When You’re With Me

fg

Sunk in the longing that gets heavier as time passes

Can I travel back time?

If you hug me just like you did before

Then I will be better

Musim semi, 2011

“Young Eunryung-ssi!”

Aku menghentikan langkahku, memandang sosok yang menghalangi jalanku dari bawah menuju atas. Aku bisa melihat sepatu hitamnya yang mengilat, dan setelan formal yang melekat indah di tubuhnya. Suara itu familiar, tentu saja. Suara ini membangkitkan memori yang telah lama terkubur sebelumnya. Ah,mungkin sebetulnya, bukannya aku yang sudah lupa. Lebih tepatnya, aku tidak ingin mengingat siapa pemiliknya.

Sudah berapa lama ya, aku tidak mendengar suara itu?

Saat mataku sampai di wajahnya, Ia mengulum gummy smile-nya yang khas. Aku tak bergeming ketika wajahnya yang lebih muda sekitar sepuluh tahun dari umurnya yang sebenarnya itu menatapku balik, seolah menyapaku hanya dengan tatapannya. Butuh waktu beberapa detik untuk keluar dari perangkap wajahnya, sebelum akhirnya aku tersadar dan secara refleks, melengoskan wajahku ke samping.

“Untuk apa kau datang kemari?” Aku memeluk nampanku erat-erat, menolak menatapnya meskipun kalau sorot mata memang bisa membunuh, aku pasti sudah mati dari tadi. Aku menyembunyikan pandanganku darinya, bagaimanapun dia mengenalku dengan amat baik –terlepas dari kenyataan bahwa Ia memang tidak pernah salah mengenali ekspresi seseorang.

“Menemuimu.”

Untuk sejenak, aku merasa pikiranku kosong. Aku lupa menghilangkan sinkronisasi antara logika dan perasaan adalah keahlian laki-laki ini. Tak ada dasar mengapa aku harus mempercayainya, tapi anehnya, aku percaya. Aku mempercayainya meskipun aku menolak untuk percaya. Seperti biasa.

Tapi, aku tak pernah menyangka menghindari tatapan dan wajahnya akan menjadi sesulit ini. Rupanya aku salah ketika aku berpikir bahwa bertahun-tahun tidak bertemu dengannya akan membuat segalanya jadi mudah. Aku jadi benar-benar salah.

“Kenapa?” Aku menelan ludah, mencoba bersikap tenang. “Kurasa kita sudah tidak punya urusan apa-apa.”

“Aku punya.” Jawabnya lantang. Dari sudut mataku, aku bisa melihat bibirnya yang mengulum senyum bangga, seolah Ia telah memecahkan teka-teki tersulit yang bahkan Sherlock Holmes pun tidak bisa menebaknya. Aku tak tahu apakah harus mendefinisikan senyuman itu sebagai senyuman yang kusukai atau justru malah kubenci. “Sesuatu yang seharusnya sudah kulakukan enam tahun yang lalu”

Ia tak perlu menjelaskan lebih jauh untuk membuatku mengerti. Kata-katanya barusan memang sempat membuat aliran darah dan jantungku berhenti seketika, meninggalkan kepalaku bekerja sendirian, memunculkan flash back dari beberapa tahun silam yang sebetulnya telah aku lupakan.

“Apa hal itu masih perlu diungkit?” disela-sela tenggorokanku yang kian mencekat, aku berusaha membuat suaraku terdengar sedingin mungkin, setenang mungkin. Aku merasa, sedikit getaran saja dia tahu dia sudah meruntuhkan pertahanan diri yang kubangun sejak lama. Kalau dia pikir semuanya akan berjalan semudah yang Ia kira, dia salah besar. Dia benar-benar salah besar. “Time is out, Cho Kyuhyun-ssi.”

Musim Gugur, 2007

“Mana Ahreum?”

Aku bertanya padanya, pada laki-laki yang sedang membaringkan kepalanya di meja, membelakangiku. Blazer abu-abu tuanya sudah tanggal entah ditaruh dimana, menyisakan kemeja putih bersih yang melekat pas di tubuhnya, meskipun aku hanya melihatnya dari sisi belakang.

Ia membalikkan wajahnya, menatapku dengan tatapan malas. “Tidak tahu.”

Aku mendengus, beranjak dari ambang pintu menuju tempatnya. Laki-laki itu memundurkan kursinya, kemudian dengan cepat Ia merubah posisinya ke posisi duduk yang angkuh. Kakinya dilipat, begitu juga tangannya. Dengan posisi itu aku bisa melihat lipatan-lipatan yang tercipta karena Ia begitu ceroboh memperlakukan kemejanya tapi tentu saja, dengan kemeja seperti itu, Ia masih tetap tampan.

“Eyy. Mana mungkin tidak tahu. Bukankah kemarin seharian Ahreum menempel padamu?”

Laki-laki itu, laki-laki bermarga Cho itu, hanya mengangkat kedua alisnya. Aku sudah terlalu lama mengenalnya untuk mengerti bahwa itu adalah semacam kode seperti biasa. Aku terperangah. “Jangan bilang kau … putus?”

Cho Kyuhyun tidak menjawab. Ia pura-pura mengedarkan pandangannya keluar, menatap entah apa yang ada di jendela. Aku mendesis.

“Benar-benar tidak bisa dipercaya,” aku menjatuhkan pelan punggungku ke sandaran kursi, menatap laki-laki itu tak habis pikir. “Lagi? Ya ampun, Kyuhyun-ssi. Aku tahu kau bisa mendapatkan gadis manapun tapi ya ampun, kau tidak lihat bagaimana Ahreum menatapmu? Meskipun dia menyebalkan tapi tetap saja aku kasihan padanya.”

“Aish, Young Eunryung. Sejak kapan sih kau jadi begitu berisik?” dia mengedikkan kepalanya, berpura-pura sebal. Aku mengedikkan balik kepalaku, tapi tampaknya dia tidak peduli. Cho Kyuhyun hanya menatapku sekilas, kemudian tertawa meremehkan. “Setidaknya kau tahu dia menyebalkan,”

Segera, aku menoleh ke arahnya. “Kau tahu dia menyebalkan?”

“Tentu saja.”

“Lalu kenapa berpacaran dengannya?” Masih melekatkan pandanganku ke wajahnya yang nampak tidak bersalah itu. Bukan berita besar sih, kalau dia berpacaran dengan gadis menyebalkan. Toh Han Ahreum hanya satu dari sekian banyak gadis cantik tapi menyebalkan yang dipacarinya. Yang mengejutkan bukan itu. Aku terkejut karena ternyata, permainan <em> get and dump </em> nya Cho Kyuhyun belum selesai juga. Apalagi Ahreum. Seisi sekolah, mana ada yang tidak tahu Han Ahreum.

“Memangnya tidak boleh?” dia malah balas bertanya dengan suaranya yang malas. “Dia kan sangat cantik.”

Aku mengangkat alis, sekaligus angkat tangan dengan kebiasaannya yang satu ini. “Oh, ya. Aku mengerti. Gadis cantik tidak boleh lebih dari satu minggu. Aku benar kan?”

“Seratus.” Jawabnya sambil mengacungkan ibu jari kanannya. “Ingatanmu bagus.”

Aku mendelik padanya, wajah penuh kemenangannya terasa menyebalkan sekali. “Kau tahu tidak semua gadis cantik berkelakuan buruk, Kyuhyun-ssi. Kau hanya belum bertemu dengan orang …”

“Yang tepat? Apa kau berkata begitu karena kau cantik?”

“Memangnya siapa yang bilang aku cantik?”

“Sung Jungmin, Byun Taehyun … belum termasuk yang menyukaimu diam-diam. Mereka tidak akan menyukaimu kalau kau tidak cantik.” Cho Kyuhyun menyebutkan nama-nama yang membuat pipiku menjadi terasa panas. Baru saja aku akan membuka mulut untuk menyanggahnya, Ia menyerobotnya duluan. “Sebagai laki-laki aku juga menganggap kau cantik. Kalau tidak mana mungkin aku mau berpac…”

“Lima hari itu tidak bisa dibilang berpacaran, Cho Kyuhyun-ssi. Asal kau tahu saja,”potongku kemudian, mengambil alih. Aku merapikan tasku tanpa memandangnya. Pembicaraan ini sudah melewati batas topik kesukaanku. Tak ada jaminan kalau pembicaraan ini akan berhenti bergerak sampai disini. “Aku pergi,”

Belum sempat dua kali aku melangkah, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik tanganku. Dadaku berdesir. Aku hafal siapa pemilik tangan ini.

“Hei,” aku menolak menoleh. “Lima hari itu… apakah kau menyesalinya?”

Aku terdiam. Aku tak berpura-pura kalau saat ini aku menjawab aku tidak tahu.

“Hei,” sapanya lagi, dengan suara datar yang sama. “Anggap saja aku tidak pernah bertanya.”

Aku berkenalan dengan Cho Kyuhyun saat usiaku masih enam tahun. Orang tua kami dulunya teman dekat, kami berkenalan di sebuah acara makan malam. Aku masih ingat rumah keluarga Cho adalah salah satu rumah paling mewah yang pernah aku kunjungi. Seperti istana. Aku hampir tidak percaya saat ayahku yang sederhana itu bisa membawaku masuk ke rumah yang hanya bisa kulihat di televisi ini.

Dari acara makan malam itu, ternyata aku seumuran dengan anak keluarga Cho yang kedua. Namanya Cho Kyuhyun. Jangan bayangkan perjodohan-perjodohan seperti yang ada di drama-drama. Orangtua kami tidak menjodohkan kami. Hanya disekolahkan di sekolah yang sama. Baik orangtuaku maupun orangtua Kyuhyun bukan orangtua model konservatif –melankolis yang suka menjodohkan anak-anaknya. Tapi dengan begitu, aku dan Kyuhyun menjadi teman dekat.

Di sekolah, akhirnya aku tahu bahwa Kyuhyun adalah tipe seseorang yang selalu disukai oleh semua orang, khususnya, wanita. Aku masih ingat bagaimana anak-anak perempuan di kelasku dulu terkikik genit setiap kali dia lewat. Atau bagaimana lapangan kami menjadi bertambah ramai ketika pelajaran olahraga. Atau bagaimana klub Matematika yang diikutinya menjadi penuh sesak oleh anggota baru yang mayoritasnya perempuan – tidak ada yang mereka lakukan di klub itu kecuali histeris dan bertepuk tangan tidak jelas ketika Kyuhyun berhasil memecahkan satu soal matematika yang menurutku, tingkat kesulitannya biasa saja. Goo Jaehyun juga bisa memecahkannya, lebih cepat, lebih simpel, tapi gadis-gadis tidak bertepuk tangan untuknya.

Dan semakin Ia dewasa, perhatian yang ditujukan padanya semakin besar. Tapi Kyuhyun bukan tipe orang naif dan munafik yang tidak menyukai kepopulerannya. Ia populer dan Ia menikmatinya. Ia tahu wajahnya tampan, Ia tahu Ia berasal dari keluarga yang kaya raya, Ia tahu para guru menyukainya karena dia pintar, Ia tahu Ia sempurna. Ia tidak pernah berusaha untuk jadi yang paling sempurna, Ia hanya sempurna dengan sendirinya. Kyuhyun berpendapat bahwa semua manusia hanya hidup satu kali, jadi hidup harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dia bilang atas dasar itulah, dia harus menikmati hidup. Salah satunya adalah dengan bergonta-ganti pacar sesukanya.

Pacar Kyuhyun selalu cantik, tentu saja, paling tidak setara dengannya. Tambahan, dan selalu menyebalkan. Semua orang tahu aku adalah sahabat Cho Kyuhyun sejak kecil. Dan gadis-gadis yang berpacaran dengannya, dengan segala cara, selalu berusaha untuk menyingkirkan aku dari kehidupannya. Padahal aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tidak pernah menyuruhnya datang atau mengantarku kemana-mana. Aku juga tidak pernah minta dibelikan ini itu. Bahkan saat Yeonhee – salah satu pacarnya – menyuruhku untuk menjauhinya, aku benar-benar menjauhinya.

Tapi pada ujungnya, Kyuhyun sendirilah yang datang padaku. Dia pernah bilang bahwa dia terlalu terbiasa denganku, jadi kalau tidak melihatku setiap hari itu rasanya aneh. Tapi kemudian aku tahu kalau ternyata dia mendatangiku karena dia sudah putus dengan Yeonhee. Tentu saja aku tidak tahan untuk bertanya ‘kenapa’. Dari percakapan ringan itulah dia berasumsi bahwa semua gadis cantik itu menyebalkan. Mereka hanya menyenangkan untuk satu minggu pertama, selebihnya, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.

Percaya atau tidak, selang beberapa waktu dari kejadian itu, kami akhirnya pacaran. Cinta monyet saat usia kami sama-sama menginjak empat belas tahun. Kyuhyun lima belas, sebetulnya. Dia lebih tua setahun dariku. Aku masih ingat saat itu, musim dingin 2004.

Yeonhee terus-terusan menyindirku karena aku dianggap sebagai perusak hubungannya dengan Cho Kyuhyun. Wajar kalau dia berpendapat seperti itu. Aku dan Kyuhyun berpacaran tepat disaat dia dan Kyuhyun putus. Siapa yang tidak curiga?

Hal itu cukup mengganggu, tentu saja. Tapi kalau kau bersama Cho Kyuhyun, hal itu hanya akan bertahan beberapa menit saja. Dia selalu tahu bagaimana membuatku senang, membuatku terus merasa bahwa akulah gadis yang paling beruntung di dunia. Dan aku jadi paham perasaan gadis-gadis yang menjadi pacarnya, dan juga paham dengan pasti bagaimana tidak relanya mereka ketika melepaskan laki-laki seperti Cho Kyuhyun ini.

Aku akan bisa menulis buku romansa tentang kebersamaanku dengannya. Kalau saja, semua itu tidak berakhir hanya dalam lima hari.

Tepat dihari kelima, aku melihatnya, dan seorang gadis yang kalau tidak salah namanya Jang Yoonji, asyik bercengkrama di sebuah kafe di kawasan Myeongdong – ketika aku tak sengaja lewat sana bersama temanku yang hendak mencari beberapa perlengkapan liburannya.

Aku menghampirinya, mengucapkan hai padanya dan pada Jang Yoonji. Kemudian Ia meminta waktu sebentar kepada Yoonji untuk berbicara denganku.

“Cantik.” Kataku saat itu, dingin. “Berani taruhan kau sudah mengenalnya sebelum kau…”

“Maaf,” katanya memotong ucapanku. “Kurasa aku dan kau hanya cocok menjadi sahabat,”

“Benarkah?” aku menarik napas berat, meredakan hatiku yang saat itu bergemuruh hebat. “Aku tak tahu apa aku harus bangga atau tidak, tapi diputuskan di hari ketujuh membuatku berada dalam kelompok yang sama dengan Yeonhee. Maksudku… gadis cantik yang sering mencampakkan laki-laki, yang menyebalkan, yang hanya menarik di satu minggu pertama…”

“Hei, hei, bukan itu!” potongnya buru-buru. “Aku hanya merasa… sebaiknya kita berteman saja.”

Idem. Tidak ada yang angkat bicara selama beberapa detik kemudian. Kyuhyun menghela nafasnya berat, kemudian Ia mengulurkan tangannya, seolah meminta sesuatu dariku. “Berikan tanganmu,”

Aku menarik tanganku, menolaknya. Namun dengan cepat, Ia bisa menarik tanganku kembali, kemudian meletakkan bagian telapak tanganku mengarah ke atas. Ia meletakkan jarinya disana, menggambarkan sesuatu yang imajiner. Sebuah lingkaran, dibagi dua.

“Di bagian ini ada gadis-gadis yang ingin kupacari,” dia menunjuk satu bagian gambar imajinernya. “Di bagian ini, teman.”

Dia menatapku dengan pandangannya yang lembut, terlihat tulus. Aku membuang wajahku, mengerti dengan maksud ucapannya. “Jadi maksudmu aku berada disini, dan selamanya akan tetap disini, bukan?”

Cho Kyuhyun mengangguk. Lama, akupun ikut mengangguk.

“Aku mengerti.”

Tanpa persetujuanku, Ia menarikku, mendekapku erat. Hangat. Membuatku sedikit berjengit karena seharusnya aku tahu dia tidak boleh memperlakukan aku seperti ini. Tapi aku tidak memberontak.

“Kau memang selalu mengerti aku.” Kyuhyun tersenyum padaku, sementara aku hanya bisa melengos ke samping. Aku pasti sudah gila kalau aku bisa tersenyum sekarang. Tapi perlahan, aku mulai bisa menerimanya. Menerima bahwa tempatku memang berada di batasan sebagai teman, tidak lebih.

Berusaha menyingkirkan pikiran kalau suatu saat, aku bisa berpindah tempat. Kalau.

Musim Gugur, 2007

Aku bisa beradaptasi dengan cepat. Aku bisa menerima gadis-gadis cantik yang datang dan pergi di kehidupan Cho Kyuhyun. Aku memang tidak pernah mendengar bagaimana detilnya hubungan mereka. Yang aku tahu hanyalah sebatas nama, sekolah, kapan pacaran dan kapan putus. Empat informasi penting yang perlu diingat. Informasi lain tidak penting. Karena dalam hitungan satu minggu, Cho Kyuhyun pasti sudah punya gandengan baru.

“Ini,” Kyuhyun menyerahkan sebuah amplop putih padaku. Cukup dengan memandangnya bingung, dia akan memberikan penjelasannya. “Kau kan tahu aku harus mengunjungi nenekku di Cina setiap bulan.”

“Ah…” aku mengangguk, menerima surat itu darinya. Seperti biasa, aku akan menyerahkan surat itu pada sonsaengnim. Aku membolak-balikkan surat itu, menatapnya heran. “Sepertinya kau lebih sering mengunjungi nenekmu ya? Kukira baru dua minggu yang lalu kau…”

“Halmeoni sedang sakit. Dia sering rindu padaku. Tak salah kan kalau aku ingin jadi cucu yang baik?”

Aku mengangguk, menerima penjelasannya. Dari dulu, nenek Kyuhyun memang selalu dalam keadaan tidak sehat. Terlebih sejak suaminya meninggal. Berulang kali orangtua Kyuhyun mengajaknya tinggal di Korea, tapi beliau enggan. Kyuhyun bercerita bahwa neneknya terlalu banyak memiliki kenangan di Guangzhou, jadi dia menolak untuk pindah ke Korea. Sebagai konsekuensinya, Kyuhyun dan keluarganya lah yang mengunjunginya hampir setiap bulan.

Aku memperhatikan Cho Kyuhyun yang sedang mengemasi barang-barangnya. Dan berusaha menahan diri untuk tidak memujinya dan berkata betapa sempurnanya Ia. Rahangnya, hidungnya, matanya, aku benar-benar hafal. Bahkan saat ini warna kulitnya yang lebih pucat daripada biasanya pun aku hafal.

“Kesehatan nenekmu memang penting. Tapi kesehatanmu juga penting,” aku membantunya melipat jaket miliknya. Ia menatapku bingung. “Kau terlihat pucat.”

“Benarkah? Apa itu artinya ketampananku berkurang? Gawat, padahal gadis-gadis di Cina cantik-cantik…”

Aku melemparkan jaket itu padanya sambil mendelik, sementara dia hanya tertawa-tawa menyebalkan. Dia memang selalu menyebalkan. Apalagi kalau sedang tertawa. Menyebalkan karena dengan tawanya yang seperti itu, sulit bagiku untuk tidak berharap bahwa aku sudah melewati batas yang telah dibuatnya. Batas dari seorang teman – yang juga mantan pacar – menjadi pacar yang sebenarnya.

Dimana kau?

 

Aku mengernyitkan kening ketika menerima pesan itu. Apakah orang ini mengirimkan pesan dari Guangzhou?

Tentu saja di sekolah. Bukankah aku yang harusnya bertanya?

 

Lima menit selanjutnya, aku membuang waktu dengan menatap layar ponselku, berharap ada pesan yang datang. Ketika ponselku bergetar lagi, aku refleks menekan tombol dan membaca pesan yang tertulis disana.

Guangzhou. Hahaha!

 

Aku tidak yakin dia benar-benar tertawa ketika mengetik ‘hahaha’ dalam pesannya barusan, seperti aku yang juga tidak tertawa. Orang ini benar-benar aneh. Untuk apa menanyakan keberadaanku kalau dia masih berada di Guangzhou?

Aku mendengus, memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Aku menjalani rutinitasku seperti ketika Ia harus berangkat ke Cina, pulang sendirian. Memang menyebalkan. Karena laki-laki yang mengirimiku pesan dari Guangzhou itu lah aku jadi tidak punya banyak teman. Terutama teman perempuan. Kebanyakan dari mereka hanya menatapku dengan pandangan tidak suka yang tak bisa kujelaskan apa alasannya. Tidak bisa menjelaskan bukan berarti aku tidak tahu, bukan?

Ketika aku melangkahkan kaki keluar gerbang sekolah, tiba-tiba aku melihat sosok yang kukenali, berdiri di tepi jalan, mengenakan mantel hitam dan syal kotak-kotak yang terlihat hangat. Tanganku nyaris beku karena angin musim gugur yang menusuk, dan aku tidak bawa sarung tangan. Namun sosok itu membuat bukan hanya tanganku saja yang beku.

“Sedang apa kau…”

“Kejutan!”

Caranya mengucapkan ‘kejutan’ tidak sama seperti kebanyakan orang ketika benar-benar memberikan kejutan. Tidak ada antusiasme sama sekali. Hanya sebuah gummy smile, yang sayangnya, gummy smile miliknya adalah jenis senyum kesukaanku. Dia melangkahkan kakinya, menghampiriku yang masih berdiri termangu ditempat.

“Kau… Guangzhou…”

“Halmeoni sudah merasa lebih baik.” Dia menjelaskan tanpa aku menyelesaikan kalimatku terlebih dulu. Matanya tiba-tiba teralih pada tanganku, aku buru-buru menyembunyikannya. “Aish, selalu saja. Kau pasti lupa bawa sarung tangan, kan?”

Aku tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Laki-laki ini tahu aku lebih daripada siapapun. Ia kemudian menghela nafas, seraya membuka sarung tangannya yang sebelah kiri. Tanpa minta izin dia menarik tangan kiriku, kemudian serta merta memakaikan sarung tangan hitam miliknya ke tanganku. Belum cukup, Ia mengamit tanganku yang satunya, kemudian memasukkannya ke dalam saku mantelnya. Sekarang, kedua tanganku menjadi hangat. Yang kiri karena sarung tangan miliknya, dan yang kanan karena berada dalam genggamannya, di dalam saku mantelnya. “Sekarang, sudah hangat kan?”

Aku membuang muka. Tidak ingin dia melihat wajahku yang rasanya sedang terbakar saat ini. Kenapa dia bisa begitu menyebalkan…

“Kenapa kau bilang kau masih di Guangzhou?” aku bertanya tanpa berani menatap wajahnya. Sebetulnya aku tidak betul-betul ingin tahu apa alasannya tiba-tiba sudah berada di Korea, aku hanya bertanya untuk mengusir kecanggunganku sendiri. Kalau dia melihatku canggung, dia pasti menertawaiku dalam hati tentang betapa bodohnya aku.

Kami berjalan menyusuri trotoar di sekitar sekolah. Angin musim gugur beserta lambaian daun-daun yang masih setia menggantung di dahan pohon yang mulai mengering menjadi perpaduan yang pas untuk suasana yang kalau boleh kutafsirkan sebagai ‘romantis’ ini.

“Kan sudah kubilang. Kejutan.”

“Bukankah kejutan hanya diberikan di hari istimewa?”

“Bukankah bersamaku selalu jadi hari yang istimewa?” dia balik bertanya, dia penuh percaya diri. Aku mendelik, namun sebelum aku membuka mulut untuk menyanggah, Ia lagi-lagi menyerobotnya. “Dilarang protes. 9 dari 10 wanita mengatakan hal itu.”

“Masih ada satu orang yang tidak!”

“Satu orang itu kau.”

Aku terdiam mendengar kata-katanya, salah tingkah. Bahkan di dalam saku mantelnya pun, aku merasa tanganku menjadi dingin saking gugupnya.

“Cho Kyuhyun, kau…”

“Aah… udara musim gugur Korea memang paling menyenangkan…” Kyuhyun memotong ucapanku seakan dia sudah tahu apa yang ingin kukatakan. Aku menghela nafas, mungkin memang sebaiknya aku tidak membawa-bawa topik pembicaraan itu lagi.

“Halmeoni… bagaimana kabarnya?”

Kyuhyun menganggukan kepalanya beberapa kali. “Bagus. Dokter bilang semakin membaik malah. Dia harus lebih sering berjalan-jalan, bertemu orang, melepaskan stres..”

“Melepaskan stres? Kau harus mengurangi jadwal besukmu, Kyuhyun-ssi. Kau kan hanya membuat halmeoni mu tambah stres.”

“Eyy…. enak saja. Aku ini cucu kesayangannya, tahu.” seraya mendelik, pura-pura marah. “Yang paling tampan, lagi.”

“Ya. Dan yang paling sering gonta-ganti pacar.”

“Terima kasih. Kuanggap itu sebagai pujian.” Ah, dia memang selalu bisa menjawab, gerutuku dalam hati. “Kau mau apel panggang?”

“Apel panggang?”

Ia mengedikkan kepalanya ke arah jam sebelas. Disana memang ada penjual apel panggang keliling. Makanan khas untuk musim gugur. Apel di musim gugur memang apel yang terbaik. Aku mengangguk. “Bukan ide yang buruk.”

Cho Kyuhyun memesan dua apel panggang pada penjualnya, kemudian melepaskan tangannya untuk mengambil uang di dalam dompetnya. Namun tiba-tiba, Ia menghentikan gerakannya. Ia memandangku tajam, membuatku memperlihatkan wajah bingungku padanya.

“Aku … belum menukar… uang …”

Kini giliranku menatapnya balik, nyaris tidak percaya. Menggumamkan ‘bagaimana bisa’ berulang kali. Akhirnya, aku mengalah. Untung aku masih memiliki uang jajan sisa sehingga masih bisa membayar apel panggang. Tapi hanya untuk satu orang.

“Kau benar-benar memalukan! Bagaimana kalau tadi aku tidak ada uang?”

“Mianhaeyo. Aku benar-benar lupa,” katanya sambil memberengut, mirip anak umur lima tahun yang tidak mau disalahkan.

Kami duduk di sebuah kursi taman, memperhatikan orang-orang yang asyik dengan kegiatannya masing-masing di sekitar kami. Dengan satu buah apel panggang di tanganku yang sudah penuh gigitan di beberapa bagian, hasil gigitanku dan gigitan Kyuhyun bergantian.

“Kau, makanlah bagian yang ada karamelnya,”

“Hey, bagian yang terbaik dari apel panggang adalah karamelnya, tahu.” aku menggigit bagian apel yang dilumuri karamel. “Kenapa sih kau tidak makan karamel?”

“Terlalu manis,” Cho kyuhyun mengangkat bahunya, mengernyitkan keningnya sedikit.

“Tapi kau bukan orang yang tidak suka manis kan,”

“Karamel itu seperti gadis cantik,” ujarnya kemudian, membuatku termangu. “Semakin banyak kau merasakannya, lama-lama akan terasa menyebalkan.”

“Eyy… kau pikir aku percaya dengan alasan macam itu?” aku membuat sebuah gigitan besar di bagian apel yang banyak karamelnya. “Kurasa kau hanya memerlukan pembenaran atas semua yang kau lakukan pada gadis-gadis itu Kyuhyun-ssi. Sudah kubilang, tidak semua gadis cantik…”

“Eunryung-ya,” Kyuhyun memotong ucapanku, menatapku lurus. “Kalau dulu kita tidak putus, kira-kira sekarang kita seperti apa ya?”

Aku terdiam, mencerna kata-katanya barusan. Bukan aku yang memulai topik sensitif ini. “Ada apa ini, Cho Kyuhyun? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi?”

“Jangan terlalu serius, Eunryung-ya. Aku kan hanya berandai-andai,” ujarnya tenang, dengan wajahnya yang inosen.

“Apa kau menyesal sudah memutuskan aku?” aku berusaha straight forward dengan pertanyaanku. Ia terdiam sebentar, nampak mencari kata-kata yang tepat. Aku menghela nafas, mengeluarkan tanganku dari saku mantelnya. “Berikan tanganmu,”

Laki-laki itu tertawa. Tapi aku tidak bisa mendefinisikan apa arti dari tawanya barusan. Itu jelas bukan tawa bahagia. Itu juga bukan tawa meremehkan atau tawa kemenangan. Ia hanya tertawa, tertawa hambar. Mungkin Ia sudah tahu apa yang akan aku lakukan, dan menganggapnya sebagai lelucon kecil.

Tapi dia salah.

Saat dia memberikan tangannya padaku, telapak tangannya sudah membuka. Terkonfirmasi, dia sudah tahu apa yang akan aku lakukan. Aku menggambar sebuah lingkaran, dengan sebuah batas persis di tengahnya, persis seperti yang dia lakukan dulu. Gambar imajiner yang kuciptakan dari jari telunjukkku.

“Dalam lingkaran ini, ada pembatas yang memisahkan bagian kiri dan bagian kanan,” aku menirukan ucapannya saat itu. “Disini adalah tempat orang-orang yang ingin kau jadikan pacar, sedangkan disini, yang hanya sebatas teman.”

Kyuhyun tersenyum kecil, menatapku dengan pandangan lembutnya yang terlihat sedikit sendu.

“Kau ingat kan kalau aku berada disini? Dan sampai kapanpun aku tak akan bisa masuk ke sisi yang satunya.”

Aku masih meletakkan jari telunjukku di telapak tangannya, saat Ia tanpa aba-aba mengatupkan tangannya, tak memberi waktu bagi tanganku untuk bisa keluar dari genggamannnya. Tentu saja aku kaget, refleks aku menatapnya dengan pandangan kesal.

“Ya! Apa yang kau lakukan? ”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi yang luar biasa menyebalkan. Wajahnya seolah-olah mengisyaratkan kata-kata ‘coba lepas sendiri kalau kau bisa’ padahal sepertinya Ia telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk tidak melepaskan genggamannya. Tadinya aku masih bersemangat memberontak. Tapi lama kelamaan, aku menjinak, membiarkan tanganku tetap berada di dalam genggamannya.

“Musim gugur kali ini bukankah sangat cantik? Apa rencanamu?”

“Tidur.” Ujarku sambil melengos. Ini jawaban jujur. Aku memang paling suka tidur ketika musim gugur tiba. Dan rasanya, Kyuhyun juga tahu hal ini. “Kau?”

“Menghabiskannya denganmu.”

Aku terdiam, mengira pasti dia sedang menggodaku. Tadinya aku ingin membalas kata-katanya dengan lelucon-lelucon atau sedikit makian. Tapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutku. Aku hanya bisa memandangnya, meminta persetujuan apa ucapannya tadi benar-benar serius atau hanya main-main.

“Hari Sabtu nanti, jam tiga sore, datanglah kemari. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu.”

“Apa?”

“Pokoknya kejutan.”

“Kejutan hanya diberikan di hari yang istime…”

“Aku yakin hari itu akan jadi hari yang istimewa untukmu.”

Kenapa dia begitu menyebalkan? Kenapa dia begitu menyebalkan? Kenapa dia begitu menyebalkan?

“Hei, dingin tidak?” Dia menoleh, menatapku lurus. Aku menggeleng. Bagaimana bisa aku kedinginan sementara wajahku rasanya terbakar seperti ini?

“Tidak.”

“Tapi aku kedinginan.” Lagi, tanpa meminta persetujuanku terlebih dulu, mendekapku dari belakang. Aku menghentikan langkah, tertegun dengan apa yang dia lakukan. Kata-kata pemberontakan sudah menggantung di lidahku, tapi tidak ada satupun yang keluar.

Aku selalu suka ketika Ia memelukku. Itu adalah saat-saat dimana aku merasa paling aman, paling terlindungi. Saat-saat yang membuatku yakin bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan aku lagi – dengan alasan apapun – karena suatu hari, aku tidak lagi berada di tempat yang dia katakan sebagai tempat teman seharusnya berada.

Sabtu.

Aku belum pernah menjalani satu minggu selama ini. Rasanya aku seperti berada di Saturnus yang membutuhkan berkali-kali lipat waktu bumi untuk melakukan satu kali rotasi. Setiap detik terasa begitu lama, begitu melelahkan. Dan parahnya. Cho Kyuhyun tidak pernah masuk sekolah. Jadi aku tidak bisa membombardirnya dan memaksanya kejutan apa yang Ia persiapkan untukku sebelum waktunya. Dia benar-benar merencanakannya dengan baik. Tidak ada pesan, tidak ada telepon, apalagi bertemu. Aku benar-benar kehilangan jejaknya semingguan ini.

Hari ini dingin, sudah hampir masuk pertengahan musim gugur. Aku menggunakan mantel hitam terbaik beserta syal merah rajutan halmeoni yang panjang dan tebal. Dan, aku merasa aku tak perlu membawa sarung tangan.

Kalau mengingatnya, pipiku yang kedinginan menjadi terasa panas, dan jujur itu lumayan membantu. Cuaca hari ini tidak bisa dibilang bagus. Anginnya kencang, dan dingin. Tergolong ekstrim untuk musim gugur yang baru sekitar dua minggu lalu dimulai. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku mantel yang hangat. Tapi tentu saja, tanganku pernah merasakan hangat di saku seseorang yang lebih hangat.

Aku mengecek jam. Aku datang sepuluh menit lebih awal. Kukira dia sudah ada disini, mempersiapkan kejutan yang Ia janjikan kepadaku. Tapi ternyata Cho Kyuhyun belum ada. Dan tak ada tanda-tanda akan ada kejutan besar disini.

Menit demi menit berlalu. Jarum pendek bergerak pelan namun pasti. Tanganku nyaris sudah benar-benar beku. Dan aku rasanya ingin menertawai betapa bodohnya aku yang sengaja tidak membawa sarung tangan karena mantel ini semakin lama semakin tidak membantu.

Tubuhku menggigil. Sudah lewat dua setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Tapi aku masih percaya bahwa Ia akan datang. Sesuatu menghambatnya untuk tidak datang tepat waktu. Berusaha mengabaikan pikiran logisku yang berkata seharusnya Ia menghubungiku kalau akan datang terlambat.

Tapi baik pesan maupun telepon, sama sekali tak pernah kuterima. Tiga jam, empat jam, lima jam. Aku mulai merasakan apa yang mungkin dirasakan oleh penderita hipotermia. Penderita hipotermia yang bodoh, aku ini, karena meskipun sudah kedinginan, aku tidak ingin beranjak dari tempat ini. Aku takut kalau nanti Cho Kyuhyun datang, aku tidak ada disini.

Namun hari semakin gelap, begitu juga pandanganku. Semuanya menjadi kabur. Gigiku bergemeletukan, kepalaku benar-benar berat. Hal terakhir yang kuingat hanyalah angin musim gugur yang dingin menusuk menembus sampai ke tulang. Dingin sekali.

Lalu semuanya gelap.

Ketika aku sadar, aku berada di ruangan serba putih, yang kukenali sebagai rumah sakit. Entah siapa yang membawaku kemari. Aku masih berharap dia adalah Cho Kyuhyun sebelum seorang ahjussi bertampang baik hati muncul dan mengatakan bahwa dialah yang membawaku ke rumah sakit saat aku pingsan di taman.

Ternyata, Cho Kyuhyun memang tidak pernah datang. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, Ia menghilang. Dan aku tak pernah mendengar lagi beritanya. Selama empat tahun ke depan.

Kembali ke musim semi, 2011.

“Jadi sekarang kau bekerja disini?”

Aku menunduk, menghindari tatapan lurusnya ke arahku. Jujur aku tak pernah menyangka bahwa hari ini akan datang, apalagi setelah enam tahun berlalu. Aku tak pernah menyiapkan diri harus bereaksi seperti apa kalau aku benar-benar bertemu dengannya. Aku menganggap empat tahun sudah lebih dari cukup untuk menyimpulkan bahwa Cho Kyuhyun tidak akan pernah menginjakkan kakinya tepat di hadapanku lagi, seperti yang dilakukannya hari ini.

Aku mengangguk pelan. “Menurutmu?”

“Menurutku kau bekerja di tempat yang bagus. Aku suka desainnya. Konsepnya musim gugur ya?”

Aku tertegun, tapi masih berusaha menghindari tatapannya. Aku tidak tahu dia bisa menebaknya secepat itu. Kafe ini memang bernuansa musim gugur. Di dekorasi dengan warna-warna tanah dan dedaunan yang mengering di musim gugur sebuah pohon. Di pojokan terdapat replika pohon yang cukup besar yang sudah tidak ada daunnya sementara kursi-kursi yang digunakan adalah kursi-kursi taman.

Dekorasinya persis dengan tempat dimana Kyuhyun berjanji akan bertemu denganku, di hari Sabtu, musim gugur empat tahun yang lalu.

Dulu aku benar-benar tertarik pada kafe ini, dan memutuskan untuk mengambil kesempatan untuk bekerja disini. Aku tak tahu apa alasannya sampai dia datang. Cho Kyuhyun identik dengan musim gugur. Dan alam bawah sadarku mengerti dengan baik hal tersebut.

“Cho Kyuhyun, dengar.” Aku menghela nafasku dengan berat, berusaha keras memandangnya tanpa merasa marah. Wajahnya begitu inosen, dengan senyum kesukaanku. Aku tak tahu bagaimana bisa aku marah pada wajah seperti itu. “Aku tak tahu apa tujuanmu datang kemari tapi… kalau tujuanmu adalah untuk mempermainkan aku lagi, maaf. Sebaiknya kau pulang saja. Aku masih banyak kerjaan.”

“Wah, kau memang Young Eunryung-ku. Tetap galak pada pemuda tampan seperti aku.”

Pertama, aku benci dia masih saja merasa tampan, dan lebih benci lagi kalau mengatakan itu memang benar. Lama tidak bertemu dengannya dia nampak semakin dewasa. Dia memang terlihat lebih kurus dan pucat – setidaknya cukup pucat di akhir musim semi seperti ini. Bahkan aku masih bisa menemukan ekspresi kekanakan yang lugu yang kontras dengan tampang maskulinnya. Dan yang kedua, aku benci kata-kata ‘Young Eunryung-ku’ seolah aku ini miliknya.

Kalau aku miliknya, kemana saja kau empat tahun ini?

“Cho Kyuhyun, dengar. Aku…”

“Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang belum selesai, Eunryung-ya.” Potong Kyuhyun kemudian. Seraya tersenyum lembut. “Maaf. Aku tidak datang waktu itu.”

“Maaf? Kau pikir semuanya selesai hanya dengan minta maaf?” aku memicingkan mata, menatapnya kesal. Aku menghela nafas, kemudian menyandarkan punggungku ke sandaran kursi. “Sudahlah, lupakan. Itu sudah lama. Lagipula tidak sepenuhnya salahmu kok. Akunya saja yang terlalu naif…”

“Hei, berikan tanganmu,” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya memberikan kode padaku untuk memberikan tanganku. Aku memutar bola mataku.

“Aku tahu Kyuhyun-ssi.” Aku meletakkan jariku di atas meja, kemudian menggambar lingkaran imajiner dengan pembatas di tengahnya. “Gambar ini kan?”

Cho Kyuhyun tidak menjawab. Aku menyimpulkannya sebagai persetujuan.

“Kau masih ingat?”

“Setidaknya ingatanku bisa diandalkan.” Ujarku ketus. “Jadi kedatanganmu kemari hanya untuk memastikan bahwa aku masih ingat dengan gambar itu?”

Kyuhun mengangkat kepalanya, kemudian menggeleng. Ia tersenyum. “Tentu saja bukan. Aku ingin bertanya apakah kau bisa ikut denganku hari ini?”

“Tidak bis…”

“Ah, aku tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Mana atasanmu? Biar aku yang berbicara padanya. Bukankah tidak bijaksana untuk menolak ajakan seorang teman baik setelah empat tahun berpisah?”

Lagi dan lagi. Sudah kubilang kan kalau salah satu keahlian laki-laki ini adalah menghilangkan sinkronisasi antara otak dan saraf motorikku? Aku seharusnya bisa saja menggeleng dan menjawab tidak. Tapi ujung-ujungnya, seperti yang sudah bisa ditebak, aku setuju untuk pergi dengannya.

Aku tak banyak bertanya selama perjalanan. Cho Kyuhyun lebih mendominasi pembicaraan, menanyakan apa yang terjadi padaku selama empat tahun. Begitu sering ditanyakannya sehingga aku tak yakin dia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi padaku selama empat tahun ini. Dan, aku pasti bodoh kalau memberitahunya betapa kerasnya usahaku untuk melupakannya selama empat tahun, dan pasti membuatnya merasa menang. Baginya yang menyukai game, mungkin aku hanya satu dari sekian banyak perempuan yang dijadikannya mainan. Aku tidak mau terlihat lebih menyedihkan dengan mengumbar pengalaman yang mendukung fakta tersebut.

Aku hanya menjawab standar pertanyaan-pertanyaannya. Ketika dia bertanya apa yang kulakukan selama empat tahun ini, aku menjawab bahwa aku hanya lulus sekolah, berkuliah, kemudian gonta-ganti pekerjaan sampai akhirnya aku bekerja di ColdBrown, nama kafe tempatku bekerja sekarang. Aku berusaha menahan keinginanku untuk bertanya balik apa saja yang terjadi padanya selama empat tahun kemarin sekedar untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar tidak peduli padanya, apa yang dia lakukan, dan aku memang tak pernah mencari informasi tentangnya.

Akhirnya Kyuhyun menghentikan mobilnya di sebuah jalanan yang kukenali sebagai jalanan elit Gangnam, tepat di sebuah gedung sederhana yang terbilang mungkin sebagai gedung paling sederhana yang ada di jalanan ini. Aku menolehkan wajah, mencari tahu nama gedung tersebut.

Kantor…. Catatan Sipil?

“Ya- Cho Kyuhyun!” teriakku kemudian, menyusul Kyuhyun yang sudah berjalan lebih dahulu di depan. “Kau mau kemana sebenarnya?”

“Sudah kubilang aku ingin menyelesaikan urusan yang belum selesai.”

“Jangan berbelit-belit. Memang ada urusan apa kau di catatan sipil. Ah, jangan bilang kau…” aku memotong ucapanku. “Jangan bilang kalau kau sudah menikah?”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian, laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. “Yang benar saja!” aku mendelik padanya dengan tatapan kesal. Bagiku itu kan tidak lucu. Mungkin kan, kalau selama empat tahun ini dia sudah menikah dengan seseorang? Meskipun usianya masih tergolong muda untuk menikah, bukan berarti itu menjadi tidak mungkin. “Kau lihat ahjussi penjual apel panggang disana? Aku hanya ingin makan apel panggang kok. Di musim semi seperti ini kan tidak banyak yang menjual apel panggang keliling.”

Aku mendengus. Dia menyuruhku keluar hanya karena ingin ditemani makan apel panggang?

Aku tak berkata apapun saat Cho Kyuhyun membeli apel panggang yang kelihatan lezat itu. Yang mengherankan, Ia hanya membeli sebuah. Tentu saja aku tak tahan untuk tidak bertanya.

“Hanya satu?”

“Tentu saja hanya satu. Kau kan tahu aku tidak suka karamelnya. Bagian karamelnya untukmu, bagian yang tidak ada karamelnya untukku. Kau sudah lupa cara kita makan apel panggang ya?” aku memicingkan mata menatapnya curiga. Tapi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. “Ahjussi, kau punya pisau?”

Aku melongo ketika ahjussi tersebut memberikan sebuah pisau pada Kyuhyun. Seingatku, makan apel panggang tidak pernah membutuhkan pisau. Apelnya kan sudah lembut.

“Eunryung-ya, bantu aku memotong apelnya.” Seraya memberikan pisaunya padaku. Aku menatapnya heran. “Eyy… kita kan sudah dewasa. Mana pantas berbagi gigitan seperti dulu. Ini, cepat ambil dan potongkan apelnya untukku.”

Aneh. Kalau dia tidak mau berbagi gigitan kenapa dia hanya membeli satu apel? Aku mendesis padanya, kemudian tanpa berkata apapun, aku membagi apel itu menjadi dua bagian. Namun ternyata memotong apel panggang ini tidak semudah yang kukira. Ada sesuatu yang menahan pisauku di pertengahan apelnya. Di tempat yang seharusnya menjadi tempat isi karamel.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun mungkin saat Ia menyadari aku yang kesulitan memotong apelnya.

“Kupikir apelnya belum matang. Ada yang menahannya di tengah.”

Tanpa aba-aba kemudian Kyuhyun mengambil apel panggang tersebut, kemudian membuka potongannya dengan tangannya sendiri. Secara mengagetkan, sebuah benda kecil yang keras terjatuh menimbulkan bunyi benturan yang ringan.

“Apa itu?” tanyaku, mengambil benda tersebut di dekat sepatu Kyuhyun.

Rupanya sebuah kotak, berwarna hitam. Kelihatannya terbuat dari bahan semacam metal yang keras. Belahan di tengah-tengahnya menunjukkan kalau ada sesuatu yang terdapat di kotak kecil itu. Dengan hati-hati aku membukanya.

Cincin?

“Young Eunryung-ssi.” Ucap Kyuhyun kemudian. Entah bagaimana, Ia sudah berada tepat di hadapanku, berlutut seperti pose yang dilakukan aktor-aktor Hollywood saat akan melamar gadisnya. “Menikahlah denganku.”

Aku terpana, menatapnya tak percaya. Apa dia sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan? Butuh beberapa menit sampai akhirnya kesadaranku kembali, dan aku masih tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Kau…”

“Empat tahun lalu, maaf aku tidak datang. Tapi itu bukan keinginanku untuk datang. Aku tak tahu apakah kau akan percaya padaku atau tidak tapi… “ Kyuhyun menyodorkan cincinnya lagi padaku. “Kau bisa percaya bahwa cincin ini sudah berumur empat tahun.”

Aku termangu, mencerna kata-katanya satu demi satu. Tidak ingin ada satu katapun yang ingin salah kutafsirkan.

“Musim gugur empat tahun lalu… di taman itu. Aku ingin memberikan ini padamu. Dan bertanya apa kau bersedia untuk menghabiskan sisa hidupku hanya bersamaku?”

Tenggorokanku tercekat. Aku masih belum mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.

“Bukankah…” aku berusaha mengatakan sesuatu dari lidahku yang kelu. Aku mengeluarkan telapak tanganku, kemudian menggambar lingkaran imajiner dengan pembatas di tengahnya, sebuah gambar yang aku dan Kyuhyun kenali. “Bukankah aku selalu berada disini? Dan selamanya tetap berada disini?”

“Semuanya kan bisa berubah, Eunryung-ya. Waktu itu aku terlalu kecil untuk menyimpulkan. Tapi empat tahun yang lalu, aku sudah lebih dewasa. Dan ketika empat tahun sudah berlalu pun aku tetap mencarimu.” Jawabnya tenang, seraya menatapku lembut. “Kau mungkin menganggap hubungan kita tak pernah lebih dari lima hari, tapi bagiku, kurasa akan melelahkan kalau aku menghitung jumlah hari yang kugunakan untuk menyukaimu, Eunryung-ya. Perasaanku tak bisa diukur dengan ukuran skala hari. Karena setiap detik, aku selalu menyukaimu. Bahkan ketika aku tidak merindukanmu pun, aku merindukan perasaan yang kumiliki ketika bersamamu.”

Kyuhyun menatapku lembut, hangat. Jangan tanya bagaimana aku memuja tatapannya yang seperti itu. Dan tatapan itu ditujukannya padaku, hanya padaku. Jangan salahkah air mataku yang menetes tanpa kusadari. Dia sudah mengucapkan kata-kata paling indah daripada musik manapun. Dan aku merasa, bukankah wajar kalau aku menangis sekarang?

Bukan tangis kesedihan. Tangis bahagia lebih tepat untuk mendefinisikannya.

“Tapi gadis-gadis itu… gadis-gadis satu minggumu itu…”

“Hei, bukankah sudah kubilang? Hidup itu hanya sekali, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sebelum akhirnya aku menyadari dan memutuskan untuk menghabiskan hidup denganmu, tidak salah kan kalau aku bermain-main dulu dengan beberapa gadis?”

Aku memukul pundaknya pelan, rasanya aneh ketika ingin menangis dan tertawa bahagia secara bersamaan. Cho Kyuhyun kemudian mendekapku, erat, hangat. Lebih hangat daripada matahari musim semi yang pertama. Tak mempedulikan orang-orang yang menatap kami sambil berbisik-bisik. Di dunia ini, hanya ada aku, dan dirinya. Yang lain menjadi tidak penting.

“Ayo hari ini kita bereskan berkas pernikahan. Besok, pakailah baju terbaikmu. Kuharap tidak apa-apa kalau aku hanya mengundang kedua keluarga kita saja. Bagaimana menurutmu?”

Aku mengangguk, terlalu antusiasnya sampai membuat kemeja yang dipakainya sedikit berantakan. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya bahagia. Sangat-sangat-sangat bahagia.

Aku menggunakan gaun terbaikku.

Bukan gaun pengantin dengan model rumit. Hanya gaun pengantin sederhana yang terlihat anggun. Ini adalah gaun pengantin ibuku. Modelnya agak kuno, tapi aku suka potongan mermaid yang digunakan di gaun ini. Warnanya putih, dengan tali spagheti kecil di atasnya.

“Aku tak percaya kau akan menikah secepat ini. Mendadak sekali,” aku tersenyum memandang Eomma yang sedang mendandaniku. “Tapi untunglah itu Cho Kyuhyun. Aku tahu bagaimana baiknya Ia dan bagaimana kau menyukainya. Aku tidak akan menghalangimu dengan tidak memberikan persetujuanku.”

Lagi-lagi aku tersenyum, bersyukur bahwa hari ini, semuanya nampaknya akan berjalan dengan lancar. Iya kan? Semuanya akan baik-baik saja kan?

Aku berada mobil yang sama dengan orangtuaku ketika mereka mengantarku ke tempat dimana aku akan menikah nantinya. Eomma tak henti-hentinya mengucapkan bahwa aku sangat cantik hari ini, terutama karena wajahku yang mulai berseri-seri kembali. Aku senang mendengarnya, semua yang terjadi dan terucap hari ini, apapun itu, nampaknya akan membuatku bahagia.

Tuan dan Nyonya Cho sudah ada disana ketika aku datang. Namun kakak Kyuhyun, Cho Ahra, belum. Nyonya Cho mengatakan padaku bahwa Kyuhyun akan datang bersama Ahra nanti. Sedikit aneh mengingat seharusnya pengantin pria yang datang duluan dan bukannya pengantin wanita. Tapi untuk sekarang, apa gunanya meributkannya?

Aku dan Kyuhyun berjanji akan betemu jam 10 pagi. Aku menunggu di ruang tunggu pengantin, ditemani ibuku dan nyonya Cho. Kami bercanda dan berbagi tips hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika sudah menikah. Kami begitu asyik sampai tidak menyadari bahwa sekarang sudah lewat setengah jam dari waktu yang di janjikan.

“Ini sudah lebih dari setengah jam.” Ucap nyonya Cho kemudian. “Aku permisi sebentar. Kurasa suamiku…”

“Eunryung!” seseorang berteriak, memaksa masuk ke dalam ruang tunggu pengantin. Tepat ketika nyonya Cho beranjak dari tempat duduknya, tirai ruang tunggu pengantin tersibak. Sosok Cho Ahra yang mungil muncul, wajahnya terlihat pucat dengan keringat yang membasahi pelipisnya. Demi alam dan segala isinya, dia benar-benar pucat.

“Ahra? Ada apa?” nyonya Cho terligat khawatir, seraya menghampiri Ahra.

Aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Apakah dia… tidak datang lagi?

“Kyuhyun ambruk lagi!”

Ambruk lagi?

Jadi dia pernah ambruk sebelumnya?

Pikiranku berkecamuk selama perjalananku menuju rumah sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi karena aku berada di dalam kendaraan yang berbeda dengan keluarga Cho. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin cepat sampai ke rumah sakit, melihat Cho Kyuhyun, dalam keadaan baik-baik saja. Berharap bahwa ‘ambruk’ yang dimaksud Ahra hanyalah kata hiperbola karena Kyuhyun terlalu banyak main game semalam.

Aku menghambur keluar, tak mempedulikan orang-orang yang memandangku heran karena gaun pengantin yang masih kugunakan sambil berlari di lorong rumah sakit. Begitu sadar aku tidak tahu dimana Kyuhyun berada, Ahra datang dan menarik tanganku ke sebuah ruangan yang kuyakini sebagai tempat dimana Kyuhyun berada.

Dia berada di ruang UGD.

Aku tak bisa menjelaskan bagaimana keadaan rumah sakit saat itu. Nyonya Cho terus-terusan menangis, sementara suaminya mencoba keras untuk menenangkan istrinya. Melihat hal itu, aku merasa itu bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya apa yang terjadi. Tapi tentu saja, tidak bertanya adalah pilihan yang buruk.

Aku hanya bisa menyandarkan diri ke dinding lorong rumah sakit, tak jauh dari tempat Kyuhyun berada sekarang, memandang kosong sambil berharap seseorang akan memberitahuku apa yang terjadi sebetulnya pada Kyuhyun. Aku tak tahu apa yang kupikirkan sekarang, tapi rasanya, aku sudah mati rasa. Aku tidak tahu apakah hanya aku yang memilih untuk tidak berpikir apa-apa, atau aku hanya tidak ingin menganggap semua ini nyata.

Kali ini, sudah berapa kali dia meninggalkanku ? Ini bahkan belum satu minggu. Waktu pacaranku yang dulu, yang hanya lima hari, jauh lebih baik daripada ini.

Saat itu jauh lebih baik. Bahkan menurutku, perselingkuhan Kyuhyun dengan Han Yoojin masih lebih baik daripada harus menunggunya tanpa kepastian di lorong rumah sakit. Menunggunya yang berjuang sendirian menghadapi entah apa yang salah di dalam tubuhnya.

Suara hak sepatu yang bernada gontai perlahan terdengar di lorong rumah sakit. Aku menoleh ragu, menemukan Ahra unnie disana. Tanpa tunggu apapun, aku berlari kecil, dengan sejumlah tenaga yang tersisa ke arahnya. Ahra unnie mungkin satu-satunya orang yang bisa kuminta penjelasan saat ini.

“Kyuhyun… ada apa dengannya?”

Ahra unnie mengangkat kepalanya, Ia menatapku dengan pandangannya yang sayu.“Kau tidak tahu?”

Aku tidak menjawab. Tahu apa?

Ahra unnie terlihat terperangah. Seraya menutup mulutnya,menatapku dengan pandangannya yang terlihat terkejut. “Kyuhyun sakit… kau benar-benar tidak tahu?”

“Sakit?”

“Katup jantungnya bermasalah. Kau tidak tahu?”

Aku terdiam. Aku tidak berbohong untuk mengatakan bahwa aku benar-benar tidak tahu.

“Ya ampun. Jangan bilang kau benar-benar tidak tahu kalau Kyuhyun dalam keadaan koma selama empat tahun?”

Young Eunryung.

 

Kalau buku ini sudah berada di tanganmu, itu berarti aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan semuanya padamu. Dan kalau kau sudah membaca semuanya, itu artinya sudah tidak ada lagi yang kusembunyikan darimu. Kuharap membaca semuanya sampai habis tidak membuatmu berpikir bahwa dua puluh tahun aku menyembunyikan semuanya darimu membuatku jadi seorang pembohong besar. Aku hanya merasa kurang bijaksana kalau aku mengatakan ini semua padamu dari awal.

 

Young Eunryung, Young Eunryung, temanku yang paling kusayangi.

 

Jantungku tidak normal. Setidaknya begitulah yang sering diucapkan kedua orangtuaku untuk mengingatkanku agar tidak melakukan hal yang aneh-aneh (Kalau saja gonta ganti pacar setiap satu minggu itu tidak termasuk kategori ‘aneh-aneh’). Kata dokter, sekat antar bagian jantungku tidak melakukan fungsinya dengan baik atau semacamnya. Aku mengetahuinya saat usiaku lima belas tahun. Lima belas tahun adalah usia yang cukup dewasa untuk mengerti bahwa hidup hanya sekali, dan di hidupku yang hanya sekali ini, aku tidak mau bayang-bayang bahwa aku sakit menakutiku. Aku justru ingin melakukan apapun selagi aku sempat, termasuk berpacaran dengan gadis-gadis cantik. Mungkin kedengarannya menyedihkan, tapi kupikir, itulah yang namanya menikmati hidup ^^ Kalau kau masih ingat, lima belas tahun itu adalah saat pertama kalinya aku berpacaran dengan seorang gadis, yang kalau tidak salah namanya Kang Minjung.

 

Kalau kau bertemu dengannya, sampaikanlah maafku padanya. Dia memang cantik, tapi aku tidak betul-betul menyukainya. Ah ya, aku bahkan baru ingat sekarang kalau nama gadis itu sebenarnya Jang Minjung. Dan kalau bertemu mantan pacarku yang lain, tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka. Sampaikan pada mereka, bahwa meskipun aku bersama mereka, yang ada dipikiranku hanyalah seorang gadis yang hanya punya satu teman seumur hidupnya – yaitu aku- bernama Young Eunryung.

 

Young Eunryung, Young Eunryung, temanku yang kusayangi.

 

Maaf karena aku sudah menyembunyikan semuanya darimu. Aku hanya tak ingin melibatkanmu, menjalani hidup seperti orang biasa yang tidak bangun setiap malam hanya untuk memastikan bahwa kau bisa bangun. Namun sebesar apapun usahaku untuk berpura-pura, tetap saja bagian yang paling sulit adalah ketika aku bertemu denganmu. Sulit karena setiap aku melihatmu, aku hanya memikirkan cara-cara bagaimana memilikimu.

 

Aku pernah memilikimu sekali, dan aku bersumpah itu kenangan paling indah yang pernah kumiliki. Kenangan itu seperti karamel. Semakin manis akan semakin menyebalkan, menyebalkan karena kau akan sulit melupakannya. Aku sengaja berselingkuh dengan Yoojin, gadis yang kau lihat di Myeongdong bersamaku waktu itu, aku sengaja bergonta-ganti pacar, tepat dihadapanmu, dengan sejuta alasan konyol yang pernah kubuat, hanya untuk memberi kode padamu bahwa aku tak layak bagimu. Bukan karena aku yang terlalu tampan. Tapi kalau kau bersamaku, aku tak yakin aku bisa menjagamu seumur hidup. Aku takut kalau kau bersamaku nantinya, kau yang akan menjagaku. Dan kalau itu benar-benar terjadi, dimana harga diriku sebagai laki-laki ? Aku tak ingin kau memiliki kenangan yang terlalu indah bersamaku, meskipun aku selalu ingin menciptakannya bersamamu, karena aku khawatir kalau nanti aku harus pergi, kau tidak bisa melepaskanku.

 

Aku tak pernah pergi ke Guangzhou. Halmeoni yang ada di Guangzhou hanya karanganku belaka. Aku harus melakukan terapi setiap bulan, mengingat kelainan jantung yang kumiliki adalah bawaan sejak lahir. Bertemu banyak orang dengan kondisi yang hampir sama sepertiku, terkadang membuatku takut. Mereka datang dan pergi begitu cepat. Kau tahu apa yang kumaksud dengan datang dan pergi. Tapi, beberapa dari mereka pernah mengajarkan, bahwa bukan salah kitalah kalau kita hanya diberi umur yang pendek. Yang paling penting, bagaimana kita menghargai setiap detiknya, supaya ketika tiba waktunya nanti, tidak akan menyesal.

 

Hari itu, aku benar-benar ingin datang. Cincinnya sudah kupersiapkan. Segalanya sudah kurencanakan. Aku tahu saat itu usia kita masih sangat-sangat muda. Delapan belas dan tujuh belas tahun. Tapi menurut peraturan negeri ini, kita sudah boleh menikah. Dan aku tidak mau menunggu lama lagi. Bukannya tidak mau, tapi aku sendiri tak tahu apa aku bisa menunggu sampai waktu yang ‘menurut orang-orang’ adalah umur yang wajar untuk menikah. Semuanya baik-baik saja sampai hingga akhirnya aku ambruk tepat sebelum aku mengambil cincinmu.

 

Young Eunryung, temanku yang kusayangi, Young Eunryung.

 

Percayalah. Hari itu, aku benar-benar ingin datang.

 

Dan aku minta maaf sudah menundanya selama empat tahun.

 

Bahkan disaat aku tidak bisa mengetahui apa yang terjadi selama empat tahun, hal pertama yang kuingat ketika membuka mata adalah dirimu. Dan betapa inginnya aku menemuimu, menepati janji yang belum sempat kutepati sebelumnya. Ketika aku koma, aku berpikir sewaktu-waktu aku bisa saja mati. Dan aku pasti menyesal sekali kalau aku mati saat itu, saat aku belum mengatakan bahwa aku menyukaimu.

 

Bukan sebagai teman,karena dari dulu, sejujurnya aku tak pernah menganggapmu teman. Karena dari dulu, aku selalu menganggapmu sebagai gadis yang harus kulindungi – yang membuatku bersusah payah menahan otakku agar tidak terus memikirkan bagaimana cara untuk memilikimu.

 

Young Eunryung.

 

Kuharap saat kau sudah menerima surat ini, kau sudah menerima lamaranku, memasang cincin yang kutaruh di apel panggang kesukaanmu seperti yang seharusnya kuberikan padamu empat tahun yang lalu.

 

Aku tahu Ahra noona akan memarahiku kalau tahu apa yang kutulis di buku ini untukmu. Dia bilang, karena aku sudah selamat dari koma selama empat tahun, seharusnya aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Tapi perasaanku mengatakan sebaliknya. Aku menulis buku ini, karena aku merasa kalau pada akhirnya, kau harus tahu semuanya. Kau tahu aku tak pernah berniat menyembunyikan segalanya sampai akhir. Kurasa, Tuhan sedang memberikan keajaibannya padaku, untuk bisa hidup sebentar dan melihatmu, sebelum waktuku benar-benar tiba meskipun aku tidak tahu kapan persisnya.

 

Young Eunryung. Jangan menangis kalau kau sekarang sedang menangis.

 

Aku tak pernah berniat menulis ini untuk membuatmu menangis. Aku hanya memastikan, apakah kau sudah benar-benar jadi milikku setelah kau membacanya. Sesuatu yang harusnya kulakukan dari dulu, kalau saja aku tidak bertindak konyol dengan berpura-pura selingkuh. Dan bertambah konyol, karena tepat setelah aku ingin menyadari apa yang kuinginkan – membuka matapun aku tidak bisa.

 

Kalau saat ini aku sudah memilikimu, aku pasti jadi orang yang paling bahagia di dunia. Kalaupun aku mati, aku tidak akan menyesal. Satu-satunya penyesalanku adalah karena tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.

 

Aku tak berniat untuk meninggalkan buku itu barang sedetik. Aku mendekapnya, erat, seolah itu adalah hartaku yang paling berharga. Aku mendekati tubuhnya yang terlihat ringkih dengan hati-hati. Bagiku, Cho Kyuhyun yang selalu kukenal tak pernah terlihat selemah ini. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan aku baru sadar betapa kurusnya dia sekarang.

Matanya terpejam lekat, entah apa yang diimpikannya disana. Terlihat lemah dan tanpa perlindungan. Aku bahkan tidak lagi bisa melihat kepercayaan dirinya yang selalu melekat di wajahnya. Dia memang masih terlihat tampan, tentu saja. Tapi aku benar-benar benci melihat keadannya yang seperti ini. Rasa benciku bertambah besar dengan kenyataan bahwa Ia sudah koma selama empat tahun tanpa sepengetahuanku.

Aku benci merasa seperti orang yang sok tahu segalanya tentang Cho Kyuhyun, namun pada akhirnya, justru akulah yang tidak tahu apa-apa. Benar-benar menyedihkan.

Kubiarkan air mataku mengalir turun, menahannya akan membuatku sesengukan dan akan mengganggunya. Aku melangkahkan kaki mendekatinya, melihat wajahnya dari jarak yang lebih dekat. Aku tak pernah puas menatapnya. Mengagumi betapa sempurnanya Ia. Terkesan dengan bagaimana caranya membuatku merindukannya, setiap menit, setiap detik. Menjadi penggemar gummy smile yang menjadi ciri khasnya. Aku ingin memandangnya dari jarak sedekat ini, selamanya.

“Hei. Apakah ini yang dilakukan oleh pengantin baru?” aku mengeluarkan pertanyaan retorisku, yang meskipun aku tahu Kyuhyun tidak akan membalasnya, jauh dilubuk hatiku berharap bahwa ada keajaiban yang membuatnya bangun. “Bukankah belum satu minggu kita bertemu?”

Aku meletakkan kepalaku di lengannya, merasakan suhu tubuhnya yang dingin. Aku ingin selamanya begini. Selamanya, berada di dekatnya.

Mengabaikan suhu tangannya yang kian lama kian dingin.

Mengabaikan fakta bahwa aku tak bisa merasakan denyut nadinya sekarang.

Mengabaikan suara elektrokardiograf yang membunyikan bunyi panjang tak terputus yang menyakitkan.

Mengabaikan bagaimanapun aku berusaha, tubuh kakunya tak akan bisa lagi bergerak.

Aku mengalungkan tangannya yang dingin dan kaku ke leherku, membuat seolah-olah dia sedang memelukku. Aku paling suka ketika aku berada di pelukannya. Tapi kali ini, meskipun dia sedang memelukku, semuanya terasa berbeda. Kenapa kami tidak pernah bisa bersama?

It scatters – the times you were with me, the memories you were with me

Can I travel back time and hug you just like before?

Just for once, even if it’s last

I’ll be better

-THE END-

Author : @adistinurul
Visit me on alaurias.wordpress.com ~
Kamsahamnida ~

5 Comments (+add yours?)

  1. minah
    Mar 15, 2017 @ 23:17:25

    yah aku nangis.. kenapa mereka tidak pernah bisa bersama?? ya tuhan kyuhyun… aku sedih baca isi buku dari kyuhyun 😥

    Reply

  2. aryanahchoi
    Mar 16, 2017 @ 23:51:22

    q kira waktu kyu ngelamar eunryung bkl happy ending tpi stlh dgr kata kyu ambruk bkl sad ending tryta bnr huahhhhh sedih ㅠㅠㅠ keren ff nya

    Reply

  3. Hyun
    Mar 17, 2017 @ 18:25:18

    huaaaa. ini apa? kenapa begini, bahasanya bagus, bikin kesan mainstream di jalan ceritanya menguap, keren

    Reply

  4. Monita
    Mar 17, 2017 @ 22:11:59

    Gak sempat terlintas dipikiran, kalau kyuhyun sakit jantung .. Ya ampuun kasian eunryung 😦

    Reply

  5. yuuhimechi
    Mar 26, 2017 @ 18:25:03

    Parah nih ff bikin mewek 😥
    Good job thor, feelnya berasa banget. Walopun aku tipe orang yang gak suka sad ending tapi aku suka banget nih ff.
    Keep writing author!!!! :*

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: