When The Sun Falls From The Sky

When The Sun Falls From The Sky

by: Kalista Vidyadhara

***

Genre             : Comedy, Humour, Absurd

Rating                        : General

Cast                : Leeteuk as Zeteus (Zeus: Raja para dewa, dewa langit dan petir)

Yesung as Demetyes (Demeter: Dewi panen, pertanian dan kesuburan*)

Kangin as Kanghades (Hades: Dewa penguasa dunia bawah dan kematian)

Shindong as Posindong (Poseindon: Dewa laut)

Sungmin as Venusmin (Venus: Dewi cinta.*)

Donghae as Arthaemis (Artemis: Dewi bulan, perburuan*)

Eunhyuk as Atheuna (Athena: Dewi kebijaksanaan, perang dan strategi*)

Siwon as Apollwon (Apollo: Dewa matahari dan musik)

Ryeowook as Hapwooktus (Haphaestus: Dewa api, ahli senjata, penempa besi)

Kyuhyun as Hermeskyu (Hermes: Dewa pembawa pesan, pengelana, puisi pencuri dan penipu)

*ket : Untuk menghormati orientasi seks member Super Junior, dalam cerita ini, para dewi diganti menjadi dewa.

Forewords      : Fanfiction ini terinspirasi dari konsep album ke-enam Super Junior yang mengangkat metodologi dewa dewi Yunani. Karakter mereka dalam cerita ini adalah sesuai dengan konsep tersebut. Kendati ceritanya agak absurd, mohon dimaklumi karena ini untuk hiburan semata. Terima kasih. J

 

 

***

            Akhir-akhir ini, keadaan Olympus tidak terlalu menyenangkan. Tempat para dewa nongkrong itu tak ubahnya sebuah istana maha megah yang tak memiliki kehidupan. Air mancur di halaman istana yang biasanya selalu berubah warna dan suhu, kini tak lagi seperti itu. Permukaannya berubah keruh dan suhunya amat dingin.

Di dalam istana, pada sebuah meja super besar yang memiliki lubang jumbo di tengahnya, terdapatlah lima orang dewa duduk di singgasana mereka masing-masing. Di antara ke lima dewa itu, terdapat satu dewa yang duduk sendiri pada sebuah singgasana yang paling mewah di belakang meja horizontal yang seharusnya memiliki berbagai macam hidangan. Seharusnya. Tapi hidangan itu bagai lenyap tak berbekas, bahkan piringnya pun tak ada. Hal itulah yang menyebabkan para dewa itu terpaksa meninggalkan tugas mereka dan mengadakan rapat di Olympus. Bukan hanya karena si ketua para dewa tidak menerima kudapannya. Tapi, ini menyangkut semua dewa. Sumber kehidupan Olympus dan dunia tengah terancam.

“Jadi, Demetyes. Ladangmu sudah benar-benar kosong melompong?” tanya Zeteus. Dengan jambangnya yang tumbuh lebat, mustahil bagi sang dewa yang diajak bicara untuk mengetahui apakah mulut si ketua para dewa itu bergerak atau tidak. Setelah sekian milenium Zeteus memimpin, ekspresinya tak pernah semurung ini. Bahkan tongkat zigzag setinggi sembilan meter yang menyala-nyala pada tangan kanannya, tak terlihat mampu menyemburkan kilat lagi.

“Iya, Zeteus. Nggak tersisa. Bahkan tanah dan cacing di bawah mayat pohon jagungku juga ikut-ikutan lemas, mati tak berdaya,” jawab Demetyes. Dia berusaha menunjukkan bahwa wibawanya sebagai dewa panen masih ada dengan memutar-mutar sebuah bonggol jagung gosong yang berasap. Tumpukan ranting pohon yang menyerupai sarang burung pada kepalanya, terlihat sama sekali tak berharmoni dengan jubah mandi hijau yang membalut tubuhnya. “Hapwooktus sempat berusaha nolongin. Tapi…” ujarnya murung.

Di sebuah singgasana yang menyerupai bengkel onderdil mobil, Hapwooktus duduk diam. Tapi tidak dengan kedua tangannya yang sibuk merakit sebuah penjepit kertas, mouse bekas dan spion mobil menjadi sebuah mainan siapa-kalah-akan-ditampar. Dia terkekeh saat mainannya bekerja dengan mulus. Namun sontak semburan api keluar dari telapak tangannya seiring diterimanya sebuah tamparan super dari si mainan. Dan akhirnya, habislah riwayat si mainan itu. Dewa api yang merangkap sebagai pengrajin senjata itu pun menatap nanar hasil karyanya yang kini tinggal debu berpendar.

“Aku sempat nolongin Demetyes. Hmm.. Kupikir, api dan matahari sama aja, nggak ada bedanya karena api memang sumbernya dari matahari. Jadi, sepemikiranku, ladang Demetyes akan kembali berfotosintesis setelah disembur api. Tapi, lihatlah apa yang kubuat.” Dewa yang memiliki beberapa codet itu menarik sebuah karung dan meletakkannya di atas meja. Dalam sekejap, di hadapannya tumpah ruahlah serpuluh-puluh jagung gosong yang masih berasap. “Aku mengubah ladangnya jadi jagung bakar. Eh, tapi ini masih bisa dimakan. Mungkin kalau aku tambahkan mentega dan bumbu pedas manis…”

“Nggak. Nggak usah,” sergah Zeteus. Dia begitu emosi sehingga membuat gelegar petir yang cukup dahsyat di luar sana. Namun sekonyong-konyongnya dia segera bersikap normal. Tak mau diubah menjadi dewa panggang oleh Hapwooktus. Zeteus memang sudah tua dan kemampuan meresponnya memang sudah berkurang, dia baru sadar bahwa terdapat dua buah singgasana bersebelahan yang masih kosong.

“Apollwon! Di mana dia?! Dia seharusnya hadir. Dia biang keroknya. Enak aja dia! Mengabaikan kewajibannya sebagai dewa matahari, terus kabur. Mana dia? Woi! Badan sixpack tapi mental tepos!” serunya sengaja ingin membuat Apollwon marah. Dia berusaha meraih matahari dengan petir-petirnya. Berharap agar dewa matahari itu bisa disengatnya dengan petir. Namun sia-sia, matahari terlalu jauh dari atmosfer.

“Udah deh, Zeteus hyung. Nggak ada gunanya marah-marah sama orang yang sedang patah hati. Aku ngerti banget gimana sakitnya perasaan Apollwon. Dia sudah memberanikan diri menulis surat cinta tapi ternyata… Dewa matahari, dicampakkan oleh seorang manusia fana? Ooh.. Dia pasti hancur maksimal. Pantesan sinar matahari meredup,” kata Venusmin, sang dewa cinta.

Alih-alih tampan, wajahnya lebih condong kepada cantik. Dia punya rambut pirang bergelombang, hidung mancung dan mata yang indah. Jubah ungu serta bunga-bunga merah jambu yang tumbuh pada singgasananya, membuat kecantikannya semakin terpancar. “Aku sudah berusaha membantunya semampuku. Si manusia fana itu malah pingsan di tempat saat kuberitahu bahwa dia ditaksir dewa matahari. Jadi, terpaksa dia kutinggalkan. Mantra cintaku kan cuma untuk orang-orang yang sadar,” jelasnya sambil memulintir ujung rambutnya.

“Oh.. Oke deh,” sahut Zeteus tampak tak begitu peduli dengan ucapan Venusmin. “Lalu, mana tukang tipu kita?” Dia menunjuk pada sebuah singgasana yang penuh barang curian tepat di sebelah singgasana Apollwon. “Hermeskyu. Mana dia?!” geramnya.

“Biasa laah… Dia kan tukang pos. Palingan juga masih keluyuran mengantar pesan,” sahut Atheuna si dewa kebijaksanaan. Tak ada yang spesial dari singgasananya. Tak penting baginya kemewahan. Yang terpenting adalah kecerdasan otak untuk mengatur strategi perang dan kebesaran hati untuk menjadi bijaksana. Satu-satunya hal yang terlihat begitu mencolok dari dirinya adalah, sebuah kacamata plastik yang berbingkai melengkung, berwarna seperti pelangi dan ditepinya dihiasi bunga-bunga kecil. Tidak ada yang tahu apa hubungan antara menyusun strategi perang dengan menanam bunga di kacamata.

“Mengantar pesan? Di keadaan darurat seperti ini dia masih sempat mengantar pesan?”

“Setelah dititipi surat cinta oleh Apollwon, dia seolah menghilang. Dia seharusnya datang setiap hari untuk mungutin surat. Tapi, sejak kemarin, dia belum datang juga. Lihat deh. Kotak pos kita penuh gara-gara dia,” telaah Atheuna.

Tiba-tiba, di tengah para dewa, muncul seberkas cahaya. Awalnya pudar, semakin lama semakin jelas hingga akhirnya memantulkan jalinan warna pelangi yang menembus sebuah layar proyeksi dari jalinan tetesan air.

“Pesan Iris!” Demetyes berseru. Semua dewa di Olympus segera beringsut, penasaran dengan siapa yang menghubungi mereka dan pesan apa yang kira-kira begitu penting sehingga pesan Iris dapat muncul tepat di tengah-tengah aula istana.

“Halo, teman-teman. Eh.. Hai, Zeteus hyung. Apa kabar?” tanya Arthaemis yang ternyata adalah si pengirim pesan Iris. Wajah si dewa bulan terlihat begitu jelas pada proyeksi cahaya yang berpendar. Kepalanya terbungkus sebuah kain transpran seperti mempelai wanita, dan tubuh atletisnya tampak begitu menggoda iman karena hanya dibalut oleh baju hitam tanpa lengan yang sama transparan-nya dengan penutup kepalanya. Dia, seperti biasa, sedang berada di tengah hutan bersama para pemburu lain. Di punggungnya, tergantung beberapa buah anak panah dan salah satu tangannya menggenggam sebuah busur panah. “Jeongmal mianhaeyo. Dari pihak keluarga, aku mewakili saudara kembarku, Apollwon, minta maaf yang sebesar-besarnya atas tingkahnya akhir-akhir ini. Dia memang, kuat dan hot. Tapi, baru kali ini dia jatuh cinta pada manusia dan baru kali ini juga aku ngeliat dia begitu galau karena patah hati. Dia terlalu yakin manusia itu akan meresponnya…” Arthaemis langsung bicara to the point.

Jankkanman! Maksudmu, si manusia itu belum membalas surat Apollwon?” sergah Atheuna.

Arthaemis menggeleng. “Bakal lucu banget kalau ada manusia normal yang mau membalas surat dari dewa matahari. Yang ada dipikiran mereka adalah “Oh, nggak! Aku kebakaran!” ”

“Kebakaran itu bagianku!” seru Hapwooktus tak terima. Reputasinya sebagai dewa api benar-benar akan terancam kalau manusia berpikiran seperti itu.

Tapi Arthaemis mengacuhkan. “Dan… Oh, iya. Aku punya satu info penting.” Dia berpaling dan memanggil salah satu anak buah pemburunya. “Ya! Sooman–ah! Kemari!” perintahnya pada salah satu pemburu yang sepertinya paling tua. Namun, si Sooman tidak keberatan dipanggil seperti itu. Dia begitu sigap dan sudah tahu apa yang diperlukan si dewa pemburu. Sebuah tablet PC.

“Bagaimana kau mendapatkan benda itu? Bolehkah aku memilikinya? Mungkin bisa kujadikan papan seluncur portable!” seru Hapwooktus bersemangat.

Namun lagi-lagi Arthaemis tidak menggubris si dewa api. “Ada seorang pemburu fana yang nggak sengaja meninggalkan benda ini. Setelah aku selidiki… ternyata ini keren banget! Ada GPS untuk mengetahui lokasi dan aku juga suka main Angry Bird sambil menyantap hasil buruanku,” pamer Arthaemis.

“Langsung ke intinya aja bisa nggak??” desak Zeteus.

“Oh, iya. Jankkanman…” Telunjuk si dewa bulan pun terlihat beberapa kali menyentuh tablet PC-nya. Tak lama kemudian dia menunjukkan sebuah foto pada para dewa di Olympus. “Lihat ini,” katanya.

“Kau narsis banget sih,” cibir Venusmin.

Arthaemis menarik tablet PC-nya dan melihat layar dengan terkejut. Wajah yang dibuat sok imut-nya tampak memenuhi layar. Dengan jari telunjuk dan tengah teracung, dia tersenyum sambil menatap kamera tablet PC-nya dengan mata yang begitu besar. “Eh, maaf. Salah foto,” ujarnya malu.

“Nah, ini dia…” Tampak foto seorang pemuda berbaju dan celana coklat lusuh. Di sepanjang dadanya terikat sebuah tali dari tas pinggang yang isinya tampak begitu penuh. Selain di pinggang, punggungnya juga dipenuhi oleh sebuah tas yang bahkan tak bisa ditutup lagi karena isinya terlalu penuh. Apalagi isinya kalau bukan pesan dan barang hasil curian. Gaya menungguing-nya yang terpampang pada layar tablet PC, terlihat seperti burung unta yang mengubur kepalanya di padang pasir alih-alih seorang dewa. Kepala si dewa hanya tinggal beberapa senti dari air laut yang tenang, kedua tangannya menggelepar ke sembarang arah, kakinya menendang tanpa arti ke udara kosong dan mulutnya ternganga lebar sekali. Sungguh. Tak akan ada satu orang bodoh pun yang percaya bahwa dia adalah dewa.

“He… Hermeskyu? Dia… Sejak kapan dia jadi atlet renang?” Demetyes terperanjat.

“Dia nggak seharusnya nyebur. Dia nggak bisa berenang! Oh, tidak. Dia mau bunuh diri!” Hapwooktus panik. “Arthaemis hyung! Kenapa kau tidak menolongnya? Otakmu pasti kelebihan lemak daging rusa buruanmu itu. Tega-teganya kau membiarkannya bunuh diri!” Suaranya naik satu oktaf.

Arthaemis mengangkat bahu. “Aku nggak bisa menolong. Air bukan wilayahku. Lain ceritanya kalau si kurir itu bunuh diri dengan cara gantung diri di pohon. Lagian, dia juga nggak bakal mati. Semua dewa kekal abadi!” Pendar cahaya dari pesan Iris bergetar hebat.

Kemudian sebuah pemikiran muncul dari Venusmin. “Ini adalah cinta segitiga. Kasus yang umum terjadi, baik pada manusia fana, maupun dewa,” gumamnya. Tapi tak ada yang menghiraukan.

“Aigo… Kayaknya sakit kepalaku kambuh,” keluh Zeteus sambil memegangi pelipisnya. “Argh! Dasar bocah-bocah ingusan. Aku seharusnya bisa tiduran kalau mereka nggak berulah dan membuat masalah!” Dia mulai mengomel lagi. “Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk memecahkan masalah percintaan konyol ini?”

“Pertama-tama,” Atheuna menjelaskan. “Kita harus menemukan Hermeskyu. Lalu, bawa dia ke sini dan suruh dia jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” bebernya.

“Sudah kubilang ini kasus cinta segitiga. Aku ini dewa cinta! Aku paham betul gejala-gejala cinta semacam ini!” protes Venusmin.

“Tuan Cinta, tolong berpikir rasional. Hermeskyu nggak punya waktu untuk percintaan konyol semacam itu,” timpal Atheuna.

“Tuan Sok Bijak, pengalamanku di bidang percintaan sudah terlalu banyak. Aku tahu betul bagaimana cinta bisa mengambil alih pikiran rasional siapa pun. Termasuk para dewa.”

“Aku berani taruhan kalau ini bukan masalah cinta!” tantang Atheuna.

“Hentikan!!” Petir membelah langit. Suaranya menggetarkan seisi Olympus. Tongkat petir pada genggaman Zeteus menyala-nyala dan menyalurkan aliran listrik. “Lupakan tentang cinta segitiga, bunuh diri dan nyebur ke laut. Aku nggak peduli dengan tetek bengek itu!” Suaranya mengheningkan seisi Olympus. Bahkan jambang yang mengekor di setiap jengkal dagunya pun ikut bergeming. “Yang kupedulikan sekarang adalah, cara untuk membuat Apollwon kembali bekerja.”

“Satu-satunya cara adalah, segera menyeret Hermeskyu ke sini dan biar dia yang menjelaskan apa yang terjadi dengan surat cinta Apollwon. Aku yakin dia punya alasan rasional untuk tidak mengantarkan surat cinta Apollwon,” jelas Venusmin. “Jadi, kita harus mencarinya di laut, seperti yang terlihat pada foto itu.” Dia menunjuk tablet PC pada pesan Iris.

“Satu-satunya yang bisa kita mintai tolong adalah Posindong,” kata Arthaemis. “Dia bisa menemukan Hermeskyu dengan mudah. Dia punya navigasi seluruh lautan di muka bumi.”

“Posindong? Dia kan…” Demetyes belum selesai dengan kalimatnya.

Ne…” Arthaemis memotong. “Dewa laut yang sangat membenci Zeteus hyung.”

*

Apollwon memiliki dua alasan kenapa dia pantas disebut sebagai dewa terhot sepanjang millennium. Pertama, tentu saja karena dia dewa matahari dan kedua, karena perawakannya. Kendati dirinya tengah dirubung galau, keseksiannya tetap eksis. Dia punya perut yang pack-nya lebih dari enam, otot bisep yang melengkung-lengkung seperti polisi tidur di jalanan dan kulit coklat yang mengkilap. Seharusnya, tak ada satu gadis pun yang tak terhipnotis oleh kesempurnaan tubuhnya itu. Tapi nyatanya, sekarang dia tengah bersandar pada sofa sinar ultravioletnya dengan wajah ditekuk karena seorang gadis. Kakinya berselonjor di atas meja, telunjuknya sibuk mengusap-usap layar tablet PC milik Arthaemis dan matanya jelalatan.

“Kenapa mention-ku nggak dibalas?” keluhnya. Sejak tadi jarinya naik turun di profil si gadis fana pujaannya. Namun, tak ada yang berubah. Tak ada tweet maupun mention baru. Gadis fana sedang tidak online.

Arthaemis, saudara kembar sang dewa matahari, tengah duduk di sofa yang lain (tentu saja yang bukan terbuat dari sinar ultraviolet) tampak asyik dengan busur panahnya. Dia mengusap setiap jengkal benda itu dengan kain lap hingga benar-benar mengkilap. Dengan acuh, sang dewa bulan mengangkat bahu. “Mana aku tahu,” sahutnya sambil meniup debu yang menempel pada busurnya. “Mungkin gadis itu lagi jalan bareng pacar fananya,” ujarnya asal. “Eh, maaf. Jangan tersungging lho. Itu kan cuma kemungkinan.” Arthaemis nyengir. Tapi Apollwon terlanjur tersinggung. Dewa yang merangkap sebagai dewa musik itu semakin memberengut. Namun aneh, wajahnya tetap saja terlihat tampan.

“Dia bikin aku semakin penasaran,” gumam Apollwon. “Walaupun avanya telur, aku tahu dia pasti cantik banget.”

Arthaemis terbelalak. “Jadi, selama ini kau naksir telur?!” Suaranya naik satu oktaf. “Tobat, Won… Tobaaat!”

“Dasar bego! Aduh… Susah ngomong sama orang gaptek,” umpat Apollwon.

“Heh! Udah minjem, ngejek lagi. Dasar nggak tahu terima kasih. Kembalikan tabletku!” omel Arthaemis.

“Ambil nih!” Apollwon sama sekali tak bermaksud untuk benar-benar mengembalikannya pada Arthaemis sehingga si gadget pun terjatuh di lantai. “Oops.. Sori, sengaja,” ujarnya tak acuh.

“APOLLWOOONN!!!!” Dan bulan pun bergetar. “Kau kenapa sih? Labil banget jadi dewa?! Dewasa dikit ngapa?! Sudah cukup kau bikin seisi dunia gelap, sekarang apa lagi? Kau mau perang sama saudaramu sendiri?!” ancam Arthaemis kehilangan kesabaran. “Seharusnya kau bisa menggunakan tablet itu dengan bijak, Wahai Dewa Matahari. Aku meminjamkannya karena aku yakin kau bisa dipercaya. Tapi… Ah… terserah kau deh!” Tanpa banyak bacot, sang dewa perburuan pun beranjak dari sofanya dan kembali menuju tempat yang selalu membuatnya damai. Hutan.

“AAAAA!!!” Apollwon memekik. Dibantingnya semua benda terdekat. Vas bunga, taplak meja, bahkan telapak tangannya menyemburkan sinar biru yang lumayan panas hingga membuat meja di hadapannya belah.

*

Sekujur tubuh Hermeskyu tiba-tiba meremang dan berubah sangat panas. Asap mengepul masuk ke kedua lubang hidungnya. Entah apa yang terjadi, dewa kurir itu bahkan tak ingat. Mungkin dia menelan terlalu banyak air dan ikan badut hingga tenggorokannya serasa seperti direnangi salah satu dari komplotan ikan yang bahkan tak dapat melawak tersebut.

“Tenang. Jangan bergerak,” perintah sebuah suara.

Hermeskyu menurut karena memang tubuhnya terasa begitu kaku dan berat. Rasanya seperti ditindihi seorang pesenam kelebihan otot bisep.

Si pemilik suara meninju dada Hermeskyu hingga dewa pengelana itu memuntahkan sesuatu yang berair dan hidup dari mulutnya. “HOOEEEEK!! Ouh! Aigo. Mati aku.” Dia menemukan seeokor ikan kecil abu-abu, menggelepar di lantai. Ikan itu berteriak minta air dan siripnya menggapai-gapai udara kosong yang begitu kering. “Oh… Tidak. Kau yang mati,” ujar Hermeskyu pada si ikan.

Gwaenchana?” tanya suara itu. Hermeskyu terbelalak. Kenyataan bahwa dia memang benar-benar sedang ditindihi oleh seorang dewa yang kelebihan otot bisep, ternyata lebih buruk dari pada mengetahui bahwa tenggorokannya bisa dipakai untuk tambak ikan abu-abu.

“K… Kanghades hyung! Minggir!” seru Hermeskyu. Dia berusaha melakukan goncangan hebat pada tubuhnya untuk mengenyahkan dewa penguasa dunia bawah itu dari tubuhnya. Namun sepertinya si dewa terlalu banyak berurusan dengan orang mati sehingga tubuhnya bahkan lebih berat daripada se-truk peti mati. Tubuh dewa kematian itu berbalut sebuah terusan kusam berwarna hitam. Mirip seperti gamis. Kepalanya diselimuti semacam rantai yang berbentuk seperti kerudung. Dia punya nafas super bau. Baunya orang mati. Bahkan alis dan matanya seolah memiliki sebuah papan bertuliskan kau mati, aku senang.

“Eh, maaf. Aku berat ya?” Kanghades segera mengangkat kedua kakinya dari samping pinggang Hermeskyu. “Selamat datang di dunia bawah. Tadi aku baru saja menyelamatkan nyawamu. Hal yang seharusnya tak dilakukan dewa kematian.”

            Sebenarnya, Hermeskyu suka berpetualang. Tapi, dunia bawah adalah satu-satunya tempat yang tak ingin dia kunjungi. Mendengar kata dunia bawah saja sudah membuatnya tidak berselera makan. Apalagi benar-benar berada di dalamnya, seperti sekarang ini. Keadaannya benar-benar buruk. Walaupun Kanghades punya istana tersendiri di dunia bawah, bau mayat tetap menyeruak memenuhi setiap jengkal singgasana tengkorak dan karpet bulunya. Lampu-lampu api yang menggantung kokoh pada langit-langit, seolah memiliki mata-mata yang siap menyulap siapa pun menjadi mayat.

“Oh, gomawo,” kata Hermeskyu lemas. Dia tak mengerti bagaimana penindihan tadi bisa disebut sebagai upaya penyelamatan. “Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa ada di sini?” tanyanya sambil memeras ujung bajunya yang basah. “Tadi aku tenggelam kan? Tenggelam di laut. Bukan di dunia mayat.”

Kanghades tertawa. Sauranya menggelegar hingga lampu di atas kepala Hermeskyu seperti hampir rubuh. “Kau nggak tahu ya, Bocah? Sebuah portal penghubung dunia laut dan dunia bawah telah terbuka,” jawabnya. “Sejak portal itu ada, kehidupanku di sini menjadi sedikit lebih baik. Aku punya banyak stok camilan semenjak ada beberapa ikan yang nyasar dan mati di sini. Bahkan aku nggak perlu lagi pergi ke warung untuk beli garam. Air laut yang merembes ke sini telah cukup memberi pasokan garam untuk mayat-mayatku yang memerlukan pengawetan,” bebernya berbinar-binar.

“Kau? Ke warung? Beli garam?” Entah mengapa yang terbayang di benak Hermeskyu adalah seorang pria kekar berdaster dengan rol rambut merah dan dompet seukuran telapak tangan. Lalu pria itu mengeluarkan segumpal uang dan berkata pada si penjual, “Hai, aku dewa kematian. Aku mau beli garam dong untuk mayatku. Sekilo aja. Diskon ya, kan aku langganan. Hehe.” Hermeskyu menggeleng. Dia akan pensiun jadi dewa kalau kaum sebangsanya benar-benar melakukan hal memalukan semacam itu.

“Ya iyalah…” sahut Kanghades seolah itu adalah sesuatu yang normal untuk dilakukan oleh seorang dewa penguasa orang mati.

“Oh, benar. Harus ke warung.” Hermeskyu memutuskan untuk tidak terlalu mempermasalahkan hal itu jika tidak ingin di buang ke Tartarus, tempat terdalam dan tergelap di dunia bawah. Kemudian, dia menyadari bahwa benda berharganya telah menghilang. “Tasku! Pesan dan barang-barangku! Di mana mereka?!” serunya panik. Dia menggeledah pakaiannya sendiri, bahkan mengintip di balik celananya, namun nihil.

“Tenang, Bung. Aku simpenin kok.” Kanghades menyodorkan sebuah tas basah kuyup dengan beberapa sobekan kertas yang kena lunturan tinta. Kondisinya begitu kronis. Bahkan, barang curian Hermeskyu, seperti panci dan wajan, tampaknya telah jadi hunian baru bagi beberapa ganggang laut. “Kayaknya perlu digosok deh,” saran Kanghades. “Tapi di sini, aku nggak punya gosokan,” sesalnya.

Hermeskyu tidak terlihat begitu peduli pada usul Kanghades. Dia membongkar isi tasnya dan mengobok-ngobok tumpukan barang antah berantah yang telah dihamburkannya di atas lantai. Dia mencari surat cinta milik Apollwon. Itu adalah benda paling berharga yang harus dia selamatkan. “Dapat!” seru Hermeskyu berbinar. Dia mengacungkan sebuah amplop merah jambu yang seperempat bagiannya telah sobek. Air laut telah membuat tulisan “Kepada” dan “Dari” pada amplop itu luntur.

Kanghades meraih amplop tersebut dan membaca isinya dengan penasaran. “Dear, Seonhwa. Kamu cantik banget deh. Kamu mau nggak jadi istriku? Mau aja ya… Aku ini dewa matahari lho,” Wajah Kanghades langsung memerah, sontak tawa yang dua kali lebih menggelegar dari yang sebelumnya pun tumpah ruah dari mulutnya yang bau naga. Seisi istana berguncang, terjadi gempa lokal dan Hermeskyu ikut terombang-ambing. “Dia seharusnya jadi pelawak,” ejek Kanghades di sela tawanya. “Aku nggak bisa banyangin, bakal sejijik apa wajah si manusia fana waktu membaca surat itu.”

Hermeskyu mendengus. Ini sama sekali tak lucu baginya. Salah satu suratnya basah dan sobek. Dengan murung, ditatapnya nanar si surat cinta. “Semoga saja Apollwon nggak menarik kembali ongkos kirimnya. Salah dia sendiri kenapa nggak buat surat yang anti air,” dengusnya. Dia menarik sesuatu dari sakunya dan menemukan sebuah amplop dari rumput laut. “Nah, kayak gini nih. Seharusnya dia bikin surat yang kayak surat putri duyung ini. Anti basah.”

Kanghades mengernyit. “Jadi, kau nyebur cuma untuk ngantar surat ini?”

“Ya iyalah… Kalau nggak nyebur, surat ini nggak bakal nyampe.”

“Tapi kau sudah nyebur dan suratnya belum sampai.”

“Aku kan bilang, “bakal nyampe””

“Terus, gimana caranya supaya surat ini nyampe? Kau mau balik ke laut lagi? Tenggelam dan kemasukan ikan abu-abu lagi?” Kanghades membatin bahwa seharusnya Hermeskyu mendapat pelatihan berenang dari ikan duyung alih-alih mengantar pesan untuk putri duyung.

Hermeskyu merenung. Dia hampir putus asa, namun dia tetap berharap. “Semoga Posindong mau datang dan membantuku menyampaikan surat ini.”

“Saudaraku yang satu itu nggak akan mau ke sini. Dia punya dunia yang begitu indah di lautan sana. Untuk apa dia ke negeri orang mati yang bau dan menjijikkan seperti ini?”

Sebenarnya Hermeskyu tak menyangka bahwa Kanghades bahkan masih bisa membaui tempat tinggalnya sendiri. Seharusnya hidung dewa itu sudah tersumbat oleh bau mayat yang keluyuran di sekitar halaman istananya. “Oh, bagus deh. Makasih pendapatnya.”

*

Zeteus telah siap dengan tongkat petirnya. Berjaga-jaga kalau Posindong tiba-tiba mengeluarkan seisi lautan dengan trisula untuk menyerangnya. Dia dan sang dewa laut tengah berdiri berhadapan. Petir bersahut-sahutan seolah memberi dukungan pada Zeteus. Sedangkan ikan-ikan di dalam lautan berkecipak bersorak untuk Posindong. Kendati mereka bahkan belum mengucapkan sepatah kata pun, kebencian yang terpancar di wajah Posindong sudah menjelaskan semuanya.

“Mau apa kau ke sini?!” geram Posindong. Penampilannya seperti baru saja tercelup ke dalam sekotak krim vanila bertabur salju. Rambutnya yang putih sepenuhnya, telah menjadi pasangan serasi bagi kaos oblong putih kebiruannya. Tidak hanya itu, bahkan setengah bagian dari wajahnya telah ikut-ikutan dicat putih. Kecintaan Posindong terhadap warna putih telah membuat seisi lautan bingung. Bahkan sang dewa sendiri pun bingung.

“Nasib Olympus dan seisi dunia ditentukan oleh ketersediaanmu untuk membantuku,” jawab Zeteus. “Bantulah aku menemukan Hermeskyu. Dia tercebur.”

“Membantu? Ikan-ikanku mati kena serangan jantung gara-gara kaget mendengar petirmu itu! Jangan pernah harap aku sudi membantumu!” tolak Posindong mentah-mentah.

“Jangan salahkan aku! Salahkan ikan-ikanmu yang punya jantung terlalu lemah. Petirku sudah dirancang untuk ramah lingkungan!” seru Zeteus dengan kesabaran yang sudah di ambang batas.

“Kau mengejek ikan-ikanku? Oke, kau yang mulai!” Posindong tak bisa berbasa-basi lagi. Segenap kekuatan seisi lautan dialirkan Posindong melalui trisulanya hingga bergalon-galon air laut menerpa sekujur tubuh Zeteus. Namun, sebelum setetes air asin pun membasahi tubuhnya, Zeteus telah lebih dulu menyengatkan aliran listrik pada tumpahan air yang tinggal beberapa senti meter lagi untuk menyentuh kakinya. Terciptalah sebuah tenaga listrik maha dahsyat diantara kedua dewa itu. Posindong mundur hingga menapak di atas laut, sedangkan Zeteus semakin liar dengan petir yang bersahut-sahutan.

Setelah berada di teritorial kekuasaannya, laut, Posindong menjadi semakin kuat. Di bawah kakinya terbentuk pusaran air maha dahsyat hingga angin yang menderu-deru di sekitarnya ikut terhisap ke dalam pusaran. Dia terkekeh sambil mengacungkan trisulanya ke depan hidung Zeteus. Bersiap menyerang sang dewa langit dengan kekuatan pusaran air.

Tentu saja Zeteus tidak tinggal diam. Dia memanggil seluruh petir yang mengkilat-kilat di langit melaui tongkat zig zag-nya. Suara petir semakin memekakan telinga dan membuat manusia fana kalang kabut. Mereka berlarian masuk ke gedung, yang di dalam mobil meringkuk di belakang setir dan ada yang hanya melongo.

Kedua dewa itu menerjang dengan kekuatan mereka masing-masing. Bergalon-galon air laut dan penghuninya, bertemu dengan kilatan petir yang menggelegar. BUM! Ledakan super dahsyat tercipta. Membuat orang-orang semakin ketar-ketir berusaha menyelamatkan diri. Air laut bercampur aliran listrik menggenang di permukaan aspal hingga menciptakan jejak hitam yang siap menyetrum siapa pun yang berani mendekat.

Tiba-tiba, aspal terbelah. Sebuah retakan tercipta, menampakkan inti bumi yang menyala-nyala dan membuat celah yang memisahkan dua kekuatan besar tersebut. Zeteus sama terkejutnya dengan Posindong. Namun mereka masih berpegang pada tongkat masing-masing. Tak berapa lama kemudian, dari inti bumi, dengan menaiki sebongkah batu lumayan besar, muncullah seorang pria dengan mata berkilat-kilat. Dia menggeretakkan rahang hingga beberapa retakan kembali muncul. Di belakang pria itu, terdapat seorang pria lain yang berpenampilan seperti baru saja keluar dari pengering di mesin cuci. Dia menatap takjub pada kekacauan yang terjadi. Mulutnya terbuka lebar hingga ikan abu-abu bisa masuk.

“Kanghades!” panggil Zeteus garang.

Sang penguasa dunia bawah terlonjak. Dia melotot kepada Zeteus. Seolah baru saja menyadari tujuan kehadirannya di antara kedua dewa itu, dia menunjuk Zeteus dan Posindong bergantian. “Petirmu itu terdengar sampai bawah! Air-mu juga merembes ke mana-mana! Dasar dewa-dewa bego!!” umpat Kanghades. “Sekarang juga, hentikan kekacauan ini!!” geramnya.

Kriikk… Suara jangkring benar-benar terdengar.

“Kami sudah berhenti sejak kau muncul,” sergah Posindong.

“Oh, bagus deh.” Kanghades menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ngomong-ngomong, aku senang bisa bertemu kalian.” Dia mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa kau muncul?” tanya Zeteus tak menanggapi keramahtamahan Kanghades. “Kau seharusnya mendekam bersama orang-orang mati,” protesnya. “Dan… Bocah itu? Ya ampun! Kau, Tukang tipu! Ke mana saja kau selama ini?!” Dia menunjuk sangar pada Hermeskyu yang masih bergeming di belakang Kanghades.

Sang kurir melangkah ke depan Kanghades. Ditatapnya bergantian kedua dewa yang sudah berhenti bertarung itu. “Lihatlah,” tunjuknya ke kondisi sekeliling. Kedua dewa itu mengedarkan pandangan. Benar-benar kacau. Air listrik menggenang di mana-mana, pengemudi keluar dari mobilnya lari tunggang langgang mencari tempat aman, para ibu menggendong anaknya sambil berteriak minta perlindungan, pohon tumbang, lampu lalu lintas tersambar petir, pokoknya keadaannya sudah kacau sekali. “Manusia sudah merana karena matahari tak lagi bersinar. Apa kalian mau menambah penderitaan mereka lagi? Seharusnya masalah ikan yang kena serangan jantung bisa dihadapi dengan kepala dingin,” ujarnya. “Eh, maaf, tadi kami menguping pembicaraan kalian dari bawah,” cengirnya sambil menyikut Kanghades. Yang disikut pun ikutan nyengir.

Zeteus mengembalikan pandangannya kepada Hermeskyu. Sama sekali tak ada rasa bersalah dalam ekspresinya. Dia malah menghujam Hermeskyu dengan pandangan kilatan petirnya. “Semua ini terjadi karena kau! Kalau kau tidak menceburkan diri, aku pasti tidak perlu mengemis minta bantuan si ganggang tua ini dan kekacauan ini tidak akan terjadi!!” bentak Zeteus sambil menunjuk Posindong. Sedangkan yang disebut ganggang hanya melotot garang sambil mencengkeram trisulanya. “Dan, kau apakan surat Apollwon?! Seharusnya surat itu sudah sampai ke si manusia fana, lalu dia dan Apollwon hidup bahagia, matahari bersinar dan aku tak perlu repot-repot turun dari Olympus! KAU lah penyebab semua kekacauan ini, Tukang Tipu!” seru Zeteus. Petir semakin menggelegar. Bahkan di jenggotnya.

Dari tas pinggangnya, Hermeskyu mengeluarkan sebuah amplop merah jambu dengan beberapa rumput laut. “Aku ini profesional. Aku menyampaikan pesan berdasarkan nomor urut. Surat cinta Apollwon berada di urutan setelah surat putri duyung ini. Dia harus menunggu sampai aku menyampaikan pesan ini!” Hermeskyu menjelaskan dengan tegas sambil mengacungkan surat putri duyung itu. Sebenarnya, itu hanya pengalihan karena dia tak ingin Zeteus tahu bahwa surat cinta Apollwon telah tinggal tinta luntur. “Lagian, aku BUKAN penyebab semua ini. APOLLWON lah, penyebabnya! Tinggal nunggu giliran suratnya diantar aja sampe pake nggak mau nyinarin bumi segala. Dasar manja!” ejek Hermeskyu sambil menunjuk-nunjuk langit dengan amplop putri duyung. Dia sama sekali tidak takut jika Apollwon tiba-tiba turun dan menghujamnya dengan terpaan sinar ultraviolet.

“Seharusnya kau segera pergi dan menyampaikan pesan si putri duyung. Setelah itu, baru kau sampaikan surat cinta si matahari itu. Kau harus cepat sebelum semuanya keburu mati dan tartarus menjadi penuh,” usul Kanghades.

“Kau benar, Kanghades. Tapi, gimana caranya supaya aku bisa ngirim nih surat ke putri duyung? Aku nggak mau tenggelam dan nyasar di dunia bawah lagi,” kata Hermeskyu blak blakan. Secara tersirat, dia mengatakan bahwa dunia bawah itu begitu busuk sehingga dia begitu jijik untuk mau kembali ke tempat itu. Ingin rasanya Kanghades mengerahkan seluruh perwira tulang belulangnya untuk menyerang Olympus karena sudah terang-terangan menghina tempat tinggalnya.

“Itu mah kecil… Hanya perlu sebuah siulan untuk memanggil putri duyung,” ujar Posindong sambil menyatukan ujung jempol dan ujung kelingking, lalu menjentikkannya lengkap dengan ekspresi meremehkan. Dengan sebuah lemparan, surat si putri duyung pun sampai dari tangan Hermeskyu ke tangan Posindong. Sang dewa laut sempat membaca alamat tujuan sebelum bersiul “SWIUWIT!!” Tak berapa lama kemudian, muncullah seorang gadis berambut merah dan mata biru kehijauan dari laut. Senyumnya mengembang saat menemukan amplop di tangan Posindong.

“SURAAATT!!” pekiknya. Gadis berekor ikan itu langsung menyambar amplop. “Sudah lama banget aku nggak terima surat,” ujarnya sambil langsung menyobek amplop dan membaca isinya dengan tak sabar. Tak perlu waktu lama, mungkin sekitar satu menit sebelum si gadis mulai mengeluarkan mutiara dari kedua ujung matanya. Rupanya, si duyung menangis. Dia sesenggukan dan kertas surat pada tangannya bergetar hebat. “A… Aku… Aku tak pernah mendapatkan surat seromantis ini. Hiks…” Sebutir mutiara jatuh dan tenggelam ke laut. “Siapa pengirimnya?” Si duyung kembali membaca suratnya. “Apollwon? Oh… Aku cinta Apollwon,” ucapnya terharu. Dia mendekap kertas surat tersebut dan menimangnya dengan penuh perasaan. Para dewa pun terbelalak melihat pemandangan itu.

“Itu suratnya bener nggak?” geram Zeteus diantara giginya. Dia memelototi Hermeskyu seolah siap menyambarkan petir ke sekujur tubuh sang dewa kurir.

Hermeskyu mengangguk mantap. Dia mengeluarkan sebuah surat dari tas pinggangnya. “Nggak mungkin itu surat yang salah. Karena surat cinta Apollwon masih ada padaku,” katanya sambil mengangkat sebuah amplop. Amplop tersebut tampak berkelok-kelok karena baru saja dikeringkan di bara api dan tampak selotip di beberapa bagian. “Tapi, bukankah ini bagus? Artinya, sebentar lagi matahari akan kembali bersinar,” simpulnya.

Dewa-dewa yang lain mengangguk. Mereka setuju seratus persen. Sedangkan si putri duyung masih saja menimang suratnya dengan mutiara yang bertaburan dari matanya.

Tiba-tiba, dari langit, melesat sebuah kereta mirip kereta kencana. Hanya saja, kereta itu tidak menggunakan kuda untuk menariknya, melainkan segumpal cahaya yang sangat menyilaukan. “Awas! Tutup mata!” perintah Zeteus. Jalan raya sudah sepi sepenuhnya. Berbagai alat transportasi berhenti mendadak dan pengemudi serta penumpangnya berjongkok sambil menutup mata. Para pejalan kaki, sontak berlari ke gedung terdekat, seperti toko buah, toko buku, dan berbagai toko lainnya untuk bersembunyi dan melindungi mata mereka. Tak hanya para manusia fana, para dewa dan putri duyung juga melakukan hal yang sama. “Tunggu sampai dia mendarat,” kata Zeteus.

Tak berapa lama kemudian, cahaya super menyilaukan itu meredup. Semua mata terbuka. Apollwon turun dari keretanya dan melangkah perlahan sambil melongo. “Jadi, ini dia gadisku,” ujarnya gemetaran. “Yeppeuda[1]

Si duyung merona. Dia melirik Apollwon dengan malu-malu.

“Maukah kau menjadi istriku?” Tanpa ragu sang dewa langsung menyatakan maksud kedatangannya.

Rona di kedua pipi putri duyung, telah melebihi warna merah pada rambutnya. Sambil kembali menghasilkan mutiara, gadis itu mengangguk. “Ya, aku mau.” Dan matahari pun kembali bersinar.

*

Olympus mengadakan perayaan besar-besaran. Di ruangan berukuran super jumbo itu, diletakkan tiga meja panjang yang mewadahi berbagai macam hidangan. Bahkan di salah satu sudut, Hapwooktus sedang berdiri di belakang tempat panggangan, bersiul riang sambil melayani permintaan barbeque dan marshmallow dari para dewa. Mematangkan sesuatu adalah hal yang paling disukainya. Hanya perlu sebuah semburan api yang keluar dari telapak tangannya dan… tada! Seperangkat barbeque dan marshmallow pun siap disantap. Semua dewa diundang, termasuk Kanghades. Sang penguasa dunia bawah begitu senang hingga dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menjejalkan berbagai macam makanan yang terhidang. Demetyes juga merasakan kebahagiaan yang tak terhingga. Sekarang, dia bisa dengan mudahnya menumbuhkan berbagai macam tanaman di ladang dan sawahnya. Bahkan hidangan pada perayaan itu, didominasi oleh hasil panen raya Demetyes. Sedangkan yang paling berbahagia hari itu, Apollwon dan istri barunya, tengah berbincang hangat di luar ruangan lantaran sang istri harus tetap berada di kolam ari mancur Olympus untuk menjaga ekor ikannya tetap basah.

“Aku tahu dibalik ava telurmu itu, ada wajah cantik yang tersembunyi,” ujar Apollwon sambil menggenggam tangan istrinya.

“Iya, telur memang selalu menyimpan keindahan,” sahut sang istri kendati tak mengerti apa yang dibicarakan suaminya.

Apollwon menerbitkan sebuah senyum, lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat pada bibir istrinya.

Dari kejauhan Hermeskyu menyaksikan mereka berdua dengan sebuah senyuman bangga. Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya. “Alamak!” seru Hermeskyu. “Kanghades hyung!” desisnya.

“Aku nggak nyangka ternyata rencana kita berhasil. Hehe,” cengir Kanghades sambil menyantap ayam panggang pada sebuah piring di tangannya.

“Kita? Gue aja kali…” sahut Hermeskyu.

“Tapi kan aku ikut bantuin nyelotip dan masukin suratnya ke amplop,” protes Kanghades.

“Oke, deh.”

Kanghades mengangkat telapak tangannya. “Toss dulu dong.” Dan mereka pun ber-toss ria sambil terkekeh.

*

Flashback…

Hermeskyu masih berada di dunia bawah bersama Kanghades. Dia memandangi surat cinta Apollwon yang telah sobek di sana-sini dan tintanya luntur ke mana-mana. Surat itu adalah surat terpenting sepanjang masa yang pernah jatuh ke tangannya. Kalau surat itu tidak sampai, entah sampai kapan dunia akan terus diselimuti kegelapan dan kelaparan. Terpaksa Hermeskyu harus mengandalkan bakatnya. Selain menjadi kurir. “Kenapa nggak kutipu saja si Apollwon itu?” ujarnya penuh gairah.

Kanghades terbelalak. “Tapi, gimana caranya?” Dia ragu.

Tanpa banyak bacot, Hermeskyu membuka amplop yang ditujukan kepada putri duyung. Dia mengeluarkan surat di dalamnya dan menyimpan kertas merah muda itu di tas pinggangnya.

“Heh! Itu surat orang. Mau kau apakan?” protes Kanghades.

Hermeskyu punya banyak stok kertas dan pulpen. Dia mengambil kedua barang itu, dan setelah sempat berpikir sejenak, dia mulai menulis sesuatu pada kertas polosnya.

Kanghades mengamati dengan penasaran. “Waw! Kau membuat puisi!” ujarnya hebring. “Oh iya, kau kan juga dewa puisi.”

Hermeskyu nyengir bangga sambil meneruskan membuat puisi. Kata demi kata mengalir lewat pulpennya, hingga menghasilkan sebuah untaian indah puisi. “Kkeut[2]!” Dia mengangkat hasil karyanya dan menyerahkan pada Kanghades untuk mendapat penilaian.

Butuh waktu beberapa menit bagi Kanghades untuk menyerap makna puisi tersebut. Kendati tak mengerti masalah puisi, dewa itu bertepuk tangan dan berkata, “Terus, mau diapain surat ini?” tanyanya.

“Nggak mungkin aku ngasih surat yang sudah sobek dan luntur. Jadi, aku akan mengganti surat Apollwon dengan yang ini,” Hermeskyu mengangkat puisisnya. “Dan akan kukirim ke putri duyung, alih-alih si gadis fana itu.”

“Jangan bercanda. Ini nggak lucu.”

“Lagian siapa juga yang bercanda. Ini beneran.”

“Dasar bocah gila! Apollwon bakal tahu.”

“Nggak. Dia nggak bakal tahu. Dia bahkan belum tahu muka si fana itu kayak gimana. Jadi, kalau aku buat surat ini nyasar ke putri duyung, nggak akan ada masalah.”

“Terus, surat asli si putri duyung mau kau apakan?”

“Masih aku simpan. Akan kukirim lain waktu. Sekarang, masalah surat cinta Apollwon adalah yang terpenting.”

“Kau brilian!” seru Kanghades sambil mengacak rambut Hermeskyu. Mereka pun terkekeh bersama.

*

Telunjuk Seonhwa menyentuh layar tablet PCnya. Sudah sekian kali dia terkikik dan menggeleng karena mention yang masuk ke akun twitter-nya.

“Aigoo, nih orang gila kali ya. Dewa matahari? Orang bego juga nggak akan percaya,” ujarnya. Dia bertelungkup di ranjangnya, menertawakan akun twitter Apollwon. Semua hal yang berhubungan dengan akun tersebut, tak ada yang dapat diterima otak fananya. Termasuk ava si pemilik akun yang terlihat begitu tampan dan hot. Itu pasti cuma pria iseng yang hobi mengencani gadis lewat media sosial.

Seonhwa menarik pandangannya dari tablet. Memandang jendela kamarnya dengan terbelalak. Di luar, langit yang semula gelap, perlahan memancarkan sinar dan semakin lama semakin terang hingga terciptalah suasana pagi yang begitu hangat. Sontak sebuah senyum terkembang di wajah gadis itu, dia langsung membuka jendela kamarnya dan meregangkan tubuhnya. “Owaah~ Akhirnya terang juga. Jeongmal gomapseumnida!” serunya pada langit bersih. Sudah sekian lama dia tidak melihat sinar matahari. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah pesan singkat.

Seonhwa-ya, langitnya sudah kembali terang. Ayo kita kencan!

Tanpa berpikir lebih lama, Seonhwa membalas pesan tersebut.

Ne, Oppa. Aku akan segera bersiap. ^^

Gadis itu sempat menyentuh tulisan “unfollow” pada akun twitter Apollwon sebelum melempar tabletnya ke ranjang dan menyongsong lemari pakaiannya untuk bersiap pergi berkencan.

Hermeskyu memang sudah menipu Apollwon. Namun, hal tersebut justru telah menyelamatkan dunia. Apa jadinya kalau Apollwon tahu bahwa gadis fana yang selama ini dipujanya ternyata menertawakan dirinya habis-habisan dan sudah memiliki kekasih? Mungkin, sesuatu yang lebih buruk dari kegelapan akan terjadi. Badai matahari? Hujan sinar ultraviolet? Yang jelas, Olympus harus benar-benar berterimakasih pada penipu yang satu itu, Hermeskyu.

*

 

-THE END-

[1] Cantiknya

[2] Selesai!

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: