After Yesterday [2/6]

After Yesterday

-Season 1-

Part 2

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

          Mansion mewah dengan banyak ornamen yang dicat berwarna emas, membuat Mansion ini terlihat sangat elegan—menurut penilaian Cheon Neul. Beberapa menit yang lalu ia di giring masuk ke dalam Mansion ini oleh seorang pria bermata biru yang menurut perkiraannya berusia 30-an. Cheon Neul nampak memilih duduk di sebuah ruangan yang di yakininya adalah ruang tamu.

“Akhirnya kau datang juga Cheon Neul-ssi” ucap Max dari belakang Cheon Neul. Lantas Cheon Neul menoleh ke arah belakang—menatap Max dengan tatapan datar.

“Ayah pasti senang melihatmu, tapi ia sedang tidak ada disini saat ini” lanjut Max seraya berjalan mendekati Cheon Neul.

“Aku hanya ingin memastikan Ibu ku hidup dengan baik disini, dimana ia sekarang?” ucap Cheon Neul datar. Max mengangguk-angguk mengerti maksud Han Cheon Neul.

“Ia ada di taman belakang rumah bersama In Hyun. Ah! In Hyun juga pasti akan senang melihatmu” ucap Max. Cheon Neul nampak tak ambil pusing dengan ucapan pria itu, lantas ia segera berdiri lalu berucap

“Antarkan aku ke tempat yang kau katakan tadi” ucap Cheon Neul membuat Max terkekeh lalu berucap “Kau tidak sabaran sekali”

***

Cheon Neul menatap datar seorang wanita parubaya dihadapannya. Tidak ada ekspresi rindu yang terpancar dari wajah gadis itu, namun Cheon Neul dapat melihat ekspresi rindu yang sangat kentara dari wajah wanita itu.

“Cheon Neul-ah” ucap wanita itu dengan senyum getir. Tak jauh dari tempat wanita itu berdiri, ia melihat seorang gadis lainnya yang tengah duduk di kursi roda. Menurut penilaian Cheon Neul, gadis itu sangat kurus seolah-olah hanya tersisa kulit pucatnya yang membungkus tulang—seperti orang yang mengidap penyakit HIV.

“Kau—kau benar-benar Han Cheon Neul kan? Akhirnya kau benar-benar datang mengunjungiku” ucap wanita itu seraya berjalan mendekati Cheon Neul, tanpa Cheon Neul duga sebelumnya, wanita itu memeluknya seraya menangis haru. Cheon Neul benar-benar tidak siap dengan keadaan ini.

“Maafkan Eomma sayang, Eomma sangat menyesal meninggalkanmu dulu. Seharusnya Eomma tidak meninggalkan mu pada Ayahmu yang kejam itu” ucap wanita itu seraya menangis.

Cheon Neul lantas tak tahu harus berbuat apa. Wanita ini memeluknya erat dan ia tentu saja tidak mungkin mendorong wanita ini agar bisa melepas pelukannya. Dengan gugup Cheon Neul mulai berucap “A—aku baik-baik saja—Eomma”

***

Ini memang diluar dugaannya. Ia pikir wanita yang telah melahirkannya ini akan bersikap biasa saja dengan kedatangannya. Namun, rupanya wanita itu menyambutnya dengan tangis yang membuat Cheon Neul tidak tega.

10 tahun yang lalu, yah ia masih ingat dengan jelas kejadian 10 tahun yang lalu, saat ia masih bernama Choi Ji Hyun dari keluarga Choi. Dimana kedua orang tuanya akhirnya berpisah tanpa alasan yang jelas. Ibunya meninggalkan nya begitu saja yang membuatnya harus hidup bersama Ayahnya.

Alasan yang awalnya tidak jelas itu akhirnya terungkap saat usianya menginjak 17 tahun. Dimana akhirnya ia tahu bahwa awal dari semua kejadian buruk itu dimulai dari Ayahnya sendiri. Tuan Choi selama ini memiliki pekerjaan gelap tanpa sepengetahuan Cheon Neul dan Oppanya—Siwon. Sikap jujur dan penuh keadilan yang sangat dijunjung tinggi Cheon Neul membuat dirinya membongkar pekerjaan kotor itu yang berakibat dirinya yang dikeluarkan dengan paksa dari keluarga Choi.

Luka lama yang sudah lama dikuburnya itu akhirnya kembali digali kembali hanya karena sebuah tangisan wanita yang berada dihadapannya ini.

“Aku sudah mendengar semuanya. Semua tentang kebusukan Ayahmu. Ia merebut hak mu bukan? Ia memang bukan manusia!” ucap wanita itu setelah ia telah menenangkan dirinya.

“Lalu bagaimana dengan Siwon? Apa ia masih bersama dengan pria itu?”

“Cukup Eomma!” ucap Cheon Neul muak. Yah, ia muak dengan semua perhatian yang berlebihan dari wanita dihadapannya ini. Ini sudah hari ketiga dirinya tinggal di Mansion ini, dan ia sudah cukup kenyang dengan perhatian yang menurutnya sudah sangat terlambat itu. Nyonya Shim itu tentu saja terkejut mendengar bentakan keras dari putrinya itu. “Cheon Neul-ah” lirihnya.

“Tolong jangan perlakukan aku seperti ini, perlakukan saja aku seperti bukan siapa-siapa” ucap Cheon Neul seraya keluar dari kamar yang selama 3 hari ini ditempatinya. Max yang bertepatan berada disitu tentu saja berpapasan dengan Cheon Neul dan mencegah kepergiannya yang entah mau kemana itu.

“Kau mau kemana?” tanya Max.

“Bukan urusanmu” ketus Cheon Neul seraya berjalan meninggalkan Max.

***

Cheon Neul POV.

Bodoh sekali bukan? Seharusnya aku tidak merasakan sakit hati saat mendengar ucapan Ibuku tentang Ayahku. Aku seharusnya tidak datang kemari, dan seharusnya aku menolak misi yang ditawarkan Max padaku. Aku kemari untuk menjalankan sebuah misi, bukan untuk bernostalgia dengan Ibuku yang bahkan wajahnya pun sudah kulupakan sejak hari itu. Hari dimana ia meninggalkanku. Hari dimana aku tidak diperlakukan secara adil!

Atau mungkin ini semua kesalahanku sendiri karena memilih memberikan alasan yang akhirnya ku sesali juga. Aku memang beralasan menemui Ibuku disini, memastikan ia hidup dengan baik. Seharusnya aku mencari alasan lain, seperti Max mengambil barang berharga dariku dan menyuruhku mengambilnya disini, atau aku membual cerita tentang aku dan Max bertunangan atau apalah itu! Bodoh!

Sudah tiga hari disini, dan aku tidak punya pilihan lain selain mengurung dikamar. Aku tidak akan sudi untuk keluar kamar dan melihat wajah pria itu. Pria yang telah menikahi Ibuku. Dan harus ku katakan bahwa aku terpaksa harus menunda skenarioku sampai pria itu pergi ke suatu tempat dalam waktu yang lama. Aku seharusnya memikirkan masalah itu baik-baik sebelum memutuskan menyanggupi misi ini.

Aku membatalkan tujuan awalku yang seharusnya keluar dari Mansion ini dan berjalan menuju kebun bunga dibelakang Mansion ini begitu aku melihat pria itu berada di dekat pintu depan Mansion ini.

“Sampai kapan kau akan menghindar?” tiba-tiba saja Max muncul dan mengagetkanku. Pria ini sudah seperti hantu saja! ia muncul di dekat kamarku barusan, dan sekarang ia sudah berada disampingku.

“Bukan urusanmu,” ucapku ketus. Aku memang tidak punya alasan yang pasti, mengapa aku terus menghindar dari Tuan Shim. Tapi yang pasti naluri ku berkata bahwa aku harus menghindarinya. Ku lihat Max mengangguk-anggukkan kepala seraya berucap

“Baiklah aku menyerah, aku tidak mau bersilat lidah dengan mu.” ucapnya menyerah. Tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian putih dengan celemek biru muda datang menghampiri kami.

“Tuan muda, Nona In Hyun drop lagi, Dokter Hanna sedang pergi keluar dan belum kembali” ucapnya membuatku ikut serta membulatkan mata sama halnya dengan Max. Max menoleh ke arahku dengan tatapan serius, aku mengangguk mengerti tanpa mendengar ucapan Max terlebih dahulu.

Misi benar-benar telah dimulai.

***

In Hyun Bedroom

Aku berada di sebuah kamar besar yang telah diisi oleh beberapa orang berpakaian perawat. Disudut kamar, kulihat Ibuku serta pria yang selama ini ku hindari berdiri sambil menatapku. Aku mengacuhkan kedua orang tua itu begitu saja dan memilik mendekati tempat tidur In Hyun. Dengan seksama ku perhatikan wajahnya yang pucat itu. Aku memeriksa urat nadinya memastikan detak jantungnya berdetak stabil.

“Maaf aku terlambat” sebuah suara berhasil membuyarkan konsentrasiku, membuatku mendengus kesal dan berbalik belakang menatap si pengganggu itu dengan kesal.

“Sebaiknya kalian semua tunggu diluar” ucapku dingin. Kulihat pria pengganggu yang baru saja ikut bergabung itu menatapku sejenak lalu ikut keluar setelah Max mengajaknya keluar. Aku menatap satu per satu perawat yang berada disini sebelum memulai pekerjaanku.

Aku tentu sudah mengenali wajah-wajah ini. Wajah-wajah yang mana patut di lengserkan dan yang mana yang bisa di andalkan setelah mempelajari seluruh informasi tentang para perawat ini yang telah di jelaskan Kyuhyun.

“Tolong ambilkan air mineral untuk ku di dapur” ucapku pada seorang perawat dengan name tag Jessie. Ia nampak tak terima saat aku memerintahkannya, namun akhirnya ia mengangguk menuruti perintahku setelah aku memberikan tatapan tajam padanya.

“Kau, tolong hubungi Dokter yang bertugas merawat In Hyun untuk segera kemari” ucapku pada seorang perawat bername tag Fernanda, sama halnya dengan Jessie, ia nampak enggan untuk keluar dari ruangan ini, namun akhirnya pasrah saat aku menatapnya penuh peringatan. Setelah memastikan kedua perawat itu keluar dari ruangan ini. Aku menatap dua perawat lainnya yang masih berada diruangan ini. Seorang berkebangsaan Jerman bernama Alice dan seorang lainnya berkebangsaan China dengan nama Jeniffer, setelah itu aku kembali memeriksa In Hyun.

“Ling Mei” ucapku pada Jennifer. Perawat berkebangsaan China itu terkejut saat aku menyebut nama panggilannya itu.

“Cukup dengarkan kata-kataku, dan jangan menjawabnya” ucapku dalam bahasa China, tanpa mengalihkan fokusku pada pekerjaanku.

“Berikan sampel darah In Hyun padaku, jika kau benar-benar ingin kembali bertemu orang tuamu” ucapku. Lalu sedetik kemudian ku dengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita bertubuh tinggi—khas wanita Eropa berjalan masuk ke dalam kamar. Ia memberikan tatapan menusuk padaku, namun ku balas dengan tatapan datar seperti biasanya.

Ini pertemuan pertamaku dengan Hanna Kim, orang yang masuk dalam daftar orang yang patut dicurigai. Yah, sejauh ini statusnya adalah orang yang dicurigai, namun mungkin dilain waktu aku akan menaikan statusnya menjadi tersangka.

“This is my job” ucapnya menatapku tak suka. Aku mengangkat bahu dengan acuh lalu berucap dalam bahasa Jerman

“Aku seorang Dokter yang menemukan pasien tanpa Dokternya”. Sejenak kulihat ia terdiam, mungkin terkejut saat mendengar bahasa Ibunya.

“Jangan khawatir, aku tidak membelah tubuh pasienmu, aku hanya memeriksa kondisinya. This is your job, right?” ucapku lalu pergi dari kamar itu. Ku lihat dua perawat tadi telah kembali bersama Hanna, aku menyimpulkan bahwa mereka benar-benar bekerja sama.

The good team!

***

“Bagaimana kondisinya?” tanya Max padaku. Kulihat semua orang yang menunggu diluar memandangiku penuh tanya. “Sudah ada Hanna yang memeriksanya, aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa selain penyakit Influenza biasa” ucapku. Yah, memang hanya itu yang terlihat dimataku, setidaknya untuk saat ini.

“Influenza?” ulang pria pengganggu tadi seraya menatapku dingin. “Apa kau bermaksud mengatakan ia hanya mengalami penyakit ringan dalam kondisi seperti itu?” lanjutnya. Aku menatapnya datar lalu berucap

“Jadi, apa aku harus mengatakan bahwa ia mengidap penyakit berbahaya untuk membuatmu tenang?”

Tanpa peduli, aku melanjutkan langkahku meninggalkan mereka. Sudah dua orang yang terlihat dimataku, entah ada berapa orang lagi yang belum kulihat. Dokter dan Tunangannya, In Hyun—hidupnya sungguh menyedihkan.

***

Semenjak hari itu, aku semakin jarang melihat anggota keluarga Shim berkeliaran di Mansion sebesar ini—termasuk Ibu ku, mungkin ia bermaksud untuk menjauhkan diri dari hadapanku. Menurut gosip para pembantu yang tak sengaja ku dengar, Tuan Shim berada dalam perjalanan bisnis, Ibu selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam dari kantornya, mengingat Ibu adalah seorang Arsitek, dan rupanya ia masih menggilai pekerjaannya itu. Max sesekali pulang untuk melihat kondisi adiknya yang menurutku semakin menutup diri.

Yang sering ku lihat hanyalah beberapa perawat yang bertugas merawat In Hyun dan Hanna yang berkeliaran di dalam Mansion. Benar-benar sebuah pekerjaan membosankan karena hal yang bisa aku lakukan saat ini adalah menunggu kesempatan datang. Ini sudah hampir dua minggu—waktu yang ku habiskan di dalam Mansion ini tanpa melakukan apa-apa.

Siang ini aku berniat pergi ke Jenewa untuk memastikan rumah yang ku minta telah disediakan. Tinggal selama beberapa hari disana kurasa lebih baik dari pada menunggu kapan Hanna akan keluar barang 5 menit dari Mansion untuk melancarkan aksiku. Yah—aku harus berlagak seperti orang bodoh dalam jangka waktu yang tidak ditentukan hanya untuk mengelabui para musuh—atau kira-kira seperti itu.

Aku menggunakan tas selempang berwarna hitam, sepatu kets berwarna biru tua, kaos putih polos yang dipadukan dengan celana jeans biru tua, dan mantel rajut tipis berwarna hitam. Aku tak sengaja bertemu dengan Hanna saat aku berada diruang tamu. Rupanya ia baru saja kedatangan tamu—entah siapa itu, yang pasti gerak-geriknya terlihat biasa-biasa saja. Tanpa mau memandangku, ia berjalan melewatiku seraya membawa sebuah paket, setelah tamunya pergi. Aku mengangkat bahu acuh—tidak mau memikirkan tentang apa isi paket itu lebih lanjut dan memilih berjalan menuju pintu utama.

Entah kesialan apa lagi yang menimpaku. Ku lihat pria menjengkelkan yang ku kenal sebagai Tunangan In Hyun itu baru saja keluar dari dalam mobilnya. Menjengkelkan sekali, saat ku lihat ia berjalan angkuh menuju ke arahku—atau mungkin lebih tepatnya pintu utama disampingku. Ia memasang wajah tak berminat saat menatapku tanpa bersuara. Aku menatapnya singkat lalu memalingkan muka, sebaiknya aku segera pergi sebelum terlibat drama menjijikan bersama pria ini.

***

Jenewa, Swiss

Aku menatap penuh minat sebuah rumah dihadapanku ini. Kyuhyun benar-benar sangat tahu seleraku. Ia memilihkanku sebuah rumah—tidak terlalu besar, namun cukup menarik dimataku saat melihat design eksteriornya yang sangat sederhana dengan cat dinding berwarna putih gading yang dipadukan dengan warna grey. Aku segera menghubungi Kyuhyun, sekedar untuk mengucapkan terima kasih karena telah memilihkan rumah yang bagus untukku.

“Tumben sekali menghubungiku” ucapnya bermaksud menyindirku saat ia telah menerima panggilanku. “Diamlah Cho! ngomong-ngomong, terima kasih untuk rumahnya. Designnya sangat menarik” ucapku. Ku dengar suara dengusannya sebelum ia membalas ucapanku, “Jangan dulu berterima kasih. Asal kau tahu, rumah itu sebenarnya baru dijual beberapa hari yang lalu oleh Tunangan In Hyun, dan aku membelinya”

“Mwo? Jadi maksudmu, ini bekas rumah pria bernama Donghae itu?!” ucapku memekik terkejut. “Ya, jawabanmu tepat sekali. Asal kau tahu, itu tugas baru dari Max, yaitu menyelidiki asal usul pria bernama Donghae itu. Kau pasti mengerti maksudku” ucap Kyuhyun menyebalkan. Apa saja yang ia lakukan selalu saja berhubungan dengan pekerjaan.

“Jadi Max tidak memercayai Iparnya juga?” ucapku datar. “Kurasa begitu. Aku akan mengirimkan beberapa informasi yang ku dapat, selanjutnya kau selesaikan pekerjaanmu” perintah Kyuhyun membuatku sebal. Aku menatap bangunan dihadapanku itu tanpa ada lagi minat seperti sebelumnya.

Setelah tugasku selesai, aku akan menghancurkan bangunan ini.

***

Rumah ini benar-benar terlihat sangat simpel dan masih sangat kosong, melihat hanya sedikit barang yang masih ditutupi kain putih dirumah ini. Hanya ada 1 set sofa berwarna putih tulang diruang tamu, 1 set sofa berwarna hitam dan TV LED berukuran besar di ruang keluarga, sebuah meja kaca di sertai 4 kursi kayu diruang makan yang telah menyatu dengan pantry dapur. Selain itu, rumah ini hanya memiliki sebuah kamar dilantai atas yang hanya terhubung dengan sebuah tangga dari ruang keluarga.

“Apa rumah ini tidak pernah ditempati?” ucapku seraya menilai isi bangunan ini. Aku menyusuri kamar luas ini seraya melihat-lihat apa ada sedikit informasi yang bisa ku temukan.

Tapi sepertinya tidak ada, ini terlihat seperti rumah pada umumnya. Tidak ada sesuatu yang bisa ku jadikan informasi tambahan. Atau mungkin saja belum.

***

“Kau menemukan informasi?” tanya Kyuhyun saat kami melakukan pembicaarn melalui Video Call dari layar laptop ku. Aku menggeleng frustasi karena sejauh ini misi yang kami jalankan belum mendapat perkembangan. “Belum ada sama sekali, rumah ini mungkin belum pernah ditempati” ucapku. Kulihat Kyuhyun mengurut pelan pelipisnya, kurasa ia juga cukup frustasi sama halnya denganku.

“Max bersikeras mengatakan bahwa Donghae pernah menempati rumah itu beberapa tahun yang lalu. Aku juga sudah mengeceknya sendiri, mana mungkin tidak ada bukti-bukti sama sekali? aku membeli rumah itu sekaligus semua barang-barang yang ada di dalamnya” ucap Kyuhyun. Aku mengangkat bahu acuh, aku juga sudah cukup frustasi dan berharap misi ini segera selesai agar aku bisa kembali ke Korea dan menjalankan rutinitasku seperti biasa. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikiranku, lantas aku menggebrak meja penuh semangat membuat Kyuhyun cukup terkejut. “Gebrakan mejamu itu terdengar sampai di Korea, Cheonie” ucap Kyuhyun dengan raut wajah datar.

“Cho, tolong periksa rekaman CCTV 2-3 tahun yang lalu di daerah rumah ini” ucapku menggebu-gebu. Kyuhyun menatapku heran namun mengangguk patuh. “Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya” ucap Kyuhyun. “Berapa lama aku harus menunggu?” tanyaku bosan saat ia mengalihkan fokusnya ke tempat lain—mungkin ke salah satu PC nya yang lain. “3 menit” jawabnya singkat dengan mata terfokus pada benda yang ku yakini PC nya yang lain. “Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil minum dulu” ucapku beranjak berdiri dari duduk ku, lalu berjalan menuruni tangga menuju pantry dapur untuk mengambil snack dan sebotol air dari dalam kulkas yang baru ku isi tadi sore.

Pandanganku tiba-tiba saja tertuju pada sudut lantai dapur yang ditutupi oleh sebuah kas kecil yang terbuat dari kayu. Sejujurnya aku tidak begitu memperhatikan lantai itu sebelumnya, dengan rasa penasaran aku mendekati lantai itu dan menggeser kas kecil itu.

Dugaanku benar!

Belum menemukan berarti bukan tidak ada!

Buktinya aku telah menemukan sebuah jalan menuju lantai bawah tanah. Lantai itu memang sangat menipu, namun tetap masih sangat mencurigakan dimataku, dan benar saja! dugaanku sudah pasti benar. Aku tidak peduli lagi jika Kyuhyun telah menemukan rekaman CCTV itu dan sedang menungguku. Aku lebih peduli pada apa yang akan aku temukan jika aku masuk ke dalam ruangan dibawah sana.

Dengan segenap rasa penasaran, aku masuk ke dalam ruangan gelap itu yang hanya dapat dilalui dengan tangga besi. Cukup mudah untuk mencari saklar lampu ruangan itu yang ternyata hanya dibuat dengan tali. Dengan penerangan secukupnya, aku dapat melihat beberapa rak kayu yang berisikan botol-botol wine yang tersusun dengan rapi. Cukup terkesima karena ternyata rumah ini menyimpan cukup banyak wine yang bisa ku habiskan sendiri.

Jika Kyuhyun berada disini, sudah pasti ia akan sangat kegirangan saat menemukan harta karun ini. Mengingat ia adalah penggila wine.

Aku menelusuri tempat ini semakin dalam sampai akhirnya aku menemukan sebuah pintu yang tertutupi rak-rak wine, membuatku nyaris tidak melihat pintu itu sama sekali. Masih ada ruangan lagi? Ternyata pria itu cukup misterius, mengingat bagaimana bisa ia memiliki rumah yang sangat menipu seperti ini. Jika itu orang lain, sudah pasti mereka berfikir bahwa rumah sesederhana ini tidak memiliki ruangan tempat penyimpanan wine atau semacamnya.

Aku membuka pintu itu dengan hati-hati, jaga-jaga saja jika ada hewan reptil bersisik menempati ruangan ini. Aku menyalakan saklar lampu ruangan ini yang terletak disamping pintu. “Ah, syukurlah” ucapku lega saat hanya menemukan setumpuk kotak-kotak berukuran besar diruangan berukuran kira-kira 2×2 meter ini tanpa ada hewan yang tinggal di dalamnya. Masih dengan rasa penasaran, aku mulai memeriksa kotak-kotak itu, berharap ada sedikit informasi yang dapat ku temukan. Kotak-kotak itu berisikian tumpukan buku-buku tebal berbau bisnis dan ekonomi yang sudah tidak terpakai, hingga akhirnya aku menemukan sebuah kotak berukuran tak terlalu besar yang berisikan beberapa buku tulis, boneka, jam meja dan sebuah bingkai foto berukuran kecil.

Satu-satunya hal yang menarik dimataku adalah sebuah foto yang berada di dalam bingkai tersebut yang menampilkan wajah pria yang sudah tak asing lagi di mataku tersenyum seraya merangkul seorang wanita yang sudah pasti tidak ku kenali wajahnya. “Donghae dan—siapa wanita ini? mantan pacarnya?” ucapku menduga-duga.

Masih dengan perasaan penuh tanda tanya, aku kembali ke ruang atas, tak lupa juga mengambil sebotol wine berusia 30 tahun dari rak wine. Setelah menutup pintu menuju ruang bawah tanah itu dan meletakan kas kecil itu kembali ke tempatnya, aku kembali ke kamar dan membawa sebuah botol wine beserta gelas dan tak lupa juga foto tersebut. Aku rasa, informasi ini harus diberitahukan kepada Kyuhyun.

***

“Lama sekali! Apa kau tersesat dirumah barumu?” ucap Kyuhyun mendengus kesal seraya memasang wajah bosan. “Maaf sudah menunggu, aku mendapatkan sebuah foto. Aku harap kau mau melacaknya untukku” ucapku seraya menunjukan foto yang ku temukan tadi padanya.

Ku lihat ia menyipitkan matanya, mengamati foto itu dengan teliti. “Aku pernah melihat foto itu!” ucap Kyuhyun seraya menepuk tangannya. Dengan antusias aku menatap pria itu, “Kau pernah melihatnya?” tanya ku. Ia mengangguk cepat lalu berucap “Saat aku memeriksa data-data keluarganya beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja menemukan foto itu dalam data diri Donghae. Aku pikir itu hanya foto biasa, jadi aku tidak melaporkannya padamu”

“Dasar bodoh! Seharusnya informasi sekecil apapun kau tetap harus memberitahukannya padaku!” makiku kesal lalu menuang wine yang ku ambil tadi ke dalam gelas dan meminumnya. Ku lihat ia hanya mengerucutkan bibir menatapku lalu berucap “Berhentilah mengataiku bodoh, ngomong-ngomong kau baru saja membeli wine?”

“Tidak, aku menemukannya. Cukup banyak untuk ku habiskan sendiri” ucapku sengaja memamerkannya.

“Mwo? Dimana?” tanyanya, sudah ku duga! Ia pasti akan tertarik jika sudah menyangkut soal wine.

“Di rumah ini, rupanya Donghae menyimpan cukup banyak wine” ucapku sengaja mengejeknya.

“Benarkah? Yak! Rumah itu aku yang membelinya” ucapnya histeris saat mendengar ucapanku. Aku mengangkat bahu acuh lalu berucap “Kau membelinya atas namaku, jadi sudah pasti ini rumahku. Sudah dulu disini sudah malam dan aku mengantuk, kau sebaiknya cari tahu informasi soal gadis itu dan jelaskan padaku sekaligus dengan rekaman CCTV yang kau dapat. Arra?” ucapku lalu mematikan sambungan Video Call begitu saja.

***

Udara dingin cukup terasa, mengingat sekarang telah memasuki musim gugur. Aku memilih berjalan-jalan disekitar kompleks rumahku di pagi hari, hanya sekedar ingin mengenali lingkungan disini. Beberapa orang yang berlalu-lalang hanya menggunakan mantel yang tidak cukup tebal. Aku hanya melihat-lihat saja, sekedar menikmati waktu bebas sebelum misi dimulai—lagi pula aku juga tidak tahu kapan akan dimulai.

Tiba-tiba saja terjadi sebuah kecelakaan di jalan raya, dimana sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi yang berhasil menabrak seorang pria pejalan kaki yang sedang menyebrangi jalan raya tersebut. Aku yang menyaksikannya cukup terkejut dan ikut berlari mendekati lokasi kejadian. Aku menerobos orang-orang yang sedang mengerubungi kejadian tersebut, dan menemukan pria pejalan kaki itu berlumuran darah dengan kondisi tak sadarkan diri.

Jiwa seorang Dokter kembali muncul dari dalam diriku dan segera memeriksa denyut nadinya. “Ia masih bernafas, tolong panggilkan ambulance segera!” ucapku dalam bahasa inggris kepada seorang wanita yang berdiri disampingku, setelah itu aku kembali fokus pada pasien darurat ini.

***

Hospital, Jenewa

Setelah selesai dimintai keterangan oleh pihak polisi, aku kembali menemui keluarga korban yang telah datang setelah dihubungi pihak polisi. Setelah cukup banyak berbincang mengenai kondisi korban, aku segera pamit pergi setelah menyampaikan ucapan bela sungkawa.

Langkah tiba-tiba saja berhenti saat seorang pria berpakaian serba putih layaknya seorang staff rumah sakit berjalan melewatiku seraya mendorong sebuah meja besi beroda yang membawa beberapa obat-obatan. Aku tentu saja mengenal pria itu! Pria itu adalah pria yang kemarin datang mengunjungi Hanna.

Memang sekilas terlihat wajar jika ia adalah seorang petugas rumah sakit yang memang sengaja bertemu dengan Hanna jika mereka memang bertemu dengan tujuan pekerjaan. Namun instingku mengatakan tidak seperti itu, mengingat pembicaraan mereka terlihat tidak seperti pembicaraan mengenai pekerjaan. Dengan cepat aku segera mengikutinya diam-diam, hanya untuk berjaga-jaga jika saja ia mencurigaiku.

***

Setelah menghubungi Kyuhyun untuk memeriksa CCTV rumah sakit ini, aku kembali memata-matai pria itu. Sampai sejauh ini Kyuhyun belum memberikanku informasi apa-apa tentang pria ini. Sejenak kulihat ia menoleh ke kanan dan kiri, mungkin mencurigai kehadiranku. Dengan segera bersembunyi dibalik kerumunan orang agar tak terlihat olehnya.

Ku lihat ia kembali berjalan pergi, kali ini tujuannya adalah tempat parkir seraya membawa sebuah kotak berukuran sedang dengan bungkusan yang sama dengan kotak yang diberikannya pada Hanna di Bern. Aku terus mengamati gerak-geriknya hingga ia berdiri di depan sebuah mobil sedan dengan merk Hyundai berwarna hitam dan menghubungi seseorang dalam bahasa Jerman. Aku memasang telinga, berusaha mendengar apa pembicaraannya.

Lewat pembicaraannya aku dapat menebak bahwa ia adalah seorang ahli farmasi, mendengar hal yang ia perbincangkan adalah soal obat-obatan. Setelah ia mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang dari ponselnya, ia segera masuk ke dalam mobil itu lalu mulai menjalankannya.

Aku tidak berniat mencari tahu kemana tujuannya. Yang aku butuhkan adalah informasi lengkap dari Kyuhyun.

***

“Namanya Mark Collin, usianya 35 tahun, dan memiliki seorang anak perempuan dan istri di Jerman. Ia seorang ahli farmasi di rumah sakit itu. Ia cukup dikenal oleh kalangan para pebisnis obat-obatan terlarang dan obat-obat yang diselundupkan secara ilegal. Selain ahli farmasi, ia adalah seorang pedagang obat-obatan ilegal. Kau cukup memberikan sejumlah uang dalam nominal besar, dan ia akan langsung mengantarkan pesananmu” jelas Kyuhyun. “Menurutku, ia tidak akan menjual informasi tentang siapa pelanggannya pada siapapun sekalipun kau memaksa” tambah Kyuhyun.

“Ia bisa menjualnya jika dalam keadaan terdesak” balasku seraya menatap lekat-lekat foto Mark Collin beserta keluarganya di laptopku yang baru saja dikirimkan Kyuhyun. “Maksudmu, kau ingin menjadikan keluarganya sebagai umpan?” tebak Kyuhyun. Aku mengangguk dengan ekspresi dingin lalu menatap layar laptopku yang lain—yang ku gunakan untuk Video Call bersama Kyuhyun saat ini. “Satu-satunya cara yang ku pikirkan adalah membuat pria itu bicara” ucapku.

“Ide yang tidak buruk, apa kau perlu bantuanku untuk ke sana?” tanya Kyuhyun menawarkan bantuan. Aku menggeleng cepat, menolak penawarannya. “Tidak, terima kasih. Aku masih bisa mengerjakannya sendiri” ucapku.

“Ngomong-ngomong, aku sudah menemukan data tentang gadis di dalam foto yang kau temukan itu. Apa aku harus menjelaskannya lebih dulu, atau menjelaskan soal rekaman CCTV?” tanya Kyuhyun menimbang-nimbang. “Soal gadis itu saja dulu” jawabku dan ia segera mengangguk.

“Namanya Yoo Ji Hye, ia mantan Tunangan Donghae sekaligus cinta pertamanya sejak mereka masih duduk di bangku SMA kelas satu” ucap Kyuhyun memulai penjelasan. Aku hanya diam, menunggu ucapan berikutnya yang akan diucapkan Kyuhyun. “Usianya 25 tahun, dan menurut data yang ku dapat, saat ini ia bekerja sebagai seorang model—majalah dewasa” ucap Kyuhyun terdengar ragu-ragu. Aku menatap foto gadis itu yang baru saja dikirimkan Kyuhyun. “Dan penyebab kandasnya hubungan mereka adalah 6 tahun yang lalu Ji Hye tega berselingkuh dengan sepupunya sendiri. Ji Hye bahkan dikabarkan hamil, namun gadis—atau mungkin aku harus menyebutnya wanita? Ehm— wanita itu menggugurkannya setelah Donghae tahu” tambah Kyuhyun. “Jadi itu alasan ia memilih menetap di Swiss selama 6 tahun?” ucapku menarik kesimpulan. Ah kasihan sekali Lee Donghae itu.

“Lalu, soal rekaman CCTV yang kau temukan?” ucapku mulai membuka topik baru. “Ah! Soal rekaman! Kau bisa lihat sendiri, di tahun itu Donghae selalu terlihat di kawasan itu setiap hari. Ia keluar dari rumah di pagi hari, lalu kembali saat malam dan begitu seterusnya. Jadi kau bisa mengambil kesimpulannya sendiri bukan?” ucap Kyuhyun. Aku mengangguk paham saat ia menambilkan beberapa potong rekaman yang sudah ia saring, dan mulai menyusun rencana baru. “Aku mengerti, kita tidak perlu memeriksa Donghae lebih dalam untuk saat ini. Kita fokus saja untuk mengumpan Mark Collin”

***

Cheon Neul House, Jenewa

Setelah menyusun rencana dan membagi tugas baru. Aku segera membaringkan diriku di tempat tidur yang nyaman ini seraya menghela nafas lega. Aku dan Kyuhyun telah sepakat membagi tugas masing-masing, aku akan tetap berada di Swiss, mengamati terus keadaan pria bernama Mark Collin itu diam-diam. Dan Kyuhyun akan mengurus soal keluarganya di Jerman.

Aku akan memperpanjang waktuku di Jenewa hingga beberapa hari ke depan, setidaknya sampai aku mendapat informasi dari Mark Collin itu.

***

“Aku sudah menemukan keluarganya, rencana kita sudah bisa dimulai sekarang” ucap Kyuhyun yang akhirnya menghubungiku setelah dua hari kemudian. Pekerjaan yang cukup membosankan ternyata, jika kau hanya mengamati orang secara diam-diam dari jarak jauh. Setelah dua hari yang membosankan itu, akhirnya Kyuhyun menghubungiku dan dengan segera aku bergerak cepat menuju rencana berikutnya. Mencari Mark Collin.

Ia memiliki jadwal kegiatan yang teratur, sehingga aku tidak kesulitan untuk menjalankan aksiku. Pukul 19.45 ia akan kembali ke rumahnya untuk mandi dan makan malam. Setelah itu ia akan keluar lagi pada pukul 21.30. Kira-kira itulah jadwal kegiatan rutinnya dan aku akan memanfaatkan 45 menit itu sebaik mungkin.

Aku menekan kata sandi rumahnya yang sudah ku hafal diluar kepala. 21 Desember 2010, hari pernikahannya. Dengan santai aku membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya, masih ada waktu 15 menit lagi sebelum ia pulang.

Aku mengamati baik-baik struktur bangunannya. Tidak ada yang wah dari rumah berukuran kecil ini, hanya ada beberapa perabotan rumah yang kelihatannya tidak pernah disentuh. Setelah puas menilik kesana kemari, aku memutuskan memasang alat penyadap ruangan, lalu menempelkan sebuah camera rakitanku berukuran seperti memori chip berukuran 1×1 cm yang langsung tersambung secara otomatis pada ponsel pintarku.

Setelah memastikan semuanya beres, aku hanya perlu mencari tempat untuk bersembunyi. Aku melirik sekilas pada jam yang melingkar dipergelangan tangan kananku. 3 menit lagi, dan ku rasa ia sudah berada dalam perjalanan menuju tempat ini.

Tepat 3 menit kemudian, ku dengar suara seseorang yang ku duga adalah Mark Collin. Aku meningkatkan kewaspadaanku, saat ku dengar langkahnya yang semakin mendekat ke arah dapur—tempat persembunyianku. Ia berdiri kurang dari 1 meter tempat persembunyianku. Ku lihat ia sedang mengambil air dingin dari dalam kulkasnya, masih dalam keadaan bersembunyi—jaga-jaga saja jika ia dapat melihatku dari pantulan pintu kulkasnya. Begitu ia berjalan menjauh dari kulkas, dengan segera aku mulai menyerangnya.

“Who are you?” ucapnya keras seraya berusaha melindungi dirinya saat aku memberikan beberapa pukulan keras pada lutut dan sikut tangannya yang di akhiri dengan pukulan pada tengkuk—melumpuhkannya dalam waktu singkat hingga pingsan. Tubuhnya mungkin berisi, tubuhnya tidak atletis sehingga ia tidak cukup kuat untuk melawan serangan seorang wanita sepertiku. “Aku tidak menyangka dapat melumpuhkanmu hanya dengan 3 pukulan saja” ucapku seraya mengusap keringat yang menetes dipelipisku.

Aku segera menyeret tubuh besarnya hingga terlentang diatas meja—yah kemampuanku untuk mengangkat tubuh berlemaknya hanya sampai sebatas itu, jadi aku mengikatnya dalam posisi terlentang diatas meja, dengan tali yang ku dapatkan dari alat perkakasnya di gudang kecil.

Aku tidak berniat menunggunya hingga sadar, jadi aku mencipratkan air dingin di wajahnya, membuatnya tersentak sadar dengan cepat. “Oh Hi Mr. Collin, maaf karena aku harus bertamu malam-malam begini” ujarku ringan saat dirinya bahkan belum sadar sepenuhnya. “Kau siapa? Lepaskan aku!” ucapnya setengah berteriak. “Maafkan aku karena membuatmu dalam posisi seperti ini, jika saja kau mau bekerja sama denganku—ku rasa kau tidak akan lama dalam posisi seperti itu” ucapku basa-basi.

“Apa yang kau inginkan?” desisnya marah. Aku mengangkat bahu seraya memasukan kedua tanganku dalam saku celana jeans yang pakai. “Beberapa informasi” jawabku singkat.

“Maaf, aku tidak menjual informasi pada siapapun” ucapnya. Aku mengangguk mengerti seraya menepuk tiga kali perut besarnya. “Aku mengerti maksudmu, ngomong-ngomong—bagaimana kondisi anak dan istrimu di Jerman? Mereka sehat-sehat saja bukan?” ucapku, sedetik kemudian ia membulatkan matanya lalu berucap.

“J—jangan ganggu mereka!”. “Aku mengerti perasaanmu Mr. Collin, karena itu aku berharap kau juga mengerti perasaaanku. Agar kita impas. Tenang saja, kau dan keluarga kecilmu akan tetap aman dan mendapatkan kompensasi” ucapku mencoba bernegosiasi. Tidak ada sahutan yang keluar dari bibir pria itu, membuatku mengambil kesimpulan bahwa ia setuju untuk menjual informasi padaku.

“Kau kenal Hanna Kim? Ia seorang Dokter Anestesi yang hebat. Ia adalah pelanggan tetapmu bukan?” ucapku mulai mengorek informasi. “Ya, ia adalah salah satu pelangganku. Memangnya kenapa?” balasnya. “Obat macam apa yang ia beli darimu?”

“Ada beberapa macam obat, seperti Heroine, Morfin dan Xanax. Biasanya ia membeli obat itu dalam jumlah banyak. Ia juga membeli obat antibiotik. Jika kau ingin bertanya untuk apa ia membeli obat-obatan itu, aku tidak tahu. Itu bukan urusanku” jelas Mark Collin. Aku mengangguk lalu berucap “Terima kasih untuk informasinya Mr. Collin, tenang saja—aku sudah mengirimkan sejumlah uang ke dalam rekening istrimu. Tapi ku harap—sebaiknya kau berhenti menjual obat-obatan ilegal. Kerjakanlah sesuatu yang halal, karena suatu saat nanti, orang lain pasti akan menangkapmu. Jadi bertobatlah”

***

Cheon Neul House, Jenewa

Setelah selesai berurusan dengan Mark Collin, aku segera kembali ke rumah dan memberitahukan masalah ini pada Kyuhyun. Pria itu masih ada di Jerman untuk mencari beberapa informasi soal Hanna, lalu akan menyusulku ke Swiss.

“Hanna membeli Morfin dan Xanox dalam jumlah yang tidak sedikit. Ia juga membeli beberapa obat Antibiotik. Aku belum tahu pasti apa tujuannya membeli obat-obat itu” ucapku seraya menatap Kyuhyun dilayar datar laptopku dengan serius. “Obat-obat itu tidak di jual sembarang, jadi untuk apa ia membeli obat-obatan itu? Atau jangan-jangan ia seorang pengguna narkoba?” celetuk Kyuhyun tiba-tiba.

Aku segera menggeleng cepat, walaupun mungkin saja kemungkinan seperti itu bisa terjadi. Tapi untuk apa ia membeli Antibiotik? Apa ia kecanduan Antibiotik? Gila sekali, kalau itu benar-benar terjadi. “Tidak mungkin Cho, lalu apa gunanya ia membeli Antibiotik?” ucapku seraya berfikir keras.

Tiba-tiba saja Kyuhyun menepuk tangannya keras membuatku segera menatapnya, “Ah! Mungkin saja ia memberikan obat-obat itu pada In Hyun. Bukankah In Hyun selalu berada dalam pengawasannya?” ucap Kyuhyun. Aku memang telah memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Kedengaran lebih masuk akal jika ia memberikannya pada In Hyun yang sedang sakit.

“Mungkin kau benar, Morfin adalah obat penghilang rasa sakit. Ada kalanya In Hyun berteriak kesakitan, mungkin ia memberikan Morfin untuk menghilangkan rasa sakit. Xanax sendiri biasanya diresepkan sebagai obat penenang atau obat tidur, kemungkinan ini juga bisa dibenarkan, mengingat In Hyun sering sekali berteriak histeris secara tiba-tiba” ujarku. “Ah~ aku tidak tahu masalah tentang medis seperti itu. Kau kan ahlinya” keluh Kyuhyun seraya menggaruk-garuk kepalanya yang ku yakini tidak gatal.

“Menurutmu—kenapa ia memesan obat Antibiotik?” tanyaku pada Kyuhyun, siapa tahu ia mendapatkan solusinya. Ia mengangkat bahu sekilas lalu berucap “Yang bisa ku katakan padamu adalah obat-obatan itu sudah pasti di beli Hanna untuk In Hyun, menilik kondisi In Hyun yang semakin memburuk—kurasa obat-obatan itu hanya membantunya menghilangkan rasa sakit. Tapi tidak akan membuatnya membaik. Ku rasa Hanna sudah menyusun siasat ini sejak lama” ucap Kyuhyun.

Sepupuku ini ada benarnya juga. Melihat obat-obatan yang diberikan Hanna hanyalah sebuah obat penenang dan penghilang rasa sakit, In Hyun mungkin berfikir bahwa Hanna sedang berusaha mengobatinya. Tapi hal itu tidak pernah terjadi, karena kondisi In Hyun semakin memburuk. Jadi, kesimpulan yang bisa ku ambil adalah—Hanna Kim berusaha membunuh In Hyun pelan-pelan.

To Be Continued

Makasih buat Admin yang udah ngijinin aku posting ff disini. Semoga ngga krenyes-krenyes, gaje dan membosankan karena ceritanya aneh^^

 

1 Comment (+add yours?)

  1. ammy5217
    Aug 23, 2017 @ 07:39:33

    Ternyata dr hanna orang yg jahat…tapi apakah dia bekerja sama dengan donghae?

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: