After Yesterday [6-END]

After Yesterday

-Season 1-

Part 6-END

Lee Donghae & Han Cheon Neul

Genre : Alternate Universe

Author : Lvoeeastsea (http://angelalvoesj.wordpress.com)

***

Suasana tegang menyelimuti ruang tamu milik Donghae malam itu. Baik Cheon Neul, Donghae, maupun Max nampak diam saling memandang satu dengan yang lain, seolah-olah sedang berunding untuk siapa yang lebih dulu membuka pembicaraan lewat tatapan mata mereka.

Max memejamkan matanya sejenak dan menghela nafas panjang. Ia datang malam-malam begini hanya ingin mengkonfirmasi langsung tentang ucapan Alice soal obat-obatan yang sengaja disebut-sebut Cheon Neul tadi. Sementara Donghae yang awalnya tak mengerti apa-apa nampak bisa menangkap maksud Max dan Cheon Neul, ada hal yang sengaja disembunyikan kedua orang ini.

“Tolong katakan bahwa ucapanmu tadi hanya bercanda” ucap Max dengan suara rendah. Donghae yang mendengar ucapan Max juga hanya bisa menatap Cheon Neul dengan penuh tanda tanya di dalam hatinya. Cheon Neul memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam-dalam. “Kau pasti tidak ingin tahu” ucap Cheon Neul. Donghae menatap Cheon Neul tak mengerti, matanya menatap Cheon Neul penuh tuntutan atas semua kejelasan ini.

Max menatap Cheon Neul lagi setelah ia memantapkan hatinya untuk siap mendengarkan segala penjelasan Cheon Neul seburuk apapun itu. “Lebih baik aku mendengarnya dari pada tidak tahu apa-apa” ucap Max. Cheon Neul menatap kedua pria itu secara bergantian lalu menundukan kepalanya sejenak. “Ada banyak hal, kau ingin tahu yang mana lebih dulu?” tanya Cheon Neul. Max dan Donghae menatap Cheon Neul tidak mengerti, ada banyak hal? Ingin tahu yang mana lebih dulu?

“In Hyun” jawab Max. Bukankah tujuan awalnya adalah In Hyun? Untuk saat ini ia hanya akan fokus pada In Hyun, biarlah hal lain ia urus belakangan. Cheon Neul mengangguk seraya menatap kedua pria itu dengan serius. “Aku tidak akan melarang kalian untuk terkejut”

“Awalnya aku menemukan bahwa In Hyun mengidap penyakit Pneumonia Pneumokisa, sejenis penyakit Pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan tubuh. Awalnya aku sudah curiga bahwa kemungkinan ia memiliki gangguan sistem imun, melihat kondisinya yang seperti itu. Ia juga sering mengkonsumsi obat Antibiotik tertentu dalam dosis yang tinggi, menurut sebuah penelitian, bahwa pasien yang mengonsumsi Antibiotik tertentu dapat mengurangi jumlah sitokin (hormon yang membawa pesan dari sistem imun) membuat sistem kekebalan tubuhnya tertekan, hingga pasien dapat lebih mudah mengembangkan bakteri resisten” ucap Cheon Neul panjang lebar. Baik Donghae maupun Max hanya menatap Cheon Neul tidak mengerti, mereka mana tahu menahu hal berbau medis. Yang mereka tahu hanyalah Antibiotik dam Imun karena dua kata itu cukup sering mereka dengar.

“Awalnya aku hanya menduga-duga. Tapi dugaanku akhirnya terbukti benar, In Hyun mengidap penyakit Aquired Immunodeficiency Syndrome, atau yang lebih dikenal dengan sebutan AIDS. Sebuah penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Menurut hasil diagnosaku, ia mengidap penyakit ini secara genetik, kemungkinan besar Ibunya yang mengidap penyakit HIV saat ia masih berada dalam kandungan. Dalam kata lain, ia telah mengidap penyakit ini sejak lahir” ucap Cheon Neul. Max dan Donghae yang mendengarnya seketika menatap Cheon Neul tak percaya. Ya mereka mungkin tidak mengerti soal bakteri resisten, sitokin dan apalah itu. Tapi setidaknya mereka tidak bodoh, mereka tentu saja tahu apa itu HIV dan AIDS.

“Jangan bercanda” ucap Donghae tak percaya. Sementara Max hanya terdiam shock atas ucapan gadis itu barusan. “Apa itu dapat disembuhkan?” tanya Max setelah ia berhasil mengontrol emosinya kembali. Cheon Neul menghembuskan nafasnya berat dan menatap kedua pria itu lagi dengan wajah serius.

“Untuk saat ini belum ada obat yang sepenuhnya melenyapkan HIV, tapi setidaknya saat ini ada pengobatan yang cukup efektif untuk memperpanjang hidup bagi penderita HIV, ARV atau kata lainnya Antiretroviral yang berfungsi menghambat virus dalam merusak sistem kekebalan tubuh. Aku sempat menyinggung soal obat itu pada Hanna tadi, ia sudah pasti tahu bahwa aku telah mengetahui penyakit In Hyun sekarang” ucap Cheon Neul. Donghae memasang wajah tak mengerti saat nama Hanna disebut-sebut dalam pembicaraan ini. “Dokter Hanna? Jadi ia tahu tentang hal ini?” ucap Donghae.

Cheon Neul menatap Donghae datar dan berucap “Jadi selama ini kau mempercayainya begitu saja? Woah! Aku tidak menyangkanya, kupikir kau hanya berakting. Seharusnya kau langsung menyadarinya, bagaimana bisa In Hyun tidak sembuh-sembuh sementara Hanna terus berada disampingnya” ucap Cheon Neul mendengus tak percaya. “Baiklah, aku rasa kita tidak perlu membahas soal itu. Sekarang yang aku khawatirkan adalah kita terlambat memberikan pengobatan untuk In Hyun. Ia mengidap penyakit ini sejak lahir tanpa ada pengobatan sama sekali. Aku sudah memeriksa obat apa saja yang ia konsumsi selama ini, dan itu adalah Heroin, Morfin, Antibiotik, dan Obat tidur lainnya. Seperti yang ku katakan tadi, mengkonsumsi Antibiotik tertentu dapat mengurangi jumlah sitokin dan membuat sistem kekebalan tubuhnya tertekan, dan ia dapat lebih mudah mengembangkan bakteri resisten. Ini akan sangat berbahaya untuknya”

Mendengar penuturan panjang dari Cheon Neul, kedua pria itu hanya dapat bergerak gelisah memikirkan apa yang harus mereka lakukan sekarang. “Apa—In Hyun dapat bertahan hidup?” tanya Max ragu akan pertanyaannya sendiri, mengingat penjelasan Cheon Neul yang sudah sangat jelas menunjukan bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik.

Cheon Neul menghela nafasnya panjang dan menatap Max dengan serius, “Usia seseorang hanya dapat ditentukan oleh Sang Pencipta. Aku sebagai Dokter akan melakukan segala cara untuk mengobati pasien, tapi yang menyembuhkan seseorang hanya Tuhan yang bisa. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha”

***

Setelah perbincangan itu, Donghae memutuskan untuk membawa Cheon Neul ke Jenewa malam itu. Ia tidak mungkin membiarkan hal ini begitu saja. Bukan karna In Hyun adalah Tunangannya yang menjadi alasannya. Tapi karna hal ini berkaitan dengan hidup-mati seseorang. Dan rasa kecewanya karna dibodohi Hanna selama ini.

Malam sudah sangat larut, dan Donghae tetap memaksakan diri untuk membawa Cheon Neul ke Jenewa, mengajukan diri untuk membantu Cheon Neul dan Max. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Tunangannya. Mana mungkin ia hanya menutup mata dan telinganya, berpura-pura tidak tahu apa-apa dan tak melakukan perlawanan sama sekali. Kalah melawan kejahatan bukanlah gayanya, dan ia cukup mensyukuri bahwa gadis yang duduk disampingnya ini punya pikiran yang sama dengannya. Dan satu hal lagi yang membuat rasa kagumnya semakin bertambah pada gadis ini adalah, keberaniannya.

Mundur bukan berarti menyerah dan kalah. Motto gadis itu.

***

Kyuhyun menatap Cheon Neul terheran-heran saat gadis itu membawa tamu malam-malam begini dirumahnya. Terlebih lagi tamu itu adalah Lee Donghae. Kyuhyun menatap Donghae yang duduk di sofa ruang tamu dengan penuh tanda tanya sebelum ia mengikuti Cheon Neul yang melenggang santai menuju kamar.

“Kenapa kau membawa tamu malam-malam begini?” tanya Kyuhyun heran. Cheon Neul hanya menatap Kyuhyun sekilas sebelum menyalakan laptop dan PC milik Kyuhyun. “Sepertinya aku akan lembur lagi akhir-akhir ini, sebelum aku kembali ke Seoul. Oh ya, tolong panggilkan pria itu kemari” ucap Cheon Neul. Kyuhyun menatap Cheon Neul dengan raut wajah bingung, namun menurut saja saat diperintah sepupunya itu. Tak lama kemudian ia telah kembali dengan membawa Donghae dibelakangnya.

Donghae cukup terpukau dengan keadaan kamarnya dulu saat rumah ini masih miliknya. Tidak banyak yang berubah, hanya ada banyak komputer serta alat elektronik lainnya disana, terkesan berantakan memang, namun benar-benar menunjukan ciri khas seorang pengusaha IT yang cukup mendunia. “Untuk pertama kalinya aku masuk kesini setelah rumah ini ku jual” ucap Donghae.

Cheon Neul nampak tak begitu peduli, matanya terlalu terfokus pada layar PC di depannya. “Bagaimana bisa kau mengenal keluarga Shim?” tanya Cheon Neul sekedar berbasa-basi. Donghae mengambil tempat duduk di samping Cheon Neul, seraya menatap gadis itu yang masih sibuk dengan layar elektronik di depannya. “Aku mengenalnya dari Ayahku” ucap Donghae. Cheon Neul mengangguk lalu kembali fokus ke layar PC dihadapannya, Kyuhyun juga memilih melanjutkan pekerjaannya untuk menyelidiki Tuan Shim. Sementara Donghae, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan atau ia bantu. Ia sama sekali tidak punya keahlian dalam hal-hal berbau seperti ini. membuatnya mendadak malu.

Cukup lama bagi Donghae berdiam diri seraya menatap kedua bersaudara yang nampak asik dengan dunia mereka. Ia berdehem kecil lalu berucap “Jadi apa yang bisa ku bantu?” tanya Donghae hati-hati. Cheon Neul masih dengan wajah serius dengan tatapan tertuju ke layar PC berucap “Kau hanya perlu duduk diam disitu hingga pekerjaanku selesai” ucapnya enteng. Kyuhyun melirik ke arah Donghae dan berucap “Jika kau perlu sesuatu, seperti makan atau minum, kau bisa mengambilnya sendiri di dapur”. Donghae mengangguk lalu tersenyum sungkan.

***

Donghae berjalan mengamati satu persatu botol wine yang berjejer rapi di rak penyimpanan wine. Ia hampir lupa bahwa ia memiliki banyak koleksi wine yang disimpannya. Ah, setelah dipikir-pikir kembali, ia cukup menyesal karna telah menjual rumah ini dengan harga murah. Oke, ia memang sudah gila saat itu karna memutuskan menjual rumah ini, dan ia menyesal.

“Jika aku jadi kau, aku akan sangat menyesal karna telah menjual rumah ini” ucap Kyuhyun menghampirinya seraya ikut mengamati objek yang sama dengan Donghae. Donghae menghela nafas berat seraya tersenyum, “Sepertinya kau benar, aku mulai menyesalinya sekarang” ucap Donghae. Kyuhyun terkekeh lalu merangkul bahu pria yang lebih pendek darinya itu seolah-olah mereka sudah cukup akrab. “Tapi, aku senang karna kau menjual rumah ini dan kami yang membelinya. Kalau itu tidak terjadi, aku tidak mungkin akan menemukan ‘harta karun’ seperti ini” ucap Kyuhyun seraya menatap kagum jejeran botol wine dengan usia yang berbeda-beda. Donghae terkekeh, ia paham maksud ucapan pria itu. “Dilihat dari caramu berucap, aku bisa menebak bahwa kau adalah penggila wine” ucap Donghae. Kyuhyun mengangguk dan tersenyum bangga. “Tebakanmu sama sekali tidak salah” ucapnya. “Biar ku tebak, kau mengkoleksi minuman ini karna kau juga menyukainya bukan?” lanjut Kyuhyun.

Donghae tersenyum kecut, ia menatap sendu wine-wine itu dan berucap, “Tebakanmu salah”. Kyuhyun tertegun mendengar ucapan Donghae, perasaan ingin tahu tiba-tiba saja muncul, membuat otaknya bertanya-tanya. “Maaf jika lancang, tapi apa maksudmu?” ucap Kyuhyun hati-hati. Donghae menghela nafas berat, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sesak. “Mantan kekasihku sangat menyukai wine, karna itu aku mengoleksinya” ucap Donghae. “Aku menjual rumah ini karna tempat ini. Saat kami masih bersama dulu, aku berencana untuk melamarnya dengan koleksi minuman ini. Karna itu aku diam-diam mengoleksinya dan menyimpannya disini” cerita Donghae. Kyuhyun dapat mengambil kesimpulan bahwa gadis yang sedang dibicarakan Donghae saat ini adalah model itu. Kyuhyun mengangguk-angguk saja, ia baru saja mengetahui sejarah tentang koleksi-koleksi minuman ini.

“Ah, tiba-tiba saja aku merasa tidak enak karna sudah meminumnya beberapa botol” ucap Kyuhyun mencoba mencairkan suasana. Donghae terkekeh kecil seraya berucap “Tidak masalah, lagi pula ini juga sudah bukan lagi punyaku” ucapnya.

***

“Dari mana kalian?” tanya Cheon Neul seraya duduk dengan angkuh, kedua tangannya dilipat di depan dada dengan mata memicing ke arah Donghae dan Kyuhyun. Ada satu hal yang baru Donghae ketahui dari sikap Cheon Neul, gadis itu memiliki sifat Bossy dan sangat suka mengintrogasi lawan bicara. “Kami dari ruang penyimpanan” ucap Kyuhyun santai, sementara Donghae hanya mengangguk membenarkan ucapan Kyuhyun.

“Aku punya seorang teman Ahli Patologi di Bern, aku akan mencoba meminta bantuan padanya soal pengobatan In Hyun. In Hyun harus segera di tangani sebelum penyakit ini membuat kondisinya semakin memburuk” ucap Cheon Neul. “Max akan mengurusi soal Hanna, kau tenang saja. Mungkin sekarang ia sudah melaporkan Hanna pada polisi” ucap Donghae. Cheon Neul menggeleng dan berucap “Percuma saja, Hanna memiliki alibi dan kedudukan yang kuat. Akan sangat sulit untuk melaporkannya saat ini” ucap Cheon Neul. “Jadi kau ingin kita diam saja?” ucap Donghae sedikit keras, ia cukup kesal dengan ucapan Cheon Neul yang seolah-olah memandang enteng masalah ini. “Ya, untuk sementara ini sebaiknya kita diam saja dari pada membuat masalah semakin besar. Tuan Shim tidak mungkin kembali dalam waktu dekat, ia masih dalam masa pengobatannya” ucap Cheon Neul.

Donghae mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Cheon Neul. “Tuan Shim? Pengobatannya? Apa maksudmu?” ucap Donghae tak mengerti. “Tuan Shim memiliki masalah psikis yang diam-diam ia sembunyikan. Karna itu ia sering keluar negeri dengan alasan perjalanan bisnis. Hampir tidak masuk akal” ucap Cheon Neul. “Tuan Shim adalah satu-satunya tembok pertahanan Hanna, dan kau adalah satu-satunya kelemahan Hanna” ucap Cheon Neul. Donghae terkejut dan menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak mengerti “Aku?”

Cheon Neul mengangguk dengan wajah tenang, “Kau ini tidak peka ya? Kau dan In Hyun itu sama saja, terlalu mempercayai Hanna dan tidak peka” ucap Cheon Neul. “Gadis itu jelas-jelas menyukaimu, tentu saja ia melakukan berbagai macam cara agar bisa lebih dekat denganmu” ucapnya. Tangannya masih terlipat di depan dada, ia mengerutkan dahinya seraya memiringkan sedikit kepalanya seolah-olah ia sedang meragukan sesuatu. “Sebenarnya—kau juga adalah salah satu orang yang ku jadikan target tertuduh, tapi melihat kebodohanmu ini kurasa kau tidak mungkin terlibat langsung dengan tersangka” ucap Cheon Neul, Donghae yang mendengarnya hanya membulatkan mata terkejut. “Maksudmu, kau menuduhku melakukan hal jahat pada In Hyun? Woah, hebat sekali! kau bahkan mengataiku bodoh” ucap Donghae setengah kesal mendengar pengakuan Cheon Neul. Cheon Neul hanya mengangkat bahunya acuh dan menatap ke layar PC nya lagi.

“Hais, kalian berdua ini. Kalau kalian ingin berdebat, dibawah saja sana! Ribut sekali” keluh Kyuhyun yang lebih memilih kembali menyibukan diri di depan PC kesayangannya itu. “Ngomong-ngomong, aku mendapat informasi bahwa Tuan Shim memesan tiket penerbangan ke Korea untuk tiga hari kedepan” ucap Kyuhyun. Cheon Neul dan Donghae sama-sama menoleh ke arah Kyuhyun dan mendengarkan penjelasan pria itu. “Kau juga mencari tahu tentang Tuan Shim? Lalu apa saja yang kalian ketahui” tanya Donghae. “Kau akan tahu seiring berjalannya waktu” ucap Cheon Neul.

***

Tiga hari berada di Jenewa membuat Donghae harus bolak-balik Apartemennya untuk berganti baju, lalu bekerja, dan malamnya kembali ke rumah Cheon Neul. Sebenarnya Donghae sendiri tidak tahu apa yang ia lakukan disini, mengingat gadis itu hanya sibuk di depan layar PC bersama sepupunya.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan?” tanya Donghae seraya menghampiri Kyuhyun yang juga sibuk dengan PC nya. Kyuhyun menoleh sejenak ke arah Donghae, lalu meraih semangkuk kacang polong di meja dan memakannya. “Sedang mengintai Tuan Shim” jawab Kyuhyun. Donghae mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan Kyuhyun. Dengan segenap rasa penasaran, ia menundukan badannya, mencoba mencari tahu apa yang sedang di amati Kyuhyun. Matanya membulat terkejut saat melihat sebuah video berupa CCTV yang menampilkan sosok yang sudah dikenalnya. “Itukan Tuan Shim? Ia menghampiri siapa?” tanya Donghae saat melihat rekaman itu. “Ayahmu” jawab Kyuhyun singkat membuat Donghae langsung menoleh ke arahnya dengan mata membulat terkejut. “Ayahku?” Kyuhyun mengangguk lalu berucap “Ya, Tuan Shim pergi ke Korea untuk bertemu Ayahmu. Ku rasa itu soal masalah pekerjaan, melihat jadwal pertemuan Tuan Shim dengan Ayahmu hanya berlangsung dua jam sebelum ia berangkat kembali kemari” ucap Kyuhyun. “Lalu untuk apa kau mengintainya kalau sudah tahu?” tanya Donghae heran, “Siapa tahu saja terjadi sesuatu hal yang mengganjal”

***

Ini sudah hari keempat mereka berada Jenewa. Donghae memutuskan menginap dirumah Cheon Neul berhubung ia telah membawa pakaian kerja saat ia pulang untuk membersihkan dirinya semalam. Cheon Neul dan Kyuhyun juga tidak berniat mengusirnya, toh tidak ada ruginya. Donghae sendiri entah kenapa jauh merasa lebih nyaman disini ketimbang Apartemennya. Alasannya bukan karena rumah ini adalah rumah lamanya, dulu ia tidak pernah berfikir rumah ini akan terasa menyenangkan seperti sekarang, dan sekarang ia benar-benar merasa sangat nyaman terlebih lagi karena kehadiran Cheon Neul dan Kyuhyun. Adakalanya mereka membahas soal bisnis dan janji Donghae untuk membawa Cheon Neul mengunjungi lahan proyek mereka jika mereka merasa bosan dengan pekerjaan gila mereka.

Ini masih pagi, Cheon Neul bahkan baru saja tidur dua jam lalu dan belum bangun hingga sekarang. Tubuhnya terlalu lelah karna tidak tidur beberapa hari. Sementara Donghae telah selesai bersiap-siap pergi ke kantor. Namun pendengarannya tak sengaja mendengar ucapan Kyuhyun, “Tuan Shim telah kembali tadi malam. Ku rasa ia akan memarahi Max habis-habisan saat tahu putranya melaporkan Hanna ke polisi” ucap Kyuhyun bergumam tanpa sadar karna terlalu sibuk dengan PC nya. Sejujurnya Donghae terus bertanya-tanya dalam hati mengapa Tuan Shim selalu disebut-sebut kedua bersaudara ini tanpa mau menjelaskan apa penyebabnya. Ini adalah hari keempatnya disini tanpa menghubungi Max. Karna itu ia berniat menghubungi pria itu sekarang, memastikan kondisi disana baik-baik saja.

Ia mencari-cari nama Max di kontak telponnya dan menghubungi pria itu. Tak butuh waktu lama untuk menunggu hingga akhirnya pria itu mengangkat telponnya. “Max, apa kondisi disana baik-baik saja?” tanya Donghae. Kyuhyun menatap Donghae dalam diam seraya menggaruk-garuk lehernya yang terasa gatal. Donghae mengerutkan dahinya lalu berucap “Baiklah, aku akan ke sana setelah pulang kerja” ucap Donghae lalu memutuskan sambungan telponnya. Kyuhyun menatap Donghae dengan tatapan bertanya-tanya. “Ada apa?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Terjadi adu mulut antara Max dan ayahnya tadi malam, setelah itu Tuan Shim tiba-tiba saja ia mengalami keringat darah dan dilarikan ke rumah sakit” ucap Donghae. Kyuhyun menggaruk lehernya lagi dan menatap Cheon Neul bimbang. “Ah, masalah ini semakin sulit saja” keluhnya. Donghae mengangguk lalu berucap “Ah, aku akan pergi ke kantor, setelah itu aku akan langsung ke Bern. Aku sudah membuat sarapan untuk kalian berdua dibawah, berikan pada Cheon Neul jika ia sudah bangun. Ia kelihatan sangat lelah” ucap Donghae. Kyuhyun hanya mengangguk ringan lalu berucap “Pergilah, nanti ku sampaikan padanya” ucap Kyuhyun.

***

Cheon Neul terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap-ngerjap sesaat lalu tiba-tiba saja membulat terkejut saat menyadari bahwa ia bangun kesiangan. Dengan segera ia meloncat dari tempat tidur dan menatap jam dinding berwarna hitam di kamar itu. “Sudah jam 11?! Yak! Cho, kenapa tidak membangunkan ku?” ucap Cheon Neul setengah berteriak. Kyuhyun nampak acuh saja mendengar omelan Cheon Neul, matanya masih fokus ke arah layap PC dihadapannya tanpa berniat menoleh ke arah gadis itu. “Sarapanmu mungkin sudah dingin, makanlah, Donghae yang membuatnya” ucap Kyuhyun tak mau membahas soal jam bangun tidur. Cheon Neul nampak mendengus dan lebih memilih bergumul bersama PC lainnya. “Kau saja yang makan” ucap Cheon Neul. Gadis itu bahkan tidak mencuci wajahnya sama sekali, membuat Kyuhyun menatapnya jijik. “Aish! Pergilah cuci muka. Kau tidak lihat heh? Bekas liur mu masih menempel dipipi. Kau itu seorang gadis tapi jorok sekali” ucap Kyuhyun. Cheon Neul nampak tidak peduli, ia hanya mengangkat bahunya acuh.

“Oh ya, ku dengar dari Donghae, Tuan Shim masuk rumah sakit akibat keringat darah” ucap Kyuhyun. Cheon Neul menoleh ke arah Kyuhyun seraya melotot terkejut. “Benarkah? Apa saja yang telah ku lewatkan?” ucapnya. “Tidak banyak, hanya soal adu mulut antara Ayah dan Anak yang berakhir di rumah sakit” ucap Kyuhyun datar. “Lalu Donghae?” Kyuhyun mengangkat bahu acuh dan berucap “Ia akan pergi ke Bern setelah pulang kerja nanti” ucapnya. Cheon Neul mengangguk-angguk lalu berdiri dari kursinya. “Kau kenapa?” tanya Kyuhyun heran.

“Aku harus ke Bern sekarang”

***

Cheon Neul berjalan penuh hati-hati saat menyusuri lorong rumah sakit tempat Tuan Shim dirawat. Cheon Neul membetulkan letak topi hitam yang dikenakannya saat melewati pintu ruang rawat Tuan Shim dan berdecak kagum saat mendapati banyak pria berjas hitam yang berjaga disekitar tempat itu. Benar-benar terlihat sangat private mengingat Tuan Shim bukanlah orang sembarangan. Setelah ia menemukan tempat yang cukup aman di daerah ruang rawat itu, ia segera menyalakan tab nya dan mengamati keadaan sekitar situ lewat CCTV yang telah ia retas pada tab nya.

Mata Cheon Neul memicing saat menemukan sosok Hanna yang keluar dari ruang rawat lainnya yang cukup berjauhan dari ruang rawat Tuan Shim. Lalu di kamera CCTV lainnya ia mendapati wanita itu berjalan menuju lantai dasar dan berbincang-bincang dengan seseorang yang tentunya sangat mencurigakan. Tiba-tiba saja ia teringat pembicaraannya dengan Alice saat perjalanannya menuju Bern, Alice menghubunginya dan melaporkan bahwa dirinya telah dipecat secara tiba-tiba oleh Hanna, begitu juga dengan para perawat lainnya. Ini sangat tiba-tiba dan tentu saja mengundang kecurigaan Cheon Neul. “Aneh sekali, kenapa Hanna Kim berada dirumah sakit? Lalu siapa yang merawat In Hyun?” gumamnya. Sebelumnya ia telah bertemu dengan Max yang hendak menjaga Ayahnya, tidak banyak pembicaraan diantara mereka, mereka terlalu sibuk dengan tugas masing-masing.

Tak lama kemudian, ia melihat Hanna kembali masuk ke ruangan itu dengan jas dokternya, membuatnya semakin penasaran. Karna itu ia memutuskan pergi ke lantai 3, dua lantai dibawah Tuan Shim, tempat dimana Hanna berada.

***

Donghae baru saja sampai di rumah sakit tempat calon Ayah Mertuanya itu dirawat. Ia baru saja hendak masuk ke dalam lift, namun langkahnya terhenti saat pandangannya tak sengaja melihat sosok Hanna yang berbincang-bincang dengan seseorang tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia benar-benar yakin bahwa perempuan itu adalah Hanna. Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan terlintas begitu saja dikepala pria itu, apa yang wanita itu lakukan disini? seharusnya ia berada di Mansion keluarga Shim dan merawat Tunangannya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift dan mendekati gadis itu diam-diam, Donghae hendak mencuri dengar atas apa yang sedang ia perbincangkan dengan pria berjaket kulit hitam itu.

“Ada seorang gadis bertopi hitam dilantai 5, pastikan kau menyingkirkannya dari sini tanpa dicurigai. Setelah itu, terserah saja kau saja mau apakan ia” ucap Hanna. Donghae membulat terkejut atas ucapan wanita itu. Seorang gadis? Siapa? Tidak mungkinkan gadis itu adalah Cheon Neul?

Merasa tidak enak dengan feelingnya, Donghae langsung menghubungi Kyuhyun saat pembicaraan Hanna dan pria misterius itu telah usai dan Hanna telah pergi. “Oh, Kyuhyun. Apa Angela ada disana?” tanya Donghae hati-hati. Matanya membulat terkejut setelah Kyuhyun mengabarkan bahwa Cheon Neul telah pergi ke Bern dan kemungkinan besar telah sampai disini. Perasaan was-was tiba-tiba saja mengerubungi hati Donghae, mengingat pembicaraan Hanna dengan pria itu.

“Kyuhyun-ssi—Angela dalam bahaya”

***

Cheon Neul menyadari bahwa dirinya telah di awasi seseorang. Ia begitu cepat menyadari hal itu, mengingat hanya beberapa orang yang berada di lorong ini. Merasa ini bukan hal yang baik, Cheon Neul memutuskan untuk berjalan cepat menuju tempat yang lebih ramai. Dengan begitu, si pengintai akan cukup kesulitan untuk menangkapnya jika itu memang niatnya.

Catharina, kenalan baru Cheon Neul saat ia membawa In Hyun ke rumah sakit tempo hari baru saja menghubunginya. Ia mengabarkan bahwa ia melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan In Hyun dibawa ke rumah sakit pagi ini dengan status sebagai pasien VIP. Cheon Neul menduga bahwa ini semua adalah rencana In Hyun, sampai sekarang ia belum tahu apa motif In Hyun melakukan hal seperti ini, namun ia yakin bahwa ia akan menemukan jawabannya setelah ia berhasil meringkus siluman itu.

Ia hendak masuk ke dalam lift kosong namun tak jadi saat seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya dan membawanya lari. Cheon Neul hendak melepaskan genggaman itu namun tidak jadi saat menyadari orang yang telah menariknya adalah Lee Donghae. “Aiden?” ucap Cheon Neul tak percaya. Donghae nampak tak peduli dengan ucapan Cheon Neul dan terus berlari menuruni tangga darurat secepat mungkin. “Berlarilah lebih cepat, ada seseorang yang mengejar kita” ucap Donghae. Mata Cheon Neul membulat terkejut dan mempercepat larinya, berusaha menyesuaikan kecepatan larinya dengan Donghae. Mereka berdua turun ke lantai dua, lalu masuk ke dalam lift yang telah diisi beberapa orang di dalamnya sebelum pria yang mengejar-ngejar mereka berhasil melihat mereka.

Keduanya nampak tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat mereka berdua bernafas dengan tersengal-sengal. “Kenapa tidak turun ke lantai dasar saja?” ucap Cheon Neul. Donghae hanya menggelengkan kepalanya masih dengan nafas tersengal-sengal. “Dilantai dasar lebih berbahaya lagi” ucap Donghae. “Jadi kita akan kemana?” ucap Cheon Neul setelah berhasil mengatur nafasnya lebih baik lagi. Pintu lift tiba-tiba saja terbuka saat mereka berada dilantai 6. “Kemana saja asal tidak tertangkap” ucap Donghae lalu menarik tangan Cheon Neul keluar dari lift. Cheon Neul tiba-tiba saja berhenti dan beralih menjadi menarik lengan Donghae. “Kalau begitu kita cari titik buta kamera CCTV”

***

Donghae dan Cheon Neul akhirnya bersembunyi di ruang kerja Catharina di lantai 7, tempat yang mereka rasa cukup aman untuk bersembunyi dan tak terekam kamera CCTV. Cheon Neul menghela nafasnya lega, ia sangat bersyukur karna mengenal Catharina dan langsung menghubunginya. Catharina mengizinkan mereka untuk menggunakan ruangannya itu sampai keadaan diluar sana aman. Dokter itu memang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun cukup mengerti melihat kondisi diluar sana terbilang sangat aneh tak seperti biasanya.

“Syukurlah kau punya seorang kenalan disini” ucap Donghae. Cheon Neul mengangguk lemah, kakinya terasa lemas karna di paksa berlari kesana kemari karna orang-orang itu. Dirinya mana mampu melawan orang berjumlah lebih dari 10 yang terus mengejar mereka kesana kemari.

Catharina hanya tersenyum tipis saat melihat Cheon Neul dan seorang pria yang tak dikenalnya itu nampak ngos-ngosan setelah berlari kesana kemari. “Kalian sangat lelah, istirahat saja dulu disini. Mereka tidak mungkin mencari sampai disini” ucap Catharina. “Terima kasih sudah membantu kami” ucap Cheon Neul tulus. Wanita itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya kecil, “Bukan sesuatu yang berarti, kau butuh bantuan dan aku harus membantu” balas Catharina. “Oh ya, lalu bagaimana dengan pasien itu? sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Catharina heran. Cheon Neul dan Donghae saling menatap satu dengan yang lain seolah-olah sedang berdiskusi lewat tatapan mata untuk memilih siapa yang akan menjelaskannya pada orang yang telah membantu mereka ini.

Cheon Neul menghela nafas berat, pasrah saat dirinya yang harus menjelaskan apa yang telah terjadi. “Begini, kami baru mengetahui bahwa ia mengidap HIV dan aku harus segera menolongnya, ada masalah yang cukup rumit terjadi, intinya kami tidak diperbolehkan untuk mengobatinya, kebetulan pria ini adalah Tunangannya” ucap Cheon Neul, ia juga cukup kewalahan bagaimana caranya menjelaskan pada Dokter dihadapan mereka itu dengan singkat dan jelasm. Catharina menatap Donghae lalu tersenyum saat pria itu menuduk singkat sebagai perkenalan. “Sepertinya ini bukan masalah yang mudah” komentar Catharina. Cheon Neul menunduk sejenak seraya berfikir keras, apa yang bisa ia lakukan jika mereka berdua terjebak dalam sekumpulan para penjaga yang mengejar mereka?

Cheon Neul mengangkat kepalanya saat tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya. “Catharina, bisakah kau menolong kami lagi?” tanya Cheon Neul dan dijawab dengan anggukan seraya senyuman tulus dari wanita itu. “Ya, tentu saja. Selagi aku mampu, aku akan membantumu”

***

Catharina keluar dari ruangannya lalu berjalan dengan tenang menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Sesekali ia tak sengaja berpapasan dengan para pria-pria bertubuh besar yang ia duga sebagai para penjaga itu. Masih mempertahankan wajah tenangnya, ia berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai 3. Ia sedikit bergidik ngeri saat mendapati ada pria bertubuh besar lainnya yang juga berada di dalam lift yang sama dengannya. Ia mendesah lega saat akhirnya ia sampai di lantai 3, dengan segera ia berjalan keluar dari lift yang sesak itu. Matanya membulat kaget saat mendapati banyak para penjaga yang mengawasi tempat itu. Bagaimana caranya ia masuk jika banyak sekali penjaga disini? Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan ia mendesah lega saat yang menghubunginya adalah Cheon Neul—atau yang lebih dikenal dengan nama Angela Han. Ia segera mengangkat ponselnya seraya melirik ke sekitarnya dengan tatapan waspada. “Ya? Ada apa?” tanyanya.

Cheon Neul barusan mengatakan apa saja yang harus ia lakukan. Ruangan itu sedang kosong—selain In Hyun tentunya, jadi ia harus bisa masuk secepat mungkin, menyuntik obat ARV di tubuh In Hyun dan segera keluar sebelum Hanna kembali ke ruangan itu. Tanpa sadar Catharina mengangguk mematuhi perintah Cheon Neul sebelum panggilan itu terputus.

Catharina menghembuskan nafasnya gugup, ia mencoba menyemangati dirinya sendiri, berharap ini akan berjalan lancar. Ia adalah seorang Dokter, dan anggaplah bahwa ia sedang mencoba menolong seorang pasien yang butuh pengobatan. Dengan pasti, ia berjalan mendekati ruangan yang ia ketahui adalah ruang rawat In Hyun sebelum mereka menyadari kehadirannya. Ia menutup perlahan pintu itu dan terkejut saat seseorang tengah menatapnya lekat dari tempat tidur pasien—ia adalah In Hyun. “Siapa kau?” tanya In Hyun dengan wajah tak suka. Catharina dengan gugup mencoba mendekati gadis itu dan memperkenalkan diri, “Namaku Catharina, aku juga seorang Dokter di rumah sakit ini. Angela Han memintaku untuk mengobatimu, ia berpesan bahwa kau sedang dalam bahaya. Tolong percaya padaku” ucap Catharina. In Hyun menatapnya tak percaya, memang mungkin saja wanita ini mengenal Cheon Neul, tapi itu sama sekali tidak menjamin bahwa ia tidak akan melakukan hal yang buruk padanya. “Aku tidak percaya” ucap In Hyun membuat Catharina mendengus sebal. Gadis ini ternyata sangat menyebalkan sekali, ia melipat tangannya di depan dada lalu berucap “Tolong jangan mempersulit keadaan ini, aku hanya mencoba membantumu. Tapi kau malah menolak” ucap Catharina. Tiba-tiba saja pintu ruang rawat itu kembali terbuka, Catharina nyaris berteriak sangking terkejutnya, takut saja jika yang masuk itu adalah Dokter bernama Hanna Kim itu.

Ia menghela nafasnya lega saat mengetahui orang yang membuka pintu itu adalah Cheon Neul, Donghae dan dua orang lainnya yang terdiri dari seorang wanita dan seorang pria yang juga nampak terlihat berantakan dengan nafas tersengal-sengal. Oh! Apa yang terjadi sebenarnya? Cheon Neul menatap tajam ke arah In Hyun yang juga nampak terkejut dengan kehadiran Cheon Neul dan Donghae—Tunangannya. “Oppa?”

***

Flashback On

Cheon Neul berjalan mondar-mandir dengan tabnya untuk mengawasi gerak-gerik aktifitas rumah sakit itu lewat CCTV sambil berfikir keras. Catharina baru saja pergi dan kini hanya tersisa Donghae dan dirinya di ruangan tersebut. Banyak hal yang telah dipikirkannya dan salah satunya adalah resiko dari meminta bantuan Catharina. Hanna selalu membuat In Hyun terjaga jika dirinya sedang keluar, karna itu ia khawatir jika Catharina mendapati keadaan In Hyun yang sedang terjaga dan gadis itu menolak pengobatan. Itu pasti akan jauh lebih merepotkan dari pada menghadapi para pria-pria bertubuh besar itu.

Donghae sendiri sudah bosan melihat gadis itu mondar-mandir dihadapannya dengan ekspresi serius. Oh sungguh! Ia juga sudah pusing memikirkan masalah ini, dan semakin pusing saat melihat Cheon Neul yang mondar-mandir dihadapannya. “Berhentilah mondar-mandir, itu tidak akan menyelesaikan masalah” ucap Donghae kesal. Cheon Neul masih tetap mondar-mandir dengan ekspresi serius, ia merogoh ponselnya lalu menghubungi Catharina yang nampak sedang kebingungan dan menjelaskan apa yang harus wanita itu lakukan, setelah Catharina mengangguk menyanggupi perintahnya sambungan itu diakhiri. Tiba-tiba saja Cheon Neul berhenti mondar-mandir dan menatap Donghae dengan tatapan serius. “Ku rasa aku harus kesana, aku tidak bisa berdiam diri disini”

***

Donghae bergidik ngeri saat Cheon Neul melayangkan pukulan mautnya saat bertemu dengan dua orang penjaga yang tak sengaja berpapasan dengannya. Dua pria sekaligus langsung tumbang begitu saja tanpa bantuan dari dirinya. Sebenarnya gadis itu tercipta dari apa? bagaimana bisa tubuhnya yang tak begitu besar itu dapat melawan dua pria berbadan gembul sekaligus hanya dengan pukulan mengerikan dari sebuah cabang beladiri yang disebut Kungfu, apa gadis itu merangkap sebagai seorang Atlet Kungfu?

Cheon Neul menepuk kedua tangannya lalu tersenyum senang saat kedua pria yang dilawannya itu telah jatuh tak sadarkan diri. Tidak sampai mati memang, tapi setidaknya mereka akan cukup lama tak sadarkan diri. Lagi pula ini di rumah sakit, mereka bisa mendapat pengobatan jika tak sengaja bertemu dengan petugas rumah sakit yang sukarela membantu mereka. Cheon Neul menoleh ke arah Donghae yang diam mematung tak jauh darinya, “Kau kenapa? Ayo kita pergi!” ucap Cheon Neul seraya masuk ke dalam lift dan mendapati seorang penjaga lagi, dengan segera Cheon Neul memberikan beberapa pukulan yang dapat melumpuhkan lawannya itu dalam waktu singkat. Untung saja hanya ada ia, Donghae dan penjaga malang itu, jadi ia jauh akan lebih tenang. “Jangan hanya menonton saja, kau harus membantuku. Di lantai 3 akan jauh lebih banyak penjaga, kau tahu bela diri bukan?”

Benar saja, sesuai dengan ucapan Cheon Neul, ada banyak sekali penjaga disini dan ini sangat mustahil di menangkan mereka jika dua lawan banyak. Diam-diam Donghae menelan ludahnya dengan gugup, ia mendekati Cheon Neul yang telah berdiri siaga di dekatnya. “Kau serius akan melawan mereka semua?” tanya Donghae dengan gugup. Cheon Neul sama sekali tidak memperdulikan ucapan tak berbobot dari pria dengan nyali sebesar biji kacang di sampingnya, ia lebih memilih memfokuskan matanya pada lawannya yang banyak itu. “Jangan menjauh dariku” ucap Cheon Neul membuat Donghae membulatkan matanya. Oh ya ampun, apa ia baru saja mendengar bahwa gadis ini mencoba melindunginya? Melindungi seorang pria dewasa seperti dirinya dengan tubuh kecil itu?

Tak lama kemudian seorang wanita dan pria lainnya muncul dari lift lain. Pria dan wanita itu tak lain dan tak bukan Max dan Alice. Donghae menghela nafas lega, setidaknya bukan hanya mereka berdua yang akan melawan pria sebanyak ini. “Ah, kalian datang untuk membantu kami?”

***

Flashback Off

Cheon Neul menatap sebal In Hyun yang susah sekali di bujuk. Gadis itu terus-terusan bergerak ke sana kemari saat Cheon Neul mencoba menyuntiknya. Cheon Neul menatapnya jengkel lalu menoleh ke arah Donghae, Max dan Alice serta Catharina yang berada diruangan itu bersamanya. “Kalian pergilah diluar, awasi jika Hanna kembali kemari dan membuat kekacauan. Aku harus bicara empat mata dengan gadis keras kepala ini” ucap Cheon Neul.

Awalnya Max dan Donghae hendak protes, namun mereka mengurungkannya dan memilih patuh pada perintah Cheon Neul. Satu persatu dari mereka keluar dari ruang rawat itu. Setelah memastikan pintu telah tertutup, Cheon Neul kembali fokus menatap In Hyun yang juga tengah menatapnya. “Jangan pura-pura bodoh In Hyun, aku tahu ini semua kelakuanmu” ucap Cheon Neul. In Hyun memasang wajah tak mengerti dan memilih diam dari pada menyahut ucapan Cheon Neul. “HIV, kau tahu bahwa kau mengidap penyakit itu bukan? Lalu, kenapa kau tidak pernah mengkonsumsi ARV sama sekali?” ucap Cheon Neul dengan wajah datar.

In Hyun mendengus lalu berucap “Itu sebabnya aku membenci Dokter, kalian terlalu suka ikut campur soal penyakitku, dari ucapanku—kau pasti sudah tahu banyak tentangku” ucap In Hyun berdesis. “Aku mempercayai Hanna karna ia satu-satunya orang yang tahu tentang penyakitku. Aku adalah pewaris utama seluruh aset keluarga Shim. Aku adalah orang penting yang harus dilindungi dari—Oppaku yang serakah, yah—sudah seharusnya aku memanggilnya Oppa, karna ia bukan Ayahku” aku In Hyun. Cheon Neul tidak terkejut dengan ucapan In Hyun, ia memang sudah menduga jika In Hyun mungkin saja tahu siapa orangtuanya yang sesungguhnya. “Bagaimana jika ternyata selama ini Hanna dan Tuan Shim bekerja sama? Apa yang akan kau lakukan? Kau sedang sakit sekarang” ucap Cheon Neul dengan tatapan meremehkan. In Hyun tentu saja tidak suka dengan ucapan Cheon Neul yang jelas-jelas meremehkan kepercayaan In Hyun. “Jangan meremehkannya, lagi pula—orang yang seharusnya pantas ku curigai itu adalah dirimu. Kau mau tahu alasannya?” ucap In Hyun. Cheon Neul menggeleng pelan lalu tertawa kecil, “Tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti” ucap Cheon Neul. In Hyun melayangkan tatapan suka saat Cheon Neul hanya menanggapi ucapannya dengan santai dan tenang. “Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku melayangkan tuntutan atas percobaan pembunuhan yang ingin kau lakukan” geram In Hyun.

“Ya, dan saat aku keluar dari dalam penjara, aku yakin kau telah menyandang gelar Almarhumah karna tindakan bodoh mu itu. Asal kau tahu, Hanna sangat menyukai Aiden, apa kau tidak bisa melihat itu? Sebaiknya berikan tanganmu sekarang, aku tidak punya banyak waktu lagi untuk mengobatimu” ucap Cheon Neul yang akhirnya tidak tahan juga dengan ucapan In Hyun yang sangat menjengkelkan itu. In Hyun berusaha menjauhkan dirinya dari jangkauan Cheon Neul, namun akhirnya menyerah juga karna tubuh lemahnya tak sekuat tenaga Cheon Neul yang jauh lebih besar darinya. “Ini adalah ARV, aku mati-matian untuk mengobatimu itu juga untuk kebaikanmu sendiri. Selama ini Hanna hanya memberikan mu obat penenang dan antibiotik yang hanya akan memperparah keadaanmu” ucap Cheon Neul seraya menyuntik In Hyun. “Apa aku akan segera mati?” lirih In Hyun. Cheon Neul tersenyum tipis, mendengar ucapan penuh putus asa itu membuatnya tak tega mengomel dan ia juga tidak tahu harus mengatakan apa untuk menenangkan In Hyun. “Jangan putus asa, mati dan hidup seseorang itu adalah urusan Tuhan” hibur Cheon Neul.

In Hyun memandang bekas suntikan di tangannya itu dengan tatapan sendu, hampir menangis. “Apa yang harus ku lakukan? Tidak ada orang lain yang bisa ku percayai lagi” ucap In Hyun terisak. Cheon Neul hanya menepuk bahu In Hyun, berusaha menguatkan hati gadis itu. Tak lama kemudian Max, Donghae, Alice dan Catharina masuk ke dalam ruang rawat itu dan menghampiri In Hyun yang sedang menangis. “Kau baik-baik saja In Hyun-ah?” tanya Max dengan wajah khawatir. Ia sudah tahu kenyataannya, ia tak sengaja mendengar pembicaraan In Hyun dan Cheon Neul dari luar. Max meraih In Hyun ke dalam pelukannya dan ikut menangis bersama In Hyun. “Oppa—sekarang siapa lagi yang bisa ku percaya?” tangis In Hyun. Cheon Neul juga nampak ikut terlarut dalam kesedihan antara Max dan In Hyun, ia berjalan mendekati Donghae, Alice dan Catharina yang berdiri dengan raut wajah sedih tak jauh dari tempat tidur In Hyun. “Masih ada Oppa, aku tetaplah Oppamu” ucap Max seraya mengelus puncak kepala In Hyun dengan sayang.

Max memberi jarak antara dirinya dan In Hyun untuk menatap wajah adik kecilnya itu, kedua ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di pipi In Hyun dan menatap wajah adiknya dengan penuh kasih. “Masih ada Oppa yang bisa kau percayai” ucap Max. In Hyun mengangguk lalu menoleh ke arah lain, mata sendunya menatap pria lain yang telah menyandang status sebagai Tunangannya. “Donghae Oppa” ucapnya lirih. Donghae mendekat ke arah In Hyun dan tersenyum tipis. “Ku rasa kalian berdua butuh bicara saat ini” ucap Max seraya mengambil jarak dari In Hyun, membiarkan Donghae mendekati In Hyun dan mengobrol berdua. Sementara Cheon Neul, Alice dan Catharina lebih memilih meninggalkan ruang rawat itu terlebih dahulu di susul Max.

***

Cheon Neul menghembuskan nafasnya lega, ia baru saja selesai menghadiri sidang Hanna dan akhirnya wanita itu di hukum sesuai dengan perbuatannya. Belum lagi dengan lisensi dokternya yang harus dicabut.

Ia berjalan ringan di dalam lorong rumah sakit, ini kegiatan terakhirnya di Bern sebelum gadis ini kembali ke Seoul. Ia membuka pintu ruang rawat nomor 143 itu dengan hati-hati dan mendapati Ibunya sedang duduk menjaga seorang pria parubaya yang terbaring lemah di rumah sakit.

“Cheon Neul—ah” lirih Nyonya Shim seraya bangkit dari duduknya. Tatapannya begitu sendu, seolah-olah sedang menahan rasa sedihnya sendiri. Cheon Neul menutup pintu yang dibukannya lalu berjalan mendekati Ibunya dan pria yang tak lain adalah Tuan Shim. “Aku tidak akan lama disini” ucap Cheon Neul datar. Ia menatap Tuan Shim dengan wajah datar lalu kembali berucap “Bagaimana keadaannya?”

“Ia mengalami Hematidrosis, aku sama sekali tidak tahu jika ia mengalami penyakit seperti itu. Selama ini ia hanya mengatakan bahwa ia sibuk dengan bisnisnya. Aku tidak pernah tahu jika sebenarnya ia mencoba mengobati penyakitnya ke Psikiater” ucap Nyonya Shim sedih, ia berusaha mati-matian untuk menahan air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya. Cheon Neul hanya diam seraya menatap pria itu yang nampak telah tertidur. “Jangan meninggalkannya, cukup aku dan Siwon Oppa yang dulu kau tinggalkan. Aku harus kembali ke Seoul, jaga dirimu baik-baik Eomma” ucap Cheon Neul tulus. Gadis itu menatap lekat wajah Ibunya, untuk pertama kalinya ia menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tulus kepada Ibunya.

Nyonya Shim hanya bisa terpaku di tempatnya, ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menahan putrinya pergi. Terlalu banyak dosa yang telah ia lakukan pada kedua anaknya itu, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berdoa untuk kebahagiaan anaknya. “Maafkan Eomma”

***

Cheon Neul langsung pergi ke Bandara setelah menyelesaikan kunjungan terakhirnya. Ia berjalan menghampiri Kyuhyun yang telah menunggunya sebelum mereka berdua masuk ke dalam pintu keberangkatan bersama-sama.

“Ah, akhirnya kita pulang juga. Oh ya, ngomong-ngomong kau sudah bertemu dengan Donghae?” tanya Kyuhyun seraya menoleh ke arah Cheon Neul yang nampak acuh tak acuh dengan sekitarnya—termasuk ucapan Kyuhyun. Merasa dirinya diabaikan, Kyuhyun menyenggol bahu kanan Cheon Neul membuat gadis itu menoleh ke arahnya. “Kau kenapa?” tanya Cheon Neul dengan nada cuek. Kyuhyun mendengus kesal lalu berucap “Kau tuli ya? Tadi aku bertanya apa kau sudah bertemu dengan Donghae?” ucap Kyuhyun. Cheon Neul mengangkat bahunya lalu memberikan tiketnya pada petugas bandara saat mereka berada di pintu keberangkatan. “Untuk apa bertemu dengannya?”

Kyuhyun hanya melongo di belakangnya, ia bahkan mengabaikan petugas bandara yang meminta tiketnya. “Kau sama sekali tidak mengucapkan salam perpisahan dengannya?” ucap Kyuhyun shock. Sejenak pria jangkung itu menoleh ke arah petugas bandara dan tersadar, dengan segera ia menyerahkan tiketnya untuk diperiksa. Setelah itu si petugas bandara kembali menyerahkan tiketnya dan mempersilahkan Kyuhyun masuk. Dengan segera Kyuhyun berjalan cepat, mencoba mengejar Cheon Neul yang telah lebih dulu masuk ke dalam. “Kau belum menjawab pertanyaanku” desak Kyuhyun. Cheon Neul berhenti melangkah lalu menatap sepupunya dengan sebal. “Tidak, aku sudah lupa. Lagi pula ia tidak hadir dalam sidangnya Hanna tadi” ucap Cheon Neul. “Sudahlah, lagi pula untuk apa mengucapkan salam perpisahan dengannya? Itu tidak penting sama sekali” ucap Cheon Neul acuh lalu kembali berjalan meninggalkan Kyuhyun yang masih terdiam ditempatnya. Sedetik kemudian Kyuhyun berdecak sebal lalu menggerutu “Dasar gadis tidak peka!”

***

Hangang International Medical Center, Seoul

Suara tempat tidur beroda itu terdengar jelas dilorong rumah sakit. Beberapa perawat mendorong tempat tidur itu yang telah terisi seorang pasien gawat darurat berjenis kelamin perempuan yang akan di bawa ke dalam Instalasi Gawat Darurat. Seorang gadis dengan jas putih khas seorang Dokter berjalan menuju tempat pasien itu. “Apa yang tadi terjadi padanya?” tanya Dokter itu seraya menatap tubuh pasien dengan wajah serius. “Pasien ditemukan tidak sadarkan diri di rumahnya setelah mengalami muntah darah” ucap seorang Perawat. Doter yang tak lain adalah Han Cheon Neul itu dengan serius memeriksa kondisi pasiennya.

Beberapa perawat yang berada disitu tiba-tiba saja terkejut—nyaris berteriak saat sang pasien mengalami muntah darah dan berhasil mengotori pakaian Cheon Neul. Gadis itu sendiri sama sekali tidak peduli dengan noda darah yang melekat di pakaiannya, yang ia pikirkan saat ini adalah cara menyelamatkan pasien itu. “Sepertinya ia telah menelan racun arsenik. Perawat Jang, tolong pasangkan tabung oksigen padanya dan berikan cairan Intravena, kita harus melakukan pembilasan lambung” ucap Cheon Neul dan di jawab dengan anggukan oleh para perawat.

***

Cheon Neul membuka maskernya seraya mendesah lega setelah pekerjaannya selesai. Ia memukul-mukul bahunya yang terasa pegal seraya berjalan menuju ruangannya. Sudah sebulan ia tinggal di rumah sakit tanpa pulang ke rumahnya dengan alasan ia harus menebus masa liburannya itu yang kelewat panjang, karena itulah ia berakhir di rumah sakit dengan segala macam pasien yang harus ia tangani satu bulan belakangan ini. Belum lagi ia harus menghadapi Kyuhyun dan Siwon yang terus merecokinya soal CN Industries, membuat kerja otaknya semakin berat.

Baru saja ia mendapat kebebasannya, tiba-tiba saja seorang wanita parubaya menghampirinya. “Bagaimana kondisi putriku?” tanya wanita itu dengan wajah khawatir. Dengan terpaksa Cheon Neul harus meladeni seorang wanita parubaya yang ia duga adalah orang tua dari pasien yang baru saja ia tangani itu. “Kami telah selesai melakukan pembilasan lambung untuk membersihkan racun arsenik yang di telan pasien. Kondisi pasien saat ini mulai membaik dan ia sedang istirahat sekarang. Kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat” ucap Cheon Neul. Wanita parubaya itu mengangguk lemah lalu mengucapkan rasa terima kasihnya pada Cheon Neul. “Terima kasih Dokter, putriku itu memang nakal, ia sering sekali melakukan hal-hal yang berbahaya. Mungkin Ayahnya telah dalam perjalanan kemari setelah mengetahui hal ini” ucap wanita itu. Oh! Cheon Neul sama sekali tidak peduli dengan hal itu, bisakah wanita ini membiarkannya pergi? Ia sudah sangat lelah dan ingin memejamkan matanya barang beberapa menit sebelum kembali bekerja. Cheon Neul memaksakan bibirnya untuk tersenyum lalu berucap “Jangan khawatir Nyonya”

***

Cheon Neul membuka keleng soft drinknya dengan tenang seraya memandang gemerlap lampu-lampu dikota Seoul dari rooftop rumah sakit. Udara dingin yang menusuk tulang tak dipedulikannya sama sekali. Ada begitu banyak hal yang terlintas dibenaknya selama beberapa pekan ini.

“Apa yang sedang kau lakukan ditempat begini dengan udara mengerikan ini Dokter Han?” suara sapaan dari rekan kerja nya membuat gadis itu menoleh ke arah Dokter Song yang tengah berjalan menghampirinya. Cheon Neul hanya mengulaskan senyum tipis saat Seniornya di rumah sakit ini semakin merapatkan jas dokter ditubuh pria berusia akhir 30-an itu. “Sunbae sendiri sedang apa disini? udara sedingin ini sebaiknya berada didalam ruangan” ucap Cheon Neul membuat Dokter Song mencibir, “Jangan membalikan perkataan. Jadi, ada masalah apa sampai harus menyendiri ditempat ini? aku mungkin tidak bisa membantu, tapi mungkin bisa memberikan saran” ucap Dokter Song.

Cheon Neul hanya memoleskan senyum tipis mendengar rasa simpati Dokter Song, “Aku boleh bertanya satu hal padamu?” tanya Cheon Neul dan dijawab dengan anggukan kepala oleh pria itu. “Sunbae, di usiamu sekarang—kenapa kau belum juga memutuskan menikah?” pertanyaan Cheon Neul membuat pria itu seketika tertawa dengan mata menatap lurus ke depan. “Pertanyaanmu sangat menyinggungku”

“Tidak usah di jawab jika keberatan” ucap Cheon Neul. “Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Tapi aku cukup sedih mendengarnya” ucap Dokter Song seraya merogoh kantong jas dokternya dan mengambil sebuah permen lollipop rasa susu dari dalam sana dan membukanya. “Aku menyukai seorang wanita selama 30 tahun lamanya sekalipun ia tidak pernah menatapku sama sekali” ucap Dokter Song memulai ceritanya. “Maksudmu, Perawat Min?” tebak Cheon Neul membuat pria berusia akhir 30-an yang sibuk mengemut lollipop di dalam mulutnya itu menyenggol tubuhnya. “Kau tidak perlu menyebutkan namanya”

Cheon Neul hanya mengangkat bahunya acuh dan menyuruh pria itu melanjutkan ceritanya. “Aku menyukainya sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia wanita yang manis sekalipun berusaha untuk terlihat galak” Cheon Neul mengangguk setuju dengan ucapan Dokter Song, “Selama bersama, ia sama sekali tidak tahu tentang perasaanku. Aku terlalu bodoh saat itu karena mengharapkan ia untuk menyadari perasaanku dengan sendirinya, hingga akhirnya ia memilih menikah dengan pria lain” ucap Dokter Song seraya tersenyum kecut. Cheon Neul melihat dengan jelas ekspresi yang jarang diperlihatkan pria yang terkenal begitu ceria itu. “Kau pasti menyesal” ucap Cheon Neul dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Dokter Song.

“Ya, aku sangat menyesal dan sedih saat itu. Tapi, itulah yang dinamakan cinta sejati. Aku telah mengungkapkan perasaanku—walaupun terlambat. Dan sekarang aku hanya perlu menunggu, aku yakin usahaku tidak akan berakhir sia-sia. Jika aku tidak mendapatkannya dimasa ini, aku yakin aku akan mendapatkannya dimasa yang akan mendatang” ucap Dokter Song mengakhiri ceritanya dengan wajah ceria seperti biasanya, seolah-olah ekspresi kecewa yang sempat diperlihatkan pria itu tadi bukanlah sebuah masalah.

“Kau percaya reinkarnasi?” ucap Cheon Neul ragu-ragu membuat Dokter Song tertawa. “Tidak, aku tidak percaya hal macam itu. Tapi aku percaya takdir. Ngomong-ngomong, tidak biasanya kau bertanya hal seperti ini padaku. Ada masalah apa?” ucap Dokter Song mulai mengorek informasi dari Hoobaenya itu. Cheon Neul terkesiap dan langsung mengelak saat Seniornya itu terus-terusan mencoba mengorek isi pikirannya. “Tidak, aku hanya bertanya. Sudahlah, tidak usah dibahas lagi” ucap Cheon Neul seraya membuang mukanya ke arah lain.

Dokter Song tersenyum geli melihat gelagat aneh Cheon Neul yang sangat langka menurutnya. Langka bukan karena ia belum pernah melihatnya, tentu saja ia sudah pernah melihat gelagat seseorang yang malu karena ketahuan salah tingkah, namun ini gelagat seperti ini tidak pernah ia lihat dari seorang gadis yang terkenal sangat dingin dan terkesan cuek ini.

“Kau tahu Dokter Han, terkadang kau harus membuang sedikit rasa gengsi dan malumu sebelum kau menyesal dikemudian hari”    Cheon Neul menoleh cepat ke arah Dokter Song, terkejut karena pria ini dapat membaca isi kepalanya, namun dengan cepat ia mengontrol ekspresinya agar terlihat setenang mungkin. “Kau memang harus bersabar menunggu, tapi kau juga tidak boleh menunggu tanpa melakukan apa-apa” lanjut Dokter Song.

“Sesuatu yang kau rasakan saat ini memang belum seberapa. Tapi sesuatu yang kau rasakan ini akan menjadi begitu berbahaya jika kau hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Sama seperti virus, ini baru gejala awal. Dan jika kau hanya mendiamkannya, maka virus itu akan menyebar. Yang perlu kau lakukan saat ini adalah mengidentifikasi virus itu sebelum menyebar luas, apa virus itu berbahaya atau tidak, apa kau harus memusnahkan virus itu atau membiarkannya karena tidak akan merugikan siapapun”

Season 1 COMPLETE

Hai readers, pertama-tama aku mau ngucapin makasih buat para pembaca yang sudah berkenan membaca ff aku. Makasih juga buat Admin yang udah ngijinin aku ngeposting ff disini lagi (sebelumnya aku pernah posting Agelast disini). Sejujurnya aku bingung mau menentukan genre ff ini, karna di season berikutnya punya cerita yang berbeda lagi dan aku nge-blank tiap kali harus menentukan genre, takutnya salah menentukan genre jadi aku mutusin pake AU. Dan sebagai bonusnya, aku buat epilog untuk season berikutnya. Sekali lagi makasih udah membaca!!^^

***

Epilog

Jodoh tidak akan kemana. Kalimat itu sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang pada umumnya. Hal itu juga berlaku bagi Han Cheon Neul, Dokter cantik dan jenius yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di Seoul. Tidak peduli sejauh mana ia mencoba lari dari kenyataan, gadis itu tetap akan menemukan jalan yang sama.

Ia berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba saja menyusup masuk dan mengganggu konsentrasinya. Entah kenapa~ ia juga tidak tahu akan hal itu. Padahal kejadian itu sudah setahun berlalu.

Ditengah usahanya untuk mencoba untuk menepis perasaan-perasaan aneh itu, Lee Donghae—orang yang sering mengganggu pikirannya itu, tiba-tiba saja kembali muncul di hadapannya. Terlalu sering malah. Membuat Cheon Neul semakin sulit untuk menepis perasaannya yang entah kenapa semakin hari semakin bertambah besar. Ia sadar diri bahwa tidak seharusnya ia menyukai Tunangan adik tirinya—Shim In Hyun itu.

Belum lagi dengan posisinya saat ini yang telah menjadi Presiden Direktur CN Industries berkat kegilaan Kyuhyun dan Siwon yang terus-terusan memaksanya untuk bergabung dalam perusahaan yang dibangun dengan uangnya itu, dan rencananya untuk mengusut tuntas masalah bisnis ilegal Ayahnya.

Biasanya ia selalu berhasil memecahkan masalahnya. Tapi mengapa ia tidak bisa memecahkan masalah yang ia hadapi saat ini?

Masalah itu ada pada dirinya.

 

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. kyura2 ninja
    Mar 30, 2017 @ 18:28:14

    bagus kak tapi masih gantung
    ditunggu season selanjutnya ya…..
    semanggat!!!!!!

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: