Nightmare

Author: Cho Myungdae

Tittle: Nightmare

Genre: Romance, angst

Rating: PG-13

Cast:  

Lee Sungmin | Jung Jiyoon (OC) Other Super Junior members | Shim Changmin of TVXQ!

 

-Nightmare-

***

“Kyuhyun-a..” Sungmin menepuk pundak room-matenya itu. Kyuhyun menoleh, dan jelas terlihat wajahnya tak karuan, kantung matanya yang terlihat semakin tebal, dan peluh yang mengalir dari pelipis laki-laki itu, terlihat seperti seseorang yang telah melakukan pekerjaan terlalu berat. “kau kenapa?” Sungmin duduk disebelahnya

“Aku terlalu lelah..” Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi.

“lelah?” Sungmin mengernyitkan dahinya.

Kyuhyun menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. “semua ini terlalu menyiksaku..”

“entertainment ini maksudmu? Karirmu?” Kyuhyun mengangguk lemah. “tidak usah terlalu dipikirkan Kyu, masih ada kita disini.. Leeteuk Hyung, Heechul Hyung dan yang lainnya, mereka masih mau mendengar keluhmu dan membantumu”

“tidak hyung, bukan itu masalahnya.. aku sudah terlalu lelah”

“kau mau ambil cuti?”

“tidak,” Kyuhyun menggeleng lemah lalu mendengus geli. “mana mungkin entertainment brengsek seperti ini dengan mudahnya membiarkan seorang artisnya beristirahat 1 detik saja!”

Sungmin langsung terkejut dengan apa yang tiba-tiba terlintas dipikirannya setelah mendengar umpatan dari Kyuhyun. “kau.. kau tidak mau keluar dari Super Junior kan?” Tanya Sungmin ragu. Kyuhyun langsung menggeleng dan Sungmin bisa bernafas lega sekarang. “lalu..?”

Kyuhyun menghela nafas panjang. ”aku ingin pergi..” Sungmin masih mengernyitkan dahinya. beribu pertanyaan terlintas dipikiran Sungmin, tapi semua pertanyaan itu tercekat ditenggorokannya. “tolong relakan aku, Hyung..”

***

Sungmin menghela nafasnya berkali-kali. menatap miris sesosok kaku yang ada didepannya, dan sesekali menyeka sedikit air mata yang turun dari matanya.

“Sebelumnya ia tidak berkata apapun! Kau kenapa, Cho Kyuhyun!!??” teriak Leeteuk frustasi.

Hyung…” Sungmin menepuk bahu Leeteuk, berusaha menenangkannya, matanya mengedarkan pandangan disekelilingnya. Semua histeris.

“YA! Sungmin-a! Bagaimana bisa kau menenangkan kita semua! Kyu.. dia roommate-mu! Dan sekarang dia, dia sudah..” tangis Leeteuk kembali pecah, bibirnya bergetar dan wajahnya mulai tak karuan. Sungmin kembali menghela nafas, menatap miris –kembali- sosok kaku yang tergantung didepannya –Kyu-

“Min, kau… kau tahu kenapa motif Kyu sampai dia bunuh diri?” Heechul menghampiri Sungmin, dan Sungmin menggeleng. “sungguh hyung, aku tidak tahu sama sekali, aku baru tahu Kyu seperti ini.. saat Ryeowook berteriak histeris di kamar, aku masih tertidur saat itu”

“Tidak! Sungmin-a, kau tidak menangis sama sekali! Aku yakin kau tahu motif dibalik ini semua, dan Kyuhyun sangat dekat denganmu, kau tahu.. Kyumin couple? Tidak ada yang tidak mengetahuinya Min!!” kata Heechul keras kepala. Sungmin tetap menggeleng. “sungguh, hyung aku sama sekali tidak tahu.. aku hanya sudah merelakannya, ini semua sudah takdir-Nya”

Tiba-tiba saja Eunhyuk mencengkram kerah Sungmin dengan nafas yang memburu “kau bohong Hyung!! Bagaimana bisa hyung setenang ini!!??” bentak Eunhyuk dengan matanya yang merah. Keadaan di dorm ini sungguh tak karuan.

“Hyukjae, kau tidak percaya padaku? Aku sudah tidur terlebih dahulu saat Kyu masih sibuk bermain starcraft” kata Sungmin berusaha setenang mungkin, walaupun hatinya sangat terguncang sekarang. Eunhyuk mendengus geli. “HYUNG! Aku mohon, aku tahu kau selalu tegar dihadapan kamera, tapi kali ini keadaannya berbeda, hyung.. BAGAIMANA BISA HYUNG MASIH SETENANG INI DISAAT KYUHYUN… DIA.. MENINGGALKAN..” Eunhyuk langsung melepaskan cengkraman tangannya dari kerah Sungmin dan tangisnya pecah kembali “hyung… kau tidak perlu berpura-pura tegar dihadapan kami hyung.. ITU MEMUAKKAN, TAHU!!??”

“tapi kau dengan mudah bisa merelakannya, Hyung! Bagaimana cara pikirmu itu!!??” protes Siwon yang tak kalah terpukulnya dari member lain, termasuk Changmin dari DBSK yang juga sangat amat terkejut.

“Changmin-a,” panggil Sungmin. ia tidak terlalu memikirkan perkataan Siwon. padahal ia mengira Siwon akan tenang karena ia percaya bahwa ini semua takdir-Nya. Changmin menoleh. “ne?”

“kau tahu apa yang terjadi pada Kyu belakangan ini?” Tanya Sungmin.

mian Hyung, tapi aku jarang berbincang belakangan ini.. hanya sekedar menyapa, aku melihat dia keluar dari tempat latihan terlebih dahulu dan ia berkata ia pergi ke club. beberapa kali aku melihatnya.”

“memang belakangan ini Kyu sering meninggalkan tempat latihan begitu saja saat kita sudah selesai, kan?” komentar Ryeowook. “kau mengikutinya, Changmin?”

“aniyeo, sebenarnya ingin, hanya saja saat itu aku sedang latihan,” kata Changmin lirih.

“wajahnya beberapa hari ini terlihat tertekan.. mungkinkah?” komentar Sungmin , Shindong yang mengerti ucapan Sungmin langsung menyahut, “percobaan bunuh diri maksudnya?”

“ia tidak mungkin dibunuh kan? Jelas-jelas ada ciri-ciri orang bunuh diri”

“karena jadwal padat?” Tanya Changmin. Shindong langsung menggeleng. “tidak mungkin, ia pasti sudah terbiasa dengan jadwal yang padat, jadwal saat promosi album sorry-sorry lebih padat dari ini.. jadi, itu sepertinya tidak mungkin”

entertainment?” celetuk Sungmin.

.

“Jiyoon-a!!” Sungmin menghampiri seorang yang dia panggil itu dengan penyamaran sempurna yang masih menutupi tubuhnya.

“Sungmin oppa?” kata perempuan itu –Jiyoon- berusaha menebak, Sungmin lalu melepas maskernya dan tersenyum. sebuah senyuman khas yang sangat Jiyoon rindukan selama lebih dari 5 tahun ini.

“Jiyoon-a! Bogoshipo!” Sungmin memeluk erat Jiyoon, hangat. Dari udara dingin kota Seoul di malam hari.

nado oppa! Ini sudah lebih dari 5 tahun kita tidak bertemu!” kata Jiyoon. Sungmin hanya tersenyum. “Jiyoon-a, mianhae.. aku terpaksa memintamu datang nyaris tengah malam seperti ini.. jadwalku sangat padat, dan aku rasa hanya jam-jam ini aku bisa bebas dari para ELFs

Jiyoon tersenyum mengerti. “Gwaenchana oppa, lagipula aku kesini untuk liburan.. aku bisa bebas keluar kapan saja!”

Sungmin terkekeh kecil. “bagaimana sekolahmu di Jepang?”

“biasa saja, oppa.. tidak ada yang spesial” kata Jiyoon datar. “ah, oppa! Aku melihat Super Show 3! Oppa tidak melihatku, ya?”

Jinjja!? Seharusnya kau mengabariku!”

“3 tahun kita hilang kontak oppa.. sedikit sulit sampai akhirnya aku menemukan alamat e-mailmu” “ah, aku sangat beruntung ‘oppa’-ku ternyata sudah menjadi artis seperti ini!”

Sungmin terkekeh. “kau harus bangga, Jung Jiyoon.. lalu, apa yang harus aku banggakan dari ‘dongsaeng’-ku? Kau sepertinya tidak punya prestasi”

“Ya!” Jiyoon memukul pelan lengan Sungmin “aku mendapat beasiswa ke Jepang oppa! Oppa kira itu bukan prestasi?” Jiyoon mengerucutkan bibirnya, dan Sungmin hanya terkekeh sambil mengacak rambut Jiyoon “baiklah, Jiyoon-a, kita mau kemana?”

 

December, 1995

Sungmin melangkahkan kaki kecilnya menuju taman, tangannya berlindung dari angin musim dingin dimalam hari di dalam saku jaketnya yang tebal. langkahnya terhenti melihat seorang gadis kecil –yang sepertinya berbeda 3 tahun darinya- terduduk di sebuah bangku taman. Sungmin mendekatinya perlahan.

“agasshi, kau hanya sendiri?” Gadis kecil itu menoleh ke arah Sungmin, air mata mengalir dari ujung mata sipitnya, gadis itu hanya mengangguk lemas. Sungmin memberanikan diri duduk disebelahnya. “kemana orang tua-mu, agasshi?”

Gadis itu terisak, dan menenggelamkan kepalanya kedalam kedua lututnya yang dilipat. “eomma.. dan appa… mereka… hiks.. bertengkar” kata gadis kecil itu gemetar,kemudian sungmin memeluknya, berharap itu bisa mengurangi rasa dingin gadis itu, melihat ia hanya memakai sebuah jaket tipis. Entah apa yang membuat Sungmin berani melakukan itu, ia sudah mengerti akan sopan santun, tapi ia rasa ini bukan hal buruk karena ia ingin menolong seoarang gadis kecil. Dan saat itu juga, isakan gadis itu mereda.

“ini..” Sungmin melepaskan sarung tangan merahnya dan memakaikannya ke tangan gadis kecil itu yang mungkin nyaris membeku. “pakailah, kau pasti kedinginan kan, Aggashi? Lain kali kau harus memakai jaket yang tebal saat keluar rumah di musim dingin seperti ini.”

“k-kansahamnida” kata gadis kecil itu. Bibirnya bergetar hebat karena hawa dingin ini, bahkan Sungmin yang memakai jaket tebal pun masih kedinginan.

“kau harus pulang, agasshi, orang tuamu pasti panik mencarimu..”

“tidak, mereka masih bertengkar..”

“mereka pasti sudah berdamai… ayo, aku antar pulang! Setelah itu kau bisa menghangatkan tubuhmu.”

“sungguh?” kata gadis kecil itu, sungmin mengangguk yakin, lalu gadis kecil itu beranjak mengikuti Sungmin.

“nah, siapa namamu, agasshi? Dan berapa umurmu?”

“Jung Jiyoon imnida! Aku 6 tahun!” seru gadis kecil itu kembali ceria.

“aku Lee Sungmin.. wah, kau berarti harus memanggil aku oppa, ya? Kau berbeda 3 tahun dariku!” gadis kecil itu mengangguk paham.

6 years ago..

“oppa..” kata Jiyoon dan berhenti memakan ttopokinya, Sungmin menoleh dan tetap memakan ttopokinya, sepertinya ia kelaparan. “ini..”

Sungmin menghentikan aktivitasnya itu lalu mengambil amplop coklat yang diberikan Jiyoon, lalu membacanya. “jiyoon-a!!??” sungmin membelalak kaget lalu menatap Jiyoon tidak percaya “b-bagaimana bisa!! Ini hebat Jiyoon-a!! Chukhaeyo!” Sungmin memeluk Jiyoon ikut senang. Sebuah surat bahwa Jiyoon mendapat beasiswa ke Jepang. “ya! Kenapa kau murung, hm?”

“itu.. bukankah artinya aku akan meninggalkan Korea?” kata Jiyoon lirih, Sungmin tersenyum mengerti. “memang kenapa? Kau tidak rela?” Jiyoon mengangguk. “bukankah itu artinya aku tidak bisa bersama-sama oppa lagi?”

“ne, tapi itu cita-citamu dari dulu kan, Jiyoon-a?” kata Sungmin dan Jiyoon mengangguk lemah. “aku juga tidak rela sebenarnya, Jiyoon-a.. tapi, walaupun kau masih berada di korea, aku akan sibuk menjalani trainee dan, belum lagi setelah aku debut.”

“tapi kita sama-sama di Korea oppa, aku bisa dengan mudah bertemu oppa, kan?” kata Jiyoon mulai keras kepala. Sungmin membelai rambut lurus Jiyoon, “kau tidak tahu.. tidak akan semudah itu, kau tahu kan seberapa ketatnya peraturan entertainment yang sempat aku beri tahu.. belum lagi masalah fans jika aku debut nanti.”

“tapi oppa..” Jiyoon berkata lirih. “Jiyoon-a, kita masih bisa berkomunikasi kan? Dan tidak selamanya kau akan terisolir disana kan? Kau hanya mengejar cita-citamu.. benar, kan?” kata Sungmin, Jiyoon mengangkat kepalanya yang tertunduk. “tapi bisakah oppa berjanji untuk selalu mengabariku? Membalas sms atau meneleponku?”

“tentu Jiyoon-a.. pasti!” Sungmin tersenyum meyakinkan. “sekarang habiskan ttopokimu.. nanti dingin! Atau aku yang menghabiskannya?”

“aih, oppa! Kau ini banyak makan! Kau bisa gendut.. nanti bagaimana jika kau akan debut!” protes Jiyoon sambil mencubit lengan Sungmin yang cukup gendut itu. Sungmin mengendus sebal, “kapan lagi aku bisa makan ttopoki disini! Sangat sulit untuk mencuri waktu disaat latihan yang sangat ketat seperti ini”

***

“Bagaimana Jepang?” Tanya Sungmin sambil menyeruput hot coffee-nya. Mereka sedang berada di café milik teman semasa SMP mereka yang memang sengaja buka 24 jam. Jiyoon mengedikkan bahunya ringan. “biasa saja oppa.. pelajarannya justru lebih sulit dibanding di Korea”

“jelas saja, kau meninggalkan Korea selesai SMP dan kau bersekolah di Jepang saat kau SMA! Tingkatannya berbeda Jiyoon-a” kata Sungmin sambil mendengus gemas, sedangkan Jiyoon hanya meringis menyadari kebodohannya. “lalu, bagaimana dengan karir oppa?”

yah, seperti inilah” kata Sungmin pasrah sambil menunjuk peralatan penyamarannya

oppa, aku mendengar tentang kematian Kyuhyun dan… aku turut berduka cita tentang itu” kata Jiyoon ragu, Sungmin hanya tersenyum “aku dengar oppa yang paling tenang saat itu, ya? Tapi bukankah oppa dan Kyuhyun begitu dekat? Maksudku.. Kyumin?”

“ahahahaa~ kau Kyumin shipper? Aku selalu geli ketika mendengarnya.. yah, aku sudah menerima keadaan waktu itu, dan member memutuskan akan mentup semua kenangan dan kasus ini”

oh.. err… Mian, mianhae oppa.. aku tidak bermaksud..” kata Jiyoon sungkan, lagi-lagi Sungmin tersenyum mengerti “gwaenchana..”

***

“Yesung-a… lama sekali aku tidak melihat Jongjin kesini.. kemana dia?” Tanya Heechul saat melihat adiknya, Cho Ahra dan park Inyoung sedang berada diruang tamu. Yesung mengedikkan bahunya “sepertinya ia sedang sibuk, hyung… tapi kemarin ia berjanji akan kesini bersama Sungjin”

“baru saja Sungjin bilang bahwa besok ia ada acara” kata Sungmin tiba-tiba berada diantara mereka. Dan Heechul dan Yesung hanya ber-oh ria

.

Ia melangkahkan kakinya di sepanjang koridor. Ia sendiri tidak mengerti berada dimana ia sekarang.

“habisi dia!”

Suara berat itu membuat ia tertarik mendekati sebuah pintu disisi kanan koridor ini.

“kau tahu berapa banyak hutang ayahmu yang berengsek itu!!??” gertak suara itu lagi yang membuat ia menempelkan telinganya kepintu tersebut “cepat habisi!”

“rghh!!!” erang suara lain –yang terdengar seperti orang kesakitan- yang cukup ia kenal. “sialan! Siapa dia!!” gertak suara berat itu lagi

“kau membunuh orang yang salah!! Dasar brengsek!” kata seseorang perempuan dengan nada memberontak.

“diamlah!! Kau tau siapa bocah tengil ini?” kata suara berat itu lagi. “beraninya ia menggagalkan rencana kita!” dengusnya.

“oppa! Irreona! Aku mohon sadarlah!!” kata suara perempuan tadi. Pembunuhan kah? Ia sama sekali tidak berani membuka bahkan membuat suara sedikitpun. Bahkan ia berusah menstabilkan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak cukup keras.

“a..aku..” kata suara yang sangat lirih itu. Sepertinya ialah yang dibunuh. “hyu..hyung… s..sungmin.. hyung”

degh! Seketika organ tubuhnya behenti seluruhnya. Ia terjatuh lemas didepan pintu itu. Ia rasa tidak ada udara sama sekali dikooridor ini. Nafasnya memburu, paru-parunya benar-benar membutuhkan oksigen saat ini. Otaknya pun berhenti bekerja. Berhenti mencerna sebuah kalimat menyayat tadi.

Tiba-tiba sebuah pisau berlumur darah berada tepat disampingnya, dan membuat air matanya mengalir deras tanpa diperintah.bibirnya bergetar, dan Dadanya masih sangat sesak. Seolah ada benda berton-ton yang menindih dadanya saat ini.

***

“YA!” Sungmin terbangun dari tidurnya dan tanpa pikir panjang ia langsung mencari handphonenya –Yang sialnya masih berada di kamar Eunhyuk. “aku mohon…. Handphone!! Sungjin-a!!” teriak Sungmin frustasi dan panik membuat Donghae dan Leeteuk –yang satu kamar dengannya semenjak kepegian Kyu- terbangun “Sungmin-a.. waeyo?”

Hyung.. aku mohon.. handphone!!” kata Sungmin panik dan merebut handphone Leeteuk yang berada disebelah Leeteuk dan mulai memasukkan nomer yang telah ia hafal diluar kepala. Sedangkan Leeteuk dan Donghae yang belum bisa mencerna apapun dari kelakuan Sungmin —karena baru saja terbangun dari tidur nyenyak- hanya melihat tingkah Sungmin yang panik.

Hyung.. kau kenapa? Ini..” Donghae melirik kearah jam waker “astaga! Ini baru pukul 2 dini hari Sungmin hyung

Sungmin yang sedang sibuk dengan sebuah panggilan mengabaikan perkataan Donghae “Sungjin! Yoboseyo! Sungjin-a!!”

“hyung.. waeyo?”

“kau.. kau dimana?” Tanya Sungmin panik.

“aku masih di Jeolla.. di hotel baru saja masuk.. waeyo hyung?”

“bisa kau tidak menghadiri acara bersama temanmu itu, SungJin-a!? aku mohon.. aku mohon sekali ini saja dongsaeng..

“eo? Ada apa?”

“a..aku.. aku hanya..” Sungmin tidak mau mengatakan sebenarnya. Ia yakin tidak ada seorang pun yang percaya dengannya jika keadaannya seperti ini “aku khawatir! Aku mohon Sungjin-a!

“tidak bisa, aku sudah berada di hotel hyung.. aku tidak enak hati dengan teman-temanku.. lagipula aku sudah bisa jaga diri”

“ini beda Sungjin!! Kau jangan sekalipun berpisah dengan teman-temanmu! Arra?”

“termasuk jika aku ketoilet, hyung? Haha” canda Sungjin, yang ternyata sama sekali tidak lucu bagi Sungmin.

“INI SERIUS SUNGJIN-A!!” gertak Sungmin, tapi suaranya bergetar. Donghae dan Leeteuk pun terkejut melihat air mata yang menggenang di mata Sungmin yang siap meluncur.

“ne.. Hyung.. aku tau”

“ini serius, Sungjin-a! aku mohon jangan campuri urusan orang lain—“

“hyung, mianhae.. aku mendengar suara yeoja.. mian, aku putus sambungannya.. annyeong!”

“yaa!! YA! SUNGJIN-A!!” teriak Sungmin putus asa. “sialan!” tanpa pikir panjang Sungmin membanting handphone Leeteuk keras kelantai. Ia langsung mengacak frustasi rambutnya. Donghae dan Leeteuk masih saja diam benar-benar tak tau harus melakukan apa. Sampai Eunhyuk dan Heechul datang kekamar mereka.

“Sungmin.. kau kenapa?” Heechul berusaha mendekati Sungmin yang matanya memerah dan tergenang air mata disana. Sedangkan Eunhyuk menghampiri Leeteuk dan Donghae yang sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat tadi.

***

“jadi.. firasat Sungmin Hyung tadi pagi benar” bisik Donghae kepada Leeteuk saat mereka menghadiri pemakaman adik Sungmin. “apa kau kira itu firasat? Tepat sekali firasatnya.. bukankah kejadiannya sekitar 5 menit setelah Sungjin menutup sambungan telepon” kata Leeteuk skeptris

“lalu? Itu semua dari mimpi Sungmin hyung? Konyol!” pekik Donghae yang langsung dibekap mulutnya oleh Leeteuk “bisa kau diam, ikan!? Ini pemakaman!”

***

“jadi, kau mau kemana?” Tanya Sungmin

“eh? Apa?” Tanya Jiyoon balik

“kau mau jalan kemana? Aku tidak ada schedule belakangan ini” kata Sungmin dengan senyum khasnya yang membuat Jiyoon benar-benar tidak mengerti jalan pikir ‘oppa’-nya ini. Baru kemarin Sungjin meninggalkannya dan sekarang Sungmin mengajaknya pergi? “hey, kau kenapa?”

“eumm.. apa oppa yakin? Oppa tidak sakit ‘kan?” Tanya Jiyoon heran.

“tentu tidak, Jiyoon-a… lagipula jika aku terus menangisi Sungjin tidak akan membuat Sungjin kembali lagi bukan?” kata Sungmin tenang seolah tahu arah bicara Jiyoon yang makin membuat Jiyoon ragu dengan kewarasan Sungmin “sudahlah, atau kau mau ke kuil?” tawar Sungmin “kau pasti sudah lupa tentang Korea”

“kuil? Shireo! Aku tidak mau ketempat yang teramat sangat membosankan itu!” tolak Jiyoon “lebih baik kita ke Namsan tower atau Han river.. atau café saja sudah cukup”

***

hwaa~ aku rindu sekali ttopoki disini!” pekik Jiyoon sambil menikmati ttopokinya. Sedangkan Sungmin hanya terkekeh melihat kelakuan ‘dongsaeng’-nya ini sambil terus memperhatikannya –yang mungkin tidak disadari Jiyoon- Pertemuannya dengan Jiyoon 16 tahun yang tanpa disengaja itu membuatnya selalu rindu dengan sosok Jiyoon yang kekanak-kanakkan ini. 5 tahun berpisah dengannya membuat telinganya rindu dengan panggilan ‘oppa’ dari Jiyoon, matanya yang rindu senyuman dari Jiyoon, dan tentu ia rindu saat jantungnya berdetak diluar batas normal saat didekat Jiyoon dan perasaan ingin memiliki sosok Jiyoon itu.

oppa, kau tidak mau memakannya?” Tanya Jiyoon yang sadar bahwa Sungmin memperhatikannya sedari tadi. “ani,” jawab Sungmin –yang masih memperhatikannya- sambil tersenyum dan membuat Jiyoon bergidik ngeri “oppa kenapa?” sekarang Jiyoon benar-benar meragukan kewarasan Sungmin.

“ya! Kenapa memandangku aneh begini, sih? Harusnya aku yang bertanya kenapa ekspresimu seperti itu!” protes Sungmin tidak terima dengan pandangan aneh dari Jiyoon.

“aku hanya tidak mengerti jalan pikir oppa” kata Jiyoon. “oppa terlihat aneh sejak tadi pagi” jelas Jiyoon yang membuat senyum Sungmin semakin lebar. “mungkin karena kau?” kata Sungmin cukup pelan.

eo? Apa?” Tanya Jiyoon yang mendengar samar perkataan Sungmin barusan.

aniyo, bukan apa-apa… lanjutkan saja makanmu” kata Sungmin tetap tenang.

“lalu oppa melanjutkan kegiatan tersenyum-sambil-memperhatikan-ku, begitu?” dengus jiyoon

“kau mau seperti itu?” goda Sungmin “baiklah, aku lakukan itu nona Jung” Sungmin mengedipkan satu matanya dan membuat dugaan Jiyoon bahwa Sungmin tidak waras semakin kuat. Jiyoon hanya bergidik ngeri dan melanjutkan makannya.

oppa! Jangan perhatikan aku!” gerutu Jiyoon setelah –yang ia hitung- 5 menit Sungmin memperhatikannya –lagi-

“kau ini kenapa? Kau harusnya bersyukur kau bisa diperhatikan oleh seorang Lee Sungmin” Sungmin terkekeh.

“tapi aku risih, oppa!” Jiyoon mengerucutkan bibirnya dan membuat Sungmin mengacak gemas rambut Jiyoon. “ne.. aggeseumnida nona Jung” lagi, sungmin mengedipkan salah satu matanya dan membuat Jiyoon membalikkan bola matanya.

***

“ke gembok cinta?” Tanya Sungmin dan Jiyoon langsung terbahak. “wae? Ada yang lucu?”

“tentu saja! Untuk apa kita kesana tanpa membawa pasangan?” dengus Jiyoon geli, “sudahlah, ayo kita makan ttopoki oppa!

“lagi?” Tanya Sungmin dan Jiyoon mengangguk semangat. “kau tidak bosan?”

“tidak! Oppa tau berapa tahun aku tidak makan ttopoki disana?” kata Jiyoon hiperbola “kajja!

 

oppa, besok ada schedule tidak?” Tanya Jiyoon sambil memakan ttopokinya

aniyo, hanya ada Sukira pukul 10 malam.. wae? Kau mau pergi kemana?”

“kalau begitu aku boleh ikut oppa siaran?”

“tentu saja, hanya saja kau harus menjadi fans.. jika kau tidak mau dibunuh para ELFs” kata Sungmin dengan nada menakuti-nakuti, “ne… aku tahu.. jadi? Boleh ‘kan?”

“tentu.. mau aku jemput?” tawar Sungmin dan Jiyoon menggeleng. “ani, tidak usah.. aku ingin berkeliling dulu sebelumnya.”

“tidak bersamaku?” Tanya Sungmin (berpura-pura) kecewa.

ani.. tidak usah, aku takut merepotkan oppa, oppa pasti latihan kan?” kata Jiyoon dan Sungmin mengangguk ringan. “tapi sebenarnya itu tidak menjadi masalah..”

“aku hanya ingin melihat oppa di Sukira.. aku belum pernah melihatnya.. hehe” ringis Jiyoon

“belum pernah? Tsk! Dongsaeng macam apa kau ini?” Sungmin mengacak rambut Jiyoon

***

“Sungmin-a.. kau tidak tidur?” Leeteuk yang masih dalam posisi berbaring berbalik menatap Sungmin yang menggeleng. “kemana Donghae?” Tanya Leeteuk menyadari Donghae belum masuk kekamarnya.

“ia sepertinya masih bersama Hyukjae..”

“begitu ya..” Leeteuk bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir tempat tidur Sungmin. “boleh aku bertanya sesuatu?”

“tentu saja,”

“sebelumnya aku minta maaf.. tapi, bagaimana bisa kau mengetahui bahwa… waktu Sungjin.. di.. bunuh..” Leeteuk kehabisan kata-kata. Ia tidak tahu kata-kata apa yang tidak menyinggung perasaan Sungmin. Sungmin bangkit dan tersenyum mengerti dengan pertanyaan Leeteuk –yang tidak jelas itu-

“sebenarnya.. ah, tapi tidak, hyung pasti menganggap ini konyol” Sungmin mengurungkan niatnya untuk bercerita pada Leeteuk. Sialnya, Kyu sudah tidak ada dan tidak ada lagi yang ia percaya untuk sekedar mendengar ceritanya. bahkan Kyu lah yang pertama kali hadir di ‘mimpi buruk’ Sungmin itu.

“konyol bagaimana? Mungkin kau tidak begitu mempercayaiku, Aku hanya berusaha menjadi sosok Kyu bagimu.. walaupun mustahil” kata Leeteuk yang sangat tahu bagaimana perasaan ‘anak’nya ini “kau bisa bercerita padaku,”

“aku yakin Hyung akan menganggap ini konyol… semua itu ada dimimpiku” kata Sungmin lirih.

“begitu?” kata Leeteuk skeptris

“semuanya.. kematian Kyu, Sungjin dan beberapa temanku.. sebelumnya, semua itu ada di mimpiku”

“kematian Kyu juga?”

ne, dialah yang pertama menjadi ‘korban’ mimpiku” kata Sungmin lirih. “aku juga tidak bisa mempercayainya, hyung.. ini konyol!” Sungmin mengacak rambutnya frustasi.

“tapi apa semua tepat?” Tanya Leeteuk berusaha mempercayai perkataan dongsaegnya ini. Walaupun sejujurnya ia menganggap apa yang dikatakan Sungmin ini konyol.

Sungmin mengangguk lemas. “masalah Kyu.. ia hanya mengatakan bahwa ia lelah, dan Sungjin.. ia dibunuh saat akan menyelamatkan yeoja yang ditawan oleh seseorang dihotel itu”

“kau yakin Sungmin-a?” Tanya Leeteuk. Sejujurnya ia beranggapan Sungmin sedikit tidak waras setelah Kyu dan Sungjin pergi. Haruskah ia mengajak Sungmin pergi psikiater? Ia hanya takut menyakiti perasaan dongsaeng-nya ini.

“aku.. tidak begitu yakin hyung.. tapi, aish sudahlah!” erang Sungmin frustasi. Leeteuk menepuk bahu Sungmin mencoba menenangkan “kau tidur saja…”

ani.. aku takut mimpi itu datang lagi” lirih Sungmin. “tidak.. berdoa saja mimpi itu tidak datang lagi.. sekarang tidur saja, besok malam kau masih punya jadwal Sukira” kata Leeteuk dan kembali ke tempat tidurnya, mencerna semua penjelasan konyol dari Sungmin. Sejujurnya ia tidak begitu percaya perkataan Sungmin. Tapi, bagaimana bisa ia meragukan perkataan Sungmin yang selama lebih dari 6 tahun bersamanya?

***

“Dummm!!” suara dentuman keras yang entah berasal dari mana –pada pendengaran Sungmin- membuatnya gelisah, ia terus berbalik kanan dan kiri yang membuat Leeteuk menatapnya aneh.

“oppa!! Aku ingin melihat sukira!”

“kyaa~ aku sungguh akan melihat sukira? Apa ada Ryeowook oppa disana?”

Senyumannya menggembang…

“oppa.. akan menyapaku tidak? Hahaha! Sepertinya aku bisa dibunuh ELFs nantinya”

“dari dulu aku ingin sekali streaming Sukira.. tapi tidak pernah ada waktu”

Ia mengerucutkan bibirnya…

“dan sekarang aku bisa melihat oppa di Sukira secara langsung! Akhirnya…”

Ia melonjak senang…

“DUMMM!” suara dentuman keras yang sebelumnya terdengar suara seperti mobil yang di rem mendadak membuat banyak suara langkahkan kaki mendekat kearah suara. Termasuk Sungmin yang segera berlari kearah suara yang menarik perhatian semua yang berada disalah satu jalan di Seoul

“aah! Aku tidak sabar melihat Sukira, oppa!”

***

“JIYOON-A!” teriak Sungmin setelah ia tiba-tiba saja bangun. Nafasnya langsung terengah-engah hebat, dan matanya bergerak liar menelanjangi setiap sudut kamarnya.

“sungmin-a.. aku kenapa!?” Tanya Leeteuk khawatir, begitu juga Donghae melihat mata Sungmin yang menyorotkan ketakutan.

“ada apa?” Tanya Eunhyuk yang tiba-tiba berada disamping mereka berdua –yang sepertinya ia memang belum tidur-

“Hyukjae, ambilkan segelas air putih.. cepat!” kata Donghae cukup pelan, sehingga hanya suara nafas Sungmin yang memburulah yang memecah keheningan di dorm

“Sungmin-a… kau tidak apa-apa?” Tanya Leeteuk pelan-pelan. Sejujurnya ia takut dengan keadaan Sungmin yang sekarang. Ia takut melihat sorot mata Sungmin yang terlihat mengerikan –walaupun sorotan matanya itu adalah sorotan ketakutan-

“mimpi.. mimpi itu lagi, hyung…” bibir Sungmin bergetar hebat. Ia memeluk lututnya sendiri. Sedangkan Donghae melempar tatapan –mimpi-apa- pada Leeteuk. Leeteuk hanya menjawab dengan tatapan –nanti-aku-ceritakan- “jiyoon?” Leeteuk kembali memusatkan perhatiannya pada Sungmin. Sungmin menggangguk “ini tidak mungkin kan, hyung? Mimpi ku tidak benar ‘kan!?” erang Sungmin frustasi

“ini…” kata Eunhyuk tergesa-gesa sambil membawa segelas air mineral dan menyerahkannya pada Leeteuk. “gomawo,” kata Leeteuk pelan dan mengisyaratkan agar Donghae dan Eunhyuk keluar saja.

“minumlah..” kata Leeteuk sambil menyerahkan gelas itu pada Sungmin, tapi melihat tubuh Sungmin yang bergetar hebat membuatnya harus menuntun Sungmin untuk perlahan minum. Berharap itu bisa membuat Sungmin tenang.

“tidak apa-apa, Sungmin-a.. itu hanya mimpi, bukan kenyataan.” Leeteuk berusaha menenangkan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya Sungmin seperti ini. “berdoalah itu bukan kenyataan min-a.. sekarang lebih baik kau tidur lagi.. aku yakin besok Jiyoon masih bisa tersenyum untukmu” kata Leeteuk yang sialnya malah membuat Sungmin makin merasa ketakutan.

“kenapa harus ia yang muncul dalam mimpiku, hyung!!??” erang Sungmin. Air matanya pun jatuh tanpa perintah dari otaknya “kenapa bukan aku saja!!??” jerit Sungmin –yang mungkin sudah membuat semua member di dorm lantai 3 terbangun-

“j-jangan bicara seperti itu Sungmin-a… berfikirlah dengan logika, itu hanya mimpi” kata Leeteuk yang benar-benar kewalahan. Ia memang tidak berbakat untuk urusan menenangkan orang lain.

“aku ingin sendiri, hyung…” lirih Sungmin yang menenggelamkan kepalanya kedalam kedua lututnya yang terlipat. Leeteuk langsung berdiri dan meninggalkan kamar dengan perasaan khawatir. Ia tidak ingin Sungmin melakukan sesuatu yang tidak-tidak.

hyung.. waeyo?” pertanyaan yang sama muncul dari semua member yang ternyata sudah berkumpul didepan kamar Leeteuk. Leeteuk hanya menghela nafas berat dan menatap pintu kamarnya dengan perasaan khawatir.

hyung, kenapa dia?” Tanya Donghae khawatir. Sudah ke-2 kalinya ia melihat sosok Sungmin ‘yang lain’

“sepertinya ia bermimpi Jiyoon meninggalkannya” kata Leeteuk yang masih dilingkupi perasaan khawatir.

“hanya itu?” dengus Heechul dan langsung mendapat tatapan tajam dari semua member “baiklah, lanjutkan,”

“ia bilang.. kematian Kyu dan Sungjin itu sebelumnya ada di mimpinya” kata Leeteuk

“maksudnya kematian Sungjin sewaktu itu ada di mimpi Sungmin hyung sebelumnya?” Tanya Donghae dan Leeteuk hanya mengangguk singkat. “jujur, aku meragukan kata-kata Sungmin tentang ini” kata Leeteuk merasa bersalah.

“aku rasa itu cukup konyol… apa karena kematian Kyu dan Sungjin ia jadi sedikit.. gila?” komentar Shindong berhati-hati.

“mungkin,” Eunhyuk mengangguk setuju “pandangan Sungmin hyung tadi.. seperti bukan Sungmin hyung yang aku kenal” kata Eunhyuk skeptris.

“berarti kebetulan sekali 5 menit sebelum kematian Sungjin Sungmin hyung bermimpi tentang itu” celetuk Donghae. “tidak ada yang tahu kebenaran yang dikatakan Sungmin” Shindong mengedikkan bahunya.

***

“aku akan menjemputmu, ya?” rayu Sungmin. Entah sudah berapa kali.

“ani oppa, tidak usah.. aku takut merepotkan oppa” kata suara dari seberang sana

“tentu tidak! Ini sudah menjadi tugasku sebagai ‘oppa’mu!”

“ani oppa.. tidak usah! Lagipula, jika para ELFs melihat aku turun dari mobil oppa, aku pasti langsung di interograsi oleh ELFs” canda Jiyoon

“itu lebih baik daripada aku harus kehilanganmu…” kata Sungmin sangat lirih.

“apa? Tadi oppa bilang apa?” Tanya Jiyoon yang tidak mendengar perkataan Sungmin barusan

“tidak apa-apa.. jadi, aku yang menjemputmu kan?”

“aku bilang tidak! Lagiula sejak kapan, sih oppa jadi keras kepala seperti ini?”

“aku hanya khawatir!”

aku rasa saat aku di Jepang oppa tidak khawatir seperti ini” kata Jiyoon

“ini berbeda Jiyoon-a!”

“lalu apa? Oppa takut aku tertabrak saat menyebrang?” celetuk Jiyoon. Dan dada Sungmin kembali sesak.

“jangan bicara macam-macam Jiyoon!” gertak Sungmin yang masih berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“lalu kenapa? Apa oppa bermimpi bahwa aku akan meninggalkan oppa?” canda Jiyoon. Tapi sama sekali tidak lucu bagi Sungmin yang sekarang dadanya semakin sesak

“ne!”

“oh ayolah oppa! Jangan bercanda! Itu hanya mimpi! Bisakah oppa berfikir lebih logis lagi?”

“aku mohon Jiyoon… aku akan menjemputmu, ya?”

“tidak usah oppa! Ah, sudah dulu oppa.. aku harus bersiap untuk pergi ke Myeong-dong bersama temanku! Annyeong!!”

Pip!

Jiyoon yang memutuskan sambungan teleponnya itu langsung membuat Sungmin limbung dan jatuh ke Sofa didekatnya. Ia menghela nafas berat dan memejamkan mata. Menalar semua yang terjadi belakangan ini. Sudah gilakah dia?

 

“wookie-a, aku berangkat duluan, ya!” kata Sungmin sambil mengambil kunci mobilnya

mwo? Tapi ini baru pukul 7, hyung” Ryeowook mengalihkan pandangannya dari TV

“aku ingin jalan-jalan dulu.. annyeong!”Sungmin langsung menuju basement dan melajukan mobil audinya menuju Myeon-dong. Entah apa yang membuatnya menyusuri jalanan di Myeong-dong yang tidak bisa dibilang sempit itu untuk mencari sosok Jiyoon dari ribuan orang disana. saat ini pikiran gilanya yang bertindak.

From: Jung Jiyoon

                  Text: oppa! Aku sedang menuju KBS building~^^

Sungmin langsung melihat jam yang melingkar ditangannya. Pukul 9 malam? Sudah selama itu kah ia menyusuri jalanan di Myeong-dong dan sama sekali tidak membuahkan hasil?

Ia segera melajukan mobilnya menuju KBS building. Pikiran gilanya terus saja menguasai dirinya yang terus membuatnya khawatir akan keadaan Jiyoon sehingga mendadak keahlian menyetirnya hilang.

“ciiittt… DUMM!!!” suara decitan rem dan dentuman lagi-lagi terngiang di telinganya dan membuat jantungnya berpacu dengan kecepatan mobilnya. Pikirannya semakin buyar.

Sungmin memberhentikan mobilnya dipinggir jalan dan keluar dari mobilnya. Menusuri pinggiran jalan. Entah apa yang ia lakukan, tapi pikirannya lah yang memerintahnya.

Langkahnya terhenti di sebuah zebra cross dan senyumnya menggembang mendapati sosok Jiyoon berada di seberang jalan yang kebetulan juga melihatnya.

“JIYOO—“

“ciitttt… DUMMM!!”

Jiyoon tertabrak.

Detik itu, Sungmin limbung. Kakinya terasa tidak kuat menopang berat badan tubuhnya. Air matanya mengalir tanpa perintah. Matanya langsung berkeliaran mencari sosok pemilik mobil yang menabrak Jiyoon. Tatapan membunuh membawanya menuju pemuda yang mengendarai mobil tersebut.

“n-nona.. k-kau tidak apa-apa!?” belum sempat pemuda itu menyentuh tubuh Jiyoon yang penuh lumuran darah, Sungmin menarik kerah pemuda itu dan BUGHH! BUGHH! Bertubi-tubi pukulan mendarat mulus di pipi pemuda itu. Sungmin tidak peduli jepretan blitz kamera yang langsung menghujaninya. Sorotan mata membunuhnya menatap tajam pemuda itu “KEMANA AKALMU, HA!?” BUGH! Lagi. Sungmin memukul pria itu dan darah segar mengalir dari hidungnya “APA KAU BISA MENGGANTIKAN NYAWANYA??” nafas Sungmin memburu. BUGH!! “KAU SADAR APA YANG TELAH KAU LAKUKAN, HA?” Ia benar-benar tidak peduli dengan nota bene sebagai publik figure ini. ‘Seorang Lee Sungmin memukuli seorang pemuda bertubi-tubi’ ia tidak peduli jika ada artikel tentang dirinya sekarang. Pikirannya hanya tertuju pada Jung Jiyoon. “KAU SADAR JIKA ORANG YANG KAU TABRAK ITU SEORANG YANG SANGAT BERARTI BAGIKU, HAA!??” BUGH! “KAU BISU, HA?? JAWAB PERTANYAANKU DAN GANTI NYAWANYA!!” Tangannya sudah siap memukul kembali pemuda itu.

hyung! Sudah!” Siwon langsung menarik Sungmin dari hadapan pemuda itu sebelum pukulan Sungmin kembali melayang diwajah pemuda itu “tenangkan dirimu, hyung…” bisik Siwon. Ia tidak mau nama Sungmin tercoreng. Memang sejak Sungmin meninggalkan dorm, semua member Super junior yang khawatir akan keadaan dirinya terpaksa mengikuti kemana Sungmin akan pergi.

“Jiyoon-a….” tangis Sungmin pecah “ireona!! JIYOON-A IREONAA!!!” ia terduduk lemas di samping sosok Jiyoon “YAA!! KENAPA TIDAK ADA YANG MEMANGGILKAN AMBULANCE, HA!!??”

“d-dia… sudah meninggal” kata Ryeowook ragu setelah ia memeriksa denyut nadi Jiyoon

a-andwae…” lirih Sungmin ditengah tangisnya. “ini tidak mungkin, kan?” Ia memeluk sosok Jiyoon yang mengalir darah segar. Ia tidak peduli bagaimana nasibnya nanti sebagai member Super Junior karena ia memeluk seorang yeoja.

hyung, semua mimpi Sungmin hyung itu benar?” tanya Donghae ragu. Leeteuk mengedikkan bahunya. “entahlah, Donghae-ya.. aku rasa itu memang kemampuan Sungmin”

“Jiyoon-a… ireona..” “k-kau… kau ingin melihat Sukira, kan? Aku mohon bangunlah!!” Sungmin tersenyum miris sambil mengelus lembut pipi yeoja itu. Jiyoon yang belum sempat ia genggam dengan jemarinya dan menarik Jiyoon dalam pelukannya, lalu membisikkan kata ‘saranghae’. Ia belum sempat melakukan itu semenjak 10 tahun yang lalu. Semenjak ia mencintai sosok yang sudah tak bernyawa dihadapannya. Ia memeluk sosok Jiyoon lebih erat lagi. “Jiyoon-a… saranghae..”

 

 

-THE END-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: