After Rain

Nama : RieWookie

Judul Cerita : After Rain

Tag : Cho Kyu Hyun , Kim Ryeo Wook, Kim Ha Ni (OC )

Genre : Angst, Romance

Rating : PG-15

Length : One-Shot

 

Hai~

Ini ff pertamaku yang di kirim ke SJFF ^^ Hope you like it and happy reading! ^^

***

When I was stuck in the rain

And no where to run

At that time you were came

Help me rise up and through the rain

 

 

Awan hitam itu seakan tak berhenti berarak . Hingga kini cuaca masih sama seperti tadi. Mendung. Sudah setengah jam aku berada di taman ini. Dan selama itu pula tak banyak yang aku lakukan. Aku hanya terus duduk di kursi taman ini sambil mengenang sebuah kenangan menyakitkan. Rasanya seperti melihat sebuah dokumenter. Film flashback tentang diriku sendiri.

 

“ Maaf.. “

Aku membeku sejenak mendengar pengakuan lelaki di depanku. Seperti tak ada kendala sedikit pun ia ucapkan kata yang terakhir itu. Maaf. Semudah itukah ia bilang maaf?

“ Aku kecewa padamu Kyu “ balasku sembari menatapnya tajam.

“ Jika kau ingin membenciku, silahkan. Aku memang pantas dibenci olehmu “ –Cho Kyuhyun- menunduk dalam. Pikiranku benar-benar kacau. Rasanya ingin sekali menampar wajahnya saat itu juga.

Tapi entah kenapa tanganku malah mengepal dan tak sanggup menamparnya. Di detik yang sama pandangan mataku mulai mengabur. Aku yakin sebentar lagi aku akan menangis dan tampak menyedihkan di hadapan nya. Kumohon jangan sekarang! Jangan biarkan aku terlihat lemah di depan laki-laki ini.

“ Aku tahu aku salah. “ Kyu Hyun kembali buka suara. “Seharusnya dulu aku tidak memintamu mempercayaiku. Seharusnya aku tidak pernah berjanji apapun padamu. Maaf karena aku terlalu egois dan bodoh hingga lebih memilih jalan ini. “

Aku ingin tertawa mendengar ucapannya. Dulu pun ia pernah berkata begitu. Dan sekarang lagi-lagi ia mengatakan hal yang sama. Omong kosong yang selalu aku benci darinya. Sungguh, aku muak melihat wajah laki-laki ini.

“ Seribu kata maaf tidak akan bisa menyembuhkan sebuah luka. Jadi percuma jika kau meminta maaf ribuan kali sekalipun, ini masih tetap sakit. “ Ucapku sembari menunjuk dada. Nafasku mulai memburu akibat menahan rasa marah dan sesak. Bahkan aku sudah mulai tidak bisa mengontrol emosiku yang semakin meledak.

Kyuhyun menatapku dengan raut wajah yang sulit di tebak. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. “ Tidak tahu kenapa dia selalu ada di pikiranku setiap saat. “ ucap Kyu Hyun lagi, kali ini ia seperti tengah bergumam. “ Bahkan, ketika bersama dengan mu pun aku sering teringat dirinya. Jujur aku masih mencintainya Ha Ni “ Perlahan mata laki-laki itu lebih terlihat sendu dari tadi.

Sesedih itukah? Aku yang sudah hampir 3 tahun bersama dengannya pun tak pernah sekali saja ia tangisi atau di perlakukan sebegitu istimewa gadis itu. Padahal gadis itu telah banyak menyakiti hati Kyuhyun. Tapi tetap saja Kyuhyun mencintainya dan rela melakukan apa saja agar gadis masa lalu nya itu kembali padanya. Lelaki itu rela melakukan apa saja, termasuk membuat hatiku sakit seperti ini.

Gerimis rintik mulai turun membasahi bumi. Perlahan gerimis tadi berubah menjadi butir-butir air yang lebih besar. Beberapa lama kami hanya terdiam. Tak ada kalimat lagi yang ia ucapkan. Yang ada hanya isak tangisku yang teredam derasnya suara hujan.

 

Tanganku terulur saat gerimis itu kembali turun. Tiba-tiba saja rasa perih di hatiku datang lagi. Saat hujan turun hatiku selalu seperti ini. Perih dan sakit. Berkali-kali hampir saja pertahananku goyah. Aku ingin menangis. Tapi kutahan hasrat itu habis-habisan. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis karena alasan yang sama. Ya, alasanku adalah dirinya. Cho Kyuhyun, pria masa laluku.

 

Aku berbalik dan melangkah pergi. Kutinggalkan Kyu Hyun yang masih berdiri terdiam disana. Sejenak, aku berharap ia akan kembali menggenggam tanganku. Dan tak membiarkanku pergi seperti dulu. Ternyata dugaanku salah. Kyu Hyun tak bergeming di tempatnya dan tetap membiarkanku pergi.

Hujan turun semakin deras seakan ikut menangis bersamaku. Aku menahan diri untuk tidak berbalik melihatnya di belakang sana. Aku tak ingin pertahananku kembali runtuh saat menatap matanya. Mata yang –dulu- pernah jadi bagian tubuh favoritku dari pria itu.

Setelah begitu jauh melangkah, tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas. Aku jatuh terduduk dengan lutut menekuk diatas hamparan rumput hijau. Lagi-lagi aku terisak hebat disana. Kutekan dadaku kuat-kuat agar rasa perih itu tak terlalu menyiksaku. Mungkin aku terlalu berlebihan. Namun aku benar-benar tak bisa menahan diri untuk tidak menangis saat itu. Terlebih mengingat aku begitu mempercayai Kyu Hyun selama ini.

Pria itu dengan mudahnya bilang jika ia masih mengharapkan gadis masa lalunya. Bukankah itu menyakitkan? Apalagi jika ingat bahwa ini adalah tahun ketiga aku bersamanya. Berarti selama 3 tahun pula Kyu Hyun hanya menjadikanku pelariannya. Atau lebih tepatnya memanfaatkanku sebagai alat agar gadis masa lalunya itu bisa kembali lagi padanya.

Aku merasa begitu bodoh. Bodoh karena telah menangis hanya untuk pria yang –bahkan- sama sekali tidak pernah mencintaiku. Dalam tangisku aku berjanji pada diriku sendiri. Bahwa ini air mata terakhir yang aku keluarkan karna laki-laki itu. Cho Kyu Hyun.

Hujan telah hampir membuatku basah kuyup. Rasa dingin yang membekukan tulang seakan tak kupedulikan sama sekali. Sampai saat ini aku masih bertahan di tempat yang sama. Dan tentunya dengan perasaan yang sama pula. Aku tak habis pikir, kenapa setelah hampir setahun berlalu aku tetap mengingatnya. Bahkan dengan perasaan yang serupa. Sakit. Ya, ini satu-satunya kenangan menyakitkanku tentang hujan. Aku selalu sukses membayangkan pria itu jika hujan turun.

Perlahan aku merasa air hujan tidak lagi membasahiku. Di detik yang sama sebuah suara sontak membuatku menoleh ke belakang.

“ Apa kau tidak merasa kedinginan dengan baju basah kuyup begitu? Sudah hampir sejam kau duduk di tengah hujan seperti ini nona. “ Ucap seorang lelaki yang kini tengah memayungiku. Aku baru sadar jika sedari tadi ada orang di sekitar taman ini yang memperhatikanku.

“ Terima kasih untuk payungnya. “ Ujarku di selingi senyum tipis. Lelaki itu hanya menghela napas saat menatapku.

“ Bisakah kita pergi sekarang? “ Aku mengerutkan kening mendengar ajakannya. “ Jika kau benar-benar menyukai hujan, kau tak perlu melakukan ini bukan? Berjam-jam menghabiskan waktu hanya untuk menikmati air hujan. “

Menyukai hujan? Tentu saja tidak, Aku bahkan membencinya. Hujan hanya akan mengingatkanku pada semua kenangan buruk itu. Alasanku membenci hujan tentu saja karna Cho Kyu Hyun. Pria yang sejak beberapa jam lalu sempat memenuhi pikiranku.

“ Maaf, tapi aku masih ingin disini. “ Ungkapku padanya. Rambut serta baju lelaki itu sudah nampak basah. Mungkin karena payung yang ia pegang tak mampu memayungi kami berdua, hingga ia harus rela sedikit kehujanan. Aku tersenyum miris menyadari fakta itu. Perasaanku tidak enak pada lelaki ini. Padahal kami baru saja bertemu dan aku sudah merepotkannya begitu.

Tanpa terduga lelaki yang tak kukenal ini menarikku pergi sembari berucap. “ Ayolah, kau bisa sakit jika disini terus. Aku akan mentraktirmu minum hot chocolate di cafe dekat sini. Supaya badanmu hangat. Dan lagi bajuku juga mulai basah kuyup. “

Lelaki itu seakan tak asing bagiku. Memang, terkadang aku sering melihatnya jika kebetulan aku tengah berada di taman ini. Tetapi hingga kini pun aku tidak tahu siapa laki-laki ini. Dan bagaimana bisa ia begitu baik padaku hingga rela basah kuyup demi memayungiku seperti tadi? Padahal kami sama-sama tidak saling mengenal.

“ Rupanya tadi kau menyembunyikan tangismu di tengah hujan? “ Tanya lelaki di depanku hingga membuatku mengalihkan pandangan padanya.

“ Tidak, aku tidak menangis” Sangkalku dengan nada dingin.

Mendengar jawabanku ia hanya tersenyum sekilas. Senyuman laki-laki ini terlihat lembut. Bukan saja karena wajahnya yang tampak tenang, tapi juga karena ia memiliki sorot mata yang indah. Harus kuakui sejak pertama menatap matanya saat di taman tadi mata itu telah membuat salah satu sudut hatiku tenang. Entah karena apa. Ah, mungkin saja karna perlakuannya padaku yang terlalu istimewa?

“ Matamu tidak bisa berbohong nona “ Ujarnya seraya menyesap coffe latte yang masih mengepulkan asap itu. Mendengar itu aku menyipitkan mata dan memandangnya tak suka. Kenapa laki-laki ini seperti ingin sekali mencampuri urusanku?

“ Hujan bukan objek yang bagus untuk menyembunyikan tangismu. “

Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Bagaimana bisa dia tahu jika aku baru saja menangis dan menyembunyikannya bersama hujan? Dan lagi-lagi si pria bermata caramel ini tersenyum. Seperti tahu apa yang aku pikirkan ia kembali berkata.

“ Tadinya aku berpikir jika kau sering diam di tengah hujan seperti tadi itu karena kau menyukai hujan. Tapi sepertinya aku salah. Setiap aku melihatmu dibawah derasnya hujan, yang ada bukan senyum bahagia. Melainkan tangis kesedihan. “ ia berhenti sejenak lalu menambahkan, “ Apakah kau punya suatu kenangan menyakitkan tentang hujan? “

Aku hanya diam. Rasanya tak ingin menjawab pertanyaan itu. Sudah cukup aku mengenang semua kenangan buruk tersebut. Untuk saat ini, memandangi kepulan asap minuman hot chocolate di hadapanku lebih menarik ketimbang menceritakan suatu kenangan yang sudah lama ingin aku kubur dalam-dalam. Kurasa lelaki ini mengerti dengan sikapku barusan. Ia kembali mengajakku bicara dengan topik yang berbeda.

“ Ah ya, aku sering melihatmu ada di taman itu. Aku juga sering kesana. “

“ Benarkah? “ Kali ini aku menjawab pertanyaannya cepat.

“ Ya. “ timpalnya seraya tersenyum. “ Kita belum berkenalan dari tadi. Namaku Kim Ryeo Wook. “ ia mengulurkan tangannya padaku.

“ Namaku Kim Ha Ni. “ Mendengar nama marga kami sama sempat membuatku tersenyum.

Kami kembali terdiam. Ia kembali menyesap Coffe late miliknya. Sementara aku hanyut dalam lamunanku sendiri. Sore itu cafe Rainbow cukup sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang nampak duduk-duduk di sudut ruangan. Sementara hujan di luar masih deras turun. Kurasa akan cukup lama kami berada disini. Dan mungkin akan banyak pula yang kami bicarakan.

“ Jujur saja, “ –Ryeo Wook kembali buka suara. “ Aku sudah lama ingin berkenalan denganmu. Tapi aku tidak pernah berani mandatangimu di taman itu. Kau seperti tengah menunggu seseorang disana. Sampai begitu lama kau tetap disana dengan wajah yang sama saat pertama kali datang. Wajah yang bisa dikatakan, sedih dan muram? Kemudian pada akhirnya kau malah menangis. Bahkan sampai menangis di tengah hujan deras. “ tatapan matanya seperti tengah menerawang mengingat suatu kejadian yang sudah lama. Aku tak berhenti memandanginya sedari tadi. Apakah benar pria ini sering melihatku menangis di taman itu?

“ Sejak aku melihatmu menangis di taman itu, aku jadi sering kesana. Pada awalnya aku berpikir jika kau itu seperti anak kecil yang sangat suka dengan hujan. Disaat orang lain pergi meneduh karena hujan, kau malah duduk di sana sambil menikmati setiap tetes hujan yang jatuh di wajahmu. Pada saat itu aku ingin sekali memayungimu.. tapi aku sama sekali tidak punya keberanian melakukannya.” Ryeo Wook mengakhiri ucapannya dengan senyum lagi.

Entah kenapa, aku merasa ada suatu rasa aneh yang menyusup di hatiku. Perasaan nyaman dan juga bahagia. Meski baru sekitar dua puluh menit pria ini bersamaku, aku sudah hampir melupakan Kyu Hyun hari itu. Rasanya begitu tenang mendengar ucapannya barusan. Seperti tengah berada di suatu tempat yang indah dan damai.

Aku memalingkan wajah ke jendela kaca di sampingku. Awan hitam telah menjauh, dan hujan yang sejak tadi turun deras pun mulai berhenti. Kali ini langit kembali menampakkan wajahnya yang sebenarnya. Nampak cerah dan biru. Keadaan langit setelah hujan adalah pemandangan yang kusukai. Dan lagi ditambah harum khas rumput yang basah terguyur hujan diluar sana. Benar-benar membuat hati tenang. Aku sadar, ada sisi lain dari hujan yang tidak pernah aku benci.

Setidaknya jauh sebelum kejadian bersama Kyu Hyun setahun yang lalu yang membuat kebencian itu muncul. Tak ada lagi alasan bagiku untuk membencinya. Karena semua itu hanya akan membuat hari-hariku percuma. Mungkin sudah saatnya aku benar-benar bangkit dan melupakan kebencianku pada hujan dan juga Kyu Hyun. Serta kembali membuka hati untuk orang lain. Sepintas aku melirik Kim Ryeo Wook yang tengah memandangi langit pula. Bolehkah aku berharap padanya?

Kembali kupandangi langit. Kedua sudut bibirku tertarik melukis sebuah senyum tipis. Ternyata hujan punya beragam cerita tentang hidupku. Di mulai dari Cho Kyu Hyun yang meninggalkan kesan buruk tentang hujan. Serta Kim Ryeo Wook yang menghapus semua kesan kelam itu menjadi cerita lain yang baru. Setelah ini cerita apalagi yang akan hujan tunjukkan? Batinku bertanya.

 

Fin~

 

1 Comment (+add yours?)

  1. Rahmah
    Apr 20, 2017 @ 22:07:08

    Uwaaaa… Love you, wook oppa… 😍😍😍😍😍
    Habis gelap timbul terang…😁😁

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: