Thank You

Title: Thank You

By: Lachelen

Genre: Vulnerable/Friendship

Word Count: 1,127

***

“I used to rule the world,

Seas would rise when I gave the word…”

Malam itu udara dingin. Dingin menyengat. Tapi dia tetap nekat duduk di atas balkon. Tak takut jatuh. Kaki telanjangnya menendang-nendang gerombolan tanaman yang ditanam di bawah balkon.

“For some reason I can’t explain,

Once you go there was never, ever an honest word

And that was when I ruled the world…”

Suaranya meninggi kemudian melemah, seperti hilang tersapu angin. Dingin seakan tak bisa menyentuh kulitnya. Atau ia memilih tidak merasakan dingin itu di kulitnya.

“…Just a puppet on a lonely string,

Oh who would ever want to be king?”

Hujan rintik-rintik mulai turun. Ia masih duduk, menengadah, memejamkan mata. Merasakan rintik-rintik yang menerpa wajah.

“Roman Cavalry choirs are singing, be my mirror, my sword, and shield, my missionaries in a foreign field.

For some reason I can’t explain,

Once you go there was never, never an honest word

And that was when I ruled the world,”

Selesai. Ritual malam itu sudah selesai. Ia berputar, dan melompat turun dari balkon, mulus. Ia masih bersenandung saat menutup pintu dan menguncinya. Lagu yang sama. Lagu yang seperti mantra baginya.

Hujan mendadak menderas, seperti memberinya waktu untuk menyelesaikan ritualnya. Langit hitam legam. Tak ada bintang.

“Lagu itu kaunyanyikan seperti mantra. Aku tahu kau mencoba menguatkan dirimu dengan mantra itu. Apa masalahmu?” renungnya, matanya menatap lewat pintu kaca. Ke beranda atas itu, yang baru saja kosong. Baru saja ditinggal penghuninya.

“Sedang apa di situ?”

“Heechul!”

Hyung. Ya, sedang apa di situ? Mengintip ya, dari tadi?” ulangnya sementara ia terpojok di sudut gelap. Heechul tidak setinggi Siwon, tidak punya aura membunuh, tapi di keremangan dan ia jadi terlihat sangat mengintimidasi. “Ti-tidak,” sahutnya. “Pendusta.” Heechul menjawab pendek.

“Sejak kapan kau main gitar?” tanyanya pada Heechul yang sudah balik badan. “Sejak dulu. Ada seorang teman. Dia mengajarkanku main gitar.” Heechul menjawab tanpa menoleh. “Ke mana dia sekarang? Kalian masih berhubungan baik?” cecarnya lagi. “Bukan urusanmu.” Heechul menjawab lugas. “Aku mau tidur.”

“Gitarmu?”

“Tinggalkan saja. Takkan ada yang mengambil.”

Terdengar pintu kamar dibanting menutup. Untung saja dia tidur sendiri, tak ada yang sanggup sekamar dengannya. Takkan ada yang marah-marah karena tidurnya diganggu malam itu. Ia sendiri keluar dari bayang-bayang di sudut, dan masuk ke kamarnya sendiri.

“Apa masalahmu?”

***

Dapur sunyi pagi itu. Semua duduk diam menatap sarapannya masing-masing. Satu kursi kosong.

Pintu dapur tiba-tiba terbuka. Heechul masuk, tanpa kata-kata. Matanya merah. Ia berjalan memutari meja dan membuka kulkas, mengambil sekotak cornflakes. Semua terdiam, sementara kepingan cornflakes berjatuhan ke dalam mangkuk, berdenting-denting. Tidak biasanya Heechul mau makan cornflakes. “Tak mau roti panggang?” tanya Ryeowook.

“Tak usah.” Heechul menjawab pendek.

“Tidak pakai susu?” tanya Ryeowook lagi saat Heechul sudah mengangkat mangkuknya.

“Tidak perlu.”

“Mau ke mana?”

“Aku butuh sendiri dulu. Tak perlu tanya macam-macam.” Pintu dapur dibanting tertutup. Tiba-tiba saja rasa kantuk menguap dari semua orang. “Kenapa sih dia?” tanya Sungmin. “Mungkin sedang banyak pikiran,” usul Eunhyuk. “Sepertinya begitu. Biar kususul saja,” kata Leeteuk, tapi Ryeowook menarik tangannya. “Jangan. Sepertinya kalau Heechul hyung bilang begitu, dia memang benar-benar ingin sendiri.”

***

“I used to roll the dice, feel the fears in my enemy’s eyes… Listen as the crowd would sing…”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka. “Hyung, waktunya makan siang,” Ryeowook muncul dengan mengenakan apron. “Ya. Sebentar lagi.” Heechul menjawab tanpa menoleh. Masih sibuk dengan gitarnya. Lagu yang dinyanyikan pelan-pelan, seperti berbisik, seperti mantra.

“Nanti kubawakan ke kamar.” putus Ryeowook sebelum meninggalkan kamar.

“Heechul nggak makan?” tanya Leeteuk khawatir. “Biar kupanggil. Mau bagaimanapun dia harus tetap makan.” Ryeowook lagi-lagi menahannya. “Jangan hyung. Aku sudah bilang akan antarkan makanannya. Dia benar-benar ingin sendiri. Biarkan saja ya?” tambahnya. Leeteuk terdiam.

“Kau ini seperti mengerti saja masalahnya.”

“Aku tak paham masalahnya. Tapi aku mengerti perasaannya. Aku jadi ibu di rumah ini bukan tanpa alasan, hyung.” Ryeowook menjawab mantap.

Heechul mendengar pintu kamarnya diketuk. “Masuk,” jawabnya malas. “Ini makan siangnya hyung,” kata Ryeowook. Heechul diam saja. Tidak bilang terima kasih. Hanya menggumamkan lagu itu terus. “Hyung.” Dirasakannya ranjang melesak; Ryeowook duduk di tepinya. “Kenapa sih? Aku tahu kau terus main gitar setiap malam.”

“Bukan urusanmu.”

“Hyung, kita ini serumah, masa kau mau menyimpan masalahmu sendiri?”

“Urusanku. Kau tak perlu tambah masalahku lagi, sudah banyak.”

“Hyung.” Ryeowook memegang bahunya, yang disingkirkan dengan kasar. “Keluar!” bentak Heechul. “Aku berterima kasih untuk makanannya, tapi aku tak mau kautanya-tanya!” bentaknya. Ryeowook tampak terkejut, tapi segera pulih. “Maaf. Kupikir yang lain perlu tahu kenapa kau tiba-tiba begini.” Ryeowook menutup pintu. Hening. Heechul menatap kosong makanan yang diletakkan di mejanya. Makan siang yang, seperti biasa, dimasak sendiri oleh Ryeowook.

Ada sedikit rasa bersalah.

“Hyung…?”

Sudah tidur. Makanannya tak disentuh.

***

“Revolutionaries wait, for my head on a silver plate… Just a puppet on a lonely string…”

Senarnya berdenting di antara petikan jemarinya.

Kali ini ia tak berniat sembunyi. Ritual malam itu tetap berlangsung, saat semuanya sudah tidur. Masih lagu yang sama.

“Maaf. Tak maksud membentak-bentak tadi siang.” Heechul tiba-tiba berbicara. Pintu menuju beranda atas tak ditutup. Ia berhenti di tengah-tengah ritualnya, merosot turun dari balkon.

“Sejak kapan kau tahu aku suka keluar malam-malam?” tanyanya.

“Sejak aku keluar malam tanpa sengaja.”

Diam. Hanya memetik gitar. “Ini lagu favoritnya dulu. Lagu pertama yang dia ajarkan. Lagu pertamaku juga.” Heechul tiba-tiba bicara tanpa diminta. “Temanmu?” tanya Ryeowook. “Dia juga memberiku gitar ini. Rasanya ditinggal orang yang penting bagi kita itu… sakit. Tak adil… karena harus pergi begitu cepat. Tidakkah dia tahu aku belum siap? Lalu bagaimana dengan kenangan-kenangannya? Kubuang? Dilupakan? Dihidupi? Sejujurnya tak tahu mau berbuat apa. Jadi hanya bisa duduk melamun, menguatkan diri…”

“Tak boleh begitu, hyung. Dia pasti tak mau kau sedih terus.” Ryeowook menepuk bahu Heechul memberi semangat. “Menyesal. Menyesal sekali, Ryeowook. Aku belum sempat bertemu dengannya yang terakhir kali.” Heechul mengeluh.

“Tak datang ke pemakamannya?”

“Tidak. Tak berani minta izin.”

“Kenapa begitu?”

“Hari itu kita ada latihan. Aku tak berani bilang Leeteuk hyung. Aku takut dia pikir itu hanya akal-akalanku saja.”

“Kenapa bisa berpikir begitu?” Ryeowook menjawab, kaget. “Aku sudah sering bolos latihan. Terakhir kali aku bolos, aku ingat Leeteuk hyung membentakku karena tidak serius. Aku tak yakin dia mau percaya kata-kataku lagi.” Heechul menyahut, menyandarkan kepalanya ke dinding.

Ryeowook menghela napas. “Dia tidak mungkin mikir kau akan memalsukan kematian orang lain demi bolos latihan, Heechul hyung-ku yang baik hati. Dia tidak sekekanak-kanakan seperti itu.” Memang pola pikir Heechul sulit dimengerti.

“Besok hari Minggu. Kita pergi ke makamnya ya.” Ryeowook mengusulkan. “Ajak yang lain juga. Aku akan bantu bilang ke Leeteuk hyung soal ini.”

***

Pagi hari itu teriakan Donghae meretakkan atap rumah dan membangunkan seluruh penghuninya.

“Kau ini!” terdengar teriakan Donghae. Semua berbondong-bondong menuju kamar Donghae. “Ada apa?” tanya Sungmin. Heechul tertawa terbahak-bahak. Tangannya masih memegang Heebum, kucingnya.

“Dia mengagetkanku! Pagi-pagi dan aku disambut bulu-bulu!” keluh Donghae, menunjuk Heebum yang mengeong-ngeong. “Biarlah! Biar pagimu cerah! Sepertiku!” kata Heechul. Sepertinya sudah kembali seperti sediakala.

***

“Terima kasih,” kata Heechul malam itu. Tulus. Tak dibuat-buat.

“Ya, sama-sama.”

 

-THE END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: