Adjushi!

Adjushi!

Romance, Love

Author: Josephine Natalie

 

***

Jung Youngmin berjalan tergesa di pinggiran trotoar menuju toko bunga langganannya. Hari ini ia lupa membeli bunga pesanan ibunya karena bangun kesiangan. Hari ini pula, ia bangun kesiangan karena lelah menangisi nasib hubungannya dengan Lee Hyukjae yang berakhir tadi malam.

Gadis itu merasa kecewa saat ia menyadari bahwa sebenarnya tak ada yang diinginkan Hyukjae kecuali kekayaan Youngmin yang tiada batas. Laki-laki itu tau bahwa ayah Youngmin itu telah mempercayakan Jung Group kepada putri tunggalnya sejak 2 tahun lalu. Saat itu, Youngmin berhasil memajukan perusahaan secara signifikan meski usianya baru menginjak 18 tahun.

Ia mendengus kesal karena lagi-lagi mengingat hal itu meski sudah berusaha melupakannya dan bertingkah baik-baik saja. Gadis itu menarik napas panjang sejenak sebelum mendorong pintu toko bunga langganannya.

“Annyeong halmoni,” sapanya seriang mungkin, seolah tak ada apapun yang terjadi.

“Ne, annyeong Min-ah… Tumben kau datang. Ada apa?” balas pemilik toko tersebut dengan suara keibuan.

“Aku pesan buket bunga seperti biasa. Ibuku membutuhkannya dan aku lupa untuk datang lebih pagi.”

Sang halmoni pemilik toko itu terkekeh sejenak menyadari kecerobohan beruntun yang dilakukan Youngmin pagi ini.

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Halmoni itu menghilang ke ruang penyimpanan peralatan untuk mengambil perkakas yang dibutuhkan, sementara Youngmin duduk di ruang depan toko menunggu pesanannya.

Saat beberapa detik berlalu, pintu toko terbuka dan munculah seorang laki-laki dengan kemeja biru lengan panjang serta celana panjang hitam.

“Hei, buatkan aku buket bunga seperti biasa!” perintahnya tanpa basa-basi pada Youngmin.

Youngmin menatap bingung ke arah wajah laki-laki itu. Sejenak matanya menyusuri lekuk wajah orang di depannya tersebut, memandang sepasang pipi chubby yang agak menarik, serta kedua mata tajam laki-laki itu.

“Hei! Kenapa melamun?! Memangnya ibuku membayarmu untuk melamun, hah?!”

Dan Youngmin kembali ke dunia nyata.

–=–

Kim Youngwoon, alias Kangin, menatap geram wanita di depannya. Ibunya pasti sudah membayar orang untuk bekerja di toko bunga tersebut, tetapi orang itu malah melamun seperti makan gaji buta.

“Hei! Kenapa melamun?! Memangnya ibuku membayarmu untuk melamun, hah?!” semprotnya langsung dengan nada galak.

Gadis di depannya itu mengerjap sesaat, seolah sadar dari pingsan. Mata gadis itu menatap lekat pada Kangin dengan alis bertaut.

“Maaf, apa maksudmu?”

“Kau malah bertanya padaku?! Maksudku, tentu saja kau harus bekerja bila tidak ingin dipecat ibuku.”

“Dipecat ibumu?”

Dan saat yang tepat, sang pemilik toko keluar dari ruang penyimpanan sambil membawa beberapa perkakas. Ia menatap heran kepada dua orang yang tengah berhadap-hadapan dengan hawa saling membunuh.

“Youngwoon? Min-ah? Ada apa?”

Kangin menoleh pada ibunya sejenak.

“Eomma, apa kau tak salah memilih pegawai?” tanyanya langsung sambil menunjuk gadis di hadapannya.

“Pegawai? Astaga, Youngwoon-ah… Dia itu pelanggan tetap di toko ini. Kau beraninya mengatakan ia pegawai!” ucap halmoni pemilik toko dengan nada histeris.

“Youngmin-ah, maafkan putraku. Ia memang sudah tua, tetapi perangainya perlu dimasukan sekolah dasar lebih dulu… Hei, Kim Youngwoon, minta maaf padanya!”

–=–

Youngmin menatap laki-laki yang duduk di kursi kemudi tepat di sampingnya itu. Nama laki-laki itu Kim Youngwoon, tetapi beberapa orang kerap memanggilnya Kangin. Gadis itu yakin seratus persen bahwa ia pernah melihat sosok Kangin di beberapa majalah bisnis skala internasional. Singkatnya, laki-laki ini adalah pengusaha besar di Korea Selatan.

Kalau gadis itu tak salah, Kangin saat ini berusia 37 tahun, terpaut 17 tahun dengannya. Tetapi, untuk ukuran laki-laki berumur 37 tahun, ia terlihat masih sangat muda. Tak ada sedikit pun potongan pengusaha nampak di penampilannya yang tampan dan menarik itu, terutama pipinya yang agak menggemaskan. Ia lebih cocok mengisi sampul majalah atau justru tampil di layar kaca sebagai penyanyi.

“Apa matamu tidak sakit karena melihatku terus-terusan seperti itu?” komentar Kangin tiba-tiba tanpa menoleh sedikit pun ke arah Youngmin.

Salah tingkah, Youngmin langsung pura-pura membetulkan rambutnya. Ia bisa merasakan Kangin tersenyum kecil dalam arti mentertawai gadis itu.

Halmoni pemilik toko bunga menyuruh putranya mengantar Youngmin pulang ke rumah sebagai tanda permintaan maaf. Karena alasan itulah, mereka berdua tengah berada dalam situasi canggung yang sangat aneh.

“Kim Youngwoon-sshi-”

“Panggil Kangin saja. Kangin adjushi, atau apa… terserah kau. Tapi jangan panggil aku Youngwoon. Hanya eomma-ku yang bisa memanggilku begitu.”

“Baiklah… Kangin adjushi, maaf, bukankah adjushi adalah pemilik jaringan perhotelan yang terkenal sampai seluruh dunia itu? Mengapa halmoni harus bekerja sebagai penjual bunga?” tanya Youngmin hati-hati.

“Aku pernah melihatmu di internet sebagai salah satu pengusaha termuda Korea Selatan. Usiamu saat ini 20 tahun, kalau aku tidak salah.”

“Lalu?”

“Ketika kau membaca artikel tentang seorang pengusaha, aku berani bertaruh bahwa kau hanya membaca bagian yang berkaitan dengan masalah perusahaan orang tersebut. Padahal kau seharusnya membaca lebih lanjut tentang asal-usul, latar belakang, hingga keluarga orang tersebut.”

Youngmin mengangguk perlahan, sedikit mengakui kelemahannya.

“Abeoji dan eomma bercerai sejak aku berusia 10 tahun dan aku adalah anak tunggal. Kedua orangtuaku selalu meributkan masalah masa depanku seolah-olah salah satu dari mereka selalu benar. Akhirnya, aku memutuskan untuk melanjutkan perusahaan milik abeoji karena aku tak memiliki saudara yang bisa melanjutkan perusahaan itu. Sebagai bentuk protes, eomma hidup sederhana tanpa sepeser uang pun dari abeoji. Ia membuka toko bunga itu untuk menghidupinya.”

Kangin bercerita tanpa sedikitpun menoleh pada Youngmin. Ia tetap fokus pada jalan raya dan fokus pada mobil yang dikemudikannya.

“Adjushi…” panggil Youngmin ragu-ragu sesudahnya.

“Apa lagi?” nada laki-laki itu sudah kembali galak seperti biasa.

“Apa karena itu… kau tidak ingin menikah?”

Ucapan tepat sasaran itu membuat konsentrasi Kangin bubar. Ia tak bisa mempertahankan keinginannya untuk tak menoleh sedikit pun pada gadis sok dewasa di sebelahnya.

“Kau… benar-benar tak bisa ditebak,” ujar Kangin sedatar mungkin.

“Apa itu artinya ucapanku barusan betul?” balas gadis itu lagi.

“Kau… tau hal itu dari siapa?”

“Ibumu. Halmoni pernah bercerita bahwa ia memiliki seorang putra tunggal yang tak ingin menikah karena tak mau berakhir dalam perceraian. Padahal, sebenarnya, tak semua pernikahan harus berakhir pada perceraian. Saat itu, aku tak tau sama sekali bahwa halmoni bercerai dari suaminya. Aku baru tau saat ini.”

Lagi, diam sejenak sebelum Kangin menjawab.

“Baiklah, itu bagus kalau kau sudah tau. Tetapi, kau masih terlalu anak-anak untuk memahami masalahku. Aku sudah 37 tahun, sementara kau… usiamu bahkan belum mencapai 25 tahun. Berhati-hatilah dengan apa yang tak kau ketahui dan apa yang justru kau ketahui. Dua-duanya berbahaya.”

–=–

Dua bulan lewat setelah pertemuan Youngmin dengan laki-laki yang dipanggilnya Kangin adjushi itu. Setelah hari itu, tak pernah sekalipun mereka berjumpa lagi, baik sengaja maupun tidak. Lagipula, gadis itu juga tak berharap untuk bertemu adjushi galak seperti Kangin lagi karena memang tak ada yang spesial dari laki-laki itu.

Kini, Youngmin duduk di kursi kebanggaannya seperti biasa. Hari ini terlalu banyak hal yang harus dikerjakannya di kantor. Memikirkannya saja membuat gadis itu lelah dan ingin kabur dari bumi. Belum lagi, ada perwakilan dari perusahaan lain yang ingin mengajak kerjasama serta bertemu dengannya hari ini.

Dahi Youngmin berdenyut sesaat, merasa jenuh dengan kesehariannya. Seandainya ia memiliki kakak atau adik yang bisa menggantikannya dalam mengurus perusahaan ini. Tapi faktanya, ia anak tunggal.

Suara ketukan pintu meluluh lantak semua pikiran yang ada di benaknya.

“Eoh, masuklah!”

Pintu terbuka dan masuklah sekretaris dari Youngmin. Wanita yang bahkan lebih tua darinya itu membungkuk sopan, lalu menyerahkan sebuah map berwarna merah.

“Ini bahan-bahan untuk pertemuan dengan International Hotel. Jam 12 siang nanti, di International Hotel itu sendiri.”

Youngmin mengangguk sembari melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 10 kurang.

“Jam 11 nanti, siapkan mobil dan sopirnya. Kau tak perlu ikut denganku.”

–=–

“Senang bertemu denganmu, Youngmin-sshi. Kau memang masih sangat muda.”

Youngmin hanya tersenyum kecil ketika salah satu petinggi International Hotel memuji dirinya  saat pertama kali berjumpa.

“Terima kasih, Lee Donghae-sshi. Senang bertemu denganmu juga.”

Laki-laki bernama Lee Donghae itu mengajak Youngmin masuk ke ruang pertemuan. Beberapa orang laki-laki dengan setelan jas elegan dan wajah-wajah tua membosankan langsung menyambut Youngmin.

Sudah biasa, tak ada yang begitu ramah bila melihat Youngmin. Para petinggi International Hotel tentu tak percaya bahwa orang yang ingin diajak kerjasama tak lebih dari seorang anak kecil berusia 20 tahun. Youngmin merasa beruntung karena Lee Donghae nampak lebih bersahabat meski usianya sudah nyaris setengah abad. Tetapi, ia tetap tak bisa menampik rumor bahwa Lee Donghae tetap terlihat rupawan di usianya.

“Apa kita bisa mulai sekarang?” tanya Donghae setelah mempersilahkan Youngmin duduk.

“Maaf Lee Donghae-sshi. Sepertinya… ada yang kurang.”

Donghae menoleh ke arah salah satu kursi pertemuan yang kosong setelah mendengar jawaban dari koleganya. Ia mendesah sejenak, seolah pasrah terhadap tingkah laku sepupunya yang kadang terlambat di saat tak terduga.

Tiba-tiba, pintu ruang pertemuan terbuka dan menampilkan sosok yang ditunggu Donghae.

“Hae-ya, maaf aku terlambat. Tadi aku ada urusan mendadak.”

Sontak, Donghae tersenyum puas atas kedatangan sepupunya.

“Tak apa-apa, Kangin-ah. Kami belum mulai. Kau duduklah di sebelah Youngmin-sshi. Oh ya, Youngmin-sshi, perkenalkan, ini sepupuku, Kangin.”

Youngmin menatap sepupu Donghae dengan pandangan tak percaya. Ia baru menyadari fakta penting bahwa International Hotel juga merupakan bagian dari jaringan perhotelan raksasa milik keluarga Kangin, tetapi dikelola oleh sepupunya.

“Adjushi…” gumam gadis itu tanpa sadar pada Kangin.

Donghae mendelik mendengar panggilan itu dan berkomentar, “Adjushi? Kalian… kenal?”

Youngmin dan Kangin mengalami salah tingkah, seolah mereka adalah anak remaja yang tertangkap basah tengah bermesraan.

“Donghae-ya, itu kujelaskan nanti. Yang jelas, kita mulai pertemuan hari ini dulu agar kau pulang tepat waktu dan istrimu tidak akan mengunci pintu rumah sebelum kau pulang, lalu tak membuka pintu untukmu.”

Terdengar suara tertawa yang ditahan dari beberapa orang di ruangan itu. Donghae pun tak bisa menyalahkan sepupunya yang terlalu dan selalu gamblang jika sudah membuka mulut. Sifat itu tak pernah hilang dari Kangin sejak kecil.

–=–

Youngmin tersenyum sembari bersalaman dengan beberapa petinggi International Hotel seusai pertemuan. Ia berusaha terlihat baik meski dalam hati, ia menggerutu karena kelaparan setengah mati. Sudah lewat 2 jam dari waktu makan siang, tetapi ia belum makan sama sekali. Dalam otak, Jung Young Min mengutuki kebodohannya untuk tidak makan siang lebih dahulu sebelum pertemuan dimulai.

“Lee Donghae-sshi, terima kasih untuk hari ini. Lain kali kita bertemu lagi,” Youngmin menjabat tangan Donghae.

“Iya, tentu saja. Kau langsung pulang?”

Youngmin menggeleng, “Sepertinya aku akan makan siang dulu.”

Donghae, tiba-tiba saja, merencanakan pembalasan atas semua pernyataan yang dilontarkan Kangin di ruang pertemuan tadi dengan memanfaatkan Youngmin.

“Kalau begitu, biar Kangin yang menemanimu makan siang.”

“Hae-ya!” Kangin memotong percakapan itu dan melotot.

“Donghae-sshi, aku bisa makan siang sendiri. Tak perlu mencemaskanku.”

Donghae masih memaksa, “Kangin-ah! Temani ia makan siang. Apa kau tega membiarkan gadis sebaik dirinya makan siang sendirian?!”

Tak mau bertengkar dengan Donghae, Kangin pun menurut.

“Baiklah. Kau ikut denganku. Kita makan siang bersama.”

–=–

Mereka berdua makan dalam keheningan. Tak ada yang mencoba untuk membuat suasana lebih bersahabat dengan memulai pembicaraan atau sekedar basa-basi. Setidaknya, hingga Kangin memutuskan untuk mengakhiri kejenuhan tersebut.

“Youngmin-ah, berapa nomor handphone-mu yang bisa dihubungi? Aku ingin menyimpannya untuk berjaga-jaga.”

Youngmin menoleh sejenak dari makanannya, nampak kaget karena seorang Kangin bisa memulai percakapan dengannya. Gadis itu mengeluarkan iPhone dari sakunya dan menjulurkannya pada laki-laki di hadapannya.

“Simpan saja nomor adjushi di iPhone-ku.”

Kangin mengambil iPhone dari tangan gadis di hadapannya. Ia menekan-nekan sejenak  layar touch screen itu dengan cekatan, lalu menyimpan nomor kontaknya.

Setelah selesai, Kangin menyerahkan benda itu kepada pemiliknya kembali lalu berkata, “Hubungi aku bila kau perlu.”

Gadis itu membuka daftar kontaknya dan mendapati nama ‘Adjushi’ sebagai nama kontak milik Kangin.

“Kau langsung pulang setelah ini?” tanya Kangin lagi.

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Apa kau tak bisa menemaniku setelah ini?”

“Menemani adjushi? Untuk?”

Kangin menghela napas sembari berdoa agar keputusannya untuk mengajak gadis itu tak menjadi bencana.

“Eomma-ku berulang tahun hari ini. Tapi aku tak punya hadiah apapun untuknya.”

“Maksudmu… halmoni pemilik toko bunga?”

“Iya, tentu saja. Kau pikir, berapa banyak eomma yang aku punya?”

Youngmin menggerutu dalam hati atas kejudesan Kangin.

“Baiklah. Aku ada waktu sampai jam 7 malam nanti.”

“Kita naik mobilku. Nanti kuantar kau pulang. Kau suruh sopirmu pulang saja.”

–=–

“Bagaimana dengan yang ini? Atau yang ini?” berkali-kali, gadis penasihat di sisinya itu menunjuk beberapa item seperti tas, sepatu, baju dan terakhir alat make up.

Sudah setengah jam lebih mereka berputar-putar di pusat perbelanjaan Seoul. Tetapi, hingga detik ini, tak ada satu barang pun yang menjadi pilihan untuk hadiah.

“Entahlah… aku tak punya ide apapun tentang hal-hal yang disukai eomma.”

Youngmin mengangguk sejenak. Ia menimbang-nimbang tentang hadiah yang biasanya disukai oleh para ibu.

“Apa halmoni suka membaca?” tanya gadis itu menebak-nebak.

“Lumayan. Memangnya kenapa?”

“Berikan saja novel bestseller. Pasti menyenangkan untuk menghabiskan waktu senggang bersama novel-novel bestseller.”

“Boleh juga. Ayo kita ke toko buku sekarang. Setauku, di lantai 2 ada toko buku.”

Youngmin mengangguk dengan manis dan ikut melangkah di belakang Kangin. Hal ini membuat Kangin merasa jengah karena seolah-olah diikuti, bukannya ditemani.

“Bisakah kau berjalan di sampingku saja?” Kangin menarik tangan gadis itu tanpa sadar, membuat Youngmin terperangah sesaat.

Genggaman tangan adjushi di sisinya itu sangat kuat, tetapi hangat. Tangan Kangin terasa besar jika dibandingkan dengan tangannya sendiri. Namun, ada sesuatu yang mengalir dari tangan namja di sampingnya itu kepada tangan Youngmin, seperti aliran yang membuat sistem tubuhnya kacau.

Youngmin berusaha mengembalikan akal sehatnya dan melepaskan tangan Kangin. Ia merasa canggung tanpa alasan yang jelas. Kangin pun berusaha mengabaikan perubahan di wajah gadis muda itu dan berpura-pura tetap berjalan, hingga ia menyadari bahwa gadis yang lebih pantas disebut sebagai adik kecil atau keponakan baginya itu hilang dari sisinya.

Namja itu menoleh ke belakang, mencoba mencari sosok Youngmin. Ia mendapati gadis itu tengah memandangi salah satu etalase toko yang dilewatinya tadi. Penasaran, Kangin mendekati etalase yang menjual aksesori gadget itu.

“Youngmin-ah, kau melihat apa?”

“Ini… gantungan aksesori untuk handphone.”

Sebuah gantungan manis berbandul tetesan air dengan warna merah muda, warna favorit Young Min, terpajang di etalase itu. Diukur dari harganya, gantungan itu bukan sekedar mainan atau hiasan semata. Jelas terlihat kemewahan dan wujud elegan gantungan itu mampu menghipnotis pasang mata yang melihatnya.

“Kau mau beli itu?” tanya Kangin penasaran.

“Sepertinya iya. Aku suka yang warna merah muda.”

Youngmin menimang-nimang iPhone-nya seolah mengukur apakah gantungan itu cocok di iPhone tersebut. Sementara Kangin membaca tulisan lain yang terpajang di etalase itu juga.

“Hei, gantungan ini harus dibeli sepasang. Yang merah muda untuk yeoja, yang biru untuk namja. Tidak bisa hanya beli satu.”

Ucapan Kangin membuat hati Youngmin sedekit berderit, mengingat statusnya yang baru saja bubar dari kekasihnya.

“Aku… tidak jadi membeli ini. Aku baru saja berpisah dengan kekasihku.”

Youngmin mundur beberapa langkah dari etalase sembari mengantongi iPhone-nya kembali. Sementara Kangin menoleh kepada gadis itu. Hatinya merasa kasihan, apalagi ketika melihat gadis itu berjalan menuju toko buku sendirian. Laki-laki itu dapat melihat bahu Youngmin sedikit melemah, seperti merasakan kesedihan yang sangat berat.

Ia berjalan mendekati Youngmin dan berusaha mencairkan perasaan gadis kecil itu. Menurutnya, anak remaja seperti gadis itu masih labil, gampang terbawa emosi dan susah menghapus rasa sakit hati.

“Kau jangan terlalu bersedih. Umurmu masih muda, masih banyak kesempatan. Oke?” hibur Kangin.

“Bukan begitu… Aku hanya sedih karena tak bisa membeli gantungan tadi…” jawaban gadis itu membuat Kangin sedikit terkejut.

“Oh, kupikir kau… Sudahlah, lupakan,” Kangin sedikit tersenyum lega karena gadis itu tidak bersedih karena masalah mantan pacar.

Youngmin nyaris saja melanjutkan langkahnya ke toko buku. Tetapi, ia berhenti mendadak dan menatap wajah Kangin dengan penuh perhatian.

“Adjushi… ini perasaanku saja atau… kau tadi memang tersenyum?”

“Apa?”

“Kau tadi tersenyum kan? Wah, akhirnya… Selama ini aku hanya melihat wajah kesalmu tiap bersamaku. Tapi tadi… kau tiba-tiba tersenyum.”

“Benarkah?”

“Iya!” sahut gadis itu yakin sembari mengangguk kecil.

“Aku tidak sadar…”

“Adjushi harus banyak tersenyum! Kau sangat menggemaskan!” tanpa aba-aba, Youngmin mengangkat kedua tangannya dan menepuk-nepuk pelan kedua pipi laki-laki itu.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menatap mereka dari kejauhan. Menyiratkan tatapan penuh arti, seolah sesuatu baru saja terjadi. Sesuatu itu, pasti menguntungkannya di esok hari.

–=–

HUBUNGAN DUA PENGUSAHA BEDA GENERASI

Kemarin sore, di sebuah pusat perbelanjaan Seoul, nampak pemandangan yang tak bisa dipercaya. Kim Youngwoon alias Kangin (37), pengusaha perhotelan Seoul International tertangkap kamera tengah pergi berdua dengan penerus Jung Group, Jung Youngmin (20).

Kedua pengusaha beda generasi tersebut terlihat akrab dan saling mengenal dengan baik. Meski terpaut 17 tahun, tak ada satupun kecanggungan nampak di antara mereka. Sesekali, mereka nampak bergandengan tangan dan berhenti di beberapa etalase toko. Puncaknya adalah ketika Jung Youngmin meletakan tangannya di wajah seorang Kangin dengan penuh kemesraan dan kasih sayang. Mungkinkah hal ini pertanda bahwa keduanya memiliki hubungan khusus?

Memang, gosip miring kerap kali menimpa Kangin yang di tahun ke 37 hidupnya, tak pernah terlihat dekat dengan perempuan, selain ibunya sendiri. Khayalak ramai meyakini bahwa ia trauma melihat orangtuanya yang bercerai. Tetapi, semua hal itu terpatahkan dalam satu buah gosip yang paling heboh, yakni ia berhasil menggandeng seorang gadis berusia 20 tahun. Seperti anggapan banyak orang umumnya, 17 tahun bukanlah jarak yang singkat. Itu sangat amat merupakan rentang nan jauh.

Donghae tertawa seusai membacakan sebuah berita di koran pagi hari ini.

“Aisshh! Kenapa tertawa?!” omel Kangin emosi.

Mood-nya tak begitu baik pagi ini akibat berita khayal yang mencuat seenak kepala itu. Kini ia tak tau bagaimana menghadapi dunia luar yang riuh bertanya-tanya tentang kebenaran.

“Kau tak akan pernah menyadari betapa lucunya berita ini! Bayangkan, orang seperti dirimu, yang nyaris berusia 40 tahun, kini berhubungan mesra dengan anak berumur 20 tahun! Astaga! Apa wanita seusiamu yang masih lajang telah habis?!” Donghae melanjutkan tawanya, terbahak keras.

“Mesra?! Itu tidak benar! Kami hanya jalan berdua untuk membeli hadiah!”

“Apa? Jalan berdua?! Maknanya luas sekali, Kangin-ah! Lagipula, siapa yang peduli atas urusan kalian jalan berdua? Orang-orang yang haus akan berita itu hanya butuh sesuatu untuk ditulis. Jadi jangan salahkan mereka sepenuhnya.”

Kangin mendengus sebal mendengar komentar santai sepupunya.

“Hei, Kangin-ah, dengarkan aku! Ini serius-”

“Aku juga tau kalau ini masalah serius…” potong laki-laki itu lagi sambil menyipit ke arah sepupunya, membuat matanya yang sudah sipit itu makin segaris.

“Aisshh! Jangan potong ucapanku! Dengar, bagaimana jika gosip ini justru menyelamatkanmu? Kau ingat kan, beberapa tahun lalu, kau diterjang berita tak enak, tentang… isu bahwa kau… tidak normal. Kau ingat itu kan?”

“Jangan ingatkan aku tentang hal konyol itu lagi. Sebenarnya kau ingin bicara apa?”

“Sekarang, sudah terbukti bahwa kau normal. Kau menyukai wanita dan jalan berdua dengan wanita. Tak ada alasan untuk mengatakan hal yang buruk lagi tentangmu.”

Hening sejenak sebelum Donghae melanjutkan ucapannya.

“Nanti jam 11, datanglah ke kantorku. Ada urusan yang harus diselesaikan.”

–=–

Sementara itu, di ruang kantor Youngmin, gadis itu tengah sakit kepala dengan gosip yang menimpanya. Astaga, ia hanya pengusaha berusia 20 tahun, bukannya artis papan atas yang beritanya harus dikejar-kejar. Entah mengapa, semua gosip yang menerpa dirinya ini seolah memperingatkannya bahwa ia termasuk terkenal di Korea Selatan.

Gilanya lagi, Donghae, sepupu adjushi itu, malah berulang kali menghubunginya untuk mengadakan pertemuan demi membahas masalah perhotelan di Cina. Itu bisa membuatnya sinting karena harus bertemu lagi dengan Kangin di kantor Donghae si manusia konyol yang kurang sadar umur itu.

“Ayolah, Youngmin-ah… Aku tak punya waktu kosong lagi kecuali hari ini. Besok aku ada urusan, lusa juga dan besoknya lagi juga. Sementara kita harus sudah membereskan ini semua sebelum minggu ini berakhir. Iya kan?” Donghae setengah memaksa.

“Donghae-sshi, bagaimana aku bisa datang? Jelas-jelas setiap hari aku diikuti wartawan penasaran yang bisa membuatku gila. Kalau aku datang ke sana, itu akan menjadi berita bagus di koran besok pagi.”

“Aisshh, bilang saja kau tak mau bertemu sepupuku. Kenapa? Kau menyukainya?” balas Donghae tanpa jeda dan langsung terkikik pelan.

“Aku pasti sudah gila karena berbicara tentang hal konyol ini…” gerutu Youngmin.

“Sudahlah, aku tak mau tau! Datang ke kantorku jam 11 nanti. Masih ada satu jam untuk siap-siap. Dandanlah yang cantik karena sepupuku akan datang.”

“Donghae-sshi, maaf, aku tidak punya hubungan apapun dengan Kangin adjushi.”

“Woah, kau bahkan memanggilnya adjushi. Mesra sekali… seperti novel saja. Terserahlah!” ujar Donghae lalu memutuskan sambungan secara sepihak, bahkan sebelum gadis itu sempat menjawab ataupun mendamprat.

–=–

Seorang gadis muda dengan pakaian formal berlari-lari di lobi gedung kantor International Hotel. Ia hendak mengejar lift yang nyaris tertutup itu dan menahan pintu lift dengan map coklat di tangannya. Sensor lift mendeteksi adanya map tersebut, sehingga terbuka lagi dengan sendirinya.

Youngmin, gadis itu, terengah-engah pelan setelah masuk ke dalam lift. Ia nyaris saja melupakan bahwa ia tak sendirian di dalam lift ini. Wajahnya menoleh sejenak, menatap seorang laki-laki dewasa di sisi kirinya yang balas menatapnya terang-terangan.

“Adjushi?” mata Youngmin melotot tak karuan setelah bertatapan dengan Kangin.

Ia tak menyangka Kangin akan sebegitu panjang umurnya. Baru saja Donghae dan Youngmin membicarakan tentang adjushi itu di percakapan telepon. Kini, ia muncul di depan Youngmin, sesuai dugaan.

“Hai! Apa kabar?” balas Kangin beruntun.

“Kabar? Tentu saja tidak begitu baik. Aku yakin adjushi pun tak punya kabar baik hari ini.”

“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku punya kabar baik bila setiap waktu aku terus dibuntuti wartawan haus berita.”

Youngmin terkekeh pelan mendengar jawaban itu, lalu menjawab, “Aku minta maaf atas berita tak menyenangkan itu. Seharusnya aku tidak perlu meletakan tangan di pipimu.”

“Tak apa-apa. Bukan salahmu.”

Pintu lift tiba-tiba terbuka. Seorang wanita yang diyakini sebagai sekretaris Donghae menatap dua orang di dalam lift dengan melotot. Wanita itu berdiri terpaku di depan lift dan hanya bisa terbengong-bengong. Hingga pintu lift menutup lagi, wanita itu bahkan tak bergerak masuk ke dalam lift.

“Perempuan itu… sekretarisnya sepupumu kan?” tanya Youngmin begitu pintu lift tertutup lagi.

“Iya. Aku yakin dia hanya terkejut melihat kau bersamaku. Aisshh, Donghae akan punya bahan omongan baru lagi hari ini jika sekretarisnya melapor.”

“Kau benar…”

–=–

“Bagus! Kalian terlambat berdua dan sibuk pacaran di kantorku!” Donghae langsung mengoceh begitu Young Min dan Kangin sampai di ruang rapat.

“Hae-ya, mana yang lain? Mengapa kita hanya bertiga?” tanya Kangin heran karena melihat ruang rapat sepi dan hanya diisi oleh Lee Donghae seorang.

Donghae tersenyum kekanak-kanakan seperti biasa lalu berkata dengan santainya, “Maaf, sepertinya aku lupa memberitau kalian bahwa rapat hari ini dibatalkan.”

“Aisshh!!! Kau beraninya menipuku!!” Kangin meraih map di atas meja dan memukuli bahu sepupunya dengan jengkel.

Sementara Youngmin hanya menghela napas emosi sembari menatap dua saudara yang setengah berkelahi itu. Donghae memang seperti anak kecil, jadi Youngmin juga tak tau harus bebuat apa. Ia sudah mulai terbiasa dengan tingkah laku Donghae, maka ia tak bisa marah terhadap orang itu.

“Sudahlah adjushi. Kasihan sepupumu itu…” lerai Youngmin akhirnya.

“Iya, benar… Kasihanilah aku…” tambah Donghae sok meratap.

Kangin berhenti memukuli Donghae dan meletakan kembali map itu ke atas meja.

“Aku permisi dulu,” Youngmin membungkukan badan sejenak kepada Donghae dan Kangin, lalu keluar dari ruang rapat.

Sepeninggal gadis itu, Donghae dan Kangin mulai mengobrol.

“Kau menyukainya kan?” tanya Donghae spontan.

“Biasa saja. Kami baru beberapa kali bertemu.”

“Baru beberapa kali bertemu bukan berarti tidak bisa menyukai.”

Kangin menarik napas sejenak lalu melanjutkan, “Kau kan tau bahwa aku tidak pernah mementingkan hal seperti itu. Abeoji dan eomma bercerai. Aku takut bahwa aku akan berakhir dalam perceraian juga.”

“Itu belum tentu!”

“Astaga, Hae-ya! Sekalipun belum tentu, apa masuk akal bila aku menjalin hubungan dengan gadis yang berusia 17 tahun di bawahku?! Kau pikir 17 tahun itu hanya beberapa tahun saja?!”

“Jadi, sebenarnya masalah umur?”

“Salah satunya itu.”

“Tapi kau menyukainya kan?” senyum Donghae mengembang tiba-tiba, seolah ia baru saja menang selangkah.

“Tidak! Aku tidak menyukai gadis kecil itu!”

“Sungguh? Ketika kau menatapnya, matamu… seperti berbinar…” Donghae mulai menampilkan kemampuan hiperbola-nya.

“Tidak! Aku tidak!”

“Ayolah… kurasa dia juga menyukaimu…”

“Mana mungkin anak gadis berusia 20 tahun menyukai orang berusia 37 tahun? Itu tak masuk akal Hae-ya. Lagipula, itu sama saja mengungkapkan pada dunia bahwa ia tak laku. Remaja laki-laki seusianya masih banyak. Jadi, ia tak perlu jatuh cinta padaku.”

“Kita lihat saja…” tantang Donghae.

“Terserah!”

Keheningan tercipta sejenak karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Oh ya, tapi… apa tujuanmu memanggilku dan gadis itu ke kantormu?” tanya Kangin tiba-tiba, berharap mendapat jawaban yang tidak membuatnya ingin menonjok Donghae.

“Mempertemukannya denganmu, tentu saja. Jika takdir tak bisa mempertemukan kalian, biar aku yang membuat kalian bertemu.”

Harapan Kangin tidak terkabul. Ia sangat ingin menonjok sepupunya itu sekarang.

–=–

Youngmin keluar dari lobi kantor International Hotel. Ia mengeluarkan kunci mobil dari kantongnya dan berjalan menuju parkiran setengah berlari.

“Youngmin-ah!” sebuah panggilan membuat gadis itu menoleh.

Matanya melebar, tak percaya dengan sosok yang memanggilnya tadi. Laki-laki yang sudah ingin dilupakannya selama dua bulan terakhir. Seorang laki-laki yang pernah mengisi harinya, namun akhirnya meninggalkannya ketika bosan. Lee Hyukjae.

“Kau… apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanya Youngmin geram.

“Aku? Aku ada urusan sebentar dengan sepupu kekasihmu yang kaya raya itu. Asal kau tau saja, Donghae itu teman baikku.”

“Kangin adjushi bukan kekasihku!”

“Sungguh? Kupikir kau butuh kekasih yang kaya raya seperti Kim Youngwoon bila tak ingin dimanfaatkan seperti masa lalumu.”

Youngmin semakin emosi mendengar hinaan itu. Ia tau, dulu ia memang kerap dimanfaatkan oleh Hyukjae. Tapi bukan artinya laki-laki itu berhak menghinanya begitu saja. Tangan gadis itu melayang ke arah wajah di hadapannya, berusaha menampar Hyukjae. Sayangnya, sebuah tangan menangkap lengannya sebelum telapak tangannya menyentuh wajah menyebalkan di depannya.

Gadis itu menoleh ke belakang, mendapati Kangin tengah menahan tangannya dan menurunkan lengan gadis itu.

“Tolong jangan buat keributan di tempat ini.”

Kangin menatap Hyukjae sinis dan menarik Youngmin agar tetap di dekatnya.

“Oh, rupanya berita itu benar… Baguslah kalau kau memang mendapat kekasih yang kaya raya…” gumaman penuh ejekan itu terlontar dari mulut Hyukjae sembari berjalan.

“Brengsek!” maki Youngmin ketika laki-laki itu berlalu dari hadapannya.

Ia menoleh sejenak ke arah Kangin dan berkata, “Maaf sudah membuat keributan di kantor sepupumu.”

“Tak apa. Dia… mantan pacarmu kan?” tanya Kangin sambil memandang punggung Hyukjae yang menghilang di balik pintu masuk.

Youngmin tak menjawab pertanyaan Kangin dan hendak beranjak pergi.

Tetapi Kangin meraih tangan Young Min sebelum gadis itu beranjak jauh, lalu mengambil kunci mobil dari tangan gadis itu seraya berbisik, “Saat hatimu sedang kacau, sebaiknya jangan menyetir sendiri.”

Gadis itu tak menyahut. Ia hanya berjalan ke arah mobilnya, diikuti Kangin. Ia juga tak berbicara apapun selama di mobil, membiarkan Kangin konsentrasi terhadap jalanan dan mobilnya.

“Kau tak apa-apa?” tanya laki-laki itu pelan sembari menoleh sekilas.

“Iya, tak apa-apa…”

“Kau bisa cerita padaku kalau kau mau.”

Youngmin menarik napas sejenak, berusaha memilih kata-kata yang tepat.

“Banyak laki-laki yang ingin menjadi pacarku karena perusahaanku. Mereka tidak mencintaiku, tapi tergila-gila pada uangku. Mereka bilang, mereka butuh ini itu, butuh bantuanku. Tapi nyatanya, mereka memakai uangku sesuka hati. Mereka akan meninggalkanku jika sudah menguras uangku.”

“Uangmu tak akan habis sekalipun dikuras dengan cara apapun,” Kangin tak tahan untuk tak berkomentar sinis.

“Aku tau. Tapi bisakah kau tak membahasnya saat ini? Bukankah kau ingin mendengar ceritaku?” balas Youngmin runyam.

“Aku hanya terbiasa untuk berkomentar sinis…” aku Kangin akhirnya.

“Itulah alasan tak ada wanita yang ingin dekat denganmu. Karena kau menyebalkan.”

“Hei! Jangan sembarang bicara! Aku tak punya kekasih bukan karena aku tak laku. Tapi karena aku sendiri yang tak mau!”

“Itu alasanmu saja! Sebenarnya kau memang menyebalkan! Kau amat menjengkelkan! Suka berteriak, suka bicara sinis, suka memasang ekspresi galak dan suka marah-marah sendiri.”

“Kau yang menyebalkan! Itulah mengapa semua kekasihmu meninggalkanmu setelah bermain-main denganmu. Karena kau seenaknya kalau bicara!” Kangin benar-benar kesal sekarang.

“Aisshh!! Sudahlah!! Hentikan mobilnya! Aku mau turun!!” teriak gadis itu emosi.

“Apa maksudmu dengan kalimat itu?! Ini mobilmu, dasar bodoh!!” Kangin menepikan mobil dan segera membuka pintu, lalu keluar dengan wajah emosi.

“Aisshh!!! Dasar adjushi galak, menyebalkan, tua dan jelek!!” teriak Youngmin dari jendela mobilnya.

“Dasar anak kecil tidak tau terima kasih, sok tau, seenaknya dan sok pintar!!” balas Kangin memaki-maki pada mobil Youngmin yang berlalu.

Ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan menghubungi sepupunya.

“Yak!! Jemput aku sekarang!!”

–=–

“Ada apa? Kenapa kau turun di jalan? Bukankah kau mengantar Youngmin?” tanya Donghae bertubi-tubi saat Kangin sudah masuk ke dalam mobilnya.

“Huh! Anak itu… selalu saja tak tau terima kasih…” maki Kangin pelan.

“Memangnya ada apa?” ulang Donghae sambil bersiap menjalankan mobilnya.

“YAK! YAK! LEE DONGHAE!! HENTIKAN MOBILNYA!! BIAR AKU YANG MENYETIR!!” teriak Kangin heboh sambil menyuruh Donghae menepikan mobil kembali.

Jelas saja bila Kangin tak ingin sepupunya yang menyetir. Donghae tak terlalu fasih dalam mengemudikan mobil. Ia sangat konyol dan kehilangan wibawa bila sudah mengendarai mobil sendiri. Kangin masih sangat sayang nyawa untuk membiarkan bocah tua itu mengantarnya ke rumah sakit bila terjadi kecelakaan di jalan.

Ia ingat, dulu saat masih remaja, Donghae pernah memarkirkan mobil di sebuah turunan tanpa menggunakan rem tangan. Mobil itu sontak menggelundung bebas dan menabrak tembok gang. Meski tak ada yang celaka, Donghae harus membayar ganti rugi yang cukup banyak. Itu baru satu kejadian dari ratusan kejadian setengah konyol lainnya.

Maka, Kangin lebih suka menyetir sendiri sembari bercerita tentang pengalamannya saat mengantar Youngmin. Sementara Donghae tertawa lebar mendengar cerita itu, merasa ada yang lucu dalam pertengkaran Kangin dan gadis kecil itu.

“Kangin-ah, kenapa kau tak bilang saja kalau kau menyukainya?” tantang Donghae tiba-tiba.

“Aku tidak menyukai Youngmin!”

“Kau menyukainya, bocah! Kau tiba-tiba ingin mengantarnya pulang dan mencoba menghiburnya. Itu artinya kau tertarik padanya.”

“Hanya sebatas sahabat yang baik, Donghae-ah!”

Bunyi handphone Kangin tiba-tiba menyela di antara percakapan mereka. Ia langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layarnya.

“Halo?”

Tak ada jawaban.

“Halo? Bicaralah?”

Masih diam, tak ada jawaban.

“Hae-ya, coba lihat siapa yang menghubungiku. Aku tak bisa melihatnya karena banyak mobil di depan,” Kangin menjulurkan layar handphone-nya pada Donghae.

“Youngmin! Itu Youngmin!!” panik Donghae tiba-tiba.

“Coba bicara!” Kangin menyerahkan handphone-nya pada Donghae dan menepikan mobil.

“Halo? Youngmin-ah? Bicaralah! Ada apa?!”

Tak ada suara sedikitpun dari handphone itu, membuat Kangin penasaran dan mengambil handphone-nya kembali, lalu me-loudspeaker panggilan agar Donghae bisa ikut mendengar.

“Kangin… adjushi… tolong…” suara gadis itu tersendat-sendat, nyaris tak jelas.

Kangin dan Donghae melotot bersamaan saking terkejutnya.

“Halo? Kau dimana? Ada apa?!” teriak Kangin panik.

“Aku… di sekitar Ssamzie-gil…”

Tak ada jawaban lagi. Yang ada hanya bunyi sambungan yang terputus.

“Coba hubungi dia!” seru Kangin tak sabar sambil menyetir terburu-buru.

“Tak bisa dihubungi. Tak ada jawaban.”

Kangin menjalankan mobil itu menuju Ssamzie-gil sambil berdoa dalam hati agar gadis itu baik-baik saja.

–=–

“Itu mobilnya!” seru Donghae ketika melihat sebuah sedan silver di pinggiran Ssamzie-gil.

Kangin menyipit sejenak untuk melihat nomor platnya. Benar, itu mobil Youngmin. Terburu, ia dan sepupunya menghampiri mobil itu untuk mengecek pemiliknya.

“Youngmin-ah…” Donghae mengetuk pelan kaca gelap mobil itu.

Tak ada jawaban yang memperjelas situasi. Kangin membuka pintu mobil yang tak dikunci dan menampilkan pemiliknya tengah menangis pelan sembari memegangi perutnya.

“Youngmin! Ada apa?” seru Kangin langsung sambil berusaha mengeluarkan gadis yang tengah meringkuk di bangku kemudi itu.

“Sakit… sekali…” lirih gadis itu nyaris tanpa suara dan sembari terisak pelan.

“Hae-ya, kau bawa mobilmu sendiri. Aku akan mengantar gadis ini ke dokter dengan mobilnya. Jangan bertindak konyol saat menyetir.”

Kangin berpesan singkat pada Donghae dan memindahkan Youngmin ke kursi samping kemudi, lalu ia menyalakan mobil gadis itu. Sementara Donghae masuk ke mobilnya sendiri dan mengemudi tepat di belakang mobil Youngmin.

–=–

“Ini semacam sakit lambung atau maag. Ia belum makan apapun dari tadi pagi dan tiba-tiba konsentrasi cairan lambungnya meningkat. Tak perlu khawatir. Setelah minum obat akan sembuh. Ia bisa pulang jika sudah merasa baik.”

Kangin dan Donghae mengangguk-angguk sejenak mendengar penjelasan dokter di hadapan mereka yang baru saja selesai memeriksa Youngmin.

“Tapi apa separah itu? Ia bahkan sampai meringkuk tidak karuan dan bahkan sulit berjalan? Apa benar tidak ada sesuatu yang… parah?” ulang Kangin lagi, masih khawatir.

“Sakit maag tiap orang berbeda-beda. Ada yang hanya ringan, tapi ada juga yang sangat menyakitkan. Tenang saja, tak ada sesuatu yang parah di sini.”

Lagi, kedua saudara sepupu itu mengangguk percaya saja.

“Bisa kami melihat Young Min sekarang?” tanya Donghae hati-hati.

“Tentu saja. Ia sudah lebih baik sekarang.”

Dokter itu mengantar Donghae dan Kangin ke ruangan Youngmin. Gadis itu sudah lebih sehat dan tidak sepucat tadi, tetapi masih terbaring di atas kasur rumah sakit. Matanya sedikit hidup ketika melihat Kangin dan Donghae masuk ke dalam ruangannya.

“Baiklah, aku permisi dulu.”

Kangin dan Donghae menoleh sebentar kepada dokter tadi, mengucapkan terima kasih sejenak, lalu membiarkannya meninggalkan ruangan.

“Hei, kau… tak apa-apa?” tanya Kangin pelan pada gadis itu.

“Adjushi… aku tak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku.”

Suara dehaman kecil membuat perhatian dua orang itu tertuju pada laki-laki yang sempat terlupakan di sana.

“Donghae-sshi, terima kasih padamu juga.”

“Ya, betul! Kau memang harus dan wajib berterima kasih padaku, nona muda. Sudahlah, sebaiknya aku keluar dari sini. Sepertinya aku mengganggu acara kalian…” Donghae mulai lagi bertingkah anak-anak.

Pelototan dari Kangin membuat Donghae makin menjadi-jadi.

“Kangin-ah, aku tinggal kalian berdua. Mobilku kubawa pulang. Kau naik kendaraan umum saja. Kalau tidak mau, telpon saja sopirmu untuk menjemputmu. Jangan lupa antar gadis itu pulang nanti. Aku harus pulang sekarang.”

Kangin menatap jengkel pada Donghae yang mengedipkan sebelah mata padanya, bermaksud meledeknya. Tapi, bukan Kim Youngwoon namanya bila tak bisa membalas hal sepele begitu.

“Ya, ya, ya… pulanglah sebelum istrimu menggorengmu atau menjemputmu dengan pisau dapur. Kau itu paling takut dengan Hyerin. Jadi cepat pulang daripada kau tak tidur di kamar dan malah tidur di penggorengan.”

Donghae balik melotot pada Kangin, tak percaya atas ucapan sepupunya.

“Kau pikir aku ini ikan, hah?”

“Sepertinya iya. Di kalangan pengusaha, kau terkenal sebagai ‘Fishy’. Jadi tak ada salahnya menyamakanmu dengan ikan. Sudahlah, cepat pulang sana! Nanti istrimu benar-benar menggorengmu kalau ia kesal.”

Menyerah dengan keadaan, Donghae memutuskan pulang sebelum aib-nya dibongkar lagi oleh sepupunya di hadapan Youngmin.

“Baiklah, baiklah… Aku pulang dulu.”

Sepeninggal Donghae, ruangan jadi sepi tanpa suara. Tak ada satupun dari Youngmin dan Kangin yang memulai omongan. Seperti biasanya, mereka selalu canggung dan diam saat awal, tetapi runyam dan penuh perdebatan saat mulai bicara.

“Betulkah itu?” tiba-tiba, Youngmin bertanya sambil menoleh ke arah Kangin.

“Eh? Apa? Yang mana?”

“Tentang sepupumu itu dan istrinya.”

“Oh… itu… beberapa benar, beberapa sisanya hanya inisiatif dariku saja. Istrinya bernama Kim Hyerin dan lebih muda setahun dari Donghae. Mereka kenal sejak kecil, ketika Donghae berusia… sekitar 12 tahun. Ceritanya panjang, sangat panjang. Kau mau dengar?” tawar Kangin sambil tersenyum manis.

“Persingkat saja.”

Kangin mengambil jeda sejenak sembari mengulum senyum, mengingat ekspresi Donghae saat menceritakan Hyerin padanya. Kakak sepupunya itu memang nyaris 10 tahun lebih tua darinya, tetapi mereka kadang merasa seumur.

“Mereka tidak akur dan sulit tenang jika bersama. Ada saja hal-hal yang mereka ributkan bila bersama. Tetapi, kelamaan, Donghae mulai menyayangi Hyerin dan selalu melindungi Hyerin. Sampai akhirnya, ia tak mengenal wanita lain kecuali Hyerin. Jadi, mereka merasa kenal dengan baik secara luar dalam. Hyerin tau siapa Donghae karena mengenalnya dari kecil. Sementara Donghae, ia tak bisa membandingkan Hyerin dengan wanita manapun karena ia cuma mengenal perempuan itu.”

Kangin menyudahi ceritanya sembari tersenyum kecil.

“Adjushi, menurutmu, apa masuk akal bila dua orang yang selalu bertengkar, pada akhirnya bersama?” tanya Youngmin sambil menyipitkan mata.

“Hmm… mungkin iya, masuk akal. Ketika dua orang bertengkar, secara tidak langsung, mereka akan saling mengenal satu dengan yang lain. Mereka akan tau apa yang disukai dan apa yang tidak disukai musuh. Mereka akan saling mengetahui kelemahan dan kelebihan satu dengan yang lain. Menurutku begitu.”

Youngmin membetulkan posisi duduknya sejenak dan menjawab, “Kita ambil contoh, aku dan adjushi. Kita sering bertengkar bila bersama dan hanya terlihat baik bila bersama dalam waktu singkat. Apakah kita benar-benar saling mengenal satu sama lain?”

“Mungkin iya. Setidaknya aku tau bahwa kau punya penyakit lambung yang menyusahkan.”

“Bukankah kau sendiri yang berkata untuk menghubungimu bila perlu?” balas Youngmin tak mau kalah.

“Baiklah, baiklah, aku mengalah. Aku lebih tua dan aku yang sebaiknya mengalah.”

Kangin tersenyum menyadari keramahannya pada gadis di hadapannya itu. Ia tau, ia tak pernah sebaik ini pada Youngmin, setidaknya sampai ia menyadari bahwa begitu banyak kekhawatiran memuncak di dadanya akibat gadis itu.

“Youngmin-ah, aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Tunggu sebentar.”

Tangan kanan Kangin menyelip di antara saku celananya sendiri dan mengeluarkan sebuah kotak kecil warna merah muda. Sementara tangan kirinya meraih pergelangan tangan Youngmin, membuat jemari gadis itu terbuka di hadapannya. Perlahan, Kangin meletakan kotak kecil itu di telapak tangan Youngmin dan membiarkan gadis itu menggenggamnya.

“Apa ini?”

“Kenapa kau bertanya lebih dulu sebelum membukanya? Seharusnya kau buka dulu!” Kangin membuat nada kurang menyenangkan seperti biasa.

Tapi bedanya, kali ini, Youngmin tidak marah. Ia hanya konsentrasi pada kotak tersebut dan membuka tutupnya pelan-pelan. Isinya adalah gantungan yang Youngmin lihat saat menemani Kangin membeli hadiah untuk halmoni pemilik toko bunga.

“Adjushi… Ini untukku?”

“Menurutmu, mungkinkah aku membelikan itu untuk Donghae?!”

Youngmin tak menjawab ucapan Kangin. Ia masih tak mempercayai pemberian Kangin itu. Jemari tangannya mengelus perlahan bandul berbentuk tetesan air tersebut dan bibirnya membentuk senyuman kecil.

“Gomawo adjushi. Jeongmal gomawo…” bisik gadis itu lirih.

“Sepertinya kau sudah sehat. Ayo kuantar kau pulang.”

–=–

Mobil Youngmin berhenti di depan rumah gadis itu dan kedua penumpangnya turun dari dalam. Hari sudah cukup malam ketika Kangin mengantar gadis itu pulang ke rumahnya.

“Adjushi, mian, aku tak bisa mengantarmu pulang. Ayahku akan marah jika aku-”

“Aku bisa pulang dengan kendaraan umum. Tak usah khawatir.”

Meski Kangin sudah berkata demikian, Youngmin tetap saja merasa bersalah pada laki-laki itu. Bagaimanapun juga, Youngmin sudah sangat merepotkan Kangin.

“Baiklah jika begitu.”

Hening sejenak di antara mereka. Canggung dan rumit, seperti biasa.

“Oh ya… ehmmm… gantungan tadi… kalau aku boleh tau, dimana pasangannya?”

Mendengar pertanyaan Youngmin, Kangin mengaduk-aduk kantong celananya dan mengeluarkan handphone-nya. Ia mengacungkan handphone tersebut ke depan wajah Youngmin. Nampak pasangan dari gantungan milik Youngmin terpasang di handphone Kangin.

“Kau memakainya?” tanya gadis itu terkejut.

“Iya. Kenapa?”

“Tapi… bukankah itu… untuk sepasang kekasih?”

“Kalau kau tak suka, aku bisa melepasnya.”

“Aniyo! Bukan begitu…” Youngmin menggantungkan ucapannya dan menggaruk pelan kepalanya.

“Sepertinya kau sudah mengantuk. Masuk dan istirahatlah karena ini sudah larut.”

Kangin mengacak pelan kepala gadis itu dan tersenyum singkat.

“Adjushi, kau tersenyum lagi.”

“Iya, karena kau ingin aku begitu.”

“Wae? Adjushi suka padaku?”

Kangin mengangkat alisnya dan berpikir sejenak, “Menurutmu, apa itu masuk akal?”

“Entahlah.”

Ucapan lirih gadis itu menyadarkan Kangin. Sepertinya, tak masuk akal bila ia menyukai Youngmin. Gadis itu memang cukup cantik, pintar dan menarik. Tapi, masalahnya, umur gadis itu lebih muda 17 tahun dari Kangin.

“Kalau aku menyukai adjushi, apa adjushi akan marah?” tiba-tiba, Youngmin mengatakan hal yang di luar dugaan.

“Apa maksudmu?”

“Aku menyukai adjushi.”

Kangin mengerjap sesaat mendengar pengakuan secepat kilat itu. Mulutnya menganga tak percaya dan jantungnya berdebar tak karuan.

“Jangan bercanda! Apa Donghae yang menyuruhmu berkata begitu?!”

“Tidak, bukan dia. Tapi aku memang suka padamu!”

“Tapi… kenapa?”

“Karena aku kenal siapa adjushi dan adjushi mengenal aku. Percaya atau tidak, aku tidak pernah sedekat ini dengan namja mana pun kecuali adjushi. Bahkan tidak dengan mantan pacarku. Tapi, kau berhasil membuatku nyaman sekalipun kadang-kadang kita bertengkar.”

Penjelasan gadis itu cukup mengejutkan. Seolah Kangin telah terkena sendiri maksud dari ucapannya waktu itu.

‘Ketika dua orang bertengkar, secara tidak langsung, mereka akan saling mengenal satu dengan yang lain. Mereka akan tau apa yang disukai dan apa yang tidak disukai musuh. Mereka akan saling mengetahui kelemahan dan kelebihan satu dengan yang lain.’

“Jadi… bagaimana?” ulang Youngmin kepada Kangin yang melamun.

“Kalau kau serius, maka, tak ada alasan bagiku untuk menolakmu.”

“Sungguh? Adjushi serius?”

“Iya, aku serius.”

Mata Youngmin berbinar dan bibirnya tersenyum bahagia mendengar jawaban itu. Ia menghambur ke dalam pelukan Kangin dan mendekap adjushi-nya itu erat-erat.

“Gomawo adjushi! Jongmal gomawo!”

Kangin hanya tersenyum kecil sembari memeluk gadis kecilnya itu.

“Ne, gomawo, Jung Youngmin…”

Gadis itu melepaskan tubuh Kangin dan menepuk singkat pipi Kangin. Ia mundur beberapa langkah dan hendak memasuki rumahnya. Tetapi, sesaat, ia berbalik untuk melambai pada pacar barunya itu.

“Adjushi, hati-hati di jalan… Saranghae!” Youngmin membentuk jarinya menyerupai hati.

“Ne, tentu saja.”

Kangin mengamati pintu rumah Youngmin yang tertutup setelah pemiliknya masuk. Ia menghela napas senang dan penuh kebahagiaan. Jemari tangannya hendak mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia merasa harus berbagi berita ini pada seseorang.

“Yak! Donghae-ya!! Aku sudah punya pacar!! Kau tak akan percaya ini! Aku dan Youngmin, kami, berpacaran!! Aku dan musuhku berpacaran!!”

–End–

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: