The Day We Felt The Distance [11-END]

The Day We Felt The Distance

Author: Putri Fairuz

Cast: Cho Kyuhyun || Park Sungrin OC

Genre: Romance and sad

Rating: T

Length: Chapter

***

Setelah ia pergi meninggalkanku, ia kembali lagi padaku.

Mengubah suasana hatiku yang kala itu sedih, menjadi bahagia

Awalnya aku kesal, untuk apa ia kesini lagi?

Apa ia ingin membuat hidupku terpuruk lagi?

Tapi, setelah aku mendengar penjelasannya, hatiku merasa lega.

Sekarang, aku mulai takut.

Takut jika ia merasakan apa yang pernah aku rasakan.

Yaitu, kehilangan seorang pasangan hidup.

***

“Oppa, bangun!”

 

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan. Aku terbangun dari tidurku karena ada seseorang yang mengusik tidurku.

 

“Oppa!!”

 

Suara itu, terus terdengar di telingaku. Suara seorang wanita yang kukenal, tapi aku tak yakin jika ia yang memanggilku.

 

“Oppa, kenapa kau susah sekali dibangunin, huh?”

 

Kali ini, mataku terbuka lebar, melihat kesekeliling ruang tidurku lalu melihat sosok wanita yang kucintai dan kurindukan selama ini.

 

“Sungrin?” gumamku.

 

Ia mengangguk dan tersenyum manis. Aku segera duduk dan menangkup wajahnya. Aku menatapnya tajam. Apa ini mimpi?

 

“Apa kau benar Sungrin?” aku bertanya sekali lagi, untuk memastikan, apa itu hanya khayalan ku semata.

 

“Iyalah, aku Sungrin. Siapa lagi?”

 

Aku menyentuh hidungnya, kembali memastikan. Ia tertawa setelah ia melihat air mataku jatuh.

 

“Kau ini kenapa, huh? Kenapa kau menangis? Kau seperti baru bertemu denganku.” Ia mengusap air mataku dengan ibu jarinya.

 

“Kau sudah sembuh?”

 

“Ya, seperti yang kau lihat. Kalau aku belum sembuh, aku tak bisa mengusap air matamu.” Ia tersenyum kembali. Sebuah senyum bak malaikat yang mampu membuat hatiku berdebar.

 

Aku memeluknya erat, tak ingin lagi kehilangannya. “Sungrin, aku sangat merindukanmu. Aku selalu memikirkanmu setiap saat. Memikirkan apa kesalahnku setahun yang lalu sampai membuatmu marah dan begitu muak padaku. Apa kau sudah memafkanku makanya kau mencariku sampai ke Jepang?”

 

“Oppa, kau ini aneh. Kau kenapa, huh? Tiba-tiba saja kau bilang merindukanku dan memelukku, bahkan sampai menangis. Kau seperti baru pertama kali bertemu denganku, padahal kan kita sering bertemu.”

 

Aku tercengang mendengar penuturannya, aku langsung melepas pelukanku dengannya. “Apa maksudmu? Aku memang baru bertemu lagi denganmu setelah setahun yang lalu.”

 

Sungrin menghembuskan nafas pelan. Ia tersenyum sambil mengusap rambut hitamku, “Aku selalu disisimu, karena aku tinggal dihatimu.”

 

Kalimat itu, membuatku terhibur. Aku kembali memeluknya dengan erat. Melepas rasa rinduku yang sangat mendalam.

 

“Oppa, setahun yang lalu, aku tidak benar-benar mengatakannya.”

 

“Aku tahu.” Aku mengelus rambut hitamnya sambil mendengar ceritanya.

 

“Sangat berat bagiku untuk mengatakan hal dusta padamu. Karena aku sangat mencintamu, dan aku tahu kau juga mencintaiku.”

 

“Lalu kenapa kau bilang muak padaku sampai-sampai ingin balas dendam dengan ku?”

 

Ia terdiam, memberikan jeda dalam ceritanya. “Karena, aku ingin kau terbiasa tanpaku.”

 

“Bukankah lebih baik jika berjuang bersama-sama? Kita akan lebih sering tertawa daripada menangis. Bahkan mungkin, kau tak akan merasa sakit.”

 

Ia kembali terdiam, memainkan jemarinya. “Oppa, aku sangat bahagia saat ini. Karena, aku tak lagi merasakan sakit.” Ia menatapku sambil tersenyum. “Pulanglah ke Korea, aku merindukanmu.”

 

Seketika, semuanya gelap. Tak ada lagi Sungrin disampingku. Aku kembali membuaka mata untuk kedua kalinya. Menyerukan nama Sungrin dengan kencang. Tadi itu mimpi? Benar, itu mimpi. Mimpi yang begitu nyata. Apa maksudnya? Apa pertanda buruk atau pertanda baik? Dan kuputuskan untuk pulang ke Korea untuk menemui Sungrin. Kuharap, ia baik-baik saja.

 

***

 

Jantungku berdebar kecang saat kakiku menapaki kota Busan. Kota yang mempertemukanku dengan Sungrin untuk pertama kalinya. Aku merindukan kota ini. Aku lari setelah Sungrin mengusirku dan tak ingin lagi melihatku. Aku ini pengecut, seharusnya aku tak lari, seharusnya aku mengejar cinta Sungrin. Aku yang memulai, aku lah yang bertanggung jawab. Coba saja dulu aku tak meninggalkannya, mungkin tak seperti ini jadinya. Mungkin aku dan Sungrin sudah bahagia, bahkan sudah menikah dan memiliki anak yang lucu. Memang, penyesalan akan datang diakhir. Dan pada akhirnya, aku menyesal.

 

Aku tiba di depan kediaman Sungrin. Diam sejenak sambil menatap kerumunan orang berpakaian hitam. Ya, dirumah Sungrin banyak sekali orang dengan pakaian hitam. Pakaian hitam. Ya, pakaian hitam. Apa? Pakaian hitam? Aku segara berlari masuk kedalam rumah Sungrin. Tak perduli berapa banyak orang yang kutabrak dan mendengar kekesalan mereka. Pikiran ku hanya satu, apa Sungrin baik-baik saja?

 

“Siapa kau? Kenapa kau berbuat onar di hari yang berduka ini?” Tanya seorang tetangga Sungrin sambil menghalang jalanku.

 

“Hari yang berduka? Apa maksud Anda?” aku menaikan nada bicaraku.

 

“Kyuhyun..” seseorang memanggilku. Aku menoleh, ternyata itu Ibu Sungrin. “Sungrin telah menunggumu dikamar.”

 

Aku mengangguk, mengekor Ibu Sungrin kedalam kamar.

 

Didalam kamar, aku melihat Sungrin yang tertidur dengan gaun putihnya. Begitu cantik, tapi begitu pucat. Apa ia kelelahan menghadapi penyakitnya? Makanya ia tidur dengan sangat pulas? Aku mendekat, duduk di tepi kasur. Mengelus pelan rambutnya.

 

“Apa kau bahagia jika seperti ini?” ujarku parau. Air mata menetes begitu saja, mengenai wajah pucat Sungrin.

 

“Sungrin meninggal pada jam 2 pagi.” Sahut Ibu Sungrin.

 

“Sungrin belum meninggal, ia hanya tertidur.” Aku mencoba memeriksa nafasnya. Dan hasilnya, tak ada hembusan nafas yang keluar dari hidungnya.

 

Aku memeluknya, menangis dibahunya. “Kenapa kau pergi secara diam diam?? Kenapa? Kenapa kau tak izinkan aku melihat mu selagi kau bernafas? Aku sudah janji pada diriku untuk membahagiakanmu, tapi kenapa seperti ini jadinya? Sungrin, kembalilah… aku mohon…”

 

Aku terus menangis terisak, membuat bahunya basah oleh air mataku. Ibu Sungrin yang melihatku terpuruk seperti ini, segera mendekatiku. Menusap punggungku agar lebih tenang.

 

“Aku punya rekaman video Sungrin 2 hari sebelum ia meninggal. Video itu untukmu. Kau harus melihatnya.” Ujar Ibu Sungrin, ia segera mengambil ponsel Sungrin dan memberikan video itu padaku.

 

‘Kyuhyun-ah, apa kabar? Apa kau baik-baik saja tanpaku? Aku harap kau bahagia sekarang. Dan akan lebih baik jika kau melupakanku, dan mencari wanita lain yang akan mengurusmu kelak. Saat ini, aku diberikan mukhjizat oleh Tuhan. Tanganku bisa bergerak dan aku bisa berbicara lagi. Kau tahu, 2 hari setelah perpisahan kita dipantai, kaki ku lumpuh. Setelah itu, organ-organ tubuhku yang lain juga ikut lumpuh. Bahkan aku tidak bisa berbicara dan tidak bisa menegapkan tubuhku. Aku selalu bersandar dan tidak bisa berkomunikasi dengan orangtuaku. Aku sangat malu jika aku keluar rumah. Semua orang akan menatapku kasihan. Aku tak suka itu. Saat itu, aku benar-benar membutuhkanmu. Karena aku butuh dirimu, untuk mengembalikan sifat optimisku. Sejak organ tubuhku lumpuh, aku mulai menyesal karena aku telah membuatmu tak ada lagi disisiku. Membuatmu pergi entah kemana. Setiap hari aku selalu menunggumu, berharap kau datang untuk memperjuangkan cinta kita. Tapi kau tak kunjung datang. Aku tak menyalahkanmu, aku menyalahkan diriku sendiri, kalau tahu seperti ini jadinya, aku tak akan mengusirmu dari kehidupanku. Sekali lagi aku minta maaf. Kau kemana saja selama ini? Aku dengar, kau tidak pernah kerja di BSHS? Guru-guru sering bertanya, dimana kau? Kau pergi begitu saja setelah pertengkaran kita. Kau tidak boleh seperti itu. Saat ini, aku sedang berada dirumah sakit, sudah 2 minggu aku disini. Bahkan kata Ibu, aku sempat koma 3 hari. Saat aku koma, aku bermimpi panjang. Aku bermimpi, aku bertemu dengan Tuhan. Lalu aku ditempatkan dirumah yang begitu indah, seperti istana. Disana sangat indah. Banyak pepohonan penuh buah, bunga-bunga yang bermekaran, binatang seperti kucing, kelinci, kupu-kupu. Benar-benar pemandangan yang indah. Semua orang terlihat bahagia disana. Tersenyum seperti malaikat, dan tertawa dengan lepas seperti tidak ada beban. Aku melihat kakek dan nenekku disana. Ada banyak sekali keluarga bahagia disana. Nenek bertanya padaku, apa aku nyaman tinggal disini? Aku jawab saja, iya. Lalu, nenek bertanya lagi, kenapa aku merasa nyaman? Aku menjawab, karena hanya ditempat ini aku merasa bahagia, tak merasa sakit dan tak melihat orang-orang menangis. Nenek menawariku tinggal disana, aku juga tak menolak permintaan nenek. Tapi nenek bilang, apa kau tak ingin melihat orangtuamu dan orang yang kau cintai? Seketika, aku teringat pada Ayah, Ibu, dan Kau. Apa kabar kalian jika aku tinggal disini bersama kakek dan nenek? Apa kalian bisa melepasku pergi. Lalu aku bertanya, apa tidak bisa, orangtuaku dan kau tinggal disini? Nenek bilang, belum waktunya kalian untuk tinggal disini. Padahal Kyu, orang yang paling ingin aku ajak kesana itu dirimu. Aku tak tahu itu dimana, tapi yang jelas, disana sangat lah indah. Cocok untuk kita berpacaran dan mengarungi bahtera rumah tangga. Lalu nenek bertanya sekali lagi, apa aku ingin tinggal bersamanya sekarang atau tidak. Dengan berat hati aku menjawab tidak. Aku ingin meminta izin pada orangtuaku dulu. Setelah mimpi itu usai, aku mulai berfikir, tempat apa itu? Tempat yang membuatku merasa nyaman. Dan aku menyimpulkan, itu adalah surga. Aku ingin sekali ke surga dengan secepatnya. Menghilangkan semua rasa sakitku di dunia. Tapi, apa aku egois? Mementingkan kebahagiaanku daripada kesedihan kalian? Tapi, aku benar-benar tak kuat. Aku menyerah untuk sembuh, karena waktuku hanya seminggu dari perkiraan dokter. Dokter bukan tuhan, ia tidak bisa menentukan tanggal kematian manusia. Tapi, cepat atau lambat, aku pasti akan kesurga. Nenek sudah berjanji padaku untuk membawaku bersamanya. Oh iya, cincin yang kau berikan padaku sangat cantik, aku sangat menyukai. Terimakasih, maaf jika aku telat mengucapkannya. Dan tolong maafkan aku. Aku berjanji, akan membawa cincin ini sampai kesurga nanti. Dan, apa kau suka aku panggil oppa? Sepertinya kau sangat bahagia jika aku memanggilmu oppa. Itu hadiah terkahirku untukmu, oppa. Dan semoga kita bisa bertemu lagi disurga, sebagai pasangan kekasih. Sampai jumpa, disurga nanti. Aku mecintaimu…’

 

Aku kembali menangis setelah melihat video Sungrin. Ia tampak kurus dan bibirnya sangat kering dan pucat. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana sakit yang dideritanya selama ini. Video ini, membuatku semakin merasa bersalah. Disaat aku kecewa dengan diriku sendiri, aku malah pergi meninggalkannya. Aku sangat malu jika harus bertemu lagi dengannya. Aku takut, ia tak bisa menerima kehadiranku. Tapi nyatanya, ia mencariku dan menginginkanku kembali. Aku bodoh! Sangat bodoh!

 

“Kemana kau sebenarnya?” Tanya Ibu Sungrin. Aku menoleh menatapnya. Ia tak menangis. Mungkin ia cukup tegar jika Sungrin harus pergi selama-lamanya.

 

“Aku pergi ke Jepang, untuk melarikan diri.” Aku menunduk sedih, menjatuhkan air mataku kembali.

 

“Kau tak boleh menangis. Sungrin berpesan, jangan ada yang menangis didepan mayatnya atau makamnya. Ia akan membenci orang itu untuk selama-lamanya.” Mungkin ini alasan Ibu Sungrin tak menangis dan berusaha tegar, ia tak ingin dibenci anaknya. “Kau harus hapus air matamu itu. Apa air mata dapat menghidupkan Sungrin kembali?”

 

Aku menarik nafas panjang, mengusap air mataku kasar. Aku kembali menatap Sungrin yang tidak bernyawa. Memegang tangannya yang bersemat cincin di jemarinya. Aku percaya, kali ini ia tidak bohong padaku. Ia membawa cincin ini kesurga. Dan saat aku di surga nanti, aku akan mencarimu, mencari pemilik cincin ini, dan aku akan menikahimu nanti.

 

“Apa kau sudah memiliki kekasih?” sela Ibu Sungrin.

 

Aku terdiam, “Ibuku telah menjodohkanku dengan wanita lain.”

 

“Bagus kalau begitu, itu yang diharapkan Sungrin. Jika kau menikah nanti, jangan lupa undang kami. Kami akan mendoakan yang terbaik untukmu dan calon istrimu.”

 

“Aku tak akan menikah, karena aku akan menikahi Sungrin di surga nanti.”

 

Ibu Sungrin mendesah, “Terserah kau, aku tahu kau sedang terpuruk saat ini.” Ibu Sungrin mengusap bahuku, agar aku lebih tenang. “Bisakah kau nyanyikan sebuah lagu untuknya? Sungrin pernah bilang kalau suaramu sangat bagus. Bernyanyilah untuknya..”

 

Aku menatap Sungrin, tersenyum hangat. Semoga dengan lagu, aku bisa melepas kepergianmu.

 

Sarangi igsughaejin geu nare

Hari ketika cinta sudah terbiasa

Maeumi meoreojin geu sigane

Bersamaan dengan hati perlahan menjauh

Mujagjeong ni son jabgo

Tiba-tiba ku genggam tanganmu

Neoeui mureup bego jamggan itja haesseo

Aku beristirahat sejenak dalam pangkuanmu

Baraman bwado apa

Menatapmu saja bisa membuatku sakit

Gaseumi neomu apa

Hatiku sudah terlalu sakit

Duldo eobsi sojunghaettdeon

Kau sangat berharga dan tak tergantikan

Urin chueogi aninde

Ini bukan tentang kenangan kita

Nae saranginde nal utge haejun neon de

Tapi ini tentang cintaku, hanya kau yang bisa membuatku tertawa

Daheul su eobsi meoreojin

Tapi kau semakin menjauh sehingga aku tak bisa menggapaimu

Urin dwidora gal su isseulgga

Bisakah kita kembali bersama seperti dulu?

Geuribdeon ni maeumi jeonhae wa

Hatiku yang merindu tengah memanggilmu tuk kembali

Sarangi ddaddeuthage daga wa

Cinta menyambut dengan hangat

Seolleineun maeume

Hati ini menggebu-gebu

Neol ggog ggeureoangoseo

Aku harus memelukmu walau hanya sekejap

Jum deo ittja haesseo

Biarkan seperti ini tuk sebentar saja

Baraman bwado apa

Menatapmu saja bisa membuatku sakit

Gaseumi neomu apa

Hatiku sudah terlalu sakit

Duldo eobsi sojunghaettdeon

Kau sangat berharga dan tak tergantikan

Urin chueogi aninde

Ini bukan tentang kenangan kita

Nae saranginde nal utge haejun neon de

Tapi ini tentang cintaku, hanya kau yang bisa membuatku tertawa

Hanbeon deo ddwil su isseulgga

Bisakah kita kembali seperti dulu sekali lagi?

Hangsang gyeote ittdeon neoneun

Kaulah yang selalu ada disampingku

Sojunghage sumgyeodeottdeon seonmulcheoreom

Ku sembunyikan dirimu bak sebuah hadiah yang berharga

Neon naeui haenguningeol

Kaulah keberuntunganku

Neol barabonda

Ku tatap dirimu

Chueogeul samkyeo bonda

Ku tatap kenangan yang t’lah tertelan

Sumgil su eobsneun hangaji

Hanya ada satu yang tak bisa di sembunyikan

Nal gidaryeojun han saram

Yaitu seorang yang tengah menungguku

Neol anabonda dasi chajaon seollem

Ku peluk dirimu, hatiku bahagia saat ku menemukanmu lagi

Ije nae modeun haengbogeul

Kini kan ku kumpulkan seluruh kebahagiaanku

Da moa neoegeman julge

Tuk diberikan kepadamu

Bicheoreom malgeun neoreul saranghae

Aku mencintaimu bak air hujan yang menetes dengan jelas

Nae sumi chaoreuge jabgo sipeun han saram

Kaulah seorang yang bisa membuatku menahan napas

Ggum gateun jigeumcheoreom idaero

Seperti sebuah mimpi, seperti sekarang, dan seperti ini

 

END

 

Silahkan baca beberapa karya author lainnya di akun wattpad @putrifairuz1 . Terimakasih semuaaa:*:*:*:*:*

2 Comments (+add yours?)

  1. Monika sbr
    Apr 07, 2017 @ 17:41:23

    Kasihan sungrin meninggal disaat kyuhyun nggak berada disampinya.

    Reply

  2. lieyabunda
    Apr 08, 2017 @ 04:05:05

    dikira ada keajaiban untuk sembuh,,,
    ternyata cuma mimpi…
    sedih…

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: