L.O.V.E

L.O.V.E

***

 

 

Encore dari tur konser boyband terbesar di Asia ini sudah mendekati akhirnya. Aku hanya bisa menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kutatap sebentar Seunghwa oppa yang hanya membalas dengan mengedikkan kepala. Walau berat, kulangkahkan kaki untuk mengambil lima botol air mineral yang sudah disiapkan para coordi sejak tadi sementara Seunghwa oppa juga mengambil lima botol agar dapat langsung dilempar ke arah para member jika konser berakhir.

Kemudian aku hanya bisa merenung saat menunggu semua member yang tersisa datang setelah konser selesai. Memikirkan semua yang telah terjadi selama 5 tahun terakhir. Tuhanku, sebenarnya aku mendapat rezeki atau kesialan saat mendapat pekerjaan ini? Mengurus kehidupan 13 orang, yang walaupun sekarang menjadi 10 orang saja. 10 orang dengan sifat yang berbeda satu sama lain. Dengan oppaku saja aku begitu sering bertengkar, apalagi dengan mereka? Tapi entah mengapa aku bisa bertahan selama 5 tahun ini.

Bagi ELF, menjadi diriku mungkin sebuah anugerah. Tapi aku kan bukan ELF walaupun aku memang mengagumi sekumpulan lelaki dewasa labil itu. Lagipula walaupun mereka sudah dewasa, ironisnya kehidupan telah menempa mereka untuk bersikap tidak terlalu dewasa. Masalah mereka, aku yang pusing. Mereka berkencan, aku yang mengcover semuanya. Aku berkencan, mereka menghalang-halanginya. Tapi entah mengapa aku bisa hidup selama 5 tahun ini.

Lamunanku dibuyarkan tiba-tiba oleh derap-derap langkah yang mendekati pintu ruang istirahat. Itu pasti mereka. Kusiapkan lagi botol-botol mineral yang kupegang. Begitu terbuka aku akan langsung melemparkan botol itu satu per satu.

And there they are. Berkeringat, terengah-engah, dan kelelahan. Kuserahkan 5 botol air mineral yang kupegang pada Donghae, Eunhyuk, Jungsoo, Yesung, dan Kyuhyun. Lalu aku menunduk lagi, berusaha menghindari percakapan dengan mereka.

“Noona? Waekeuraeyo?”tanya Kyuhyun tiba-tiba sambil menenggak air mineralnya.

“Ah? Aniyo. I’m just tired.”jawabku santai. Aku menoleh sebentar pada Seunghwa oppa dan tiba-tiba aku dipeluk. Sosok penuh keringat yang memelukku itu tak lain adalah Siwon. Dan tiba-tiba saja mataku bertemu pandang dengan orang itu. Refleks kutundukkan kepalaku agar tak terlibat saling tatap menatap dengannya.

“Min Hee-ah. Maaf kalau kami begitu sering merepotkanmu. Maaf kami sering membuatmu kesal dan lelah dengan semua ini. Jeongmal…mianhamnida. Tapi kami gak tau harus gimana kalau gak ada kamu. Oppa harap, kita bertahan bersama-sama.”ujar Siwon yang kemudian melepas dekapannya, tersenyum lemah, dan membelai kepalaku singkat.

Aish! Jinjjayo? Siwonnie, sejak kapan aku memanggilmu oppa, he. Kau itu namdongsaeng, tau?”balasku sedikit bercanda untuk menutupi keterkejutanku akan perlakuannya tadi. Hatiku yang tidak begitu peka ini trenyuh seketika.

“Noona, jika hyungdeul mengganggumu atau membuatmu tidak nyaman, kau tau kan kau bisa bersandar di sini.”ujar Kyuhyun sambil menepuk pelan pundaknya sendiri.

Aku tak keberatan kok.”tambahnya lagi sambil tersenyum jahil. Hah. Magnae yang satu ini benar-benar senang sekali menyulut pertengkaran kecil yang tak berarti.

“Yah! Kyuhyunnie, Min Hee akan menangis di dadaku, kau tau? Jadi jangan harap ia mau menggunakan pundak lemahmu itu untuk bersandar. Karena The Gorgeous Hyukjae lah yang akan jadi tempat Min Hee bersandar jika ia lelah.” Dan ya, mereka mulai berdebat kecil tentang pada siapa kah aku akan bersandar dan berkeluh kesah jika aku merasa letih dengan semua ini. Kecuali orang itu. Ia hanya diam dan sibuk mengelap keringatnya.

Aku menghirup napas dalam-dalam dan melepasnya. Berusaha melupakan perlakuan berbedanya selama 2 tahun terakhir, melupakan… bagaimana aku terjerat dalam situasi tidak mengenakkan seperti ini.

Lagipula, banyak yang harus kupikirkan. Seperti… bagaimana bisa orang-orang berkelakuan konyol seperti mereka menjadi idol? Hallyu star pula. Dan bisa-bisanya disaat harusnya mereka mengeluh, mereka justru mengkhawatirkan aku? Ya Tuhan. Kegilaan ini harus dihentikan.

“Ya! Stop it! Aku tak akan mengeluh pada kalian! Cish! Benar-benar kalian ini.” Aku keluar dari ruang istirahat dan kuharap sedikit omelan tidak menyakiti mereka. Jujur saja, aku tak begitu pintar dalam mengekspresikan perasaan dan menghindari orang. Jadi, lebih baik aku menghentikan mereka dan keluar ruangan. Karena kalau aku tetap di dalam, aku akan benar-benar mengalami gangguan jiwa.

***

Di dalam van menuju Sky City Apartment

Aku menoleh ke belakang sebentar. Donghae, Eunhyuk, Jungsoo, dan Sungmin sudah tertidur. Sungmin bahkan tertidur di bahu Kyuhyun yang masih sibuk dengan Starcraft di PSP-nya. Aku mendengus pelan yang rupanya terdengar oleh Kyuhyun. Ia menunda permainannya dan tersenyum padaku,”Noona, mau tidur di pundakku juga? Ah~ atau noona ingin tidur di pangkuanku? Aku bisa membangunkan Sungminnie hyung untuk bertukar tempat duduk dengan noona.”

Aku tersenyum dan menggeleng pelan sambil menatap wajah para member satu per satu. Mereka masih menggunakan kostum show mereka. Jungsoo-ssi, Sungmin, Kyuhyunnie, Eunhyuk, dan… Donghae? Sejak kapan ia terbangun dan menatapku tajam seperti itu.

Kau bosan hidup? Tidur sana! Kalau matamu berkantung seperti itu, mana ada laki-laki yang mau denganmu kecuali kami Super Junior.”ujarnya ketus lalu kembali memejamkan mata.

Haish! Lihat kelakuan mereka! Mereka ini sudah hilang akal? Mata mereka sendiri seperti panda. Keringat mengalir dimana-mana. Tubuh yang pegal disana-sini. Dan masih sempat saja menyuruhku istirahat. Coba saja aku menyuruh mereka begitu. Ada saja alasan untuk membantah.

Aku kembali berbalik dan mencoba memejamkan mata mengikuti nasihat Donghae. Aku yakin, tak sampai semenit, aku sudah tertidur. Dan itu benar.

***

Dentingan sendok yang beradu dengan mug putih polosku membuatku tak menyadari kalau ada seseorang di belakang yang menatapku dengan mata tajamnya.

“Ya, Jungsoo-ssi. Hebat sekali kau jam segini masih berkeliaran di dorm.” Sontak aku membalikkan badan dan gadis itu sudah duduk di meja makan dengan bertopang dagu. Aku hanya tersenyum dan meneruskan mengaduk susu coklat hangatku.

Mau?”tanyaku sambil melangkah ke sofa depan TV. Ia tak menjawab tapi dapat kurasakan ia mengikutiku. Benar saja, begitu aku duduk di sofa, ia juga menghempaskan badannya dan berbaring di atas sofa.

Siapa yang menggendongku sampai ke lantai 12 dan membaringkanku di tempat tidurmu?”tuntutnya dengan kepala terbalik dan menatapku tajam. “Tentu saja dia. Mau siapa lagi?” jawabku ringan sambil menyesap susu coklatku.

Kukira ia akan menggerutu tidak jelas karena hal itu, tapi tidak. Ia hanya membetulkan letak kepalanya dan mendengus.

Kau tahu, Jungsoo-ssi? Aku heran sekali denganmu dan dongsaeng-dongsaengmu itu, dan dia juga tentunya.”ucapnya tiba-tiba sambil mengangkat tangannya ke udara dan memandang langit-langit dari sela-sela jemarinya yang terentang bebas.

Kalian itu capek. Habis Sushow. Tapi… tapi kalian malah… malah… bersikap seperti ini terhadapku,”suaranya tersendat-sendat dan serak. Lalu ia mengubah posisinya menjadi telungkup dengan mata menatapku nanar. Tunggu? Ia… akan menangis kah?

Aku pasti benar-benar bodoh. Hiks… tapi aku tak tahu sebab kebodohanku ini… hiks… Entah bodoh karena mau menerima pekerjaan ini, atau bodoh karena bertahan selama 5 tahun, atau bodoh karena… hiks… karena tak memikirkan perasaan dan keadaan kalian,”gadis itu benar-benar terisak. Air matanya mengalir deras sekalipun ia terus berusaha menghapus alirannya. Min Hee… sesenggukan. Terakhir kali ia sesenggukan seperti ini adalah ketika appa-nya Donghae meninggal dan Kyuhyun koma akibat kecelakaan 3 tahun lalu.

Mata besar yang mengeluarkan air mata itu menatapku pilu. “Aku… aku harus bagaimana Jungsoo-ah? Marhae! Nan eotteokhae?”

Ada apa sebenarnya ini? Tidak biasanya… Apa mungkin ada hal yang mengganggunya? Kuputuskan akan menjelaskan pada gadis ini dimana letak kebodohannya.

Duduklah yang benar. Dan aku akan menjelaskan padamu, kau harus bagaimana.

Aku meletakkan mugku di meja di samping sofa. Setelah ia memperbaiki posisinya menjadi duduk, aku beranjak dan bersila di lantai.

Kami saling bertatapan dan aku mengambil kedua tangannya untuk ku genggam.

***

Karena kami memiliki kekuatan yang begitu besar untuk mencintai.” Jungsoo memulai monolognya sambil menghapusi air mataku.

Sebagai pendengar yang baik, aku tetap diam dan ia pun melanjutkan,”Kami mencintaimu, kami mencintai Super Junior, dan kami mencintai ELF. Setiap dari kami memiliki kekuatan untuk mencintai berjuta-juta orang. Di Sushow, fanmeeting, performa di stasiun televisi, kami menyerahkan diri dan cinta kami seutuhnya untuk ELF. Entah kami lengkap ber-15 atau ber-10.

Lalu, ketika kamu tidak ada di sekitar kami, seperti ketika kami latihan. Entah itu latihan vokal atau latihan koreografi, kami menyerahkan cinta kami kepada Super Junior. Dan sisa waktu yang kami miliki itu, kami serahkan kepadamu seutuhnya.

Saat makan, menonton TV, beres-beres dorm, olahraga, saat di backstage,bahkan jika saat tidur mampu, kami pasti melimpahimu dengan cinta. Bayangkan saja berapa pasokan cinta kami untukmu seorang,” mendengar penjelasan Jungsoo, air mataku malah mengalir makin deras.

Ia menghapus air mataku dan melanjutkan lagi,”Jadi kami tidak lelah. Karena kekuatan seperti itu diluar kuasa kami. Kami tak bisa merasa lelah mencintai. Jadi, kalau kau merasa lelah karena apapun, kau bisa beristirahat sebentar kepada salah satu diantara kami. Contohnya, kau bisa beristirahat pada orang itu dan mulai memikirkan hubungan kalian berdua. Kalau masih lelah, kami akan berkumpul untukmu agar kau bisa membagi kelelahanmu itu pada kami. Dan jika itupun masih tidak mampu menghilangkan letihmu, kau tau kau bisa istirahat total kapan saja.” Dan ketika mengatakan kalimat terakhir itu ia bangkit dari duduknya dan mengecup pundak kepalaku singkat. Lalu dapat kulihat sosoknya membelakangiku dan kembali ke kamarnya.

Kalimat terakhir itu membuat dadaku terasa sesak. Aku tak bisa memikirkan kemungkinan bahwa aku “istirahat total”. Memikirkannya saja membuatku hampir tak bisa bernafas, apalagi jika hal itu menjadi kenyataan. Aku… aku tak mau. Aku pasti tak akan tahan berpisah dengan mereka. Tak akan tahan jika berpisah dengannya.

Air mataku mengalir lagi. Ide tentang “istirahat total masih menggema di benakku. Dan setiap teringat, yang timbul hanyalah rasa tidak enak di ulu hatiku. Bagaimana bisa? Setelah semua yang terjadi, aku malah merasa lelah dan letih. Padahal aku… padahal aku… ya Tuhan… ternyata aku masih begitu kekanakan dan tak becus dalam mencintai mereka.

***

Lama aku termenung sendiri. Semua begitu mencintaiku dengan benar. Hanya aku… hanya aku yang bodoh dan kekanakan disini.

***

Setelah slot kunci apartment lantai 11 yang berbentuk kartu itu kumasukkan, segera kutekan kombinasi angka yang menjadi password agar aku bisa masuk ke dalam dorm lantai 11. Enter kutekan dan lampu papan kunci elektronik itu berkedip berwarna hijau.

Aku masuk ke dalam dorm dengan mengendap-endap seperti seorang pencuri. Ruangan yang kutuju pertama kali adalah kamar Hangeng yang sedang ditempati Siwon jika ia berkunjung ke dorm. Kuputar kenop pintunya perlahan dan berharap menemukan Siwon yang terlelap. Namun yang kudapati adalah sosoknya yang berlutut di depan palang salib di atas dinding.

Jesus, beri aku kekuatan untuk mencintai lebih banyak lagi seperti engkau yang begitu kuat mencintai umatmu, dan yang terkasih Maria Magdalena. Berilah uri Min Hee kekuatan yang lebih besar lagi.” Sekilas aku mendengar kalimat terakhir dari doa yang ia panjatkan.

Siwonnie,”sapaku lemah sambil memeluknya dari belakang setelah ibadahnya selesai. Ia tersentak sebentar dan menoleh ke belakang,”Hmm,” balasnya lembut sambil mengusap tanganku yang melingkar di lehernya.

I love you,”kata-kata itu pun akhirnya meluncur dari mulutku. Kulepaskan pelukanku dan membiarkan ia berbalik dan berdiri.

Ini pertama kalinya kau mengucapkan itu padaku, bukan? Dan ini pertama kalinya kau yang memulai skinship. Ini pasti berkah Tuhan,”ujarnya sambil mengusap air mataku sementara aku hanya bisa mengangguk lemah.

Kalau kau berhenti menangis, aku berjanji akan lebih mencintaimu lagi. Arachi?”tambahnya sambil tersenyum. Mau tak mau aku ikut tersenyum,”Tidurlah, aku tak ingin dikira Jiwon tak becus mengurus kakaknya.” Ujarku, ia lalu masuk ke dalam selimut dan tersenyum lagi padaku sebelum ia memejamkan matanya.

Kemudian aku beranjak ke kamar sebelah dan mendapati selimut Ryeowook tersingkap dan Yesung tertidur dengan earphone  di telinganya. Aku memperbaiki selimut Ryeowook lalu melepas earphone Yesungie. Wajah mereka saat terlelap begitu damai meski tersisa guratan lelah disana. Refleks, aku menghampiri kandang Ddangkoma, Ddangkomin, Ddangkomaeng, dan Kkoming.

Jaga appa kalian, ya? Jangan sampai ia sakit.” Yah, kurasa tak apalah berbicara pada binatang sesekali. Sebelum menutup pintu, aku menoleh sebentar dan mendapati Yesung dalam keadaan setengah sadar menegurku,”Min Hee-ah, kau boleh berbicara pada anak-anakku kapanpun kau mau. Aku dan Ryeowook bisa menjaga rahasia.” Ujarnya datar. Aku hanya bisa nyengir dan kemudian pergi menuju kamar Kyu dan Sungmin.

***

Tepat seperti yang kuduga, Sungmin tampaknya tertidur lelap, namun tidak dengan magnae gila itu. Merasa pintu kamarnya terbuka, ia mendongak dan melepas earphonenya yang tersambung dengan PSP kesayangannya itu ketika mendapatiku berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia sumringah,”Noona, sini! Ayo tidur denganku!”godanya dan tiba-tiba saja sebuah bantal berwarna pink terbang dan mengenai kepala Kyuhyun.

“Yah~ Kyuhyunnie! Diamlah! Tak mungkin Min Hee mau tidur denganmu yang kurus kering seperti itu. Kau juga Min Hee-ah. Jam segini masih berkeliaran. Mau bilang apa aku pada kakakmu nanti jika kami bertemu?”omel Sungmin pada kami berdua dalam posisi membelakangi kami. Ia… belum tidur rupanya.

“Ne~ oppa. Aku hanya ingin mengucap selamat… tengah malam.” Jawabku. Aku mendekati Kyuhyun dan mengambil PSPnya.

“Ya, noona. Sedikit lagi aku akan menamatkan level 21. Jebal.” Dia memohon dan dia pikir dia bisa mengalahkanku dengan puppy eyesnya itu seperti ia mengalahkan hyung-hyungnya yang lain? Aku meletakkan PSP itu di dalam lemari, mengunci lemari itu dan menyimpan kuncinya. Itu pasti akan membuat malam ini lebih aman. Kyuhyun ternyata sudah memejamkan saat aku berbalik. Kubenarkan letak selimutnya kemudian aku beranjak untuk mengunjungi kamar terakhir di dorm lantai 11 setelah sekali lagi mengucapkan kalimat itu,”I love you.”

***

Manusia anchovy itu menoleh dan tersenyum ketika aku masuk ke kamarnya,”Mau mengucapkan ‘I love you’ padaku kan?”tembaknya langsung. Bagaimana ia bisa tahu? Ah, tentu saja anak ini menguping tadi.

Tidak, jika kau masih tak mau tidur dan menggodaku. Dan iya, jika kau tidur sekarang.”ancamku. Namun itu tampaknya tak berhasil. Ia masih menunjukkan gummy smilenya dan menggodaku,”Aigoo~, kau pasti benar-benar mencintaiku, kan? Lebih dari dia kan?” Demi Tuhan!

Pilih jawaban tidak atau iya?”ancamku lagi.

Iya nah iya. Salah aku ni nah maaf nah iya nah iya tidur sekarang aku.” Hyukjae cemberut dan langsung menarik selimut tebalnya sampai menutupi wajahnya.

“I love you.” Dan kalimat itu mengakhiri kehadiranku di dorm lantai 11. Saatnya kembali ke lantai 12 dan… menjadi jujur pada diri sendiri.

***

Ah, Shindong lupa lagi mematikan laptopnya. Anak ini sebenarnya tak jauh beda dengan Kyuhyun. Hanya medianya saja yang berbeda. Setelah mematikan laptop Shindong dan menyelimutinya, aku memperbaiki posisi kaki Seunghwa oppa yang melengkung itu. Tapi tepat saat aku berbalik, sebuah tangan menahanku tiba-tiba.

Haiss Min Hee-ah, oppa kira kau itu paparazzi. Sana tidur cepat. Mengagetkan saja. Untung aku tak punya penyakit jantung.” Rupanya Seunghwa oppa kaget saat aku memperbaiki posisinya.

Aku bergegas menutup pintu setelah Seunghwa oppa melepaskan tanganku. Dan tak lupa kalimat ‘I love you’ kukatakan sebelum menutup pintu.

Tiba-tiba…

Min Hee-ah ngapain kau kayak gitu?” Aku berbalik dan hampir saja berteriak kalau saja aku tidak hapal kalau itu adalah suara khas Heechul. Bagaimana tidak kaget? Ia berkeliaran di dorm dengan gaun tidur pria dan masker yang menutupi wajahnya hingga ia tampak seperti hantu.

“Yah, oppa. Kau benar-benar mengejutkanku. Untung saja aku hapal kalau itu suaramu.”jawabku sambil berlalu karena canggung tertangkap basah sedang ber-‘I love you’-ria pada semua member dan Seunghwa oppa.

“Ya, Min Hee,”panggilnya lagi. Aku menoleh dan mendapati ia sudah berada di dalam kamar dengan kepala menjulur keluar di ambang pintu,”Aku adalah lelaki sejati. Jadi aku tak akan membiarkanmu mengatakan’nya’ duluan. Saranghaeyo.” Ia tersenyum manis. Sebelum ia menutup pintunya, aku sempatkan tersenyum dan berbisik lirih,”Nado.”

Dan, here I am. Di depan kamar sang leader yang sudah ‘menyadarkanku’ dan seorang namja yang sudah dua kali memintaku untuk menjadi kekasihnya dan tentu saja sudah dua kali aku tolak dengan alasan profesionalitas.

Kuputar kenop pintu itu perlahan. Aku mendapati seorang Jungsoo tertidur dengan mulut sedikit terbuka dan Lee Donghae yang tertidur dengan gaya yang sangat rapi dan menggemaskan. Aku menghampiri Jungsoo oppa terlebih dulu dan meletakkan sebuah kartu berisi kalimat ‘I love you’ dan ‘Thanks’ di meja di samping tempat tidurnya.

Kemudian aku berbalik dan mendapati orang itu disana. Tertidur lelap. Kuhampiri ia yang terbalut dengan selimut berwarna biru dan bermotif laut itu. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Kuputuskan untuk duduk di tepi tempat tidurnya dengan posisi membelakanginya.

***

Kau tidak akan mengatakan ‘I love you’ padaku?”tanya Donghae tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Min Hee.

A… aku…”

“Sebegitu tidak enakkah rasanya setiap kau ingat kalau aku mencintaimu? Atau kau begitu bodoh hingga masih tak mau mengakui dan jujur pada dirimu sendiri?”kata-kata Donghae benar-benar menohok ulu hati Min Hee.

Min Hee masih tak mau berbalik dan menatap Donghae sampai-sampai Donghae bangkit dari tidurnya dan berlutut di hadapan Min Hee.

Kau tau bagian mana dari diriku yang sakit? Tidak ada. Kau tau bagian mana dari diriku yang kecewa? Tidak ada. Kau tau bagian mana dari diriku yang takut? Semuanya. Aku takut kau membenciku karena aku mencintaimu!  Aku takut kau mengacuhkanku seolah aku tak ada!”tangan Donghae mencengkram pergelangan tangan Min Hee.

Tatap aku!”paksa Donghae. Merasakan kekuatan Donghae di pergelangan tangannya, Min Hee memberanikan diri menatap Donghae dengan genangan air di pelupuk matanya yang siap jatuh. Wajahnya pias.

A… aku tak akan membencimu. Apalagi mengacuhkanmu seperti itu. Tidak… tidak akan pernah.” Dan pertahanan Min Hee pun runtuh. Air mata itu mengalir lagi.

Melihat Min Hee yang menangis, Donghae melepas genggamannya dan menghapus air mata Min Hee,”Lalu mengapa kau tak mau mengakuinya? Jujurlah. Setidaknya pada dirimu sendiri. Hmm?”tuntutnya dengan nada selembut mungkin.

“Mianhamnida. A… aku…” Tiba-tiba perkataan Min Hee terputus karena Donghae sudah terlebih dulu mengecup lembut bibirnya.

Kau tak perlu berkata apapun. Aku sudah tau. Kami semua sudah tau,”ucap Donghae setelah melepaskan ciumannya.

Wajahmu terlihat lelah. Sekarang tidurlah disini. Aku akan menjagamu,” tambah Donghae sambil mengacak lembut kepalanya. Min Hee hanya mengangguk pelan dan menurut saat Donghae membaringkannya dan menyelimutinya. Donghae bahkan meninabobokan gadis itu dengan lagu “My Everything”. Dan dalam sekejap, Min Hee tertidur dengan perasaan lega. Untuk pertama kalinya.

***

Min Hee terbangun dan tak mendapati siapa-siapa di dalam kamar yang bernuansa putih dan biru laut itu. Hanya sebuah kertas yang tampaknya sengaja diletakkan di tangannya. Min Hee membuka kertas itu dan tertawa setelah membaca isinya.

“Tuhan menjawab doaku. I love you too.”-Siwon

“Tenang saja, kami merahasiakan bahwa kau berbicara dengan anak-anakku. Tapi karena kami berdua adalah pihak kedua yang menulis pesan ini, otomatis orang-orang dibawah kami tau apa yang terjadi. Mian.”-YeWook

Noona, PSP ku!”-HandsomeKYU

Aigoo~, aku pasti menceracau tadi malam. Mianhae.”-Minnie

“Anak-anak Yesung hyung? Dan kau lebih memilih Donghae? Hatiku hancur T.T”-Dancing Machine #1

“Kenapa kau matikan laptopku? Aku sedang chat dengan Nari itu T.T”-Shin Donghee

“JANGAN MENGAGETKAN LAGI!”-Seunghwa

Cheonmaneyo”-Angel

Stay healthy, hehe cause I love you.”-Donghae yang kau cintai.

Min Hee mengusap pelan genangan air di pelupuk matanya. Selama ini, tidak seharusnya ia bersikap loveless kepada mereka.

Samar-samar ia bisa mendengar kegaduhan di balik pintu. Ia pun bangkit dan membuka pintu dan…

Kegilaan menyambutnya… Hah, apakah ia telah melakukan kesalahan semalam? Batin Min-Hee. Ia tersenyum simpul kemudian bergabung dengan kegilaan itu.

FIN.

1 Comment (+add yours?)

  1. vey
    May 16, 2017 @ 06:07:17

    Agak bingung sama sudut pandangnya..tp ceritanya menyentuh 😭jd kangen oppa2 suju😣

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: