Good Tomorrow

GOOD TOMORROW

BY: TALITHA RAHMA.

Cast: Kim Ryeowook | Lee Min Ji/Kim Heejin | Lee Sungmin.

Theme : Family, and Love.

***

 

 

“Ya… Heejin-ah ayo tangkap aku jika kau bisa…”

“Oppa… aku pasti bisa menangkapmu!!!” teriak Kim Heejin pada kakaknya.

“Aakkhh…” kemudian Heejin terjatuh, dan Ryeowook (kakak Heejin) berbalik menatap adiknya yang terjatuh lalu berlari ke arahnya.

“Heejin-ah kau baik – baik saja? Apa ada yang sakit.” Tanya Ryeowook khawatir.

“Dapat! Benarkan aku bisa menangkap Oppa.”

“Ya, kau membuatku takut saja, kemari aku gendong.” Kata Ryeowook sambil berjongkok di depan Heejin.

Kim Heejin gadis berusia lima tahun itu langsung naik ke punggung kakaknya sambil tersenyum. Ryeowook hanya berbeda satu tahun dengan adiknya. “Oppa… aku ingin es krim.”

“Baiklah, ayo kita beli es krim lalu pulang.” Jawab Ryeowook.

“Emm…”

 

Keesokan harinya

 

“Anak – anak ayo sarapan.” Panggil ibunya, Ryeowook dan Heejin pun berlari menuju ruang makan.

“Ryeowookie bawa bekalmu ya.”

“Ne, Omma.” Jawab Ryeowook.

“Hati – hati ya.” Kata ibunya sambil melambaikan tangannya pada anak – anaknya yang akan berangkat ke sekolah.

 

Liburan sekolah

 

“Ye… Omma, Appa, Oppa lihat di sana ada gunung yang indah.” Sahut Heejin.

“Wah… indah sekali.” Ryeowook membalikkan wajahnya ke arah jendela. Di antara semua pemandangan yang indah itu terlihat sebuah jurang yang panjang, lebar, dan dalam. Tiba – tiba hujan lebat turun, angin, dan petir terasa menyambar segalanya.

“Omma, takut.” kata Heejin sambil memeluk ibunya.

“Tenang Heejin-ah.” Jawab Ryeowook sambil memegang tangan adiknya. Namun, semua itu terjadi, semua yang di khawatirkan terjadi. Lampu jalan tiba – tiba mati, semua terlihat gelap.

“Omma…” kata Heejin yang sudah mulai menangis.

“Appa, awas…!!!” jerit ibunya tiba – tiba. Sebuah truk datang dari arah yang berlawanan, kemudian mobil mereka berputar dan terjun ke jurang. Tangan Ryeowook masih memegang adiknya, namun sedetik kemudian mereka semua tidak sadarkan diri. Tangan Heejin lepas dari genggaman Ryeowook.

Sirena atau suara ambulan berdering. Semua orang datang untuk menolongnya, namun hanya Ryeowook dan ayahnya saja yang selamat. Ibunya meninggal sejam setelah di bawa ke rumah sakit akibat pendarahan pada kepalanya, sedangkan Heejin menghilang semua orang sudah berusaha untuk mencarinya namun tidak berhasil.

 

Rumah sakit

 

“Di mana aku? di mana anak dan istriku?” kata ayah Ryeowook setelah sadar.

“Tenang, anda harus tenang dulu.” Kata dokter dan suster di sana.

“Cepat katakan di mana anak dan istriku?”

“Maaf, istri anda meninggal akibat pendarahan di kepalanya, putra anda selamat dan sekarang berada di ruang perawatan, namun putri anda…”

“Cepat katakan!” pintanya.

“Dia tidak di temukan… sewaktu evakuasi.”

“Bohong!!! Katakan yang sebenarnya!” namun dokter itu tetap diam. Dia menangis sambil bangkit dari kasurnya.

“Dimana istriku.” Katanya sambil menarik kerah baju dokter itu. Kemudian dia berjalan ke kamar jenazah dan menemukan mayat istrinya yang pucat dan kaku. Dia menangis sambil memeluk mayat istrinya.

“Maafkan aku istriku… maaf ini salahku… maafkan aku…”

Ryeowook room

 

“Appa…” pangilnya dengan suara yang berat.

“Istirahatlah… jangan banyak bicara dulu!”

“Di… di… mana Omma dan Heejin?” tanya Ryeowook lagi. Ayahnya hanya diam dan menyuruh anaknya tidur.

 

Seminggu kemudian

 

“Appa, dimana omma dan Heejin?” tanya Ryeowook dengan wajah polosnya.

“Kenapa kita kesini?” lanjutnya lagi melihat tempat yang di datanginya adalah sebuah makam, dia membaca nama yang tertera di atas nisannya.

“Shin Heena? Appa bukankah itu nama Omma?” tanyanya dengan wajah serius. Ayahya memeluknya erat.

“Ryeowookie-ah… maafkan ayah, kalau saja ayah tidak mengajak kalian berlibur ke gunung….” jawabnya sambil menangis.

“Appa bohongkan? Pasti appa berbohong padaku?” kemudian ia melepaskan pelukan ayahnya dan jatuh di depan makam ibunya, ia menangis sejadi – jadinya.

“Omma… omma… jangan pergi!!! Omma…” dia terus memanggil nama ibunya. Saat perjalanan pulang ia bertanya,

“Di mana Heejin?”

“Adikmu hilang dan sampai sekarang belum di temukan.” Ryeowook pun kembali menangis.

Heejin ~ flash back

“Suamiku… kita lewat jalan di sana ya.”

“Baiklah.” Sepasang suami dan istri berjalan bersama melewati sebuah jalan setapak suara gemericik air sungai yang damai, air yang menempel pada daun sesudah hujan, angin yang bertiup menambah indah segala sesuatu yang ada di sana. Tanpa menyadari sebuah kecelakaan terjadi dua jam yang lalu.

“Suamiku…” kata istrinya tiba – tiba dengan nada terkejut.

“Ada apa Sung Hee-ah?” jawabnya panik. Sung Hee pun menunjuk sesuatu di balik rerumputan, dengan segera ia menghampiri rerumputan itu. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat seorang anak kecil penuh luka terbaring di sana.

“Suamiku dia masih bernafas, cepat bawa dia ke pulang.” Perintah Sung Hee, Sung Hee adalah seorang dokter di rumah sakit Seoul, sedangkan suaminya bernama Lee Eunhyuk.

“Baiklah.” Mereka membawa Heejin ke rumah, rumahnya hanya berjarak lima kilometer dari daerah itu.

“Sungmin-ah… Sungmin-ah…” panggil Sung Hee sambil memencet bell rumahnya.

“Ne Omma.” Katanya sambil membukakan pintu. Mereka langsung membawa Heejin ke kamar dan mengobatinya, Sungmin terlihat mematung di depan pintu sambil menatapnya.

“Sungmin-ah tolong ambilkan kotak di sana!” kata Sung Hee.

“Ne.” Sungmin mengambilnya dan mendekat ke arah Heejin, ia menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.

Satu jam kemudian Sungmin tertidur di samping Heejin. Tiba – tiba Heejin bangun.

“Omma… Omma… Omma…” panggilnya lirih, Sungmin yang mendengarnya langsung terbangun dan memanggil Ommanya.

“Omma… Omma… gadis itu bangun!”

“Kau sudah bangun.” Tanya Sung Hee lembut.

“Siapa namamu?” tambah Sungmin namun Heejin hanya menggelengkan kepalanya.

“Istriku… biarku buatkan bubur.” Kata Eun Hyuk.

“Maksudmu kau tidak ingat siapa namamu?” sambung Sungmin, Heejin pun mengangguk pelan. Sung Hee langsung memeriksanya ulang.

“Sungmin-ah tolong temani dia tidur ya.”

“Ne Omma.” Sung Hee berjalan menuju dapur.

“Kita harus membawanya ke rumah sakit besok.” Katanya pada suaminya.

“Ne… itu benar.”

Keesokan harinya

“Dia mengalami sedikit masalah dengan otaknya, mungkin karena sesuatu yang keras mengenai kepalanya.”

“Berapa lama itu akan terjadi?”

“Itu tergantung padanya, jika ada sesuatu yang membuatnya teringat akan sesuatu kemungkinannya dia akan mengingat segalanya lagi.” Sampainya di rumah, sepasang suami – istri itu merencanakan sesuatu kemudian mereka memanggil Sungmin anak mereka satu – satunya.

“Sungmin-ah bagaimana kalau dia jadi adikmu, sampai dia mengingat segalanya.” Kata Eun Hyuk pada anak laki – lakinya tersebut dengan lembut.

“Baiklah Appa.” Jawabnya yakin, sepertinya ia menginginkan seorang adik karena ia merasa bosan jika harus sendirian. Lalu mereka datang meghampiri Heejin dengan penuh senyum.

“Min Ji… namamu Min Ji…” kata Sungmin pada adik barunya itu, walau pun ia belum tahu orang seperti apa gadis kecil itu, tapi ia yakin kalau gadis itu orang yang baik.

“Min Ji?”

“Ne… Min Ji-ah, aku Ommamu dan ini Appa dan Oppamu.” Kata Sung Hee.

“Oh… Min Ji-ah ingat panggil aku Sungmin Oppa, akukan lebih tua tiga tahun darimu.” Sambungnya sambil memperkirakan berapa ummur dari gadis kecil yang ada di hadapannya itu.

“Sungmin Oppa.” Katanya ragu – ragu.

“Ayo makan.” Kata Sungmin sambil menyuapi Min Ji bubur.

 

12 tahun kemudian

 

“Ya… Kim Ryeowook…” panggil seseorang dari belakang, dan Ryeowook pun berbalik ke arahnya.

“Oh… Sungmin Hyung, kapan kau kembali?” tanya Ryeowook yang melihat teman lamanya datang.

“Hyung tapi dari mana kau tahu kalau aku bersekolah di sini, dan dari mana kau tahu kalau namaku Ryeowook.” Sambungnya panjang lebar.

“Oh… kebetulan adikku bersekolah di sini, dan aku tadi melihat nama di jasmu itu.” Jawabnya sambil menunjuk label nama di jas Ryeowook.

“Adik? Bukannya Hyung tidak punya adik?” tanya Ryeowook lagi.

“Kata siapa, aku punya adik perempuan.”

“Oppa…” serentak mereka membalikkan badannya, Ryeowook menatap seorang gadis yang berdiri di depannya, gadis itu tersenyum manis di hadapannya.

“Oh… Min Ji-ah, kenalkan ini dulu teman Oppa saat masih TK.”

“Annyeonghaseyo, jonen Lee Min Ji imnida.” Kata Min Ji sambil mengulurkan tanganya.

“Ryeowook imnida.” Ryeowook kemudian membalas sambutan tangan Min Ji, tiba – tiba ia terdiam dia merasakan hal yang sama saat memegang tangan Heejin.

“Ya! Kim Ryeowook apakah kau akan terus memegang tangan adikku?” perkataan Sungmin membuat kaget Ryeowook. Kemudian ia melepaskan tangannya dari Min Ji.

“Oh… Oppa mian aku ada rapat osis sebentar lagi ini barang yeng kau butuhkan.” Min Ji menyerahkan barang yang ia bawa pada Sungmin kemudian bergegas pergi.

“Wookie-ah bagaimana pendapatmu tentang adikku itu?”

“Dia cantik, Hyung.” Jawab Ryeowook dengan wajah polos.

“Oppa… kau sudah tidur?” panggil Min Ji dari balik pintu kamar Sungmin.

“Belum, ada apa?”

“Boleh aku masuk?”

“Ne.” Kemudian Min Ji masuk dan duduk di kursi sebelah Sungmin yang sedang belajar.

“Oppa… boleh aku bertanya?”

“Apa?” jawab Sungmin sambil menatap wajah adiknya.

“Besok bisakah Oppa datang ke sekolahku untuk bernyanyi di acara ulang tahun sekolah?”

“Baiklah, Min Jiku.”

“Ye… gomawo Oppa.” Min Ji melompat ke girangan, Sungmin menatapnya sambil tersenyum.

“Appa… Omma… besok kalian harus datang ke sekolah ya! Aku akan bermain sebuah drama dan aku jadi pemeran utama dalam drama itu.”

“Benarkah, oh anak Omma pasti sangat cantik besok.”

“Ryeowook-ah ayo makan.”

“Ne, Abeoji.” Ryeowook pun turun dari kamarnya, menuju ruang makan.

“Abeoji… besok bisakah datang ke sekolah, untuk menghadiri acara ulang tahun sekolah?”

“Tentu saja, ayo makan.”

“Ne.” Ryeowook menghabiskan semua makanannya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia diam saat menatap cermin di depannya.

“Tangannya seperti tangan Heejin, ah itu hanya perasaanku saja.” Dia kemudia menyikat giginya.

“Ryeowook-ah kau belum tidur ini sudah malam.”

“Ne, sebentar lagi abeoji.” Ryeowook tengah memper siapkan dirinya untuk bernyanyi bersama Sungmin besok, jari – jarinya menyentuh sebuah piano dengan lembut suaranya benar – benar indah, persis seperti lembutnya salju.

“Oh… Omma, Appa…” Min Ji menghampiri kedua orang tuanya dan mencarikan tempat duduk untuknya.

“Ryeowook… pakai jasmu dulu!”

“Ye, sonsaengnim.”

“Selamat datang semuanya dalam acara ulang tahun sekolah yang ke dua puluh tahun, semoga kalian semua menyukainya, untuk sambutan pertama – tama kami akan mempersembahkan sebuah lagu yang akan dinyanyikan oleh siswa kelas tiga Kim Ryeowook.”

Dengan gagah ia berjalan meuju panggung, akan tetapi. ‘Bruk’ dia terjatuh karena seorang gadis menabraknya, semua orang penasaran tentang apa yang terjadi, tanpa sengaja Ryeowook memegang sesuatu.

“Ya… apa yang kau pegang hah? Dasar kurang ajar.” Kata gadis itu sambil memukul Ryeowook dengan kedua tangannya.

“Ya… ya… hentikan… lagi pula ini kan bukan salahku, tapi salahmukan…”

“Mwo… ya kau…” ternyata gadis itu adalah Min Ji, dia tak henti – hentinya memukul Ryeowook. Semua penonton tertawa melihatnya. Akhirnya semua guru – guru pun membantu meleraikan meraka.

“Baiklah masalah ini kita selesaikan nanti.” Kemudian Ryeowook pun bangkit dan pergi ke tengah panggung, ia duduk di depan sebuah piano dan mulai memainkanya. Sungmin datang di tengah –tengah lagu.

Min Ji yang awalnya marah tiba – tiba terdiam mendengar lagu yang mereka nyanyikan. “Sepertinya…”

“Min Ji-ah kau baik – baik saja?” tanya Harin.

“Tidak, hanya saja kepalaku sakit.” Jawabnya sambil memegang kepalanya, sebuah bayangan datang padanya, ia ingat seseorang pernah menyanyikan lagu ini untuknya tapi ia tidak ingat jelas siapa yang menyanyikannya.

Lima menit kemudian ia pingsan, “Min Ji-ah… Min Ji-ah…” panggil Harin, ia pun segera di bawa ke UKS.

“Di mana aku? Harin-ah.”

“Kau tadi pingsan jadi kami membawamu kemari.”

“Hyung, terima kasih atas bantuanmu.” Ucap Ryeowook.

“Emm…”

“Sungmin-ah tadi aku lihat adikmu pingsan dan di bawa ke UKS.” Kata seseorang.

“Benarkah?” Sungmin langsung berlari ke UKS, Ryeowook pun ikut denganya.

“Kau baik – baik saja Min Ji-ah?” tanya Sungmin panik.

“Ne Oppa.”

“Mianhae… mungkin ini karenaku tadi.” Kata Ryeowook tiba – tiba.

“Tidak… ini bukan salahmu, tapi aku.” acaranya pun sudah selesai semuanya sudah pulang hanya tinggal Min Ji seorang.

‘Aku… ada apa denganku?’ tanya Min Ji dalam hati, seseorang datang membawakan susu hangat untuknya dia adalah Ryeowook.

“Mianhae.”

“Ne?” tanya Min Ji bingung.

“Soal tadi.”

“Ah tidak masalah, lupakan saja.”

Entah sejak kapan Min Ji dekat dengan Ryeowook, hampir setiap hari mereka bersama. “Ryeowook Oppa, maukah kau temani aku ke pantai pulang sekolah ini?”

“Baik tapi kau harus mentraktirku makan ya.”

“Emm… tidak usah, lebih baik aku ajak Harin dan Yesung saja.”

“Baiklah.”

“Terima kasih Ryeowook Oppa ku yang manis.”

“Wah… indahnya…” berjuta pujian ingin Min Ji ungkapkan saat tiba di sebuah pantai di daerah Seoul. “Kau suka?”

“Emm… aku sangat menyukainya.” Diam – diam ia menatap Min Ji yang masih menikmati pemandangan.

“Min Ji-ah, aku… aku…”

“Ne?”

“Aku menyukaimu.” Kata Ryeowook ragu.

“Ne? Aku tidak dengar apa-apa.”

“Aku menyukaimu…” Min Ji terdiam sesaat.

“Benarkah? Kau pasti bohong?”

“Tidak, aku benar – benar menyukaimu, lalu bagaimana denganmu?”

“Aku… tangkap aku dulu baru aku beri tahu!” Min Ji pun berlari.

“Ah…” Ryeowook menjatuhkan dirinya,

“Oppa kau baik – baik saja?” tanya Min Ji khawatir.

“Dapat, aku dapat menangkapmu dengan cepatkan.” Keduanya terdiam tanpa kata. Min Ji teringat akan sesuatu.

“Emm… kau baik – baik saja?” tanya Ryeowook.

“Oh… ne.” Kemudian mereka duduk di bawah pohon.

“Apa jawabanmu?” Ryeowook memecah kesunyian.

“Aku… a…ku…” kata Min Ji dengan penuh keraguan.

“Aku sebenarnya, aku juga menyukaimu.” Ryeowook menatap Min Ji dan memegang tangannya.

“Hari ini indah.” Jawab Ryeowook lega.

“Benar.” Min Ji menyenderkan kepalanya ke pundak Ryeowook.

“Ryeowook Oppa, terima kasih.” Kata Min Ji sesampainya di rumah.

“Cepat masuk di luar sangat dingin.” Min Ji melepaskan syal yang ia pakai dan memberikannya pada Ryeowook.

“Sampai jumpa besok Oppa.” Ryeowook melambaikan tangannya kemudian pergi.

“Ya… dari mana kau? Kenapa pulang semalam ini.” Tanya Sungmin yang melihat adiknya baru pulang.

“Mmm… aku habis main.”

“Lain kali jangan pulang malam – malam kaukan perempuan itu tidak baik, kalau ketahuan Appa kau akan dimarahi, lebih baik aku bilang pada Appa.”

“A… ya baiklah…” jawab Min Ji sambil menari Sungmin hingga terjatuh.

“Ya… lepaskan, siapa suruh kau seperti itu.” Sungmin berlari ke kamarnya.

“Oppa…”

“Min Ji-ah!”

“Ne.”

“Bisakah kau datang kerumahku nanti malam?” ajak Ryeowook.

“Tidak, kalau hanya berdua tidak bisa.”

“Tenang saja tadi aku juga mengajak Yesung Hyung, Harin, Sungmin Hyung, Min ah, Dong Mi, dan Kyuhyun juga.”

“Memangnya ada acara apa?”

“Mmm… hanya pesta kecil.”

“Baiklah.”

Malamnya Min Ji datang ke rumah Ryeowook bersama Sungmin, yang lain juga sudah datang.

“Oppa aku ingin ke kamar mandi.” Bisik Min Ji kepada Ryeowook.

“Kamar mandinya di belakang, lurus saja lalu belok ke kanan.” Ryeowook memberikan arah ke kamar mandi. Min Ji pun berjalan ke arah yang di berikan. Selesai dari kamar mandi ia melihat sebuah kamar yang pintunya tidak di tutup.

“Kim Heejin? Apa Ryeowook Oppa punya seorang adik? Tapi aku tak pernah melihatnya.” Min Ji masuk ke kamar itu, dia terkejut melihat foto – foto yang terpajang di sana. Semua yang terpajang di sana adalah fotonya sendiri.

Tiba – tiba bayangan tentang masa lalu datang, semuanya membuat kepala Min Ji sakit.

“Ya… Heejin-ah ayo tangkap aku jika kau bisa…”

“Oppa… aku pasti bisa menangkapmu!!!” teriak Kim Heejin pada kakaknya.

“Anak – anak ayo sarapan.”

“Ye… Omma, Appa, Oppa lihat di sana ada gunung yang indah.”

“Omma, takut.”

“Appa, awas…!!!” Min Ji memegang kepalanya, lalu ia pingsan.

“Dimana Min Ji?” tanya yang lain.

“Tadi dia bilang ingin ke kamar mandi.” Jawab Ryeowook.

“Tapi kenapa lama sekali.”

“Ah… biar aku kesana.” Ryeowook pergi ke kamar mandi namun sebelum sampai ia melihat Min Ji yang pingsan di kamar Heejin.

“Min Ji-ah… Min Ji-ah…” yang lain langsung datang, dan melihat Min Ji pingsan.

“Min Ji-ah…”

“Cepat bawa dia ke rumah sakit.” Perintah Sungmin.

Kyuhyun pun berlari mengambil mobilnya, Ryeowook menggendongnya ke mobil. “Ayo masuk.” Kyuhyun menyuruh Ryeowook masuk.

Sungmin diam di kamar Heejin, ia mengerti apa yang terjadi pada Min Ji. Dia pun bergegas menuju rumah sakit, dan menemui dokter Choi.

“Dokter apa yang terjadi dengan Min Ji?”

“Sepertinya dia sudah mengingat semuanya, lebih baik kau jelaskan apa yang terjadi.” Sungmin keluar dari ruang dokter Choi dengan wajah pucat dan lemas.

“Hyung.” Panggil Ryeowook.

“Bisa kau tinggalkan kami berdua.”

“Oh… ne Hyung.” Ryeowook keluar dari kamar.

“Min Ji-ah mianhaeyo…”

“Tidak perlu minta maaf Oppa, aku malah sangat berterima kasih padamu.” Sungmin pun menjelaskan semuanya pada Min Ji.

“Ryeowook Oppa, kita berpisah saja.” Ryeowook menatap Min Ji.

“Kenapa?”

“Aku… aku… karena aku adik kandungmu, aku Heejin.” Ryeowook tetap diam.

“Tidak kau bukan Heejin, kau bohong.”

“Oppa… tapi ini kenyataannya, aku bukan adik kandung Sungmin Oppa, dia yang menyelamatkanku dari kecelakaan dua belas tahun lalu.” Ryeowook tepap diam tanpa kata.

“Oppa bisakah kau menganggapku sebagai Heejin yang dulu, sebagai adikmu?” Min Ji membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Ryeowook. Ryeowook hanya diam di tempatnya sambil menangis.

Salju turun ‘kenapa salju turun disaat seperti ini, Oppa mianhaeyo.’ Batin Min Ji. Sampainya di rumah Sungmin sudah menunggu di depan pintu, Min Ji langsung berlari ke arah Sungmin dan memeluknya.

“Oppa… apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menyukainya, tapi bukan sebagai seorang adik.” Ucapnya sambil terisak, Sungmin membelai rambut Min Ji dengan lembut.

“Sudah jangan menangis lagi, ayo masuk di sini dingin.” Sungmin menuntunnya dengan penuh sayang.

“Min Ji-ah… Omma sangat mengkhawatirkanmu.” Kata Omma Min Ji.

“Aku baik – baik saja, Omma.”

“Jadi bagaimana keputusanmu sekarang?” tanya Appa pada Min Ji.

“Appa bisakah aku tetap menjadi anakmu? Aku tetap menjadi seorang Lee Min Ji.”

“Apakah kau akan baik – baik saja?”

“Mmm… ini keputusanku, tapi aku akan tetap memberi tahu Appa kandungku.”

“Benar… itu kepusan yang baik.”

“Terima kasih Min Ji-ah.” Omma Min Ji memeluknya dengan erat.

“Kau tetap putri ibu.” Sungmin dan Appa Min Ji terharu melihatnya.

Ryeowook masih berdiri di depan Namsan sambil menangis. Kemudian dia menelpon Kyuhyun untuk menemaninya malam ini karena Appanya sedang pergi bisnis ke luar negeri.

“Ya… Ryeowookie-ah ada apa denganmu?”

“Kyuhyun-ah, ini sangat menyakitkan untukku… kau percaya kalau Min Ji teman kita itu adalah adikku…”

“Mwo… jinja…???”

“Molla… dia meminta berpisah dengannya… itu lucukan…” jawabnya kemudian menangis lagi.

“Wookie-ah kalau benar dia adikmu yang hilang dua belas tahun lalu, kau memang harus melepasnya, dia kan adkimu.”

“Tapi aku menyukainya bukan sebagai seorang adikku, Heejin-ah… Min Ji-ah…”

“Ya… Ryeowookie, Min Ji datang.”

“Aish… jinja, ya kata Ryeowook kau adalah Heejin, benarkah?”

“Ya… setan, Oppaku di mana?”

“Sepertinya dia demam, seharian dia juga tidak mau makan.”

“Biarkan aku masuk!” Min Ji pun masuk dan langsung menemui Ryeowook di kamarnya.

“Oppa ku mohon jangan seperti ini! Jadilah Ryeowook Oppa yang dulu lupakan dan Min Ji anggaplah aku Heejin yang dulu.”

“Apa keputusanmu?”

“Aku akan tetap sebagai adikmu yang dulu dan aku juga tetap sebagai Min Ji, aku memutuskan untuk tinggal dengan Sungmin Oppa, aku suda memberi tahu Appa dan dia menyetujuinya.”

Ryewook tidak bisa berkata apa – apa lagi. “Oppa, aku tetap ada di sisimu menenanimu jadi tolonglah carilah wanita yang lebih baik dariku.”

Ryeowook memeluk Min Ji dan menangis.

4 tahun kemudian

Min Ji POV

 

Wah ternyata Korea masih sama setelah empat tahun yang lalu, setelah kejadian itu aku memilih pergi ke Amerika selama beberapa tahun. Ternyata tempat ini masih sama, aku melangkahkan kakiku menuju depan pintu bandara.

“Min Ji-ah… Lee Min Ji…” seseorang memanggilku dari jauh, ternyata dia Sungmin dan Ryeowook Oppa.

“Oppa… bogosibphoso…” kataku kemudian memeluk mereka. Sebelum pulang aku pergi ke makam Omma kandungku.

Omma mianhaeyo karena aku tidak datang saat pemakamanmu, Omma dunia ini indahkan, setelah beberapa tahun berlalu seperti apa wajahmu jika masih hidup dan tinggal bersama kami, Omma bogosibpho…

 

 

-THE END-

1 Comment (+add yours?)

  1. Ifah
    May 07, 2017 @ 17:38:36

    Ceritanya bagus,tp terlalu cepat alur ceritanya

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: