Lovely Violin Ghost

bhjnjm

Lovely Violin Ghost

By : Nam Hee Rin

Genre : horror, romance

Tag : Henry (oneshot)

***

Suatu ketika Henry remaja sedang merasa bosan, karena tak ada yang bisa dikerjakan dan teman-temannya memiliki acara masing-masing. Akhirnya, Henry memutuskan untuk mengunjungi sekolah musik yang didirikan ibunya. Setibanya disana, awalnya Henry mengintip tiap kelas berisi murid yang sedang belajar berbagai alat music, namun semakin masuk ke dalam, kelas yang berisi makin kosong, karena memang pengisi jadwal latihan hari ini cukup sedikit.

Saat hendak kembali menuju jalan utama, tiba-tiba Henry mendengar suara violin yang mengalir dengan merdu dari suatu kelas di depannya. Merasa penasaran, Henry pun mengintip, dan tampak sosok seorang gadis sedang memainkan violin, dan dari raut mukanya, gadis itu tampak begitu menikmatinya. Henry pun memutuskan untuk memasuki ruang tersebut.

Namun, begitu pintu dibuka, gadis itu langsung menoleh dengan kaget dan berhenti memainkan violin. Saat Henry berjalan mendekatinya, gadis itu segera melangkah menuju pintu yang berada di sisi lain ruangan itu. Sebelum menghilang di balik pintu, gadis itu menoleh dan menyunggingkan senyum menantang. Henry segera mengejar gadis itu, namun ia tak dapat melihatnya dimanapun, sehingga ia pun kembali ke ruangan tadi.

Dipandanginya violin yang tadi dimainkan oleh gadis itu,sebuah violin yang unik, baik dari struktur, bentuk, maupun warnanya. Ia merasakan tarikan untuk mendekati violin tersebut, dan tanpa sadar ia sudah memposisikan violin itu di tubuhnya, dan mulai memainkan suatu nada. Henry begitu tenggelam dalam alunan tersebut, sampai tak menyadari bahwa ibunya daritadi memperhatikannya.

“Henry-ah.”, panggil ibunya, dan Henry segera sadar lalu memberhentikan permainan violinnya.

“Sejak kapan kau bisa bermain violin?dan seindah itu?”Tanya ibunya bingung, karena setahunya Henry tak pernah mau untuk berlatih alat music.

Henry sendiri sama bingungnya. Ia hanya menatap tangannya dan juga violin tersebut, kemudian ia berjalan ke arah ibunya dan menunjukan violin di tangannya.

“Entahlah eomma, aku juga tak mengerti. Namun, begitu aku memegang violin ini, seluruh perasaanku serasa bebas, dan tanganku melakukan keinginannya sendiri.”jawab Henry.

Ibunya kemudian memperhatikan violin itu, dan raut wajahnya segera berubah menjadi terkejut, namun dengan segera lagi raut wajahnya kembali seperti semula.

“Mungkin kau hanya terlalu lelah, ayo Henry kita kembali ke rumah. Kebetulan eomma juga sudah menyelesaikan segala urusan.”ajak ibunya.

Setelah menaruh violin di tempatnya semula, Henry mengikuti ibunya keluar ruangan, tetapi pikirannya masih terpaku pada violin tadi. Tanpa ia ketahui, ada sosok yang juga memperhatikannya dari kejauhan. Sosok itu memandangnya dengan senyum licik dan mata tajam.

Setibanya di rumah, Henry segera terlelap di kasurnya, karena merasa kelelahan. Namun, di dalam mimpinya terulang kembali kejadian sejak ia melihat gadis yang memainkan violin itu, sampai saat ia sendiri memainkan violin secara tak sadar. Henry langsung terbangun dengan badan berkeringat, kemudian menarik napas panjang dan meminum segelas air putih yang terletak di meja samping kasurnya. Setelah merasa tenang, Henry mencoba kembali untuk tidur. Tetapi, begitu dirinya mulai memasuki alam mimpi, kejadian tadi kembali terulang, sehingga hari itu ia tak bisa tidur dengan tenang.

Keesokan paginya, hari Sabtu dengan matahari yang bersinar tentram, namun berlawanan dengan kondisi Henry. Henry keluar dari kamarnya dengan kantung hitam di bawah matanya, dan jelas mood Henry sungguh buruk karena terus menerus memimpikan hal yang sama sepanjang malam.

Hari itu, Henry tak pergi sekolah karena memang hari itu merupakan hari khusus ekstrakurikuler di sekolahnya, sedangkan kedua orangtuanya tetap bekerja, sehingga Henry hanya sendiri di rumahnya. Setelah menyantap sarapan, ia menuju kamar mandi untuk bersiap-siap, karena ia berencana untuk hang out bersama teman-temannnya.

Selesai mandi, Henry menuju wastafel untuk membersihkan muka. Tetapi, ketika ia selesai membasuh mukanya dan mengangkat wajahnya, di cermin tampak sosok gadis pemain violin sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya. Henry yang terkejut segera membalikkan badannya, namun tak tampak apapun di belakangnya. Henry kembali menatap cermin, dan disana tak tampak apapun selain bayangan dirinya dan benda-benda di belakangnya.

Setelah menenangkan diri, Henry kembali ke kamar dan mengenakan baju yang sudah ia siapkan di tempat tidur. Helai pakaian terakhir telah ia gunakan, dan ia menghadap kasurnya untuk membereskannya, namun di tengah kasur tergeletak sebuah violin, violin yang sama persis seperti yang kemarin ia mainkan dan ada dalam mimpinya. Henry segera terlonjak ke belakang sampai hampir limbung, kemudian ia menyanggakan tangan pada lutut, lalu kembali tegak dan melihat kea rah tempat tidurnya. Violin itu telah hilang tanpa jejak.

Sejak saat itu, Henry mulai mengalami berbagai hal yang ganjil, dan selalu berhubungan dengan sosok gadis pemain violin, serta violin unik itu. Karena tak tahan, Henry segera menuju tempat janjian ia dengan temannya, namun dalam perjalanan, saat memutar music, tiba-tiba terdengar nada lembut yang sama dengan yang kemarin ia dengar, dan terdengar bahwa nada tersebut dimainkan menggunakan violin, padahal seharusnya itu merupakan kaset music underground.

Bertambah buruk, saat ia melihat kaca spion samping mobilnya, sosok gadis itu tampak di belakang mobilnya, menatapnya dengan tatapan yang sama. Henry segera menghentikan mobilnya tepat sebelum mobilnya mengarah ke pinggiran jalan. Di club malam yang ia kunjungi sore itu pula, ia melihat sosok gadis itu dalam keramaian, berdiri di kejauhan, tetap dengan tatapan yang sama. Henry segera meminum minuman beralkohol di depannya dalam porsi banyak. Dan hal terakhir yang ia ingat adalah sosok gadis itu mendekatinya, lalu pandangannya buyar.

Begitu terbangun dari tidur yang tak disadari itu, Henry merasakan pusing yang cukup berat, namun begitu ia merasa lebih baik, perhatiannya langsung teralih pada tempat ia berada sekarang. Sekolah music ibunya, tepatnya di ruangan yang sama seperti yang dulu. Henry langsung mencoba terbangun dan bersikap waspada, melihat ke sekeliling ruangan.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, dan tampaklah gadis itu masuk dan mendekati Henry, sambil membawa violin unik tersebut. Henry langsung melangkah mundur menjauhi gadis itu dan membalikkan badan untuk bersiap berlari, namun gadis itu telah ada di depannya lagi. Henry segera terjatuh dengan napas terengah-engah sambil tetap menatap gadis yang melihatnya dengan menunduk.

“Apa yang kauinginkan dariku?”Tanya Henry.

“DIA telah memilihmu.”ucap gadis itu singkat.

Awalnya Henry merasa bingung, siapa yang dimaksud gadis itu dengan DIA, namun Henry akhirnya mengerti saat sang gadis menyodorkan violin unik itu ke arahnya. Henry pun berkata, “Aku sama sekali tak bisa memainkan violin.”

“Kau memiliki potensi.”sahut gadis itu.

“Lalu, apa yang harus kulakukan dengan violin itu?dan apa keuntungannya bagiku?”Tanya Henry.

“Kau harus belajar memainkannya. Dan kau akan meraih hal yang selalu kauimpikan.”ucap gadis itu.

Dengan ragu, akhirnya Henry menerima violin yang disodorkan padanya, kemudian gadis itu berkata, “Aku akan selalu mengawasimu. Aku bisa membantumu dan menampakkan diriku, namun kau harus mempelajari caranya sendiri., dan setelah itu gadis itu melangkah menuju pintu dan menghilang.

Henry masih merasa agak linglung, namun kemudian ia melangkahkan kakinya, tak lupa membawa violin itu bersamanya, dalam kegelapan menuju jalan keluar sekolah music itu. Ternyata mobilnya terparkir di depan sana. Ia segera kembali ke rumahnya dan terlelap di kasurnya. Keesokan paginya, Henry sengaja bangun lebih awal, sehingga ia masih bisa bertemu ibunya dan menanyakan sesuatu.

“Eomma, apakah kau mengetahui sesuatu mengenai violin ini?”, Tanya Henry, sambil menunjukkan violin unik itu.

Ibunya tampak kaget, lalu bertanya, “Bagaimana kau mendapatkannya?”, namun karena Henry tak menjawab dan hanya melihat ibunya dengan tatapan meminta penjelasan. Akhirnya, setelah menarik napas panjang, ibunya mulai menjelaskan.

“Sebenarnya violin itu sudah ada sejak lama, dan cukup terkenal  karena entah mengapa, tiap orang yang dapat memainkan sebuah lagu menggunakan violin ini dengan baik, itu tandanya orang itu memilliki potensi yang bagus. Beberapa tahun yang lalu, violin ini banyak digunakan oleh murid sekolah music eomma, untuk menguji potensi mereka, dan memang terbukti, orang yang berhasil melantunkan sebuah lagu dengan baik, kelak pasti menjadi musisi yang membanggakan.

“Namun, hal itu berubah semenjak setahun yang lalu, ketika seorang murid meninggal karena kanker darah. Murid itu, Nam Hee Rin namanya, adalah seorang gadis pemain violin, dan merupakan murid terakhir yang berhasil lolos saat mencoba violin itu. Kematiannya sangat disayangkan, karena ia diprediksi dapat menjadi diva dalam dunia violinist, dan saat itu ia hendak mengikuti kejuaraan bergengsi internasional.

“Sejak kematiannya, tiap murid kurang berpotensi yang mencoba violin itu akan terluka, mulai dari yang ringan sampai yang hampir merenggut nyawa. Karena itu, tak ada lagi yang mau mencobanya, dan violin itu diletakkan di ruangan kelas yang jarang digunakan. Eomma sampai kaget saat 2hari lalu kau memainkannya dan menghasilkan nada yang indah. Mungkin itu artinya kau memiliki kemampuan yang terpendam.” Jelas ibunya, lalu setelah Henry mengangguk mengerti, ibunya berangkat menuju sekolah musiknya untuk bekerja.

Henry terdiam cukup lama, kemudian ia memasuki studio music di rumahnya, tempat yang memang disediakan ibunya untuk bermain music. Setelah mempersiapkan diri, Henry memposisikan violin itu dan mulai memainkan nada yang berusaha ia ingat pernah dimainkan gadis itu. Setelah selesai, Henry melihat ke sekeliling menanti kehadiran gadis itu, namun Henry  tak melihatnya, kemudian menghela napas. Saat ia hendak keluar dari ruangan itu, ia kembali terlonjak ke belakang, karena ternyata gadis itu telah berdiri di depannya.

“Kau sudah bisa menghapal nada itu?berarti potensimu memang benar-benar bagus, menjengkelkan. Baiklah, untuk apa kau memanggilku?”ucap gadis itu datar.

“Jadi namamu Nam Hee Rin?”Tanya Henry, lalu setelah melihat gadis itu mengangguk, Henry melanjutkan, “Mengapa kau tak membiarkan murid lain mencoba violin ini?kau tak ingin memiliki penyaing dalam legenda music? Dan mengapa kau membiarkanku memainkannya?”.

“Aku hanya tak ingin violin ini digunakan oleh orang-orang yang hanya sekedar iseng, malah aku sangat menginginkan legendaris violin lain muncul. Tentang kau, saat aku bermain tempo hari, semestinya tak ada yang bisa menyaksikannya, tetapi kau bisa mendengar suaranya, bahkan bisa melihatku. Maka aku mengijinkanmu mencoba violin itu, bahkan mencoba menarikmu mendekati violin itu, dan ternyata memang benar.”, jelas Heerin.

“Apa yang kauinginkan dariku setelah aku menjadi ahli memainkan violin? Kau ingin aku menggantikanmu dalam perlombaan internasional itu?”Tanya Henry.

“Sudah kukatakan, kau yang akan mendapat keuntungan, aku takkan mendapatkan apapun. Soal perlombaan itu, aku tak akan pernah meminta orang lain untuk berkorban untukku.”sahut Heerin.

Henry terdiam beberapa saat, mencoba memikirkan perkataan Heerin. “baiklah kalau begitu, mari segera mulai belajar, dan kau harus membimbingku setiap saat.”ujar Henry kemudian, sambil memposisikan violin itu lagi.

“Kau tak boleh menggunakan violin itu, ia sudah cukup rapuh karena orang-orang iseng yang kusebutkan tadi. Gunakan saja violin yang dimiliki ibumu.”ujar Heerin, sambil menunjuk suatu sudut ruangan dimana tersimpan banyak alat music.

Sejak saat itu, Henry rajin berlatih violin tiap pulang sekolah, bahkan ikut mendaftar di sekolah music ibunya. Semakin lama bersama Heerin, Henry mengakui bakat menawan yang dimiliki Heerin, dan menyadari bahwa Heerin tak bermaksud jahat. Niat baiknya hanya sedikit … ekstrim.

Lima belas bulan telah berlalu, kemampuan Henry telah meningkat dengan cepat, karena selain bakat yang mengagumkan, ia memiliki kemampuan memahami sesuatu dengan cukup cepat.  Dalam lima belas bulan tersebut, Henry telah cukup sering mengikuti perlombaan local dan meraih juara, sehingga kali ini ia memiliki kesempatan khusus untuk mengikuti kompetisis bergengsi internasional yang dulu gagal diikuti Heerin. Ah ya, perasaan Henry pada Heerin juga berkembang ^^.

“Aku jadi sebal padamu. Kau hanya perlu berlatih selama 15 bulan untuk mencapai tingkatan yang sama seperti setelah aku belajar 5tahun. Mungkin sekarang aku harus pergi, jadi kau takkan memenangkan kompetisi itu.”, canda Heerin suatu saat, ketika mereka sedang beristirahat.

“Yaaah, ini semua kan berkat bantuanmu juga, Rin-ah, jadi aku harus berterimakasih padamu. Dan, kau tak boleh pergi sekarang, aku masih menginginkanmu di sisiku.”ucap Henry.

Mereka sempat terdiam sedikit karena ucapa Henry, namun Heerin berusaha membuat suasana kembali ringan dengan berkata, “Tentu saja, karena kau tak memiliki teman lain untuk dijahili, kan?”.

Pembicaraan berlanjut dengan ringan, namun keduanya tetap memikirkan ucapan yang sempat dilontarkan Henry tadi. Perlombaan akan berlangsung besok, dan Henry sangat tegang saat gladi resik hingga tak sadar ada sepasang kaki yang dijulurkan di depannya, dan Henry pun tersandung lalu terjatuh dari undakan setinggi 1meter. Badan Henry memang tak menderita luka yang berat, namun tangan kiri Henry yang dipakai menumpu tubuhnya terlihat memar, sehingga ia segera dilarikan ke rumah sakit

Setibanya di rumah, saat Henry memasuki kamar, tampak sosok Heerin sedang berdiri dengan tatapan sedih. Kemudian Heerin mendekati Henry dan berusaha menyentuh lengan Henry yang diperban, tetapi apa daya mereka bukan berasal dari satu alam, Heerin tak bisa menyentuhnya. Merasakan kekhawatiran Heerin, Henry berusaha menenangkannya.

“Tenang saja, meski lengan kiriku terluka, aku akan tetap mampu memainkan violin dengan baik, dan memenangkan kejuaraan itu.”ucap Henry dengan senyum tulus.

“Apakah kau tahu bahwa tadi temanmu sengaja berusaha menyandungmu?aku tahu bahwa ia merasa iri dengan kemampuanmu hingga berusaha membuatmu gagal mengikuti kompetisi itu. Aku akan memberinya pelajaran yang jauh lebih buruk, agar ia menyesal.”kata Heerin dingin, dan hendak pergi, namun Henry menahannya.

“Tunggu, Heerin, jangan lakukan itu. Aku tak suka melakukan perbuatan, dan aku akan lebih membencinya jika kau harus melakukan pembalasan itu untukku. Biarlah ia melihat, bahwa meski aku terluka aku tetap mampu menampilkan yang terbaik.”, ujar Henry.

“Baiklah, tapi biarkan aku melakukan satu hal.”kata Heerin, kemudian ia menaruh telapak tangannya di atas lengan Henry, menutup matanya dan berkonsentrasi, lalu tak lama kemudian lengan Henry terasa membaik. Heerin menarik kembali tangannya, dan tampak bahwa ia mengeluarkan banyak tenaga, karena wajahnya nampak lelah. Henry mengucapkan terima kasih, dan Heerin menyuruh Henry untuk beristirahat.

Beberapa saat kemudian, Henry telah terlelap, Heerin berjalan mendekatinya dan duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah pulas Henry dengan tatapan penuh kasih sayang, kemudian mengelus tepi wajah Henry, meskipun tetap tak bisa bersentuhan.

“Apakah kau tahu? Impianmu kini telah terwujud, aku tahu bahwa selama ini kau selalu berharap dapat dipandang orang lain tanpa melibatkan orangtuamu yang sukses. Dan secara tak sadar, kau juga berusaha mewujudkan impianku, yaitu tampil dan memenangkan kompetisi itu, dan itu akan membuatku tenang untuk meninggalkan dunia ini.

Aku yakin jika kau mengetahui hal ini, kau takkan mengikuti kompetisi itu, maka aku tak memberitahumu. Mohon jangan salahkan aku, karena aku melakukannya juga demi kebaikanmu, ini kesempatan bagus untuk masa depanmu. Good bye Henry-ah,Saranghae., ungkap Heerin, kemudian menghilang dalam kegelapan.

Tanpa Heerin ketahui, sebenarnya Henry belum tertidur, dan mendengar seluruh ucapa Heerin. Namun Henry tak berusaha mendebat ucapan Heerin, karena ia tahu bahwa ucapan Heerin memang benar dan tak bisa dibantah. Henry hanya bisa menatap langit-langit kamarnya, dan airmata menetes ke pipinya.

Keesokan harinya, Henry telah siap mengikuti kompetisi. Saat ia bertemu dengan temannya yang telah mencelakainya, Henry hanya menatapnya dingin, namun tatapannya telah berkata mewakili mulutnya, ‘kau takkan bisa mengalahkanku dengan mencelakaiku’,kemudian ia berjalan melewati temannya itu.

Kompetisi telah berakhir, kini seluruh peserta sedang menunggu hasil penilaian juri, namun Henry tak merasa gugup karena ia yakin ia telah menampilkan yang terbaik. Beberapa saat kemudian, seluruh peserta dipanggil untuk naik ke atas panggung, dan disebutlah beberapa nama, sesuai urutan 5besar dari yang terakhir.

“Dan, juara pertama adalah, Henry Lau. Silakan berikan standing applause untuk penampilannya yang menawan. Henry-sshi, silakan ucapkan beberapa kata atas kemenanganmu ini.”ucap sang MC dan menyerahkan microphone pada juri.

Setelah menarik napas, Henry berkata, “Saya sungguh tak menyangka bahwa saya akan memenangi kompetisi ini, namun saya tahu bahwa saya telah menampilkan yang terbaik, sehingga seharusnya saya menjadi yang terbaik.”, Henry terdiam sejenak mendengar tawa para penonton, “Saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya pada seluruh orangtua saya yang telah menyediakan berbagai hal yang saya butuhkan baik materiil maupun batin, seluruh teman saya yang senantiasa menyemangati saya, serta …”, Henry terdiam lagi, melihat sekeliling, lalu menemukan sosok Heerin yang sedang berdiri di kejauhan dan memperhatikannya.

“serta Nam Hee Rin, seorang pemain violin menakjubkan yang telah meninggal 3tahun lalu, yang membuat saya memikirkan untuk bermain violin dan meraih masa depan cemerlang. Thank you Heerin-ah, saranghae.”, Henry menyelesaikan pidatonya, dan penonton melakukan standing ovation untuknya.

Henry terus melihat ke arah Heerin, dan setelah Henry menyelesaikan pidatonya, Nampak sosok Heerin semakin pudar, sampai kemudian menghilang. Namun Henry sempat melihat senyum damai Heerin yang ditujukan padanya. Henry takkan melupakan saat itu.

Tahun telah berlalu, bakat Henry semakin terasah, dan dengan keberuntungan, ia berhasil lolos audisi sebagai anggota subgroup sebuah boyband terkenal, yaitu menjadi member Super Junior M. Tak pernah sekalipun Henry menghilangkan sosok Heerin dari benaknya, dan berbagai jasa Heerin untuk mengembangkan kemampuannya. Heerin melihat Henry dari kejauhan dengan senyum bahagia.

THE END

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: