After Yesterday [1/6]

After Yesterday

-Season 1-

Part 1

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

            Gadis itu mengetuk-ngetukan sepatu kets berwarna biru miliknya dengan tempo cepat disertai ekspresi serius. Dengan mata terpejam, berusaha meredam emosinya akibat masalah yang baru saja ia alami berkat kelakuan sepupunya yang merepotkan.

15 menit yang lalu, ia terpaksa harus datang ke kantor polisi secepatnya karena mendapat laporan bahwa sepupunya yang kedapatan melakukan perkara kecil namun sangat tidak bertanggung jawab. Cho Kyuhyun—sepupunya itu kedapatan buang air kecil dipinggir jalan dengan kondisi setengah mabuk. Dan dengan kurang ajarnya, pria yang seumuran dengannya itu meminta bantuannya.

Cho Kyuhyun akhirnya bebas setelah membayar denda dan membuat surat pernyataan yang harus ia tulis dengan tangannya sendiri. Kini satu masalah lagi yang harus ia hadapi, menerima amukan dari sepupunya, Han Cheon Neul. Mereka berdua masih berdiri berhadap-hadapan di depan kantor polisi. Seketika, suasana ditempat itu terasa begitu mencekam bagi pria berusia 23 tahun ini.

“Cho Kyuhyun, kau tau? Karena ulahmu aku terpaksa meminta rekan kerjaku yang lain untuk menggantikan jadwal operasiku” ucap gadis itu dengan nada rendah membuat Kyuhyun bergidik ketakutan. “A—aku minta maaf Cheonie” cicit Kyuhyun. Pria itu sangat mengenal karakter sepupunya ini, semakin rendah nada suara gadis ini, maka semakin besar pula emosi yang tengah ditahannya.

“Kau tahu? kau melakukan banyak kesalahan dalam waktu kurang dari satu jam” Kyuhyun mengangguk, ia tahu bahwa ia melakukan banyak kesalahan saat ini, namun ia berusaha menyuarakan pembelaannya. “Yah, aku tahu. Tapi—aku sangat kebelet tadi. Dan juga—aku sedang memiliki banyak masalah akhir-akhir ini” ucap Kyuhyun.

“Kau tau bahwa itu bukan alasan yang bagus untuk dijadikan pembelaan Cho! Jadi, sebaiknya kau tunggu saja hukuman dariku!” ucap gadis itu lalu kembali berjalan menuju tempat mobilnya diparkir, meninggalkan Kyuhyun dengan segudang rasa cemas. Han Cheon Neul, tidak pernah main-main dengan perkataannya.

***

Hangang International Medical Center, Seoul

Dengan asal-asalan Cheon Neul memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk para pekerja di rumah sakit itu. Setelah menyelesaikan masalah yang dibuat Kyuhyun tadi, tiba-tiba saja ia mendapatkan telpon dari rumah sakit untuk menyuruhnya segera kembali ke rumah sakit.

Dengan langkah cepat ia masuk ke Unit Gawat Darurat dan mendapati begitu banyak pasien baru. Yah, dugaannya sudah pasti benar, pasti baru saja terjadi kecelakaan di suatu tempat.

“Dokter Han!” panggil seorang wanita berseragam perawat. Cheon Neul menoleh ke arahnya tanpa bersuara. “Anda punya jadwal operasi darurat sekarang” ucap wanita itu dengan wajah serius. Tanpa berfikir dua kali, Cheon Neul mengangguk lalu berucap “Apa yang terjadi?”

“Baru saja terjadi kecelakaan beruntun di ruas jalan tol, ada dua korban kritis dan harus di operasi sekarang juga. Dokter Song tengah menangani salah satu pasien” wanita itu berhenti bicara sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam.

“Pasien yang akan anda hadapi saat ini mengalami luka pada organ vital akibat patah tulang rusuk” lanjut wanita itu. Kali ini Cheon Neul tak memberikan respon apapun untuk menanggapi ucapan wanita itu. Dengan segera ia bersiap-siap untuk menjalankan operasi. “Dua menit, aku akan segera kesana Perawat Kim” ucapnya, wanita yang dipanggil dengan sebutan Perawat Kim itu mengangguk lalu mendahului Cheon Neul masuk ke dalam ruang operasi.

***

“Kelihatannya kau sibuk sekali” ucap pria bertubuh tinggi dengan wajah bak seorang model. Cheon Neul baru saja selesai melakukan operasi darurat. “Ada insiden kecelakaan tadi, ada apa kau kemari?” tanya Cheon Neul seraya melepaskan maskernya. “Kyuhyun baru saja menghubungiku bahwa ia melakukan sedikit kekacauan” ucap pria itu lagi. “Kalau begitu seharusnya kau pergi melihat Kyuhyun, bukan aku” balas Cheon Neul seraya berjalan menuju tempat duduk. “Aku kemari karna kau adalah korban dari kebodohannya. Ia lebih tua tujuh bulan darimu, tapi kau bertingkah seperti Noona nya” cibir pria itu seraya mendengus keras.

“Kau cemburu padanya, karena aku lebih perhatian padanya? Aigoo~” ucap Cheon Neul mengejek. “Bisakah kau sedikit sopan padaku? Aku ini Oppa mu, Choi Siwon!” ucap pria itu membanggakan dirinya. Cheon Neul hanya tersenyum tipis mendengarnya, yah—apapun yang terjadi, pria disampingnya ini tetaplah kakak kandungnya. “Kita beda marga” balas Cheon Neul tersenyum. “Tapi itu bukan salahmu” ucap Siwon dengan nada rendah. Suasana keakraban itu berganti menjadi suasana kaku akibat topik pembicaraan mereka sendiri. “Ah, kenapa kita membicarakan hal sensitif seperti itu? Sudahlah, tidak usah dibahas lagi” ucap Cheon Neul tersenyum tegar, gadis itu benar-benar menampilkan senyum yang sangat tulus. “Choi Jihyun, Han Cheon Neul, Angela, apapun namamu itu—kau tetap adik kesayanganku. Kau tetap pemaaf” ucap Siwon seraya menepuk bahu gadis itu.

***

Cheon Neul Apartemen

Cho Kyuhyun duduk dihadapan Cheon Neul dengan kepala tertekuk. Ia sama sekali takut dengan wajah datar sepupunya ini. Ia sadar betul, bahwa masalah itu belum berakhir.

“Cho, jangan pasang wajah memelas dihadapanku” ucap Cheon Neul berdehem keras. “Oh ayolah Cheonie, kau tidak ingin memaafkan aku hm? Bukankah kita ini partner kerja yang kompak, seharusnya kau mengerti dengan kondisiku~” rengek Kyuhyun. “Jadi? Aku harus mengerti dengan kondisimu yang dengan tidak tahu malu, tertangkap saat buang air kecil sembarangan, kau tidak memikirkan pasien-pasienku huh?!” marah Cheon Neul. Kyuhyun cukup tersentak kaget. Bagi Kyuhyun. Memancing kemarahan sepupunya ini sama saja dengan mencoba bunuh diri.

“Jangan diulangi lagi! Kalau kau masih butuh kemampuanku sepupu”

***

Bern, Swiss

“Bagaimana hubunganmu dengan In Hyun? Sudah setahun kalian bertunangan, apa kalian belum memikirkan rencana pernikahan?” tanya pria parubaya berusia 50 tahunan itu pada seorang pria muda yang duduk di hadapannya. “Hubungan kami baik-baik saja Abeoji, tapi kami belum berencana menikah. Kesehatan In Hyun belum pulih sepenuhnya, ia masih harus banyak istirahat” jawab pria itu. Pria tua itu mengangguk mengerti dengan maksud putranya.

“Lalu, kapan kau akan kembali ke Korea? Ini sudah 6 tahun Donghae. Sampai kapan aku terus mengunjungimu disini? Aku sudah terlalu tua untuk berpergian jauh, aku harap kau segera kembali dan menikah dengan In Hyun di sana” ucap pria tua itu lagi. Pria bernama Donghae atau biasanya di panggil Aiden itu terdiam sejenak. Ia memang tidak berniat untuk kembali ke sana. “Maaf Abeoji, ku rasa aku belum siap untuk kembali” ucapnya setelah diam beberapa saat yang lalu.

Pria tua itu menghela nafas berat. Putranya memang penurut, tapi sangat sulit untuk di ajak pulang ke tanah airnya. Ia tidak tahu atas dasar apa putranya ini menolak untuk kembali Korea. Putranya terlalu pintar untuk menyimpan masalahnya sendiri. “Baiklah, terserah kau saja. Aku harus segera kembali ke Korea besok. Aku tidak mungkin meninggalkan adikmu terlalu lama. Kau tahu sendiri bukan, bagaimana nakalnya dia?” ucap pria itu. Aiden mengangguk dua kali lalu berucap “Sampaikan salamku pada Hae Jin”

***

Hangang International Medical Center, Seoul

            Cheon Neul melangkah terburu-buru menuju salah satu ruang rawat pasien. Baru saja ia mendapatkan telpon dari rumah sakit untuk segera datang. “Kondisi pasien Kwang Jin semakin buruk Dok, baru saja ia mengalami kejang-kejang” ucap Perawat Yoo seraya mengikuti langkah cepat Cheon Neul. “Apa hasil CT Scan nya sudah keluar?” tanya Cheon Neul seraya membuka pintu ruang rawat pasien. “Sudah, ini hasilnya” ucap Perawat itu lagi seraya menyerahkan amplop besar berwarna putih yang sejak tadi di pegangnya. Cheon Neul berhenti di depan sebuah tempat tidur pasien seraya menerima amplop tersebut dan membukanya. Untuk beberapa saat ia diam dan mencermati isi dari amplop tersebut lalu memeriksa keadaan sang pasien dengan wajah berkerut. “Kita tidak punya banyak waktu lagi, siapkan ruang operasi segera. Ada kerusakan parah pada Jantungnya” ucapnya dengan serius diikuti anggukan patuh para Perawat yang ada disitu.

“Siapa yang menangani pasien ini sebelumnya?” tanya Cheon Neul serius, membuat para suster yang tak sengaja menatap tatapan tajam matanya itu bergidik ngeri. Cheon Neul akan berubah menjadi menakutkan dikondisi seperti ini. “D—Dokter Im yang menanganinya” Cheon Neul dengan cepat mengangguk, masih dengan wajah serius itu memerintahkan perawat itu untuk memanggil Dokter Im. “Katakan pada Dokter Im untuk segera bersiap-siap masuk ke ruang operasi sekarang juga”

***

Dengan wajah datar Cheon Neul menatap gerak-gerik Dokter Im yang tengah duduk santai diruang kerjanya setelah operasi telah selesai.

“Kau tau apa kesalahanmu?” ucap Cheon Neul dengan nada rendah. Nampak wanita dengan dandanan tebal itu menatap cuek Cheon Neul seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan apapun.

“Apa salahku? Memangnya apa?” ucapnya ringan, membuat Cheon Neul mendadak emosi.

“Melihat caramu menangani pasien, aku rasa kau sudah keliru mengambil profesi sebagai seorang Dokter, Im Yoon Hee-ssi” ucap Cheon Neul berusaha menahan ledakan emosinya saat melihat wanita dihadapannya ini tak begitu mempedulikan ucapannya.

“Apa hak mu untuk menilaiku? Dengar baik-baik Dokter Han, kau itu bukan Dokter yang hebat. Kau hanya Dokter biasa, yang mungkin beberapa kali beruntung saat berhasil menangani pasien. Jadi kau tidak usah membuang-buang waktumu dengan percuma untuk mengurusi ku” ucap Im Yoon Hee seraya mengebaskan rambut panjang bergelombang miliknya dengan angkuh.

Dengan kasar Cheon Neul menggebrak meja kerjanya, sejenak Im Yoon Hee terkejut mendengar suara keras akibat gebrakan meja yang dilakukan Cheon Neul.

“Apa hak ku? bukan Dokter hebat dan aku hanya beruntung? Membuang-buang waktu katamu? APA KAU PUNYA OTAK HUH?! Dimana rasa kemanusiaan mu? Apa kau yakin kau seorang Dokter?! Kau membiarkan pasienmu sekarat begitu saja, dan kau bilang apa hak ku?! aku punya hak, karena aku seorang Dokter yang berkewajiban menangani setiap pasien dengan baik. Dan kau baru saja melanggar kode etika. Aku tidak akan membiarkan begitu saja Dokter Im. Aku pastikan bahwa kau akan mendapatkan ganjaran yang sudah seharusnya kau terima. Kau boleh keluar dari ruanganku sekarang” ucap Cheon Neul dengan ekspresi garang.

Ia tak membiarkan wanita dihadapannya ini berkutik sedikit saja. Mendengar ultimatum yang baru saja keluar dari bibir Cheon Neul membuatnya bergerak gelisah. Yah, tentu saja ia gelisah. Siapa yang tidak akan gelisah mendengar mantra sihir Cheon Neul yang beracun. Ini adalah akibat fatal karena tidak mendengarkan peringatan dari seorang Han Cheon Neul.

***

Ucapan Cheon Neul memang benar-benar terjadi. Tidak sampai satu jam, Im Yoon Hee benar-benar mendapat teguran keras dari Ketua Tim mereka dan juga mendapat hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya. Cheon Neul benar-benar membuktikan ucapannya. Dan gosip itu dengan cepat beredar luas dikalangan para Dokter dan Perawat di rumah sakit.

Cheon Neul sama sekali tak mempedulikan gosip-gosip itu. Bahkan sudah beberapa kali ia tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Pasalnya, Dokter Im Yoon Hee yang tengah bermasalah dengannya adalah anak dari salah satu pemegang saham rumah sakit ini. Tentu saja ini adalah sebuah kehebohan besar yang membuat orang-orang takjub dengan keberanian Cheon Neul. Wanita yang tidak pernah peduli resiko yang harus ia hadapi.

Karena itu, banyak Dokter pria yang terpesona dengan sikap berani yang dimilikinya. Mereka bahkan membuat fanclub untuk menunjukan keterkaguman mereka terhadapa Dokter cantik ini.

Cheon Neul menikmati Es Krim rasa cokelat yang baru saja ia beli di kantin rumah sakit. Pikirannya sudah kembali jernih setelah semua masalahnya beres. Ia tidak perlu memusingkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin saja akan terjadi karena ia tengah berurusan dengan orang bodoh berprofesi Dokter yang kebetulan adalah anak dari salah satu pemegang saham di rumah sakit tempatnya bekerja.

Jika Tuan Im itu pintar, sudah pasti ia tahu memilah yang mana yang masuk dalam kategori bisnis dan kategori tata peraturan etika yang sudah sewajibnya dilakukan. Dan sudah seharusnya ia malu karena memiliki seorang putri berprofesi sebagai seorang Dokter yang tidak becus di rumah sakit tempat ia menanam sahamnya. Itu adalah hasil dari pemikiran versi Cheon Neul.

***

Kona Beans Cafe, Seoul

“Tidak bisa begitu!” ucap Cheon Neul tidak terima. Ia bahkan belum sampai semenit berada di cafe ini, namun sudah membuatnya kesal. Pasalnya pria yang duduk dihadapannya ini diperintahkan oleh seseorang untuk memberi tahukan sesuatu yang tentu saja sangat ditentang Cheon Neul.

“Max, kita ini memang adalah saudara tiri. Aku mengakui hal itu dan tidak berniat untuk melakukan aksi protes. But—Max! Aku sama sekali tidak berniat mengunjungi Ibuku untuk saat ini hingga waktu yang tidak ditentukan. Kau tahu sendiri alasannya” ucap Cheon Neul. Pria berwajah Asia bernama Max ini hanya bisa tersenyum tipis melihat cerewetnya saudara tirinya ini saat di ajak ke Swiss. Ini memang selalu terjadi, jika ia datang dan membicarakan perihal sensitif seperti ini.

“Biar ku perjelas, kau mengakuinya, tapi kau masih belum bisa menerima kehadiran Dad ku” ucap Max. “Oh Come on Max! Jika setiap kedatanganmu kemari hanya untuk menyeretku ke tempat tinggal Ayahmu serta saudarimu itu, sebaiknya kau menyerah saja. I don’t care about my Mom and her husband or my Dad and his wife. I just care about my self. Only my self, ok?” ucap Cheon Neul.

Max hanya mengangguk lalu membalas ucapan Cheon Neul. “Ayahku mungkin akan kecewa jika kau tidak datang. Ia sangat berharap sekali kau bisa datang ke sana, setidaknya hanya untuk mengunjungi Adik ku, ia masih dalam kondisi yang tidak sehat sekarang” ucap Max membuat Cheon Neul mendengus.

“Aku cukup bersimpati dengan kondisi adikmu yang tidak kunjung membaik itu. Tapi aku sama sekali tidak berniat untuk berhubungan dengan kalian. Kurasa tugasmu sudah selesai, sebaiknya kau pergi saja, jangan pernah menggangguku. Ok my stepbrother?” ucap Cheon Neul. Max hanya mengangguk seraya mengangkat kedua tangannya menyerah.

“Ok, tenang saja. Aku pastikan untuk tidak mengganggumu lagi dilain waktu. But, jika kau berubah pikiran—ini alamat tempat tinggal kami di Bern” ucap Max seraya memberikan secarik kertas berisi alamat tempat tinggal sebelum ia beranjak pergi dari cafe tersebut.

***

“Max? Maksudmu, Max Shim? Saudara tirimu?” ucap Kyuhyun begitu mereka memulai pembicaraan mereka. Setelah Max pergi, Cheon Neul menghubungi Kyuhyun untuk segera datang ke cafe tersebut.

“Masih pada topik yang sama, ia memintaku untuk pergi ke Swiss. Banyak sekali alasan orang-orang itu agar aku mau menemui mereka disana” ucap Cheon Neul. Kyuhyun nampak tak begitu memerhatikan ucapan Cheon Neul, ia hanya mengaduk-aduk vanila latte miliknya sambil memikirkan sesuatu.

“Kyuhyun?” Pria itu tersadar dari lamunannya dengan sedikit kikuk.

“Ada masalah?” selidik Cheon Neul. Dengan ragu Kyuhyun menganggukan kepalanya, dalam diam ia berfikir apa sebaiknya ia laporkan saja atau tidak.

“Sebenarnya, kita baru saja mendapat kasus baru” ucap Kyuhyun setelah hatinya memutuskan untuk mengatakannya saja.

“Tapi aku ragu kau akan tertarik dengan kasus ini” lanjutnya.

“Kali ini kasus macam apa?” tanya Cheon Neul nampak penasaran. Dengan berat hati Kyuhyun berusaha meyakinkan bahwa ini adalah pilihan terbaik. “Sepertinya, kau harus ikut dengan Max ke Swiss” ucap Kyuhyun hati-hati.

“What?”

***

“Namanya Shim In Hyun, kau sudah pasti mengenalnya bukan? Ia sedang sakit keras sekarang, dan ia memerlukan tim medis yang sesungguhnya” ucap Kyuhyun mulai mempresentasikan hasil penyelidikan kecil-kecilan miliknya di dalam ruangan penuh perabotan IT canggih yang mereka jadikan ruang kerja rahasia milik mereka.

“Maksudmu, Max datang kemari dengan alibi persaudaraan. Tapi maksud tersembunyinya adalah meminta pertolongan. Begitu?” tebak Cheon Neul. Kyuhyun menjentikan jarinya, membenarkan tebakan Cheon Neul. “Benar sekali. Aku baru menyadarinya saat menerima sebuah sandi yang ternyata berisi sebuah pesan. Seseorang mengirimnya secara antonim dan sangat memusingkan. Ternyata orang itu Max” ucap Kyuhyun mendengus sebal saat menyebutkan nama si pengirim pesan gila itu.

“Mendiang orang tua Tuan Shim mewariskan seluruh aset keluarga mereka menggunakan nama Shim In Hyun sejak gadis itu berusia 10 tahun, tepat setahun sesudah wafatnya Ayah dari Tuan Shim. Kau bisa lihat catatan medisnya, ia mulai mengidap berbagai macam penyakit semenjak ia berusia 11 tahun, dan aku mencurigai salah satu nama penyakit aneh ini, H4. Tidak dijelaskan seperti apa penyakit ini dan menurutku mana ada penyakit dengan nama seperti itu?” jelas Kyuhyun.

“Jadi, apa kau berniat mengambil kasus ini? Max sudah tahu tentang Other Job Secret milikmu. Karena itu ia meminta bantuan” lanjutnya. “Ia memberikan kebebasan untukmu memulai dari mana, karena ia tahu kau punya taktik gerilya yang hanya kau sendiri yang tahu”

“Apa bayaranku?” tanya Cheon Neul. Kyuhyun nampak mengangkat bahu lalu berjalan mendekati Cheon Neul. “Entahlah, tapi katanya ia akan memberikan apa saja untukmu” ucap Kyuhyun.

“Baiklah, kalau begitu pesankan aku tiket ke Swiss seminggu setelah keberangkatan Max. Aku tidak ingin ada yang tahu soal ini. Juga—kumpulkan beberapa informasi medis gadis itu”

***

“Namanya Hanna Kim, Keturunan Korea. Ayahnya menikah dengan seorang Dokter dari Jerman dan memutuskan tinggal di Swiss, karena itu ia lahir di Swiss. Usianya 25 tahun dan ia adalah seorang Dokter Anestesi yang hebat. Awalnya Ibunya yang menjadi Dokter keluarga Shim, tapi Ibunya meninggal 2 tahun yang lalu, dan akhirnya ia yang melanjutkan tugas Ibunya itu. Ia berteman baik dengan Shim In Hyun” jelas Kyuhyun seraya memaparkan data tentang foto seorang gadis bernama Hanna Kim.

“Datanya tidak banyak, dan aku tidak terlalu yakin jika itu akan membantu. Tapi sebaiknya kau pelajari dulu sebelum kau berangkat minggu depan. Max sudah berangkat kemarin sore” ucap Kyuhyun seraya menyerahkan beberapa map pada Cheon Neul. “Aku akan mengurus masalah cutimu, kau tidak perlu khawatir soal itu. dan—untuk jaga-jaga, kau harus mengetahui seluk beluk tempat tinggalmu nanti dan beberapa tempat lainnya yang mungkin akan kau datangi” lanjutnya seraya menyerahkan sebuah flash.

“Aku rasa ada banyak yang tidak beres dengan sistem keamanan dan data di tempat itu. Sebaiknya kau lebih berhati-hati, data yang masuk bukan data yang sebenarnya. Kau tahu? antonim. Percayalah, beberapa orang menggunakan isyarat itu. Teman dan lawan, kau akan cukup kesulitan membedakannya. Karena itu kau harus berhati-hati”

“Kau cerewet sekali, iya-iya aku paham Cho! kau tidak usah mengkhawatirkan soal itu” ucap Cheon Neul malas mendengar penuturan bertele-tele dari Kyuhyun. “Kau hanya perlu mengatakan disana tidak ada tempat aman dan orang yang bisa dipercayai” lanjut gadis itu.

***

Incheon International Airport

“Kau tahu, ini adalah misi yang berbahaya. Jangan sembarang makan, dan jangan sembarang minum” ucap Kyuhyun mengingatkan. Cheon Neul hanya memutar bola matanya dengan muak. Sudah berkali-kali pria itu mengatakan hal yang sama.

“Berhentilah bicara Cho! aku ingat, tenang saja” ucap Cheon Neul. Kyuhyun dengan terang-terangan menunjukan ekspresi khawatirnya. “Aku benar-benar khawatir, tidak biasanya aku seperti ini. Aku merasa—semua orang disana adalah pembunuh berdarah dingin. Jangan percaya siapapun Cheon Neul-ah” ucap Kyuhyun gelisah. Cheon Neul tersenyum tipis lalu berucap “Kau sudah mengatakannya ratusan kali, aku pergi dulu” ucap Cheon Neul seraya menepuk bahu sepupunya itu sejenak, lalu berjalan masuk ke dalam pintu keberangkatan.

Setibanya disana, maka permainan baru akan dimulai.

***

Shim Family Mansion, Bern, Swiss

Dengan terburu-buru pria itu melangkah masuk ke dalam sebuah kamar mewah yang telah di penuhi dengan banyak peralatan medis. Matanya menangkap objek seorang wanita dengan jas putih khas seorang Dokter tengah memeriksa kondisi seorang gadis yang notabene adalah Tunangannya tengah terbaring lemah di ranjangnya.

“Hanna, bagaimana kondisinya?” tanya pria itu sesaat wanita bernama Hanna itu melihat kedatangannya. “Aku tidak bisa mengatakan kondisinya baik-baik saja atau tidak, kau pasti mengerti maksudku Aiden. Keadaannya tidak selalu stabil” ucap Hanna. Aiden mengangguk paham, ia memandangi Tunangannya yang tengah beristirahat itu dengan sorot khawatir. “Tolong jaga ia dengan baik, aku percayakan semuanya padamu Hanna” ucap pria itu lagi. Hanna hanya mengangguk menyanggupi permintaan Aiden. Ada tatapan berbeda yang terpancar dari sorot mata wanita itu saat memandangi wajah tampan Aiden yang tengah khawatir.

“Tenang saja, kau bisa memercayakan semuanya padaku Aiden. I’m promise” ucapnya.

***

                  Max baru saja tiba di Mansion saat hari menjelang malam. Dengan terburu-buru ia memasuki kamar adiknya dan mendapati Donghae sedang duduk bercengkrama dengan In Hyun.

Dengan tatapan sendu ia memandangi kondisi menyedihkan adiknya itu. Wajah pucat yang sangat tirus, bahkan tulang pipinya sangat menonjol layaknya tak berdaging. Tubuhnya yang semakin kurus bahkan tonjolan tulang lehernya sangat terlihat. Gadis kecilnya yang menawan itu telah menghilang sepenuhnya, dan bergantikan sesosok gadis mengenaskan.

Shim In Hyun, gadis itu sama sekali menolak nama panggilan lainnya yang harus disematkan pada dirinya. Ia hanya ingin menjadi In Hyun, tidak dengan nama lainnya seperti yang di gunakan Aiden dan Max. Gadis ini sangat senang dengan nama yang diberikan mendiang Ibunya kepadanya. In Hyun, nama yang sama seperti seorang Ratu di jaman Joseon dulu. Ia tentu saja mengagumi kebaikan sang Ratu. Karena itu, ia tidak pernah mau mengganti namanya. Ia ingin sama seperti Ratu In Hyun.

“Oppa” panggil In Hyun saat mendapati Kakak tercintanya itu tengah berdiri di pintu kamar. Aiden juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah pria bertubuh tinggi itu. Max tersenyum tipis saat mendapati adik kesayangannya itu tersenyum bahagia. Ia rela menukarkan apapun untuk kebahagiaan adik kecilnya ini.

“Maaf, Oppa baru bisa datang sekarang” ucap Max. “Tapi setidaknya Oppa tidak melupakan pesanan mu” ucap Max seraya berjalan mendekati In Hyun dan Aiden, refleks Aiden berdiri dan memberi tempat untuk Max duduk. “Silver Hanbok, right?” lanjut Max. In Hyun mengangguk senang lalu berucap “Apa aku boleh mencobanya sekarang?”

Max menggerling nakal pada adiknya lalu berucap “Oho~ apa kau ingin menunjukannya pada Aiden, berhubung ia ada disini?” godanya membuat In Hyun tersenyum malu. Aiden hanya tersenyum kecil mendengar godaan Max pada In Hyun. “Jangan membuatku malu Oppa” rajuk In Hyun. “Baiklah, Oppa minta maaf. Kau tentu saja bisa mencobanya sekarang, Christina akan menyiapkannya untukmu”

***

Zurich International Airport, Swiss

Cheon Neul berjalan keluar dari pintu gerbang kedatangan seraya menggeret koper hitamnya. Ia baru saja tiba di Swiss beberapa menit yang lalu setelah melewati penerbangan melelahkan dari Korea yang memakan waktu berjam-jam.

Sesuai dengan rencananya, ia akan menginap di Zurich seminggu sebelum ia memulai ‘pekerjaannya’. Hitung-hitung sebagai liburan terakhirnya.

Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ia dan Kyuhyun sengaja melakukannya sebagai kejutan. Anggaplah ini sebagai kejutan untuk Ibu beserta Ayah tirinya yang memang sejak dulu mengharapkan kedatangannya.

***

Oberdorf, Zurich

Cheon Neul masuk ke dalam sebuah penginapan kecil yang telah disiapkan Kyuhyun sebelum kedatangannya kemari. Ia tidak butuh tempat penginapan high class, baginya penginapan ini sudah cukup untuk menampung dirinya dan satu koper besar yang dibawanya.

Ia akan menghabiskan waktunya untuk mengelilingi kota tua ini selama seminggu, lalu berangkat ke Bern. Yah, ia sudah menyusun rencana itu jauh-jauh hari.

Cheon Neul POV.

“Namanya Lee Donghae, atau kau bisa menyebutnya Aiden Lee. Mereka bertunangan sejak setahun yang lalu. Orang tuanya berdomisili di Seoul. Menurut informasi yang ku dapat, ia telah meninggalkan tanah airnya sejak 6 tahun yang lalu dan tidak pernah kembali sampai saat ini. Menurutku, orang ini juga patut di curigai” celoteh Kyuhyun saat aku tengah berjalan-jalan di Augustinnergasse. Ya ampun, apa pria ini lupa? Atau bodoh? Ia benar-benar merusak acara jalan-jalanku dan merecokiku soal data-data pria bernama Donghae itu. Aku benar-benar ingin mengutuk nama pria itu. Kalau bukan karena ia, Kyuhyun tidak mungkin mengganggu liburanku.

“Cho! berhentilah mengoceh, aku tahu diam-diam kau sangat antusias dengan misi ini. Tapi percayalah, aku bisa membatalkan misi ini sekarang juga jika kau terus menggangguku sebelum waktunya” ucapku sebal. Ku dengar Kyuhyun menghela nafas berat saat panggilan ini masih tersambung. “Maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat saat menemukan informasi tentang dia dan langsung memberitahukannya padamu” ucap Kyuhyun. Aku memutar bola mataku sebal dan memilih mencari tempat untuk beristirahat sejenak tanpa mematikan sambungan ponsel kami. “Aku masih punya 4 hari lagi sebelum ke Bern, jadi jangan coba-coba menghubungiku jika tujuanmu adalah memberikan informasi sebelum waktunya” ucapku lalu segera mengakhiri pembicaraan kami secara sepihak.

***

Aku baru saja selesai keramas saat tiba-tiba saja ponselku bergetar dan menampilkan nama Kyuhyun dilayar datar itu. Kali ini apa lagi tujuannya? Aku langsung menolak panggilannya dan melanjutkan kegiatanku mengeringkan rambut. Belum sampai semenit setelah aku menolak panggilannya, ponselku kembali bergetar beserta nama penelpon yang sama tertera dilayar datar itu. Aku mendengus sebal dan dengan terpaksa aku mengangkat panggilan itu.

“Ya, ada apa?” ucapku ketus saat menerima panggilan tersebut. “Maafkan aku Cheonie, aku mungkin sedang mengganggu kesenanganmu sekarang. Tapi aku harus mengabarkan berita penting ini sekarang juga. Kita tidak punya banyak waktu lagi, ku dengar In Hyun drop, namun ia tidak dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat buruk, ku harap kau segera ke sana sekarang” ucapnya. Aku tidak terlalu terkejut mendengar kabar ini. Yah hal seperti ini bisa saja terjadi, dan sepertinya dugaanku benar.

“Aku akan berangkat 1 jam lagi, hal ini memang bisa saja terjadi. Cho, tolong carikan aku rumah tinggal di daerah Jenewa, aku akan mampir kesana seminggu atau dua minggu sekali” ucapku. Tanpa banyak bertanya ia langsung menyanggupi permintaanku lalu kami memutuskan mengakhiri pembicaraan kami.

Setelah meletakan ponsel di meja, aku segera merapikan pakaianku beserta beberapa barang lainnya yang ku letakan sembarangan. Satu jam lagi aku akan segera berangkat ke Bern. Yah, terpaksa aku harus mengakhiri liburanku lebih cepat dan itu sungguh menyebalkan.

***

Bern, Swiss

Satu setengah jam waktu tempuh perjalanan dari Zurich menuju Bern, membuatku punya sedikit waktu untuk tidur selama diperjalanan. Hanya untuk jaga-jaga jika saja aku harus begadang semalaman selama ditempat itu.

Aku berangkat dari Zurich pukul 16.00 dan tiba di Bern 17.35. Begitu tiba di kota ini, aku segera berangkat menuju Mansion tempat keluarga Shim tinggal sesuai dengan alamat yang sebelumnya telah diberikan Max padaku.

Cukup sulit menemukan Mansion ini, tempat ini berada di ujung kota dan cukup menyebalkan karena aku harus berjalan kaki beberapa menit hingga sampai di depan gerbang Mansion ini. Mansion ini sangat luas dan terlihat mewah hanya dalam sekali lihat. Dalam hati aku berdoa semoga misi ini berjalan lancar, sebelum aku menekan bel Mansion ini. The game already begin.

To Be Continued

 

Huehehe.. akhirnya ff ini di publish. Makasih buat Admin yang udah ngijinin aku posting ff disini. Semoga ngga krenyes-krenyes, gaje dan membosankan karena ceritanya aneh^^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: