In The Distance, Propose Her

tygfvh

 In The Distance, Propose Her
Rating : PG-13
Cast : Cho Kyuhyun OC
genre : Crack. Fluff. Comedy, Romance.
Summary : The title says all~

***

Oke, sampai mana sih tadi aku mengetiknya?

Sejak tadi, pertanyaan itu membentur dinding otakku berkali-kali, tapi aku bahkan masih belum mengerti dua pertiga kalimat yang mengganggu ku tersebut. Inilah yang disebut otak—mereka lebih cepat dan tajam dibanding kalkulator, tetapi ketika kita sangat membutuhkan mereka, mereka bakal jadi kayak—LOL, maaf, aku baru saja mengalami kerusakan permanen. Tolong ulang pertanyaan anda setelah nada berikut. PIIIPP.

Sialan. Sekarang mataku ikut-ikutan berat.

Inilah susahnya jadi seorang pengarang. Sepertinya kasur selalu menjadi barang mewah yang tidak bisa dijamah hampir setiap malam. Dengan Editor yang menyerupai setan yang merangkak naik dari neraka, siapa sih yang berani mengatupkan mata barang sedetik saja? Jangan tatap aku seperti itu—aku kan masih ingin hidup.

Tapi serius, aku sudah ngetik sampai mana, sih?

Ooooh… kayaknya bantal itu perlu dipeluk. Putih sekali, seperti salju… apakah rasanya dingin juga? Hmm. aku harus memeluknya sebentar, setelah itu kembali ke pekerjaanku yang membuatku hampir gila. dan kayaknya kasur itu perlu di naiki sebentar, untuk jaga-jaga apakah kasur itu rusak atau gimana…. Apa? Kau bilang aku banyak alasan? Ck ck ck… tidak, aku hanya seseorang dengan pemikiran dan antisipasi yang dalam. Aku hanya ingin yang terbaik untuk hidupku, sekalipun sesuatu yang ‘baik’ itu tidak akan pernah kujamah. Lebih tepatnya kutiduri.

“HEO HYUNJAEEEE!! APA YANG KAU LAKUKAN!? KAU TIDUR!! KAU PASTI KETIDURAN LAGI KAN!? ASTAGA! HARUSNYA AKU TIDAK MEMBIARKANMU BERHENTI MENGETIK. AKU TAHU KAU TIDUR!! LANJUTKAN LAGI KETIKANMU SAMPAI SEPULUH RIBU KALIMAT. CEPAT!!!”

Dan karena inilah aku tidak berani lagi memeluk bantalku. Sekarang editorku yang cantik—Shim Hyunhee—sudah standby di belakangku, menatapku dengan tajam. Tatapan itu lagi. Tatapan iblis betina yang akan menerkam mangsanya. Kalau dia sudah begini, mau dia suruh aku meloncat dari tebing pun rasanya sulit untuk kubantah. Serius, kalau aku tahu menjadi novelis berarti akan dijadikan budak komputer disaat orang-orang seharusnya masih berciuman dengan bantal mereka, mestinya aku tidak memilih jurusan sastra saja sekalian. DIMANA KEBEBASAN KETIKA DIA DIBUTUHKAN?!

“kau mau protes? Kalau kau mau protes, silahkan, tapi setelah kau menyelesaikan tujuh puluh lima lembar novel bab terakhir mu itu.” Aku terbelalak. “Mwo!? Kenapa jadi bertambah dua puluh lima halaman?!” seruku, otakku sudah tidak mampu berpikir lagi. Aku tiba-tiba terserang amnesia mendadak. Aku lupa apa yang baru aku makan tadi pagi, apa yang baru kulakukan dua puluh detik yang lalu, dan apa yang sedang ku lakukan sekarang.

Aku syok berat.

“Karena wajah mu terlihat sangat menderita, aku sangat menikmati wajahmu yang tambah menderita ketika ku paksa kau bekerja. Sekarang kau cepat kembali ke komputermu, atau kau akan menemukan kepalamu di atas konter dapur, tanpa tubuhmu menempel dengannya.”

Menakutkan memang apa yang bisa dilakukan wanita iblis satu ini.
“Hyunhee-sunbaeniim.” Aku harus merayunya. Aku harus merayunya sampai titik darah penghabisan. Kalau perlu sampai dia benar-benar memotong kepalaku dengan pisaunya. Aku benar-benar butuh ide, oke?membuat novel romantis itu butuh putaran otak yang tidak biasa. Dan berhubung otakku sedang minum-minum teh dan bukannya membantuku berpikir, lebih baik jangan memaksakan keberuntunganku lebih jauh lagi. “Mwo? Kau mau aku memberimu istirahat barang lima menit saja? Dwaesseo. Kau tidak akan pernah mendapatkan hal itu.” Dia menyeringai. “Aku benar-benar pusing sunbaenim… kumohon berikan aku penangguhan… nde? Nde??” aku memohon seperti orang bodoh. Tapi siapa peduli. “Hmmm… oke. Joha. Aku beri kau waktu istirahat sampai nanti pagi.” Dia tersenyum setan.

Aku menatapnya tidak percaya. Rasa curiga merayapi hatiku. Aku hanya minta lima menit rebahan dan bukannya lima jam istirahat penuh. Apa yang iblis ini rencanakan? “Tapi kau akan melakukan pekerjaanmu dua kali lipat lebih panjang.” Katanya. Tuh kan. APA KUBILANG? “Se-seratus halaman saja?” tawarku. Dia mulai mendatarkan pandangan. “Dua ratus halaman.” Aku melotot. Apa orang ini berniat mencabut jantungku dan menaruhnya kembali?! “Se-seratus tiga puluh…?” tawarku lemah. Dia menyeringai. “Joha. Sampai ketemu lima jam lagi… dengan seratus tiga puluh halaman novel.”

Aku. Bodoh.

Oke, pikirkan sisi positifnya. Kau bisa mengerjakan novelmu dengan tenang tanpa punya perasaan seseorang akan menerkammu dari belakang. Dan kau bisa tidur dengan nyaman. Kemudian kau akan dibunuh oleh Hyunhee karena tidak menepati janjimu. Tidak, lebih buruk. Kau akan dijadikan budak seumur hidup olehnya. ANDWAEEEE!!! Aku menundukkan kepala. Kemudian, otakku yang sepertinya kasihan padaku mulai bicara padaku. “Untuk apa ada internet kalau kau tidak memakainya untuk browser?”

Benar juga. Aku bisa mencari ide dari sana.

Bagus, otak! Tumben kau pintar, pikirku. Otakku hanya mendengus. “Aku ini otakmu, bodoh. Sudah pasti aku pintar.”

Oke, dampak dari tidak tidur hampir dua belas jam sangat mengerikan. Aku bahkan mulai berbicara pada organ tubuhku sendiri.

Tapi bukannya mengetik ‘Hal Romantis Di Dunia’ atau ‘Tujuh Hal Teromantis yang pernah Ada’ aku malah membuka twitter dan menulis ‘GaemGyu’. Kau boleh bilang aku gila. Tapi aku benar-benar merasa aneh kalau melihat rumah tanpa ada dia didalamnya. Sudah seminggu semenjak dia pergi ke LA untuk SMTown.

Yap, kami TIDAK menikah dan tinggal satu rumah. Kami… semacam bertemu dan secara kecelakaan tinggal di tempat yang sama. Awalnya kami dingin satu sama lain. Tapi lama kelamaan aku merasa ada semacam hubungan yang mengikat kami. Hubungan yang abnormal.

Sepertinya dia sangat sibuk sampai-sampai tidak pernah menghubungiku lagi. Bukannya aku peduli, tetapi rasanya aneh saja. Ah sudahlah. Kulihat twitternya. Ah, tentu saja dia tidak akan mengupdate dengan sering. Dia itu cowok tercuek yang pernah ada. Kenapa aku bahkan mau repot-repot mengecek twitternya? Akhirnya aku memutuskan untuk sign out ketika satu tweet muncul dari TL nya.

@GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEOO!!

Aku mengerutkan dahi. Sejak kapan dia menulis dengan capslock? Dia tidak pernah menulis segala sesuatu dengan caps lock. Kecuali ketika kami sedang berkelahi. Tentu saja aku yang menang—buat apa aku jadi seorang penulis kalau perbendaharaan kata di otakku lebih sedikit daripada seorang Cho Kyuhyun? Dalam sekejap para SparKyu atau ELF men-RT atau bahkan bertanya pada lelaki itu.

@Spark-Evrywhr : siapa yang kau kangeni, oppa? RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEO!!
@GumiYa : Apakah itu aku oppa?*blush RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEOO!!
@YimusicSeung : oppaa~ aku juga kangen sekali, lho! RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEOO!!
@AllRiseSilver : Sepertinya aku tahu siapa yang dia kangeni…. RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEOO!!
@GaemGyu : tentu saja kau tahu *blush @AllRiseSilver : Sepertinya aku tahu siapa yang dia kangeni…. RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEOO!!

Apa-apaan ini? Memang siapa yang dia kangeni?

@Siwon407 : missing you~ xDDD RT @GaemGyu : tentu saja kau tahu *blush RT @AllRiseSilver : Sepertinya aku tahu siapa yang dia kangeni…. RT @GaemGyu : AAA~ BBOGOSHIPPEO!!

Aku menaikkan alis. Bukannya aku merasa cemburu atau apa lho. Hah. Kayak mungkin saja aku cemburu terhadap cowok gila itu. Aku Cuma heran saja. Sejak kapan cowok itu punya seseorang yang dia kangeni? Hanya beberapa orang yang akan ia kangeni. Pertama, keluarganya yang mana tidak mungkin karena munggu kemarin dia suda berkunjung dan bahkan mengajakku ke rumahnya untuk menginap.

Err…. Sudah kubilang, hubungan kami ini—abnormal.

Kedua, anggota super junior. Ini lebih tidak mungkin lagi. Dia sedang berada di tempat yang sama dengan mereka jadi untuk apa dia dengan sengaja mengupdate twitternya dan memakai caps lock untuk seluruh hurufnya? Itu tidak mungkin. Ketiga, para ELF korea. Oke, ini mungkin, tapi juga tidak mungkin. Dia itu tipe lelaki yang kangen tapi juga tidak kangen disaat yang bersamaan. Bagaimana aku harus mengatakannya ya? Yang jelas begini; dia adalah lelaki tercuek dan teregois yang pernah ada. Catat itu.

Satu tweet lagi muncul.

@GaemGyu : AKU TAHU KAU MENGECEK KU SEKARANG.

Ha?! Aku bangkit dari tempat dudukku kaget. Apa-apaan cowok ini? Jangan panik. Jangan. Panik. Dia bahkan bukan berbicara padamu, Hyunjae. Mungkin dia sedang menujukan hal itu pada orang lain. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Aku menghela nafas dan kemudian sign out dengan cepat sebelum dadaku berdebar-debar seperti habis lari marathon seratus kilo. Aku terdiam, waktuku tinggal empat setengah jam lagi. Aku menghela nafas dan kemudian merebahkan diri diatas tempat tidur.

Tiba-tiba handphone ku bergetar.

“YOBOSEYO!!!” aku tanpa sadar berseru seperti prajurit. Kebiasaan kalau mengangkat telepon dari Hyunhee-sunbae. Sebelum dia yang berteriak, kau harus berteriak lebih dahulu.

“Hei.”

Deg. Dadaku meloncat dari tempatnya secara tiba-tiba.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya. Suaranya. Seperti sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suaranya. Tiba-tiba aku mendapat dorongan untuk menangis. Kenapa aku ingin menangis? Aku bahkan tidak pernah menangis beberapa tahun ini. Kenapa aku ini? “Halo?” dia terdengar khawatir. Aku menjauhkan handphone dari wajahku sementara karena air mata sudah jatuh dari pipiku. Aku takut isakanku terdengar. Aku mendengar seruannya, dia terdengar panik. Setelah yakin mengendalikan diri, aku berseru padanya. “YA! Kau ini berisik sekali. Kurang kerjaan sekali kau menelepon dari LA ke korea. Kau kira tidak mahal bayarnya?!” apa aku keterlaluan? Sepertinya iya. Karena dia diam sejak tadi.

“y-yeoboseyo? Kau marah?” tanyaku khawatir. Sungguh. Aku. Ini. Kenapa. Kenapa aku bahkan peduli apakah dia marah padaku atau tidak?? Dia menghela nafas. “Kau menangis?” tanyanya. Aku membelalakkan mataku kaget. “tidak. Kenapa aku harus menangis?” apa suaraku sudah terdengar meyakinkan? Ayolah…. Walau aku tahu aku tidak berbakat dalam bidang entertainment, paling tidak aku harus bisa berbohong sedikit sekarang. Hei, ibuku pernah menjadi anggota teather sewaktu dia SMA, otomatis kemampuan aktingnya menurun padaku walau hanya setengah persen kan?

Dia diam lagi. Ada hening panjang yang tidak mengenakkan. Biasanya kami bisa melemparkan lelucon pada satu sama lain. Kenapa sekarang rasanya kaku sekali? “Kau tidak tidur? Sekarang harusnya sudah tengah malam.” Katanya. “Shim Hyunhee.” Kataku singkat. Dia pasti mengerti. Aku sering memar-memar akibat Shim Hyunhee-Sunbaenim dan dia tahu itu. Kau tidak perlu tahu kenapa aku memar-memar. Pokoknya aku memar memar saja.

“Kau sendiri?” tanyaku setelah hening lagi. “Aku? Aku tidak bisa tidur.” Katanya, santai. “Kenapa?” tanyaku, menelengkan kepala. “Kalau tidak ada kau aku tak bisa tidur,” katanya lagi. Aish. Kenapa dia sangat berbakat membuat hatiku berdebar sangat kencang?? “Apa maksudmu?” aku harus tenang. Tetap. Tenang. Dia terkekeh. “Wajahmu merah, kan?”

JDUAR!! Rasanya ada bom antimateri yang dijatuhkan tepat disebelah kiriku. “Apa-apa maksudmu!?” seruku, kehilangan ketenangan. Sialan cowok ini. “Memang benar. Aku tidak bisa tidur kalau tidak ada kau disampingku.” Katanya. “YA! Jangan kau bicara seakan kita… sudah… me-melakukan… AISH! Kau lelaki menjijikkan!!” seruku padanya. “Apa? Hah! Jangan munafik! Kita sudah sering tidur bersama, kan.” Katanya. Oke, aku tidak memungkirkan hal itu. Sejak kami tinggal bersama, kami sudah sering tidur satu ranjang—dan HANYA benar-benar tidur, dan tidak melakukan kegiatan lain. Kau Tanya kenapa? Sebagian besar karena kebiasaan minum Cho Kyuhyun yang buruk, dan sebagian kecil karena kebiasaanku menunda naskah novelku kepada Nona Shim. Dan, kau pikir saja sendiri bagaimana kami bisa tidur satu ranjang.

“Kalau begitu peluk saja Eunhyuk-ssi atau siapapun disampingmu!” kataku. “ew. Dari pada itu, bagaimana AC kamarmu? Sudah bisa dipakai kah?” tanyanya. AC kamarku memang sedikit rusak, dan dia dengan sukarela memperbaikinya kemarin. Tumben.

“Biasa saja. Malah rasanya tambah panas.”

“ya! Aku menghabiskan dua jam berharga di hari liburku hanya untuk mengerjai AC mu!” protesnya. Aku terkekeh. “AC nya bekerja dengan baik. Harusnya aku memberimu tip seribu won.” Kataku. Seribu won saja tidak akan cukup untuk hallyu star sepertiku, aish. Paling tidak tawarkan sesuatu yang lebih berguna ketika aku sampai di korea nanti.” Gerutunya. “Mwo? Kau mengerjakan AC ku karena ingin imbalan? Dimana harga dirimu?” “Hitung-hitung investasi,” dia terkekeh.

“Bagaimana kalau makan malam setiap malam kau yang buat?” katanya. “Mwo? Kenapa aku?” Kataku. Seharusnya, dia tidak memintaku memasakkan makanan untuknya. Memintaku memegang spatula dan wajan di dapur sama saja secara tidak langsung menciptakan sebuah bom bunuh diri yang besar. Kalau sukses melewati segala api dan panas di dapur, berarti kau minta diracuni dengan makanan dengan campuran bumbu yang berbahaya. “Kau ini wanita, kalau kau menikah dan tidak bisa memasak mau jadi apa kau? Berlatihlah sana!” katanya. Cih! Seperti nenek-nenek saja dia. “Memangnya kau bisa memasak? Kau kira memasak hanya untuk wanita saja?” Aku berdiri dan melihat-lihat Buku masakan di lemari bukuku. Aku bingung, sejak kapan lemari buku milikku ada buku masakan? Aku bahkan tidak pernah tertarik membeli buku seperti ini.

“Tapi aku ingin istriku bisa memasak.”

“Lagi-lagi kau berkata seperti itu.” Kayaknya cowok ini tidak bisa berhenti membuat hatiku melompat-lompat seperti sedang meloncati trampolin. “Bagaimana kalau bibimbap? Hanya bibimbap kau pasti bisa membuatnya kan.” Cowok ini minta dibunuh. Dia benar-benar tidak sayang nyawa memintaku membuat makanan untuknya. “Terserah kau.” Kataku pasrah pada akhirnya. “Aku punya kejutan untukmu.” Katanya dari seberang sana.

Terakhir kali dia mengejutkan ku, dia hampir membuatku serangan jantung. Jadi, kali ini lebih baik aku berhati-hati. “Apa itu?” tanyaku curiga. “Aku tahu apa yang sedang kau lakukan.” Kata Kyuhyun. “Kalau begitu, apa yang sedang kulakukan?” tantangku. “kau sedang membuka majalah masak.” Aku menatap majalah masak ditanganku. “Kau bingung.” Tebaknya lagi. Aku tidak menjawab, namun aku memandang berkeliling. “Kau sedang memandang berkeliling.” Oke, aku mulai takut. “Apa yang kau pasang di kamarku, Cho Kyuhyun!?” seruku. Dia terkekeh. “Aku bilang aku hanya menebak. Jadi benar kau melakukan hal itu?”

Hah. Cowok ini terlalu mengenal diriku.

“Sekarang apa hanya itu yang ingin kau tanyakan, tuan cho?” dia tidak menjawab.

“Sudahlah! Kau pergi tidur sana. Pasti kau capek kan bertemu fansmu. Tidur yang baik, makan juga yang baik. jja.” Aku sudah hendak menutup telepon ketika Kyuhyun berseru. “Mwo?” aku bertanya padanya. “Hmm. Keluarlah. Buka tirai jendelamu.” Katanya. Aku menaikkan alis. “Kau gila? Keluar hanya dengan piyama di tengah udara dibawah lima derajat? Aku akan memebeku.” Kataku. “Sudah cepat, kau keluar saja.” Kata Kyuhyun, setengah memaksa. Aku mencibir dan beranjak menuju balkon. Tiba-tiba aku ingat film dimana seorang pria meminta wanita ke balkon dan ternyata ada pria itu dibawah.

“tunggu. Jangan bilang kau ada dibawah.” Kataku. Dadaku berdebar kencang menanti jawabannya. Mau tak mau harapanku yang sudah setinggi langit jatuh ke tanah berdarah-darah ketika mendengar jawabannya, “Aku tidak mungkin berada di bawah, Hyunjae. Aku di LA. Kenapa sih cewek selalu berpikir tidak logis?” aku menggerutu. “Jangan salahkan aku. Aku kan sedang membuat novel cinta.” Aku membuka tirai.

Dan aku melihat kucing. Kucing sendirian yang sedang mengeong parau. Menyedihkan.

“Aku melihat kucing.”

“Bukan itu.” Kyuhyun mendengus. “Kau lihat remote kontrol kecil disebelah bukumu? Yang berwarna hitam?” tanyanya. Aku mendongak dan melihat remote mungil disebelah buku ‘Twilight’ yang baru kubeli untuk referensi. “Iya.” Jawabku. “Ambil remot itu. Lalu klik tombol yang warna merah.” Katanya, suaranya terdengar berharap. Aku mengklik tombol merah.

Tidak ada yang terjadi.

Oh, tunggu.

Astaga.

.
.

“Kau suka?” tanyanya.

.

Tulisan yang bagaikan kaligrafi indah terbuat dari lampu-lampu kecil berwarna biru tua dan hijau toska menerangi kepalaku. Lampu-lampu indah dan mungil itu menempel dengan cermat di atas genteng balkon yang hanya beberapa senti jauhnya dari kepalaku. Berkelap-kelip sangat indah dan manis. Dan kau tahu apa tulisan disana?

Kyuhyun + Hyunjae = love
Would you marry me?

Kemudian terdengar suara malaikat bernyanyi.

Tunggu, itu bukan malaikat.

Itu Kyuhyun. Suaranya… sebening kaca. Sangat indah. Lagu yang ia nyanyikan hampir membuatku menangis.

Marry me.

Butuh waktu beberapa detik untuk menemukan suaraku. Air mataku jatuh. “Kau tidak suka?” suaranya terdengar kecewa. “Aku bingung—maksudku, aku tidak tahu apa yang kau suka… kau tahu… membuat hal ini ternyata cukup mudah dan…. hanya sekarang aku berani mengatakannya, aku—“

“oh diam lah!!” seruku, napasku tersendat.

“….”“Kau suka?” tanyanya lagi.

“Tidak. Aku sangat mencintainya. Bagaimana…?”

“Sebenarnya aku memasang nya saat mengerjai AC mu.lagunya juga menyala otomatis bersama lampu-lampu itu, aku rekam HD… Tentu saja dengan bantuan Shindong Hyung sedikit, tapi aku yang menata semua lampu itu disana. aku juga minta tolong bantuan temanku yang seorang teknisi listrik, dia bilang—“

“Bukan itu—“ aku tersedak air mataku. Rasa bahagia menyesaki seluruh tubuhku sampai-sampai ujung jemariku akan meledak rasanya. “Bagaimana bisa… kau jatuh cinta padaku?”

Hening. Lampu itu masih berkelap-kelip indah, memantulkan cahaya yang luar biasa manis dan gemerlap. Membuat hatiku terenyuh. “Sudah kubilang kan… aku jatuh cinta padamu sejak awal kita bertemu. Aku tidak bisa menjajikan kata-kata manis atau apapun padamu, tapi yang bisa aku katakan sekarang bahwa… hanya kau satu-satunya yang ada dihatiku. Saat ini dan pasti selamanya. Sa-saranghaeyo.” Katanya, suaranya terdengar malu.

Cukup sudah. Dadaku meledak. Aku akan meledak karena bahagia dan rasa cinta.

Dari seorang hallyu star, cho kyuhyun.

“Nado. Nado saranghaeyo.”

“Lalu… apakah kau a-akan menikah dengan…ku?”

Hening.

“YAAA! JAWAB!” serunya, aku bisa mendengar suara telinganya memerah.

“hmm… biarkan aku memikirkannya…” kataku, mengerjainya. “tidak deh. Kalau aku jadi istrimu, aku nanti capek dimadu PSP terus. Lebih baik tidak usah.”

Hening. Sepertinya dia kehilangan kata-kata.

“Baiklah…” suaranya terdengar kecewa. Sangat kecewa. Aduh, aku hampir kasihan mendengarnya.

Hanya itu. setelah itu kami mengisi kebersamaan kami yang aneh dengan keheningan. Kami tidak merasa perlu mengisi jeda panjang itu. keberadaan kami satu sama lain sudah melengkapi semuanya. Bersama, kami pasti bisa. Walau akan ada banyak sekali badai yang menghadang, karena kami saling mencintai… sudah pasti, hal itu akan dengan mudah kami tempuh.

Sambil menautkan tangan secara imajiner, kami memandang bulan yang sudah bulat telur sepenuhnya. Melukis wajah orang yang dirindukan di langit malam yang berbintang, semakin merindukan figur satu sama lain yang bercahaya. Aku ditemani dengan cahaya cinta dan iluminasi buatan. Sementara Kyuhyun juga dengan cahaya cinta dan kilatan Showbiz dunia hiburan.

Dengan cinta, kami pasti bisa.

“Omong-omong, kapan kau mau menyewa gedung pernikahan kita?”

END

A/N : FF ini udah pernah di publish di Facebook. jadi, kalau ada yang pernah baca, itu berarti FF buatanku. 🙂

 

Tunggu. satu lagi. Setelah itu, tiga jam seterusnya aku hanya bisa memikiran Kyuhyun sampai-sampai aku tidak menyelesaikan deadline ku. Hah. Mana ada akhir bahagia untuk aku dan Hyunhee-Sunbaenim?

END *beneran!

YAY! YAY! selesai juga :DDD silahkan di komen…. tolong komen yaaa makasih :DDD

2 Comments (+add yours?)

  1. yuuhimechi
    Mar 14, 2017 @ 20:21:40

    Kerennnnn…. Walaupun gak ada bagian waktu mereka ketemu langsung :’v
    Kyuhyun cocwit banget astagaaaa 😘

    Reply

  2. kylajenny
    Aug 04, 2017 @ 18:16:31

    Kyaaa so sweet bgt. Kkkk

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: