The Unfinished Business

sxdfghjk

Title:

The Unfinished Business

Author:

KeNamGiL

 

“Pangeran Mahkota Sado yang kau bela hingga titik darah penghabisan dan Joseon yang kau agung-agungkan, apakah semua itu lebih berharga daripada nyawa wanitamu sendiri?”

 

 

 

The wavered sword

*The Assassin’s POV

 

Tak pernah sekalipun tanganku ragu mengayunkan pedang saat harus menuntaskan apa yang harus kutuntaskan.

Tak pernah sekalipun mataku berkedip saat menatap wajah-wajah hampir tak bernyawa yang berakhir di ujung pedangku, wajah-wajah yang memucat bahkan sebelum ujung pedangku menuntaskan tugasnya.

Aku hanya membunuh apa yang harus kubunuh dan mengklaim hakku setelah semua sempurna terselesaikan.

Hanya nama dan wajah, aku bahkan tidak perlu tahu alasan kenapa mereka harus berakhir di ujung pedangku.

Sesederhana itulah, siklus hidup yang harus dijalani seorang pembunuh bayaran, seperti aku.

Namun lain halnya dengan detik ini.

Detik dimana aku mendapati sepasang mata, yang walaupun dalam temaram cahaya bulan yang menembus jendela kayu berlapis kertas dinding yang berada di salah satu sisi ruangan gelap ini, terlihat jelas menyorot tajam.

Tidak tercium aroma ketakutan maupun keraguan terpancar dari sorot matanya yang mengunci kedua mataku.

Seolah pemilik sepasang mata hitam tersebut, yang masih duduk beralaskan lantai kayu di balik meja baca yang menjadi satu-satunya pembatas di antara kami berdua, mampu lolos dari tebasan pedangku yang kini telah terhunus sempurna dan hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari permukaan kulit lehernya.

Sorot mata itu bahkan tidak meredup saat ujung pedangku hampir menyentuh permukaan kulit lehernya.

Sorot mata itu, untuk alasan yang belum sepenuhnya kupahami, untuk yang pertama kalinya, cukup membuat pedang yang nyata dalam genggamanku kini sedikit bergetar.

Sorot mata itu….. sangat menggangguku.

Dalam benak, aku mengumpulkan kembali kepingan kesadaranku yang untuk beberapa saat lalu sempat tercecer.

“Nyonya Park, ada kata-kata terakhir yang ingin kau sampaikan?”

Mengesampingkan fakta bahwa untuk pertama kalinya pedangku sempat goyah, dari balik kain hitam yang menutupi separuh wajah, aku berujar singkat tanpa melepaskan pandangan dari sosok wanita di hadapanku.

“Berapa banyak yang kau dapatkan untuk menyerahkan kepalaku?”

Wanita itu membalikkan pertanyaan, masih menatapku dengan mata yang menyorot tajam.

“Cukup banyak, untuk memenuhi pundi-pundi emasku.”

Bahkan setelah aku menegaskan fakta bahwa hampir tidak mungkin ada alasan bagiku untuk menarik kembali pedang yang masih tertuju pada lehernya, sorot mata wanita itu masih tak meredup.

Geurom…..

Pedangku yang hampir selesai menuntaskan tugasnya kini mengapung di udara saat terdengar suara yang berhasil menghentikan tanganku yang mengayunkan pedang.

Jamkkan…..

Sungguh tidak masuk akal bagaimana sebuah kata yang meluncur tiba-tiba dari bibir wanita itu bisa menghentikan ayunan pedangku.

Setelah wanita itu bangkit dari lantai kayu, menyejajarkan posisi kami, meja baca yang sebelumnya menjadi pembatas di antara kami berdua, kini tidak lagi menjadi penghalang untuk melihat apa yang beberapa saat lalu tersembunyi dibaliknya.

Nafasku tercekat, seperti melihat hantu dari masa lalu, aku merasakan kedua kakiku hampir tidak mampu menopang tubuhku untuk tetap bisa berdiri tegak, menyadari fakta yang tidak pernah kuperhitungkan sebelumnya, menyadari fakta bahwa tonjolan besar di perut wanita itu adalah nyata.

Dengan benak yang masih sibuk mengutuk diriku sendiri, aku berusaha sekali lagi meluruskan pedangku yang masih membidik lehernya.

“Bukankah kau hanya harus membunuhku?”

Aku tak menangkap sedikitpun keraguan tersirat dalam kalimatnya yang meluncur pasti, seolah kalimat itu bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan.

“Maka bunuhlah aku…, dan hanya aku, seorang,” lanjutnya dengan penegasan di akhir kalimat.

Pedang dalam genggamanku yang masih tertuju pada lehernya kini terasa semakin berat.

“Kembalilah satu bulan lagi. Aku sendiri yang akan mengantarkan nyawaku.”

Kalimat terakhirnya bukanlah sebuah permohonan, apalagi ratapan dari seseorang yang nyawanya tengah berada di ujung tanduk.

Kalimat tersebut merupakan negosiasi.

Tidak. Aku tidak akan pernah bernegosiasi dalam hal apapun.

Namun pada kenyataannya, aku bahkan hampir menertawakan diriku sendiri, menyadari betapa tingginya rasa percaya diri wanita itu. Begitu tingginya sehingga dia merasa yakin bahwa aku akan dengan begitu saja menyarungkan kembali pedangku hanya karena fakta bahwa ada kehidupan lain yang tumbuh dalam dirinya.

Bukankah aku hanya perlu mengayunkan pedang dan dalam sekali tebasan, urat lehernya akan terpisah dari kepala?

Sesederhana itu.

Namun detik ini, untuk yang pertama kalinya, hal sesederhana itu menjadi terlalu sulit untuk dilakukan.

Aku masih menyerukan pada diriku sendiri utuk tetap meluruskan pedang dan membidik lehernya, dengan sorot mata wanita itu yang masih tak meredup, saat terdengar derap langkah kaki dari sekumpulan orang yang mendekat menuju ruangan tempat kami berada.

Semuanya terjadi begitu saja.

Aku, bukannya tidak menyadari bahwa ini akan menjadi keputusan paling berisiko yang pernah kuambil dalam sepanjang karir tanpa celaku sebagai pembunuh bayaran.

Namun satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya karena pada akhirnya akulah yang harus melenyapkannya, dengan tanganku sendiri.

Maka detik ini, sebelum orang-orangku menyaksikan kegagalan seniornya dan mengambil alih apa yang belum bisa kutuntaskan saat ini, tubuh yang kini terkulai dan tertangkap kedua tanganku setelah tak sadarkan diri hanya dengan sekali pukulan di salah satu persendiannya, akan lenyap, bersama dengan menghilangnya sosok pembunuh bayaran yang seharusnya sudah melenyapkannya.

* * *

In the hide out

 

Seberapa jauhkah ‘jauh’ itu?

Apakah sebuah pondok tak berpenghuni di suatu sudut tersembunyi di puncak pegunungan bisa disebut cukup jauh?

Apa yang sedang coba kusembunyikan dan dari siapa aku berusaha menyembunyikannya?

Berbagai pertanyaan yang belum terjawab dan mungkin tidak akan pernah terjawab masih berkutat di benakku.

Bahkan, setelah matahari hampir berada tepat di atas kepala, dengan sosok yang masih terkulai tak sadarkan diri di atas tumpukan jerami, tak jauh dari tempatku bersandar, kepalaku masih menengadah dengan kedua mata yang tertuju pada jalinan kayu lapuk yang sepertinya tidak lagi cukup kuat mempertahankan konstruksinya, berharap menemukan penjelasan yang terselip di antara renggangnya jalinan kayu tersebut, penjelasan atas keputusan paling tidak masuk akal yang telah kuambil kurang dari sehari sebelumnya.

Dengan berat hati aku harus mengakui bahwa ucapan wanita itu memang benar.

Aku hanya harus membunuhnya, dan hanya dia seorang.

Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku terpaksa kembali menyarungkan pedang.

Kehidupan lain yang sedang tumbuh dalam dirinya sama sekali tidak termasuk dalam hitunganku. Kehidupan lain yang sedang tumbuh dalam dirinya bukanlah bagian dari misiku.

Aku masih menatap nanar tonjolan besar di perutnya – seolah hal tersebut adalah fakta yang paling mengerikan di dunia – saat sosok yang masih terbaring beralaskan tumpukan jerami tersebut perlahan mulai menunjukkan kesadaran.

Sosok itu mulai terlihat menggerakkan beberapa bagian tubuhnya yang terbujur kaku. Di saat yang sama, aku menarik kembali tanganku yang hampir terjulur ke arahnya, mendapati sepasang kelopaknya mulai mengerjap pelan.

Apa yang sedang coba kulakukan?

Bukankah tangan ini pada akhirnya akan menjadi tangan yang menghunuskan pedang padanya?

Setelah kedua kelopak matanya terbuka sempurna, tak ada lagi tempat bagiku untuk bisa sembunyi, menghindar dari sorot matanya yang sekali lagi tertuju padaku. Sorot mata yang sama, yang menatap makhluk di hadapannya kini seolah bukan manusia.

Wanita itu terlihat berusaha bangkit dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya hampir ke setiap sudut pondok tak berpenghuni ini, hingga sepasang matanya berhenti menelusuri sekeliling ruangan saat mata kami bertemu.

“Kau…,” ucapnya terputus dengan suara yang terdengar parau.

“Nyonya Park…, aku rasa kau lebih dari paham alasanku membawamu ke tempat ini.”

Wanita itu menarik garis dari salah satu sudut bibirnya, menyeringai.

“Siapa?” tanyanya dengan mengambil jeda. “Atas perintah siapa kau melakukan semua ini? Menteri Pertahanan? Faksi Noron? atau…, Yang Mulia sendiri…?” Suara wanita itu terdengar sedikit bergetar saat tiba di penghujung kalimat.

“Apa bedanya jika kau tahu?”

Wanita itu kini terlihat mengerutkan keningnya.

“Bukankah sudah tidak ada lagi alasan bagimu untuk tetap bisa menatap langit Joseon, kecuali karena kehidupan lain yang tumbuh dalam dirimu?”

Dengan seringai yang kembali terulas di wajahnya, kedua matanya kini sudah tidak lagi tertuju padaku.

“Kau benar.” Sedetik kemudian, seringai yang sudah tidak lagi terlihat di wajahnya, meninggalkan sepasang mata yang kembali menyorot tajam. “Lalu…, kehormatan apa yang akan kau raih dengan mengakhiri hidup seseorang yang bahkan sudah mati?”

“Kehormatan…,” jawabku dengan angan menerawang. “…aku tidak pernah tertarik pada hal-hal semacam itu. Tidak peduli hidup atau mati, kepalamu menjadi satu-satunya jaminan bagiku untuk bisa melanjutkan hidup.”

Kilatan api terpancar jelas di kedua matanya setelah aku kembali menyejajarkan mata kami berdua.

“Pada akhirnya, kau akan berakhir di ujung pedangku dan hanya di ujung pedangku. Jadi hingga saat itu tiba, aku akan memastikan, tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian berdua,” ucapku dengan penegasan di akhir kalimat.

Aku beranjak, tak mau terlibat dalam perdebatan yang lebih panjang dengan wanita itu setelah menyodorkan nampan yang telah terisi beberapa mangkuk nasi, sayur, yang kini pasti telah dingin dan air secukupnya yang beberapa saat lalu telah kusiapkan dengan kedua tanganku sendiri.

Karena dia harus tetap hidup hingga tiba saatnya pedangku kembali terhunus.

“Jangan pernah berpikir untuk menginjakkan kaki keluar dari tempat ini jika kau tidak ingin kalian berdua, kau dan janinmu, berada dalam bahaya,” ucapku dengan penekanan di setiap kata.

Aku baru saja berbalik hendak melangkahkan kaki saat suara sosok yang kini ada di belakangku kembali berhasil menghentikanku.

“Aku tidak akan pernah berterimakasih.”

Aku menarik garis dari sudut bibir mendengar kalimat terakhirnya.

“Aku juga berpikir demikian.”

* * *

The smell of death

 

Melewati beberapa lapis penjagaan ketat yang memagari satu-satunya tempat di istana yang setiap sudutnya tercium bau kematian bukanlah hal yang terlalu sulit bagiku.

Aku berjalan menyusuri lorong gelap, mengabaikan bau menyeruak yang memenuhi lapisan udara di tempatku kini berada, melewati petak demi petak berjeruji kayu berpenghuni para terpidana yang tinggal menunggu waktu sebelum akhirnya harus mengantarkan nyawa.

Aku bahkan belum sepenuhnya yakin pada apa yang membawa langkahku ke tempat pembuangan terakhir ini.

Namun satu hal yang pasti, langkahku kini terhenti saat tepat berada di depan salah satu sel berjeruji kayu yang dihuni oleh sosok pria yang terbalut dalam garmen putih. Bercak-bercak merah yang tercetak di hampir sekujur garmen putih yang membalutnya menandakan begitu beratnya hukuman fisik yang telah dijalaninya.

Apa yang membuatnya berakhir di tempat ini bukanlah hal yang menjadi fokusku, melainkan fakta bahwa pria itu sepenuhnya memiliki andil dalam munculnya kehidupan baru yang kini tengah tumbuh dalam diri wanita itu, yang menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk belum menghunuskan pedang padanya.

Dari luar jeruji kayu yang mengepungnya, aku bisa melihat sosok pria itu duduk bersimpuh dengan kedua mata terpejam.

Apakah ini sebuah bentuk kerelaan atau hanya sekedar ketidakberdayaan?

Aku tidak pernah benar-benar ingin mengetahuinya.

“Park Jung Soo…”

Mendengar ada suara yang memanggil namanya, sosok bergarmen putih tersebut membuka kedua matanya hingga akhirnya menyadari keberadaanku.

Sungguh luar bisa bagaimana kedua manusia ini, yang kini terpasung di balik jeruji kayu dan yang terasing di suatu sudut tersembunyi yang jauh dari hingar bingar ibukota, bisa memiliki sorot mata yang sama, sorot mata yang menatap makhluk di hadapannya kini seolah bukan manusia.

“Siapa kau…?” tanyanya, terdengar cukup lantang untuk seseorang yang dalam hitungan jam akan segera mengantarkan nyawa.

“Bukan siapa, melainkan apa…,” ucapku dengan mengambil jeda, “…apa yang akan kau lakukan? Itulah yang seharusnya kau tanyakan.”

Pria itu kini terlihat mengerutkan keningnya dengan cara yang sama seperti yang wanitanya lakukan.

“Aku adalah orang yang ditugaskan untuk melenyapkan Nyonya Park.”

Setelah aku menuntaskan kalimatku, dengan rahang yang mengeras, sepasang bola mata pria itu terlihat seakan siap melompat dari kelopaknya.

“Perintah yang kuterima sangatlah sederhana. Serahkan kepala Nyonya Park,” ucapku dengan menatap kilap pedangku yang kini setengah terhunus.

“Namun, hal sesederhana itu dalam sekejap berubah menjadi hal tersulit yang pernah kulakukan. Begitu sulitnya, hingga akhirnya aku terpaksa kembali menyarungkan pedang,” lanjutku di saat yang sama kembali menyarungkan pedang.

Aku berani bertaruh, dalam hatinya, pria itu tengah mengutukku, menghujaniku dengan sumpah serapah meskipun yang terlihat dari balik jeruji kayu hanyalah kedua tangannya yang mengepal sempurna dan sepasang matanya yang menyorot tajam. Jika sorot matanya bekerja layaknya sebilah pedang, jeruji kayu yang mengepunya kini pastilah akan terbabat habis.

Pria itu perlahan mulai terlihat bisa menguasai diri dengan seringai yang kini terulas di wajahnya.

“Apakah semua itu sepadan?” tanyanya dengan mata yang tertuju pada lantai tanah.

Kini giliranku mengerutkan kening mendengar pertanyaannya.

“Berapa banyak yang kau dapatkan untuk menyerahkan kepala orang yang bahkan sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini?”

Mendengar pertanyaan terakhirnya, yang kurasa bukan pertama kalinya kudengar, aku berusaha keras menahan tawa.

Pria itu mengangkat kepala, kembali menatapku dengan kerutan di keningnya.

“Apakah semua itu sepadan?” ucapku mengulangi pertanyaan retorisnya.

“Bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Pria itu masih menyimak dengan kerutan di keningnya yang kian terlihat nyata.

“Pangeran Mahkota Sado yang kau bela hingga titik darah penghabisan dan Joseon yang kau agung-agungkan, apakah semua itu lebih berharga daripada nyawa wanitamu sendiri?”

Dalam sekejap, pria itu bangkit dan menjulurkan lengannya dari sela-sela jeruji kayu, berusaha mencengkeram leherku? Pada kenyataannya, tangannya hanya mengapung di udara.

“Bukankah seharusnya kau lari? Menjauh dari orang-orang sepertiku yang hanya akan menambah pundi-pundi emas kami dengan melenyapkan kalian dari tanah Joseon!”

Telingaku menangkap rentetan kalimat sumpah serapah, meluncur deras dari mulutnya yang hanya terasa seperti angin lalu.

“Jika saja perintah yang kuterima berbeda, aku tidak akan ragu melenyapkan mereka berdua.

Jika sumpah serapah pria itu bekerja layaknya sebilah pedang, pastilah tubuhku sudah hancur berkeping-keping.

“Jadi, hingga saatnya tiba, aku akan memastikan bahwa ini hanya akan menjadi misi yang tertunda.”

Aku memutar arah, menapakkan kakiku menjauh tanpa menghiraukan teriakan di belakang yang tidak akan pernah berhasil menghentikan langkahku.

* * *

The last sunrise of Joseon

 

Haruskah aku memberi gelar orang bodoh nomor satu di seantero Joseon pada sosok bergarmen putih yang saat ini menjadi pusat perhatian kerumunan rakyat jelata yang membanjiri pelataran di pusat kota?

Park Jung Soo, pengikut setia Pangeran Mahkota Sado, orang bodoh nomor satu di seantero Joseon yang rela mengorbankan diri demi tujuan mulia. Tujuan mulia?

Persetan dengan tujuan mulia jika pada akhirnya kepalamulah yang harus terputus dari urat lehernya.

Sosok itu kini terlihat menengadah. Aku yang berdiri cukup jauh dari bibir kerumunan, mengikuti kemana arah matanya kini menuju, menantang teriknya matahari yang menaungi Joseon pagi ini.

Bagaimana matahari Joseon terlihat di mata seorang terpidana mati?

Dengan pedang yang nyata terhunus ke lehernya, apakah aku dan pria itu masih menatap matahari yang sama?

Dengan eksekutor yang kini tengah menjalankan ritualnya, menarikan tarian kematian dengan mengayunkan pedang, apakah pria itu sempat berpikir bahwa kesetiaan butanya itulah yang akhirnya membawanya menuju pada maut?

Seperti yang sebelumnya terlintas di benakku, gelar orang bodoh nomor satu di seantero Joseon lebih dari pantas disandang pria itu.

Ini bukanlah pemandangan baru bagiku.

Aku bahkan tak melewatkan satu detelpun dengan berkedip.

Setelah eksekutor selesai mengayunkan pedangnya dan terdengar jeritan dari kerumunan, menyaksikan apa yang kini menggelinding dengan semburan merah yang membanjiri mimbar kayu tempat eksekusi tersebut dilaksanakan, mendapati kepala yang telah terputus dari lehernya bukanlah pemandangan baru bagiku.

* * *

Hurt

 

Satu kali rotasi bumi sudah hampir berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya.

Apakah dia masih bertahan?

Apakah dia mengindahkan peringatanku?

Aku harap dia tidak cukup gila untuk bertindak gegabah.

Berbagai spekulasi masih berkutat di benakku, saat aku berkuda dengan kecepatan tertinggi, melintasi bentangan alam sebelum akhirnya tiba di pondok yang aku harap masih menaunginya.

Dengan nafas memburu dan detak jantung yang belum kembali normal, aku dengan cepat mendorong pintu kayu dan mendapati sosok yang masih bersandar di sudut ruangan yang sama seperti saat terakhir kali aku meninggalkannya.

Untuk alasan yang belum sepenuhnya kupahami, ada perasaan lega yang sepintas terbersit.

“Apakah kau berniat mempercepat ajalmu?” tanyaku retoris merujuk pada nampan makanan yang hanya baru setengahnya terjamah, tergeletak tak jauh dari tempatnya bersandar.

Wanita itu hanya melirikku sepintas dari sudut matanya yang melancip di kedua ujungnya sebelum akhirnya kembali memalingkan muka.

Aku baru saja berniat mengambil nampan tersebut saat aku teringat pada sebuah benda yang seharusnya tidak berada di tanganku.

Aku menjulurkan tangan dengan sebuah benda bermaterial kayu dalam genggamanku. Wanita itu sedikit memiringkan kepala, menatapku ragu.

Menyadari bahwa dia tidak akan pernah menyambut uluran tanganku terlebih dahulu, aku menarik tangannya dan meletakkan benda bermaterial kayu tersebut dalam genggamannya.

Wanita itu menatap genggaman tangannya yang tertutup dengan kening berkerut. Tepat setelah genggaman tangannya terbuka, aku mendapati kulit wajahnya yang memang sudah pucat terlihat berkali-kali lipat lebih suram.

Masih dengan hobae (tanda pengenal yang terbuat dari papan kayu) dalam genggamannya, getaran yang terlihat di rahangnya yang berusaha menahan bibirnya tetap terkunci rapat berbanding lurus dengan getaran di tangannya yang kini mengepal sempurna.

Seperti yang kuduga, reaksinya akan seperti ini dan tidak lebih dari seperti ini.

“Tinggalkan aku sendiri.”

Apakah ini sebuah perintah?

Apakah wanita itu sedang memberikan perintah?

Selain dari pihak yang menggunakan jasaku, aku tidak menerima perintah dari siapapun.

Namun detik ini, wanita yang bahkan tidak menatap ke dalam mataku saat mengucapkan kalimat terakhirnya tersebut menegaskan kalimat perintah yang ditujukan padaku?

Aku tidak bisa merasa lebih konyol dari saat ini.

Namun pada kenyataannya, aku mendapati diriku bangkit dengan mengangkat nampan yang sempat terabaikan, melangkah keluar, dan menutup kembali pintu kayu hingga sosoknya tak terlihat.

Merasa terlalu penat dengan segala perubahan tak terduga dalam siklus hidupku, nampan beserta isinya yang tadinya hendak kubersihkan, kubiarkan tergeletak di atas tanah.

Aku sepintas memandang kuda hitam, dengan tali kekangnya yang terikat di sebatang pohon, yang seolah balik menatapku dengan penuh ingin tahu.

Tiba-tiba, terlintas di benakku bahwa keterpencilan ini terasa mengerikan. Hanya ada aku dan wanita itu dan bentangan hijau yang mengepung kami.

Aku merapatkan punggungku pada dinding batu, tak mendengar apapun di dalam sana.

Benarkah hatinya telah mati rasa? Bahkan saat menyadari bahwa pemilik hobae dalam genggamannya kini tak lagi menginjak tanah Joseon, reaksi yang ditunjukkannya tak lebih dari amarah yang terpendam.

Di kehidupan selanjutnya, wanita itu seharusnya terlahir kembali menjadi seorang pembunuh bayaran atau juru eksekusi mati.

Namun kini, setelah beberapa menit kuhabiskan dalam keheningan yang mencekam, terdengar jeritan dari balik dinding batu.

Tanpa sadar, tubuhku mengaktifkan insting berwaspadanya seolah lonceng penanda bahaya berdentum hebat di kepalaku. Aku bahkan hampir mendobrak pintu ketika aku menyadari bahwa jeritan yang semakin nyata terdengar itu bukanlah jenis jeritan yang mengharapkan uluran tangan.

Ada getaran dalam seruannya yang terdengar parau. Ada isakan di sela-sela jeritannya. Dan aku lebih dari yakin bahwa ada air mata di sana.

Apakah wanita itu tengah mengutuk Joseon dan seluruh isinya karena telah merenggut miliknya yang paling berharga?

Sebesar itukah rasa kehilangannya?

Hingga seolah dia rela menghabiskan sisa tenaganya untuk berseru mengutuk alam, yang tidak akan pernah menjawab seruannya.

Tanpa terkendali, telapak tanganku kini melekat sempurna di permukaan kain yang membalut tubuh bagian depanku, tepat di sebelah kiri, merasakan detak yang terselubung jauh di baliknya, merasakan sakit yang seperti menghimpit rongga dada, jenis sakit yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

* * *

 

Days elapsed

 

Tidak lebih dari tiga puluh hari, aku hanya perlu menunggu tidak lebih dari tiga puluh hari. Namun kenapa aku merasa bahwa ini akan menjadi rentang waktu selama kurang dari satu bulan yang paling menyiksa dalam hidupku?

Hidup dalam persembunyian dengan seseorang yang seharusnya sudah kulenyapkan.

Setelah melewati beberapa kali rotasi bumi dalam diam, tibalah pada suatu hari dimana wanita itu pertama kalinya kembali bersuara setelah tragedi hobae, yang kukira telah memutuskan pita suaranya, beberapa waktu yang lalu.

Wanita itu, masih bersandar di sudut yang sejak detik pertamanya kembali membuka mata, telah menjadi teritorinya, menoleh ke arah kanan atas, memperlihatkan garis rahangnya yang melintang sempurna, menatap ke cahaya yang menelusup melalui celah sempit di bagian atas dinding.

“Matahari Joseon…, akankah selamanya terlihat sama?”

Aku berani bertaruh bahwa dia tidak mengharapkan jawaban verbal dari pertanyaan tersebut, terlebih lagi jawaban dariku.

“Apa yang akan kau lakukan pada anak ini?” Kalimat tersebut meluncur tiba-tiba dengan kedua matanya yang walaupun tertuju padaku tidak lagi menyorot tajam seperti caranya menatapku sebelumnya.

Aku yang tidak siap dengan reaksiku sendiri hanya bisa membisu dan menghindar dari tatapannya.

“Setidaknya…, bisakah kau meninggalkannya di tempat yang aman?”

Aku menangkap getaran dalam suaranya yang terucap dengan nada yang paling rendah. Apakah dia sedang memohon? Apakah wanita itu sedang memohon padaku? Memohon pada sosok yang tidak lama lagi akan menghunuskan pedang padanya?

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku merasa perlu melakukannya?” tanyaku dengan menyejajarkan mata kami.

“Karena kau menepati janjimu.”

Jawabannya cukup membuat keningku berkerut.

“Sejauh ini, kau belum menghunus pedangmu. Itu lebih dari cukup bagiku.”

Aku bahkan hampir menertawakan diriku sendiri setelah wanita itu menuntaskan kalimatnya.

“Aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan.”

Kini sorot matanya terlihat meredup. Apakah ini isyarat bahwa dia telah mengibarkan bendera putih?

Aku bangkit dan bersiap meninggalkannya di dalam ruangan, seperti yang biasa kulakukan selama kurang dari sebulan terakhir kami bernaung di bawah atap yang sama.

“Kau hanya perlu bertahan hingga saatnya tiba, sesederhana itu.”

Aku baru saja berbalik dan hendak menuju pintu ketika terdengar suara di belakang yang sekali lagi, untuk yang ke dua kalinya, berhasil menghentikan langkahku.

“Aku tidak pernah merasa takut.”

Untuk yang kesekian kalinya, keningku kembali berkerut setelah mendengar ucapannya.

“Bahkan dengan pedang yang terhunus ke leherku, sekalipun, aku tidak pernah merasa takut padamu.”

Aku tidak menangkap keraguan dalam ucapan terakhirnya yang belum sempat kucerna seutuhnya, menimbulkan berbagai spekulasi yang terus berkutat dalam benakku setelah aku benar-benar meninggalkanya sendiri.

* * *

The lurking trees

 

Aku merasa hanya menghabiskan waktu dengan berputar-putar di lingkaran yang sama tanpa ada arah yang pasti untuk dituju, menapakkan satu kaki di depan kaki yang lain terus-menerus secara bergantian, melewati lanskap demi lanskap yang seperti mengejarku di belakang.

Untuk pertama kalinya, udara pegunungan yang belum tercemar terasa menyesakkan untuk dihirup ke dalam paru-paru, hampir terasa memuakkan, seolah hanya dengan menghirupnya leherku akan tercekik.

Dan semua ilusi tak masuk akal ini muncul hanya karena ucapan wanita itu.

“…aku tidak pernah merasa takut padamu.”

Apa yang membuatnya berpikir demikian?

Bukankah seharusnya aku menjadi orang pertama yang pantas menerima sumpah serapah darinya, orang pertama yang dibencinya, yang seharusnya dia takuti?

Sungguh luar biasa tidak masuk akal bagaimana sebaris kalimat bisa menafikan seluruh riwayat perjalanan hidupku selama hampir 28 tahun terakhir dan membuatnya terasa seperti sebuah omong kosong besar.

Aku menghentikan langkah, terjebak dalam kepungan deretan pohon yang menjulang dalam keheningan yang meliputi. Keheningan ini hanya terusik oleh suara mendesis dari gesekan daun-daun pepohonan yang mengepungku.

Tidak ada mahkluk hidup lain, hanya ada aku, detak jantungku yang berpacu dan nafasku yang memburu.

Tidak ada makhluk hidup lain. Tidak ada makhluk hidup lain?

Secara instingtif, tubuhku kembali memosisikan diri untuk berwaspada dengan menempatkan sebelah tanganku pada gagang pedang yang belum terbebas dari sarungnya.

Aku menengadah, mengedarkan pandangan ke segala penjuru, menelusuri batang demi batang pohon yang seolah mengintai setiap pergerakanku. Deretan pepohonan tersebut atau sosok yang keberadaannya tersamarkan bentangan alam yang kini mengepungku?

Aku bisa merasakan keberadaan mereka, tidak lebih dari dua orang, bersenjata, dalam posisi siap melancarkan serangan.

Apakah mereka benar-benar berpikir aku akan menjadi target yang mudah?

“Keluarlah!”

Seruku dengan melepaskan genggaman dari gagang pedang setelah benar-benar yakin pada perkiraanku sendiri.

Di seantero Joseon, kemampuan orang-orang Heuksa Chorong (organisasi pembunuh bayaran yang dibentuk oleh mata-mata Qing) dalam hal pengintaian termasuk dalam yang terbaik. Karena itulah yang kami lakukan, hidup dalam bayangan. Jadi untuk saat ini, aku belum merasa perlu menghunus pedang dan kuharap tidak akan perlu menghunus pedang.

Kedua sosok dalam balutan kain hitam beratribut lengkap Heuksa Chorong, muncul dari balik pohon yang menyelebungi keberadaan keduanya.

Kedua sosok pria tersebut, yang tidak jauh lebih muda dariku, menundukkan kepala dengan penuh hormat di hadapanku.

“Sudah berapa lama? Berapa banyak yang tahu?”

Kedua sosok tersebut saling bertatapan, terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku.

“Keberadaan Tuan dan wanita itu sudah sekian lama terbongkar. Kami hanya menunggu perintah dari Pemimpin untuk membawa Anda kembali.”

“Dan perintah yang kalian terima adalah hari ini?”

“Ya,” masih pria yang sama, dijawabnya pertanyaanku dengan tanpa keraguan.

Aku menghela nafas panjang, menyembunyikan raut kegelisahan dan rasa tidak aman yang tiba-tiba menyergap.

“Kembalilah! Katakan pada salah satu tetua atau secara langsung pada Pemimpin, aku hanya perlu sedikit waktu lagi untuk kembali dengan membawa kepalanya,” ucapku dengan penegasan di setiap kata.

Kedua pria di hadapanku tersebut kembali saling menatap ragu.

“Hamba takut, kami tidak bisa melakukannya. Tuan hanya perlu kembali dan menyerahkan semuanya pada kami.” Pria yang satunya menjawab dengan menundukkan kepala.

Mendengar jawaban terakhirnya, aku berusaha keras untuk tidak menghunus pedang dengan kedua tangan yang telah mengepal sempurna.

“Sejak kapan….!!!!!!!?” seruku dengan mengambil jeda, “…Sejak kapan orang lain bisa mengambil alih misiku!!!!!!!!?”

Kedua sosok di hadapanku kini terlihat semakin dalam menundukkan kepala. Dengan cepat, aku kembali menguasai diri.

“Pergilah, jangan membuatku terpaksa menghunus pedang,” perintahku untuk yang terakhir kali. Aku benar-benar berharap mereka akan menyerah dan menghilang dari pandanganku. Namun kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan harapan.

“Jika Anda memaksa….”

Kedua sosok tersebut sekali lagi menundukkan kepala, memberikan penghormatan terakhir? Sebelum akhirnya terlebih dahulu menempatkan sebilah pedang dalam genggaman masing-masing.

Tidak lama lagi, keheningan alam akan terusik dengan suara pedang yang beradu, dan lebih dari itu, akan ada darah yang membasahi tanah kering yang kupijak. Haruskah aku melakukannya? Pada orang-orangku sendiri? Yang pernah berjuang bersamaku dalam berbagai misi berdarah yang telah kami lalui? Haruskah?

Satu hal yang pasti.

Saat pedangku terhunus, akan ada darah yang mengalir.

Meskipun pada kenyataannya, kedua orang tersebut merupakan figur-figur terlatih dan berpengalaman dalam pertempuran yang sebenarnya, aku tidak perlu menghabiskan waktu cukup lama untuk mengakhiri pertarungan yang kuharap tidak perlu terjadi ini karena hanya dengan dua kali tebasan, keduanya tumbang bagaikan ranting pohon tua yang berjatuhan ke tanah.

Maafkan aku. Belum saatnya darahku membanjiri tanah Joseon.

Heuksa Chorong seharusnya secara langsung mengirimkan salah satu tetuanya, atau jika perlu, Pemimpin sendirilah yang menyeretku kembali, bukan dua sosok ini, yang bahkan tidak sanggup menghunuskan pedangnya padaku.

* * *

The chosen battle

 

“Kau bisa berkuda?”

Wanita yang ada di hadapanku kini kembali terlihat mengerutkan dahi setelah aku menariknya keluar, mendekat ke sisi pohon dimana tali kekang kudaku terikat ke batangnya.

“Aku tahu kau bisa. Kau bukan tipe wanita bangsawan yang hanya berdiam diri di dalam rumah, menghabiskan waktu dengan sulaman di tanganmu. Bukan begitu?”

Pertanyaan itu meluncur cepat dari mulutku, dengan tanganku yang sibuk membebaskan lilitan tali kekang dari batang pohon. Kerutan di kening wanita itu kini semakin terlihat jelas.

“Melajulah dengan kecepatan rata-rata yang tidak akan membahayakan kalian berdua. Hindari tepian sungai. Ikuti jalur landai di sepanjang lereng menuju ke arah barat. Jika tidak ada yang menghentikanmu, kau akan tiba di dermaga Anheung setelah fajar. Kau harus naik kapal pertama yang akan membawamu menuju Qing!”

“Qing?!”

Sepasang bola mata wanita itu seakan siap melompat dari kelopaknya saat menyerukan kata terakhirnya. Aku menghela nafas panjang, memahami kebingungannya.

“Untuk saat ini, hanya tempat itulah yang paling aman bagi kalian berdua.” Aku menatapnya lurus, berharap dia akan mengerti.

Wanita itu terlihat sejenak memejamkan mata, sedang mencoba mencerna ide gilaku yang bernada putus asa?

“Lalu…, bagaimana denganmu?” Wanita itu menatapku dengan pandangan lurus yang menyorot tajam sekaligus terlihat lembut secara bersamaan. Detik ini, rasanya aku rela mempertaruhkan nyawa, asalkan aku bisa menghindar dari sorot matanya.

“Banyak hal yang harus kuselesaikan di sini,” jawabku cepat dengan sibuk memasang posisi pelana kuda.

“Kenapa….,” suara itu berhasil menghentikan kesibukanku, “…Kenapa kau melakukannya?”

“Karena kau harus mati di tanganku. Dan hanya di tanganku,” tegasku dengan kembali menyejajarkan mata kami.

“Jika di kemudian hari kita bertemu, aku akan menuntaskan apa yang saat ini belum berhasil kutuntaskan.”

Wanita itu terlihat sepintas mengangguk dengan garis yang tertarik dari sudut bibirnya. Senyum kekalahan?

“Setidaknya, biarkan aku tahu, kepada siapa aku berhutang nyawa.”

Tidakkah dia mengerti bahwa sorot matanya itu teramat sangat menggangguku?

“Kau tidak berhutang apapun padaku. Ini masih belum berakhir.”

Wanita itu sepintas terlihat menghela nafas dengan menundukkan kepala.

“Namun demikian…,” kepalanya kembali terangkat saat mendengar kalimatku yang belum tuntas, “…Jika kau menginginkan sebuah nama…,” aku menghela nafas sebelum menuntaskan kalimatku.

“Jong Woon – Kim Jong Woon.”

Keheningan sejenak meliputi. Waktu serasa terhenti. Hanya mata kami yang bertemu di satu titik, seolah terjadi dialog tanpa kata dalam benak kami.

“Cepat naik! Sudah banyak waktu terbuang.”

Aku menginstruksikan padanya untuk memosisikan diri menaiki kuda dan seperti yang kuduga, dia memang bukan tipe wanita yang hanya berdiam diri di dalam rumah bak seorang Puteri, terlihat dari posisinya yang sempurna di atas pelana dan caranya menggenggam tali kekang, walaupun dengan tonjolan besar di perutnya.

“Pergilah. Jangan berhenti. Jangan pernah menoleh ke belakang,” ucapku dengan menatap lurus ke arah yang akan dia tuju.

Wanita itu sepintas terlihat memalingkan wajah ke arah kiri bawah, menatapku dari sudut matanya yang melancip di kedua ujungnya.

Tepat setelah wanita itu menghentakkan sebelah kakinya, kuda itu mulai berlari, terus berlari menjauh, membawanya menembus birunya senja. Kabut petang yang mulai mengepung seolah menelan sosoknya hingga tak berbekas.

Betapapun kerasnya aku ingin menghentikan suara-suara yang kini berdengung nyata, aku tidak bisa menghapusnya dari kepala.

 

“Pergilah… Menghilang dari pandanganku. Jangan pernah menginjakkan kaki di tanah Joseon karena jika sekali lagi aku menemukanmu, aku tidak yakin masih ada alasan bagiku untuk kembali menyarungkan pedang.”

“Tidak.”

“Aku rasa aku tidak akan sanggup melakukannya.”

“Karena rasa sakit itu, sakit yang kurasakan saat mendapatimu berduka dan mengutuk alam, detik itu juga, aku menyadari satu hal, bahwa aku tidak akan pernah sanggup menghunuskan pedang padamu.”

“Maka pergilah. Jangan pernah muncul di hadapanku.”

 

Gelap kini telah sepenuhnya menyelimuti. Meskipun kabut pekat mulai membatasi jarak pandang mata, aku bisa merasakan keberadaan lain yang kini tengah mengepungku dari berbagai penjuru dalam arti yang sebenarnya.

Bahkan dengan mata terpejam, aku bisa mendengar pergerakan halus mereka menembus semak belukar, tidak kurang dari lima puluh pasang alas kaki bergesekan dengan tanah, pelan namun pasti, menuju tempatku berdiri.

Apakah sudah tiba saatnya pedangku harus kembali terhunus?

Cepat atau lambat, pedangku memang harus kembali terhunus. Fakta tersebut semakin ditegaskan dengan kehadiran sosok yang menembus pekatnya malam dan berdiri di hadapanku.

Aku harap ini hanyalah sebuah ilusi. Apakah Heuksa Chorong telah benar-benar menurunkan standarnya dengan hanya mengirimkan bedebah bernama Lee Hyuk Jae untuk menyeretku kembali?

Lee Hyuk Jae, dengan golok yang selalu tertenteng di pundaknya, adalah salah satu aset Heuksa Chorong, yang sialnya adalah rekan seperjuanganku sejak detik pertama aku mengangkat pedang, pria setengah tidak waras yang sayangnya memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata.

“Di sini kau rupanya, menghabiskan waktu dengan seorang janda muda di saat kau seharusnya sudah menghabisinya.” Rentetan katanya meluncur dengan nada yang terdengar memuakkan. Seringai khas yang tidak pernah lepas tercetak di wajahnya semakin mempertegas aura ketidakwarasannya.

“Kau sendiri, apa yang membawamu ke tempat ini? Dengan tidak kurang dari satu kompi pasukan, tidakkah ini terlalu berlebihan?” jawabku, waspada.

“Berlebihan? Mana mungkin ini berlebihan? Bahkan jika seluruh pasukan Joseon dikerahkan, bahkan jika Pemimpin sendiri yang turun tangan, belum tentu ada yang sanggup menyeretmu sejengkalpun dari tanah yang kau pijak. Semua usaha hanya akan berakhir sia-sia….” Masih dengan nada yang sama, Hyuk Jae kembali berkoar-koar dengan berjalan mengitariku.

“Jadi, tujuanmu ke tempat ini bukanlah untuk membawaku kembali.” Kalimat tersebut bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan.

“Woon ah…, bukankah kita sama-sama tahu, ada hal yang jauh lebih penting?” Kini lengannya yang tidak menenteng golok melingkar sempurna di bahuku.

“Jadi…, dimana kau sembunyikan wanita jalang itu?” tanyanya setengah berbisik di telingaku.

“Kalian tidak akan bisa menemukannya. Selain aku, tidak boleh ada yang menyentuhnya. Ini adalah misiku yang akan kuselesaikan dengan caraku.”

“Omong kosong!!!!!”

Golok itu kini hanya berjarak kurang dari satu jengkal sebelum menggores permukaan kulit leherku.

“Bahkan saat seluruh Joseon telah mengetahui kegagalanmu, kau masih bisa mengatakan omong kosong besar! Kim Jong Woon, detik ini, kau sedang menggali kuburanmu sendiri!”

Hanya masalah waktu sebelum goloknya benar-benar terayun dan memisahkan kepalaku dari urat lehernya.

Tanganku kini telah bersiap membebaskan pedangku dari sarungnya, dengan kedua mata yang menyapu deretan pasukan Heuksa Chorong yang telah sedari tadi mengarahkan masing-masing anak panahnya padaku.

Sungguh, bukan Hyuk Jae – yang goloknya masih nyata terhunus di leherku, yang sumpah serapahnya semakin terasa seperti angin lalu – yang lebih membuatku cemas, melainkan fakta bahwa akan ada ratusan anak panah yang menghujaniku.

Apakah aku sudah memilih hari yang tepat untuk mengantarkan nyawa?

Sejak pertama kali tanganku mengangkat pedang, aku selalu berharap bila tiba saatnya aku harus mengantarkan nyawa, aku harap itu akan terjadi dalam pertempuran yang kupilih sendiri.

Dan jika pertempuran itu adalah saat ini, aku rasa aku sudah lebih dari siap.

Malam ini, darah akan membanjiri tanah di tempatku berpijak.

* * *

Away from home

*The Woman’s POV

 

Aku berlari, menyusuri jalan sempit di hampir setiap sudut pasar, terus berlari, membelah kerumunan di siang yang cukup terik. Berkali-kali aku salah mengenali, berkali-kali juga aku kembali ke beberapa tempat yang sama untuk sekedar memastikan keberadaannya, keberadaan sosok yang selama tujuh tahun terakhir menjadi satu-satunya alasan bagiku untuk tetap bertahan, satu-satunya alasan bagiku untuk masih berani bermimpi untuk bisa kembali menatap langit Joseon.

Langkahku terhenti. Kerumunan orang yang berlalu-lalang semakin membuat semuanya tampak berputar-putar, seolah bumi dan isinya bergerak cepat dan aku jauh tertinggal.

Tidak bisakkah, untuk satu hari saja, dia tidak membuat kekacauan?

Tidak bisakkah, untuk sekali saja, anak itu tidak membuatku cemas?

Dengan nafas yang memburu dan detak jantung yang belum berangsur normal, aku hampir saja memaksakan kedua kakiku untuk melanjutkan langkahnya menyisir setiap sudut kota, bahkan setiap sudut Qing jika memang itu diperlukan, ketika aku mendapati sosoknya.

Sosok yang tingginya tidak lebih dari tiga kaki, terbalut dalam garmen warna kelabu, sama seperti yang dikenakannya pagi ini, berlutut membelakangiku.

Kali ini aku tidak mungkin salah.

“Jungsoo ya…..!!!!!!!!!!!” teriakku dari kejauhan, menyerukan namanya.

Setelah sosok itu berbalik, dengan senyum lebar yang selalu berhasil membungkam kalimat amarahku, aku dapat memastikan bahwa kali ini aku tidak salah.

“Eommeonim…..,” serunya dari kejauhan.

Kedua lenganku yang terbuka lebar dengan cepat menangkap tubuh kecilnya, memeluknya erat, seolah tidak akan pernah kubiarkan lepas lagi.

Eommeonim…, wae geuraeseumnikka?”

Aku melepaskan kedua lenganku dari tubuh kecil itu, menatapnya lekat dengan mata yang menyorot tajam.

“Ada apa?! Kau bahkan berani bertanya pada Ibu?!”

Seperti biasa, sebuah pukulan yang tidak mematikan mendarat tepat di atas kepalanya dan seperti biasa pula, anak itu terlihat mengaduh kesakitan.

“Neomu aphayo….”

“Itulah akibatnya jika berani melanggar perintah Ibu! Berapa kali lagi Ibu harus mengulanginya! Jangan pernah berkeliaran sendiri! Apa Ibu harus mengikatmu baru kau mengerti!” seruku dengan nada yang tidak bisa dibantah tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang mulai tertuju pada kami.

Eommeonim…, aku hanya pergi ke pasar untuk memperbaiki ini,” bantahnya dengan memamerkan sorot mata tidak berdaya yang sanggup ‘membunuhku’ kapanpun.

Ujung telunjuk anak itu tertuju pada kampak, yang biasa kugunakan untuk membelah kayu, tergeletak di atas jalan di sampingnya, menunjukkan gagang dan mata kampak yang kembali terpasang sempurna.

Ahjussi itu mengatakan bahwa kampak ini tidak akan patah lagi.”

“Ahjussi?”

Ye. Temanku pernah memberitahuku bahwa ada ahjussi di pasar ini yang bisa memperbaiki perkakas yang rusak.”

Segera setelah menuntaskan argumennya, anak itu berbalik dan berteriak pada sosok yang dia panggil dengan sebutan ahjussi tersebut.

Ahjussi…..!!!!!!”

Aku berdiri, mengikuti kemana arah mata anak itu tertuju. Detik berikutnya, waktu serasa terhenti.

Tidak ada eksistensi lain yang bergerak. Hanya aku dan sosok itu dan jarak yang terbentang di antara kami.

Seperti melihat hantu dari masa lalu, penggalan kejadian dari tahunan silam membanjiri ingatanku.

Sosok itu, bahkan setelah tujuh tahun berlalu, tidak menampakkan perubahan yang signifikan, selain garis melintang yang kini tergurat di tulang pipi kanannya, serta atribut Heuksa Chorong yang tidak tampak melekat di tubuhnya yang terbalut garmen berwarna kelabu yang biasa dikenakan rakyat jelata.

Matanya, yang walaupun menyorot tajam, menyiratkan rasa tidak aman yang tak berujung, rambut hitam panjangnya yang terikat ke atas, dengan sisanya yang dibiarkan menjuntai hingga melampaui bahu, semuanya masih sama seperti tujuh tahun lalu.

Tanpa terkendali, lonceng penanda bahaya berdentang nyaring di kepala.

Seperti induk harimau yang berusaha melindungi anaknya dari ancaman para pemburu, aku segera menyembunyikan Jungsoo di belakangku.

Aku merasakan anak itu berulang kali memanggil namaku dan menarik bagian bawah chima-ku. Dengan mata yang masih tertuju padanya, tidak ada sepatah katapun meluncur dari bibirku.

Apakah hari itu akhirnya tiba?

Aku memutar tubuh, menyejajarkan posisi dengan anak yang kini menatapku dengan beribu tanda tanya. Menempatkan kampak yang tergeletak di jalan ke dalam genggamannya, dengan tangan yang bergetar.

“Jungsoo ya…, sekali ini saja, dengarkan Ibu,” ucapku dengan menatapnya lurus.

“Balikkan badanmu dan terus berjalan, jangan pernah sekalipun menoleh ke belakang. Jangan pernah berani menginjakkan kaki keluar rumah jika Ibu belum kembali, kau paham?” Tak langsung menjawab, anak itu menatapku dengan kening berkerut. “Kau paham!?” Aku terpaksa mengulangnya dengan nada yang lebih tegas.

Anak itu mengangguk pelan dan membalikkan badan, terus berjalan hingga menghilang di antara kerumunan.

Aku rasa sudah tiba saatnya untuk kembali menatap ke dalam mata sosok yang tujuh tahun lalu belum sempat menuntaskan misinya yang tertunda.

* * *

The unfinished business

 

Belum ada yang bisa menandingi keindahan sungai Hwang Ho di penghujung hari dengan permukaan airnya yang tampak keemasan, memantulkan semburat jingga langit. Aliran sungainya yang tampak tak berujung terlihat bagaikan seutas pita panjang yang diapit bentangan alam hijau. Lanskap seperti inilah yang ingin kujadikan sebagai hal terakhir yang kulihat sebelum akhirnya menutup mata.

Belum ada seorangpun dari kami berdua yang mengusik keheningan alam.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, dengan segala praduga yang masih berkutat di kepala.

“Sudah tujuh tahun berlalu sejak terakhir kali aku melihatmu, Nyonya Park.”

Kalimat itu meluncur perlahan, dengan dua kata di akhir kalimatnya yang cukup membuat keningku berkerut.

“Bukan Nyonya Park. Hanya Jiseon, bukan lagi Nyonya Park,” jawabku tanpa menatapnya. Mengucapkan kalimat itu, aku merasakan sesak yang menghimpit rongga dada.

“Anak itu…,” ucapnya dengan mengambil jeda. Aku mengalihkan pandanganku padanya. “…mewarisi struktur tulang wajah ayahnya dan sepasang mata hitam besar darimu,” lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari hamparan air di hadapan kami.

Aku membisu, tak berani menebak apa yang ada di benaknya.

Sejenak keheningan kembali menyelimuti. Aku rasa aku tidak bisa lebih lama lagi bertahan dalam keheningan yang bahkan lebih menyesakkan daripada sakit di dadaku.

“Apakah sudah tiba waktunya?” tanyaku tanpa membuang banyak waktu dalam diam.

Aku mengalihkan pandangan dari hamparan air yang terbentang di hadapan kami, menatapnya yang sedang menatapku.

“Bukankah kau jauh-jauh ke tempat ini untuk menuntaskan apa yang belum berhasil kau tuntaskan?”

Pria itu terlihat menarik garis dari kedua sudut bibirnya, menatapku dengan cara yang berbeda.

“Apakah saat ini kau melihatku dengan pedang yang siap terhunus?” Pria itu membalikkan pertanyaan, membuat keningku kembali berkerut.

“Tangan ini, yang sekarang hanya memperbaiki perkakas yang rusak, sudah sekian lama menanggalkan pedang. Sosok yang kini berdiri di hadapanmu, bukan lagi ujung tombak Heuksa Chorong, salah satu pembunuh bayaran terbaik di seantero Joseon. Aku adalah seorang pandai besi.”

Sungguh mengejutkan bagaimana rentetan kalimatnya bisa terdengar begitu melegakan sekaligus menenangkan, begitu sederhana.

“Begitu banyak hal yang telah terjadi sejak terakhir kali kau menginjakkan kaki di tanah Joseon. Pangeran Mahkota Sado, yang pada akhirnya tidak bisa terhindar dari perang politik, harus merelakan nyawanya sendiri. Tak lama setelah kepergiannya, Matahari Joseon juga ikut tenggelam. Kematian Raja Yeongjo yang tiba-tiba, membuat cucunya, Pangeran Yisan harus menduduki tahta di usia yang masih belia. Namun siapa yang menyangka, bahwa Matahari baru Joseon itulah yang akhirnya berhasil memangkas habis Heuksa Chorong hingga ke akarnya dan mengembalikan kehormatan ayahnya, mendiang Pangeran Mahkota Sado.”

Kata demi kata yang meluncur dari bibirnya membawaku pada imaji yang membuat rentetan kejadian itu seolah terbentang nyata di depan mataku.

Betapa inginnya aku mempercayai rentetan kalimat tersebut, menyadari sesuatu yang selama tujuh tahun terakhir ini seakan ingin segera terbebas dari ruang mimpiku untuk menjadi nyata.

“Itu artinya…,” ucap pria itu dengan mengambil jeda, “…tidak ada lagi alasan bagiku, untuk menghunuskan pedang padamu.”

Aku tidak menangkap keraguan terpancar dari sorot matanya yang mengunci kedua mataku. Detik ini juga, aku merasakan tubuhku menjadi seringan bulu.

Aku tertunduk, dengan kedua lutuku yang terbalut chima yang terlebih dahulu mendarat di hamparan hijau yang lembut bergoyang tertiup angin di penghujung hari.

Aku rasa air mataku mengalir lebih deras daripada arus sungai Hwang Ho yang terbentang di hadapan kami.

Samar dalam banjir air mata yang tak berkesudahan, terdengar suara yang belum sepenuhnya berhasil menghentikan butiran cair yang masih meluncur dari kedua soket mata.

“Bukankah dulu kau pernah bertanya, Matahari Joseon…, akankah selamanya terlihat sama?”

Perlahan aku mengangkat kepala dan mendapati uluran tangan yang kini nyata terjulur padaku.

“Kenapa kau tidak melihatnya sendiri?”

Itu bukanlah sebuah pertanyaan melainkan pernyataan yang menegaskan bahwa aku bisa melihatnya sendiri, benar-benar bisa melihatnya dengan kedua mataku sendiri.

“Kembalilah ke Joseon, bersamaku.”

Kini, setelah kalimat tersebut dituntaskan, tidak ada yang bisa menghentikan butiran cair yang kembali mengalir deras, membuat sosoknya terlihat mengabur di mataku.

Bahkan aku bisa merasakan sinar matahari Joseon yang menerpa kulit wajahku, mendengar gesekan dedaunan yang menguning dan berjatuhan di penghujung musim gugur, mencium bau tanah yang basah setelah hujan.

Tanah yang sudah sekian lama kutinggalkan akan segera kembali kupijak, dengan uluran tangan yang kini menyambut tanganku, yang menggenggamnya seolah tidak akan pernah melepaskannya, sampai kapanpun.

* * * E N D * * *

 

Note: find it also in cloudyspark.wordpress.com with different casts

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: