The Day We Felt The Distance [10/?]

The Day We Felt The Distance

Author: Putri Fairuz

Cast: Cho Kyuhyun || Park Sungrin OC

Genre: Romance and sad

Rating: T

Length: Chapter

***

Setelah ia pergi meninggalkanku, ia kembali lagi padaku.

Mengubah suasana hatiku yang kala itu sedih, menjadi bahagia

Awalnya aku kesal, untuk apa ia kesini lagi?

Apa ia ingin membuat hidupku terpuruk lagi?

Tapi, setelah aku mendengar penjelasannya, hatiku merasa lega.

Sekarang, aku mulai takut.

Takut jika ia merasakan apa yang pernah aku rasakan.

Yaitu, kehilangan seorang pasangan hidup.

***

Matahari menyapa, memancarkan sinarnya di pagi hari yang berembun. Aku membuka mataku perlahan, menyesuaikan penerangan di ruang kamarku. Mataku menangkap sinar matahari yang bersinar dari balik jendela. Aku tersenyum, karena hari ini masih diberi nafas oleh Tuhan. Aku menatap kedua kaki ku yang tertutup oleh selimut, mencoba untuk menggerakannya. Aku tersenyum kembali, mendapati kaki ku masih bisa di gerakkan walaupun terasa lebih berat. Aku sudah bisa memastikan, entah esok atau lusa, kaki ku akan mati rasa. Ya, lumpuh, seperti kedua tanganku ini.

Aku bangun dari tidurku, duduk bersandar dikasurku. Ku tatap kedua kaki ku sambil menahan air mata yang akan tumpah.

“Kau mungkin lelah karena telah menjadi bagian dari anggota tubuhku. Kau boleh beristirahat besok atau lusa.”

Air mataku tumpah, memikirkan hari esok dan seterusnya. Dimana saatnya aku mulai merepotkan kedua orangtuaku. Dimana saatnya orangtuaku kembali mengurusiku layaknya seorang bayi. Tak bisa berjalan, tak bisa menggenggam, hanya bisa berbaring ditempat tidur dan menyusahkan banyak orang.

“Sayang, ada apa?” tiba-tiba Ibu ku masuk kedalam kamar, mengelus pundakku agar aku lebih tenang.

“Ibu, sepertinya besok atau lusa kakiku sudah tak bisa digerakkan.” Aku masih terus menangis, enggan menatap mata ibu ku.

Ibu segera membawaku kedalam pelukan hangatnya, mengelus rambut hitamku sampai akhirnya aku merasakan air matanya jatuh, “Kau bicara apa, huh? Selama Ibu dan Ayah masih sanggup mengurusmu, itu takkan pernah terjadi! Kau akan sembuh! Percaya pada Ibu dan Ayah, oke?”

Aku mengangguk didalam pelukan Ibu. Aku juga berharap demikian. Tapi, entah kenapa rasa pesimis ku kembali hadir. Semakin hari, bukannya semakin sehat, justru membuatku semakin lemah. Sudah tak ada harapan bagi penderita ALS untuk bertahan hidup. Semua sia-sia! Mau kau keluarkan seluruh isi kekayaanmu, penderita ALS pasti akan mati! Percuma aku minum obat kalau tak ada perkembangan! Aku benar-benar marah saat ini! Aku seperti anak yang tak berguna bagi kedua orangtuaku! Seharusnya, aku yang mulai mengurs kedua orangtuaku, tapi apa? Untuk yang kedua kalinya, kedua orangtuaku mengurusiku kembali! Aku sudah dewasa, bukan anak kecil! Tapi disisi lain, aku membutuhkan perhatian khusus dari kedua orangtuaku. Ya Tuhan apa aku boleh memakimu saat disurga nanti? Kenapa kau memberiku cobaan seperti ini? Kenapa? Apa kau membenciku? Kalau iya, kenapa kau izinkan aku untuk lahir didunia ini? Apa engkau ingin melihat orangtuaku menderita dan terus menangis seperti ini? Aku, adalah anak yang paling tidak berguna didunia ini! Bahkan aku lupa bentuk rupa wajah orangtuaku saat tersenyum. Aku lupa. Bahkan aku tak ingat, apa orangtuaku pernah tersenyum? Karena, yang aku lihat hanya buliran air mata yang mengalir membasahi pipi mereka.

“Mau kupijit?” Tanya Ibu sambil membasuh air matanya. Aku hanya terdiam dengan pandangan kosong.

Tak ada aba-aba, Ibu segera memijit kedua kaki ku. Aku masih dapat merasakan pijatan Ibu. Melihat ibu seperti ini, aku jadi teringat Kyuhyun. Dulu, Kyuhyun sering memijat tanganku sampai akhirnya tangan ku lumpuh dan tak dapat merasakannya lagi. Aku merindukan sosok pangeranku. Seorang pangeran yang kembali datang menghampiri permaisurinya yang diambang kematian. Padahal, jika ia tak kesini, aku yakin dia pasti bahagia di Jepang. Ini semua gara-gara diriku. Andai saja, hanya aku yang punya perasaan lebih padanya, mungkin ia tak akan susah payah merawatku. Bahkan setelah ia pergi dari Korea, mungkin ia akan melupakanku. Kalau aku tahu bakal seperti ini akhirnya, aku tak akan menangis dihadapan Kyuhyun saat dibandara, aku tak akan memohon agar ia tetap berada disisiku. Aku mungkin akan mencaci makinya, agar ia membenciku dan melupakanku, menganggapku adalah kenangan buruknya. Lalu setelah itu, aku bisa pergi dengan tenang, dan mengucapkan kata-kata terakhirku sekaligus permintaan maaf ku pada Kyuhyun lewat mimpi. Di mimpi Kyuhyun nanti, aku akan bercerita tentang betapa beratnya aku mencaci maki dirinya, betapa beratnya aku membohongi perasaan ku kalau aku mencintainya. Tapi semua itu sudah terlambat, Kyuhyun telah kembali padaku dan berjanji untuk membahagiakanku. Padahal, dalam kamus kehidupanku, kata ‘bahagia’ sangat sulit untuk diwujudkan.

“Ibu, nanti Kyuhyun akan kesini.” Aku berkata pelan. Yang aku tahu, Ibu masih belum memaafkan Kyuhyun.

Ibu menatapku tajam, “Untuk apa Kyuhyun kesini lagi? Kenapa juga kau berhubungan lagi dengannya? Kau sudah disakiti olehnya, kenapa kau harus kembali pada orang yang sama? Apa tak ada lagi lelaki yang dapat memenuhi ruang hatimu? Bukankah kau sudah melupakannya, huh?”

Aku menarik nafas panjang, “Kyuhyun kesini untuk menyerahkan barang-barangku yang tertinggal dirumah.”

“Kalau hanya mengambil barang-barang mu dirumah, Ayah bisa mengambilnya! Kenapa harus nyuruh Kyuhyun untuk mengambilnya?”

“Aku tak ingin merepotkan Ayah dan Ibu lagi!” Ibu berhenti memijat kakiku, menatapku yang berkaca-kaca. “Aku sudah banyak merepotkan Ibu dan Ayah, aku tidak ingin merepotkan kalian berdua lagi. Barang-barangku dirumah sangat banyak, aku tak mungkin menyuruh Ayah untuk mengambilnya.”

Ibu duduk dihadapanku, mengelus lembut rambutku, “Kau adalah anak Ayah dan Ibu, Ibu dan Ayah tidak merasakan seperti itu. Wajar jika Ibu dan Ayah melakukan hal yang menurutmu merepotkan, karena kau adalah anak kami. Sudah sepantasnya kami melakukan itu. Apalagi, kau sedang sakit seperti ini. Ibu dan Ayah akan menggerakkan seluruh tenaga agar kau sembuh.” Ibu tersenyum hangat, terlihat genangan air mata yang sudah penuh dipelupuknya.

“Kalau begitu, ikhlaskan aku mati saja! Toh, sudah tak ada harapan bagiku untuk hidup! Mungkin menurut Ibu itu adalah hal yang wajar, tapi menurutku tidak. Aku sudah dewasa, seharusnya Ayah dan Ibu berhenti kerja sekarang, biar aku yang merawat kalian. Tapi sekarang? Setelah kalian mengetahui penyakitku, kalian kembali bekerja banting tulang untuk membiayai pengobatanku. Tapi hasilnya apa? Tidak ada bu, tidak ada!”

Ibu segera memelukku erat, mulai menitikkan air mata, “Jangan pernah berucap seperti itu, Sungrin. Itu hanya membuat Ibu semakin sedih dan merasa gagal menjadi orangtua. Dimulai dari Kyuhyun, lalu penyakitmu. Saat kau lulus SMA, Ibu benar-benar bahagia karena melihat senyummu lagi. Cukup lama kau bisa menjadi dirimu kembali. Perlahan-lahan senyuman itu menjadi tawa riang dan akhirnya aku mendapati dirimu kembali. Seorang Park Sungrin yang riang gembira, suka bercanda dan menjahili orang. Seorang wanita kebanggaan Ibu dan Ayah yang suka membantu sesama dan berbagi ilmu. Seorang putri sulung yang rajin membantu kedua orangtuanya. Seorang putri yang rela berkorban demi kedua orangtuanya. Seorang putri yang berhasil membuat orangtuanya bangga. Itu kau, Sungrin! Kau bukanlah seorang anak yang hanya merepotkan orangtua. Mungkin saat ini kau ditakdirkan sakit, tapi setelah sembuh, bisa saja Ibu yang sakit. Kau akan hidup lama, Ibu yang akan mendahuluimu, percaya pada Ibu!”

“Ibu, ibu bicara apa? Ibu tak boleh bicara seperti itu!” aku menggeleng keras, ingin rasanya aku menghapus air mata yang terus mengalir dipipinya.

“Kalau kau tak ingin Ibu bicara seperti itu, kau harus janji, jangan pernah keluarkan kata-kata ‘kematian’ dihadapan Ibu dan Ayah. Itu akan membuat kami merasa sedih, kau mengerti?” aku mengagguk, Ibu kembali menenagkanku.

“Kau tahu, dulu saat kau patah hati dengan Kyuhyun, hati Ibu merasa sedih dan rasanya ingin mencabik-cabik wajah Kyuhyun. Karena, Kyuhyun membawa pengaruh besar dalam hidupmu. Hampir 4 tahun aku tak melihat senyummu. Semua waktumu kau habiskan didalam kamar, belajar dan belajar. Jujur, disisi lain Ibu sangat senang jika kau terus belajar. Tapi, otakmu juga butuh istirahat. Ibu dan Ayah sangat bangga karena selama 3 tahun di SMA, kau selalu mendapat juara kelas. Tapi, Ibu dan Ayah juga sedih, karena kau menjadi wanita dingin dan selalu menyendiri. Bahkan kau tidak punya teman semasa SMA, Ibu dan Ayah tidak pernah melihat mu berinteraksi dengan temanmu, atau bahkan kau tidak pernah mengajak teman-teman mu main kerumah. Wali kelasmu juga mengatakan kau tak pernah ikut tugas kelompok, kau lebih senang jika mengerjakannya sendiri tanpa bantuan teman-temanmu. Kau harus bersosialisasi, kau tak bisa hidup sendiri didunia ini.”

“Itu sudah masa lalu, toh sekarang aku mempunyai banyak teman, termasuk guru-guru di BSHS.” Aku menyela, untuk mencairkan suasana. “Tapi, Ibu, Kyuhyun yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Kyuhyun yang sekarang benar-benar menjagaku dengan baik. Ia terus membuatku tersenyum dan tertawa. Aku merasa sangat nyaman dan aman saat bersamanya. Bahkan saat aku mengalami kejang otot, dia berusaha tenang dan memijit tanganku seperti yang Ibu lakukan padaku. Ia berjanji padaku untuk membahagiakanku, Bu.”

Ibu terdiam, aku tak yakin ibu percaya padaku, “Ibu, aku ingin bertemu dengan Kyuhyun untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku akan fokus pada pengobatan penyakitku ini. Aku janji!”

Ibu mengambil nafas berat, mungkin sulit baginya melepasku untuk kembali pada pria yang dulu pernah menyakitiku, “Baiklah.” Ujar Ibu pada akhirnya.

Aku tersenyum riang setelah Ibu memberi ku izin. Ibu juga ikut tersenyum melihatku. “Oh iya bu, apa Ibu masih menyimpan kursi roda kakek? Aku boleh memakainya? Aku takut jika nanti tiba-tiba aku mengalami kejang otot, itu pasti akan menyusahkan Kyuhyun.”

Tokk.. tok.. tok..

“Ah, itu pasti Kyuhyun!” aku bersiap untuk beranjak membukakan pintu, tapi Ibu menghalanginya.

“Biar Ibu saja.” Ibu segera pergi membukakan pintu untuk Kyuhyun.

Aku menatap punggung Ibu sampai hilang dari kamarku, aku tak bisa diam saja disini. Aku ingin tahu reaksi ibu saat bertemu Kyuhyun.

“Ada apa?” celetuk ibu saat berhadapan dengan Kyuhyun. Aku langsung menggigit bibirku setelah mendengarnya.

Kyuhyun terlihat gugup saat ini, “Emm.. aku hanya ingin memberi koper berisi pakaian Sungrin.”

“Hanya itu saja?” Kyuhyun memandang Ibu bingung. “Kau tak ingin menemui putriku?” Kyuhyun yang bingung mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia menangkap sosok diriku yang berdiri agak jauh dari dirinya. Aku tersenyum pada Kyuhyun, lalu membuang muka, aku tak bisa mengontrol detak jantungku.

“Aku sangat ingin menemuinya,” Kyuhyun tersenyum pada Ibu.

“Baiklah.” Ibu berbalik menghadapku, menyuruhku untuk ketempat ia berdiri.

Aku tersenyum hangat pada Kyuhyun, sambil terus menatapnya. Begitu juga dengan Kyuhyun. Kami saling melepas rindu dengan cara seperti ini.

Ibu yang tidak ingin mengganggu kami, segera pergi sambil membawa koper yang telah Kyuhyun berikan.

“Hai..” sapaan canggung yang Aku lontarkan pertama kali saat ini.

“Hai juga.” Kyuhyun pun tak kalah canggung dengan ku.

“Emm… aku ingin kepantai dan menghabiskan waktu denganmu hari ini.”

Kyuhyun tersenyum sambil mengelus puncak kepalaku. “Baiklah,” ujarnya.

“Tapi, kita harus bawa kursi roda untuk berjaga-jaga.” Kyuhyun memandangku bingung. “Kaki ku mulai terasa berat untuk digerakkan. Jadi, aku tak ingin merepotkanmu jika nanti mengalami kejang otot atau mati rasa.”

“Kita tak perlu kursi roda, aku bisa menggendongmu kemanapun kau pergi.” Aku menautkan alisku, tak percaya dengan ucapan Kyuhyun.

Sepertinya Kyuhyun mengerti arti dari tautan alisku dan secara tiba-tiba menggendongku sampai kemobil. Aku sudah berteriak minta diturunkan, tapi ia enggan mendengarkannya.

Kyuhyun, semoga hari ini merupakan hari yang indah. Buat aku tersenyum dan tertawa seperti ini terus, sampai akhirnya aku tak bisa merasakannya.

***

Ku tapaki kakiku diatas pasir putih pantai Busan. Orang yang paling kucintai didunia ini, Cho Kyuhyun, menggenggam tanganku yang mati rasa dengan hangat. Senyumku tak pernah luntur saat bersamanya. Tawa ku tak pernah berhenti saat disampingnya. Aku begitu bahagia, sampai-sampai tak ingin jauh darinya.

“Oppa, kita main layangan yuk!” ujar ku saat melihat penjual layangan disekitar pantai. Biasanya pantai ini dipenuhi dengan anak-anak yang bermain layangan, tapi sekarang sunyi, mungkin Tuhan sengaja menciptakan suasana ini untuk kami berdua.

Kyuhyun mengangguk, mengiyakan keinginanku. Aku tersenyum hangat padanya. Entahlah, saat ini aku ingin menyenangkan hatinya sebelum mengucapkan perpisahan padanya. Sebenarnya, menatap senyum indahnya membuatku semakin susah untuk berpisah dengannya. Kenapa? Karena aku tak sanggup menghapus senyum indahnya. Senyum yang membuatku bertahan hidup sampai sekarang. Dan sebuah senyum yang dapat membuatku optimis sembuh dari penyakit ini.

“Chagiya, kau lihat aku ya, layang-layang ini akan terbang menembus awan!” seru Kyuhyun. Aku mengangguk sambil terus menatap awan.

Apa rasanya tinggal diatas langit? Apa menyenangkan? Apa merasa senang? Apa terasa damai? Apa aku tak merasakan sakit lagi? Apa nanti aku bisa menggerakan tanganku lagi? Memegang bunga, mengelus binatang, apa aku bisa merasakannya lagi? Jika iya, apa aku bisa tinggal disana sekarang? Bisa kan? Aku tak ingin berada didunia lagi. Aku lelah! Aku letih! Aku ingin melihat orang-orang disekitarku tersenyum lagi. Berhenti menitikan air matanya untuk mengasihiniku. Aku ingin melihat orang-orang disekitarku bahagia tanpa ada beban seperti diriku.

“Chagiya! Lihat layang-layangannya! Dia sudah sejajar dengan awan!!!!” suara Kyuhyun membuatku menoleh menatapnya.

Orang ini, malaikat ini, pangeran ini, dia yang membuatku tak bisa pergi begitu saja dari dunia ini. Dia yang membuatku untuk tinggal lama didunia ini. Dia yang membuatku bertahan sampai aku lumpuh seperti ini. Dia adalah orang yang begitu tulus mencintaiku walau aku tak sesempurna wanita lain. Aku adalah wanita pengidap ALS yang hidupnya hanya hitungan bulan. Tapi lelaki disampingku, enggan meninggalkanku sampai maut datang menjemputku. Kau membuatku sedih, Kyu. Apa tidak ada wanita yang lebih cantik dariku? Wanita sehat yang akan mengurus hidupmu nanti. Apa kau tak bisa menemui wanita yang seperti itu? Dalam waktu singkat, aku akan tinggal bersama Tuhan. Aku akan melihat mu dari atas langit sana. Bukan dari jarak yang sedekat ini. Kyuhyun, kau harus bisa hidup tanpa diriku.

“Oppa,” Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya. “Aku ingin, hubungan kita berakhir sampai sini.”

Kyuhyun dengan cepat menoleh padaku, “Kenapa?” ucapnya.

“Aku ingin fokus pada pengobatanku. Kau setuju kan?” aku enggan menatapnya. Mata ku terfokus pada lautan didepan sana.

“Apa harus kau meninggalkanku?” Kyuhyun tak lagi memainkan layangannya. Sehingga, layang-layang itu terbang entah kemana.

“Ya, harus.” Ujarku berusaha tegas. Aku tak bisa menahan air mataku ini. Berat rasanya mengatakan ini.

“Apa alasannya?”

Alasanku adalah, agar kau bisa terbiasa tanpaku, Cho. Aku hanya ingin, kau bisa tersenyum saat melihat makamku nanti.

“Karena kau…” aku menangis, aku tak bisa mengatakan ini. “Karena kau yang telah menghancurkan hidupku!!” aku menatap matanya tajam, penuh amarah. Walaupun hatiku merasa sakit saat ini.

“Apa maksudmu?” Kyuhyun mencengkram bahu ku kuat. Melihat bola mataku lebih dalam.

“Aku hanya bersandiwara, seakan-akan aku menyukaimu. Seenaknya saja kau tiba-tiba masuk lagi dikehidupanku! Memang kau siapa?!”

Kyuhyun menggeleng kuat, “Itu bukan kau, Sungrin. Itu bukan kau. Katakan padaku jika kau berbohong..”

“Berbohong? Aku tidak berbohong! Itu adalah kejujuranku! Aku muak melihatmu!” ujarku padanya.

Air mata Kyuhyun mengalir dengan derasnya. Aku semakin tak tega melihatnya menangis seperti itu. Apa dia percaya pada omonganku?

“Bagaimana rasanya dicampakan oleh orang yang kau cintai? Sakit, bukan? Itu yang pernah aku rasakan! Sekarang aku sudah lega karena aku bisa membalas perbuatanmu! Itu karma yang harus kau terima, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tak lagi menatapku, ia memejamkan matanya, mengeluarkan semua air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Cengkramannya begitu kuat dibahuku, aku bisa merasakannya. Sesakit itukah hatimu mendengar pengakuan palsuku? Maaf, itu aku lakukan demi kau. Karena aku sangat mencintaimu dan tak ingin melukai hatimu nanti.

“Enyah kau dari dunia ini, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun mengambil nafas panjang. Membuka matanya, dan menatap mataku. “Bahkan kau sedang menangis saat ini, aku tahu kau berbohong.”

Aku tertawa, bahkan saat tertawa air mata ku jatuh.”Aku tidak berbohong!” bantahku.

“Lalu, untuk apa kau menangis?”

“Aku masih punya rasa manusiawi saat mengatakan ini, tidak seperti kau yang tak berperasaan! Yang tak punya hati! Yang dengan seenaknya menginjak jam tangan yang kau berikan padaku! Yang dengan tega bilang bosan denganku, bahkan tanpa ekspresi. Kau seharusnya berterima kasih padaku, karena setidaknya aku menitikkan air mata sebagai belas kasihan dirimu!”

“Aku tak perlu belas kasihan darimu.” Nada bicara Kyuhyun membuatku takut. “Kalau kau membenciku dan tak ingin melihatku, bilang saja. Kau tak perlu menyembunyikannya.”

Sorot mata Kyuhyun begitu tajam dan nampak serius. Apa usahaku berhasil? Apa Kyuhyun membenci ku sekarang? Tapi entah kenapa, aku merasa sedih.

“Untuk apa aku memperjuangkanmu jika kau sendiri tak menginginkan kehadiranku,”

“Untuk apa kau menjadikanku kekasihmu jika kau meninggalkanku?” aku menatapnya tajam, aku berusaha tak menangis saat mengucapkan kalimat yang menusuk hati Kyuhyun. Aku sengaja, agar ia percaya padaku. “Aku juga tak ingin diperjuangkan olehmu!”

Kyuhyun tertawa kecil sambil menitikkan air mata, “Baiklah, memang dari awal aku yang salah. Sampai saat ini pun aku salah. Seseorang yang sudah dicap sebagai napi, akan dianggap sebagai napi walaupun ia telah keluar dari tahanan. Aku harap, kau bisa bahagia saat aku pergi.”

Aku mengalihkan pandangaku darinya, “Niat ku kembali ke Korea, untuk bertemu denganmu, untuk membahagiakanmu. Tapi di matamu, aku tetap salah, dan terus salah. Memang ini karma. Aku tahu kau berbohong, tapi aku ingin mengabulkan semua permintaan mu. Jika kau mau aku pergi dari hadapanmu, aku akan pergi, asal kau bahagia. Karena tujuanku datang kesini untuk membahagiakanmu. Jika kau bahagia dengan cara ini, aku bisa apa? Aku bahagia jika kau bahagia.”

Aku memejamkan mataku, air mataku menetes kembali. Maafkan aku, Cho Kyuhyun. Maafkan aku. Aku berjanji, suatu saat aku akan memberitahu alasanku melakukan ini semua. Semoga aku tak terlambat memberitahumu.

“Apa aku boleh memelukmu?” aku tak ingin mendengar ucapan Kyuhyun seperti ini.

“Tidak.”

“Baiklah, oh iya, aku punya hadiah untukmu.” Ia mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak cincin berbentuk hati. “Jika aku tak boleh memelukmu, izinkan aku untuk menyematkan cincin ini di jarimu.”

Aku tak merespon apapun, aku juga enggan menatap Kyuhyun. Kyuhyun memegang tanganku, mengelusnya pelan dan menyematkan cincin di jari manisku. “Aku pasti akan merindukan dirimu, Park Sungrin.”

“Aku pergi.” Kyuhyun membalikan tubuhnya, menjauh dari pandanganku secara perlahan.

Ku tatap langit diatas sana. Mengeluarkan air mataku yang tertahan. Ya Tuhan, apa jalanku sudah benar? Apa Kyuhyun membenciku sekarang? Apa aku adalah kenangan buruknya? Apa dia akan bahagia didepan makamku nanti? Kyuhyun, maafkan aku.

Jika aku sembuh nanti, aku akan mencari mu, seperti apa yang telah kau lakukan saat ini. Saat aku mencarimu dan menemukanmu kembali, aku harap kita bisa bahagia.

TBC

 

A/N: FF ini sudah author posting di akun wattpad pribadi milik author. Silahkan di cek @putrifairuz1 untuk melihat FF ini dan FF lainnya. Makasihhhh…

 

 

1 Comment (+add yours?)

  1. lieyabunda
    Apr 06, 2017 @ 04:03:26

    kenapa juga harus berpisah….

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: