Life Is Not That Easy

 

 

jj

Life Is Not That Easy

Author : Cutemoo

Cast: Lee Donghae & Han Yong Woo [OC] |  One Shoot | Sad Romance

***

Han Yong Woo POV

“PERGI KALIAN DARI RUMAH INI!! Jangan pernah berharap aku akan merestui hubungan kalian! AKU TAK SUDI PUNYA MENANTU SEPERTI KAU!! PERGIII!!!”

Ya, suara itu adalah suara eomma dari Lee Donghae, kekasihku yang mungkin sebentar lagi akan berubah status menjadi suamiku. Dengan ada atau tidaknya restu dari orang tua Donghae oppa, ia tetap akan menikahiku. Konyol memang, mengingat kalau hukum karma pasti berlaku bagi seluruh makhluk di bumi ini, tak terkecuali kami.

Tapi mau bagaimana lagi, membaca saja aku sulit #eh #plakk Donghae oppa adalah orang yang berhati lembut namun dia sangat keras kepala. Sebagai seorang kekasih yang baik, aku seringkali mengingatkannya bahwa doa dan restu dari orang tua itu sangat penting dalam menjalani hubungan rumah tangga. Tapi ia juga tau sangat tidak mungkin meminta hal tesebut dari eomma-nya.

Sejak awal, ahjumma tidak menyetujui hubungan kami dikarenakan statusku yang bukan dari keluarga berada. Appa-ku adalah seorang karyawan rendahan di sebuah perusahaan swasta, sedangkan eomma hanya seorang ibu rumah tangga. Begitu lulus sekolah, aku langsung bekerja karena appa tidak sanggup membiayaiku untuk kuliah. Aku pun mengerti dengan keadaannya. Bagiku bisa lulus sekolah saja itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup elit. Posisinya tidak begitu tinggi memang, tapi aku tetap bersyukur karena aku bisa menghasilkan uang dari keringatku sendiri tanpa harus mengandalkan orang tuaku lagi. Dan di perusahaan inilah pertama kali aku bertemu dengan Donghae oppa dan jatuh cinta padanya. Yang membuatku menjadi orang paling bahagia adalah, ternyata Donghae oppa memiliki perasaan yang sama denganku.

Namun, hubungan kami tak semudah itu. Eomma dari Donghae oppa yang biasa kupanggil ahjumma tidak menyetujui hubungan kami. Bukannya karena aku adalah seorang karyawannya saja, tapi oh apakah aku sudah memberitahu kalian bahwa kekasihku itu alias Donghae oppa adalah pemilik perusahaan ditempatku bekerja?? Ya, dia adalah direktur perusahaan ini. Appa Donghae oppa meninggal beberapa tahun lalu karena serangan jantung dan dia mewariskan perusahannya pada Donghae oppa. Sebenarnya dia masih punya saudara laki-laki, tapi karena Donghae oppa anak yang tertua jadi dialah yang dipilih untuk meneruskan perusahaan.

Sudah tiga tahun kami menjalin hubungan. Terbilang lama memang untuk suatu hubungan yang tak pernah disetujui. Namun bukan berarti tak ada hambatan yang melanda. Bahkan tak jarang kami berselisih paham, bertengkar sampai memutuskan untuk berpisah. Hingga akhirnya hari itu pun tiba. Kemarin Donghae oppa melamarku. Walaupun hanya dengan sebuah cincin sederhana dan setangkai bunga mawar berwarna pink favoritku, namun aku tahu ia begitu tulus mencintaiku.

Dan hari ini Donghae oppa memaksaku untuk datang ke rumahnya. Ya, untuk meminta persetujuan ahjumma karena dia ingin menikahiku. Namun jawaban itulah yang kami terima. Ahjumma masih tetap dalam pendiriannya, dia tak menyetujui hubungan kami sekeras apapun kami mencoba untuk meyakinkannya tentang cinta kami yang begitu kuat. Baginya aku hanyalah seorang parasit, mencintai Donghae oppa demi harta dan derajat yang tinggi. Tapi aku akan membuktikan padanya. Membuktikan bahwa aku mencintai Donghae oppa karena dia adalah seorang Lee Donghae bukan karena dia pemilik sebuah perusahaan ternama.

“Baiklah, eomma jika itu memang keputusanmu. Tapi aku tak bisa hidup tanpa Yong Woo. Dia adalah orang yang sangat berarti bagiku. Jadi kuputuskan untuk meninggalkan kehidupanku disini”

“Oppa!” aku tersentak mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Donghae oppa. Aku memandangnya dengan tatapan tak percaya. Begitu pula dengan ahjumma yang hanya diam terpaku mendengar keputusan sepihak anaknya.

“Ne, kuputuskan meninggalkan perusahaan dan juga rumah ini. Mianhae, jika eomma menganggapku anak yang tidak berbakti pada orang tua. Namun keputusanku sudah bulat. Mianhae jika selama ini aku selalu menyusahkanmu. Jaga diri eomma baik-baik. Permisi”

Kemudian Donghae oppa membungkuk pada ahjumma. Bisa kulihat air mata menggenang disudut matanya. Kenapa situasinya berubah sedrastis ini?? Kulihat Donghae oppa beranjak pergi, kubungkukkan badanku lalu menyusulnya.

“Oppa, apa kau tidak menyesal dengan keputusanmu?” tanyaku saat kami sudah tiba di sebuah jalan raya.

“Ani, wae? Apa kau menyesal dengan keputusan yang kuambil? Apa kau juga ingin membatalkan rencana pernikahan kita?”

“Tentu saja tidak! Aku hanya…”

GREP!

Tiba-tiba Donghae oppa langsung memelukku. “Kalau begitu ikutlah denganku. Aku sudah membeli sebuah apartemen kecil dipinggiran kota Seoul tanpa sepengetahuan eomma. Kita menikah kemudian kita tinggal disana dan memiliki banyak anak. Kau mau kan?” Donghae oppa melepas pelukannya lalu menatapku sambil tersenyum.

“Oppa… Tentu saja aku mau” jawabku lalu memeluknya lagi. Tanpa sadar aku menangis karena bahagia.

^^

“Beres. Sempurna. Bagaimana?? Kau suka dekorasi rumah baru kita?”

“Ne, oppa. Bagiku ini sudah sangat sempurna” kataku sambil memandang kagum seluruh ruangan hasil kerja keras Donghae oppa. Walaupun termasuk apartemen kecil, namun Donghae oppa membuatnya terlihat tampak luas.

“Apa kau ingin melihat kamar kita?? Aku sudah mendesainnya dengan warna biru, warna kesukaan kita berdua” belum sempat menjawabnya, dia sudah menarik tanganku duluan.

Hasilnya, aku tercengang. Ruangan ini penuh dengan warna biru, mulai dari dinding, tempat tidur yang berukuran king size, meja rias hingga sprei dan selimutnya pun berwarna biru. Hanya kamar mandi saja yang berwarna krem. Aku memandang tak percaya, lalu kualihkan wajahku untuk menatapnya.

“Oppa, gomawoyo. Kau sudah bersusah payah memberikan semua ini padaku. Jeongmal gomawoyo” kataku yang berada dalam pelukannya.

Bisa kurasakan Donghae oppa tersenyum kemudian dia mengecup puncak kepalaku. “Mianhae, jagi. Kita sudah menikah selama seminggu namun aku baru bisa menyelesaikannya hari ini”

“Gwaenchana, oppa. Aku mengerti kau juga sibuk mencari pekerjaan baru. Oh ya oppa, aku punya kabar baik untukmu. Aku sudah mendapatkan pekerjaan. Mulai besok aku sudah bisa bekerja disana, Kantornya juga tidak jauh, hanya beberapa blok dari sini. Oppa, gwaenchana?”

Donghae oppa tersenyum, tapi aku bisa merasakan bahwa senyumnya kali ini hanya sebuah paksaan. Ada apa dengannya? Apa dia sakit?

“Mianhae. Maafkan aku karena telah membuatmu susah. Aku memang tidak berguna, suami macam apa aku ini?!” Dia tertunduk, kurasakan setetes air dilenganku. Donghae oppa menangis?!

“Ya, oppa, uljima. Bersabarlah. Mungkin perusahaan-perusahaan yang kau datangi memang sedang tidak menerima karyawan baru, kurasa aku juga sedang beruntung hingga bisa mendapatkan pekerjaan ini. Aku yakin kau pasti akan mendapatkan yang terbaik, karena kau adalah yang terbaik untukku” kataku meyakinkannya.

“Gomawo, jagi. Tidak salah aku memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Saranghae”

“Na do. Oppa, apa kau tidak lapar? Mau kubuatkan nasi goreng kimchi spesial?”

“Ne, aku akan membantumu memasak. Kajja!”

^^

Malamnya ketika aku selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutku yang masih sedikit basah, aku melihat Donghae oppa keluar dari kamar mandi. Aroma sabun yang keluar dari ruangan itu langsung tercium olehku. Aku sangat suka melihatnya fresh seperti ini. Tambahan lagi rambutnya yang sehabis dicuci, dia terlihat sangat seksi. OMO! Apa yang sedang kupikirkan?? Tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku, dan sepertinya Donghae oppa melihat kelakuan anehku barusan.

“Kkkk… Jagi, waeyo?? Ada apa denganmu?” Kulihat dia terkekeh sebentar.

“A..aniya, oppa” jawabku sambil terus memainkan rambutku yang sudah mengering. Kenapa aku jadi gugup seperti ini??

Setelah menaruh handuk yang tadi dipakainya ke atas sofa, Donghae oppa berjalan kearahku. DEG! Tiba-tiba saja dia memelukku dari belakang. Aroma tubuhnya kembali tercium olehku. Belum sempat aku mengeluarkan suara, Donghae oppa sudah menarik tubuhku dan membawanya ke atas ranjang. OMOOO!! O.o

“Op..oppa…” Baru saja aku ingin berkata, Donghae oppa menempelkan bibirnya ke bibirku. Awalnya hanya ciuman ringan, namun makin lama makin dalam. Akhirnya ia melumat bibirku sambil seesekali memainkan lidahnya didalam mulutku. (SUMPAH!! Deg2an waktu nulis bagian ini O.O)

Tanpa sadar aku mulai menikmati ciumannya yang lembut tapi menghanyutkan (?) ini. Tak lama, Donghae oppa menyudahinya. Awalnya kukira ini semua sudah berakhir, namun aku salah, Donghae oppa hanya memberiku waktu untuk bernapas. Sedetik kemudian dia melanjutkan aktifitasnya tadi, lalu ciumannya mulai turun ke leherku dan dia mulai menelusuri seluruh bagian tubuhku. Setelah kurasa dia puas menikmati tubuhku, Donghae oppa mensejajarkan wajahnya ke wajahku dan mulai menciumiku lagi.

“Lepaskan bajuku….” bisik Donghae oppa disela ciumannya, tangannya berusaha melepas bajuku. Sambil terus membalas ciumannya, perlahan kulepaskan bajunya.

Kyaaaaaaaaaaaaaaaa, SKIP!! SKIP!! Uda ga bisa nerusin bagian ini, daripada nanti ada pertumpahan liur!!!! #plakk

^^

Tak terasa sudah tiga bulan aku dan Donghae oppa menjalani kehidupan di rumah baru kami di pinggiran kota Seoul. Seminggu setelah kami menempati apartemen kami, Donghae oppa mendapat pekerjaan walaupun posisinya tak berbeda jauh denganku.

“Aku pulaang… Jagi? Kau sudah pulang? Tidak seperti biasanya, apa ada masalah di kantormu?” tanya Donghae oppa begitu kakinya melangkah memasuki apartemen.

“Anio, oppa. Aku hanya sedang tidak enak badan saja” jawabku sambil membenarkan posisi tidurku di sofa ruang tamu.

“Gwaenchana? Wajahmu pucat. Apa perlu kita pergi ke rumah sakit?” tanyanya lagi sambil mengukur suhu tubuhku dengan cara menempelkan telapak tangannya pada dahiku.

“Andwae. Aku hanya merasa sedikit pusing…dan mual. Tadi aku sudah minum obat, kurasa….” belum selesai aku bicara, rasa mual kembali datang. Buru-buru aku berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutku. Padahal aku belum makan apa-apa sejak pagi. Jangankan untuk makan, mencium aroma makanan saja perutku sudah mual.

“Jagi, gwaenchana?? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang” ucap Donghae oppa yang entah sejak kapan sudah ada dibelakangku. Tangannya mengusap-usap punggungku, sementara keringat dingin mengucur dari pelipis dan dahiku.

^^

“Chukkae”

“Ne?” Donghae oppa terlihat tidak mengerti dengan ucapan pria berjas putih yang duduk didepan kami.

“Selamat. Sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. Istri anda sedang hamil dan memasuki usia kandungan minggu keenam” ucapnya lagi sambil tersenyum.

….

Selama diperjalanan menuju rumah, tak henti-hentinya Donghae oppa tersenyum sambil memandang ke arahku. Tangannya juga terus-terusan mengusap perutku walaupun belum terlihat menonjol. Aku tau kalau dia sedang bahagia, aku juga merasa seperti itu. Tentu saja, karena kami akan segera punya anak.

“Oppa, apa kau senang?”

“Ani. Aku bahagia, saaaaangat bahagia” Donghae oppa berkata sambil tertawa. Baru saja aku ingin marah mendengar jawaban pertamanya, namun aku ikut tertawa setelah ia melanjutkan kata-katanya.

^^

Saat ini kehamilanku mulai memasuki usia delapan bulan. Tak sabar rasanya melihat calon anakku dan Donghae oppa lahir. Donghae oppa bilang, dia ingin anak perempuan agar wajahnya cantik sepertiku. Sedangkan aku, sejak dulu aku ingin sekali punya bayi laki-laki yang lucu. Tapi aku menyerahkan segalanya pada Tuhan, bagiku baik perempuan atau laki-laki sama saja asalkan dia bisa menjadi anak yang baik dan berbakti pada semua orang.

“Yoboseyo” jawab orang diseberang, sepertinya itu suara ahjumma.

“Eomma, ini aku. Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin membawa kabar baik. Saat ini Yong Woo sedang hamil dan usianya sudah delapan bulan” ucap Donghae oppa ketika panggilannya sudah tersambung.

Hening. Aku tak mendengar jawaban apapun dari ahjumma. Kenapa aku bisa mendengar suara ahjumma? Karena Donghae oppa memakai earphone, sebelah kanan ditelinganya, sedangkan sebelah kiri ditelingaku.

“Eomma, kumohon datanglah ke rumah kami. Aku ingin eomma melihat calon cucu eomma” kata Donghae oppa lagi.

“Aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah kalian!! Dia bukan menantuku!! Dan jangan harap aku mengakui anak kalian sebagai cucuku!!”

Klik. Sambungan telepon kami terputus. Ingin rasanya aku menangis, tapi tidak kulakukan. Aku tidak ingin membuat bayiku khawatir. Lalu aku menatap ke arah Donghae oppa, mengapa sejak tadi dia diam saja?

“Oppa, uljima. Mungkin eomma masih belum siap menerima kehadiran calon bayi kita. Sabarlah, aku yakin suatu saat nanti eomma akan menerima kita bertiga dengan tangan terbuka. Kita hanya bisa menunggu waktu yang menjawabnya” kataku sambil memeluknya, mencoba menenangkannya.

“Mianhae, jagi. Jeongmal mianhae. Maafkan atas sikap kasar eomma-ku padamu. Hiks…”

“Gwaenchana, oppa. Gwaenchana”

Han Yong Woo POV End

 

Lee Donghae POV

“Kyaaaaaaaaaa……”

“Yong Woo!! Yong Woo-ah, gwaenchana?? Ada apa denganmu? Cepat buka pintunya?”

Aku mencoba menggedor dan membuka paksa pintu kamar mandi, entah apa yang terjadi pada Yong Woo didalam.

“Oppaaaa, disini banyak sekali darah. Aku tidak bisa bangun, tubuhku sakit sekali.. Huuaaaa”

Darah??? Pikiranku langsung kalut mendengar Yong Woo menyebut kata darah. Kumohon, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya!!

“Jagi, tenanglah. Aku akan mendobrak pintunya” tanpa aba-aba aku langsung menendang pintu kamar mandi sekuat tenaga.

BRAAKKK!! Dengan sekali tendangan, pintu kamar mandi berhasil terbuka. Sepersekian detik berikutnya tubuhku membeku melihat pemandangan didepanku. Tubuh Yong Woo bersimbah darah. Dan yang lebih membuatku shock, Yong Woo sudah tak sadarkan diri. Dengan tangan dan tubuh gemetar, aku mencoba menggendongnya untuk membawanya ke rumah sakit. Yong Woo harus mendapat pertolongan sesegera mungkin!

….

“Yong Woo-ah, jagi… Jebal, bertahanlah, jebaalll” ucapku lirih sambil terus memegang tangan Yong Woo yang sedang dilarikan ke unit gawat darurat oleh beberapa orang dokter dan suster.

“Maaf, tuan. Cukup sampai disini saja. Anda tidak diijinkan untuk masuk kedalam” ucap salah seorang dari mereka sambil menahan tubuhku yang ingin masuk kedalam.

“Dok, kumohon selamatkan mereka. Selamatkan istri dan juga anakku. Selamatkan mereka!” ucapku kalut.

“Anda tenang saja. Serahkan semua pada kami, kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Permisi” kemudian dokter itu pun meninggalkanku yang terduduk didepan ruang UGD sambil menangis.

^^

“Permisi, tuan. Apakah anda suami dari wanita yang sedang berada di dalam?”

“Ne, dok. Aku suaminya. Ada apa dengannya?”

“Sebelumnya saya minta maaf. Kami dari pihak rumah sakit sudah mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan istri dan juga bayi anda”

“Ne?”

“Kami benar-benar minta maaf. Saya dan beberapa dokter lain pun sudah melakukan yang terbaik. Namun sangat disesali, kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka”

Aku mencoba mencerna dan memahami satu persatu kalimat yang diucapkan dokter padaku. Hanya salah satu dari mereka?? Apakah sekarang ini aku boleh untuk tidak mempunyai pilihan? Aku hanya ingin mereka berdua selamat. Istri dan juga bayiku?!!

“Bayi anda selamat dan dalam kondisi yang stabil. Namun…. istri anda dalam keadaan kritis. Ia kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang dialaminya”

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, lidahku kelu. Otakku terasa mati. Air mata sudah membanjiri kedua mata dan pipiku.

“Kami turut menyesal atas kejadian ini. Sekarang anda bisa masuk kedalam, karena sejak tadi istri anda terus menerus memanggil nama anda. Sekali lagi kami mohon maaf, permisi” dokter itu pun berlalu dari hadapanku.

Aku hanya bisa memandang kosong pintu kamar yang berada didepanku. Dengan terseok aku mencoba melangkahkan kakiku walau terasa sangat berat. Kukuatkan hatiku agar tidak menangis saat nanti aku berhadapan dengannya. Yong Woo-ah, mengapa semua ini bisa terjadi? Tanpa kusadari aku menangis lagi, buru-buru kuseka air mataku dan kembali berjalan masuk.

Dan disanalah Yong Woo terbaring. Wajahnya pucat, sangat kontras dengan sprei dan selimut yang membalut tubuhnya. Selang infus tertancap di pergelangan tangan kirinya. Dengan gemetar aku mencoba menyentuh punggung tangannya. Dingin. Kuangkat dan kucium perlahan. Kukuatkan hatiku untuk tidak menangis, tapi percuma. Tanpa kukomando pun air mata ini terus meleleh.

“Op….pa….” panggilnya dengan suara sangat pelan. Jika saja ruangan ini dalam keadaan ramai, kupastikan aku tidak bisa mendengar suaranya.

“Ne, jagi. Gwaenchana. Aku akan terus berada disisimu. Istirahatlah” aku mencoba memaksakan senyumku walau terasa sangat hambar.

“Op..pa.. Mian..hae.. Jeong..mal.. Mian..hae..”

Yong Woo-ah, jebaaall… jangan berkata seperti itu!! Kumohon bertahanlah!

“Eom…ma.. Mian…hae…” ucapnya lagi. Kali ini tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Aku bisa merasakan bibirnya sedikit tertarik , Yong Woo tersenyum tipis. Walau dengan wajah pucat pun, ia masih terlihat cantik bagiku.

Eomma!! Kuputar kepalaku, dan melihat eomma yang sedang berdiri dibelakangku sambil memandang Yong Woo nanar. Ia terlihat sedang… Menangis!

Tuuuuuuuuuuuuuttttttt………….

Aku tersentak mendengarnya. Dengan perasaan teramat takut, aku memberanikan diri untuk menatap Yong Woo kembali. Matanya kini tertutup, sebelah tangannya yang sedang kupegang lemas tak berdaya. Kugelengkan kepalaku sambil meracau. Kucoba meraih tangannya kembali, kuciumi dahinya kemudian bibirnya yang sudah terasa dingin. Namun tak ada tanda-tanda Yong Woo masih bernapas.

“Andwae!! Yong Woo-ah.. ANDWAE!! Jebal, Yong Woo jebal jangan tinggalkan aku!! JEBAL JANGAN TINGGALKAN AKU! YONG WOO-AAAAAAHHH….”

 

Years After..

Yong Woo-ah, annyeong. Bagaimana kabarmu hari ini?? Aku juga baik-baik saja. Anak perempuan kita juga tumbuh dengan baik. Lee Yong Hae namanya, Yong Woo dan Donghae. Apa aku sudah pernah memberitahumu?? Kekkeke… Tentu saja, karena ini sudah tahun ketiga aku mengunjungimu. Dan juga tahun ketiga ulang tahunku tanpamu disisiku. Aahhh, secepat itukah waktu berlalu?? Sepertinya baru kemarin aku melihatmu tertawa bersamaku.

 

Yong Woo-ah, apa kau senang?? Kuharap kau bahagia diatas sana. Kau tak perlu khawatir, karena eomma ikut membantuku menjaga Yong Hae. Dia adalah anak yang manis dan juga cantik. Sama sepertimu. Aku yakin kau sudah tahu hal itu.

 

Yong Woo-ah, apa kau merindukanku?? Aku disini sangat sangat merindukanmu. Rumah kita terasa sangat sepi tanpa adanya dirimu. Walaupun saat ini aku kembali ke rumah eomma, namun rumah kita akan menjadi kenangan satu-satunya yang mengingatkanku tentangmu.

Lee Donghae POV End

Author POV

“Appa!” Donghae mengalihkan pandangannya mendengar suara panggilan anak kecil yang tengah berlari kearahnya. Seorang ahjumma mengikuti tak jauh dari belakangnya.

“Yong Hae-ah, apa kau sudah selesai??” tanya Donghae sambil memeluk anak kecil itu.

“Ne, appa. Aku juga sudah membelikan mawar pink cantik kesukaan eomma. Bolehkah aku menaruhnya disana?” jawab Yong Hae tersenyum sambil menunjuk ke arah batu nisan yang terdapat foto seorang wanita sedang tertawa lepas. Foto Han Yong Woo.

“Eomma, annyeong. Aku dan appa kembali lagi. Kali ini aku membawa bunga lebih banyak dari biasanya, karena appa bilang eomma sangat menyukai bunga mawar pink. Apa eomma tahu, aku juga sangat menyukainya. Bunganya cantik seperti eomma” ucap Yong Hae sambil terus menatap ke arah foto Yong Woo. Donghae tersenyum mendengar ucapan anaknya itu.

Lalu ahjumma tadi berdiri disamping Donghae sambil ikut memandang batu nisan didepannya, “Yong Woo-ah, mianhae. Maafkan atas sikap eomma yang berlebihan waktu itu. Sebenarnya eomma sudah menerima kalian jauh sebelum aku tahu bahwa kau hamil. Hanya saja sifat egoisku mengalahkan rasa sayangku kepada kalian. Gomawo karena kau sudah membantuku merawat Donghae dan memberiku seorang cucu yang cantik”

Donghae menatap eomma-nya, refleks tangannya mengusap mata sang eomma yang basah. Yong Hae yang melihat kejadian barusan berusaha memeluk kedua orang yang sangat disayanginya itu.

“Kajja, sebaiknya kita bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai gelap” ajak Donghae pada eomma dan anaknya.

“Yong Woo-ah, kami pulang dulu. Lain waktu kami pasti akan mengunjungimu lagi. Annyeong” Donghae tersenyum, tangannya mengusap pelan foto Yong Woo.

“Bye bye eomma, aku janji nanti aku akan membawa bunga lebih banyak dari ini. Annyeooong” Yong Hae melambaikan tangannya pada batu nisan Yong Woo sambil tertawa renyah. Sedangkan ahjumma tadi tersenyum melihat tingkah lucu cucunya tersebut. Kemudian mereka pun beranjak dari sana.

Terlihat dari kejauhan sesosok bayangan tengah memandang kearah tiga orang yang berjalan beriringan. Senyum manis tampak terpampang jelas dari wajahnya yang pucat namun terlihat cantik. Dan lama kelamaan sosok itu pun lenyap terbawa angin yang bertiup.

-THE END-

NO Sequel! Mianhae, soalnya author ga pengalaman dalam membuat sequel ^^

RCL please!! Oh ya, first publish on my facebook acc ^^

Gomawo readerdeul, annyeooong #lambai2 bareng Hae ;p

Disclaimer : Jika kalian pernah baca ff ini di blog lain, mohon untuk liat siapa author nya. Kalau sama berarti memang itu ff yang aku kirim. Kalau ga sama, berarti fanfic itu PLAGIAT!

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: