If Beautiful Men Meet Handsome Girl

If Beautiful Men Meet Handsome Girl

Written By: Britannia Vinn
Romance | PG-13| Oneshoot
Kim Heechul & Park Seul Gi

***

 

Park Seul Gi POV

Rasanya baru kemarin aku mengenalnya, menjalin persahabatan dengan begitu baik walau itu dimulai dari perkenalan kami di dunia maya. Dari awal aku memang sudah menyangka hubungan semu ini akan berakhir begitu cepat. Ironisnya hal itu terjadi di saat aku mulai menyadari bahwa aku mulai menyukainya, pun sesaat setelah aku meyakinkan diriku bahwa aku mencintai namja itu.

Dia memang pria yang menyebalkan. Namun entah mengapa sisi menyebalkannya itu justru menjadi hal yang paling kurindukan jika sehari saja ia tak menghubungiku. Meskipun ia menyebalkan, faktanya hanya dia satu-satunya namja yang benar-benar memperlakukan aku sebagai seorang gadis, meskipun ia sendiri sudah tahu bagaimana sosokku yang sebenarnya.

:: Flash Back ::

Saat itu aku baru saja selesai mempercantik tampilan blog pribadiku yang berisi postingan semua judul komik amatiran karanganku sendiri. Saat akan melog-out blog pribadiku, aku baru menyadari ada sebuah komentar pada salah satu judul komik yang dikirim sepuluh menit yang lalu. Komentar itu ditulis oleh seseorang yang bernama ‘Chullie Kim’ yang menggunakan foto jjinbang sebagai grafatarnya.

Komentar itu bertuliskan: “Aku suka komikmu. Ajari aku menulis komik!” Terkesan memuji, namun juga memaksa. Sedikit sebal saat aku membacanya. Tapi walaupun begitu, dia adalah pengunjung blog-ku, aku harus tetap menghargainya seperti pengunjung blog-ku yang lain. Akhirnya, komentar itu pun aku balas.

Seullie Seul Replay:
Benarkah? Apa kau yakin?

Chullie Kim Says:
Menurutmu? 😛

Seullie Seul Reply:
Umm.. jika kau yakin, tentu kau akan berterus terang padaku.. ^^

Chullie Kim Says:
Baiklah, akan kuberitahu jika kau meberiku nomor ponselmu. Keuhaha.. 😀

Seullie Seul Reply:
-_-“ zZzZz. Bilang saja kau ingin berkenalan dengan si Penulis Komik!

Chullie Kim Says:
Aaaah~ aku ketahuan >_<
Tapi sepertinya kau terlalu percaya diri Nona! 😛 kkkkk

Seullie Seul Reply:
Itu karena kau tak mau  memberi tahuku alasan yang jelas. Siapa suruh berbelit-belit seperti itu -__-“

Chullie Kim Says:
^^

Seullie Seul Reply:
Kalau kau benar-benar serius ingin belajar tentang seni pembuatan komik, temui aku di taman Namsan. Di situ tempatku biasa mencari inspirasi untuk membuat komik!

Chullie Kim Says:
Kkkk, siapa takut?
Besok temui aku jam 4 sore.

Seullie Seul Reply:
Hey! Kenapa malah jadi kau yang menyuruhku menemuimu?!

Bebereapa menit kutunggu tak ada balasanan lagi darinya.

Aissshhh.. Dasar aneh! Seenaknya saja memutuskan.Sekarang malah menghilang.
Karena kesal, didukung rasa lelah dan kantuk yang sudah mulai menggelayutiku, akhirnya kuputuskan untuk menutup semua program aplikasi komputer yang sedang aktif  lalu mengakhirinya dengan shut down.

Aku pun lantas bergelung di kasur, merapatkan selimut hingga sampai ke batas leher. Kukatupkan kedua pelupuk mataku untuk segera berpetualang di alam mimpi. Namun aneh, meski mataku sudah sangat berat karena rasa lelah dan mengantuk, aku tak kunjung juga bisa tidur. Berulang kali aku membetulkan posisi tidurku, namun cara itu pun sama sekali tak membantu. Aku masih tetap saja tak bisa tidur. Maksud hati ingin mengosongkan pikiran agar aku bisa cepat tidur dengan nyenyak, yang ada di pikiranku malah selalu terlintas nama lelaki aneh itu. Chullie Kim.

Eh? Kenapa aku malah memikirkan orang aneh itu? Huwaaaaaaa…. apa yang kau pikirkan Park Seul Gi!!

***

Jam mata kuliah terakhir tepat berakhir pukul empat sore. Seperti biasa, yang menjadi tempat tujuanku sepulang kuliah adalah taman Namsan yang terletak tak begitu jauh dari kampusku. Selain bisa mencari inspirasi untuk mengarang gambar dan alur cerita untuk komikku, di taman itu aku bisa melepas penat dengan memandangi bunga-bunga indah yang bermekaran, terutama pada saat-saat musim semi seperti ini.

Sesampainya di taman Namsan, aku berjalan menuju bangku taman favorit tempatku biasa menyepi dan menggali ide-ide baru. Namun hari ini tak seperti biasanya, seorang gadis berkemeja merah jambu telah lebih dulu duduk di bangku itu sebelum aku datang. Lalu di mana lagi aku harus mencari bangku taman yang klop untuk kutempati?
Tidak mungkin aku duduk di sebelah gadis itu. Lagi pula gadis itu terlihat seperti sedang menunggu seseorang. Lebih baik aku cari bangku lain saja.

“Hey Tuan! Tunggu!”

Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang memanggil seseorang dari arah belakang, tadi dia menggunakan sapaan tuan, kupikir bukan aku orang yang dia panggil.

“Hey tuan yang berkemeja cokelat!” Panggilnya lagi untuk yang kedua kali.

Eh? Tadi dia bilang apa? Tuan yang berkemeja cokelat? Apakah itu berarti orang yang dia panggil dari tadi adalah aku? Aku pun semakin memperlambat langkahku sambil setengah membalikkan badanku ke arah sumber suara untuk memastikan. Kemudian  mencari seseorang yang tatapannya mungkin saja sedang tertuju padaku.
“Iya, kau!”

Ya Tuhan!!!

Aku refleks mundur beberapa langkah dan hampir terjungkal ke belakang sesaat setelah menyadari bahwa yang memanggilku tadi adalah gadis berkemeja merah jambu yang tadi kulihat sedang duduk di bangku taman favoritku. Ah, tidak tidak! Ternyata dia bukan seorang gadis, dia adalah seorang pria. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Tapi dari suara beratnya, itu saja sudah sangat mmenunjukkan bahwa ia memang benar-benar seorang pria.

“Tadi kulihat sepertinya kau baru saja pergi meninggalkan bangku ini sebelum kau sampai kemari. Apa kau sudah ada janji dengan seseorang untuk bertemu di tempat ini? Kalau iya, kau duduklah di sini, biar kucari bangku lain saja.” Pria itu tersenyum, yang membuatnya terlihat semakin cantik. Bahkan itu membuatku takjub pada kecantikannya. Bayangkan saja, dia seorang pria. Tapi faktanya dia benar-benar cantik. Aku saja kalah.
Bagaimana mungkin ada seorang namja mempunyai wajah secantik itu?
Bodohnya, aku tak menyadari bahwa ketakjubanku itu mungkin membuatku tampak seperti orang idiot saat ini. Hingga saat pria itu berjalan mendekatiku pun aku sama sekali tak menyadarinya.

Pria itu mengibaskan telapak tangan kanannya di depan wajahku, lalu memanggilku lagi untuk yang ke sekian kali. “Tuan?”

“Ya Tuhan!! Maaf, Anda tadi bicara apa?” Aku terkejut.

“ Jadi dari tadi kau tidak mendengarkanku bicara?” Pria itu balik bertanya dengan nada yang terdengar sedikit kesal.

“Aku benar-benar minta maaf!” Berulang kali aku membungkukkan badanku sebagai tanda permintaan maafku padanya. Ahh… bodoh sekali kau Park Seul Gi! Memalukan!

Pria itu menghela napas, “Tadi aku bilang, jika kau sudah ada janji untuk bertemu dengan seseorang di bangku taman ini, kau bisa menempatinya. Aku bisa mencari bangku lain!” Nada bicaranya sedikit meninggi. Hihihi. Itu karena kebodohanmu Park Seul Gi!

Ah~ sebenarnya tidak. Hanya saja bangku taman itu adalah tempat favoritku untuk mencari inspirasi saat mengarang komik. Tapi tidak apa-apa jika kau ingin menempatinya, biar kucari bangku lain saja. Lagi pula ini tempat umum bukan?”

“Jadi, kau seorang komikus?”

“Hanya amatiran…” Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal, kebiasaanku saat salah tingkah.

“Kebetulan. Tujuanku kemari juga sebenarnya ingin bertemu dengan seorang komikus internet. Tapi bedanya, dia adalah seorang gadis. Entah hari ini dia datang kemari atau tidak.” Nada bicara pria itu kembali normal, dan kini ia terlihat sedikit lebih ramah dari sebelumnya dengan menarik kedua sudut bibirnya hingga terbentuk menjadi sebuah senyum simpul.

Ingin bertemu dengan seorang komikus internet? Seorang gadis? Jangan-jangan dia…

“Baiklah kalau begitu, sebaiknya aku mencari bangku lain saja. Maaf sudah menduduki bangku favoritmu. Sampai jumpa..”

Aku masih tertegun di tempatku saat pria itu mulai beranjak pergi dari hadapanku.

“Ttt tunggu!!!” Cegatku sebelum pria itu pergi terlalu jauh.

Pria itu berhenti lalu membalikkan badan.”Ya? Ada apa?” Tanyanya singkat.

“Apa gadis yang kau maksud itu adalah seorang pengarang komik internet bernama Seullie Seul?”

“Ya, betul sekali!” Jawab pria itu sumringah.

“Lalu, apa kau sendiri bernama Chullie Kim?”

“Ya, betul juga. Kenapa kau bisa tahu sampai sedetil itu? Jangan-jangan kau mata-mata ya?!” Tuduhnya dengan nada bercanda.

“Sse.. sebenarnya aku.. aku adalah Seullie Seul yang kau maksud, nama asliku Park Seul Gi!”

“APA??!! Bagaimana mungkin? Seullie Seul itu perempuan , bukan bocah lelaki sepertimu!”

“Hey! Kau salah sangka Tuan! Aku perempuan, bukan bocah lelaki seperti yang Tuan kira!!!”

“Jjj ja jadi kau Seullie Seul si pengarang komik internet itu? Tidak mungkin, itu tidak mungkin! Aku masih tidak percaya! Seullie Seul yang kulihat di foto itu sangat berbeda dengan dirimu! Dia sangat imut! Kau penipu!” Tuduh pria itu syok.
Imut? Apa dia sedang mengigau? Dia bilang aku imut? Yang benar saja.
Ya Tuhan! Tunggu! Itu pasti karena dia melihat foto yang kujadikan gravatar di blog pribadiku! Sebenarnya aku tak seimut seperti yang ada di foto, aku bahkan mengeditnya agar terlihat lebih bagus dari aslinya. Dalam kehidupan nyata, aku tak seperti gadis lain yang suka berdandan, mengenakan mini dress, atau menata rambut panjangnya. Rambut pendek beserta  seluruh penampilanku tak ubahnya seperti seorang lelaki, hingga itu selalu membuat orang-orang yang berada di sekelilingku memandangku sinis dan menganggapku aneh. Oleh sebab itulah aku lebih suka menyendiri dan tak punya banyak teman di dunia nyata, aku lebih suka menghabiskan waktuku berada di depan komputer untuk mengarang komik dan berinteraksi dengan teman-temanku di dunia maya.  Sebenarnya bukan tanpa alasan aku berpenampilan seperti ini. Ini berawal sejak usiaku 13 tahun, saat kebencianku terhadap Ayah yang suka sekali memukul Ibuku telah sampai pada puncaknya. Itulah mengapa aku lebih memilih untuk berpenampilan seperti anak lelaki, aku tak ingin terlihat sebagai gadis lemah di hadapan semua orang. Meskipun kenyataannya aku tak pernah sekuat itu, setidaknya hal itu mampu membuatku tak tampak rapuh di hadapan mereka.

“Ya ampun Tuan… Foto itu bisa membodohi! Gadis buruk rupa saja bisa disulap menjadi cantik melalui aplikasi edit foto!”

Pria itu memutar bola matanya ke atas, ekspresinya tampak seperti sedang berpikir.

“Betul juga..” Gumamnya, namun masih dapat terdengar dengan jelas olehku.

“Tapi aku masih belum percaya sebelum kau menunjukkan bukti bahwa kau adalah Seullie Seul!” Timpal pria itu.

“Baik, siapa takut! Akan kutunjukkan bukti bahwa aku memang benar-benar Seullie Seul yang kau maksudkan itu!” Tukasku.

“Bagaimana kau akan menunjukkannya? Ujar pri itu dengan nada menantang.

“Mari ikut aku!” Aku pun berjalan menuju bangku taman favoritku yang tadi sempat diduduki pria itu, disusul Ia yang berjalan mengekoriku.

Pria itu memperhatikan dengan seksama saat aku mulai menggambar sketsa tokoh utama dari salah satu komik karanganku yang berjudul Death Love. Disusul kemudian menggambar tokoh lawannya. Hanya dalam waktu sepuluh menit, aku pun mampu menyelesaikan satu halaman bagian komik yang kubuat secara dadakan itu. Ekspresi yang bisa kutangkap dari wajah pria cantik itu, ia tampak kagum melihat kemampuanku. Tak berapa lama berselang dan saat ia tersadar dari ketakjubannya, pria itu bertepuk tangan sembari menggelengkan pelan kepalanya dengan ekspresi muka yang menunjukkan bahwa Ia masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

“Aahh~ jadi benar, kau ini Seullie Seul?” Tanyanya.

“Tentu saja iya..” Tukasku.

“Luar biasa!! Walau kau masih bocah, kau sungguh hebat! Tapi aku tak menyangka, Seullie Seul yang kuidolakan ternyata begini wujud aslinya. Haaaahahahaaaa!” Pria itu tertawa puas. Benar-benar menyebalkan.

“Apa?? Apa maksudmu?”

“Ah.. tidak tidak. Maksudku, kau itu keren sekali. Bahkan kau sangat tampan. Ketampananmu saja melebihi seorang pria. Haahahaha!” Dia masih saja tertawa. Entah karena ke-syok-annya yang keterlaluan, ataukah karena dia menganggap penampilanku ini lucu. Entahlah. Yang jelas, itu benar-benar membuatku kesal.

“Hey! Apa kau sendiri tidak melihat bagaimana dan seperti apa dirimu?” Kataku akhirnya. Emosiku sudah hampir meledak saat ini.

“Apa?! Maksudmu?”

“Iya, dirimu. Kau itu seorang pria. Tapi wajahmu itu cantik. Bahkan kecantikanmu itu melebihi kecantikan dari seorang wanita sungguhan. Haaaaahahahahahhaha” Aku balik menertawainya.

Tapi berbeda denganku, sepertinya dia tak terlihat kesal sama sekali meskipun kukatai seperti itu. Ia justru tersenyum menanggapi perkataanku, seolah merasa senang bahkan bangka jjika disebut cantik.

“Dasar bocah!”  Katanya seraya mengacak rambutku.

“Mungkin jiwa kita tertukar saat tuhan sedang menciptakan raga kita! Waahahahaha!” Timpalnya dengan candaan yang juga membuatku tak henti-hentinya tertawa.

“Eh, sudah-sudah.. tertawa terus perutku jadi sakit, haha, ya ampun…” Ujarku dengan tawa yang masih tersisa.

“Haha, baiklah baiklah…”

Kemudian kami pun berhenti tertawa, sejenak untuk mengambil napas dan mengaturnya kembali setelah lelah tertawa selama beberapa menit.
Setelah napasnya kembali normal, Chullie Kim mengulurkan tangan kanannya padaku.

“Sekarang aku percaya bahwa kau adalah tuan, ups.. maksudku Nona Seullie Seul. Panggil saja aku Chullie.”
Hmm.. baiklah, kalau begitu kau bisa memanggilku Seullie, atau Seul Gi, atau apalah terserah. Asal jangan panggil aku bocah karena aku sudah dewasa!”

“Dewasa? Benarkah? Apa itu berarti aku boleh memanggilmu Nona Tampan?!”

“Hey! Itu juga jangan!!!”

“Tadi katamu aku boleh memanggilmu apa saja selain bocah. Itu tandanya kau memperbolehkanku memanggilmu Nona Tampan.. Hahaha.. “

Aku bergeming. Belum apa-apa dia sudah sukses membuatku kesal..

“Ya ampun… gadis tomboy ini ternyata pemarah sekali.. aku hanya bercanda..
Maaf deh mmaaf…!!! “ Pria cantik itu kembali mengacak rambutku untuk yang kedua kalinya. Ya Tuhan. Wajahnya berada persis sejajar di depan wajahku.

DEG

Melihat sorot mata bulatnya saat menatapku, kenapa rasanya aneh begini?
Seperti ada puluhan, bahkan ratusan kembang api yang meledak-ledak di kepalaku.
Semua yang ada di sekelilingku seolah behenti bergerak. Begitu juga dengan udara di bumi yang seakan-akan berhenti berhembus. Membuatku kehabisan pasokan oksigen di paru-paruku yang kemudian membuatku sulit untuk bernapas. Sebenarnya perasaan macam apa ini? Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

“Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat yah. Sudah jam lima sore, aku sudah harus kembali ke kantor. Sepertinya niatku untuk belajar membuat komik padamu harus tertunda dulu.” Kata-kata Chullie seketika itu segera menyadarkanku dari lamunan.

“I. iya. Baiklah kalau begitu!”

“Aku harap kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa Seulli!.. “

Aku tersenyum, lalu dia membalas senyumku sambil perlahan menjauh dari hadapanku. Melambaikan tangannya, kemudian terakhir yang kulihat hanyalah punggungnya yang semakin lama semakin menjauh dari pandanganku.

***

“Aku harap kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa Seulli! “ Kata-kata terakhir yang kudengar dari pria cantik itu entah mengapa terus-menerus berkelebat di kepalaku. Seperti arwah yang tak henti-hentinya menghantui hidupku. Dan seperti malam sebelumnya, aku mendadak insomnia hanya karena memikirkannya.

Aku bangun dan duduk di tepi ranjang tempat tidurku, aku mengacak rambutku sendiri. Frustasi. Sejak kehadirannya dalam hidupku, wajah pria itu selalu muncul menghantuiku. Di kampus, di rumah, di taman Namsan, bahkan saat aku bepergian ke tempat lain pun wajahnya selalu mondar-mandir di pelupuk mataku. Kau tahu? Itu semua membuat semua kegiatan yang kukerjakan tak ada yang benar sama sekali. Tugas kuliah berantakan, mengarang komik pun jadi tak semudah seperti biasanya. Dan sialnya, ia tak pernah menemuiku lagi sejak pertemuan kami di taman sore itu. Dan itu membuatku seperti dehidrasi, seperti seseorang yang kehausan di tengah padang pasir dan tak ada setetes air pun yang membasahi kerongkonganku. Huweeehhh.. betapa menyiksanya perasaan seperti ini. Padahal sebelumnya aku tak pernah mengalami hal seperti ini saat bertemu dengan lelaki tampan manapun. Aku sama sekali tak tertarik, dan hampir saja membenci seluruh pria di bumi. Bagiku semua pria sama saja. Menyebalkan, menjengkelkan. Tapi dalam sudut pandangku, Chullie sangatlah berbeda. Sisi menyebalkannya justru membuatku ingin kembali bertemu dengannya. Aaaaarrgh!!! Benar-benar! Pria itu!! Kenapa selalu menghantuiku seperti roh gentayangan???

***

Bagiku, hari Minggu tak ubahnya seperti hari-hari biasanya. Selalu sendiri, selalu monoton. Entah mengapa baru detik ini aku baru merasa benar-benar kesepian. Seperti butiran debu yang terhempas, terombang-ambing tanpa tahu arah dan tujuan.
Sudah hampir dua jam aku duduk di bangku taman ini, namun hampir selama itu pula tak ada satu pun yang aku kerjakan. Kegiatan yang kulakukan hanya menikmati hembusan angin musim semi yang harum menerpa wajahku. Sambil sesekali menatap langit biru yang cerah yang menaungiku, dan bunga-bunga nan indah bermekaran yang terhampar di sekelilingku.
Maksud hati ingin menghabiskan waktu dan menenggelamkan diri dalam fantasiku untuk kembali mengarang komik, namun tanpa alasan yang jelas aku justru kehilangan mood untuk mengerjakan itu semua. Saat ini pikiranku seperti gulungan benang kusut yang tak bisa dibetulkan lagi. Tak ada satu pun ide yang masuk untuk mengarang bahkan hanya untuk satu halaman komik. Alhasil, komputer jinjingku hanya menganggur hampir selama dua jam, dan sebentar lagi laptopku yang malang akan segera kehabisan daya baterai.
Kupejamkan mata, menghayati setiap hembusan udara yang kuhirup lalu kulepaskan kembali dengan bebass.

Hitam…

Kosong…

Gelap…

Kemudian perlahan mulai muncul aura merah jambu yang entah dari mana asalnya, dan aura itu lambat laun membentuk siluet seorang pria yang semakin lama semakin jelas sosoknya. Sosok itu berdiri membelakangiku. Sepertinya sebentar lagi dia akan menoleh. Dan sepertinya aku kenal sosok itu. Tapi aku tidak yakin itu adalah pria yang kukenal.

Saat perlahan kubuka mataku kembali…

“TADAAAAAA!!!!”

“OH MY GOD!!!!” (DUUGHHH!!!!)

Seorang namja berjaket merah muda yang memakai topeng Jjinbang tiba-tiba datang mengagetkanku. Sontak aku terkejut dan itu membuatku refleks membogem mentah wajahnya yang tertutup oleh topeng. Sepertinya tinjuku terlalu keras. Terang saja tinjuku tadi sukses membuatnya mengerang kesakitan dan melepas topeng yang masih terpasang di wajahnya.

“Ya Tuhan! Tuan Kim!! Ternyata kau??”

“Hey!! Nona Tampan!! Apa kau tidak punya rasa humor sedikitpun? Niatku hanya ingin bercanda, tapi kenapa kau malah meninjuku??!!” Protesnya bersungut-sungut.

“Ma. Maafkan aku… habisnya kau mengagetkanku, siapa suruh kau tiba-tiba muncul di depan wajahku dengan topeng itu??”

“Lihat akibat perbuatanmu, pasti bogemanmu itu menodai wajahku sekarang. Wajahku jadi tak mulus lagi akibat memar dari tinjumu!!!”

“Ya Tuhan… rupanya kau ini sangat mempedulikan kecantikanmu yah? Haahahahaha!”

“Hey! Hentikan!! Bukannya mencari plester luka malah menertawaiku! Dasar bocah!!”

“Sebenarnya siapa yang bocah? Sepertinya bahkan sekarang kau lebih kekanakan dari pada aku. Kau seperti bayi besar! Dipukul sedikit saja langsung menangis. Haaahahahaaaa

“Hey!! Kau!!!! Itu sih namanya bukan sedikit!”

“Aaaahh… iya iya… ampuuuunnnn… sebentar ya… aku carikan obat dulu untuk lukamu, adik kecil. Haahahaha!” Tawaku lepas dengan sendirinya akibat melihat sifat kekanakannya itu. Padahal usianya sudah dewasa, tapi hanya karena luka sedikit saja dia sampai seberisik itu.

Aku pun berlari menghindari tangannya yang sebentar lagi akan mendaratkan jitakannya ke kepalaku. Sekaligus pergi ke minimarket terdekat untuk membeli plaster dan obat luka untuk mengobatinya.

***

Ia duduk di sebelahku, wajahnya tepat berada di hadapanku. Kami sama-sama membisu saat kukompres luka memar di wajahnya. Kali ini ia diam, tak lagi super berisik seperti tadi.  Sialnya, itu malah membuat detak jantungku tak terkontrol. Membuatku kehabisan oksigen untuk bernapas, membuat kerongkonganku tercekat, lidahku kelu, dan seakan-akan bibirku terkunci rapat. Pun dengan kelopak mataku yang rasanya seperti ditarik oleh beban berat sehingga untuk berkedip pun rasanya maha sulit. Gejala yang sama persis seperti ketika aku susah tidur. Dan sialnya lagi, hal yang kuharapkan sejak tadi tak juga ia lakukan.  Aku berharap ia akan menutup matanya agar setidaknya gejolak aneh ini sedikit mereda. Malahan yang ia lakukan justru mempertahankan matanya yang bulat itu tak berkedip sama sekali dengan fokus yang tertuju pada wajahku. Bukannya meredakan, yang ada justru membuatku malah semakin gugup bukan main.

“Maaf, aku baru sempat menemuimu lagi.” Ucapnya tiba-tiba, mengenyahkan keheningan yang semula sama-sama mengunci kami dalam diam.

“Kkek.. kenapa harus minta maaf? Apa aku pernah memintamu untuk menemuiku.” Jawabku sekenanya.

“Ya ampun.. (PLETAKK!!). Kenapa kau tidak berterus terang? Aku tahu kau memikirkanku sepanjang malam.”

“HEEEY!! SAKIITT! Eh? Dari mana kau tahu?!”

Hahaha! Sudah kuduga!”

“Kau!!Benar-benar! Ini, obati sendiri saja lukamu!” Amukku sembari melemparkan plaster dan kompres luka ke arahnya.

“Hey bocah! Kau sudah melukai wajah mulusku, tapi malah tak mau bertanggungjawab!!!”

“Salah sendiri memancing kekesalanku! Aku mau pulang. Selamat tinggal!”

“Heeeeyyyyyyyy!!! Aku tidak akan mengampunimu…!!!!”

“Kejar aku kalau bisa!”

“AWAS KAUUU!!!!”

Aku berlari dari kejaran Chullie. Kulebarkan langkah lariku agar Ia semakin sulit mengejarku. Aku menyambar sebuah sepeda dan langsung mengayuhnya dengan cepat  saat kulihat deretan sepeda yang memang sengaja disediakan untuk para pengguna jalan berderet rapi di pinggir trotoar. Kukira Chullie sudah menyerah. Namun rupanya dia bukanlah tipe pria yang akan menyerah dengan semudah itu. Saat aku menengok ke belakang, kulihat Ia masih mengejarku dengan sepeda lain. Bodohnya, ia justru meninggalkan mobilnya yang diparkirkannya di dekat taman dan lebih memilih sepeda yang kecepatannya jelas kalah jauh dari mobilnya untuk mengejarku.

Sementara Chullie masih mengejar, aku semakin mempercepat kayuhan sepedaku. Hoho, ini benar-benar seru. Tiba-tiba terbesit dalam benakku untuk pergi ke sungai Han, aku sudah lama tidak ke sana sejak musim dingin berakhir. Akhirnya kubelokkan sepedaku tepat di belokan jalan menuju sungai Han. Tak peduli dengan Chullie yang entah masih ingin mengejarku atau tidak. Nyatanya dia sudah tak kelihatan lagi berdasarkan jarak pandang yang bisa kutangkap saat ini. Mungkin dia kelelahan. Kuhentikan sepedaku persis di depan sungai Han. Lelah sekali hingga sekujur badanku seakan bermandikan peluh. Aku duduk di salah satu undakan anak tangga yang tepat menghadap ke sungai Han. Hari sudah menjelang petang, hingga kelap kelip lampu jalanan turut menghiasai sungai Han yang terlihat indah dari kejauhan. Sesaat aku merasa senang bisa mengalahkan namja yang tiap malam membuatku kelimpungan itu. Tapi setelah itu aku juga merasa kasihan sekaligus merasa bersalah padanya. Aku yang membuat pipinya memar, sedangkan aku malah membuatnya kelelahan dan pergi meninggalkannya. Sama sekali tak bertanggung jawab. Kenapa kau bodoh sekali sih Park Seul Gi? Saat namja itu tidak datang menemuimu, kau benar-benar kalang kabut dibuatnya, tapi setelah dia datang kau justru meninggalkannya.

“Bodoh!” Desisku.

“Siapa yang bodoh hum?”

“Kkk kau??” Tiba-tiba, tanpa kusadari kedatangannya, Chullie muncul dan duduk di sebelahku, sembari menyodorkan sebuah buku.

“Ini apa?”

“Perhatikanlah komik itu baik-baik sejak dari sampulnya. Masa kau tidak mengenalinya?” Perintahnya dengan nada sedikit ketus.

Perhatikan dengan baik? Memangnya apa yang menarik dari komik ini?
Awalnya aku menunduk, menatap buku yang disodorkan Chullie kepadaku dengan bingung, namun setelah mengenali gambar sampulnya, mataku melotot dan tubuhku menegang.

“Ini sepertinya.. Eh.. I.. Ini kan.. komik karanganku. Bagaimana kau bisa membukukannya???!!”

“Kau sangat berbakat menjadi komikus. Sayang sekali jika kau hanya mempublikasikannya lewat internet. Akan lebih bermanfaat jika kau membukukan dan memasarkannya!” Chullie terlihat begitu bersemangat.

“Apa? Tapi aku tak pernah berpikir sampai ke situ. Aku kurang percaya diri.” Keluhku. Lalu menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal.

“Aku yang akan membantumu. Percayalah padaku!” Tangannya mantap memegang bahuku. Mata bulatnya berbinar.

DEG.

Perasaan itu muncul lagi.

Melayang.. seolah jiwaku lepas dari raga yang membungkusnya.

Lagi-lagi tatapan mata bulat namja ini membuatku ingin pingsan dan berhasil mengunci rapat mulutku.

Pegangan kuat tangannya di kedua bahuku seolah mentransferkan sebuah kekuatan besar yang mampu membuatku percaya padanya.

“Bagaimana?” Tanyanya sumringah.

“Ak akku percaya padamu!” Jawabku setengah tergagap.

Lalu ia menyerahkan sebuah benda tipis berbentuk kotak kotak kecil yang ia ambil dari saku jaketnya. “Kalau begitu, kau simpanlah ini. Itu kartu nama seorang creative directur dari sebuah perusahaan penerbit terkenal yang kujamin akan bersedia membantumu.”

“Ba. Baiklah..”

End of Park Seul Gi POV

***

Chullie Kim POV

Entah sejak kapan perasaan semacam ini muncul lagi dalam benakku. Aku pun tak yakin ini adalah perasaan yang sama. Dulu, setelah dikecewakan oleh seorang gadis, aku memang pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tak jatuh cinta lagi pada siapapun. Tapi sekarang aku malah hampir saja mengingkarinya. Tapi faktanya hati lebih pintar dari sekedar lisan, hati tak pernah bisa dibodohi dan dibohongi. Tiap kali bertemu dengannya, seperti ada rasa yang ingin segera diledakkan karena perasaan bahagia yang meluap-luap. Namun jika pertemuan itu urung, luapan kebahagiaan itu seakan surut, dan lama kelamaan akan semakin habis tanpa sisa. Akhirnya aku sendiri yang akan tersiksa karena perasaan itu.

Saat memandangnya seperti ini, hati yang panas membara akan terasa seperti diguyur air segar sehingga kembali menjadi dingin. Begitu damai. Ia tertidur dengan hembusan napas yang teratur di jok belakang mobilku. Sepertinya dia kelelahan bermain denganku seharian. Jika saja bisa, walau aku pun lelah, rasanya aku rela menanggung semua lelahnya hanya demi melihat tawa renyah gadis tomboy itu lagi.

“Hey Chul! Sadarlah! Sadar! Apa yang sedang kau pikirkan?!” Omelku pada diri sendiri.

Saat tersadar dari lamunan, kutampar pipi kiriku sendiri. Bodoh, kenapa aku berpikiran aneh seperti ini? Apa-apaan ini? Harusnya aku bisa lebih menjaga perasaan dan menjaga profesionalitas kerjaku. Alasan awal aku mendekatinya, tak lain hanya karena aku sangat tertarik pada setiap komik yang dikarangnya. Lebih-lebih hanya karena aku ingin membantu membuat karya-karyanya terkenal. Aku sendiri tak pernah menyadari rasa tertarik yang diawali dari sebuah komik akan sampai sedalam ini, hingga mencapai batas rasa suka pada pengarangnya yang bahkan berkarakter aneh dan tak lazim seperti gadis-gadis lain seusianya.

Gadis tampan itu masih tertidur pulas saat mobilku telah sampai di depan rumah mungilnya. Melihatnya yang masih enak-enakan tidur, sisi jahilku tiba-tiba muncul lagi. Kuambil tisue yang ada di atas dashboard, kuremas-remas hingga membentuk bola berukuran kecil. Lalu kulempar bola tisue itu ke kepalanya. Merasa ada yang melemparinya, gadis itu mengerjapkan kedua matanya dan bangun dengan malas.

“Tuaan Kim!! Barusan kau melempariku tisue kan?” Gerutunya masih setengah sadar.

“Enak saja! Kalaupun iya, itu hanya akan mengotori tanganku. Untuk apa aku melakukannya. Ini rumamu kan? Alamatnya cocok dengan apa yang kau tunjukkan lagi. Sekarang cepat turun! Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi lalu pergi tidur! Haahaa!”

“Hey!! Aku bukan anak kecil!!”

“Iya, tapi bocah! Haha!”

Issshhh.. benar-benar kau ini!!”

Dengan malas-malasan pula ia membuka pintu mobil dan keluar dengan gontai, pasti dia sangat mengantuk. Hihi. Lebih baik kukerjai saja dia sekalian. Kubunyikan klakson sekeras-kerasnya hingga ia terlonjak kaget.

(TIIINNN TIIIIINNN) “Sampai ketemu lagi…!!! Jangan lupa sebelum tidur baca do’a dulu yaaa!!!” Godaku sambil menjalankan kemudi dan kembali membunyikan klakson sekeras-kerasnya.

“AWAS  KAUUU!! KALAU KITA BERTEMU LAGI AKU AKAN MENCINCANGMU TUAN KIM!! Grrrrrrrrrrrrr!!!!!” Amuknya. Haha. Kabuuuuuuuuuuuurrrrr!

End of Chullie Kim POV

***

Park Seul Gi POV

Lagi-lagi merah jambu.
Sejak bertemu dengannya, apa lagi sejak belakangan ini kuketahui bahwa dirinya adalah seorang creative directur sebuah perusahaan penerbitan yang  siap membantuku dan membuat intensitas pertemuanku dengannya semakin sering untuk membahas rencana penerbitan komik-komikku, penglihatanku seolah ditakdirkan untuk selalu menemui warna yang sejujurnya tak kusukai itu ke mana pun aku pergi, kapan pun dan di mana pun aku berada. Baik namja itu dan sejuta warna merah jambu yang selalu mengirinya, selalu sukses menghantui pikiranku.

Begitu juga dengan apa yang kualami hari ini. Padahal kegiatan yang kulakukan sejak tadi hanya duduk, mencari inspirasi yang hingga kini tak juga aku dapatkan. Namun entah sudah berapa kali aku melihat warna kemayu itu, bahkan mungkin puluhan kali warna itu berseliweran di depan mataku. Baju, balon, sepeda, bahkan kaos yang dipakai sepasang kekasih, semuanya berwarna merah jambu. Hingga itu membuatku sempat berpikir, mungkin hari ini adalah hari merah jambu.

Baru saja aku ingin beranjak dari tempat ini, tiba-tiba kudengar suara pria yang sudah tak asing lagi di telingaku, mengajukan sebuah pertanyaan yang sepertinya ia tujukan padaku. Yang membuatku mau tak mau harus menoleh ke arah sumber suara untuk memastikannya.

End of Park Seul Gi POV

Chille Kim POV

Sudah kuduga, gadis itu pasti berada di sini. Lagi-lagi ia menyendiri. Jika tidak sedang bersama laptopnya, sebuah buku gambar tebal lah yang menjadi teman setianya.
Entah sejak kapan sungai Han kini menjadi tempat favoritnya yang kedua setelah taman Namsan.

“Apa kau selalu seperti ini?”

Gadis itu menoleh, rupanya ia sudah tak  asing lagi dengan suaraku. Ia tak terhenyak lagi seperti kejadian yang sudah-sudah ketika ia mendengar suaraku yang selalu muncul secara tiba-tiba.

Aku melangkah mendekatinya, membuatnya yang sudah akan beranjak dari tempat ini harus kembali mengurungkan niatnya.

“Maksudmu?” Seul Gi balik bertanya tepat saat aku telah duduk di sebelahnya. Ia memandangkangku dengan alis berkerut samar.

“Selalu seperti ini, sendirian. Apa kau tidak kesepian?”

Ia tersenyum, kedua matanya memandang sejurus pada sungai Han yang terbentang luas di hadapannya. Senyum tulus yang ia ukir hanya untuk menyembunyikan kesedihan yang selalu ia pendam seorang diri. Dan aku amat benci itu. “Bagiku… sendiri lebih baik…” Ucapnya seolah tertuju pada dirinya sendiri.

“Hey! Bocah! Saat ini kau tidak sedang sendiri. Ada aku di sampingmu. Apakah itu berarti kedatanganku membuatmu tidak merasa lebih baik?”

Ck, memang susah yah kalau bicara denganmu. Bukan seperti itu  yang kumaksud!” Gadis tomboy itu menggembungkan pipinya.

“Kalau begitu, berarti kehadiranku membuatmu merasa lebih baik? Benar begitu bukan?”

Ia mendengus pelan, lalu bangkit dari tempat duduknya. “Ck, terserah kau saja lah! Sekarang aku mau pulang dulu. Eommaku sendirian di rumah.”

Rupanya dia kesal lagi akibat ulah jahilku untuk yang ke sekian kali terhadapnya. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya dengan guratan kekesalan yang tergambar jelas di wajahnya. Jujur, ada rasa kecewa yang terbesit dalam hati kecilku saat aku mengulangi kesalahanku, yakni membuat gadis itu kesal, lebih-lebih membuatnya marah karena ulahku. Namun aku tak punya pilihan lain. Semata-mata semua itu kulakukan, karena hanya dengan cara itu aku bisa merasa lebih dekat dengan gadis tomboy itu. Entah dorongan setan dari neraka mana hingga membuatku seperti ini hanya karena seorang gadis tomboy yang bahkan tidak pernah memakai make up itu.

Melihat kaki Seul Gi yang satu langkah mulai menjauh dari tempatku, entah kekuatan apa yang membuat tanganku refleks seakan bergerak dengan sendirinya untuk mencegahnya pergi begitu saja dengan meraih dan memegang pergelangan tangannya.

“Tunggu!” Ujarku tercekat.

End of Chullie Kim POV

 

Park Seul Gi POV

 

“Tunggu!” Ujarnya dengan nada tercekat.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Se. Sebenarnya.. aku datang ke sini untuk memberitahumu sesuatu.”

“Apa?”

“Besok jam 10 pagi datanglah ke tempat favoritmu!” Seulas senyum kecil tersungging dari sudut bibirnya.

“Besok aku memang sudah berrencana ingin ke sana. Memangnya ada apa?”

Eits… tapi besok berbeda! Besok akan jadi hari spesial untukmu! Sebenarnya untukku juga. Uhmm, maka dari itu besok kau harus berpenampilan sebaik mungkin. Ok?”

“Hari spesial untukku? Maksudmu?”

“Dasar bodoh! Kau sudah lupa ya?” Besok adalah perilisan novel seri pertamamu yang berjudul Death Love!” Seenaknya saja dia mengataiku bodoh lalu memukul kepalaku. Ingin rasanya aku membalas dengan memukul balik kepalanya. Tapi karena ia tampak kesal, aku pun mengabaikan keinginanku itu dan mengalihkannya dengan responku terhadap acara perilisan novel itu.

Whoaa.. mian mian. Karena terlalu banyak melamun, aku hampir saja melupakannya.” Aku terkekeh.

“Benar-benar!! Jika bahkan besok kau melupakannya lagi, aku akan menelanmu hidup-hidup Park Seul Gi!” Ancam pria cantik itu, sedikit menggeram dan memelototkan kedua bola matanya.

Walaupun sedang mengancam seperti itu, wajahnya tetap terlihat cantik. Baru kali ini aku mengagumi kecantikan seseorang. Terlebih, kecantikan yang kukagumi itu bukanlah kecantikan yang dimiliki oleh seorang gadis, melainkan dimiliki oleh seorang pria dewasa aneh yang suka sekali marah-marah. Mungkinkah rasa kagum ini lebih dari rasa kagumku terhadap kecantikannya yang tak lazim itu? Entahlah. Satu hal terjelas yang kutahu, hanya jika berada dengan jarak sedekat ini dengannya, apa lagi saat aku berada tepat di hadapannya, itu saja mampu membuatku lupa untuk bernapas. Baru pernah aku mengalami hal seaneh ini. Mungkinkah ini adalah hal yang sering orang-orang sebut cinta?

“Hey! Bocah! Kenapa kau mentapku seperti itu? Kau suka padaku ya?” Omelan Chullie membuyarkan semua lamunanku, hingga aku pun refleks mengrjapkan kedua mataku berkali-kali untuk menjernihkan pikiranku yang semula dipenuhi lamunan tentang pria yang ada di hadapanku ini.

“Hey Tuan Cantik! Sepertinya kau terlalu percaya diri!”

Ia terkekeh.

***

Entah sudah berapa menit lamanya aku memandang diriku sendiri di depan cermin. Hadir sebagai tamu utama di sebuah acara, haruskah aku, seorang Park Seul Gi tampil cantik? Tapi aku tidak pernah punya gaun maupun mini dress yang biasa dikenakan gadis seusiaku jika menghadiri sebuah pesta. Lagi pula aku juga tidak pernah berniat apa lagi berminat untuk mengenakannya. Membayangkannya saja aku sudah merasa jijik. Membayangkan tubuhku dibalut mini dress yang ke-barbie-an itu. Membuatku susah berjalan, bahkan susah juga walau sekedar untuk bergerak. Harus menguncupkan kedua paha ketika duduk. Ah, sama sekali tidak cocok, sama sekali bukan gayaku. Kurasa tak harus cantik, berpenampilan bersih dan rapih saja bagiku itu sudah cukup. Dengan kemeja biru, dipadu dengan tuxedo hitam, kurasa aku akan merasa percaya diri saat mengenakannya.

***

Acara perilisan komik Death Love-ku sungguh meriah, dengan pesta kebun yang dihadiri oleh para tamu yang jika dilihat dari penampilannya adalah orang-orang yang mempunyai jabatan tinggi di dalam perusahaan yang menaunginya. Ya Tuhan, berada di tempat ini  membuatku merasa sangat kecil. Terlebih lagi, sejak awal aku hadir di acara ini, entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal. Jika dipikir-pikir, hanya untuk sebuah acara perilisan komik, kupikir tak harus mengadakan pesta yang semegah dan semewah ini. Lebih anehnya lagi, kenapa tak ada satu orang pun yang kukenal di tempat ini? Tak ada seorang pun yang mengucapkan selamat padaku. Bukankah ini acara yang diadakan untuk perilisan komik pertamaku? Dan Chullie, ke mana dia? Sedari tadi aku belum melihat batang hidung pria cantik itu.

Walau baru beberapa menit berada di tempat ini, aku sudah merasa bosan bukan kepalang. Ingin rasanya melarikan diri dari tempat menjenuhkan ini. Tapi itu tidak mungkin. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan berkeliling walau hanya di sekitar lokasi pesta sembari menunggu Chullie datang.
Saat kedua bola mataku terarah pada pagar taman yang terbuat dari tanaman bonsai, aku pun langsung menaruh perhatianku pada jejeran bunga papan ucapan selamat yang disandarkan di pagar bonsai itu. Mungkinkah bunga papan ucapan selamat yang terlihat mewah itu ditujukan untuk pengarang komik pemula sepertiku? Aku sungguh penasaran, lalu kuhampiri jejeran bunga papan ucapan selamat itu dengan maksud ingin mengetahui setiap kata yang dirangkai dan disusun apik di atas bunga papan itu.

DEG

Tatkala kedua bola mataku mulai menyusuri apa yang dapat terbaca dari bunga papan ucapan selamat itu, tiba-tiba dadaku sesak.

“Selamat atas perunangan Kim Hwe Chul dan Han Hye Sun”.

Apa maksud semua ini? Jadi, pesta ini bukan untuk perilisan komik pertamaku? Melainkan untuk acara pertunangan Chullie? Inikah yang dimaksud Chullie sebagai hari spesia baginya? Bodoh! Sungguh, baru kali ini aku merasa menjadi wanita terbodoh yang mudah saja untuk dipermainkan. Tapi bahkan aku pun tak pernah mengira bahwa  rasanya harus sesakit ini. Sepanjang hidup aku tak pernah membodohi seorang pun, tapi kenapa harus semudah ini aku dibodohi seseorang? Saat ini aku merasa seperti jatuh ke dalam lubang paling dalam. Gelap, sakit, tak ada seorang pun yang tahu. Bahkan tak ada seorang pun yang mampu menyelamatkanku dari lubang ini. Tak semudah menggambar karakter komik yang rumit sekali pun, kali ini aku sendiri tak mampu menggamarkan betapa berantakannya hati dan perasaanku saat ini. Seperi diporakporandakan beliung yang tiba-tiba datang kemudian pergi semaunya sendiri. Entah seberapa remuk diriku saat ini, aku sendiri tak tahu dan tak ingin mengetahuinya. Kedua lututku lemas seketika, tapi di sini ada banyak orang, aku harus tahu diri, sekuat tenaga aku harus menahannya agar tidak mengambrukkanku ke tanah. Langkah kakiku terasa limbung dan gontai, sebisa mungkin kuseret kedua kakiku untuk segera pergi dari tempat ini. Tersaruk-saruk aku melangkah, tanpa mempedulikan tatapan para tamu undangan lain yang memandangku dengan tatapan aneh. Berada di sini hanya membuatku merasa seperti anak ayam yang tersesat di antara kawanan serigala. Kini penglihatanku mulai kabur, digenangi air yang entah sejak kapan mulai merembes dari sudut-sudut mataku tanpa kehendakku sendiri.

:: End of Flash Back ::

 

Rupanya dunia masih belum mau berpihak padaku. Baru saja aku mulai menyadari bahwa aku mulai menyukainya, pun sesaat setelah aku meyakinkan diriku bahwa aku mencintai pria itu, sebuah kenyataan pahit tiba-tiba datang seperti badai yang meluluh-lantakkan perasaan dan harapanku. Yah, aku mencintainya. Tapi dengan meyakinkan diri bahwa aku mencantianya, itu tak kan mampu merubah apapun. Semuanya sudah terlambat, perasaan ini hanya akan berakhir sia-sia belaka. Bodohnya, kenapa hingga detik ini pun aku masih saja ingin mempertahankannya? Pertama kali jatuh cinta, harus secepat inikah aku merasakan betapa pedihnya sakit hati? Ini sungguh tidak adil bagiku. Jika tahu akan begini, kuharap bumi akan menelanku detik ini juga. Tanpa sadar, aku sudah sampai di depan sungai Han, rupanya sudah sejauh ini aku melangkah. Di tempat ini aku berusaha menata kembali perasaanku yang hancur remuk berkeping-keping. Namun ternyata menata perasaan yang telah remuk bahkan lebih sulit dari memasang ribuan kepingan puzzle. Aku sudah jatuh, tak mampu bangkit lagi sebelum ada seseorang yang bersedia membantuku. Kutepuk-tepuk dadaku. Dadaku terasa semakin sesak mengingat bunga papan ucapan selamat itu.

“Di sini kau rupanya? Hey! Semua orang sudah menunggumu! Apa yang kau lakukan di tempat ini?”

Suara itu.. suara omelan pria itu.. mungkinkah ini hanya ilusiku?

“Hey! Park Seul Gi! Sejak kapan kau jadi tuli begini?” Omelnya lagi, ternyata ini bukan ilusi semata. Pria itu benar-benar sedang memanggil dan mengomeliku dengan ekspresi  bersungut-sungut yang selalu menghiasi wajahnya jika sedang marah. Tapi kenapa sempat-sempatnya dia kemari? Bukankah sebentar lagi Ia akan bertunangan?

“Kenapa kemari? Lanjutkan saja pertunanganmu! Lalu hentikan semua omong kosong ini!” Tukasku dengan berdiri membelakanginya. Aku tak berani menunjukkan ekspresi wajahku yang sudah kacau berantakan ini padanya.

Kemudian terdengar ketukan langkah kakinya yang semakin jelas, sepertinya ia sedang berjalan menghampiriku.

“Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura bodoh!”

“Sebenarnya siapa yang bodoh? Aku atau kau? Huh?”

Pertanyaan itu sontak membuatku bertanya-tanya apa maksud dari pertanyaan itu, namun aku masih bergeming membelakanginya.

Tiba-tiba ia memegang bahuku lalu membalikkan badanku, sehingga kini aku berdiri menghadapnya.

“Ternyata kau gadis bodoh yang tak kan pernah berubah menjadi pintar ya. Apa kau tahu? Saat ini di taman Namsan sedang dilangsungkan dua pesta. Pertama, acara pesta perilisan komik pertamamu. Dan yang kedua adalah pesta pertunangan adik kembarku, Kim Hwe Chul! Apa tadi kau salah mengunjungi pesta? ”

“APA?! Jadi, Kim Hwe Chul itu bukan dirimu? Lalu kau?”

Hahaha, dasar gadis bodoh! Aku Kim Hee Chul, Kim Hwe Chul adalah kembaranku!” Pria itu mengacak rambutku dengan sedikit membungkukkan badannya untuk menyejajarkannya dengan tinggi badanku. Sedangkan aku aku masih sibuk berpikir, sibuk mencerna apa-apa yang baru saja pria itu katakan.

“Jadi selama ini aku salah paham?”

“Iya, bodoh! Kartu nama yang kuberikan waktu itu bukan kartu namaku, melainkan kartu nama kembaranku. Dan aku bukan creative directur seperti yang kau kira. Berhubung kembaranku adalah seorang creative directur perusahaan penerbitan, maka aku memintanya untuk coba mempertimbangkan komik-komik karyamu untuk diterbitkan. Sedangkan aku, aku bekerja sebagai tim artistik di sebuah tabloid fashion. Kau sudah paham sekarang?”

Aku masih sedikit syok dan sedikit tidak percaya pada semua ini, maka aku pun hanya mengangguk menanggapi pertanyaanya. Tiba-tiba ia membungkuk lagi, menyentuh pipiku dan memperhatikan wajahku. Dan itu membuatku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku.

“Matamu sembab dan pipimu basah. Apa kau baru saja menangisi pertunangan orang yang salah? Dan kau kira itu pertunanganku?”

“Lagi-lagi kau terlalu percaya diri Tuan!” Elakku.

GREP

Tiba-tiba pria ini memelukku, membuat aliran darahku berdesir, memompa lebih cepat dari biasanya, sehingga membuat degupan jantungku berantakan, tidak teratur dan sepeti akan meledak detik ini juga.

“Sudah. Jangan berbohong lagi, aku sudah tahu. Sejujurnya, aku merasakan hal yang sama sepertimu. Dan bodohnya, walau aku selalu berusaha mengingkarinya, hati kecilku tak pernah bisa dibohongi. Ak.Aku… aku mencintaimu..” Akunya seperti sedang berbisik di telingaku.

Aku masih tertegun dalam pelukannya. Apa aku sedang tidak bermimpi?
Tiba-tiba Chullie merenggangkan pelukannya.

“Yak! Kenapa tidak menjawab? Kenapa diam saja?” Dia mengomel lagi

“Jika kau juga memang menyukai, bahkan mencintaiku, kenapa kau selalu marah-marah padaku? Kenapa kau selalu membuatku kesal, dan kenapa kita selalu bertengkar?”

Tiba-tiba ia meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat.

“Itulah caraku mencitaimu, Park Seul Gi. Maaf, aku tak bisa seromantis pria lain.” Sesalnya.

“ Apa kau tahu? Sejak kau datang, kau selalu menghantui pikiranku. Kau selalu muncul membayang di depan mataku. Semua yang kukerjakan tak pernah ada benarnya karena lagi-lagi pikiranku selalu tertuju padamu. Bahkan terkadang aku tak mampu membedakan mana yang fatamorganaku belaka, dan mana dirimu yang nyata. Dan kini aku sadar, itu semua karena aku mencintaimu, aku tak ingin kehilanganmu.” Akuku, dengan air mata yang tiba-tiba menetes menuruni setiap lekuk pipiku.

Kemudian Chullie merengkuh wajahku, dan menyeka air mata yang sudah terlanjur jatuh itu dengan kedua ibu jarinya. Ia mengecup keningku singkat, lalu memelukku lagi.

“Tapi aku cukup tahu diri. Aku hanya seorang gadis tomboy yang tak kan pernah bisa berubah menjadi gadis manis seperti yang diharapkan pria pada umumnya. Aku..”

“Aku tahu. Sekarang kau hanya perlu mencintaiku dengan caramu. Seperti aku mencintaimu dengan caraku. Cintailah aku dengan sederhana.”

“Um. Baiklah Tuan Cantik!” Godaku masih dalam pelukannya

“Dasar Gadis Tampan!”

“Kau tidak ingin merasakan tinjuku lagi kan?”

Hehe. Tidak, cukup sekali saja. Ayo kembali. Semua orang sudah menunggumu!” Timpalnya

Aku mengangguk. Kemudian kami pun berjalan berdampingan, dia menggandeng tanganku menuju ke tempat acara perilisian komik perdanaku yang sesungguhnya. Ternyata benar, di sana Ibu dan teman-teman terdekatku sudah menunggu, begitu juga dengan tamu-tamu lain yang Chullie undang di acara ini. Chullie menatapku, seulas senyum bahagia terlukis di bibirnya, kini aku pun tak ragu lagi untuk membalas senyumnya. Dan aku yakin, bahwa aku mencintainya.

 

 

-THE END-

2 Comments (+add yours?)

  1. vey
    May 09, 2017 @ 04:51:14

    wahhh..suka suka suka….chullieee..aku padamuuu..hahhahahaaha

    Reply

  2. diyackhcsw
    May 11, 2017 @ 16:34:03

    Like like like❤❤❤ critanya ringan tp bagussss gk ngebosenin

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: