Because I Miss… [3/?]

njk

Tittle : Because I Miss… [3/?]

Written By: Dewi Andriani

Cast : Kyuhyun and all SJ member, etc.

Gendre : Brothership, Friendship, Hurt/Comfort

Lenght : Chaptered

***

Summary : Pemuda itu terbangun dan mendapati dirinya berada sendirian di dalam dorm. Hanya sebuah senyum kecut yang dia keluarkan. / “Selamat menjalankan tugas kenegaraan kalian.” / Beginilah dirinya terus menerus mendapatkan kesibukan, tanpa terkecuali yang lainnya. / “Ada hal yang serius terjadi padamu.”/ “Mungkinkah semuanya tidak akan seperti dulu lagi?” / Pemuda itu mencengkeram kepalanya yang terasa sakit, berusaha untuk meredakannya namun tidak bisa.

***

 

Para staff kini sudah memanggil Kyuhyun untuk maju ke atas panggung. Setelah tadi beberapa artis memulai panggung acara. Kyuhyun mengubah ekspresinya menjadi tersenyum dan mengisyaratkan kepada Manajer hyung agar tidak terlalu memikirkan apa yang telah mereka bicarakan tadi. Karena disini bukan tempat mereka untuk bersedih dan mengeluh, disini adalah tempatnya untuk menghibur semua fans yang sudah setia.

Alunan suaranya mengalun dengan amat lembut. Semua yang mendengar memejamkan matanya menikmati nada-nada indah yang dibawakannya. Para ELF terus melambaikan tangannya yang memegangi lighstick berwarna blue shappire. Mereka ikut menyanyikan setiap part yang dinyanyikan oleh Kyuhyun.

Jika orang lain hanya akan memandangi sang penyanyi dengan kagum, berbeda dengan dirinya yang sudah menemani anak asuhnya itu bertahun-tahun. Dirinya tersenyum miris, sehingga selalu berpikir kenapa anak sepolos anak asuhnya harus menerima semua kenyataan pahit ini? Ya meski tidak memungkiri, bahwa sang anak asuh sebenarnya sudah berusia amat matang. Manajer hyung bisa melihat itu, anak asuhnya memang bernyanyi tapi wajahnya tidak hidup. Hatinya juga merasa sakit menyaksikan sang dongsaeng. Ya baginya Kyuhyun sudah seperti dongsaeng-nya sendiri.

Semua bertepuk tangan dengan meriah ketika Kyuhyun sudah selesai membawakan lagunya. Kyuhyun tersenyum sesaat sebelum meninggalkan panggung. Manajer hyung seperti biasa langsung memberikannya air mineral. Keringat Kyuhyun begitu banyak, padahal dirinya hanya menyanyikan satu lagu juga tanpa tarian. Namun kekhawatirannya langsung sirna saat sang magnae memberikan senyumnya dan mengatakan bahwa baik-baik saja.

Penghitungan mundur kembali. Sebenarnya beberapa acara musik di Korea memang banyak menentukan pemenang dengan jumlah vote. Kyuhyun juga masuk kembali ke dalam nominasinya. Sungguh luar biasa, lagi-lagi dirinya meraih juara pertama juga di acara yang berbeda. Para hoobae yang masuk nominasi juga senang karena menurut mereka Kyuhyun memang pantas mendapatkannya.

Kyuhyun menerima piala tersebut. Dan dengan senyum cerahnya dia melakukan pidato kecil. Semuanya terlihat gembira. Semuanya terlihat baik-baik saja. Semuanya nampak bahagia dan seperti biasanya. Tapi itu semua hanya berlaku disini, di tempat yang akan menghilangkan bebannya sesaat. Tanpa sadar lama kelamaan senyuman Kyuhyun di tengah nyanyian encore-nya itu berubah menjadi senyum yang amat getir.

Kyuhyun membasuh wajahnya yang terlihat pucat. Keringatnya terlalu banyak tadi, dia yakin sebenarnya bahwa Manajer hyung sudah sedari tadi mengkhawatirkannya. Namun ini lebih baik dibandingkan sakit kepala luar biasa yang dirasakannya seperti kemarin-kemarin. Entahlah Kyuhyun bingung, apakah ini bagus atau tidak. Dia bukan dokter yang bisa menerka-nerka kondisi fisiknya sendiri.

Beberapa jadwal dilewati hari ini oleh Kyuhyun. Terlebih lagi dirinya juga harus melakukan persiapan untuk konser yang sebentar lagi akan diadakan di Fukuoka, Jepang. Tentu saja dirinya lelah. Amat sangat lelah. Jadi ini rasanya sakit? Kenapa begitu melelahkan baik bagi tubuh maupun batinnya.

Kyuhyun memberikan award-nya kepada Manajer hyung. “Simpanlah.”

Waeyo Kyu? Seharusnya kau menyimpan ini sebagai salah satu piala Super Junior.” Oh ayolah sejak kapan Manajer hyung harus mengoleksi piala?

Kyuhyun tersenyum menanggapinya. “Setidaknya dirumahmu ah ani dirimu hyung bisa bangga dan menghargai piala itu.”

“Menghargai? Karena apa?” Manajer hyung bertanya dengan bingung.

Kyuhyun memaksakan senyumannya. “Kau ikut ambil alih dalam suksesnya albumku. Kau juga begitu banyak memperhatikanku hyung dan tahu bagaimana perjuanganku untuk meraihnya.”

Manajer hyung akhirnya mengerti arah dari pembicaraan ini. “Arrasseo Kyu, hyung akan menyimpannya dengan amat baik.”

“Setidaknya juga disana piala itu tidak akan hancur.” Kalimatnya tersirat begitu sedih.

Manajer hyung kembali kebingungan. “Hancur?”

“Jika piala itu disini, entahlah kala ‘sakit’ itu datang aku malah jadi amat ingin menghancurkannya.” Manajer hyung tahu Kyuhyun hanya memaksakan senyumannya.

Manajer hyung mengangguk, hanya berpura-pura saat ini untuk tidak terlalu khawatir. “Istirahatlah, makan serta minum obatmu dengan baik.”

“Cerewet.” Hanya cibiran itu yang bisa Kyuhyun berikan.

Manajer hyung memandang sedih punggung Kyuhyun yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya. Kadang dirinya merasa sedih karena merasa belum bisa melakukan apa-apa untuk Kyuhyun. Tapi anak itu selalu saja mengatakan bahwa dirinya juga banyak berperan besar dengan semua kesuksesan yang telah dirinya raih. Meski acuh tak acuh, Kyuhyun selalu bisa menyentuhnya.

.

.

.

.

.

Namja dengan tubuh berisi itu tengah membaca script yang harus dihapalnya. Begitu panjang dan cukup tebal. Namun dirinya sudah terbiasa dengan semua itu, bahkan dulu namja ini pernah mendapatkan yang lebih dari sekarang bahannya. Semua itu demi kesuksesan karakter yang dia perankan dan untuk mendapat respon positif dari para penonton.

Meski tubuh namja itu kini sudah berisi namun ketampanannya tidak luntur. Garis-garis wajahnya masih sama seperti saat muda dahulu. Sudah tuakah dirinya? Tidak juga sebenarnya hanya sekitar beberapa tahun lalu, sama saat dia memutuskan untuk vakum abadi dari dunianya yang dulu.

Sedingin es walau sekarang dirinya sudah mulai menghangat. Banyak fans yang pasti akan langsung berteriak histeris ketika senyumannya yang berjuluk killer smile itu dia sunggingkan. Namun apa yang terjadi padanya sekarang, adalah situasi berbeda. Kejadian yang terjadi baru beberapa jam lalu itu membuatnya terus memikirkan seseorang. Dia sudah besar. Setidaknya begitulah pemikiran namja ini sekarang. Bahkan sudah berkembang pesat. Album solonya sukses habis. Namun dia menangkap sesuatu yang aneh, pandangan seseorang itu seakan mulai meredup membuatnya merasa sakit. Ketika tadi pun dia tidak menoleh sedikitpun padanya.

“Kim Kibum kemarilah apa yang tengah kau lamunkan eoh?” Teriakan kesal itu keluar dari seorang namja yang berusia sekitar 40 tahunan.

Namja itu menoleh ketika sang sutradara memanggilnya dengan keras. Saking memikirkan semua hal tadi membuatnya lupa bahwa dirinya masih harus menjalankan syuting. Dirinya berjalan dengan cepat menuju sang sutradara dan sedikit meminta maaf karena tidak fokusnya tadi sedikit merusak proses syuting.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

Kyuhyun menghirup nafasnya sejenak sebelum membuka pintu dorm lantai 11 yang dirinya tempati. Rupanya beberapa hyung sudah pulang juga dari jadwal mereka. Heechul dan Ryeowook terlihat sudah duduk di atas sofa dengan mengenakan baju tidur mereka masing-masing.

Heechul sedikit memandang sekilas dengan kehadiran Kyuhyun yang sudah tiba. Namun setelahnya memfokuskan diri untuk kembali mengotak-atik benda persegi yang sedari tadi ada di genggamannya. Ryeowook yang baru saja selesai membaca buku, menatap Kyuhyun yang kini sedang menyimpan barang-barangnya.

Ryeowook menutup buku dan menyimpannya ke atas meja. “Ah Kyuhyun-ah kau sudah tiba?”

Nde hyung baru tadi.” Kyuhyun menyahut singkat.

Ryeowook menawakan diri kepada Kyuhyun. “Kau mau hyung masakan sesuatu? Pasti kau sangat lapar.”

Ani. Tidak usah aku juga tidak lapar.” Kyuhyun menolak dengan halus.

Ryeowook masih mau membujuk magnae-nya itu. “Tapi hyung rasa kau belum makan, makanlah kalau sedikit.”

Kyuhyun berhenti sejenak dari kegiatannya merapihkan barang. “Aku tidak mau hyung!”

“Aish magnae evil, Ryeowook sudah berbaik hati untuk memasakanmu makanan karena takut kau kelaparan, kau malah mengkasarinya.” Heechul yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.

Kyuhyun mengepalkan tangannya, entahlah emosinya kembali lagi. “Tidak usah berpura-pura mempedulikanku, jika memang kalian sendiri sudah tidak peduli.”

“Yak! Cho Kyuhyun apa yang kau bicarakan?” Heechul benar-benar tidak terima dengan kalimat Kyuhyun barusan.

Kyuhyun hanya memandang kedua hyung-nya itu bergantian. Selanjutnya meninggalkan mereka berdua untuk masuk ke dalam kamar.

‘BLAM’ Pintu itu tertutup dengan keras.

Heechul hanya bisa mengacak rambutnya kasar. “Aish ada apa lagi dengan magnae itu?”

“Sudahlah Chullie hyung, mungkin saat ini Kyuhyunnie hanya terlalu lelah.” Ryeowook mencoba mengerti perasaan dongsaeng-nya.

Kyuhyun bersandar di balik pintu kamarnya. Dirinya lelah, amat sangat lelah. Dia tidak mau mengharapkan lebih lagi, karena yakin pada akhirnya hanya akan menyakitinya saja. Walau di dalam hatinya sungguh Kyuhyun tidak mau mengatakan hal yang buruk seperti tadi. Tapi Kyuhyun dirinya tidak mau lagi kecewa.

Lama berada di posisi seperti itu, Kyuhyun mulai bangkit untuk berdiri. Namun bukannya mampu untuk berdiri, tubuhnya terasa amat berat. Kyuhyun mulai berpegangan dengan tembok kamarnya. Kepalanya sangat sakit seperti ada beribu pisau yang menancapnya. Kyuhyun terduduk dengan keras setelah berhasil mendekati ranjangnya. Tangannya mencengkeram erat kepalanya yang amat sakit.

Benar. Obatnya. Kyuhyun segera meminum obat yang diresepkan oleh Junwon uisanim padanya. Tanpa menggunakan air, obat-obat itu berhasil memasuki rongga kerongkongannya. Beberapa menit, syukurlah rasa sakitnya sudah berangsur-angsur menghilang. Matanya berat, rasa kantuk menyerangnya. Biarlah hari ini dia tertidur dengan pulas, karena memang dirinya sangat lelah.

Burung-burung berkicau. Cahaya matahari juga sudah mulai terbit. Orang-orang yang ada di dalam dorm pun mulai membersihkan dirinya untuk bersiap-siap. Mereka harus melewati satu hari begitu berturut-turut dan menjalaninya selama memang mereka masih bernafas dan hidup di dunia.

Mereka melakukan sarapan kilat. Tidak memasak seperti biasanya, karena hari ini jadwal mereka begitu amat-amat padat. Jadi dengan delivery order mereka melakukan sarapan. Setidaknya dengan perut yang merasa kenyang, semangat mereka akan bertambah dan tidak terlihat lemas. Kangin yang merasa agak bosan akhirnya menyalakan televisi. Disana berita hiburan ternyata, pandangan mereka semua langsung terfokus saat melihat magnae-nya memenangkan kembali award kemarin. Tapi yang mereka heran, kemarin malam Kyuhyun tidak membawa apapun.

Heechul hanya bisa bergumam dalam hatinya. ‘Aish magnae ada apa denganmu?’ Dan rupanya itu juga kalimat sama yang ada dalam pemikiran Heechul, Kangin, dan Ryeowook.

Ryeowook langsung pergi menuju ke arah pintu, saat dirasanya ada tamu. Dirinya tersenyum saat sang tamu ternyata adalah Manajer hyung. Dengan sopan Ryeowook mempersilahkan Manajer hyung untuk masuk ke dalam dorm. Tidak lupa para tetua itu memberikan Manajer hyung teh hangat.

Manajer hyung mengedarkan pandangannya. “Kyuhyunnie eodisseo?”

“Ah dia masih di kamar, masih tidur.” Sahut Kangin singkat.

Manajer hyung mendecak. “Ck.. anak itu lupa kalau ada jadwal apa.”

“Jadwalnya sangat segudang.” Heechul hanya menyembunyikan perasaan khawatirnya.

“Jam berapa memang Kyunnie harus berangkat?” Tanya Ryeowook yang kini sudah duduk bersama mereka.

Manajer hyung menyahutnya. “Sebentar lagi.”

“Baiklah aku akan membangunkannya.” Heechul menawarkan diri.

Kangin mencibir. “Tumben.”

Anni. Biar aku sendiri yang membangunkannya. Lagipula ada yang harus kami bicarakan.” Manajer hyung menolak halus.

Heechul bertanya selidik. “Konser lagi?”

N…nde semacam itu.” Manajer hyung menjawab terbata,

Ryeowook tersenyu, “Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, jaga magnae dengan baik, ya.”

Setelah memastikan semua hyungdeul Kyuhyun sudah pergi, Manajer hyung mulai berdiri dari duduknya. Dirinya berjalan menuju kamar Kyuhyun. Tumben sekali Kyuhyun belum bangun. Apakah memang Kyuhyun sangat kelalahan hingga bisa tertidur sepulas itu? Tidak biasanya magnae Super Junior yang selalu bersemangat itu begini.

Manajer hyung langsung mendekati Kyuhyun dengan cepat ketika dirinya menangkap raut kesakitan yang ada pada wajah Kyuhyun. Keringat dingin sudah membanjiri tubuh magnae Super Junior itu. Manajer hyung segera mengguncangkan tubuh Kyuhyun, berharap sang magnae bisa mendengarkan ucapannya.

Kyuhyun memandang wajah namja yang dikenalinya ini. Matanya terbuka meski masih amat sangat sayu. Kepalanya benar-benar sakit saat ini, dirinya ingin bangkit dan berdiri namun kaki dan lengannya seakan sudah tidak mempunyai tenaga apapun. Manajer hyung masih terus mengoceh padanya agar bertahan. Ingin dicoba tapi sayang tubuhnya benar-benar lemas saat ini. Mata milik Manajer hyung langsung melebar ketika merasakan tubuh Kyuhyun melemas. Deru nafasnya juga terdengar amat lemah. Tidak dipedulikannya lagi jadwal yang akan terlewat dengan segera Manajer hyung membawa Kyuhyun menuju rumah sakit.

.

.

.

.

.

My SMT, 21 Juni 2016

Seorang namja yang berstatus sebagai leader Super Junior ini memang sedang digandrungi oleh para produser untuk menjadikannya sebagai MC. Itu semua karena kemampuannya bicara dengan baik terhadap kamera. Jadi dirinya bisa menganggap bahwa kamera yang merekamnya merupakan pemirsa yang harus diajak bicara dengan baik.

Saat ini mereka semua, yakni artis dan para staff sedang mempersiapkan diri untuk take pertama. Seluruh persiapan diperiksa, baik audio, kamera, juga pencahayaan. Para artis yang akan mengisi juga mulai mengingat-ngingat hal-hal apa yang harus mereka lakukan nanti.

Namja berwajah malaikat atau yang dikenal sebagai Leeteuk Super Junior itu, sedikit lupa dengan script-nya. Sehingga akhirnya dirinya membuka kembali halaman dimana dirinya lupa. Darah keluar dari jarinya. Rupanya jarinya tergores oleh ujung kertas yang dinamai sebagai script tersebut. Tapi entah kenapa rasanya begitu perih. Perih sekali. Sampai-sampai perih ini seakan menembus dadanya.

Salah satu member NCT yaitu Taeil, yang memang menjadi bintang tamu menatap Leeteuk khawatir. “Ah Leeteuk hyung jarimu terluka. Gwenchana?”

“Ah nde gwenchana. Hanya tergores.” Leeteuk langsung menjawab ketika sudah mendapatkan kesadarannya.

Taeil menganggukkan kepalanya. “Tapi itu pasti perih, pakailah plester hyung.”

“Hanya luka kecil, hyung tidak akan mati hanya karena ini.” Jawab Leeteuk sedikit agak bercanda.

Taeil mengedikkan bahunya. “Baiklah jika begitu.”

‘Perih. Benar katamu Taeil-ah ini perih sekali. Seakan jantungku pun merasakannya.’ Leeteuk memandang jarinya yang masih mengeluarkan darah itu.

.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Junwon hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Tubuhnya tadi menegang ketika sedang menangani pasien yang baru-baru ini memang berada dalam perawatanya. Dia sudah bisa memprediksi bahwa keadaan sang pasien akan lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Namun keadaan tadi benar-benar di luar dugaannya. Imunnya tubuhnya yang lemah lah yang pasti membuat semuanya menjadi lebih parah.

Manajer hyung yang sudah mengurusi segala administrasi, kini mulai menuju ruang kerja Junwon uisanim. Junwon langsung memposisikan duduknya dengan benar, Manajer hyung kini sudah duduk di hadapannya. Sebenarnya yang terjadi setelah mereka duduk berhadapan hanyalah sebuah keheningan.

Terasa amat canggung. Karena pada dasarnya seharusnya wali dari sang pasien lah yang duduk berhadapan seperti ini dengan Junwon uisanim. Namun apa boleh buat semuanya memang harus dijalani mereka seperti ini.

Manajer hyung akhirnya bertanya. “Jadi bagaimana keadaannya?”

“Ini lebih buruk dari apa yang aku prediksi sebelumnya.” Junwon kembali menghela nafasnya.

Manajer hyung terus bertanya kembali. “Jadi penjelasan mengenai keadaannya bagaimna?”

“Radang selaput otak yang dialami oleh Kyuhyun-ssi ini disebabkan oleh bakteri. Dimana bakteri itu semakin lama akan semakin kuat. Keadaannya sekarang sudah amat parah, dan aku tidak tahu apakah nanti atau sebentar lagi akan menjadi lebih parah dari ini.” Junwon uisanim menjelaskan dengan seksama.

“Apa satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah dengan operasi itu?” Sungguh Manajer hyung berharap Junwon uisanim mengatakan saran yang lain.

Junwon uisanim mengangguk dengan pasti. “Tentu saja jika dia ingin sembuh. Makanya segera beritahukan walinya.”

“Efek sampingnya benar-benar akan kehilangan ingatan?” Manajer hyung tidak menjawab kalimat dari Junwon uisanim.

Sepertinya Junwon uisanim mengerti kalimat Manajer hyung yang sebenarnya mewakili sang pasien. “Aku mengerti kecemasanmu. Itu memang salah satu resikonya. Tapi aku akan beritahukan ini. Jika dia tidak segera melakukan operasi itu dia akan lebih kehilangan dari sekedar ingatannya. Bakteri itu menyerang otak dan tulang belakangnya. Dia bisa saja kehilangan kemampuan motoriknya, seperti mendengar, melihat, kemampuan berbicara, kaki dan tangannya yang akan lumpuh dan yang paling penting dirinya pasti akan kehilangan nyawanya.”

Rasanya sakit. Apakah jika Kyuhyun mendengarnya langsung akan lebih sakit darinya? “I..itu bohong kan?”

“Aku seorang dokter, dan sudah kewajibanku untuk mengatakan semuanya dengan jujur sekalipun itu menyakitkan.” Junwon uisanim membalasnya dengan tegas.

Manajer hyung hanya bisa mengangguk. “Aku akan menjenguknya dulu.”

Sebelum Manajer hyung benar-benar meninggalkan ruangannya, Junwon uisanim menyampaikan pesannya. “Aku memohon padamu sebagai dokter yang menanganinya. Bujuklah dia untuk mau melakukan operasi itu. Aku seorang dokter dan aku harus bisa menyelamatkan pasienku.”

Arrayo.” Dan pintu ruangan kerjanya pun tertutup kembali.

Matanya mengerjab-ngerjab perlaha. Yang pertama kali dirinya lihat adalah cahaya lampu yang tepat ada di atas kepalanya dengan letak yang lurus. Pertanyaan pertama yang mengusik namja ini adalah ‘Berapa lama dirinya tertidur?’ Seingatnya tadi pagi dirinya masih baik-baik saja hingga Manajer hyung datang dan memanggil-manggilnya dengan khawatir.

Ah benar. Penyebab Manajer hyung seperti tadi adalah dirinya sendiri. Dan dia yakin ruangan ini adalah salah satu kamar di dalam rumah sakit. Akhirnya dia tahu bahwa tadi dia bukan tertidur namun pingsan. Dirinya pasti sudah membuat Manajer hyung kerepotan karena dirinya yang sudah mengacaukan jadwal hari ini. Selang oksigen ini? Ah sungguh memuakan hanya dengan menggunakannya saja.

Kyuhyun langsung memasang ekspresi wajah biasanya ketika melihat Manajer hyung sudah memasuki kamar rawatnya. Aneh Manajer hyung tidak banyak mengoceh dan menceramahi dirinya seperti biasanya. Manajer hyung kini hanya duduk di samping ranjang milik Kyuhyun dan memandanginya dengan diam.

Kyuhyun bertanya meski dengan nada yang masih lemah. “Apa yang dikatakan Junwon uisanim padamu hyung?”

“Segeralah beritahu ini pada Tuan dan Nyonya Cho.” Manajer hyung tidak mau menjelaskan hal menyakitkan tadi pada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum, dia tahu apa yang terjadi. Dan satu pertanyaan retoris dirinya ungkapkan. “Aku yakin pasti sesuatu yang buruk bukan?”

“Kau masih bisa tersenyum walau sudah tahu Kyuhyun-ah ck! Lakukan operasi itu segera. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau masih memaksakan diri seperti sekarang? Kau akan lebih dari kehilangan sebuah ingatan! Kau akan…” Tenggorokan Manajer hyung seakan tercekat saat akan mengucapkan kalimat terakhirnya.

Kyuhyun kembali menanggapinya dengan tersenyum. “Apa ini saatnya juga untukku hyung, untuk benar-benar pergi?”

Mo…moseon…?” Kesadaran Manajer hyung kini sudah kembali.

“Dulu aku juga sudah pernah akan mati. Tapi saat itu Tuhan masih memberikanku kesempatan. Aku bersyukur. Tapi sepertinya saat itu memang bukanlah takdirku, mungkin sekarang. Tidak ada manusia yang bisa menghindari kematian hyung.” Kyuhyun tidak pernah terpikir untuk mengungkapkan kalimat bijak seperti ini.

Manajer hyung memandang Kyuhyun dengan sedih. “Tapi manusia juga harus berusaha Kyu!”

Nde, aku berusaha. Biarkan dengan caraku sendiri hyung.” Kyuhyun menjawabnya dengan pelan.

Manajer hyung mengacak rambutnya kasar dengan kekeraskepalaan magnae-nya ini. “Ck! Cho Kyuhyun cara apa memang yang kau punya, ini bukan starcraft yang bisa kau mainkan.”

“Caraku. Karena aku juga ingin merasakan sekali lagi. Kebersamaan itu… kepedulian itu… yang kurindukan.” Setetes air mata lolos dari kedua sudut mata milik namja yang sedang terbaring tersebut.

Dan setelahnya hanya keheningan lah yang terjadi.

Kyuhyun sudah menghabiskan waktunya selama hampir dua jam di kamar rawatnya ini. Hari juga sudah semakin siang. Manajer hyung harus mengurus dahulu kekacauan jadwal yang mereka perbuat. Bosan. Magnae ini benar-benar sangat bosan sekarang. Dahulu saat dalam perawatan pasca koma, selalu ada salah satu hyungdeul yang menemaninya. Aish untuk apa dia berpikir begitu, sekarang kan semua hyungdeul mengatakan kepadanya agar tidak bersikap seperti anak kecil. Jadi apakah orang dewasa tidak boleh merindukan begitu? Sebuah nama langsung terlintas di kepalanya, biarlah nanti Manajer hyung mengoceh sepuasnya.

.

.

.

.

.

Camp Militer

Seorang namja bertubuh tinggi dengan rambut cepak dan wajah tampannya tengah menikmati waktu makan siang. Hari ini cukup melelahkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh komandan kepada mereka semua. Tapi saat ini dirinya tidak boleh banyak berpikir, karena semuanya harus cepat dan disiplin.

Disiplin. Sudah merupakan peraturan wajib bagi semua tentara yang ada di negaranya. Tidak dia bukan tentara sungguhan, namja jangkung ini hanyalah warga negara yang baik dengan memenuhi kewajibannya untuk membantu negara. Hitung-hitung untuk membalas negara yang sudah menjadi tempatnya hidup sejak dilahirkan dengan baik.

Entahlah rasanya namja jangkung ini ingin mengecek keadaan handphone-nya saat ini. Setelah menghabiskan makanannya, namja jangkung ini secara diam-diam mengecek ponselnya. Tumben sekali ada panggilan masuk. Namja jangkung ini tersenyum ketika melihat nama siapa yang tertera di dalam layar ponselnya. Dengan sembunyi-sembunyi namja jangkung ini menuju tempat sepi agar bisa leluasa.

Ketika sudah dirinya angkat, hal yang pertama didengarnya adalah pekikan yang memakan telinganya. “Yak Shim Changmin! Lama sekali kau mengangkatnya.”

“Aish Kyu, aku kan sedang di camp. Ini juga aku diam-diam mengangkatnya.” Changmin mengeluarkan alasannya.

Yang diseberang sana hanya bisa berwajah kikuk. “Disiplin sekali.”

“Kau juga akan merasakannya suatu hari nanti.” Changmin mencibir.

Dirinya tahu bahwa sahabatnya ini tadi kesal karena mendapatkan teriakannya. “Aku ingin minta tolong.”

“Setelah tadi kau berteriak keras, kau ingin meminta tolong padaku?” Kesal juga Changmin meski tidak sampai dalam hati.

Rupanya yang sedang dikesali Changmin memutar bola matanya malas. “Aish bisa tidak?”

Nde, mwo?” Changmin bertanya dengan malas.

Bisakah kau minta izin dahulu pada atasanmu Shim? Entahlah aku saat ini aku hanya ingin bertemu denganmu.” Nadanya terdengar amat memohon.

Changmin menghembuskan nafasnya kasar. “Itu tidak akan mudah Cho.”

Jebalyo Changminnie.” Changmin yakin bahwa sahabatnya pasti mengeluarkan puppy eyes-nya disana. Ditelepon saja Changmin sudah tidak kuat apalagi melihat langsung.

“Hah arrasseo.” Changmin pun hanya bisa pasrah untuk menurut.

.

.

.

.

Samsung Hospital

Buah-buahan segar. Bunga lili putih untuk menyampaikan pesan agar yang dirawat segera sembuh. Semuanya sudah lengkap. Manajer hyung tersenyum dan melangkah dengan gembira untuk menuju kamar rawat anak asuhnya itu. Ah Manajer hyung geli sendiri jika memikirkan sang magnae sendiri, pasti wajahnya akan berekspresi bosan.

Tapi tenang saja karena dirinya sekarang sudah tiba untuk kembali menemani magnae manjanya tersebut. Namun ketika Manajer hyung membuka pintu ruang rawat tersebut yang hanya adalah kesunyian. Infus yang pasti dipaksa dilepas, selang oksigen yang hanya berfungsi sendiri, kasur yang berantakan. Dia yakin sekali dengan kelakuan magnae itu.

“Aish Cho Kyuhyun!”

Tidak kehabisan akal, Manajer hyung mulai bertanya kepada para ganhonsa yang terkadang bertugas untuk mengecek keadaan pasien. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu kemana perginya Kyuhyun. Karena merasa itu semua akibat keteledoran mereka, akhirnya Manajer hyung dengan ‘amat senang’ memberikan kuliah gratis yang tidak akan berakhir selama satu jam.

.

.

.

Mouse Rabbit Coffee

Namja bertubuh kurus itu tengah duduk menunggu seorang temannya. Ah bukan sekedar teman, tapi sahabat yang sangat berarti dan penting bagi hidupnya. Walaupun sebenarnya dirinya tadi merasa tidak enak karena harus memaksa sahabat berbohong hanya demi untuk menemaninya saat ini.

Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sudah datang. Kyuhyun segera menyuruhnya duduk. Dirinya sedikit terkikik geli dengan keadaan sahabatnya sekarang. Rambutnya yang cepaklah yang membuatnya agak tertawa. Sementara Changmin drinya hanya bisa memutar bola matanya malas, karena sudah tahu bahwa sahabat berkulit pucatnya ini sebenarnya memang sedang menertawakan dirinya.

Pesanan makanan mereka datang. Mereka berdua memakannya dengan lahap, walau Kyuhyun hanya berpura-pura saja. Karena baginya semua makanan saat ini rasanya sangat hambar. Changmin seperti biasa masih menjadi food monster, terlebih lagi Kyuhyunlah yang rela membayar semua makanan ini. Selama beberapa menit mereka hanya fokus dengan acara makan mereka.

Changmin meminum jusnya. “Jadi apa yang ingin kau bicarakan Kyuhyun-ah?”

“Aku sedang tidak bahagia Chwang.” Ekspresi Kyuhyun berubah redup.

Changmin langsung memandang sahabatnya dengan serius. “Apa ada masalah?”

“Entahlah aku tidak tahu apakah itu masalah ataukah aku memang hanya mencari-cari hal tersebut dan menjadikannya masalah?” Kyuhyun amat bingung harus menganggapnya seperti apa.

Caramel machiatto, sekarang aku sudah ada di depanmu. Jadi kau harus bercerita sekarang juga. Sungguh aku benci melihat wajah sendumu tadi, aku tidak suka.” Changmin memang tidak menyukai jika Kyuhyun bersedih.

Kyuhyun menatap Changmin, dirinya membuat dirinya sendiri terkekeh. “Changmin-ah, bagaimana jika aku koma lagi atau kehilangan ingatan tentangmu? Apa yang akan kau lakukan?”

“Apa maksudmu?” Changmin terkejut dengan pertanyaan Kyuhyun.

Kyuhyun mengedikan bahunya. “Aku hanya ingin tahu.”

Neo pabboya! Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan segera pergi dari sini dan tidak mau menuruti lagi kemauanmu Cho!” Changmin kesal sendiri.

Kyuhyun hanya mendecak kesal. “Aish Shim Chwang, aku hanya bertanya bila terjadi.”

Changmin menatap Kyuhyun dengan lurus dan dalam. “Aku akan hancur. Aku akan marah pada diriku sendiri. Karena seharusnya aku bisa lebih menghabiskan waktuku bersamamu. Aku akan menyesal, karena kau adalah salah seorang yang berharga bagiku.”

“Berharga?” Jika saja pembicaraan mereka saat ini tidak serius, Changmin pasti sudah mencubit kedua pipi bulat milik Kyuhyun.

Changmin mengangguk. “Kau berharga amat berharga chingu.”

“Ah. Mian Changmin-ah aku malah mengatakan hal yang tidak-tidak.” Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Changmin menghela nafasnya. “Tapi jika sekali lagi kau mengatakan itu Cho, aku sudah tidak mau bicara lagi padamu.”

Arrayoarrayo…” Kyuhyun menjawab dengan malas.

Setelah menghabiskan waktu selama dua jam untuk mengobrol dan melepas rindu, akhirnya Changmin pamit untuk pulang terlebih dahulu. Kyuhyun juga sudah meninggalkan café tersebut. Belum juga dirinya akan mengetikan pesan permintaan maaf padanya, dirinya sudah mendapat pesan ‘menyeramkan’

‘From Manajer hyung : Cho Kyuhyun kau berhutang penjelasan padaku.

.

.

.

.

.

.

Super Junior Dorm

28 Juni 2016

Kebetulan sekali hari ini seluruh jadwal grup maupun member Super Junior kosong. Walau sebenarnya itu semuanya hanyalah taktik Manajer hyung agar Kyuhyun bisa beristirahat untuk memulihkan kondisinya. Semua member yang masih tinggal di dorm menikmati waktu libur mereka dengan nyaman.

Yesung juga yang hari ini sengaja datang. Sebenarnya bukan sengaja, karena ada alasan lain. Yaitu untuk memberikan kabar bahwa dirinya sebentar lagi akan melakukan debut solo sama seperti magnae-nya Kyuhyun.

Ngomong-ngomong soal magnae, dari tadi dirinya tidak menemukan keberadaannya. Tidak ada yang tahu, Kyuhyun hanyalah menghindari mereka saat ini. Dirinya tidak ingin lagi terlalu berharap. Iya lagi-lagi terlalu berharap. Sang art of voice tersenyum kerika menemukan keberadaan magnae yang tengah mencorat-coret kertas di atas meja makan.

Yesung merangkul Kyuhyun. “Hebat kau sudah buat lagu baru lagi. Hyung juga akan menyusul.”

“Ah kau cukup mengagetkanku hyung.” Entah mengapa ekspresi Kyuhyun begitu datar.

Yesung tidak mau ambil pusing. “Haha mian, sebentar lagi mungkin. Hyung juga ingin mendulang kesuksesan sepertimu dan membawa piala award.”

Kyuhyun berhenti bergerak. “Award ya.”

“Kyuhyunnie, kau masih ingat kejadian waktu itu?” Yesung bertanya dengan pelan.

Kyuhyun menggeleng dan tersenyum. Palsu. “Anni. Untuk apa? Yang ku ingin ingat hanyalah kalian?”

Yesung terkikik. “Kau ini, ingatanmu itu pasti amat baik. Setiap kali kita bersama.”

“Oh bersama ya?” Bagi Kyuhyun rasanya itu bohong.

Yesung tersenyum pada Kyuhyun. “Jja sarapanlah. Semua sudah menunggu.”

“Kau tidak akan mengerti. Kalian tidak akan pernah mengerti ingatan yang kumaksud, karena kalian lupa dengan sendirinya.” Gumam Kyuhyun seorang diri.

30 Juni 2016

Two days before Knick Knack Fukuoka

Dua hari ini Kyuhyun tidak terlalu disibukkan dengan jadwal on air ataupun off air. Namun yang menyibukannya adalah persiapan-persiapannya sebelum menjelang konser Solo di Jepang besok lupa. Banyak juga barang-barang yang perlu dirinya bawa. Terlebih lagi dia harus melakukan semuanya sendiri. Sudah tahu kan bahwa hyungdeul yang lainnya tengah sibuk. Manajer hyung juga sedang ada urusan.

Kyuhyun mengistirahatkan tubuhnya sejenak ke atas sofa. Pesan Manajer hyung, bahwa dirinya tidak boleh terlihat tidak sehat ketika konser akan dilaksanakan. Karena pasti hanya akan membuat fans kecewa dan khawatir. Setidaknya, dirinya memang harus beristirahat dan terlihat sehat nanti.

Telepon rumah dorm tidak biasanya berdering. Kyuhyun langsung bangkit kembali dari duduknya dan segera mengangkat telepon tersebut. Kyuhyun sedikit tertawa geli karena Yesunglah yang menelepon. Kenapa juga dia harus menelepon ke nomor telepon rumah dorm bukan kepada ponsel.

Ah Kyuhyun-ah.” Yesung langsung menyapanya.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Nde hyung, ada apa?”

Tolong beritakan ini kepada semuanya.” Nada bicara Yesung benar-benar gembira.

Kyuhyun mengernyit. “Apa yang harus kuberitahukan?”

Sebentar lagi debut soloku akan segera datang.” Tidak berhentinya nada gembira itu keluar dari Yesung.

Ah pasti hyung. Emm.. hyung besok kau bisa mengantarku ke bandara?” Kyuhyun ragu, tapi memberanikan diri untuk bertanya.

Yesung menghela nafasnya. “Mian Kyu, hyung masih harus berdiskusi besok.”

Chukkae Yesung hyung akhirnya kau melakukan debut solomu.” Kyuhyun hanya bisa menahan kekecewaannya tanpa ada yang tahu.

Telepon itu terputus. Dia gembira salah satu hyung-nya yang juga main vocal itu melakukan debut solo seperti dirinya. Hanya saja dia kecewa. Kecewa dengan semua hal yang hanya mengabaikannya dan tidak mempedulikannya. Rasa kesepian yang dahulu sempat dirinya rasakan kembali merasuk dan seolah terulang kembali.

Leeteuk memasuki dorm dengan langkah tegasnya. Begitu sepi. Benar juga, semua dongsaeng-nya sedang ada jadwal. Dirinya kesini hanya ingin mengecek saja. Karena tiba-tiba perasaannya menginginkan untuk mengunjungi dorm yang sudah lama tidak ditinggalinya. Mata Leeteuk menatap seseorang, dirinya salah yang ada jadwal itu bukan semua tapi hampir. Terbukti Kyuhyun masih disini untuk persiapan konsernya.

Kyuhyun mengangkat kepalanya ketika melihat hyung tertuanya itu. “Teukie hyung.”

Meski pelan, Leeteuk bisa mendengar panggilan Kyuhyun. “Nde, kau disini?”

“Aku harus bersiap-siap untuk berangkat besok.” Jawab Kyuhyun menjelaskan.

Leeteuk hanya menyahut singkat. “Oh.”

“Besok…. maukah kau pergi mengantarku sebelum ke Fukuoka?” Entah darimana Kyuhyun mendapatkan keberanian mengucapkan itu.

Leeteuk menghembuskan nafasnya sejenak. “Masih banyak jadwal Kyu, mengertilah. Lagipula masih ada Manajer hyung yang mengantarmu.”

“Oh….. jadi kau tidak bisa hyung. Nde arrasseo.” Pemuda itu menghela nafasnya kemudian.

Leeteuk beranjak pergi. “Hyung kesini hanya untuk mengecek. Pergi dulu nde.”

Kyuhyun amat sangat mengerti. “Arra hyung.”

Setelah kepergian Leeteuk, Kyuhyun kembali sendiri. Begitu ya semua ini sekarang. Rasanya begitu berbeda. Tidak sama. Apakah dirinya berdosa karena tidak bisa menerima perubahan ini? Jika iya, biarkanlah dirinya berdosa. Karena perasaan rindu akan masa-masa itu makin menyiksanya.

Sendirian. Kesepian. Tidak dipedulikan. De ja vu. Ini seperti saat pertama kali dirinya ketika belum diterima sepenuhnya disini. Namun semua berlalu dan keadaan membaik. Mereka begitu tulus. Sekarang haruskah dirinya mempertanyakan apa ketulusan mereka pada saat itu hanyalah sebatas kepura-puraan?

Kyuhyun kembali akan membereskan barang-barangnya. Sakit. Sakit sekali. Kepalanya seperti dihujam pisau, tubuhnya limbung terjatuh. Nafasnya juga sesak. Merogoh sakunya untuk meminum obat-obatan itu, tapi tangannya melemas. Tangannya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Manajer hyung yang memang sudah tiba langsung melesat masuk ke dalam dorm, ketika terdengar suara orang terjatuh. Dengan panik, dirinya langsung menghampiri Kyuhyun yang kini tengah merintih menahan sakit. Nafasnya juga tidak beraturan.

Dengan lemah, Kyuhyun berbicara. “H….hyung….

“Kau harus ke rumah sakit dan melakukan operasi Kyu!” Manajer hyung amat panik.

Kyuhyun hanya menggeleng.

“Demi Tuhan! Aku mohon Cho Kyuhyun lakukanlah operasi itu segera!” Manajer hyung sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.

‘PRANG’ Wine yang tadinya dirinya pegang terjatuh dengan begitu saja. Lantai berubah menjadi merah. Manajer hyung menoleh kepada namja yang menjatuhkan botol tersebut, tidak dipungkiri kedua-duanya terkejut.

.

.

.

.

.

To Be Continue….

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Ifah
    Mar 16, 2017 @ 14:55:27

    Sedih,bikin aku jadi nangis😭😭😭

    Reply

  2. Jung Haerin
    Mar 17, 2017 @ 00:57:10

    Author mah jahat naro bawang disini 😭😭
    Keep going ya thor, aku menunggu dengan sangat kelanjutannya… Love u, eh salah, love it!!!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: