini berbeda karena dia serius.

FLASHBACK ON

“Haneul-ah~ kau tahu tidak bunga yang tepat untuk diberikan pada seseorang yang kau cintai diam diam?” Tanya Eunhyuk tiba tiba pada Haneul yang sibuk membaca buku dengan judul besar ‘1001 Tanaman Obat Korea’ dengan serius.

“Han…” Eunhyuk menyeggol Haneul yang sama sekali tidak menggubris kata katanya sementara Haneul hanya menggumam pelan menanggapi dengan malas.

“Kau tahu tidak, Bunga apa yang diberikan pada gadis yang kau cintai diam diam?” ulang Eunhyuk membuat Haneul menoleh menatapnya heran. “Mencintai diam diam?” tanya Haneul lagi, mengerutkan keningnya. Eunhyuk hanya mengangguk mengiyakan.

“Yang aku tahu, ada dua yang paling terkenal. Yang pertama Gardenia, yang kedua itu–”

“Apa tadi? Yang pertama?” Eunhyuk memotong perkataan Haneul kelewat bersemangat.

“Gardenia,” jawab Haneul sementara Eunhyuk mengerucutkan keningnya. “Gardenia? Kau yakin itu bahasa Korea? Aneh..” ucap Eunhyuk bingung membuat Haneul mendengus. “Itu bahasa Inggris, Pabo. Makanya perhatikan saat pelajaran Biologi,” sinis Haneul.

Eunhyuk menggaruk garuk belakang tengkuknya yang tidak gatal. “hehe.. aku kan punya kau, jadi masalah Biologi itu… yah, mengerti kan?” Eunhyuk mulai mengisyaratkan persahabatan setiap membahas pelajaran. Tentu saja, selain teman sebangku, Hwang Haneul juga sahabat-menconteknya.

Haneul hanya menggelengkan kepalanya sambil berdecak dan melanjutkan membaca buku tanamannya. “Haneul-ah,” panggil Eunhyuk lagi, pelan. “Kali ini apa?” gumam Haneul tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.

“Memang… Gardenia itu artinya apa?” tanya Eunhyuk polos memuat Haneul memutar bola matanya lagi. Ia tadinya mengira kalau Eunhyuk akan menanyakan sesuatu yang sedikit lebih penting, tetapi ternyata sama tidak pentingnya dengan pertanyaan sebelum sebelumnya.

“Ini pertanyaan terakhirmu yang akan kujawab, Lee Hyukjae. Gardenia itu artinya Secret Love,” kata Haneul mulai kesal karena Hyuk terus menerus mengganggunya. Eunhyuk mengangguk angguk paham. Tiba tiba sesuatu terlintas di otak Haneul yang membuatnya menoleh cepat.

“Hyuk, kau akan memberikannya pada siapa?” tanyanya cepat kelewat ingin tahu. “Hyera,” ucap Eunhyuk sambil nyengir lebar. Haneul memiringkan kepalanya bingung. “Hyera….park?” tanyanya memastikan sementara Eunhyuk hanya mengangguk bersemangat.

“Dia bukan korban playboymu yang selanjutnya kan Hyuk?” Haneul lagi lagi mencoba memastikan sementara Eunhyuk menjawabnya dengan gelengan cepat. “Aku serius kali ini, aku jatuh cinta pada Park Hyera,” jawabnya mantap.

Haneul terperangah mendengarnya. “Seorang Lee Hyukjae?” gumamnya tidak percaya. “Kau jangan melongo seperti itu, nanti orang orang kira kau terperangah karena ketampananku. Sudah yang penting kau doakan saja aku berhasil, oke?” Eunhyuk menepuk pundak Haneul pelan dan melangkah gontai keluar kelas.

Awalnya Haneul tidak percaya bahwa Eunhyuk benar benar mencintai Hyera. Ia pikir Park Hyera hanya salah satu gadis sial yang termakan tipu dayanya, karena Eunhyuk selalu seperti itu. Menaklukan wanita adalah permainan pribadinya.

Dan terlebih lagi Park Hyera sama sekali bukan tipe Eunhyuk. Badannya kurus ringkih dan pucat akibat gagal jantung yang dideritanya. Hidupnya juga tidak bisa diprediksi. Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh sorang Lee Hyukjae?

Tetapi Haneul sadar bahwa ia salah saat Eunhyuk datang keesokan harinya…

“Haneul-ah! Pilihanmu berhasil. Hyera bilang bunganya cantik,” Haneul menoleh padanya acuh tak acuh. Itu semua sudah biasa baginya. “Jadi? Kau punya gadis baru sekarang?” tanya Haneul berpura pura tidak peduli padahal sekarang ia sedang berada di puncak penasarannya. Eunhyuk hanya diam tidak menjawab kata kata Haneul.

“Jadi? Kau punya gadis baru sekarang?” ulang Haneul dengan ekspektasi bahwa Eunhyuk akan mengangguk. Siapapun Gadis yang diincar oleh playboy itu akan menjadi miliknya dalam waktu satu hari dan Hyera tidak akan berbeda.

Tetapi begitu terkejutnya Haneul ketika Eunhyuk menjawabnya dengan gelengan kepala. “Aku belum berani, Han. Ottokhe?” katanya lemas.

Dan saat itu Haneul tahu kalau Eunhyuk serius.

FLASHBACK OFF, HANEUL POV

Yah, semenjak kejadian itu Eunhyuk berubah banyak. Dia lebih banyak tersenyum. Kalian tahu kan seberapa banyak seorang Lee Hyukjae tersenyum? Dan dia melakukannya lebih banyak lagi. Dapat kalian bayangkan komplikasi kejadian  itu? Dimana dia tersenyum selalu karena gadis lain sementara aku adalah gadis yang ketergantungan pada senyumannya.

Tetapi senyum itu menghilang dimulai saat kutemukan ia jatuh tersimpuh di depan rumahku.

FLASHBACK ON

Haneul akan menutup Heaven’s Florist toko milik keluarganya sekaligus rumahnya itu ketika ia menemukan sosok yang ia kenali jatuh tertunduk di depan pintunya. Saat itu hujan membanjiri kota Seoul dan pria itu basah kuyup.

“Hyuk.. ada apa?” tanya Haneul heran. Eunhyuk berusaha menengadah keatas memandangnya dengan wajah pujat dan dagunya meneteskan air hujan. Ia membisikkan kata kata yang tidak bisa Haneul tangkap, jadi gadis itu menunduk mendekatkan telinganya ke bibir Eunhyuk agar bisa mendengar lebih jelas.

“B-Bunga apa y-yang harus k-kau ber…berikan untuk o-orang yang su..sudah m-meninggal?” katanya terbata dan pedih. “Mawar hitam,” jawab Haneul. Ia menganggap pertanyaan ini begitu konyol tetapi toh ia tahu ini masalah genting. “Ada apa Hyuk?” tanyanya khawatir.

“P-park Hyera… g-gagal jantungnya… d-dia… dia s-sudah…” Haneul menghentikan kata kata Eunhyuk dengan mendekap pria itu hangat. Dapat ia rasakan tubuhnya menggigil karena hujan diluar. Dibiarkannya air dari sekujur tubuh Eunhyuk meresap masuk ke pakaiannya membuat ia kedinginan juga tapi itu tidak penting lagi.

Yang penting sekarang adalah bagaimana menghangatkan pria itu. Bukan tubuhnya, tapi hatinya. Bagaimana caranya mambuat Eunhyuk melupakan masa lalu pahitnya tentang Park Hyera. Dan yang terpenting bagaimana mengembalikan senyumnya.

Tetapi delapan tahun telah berlalu dan senyum itu tidak pernah kembali.

FLASHBACK OFF

-oOo-

Eunhyuk berjalan pelan mendekati tempat itu, dimana gadisnya terbaring untuk selamanya. Tidak… bukan gadisnya. Gadis itu tidak pernah menjadi miliknya, bahkan di detik terakhirpun.

Eunhyuk berlutut dengan satu kaki di depan makam itu dan meletakkan bunga bunga Gardenia itu diatasnya.

“Park Hyera pabo…” rutuknya memandang pahit pusara yang sekarang berhiaskan Gardenia putih itu. “Kau baru saja mendapatkan cinta Playboy nomor satu sekolah kalau kau tidak pergi secepat itu, Park Hyera bodoh…” rutuknya penuh sesal.

“Setidaknya biarkan aku mengatakannya dulu. Paling tidak aku akan memberikanmu mawar putih, bukan Gardenia, Park Hyera bodoh…” ulangnya lagi. sepertinya mengucapkan gadis itu bodoh memiliki sensasi pelampiasan tersendiri untuknya.

“Kau juga bodoh,” Eunhyuk menghentikan aksinya ketika mendengar suara seorang gadis yang familiar dan saat menoleh, benar itu Haneul. “Kau terlalu merutuki masa lalu sampai melupakan segalanya. Setidaknya pedulikan perasaanku, Lee Hyukjae bodoh,” sesalnya.

“Haneul?” Eunhyuk terlihat tidak terlalu kaget melihat gadis itu. Entahlah, Eunhyuk seperti sudah merekam suaranya di memori yang di letakkan begitu jauh di salah satu sisi otaknya. “Kau mengapa kesini?” tanyanya heran.

“Kau meninggalkan Akasiamu,” katanya menyerahkan pot mini Akasia tersebut pada Eunhyuk. Haneul berlutut di sebelah Eunhyuk dan mengatupkan kedua tangannya sebelum memejamkan mata.

Eunhyuk memperhatikan wajah gadis itu secara detail. Banyak yang berubah, sekarang garis wajahnya menunjukkan kedewasaan. Rasanya sudah lama sekali semenjak Eunhyuk melepaskan perhatiannya dari gadis yang kerap menjadi tempat curhatnya ini.

Dan sekarang, menatap Haneul membuatnya merasa ditarik kembali pada masa masa SMAnya, dimana ia masih bisa tersenyum. Membuatnya merindukan masa masa itu. Eunhyuk tidak mengalihkan pandangannya bahkan saat Haneul menyelesaikan doanya.

“Kau memperhatikan apa?” Haneul menoleh padanya heran. “Entah, seperti sudah lama tidak melihatmu,” katanya singkat.

“Kau terlalu tenggelam pada dunia gelapmu itu. Terakhir kita berinteraksi sebagai teman, itu delapan tahun lalu,” katanya. Eunhyuk merenungkan perkataan Haneul tersebut. “Lalu sisanya?” tanyanya. Haneul tersenyum kecil. “Seharusnya aku yang bertanya. Sisanya apa? Apakah aku angin lalu?” tanya Haneul sambil tersenyum geli. Akting, jelas.

Eunhyuk hanya mendengus dan tersenyum kecil. Tetapi itu bukan senyumnya yang biasa, menurut Haneul. Bukan senyum yang ia rindukan.

Eunhyuk terus menatap wajah Haneul seakan akan ada sesuatu yang bergejolak di pikirannya. “Ada apa?” tanya Haneul merasa risih diperhatikan terus. Semenjak hubungan mereka merenggang, pasti banyak perubahan yang terjadi. Haneul merasa risih ditatap seperti itu oleh Eunhyuk padahal dulu tidak.

“Ani.. melihatmu membuatku ingat masa masa sekolah,” jawab Eunhyuk gamblang. Haneul tersenyum simpul. “Mau kesana?” tanya Haneul ramah dan Eunhyuk mengangguk. “Aku bawa mobil,” kata Eunhyuk lalu berdiri dan berjalan ke mobilnya sementara Haneul mengikuti di belakang.

-oOo-

“Ah… sekolah kita,” Haneul merentangkan tangan dan berusaha menghirup sebanyak banyaknya udara ke paru parunya seperti sudah berjam jam tidak bernapas.  “Kau berlebihan, Han,” Eunhyuk mengingatkan sementara Haneul hanya menjulurkan lidahnya mengejek.

Eunhyuk melihat sekeliling bangunan sekolahnya. Seperti membangkitkan lagi kenangan kenangan masa lalunya dan dia yang dulu tidak seperti sekarang. Delapan tahun terakhir dia seakan ‘hilang ke dimensi lain’

Eunhyuk ingat ia berubah sedikit demi sedikit. Menjadi anti social dan pendiam. Jarang berbicara, jarang tertawa, benar benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dan Eunhyuk ingat satu persatu teman temannya pergi. Hanya Haneul yang tinggal.

“Kau berpikir tentang apa sekarang?” Haneul mengayunkan tangannya didepan wajah Eunhyuk membuat lamunannya buyar. “tidak, hanya berusaha mengingat ingat pengalaman sekolah,” elaknya. “Kau melewatkan  banyak, di tahun tahun terakhir,” kata Haneul lagi.

Eunhyuk maju beberapa langkah dan berjalan mendahului Haneul memasuki gedung sekolah sementara gadis itu hanya mengekor di belakangnya. “Mau kemana?” tanya Haneul. Eunhyuk tidak menjawab tetapi pria itu naik ke lantai dua dan berjalan lurus ke ujung koridor.

Dan Haneul langsung tahu, kemana Eunhyuk akan pergi. Kelas mereka.

Haneul mengulum senyum saat Eunhyuk masuk, lalu mengambil tempat di pojok nomor dua dari belakang. Dekat sekali dengan jendela dan duduk disana. Haneul mengambil tempat di sebelahnya. “Ini tempat kita. Ingat?” kata Haneul menempelkan pipinya di meja itu, mengingat kenangan kenangan delapan tahun lalu.

“Kita melewati banyak hal,” ucap Eunhyuk membuat Haneul menatapnya lucu. “Kau baru ingat?” tanyanya mengejek. Entah sinis entah menggoda. Haneul memang seperti itu.

“Kemana saja aku bertahun tahun ini?” Eunhyuk seperti berbicara pada dirinya sendiri dan Haneul hanya mencibir kearahnya. “Kau benar. Kemana saja kau bertahun tahun ini?” sinisnya.

Eunhyuk hanya tersenyum kecil menyadari tahun tahun yang ia lompati begitu saja bagai tidak ada. Haneul menatap mejanya dan meraba tulisan yang diukirnya dengan tipex di atas meja. ‘sky’. Namanya memang berarti itu. Haneul artinya langit.

“Wow sky…” kata Eunhyuk membaca coretan itu.

“Yeah… sky,” kata Haneul singkat.

Eunhyuk menatap Haneul dengan tatapan aneh. “Tidakkah kau merasa berbeda? Kita sekarang seperti… stranger? Asing. Seperti tidak pernah akrab,” kata Eunhyuk dan Haneul lagi lagi memutar matanya karena Eunhyuk yang selalu terlambat sadar.

“Kita dulu punya dunia yang sama, Hyuk. Sebelum kau menarik diri dari ‘dunia’ itu,” kata Haneul membuat Eunhyuk terdiam dan merenung.

“Tetapi yang perlu kau tahu, aku selalu ada di dunia itu. Selalu disana,” lanjutnya.

Eunhyuk menatap Haneul penuh arti. “Kenapa kau tidak memutuskan untuk pergi? Seperti yang lainnya. Mereka pergi,” kata Eunhyuk mengingat teman temannya yang satu persatu meninggalkannya.

Haneul tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Eunhyuk. “Bodoh. Kalau aku pergi apa bedanya aku dengan mereka? Kau yang pergi Hyuk. Kau sudah pergi sejak lama. Tidakkah kau merasa kita seakan baru bertemu setelah bertahun tahun?” tanya Haneul lagi membuat Eunhyuk merenung untuk yang ke sekian kalinya.

“Rasanya…. Berbeda,” Eunhyuk ternyata baru menyadarinya. “Seakan aku ini orang asing yang memasuki suatu dunia, padahal dunia itu kan milikku juga,” katanya. Haneul yang merasa mendapat kesempatan kali ini merasa mungkin inilah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya.

“Kalau begitu sadarlah! Kembalilah, Lee Hyukjae! Kau punya dunia yang hidup, yang cerah! Kau punya masa depan. Untuk apa kau tetap berada disana? Di tempat asing itu?” cecarnya. Eunhyuk memilih diam dan menelan semua emosi Haneul. Untuk kali ini, Lee Hyukjae hanya diam.

Eunhyuk berdiri dari tempatnya duduk, dan berjalan perlahan keluar sekolah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia berjalan pelan menyusuri balkon menatap halaman sekolahnya dari atas, lalu menuruni satu persatu anak tangga.

Pria itu menutup matanya menikmati angin berhembus membelai rambutnya di tengah lapangan basket luas tersebut. Eunhyuk mendengar sebuah dentuman yang sangat ia kenal. Sangat familiar baginya hanya saja sedikit asing sekarang.

HUP!

Saat Eunhyuk mengangkat wajahnya sebuah bola berwarna oranye sedang melayang kearahnya jadi dengan sigap ia mengulurkan kedua tangan untuk menangkap benda yang ternyata dilempar oleh Haneul tersebut.

“Masih ingat caranya bermain?” kata Haneul sambil nyengir lebar. “Kau meremehkanku,” Eunhyuk tersenyum lebar sambil memantul mantulkan bola itu ke lantai. Haneul dengan gesit meraih bola itu dan dalam sepersekian detik bola basket itu sudah berpindah tangan.

Eunhyuk menatap Haneul dengan takjub. “Wah.. boleh juga,” katanya terperangah. Haneul mendengus sombong. “Kau kehilangan skillmu, mister playboy,” katanya membuat Eunhyuk gemas dan berusaha merebut bola tersebut.

Tetapi Haneul lebih gesit. Ia bergerak cepat berkelit dan melemparkan bola itu ke ring. Three Points. Dan masuk. “Wow..” Eunhyuk bertepuk tangan melihat skill baru yang ia tidak tahu sudah Haneul kuasai. “Makanya, hidup seperti manusia, bukan mayat,” sindir Haneul membuat Eunhyuk mendelik.

“Kau…” geram Eunhyuk membuat Haneul menatapnya takut. Mungkinkah Eunhyuk marah? Dan disaat Haneul lengah itulah Eunhyuk dengan gesit merebut kembali bola di tangan gadis itu lalu mendribblenya kabur.

Haneul yang baru menyadari kebodohannya mengejar Eunhyuk yang sedang mendribble ke ring sebelah kanan, dan tentu saja ia kalah cepat. Eunhyuk melakukan Three Points shoot yang lebih spektakuler dari Haneul.

“Hahaha~ bermimpilah kalau mau mengalahkanku, nona Hwang,” katanya membuat Haneul menggembungkan pipinya kesal dan mengulurkan tangan untuk mengambil bola yang mendekat, namun dengan cepat diblok oleh Eunhyuk.

“Eits.. jangan coba coba,” katanya jail lalu menepis tangan Haneul dan merebut bola itu lagi. “Itu foul!” protes Haneul lagi sehingga Eunhyuk terkekeh. “Tidak ada pelanggaran dalam permainanku, nona Hwang. Kau tahu itu sejak lama,” katanya lalu melempar bola itu ke ring dan lagi lagi masuk dengan mulus.

Haneul meraih bola yang menggelinding kearahnya lalu mendribblenya cepat. Ia melemparkan pandangan sombong pada Eunhyuk lalu berbalik gesit bak professional dan berlari cepat menuju ring satunya.

Haneul sudah melempar bola itu dengan mulus tetapi sepertinya sedikit salah perhitungan karena bola itu membentur tiang ring dan memental kembali ke arahnya. Saat Haneul berbalik untuk melempar pandangan sombong pada Eunhyuk, bola itu dengan mulus membentur kepalanya.

Haneul kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Eunhyuk melongo sebentar melihat kejadian cepat tersebut lalu…

“PUAHAHAHHAHHAHA~~!! KAU BODOH HAN. KAU HARUS LIHAT WAJAHMU SEKARANG HAHAHAHAHHA!!” katanya tertawa lepas memegangi perutnya dan terjatuh lemas ke tanah karena tawanya yang tidak terkendali.

Haneul memandangnya tidak percaya. Eunhyuk… tertawa?

“HAHAHAHAHA HANEUL WAJAHMU SEPERTI TOMAT TUH!” Eunhyuk melanjutkan tawanya yang tidak kunjung berhenti sampai sampai mungkin ia bisa menangis karena itu.

“HAHAHAHHAHAHAHA ha…ha…..ha.” Eunhyuk menghentikan tawanya dan menatap heran Haneul yang sedang memperhatikannya sedemikian rupa dengan senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya.

Eunhyuk membuat telapaknya sebagai tumpuan agar ia bisa bangun dan berdiri ketika ternyata Haneul juga melakukan hal yang sama. Ia berjalan perlahan tapi pasti ke arah Eunhyuk yang memandangnya tidak mengerti.

“Rasanya familiar melihatmu tertawa seperti tadi Hyuk,” katanya sambil berjalan pelan lurus ke arah Eunhyuk yang hanya diam, tidak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya.

Haneul tiba di depan Eunhyuk dan memeluknya intens. “Welome Home, Lee Hyukjae,” katanya dan memeluk Eunhyuk lembut, memejamkan matanya menghirup aroma yang sangat dirindukannya itu sementara Eunhyuk hanya diam mematung.

Eunhyuk terdiam, ingin membalas pelukan Haneul apalagi angin berhembus kencang dan gadis itu hanya dibalut oleh jeans dan kaus tipis. Tetapi entah pemikiran apa yang mencegahnya melakukan itu. Seakan akan wajah seorang Park Hyera masih terus menghantui pikirannya.

Keadaan seperti ini membuat Eunhyuk merasa berbeda. Seperti kembali ke tempat dimana ia seharusnya ada. Seperti pulang ke rumah. Seperti ada hal hal yang seharusnya ia sadari dari lama. Bahwa banyak hal hal yang ia lewatkan dan seharusnya ia menyadarinya.

Hwang Haneul. Gadis pendiam yang hanya tertarik pada bunga, yang bahkan sampai delapan tahun ini kerap memberikannya tanaman Akasia dalam pot kecil entah apapun artinya. Terlalu tidak banyak bicara. Kelewat pendiam malah, walaupun Eunhyuk sedikit berhasil menularinya dengan virus virus banyak bicara tetapi tetap di mata orang orang Hwang Haneul adalah seorang gadis anti-sosial.

Tetapi Eunhyuk baru sadar karena itulah mereka bisa klop. Gadis itu jauh dari hingar bingar keributan anak SMA dan hanya ada di sana, di pojok kelas berdiam diri dengan buku buku tanamannya. Itulah yang membuat Eunhyuk nyaman berada bersamanya. Karena gadis itu memberikannya ketenangan dan kesunyian yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa berikan.

Seharusnya Eunhyuk sadar dari lama kalau gadis itu…. Entahlah ini yang mambuatnya tidak nyaman sekarang. Eunhyuk menemukan hal hal baru yang baru saja ia sadari dan ia merasa asing pada dirinya sendiri. Merasa asing.

“Hyuk-ah… boleh aku minta satu hal? Setidaknya sebagai seseorang yang tidak pernah meminta apapun padamu,” kata Haneul masih dalam keadaan memeluknya.

Eunhyuk hanya diam tetapi Haneul mengartikan itu sebagai ‘lanjutkan-saja-kata-katamu’

“Jangan kembali lagi ke tempat itu oke? Park Hyera maksudmu. Berhentilah membeli Gardenia setahun sekali. Kau tahu kan aku menjual banyak bunga selain itu? Kembalilah ke kehidupanmu. Aku rindu kau yang seperti ini.” Katanya.

Eunhyuk melepas paksa pelukan Haneul. Agak terlalu keras sebenarnya sehingga gadis itu limbung dan jatuh ke belakang.

“Tahu apa kau tentang perasaanku? Kau tidak pernah ditinggalkan oleh orang paling penting dalam hidupmu!” gertak Eunhyuk membuat Haneul gemetar ketakutan tetapi ditelannya perasaan gentarnya tersebut dan diberanikannya meantap Eunhyuk lurus lurus.

Ia berdiri dan menatap Eunhyuk tepat di manik mata. “Kehilangan orang paling penting? Aku lebih tahu itu dari pada kau, Lee Hyukjae. Orang tuaku meninggal kecelakaan ingat?” tantangnya membuat mulut Eunhyuk terkunci rapat.

“kau hanya membuat dirimu sendiri menderita. Kau pikir Hyera akan kembali dengan cara itu, hah?” tantang Haneul semakin berani. Eunhyuk sendiri tidak percaya. Seorang Hwang Haneul, si anti-sosial itu berani membentaknya seperti ini.

“Kau.. tidak mengerti perasaanku Haneul-ah. Tidak pernah mengerti. Tidak akan pernah,” geram Eunhyuk.

Haneul merasa kemarahannya telah sampai di puncak. Setelah delapan tahun ini ia berusaha mengerti seorang Hyukjae, pria itu berani berbicara seperti itu?

Haneul menengadah menantang menatap Eunhyuk. “Kau…. Dengar aku,” katanya tajam dan mempersempit jarak diantara mereka.

“Kau hanya berlaku bodoh dengan menangisi gadis yang bahkan tidak mengenalmu. Kau berharap ia tahu kau mencintainya? Dia-bahkan-tidak-mengenalmu-sebaik-itu.” Kata Haneul memberikan penekanan khusus di setiap kata pada kalimat terakhir.

“Dan seperti orang tolol memberikannya Gardenia setiap tahun? Ia bahkan tidak bisa membuka mata untuk melihatnya,”

Eunhyuk mengangkat tangannya tinggi tinggi hendak memukul gadis itu ketika Haneul semakin menengadah kepadanya menantang. “Mau memukulku?” katanya tajam.

Eunhyuk dengan gesit memungut bola yang tergeletak di lantai lalu melemparnya kasar kea rah ring, dan membentur papan kayu di belakangnya, dan terlalu kuat sehingga menimbulkan retakan kecil. Tetapi tanpa di duga bola itu memantul kembali dan menghempas kearah Haneul tepat di perut.

Haneul terjengkang ke belakang memegangi perutnya yang terasa terbakar. Ia terbatuk batuk dan mengeluarkan darah. Haneul terus mencengkram perutnya keras seakan akan sakit luar biasa sedang melandanya.

“Han…. H-han..” Eunhyuk terpaku melihatnya. Ie berlutut hendak menolong Haneul ketika gadis itu menepis lengannya kasar. “Jangan….. sentuh aku,” katanya lemah masih dengan darah terus mengalir dari mulutnya.

Eunhyuk menangkap tubuh Haneul yang sudah lemah tersebut. “Haneul-ah.. maafkan aku.. Haneul..” katanya menepuk pipi Haneul yang perlahan lahan menutup matanya.

-oOo-

Wooridul Spine Hospital, Seoul

Eunhyuk bergerak bolak  balik di sebelah ranjang Haneul yang tidak sadarkan diri. Berbagai macam pikiran berkecamuk di otaknya sekarang membuatnya berpikir yang tidak tidak.

Ekor matanya menangkap tangan Haneul yang ditancapi selang infus bergerak jadi ia secepat kilat bergerak ke sisi tempat tidur gadis itu. Haneul membuka matanya perlahan dan menutupnya lagi karena cahaya lampu membuatnya silau.

“Eomma,” panggilnya membuat Eunhyuk mengatupkan bibirnya rapat rapat. Haneul meraih tangan Eunhyuk yang berada di sisi ranjang dengan lemah. “Eomma…,” panggilnya lagi.

Sekarang Eunhyuk mengerti kalau Haneul memang benar benar mengerti rasanya ditinggal oleh seseorang yang penting. Lebih mengerti dari dirinya.

Haneul menggenggam erat tangan Eunhyuk. “Eomma.. perutku… ah,” Haneul mengerang memegang perutnya yang mengkin terasa perih. Eunhyuk tidak tahu harus berbuat apa dan tidak tega memberi tahu gadis itu kalau ibunya sudah mati. Jadi ia hanya diam saja dan menggenggam tangan Haneul.

Butuh beberapa menit untuk Haneul agar bisa benar benar sadar sepenunhya. Ia membuka matanya dan melihat kesekeliling, dan tatapannya bertumbukan dengan Eunhyuk. Ia mengalihkan pandangan pada tangan mereka yang bersentuhan.

Haneul menarik tangannya pelan, menutup matanya dan menghembuskan nafas panjang. “Oh ya.. Eomma sudah tidak ada,” katanya pedih. Eunhyuk meletakkan tangannya di puncak kepala gadis itu mencoba menghiburnya.

“Jangan sentuh aku,” kata Haneul pelan. Sebenarnya ia juga sakit saat mengatakannya tetapi ia tidak bisa melakukan hal lain. “Pergilah…” usir Haneul halus membuat Eunhyuk menatapnya menyesal.

“Han…” desahnya lemah. Haneul hanya memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap pria itu. “Jangan datang kesini. Tidak tempat ini. Jangan melihatku dalam keadaan seperti ini,” katanya lagi, lebih seperti memohon daripada mengusir.

Eunhyuk berbalik dan berjalan menuju pintu karena ia tidak bisa melakukan apa apa lagi. saat meraih pintu ia menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang. “Maafkan aku, Hwang Haneul,” katanya pahit. Haneul hanya mengangguk tanpa melihat wajah Eunhyuk.

-oOo-

Eunhyuk mengebut mobilnya kalap. Ini pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir ia merasa sebodoh ini. Merasa semenyesal ini. Ia terus memacu mobilnya pada kecepatan maksimal dan menginjak pedal gas dalam dalam untuk memastikan mobil itu dalam keadaan tercepatnya.

Mobil itu mengerem tiba tiba dengan suara decitan memekakkan di depan gerbang sekolah dimana ia habis melakukan kebodohan itu, kemarin.

Ia melangkah masuk ke bangunan sekolah yang sepi itu. Hari ini hari minggu, tentu saja tidak ada yang mau repot repot hadir di sekolah di hari menyenangkan seperti ini. Eunhyuk melangkahkan kakinya perlahan ke lapangan basket tempat dia, kemarin, untuk pertama kalinya tertawa lepas dalam delapan tahun ini.

Pandangan Eunhyuk tertumbuk pada bangku penonton. Ada barang yang ia kenal diletakkan disana. Eunhyuk berjalan mendekat dan mengangkat pot tanaman Akasia itu. Milik Haneul. Gadis itu menaruhnya disini saat hendak menantanginya bermain basket.

Eunhyuk menatap tanaman Akasia dengan bunga bunga kecil berwarna kuning tersebut. Ia benar benar tidak mengerti maksud dibalik tanaman sederhana itu.

Eunhyuk berbalik dan masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu menaruh pot Akasia itu di jok depan penumpang. Ia memacu mobilnya lagi ke tempat kedua yang belakangan ini sering ia kunjungi. Heaven’s Florist.

Ia turun dan perlahan dengan ragu membuka pintu dorong tersebut dan masuk. Ia menemukan seorang gadis berdiri di depan susunan pot pot, seperti sedang mengamati satu persatu. Eunhyuk hampir terjengkang kebelakang saat gadis itu mengangkat wajahnya.

“Park… Hyera?” katanya kaget, berdebar debar. Gadis itu hanya memandangnya bingung sejenak lalu tertawa kecil. “Kau pasti salah orang, teman,” katanya ramah lalu menyingkirkan rambut yang menutupi dahinya. Eunhyuk mengernyit memperhatikan wajahnya. Benar benar mirip Hyera.

Gadis itu baru akan mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya ketika seseorang memanggil namanya dari dalam. “Yoonji-ssi, ini Akasia pesananmu,” kata ibu ibu itu sambil menaruh pot Akasia yang sudah dihias sedemikian rupa di atas meja kayu tersebut.

“Waaah.. cantik sekali,” kata gadis itu memandang pot yang sudah didekorasi itu setengah kagum. Ahjumma itu tersenyum menatap gadis di hadapannya. “Memberikan Akasia memang manis, tetapi tidak terlalu baik begitu terus. Akan tiba saatnya dimana kau harus memberikan dia Anyelir,” katanya keibuan.

Yoonji tersenyum bersahabat menatap wajah berkerut namun ramah dihadapannya. “Ah jinca? Sepertinya belum saatnya. Akasia cukup. Sederhana, tapi artinya indah,” katanya sambil mengamati tanaman mini di hadapannya.

“Dasar anak muda,” kata Ahjumma tersebut membuat gadis itu tersenyum untuk yang kesekian kalinya. “Beruntung sekali, Lee Sungmin itu,” goda wanita itu sambil melirik nakal kartu kecil yang tergantung di salah satu cabang tanaman itu. Memang disana tertulis ‘Lee Sungmin’

Gadis yang bernama Yoonji itu melempar senyum ramah lalu meraih pot Akasia itu dan memegangnya mantap dengan kedua tangannya. Ia mengangguk ramah pada Eunhyuk dan melangkah menjauh dengan suara tak-tok dari sepatunya.

Eunhyuk menoleh pada wanita tua di belakangnya. Sepertinya wanita inilah yang menggantikan Haneul kalau ia sakit atau tidak bisa masuk.

“Ahjumoni,” panggil Eunhyuk memberanikan diri saat wanita itu berbalik dan hendak pergi. Wanita itu menoleh padanya dengan tatapan penasaran. “Ya?” tanyanya.

Eunhyuk memang bukan tipe orang yang bisa sok kenal tetapi menurutnya kali ini sangat mendesak. “Memang Akasia itu artinya apa?” tanya Eunhyuk lagi.

“Hm… aku tidak punya penggambaran yang tepat untuk menjelaskannya padamu,” kata wanita itu, lalu memasang tampang berpikir keras. “Er… bagaimana ya, itu artinya seperti cinta yang tulus. Tetapi terpendam,” jelasnya.

Eunhyuk memandang pot mini Akasia pemberian Haneul ditangannya, lalu dengan cepat menatap wanita itu lagi. “Ahjumoni, aku mau membeli Anyelir,” katanya terburu buru.

Wanita itu menatap Eunhyuk bingung dengan keputusan pria itu yang datang tiba tiba. “Berapa banyak?” tanyanya.

“Banyak. Sangat banyak,” jawab Eunhyuk.

-oOo-

Haneuls terbangun pagi pagi dari tidur malam panjang yang sangat nyenyak, pengaruh obat tidur yang disuntikkan perawat melalui selang infus.

Ia merasakan kakinya menyentuh sesuatu di bagian kaki ranjang dan ia terbangun dan terkejut menemukan berbuket buket bunga berwarna putih kapas ada disana. Haneul menghitung semuanya berjumlah dua belas buket dan dalam satu buket setidaknya ada dua belas tangkai juga.

“Kejutan,” kata Euhnyuk lembut dan tiba tiba muncul dari balik pintu. Haneul terkejut melihatnya sudah berada disana pagi pagi dan terlebih dengan berbuket buket Anyelir ini.

Haneul menatapnya bingung masih tidak tahu akan berkomentar apa. Tetapi seolah bisa mendengar pikirannya Eunhyuk menyentuh kedua bahu Haneul lembut.

“Dengar. Kau tidak perlu mengatakan apa apa. Dengarkan saja aku, oke?” kata Eunhyuk. Haneul menelan ludahnya seiring dengan kata kata yang ingin diucapkan tetapi terpaksa ia urungkan karena tatapan tegas pria itu menancap tepat di manik matanya.

Eunhyuk menengangkat dagunya sedikit dan memberanikan diri menarik tubuh gadis itu bersandar di dadanya. “Aku.. seharian kemarin aku menunggumu sadar. Dan di waktu waktu kosong itu aku memikirkan satu dua hal,” katanya sambil menyusun kata kata selanjutnya di kepalanya.

“Aku… sadar disaat aku menangisi seseorang yang sudah pergi, orang yang paling aku butuhkan sebenarnya selalu ada. Tidak pernah pergi. Dia satu satunya yang tidak pernah pergi,”

Haneul menahan nafasnya untuk mendengar kata kata Eunhyuk.

“… dan itu kau. Yah terdengar terlalu simple, but it’s you. It has always been you. Dan kata kata ini tidak sesederhana kedengarannya,” kata Eunhyuk menahan Haneul dalam pelukannya karena ia tidak siap jika Haneul harus melihat wajahnya sekarang.

Bibir Haneul terasa sesak oleh kata kata. Terlalu banyak hal yang ingin ia katakan pada si bodoh dihadapannya ini. Ingin cepat cepat dikatakannya bahwa pria itu benar benar pabo. Berpikir lambat. Otak udang. Dan segala macam umpatan lainnya tapi daripada mengatakannya toh menyimpannya saja lebih mudah.

Eunhyuk mengeratkan dekapannya. “ssst.. aku tahu kau ingin memakiku sekarang toh aku memang sebodoh yang ada pikiranmu,” celetuk Eunhyuk menebak isi hati Haneul dengan jitu. Haneul menggigit bibirnya menahan sumpah serapah itu.

“Tapi yah… saranghae,” lanjutnya.

Eunhyuk melepaskan pelukannya dan mencium Haneul lembut. Eunhyuk melepaskan ciumannya dan menatap Haneul.  Eunhyuk menunggu Haneul mengatakan sesuatu tetapi gadis itu hanya memandanginya heran. “Hey, jawabanmu apa?” tanya Eunhyuk.

Tetapi alih alih menjawab sesuatu Haneul malah semakin menatapnya heran. “Kau tidak menanyakan apa apa padaku,” katanya polos membuat Eunhyuk menepuk jidatnya sebal.

“Jadi itu apa?” Eunhyuk menunjuk kearah tumpukan bunga di kaki tempat tidur Haneul. Gadis itu memandangi buket buket itu seakan mengidentifikasi. “Anyelir. Pure Love. Oke, terima kasih,” kata Haneul gamblang membuat Eunhyuk memijat keningnya frustasi.

“YA! Nona Hwang, bukankah kau penjual bunga? Lihat itu aku memberikanmu 144 tangkai!” sergah Eunhyuk. Haneul memiringkan kepalanya seperti berpikir apa maksudnya. “Anyelir artinya pure love Hyuk. Mau kau berikan aku seribu tangkai artinya juga sama,” katanya gamblang.

“Bukan itu maksudkuuuu,” Eunhyuk benar benar terlihat frustasi sekarang. “Kalau seorang pria memberikanmu 144 tangkai bunga bukankah artinya ia ingin kau menikahinya?” jelas Eunhyuk lagi dan Haneul membulatkan matanya seperti baru mengingat.

“Ah ya… aku lupa fakta itu. Jadi.. kau?”

“Would you marry me, Miss Hwang?” Eunhyuk menemukan lagi titik kepercayaan dirinya dan meraih tangan Haneul. “Memang apa untungnya kalau aku menikahimu?” tantang Haneul membuat Eunhyuk tersenyum misterius.

“Tidak usah sok jual mahal begitu. Aku tahu kau menyukaiku. Buat apa kau memberikanku Akasia setiap tahun?”  tembak Eunhyuk jitu membuat Haneul menundukkan kepalanya malu. Entah darimana pria ini tahu semuanya.

“Apa perlu kuuraikan kalau kau sebenarnya diam diam suka padaku. Selama ini kau tidak berani mengatakan perasaanmu. Kau sebenarnya sudah mencintaiku sejak SMA dan kau juga—“

“oke stop STOP baiklah aku akan menikah denganmu,” potong Haneul sebelum Eunhyuk mengumbar semua aibnya.

Eunhyuk meantap Haneul lembut, lalu menciumnya lagi. kali ini singkat, tetapi hangat.

“Gomawo…” bisiknya.

FIN

 

3 Comments (+add yours?)

  1. ran
    Mar 05, 2017 @ 12:47:05

    Kereen ceritanya 😊😊

    Reply

  2. kyura2 ninja
    Mar 05, 2017 @ 15:30:43

    wah artinya dalem banget kak
    tapi kok eunhyuk langsung suka sama haneul kan dia masih suka hyera?

    Reply

  3. 엘프
    Apr 07, 2017 @ 23:24:05

    Kata-katanya simple tapi bisa ngena. Pas bagian sedihnya juga bisa bikin mata berkaca-kaca. Huuuh… The best pokoknya. Fighting buat authornim 😊

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: