After Yesterday [4/6]

After Yesterday

-Season 1-

Part 4

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

Bern, Swiss

Donghae langsung kembali dari Milan dengan Jet milik Ayahnya setelah pertemuannya dengan Siwon hari itu juga. Ia mendapat kabar dari kediaman keluarga Shim, bahwa In Hyun kembali jatuh sakit. Sebagai Tunangan, sudah pasti ia harus menemui In Hyun dan mengetahui kondisinya lebih lanjut.

Ia berjalan memasuki mansion itu yang jauh terlihat ramai. Sudah ada Tuan Shim dan Nyonya Shim yang menunggu kedatangannya, ada pula Max—dan Ayahnya? Oh! Tumben sekali Ayahnya berkunjung ke keluarga besannya. Ia menunduk sejenak lalu memberi sapa kepada orang-orang itu.

“Bagaimana kondisi In Hyun, ku dengar ia jatuh sakit lagi?” tanya Donghae to the point. Nyonya Shim menganggukan kepalanya lemah, “Ya, Hanna sedang merawatnya di dalam, kami dilarang masuk untuk melihat keadaannya” ucap Nyonya Shim. Donghae mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Nyonya Shim. “Maksud anda?”

“Duduklah dulu, biar kami menjelaskannya perlahan-lahan” sela Tuan Lee seraya menepuk sofa kosong disampingnya. Donghae patuh saja saat diminta duduk oleh Ayahnya, masih dengan wajah penuh tanda tanya, pria itu menatap 4 orang yang berada diruangan ini bersamanya. “Kami tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi, tapi menurut Dokter Hanna In Hyun terserang Virus menular, karena itu kami semua tidak diperbolehkan masuk—termasuk kau juga Donghae” ucap Tuan Shim. Donghae menghela nafas berat, tubuhnya masih sangat lelah setelah perjalanan yang tak ada habis-habisnya. Ia hanya mengangguk pelan lalu bersandar di sandaran sofa. “Semoga ia baik-baik saja” gumamnya.

***

Jenewa, Swiss

Kyuhyun menggerutu tak jelas seraya merebahkan tubuhnya pada sofa panjang berwarna hitam di ruang keluarga. Ia baru saja berniat tidur lalu mendapatkan telpon dari Siwon yang bertanya soal keberadaan adik kesayangannya itu. Yah, Siwon sudah pasti tahu siapa yang harus ia tanya setelah mendapat kabar dari Hee Jin bahwa Cheon Neul menghilang.

Kyuhyun merapatkan selimut tipis berwarna biru tua yang ia ambil dari dalam lemari baju di kamar Cheon Neul dan mulai memejamkan mata. Cheon Neul sendiri belum tidur dan masih berkutat di depan laptop miliknya dan milik Kyuhyun, mengawasi gerak-gerik Mansion keluarga Shim yang rupanya jauh terlihat lebih ramai dimalam hari begini—sungguh pemandangan yang tak biasa. Ada Tuan Shim dan Ibunya serta Max yang sedang berbincang-bincang dengan Lee Donghae dan seorang pria tua lainnya. Ia tidak begitu terkejut saat melihat Donghae telah berada di Bern.

Hanya ada pembicaraan biasa yang ia dengar, atau mungkin—ia sudah melewatkan sebuah pembicaraan penting sebelumnya? Entahlah, ia akan memeriksa rekamannya nanti. Matanya terus mengawasi keadaan rumah itu, sampai akhirnya ia melihat kondisi taman depan milik keluarga itu dari camera CCTV lainnya yang telah ia retas sebelumnya. Ia melihat Hanna berjalan hati-hati seraya memerhatikan sekitarnya, lalu berjalan menuju semak-semak untuk mengambil—sebuah paket? Woah! Sungguh tak terduga. Bagaimana bisa Hanna menyembunyikan paket ditempat seperti itu? Ia akan memeriksanya saat ia berada di Bern nanti.

***

Bern, Swiss

In Hyun menatap lemah Hanna yang berada dihadapannya menggunakan baju steril serta masker. “Apa virus ini berbahaya?” tanya In Hyun lemah. Hanna menatapnya dalam diam lalu tersenyum tipis, “Tidak, ini tidak berbahaya. Kau tenang saja” ucap Hanna dengan wajah setenang mungkin, ia lalu melanjutkan pekerjaannya, menyuntik In Hyun yang telah ia berikan obat sebelumnya.

In Hyun menatapnya tak percaya lalu menoleh ke arah pintu yang tertutup, hanya ada dirinya dan Hanna di dalam kamarnya ini. “Jangan berbohong Hanna, buktinya kau tidak mengizinkan siapapun masuk di dalam kamarku selain dirimu” ucap In Hyun. Sekali lagi Hanna tersenyum tipis lalu menatap In Hyun dengan tenang.

“Kau butuh banyak istirahat, karena itu aku meminta mereka untuk tidak masuk” ucap Hanna lagi lalu mendekati In Hyun dan membenarkan selimut gadis itu. In Hyun nampak memaksakan dirinya untuk tetap terjaga walaupun matanya begitu berat untuk terbuka. “Kau tidak berbohong bukan?” ucap In Hyun dan hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Hanna.

“I’m your friend, bukankah begitu?” ucapan manis yang keluar dari bibir Hanna tentu saja membuat In Hyun tenang dan percaya begitu saja. In Hyun mengangguk lalu tersenyum lemah. “Ya, kau benar” ujarnya lemah lalu mulai tenggelam dalam alam mimpi.

***

Pagi harinya, Cheon Neul telah tiba di Bern. Ia bangun pagi-pagi sekali lalu segera berangkat ke Bern tanpa menunggu Kyuhyun bangun. Ia telah membulatkan niatnya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya disini lalu kembali ke Korea secepatnya. Pagi ini ia baru saja mendapatkan kabar dari Max bahwa In Hyun jatuh sakit lagi. Entah penyakit macam apa lagi yang telah menular padanya.

Dan disinilah ia, di depan Mansion megah milik keluarga Shim. Dengan langkah pasti, ia berjalan memasuki Mansion tersebut. Langkahnya terhenti saat dirinya melihat Tuan Shim yang berada di depan pintu Mansion tersebut yang juga tengah menatapnya. Berusaha setenang mungkin, Cheon Neul kembali melanjutkan langkahnya, berusaha mengabaikan pria parubaya itu yang jelas-jelas masih menatapnya dalam diam.

“Choi Ji Hyun, bisakah kita bicara sebentar?” tanya pria itu dengan nada rendah. Cheon Neul menghentikan langkahnya kembali lalu tersenyum sinis. Ternyata masih ada orang yang berani memanggilnya seperti itu. “Maaf, kau mungkin salah orang” ucap Cheon Neul dingin. Ia berniat melanjutkan langkahnya kembali namun diurungkannya saat pria itu kembali berucap “Bagaimana pun juga kau adalah putri Choi Sang Won” ujar Tuan Shim lalu menatap Cheon Neul tenang. Cheon Neul kembali tersenyum sinis lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“Yah, kau memang benar. Aku tidak bisa menutupi kenyataan itu. Bukankah kau seharusnya senang? Setidaknya penantianmu terhadap Ibuku tidak berakhir sia-sia” ucap Cheon Neul. Tuan Shim tertawa kecil mendengar ucapan Cheon Neul lalu berucap, “Sepertinya pembicaraan kita akan berlangsung lama. Bagaimana kalau kita duduk-duduk di ruang kerjaku sambil minum teh” ucap Tuan Shim. Cheon Neul mengangkat satu alisnya, menimbang-nimbang tawaran Tuan Shim yang selama ini selalu dihindarinya. “Aku tidak suka minum teh”

***

Workroom

Cheon Neul dan Tuan Shim duduk berhadap-hadapan di ruang kerja Tuan Shim yang luas seraya menikmati secangkir kopi ditangan masing-masing. “Aku tidak tahu kalau kau begitu menyukai kopi” ujar Tuan Shim sekedar berbasa-basi. Cheon Neul hanya tersenyum seraya menikmati kopinya lagi. “Kau juga harus tahu bahwa aku tidak suka basa-basi” ujar Cheon Neul ringan. Tuan Shim kembali tertawa kecil lalu berkomentar “Benar-benar sifat Penjahat Choi Sang Won”. “Well—bagaimana pun aku adalah putri dari penjahat itu” balas Cheon Neul.

Pembicaraan itu berlanjut dengan serius, penuh sindiran tajam yang di akhiri dengan tawa keras Tuan Shim ataupun senyum sinis gadis itu.

“Kau sudah mendapatkan apa yang selama ini kau cari Tuan Shim, jadi aku harap Ibu ku akan baik-baik saja saat bersama mu” ucap Cheon Neul seraya beranjak berdiri dari duduknya. Ia sudah cukup bosan berbincang-bincang dengan pria tua di hadapannya. “Aku akan memastikannya itu Cheon Neul-ah. Setidaknya perasaanku jauh lebih baik sekarang, aku tidak perlu bermusuhan dengan Ayahmu lagi” ucap Tuan Shim. Cheon Neul tertawa kecil mendengar lelucon pria tua itu. “Ya, mungkin saja begitu. Tapi aku tetap saja membencimu Tuan, bagaimana pun juga kau membawa Ibuku begitu saja saat dirinya masih harus melakukan kewajibannya sebagai seorang Ibu” ucap Cheon Neul lalu segera pergi dari ruang kerja Tuan Shim. Luka itu, masih sangat membekas dihatinya.

***

Cheon Neul berjalan setengah berlari menyusuri lorong menuju kamar In Hyun. Baru saja Max menyuruhnya untuk segera ke kamar In Hyun. In Hyun dikabarkan tidak sadarkan diri dan Max tidak begitu mempercayai Hanna saat melihat kondisi adiknya langsung.

Cheon Neul masuk ke dalam kamar itu, lalu berjalan mendekati In Hyun yang tidak sadarkan diri di atas tempat tidurnya tanpa peduli dengan keberadaan Hanna yang jelas-jelas tak menyukai kehadirannya itu. “Sudah berapa lama ia begini Alice?” tanya Cheon Neul pada Alice yang berada di tempat itu beserta para perawat lainnya. “Kami tidak tahu” jawab Alice. Ya, ia memang tidak tahu sejak kapan, karena selama ini dirinya dan para perawat lainnya dilarang menyentuh In Hyun sama sekali.

Cheon Neul menggunakan masker dan sarung tangan steril lalu menyentuh pergelangan tangan In Hyun. Ada banyak bintik-bintik merah yang muncul di kulit In Hyun, termasuk wajahnya. “Ia pingsan karena kondisinya yang buruk saat mengalami demam, ada banyak bintik merah dikulit In Hyun juga pembengkakan kelenjar limfa pada telinga dan leher” ucap Cheon Neul seraya mengamati kondisi In Hyun yang pucat.

“Apa yang selama ini kau lakukan Hanna?” ucap Cheon Neul keras seraya berbalik menatap Hanna tajam. Hanna hanya menatapnya datar tanpa berkata apapun. Max mendelik ikut menatap Hanna, menuntut banyak penjelasan dari gadis itu. “Aku tidak bisa mengatakan apapun, dan kalian tidak punya hak untuk memecatku. Aku disini atas perintah seseorang” ujar Hanna tenang. Disaat itu pula nampak Tuan Shim dan Nyonya Shim masuk ke dalam kamar itu diikuti Donghae dibelakang mereka berdua.

“Apa yang terjadi?” tanya Tuan Shim yang menyadari ketegangan di ruangan itu. Max menatap sang Ayah lalu berucap “Hanna mungkin akan membunuh In Hyun jika Cheon Neul tidak datang” ucap Max geram. Tuan Shim menepuk bahu putranya lalu berucap “Kau tidak boleh berbicara seperti itu, Hanna selalu melakukan pekerjaannya dengan baik. Ia juga adalah teman baik adikmu” ucap Tuan Shim menenangkan Max. “Hanna, kau boleh mengambil libur beberapa hari. Biar Angela yang menggantikanmu sementara” ucap Tuan Shim lagi seraya memberi perintah pada Hanna. Hanna mengangguk patuh lalu menatap Cheon Neul yang juga tengah menatapnya. Ia melayangkan tatapan penuh permusuhan ke arah Cheon Neul sebelum beranjak pergi dari tempat itu.

Cheon Neul memasang wajah setenang mungkin, lalu kembali memerhatikan kondisi In Hyun. “Jennifer, tolong ambil sampel darah In Hyun segera. Aku akan membawanya ke laboratorium untuk diperiksa. Hati-hati saat mengambilnya, aku menduga ia terserang virus Rubella. Jangan sampai terjangkit” ucap Cheon Neul tenang.

***

Cheon Neul duduk seraya mengangkat kedua kakinya di taman belakang Mansion ini. Ia terlalu sibuk menikmati susu kotak rasa cokelat dan sebungkus keripik kentang yang baru saja dibelinya di mini market. Banyak hal yang sedang dipikirkannya saat ini, soal Ibunya, Ayahnya, CN Industries, dan soal In Hyun. Ada banyak hal yang terjadi di waktu yang bersamaan, yang membuatnya kewalahan dan tak mengerti. Seperti memang sudah di rancang.

Donghae yang sedang berjalan-jalan di sekitar taman luas itu tanpa sengaja melihat Cheon Neul yang tengah duduk-duduk di salah satu kursi di taman itu. Ada banyak hal yang tak di mengertinya tentang Han Cheon Neul. Tentang sifatnya, hal-hal aneh yang ia lakukan, entah mengapa itu semua membuatnya menjadi begitu penasaran. Sosok misterius Han Cheon Neul yang beberapa waktu ini sering di jumpainya. Seorang Dokter, Pengusaha, oh! Ada berapa banyak macam pekerjaan yang ia lakoni?

Donghae memutuskan untuk menghampiri gadis itu yang nampak begitu sibuk melamun sendiri. “Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Donghae memecah kesunyian. Cheon Neul menoleh ke arahnya dengan tatapan datar, “Kau tidak lihat ya? Aku sedang minum dan makan” ujarnya. Donghae terkekeh lalu memilih mendudukan dirinya di samping gadis itu. “Aku belum mengizinkanmu duduk di sampingku” ujar Cheon Neul datar seraya mengunyah keripik kentangnya lagi. “Tempat ini di sediakan bukan hanya untukmu. Aku tidak perlu izin darimu” ucap Donghae tenang seraya menatap lurus ke depan.

Cheon Neul hanya mendengus mendengar ucapan Donghae, lalu menyodorkan bungkus keripik kentangnya ke hadapan Donghae. “Kau mau?” tawar Cheon Neul. “Aku sangat jarang berbagi keripik kentangku pada orang lain” tambahnya. Donghae terkekeh lalu mengambil beberapa keripik dari dalam bungkus itu “Kalau begitu, aku merasa begitu terhormat saat ditawari keripik kentangmu. Terima kasih” ucapnya. “Jangan berlebihan” ucap Cheon Neul mendengus.

“Sebelumnya aku minta maaf” ucap Donghae lagi setelah beberapa saat terjadi keheningan di antara keduanya. Cheon Neul menoleh ke arahnya seraya mengangkat satu alisnya. “Awalnya aku tidak begitu mempercayaimu sebagai Dokter” lanjut Donghae dengan kepala tertunduk. Mendengar hal itu, Cheon Neul hanya terkekeh lalu meminum susu kotaknya yang hampir habis itu. “Tidak masalah, aku sudah sering berhadapan dengan orang-orang menyebalkan seperti mu” ujar Cheon Neul. “Di rumah sakit tempatku bekerja juga begitu. Setiap menangani kasus yang menurut mereka tidak seharusnya ku tangani, aku selalu berakhir di ruang Kepala Rumah Sakit dan berargumen dengannya. Sejauh ini aku belum di pecat” ucap Cheon Neul santai. Donghae melihat sorot mata yang berbeda dari mata cokelat milik gadis itu. Sangat kontras dengan nada suaranya yang begitu tenang.

“Kau sedang tidak membuat masalah bukan?” tanya Donghae. Cheon Neul mendengus mendengar ucapan Donghae yang lebih merujuk sebagai tuduhan. “Ya kau benar, aku baru saja membuat masalah. Aku baru saja mencuri pasien milik Dokter Hanna, membuat Dokter Hanna kesal dan terpaksa melakukan liburan mendadak. Sepertinya sebentar lagi aku akan mendapat masalah baru karena telah membuat pasien yang ku curi cemburu” ujar Cheon Neul membuat Donghae tertawa. “Kau konyol juga” komentar Donghae seraya tertawa.

Untuk beberapa saat mereka berdua tertawa sambil melemparkan candaan lucu, seolah-olah masalah yang ada dihadapan mereka saat ini hilang begitu saja. Donghae dan Cheon Neul nampak nyaman dengan suasana ini. Seolah-olah mereka tak peduli dengan sekitar dan enggan mengakhiri suasana ini dan kembali ke dunia yang sudah seharusnya mereka jalani.

Cheon Neul nampak masih mempertahankan senyumnya seraya menatap langit malam yang nampak bersih tak tertutupi awan dan dipraktekan juga oleh Donghae. “Woah, langit malam yang indah. Sekalipun tidak ada matahari yang meneranginya, tapi tetap terlihat indah. Aku iri” ucap Cheon Neul dengan ringan. Mendengar ucapan Cheon Neul membuat Donghae lantas menoleh ke arah Cheon Neul yang nampak enggan melepas pandangannya dari langit.

“Kenapa kau berucap seperti itu?” tanya Donghae. Membuat Cheon Neul menghela napasnya sesaat lalu kembali tersenyum lebar, seolah-olah tidak ada masalah. “Ya, mereka hanya bisa menyaksikan segala macam masalah yang terjadi di bumi dari atas sana. Tidak peduli itu masalah kecil atau besar, mereka hanya bisa menyaksikannya. Jika langit ikut campur—mungkin itulah yang disebut kiamat” ucapnya diakhiri dengan candaan. Donghae hanya tersenyum menanggapi candaan Cheon Neul. Perasaan hangat yang ia rasakan lewat candaan mereka sebelumnya telah terganti dengan perasaan aneh yang sulit ia definisikan.

“Menurutku, In Hyun memiliki beberapa kesamaan seperti langit. Entah ia tahu atau tidak sebesar apa masalah yang ia hadapi, nampaknya ia tidak peduli dan juga tidak mau tahu menahu. Ia tidak mau tahu sebab akibat dari masalah itu. Ia begitu polos dan menaruh kepercayaan yang begitu besar pada seseorang, dan memiliki keindahan tersendiri dalam dirinya sekalipun ia tidak beruntung. Jalan pikirannya sangat simple. Sesuai dengan namanya, ia hanya ingin seperti Ratu In Hyun” ucap Cheon Neul mendeskripsikan pandangannya tentang sosok Shim In Hyun. Donghae tak lagi menatap langit, ia hanya menatap lurus ke depan seraya mendengarkan seluruh ucapan Cheon Neul dengan serius.

Cheon Neul menoleh ke arah Donghae lalu tanpa memudarkan senyumannya. “Jika ia ingin seperti Ratu In Hyun, maka ia ingin kau juga seperti Raja Sukjong. Omo! Jangan-jangan kalian adalah reinkarnasi mereka? lalu Dokter Hanna adalah Selir Jang, dan aku adalah Selir Suk Bin, bukankah cocok?” canda Cheon Neul sambil tertawa membuat Donghae ikut tertular tawa Cheon Neul.

“Kau benar-benar konyol. Kau pikir reinkarnasi itu ada? Aku tidak percaya hal-hal seperti itu” ucap Donghae setelah dirinya berhenti tertawa.

***

Cheon Neul kembali memasuki kamar In Hyun, nampak gadis itu telah siuman dan tengah duduk di atas tempat tidurnya dengan raut wajah datar. “Kau sudah sadar?” tanya Cheon Neul santai seraya berjalan menuju ke arah In Hyun dengan ringan. “Siapa yang mengizinkanmu masuk di kamarku?” ucap In Hyun sinis. Cheon Neul menatap wajah pucat In Hyun lalu menghela nafas pelan. “Hais, kau itu tidak tahu berterima kasih ya? Beberapa jam yang lalu kau tidak sadarkan diri dan aku harus menolongmu” ujar Cheon Neul lalu memasang stetoskop di telinganya.

“Apa yang kau lakukan? Aku tidak ingin dirawat olehmu” ucap In Hyun setengah berteriak. Ia memasang wajah tak suka seraya menjauhkan dirinya dari Cheon Neul. Sekali lagu Cheon Neul harus mengusap dadanya dengan sabar. “Aku tahu kau tidak memercayai siapapun selain Hanna-mu itu. Tapi bagaimana ini? aku juga tak suka pasienku membangkang” ucap Cheon Neul tenang, lalu kembali berusaha menjangkau In Hyun. “Tidak, aku tidak butuh Dokter sepertimu, aku hanya butuh Hanna” ucap In Hyun marah dengan suara serak. “Berhentilah bergerak-gerak jika kau tak ingin jatuh pingsan lagi” ucap Cheon Neul datar, nampaknya ia juga sudah cukup kesal mendengar kekeraskepalaan gadis ini. “Tidak! tidak akan!” tolaknya keras. Cheon Neul menghela nafas kesal, ia masihlah seorang manusia yang memiliki perasaan emosi. “Baiklah, terserah kau saja, mungkin Tunanganmu akan kecewa nanti saat kau tidak memercayai Dokter yang sudah ia percayai untuk merawatmu. Dan itu aku” ujar Cheon Neul seraya melepas stetoskopnya dari lehernya.

“B—baik, baiklah. Tapi tidak menggunakan benda itu” ucap In Hyun dengan suara rendah seraya menunjuk stetoskop yang di pegang Cheon Neul. Cheon Neul menyeringai puas dengan ancamannya. “Tidak masalah”

***

Matahari telah terbit, Mansion mewah keluarga Shim tidak menunjukan perubahan walaupun Hanna—sang Dokter kepercayaan keluarga Shim itu sedan diliburkan. Sebagai gantinya, Cheon Neul menjadi lebih tenang dan leluasa untuk keluar-masuk kamar In Hyun setiap saat.

“Bagaimana dengan hasil lab kemarin? Seharusnya sudah keluar hari ini” tanya Cheon Neul pada Jennifer saat keduanya berada di ruang tamu. “Seharusnya sudah dari tadi Nona, tapi saya juga tidak tahu. Belum ada pemberitahuan dari pihak Lab Rumah Sakit” ucap Jennifer takut-takut. Cheon Neul menatap Jennifer dengan tenang seraya memikirkan sesuatu. “Baiklah, kalau begitu hubungi Rumah Sakit sekarang juga” ucap Cheon Neul sebelum gadis itu meninggalkan Jennifer sendiri ditempat itu.

Cheon Neul berjalan menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Di ambilnya ponselnya yang ia letakan di nakas kecil disamping tempat tidurnya dan menghubungi Kyuhyun.

“Cho, bisakah kau memeriksa sesuatu untuk ku?” tanya Cheon Neul begitu Kyuhyun menerima sambungan telponnya. “Tolong periksa seluruh data penerbangan, tiket kereta, pokoknya apapun itu atas nama Hanna Kim. Dan juga—periksa seluruh negara kunjungan Tuan Shim selama beberapa tahun ini, aku butuh itu sekarang juga” ucap Cheon Neul cepat lalu segera memutuskan panggilan itu.

Ia menghela nafas lalu memijit pelipisnya yang berdenyut sakit. Terlalu pusing dengan masalah dihadapannya yang semakin runyam. Ada banyak hal yang sangat mengganjal pikirannya, membuatnya bertanya-tanya. Ini bukan tugas yang mudah, ini tugas yang menguras seluruh pikirannya.

***

“Ini hasil lab nya Nona, Nona Shim In Hyun di diagnosis terjangkit virus Rubella. Sepertinya ini terjadi belum lama” ucap Jennifer seraya memberikan hasil lab yang baru saja di dapatnya. Cheon Neul menerima hasil lab itu dan membukanya dengan segera. “Kalau begitu ada orang lain yang terserang virus itu dirumah ini, In Hyun tidak pernah keluar rumah sebelumnya” gumam Cheon Neul seraya fokus membaca kertas dihadapannya. “Ah, benar! Memang ada salah satu koki dirumah ini yang minta izin karena sedang sakit. Ia memang yang selalu memasak makanan untuk Nona In Hyun” tambah Jennifer. Cheon Neul menatap Jennifer terkejut lalu berucap cepat “Sediakan air hangat bercampur madu dan lemon untuk In Hyun segera, itu akan meredakan sakit tenggorokannya dan hidung beringus. Dan katakan pada yang lain untuk tidak masuk ke dalam kamar In Hyun sampai kondisinya pulih, aku tidak ingin ada orang lain yang ikut terjangkit” Jennifer menunduk patuh dan segera menjalankan perintah Cheon Neul.

Sementara itu, Cheon Neul berjalan cepat menuju kamar In Hyun. Ia mendapati Max dan In Hyun sedang bercengkrama sesekali tertawa. “Max” panggil Cheon Neul pelan. In Hyun yang melihat kehadirannya terlebih dulu, langsung memasang wajah penuh permusuhan pada Cheon Neul. Sementara itu Max hanya menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut penuh tanya. “Ada yang ingin ku bicarakan padamu. Ini penting” Max menatap In Hyun sejenak yang memasang wajah memelas menatapnya, lalu berucap “Oppa tidak akan lama” ucap Max lalu beranjak berdiri dan mengikuti Cheon Neul keluar dari kamar tersebut. Max menutup pintu kamar itu dengan hati-hati lalu menatap Cheon Neul yang tengah menatapnya.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Max. Cheon Neul menghela nafas lalu menatap Max serius. “Ini soal In Hyun” ucap Cheon Neul memulai pembicaraan. “Ada apa dengannya?” tanya Max serius. Wajahnya menegang seraya menanti-nanti apa yang akan dikatakan Cheon Neul selanjutnya.

“Aku baru saja mendapat hasil lab dari Rumah Sakit, In Hyun terserang virus Rubella. Aku memang sudah menduga hal ini sejak melihatnya kemarin, dan takut ini akan membahayakan orang lain jika In Hyun tidak di bawa ke Rumah Sakit sesegera mungkin” ujar Cheon Neul. Max membulatkan matanya saat mendengar ucapan Cheon Neul. “A—apa? Apa itu bisa disembuhkan?” desak Max. Cheon Neul mengangguk pasti lalu berucap “Ya, jika sistem Imun milik In Hyun kuat. Ini akan sembuh dengan sendirinya. Tapi aku ragu jika sistem milik In Hyun—“

“Maksudmu In Hyun memiliki sistem Imun yang lemah? Begitu?” sela Max cepat. Cheon Neul hanya mengangguk lemah. “Virus ini bisa menjadi berbahaya jika In Hyun memiliki sistem Imun yang buruk. Dan aku mengkhawatirkan hal itu. Untuk sementara, tolong jangan mengunjungi In Hyun dulu, kau bisa terjangkit juga. Biarkan ia istirahat dulu, semoga itu bisa membuatnya lebih baik” ucap Cheon Neul memberikan penjelasan lebih pada Max. Pria tampan itu menghela nafas sejenak, berfikir keras sebelum mengambil keputusan untuk adik kesayangannya itu. “In Hyun pernah di bawa ke Rumah Sakit beberapa kali, tapi ia selalu mengamuk dan ingin pulang. Apa kau bisa menanganinya?” tanya Max ragu. Cheon Neul tersenyum tipis mendengar ucapan Max yang meragukannya.

“Jangan memanggilku dari awal jika akhirnya kau meragukanku Max”

***

“Aku tidak punya waktu untuk ke Jenewa Cho, jadi jelaskan saja sekarang dan aku akan mendengarkannya” ucap Cheon Neul saat dirinya tengah berbincang-bincang dengan Kyuhyun via Video Call dari laptopnya. Kyuhyun hanya menghela nafas berat lalu mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan. “Aku tidak mendapatkan apa-apa, tidak ada satupun daftar nama Hanna Kim di setiap penerbangan, tiket kereta dan lainnya. Jika ia berniat jahat, ia tidak akan mungkin bertindak ceroboh dengan cara meninggalkan negara ini dengan alasan berlibur. Ia masih ada di sekitar kalian Cheonie, aku yakin sekali” ucap Kyuhyun. Cheon Neul meminum susu kotaknya lagi saat Kyuhyun tengah menjelaskan soal Hanna padanya.

“Dugaanmu ada benarnya juga. Lalu bagaimana dengan Tuan Shim?” ucap Cheon Neul memberi pendapat soal penjelasan Kyuhyun lalu memulai topik baru. Kyuhyun memasang serius seraya mengetik-ngetik sesuatu dari layar laptop Cheon Neul. Tak lama kemudian, sebuah pesan baru ditampilkan di layar laptop Cheon Neul yang rupanya di kirim oleh Kyuhyun. “Itu data-datanya, tidak terlalu sulit menemukan data itu. Sekilas itu terlihat seperti perjalanan bisnis biasa, tapi setelah diperhatikan kembali ada yang aneh sepupu” ucap Kyuhyun. Cheon Neul menautkan kedua garis alisnya dengan tatapan penuh tanya.

“Anehnya, setiap tiga bulan sekali, Tuan Shim selalu berkunjung ke Pennsylvania secara pribadi. Dan itu tidak ada dalam agenda kerjanya.” ucap Kyuhyun seraya menggaruk kepalanya. Cheon Neul menatap Kyuhyun dengan wajah serius, ia sudah tidak lagi mood untuk menghabiskan susu kotaknya. Yang ada di otaknya adalah mencari tahu. Ya, mencari tahu soal ada apa dan mengapa Tuan Shim pergi kesana.

“Cari tahu soal itu Cho, data apapun itu, kau harus menemukannya dan melaporkannya padaku” ucap Cheon Neul. Kyuhyun mengangguk lalu berucap “Disana ada sebuah villa milik keluarga Shim yang sudah di jual, hanya ada itu” ucap Kyuhyun. Cheon Neul baru saja ingin mengatakan sesuatu, namun tertahan saat ada suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya. Lantas, Cheon Neul mengakhiri pembicaraannya dengan Kyuhyun dan menutup laptopnya dengan segera. Setelah dirasanya telah cukup baik, ia segera membuka pintu kamarnya.

“Max?” ucap Cheon Neul refleks saat mendapati Max berada di depan pintu kamarnya. “Oh, Cheon Neul-ssi” ucap Max seraya tersenyum enggan, sungguh sangat tidak biasa. “Ada apa?” tanya Cheon Neul heran dengan kedatangan Max dikamarnya. “Eum, soal masalah Rumah Sakit. Aku telah membicarakannya dengan Appaku” ucap Max canggung. “Kita bicarakan ini di situ saja, kita tidak mungkin bicara sambil berdiri di depan pintu kamarku kan?” ucap Cheon Neul seraya menunjuk satu set sofa di dekat tangga. Max mengangguk lalu berjalan menuju sofa tersebut, mendahului Cheon Neul.

Setelah merasanya nyaman untuk melakukan pembicaraan, Max memulai pembicaraannya yang sempat tertunda. “Ayah menolak usulanmu untuk membawa In Hyun ke Rumah Sakit. Lalu apa yang akan kau lakukan?” ucap Max terdengar ragu-ragu.

Cheon Neul POV.

            Max memanggilku karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Kami tengah duduk-duduk di sofa yang terletak di dekat tangga rumah ini. Aku diam menunggu apa yang ingin dikatakan Max. “Ayah menolak usulanmu untuk membawa In Hyun ke Rumah Sakit. Lalu apa yang akan kau lakukan?” ucap Max terdengar ragu-ragu. Aku tidak begitu terkejut mendengar laporan Max, karena aku sudah menduganya.. Ya, sudah pasti akan ada yang menolak usulanku ini, dan ternyata Tuan Shim yang menolaknya.

Aku tersenyum tipis lalu bersandar di sandaran sofa dengan santai “Kenapa ia menolak? Bukankah ini semua untuk kebaikan Putrinya?” tanyaku seraya memicingkan mata. Max mengangkat bahunya dengan kepala tertunduk “Terkadang aku tidak mengerti dengan isi kepala Ayahku” ucapnya. “Ia sedang berada di LA dan akan kembali minggu depan setelah pekerjaannya disana telah selesai” ucap Max.

“Kalau begitu In Hyun bisa di opname hingga minggu depan jika ia di bawa ke Rumah Sakit hari ini juga” ucapku santai. Kulihat Max menatapku terkejut. “Ada apa? setidaknya In Hyun punya kesempatan untuk sembuh dari virus itu. Bukankah itu tujuan kita?” ucapku lagi. “Kau belum pernah melihat Ayahku marah Han Cheon Neul-ssi?” ucapnya dengan suara rendah.

Aku bangkit berdiri dari duduk ku seraya tersenyum tipis. “Jika ia marah, artinya ia tidak ingin Putrinya sembuh” ucapku ringan seraya berjalan masuk ke dalam kamarku lagi.

***

Hospital

Aku baru saja selesai berbincang-bincang dengan seorang Dokter bernama Catharine Josh, seorang Dokter Spesialis Patologi Klinik yang secara kebetulan bertemu denganku di Unit Gawat Darurat tadi. Ia cukup prihatin dengan kondisi In Hyun saat ia tak sengaja melihat gadis itu dibawa masuk ke dalam UGD tadi.

“Sebenarnya tidak apa-apa jika ia memiliki sistem Imun yang kuat, tapi melihat kondisi gadis itu, aku rasa pilihanmu untuk membawanya kemari sudah benar Angela” ucapnya Dokter Catharine. Aku tersenyum tipis seraya berucap

“Aku tidak ingin anggota keluarga dirumah ikut terjangkit virus ini. Ini hanya upaya pencegahan penyebaran virus” ujarku. Ia ikut tersenyum lalu melirik jam dipergelangan tangannya, “Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang, aku harus pergi ke Lab. Sayang sekali pembicaraan kita harus berakhir disini” ucapnya. Aku tersenyum maklum “Itu sudah menjadi tugasmu” ujarku. Ia tertawa kecil lalu mengangguk setuju,

“Ya, kau benar. Lain waktu kita bicara lagi, dan jika kau butuh bantuan tidak usah segan meminta bantuanku. Sampai jumpa” ujarnya lalu segera berjalan pergi.

“Kau sedang berbincang dengan siapa?” Max tiba-tiba saja menghampiriku membuatku sedikit terkejut. “Eh? Aku hanya sedang berbincang-bincang dengan seorang Dokter tadi” ucapku. Ku lihat Max mengangguk lalu menyodorkan sebuah minuman kaleng padaku. “In Hyun akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Jika ia sadar nanti, sudah pasti ia akan mengamuk” ucap Max seraya menggoyang-goyang minuman kalengnya. “Yah, dan ia akan sangat merepotkan nanti” balasku seraya memandang lurus ke depan, dimana banyak orang berlalu-lalang.

Keheningan tiba-tiba menyelimuti sekitar kami. Tidak ada pembicaraan sama sekali, dan aku juga tidak berniat mencairkan suasana hening ini dan lebih memilih menikmati minuman kaleng yang tadi ia berikan. “Terima kasih” ucap Max tiba-tiba, membuatku refleks menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.

“Untuk apa?” tanyaku. “Kau bersedia untuk kemari membantuku” ucapnya seraya tersenyum tipis. Aku hanya tertawa sumbang seraya mengibas-ngibaskan tanganku di depan wajah. “Tidak usah sungkan begitu. Bukankah aku akan dibayar untuk ini” ucapku. Ia ikut tertawa sumbang bersamaku lalu mengangguk. “Sampaikan juga ucapan terima kasihku untuk Cho Kyuhyun” ucapnya. Aku tersenyum lalu berucap “Akan lebih baik jika ucapan terima kasihmu dalam bentuk uang” ucapku setengah bercanda.

Tiba-tiba aku teringat pembicaraanku dengan Cho soal Tuan Shim, ku rasa ini adalah timing yang tepat untuk membicarakan masalah itu. “Max, aku ingin bertanya soal Tuan Shim” ucapku dengan wajah serius. Ia menatapku dengan dahi berkerut “Ayahku? Masalah apa?” tanyanya. “Apa kau punya informasi soal keluargamu di Pennsylvania?” tanyaku hati-hati. Sesaat ia diam berfikir lalu kembali menatapku dan menggeleng pelan “

Tidak ada, tapi setahuku dulu kami memiliki seorang pembantu yang berasal dari sana. Memangnya ada apa?” ucapnya. Seorang pembantu? ah, apa ini ada hubungannya? “Bukan masalah serius, tapi—kalau boleh aku tahu, dimana sekarang pembantu itu?” tanyaku hati-hati. Max memandangku datar “Ia sakit dan meninggal, sudah lama sekali. Aku tidak ingat, saat itu aku masih kecil” ucap Max. Aku mengangguk sebagai respon atau ucapannya, dalam hati aku berusaha mencerna ucapan Max, siapa tahu ini bisa dijadikan informasi.

“Apa ia mengidap penyakit berbahaya?” ucapku mencoba mengorek informasi lebih dalam lagi. Max menoleh ke arahku dengan tatapan tak suka, aku bisa merasakannya. Apa ini pembicaraan yang sensitif? “Angela, aku memintamu untuk menyelidiki penyakit adikku. Bukan untuk mengurusi masalah rumah tangga keluarga kami. Aku tidak membayarmu untuk itu” ucapnya dingin. Aneh sekali, kenapa Max berubah menjadi sesensitif ini?

Aku menggeleng pelan seraya berucap “Bukan apa-apa, hanya sedikit penasaran” ucapku kaku. Tatapan Max berubah menjadi kosong, aku berusaha menangkap apa yang ia gumamkan “Penasaran akan membuatmu menjadi sepertiku” itu kira-kira yang berhasil aku dengar. Tiba-tiba Max menatapku dengan tatapan cemas, “Angela, aku tahu kau tidak ingin mengakui hal ini. Tapi kau harus ingat, Ibumu menikah dengan Ayahku. Berarti kau adalah Anak tiri Ayahku. Aku tidak ingin ada hal buruk yang menimpamu nanti. Jangan pernah berani mengganggu sesuatu yang berkenaan dengan Ayahku” ucapnya. Aku menatapnya penuh dengan tanda tanya. Ada banyak hal yang tidak ku pahami dari ucapannya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Max? Apa yang sedang ia tutupi? Keluarga Shim benar-benar memiliki banyak misteri.

***

L De Construction Office, Jenewa

Donghae POV.

Akhir-akhir ini kesibukan ku semakin bertambah. Pasalnya, Ayahku telah membuat perusahaan cabang di Jenewa yang mengharuskanku untuk bolak-balik Jenewa-Bern, benar-benar melelahkan. Tenagaku selalu terkuras dengan seluruh pekerjaan yang terpaksa harus aku kerjakan. Ini semua ada penyebabnya, Ayahku ingin aku kembali ke Seoul. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak siap untuk menata kehidupan baru disana.

Aku juga tidak lagi memiliki waktu lebih untuk mengunjungi In Hyun. Sejujurnya, setahun sudah usia pertunangan kami, tapi sampai detik ini aku tidak tahu perasaan seperti apa yang aku rasakan untuk Tunanganku itu. Aku begitu menyayanginya, dan aku juga tidak mengeluh saat tahu bahwa Ayahku menjodohkanku dengan gadis yang jelas-jelas tengah sakit keras. Oh, aku tidak bodoh, sudah rahasia umum bahwa In Hyun tengah sakit keras dan mereka masih saja menutup-nutupi hal itu. Aku juga tidak tahu alasannya.

“Sir, ini dokumen tentang rancang-bangun infrastruktur yang telah di sepakati pihak CN Industries. Soal desain, mereka telah mengaturnya. Kantor pusat L De Group di Seoul memercayakan perusahaan cabang kita untuk melaksanakan proyek ini” ucap Assisten kepercayaanku, Dennis Park. Orang kiriman Ayahku yang memang ditugaskan untuk mengawasi seluruh aktifikasku 1×24 jam, semenjak menjabat sebagai CEO. Aku menerima map biru yang ia sodorkan padaku dengan malas, membacanya sebentar lalu menutupnya kembali.

“Apa tidak ada dari pihak CN Industries yang akan mengawasi langsung proyek ini?” tanyaku pada Dennis. Pria itu hanya tersenyum seraya menggeleng, “CN Industries tidak pernah mengawasi seluruh proyek mereka secara langsung. Saya juga heran dengan cara perusahaan itu bekerja” ucap Dennis.

Ah, tentu saja aneh, lagi pula Presdirnya juga memang aneh. Ngomong-ngomong soal itu, bukankah ia sedang berada di Swiss? Ah! Bodoh sekali! seharusnya aku bertanya padanya soal pekerjaan saat berbincang-bincang kemarin. Tapi mana mungkin aku kembali ke Bern sekarang, lagi pula gadis itu sering sekali keluar dan tidak kembali berhari-hari. Aku menatap Dennis yang masih setia berdiri di dekat mejaku lalu berucap

“Dennis, bisa bantu aku? tolong pergi ke alamat ini, dan periksa apa rumah itu telah ditempati orang atau tidak. Jika tidak, tolong beli rumah itu dengan harga dua kali lipat dari harga jual. Aku tidak suka tinggal di Apartemen terlalu lama” ucapku seraya menyodorkan secarik kertas berisikan alamat rumah lamaku, ah rupanya aku menyesal menjual rumah itu. Dennis mengangguk patuh lalu segera menjalankan perintah.

Begitu ia keluar dari ruanganku, aku segera menghembuskan nafasku lega. Rasanya tercekat sekali saat Dennis berada di dekatku. Aku bukannya tidak menyukainya, hanya saja ia terlalu ketat mengawasiku atas perintah Ayahku, kecuali aku berkunjung ke kediaman keluarga Shim. Membuatku risih saja.

Aku menatap kembali map di atas mejaku yang bertuliskan ‘CN Industries’. Pikiranku melayang kembali pada pertemuanku dengan Angela di Milan beberapa hari yang lalu. Ah, siapa sangka Dokter aneh itu adalah seorang Presdir perusahaan besar, terlebih lagi untuk bidang Teknologi macam elektronik yang tidak kalah hebat dengan negara-negara lain.

Aku tersenyum tipis saat mengingat wajah gadis itu saat bertemu di Milan. Ia sangat berbeda saat itu, ia terlihat begitu anggun dan sopan. Lain halnya saat kami bertemu di kediaman keluarga Shim, ekspresi datar yang begitu dingin dan cukup mengerikan, cuek dan begitu serius. Ah! Ada apa denganmu Lee Donghae?! Kenapa kau malah memikirkan Dokter aneh itu? sadarlah!

Dering ponselku membuyarkan ku dari lamunanku, aku mengambil ponselku dari dalam saku kamejaku dan mendapati nama Max tertera sebagai si penelpon.

Aku baru saja mendapat kabar dari Max bahwa In Hyun dibawa ke rumah sakit. Agak mengherankan memang, selama ini In Hyun tidak akan mau dibawa ke Rumah Sakit. Aku mengambil kunci mobil dan jas ku yang ku sampirkan diatas sofa lalu berjalan menuju pintu ruang kerjaku. Aku harus segera menyusul kesana, bagaimana pun ia masih berstatus Tunanganku.

***

Author POV.

“Kau ingin berhenti mencari tahu masalah Tuan Shim?” tanya Kyuhyun dalam sambungan Video Call bersama Cheon Neul. Cheon Neul menggeleng seraya meminum Mocca Float miliknya, saat ini dirinya berada di kantin Rumah Sakit, ia memiliki sedikit waktu bebas karena ada Donghae dan Max yang menjaga In Hyun.

“Tidak mungkin, kita sudah sejauh ini Cho. Lagi pula, aku memiliki firasat buruk tentang keluarga ini. Bagaimana bisa Ibuku terjebak dalam keluarga seperti ini?” gerutu Cheon Neul. Kyuhyun dari layar ponselnya hanya mengangkat bahu acuh seraya berucap “Entahlah, Bibiku memang aneh seperti putrinya” ujar Kyuhyun.

Cheon Neul menatap lekat wajah Kyuhyun yang berada di dalam layar ponselnya, “Aku penasaran dengan pembantu itu. Bisa kau mencarikannya untukku? Aku tidak punya waktu untuk mencarinya sendiri” ucap Cheon Neul. Kyuhyun mengangguk seraya memfokuskan dirinya ke PC lainnya. “Tenang saja, itu hal mudah” ucapnya enteng seraya mengetik-ngetik sesuatu disana. Cheon Neul menunggunya dengan sabar seraya menikmati Mocca Floatnya yang tinggal seperempat. “Dapat!” seru Kyuhyun senang seraya tersenyum.

“Namanya Alexandra Johans, tidak ada data-data khusus tentangnya. Tapi ada satu yang sangat mencurigakan disini” ucap Kyuhyun seraya mengerutkan dahinya. Cheon Neul memastikan bahwa ia dapat mendengar suara Kyuhyun dari headset yang ia pakai. “Kau bilang ia meninggal karena sakit, tapi data ini menunjukan ia meninggal setelah melahirkan. Aku mendapatkan datanya dari Rumah Sakit di Zurich” ucap Kyuhyun. Cheon Neul mengerjapkan matanya seraya berucap “Berarti ia memiliki seorang anak”

“Ya kau benar, data tentang Alexandra Johans terdaftar dalam catatan pekerja berkewarganegaraan asing dan di nyatakan meninggal setelah melahirkan di Rumah Sakit Zurich. Tidak ada data-data lain. Aku tidak menemukan data tentang anaknya” ucap Kyuhyun.

“Maksudmu—ada orang lain yang menyembunyikan soal itu?” ucap Cheon Neul dan di jawab dengan anggukan oleh Kyuhyun. “Sudah pasti. Dan anehnya adalah nama wali dari Alexandra Johans adalah Tuan Shim” ucap Kyuhyun dengan wajah serius. “Maksudmu Ayah Max dan In Hyun?” tanya Cheon Neul semakin bingung. “Kakeknya, Tuan Shim Jung Hwa”

***

Cheon Neul kembali ke dalam kamar rawat In Hyun dan mendapati Donghae dan Max sedang berada disana menjaga In Hyun yang masih dalam pengaruh obat bius. Kedua pria itu serempak menoleh ke arah pintu masuk dimana Cheon Neul berdiri. “Kau dari mana?” tanya Max seraya menghampiri Cheon Neul. Cheon Neul hanya tersenyum tipis seraya berjalan mendekati sofa dan duduk disitu. “Aku baru kembali dari kantin Rumah Sakit” ujarnya. Max mengangguk mengerti lalu melirik ke arah In Hyun yang masih belum sadarkan diri.

“Baiklah, kalian berdua tolong jaga In Hyun, ini memang sudah sore tapi aku harus pergi ke kantor dan mengurusi beberapa masalah. Aku akan kembali lagi nanti” ucap Max lalu keluar dari ruangan itu. Donghae kembali fokus menatap In Hyun dihadapannya sedangkan Cheon Neul hanya bisa duduk diam seraya memikirkan rencana berikut yang akan dia ambil.

“Angela—“ tegur Donghae dari tempat duduknya. Cheon Neul menoleh dengan tatapan datar lalu berucap “Ada apa?”. Tiba-tiba Donghae mendadak gugup, awalnya ia hanya ingin sekedar menegur, namun ia tidak sangka jika ia akan jadi segugup ini. Ia mencoba mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan rasa gugupnya, “Soal CN Industries—“

“Oh maaf, jika kau ingin membicarakan soal itu, aku tidak mau. Kita sedang berada di luar masalah pekerjaan sekarang. Biarkan aku tenang tanpa mengurusi perusahaan itu. Lagi pula kita sedang berada di Rumah Sakit” celoteh Cheon Neul. Donghae hanya mengangguk dan diam-diam menghela nafas lega karena ia tidak perlu berfikir keras untuk membuat topik pembicaraan, walaupun ia juga merasa malu disaat yang bersamaan saat gadis itu dengan tegas menolak pembicaraannya mengenai urusan pekerjaan. Lagi pula ini memang salahnya, ia membuka topik pembicaraan mengenai masalah perusahaan di timing yang tidak tepat. “Baiklah”

***

In Hyun akhirnya siuman setelah tidak sadar selama 12 jam. Matanya membulat saat menyadari bahwa ini bukan kamarnya. Matanya menelusuri setiap tempat dengan raut wajah tak terbaca. “Jangan terkejut, ini rumah sakit” ucap Cheon Neul datar seraya bangkit dari sofanya. Hanya ada Cheon Neul dan In Hyun di ruangan ini, sementara Donghae sedang mengisi perutnya di kantin rumah sakit.

“Kau yang membawaku kesini?” ucap In Hyun dengan wajah tidak suka. Dalam sejarah Cheon Neul menangani pasien, In Hyun adalah pasien paling menyebalkan yang ingin sekali ia cekik lehernya sangking menjengkelkan. “Ya, bersama Max—Oppamu” ujar Cheon Neul ringan. “Kau tidak punya hak untuk membawaku kemari! Aku ingin pulang!” ucap In Hyun keras. Cheon Neul mengangkat bahunya cuek lalu berucap

“Tenang saja kau dirawat disini hanya seminggu sampai Tuan Shim kembali dan membawamu pulang” ucap Cheon Neul lalu menempatkan dirinya duduk di kursi di samping tempat tidur In Hyun.

“Apa yang kau rencanakan Angela Han” geram In Hyun dan di tanggapi dengan wajah tenang oleh Cheon Neul. “Apa yang kau sembunyikan Shim In Hyun?” balas Cheon Neul. “Ini bukan urusanmu”

Cheon Neul mengangguk seraya menoleh ke arah pintu, memastikan bahwa hanya ada mereka berdua disini dan ia bisa membicarakan banyak hal dengan leluasa tanpa pengawasan. “Kau suka cokelat?” tawar Cheon Neul seraya mengambil sebungus cokelat di meja yang memang sengaja ia beli tadi. In Hyun menatap bungkusan itu dalam diam,

“Tidak, aku tidak di perbolehkan makan makanan seperti itu oleh Hanna” ujar In Hyun berusaha menolak. Cheon Neul tersenyum kecil saat mendapati wajah In Hyun yang angkuh namun berusaha menolak cokelat tawarannya.

“Benarkah? Menurutku tidak masalah kalau kau makan cokelat, tidak akan sakit. Tapi ya sudahlah jika kau tidak mau” ucap Cheon Neul seraya membuka bungkusan cokelat itu bermaksud mengejek In Hyun.

“T—tunggu!” ucap In Hyun cepat, Cheon Neul menghentikan niatnya untuk memakan cokelat itu di depan In Hyun dan memasang wajah bingung seolah-olah tidak ada masalah. “Kenapa?” tanya Cheon Neul datar. In Hyun menelan ludahnya seraya mengedarkan pandangannya ke arah lain, mencoba untuk menurunkan rasa gengsinya untuk meminta makanan manis yang di pegang Cheon Neul.

“Kau yakin tidak akan sakit?” tanya In Hyun ragu-ragu. Merasa usahanya sukses, Cheon Neul tersenyum kecil lalu berucap “Ya, tentu saja. Aku juga seorang dokter” ucap Cheon Neul. In Hyun menelan ludahnya sekali lagi lalu berucap “Sudah lama aku tidak makan makanan manis seperti itu. Aku boleh memakannya?” ucap In Hyun ragu-ragu.

“Kau suka? Kenapa tidak bilang dari tadi” ucap Cheon Neul seraya menyerahkan cokelat itu kepada In Hyun dan dengan cepat In Hyun menerimannya. “Jangan bilang pada Hanna jika aku makan makanan ini” ucap In Hyun lagi seraya menggigit kecil cokelat itu. Cheon Neul melipat kedua tangannya di dada lalu mengangguk acuh “Itu bukan sebuah laporan penting yang harus Hanna dengar” balas Cheon Neul datar. “Tapi Hanna akan memarahiku”

Cheon Neul duduk di dekat In Hyun seraya menatap gadis itu memakan cokelat pemberiannya. “Sudah berapa lama kau berteman dengan Hanna?” tanya Cheon Neul.

“Kenapa kau ingin tahu?” balas In Hyun ketus. Cheon Neul hanya mengangkat bahu seraya berucap “Hanya memastikan bahwa kalian sudah berteman lama atau tidak, kalian berdua terlihat begitu dekat. Tenang saja, aku tidak akan membocorkan hal ini pada siapapun kalau kau mau” ucap Cheon Neul santai. In Hyun menatap lekat Cheon Neul, mencoba mencari tahu apa tujuan dari gadis ini.

“Ia anak dari Dokter yang merawatku dulu, kami mulai berteman saat aku jatuh sakit. Ibunya membawa Hanna untuk menemaniku. Aku harap kau tidak akan berburuk sangka lagi padanya setelah mendengar ceritaku” ucap In Hyun seraya memakan cokelatnya lagi. “Ibu Hanna yang merawat mu dulu?” ucap Cheon Neul seraya mencoba mengorek informasi lebih. In Hyun mengangguk lalu berucap “Ia meninggal dua tahun yang lalu, dan Hanna yang menggantikanku” ucap In Hyun.

Satu informasi lagi baru Cheon Neul dapatkan. Cheon Neul mengangguk lagi seraya berucap “Ah jadi begitu”

***

“In Hyun masih punya sifat kekanak-kanakan. Bertahun-tahun terkurung dalam kamar sendiri dan hanya mendapat pendidikan home schooling membuatnya tidak bisa bersosialisasi. Sepertinya Hanna memberikan banyak pengaruh untuk In Hyun” ucap Cheon Neul saat dirinya berada di Mansion keluarga Shim. Ia meminta Donghae untuk menjaga In Hyun sebentar karena ia ingin mandi dan berganti baju.

Kyuhyun yang mendengarkan ucapan sepupunya itu hanya mengangguk-angguk dengan wajah serius saat memerhatikan PC nya yang lain untuk ia gunakan beroperasi. “Kau sendiri bagaimana? Ada informasi baru?” tanya Cheon Neul seraya menatap layar laptopnya yang menampilkan wajah Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk tanpa melepaskan tatapannya dari pekerjaannya itu, “Ya, aku telah mendapatkan Informasi tentang Alexandra Johans. Ia meninggal setelah melahirkan, dan Dokter yang menanganinya secara khusus adalah Dokter keluarga Shim Helena Michael” ucap Kyuhyun. “Maksudmu—Ibunya Hanna?” ucap Cheon Neul dengan tangan bersedekap di depan dada. Kyuhyun mengangguk cepat lalu berucap, “Ada hal yang lebih aneh lagi. Aku menemukan sebuah foto Tuan Shim Jung Hwa bersama Alexandra Johans”

To Be Continued

Makasih buat Admin yang udah ngijinin aku posting ff disini. Semoga ngga krenyes-krenyes, gaje dan membosankan karena ceritanya aneh^^

 

1 Comment (+add yours?)

  1. ammy5217
    Aug 25, 2017 @ 21:19:59

    Keluarga shim penuh misteri…. Siapa sebenarnya Alexandra Johans???

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: