After Yesterday [5/6]

After Yesterday

-Season 1-

Part 5

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

            “Foto ini di ambil sebelas tahun sebelum Tuan Shim Jung Hwa meninggal, atau lebih tepatnya dua tahun sebelum In Hyun lahir” ucap Kyuhyun. Cheon Neul membuka pesan gambar yang baru saja Kyuhyun kirimkan padanya. “For the first, and for the last” ucap Cheon Neul seraya membaca sebuah catatan kecil di atas foto itu. “Kau dapat di mana foto ini?” tanya Cheon Neul lagi seraya menatap Kyuhyun. “Foto ini di scan seseorang dan di simpan dalam arsip wasiat Tuan Shim Jung Hwa. Aku menemukannya saat membongkar data-data tentang pengacara keluarga Shim” ucap Kyuhyun. Cheon Neul mengangguk lagi, ia dapat mengambil kesimpulan dari informasi baru yang di dapatnya dari Kyuhyun. “Maksudmu mendiang Tuan Shim Jung Hwa memiliki hubungan khusus dengan Alexandra Johans?” Kyuhyun mengangguk lalu berucap “Seperti yang kau pikirkan”

“Ini sudah 2012 Cho, umur In Hyun sudah 19 tahun. Ia mendapat warisan saat usianya 10 tahun—setahun setelah Tuan Shim Jung Hwa meninggal. Berarti usia foto ini sudah 21 tahun. Foto ini di ambil 21 tahun yang lalu, tempatnya tahun 1991” ucap Cheon Neul menghitung-hitung usia foto itu. “Ada satu lagi, dan ini yang paling penting menurutku” ucap Kyuhyun. Cheon Neul diam seraya menanti ucapan Kyuhyun berikutnya. “Tahun 1993 Alexandra Johans dinyatakan meninggal, aku lupa memberitahumu itu”

***

Cheon Neul kembali ke Rumah Sakit mendapati Ibunya telah berada disana. Ah! Sudah berapa lama ia tidak melihat Ibunya ini? akhir-akhir ini wanita itu jarang sekali terlihat, dan Cheon Neul juga tidak mau tahu. Wanita itu duduk di samping In Hyun dengan mata tertuju pada putri kandungnya—Han Cheon Neul. “Kau sudah datang sayang? Eomma mendapat kabar dari Max dan Eomma langsung berangkat dari Paris kemari” ucap Nyonya Shim. Cheon Neul nampak malas mendengarkan penjelasan Ibunya, selama ini ia terlalu sibuk dengan In Hyun, dan ia tidak begitu ambil pusing jika Ibunya ada di dalam Mansion itu ataupun tidak. Tidak ada artinya sama sekali.

Cheon Neul memeriksa kondisi In Hyun tanpa membalas ucapan Ibunya tadi, dengan wajah dingin ia menatap kedua wanita itu. “Sebaiknya Eomma tidak berada disini, kau bisa tertular virus” ucap Cheon Neul. Nyonya Shim tersenyum hangat saat mendengarkan ucapan Cheon Neul. “Kau mengkhawatirkanku?” ucap Nyonya Shim senang, In Hyun yang melihat adegan Ibu dan Anak itu hanya tersenyum kecut, ya ia sadar bahwa wanita dihadapannya ini bukanlah Ibu kandungnya.

Cheon Neul menarik sudut bibir kanannya dan menatap Ibunya datar, “Tentu saja, kau bisa saja tertular virus dan aku tidak ingin ada korban lain, itu akan sangat merepotkan” ujarnya tenang. Senyum yang terpatri di wajah Wanita tua itu memudar seketika saat mendengar ucapan berikutnya yang keluar dari bibir putrinya. Wanita itu berusaha memoleskan senyum baik-baik saja lalu menatap In Hyun yang sedang menatapnya. “Baiklah, kalau begitu tolong jaga In Hyun, aku pulang dulu” ucap wanita itu lalu beranjak berdiri dari duduknya. “Sampaikan padaku jika terjadi sesuatu atau membutuhkan sesuatu” ucapnya lagi seraya menatap Cheon Neul dengan sedih. Cheon Neul hanya mengangguk singkat dengan ekspresi yang sama—datar.

Nyonya Shim telah keluar dari ruang rawat itu, menyisakan Cheon Neul dan In Hyun yang diselimuti keheningan. In Hyun melayangkan tatapan tidak suka saat melihat wajah tenang Cheon Neul yang nampak acuh dengan kehadiran Ibunya. “Sejak awal aku tidak suka denganmu. Kau begitu dingin, sombong dan tidak peduli, bahkan terhadap Ibumu sendiri” ucap In Hyun. Cheon Neul mengambil tempat duduk di samping tempat tidur In Hyun dan mendengarkan gadis itu berbicara. “Aku juga tidak menyukaimu Shim In Hyun” balas Cheon Neul tenang. In Hyun mendengus seraya menatap Cheon Neul marah. “Ia wanita yang baik dan penyayang, kau mati saja dari pada menyia-nyiakan Ibu sebaik dirinya” ucap In Hyun lagi. Cheon Neul mengangkat bahu acuh lalu berucap “Bisa saja kau yang lebih dulu mati”

In Hyun melayangkan tatapan kesalnya karena ucapannya hanya di anggap enteng Cheon Neul. “Aku serius!” ucapnya sebal. Cheon Neul tersenyum seraya memandang In Hyun dengan tenang, “Aku juga serius Shim In Hyun”

***

Max datang bersama Donghae masuk ke dalam ruang rawat In Hyun. Donghae baru saja datang setelah ia mandi dan berganti pakaian di rumahnya, sementara Max baru saja tiba dari kantor. In Hyun telah tidur, sementara Cheon Neul sendiri hanya duduk-duduk santai seraya memangku kaki kanannya diatas kaki kiri dan telinganya tersumpal dengan headset putih miliknya.

“Kalian sudah datang?” ucap Cheon Neul seraya melepas headset di telinga kirinya dan menatap kedua pria itu secara bergantian. Max mengangguk seraya melonggarkan simpul dasi yang mengikat lehernya dan melepaskan jas armani berwarna hitam miliknya. Donghae sendiri hanya tersenyum simpul seraya meletakan sebuah bungkusan di atas meja lalu duduk di sofa single di hadapan Cheon Neul. “Apa ini?” tanya Cheon Neul seraya meraih bungkusan itu dan membukanya. “Ada beberapa roti di dalam dan juga cokelat, kata Max kau suka cokelat” ucap Donghae seraya melirik Max sebentar.

Cheon Neul mengeluarkan isinya satu persatu dan meletakannya di meja. “Aku suka cokelat putih” ucap Cheon Neul seraya memandang cokelat di tangannya yang ternyata bukan cokelat kesukaannya. “Tapi tidak masalah, terima kasih” lanjut Cheon Neul seraya tersenyum tulus, membuat Donghae terdiam beberapa saat—terlalu mengagumi senyum yang jarang sekali diperlihatkan gadis itu. Menyadari bahwa ia baru saja memasang wajah bodoh, Donghae berdehem seraya mengalihkan pandangannya ke arah In Hyun. “Bagaimana keadaan In Hyun?” tanya Donghae. Cheon Neul masih sibuk melihat bungkusan-bungkusan cokelat yang di beli Donghae tadi, “Masih sama, tidak ada tanda-tanda apa kondisinya semakin membaik atau semakin memburuk. Seharusnya kalian jangan terlalu sering berada disini, kalian bisa terjangkit juga” ucap Cheon Neul. “Kau juga” sambung Max. Cheon Neul menatap Max lalu mengangkat bahu acuh, “Ini sudah menjadi tugasku”

***

Cheon Neul berjalan dengan melintasi lorong rumah sakit. Ia baru saja mendapat telpon dari Max bahwa Tuan Shim telah pulang dan berada di rumah sakit bersama Hanna Kim. Ini bahkan baru hari keempat In Hyun di rawat di rumah sakit, seharusnya masih ada waktu tiga hari lagi Tuan Shim pulang sesuai dengan jadwal agendanya. Cheon Neul memang sudah memprediksi kemungkinan ini akan terjadi. Dan benar saja, dugaannya selalu tepat.

Cheon Neul masuk ke dalam kamar rawat itu dan mendapati semua orang berada disana, Max, Donghae, Ibunya, Tuan Shim, dan Hanna Kim. Cheon Neul memasang wajah setenang mungkin lalu mendekati Tuan Shim yang berada di samping In Hyun. “Kenapa kau membawanya ke rumah sakit? In Hyun tidak suka dengan rumah sakit” ucap Tuan Shim agak keras. Cheon Neul yang berada tak jauh darinya tentu saja dapat mendengar suara yang lebih cocok di sebut teriakan itu dengan wajah tenang. “In Hyun baik-baik saja sejauh ini” ucap Cheon Neul seraya menatap In Hyun yang hanya diam menunduk. Empat hari berada di dekat In Hyun tentu saja Cheon Neul sedikit tahu tentang In Hyun dan kondisi gadis itu.

“Kau bilang ini baik-baik saja? Han Cheon Neul, aku telah memberikanmu kesempatan untuk merawat putriku” ucap Tuan Shim. Cheon Neul mendelik tajam seraya tersenyum sinis, ia sama sekali tidak takut saat menatap mata tajam milik pria tua itu. “Bisakah kau memanggilku Angela saja? aneh rasanya jika aku mendengar nama itu disebut di tempat seperti ini” ucap Cheon Neul tenang. Tidak ada niat untuk melawan sama sekali, Han Cheon Neul hanya mencoba bermain-main dengan pria tua ini.

Beberapa orang yang berada di ruangan itu hanya diam membisu saat menyaksikan ketegangan di antara Tuan Shim dan Han Cheon Neul. Nyonya Shim juga sama sekali tidak berniat melerai, ia takut untuk membela salah satu di antara keduanya, takut jika saja ada yang terluka. “Mulai saat ini Hanna akan merawatnya kembali, kau bisa pulang ke asalmu jika kau mau. Shim In Hyun akan pulang hari ini” ucap Tuan Shim. Cheon Neul mengangguk dengan tenang, ia dapat menyimpulkan bahwa ia telah di usir dari Mansion itu oleh Ayah tirinya. Mengetahui kenyataan bahwa pria itu adalah Ayah tirinya membuatnya ingin tertawa. “Ya, kau pasti akan jauh lebih tenang jika yang merawatnya adalah Hanna Kim” ucap Cheon Neul seraya melirik Hanna yang berdiri di dekat Donghae dan Max. Cheon Neul menoleh ke arah Max lalu tersenyum tenang, “Aku sudah di pecat sekaligus diusir dengan cara halus Max, artinya aku sudah tidak ada keperluan lagi dengan kalian”

***

Jenewa, Swiss

Cheon Neul menikmati pasta buatannya dengan tenang di meja makan rumahnya. Ia sama sekali tidak memedulikan Kyuhyun yang hanya menatapnya kesal dari sofa ruang TV. Ini sudah seminggu setelah insiden di rumah sakit dan misi ini telah dihentikan.

“Ya! Sampai kapan kau begini terus huh? Tidak bekerja, misi dibatalkan, dan kau hanya duduk-duduk dengan tenang disini?! Yaish! Dasar gadis gila!” umpat Kyuhyun. Cheon Neul hanya diam mendengarkan ocehan tak berbobot yang keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun. “Aku harus mengambil libur panjang setelah pekerjaan ini” ucap Cheon Neul dan Kyuhyun hanya mendengus mendengarnya.

“Hei, jadi misi ini berakhir begitu saja? Lalu Shim In Hyun itu akan mati ditangan keluarganya sendiri?” ucap Kyuhyun. Cheon Neul mengangguk lalu sibuk menyantap pastanya lagi. “Kau menjengkelkan” ucap Kyuhyun lalu beranjak berdiri dari duduknya. “Terima kasih atas pujiannya” balas Cheon Neul.

Kyuhyun naik ke lantai dua—tepatnya di kamar Cheon Neul, lalu turun kembali seraya memeluk Laptopnya. “Tidak ada email masuk dari Max, sepertinya ia berniat mengakhiri ini begitu saja” ucap Kyuhyun seraya menyalakan Laptopnya. “Ia hanya terlalu penakut, mungkin Ayahnya mengancamnya habis-habisan” sambung Cheon Neul. “Keluarga Shim itu benar-benar aneh” komentar Kyuhyun.

Cheon Neul meletakan garpunya di atas piring yang sudah kosong lalu mengintip apa yang sedang dilakukan sepupunya itu bersama benda kesayangan milik pria itu. “Apa yang kau kerjakan?” tanya Cheon Neul penasaran. Kyuhyun nampak serius membaca laporan yang baru saja ia terima dari perusahaan. “Laporan tentang perusahaan di Seoul, Siwon Hyung mengirimkannya tadi pagi” ucap Kyuhyun. Cheon Neul mengangguk lalu mengambil piring kotornya dan membawanya ke bak cuci piring dan mencucinya. “Seharusnya kau saja yang jadi Presdir” ucap Cheon Neul, “Ya, dan kau duduk-duduk santai di rumah sambil melihat-lihat uang di rekeningmu yang makin hari makin bertambah” ucap Kyuhyun mendengus. Cheon Neul tertawa lalu kembali ke meja makan, “Aku tidak suka makan gaji buta Cho” ujarnya. “Makanya, kau juga harus bekerja!” ucap Kyuhyun sebal. “Aku seorang Dokter, kalau kau lupa”. Kyuhyun hanya memanyunkan bibirnya “Ya, Dokter yang tidak jelas” cibirnya.

***

Kyuhyun baru saja ingin tidur siang saat bel rumah Cheon Neul berbunyi. Dengan wajah kesal ia turun ke lantai satu, dan melihat siapa si perusak acara tidur siangnya itu. Ini sudah kali kedua pria itu datang kemari dan mencari-cari si pemilik rumah tempat ia tinggal saat ini, siapa lagi kalau bukan sepupunya itu. Kyuhyun sudah mengatakan bahwa si pemilik rumah sedang tidak berada ditempat, dan ia hanya ditugaskan menjadi penjaga rumah tersebut.

“Maaf Sir, tapi sepupuku sedang tidak berada di rumah. Kalau kau mau bertemu dengannya lain kali saja” ucap Kyuhyun kesal. Kyuhyun berniat menutup pintunya kembali namun di cegat oleh pria itu. “Tunggu dulu Tuan. Kalau bisa, tolong berikan kami nomor ponsel pemilik rumah agar kami bisa langsung membicarakannya dengan beliau” ucap pria itu. Kyuhyun menatap pria itu datar lalu berucap “Kau pasti tidak akan mau bertemu dengannya. Aku juga bisa menjamin bahwa ia tidak berniat menjual rumah ini”

Pria itu mengangguk menyerah. “Baiklah, lain kali saya akan datang kembali. Permisi, maaf sudah mengganggu waktu anda” Kyuhyun mengangguk lalu melambai-lambaikan tangannya dengan wajah suntuk “Yah, pergilah” setelah pria itu pergi, ia langsung saja masuk ke dalam dan menutup pintu rumah itu. Yang ada dipikirannya saat ini adalah tidur. Semalaman ia tidak tidur karena satu-satunya kasur di kamar itu di pakai Cheon Neul untuk tidur. Ia tentu saja tidak bisa berbuat apa-apa, toh rumah dan segala benda-benda di dalam nya adalah milik Cheon Neul.

***

Cheon Neul menikmati waktu kosongnya dengan berkeliling kota Jenewa. Melihat ini dan itu, membeli beberapa pernak-pernik yang menurutnya unik dan singgah di salah satu cafe di pinggir jalan untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong.

Tidak ada pekerjaan, tidak ada beban, dan tidak ada hal yang harus ia pusingkan lagi. Atau kira-kira seperti itulah yang terlihat. Gadis itu sedang duduk-duduk di salah satu cafe di pusat kota Jenewa untuk menghabiskan waktu-waktu bebasnya. Ia menyeruput hot chocolate miliknya seraya menikmati kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.

“Angela Han” suara sapaan itu berhasil membuat Cheon Neul menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Alice berdiri tak jauh darinya. “Alice? What are you doing here?” ucap Cheon Neul terkejut mendapati gadis yang seharusnya berada di Bern itu telah berada disini. “Mencarimu” jawab Alice singkat. Gadis itu mengambil tempat duduk di depan Cheon Neul dan menatap gadis itu serius. “Kami benar-benar butuh bantuanmu. Kondisi In Hyun semakin memburuk saat ini, dan Max sedang berada di luar negeri bersama Ayahnya dan Ibumu. Di rumah itu hanya ada Hanna dan kami para perawat serta pembantu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa” ucap Alice.

Cheon Neul menghela nafas berat lalu menyeruput cangkir berisi hot chocolatenya yang sisa setengah, meletakan cangkir itu kembali ke atas meja, lalu menata Alice serius. “Mungkin ini akan mengecewakanmu, tapi aku tidak punya alasan lagi untuk berada disana, Max bahkan tidak banyak membantu” ucap Cheon Neul. Alice memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali dengan tatapan memohon. “Baiklah, aku tidak seharusnya memberitahumu tentang hal ini. Tapi aku harap kau mau mendengarkan dan membantu kami. Sebenarnya Max dan In Hyun bukanlah saudara kandung” ucap Alice. Cheon Neul menoleh ke arah Alice dengan wajah terkejut. “Aku tidak tahu dengan jelas, Max hanya menceritakannya sedikit. Aku dan Max pertama kali bertemu di sebuah cafe di Roma, saat itu ia menjadi seorang penyanyi di cafe dengan bayaran kecil. Ia bercerita padaku bahwa ia ingin menjadi seorang penyanyi, bukan pengusaha. Tapi Ayahnya memaksanya untuk menjadi seorang penerus perusahaan. Karena itu ia kabur dari rumah dan melarikan diri ke Roma, saat itu In Hyun telah jatuh sakit, dan ia dipaksa untuk menggantikan posisi adiknya sementara” cerita Alice.

Cheon Neul dapat menarik kesimpulan dari cerita yang di dengarnya dari Alice, “Jadi maksudmu, aset keluarga Shim hanya di pegang sementara oleh Tuan Shim, dan ia berniat menjadikan Max sebagai pengganti In Hyun?” Alice mengangguk “Ya, seperti katamu. Aku tidak tahu ancaman seperti apa yang diberikan Tuan Shim, Max menutup masalah itu rapat-rapat tanpa mau membaginya padaku”

Semuanya sudah jelas sekarang.

***

Cheon Neul kembali ke rumahnya dan mendapati Kyuhyun tengah tertidur pulas di tempat tidurnya padahal hari masih sore. Cheon Neul membiarkan pria itu tertidur lelap sementara dirinya membuka PC milik Kyuhyun. Ia memeriksa beberapa data yang disimpan Kyuhyun, mulai dari soal CN Industries hingga file-file tentang keluarga Shim yang baru saja ia dapat. Cheon Neul memeriksanya dengan teliti dan mendapat sebuah jawaban dari semua kejadian ini.

“Apa yang kau lakukan dengan PC ku?” tanya Kyuhyun dengan suara serak khas orang bangun tidur. Matanya pria itu bahkan masih setengah tertutup saat menghampiri Cheon Neul yang telah duduk di depan PC nya. “Oh, rupanya sudah terbuka. Aku mencoba meretas catatan medis Shim Jung Hwa yang rupanya di simpan dalam keamanan tingkat tinggi. Agak sulit membukanya, tapi syukurlah sudah terbuka” ucap Kyuhyun seraya mengambil alih mouse yang di pegang Cheon Neul. “Sudah berapa lama kau menemukan ini?” tanya Cheon Neul. “Sejak semalam, aku harus membukanya dengan hati-hati, hanya untuk berjaga-jaga jika kita kedapatan meretas catatan medis ini” ucap Kyuhyun.

“Penyakit H4? Bukankah itu penyakit yang sama dengan In Hyun? Lalu apa ini? semua catatan medisnya yang lain disensor?” ucap Kyuhyun saat menemukan data tentang penyakit Shim Jung Hwa. Cheon Neul mengangguk lalu berucap “Berarti bisa jadi In Hyun adalah anak dari mendiang Tuan Shim Jung Hwa”. Kyuhyun terkejut dengan kesimpulan yang di ambil sambil menatap wajah sepupunya itu. “Maksudmu, ia adalah adik perempuan Tuan Shim? Ini gila!” ucap Kyuhyun lagi.

“Tuan Shim tidak memiliki catatan soal penyakit itu, aku yakin sekali. Max juga tidak. Jika ia memang adalah putri Shim Jung Hwa berarti penyakit ini bersifat menurun dan berasal dari Shim Jung Hwa, sudah pasti mereka juga memiliki penyakit yang sama. Tapi nyatanya tidak” ucap Cheon Neul. “Apa kau baru saja ingin mengatakan bahwa Shim Jung Hwa juga hanya terjangkit penyakit ini?” ucap Kyuhyun dan di jawab dengan anggukan oleh Cheon Neul. “Kau benar, penyakit ini semacam virus. Aku baru saja bertemu dengan Alice tadi, ia membicarakan soal kondisi In Hyun yang semakin memburuk. Artinya sistem Imun milik In Hyun sangat lemah dan virus Rubella itu semakin memburuk, ini tentu saja sangat berbahaya”

Kyuhyun mengambil satu kursi lagi dan duduk di samping Cheon Neul. “Sesuai dengan kata-kata mu tadi. In Hyun adalah putri dari Shim Jung Hwa, dan penyakit ini bersifat menurun. Artinya In Hyun memang telah mengidap penyakit ini sejak lahir yang berasal dari Ibunya. Dan penyakit ini berkaitan erat dengan sistem imun yang dimiliki In Hyun” ucap Kyuhyun.

“HIV, penyakit H4 itu adalah HIV atau lebih buruknya lagi adalah Aids. Itu hanya akal-akalan bodoh mereka saja untuk menyembunyikan penyakit itu. Mereka bahkan takut memikirkan tentang seperti apa penyakit yang di derita In Hyun, sudah pasti mereka tidak memiliki keberanian untuk mendiagnosis” ucap Cheon Neul lalu beranjak berdiri dari duduknya. “Lalu kau akan duduk diam tanpa melakukan apapun disini?” ucap Kyuhyun seraya menatap Cheon Neul. “Entahlah, jika kita bergerak, Tuan Shim tetap akan mencegat kita” ucap Cheon Neul.

Bel rumah Cheon Neul berbunyi, mendengar itu Kyuhyun mendengus kesal. “Hais! Pasti pria itu lagi” ucap Kyuhyun. “Siapa?” tanya Cheon Neul. Kyuhyun beranjak berdiri dari duduknya seraya memasang wajah kesal “Seorang pria aneh yang terus-terusan mencarimu dan bertanya apakah rumah ini ingin dijual” ucap Kyuhyun. “Kenapa kau baru memberitahuku?” ucap Cheon Neul. Kyuhyun hanya mengangkat bahu seraya kembali duduk dan fokus menatap layar PC nya “Aku lupa, kau saja yang meladeninya” ucap Kyuhyun.

Cheon Neul menjitak kepala Kyuhyun lalu segera berlari turun ke lantai bawah berniat membuka pintu rumahnya. Cheon Neul membulatkan matanya tatkala ia mendapati pria yang begitu dikenalnya berdiri dengan ekspresi yang sama dengannya. “Angela?”

***

Kyuhyun mencibir pelan seraya mengangkat nampan berisi Jus kemasan yang ia tuang ke dalam gelas dan membawanya di ruang tamu. Sepupunya itu dengan seenaknya mengubah profesinya menjadi seorang pembantu. “Kami hanya punya ini, silahkan diminum” ucap Kyuhyun seraya meletakan gelas berisi jus itu di meja tepat dihadapan sang tamu—Lee Donghae.

Donghae hanya tersenyum tipis seraya menunduk sebagai ucapan terima kasih. Kyuhyun duduk di samping Cheon Neul untuk ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

“Jadi kau yang membeli rumahku?” ucap Donghae membuka pembicaraan. Cheon Neul mengangkat bahu lalu melirik Kyuhyun sekilas “Tidak bisa dibilang begitu juga, sepupuku yang mendapat tempat ini, yang aku tahu hanya mengeluarkan uang” ucap Cheon Neul. Donghae menatap pria yang duduk disamping Cheon Neul lalu mengangguk paham. “Ah, jadi ia sepupumu? Ku kira—“

“Jangan bilang kalau kau mengira anak ini kekasihku, yang benar saja!” sela Cheon Neul seakan tahu apa isi pikiran Donghae. “Harap maklum, sepupuku sedikit temperamen” cicit Kyuhyun dan dihadiahi senggolan keras diperutnya. “Sopanlah sedikit di depan tamu” ucap Kyuhyun seraya melirik Donghae dengan tidak enak.

Donghae tersenyum maklum melihat tingkah dua bersaudara dihadapannya ini. “Jangan pedulikan anak ini, jadi apa maksud kedatangan mu kemari Aiden?” ucap Cheon Neul tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi. Donghae mengambil gelas berisi jus yang diberikan Kyuhyun tadi dan meminumnya sedikit. “Sebelumnya aku telah menyuruh Assistenku untuk datang kemari, ia sudah mengatakannya padaku bahwa rumah ini tidak di jual, tapi akan lebih baik jika aku menemui pemiliknya langsung dan bernegosiasi, aku tidak menyangka kalau yang membeli rumahku adalah kau” ucap Donghae.

Cheon Neul melirik sebentar ke arah Kyuhyun lalu menatap Donghae kembali. “Ah, maaf sekali. Tapi aku tidak berniat menjual rumah ini” ucap Cheon Neul. “Ia berniat menghancurkan rumah ini nanti” sambung Kyuhyun dan diakhiri jeritan tertahan saat Cheon Neul menyikut perutnya dengan kasar. Donghae tersenyum tipis lalu berucap “Sayang sekali, aku sedikit menyesal telah menjual rumah ini. Tapi ya sudahlah, aku juga tidak ingin memaksakan mu” ucap Donghae.

Suasana menjadi hening setelah pembicaraan itu untuk beberapa saat hingga akhirnya Donghae kembali berucap “Ah, berhubung kita bertemu disini, bagaimana kalau kita membicarakan soal pekerjaan. Tidak keberatan Angela?” ucap Donghae canggung, mengingat kejadian tidak mengenakan beberapa waktu yang lalu antara calon Ayah mertuanya dengan Cheon Neul, Kyuhyun menepuk kedua tangannya lalu berucap “Ide yang bagus”

***

Donghae melonggarkan ikatan dasinya dileher saat ia telah kembali ke rumahnya. Ia menghela nafas lelah lalu membaringkan tubuhnya di sofa panjang dengan motif bergaris hitam dan putih di ruang tamunya. Setiap hari yang ia lalui selalu melelahkan. Mulai dari pekerjaannya dikantor hingga mengunjungi In Hyun yang selalu menjadi jadwal kunjungan rutinnya, ia lebih memilih tinggal di rumah yang berada di Bern dari pada harus tinggal di Apartemen di Jenewa. Bayangkan saja, bagaimana lelahnya perjalanan dari Bern-Jenewa-Bern yang harus ia lakukan sehari-hari.

Ia memijit-mijit pelipisnya seraya memikirkan soal kedatangannya dirumah lamanya yang ternyata dibeli orang yang sudah cukup dikenalnya—Angela Han, seorang Dokter sekaligus saudara tiri Tunangannya. Gadis aneh dengan tatapannya yang begitu menakutkan yang akhir-akhir ini sering sekali berhubungan dengannya entah itu masalah keluarga maupun masalah pekerjaan, dan kali ini adalah masalah pribadi. Ya, rumah lamanya tentu berkaitan dengan masalah pribadi. Pria yang diketahui bernama Marcus Cho atau bisa disebut Cho Kyuhyun itu telah membeberkannya soal benda-benda pribadi milik Donghae yang masih tersimpan di dalam gudang kecil.

Yah, setidaknya ia harus bersyukur karena Angela tidak begitu mempermasalahkan benda-benda itu, dan dengan ringannya gadis itu membiarkan Donghae mengambil benda-benda itu. Dan kini benda-benda itu telah ia bawa di rumahnya.

Dengan malas Donghae meraih kotak itu dan membuka isinya. Ada beberapa buku di dalamnya. Dirinya tertarik untuk meraih sebuah bingkai foto yang rupanya masih tersimpan baik. Ia tersenyum kecut saat memandang sebuah potret dirinya bersama seorang gadis dengan wajah tersenyum lebar. Gadis yang telah menorehkan luka cukup dalam dihatinya, alasan kenapa ia tidak tertarik dengan wanita—termaksud In Hyun Tunangannya secara formalitas, alasannya untuk pergi meninggalkan negara kelahirannya itu bertahun-tahun.

***

Cheon Neul masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran yang tidak terlalu besar namun cukup megah untuk sebuah perusahaan cabang. Matanya menelusuri seluruh bagian lobby kantor itu yang menampilkan khas Korea. Ia berjalan menuju Resepsionis dengan wajah datar. Sekilas ia nampak terlihat sombong dengan ekspresi seperti itu, tapi siapa yang peduli?

“Good morning miss, can i help you?” ucap wanita petugas Resepsionis dengan ramah. Cheon Neul mengangguk seraya menatap mata biru milik wanita itu. “Yes, i want to meet Mr. Aiden Lee now. I have an appointment with him” ucap Cheon Neul. Resepsionis itu tersenyum kembali lalu berucap “Please wait miss”. Cheon Neul hanya mengangguk lalu kembali melihat-lihat sekitarnya sambil menunggu.

“Miss, you can meet Mr. Lee now. Please follow me” ucap wanita itu lalu keluar dari belakang meja Resepsionis dan mengantar Cheon Neul. Cheon Neul ikut-ikut saja saat wanita itu mengantarnya menuju ruangan milik pria itu, sebenarnya ia bisa mencarinya sendiri, tapi ia tidak ingin repot-repot mencarinya, toh sudah ada yang mengantar. Ia mengikuti wanita itu masuk ke dalam lift hingga sampai di lantai 5

“This is Mr. Lee workroom” ucap wanita itu. Cheon Neul mengangguk lalu berucap “Thank you”. Wanita itu tersenyum ramah lalu segera meninggalkan tempat itu. Cheon Neul masuk ke dalamnya dan mendapati seorang wanita dibalik meja kerjanya. Wanita itu berdiri lalu tersenyum hangat. “Good morning, are you Ms. Angela Han, right?” ucap wanita bermata biru lainnya yang di duganya adalah sekretaris pria itu. Cheon Neul mengangguk.

“Mr. Lee is already waiting for you” ucap wanita itu lalu mempersilahkan Cheon Neul masuk ke dalam sebuah ruangan lainnya. Cheon Neul mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan itu. Matanya menangkap sosok pria yang sudah cukup dikenalnya tengah bergelut dengan setumpuk kertas di atas mejanya.

“Aiden” sapanya dan dengan cepat Donghae menoleh ke arahnya. “Oh, kau sudah datang? Duduklah” ucap Donghae seraya berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Cheon Neul seraya mempersilahkan gadis itu duduk. Cheon Neul duduk di salah satu sofa di ruangan itu seraya menatap pria dihadapannya yang juga ikut duduk di sofa lainnya.

“Sepupuku bilang ada sesuatu yang harus kau bicarakan denganku mengenai proyek itu” ucap Cheon Neul. Donghae mengangguk lalu tersenyum “Ya memang, sebenarnya aku ingin membahas soal proyek pembangunan kantor cabang perusahaanmu yang di percayakan kepada perusahaan kami” ucap Donghae. Cheon Neul memiringkan kepalanya seraya memikirkan sesuatu “Ku pikir tidak ada masalah soal itu” ucap Cheon Neul. “Tidak ada masalah memang, tapi ku harap kau akan tinggal disini lebih lama lagi untuk melihat proyek pembangunannya” ucap Donghae. Pembicaraan mereka terhenti sejenak saat wanita yang menyambutnya di depan ruangan tadi kembali masuk seraya membawa nampan berisi minuman. Cheon Neul diam sambil memerhatikan wanita itu meletakan secangkir teh untuknya dan Donghae lalu pergi setelah menundukan kepalanya.

“Silahkan diminum” ucap Donghae seraya mengambil secangkir teh miliknya dan meminumnya. Cheon Neul menggeleng seraya tersenyum canggung. “Aku tidak suka teh” ucapnya. Donghae menatapnya heran lalu memoleskan senyum untuk mencairkan suasana. “Ah, baiklah, kau ingin minum yang lain?” tanya Donghae. Cheon Neul menggeleng lalu berucap “Tidak perlu, sebaiknya lanjutkan saja pembicaraan yang tadi” ucap Cheon Neul. Donghae mengangguk lalu kembali memulai perbincangan mereka.

“Jadi bagaimana? Kau mau ikut melihat proyeknya? Aku tidak akan memaksa, tapi aku harap kau dan sepupumu ikut” ucap Donghae. “Ku dengar, selama ini CN Industries tidak pernah terlibat langsung dalam mengawasi proyek pembangunan milik kalian. Aku harap proyek pertamaku ini akan menjadi proyek pertama yang terlibat langsung denganmu” lanjutnya. Cheon Neul berfikir sejenak lalu berucap “Aku tidak pernah muncul dalam perusahaan, kalau begitu aku akan membicarakannya dengan Kyuhyun” ucapnya. Donghae tersenyum senang lalu berucap “Terima kasih”

Ponsel milik Donghae tiba-tba saja berdering, membuat perbincangan mereka terhenti karena Donghae harus mengangkat panggilan dari seseorang. Dilihatnya layar ponsel miliknya yang tertera nama Max lalu mengangkatnya. Cheon Neul sendiri tidak tahu siapa dan apa yang mereka bicarakan. Karena itu Cheon Neul memilih melihat-lihat sekitar ruangan itu untuk mengurangi rasa bosannya.

Donghae melirik ke arah Cheon Neul yang tengah melihat-lihat ruangannya itu. Entah apa yang dikatakan Max, namun yang pasti Donghae harus segera ke Bern karena ini menyangkut In Hyun.

“Maaf, sepertinya aku harus ke Bern sekarang” ucap Donghae setelah pembicaraannya dan Max selesai. Cheon Neul menatap Donghae bingung. “Ada apa?” tanya Cheon Neul. Donghae menatap Cheon Neul seraya menimbang-nimbang sesuatu. “Barusan Max menghubungiku, In Hyun memintaku untuk ke sana. Kau mau ikut denganku?” tanya Donghae.

Cheon Neul menatap pria itu datar dan berucap “Maaf, tapi tenagaku sudah tidak dibutuhkan lagi disana, aku tidak punya alasan lagi untuk pergi ke sana” ucap Cheon Neul. Donghae diam seraya memijit-mijit pelipisnya. “Kau datang bersamaku, berarti alasanmu datang ke sana adalah aku. Apa boleh begitu?” ucap Donghae. Cheon Neul menatapnya heran. Ia kembali teringat dengan pembicaraannya dengan Alice soal kondisi In Hyun. Apa ia harus kesana untuk melihatnya?

Cheon Neul menimbang-nimbang apakah ia ikut saja dengan Donghae atau tidak. Setelah cukup lama berfikir, ia menatap Donghae yang juga tengah menatapnya lalu berucap “Baiklah”

***

Dalam perjalanan menuju Bern, baik Cheon Neul dan Donghae memutuskan untuk diam. Keduanya lebih memilih bergumul dengan pikiran masing-masing dari pada memulai pembicaraan lebih dulu. Mata Donghae terfokus ke jalan raya di depannya sementara Cheon Neul hanya memandang jendela mobil yang menampilkan pemandangan hijau nan indah.

Fokus Donghae terpecah saat dirinya tak sengaja melirik ke arah Cheon Neul yang duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat ia mengagumi wajah gadis itu yang jauh terlihat lebih cantik saat diam. Tiba-tiba saja Cheon Neul menoleh ke arahnya membuatnya dengan cepat langsung mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya yang terbentang lurus di depannya. Donghae berdehem pelan untuk menghilangkan kecanggungannya.

“Kau kenapa?” tanya Cheon Neul heran saat melihat Donghae yang salah tingkah. Donghae menatapnya cepat dengan ekpresi kaku yang sangat terlihat jelas di mata Cheon Neul. “Tidak apa-apa” ucap Donghae. Cheon Neul mengangkat bahu tak peduli lagi dan kembali menatap ke arah jendela.

Dan sepanjang perjalanan itu hanya diisi dengan keheningan mereka.

***

Shim Mansion, Bern

Donghae dan Cheon Neul tiba di depan halaman Mansion keluarga Shim. Donghae membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil itu. Ia menatap Cheon Neul heran karena gadis itu belum juga keluar dari dalam mobilnya. “Kau tidak berniat untuk tinggal di dalam mobilku lebih lama bukan?” ucap Donghae. Cheon Neul menoleh ke arahnya dan berucap “Aku hanya sedang berfikir”. Donghae tersenyum tipis lalu berucap “Jika yang kau takutkan adalah Tuan Shim, ia sedang tidak ada disini” ucapnya. Cheon Neul mendengus kesal dengan ucapan Donghae yang melukai sanubarinya. “Aku tidak takut pada Tuan Shim”

Donghae mengangkat tangan menyerah lalu terkekeh, “Baiklah, terserah kau saja. Ayo masuk” ucap Donghae. Cheon Neul menatap kesal ke arah Donghae lalu membuka pintu mobil dan keluar dari dalam benda besi itu.

***

Hanna menatap tidak suka ke arah Cheon Neul yang berdiri di sisi Donghae. Max sendiri tidak begitu terkejut dengan kehadiran Cheon Neul kembali, namun ia cukup heran karena gadis itu datang bersama Donghae. “Kebetulan kami terlibat dalam pekerjaan yang sama di perusahaan, saat kami sedang berbincang-bincang kau menelponku, jadi aku memutuskan untuk mengajaknya kemari” ucap Donghae menjelaskan kronologi tentang kehadiran Cheon Neul yang datang bersama Donghae.

Max hanya mengangguk-angguk mengerti, “Ah begitu, maaf karena selalu membuatmu meninggalkan pekerjaanmu” ucap Max. Donghae hanya tersenyum tipis lalu berucap “Tidak masalah”. Hanna meninggalkan ruang tamu itu dan kembali ke dalam kamar In Hyun dengan wajah tidak bersahabat. Cheon Neul jelas-jelas menyadari ketidaksukaan wanita pirang itu padanya.

“Lalu, bagaimana dengan In Hyun?” tanya Donghae mengalihkan topik pembicaraan. Max menatap ke arah perginya Hanna tadi lalu berucap “Tadi ia terus-terusan mencarimu. Tapi sekarang ia sudah tidur. Maaf, seharusnya aku tidak menghubungimu tadi jika kau sibuk” ucap Max. Donghae mengangguk lalu berucap “Tidak masalah Max, kalau begitu aku pergi melihatnya dulu” ucap Donghae lalu berjalan meninggalkan Max dan Cheon Neul di ruang tamu.

Cheon Neul mengambil tempat duduk di sofa berwarna emas itu sambil menatap Max yang juga menatapnya. “Dimana Ibuku?” tanya Cheon Neul sekedar berbasa-basi. “Ia pergi ke Paris lagi 3 hari yang lalu” ucap Max lalu mengambil tempat duduk di hadapan Cheon Neul. “Sebenarnya apa yang dilakukan Ibuku disana?” tanya Cheon Neul lagi. Max mengangkat bahunya sambil berucap “Aku tidak tahu banyak, tapi ku dengar Ibumu membuka sebuah tempat konsultan Arsitek disana dan ia yang mengelolanya sendiri” ucap Max. Cheon Neul mendengus lalu mencibir “Jadi ia lebih memilih mengurus karirnya dari pada anak tirinya”

Max tersenyum tipis lalu berucap “Ia tidak seburuk itu Angela, beliau masih sering memperhatikan kami” ucapnya. Cheon Neul memutar bola matanya malas, tiba-tiba saja ia tidak lagi berminat membicarakan Ibunya. “Syukurlah ia masih memerhatikan kalian” ucapnya. Max tersenyum tipis mendengar ucapan Cheon Neul, “Ia juga masih memerhatikan mu Cheon Neul-ah” ucap Max. Cheon Neul menatap Max dengan tatapan tidak suka saat pria itu menyebutnya Cheon Neul.

“Jangan memanggilku seperti itu, kita tidak seakrab itu Max” ucap Cheon Neul tidak senang. Max mengangkat bahunya lalu kembali berdiri “Kau itu tetap adik tiriku sekalipun kau tidak mengakuinya, pergilah ke kamar In Hyun jika kau ingin melihatnya—selagi tidak ada Ayahku. Ini kesempatan kita yang terakhir” ucap Max lalu meninggalkan tempat itu.

***

In Hyun Bedroom

Cheon Neul masuk ke dalam kamar In Hyun yang telah diisi oleh Donghae, In Hyun dan Hanna. Ada juga Alice dan beberapa perawat lainnya yang ikut bergabung di sudut kamar. Cheon Neul sendiri nampak tidak peduli dengan kehadiran Hanna yang jelas-jelas tidak senang dengan kedatangannya. Cheon Neul hanya memasang senyum tipis saat In Hyun menatapnya dalam diam.

“Bagaimana kondisimu In Hyun?” tanya Cheon Neul. In Hyun menatap Cheon Neul kaku dan menatap Hanna sejenak. “Aku—aku baik-baik saja” ucapnya. Cheon Neul tersenyum kembali lalu mengeluarkan cokelat batang dari dalam saku celananya. “Aku membelinya tadi saat perjalanan kemari” ucap Cheon Neul. Hanna hampir saja mencegat Cheon Neul saat gadis itu menyodorkan cokelat itu kepada In Hyun. In Hyun nampak ragu dan enggan mengambil cokelat itu. Merasa cokelat pemberiannya tidak di terima In Hyun, Cheon Neul melirik ke arah Hanna yang menatapnya tajam lalu beralih lagi menatap In Hyun. “Kau terjangkit virus, bukan berarti kau dilarang mengkonsumsi cokelat” ucap Cheon Neul jelas-jelas mengejek Hanna.

“Ia tidak boleh sembarang memakan makanan” ucap Hanna akhirnya menyela ucapan Cheon Neul. Cheon Neul tersenyum lagi, kali ini jelas-jelas ia menunjukan senyum dengan tatapan menusuk yang sangat mengerikan, membuat orang yang menatapnya bergidik ngeri. “Aku tidak memasukan racun, paling tidak aku hanya memasukan antiretroviral untuk menghambat virus” ucap Cheon Neul tenang. (Antiretroviral/ARV : Berfungsi menghambat virus (HIV) dalam merusak sistem kekebalan tubuh)

Hanna membulatkan matanya saat mendengar nama sebuah obat yang tentu saja sudah sangat dikenalnya tengah disebut-sebut oleh Cheon Neul, para perawat yang mendengarnya cukup terkejut, sementara yang lainnya hanya memasang wajah tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Cheon Neul. Sedetik kemudian Cheon Neul tertawa lalu menggeleng-geleng pelan seolah-olah ia hanya sedang bergurau “Tidak-tidak, aku hanya bercanda. Kau tak perlu seterkejut itu” ucap Cheon Neul. Cheon Neul jelas-jelas telah mengibarkan bendera perang lewat perkataannya. “Baiklah jika kau tidak ingin makan, biar aku yang makan saja” ucap Cheon Neul lalu membuka pembungkus cokelat itu dan memakan cokelat itu dengan wajah tak bersalah. “Aku harap kau tidak mengambil ucapanku tadi dengan serius. Kau tahu bercanda bukan?”

***

Cheon Neul, Donghae dan Max tengah berada di ruang tamu. Terjadi keheningan untuk beberapa saat hingga akhirnya Cheon Neul memutuskan untuk angkat bicara. “Aku harus pergi” ucapnya seraya melirik jam dipergelangan tangannya. Max sedikit terkesiap saat mendengar ucapan Cheon Neul. “Kau akan pergi? Ini sudah hampir malam, kau akan menginap dimana? Rumah ini masih punya banyak kamar kosong untuk kau tempati” ucap Max. Cheon Neul menggeleng seraya menatap Max dan Donghae secara bergantian. “Tidak, aku datang kemari dengan tujuan melihat In Hyun, aku tidak berniat menginap disini. Kota ini juga masih punya banyak tempat penginapan kosong untuk ku tempati” ucap Cheon Neul.

Donghae yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan itu nampak merasa harus ikut andil. Sebab, ia sendirilah yang mengajak gadis itu kemari dan ia juga sendiri yang melihat perang diantara Cheon Neul dan Tuan Shim beberapa waktu yang lalu. Mana mungkin Cheon Neul mau menginap ditempat ini? Lagi pula ia adalah seorang gadis, dan ini sudah malam, ia tidak mungkin melepas tanggung jawabnya begitu saja?

Donghae berdehem dan akhirnya membuka suara. “Begini saja, karena aku yang membawanya kemari, maka akulah yang seharusnya bertanggung jawab. Aku akan memastikan ia menginap ditempat yang aman” ucap Donghae. “Mana bisa begitu? Kau harus menjaga In Hyun disini. Dan jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja” protes Cheon Neul. Donghae berdecak sebal seraya menatap Cheon Neul serius, gadis ini benar-benar sangat keras kepala—hal yang baru diketahui Lee Donghae. “Kau keras kepala sekali” geramnya. Cheon Neul mengangkat bahu acuh lalu berniat untuk pergi. “Sudahlah, aku pergi dulu” ucapnya lalu berbalik berjalan menuju pintu keluar.

“Aku akan lebih percaya jika Donghae yang menjagamu. Bagaimana pun juga ia yang membawamu kemari, jadi ia yang akan mencarikan tempat penginapan yang aman untukmu” ucap Max. Cheon Neul dengan keras kepala menolak ucapan Max dan terus melangkah keluar. “Pergilah bersamanya, ia gadis gila yang nekat” ucap Max pada Donghae dan Donghae mengangguk patuh dan berjalan cepat mengikuti gadis itu yang telah pergi.

***

“Kau sudah gila ya? Aku bilang kau tinggal saja disana” ucap Cheon Neul saat Donghae berhasil mencegat langkah cepat Cheon Neul yang hampir saja pergi. Donghae menggeleng dengan tegas dan menatap Cheon Neul, “Kau seorang gadis, dan ini bukanlah wilayah asalmu. Akan sangat berbahaya jika kau berada diluar disaat hari mulai gelap” ucap Donghae. Cheon Neul tersenyum mengejek perkataan Donghae barusan. Pria ini begitu meremehkannya. “Apa barusan kau meremehkanku?” ucap Cheon Neul. Donghae mengangkat bahunya lalu berucap “Terserah apa katamu”. Tanpa mau mendengarkan ucapan Cheon Neul, ia segera menarik gadis itu masuk ke dalam mobilnya dengan paksa.

“Yaish! Aku baru tahu kalau kau itu pria gila!” ucap Cheon Neul saat dirinya telah dimasukan dengan paksa ke dalam mobil VW milik pria itu. Donghae nampak tidak ambil pusing, dengan segera ia masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil itu menyusuri jalan yang mulai lenggang.

“Kau akan membawaku kemana?” tanya Cheon Neul menyerah saja dari paksaan pria itu. Toh untuk apa juga ia menolak? Ia memang butuh tempat penginapan di sekitar sini dan pria itu berniat membantunya. “Ke rumahku, jauh lebih aman jika kau menginap disana. Setidaknya masih ada kamar kosong yang bisa kau tempati untuk satu malam tanpa ada gangguan” ucap Donghae. Cheon Neul mengangguk saja dengan ucapan Donghae. “Terserahlah, percuma juga aku protes”

Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah Donghae. Walaupun tak sebesar Mansion keluarga Shim, tapi rumah di hadapan mereka ini cukup besar untuk ditempati satu-dua orang. Cheon Neul cukup takjub dengan desain rumah modern dihadapannya. “Kau hanya tinggal sendiri disini?” ucap Cheon Neul yang lebih tepat disebut gumaman. Donghae masih dapat mendengar ucapan Cheon Neul, lantas ia mengangguk dan berucap “Tidak, ada beberapa pelayan yang mengurusi keperluan rumah. Sesekali tanpa di undang Ayahku akan datang mengunjungiku” ucap Donghae. Cheon Neul mengangguk lagi sambil mengagumi rumah dengan taman luas itu.

“Kau ingin tinggal di mobil? Ayo masuk!” ajak Donghae seraya keluar dari dalam mobilnya. Cheon Neul menurut saja lalu keluar dari dalam mobil dan mengikuti langkah pria itu yang berjalan masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk ke dalam rumah, Donghae berbalik ke belakang dan menatap Cheon Neul yang sibuk menyusuri ruang tamu dengan matanya. “Setidaknya disini jauh lebih baik dari tempat penginapan. Aku akan menyuruh pelayan untuk menyediakan pakaian ganti untukmu. Kau tidak mungkin terus memakai baju itu bukan?” ucap Donghae dan menggendikan kepalanya ke arah pakaian yang sedang di pakaian gadis itu. Cheon Neul menatap baju yang di pakainya lalu menatap Donghae kesal. “Apa kau mencoba berlagak menjadi seorang tuan rumah yang baik?” sindir Cheon Neul. Donghae mengangguk saja lalu memanggil seorang pelayan yang tak sengaja melintasi ruangan itu.

***

Cheon Neul terkagum-kagum saat dirinya berada di balkon kamar yang akan ia tempati satu malam itu. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, namun sama sekali tidak menutupi keindahan kolam buatan yang berada di taman rumah itu dihiasi pohon pinus yang berjejer rapi di taman itu dengan di terangi lampu-lampu taman. Ia cukup iri dengan pria itu yang setiap harinya bisa tinggal dirumah dengan taman seindah ini.

Ia baru saja selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian dengan baju tidur berwarna pink soft yang diberikan seorang pelayan tadi. Agak sedikit tidak nyaman memang, mengingat dirinya bukanlah pencinta warna feminine itu. Ditengah kedamaiannya saat memandang taman itu, tiba-tiba saja suara ketukan yang berasal dari pintu kamar itu membuatnya mau tak mau harus beranjak dari tempatnya berdiri itu dan membuka pintu kamar itu. Ia mendapati seorang wanita berusia akhir 30-an tersenyum ramah padanya dan berucap “Tuan muda Aiden meminta saya untuk memanggil anda makan malam” ucap wanita itu. Cheon Neul mengangguk dan mau tak mau harus tersenyum ramah saat wanita itu melemparkan senyum ramah padanya. Jarang sekali ada seorang perempuan mau tersenyum seramah itu padanya, pasalnya ia bukanlah seseorang yang suka beramah-tamah, dan wanita itu berusaha mengukir senyum tulus untuknya.

“Aku akan kesana, terima kasih” ucap Cheon Neul. Wanita itu mengangguk lalu pamit pergi meninggalkan Cheon Neul. Sejujurnya perutnya memang sudah keroncongan dan butuh asupan makanan. Mengingat ia hanya sarapan susu dan roti bakar tadi pagi sebelum pergi ke kantor Donghae dan berakhir di Bern. Tidak ada salahnya untuk bergabung ikut makan malam dengan Donghae. Karena itu Cheon Neul keluar dari kamar itu dan turun menuju lantai bawah tepatya di ruang makan yang telah di isi seorang pria yang cukup dikenalnya itu.

“Kenapa lama sekali?” tanya Donghae saat gadis itu mengambil tempat duduk di dekatnya. “Kenapa?” tanya Cheon Neul sekedar berbasa-basi untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka. “Tentu saja menunggumu turun kemari lalu makan malam bersama, sudah lama sekali makan malamku tidak ditemani orang lain” ucap Donghae. Cheon Neul mengangguk saja saat untuk menanggapi ucapan pria itu. Ia memilih mengambil sup abalone di mangkuknya. “Kau hanya makan sup?” tanya Donghae saat melihat gadis itu hanya mengambil satu menu makanan dari sekian banyak menu di meja itu. Cheon Neul menatap Donghae dan makanan-makanan itu secara bergantian. Ada banyak sayuran di atas meja itu membuat Cheon Neul bergidik ngeri melihatnya, ia telah kehilangan selera makannya.

“Aku makan apa saja, kecuali sayuran” ucapnya. Donghae menatap makanan-makanan dimeja itu dan mengangguk mengerti. “Ah, pantas saja. Wajahmu cukup pucat. Seharusnya kau mengkonsumsi sayur-sayuran, itu baik untuk tubuhmu” ucap Donghae. Cheon Neul mengangkat bahu acuh seraya menikmati supnya.

Makan malam itu diselimuti dengan keheningan diantara keduanya. Merasa suasana ini kurang nyaman, Donghae berniat untuk membuka perbincangan. “Kau kembali jam berapa besok?” tanya Donghae seraya menghentikan acara makannya yang tinggal setengah. Cheon Neul menoleh ke arahnya lalu mengetuk-ngetukan jarinya seolah-olah berfikir. “Eum—mungkin jam 7 atau jam 8. Yang jelas pagi” ucap Cheon Neul. Donghae menganggukan kepalanya beberapa kali lalu kembali berucap “Aku akan berangkat ke Jenewa sekitaran jam 6, kalau kau mau kau bisa ikut berangkat denganku” tawar Donghae. Cheon Neul nampak berfikir sebentar lalu menganggukan kepalanya, “Baiklah, lagi pula itu tumpangan gratis”

***

Cheon Neul kembali ke kamarnya lebih dulu setelah makan malam selesai. Diraihnya ponselnya yang sejak tadi berdering diatas nakas samping tempat tidur. Panggilan dari Kyuhyun rupanya, ia segera mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa?” tanyanya. Mata Cheon Neul membulat terkejut tatkala Kyuhyun selesai berucap. “Kau tidak salah lihat bukan? Psikiater? Ia jauh-jauh kesana hanya untuk menemui Psikiater?” ucap Cheon Neul. Entah apa yang dikatakan Kyuhyun hingga membuat Cheon Neul memijit pelipisnya karena terlalu pusing dengan info yang baru ia terima. Suara ketukan pintu kamar membuat fokusnya terpecah dan dengan segera ia mematikan panggilannya.

Ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Donghae dengan wajah serius tengah berdiri di depan kamarnya. “Ada apa?” tanya Cheon Neul. “Aku memberitahukan pada Max bahwa kau akan menginap di tempatku tadi. Dan ia ada di ruang tamu mencarimu sekarang” ucap Donghae. Mendengar ucapan Donghae membuat Cheon Neul bertanya-tanya tentang apa maksud kedatangan pria itu kemari. Cheon Neul hendak menutup pintu kamarnya yang terbuka sebelum pergi ke ruang tamu. Namun pergerakannya kembali terhenti saat Donghae kembali bersuara.

“Sebenarnya, apa yang kau ketahui? Dan apa yang sedang kau sembunyikan dari kami?”

To be Continue

Makasih buat Admin yang udah ngijinin aku posting ff disini. Semoga ngga krenyes-krenyes, gaje dan membosankan karena ceritanya aneh^^

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: