The Story of Young CEOs [5/?]

Author:

Ilana hawa

The Story of Young CEOs part 5

Cast:

Lauren Hanna Lunde | Cho Kyuhyun

Choi Siwon | Lee Donghae | Lee Hyukjae

***

 

Kyuhyun mengerang dalam tidurnya, saat sesuatu terasa menggelitik hidungnya. Pria itu membuka mata dan sontak berjengit melihat tangan Eunhyuk berada tepat di depan wajahnya.

“Argh! Lee Hyukjae! Jauhkan tanganmu!” Kyuhyun menepis kasar tangan Eunhyuk “Kau membuat wajahku berjerawat nanti!”

Pria tampan itu bangkit duduk dengan mimik muka sebal. Memandang Eunhyuk dengan death glare andalannya. Bukannya marah, CEO Kia Motors itu justru terkekeh, di ikuti Siwon dan Donghae. Dihadapan mereka bertiga terdapat tiga cangkir yang masih mengepul.

“Kapan kau sampai? Kenapa tidak memberitahu kami?”

“Kenapa kau tidur di sofa?”

“Kenapa kau lama sekali mengantar Hanna pulang? Apa yang kau lakukan disana?”

“Pertanyaan kalian membuat telingaku berdengung!” Kyuhyun berdesis kesal. “Kenapa kalian memberikan pertanyaan begitu banyak saat aku bangun tidur!”

Mereka kembali terkekeh. Sahabat mereka yang satu itu memang senang sekali menggerutu untuk hal-hal yang tidak penting.

“Baiklah. Kau jawab satu persatu.” Seru Siwon.

Kyuhyun menurunkan kedua kakinya lalu bersandar penuh pada sandaran sofa putih tersebut. Menatap Siwon, Donghae juga Eunhyuk dengan posisi senyaman mungkin.

“Aku tiba hampir jam 3 pagi. Karena ku pikir kalian sudah tidur jadi aku tidak membangunkan kalian. Lalu kenapa aku tidur di sofa? hanya ingin saja. Dan kenapa aku lama mengantar Hanna pulang? Terlalu panjang untuk di ceritakan.” Kyuhyun merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal karena tidur di sofa. Kepalanya memutar mencari seseorang yang tampak belum terlihat di ruangan ini. Kemana dia? Apa dia belum bangun?

“Tapi…” Kyuhyun kembali memandang ketiga sahabatnya yang tampak berbeda hari ini “Kalian akan pergi? Kenapa rapi sekali?”

“Kita akan pulang ke Korea hari ini.” Siwon menyeruput kopinya yang hampir dingin.

“Kenapa? Bukannya liburan kita masih beberapa hari lagi?”

“Donghwa Hyung menghubungi Donghae dan mengatakan bibi sakit.” Eunhyuk mengambil ponselnya di atas meja dan mulai sibuk mempelajari pekerjaannya yang di kirim Park Ahjussi lewat Email.

“Benarkah itu?” Kyuhyun memandang Donghae dengan cemas. “Lalu bagaimana keadaan ibumu? Dia baik-baik saja?”

“Hanya kelelahan. Kau tahu bagaimana ibuku kan? Mungkin dia menghabiskan waktunya di cafe. Tapi tetap saja itu membuatku khawatir.”

Ya. Donghae mendirikan sebuah cafe bernama Grill5taco dan sang ibu yang mengelolanya. Pria tampan itu memutar-mutar ponselnya, menunggu Hyungnya yang akan kembali menelepon. Donghae masih saja mengkhawatirkan keadaan sang ibu. Hanya beliau dan kakak laki-lakinya yang ia miliki di dunia ini. Sementar itu, Kyuhyun menghela nafas lega. Bagaimana pun dirinya begitu dekat dengan ibu dari sahabatnya itu dan sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.

“Kau bersiaplah. Kami juga sudah memesankan tiket untukmu.” Seru Siwon sambil memainkan ponselnya.

“Baiklah.” Kyuhyun beranjak meninggalkan ruang tamu. Namun di tengah jalan langkahnya terhenti, seraya teringat pada gadis itu. Kyuhyun kembali menoleh pada ketiga sahabatnya.

“Ah! Pesankan aku satu tiket lagi ke Korea.”

Donghae, Siwon juga Eunhyuk medongak menatap Kyuhyun secara bersamaan.

“Siapa yang ikut kita ke Korea?”

Kyuhyun tersenyum miring, “Hanna.”

“MWO?!”

Kyuhyun tertawa keras sambil berlari menuju kamar Siwon. Menulikan telinga dengan teriakan mereka yang memanggil namanya. Dia akan mandi di kamar Siwon saja. Tidak mungkin dirinya mandi, sementara Hanna berada di dalam kamarnya.

* * *

Hanna masih mengitari pandangannya ke seluruh penjuru salah satu bandara di Korea. Dia dan ke empat pria yang berjalan di depannya ini, baru saja tiba di Korea. Tempat yang baru ia datangi pertama kali dalam hidupnya. Perjalanan panjang hampir 13 jam tak membuat dia lelah. Dirinya begitu senang berada di negara kelahiran sang ibu.

Hanna menarik nafas menyadari dirinya kini bersama mereka lagi. Gadis itu tersenyum mengingat kejadian tadi pagi. Siwon, Donghae dan Eunhyuk tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka mengetahui dirinya berada di villa itu lagi. Eunhyuk dan Donghae bahkan memeluknya. Namun karena harus ke bandara, mereka tak sempat bebicara banyak.

Dan saat ini dirinya mengikuti mereka pergi ke sebuah cafe dekat sekitaran bandara. Hanya perasaannya saja, atau memang benar apa yang di lihatnya. Hampir setiap wanita yang mereka lewati, memandang empat pria itu dengan berdecak kagum. Saling berbisik dengan wajah merona, namun pandangan itu hilang saat melihat dirinya mengekor di belakang.

“Bagaimana keadaanmu?”

Hanna mendongak saat Siwon melontarkan pertanyaan. Saat Kyuhyun mengatakan semua yang terjadi pada gadis itu di negaranya, Siwon tak dapat mengelak jika dia mengkhawatirkan Hanna. Bahkan pria itu menyesal tak bisa ikut mengantar Hanna pulang. Bagaimanapun Hanna sempat membuatnya tertarik dan mungkin saat ini perasaan itu masih ada.

“Aku baik-baik saja.” Hanna tersenyum memandang Siwon lalu kembali menyantap sarapannya.

“Kyuhyun sudah menceritakan semuanya. Kami turut bersedih dengan semua yang terjadi padamu.” Sahut Donghae sambil menyeruput Americano-nya.

Hanna menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.

“Bocah ini…” Eunhyuk merangkul Kyuhyun yang duduk di sampingnya. “Melakukan hal yang benar dengan membawamu kesini. Selamat datang di Korea.”

Hanna tersenyum ke arah Eunhyuk, namun tak lama dia tertawa, melihat Kyuhyun melepaskan kasar lengan Eunhyuk di bahunya dan terlihat Eunhyuk yang berdecak sebal.

“Maaf merepotkan kalian.” Hanna menundukan kepalanya. “Sudah berpamitan, mengucapkan selamat tinggal, tapi beberapa jam kemudian aku bersama kalian lagi. Ini sedikit memalukan.” Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiga dari empat pria di meja itu tertawa mendengarnya, sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum miring. Walaupun begitu tak dapat di pungkiri, mereka senang bertemu gadis itu lagi.

“Anggap saja Tuhan mengirim kami untuk menggantikan orang tuamu.”

Hanna terkesiap mendengar perkataan Siwon. Pria itu selalu membuat perasaanya berubah aneh. Tenang, namun terasa berbeda saat Kyuhyun yang membuatnya merasa tenang.

“Untuk sementara waktu kami tidak bisa menemanimu. Kyuhyun akan menjagamu dengan baik.” Donghae menoleh ke arah Kyuhyun. Pria itu sibuk dengan ponselnya sejak tadi. Sesekali dia juga menyeruput caramel machiatonya.

“Hei!” Eunhyuk menyepak pelan kaki Kyuhyun. “Kau harus menjaganya! Jangan selalu membuatnya kesal!” Pria gummy smile itu terlihat gemas melihat Kyuhyun terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.

“Ucapanmu terdengar seperti kau menitipkan seorang anak padaku!”

Eunhyuk tertawa pelan kemudian ikut sibuk dengan ponselnya.

“Benar yang di katakan Eunhyuk. Kadang-kadang kau tidak bisa menjaga mulutmu.” Siwon menimpali dan sukses membuat meja mereka pecah dengan tawa keras Donghae dan Eunhyuk. Kyuhyun mendengus lalu kembali melanjutkan bermain ponsel. Siwon akan berkata panjang lebar seperti khotbah jika dia menimpalinya.

Hanna yang melihat semua itu hanya bisa terkekeh. Gadis itu menghela nafas lega. Semua kesedihan yang ia alami terasa hilang saat kelakuan mereka membuatnya merasa senang.

Eomma…Jangan mengkhawatirkanku. Aku berada di tempat yang aman dengan orang-orang yang aku yakini akan baik menjagaku. Dimana pun kau berada, makanlah yang banyak, tidurlah yang nyenyak. Tetaplah sehat sampai kita bisa bertemu lagi.

* * *

Kyuhyun turun dari mobil saat sang supir membukakan pintu untuknya. Pria itu menatap Hanna yang terlihat takjub dengan rumah mewahnya. Hingga saat ini dirinya masih tak mengerti kenapa ia membawa Hanna kembali ke Swiss bahkan membawanya ke Korea. Hanna hanya gadis entah berantah yang tak tahu bagaimana bisa ada di dalam kamarnya. Tapi kenapa dia bisa se-ekstrim ini bertanggung jawab atas diri seorang gadis?

“Aku pasti terbawa suasana saat itu.” Kyuhyun bergumam pelan dengan mata yang tak lepas memperhatikan Hanna. Tidak akan ada yang tega melihat seorang gadis menangis karena kehilangan ibunya dan gadis itu juga tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Kyuhyun mengangguk ketika pemikirannya terasa benar. Kedua alis hitamnya mengernyit melihat gadis itu memutar-mutar kepalanya seperti mencari sesuatu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Halaman rumahmu luas tapi kenapa tidak ada tanaman bunga?”

“Bunga?”

“Ibuku menanam banyak bunga di halaman. Ibumu tidak suka bunga ya? Tidak ada satu pun tanaman bunga di halaman rumahmu.”

Kyuhyun semakin tak mengerti saat kalimat Hanna terdengar melantur. Namun tak lama kemudian pria itu menarika nafas seraya mengerti arah pembicaraan Hanna. Gadis itu pasti berpikir ini rumah orang tuanya. Kyuhyun beranjak menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya.

“Ibuku suka bunga tapi sayangnya ini bukan rumah ibuku. Aku tinggal sendiri disini.”

Gadis itu membelalakan matanya dengan bibir yang terbuka lebar.

“Mwo?! Kenapa kau tidak bilang jika kau tinggal sendiri?!”

“Haruskah aku memberitahukanmu?” Kyuhyun berdecak malas. “Jika kau tidak mau tinggal disini, tidak masalah. Aku akan meminta supirku mengantarmu ke bandara dan kau bisa kembali ke Kanada.”

Hanna menggigit bibirnya, kebiasaannya saat gelisah. Mendengar nama Kanada saja sontak membuatnya ingin menangis. Dia pasti akan gila perlahan-lahan karena merindukan ibunya, jika ia benar-benar kembali ke Kanada, ke desa Niagara on the Lake.

“Lalu kenapa kau mengajakku ke Korea?”

Kyuhyun berkacak pinggang menatap Hanna. Memandang mata yang melihatnya dengan penuh rasa ingin tahu. Andai gadis di depannya tahu, Kyuhyun sendiri pun tidak mengerti kenapa dia bisa mengajak Hanna ke Korea. Yang dirinya tahu, dia mengkhawatirkan Hanna saat itu.

“Kau terlihat menyedihkan saat menangis. Kau kehilangan ibumu, ayahmu meninggal saat kau masih kecil bahkan Marry Ahjumma tidak bisa menjagamu karena harus pindah mengikuti suaminya. Kau pikir aku tidak memiliki hati nurani saat mengetahui itu di depan mataku?” Kyuhyun menatap tajam Hanna yang terlihat menundukan wajahnya. Gadis itu memainkan jari-jarinya, yang Kyuhyun tahu kebiasaan lain Hanna saat tengah gelisah.

“Kau tidak memiliki siapa pun lagi. Kau datang kesana bersamaku dan saat hal buruk terjadi kau pikir aku akan diam saja? Aku tahu maksudmu. Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal apapun pada gadis kecil sepertimu!” Kyuhyun beranjak pergi, menaiki beberapa anak tangga menuju pintu utama. Meninggalkan Hanna yang kini memandangnya dengan alis mengernyit dan matanya yang mengerjap cepat.

“Ga-gadis kecil dia bilang?!” Hanna mendengus pelan. “Asal kau tahu! Seharusnya tahun ini aku sudah menjadi mahasiswa! Hanya karena hal aneh yang terjadi padaku, makanya aku tetap pada diriku ketika sekolah!”

Hanna menghentakan kakinya saat Kyuhyun tetap menapaki anak tangga tanpa memperdulikannya. Gadis itu memandang punggung Kyuhyun dengan sebal lalu beranjak mengikuti pria tinggi itu.

*

“Ini kamarmu.”

Hanna tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, saat Kyuhyun membuka pintu ruangan yang memang terlihat seperti sebuah kamar. Kamar mewah dengan dinding berwarna abu-abu lembut dan terdapat window seat dekat jendela. Walau baru pertama kali melihat, entah mengapa Hanna langsung menyukainya.

“Gomawo.” Hanna tersenyum ke arah Kyuhyun. Pria itu hanya mengangguk seadanya lalu menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu. Hanna melangkah kearah jendela dan terlihat jelas pemandangan komplek rumah Kyuhyun. Daun-daun yang bermekaran saat musim semi membuatnya tampak begitu indah.

Apalagi jika musim gugur datang, akan berubah jauh-jauh lebih indah. Hanna benar-benar menyukai kamar ini. Gadis itu terus tersenyum senang, hingga semua itu terusik saat terdengar deringan suara ponsel yang dia yakini milik Kyuhyun. Hanna menoleh kebelakang dan benar saja pria itu tengah menjawab telepon.

“Ada apa Bu? Apa? Baiklah. Aku akan kesana sekarang.”

Gadis itu bedehem pelan saat Kyuhyun menatapnya.

“Kau istirahatlah.”

Hanna mengangguk pelan dan memandang Kyuhyun yang bergegas menutup pintu kamar dan meninggalkannya sendirian. Gadis itu menghela nafas kemudian duduk di pinggiran tempat tidur. Menyusuri kembali isi kamar yang akan di tempatinya dan kembali tersenyum.

Kamar ini benar-benar langsung membuatnya nyaman, bahkan kini dirinya mulai mengantuk. Namun hazel matanya jatuh pada lemari kaca besar yang dia yakini pasti lemari pakaian.

“Benar juga. Aku hanya memiliki baju yang ku pakai. Lalu bagaimana aku setelah ini?” Hanna melirik kearah baju yang ia kenakan kemudian beranjak ke arah lemari kaca tersebut. Membukanya secara perlahan dan betapa terkejutnya ia, mengetahui banyaknya baju di dalam lemari. Dress, bermacam-macam coat, sweater, Tshirt bahkan Hot pants.

“Apa ini? Bukankah ini baju wanita?” Hanna menyentuh salah satu dress berwarna peach yang tampak sangat cantik. Namun kemudian Hanna menutup kembali lemari tersebut dan melangkah duduk di sisi tempat tidur lagi. Matanya lagi-lagi mengitari seluruh isi kamar.

Dari banyaknya pertanyaan yang terlintas tentang baju dan dekorasi kamar yang memang tak nampak seperti kamar seorang pria, hatinya justru bertanya-tanya siapa pemilik kamar ini sebenarnya. Bukankah Kyuhyun bilang ia tinggal sendiri?

~o0~

Kyuhyun turun dari dalam mobil dan setengah berlari menuju pintu rumahnya. Hatinya sedikit khawatir saat sang ibu memintanya untuk datang. Kejadian beberapa bulan yang lalu, saat Kyuhyun terpaksa meninggalkan meetingnya karena sang ibu menintanya untuk datang. Dan benar saja, wanita yang paling di sayanginya itu jatuh sakit.

Sejak menjabat sebagai CEO, Kyuhyun memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah rumah di sekitar komplek elit di Seoul. Kakak perempuannya, Cho Ahra, mengikuti suaminya tinggal di luar negri. Dan kedua orang tuanya pun hanya sesekali berada di Korea karena sang ayah membangun cabang perusahaan di China dan mereka menghabiskan banyak waktu disana.

Pria itu menekan beberapa kombinasi angka sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah. Menyusuri lorong sebentar kemudian tersenyum melihat sang ibu berdiri disana menyambutnya. Tanpa sadar Kyuhyun menghela nafas lega melihat sang ibu berdiri dengan wajah sumringah. Dengan langkah lebar pria itu menghampiri sang ibu dan memeluknya. Tersenyum samar merasakan pelukan hangat yang begitu ia rindukan.

“Sebenarnya ada apa ibu memintaku kesini? Sesuatu terjadi? Ayah atau ibu sakit?” Kyuhyun melepasakan pelukannya namun tetap merangkul bahu sang ibu.

“Apa harus terjadi sesuatu dulu baru kau kesini? Bukannya menemui ibu kau justru berlibur dengan teman-temanmu. Anak nakal!” Ny. Cho memukul bahu Kyuhyun yang sontak membuat pria itu mengaduh kesakitan namun tak lama justru tersenyum.

“Anak kesanyangan ibu sudah datang ya?”

Senyum Kyuhyun hilang saat suara yang amat di kenalinya itu menyeruak. Disana, berdiri seorang wanita muda nan cantik dengan rambut hitam sebahunya.

“Ahra Noona?”

Ahra mengangguk mantap dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada dan memandang adik laki-lakinya itu dengan senyum mengembang.

“Kapan Noona datang?”

“Berikan aku satu pelukan dulu, setelah itu kau boleh bertanya padaku.” Ahra merentangkan kedua tangannya, membuat sang ibu tertawa pelan sedangkan Kyuhyun berdecak malas. Namun pria tampan itu tetap melangkah menghampiri Ahra yang langsung menyambut memeluknya.

“Walau kau sudah sebesar ini, tidak bertemu denganmu dalam waktu yang lama tetap saja membuatku merindukanmu.” Ahra mengusap surai rambut Kyuhyun, membuat pria itu tersenyum dalam pelukan Ahra. Walau kadang mereka sering kali bertengkar tak dapat di pungkiri ia juga merindukan kakak perempuannya yang hampir setahun tidak bertemu dengannya.

“Mana Hyung? Kau tidak bersamanya?” Kyuhyun melepaskan pelukannya, memutar kepalanya mencari keberadaan kakak iparnya itu.

“Hyungmu tidak ikut. Masih ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.” Ahra menuntun Kyuhyun ke arah sofa. Duduk berdampingan dengan tangan yang mengamit lengan Kyuhyun. Ny.Cho yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ikut duduk di sofa yang lain.

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau berlibur ke Swiss dengan pria-pria tampan itu? Aku kan bisa menyusulmu.”

“Itu liburan untuk pria-pria lajang Noona! kau pikir apa yang akan kau lakukan disana.” Kyuhyun menatap sang ibu “Sebenarnya ada apa ibu menyuruhku kesini?”

“Kakakmu tahu kau hari ini pulang dari Swiss, karena itu ibu memintamu datang.”

Kyuhyun sontak menoleh ke arah Ahra yang tengah menatapnya dengan alis terangkat. Pria itu tak mengerti bagaimana bisa Kakaknya mengetahui kepulangan mereka yang mendadak itu.

“Bagaimana kau tahu kami pulang hari ini?”

“Pagi tadi temanku melihat kalian di salah satu cafe di bandara dengan seorang gadis. Bahkan gadis itu masuk ke dalam mobilmu. Siapa dia?” Ahra menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan menyilangkan kedua kakinya.

“Apa dia pacarmu?” Seru Ny.Cho yang ikut menimpali.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Kau bisa mengenalkannya pada ayah dan ibu.”

Kyuhyun menghela nafas melihat dua wanita di depannya ini melihatnya dengan pandangan menuntut.

“Dia bukan pacarku. Gadis itu seorang teman yang kami temui di Swiss. Dia bersama kami di bandara karena akan berlibur di Korea. Gadis itu akan pergi ke suatu tempat yang searah denganku, apa salahnya jika aku mengantar?”

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mulai larut pada benda berwarna hitam itu. Berpura-pura tak peduli dengan tatapan penuh tanya dari ibu dan kaka perempuannya.

“Kenapa? Kalian tidak percaya?” Kyuhyun memandang ibu dan Noonanya. Ny.Cho hanya tersenyum, mengusap puncak kepala Kyuhyun sebelum berlalu ke arah dapur. Dari senyumnya, Kyuhyun tahu ibunya tidak percaya dengan penjelasannya. Sedangkan Ahra masih memandang Kyuhyun dengan mata memicing.

“Sejak kecil kau nyaris tidak pernah berbohong padaku. Bahkan jika kau berbohong sekecil apapun aku pasti mengetahuinya.”

Kyuhyun mendengus pelan, “Jadi maksud Noona aku sedang berbohong?”

“Heum. Terlihat jelas di matamu.” Ahra mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. “Kau mengenalku dengan sangat baik Cho Kyuhyun, jika ada sesuatu yang membuatku penasaran, aku akan menyelidikinya hingga aku mendapatkan jawaban yang ku inginkan.”

Ahra mengacak pelan rambut Kyuhyun sebelum beranjak menghampiri sang ibu di dapur. Meninggalkan Kyuhyun yang termangu dengan mata mengerjap cepat. Pria itu sangat tahu, tak akan ada kebohongan yang bisa terlewat dari mata tajam kakak perempuannya.

~o0o~

Hanna mengeluh sebal saat tidurnya terganggu karena perutnya terasa lapar. Gadis itu menggulingkan tubuhnya ke samping, melihat cahaya matahari yang tampak kuning kemerahan. Hari sudah petang. Hanna bangkit duduk, sesekali menguap dan mengucek kedua matanya.

Hingga beberapa detik berada di atas tempat tidur, akhirnya gadis bersurai coklat itu beranjak keluar kamar. Berjalan gontai menuruni anak tangga dan melangkah pasti ke arah dapur. Perutnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. Namun langkahnya terhenti, merasakan tak ada tanda-tanda keberadaan pria itu.

“Apa dia belum kembali?”

Gadis itu memutar kepalanya keseluruh sudut rumah. Hanna kembali berdecak kagum, menyadari rumah Kyuhyun itu begitu besar, mewah namun terasa kosong. Tentu saja. Selama ini hanya pria itu yang tinggal disini. Bukannya melanjutkan langkahnya ke arah dapur, Hanna justru berbalik ke ruang tamu dan duduk di salah satu sofa disana. Entah mengapa dirinya merasa sungkan mengambil makanan di dapur.

“Aku lapar~” Hanna menghela nafas sambil memegang perutnya yang kembali berbunyi.

Sesungguhnya bukan karena alasan merasa sungkan tapi sebenarnya Hanna tidak bisa menggunakan dapur itu karena dia tidak bisa masak. Lagipula Kyuhyun baru saja kembali dari Swiss, mungkinkah pria itu memiliki makanan siap santap? Tidak ada suara apapun dalam rumah membuat Hanna melamun.

Tiba-tiba saja dia teringat dengan baju-baju di lemari itu. Dirinya yakin seseorang pernah tinggal bersama Kyuhyun di rumah ini dan mungkin suatu hari wanita itu akan kembali. Hanna tersenyum, menyadari jika memang dirinya hanya menumpang disini. Gadis itu terkesiap saat remot televisi tiba-tiba berada di tangannya.

“Eo?” Hanna menegakan tubuhnya, melihat Kyuhyun sudah duduk di sampingnya. “Kapan kau datang?”

“Kau bisa menonton TV. Apa yang kau lakukan dengan melamun seperti itu?” Seru Kyuhyun tanpa menoleh ke arahnya. Pria itu terlihat tengah membalas sebuah pesan. Mengacuhkan Hanna yang menghela nafas panjang.

“Aku tidak melamun. Aku hanya lapar.” Hanna menunduk sambil memegangi perutnya. Maksud hati tidak ingin memberitahu pria itu, namun tak ada jalan lain selain mengatakan padanya jika ia tengah menahan lapar. Karena setelah ini Kyuhyun pasti akan memberikannya makanan atau memasak untuknya?

“Lapar?”

Hanna mengangguk.

“Ku rasa aku menyimpan banyak bahan makanan di kulkas. Kau bisa membuatnya sendiri.” Jelas Kyuhyun yang kini menyimpan ponselnya di atas meja dan memandang Hanna dengan heran.

“Kau tidak ada di rumah. Aku tidak mau menggunakan dapurmu saat kau tidak ada.” Hanna balik menatap Kyuhyun “Belum sehari aku disini, rasanya terlalu lancang menggunakan propertimu.”

Kyuhyun mendengus menatap Hanna yang terlihat kikuk saat dirinya menatap gadis itu. Tak pernah Hanna tahu Kyuhyun teramat peka pada kebohongan dan itu salah satu kelebihan yang di turunkan Ahra Noona padanya.

“Jangan jadikan sungkan sebagai alasan karena kau tidak bisa memasak.”

“A-apa?”

“Bersiaplah. Kita akan makan malam di luar.” Seru Kyuhyun sambil bangkit berdiri dan menenteng ponsel di tangan kanannya.

“Bersiap?” Hanna mendongak menatap Kyuhyun.

“Mandi dan berganti baju. Kau lupa berapa lama kau belum mengganti bajumu? Aku bahkan hampir mati menahan bau tidak enak sejak tadi.” Kyuhyun menggelengkan kepala sambil menutup hidungnya kemudian beranjak ke arah kamarnya di lantai 2.

Meninggalkan Hanna yang sontak mengendus sendiri bau tubuhnya dan memandang kesal Kyuhyun saat dirinya tak mencium bau aneh apapun.

“Bagaimana aku mandi dan mengganti baju saat aku tidak memiliki baju ganti?!” Teriak Hanna yang sontak menghentikan langkah Kyuhyun di ujung tangga. Pria itu menoleh ke arah Hanna yang berada di bawah.

“Kau gunakan baju dalam lemari kamarmu.”

Hanna tertegun saat Kyuhyun menyinggung tentang baju yang sempat membuatnya bingung itu. Pria itu bahkan menyuruhnya menggunakan baju-baju tersebut. Hanna memandang tempat dimana Kyuhyun berdiri yang kini kosong karena pria itu sudah beranjak ke arah kamarnya.

~o0o~

Entah sejak kapan kegiatan menyetirnya terusik. Mungkin sejak mereka mulai meninggalkan rumah. Hanna bertingkah aneh dan membuat Kyuhyun mengernyit heran. Gadis itu tengah memperhatikan baju yang ia pakai sendiri.

Sweater berwarna peach dengan Skinny Jeans berwarna gelap. Hanna terlihat meraba bagian lengannya, kemudian turun ke arah pinggang dan meraba jeans yang ia kenakan. Raut wajahnya tampak bingung dengan sesekali menghela nafas dan berdecak.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau bertingkah aneh sejak tadi.” Seru Kyuhyun yang mulai tak sabaran melihat tingkah gadis di sebelahnya. Pria itu sesekali mencuri pandang ke arah Hanna karena harus konsentrasi menyetir.

“Aku merasa baju ini pas sekali untukku.” Hanna menoleh ke arah Kyuhyun lalu kembali melakukan hal yang sama.

“Lalu?”

“Kenapa?” Hanna memandang Kyuhyun penuh arti.

“Apa?” Kyuhyun menoleh ke arah Hanna lalu kembali melihat ke depan “Aku bertanya kau bertanya lagi.”

Hanna berdesis sebal. “Kenapa baju ini bisa pas sekali denganku? Kau membelikan baju ini untukku?”

“Kau berpikir aku membelikan baju itu untukmu?”

Gadis itu memandang Kyuhyun lekat kemudian mengendikan bahunya, “Mana ku tahu. Aku bertanya kau bertanya lagi.”

Kyuhyun berdecak kesal saat Hanna membalikan kata-katanya. Pria itu tak langsung menjawab. Kyuhyun asyik di belakang kemudi, mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di restoran salah satu temannya. Dari sudut matanya, Kyuhyun melihat Hanna tengah memperhatikan pemandang jalan kota Seoul. Sudut bibirnya terangkat melihat Hanna mengerucutkan bibirnya dan terlihat jelas wajahnya kesal.

“Baju itu milik Jiwon. Adik perempuannya Siwon.”

“Mwo?” Hanna sontak menoleh. “Adik perempuannya Siwon?”

“Saat bertengkar dengan orang tuanya, gadis itu pergi dan meminta untuk tinggal di rumahku sementara.” Kyuhyun tersenyum tipis mengingat gadis bernama Choi Jiwon yang begitu menyukainya.

“Lalu kenapa kau menyuruhku mengenakannya? Bagaimana jika Jiwon itu tahu?”

“Jiwon sedang sekolah di luar negri. Lagipula…” Kyuhyun memandang Hanna dari atas hingga bawah lalu kembali menatap depan. “Ukuran tubuh kalian sama jadi apa salahnya jika kau pakai. Bajumu sudah berbau tidak enak, kau tidak menyadarinya?”

“Pembohong.” Hanna memicingkan matanya. “Aku tidak mencium bau apapun dari bajuku.”

“Tentu saja. Kadang seseorang tidak bisa mencium bau badannya sendiri.” Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan sebuah retoran mewah. Pria itu membuka setbelt kemudian keluar dari dalam mobil.

Hanna membelalakan kedua matanya saat lagi dan lagi, Kyuhyun meninggalnya setelah mengucapkan kalimat yang membuatnya tampak bodoh. Dengan setengah kasar Hanna keluar dari mobil, mengejar Kyuhyun yang berjalan jauh di depannya.

“Selamat datang.”

Kyuhyun dan Hanna mengangguk pelan saat salah satu pelayan menyapa mereka di dekat pintu. Mereka lalu beranjak ke arah salah satu meja kosong. Hanna terus mengitari matanya pada setiap sudut restoran. Mewah dan terasa nyaman. Gadis itu menganggukan kepalanya, melihat hampir setiap meja penuh oleh para pengunjung. Ia yakin restaurant ini menyediakan berbagai macam masakan Korea terlezat.

“Ada yang ingin anda pesan?” Seorang pelayan wanita datang dan memberikan dua buku menu.

“Aku ingin…”

“Dua menu special.” Seru Kyuhyun memotong ucapan Hanna yang kini menatapnya dengan datar. Menyerahkan kembali buku menunya pada sang pelayan lalu sibuk dengan ponselnya.

“Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku.” Desis Hanna sambil mempoutkan bibirnya. Matanya berubah sendu, menatap salah satu menu yang sangat menarik perhatiannya.

“Samgyetang…” Hanna bergumam sambil meraba gambar sup ayam itu lalu dengan setengah hati menyerahkan buku menunya pada sang pelayan wanita tadi. Walau hanya sebuah gumaman, tapi mampu membuat Kyuhyun menghentikan sejenak aktivitasnya dan memandang Hanna dalam diam.

“Kau memesan tanpa menanyakannya dulu padaku. Kau yakin apa yang kau pesan akan cocok untukku?”

“Setiap menu spesial selalu di sukai semua orang.” Sahut Kyuhyun tanpa menoleh ke arah Hanna. Pria itu teramat sibuk membalas pesan sang Noona yang kembali menanyakan priahal seorang gadis yang bersamanya di bandara atau Hanna yang Noonanya maksud.

“Jadi kau pikir aku akan menyukai menu spesial disini? Aku bahkan tidak tahu apa itu.” Hanna menyandarkan punggungnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Padahal ia ingin sekali makan Samgyetang. Makanan favorit ibunya.

Selama beberapa menit tak ada percakapan apapun dari keduanya. Kyuhyun masih sibuk membalas pesan Ahra, walau sesekali ia masih mencuri pandang ke arah Hanna. Gadis itu pun tengah asyik melihat beberapa pengunjung yang terlihat nikmat menyantap Jajangmyeon ataupun Samgyetang.

“Annyeong haseyo, Kyuhyun Hyung.”

Keduanya serentak menoleh pada pria muda yang berdiri di dekat meja mereka dengan pelayan wanita yang membawa pesanan mereka tadi. Hanna mengerutkan alisnya, tampak sangat asing dengan pria tersebut. Sedangkan Kyuhyun tersenyum lebar walau wajahnya juga tampak terkejut.

“Songjin? Apa yang di lakukan adik pemilik restoran disini? Kau bekerja paruh waktu?”

Songjin atau Lee Songjin tertawa kecil saat sahabat Hyungnya ini menggodanya yang memang jarang terlihat di restoran milik Sungmin Hyung-kakaknya.

“Aku menggantikan Sungmin Hyung yang tidak bisa datang karena sibuk mengurusi restoran cabang di Jeju.”

Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum.

“Ku pikir Hyung mengajak Jiwon seperti biasa.”

Kyuhyun melirikan matanya ke arah Hanna saat Songjin mengisyaratkan siapa gadis yang datang bersamanya.

“Dia temanku. Jiwon sedang sekolah di luar negri kan?”

Songjin tersenyum malu seraya ingatannya kembali mengingat jika Jiwon memang sedang sekolah di luar negri. Pria itu kembali tersenyum dengan sedikit menundukan kepalanya menyapa Hanna.

“Keurom.” Songjin mengisyaratkan pelayan wanita tadi untuk meletakan pesanan Kyuhyun di atas meja. “Aku akan kembali ke meja kasir. Selamat menikamati..”

Kyuhyun dan Hanna hanya menganggukan kepalanya. Kyuhyun langsung melahap Jajangmyeon yang memang makanan favoritnya sejak dulu, sedangkan Hanna memandang pria di depannya ini dengan begitu banyak pertanyaan.

“Kau pasti memiliki hubungan spesial dengan adik perempuan Siwon.”

Hanna berdecak sebal saat ucapannya tak di gubris Kyuhyun. Pria itu tetap saja lahap dengan jajangmyeonnya.

“Dari yang ku dengar tadi, kau sering mengajak Jiwon pergi ke restoran ini. Kalian berkencan?”

Kyuhyun menghentikan makannya seraya kata ‘berkencan’ muncul di udara. Mata hitamnya memandang Hanna yang terlihat begitu jelas menyimpan banyak pertanyaan tentang dirinya dan Jiwon. Dan sepertinya gadis itu tak begitu minat dengan hidangan di depannya.

“Aku juga mengajakmu. Apa kita memiliki hubungan special?” Pertanyaan Kyuhyun membuat Hanna mengerjapkan matanya dengan cepat. Pria itu mengendikan kepalanya ke arah jajangmyeon milik Hanna “Kau makan saja jajangmyeonmu.”

Hanna menghela nafas saat ia gagal mengorek hubungan antara Kyuhyun dengan Jiwon. Ia lalu memandang semangkuk Jajangmyeon yang tampak lezat. Namun entah mengapa ia tak berselera.

Kevin, pria yang memutuskannya di hari terakhirnya di Kanada itu sangat menyukai Jajangmyeon. Saat masih bersama, mereka berdua selalu menyantap jajanmyeon buatan sang ibu. Mungkin itu alasan Hanna tidak ingin menyentuh jajangmyeonnya. Lagi pula ia masih terbayang-bayang Samgyetang.

“Aku tidak suka Jajangmyeon.”

Kyuhyun mengakhiri santapannya lalu memandang Hanna dengan wajah datar dan tatapannya yang dingin.

“Tapi itu makanan kesukaanku.”

Hanna mengerutkan kedua alisnya. Sesekali gadis berambut coklat itu juga menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Wajahnya tampak konyol memikirkan ucapan Kyuhyun barusan. Adakah orang yang menyebutkan makanan kesukaannya dengan wajah datar dan tatapannya yang dingin?

“Kau cicipi dulu. Aku yakin kau akan suka. Restoran ini menyediakan jajangmyeon terenak di Seoul.” Seru Kyuhyun yang kembali mengendikan kepalanya pada mie kacang hitam di atas meja lalu mengarahkan matanya pada Hanna.

Gadis itu mengambil sumpit dan mulai mengaduk satu mangkuk jajangmyeon yang langsung menguarkan aroma sedap dan membuat perutnya kembali berbunyi. Hanna menjumput sedikit jajangmyeonnya dan mengunyahnya dengan ritme pelan. Semua indra perasanya tak dapat menolak rasa jajangmyeon yang memang sangat enak. Namun kenangan Kevin juga ikut menyeruak bersamanya.

Hanna sekuat tenaga menelan makannanya dengan kepalanya yang di penuhi kenangan bersama Kevin. Kepalanya terangkat, memandang Kyuhyun yang lagi, kembali sibuk dengan ponselnya. Tak lama bibirnya merekah, tersenyum sambil menyantap jajangmyeonnya dengan lahap. Kini ia akan makan dengan memikirkan Kyuhyun yang juga menyukai jajangmyeon.

 

 

 

-TOBECONTINUED-

 

 

Disclaimer:

Annyeong..ada yg inget dengan ff ini? Karena terlalu sibuk dengan ff Kyuhyun-Jihyun jadi lupa sama ff yang satu ini. Mungkin sebagian temen-temen bingung kenapa tiba-tiba sudah part 5. Alangkah baiknya jika temen-temen mengulang dari part pertama agar bisa merasakan feel-nya. Baiklah. Selamat membaca, semoga tetap suka dan sorry for typo ^^v

 

 

4 Comments (+add yours?)

  1. aryanahchoi
    Mar 18, 2017 @ 00:56:25

    cieeee hanna ikut kyu ke korea duhhhhh seandainya gue juga nyasar ke kamarnya siwon jadi apa gue???

    Reply

  2. Ifah
    Mar 18, 2017 @ 18:13:31

    Beruntung banget Hanna bisa tinggal sama Kyuhyun

    Reply

  3. Bai Ping Ting
    Mar 19, 2017 @ 10:37:11

    Beruntung yaaaaa hanna bisa tinggal bareng Kyuhyun……………wkwkkkkkkkkkk…….ngak lama tuhhh bakal ketahuan mereka kalau tinggal bersama sama orang tua dan kakaknya Kyuhyun…………..

    Reply

  4. lieyabunda
    Mar 20, 2017 @ 03:51:24

    kapan benih2 cinta mereka akan muncul,,,,

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: