After Yesterday [3/6]

After Yesterday

-Season 1-

Part 3

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

Cheon Neul POV.

Bern, Swiss

Aku kembali ke Mansion keluarga Shim setelah beberapa hari tinggal di Jenewa. Kyuhyun sendiri sebenarnya akan tiba di Jenewa hari ini, namun aku tidak bisa menjemputnya—mengingat aku harus menyelesaikan misi ini sesegera mungkin.

Aku telah menemukan beberapa kemungkinan tentang penyakit yang diidap Shim In Hyun. Bisa saja dugaanku benar, dan bisa pula dugaanku salah. Hanya ada kemungkinan 50-50% prediksi ini benar atau salah. Kyuhyun sendiri akan mencari tahu soal Tuan Shim—Ayah In Hyun dan Max, entah kenapa pria itu tiba-tiba saja mencurigai pergerakan Tuan Shim yang terlihat mencurigakan menurutnya.

Ibu berada di rumah dan menyambutku dengan senyuman canggung—mungkin masih merasa tidak enak karena perkataanku beberapa waktu yang lalu. Max juga berada di rumah, dan ia baru saja memintaku secara pribadi untuk menangani kondisi adiknya saat ini, karena tiba-tiba saja Hanna minta izin untuk ke Jerman dan akan kembali besok hari.

Kondisi yang cukup menguntungkan mengingat Hanna tidak akan kembali dalam waktu yang cepat. Mungkin ia merasa aman karena aku tidak sedang berada di rumah saat ia pergi. Terlalu ceroboh dan berpikiran pendek, menurutku.

***

In Hyun Bedroom

Aku masuk ke dalam kamar In Hyun, ku lihat gadis itu masih terlelap. Beberapa perawat yang ku yakini berada dibawah pengaruh Hanna telah ku singkirkan—entah berbagai macam alasan apa yang harus ku lakukan agar mereka sibuk, sebelum mereka melaporkan pada Hanna dan membuat gadis itu langsung kemari.

Aku memeriksa beberapa rak berisi berbagai macam obat. Dan aku menemukan kejanggalan dari tumpukan obat-obat tersebut. Ada beberapa jenis obat penenang dan obat penghilang rasa sakit di dalam rak, namun aku tidak menemukan bungkusan obat Morfin ataupun Xanox. Aku hanya menemukan beberapa bungkus obat Heroine dan Antibiotik disana. Aneh.

“Nona Angela” tiba-tiba saja seseorang memanggilku. Aku membalikan tubuhku dan mendapati Alice berada di belakangku. Aku menggernyit heran kenapa ia berada disini. “White Cafe, 10 menit lagi” ucapnya dalam bahasa Jepang. Aku berusaha menutupi keterkejutanku saat mendengarnya. Ia segera berjalan keluar kamar begitu saja, meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan.

***

White Cafe

“Apa maksudmu?” ucapku saat aku duduk menikmati kopi disebuah Cafe bersama Alice. “Setiap Hanna tidak ada, Nona In Hyun selalu berada dalam kondisi sadar, ia hanya pura-pura tidur” ucap Alice. Aku berusaha menampilkan wajah senormal mungkin saat mendengar ucapan Alice, bisa saja wanita ini menjebakku.

“Saya diminta untuk membantu segala keperluan anda” ucapnya lagi membuatku terkejut. “Siapa yang memintamu?” tanyaku penasaran.

“Suamiku, Max”

Kali ini aku tak dapat menutupi rasa terkejutku saat mendengar pengakuannya. “Max? Kau menantu keluarga Shim?” ucapku shock. Siapa yang tidak shock, baik Max maupun wanita ini berhasil menutupi hubungan mereka dengan sangat rapat. Ia tersenyum melihat responku saat mendengar pengakuannya. “Maaf, sudah mengejutkanmu. Tapi ini untuk pertama kalinya aku melihat ekspresi lain di wajahmu” ucapnya dengan raut wajah tak menyesal.

“Sebenarnya, yang memintamu untuk datang kemari bukan suamiku, tapi aku” akunya. “Kami merahasiakan pernikahan kami pada siapapun, termasuk keluarga Shim sejak kami menikah 3 tahun yang lalu. Max memintaku untuk merawat karna kebetulan aku berprofesi sebagai perawat. Selama ini aku melihat banyak hal yang tak terduga tanpa bisa berbuat apa-apa, karna itu aku membutuhkanmu” ceritanya. Aku hanya bisa mendengarkannya tanpa berkata apa-apa, sambil sesekali melihat ke arah jendela, ia terus melanjutkan ceritanya padaku.

“Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar Nyonya Shim membicarakan soal putrinya yang berprofesi Dokter, saat itu aku memaksa Max untuk membawamu” ucapnya lagi. Aku mengangkat kedua tanganku memberikan tanda ‘berhenti bicara’, dengan wajah serius aku menatapnya. “Bisakah kau langsung saja pada topiknya. Kalau kau memang diminta untuk membantuku, tolong katakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaanku. Kau tak perlu menceritakan itu dari awal” ucapku mulai bosan.

“Ternyata Max benar, kau adalah wanita yang dingin” gumamnya yang masih dapat ku dengar.

***

“Jika Hanna ada, In Hyun selalu diberikan obat tidur oleh Hanna, karna itu ia hanya menghabiskan waktunya dengan tidur tanpa mengonsumsi makanan. Tapi, jika Hanna akan pergi dalam waktu yang tidak singkat, Hanna tidak akan memberikan obat tidur, kurasa Hanna sengaja melakukan itu. Hanna bukanlah orang yang akan mengatakan banyak hal pada kami para perawat. Aku merasa, ia hanya menjadikan kami pajangan yang sesekali ia suruh-suruh. Semua obat yang masuk ke dalam tubuh In Hyun, tidak ada satupun dari kami yang tahu, apa jenis obatnya selain obat tidur. Obat itu selalu ia keluarkan dari dalam kantong bajunya” ucap Alice. Aku mendengarkannya dengan seksama, sesekali meminum kopi ku yang mulai dingin.

“Kau tidak pernah mendengar sesuatu yang pernah di ucapkan Hanna? Tentang penyakit?” tanyaku mencoba mengorek lebih banyak informasi. Ia menggeleng pelan lalu berucap “Tidak pernah, ia benar-benar mengunci bibirnya dan hanya akan bicara jika diperlukan. Kami juga tidak tahu dengan jelas apa penyakitnya. Yang kami tahu kodenya H4”.

“Lalu In Hyun? Mereka berdua tidak pernah saling bicara begitu?” “Hanna akan menyuruh kami keluar jika ia berbicara dengan In Hyun” jelasnya.

Aku mengangguk mengerti, untuk saat ini informasi yang ku dapat dari Alice sudah cukup. Namun ada satu hal yang mengganjal semenjak Alice memanggilku di kamar In Hyun tadi.

“Alice, soal Jennifer—“ kulihat ia tersenyum saat aku membuka topik pembicaraan lain. “Ling Mei tidak tahu apa-apa, ia hanya seorang suster biasa yang terintimidasi oleh Hanna. Jika kau menyuruhnya untuk mengambil sampel darah, tentu saja ia takut. Aku berusaha mencari sesuatu yang bisa diambil untuk diperiksa, tapi Hanna tidak mengizinkan kami untuk menyentuh In Hyun barang sehelai rambut. Makanya ia marah besar saat kau menyentuh In Hyun” ungkapnya.

***

Perbincangan antara Alice dan aku berakhir begitu saja. Aku masih duduk-duduk di Cafe begitu Alice pamit pergi lebih dulu. Aku baru saja berniat kembali ke Mansion, tiba-tiba saja aku ponselku berdering. Aku menatap layar ponselku begitu saja saat melihat nama yang tertera sebagai si penelpon. Cho Kyuhyun. Ah, menjengkelkan sekali! Ia benar-benar tidak membiarkan ponselku beristirahat barang sehari saja. Dengan gerakan malas, aku mengangkatnya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ya! Kenapa lama sekali mengangkatnya?!” omelnya. “Maaf, aku sibuk. Jadi, ada apa lagi?” ucapku sambil memutar-mutar cangkir kosong bekas kopi pesananku tadi.

“Aku baru saja mendapat berita baru soal wanita itu” ucap Kyuhyun. “Wanita mana?” tanyaku malas. “Mantan Tunangan Lee Donghae, Yoo Ji Hye. Kabarnya ia memiliki jadwal pemotretan di Milan lusa, kau bisa berangkat ke sana untuk mendapatkan beberapa informasi” ucap Kyuhyun.

“Untuk apa aku ke sana hanya untuk mewawancarai wanita itu? Dengar Cho, yang kita kerjakan sekarang bukan untuk mengurusi hubungan masa lalu Donghae itu” ucapku sebal. “Ada banyak hal yang harus aku kerjakan disini, aku tidak mau menunda-nunda lagi, karena aku ingin segera kembali ke Korea. Arra?” lanjutku dan berniat mengakhiri pembicaraan kami. Namun dengan suara keras ku dengar pria menyebalkan itu berteriak dari ujung telpon. “Jangan dulu di tutup! Aku belum selesai bicara! Jika kau mematikannya sekarang, aku pastikan kau akan berada disana dalam waktu yang lama” ancamnya. Aku membulatkan mataku mendengar ancaman Kyuhyun. “Mwo? Apa kau sedang mengancamku?”

“Anggap saja begitu, lagi pula ada beberapa hal penting yang harus kau kerjakan disana” ucapnya diakhiri dengan nada memelas. “Berikan aku alasan yang tepat, kenapa kau mati-matian menyuruhku ke sana” balasku.

“Kau bisa mengorek beberapa informasi tentang Donghae dari Yoo Ji Hye, seperti—informasi tentang keluarganya. Yoo Ji Hye pasti sudah cukup mengenal keluarga itu kan? Jadi kita bisa tahu latar belakang keluarga Lee, siapa tahu saja keluarga Lee itu ada hubungannya dengan kasus ini” ucap Kyuhyun. Cukup masuk akal untuk di jadikan alasan memang. “Tapi, bagaimana kalau dia tutup mulut?” ucapku. “Eyy, mereka sudah putus hubungan. Untuk apa lagi menyembunyikan fakta. Jika ia bersikeras tutup mulut, kau bisa mengancamnya sedikit” ucap Kyuhyun. Aku menimbang-nimbang ucapannya lagi, ada benarnya juga, tapi—

“Baiklah, aku akan berangkat besok sore. Persiapkan semuanya”

***

Shim Mansion, In Hyun Bed Room

Setelah kembali dari Cafe, aku langsung masuk ke dalam kamar In Hyun dan mendapati gadis itu tengah bercengkrama dengan Tunangannya—Lee Donghae. Panjang umur sekali pria itu! baru saja aku membicarakan tentangnya bersama Kyuhyun, dan ternyata ia ada disini.

Mereka berdua menatapku seolah-olah mereka terganggu dengan kehadiranku. “Apa yang kau lakukan disini Angela?” tanya In Hyun dengan suara lemah. Walaupun gadis itu terlihat lemah, aku bisa mendengar ada nada tidak suka dari suaranya. Sepertinya ia tidak menyukai kehadiranku.

“Max memintaku untuk merawatmu selama Doktermu tidak ada” ucapku. Ya, bukankah memang itu adanya? Aku menatap sepasang kekasih itu secara bergantian. Ku lihat pria bernama Donghae itu nampak biasa saja sekarang. “Aku hanya mengizinkan Hanna mengobatiku. Aku tidak butuh Dokter yang lain” ucap In Hyun dengan nada tidak suka yang sangat kentara.

“In Hyun” ucap Tunangannya mencoba menenangkan In Hyun dengan lembut. “Aku hanya ingin memeriksa kondisimu” ucapku. Kulihat ia menatapku tajam seraya berucap dengan suara keras, “Menjauhlah dariku”

Keras kepala sekali gadis ini! Dengan wajah tenang, aku mengabaikan penolakannya dan memasang stetoskopku. “Maaf, aku hanya ditugaskan oleh Max. Jika kau menolaknya—tolong bicarakan itu dengan Max, bukan denganku” ucapku acuh. Aku berjalan mendekati tempat tidurnya tanpa memedulikan tatapan tajamnya maupun tatapan Lee Donghae. “Ini tubuhku, aku berhak mengaturnya” ucapnya membantah. “Kau pasienku sekarang, aku berhak mengobatimu” balasku tak ingin dibantah. “Tuan, bisakah kau membantuku menenangkan Tunanganmu?” ucapku.

“Tidak perlu Aiden. Nona Angela, siapa bilang In Hyun pasienmu?” tiba-tiba saja sebuah suara lembut nan menusuk itu mengintrupsi perdebatan kami. Aku menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka, dan mendapati Hanna telah berdiri disana diikuti para perawat yang berada dibawah perintahnya.

Shit!

Aku menatap wajah anguh gadis itu dengan ekspresi datar. “Max yang memerintahku” jawabku singkat. “Aku sudah ada disini, mereka sudah tidak memerlukan bantuanmu lagi” ucapnya.

Aku tersenyum sinis seraya menatap lantai marmer yang ku pijaki saat ini, lalu menatapnya tajam. “Kenapa kau percaya diri sekali Dokter Hanna? Bagaimana—kalau ternyata Max lebih menginginkanku untuk merawat Shim In Hyun? Kau tidak seharusnya mengambil kesimpulan seperti itu” ucapku sinis. “Aku tidak memerlukan Dokter sepertimu” sela In Hyun dari belakangku. Sekilas aku menatap In Hyun dan Lee Donghae yang membujuknya untuk tenang. Tatapanku tiba-tiba saja bertubrukan dengan tatapan sendu milik pria itu. Sedetik kemudian aku tersadar dan segera menarik tatapanku darinya. Dengan tenang aku berjalan menjauhi tempat tidur In Hyun dan mendekati Hanna yang masih berdiri menatapku penuh kebencian.

“Kau tidak khawatir jika saja tubuhmu terjangkit sebuah virus?” ucapku dalam bahasa Jerman seraya berbisik di dekatnya. Aku tersenyum menang saat melihat wajahnya yang shock mendengar ucapanku. “Tenang saja, itu hanya hipotesisku” lanjutku lalu berjalan keluar dari kamar.

Senang rasanya saat melihat musuhmu terkejut setengah mati seperti tadi.

***

Donghae POV.

Aku menyaksikan perdebatan antara Hanna dengan Dokter yang ku ketahui bernama Angela itu dalam diam. Seraya mengelus bahu In Hyun yang penuh amarah, diam-diam aku memerhatikan ekspresi yang terpancar dari wajah Dokter bernama Angela itu. Dingin dan mengintimidasi. Membuatku cukup gemetar melihat wajahnya yang ku akui cantik, namun dapat membuatku bergidik ngeri. Terlalu tenang dan sama sekali tidak terbawa emosi—sangat tidak normal untuk ukuran seorang gadis pada umumnya, lain halnya dengan Hanna yang mati-matian berusaha untuk tidak mencakar wajah Angela.

“Kenapa kau percaya diri sekali Dokter Hanna? Bagaimana—kalau ternyata Max lebih menginginkanku untuk merawat Shim In Hyun? Kau tidak seharusnya mengambil kesimpulan seperti itu” suara sinis itu membuatku terpaku untuk menatap gadis itu lebih lama, aku bahkan hanya diam menatap gadis itu saat In Hyun menyela ucapannya. Berusaha mengontrol diriku kembali, aku mencoba menenangkan In Hyun yang emosi sambil sesekali melihat ke arah Dokter itu.

Tatapan mata kami bertemu untuk beberapa saat hingga akhirnya ia menarik tatapannya kembali. Entahlah tiba-tiba saja hatiku berdebar saat kami berdua saling bertatapan.

Ku lihat ia berjalan mendekati Hanna yang masih menampilkan wajah kebenciannya, entah apa yang di ucapkan gadis itu hingga membuat Hanna menatapnya shock. Sekilas ku lihat Dokter Angela itu tersenyum puas lalu berjalan keluar dari kamar ini.

Hanna tidak lagi masuk ke dalam kamar ini, dengan wajah penuh amarah ia berjalan keluar dari kamar. Sementara itu, para perawat yang sejak tadi ikut menyaksikan perdebatan diantara kedua dokter itu hanya bisa saling berpandang-pandangan dan memilih keluar dari kamar juga.

Aku mengalihkan tatapanku ke arah In Hyun. Wajahnya sangat pucat. Aku dapat merasakan jantungnya yang berdetak keras. Sejujurnya, aku juga tidak mengerti mengapa In Hyun bertindak seperti tadi. Ia memang selalu menolak para petugas medis selain Hanna, ia juga selalu menolak jika dibawa ke rumah sakit. Namun aku memakluminya karna In Hyun memang kurang bersosialisasi sejak kecil—menurut cerita Max di awal pertunangan kami.

Yang mengherankan adalah aku. Kenapa In Hyun begitu hangat padaku?

***

Setelah Hanna kembali dan memberikan obat pada In Hyun. Tiba-tiba saja aku mendapat telpon untuk segera kembali ke rumah. Aku menatap In Hyun yang telah tertidur begitu mendapatkan obat dari Hanna. “Ia sudah tidur, mungkin kelelahan” ucap Hanna seraya membereskan peralatan medisnya.

“Ia baik-baik saja kan?” tanyaku. Entahlah, aku cukup terpengaruh dengan ucapan Angela tadi. Hanna menatapku dalam diam untuk beberapa saat, “Jangan khawatir, ia baik-baik saja” ucapnya dingin. Aku mengangguk mengerti lalu memasukan ponselku ke dalam saku celanaku.

“Aku harus pulang sekarang, tolong jaga ia baik-baik” pamitku lalu bergegas keluar dari kamar.

***

Cheon Neul POV.

Milan, Italy

Disinilah aku sekarang, setelah beberapa jam berada di pesawat, akhirnya aku tiba di Milan. Dan sialnya adalah—aku dijebak!

Aku dijebak sepupuku sendiri yang rupanya telah berkomplotan dengan Siwon Oppa. Yah, semua pria berjas hitam yang mengawalku hingga tiba disebuah hotel adalah orang-orangnya. Dengan wajah kesal aku menatap pria berusia 3 tahun lebih tua yang berdiri dihadapanku. Siapa lagi kalau bukan seorang Choi Siwon yang terhormat.

“Jadi Oppa yang menyuruhku?! Kenapa harus pakai menjebakku segala?!” tanyaku kesal. Ia tersenyum tipis lalu merangkul bahuku. “Kalau tidak seperti ini kau sudah pasti akan kabur” jawabnya santai. “Aku punya banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang juga!” balasku seraya melepaskan rangkulan tangannya dibahuku dengan kasar. “Kau bisa mengerjakannya nanti, setelah kau menyelesaikan tugasmu disini” ucapnya. “Ini tugas dariku. Dan sudah pasti kau akan dibayar”

***

Double shit untuk hari ini!

Seorang pria berperawakan tinggi berkebangsaan Spanyol bernama Albert, baru saja memberikan beberapa penjelasan tentang apa yang harus ku kerjakan. Mendengar penjelasan dari pria dihadapanku ini membuatku ingin segera terbang ke Jenewa dan memutilasi pria bermarga Cho itu! Jadi ia menginvestasikan seluruh uangku disini?!

Perusahaan CN Industries adalah perusahaan muda yang di dirikan oleh Kyuhyun dan Siwon Oppa menggunakan seluruh uangku!

“Anda selaku Presdir, diminta untuk hadir dalam rapat ini pemegang saham Nyonya. Ini tahun ketiga perusahaan berdiri, namun anda tidak pernah berada ditempat” ucap pria itu. Aku memutar bola mataku dengan malas, aku sangat membenci pekerjaan yang berbau bisnis seperti ini. “Berikan data-data perusahaan itu sekarang juga. Aku tidak punya banyak waktu” ucapku. Ia mengangguk lalu memberikan beberapa dokumen. Setelah itu ia memasang layar proyektor dan menjelaskan satu persatu tentang perusahaan itu.

Aku memerhatikan satu persatu penjelasannya dengan tatapan malas, hingga akhirnya aku melihat sebuah objek menarik dari penjelasannya. “Ini perusahaan-perusahaan yang memiliki kerja sama dengan anda. Beberapa di antara mereka adalah pemegang saham. Dalam waktu dekat ini, perusahaan akan membangun kantor cabang di daerah Italy. Dalam proyek pembangunan ini, kita akan bekerja sama dengan L De Group” ucap Albert.

L De Group? Aku sepertinya tahu tentang perusahaan itu.

***

Aku meregangkan otot-ototku yang kaku setelah duduk berjam-jam di kamar hotel hanya untuk mendengarkan penjelasan mengenai perusahaan-perusahaan itu. Aku melirik jam di pergelangan tanganku yang telah menunjukan pukul 02.00. Tidak mengejutkan sama sekali.

Aku mengambil air dingin dari dalam kulkas dan meminumnya dalam satu tegukan. Kerongkonganku terasa kering setelah duduk mendengarkan penjelasaan menyebalkan itu.

CN Industries, pantas saja Kyuhyun sering membicarakan soal perusahaan itu padaku. Perusahaan muda yang bekerja di bidang elektronik itu adalah hasil pekerjaannya dengan Siwon Oppa yang mereka geluti diam-diam selama 3 tahun hingga perusahaan ini sukses. Lucunya adalah, seluruh uangku raib karena pembangunan perusahaan ini. Mereka berdua mengikutsertakan seluruh uangku untuk membangun perusahaan ini dengan mengatasnamakan diriku. Han Cheon Neul, Presiden Direktur CN Industries. Sialan sekali!

Aku menyalakan laptopku lalu dan melakukan panggilan video call dengan si pelaku kejahatan semua ini. Cho Kyuhyun.

“Keparat!” makiku saat wajahnya muncul dilayar laptopku. Ia hanya tertawa mendengar makianku yang ku alamatkan untuknya. “Maafkan aku Sajangnim” ucapnya masih tertawa. “Kau apakan seluruh uangku huh? Aku menyuruhmu menginvestasikan beberapa uangku disebuah perusahaan, bukan untuk membangun sebuah perusahaan!” semprotku marah. Kulihat ia mulai berhenti tertawa lalu menatapku tanpa rasa bersalah sama sekali.

“Ini jauh lebih baik, dari pada kau menginvestasikannya di perusahaan orang lain. Seharusnya kau berterima kasih padaku dan Siwon Hyung, karena mengelola seluruh uangmu dengan bijaksana” ucapnya. “Aku tidak butuh saran dan bantuanmu Cho, kembalikan uangku sekarang juga!” ucapku kesal.

“Ya! Ya! Berhentilah mengoceh. Kau tahu? kau sudah sangat kaya raya karena uangmu itu. Kau mau kemanakan seluruh uang itu tanpa mengelolanya? Jadi, aku dan Siwon Hyung memutuskan untuk membangun perusahaan atas namamu, dibantu dengan sedikit dana dari kami berdua. Kau lihat sekarang? Dalam waktu tiga tahun perusahaan ini sudah sukses dan mendunia. Ini semua berkat perpaduan ide ku dan ide mu tanpa kau ketahui” ucap Kyuhyun dengan bangga. Aku memutar bola mataku dengan malas lalu duduk bersandar di sandaran kursi dengan tangan bersedekap. “Dengar Cho, aku bukan seorang pebisnis. Jika kau ingin membangun perusahaan sendiri, jangan gunakan uangku” balasku.

“Kau ini tidak mengerti juga ya?” ucapnya dengan nada kesal. “Perusahaan itu milikmu, aku dan Siwon Hyung hanya membantumu. Lagi pula kau hanya perlu mengawasi perusahaan. Sudahlah! jika kau ingin berdebat denganku hanya karena ini, aku sedang cuti bekerja dari perusahaan, jadi kau yang menggantikanku. Oh ya, selamat ulang tahun Cheonnie, kau sudah semakin dewasa saja, anggap saja CN Industries adalah hadiah ulang tahun dariku. Sudah dulu, aku mengantuk” ucapnya lalu mengakhiri pembicaraan kami secara sepihak.

Sialan kau Cho!

Untuk beberapa saat aku tersadar akan sesuatu. Ini adalah hari ulang tahunku? Ah! Benar! Ini sudah tanggal 13 September, kenapa aku bisa lupa? Tapi itu bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan, menurutku semua hari sama saja. Dan lagi pula, tidak ada yang spesial dari hari ulang tahunku.

***

Dengan wajah sebal, aku telah duduk manis dikursi kepala, dalam sebuah ruangan berisikan sebuah meja panjang disertai belasan kursi yang masih kosong disebelah kanan dan kiri tempat ku duduk.

Ini bahkan masih sangat pagi, mungkin sekitar jam 8. Dan dengan kurang ajarnya, Siwon Oppa membangunkanku dari tidur nyenyakku yang bahkan berlangsung belum sampai 2 jam. Aku masih sangat mengantuk! Siwon Oppa dengan tenang mengambil tempat duduk di samping kananku.

“Kenapa harus aku?” ucapku kesal. Siwon Oppa menoleh ke arahku lalu tersenyum tipis. “Ku dengar kau mempelajari beberapa hal tentang perusahaan hingga larut” ucap Siwon Oppa tidak mengindahkan ucapanku barusan. “Jangan mengabaikan ucapanku Oppa!” ucapku keras. Masih mempertahankan senyumnya, ia menatapku seraya mengetukan jari-jarinya di atas meja. “Adik ku yang manis, berhentilah marah-marah. Kau berada disini sebagai seorang Presdir, ada banyak pasang mata yang akan melihat sikapmu nanti. Dan yang terakhir—kau harus ingat bahwa kau adalah Presdir CN Industries. Seluruh uangmu berada di perusahaan ini. Kau tidak mau kehilangan seluruh uangmu bukan?” ucap Siwon Oppa seraya mencondongkan wajahnya ke arahku. “Kalian mengambil uangku tanpa sepengetahuanku” balasku mendengus. Aku menatap Siwon Oppa yang kembali menarik wajahnya dari hadapanku, lantas ia hanya mengangkat bahu acuh, seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Kau memintanya untuk menginvestasikan uangmu. Itu yang ku dengar dari Kyuhyun. Disini aku hanya membantu” balas Siwon Oppa.

“Ngomong-ngomong soal uang, bagaimana bisa kau mengumpulkan uang sebanyak itu? Apa pekerjaan ‘Lain’ mu itu memiliki gaji yang besar, sekali beroperasi? Pantas saja Kyuhyun menolak keras untuk mengambil alih perusahaan Ayahnya” ucap Siwon Oppa lagi. Aku membulatkan mataku saat mendengar ucapannya barusan. “Dari mana kau tahu soal itu?” ucapku dingin. Siwon Oppa menatapku seraya tersenyum kecil, “Aku selalu mengawasi gerak-gerik adik kesayanganku serta sepupuku dari jauh. Pekerjaan gilamu itu lebih beresiko dari pada menjadi seorang Dokter”

“Itu hobby ku, jangan urus campur soal apa yang ku gemari”

***

Author POV.

            Pembicaraan Cheon Neul dan Siwon terhenti karena rapat akan segera dimulai. Beberapa pemegang saham telah hadir.

Cheon Neul dengan terpaksa harus berdiri dan menyambut para pimpinan dari ketiga perusahaan itu dengan ramah. Sejenak ia terdiam saat seorang pria masuk ke dalam ruangan itu diikuti dua orang pria dibelakangnya. Sama halnya dengan Cheon Neul, pria itu terkejut bukan main saat matanya menangkap seseorang yang sudah tidak asing lagi dimatanya.

“Kenalkan, ia adalah Lee Donghae putra dari Presdir L De Group. Dan Lee Donghae-ssi, kenalkan ia Han Cheon Neul, Presdir CN Industries” ucap Siwon seraya memperkenalkan Cheon Neul dan Donghae. Keduanya hanya terdiam dengan mata fokus saling memperhatikan satu sama lain. Cheon Neul tidak begitu terkejut dengan kehadiran Donghae, sejak ia melihat data-data perusahaan yang ditunjukan pria bernama Albert tadi malam.

Cheon Neul berusaha mengontrol dirinya, dan bersikap setenang mungkin. Tanpa ragu, dirinya mengulurkan tangan ke hadapan Donghae. “Perkenalkan, nama saya Han Cheon Neul. Senang bertemu dengan anda Lee Donghae-ssi” ucap Cheon Neul ramah. Dengan ragu, Donghae menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya. “Nama saya Lee Donghae, senang bertemu dengan anda” ucap Donghae tanpa menghilangkan keterkejutannya.

***

Rapat berakhir dengan sukses dibawah pimpinan rapat, Han Cheon Neul. Walaupun beberapa diantaranya menganggap konyol tentang identitas Presdir mereka yang notabene nya masih seorang gadis berusia awal 20-an. Cheon Neul menunjukan sikap profesionalnya sebagai seorang Presdir. Bagaimana pun, ia pernah mendapatkan pendidikan soal bisnis saat dirinya masih menyandang status sebagai Putri keluarga Choi.

Cheon Neul nampak tak ambil pusing saat mendengar ucapan-ucapan orang yang meremehkan kemampuannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah kabur dari tempat ini sebelum Oppanya merecokinya dengan pekerjaan yang lain.

Dengan hati-hati ia bersembunyi, menjauh dari Siwon yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa pemegang saham lainnya. Ia tak akan membiarkan dirinya dipaksa lagi oleh Siwon untuk melakukan hal ini lagi.

“Apa yang kau lakukan?”

Sebuah suara yang cukup familiar menurutnya itu, tertangkap indra pendengarannya. Lantas ia segera menoleh ke arah sumber suara, dan terkejut mendapati Donghae tengah berdiri menatapnya. “Oh! Aiden Lee?” ucap Cheon Neul tak begitu terkejut. Sesekali dirinya melirik Siwon yang masih berbincang dengan orang-orang itu.

“Apa kau punya waktu siang nanti? Bisakah kita makan siang bersama?” tanya Donghae tanpa basa-basi. Refleks Cheon Neul menunjuk dirinya sendiri lalu berucap “Kau mengajak ku makan siang? Heol! Maaf, tapi aku sedang—”.

“Tentu saja, ia punya banyak waktu untuk makan siang nanti Lee Donghae-ssi” sela Siwon yang tiba-tiba saja sudah berada disampingnya. Jika saja tidak ada pria ini dihadapannya, sudah pasti Cheon Neul akan memekik terkejut. “Oppa!” Cheon Neul hendak protes atas ucapan Oppanya. Namun kembali bungkam saat Donghae mulai berbicara, “Ah baiklah, aku ingin membicarakan soal proyek ini lebih lanjut saat makan siang nanti”

Donghae tersenyum canggung seraya melirik ke arah Cheon Neul sekilas. “Aku akan mengirimkan alamatnya padamu Siwon-ssi, kalau begitu aku permisi dulu”

***

Hotel

Cheon Neul mendengus kesal seraya melempar blazer hitamnya sembarangan. Ia mengambil ponselnya yang sengaja ia tinggalkan dari dalam laci nakas dan menghubungi Cho Kyuhyun. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu pria itu mengangkat telponnya.

“Cho!” serunya begitu panggilannya di jawab. Dengan langkah santai ia berjalan menuju sofa di dekat tempat tidur dan duduk disitu. “Ada apa?” tanya Kyuhyun dari sebrang sana. Cheon Neul menghela nafas kasar sebelum membalas ucapan pria itu. “Tidak, tidak jadi” ucapnya tiba-tiba lalu mematikan ponselnya dan meletakannya di meja. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu bergumam “Ah menyebalkan sekali”

Siapa yang tidak kesal? Mengetahui uangnya hilang, lalu tiba-tiba saja ia mengetahui bahwa uang itu di pakai kedua saudaranya, dan yang paling parah adalah—ia adalah seorang Presiden Direktur sekarang. Dalam mimpi pun ia tidak pernah memimpikan hal seperti ini. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit, terlalu pusing memikirkan masalah ini.

“Nona, 2 jam lagi anda akan makan siang dengan Tuan Lee Donghae dan Tuan Choi Siwon” ucap seorang wanita berwajah asia masuk ke dalam kamarnya. Heol! Bahkan sekarang ia tidak memiliki privasi lagi, karena mereka bisa masuk seenaknya ke dalam kamar. “Seharusnya aku menolak ucapan Kyuhyun tempo hari” gumamnya. Ia menatap malas wanita itu yang masih setia berdiri di dekat pintu, lalu mengangkat tangannya dan memberi kode untuk keluar.

Tanpa peduli, ia berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak. Ia perlu tidur untuk menjernihkan pikirannya saat ini.

***

Ia benar-benar telah menjadi seorang Presdir sekarang. Begitu ia bangun dari tidurnya, beberapa pelayan telah menyediakan pakaian formal untuknya. Ia bahkan telah memiliki seorang Assisten sekaligus pengawal pribadi bernama Kim Hee Jin, wanita yang berusia 2 tahun lebih tua darinya.

“Setelah makan siang, tidak ada jadwal lagi bukan?” tanya Cheon Neul seraya menatap jalanan dari jendela mobil. Hee Jin yang duduk di samping pengemudi menoleh ke belakang dan tersenyum tipis. “Setelah makan siang ini, tidak ada jadwal pertemuan Nona” ucap Hee Jin. Cheon Neul mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari jendela mobil. “Baguslah” gumamnya.

Diantara pikirannya yang masih sibuk memikirkan soal perubahan dirinya yang terlalu cepat serta dampaknya, dirinya terkejut saat mobil yang ditumpanginya mendadak berhenti, membuatnya nyaris terlempar ke depan. “Ada apa?” tanyanya cepat. “Eum—maaf, sepertinya terjadi kecelakaan di depan sana Nona” ucap Hee Jin seraya menoleh ke belakang dan terkejut karena Cheon Neul yang tiba-tiba saja keluar dari dalam mobil setelah mendengar ucapannya. “Nona!” panggilnya saat melihat Cheon Neul berjalan menuju keramaian yang berjarak beberapa meter di depan mobil mereka. Lantas Hee Jin keluar dari mobil dan ikut menyusul Cheon Neul dengan setengah berlari.

Cheon Neul berjalan menerobos kerumunan orang-orang dengan langkah cepat. Dirinya sempat bertanya pada seseorang di tempat itu untuk menanyakan apa yang terjadi. Menurut penjelasan orang itu, beberapa menit yang lalu, seorang wanita hamil tertabrak mobil, dan mereka tengah menunggu polisi dan ambulance untuk membawa korban tabrakan itu.

Tubuhnya terdiam menatap wanita korban tabrakan itu dengan wajah terkejut. Dengan segera dirinya mendekati korban itu dan berlutut disampingnya. Dengan wajah serius, Cheon Neul memeriksa denyut nadinya. Cheon Neul menatap wanita hamil itu yang telah tidak sadarkan diri, lalu beralih menatap tubuh bagian bawah wanita itu yang telah berlinang darah. “Kandungannya—“ gumam Cheon Neul. Cheon Neul mengangkat kepalany, menatap kerumunan orang-orang yang menyaksikannya lalu bertanya pada salah satu orang didekatnya “Berapa lama lagi Ambulance datang?” tanya Cheon Neul dengan wajah serius. Belum sempat orang itu menjawabnya, pendengaran Cheon Neul menangkap suara ambulance yang mulai mendekat.

Tak lama kemudian, petugas rumah sakit itu mengangkat wanita itu dan membawanya masuk ke dalam ambulance. Cheon Neul berniat masuk ke dalam ambulance itu untuk memeriksa kondisi korban lebih lanjut. “Nona!” panggil Hee Jin seraya mencekal pergelangan tangan Cheon Neul, sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil ambulance. “Apa yang kau lakukan? Apa Siwon Oppa tidak memberitahumu sebelumnya? Aku seorang Dokter” ucap Cheon Neul seraya melepaskan tangan Hee Jin yang menahan pergelangan tangannya dengan kasar. “Sampaikan permintaan maafku pada mereka. Aku tidak bisa ikut” ucap Cheon Neul lagi sebelum pintu ambulance itu ditutup.

***

Wajah tegang Cheon Neul sangat tercetak jelas saat dirinya telah berada disebuah rumah sakit di Milan. Beberapa petugas rumah sakit telah mengambil alih korban itu dan membawanya ke ruang unit gawat darurat. “Kau Dokter yang akan menanganinya?” ucap Cheon Neul seraya menahan langkah seorang pria muda berjas putih itu. Pria itu mengangguk lalu berniat berjalan meninggalkan Cheon Neul. ”

Pasien itu mengalami kekurangan darah akibat pendarahannya yang tidak berhenti. Aku berusaha menghentikan pendarahannya, namun tidak bisa. Aku menduga, ia seorang penderita Hemofilia” ucap Cheon Neul. Pria itu berdecak sebal mendengar ucapan Cheon Neul yang tak henti-hentinya.

“Please be quiet lady, we’ll handle it” ucap pria itu dengan aksen Inggris yang kaku. Cheon Neul mengumpat kesal saat pria itu mengabaikan ucapannya begitu saja dan berjalan meninggalkannya.

“Shit! Wanita itu bisa mati kehabisan darah” umpat Cheon Neul seraya berjalan masuk ke dalam unit gawat darurat.

Ia menahan seorang perawat yang melewatinya dengan tergesa-gesa lalu berucap “Dimana korban kecelakaan yang baru datang itu?” tanya Cheon Neul dengan bahasa Italia. Wanita itu menatapnya lalu berucap

“Ia baru saja dipindahkan ke ruang operasi” ucap sang perawat lalu berjalan meninggalkan Cheon Neul. Cheon Neul menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia bahkan tak memperdulikan penampilannya yang telah acak-acakan dan dipenuhi bercak darah. Dirinya terlalu khawatir dengan kondisi wanita korban tabrakan itu beserta kandungannya.

“Semoga ia selamat” doanya dalam hati.

***

Gold & Silver Restaurant

Kim Hee Jin masuk ke dalam sebuah restoran mewah sendirian dengan wajah tertunduk. Langkahnya berhenti di depan meja yang telah diisi oleh Siwon dan Donghae yang tengah berbincang.

“Oh, Kim Hee Jin-ssi. Dimana Cheon Neul?” tanya Siwon yang lebih dulu menyadari kedatangan Hee Jin. Hee Jin menunduk dalam lalu berucap

“Maaf Tuan, saat perjalanan kami kemari, tiba-tiba terjadi sebuah kecelakaan di jalan yang kami lewati. Nona Cheon Neul memutuskan untuk ikut membawa korban itu ke rumah sakit. Saya tidak bisa mencegahnya Tuan” jelas Hee Jin.

Donghae yang ikut mendengarkan ucapan wanita di hadapannya itu tak memberikan respon apapun. Ia lebih memilih menikmati secangkir kopi dihadapannya dan menunggu respon dari Siwon. Siwon yang mendengar penjelasan Hee Jin, nampak tidak begitu terkejut. Ia begitu memaklumi adiknya yang notabene berprofesi sebagai seorang Dokter. “Baiklah, tidak apa-apa. Itu sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Dokter. Tolong cari tahu rumah sakit mana ia pergi, dan awasi ia” ucap Siwon. Hee Jin mengangguk patuh lalu segera pamit pergi dan menjalankan tugasnya.

Setelah Hee Jin pergi, Siwon kembali fokus pada pria dihadapannya. Seraya tersenyum enggan, ia mulai berucap “Ah~ sayang sekali, Nona Han sepertinya tidak bisa hadir”. Donghae hanya menampilkan senyum tipis lalu berucap “Tidak masalah Siwon-ssi. Ku dengan Nona Han adalah seorang Dokter? Tentu saja ia harus melakukan tugasnya. Kita bisa berbincang-bincang bersama di lain waktu”

Siwon hanya mengangguk seraya tertawa kecil, ia mengusap lehernya lalu melanjutkan obrolan seputar bisnis mereka yang tertunda. Dalam hatinya ia cukup menyesal, ia bahkan belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada adik kesayangannya.

***

Hospital

Cheon Neul duduk di samping pintu operasi yang masih berlangsung itu dengan khawatir. Ia berharap wanita itu akan baik-baik saja, dan bayi yang ada didalam kandungannya selamat. Cheon Neul sendiri tidak tahu mengapa ia sekhawatir ini, wanita itu bukanlah siapa-siapanya. Sebuah derap langkah begitu mengusik ke tenangan tempat itu, Cheon Neul menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Hee Jin tengah berjalan mendekatinya. “Nona” sapa wanita itu seraya memberi hormat sejenak. Cheon Neul menatap Hee Jin yang tengah menatap penampilannya yang sangat berantakan itu. “Anda baik-baik saja?” tanya Hee Jin. Cheon Neul hanya mengangguk singkat lalu menerima kaleng minuman soda yang disodorkan Hee Jin dan meminumnya.

“Aku akan pulang setelah mendengar kabar tentang wanita itu dari Dokter” ucap Cheon Neul lalu kembali duduk. Hee Jin hanya mengangguk patuh dengan ucapan Cheon Neul. “Aku tidak punya jadwal kegiatan atau pertemuan lagi bukan?” tanya Cheon Neul seraya menikmati minuman soda itu. “Tidak, sejauh ini anda punya banyak waktu lowong Nona. Anda hanya perlu mempersiapkan pesta untuk perkenalan anda didepan publik nanti” ucap Hee Jin. Cheon Neul berdecak sebal mendengar penuturan Hee Jin. “Acara itu tidak penting” ucapnya. “Oh ya, Kau bisa kembali ke Korea lebih dulu besok” ucap Cheon Neul. Nampak Hee Jin hendak mengeluarkan protesnya namun tertahan saat Cheon Neul menatapnya tajam. “Aku tidak ingin mendengar bantahan” ucap Cheon Neul lagi.

Hee Jin hanya bisa mengangguk patuh. Ia memilih berdiri tak jauh dari tempat Cheon Neul duduk layaknya seorang pengawal.

Sudah berjam-jam terlewati, Cheon Neul bahkan harus berhadapan dengan Polisi yang menangani kasus kecelakaan itu untuk memberikan beberapa keterangan. Akhirnya setelah menunggu lama, seorang Dokter keluar dari ruang operasi itu dan menghampiri Cheon Neul. “Anda keluarga pasien?” tanya Dokter itu dengan bahasa Italy. Cheon Neul tanpa berfikir panjang langsung mengangguk dan bertanya seputar kondisi korban kecelakaan itu.

“Maaf, kami hanya bisa menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungannya, karena pasien seorang penderita Hemofilia, pasien harus mengalami pendarahan besar yang mengakibatkan dirinya meninggal” ucap pria itu memberikan penjelasan. Cheon Neul hanya bisa mengangguk seraya mendesah pasrah. Ia memang sudah memprediksi kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Sungguh sangat disayangkan karena wanita itu harus meninggal.

***

Cheon Neul menatap seorang bayi mungil yang berada di dalam inkubator itu dengan senyum sedih. Sangat disayangkan karena bayi itu harus kehilangan ibunya dihari kelahirannya. Cheon Neul baru saja memberi keterangan pada pihak Polisi seputar korban kecelakaan itu dan terkejut saat mendengar kabar bahwa pelaku tabrak lari itu adalah suami dari korban yang memang sengaja melakukan kejahatan itu. Terkutuklah pria keji tersebut!

“Nona” panggil Hee Jin hati-hati dari balik tubuh Cheon Neul. “Polisi baru saja mengabarkan bahwa bayi itu akan diberikan pada pihak keluarga korban di Venice” ucap Hee Jin. Cheon Neul membalikan tubuhnya menghadap Hee Jin lalu mengangguk “Baiklah, aku juga bukan siapa-siapa disini. Tapi, kau tunggu disini sampai pemakaman wanita itu selesai. Aku harus pergi” ucap Cheon Neul memberi perintah, lagi-lagi Hee Jin terkejut dengan perinta Nona-nya yang sangat seenaknya. Tapi apa boleh buat, ia hanya bisa mengangguk pasrah seraya menatap Cheon Neul yang berjalan santai meninggalkannya.

***

Cheon Neul POV.

Aku kembali ke hotel tempatku menginap hanya untuk membersihkan diri. Aku harus kembali ke Swiss hari ini sebelum Hee Jin datang. Aku telah memastikan bahwa Siwon Oppa tidak ada di kamar hotelnya, hanya untuk penjagaan, bisa saja ia kedapatan memergokiku yang akan kabur dari pengawasan gilanya.

Hanya berbekal paspor dan uang tunai yang tak seberapa di dompetku, aku segera pergi dari hotel dan menuju ke Bandara sebelum mereka menyadari keberadaanku. Haiss!! Menyebalkan.

***

Jenewa, Swiss

Dengan emosi yang menggebu-gebu aku menekan angka password rumahku. Aku tidak sabar untuk bertemu pria sialan bernama Cho Kyuhyun itu. Siapa yang tidak jengkel saat ditipu sepupumu sendiri? Aku akan mematahkan beberapa tulangnya agar ia kapok.

“Cho Kyuhyun!” teriakku begitu aku membuka pintu rumah itu. Mataku sibuk mencari sosoknya yang belum juga terlihat. Tidak ada di ruang tamu, di kamar, bahkan di kamar mandi. Aku yakin ia ada di dalam rumah ini sekarang.

Mataku tertuju pada dapur dan langsung saja menyadari ada satu ruangan yang belum ku masuki. Tempat penyimpanan wine.

Benar saja! aku mendapati pintu itu terbuka dan dirinya berada di dalam ruangan itu seraya mengamati satu persatu botol-botol wine yang berjejer rapi di kasnya. “Cho Kyuhyun!” ucapku geram. Ia menoleh ke arah ku lalu berseru “Oh! Kau sudah sampai?” ucapnya tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku benar-benar akan mematahkan tulang-tulangnya. Dengan marah aku berjalan mendekatinya dan memberikan beberapa pukulan keras ditubuhnya.

“Sialan kau!” makiku seraya melayangkan tinjuku ke arah wajahnya yang selalu ia agung-agungkan itu. Aku akan membuat wajah itu tidak layak untuk di agung-agungkan lagi. “Kau tau? Berapa banyak uang yang aku simpan itu hah? Kau dengan seenaknya menghabiskan seluruh uang ku! Yak!!” ucapku seraya memukul tubuhnya dengan bertubi-tubi tanpa memedulikan ringisannya.

“Appo, kau ingin membuatku cacat seumur hidup eo?” ringisnya seraya memegangi wajahnya yang membengkak akibat pukulanku. “Kau pantas mendapatkannya” balasku geram. “Ah, kau itu tak berkeprimanusiawi” keluhnya seraya meringis saat menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Aku menghentikan aksi brutalku dan menatapnya sengit. “Aku tidak mau tahu, urusan soal CN Industries itu adalah tanggung jawab mu” ucapku seraya menarik salah satu botol wine lalu berjalan kembali ke atas, meninggalkannya sendirian.

***

Aku membuka botol wine itu dengan kasar lalu menuangkan cairan beralkohol itu ke dalam gelasku dan meneguknya dalam sekali tegukan. Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti dipukul dengan benda keras. Aku menarik rambutku sendiri, berusaha mengalihkan rasa sakit dikepalaku. Ah menyebalkan sekali.

Aku memeriksa laptop milik Kyuhyun, melihat-lihat apa yang ia kerjakan selama berada disini. Aku mengerutkan dahiku saat melihat beberapa pesan baru masuk di emailnya. Tanpa meminta izin lebih dulu, aku langsung membuka pesan itu dan terkejut saat mendapati beberapa dokumen CN Industries yang dikirim dari perusahaan. Aku mengeceknya satu persatu dan cukup terkesima dengan pekerjaan Kyuhyun. Rupanya ia menangani perusahaan itu dengan baik, seharusnya ia saja yang menjadi Presdir?!

“Sudah puas mengotak-atik laptopku?” ucap Kyuhyun seraya berjalan ke arahku sambil memegang kain putih ditangannya untuk membersihkan sedikit darah dari bibirnya. Aku tak mengindahkan ucapannya dan memilih melihat-lihat dokumen lainnya “Pekerjaanmu rapi, seharusnya kau saja yang menjadi Presdir? Kenapa harus aku?” ucapku heran. Ku lihat ia meringis sakit seraya mengusap luka kecil di bibirnya lagi. “Kalau tujuanku hanya ingin menjadi Presdir sejak dulu, mungkin saat ini aku tidak akan melakukan hal gila macam Job Secret kita. CN itu dibangun atas kerja samaku dan Siwon Hyung dengan tujuan untuk membuatmu menjadi Presdir” ujar Kyuhyun. “Aku tidak pernah ingin menjadi Presdir Kyu” sela ku. Ia menggeleng heran seraya mengambil tempat untuk duduk di sampingku. “Ini sebenarnya rahasia antara aku dan Oppamu itu. Sebenarnya ini adalah misi rahasia yang paling rahasia” ucap Kyuhyun seraya memasang wajah sok serius. Aku memutar bola mataku malas mendengar bualannya. “Berhentilah bermain-main Cho” ucapku jengah. Ia menepuk bahuku lalu berkata dengan keras “Aku serius!” ucapnya. Aku mengangguk-angguk pasrah saja saat ia mulai mendongeng.

“Perusahaan itu dibangun atas uangku, uangmu, dan uang Siwon Hyung. Siwon Hyung punya bakat berbisnis yang hebat, karena itu CN Industries maju begitu pesat. Perusahaan ini dibuat untuk menghancurkan perusahaan Ayahmu” ucap Kyuhyun. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat seraya menuntutnya menjelaskan hal itu lebih detail.

“Asal kau tau saja, di dunia ini bukan Cuma Ibu mu dan kau yang menderita karna perlakuan Ayah mu. Siwon Hyung juga merasakannya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan Choi Ahjussi melakukan konspirasi besar-besaran dengan pihak Pemerintah. Tujuannya hanya satu, perdagangan ilegal yang Ayahmu lakukan harus tetap berjalan lancar. Menurut kata Siwon Hyung, perusahaan mereka cukup lemah untuk urusan alat-alat elektronik macam perusahaan kita. Karena itu ia memintaku mendirikan perusahaan ini untuk menjadi bom penghancur perusahaan itu” ujar Kyuhyun.

Aku menatapnya untuk beberapa saat lalu mulai berucap “Tidak masuk akal” ucapku.

“Yais! Anak ini! kau tahu? Ayahmu adalah orang yang harus bertanggung jawab atas penyelundupan obat-obatan medis yang masuk dan keluar dari negara kita” Kyuhyun menatapku sengit.

Aku dan Siwon Oppa memang sudah tahu soal pekerjaan gelap Ayah kami di balik Perusahaan kebanggannya itu. Tapi, berniat menghancurkan perusahaan? Cih! Dia pikir aku tidak pernah mencobanya huh? Aku sudah pernah mencobanya berkali-kali dan yang terakhir aku malah di keluarkan dari kartu keluarga. Itu sebabnya kami tidak seperti Ayah dan Anak pada umumnya, yang ada kami saling melemparkan tatapan kebencian.

“Tidak semudah yang kalian pikirkan bodoh! Ia punya banyak orang di instansi negara yang mau memuluskan semua pekerjaannya” ucapku lalu kembali menuangkan wine itu ke dalam gelasku yang telah kosong, lalu meneguknya lagi. Berargumen dengan pria ini hanya membuatku stress saja. Aku menatapnya lagi lalu melanjutkan ucapanku,

“Tapi—baiklah, setelah ku pikir-pikir kembali, tidak ada salahnya untuk mencobanya lagi” ujarku.

 

 

To be Continue

Makasih buat Admin yang udah ngijinin aku posting ff disini. Semoga ngga krenyes-krenyes, gaje dan membosankan karena ceritanya aneh^^

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: