Just Because A Notebook

Just Because A Notebook

***

Heera’s POV.

Kini aku tengah berada di antara ratusan ELF yang memiliki tujuan yang sama denganku yaitu, tanda tangan member Super Junior. Aku melihat jam tanganku dan mengeluh “Aiyaa ~! 15 menit lagi kelasku akan dimulai. Cepatlah mereka keluar.”

Setelah aku berkata begitu, teriakan para ELF semakin keras sepertinya para member Super Junior sudah keluar. Aku alihkan pandanganku dari jam tangan dan pandanganku berhenti pada dia. Dia mengenakan setelan berwarna hitam dengan hairstyle mushroom nya bagiku dia terlihat seperti, angle.

Kulihat para ELF mulai mendekati member favorit mereka masing-masing. Aku masih berdiri ditempatku semula, masih bingung ingin kemana. Akhirnya aku memutuskan untuk meminta tanda tangan Lee Donghae, member kedua yang kusuka setelah dia. Kebetulan mereka berdiri berdekatan. Kulangkahkan kakiku kearahnya.

Akhirnya tibalah saat ku, kini aku berada dihadapan Donghae. Dia sangat tampan dengan setelan berwarna hitam dan senyuman ramah yang tak pernah lepas dari wajahnya. “Annyeong. Namamu siapa ?” Tanya Donghae padaku dengan nada yang ramah.

“Annyeong. Park Heera imnida.” Balasku sambil memberikan album Bonamana padanya. Setelah menuliskan tanda tangannya dia menatapku dan tersenyum “Ini.” Aku pun ikut tersenyum. “Kamsahamnida.” Jawabku.

Kulihat lagi jam tanganku. “Aigoo. Tinggal 10 menit lagi, aku tidak ingin dihukum.” Gumamku pelan.

Aku pun melangkahkan kaki ku kearah dia, yang tengah dikelilingi oleh para ELF dan menunjukan senyuman khasnya. Tibalah saatku, ‘Ya Tuhan, dia berkali lipat lebih tampan dari yang kulihat di layar televisi dan lagi aku sangat bahagia bisa melihatnya dengan jarak sedekat ini.’ Batinku.

Kulihat dia menatapku sesaat dan mengalihkan pandangannya pada album Bonamana milikku yang dipegangnya. “Annyeong, Heera-sshi. Bisakah kau pilihkan nickname untukku ?” Ucapnya tanpa melihatku. Aku berpikir keras, memilih nickname yang tepat untuknya karena yang kutahu dia memilki banyak nickname.

Aku menarik nafasku “Jewel Guy atau Dancing Machine ?” Tebak ku ragu. Namun sepertinya dia senang dengan jawabanku karena bisa kulihat dia tersenyum kecil dan menambahkan gambar senyuman disebelah tanda tangan nya. Sebelum mengambil album Bonamana ku darinya aku membuka ranselku dan mencari-cari buku atau lebih tepatnya hadiah yang sudah kupersiapkan untuknya. Buku yang berisi foto-foto dia dari berbagai macam event dan juga tulisan-tulisan yang kubuat sendiri. Aku rela tidak belajar untuk ulangan matematika hanya untuk menyelesaikan hadiah untuk dia.

Segurat senyuman terukir di wajahku ketika aku menemukan buku berwarna biru safir itu. Segera kuambil buku itu dan menyerahkan padanya tak lupa kuambil album Bonamana ku yang sedang ditangannya. “Kamsahamnida.” Ucapku singkat dan segera berlari kearah halte.

“Aku bisa telat !” Teriakku frustasi ketika sampai dihalte.

****

.Eunhyuk’s POV.

Ketika aku dan member yang lain keluar dari gedung SM kulihat banyak ELF yang menunggu diluar gedung. Berdasarkan yang kulihat sepertinya mereka ingin meminta tanda tangan dan manajer hyung memang sudah membertahukan soal ini pada kami.. Aku menunjukan senyuman khas ku pada mereka. Ketika para ELF mulai mendekati para member termasuk aku. Kulihat seorang gadis yang kemungkinan ELF karena dia memegang album Bonamana, dia masih berdiri tidak bergerak sedikitpun. Matanya menerawang ke langit, raut wajahnya sangat bingung seperti sedang berusaha memecahkan satu soal matematika yang sangat sulit tapi raut wajahnya itu justru membuatku tersenyum kecil.

Kulihat dia melangkahkan kakinya kearah Donghae yang kebetulan berada didekatku. Walaupun aku sibuk dengan para ELF yang berada dihadapanku tapi aku masih bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Akhirnya aku mengetahui namanya, Park Heera. Entah kenapa aku merasa tertarik pada gadis itu.

Setelah sadar dari lamunan panjangku, aku mengambil album yang berada disalah satu tangan ELF. Ketika aku menoleh kearah pemiliknya, aku terdiam sesaat. ‘Bukankah dia gadis yang kulihat tadi ?’ Batinku.

Aku menatapnya sejenak dan mengalihkan pandanganku pada album yang kini berada ditanganku. ‘Cish. Sialan ! Kenapa aku tiba-tiba gugup begini ? Kenapa aku tidak berani menatap matanya. Hyukjae-ah, Neo baboya !’

“Annyeong, Heera sshi. Bisakah kau pilihkan nickname untukku ?” Akhirnya malah pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulutku. “Jewel Guy atau Dancing Machine ?” Kudengar dia menjawab pertanyaanku. Aku tersenyum kecil. Dia memilih nickname yang sangat tepat. Kutambah gambar senyuman disebelah tanda tanganku.

Ketika aku ingin mengembalikan album miliknya kulihat dia sedang mencari-cari sesuatu didalam ranselnya. Lagi-lagi dia menunjukan raut wajah bingungnya itu, lalu dia tersenyum dan mengeluarkan buku berwarna biru safir dan memberikannya padaku.

“Kamsahamnida.” Ucapnya singkat, dari nada dia berbicara sepertinya dia sedang terburu-buru. Kulihat dia berlari kearah halte.

Setelah para ELF sudah pulang, aku dan member lainnya memasuki mobil. Segera kuambil buku berwarna biru safir hadiah dari gadis itu tapi keningku langsung berkerut ketika melihat buku itu.

“Park Heera, XII A

Notebook Song”

“Lihat, Hyukjae mendapatkan buku tugas dari penggemarnya.” Ucap Donghae sambil menahan tawa. Kutatap wajahnya tajam. “Diam.”

****

 

.Heera’s POV.

Ini sudah ke sepuluh kalinya aku memeriksa seluruh kamarku tapi apa yang kucari tidak kutemukan. Aku mengambil ranselku yang kebetulan berada diatas tempat tidurku. “Aigoo. Aku yakin aku meletakkan buku itu di dalam ranselku tapi kenapa tidak ada. Bagaimana ini, tugasnya harus dikumpulkan lusa.” Desahku pelan.

Mataku membulat ketika melihat buku yang seharusnya hadiah yang kubuat untuk Eunhyuk masih terletak dengan rapihnya diatas meja belajarku. “Aiyaa ! Aku pasti salah memberikan hadiah pada Eunhyuk. Ah, ottokhae ?” Rutukku pada diriku sendiri sambil menjambak rambutku.

Aku berpikir sejenak dan mengalihkan pandanganku kearah laptop ku yang berada didekatku. Kuraih laptop itu dan membuka browser dan kuketik link untuk log in ke UFOTown. Setelah itu, kutujukan sebuah pertanyaan pada Eunhyuk.

“Oppa, apakah kau membawa buku tugasku ?”

Namun kuhapus lagi ketikan ku itu. Aku masih ragu apakah buku ku itu memang ada ditangan Eunhyuk, bisa saja buku itu tertingal dikelasku. Setelah berpikir cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk tidur.

****

‘Kriing.. Kriing..’ Kumatikan alarm yang menggangu mimpi indahku dan mengeluh. “Aish.. Siapa yang memasang alarm di hari minggu begini ?”

Aku segera bangun dari tempat tidurku dan berjalan kearah kamar mandi. Setelah selesai mencuci wajahku, aku segera turun untuk sarapan. Kulihat eomma sedang memegang sesuatu berwarna biru safir.

“Ah, Heera-ah. Akhirnya kau bangun juga, tadi ada yang menitipkan buku ini untukmu. Katanya buku ini punya mu.” Ucap eomma sambil memberikan buku biru safir itu. Kuambil buku itu dan melihatnya, ternyata benar itu memang buku tugasku.

Aku menoleh ke eommaku. “Eomma, siapa yang memberikan buku ini ?” Tanya ku penasaran. ‘Apa mungkin Eunhyuk ?’ Batinku.

Mata eomma terlihat menerawang berusaha mengingat. “Seorang namja, tinggi nya mungkin sekitar 175 cm, wajahnya tidak terlalu jelas karena dia memakai kacamata hitam dan topi. Kalau dilihat dengan caranya berpakaian mungkin dia orang terkenal karena dia terlihat buru-buru dan gelisah sekali.” Jelas Eomma panjang lebar.

Aku terdiam sesaat dan segera berlari kekamarku. “Aigoo. Ternyata memang benar yang kupikirkan, aku salah memberikan hadiah pada Eunhyuk. Apa jangan-jangan yang mengantarkan buku ini Eunhyuk ?”

Setelah selesai sarapan, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ditaman. Aku memilih untuk duduk di bangku taman yang dilindungi dengan pohon besar itu. Kulihat ada seorang namja duduk disitu juga sambil membaca buku. Setelah duduk disitu aku memesan ice cream. “Ahjussi, Ice Cream steawberry nya satu.” Ucapku ramah.

Setelah menerima ice cream strawberry ku, kudengar namja yang duduk disebelahku berbicara. “Jadi kau menyukai Ice Cream Strawberry ?” Ucapnya. Aku menaikan alisku, sepertinya aku mengenal suara ini. Kuhadapkan kepalaku kearah namja itu, mataku membulat dan ingin berteriak namun namja itu dengan cepat membekap mulutku.

“Sssh.. Jika kau teriak, aku bisa dalam bahaya.” Ucap namja itu masih membekap mulutku. Aku menyuruhnya melepaskan tangannya. “Eunhyuk-sshi, sedang apa kau disini ? Sunggguh kebetulan yang aneh dapat beretemu denganmu disini.” Ucapku dengan nada pelan.

“Hanya berjalan-jalan untuk mendapatkan udara segar setelah dari rumahmu. Untunglah tidak ada yang mengetahui aku disini. Kau sudah menerima bukunya, ‘kan ?” Ucapnya singkat tanpa menatapku. Aku menganggukan kepalaku pelan. “Cish. Bagaimana mungkin seorang penggemar memberikan buku tugasnya sebagai hadiah.” Ucapnya dengan nada mengejek, menurutku. Aku memanyunkan bibirku ketika mendengar jawabannya.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan nya dia menyelaku. “Jadi.. kau menyukai Ice Cream Strawberry ?” Kata Eunhyuk mengulang pertanyaan nya.

Aku menganggukkan kepala ku dengan cepat. “Iya, sangaaaat suka.” Jawabku dengan nada yang ceria. “Waeyo ?” Tanyaku sambil menatapnya penasaran.

Kulihat dia memalingkan wajahnya kelain arah, entah kenapa aku merasa dia selalu menghindar ketika aku menatapnya. “Mungkin lain kali aku bisa.. mentraktirmu ?” Jawabnya pelan.

Aku tersenyum mendengar jawabannya sekaligus senang, bagaimana mungkin aku tidak senang. Seorang yang selama ini kusukai ingin mentraktirku. Belum sempat aku menjawabnya, kudengar handphone nya berbunyi. Segera dia keluarkan handphone dari sakunya dan membaca isi pesannya.

Dia menatapku dan tersenyum. “Aku harus pergi dulu. Annyeong, Heera-sshi !” Ucapnya dan segera meninggalkanku yang masih tidak percaya dapat berbicara seperti ini dengan Eunhyuk.

****

            Kubolak-balikan tiap lembar buku matematika yang berada dihadapanku dengan malasnya. ‘Aigoo. Aku sama sekali tidak mengerti dan lagi perpustakaan ini sangat sepi, membuatku semakin pusing.’ Desahku pelan sambil memegangi kepalaku. “Dan lihatlah buku ini, sangaaat tebal.” Gumamku lagi.

Karena bosan, kuambil buku tugasku dan kubolak-balikan tanpa sengaja kulihat dikertas paling belakang tertulis rangkaian kalimat.

“Annyeong Heera sshi. Maaf karena aku seenaknya melihat isi bukumu ini padahal buku ini bukan hadiah yang ingin kau berikan padaku.

Tapi kau perlu tahu bahwa semua lagu yang kau tulis sangat indah, sepertinya kau cocok untuk menjadi seorang songwriter. Bagaimana kalau kau buatkan lagu untuk album berikut kami ? Hahaha Tenang saja, aku hanya bercanda 😀

Aku hampir lupa. Kau pasti sudah menyiapkan hadiah yang sebenarnya untukku, ‘kan ? Maka dari itu cepat berikan padaku karena itu sudah menjadi milikku.

-Lee Hyukjae-”

Aku tersenyum membaca setiap kalimatnya, dia sangat yakin sekali aku akan memberikan hadiah yang sebenarnya padanya. Kututup buku itu dan mendesah pelan. Saatnya belajar lagi.

****

.Eunhyuk’s POV.

Lagi-lagi Donghae menyuruhku mengembalikan semua buku yang dipinjamnya di perpustakaan ini dan lagi-lagi aku malah mau disuruh olehnya. Kulangkahkan kaki ku kedalam perpustakaan kecil itu dan menyerahkan buku-buku yang berada ditanganku pada penjaga perpustakaan itu. Aku memandangi setiap sudut perpustakaan itu. Pandanganku terhenti pada seorang yeoja yang tengah duduk disalah satu meja perpustakaan.

Yeoja itu adalah Heera, dia mengenakan hoodie berwarna putih dan skinny jins biru. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda dan dia mengenakan kacamata baca tebal berwarna hitam. Dia terlihat lebih imut daripada saat mengenakan seragam sekolahnya. Namun aku langsung menggelengkan kepalaku dengan kencang. ‘Aigoo. Hyukjae-ah kau terdengar seperti maniak.’ Batinku.

Lagi-lagi dia menunjukkan ekspresi bingungnya itu dan berhasil membuatku tersenyum kecil. Kulihat dia mengambil buku berwarna biru safir yang kuyakin itu buku tugas yang kukembalikan. Sepertinya dia menemukan tulisan yang kubuat kemarin, kulihat dia tersenyum setelah membacanya dan langsung mengambil sebuah buku tebal untuk dibacanya.

Kudekati gadis itu dan duduk disebelahnya namun dia tidak menyadari keberadaanku, akhirnya aku memutuskan untuk mendekatkan wajahku pada buku tebal yang sedang dibacanya. ‘Dia membaca rumus-rumus matematika ? Aku sama sekali tidak mengerti.’ Batinku dan kembali menyandarkan diriku dibangku.

Kutatap gadis itu lagi, dia masih belum menyadari keberadaanku. ‘Apa gadis ini tidak peka sama sekali ? Cish ~ Bahkan dia tidak tahu bahwa ada namja tampan disebelahnya.’ Batinku sambil terkekeh pelan, akhirnya aku membuka mulut “Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau baca saat ini.” Ucapku datar. Kulihat gadis itu menoleh dan matanya membulat. “Eunhyuk oppa ! Kenapa kau bisa bearada disini ?” Tanya gadis itu dengan wajah penasaran.

“Aku hanya mengembalikan buku-buku yang dipinjam dengan si bodoh Donghae.” Ucapku dengan nada jengkel. Kulihat dia menganggukan kepalanya pelan. “Oh, selagi aku berada disini. Beri padaku !” Ucapku sambil mengulurkan tanganku padanya. Lagi-lagi wajah gadis itu bingung. “Maksudmu ?” Tanyanya. “Tentu saja, hadiah yang ingin kau berikan padaku.” Jawabku santai. “Ng ? Aku tidak membawanya. Mianhae ~” Balasnya dengan polosnya.

“Ah, ini kedua kalinya kita bertemu tanpa disengaja. Sungguh kebetulan yang aneh.” Ucapnya sambil menatapku.

Aku mengalihkan pandanganku kearah buku-buku yang berada diatas meja. ‘Cish. Kenapa aku tidak berani menatap matanya ?’ Rutukku dalam hati. “Kebetulan ? Kurasa ini bukan kebetulan.” Balasku. “Maksudmu ?” Tanya dia. “Bagiku ini bukan kebetulan mungkin..” Ucapnya terputus.

Aku menoleh kearahnya. “..takdir.” Lanjutku sambil tersenyum. “Takdir ? Aku masih belum mengerti.” Ucapnya dengan wajah polosnya. Aku tersenyum kecil dan berdiri. “Pikirkanlah.” Ucapku singkat sambil mengacak-acak rambutnya dan pergi.

****

.Heera’s POV.

Hari ini cuacanya sangat panas, kulangkahkan kaki ku ke taman dekat rumahku untuk membeli Ice Cream Strawberry kesukaanku. Aku duduk ditempat biasanya. “Ahjussi, Ice Cream Strawberry nya satu !” Ucapku dengan nada ceria.

Ketika aku ingin membayar Ice Cream Strawberry ku sebuah tangan menghentikanku. “Jangan, biar aku yang bayar.” Ucapnya cepat dan segera memberikan uang pada penjual Ice Cream itu. “Bukankah sudah kubilang aku akan mentraktirmu. Kau masih ingat, ‘kan ?” Tanya pria itu yang kini sudah duduk disebelahku.

Dia mengenakan hoodie berwarna putih dan jins biru. Rambutnya ditutupi dengan topi dan dia mengenakan kacamata baca tebal. Dia terlihat sangat tampan.

“Eunhyuk-sshi, Untuk apa kau berada disini ? Bukankah kau seharusnya memiliki schedule ?” Tanyaku padanya. “Menemuimu. Tidak, jadwalku hari ini sedang kosong.” Jawabnya sambil menunjukkan senyuman khasnya.

Menemuiku ? Dia ingin menemuiku ? Ingin rasanya aku melompat tapi itu sungguh memalukan jika dilihat oleh Eunhyuk. Akhirnya aku hanya membalas kata-katanya dengan anggukan mengerti. “Kau baru pulang dari sekolah ?” Tanya Eunhyuk padaku, mungkin karena dia melihat aku masih mengenakan seragamku.

“Iya, biasanya sehabis pulang sekolah aku selalu kesini untuk membeli Ice Cream Strawberry kesukaanku.” Jawabku sambil tersenyum. “Sepertinya kau benar-benar menyukai Ice Cream Strawberry, aku akan sering-sering mentraktirmu.” Ucap Eunhyuk sambil tertawa.

Aku menatapnya sejenak. “Apa kau bercanda ? Kau ingin sering-sering mentraktirku ?” Dia tertawa mendengar perkataanku. “Tentu saja aku bercanda.” Jawabnya ringan.

Aku menggembungkan pipiku sebal. “Kukira kau serius, padahal aku sudah senang akan sering-sering ditraktir untuk makan Ice Cream Strawberry.” Ucapku kesal. “Aigoo. Lihatlah ada Ice cream yang menempel di wajahmu itu.” Ucap Eunhyuk sambil menatapku.

“Benarkah ? Dimana ?” Tanya ku panic. “Sini biarku bersihkan.” Kata Eunhyuk sambil mengelap bibirku dengan ibu jarinya. “Nah, sudah bersih sekarang.” Aku terdiam seketika, bisa kurasakan wajahku memanas. Bagaimana tidak, Eunhyuk menyentuh bibirku dengan jarinya. Aku segera berdiri. “Terima kasih atas traktirannya. Annyeong !” Ucapku cepat sambil membungkukan diriku sedikit dan segera pergi sebelum Eunhyuk melihat wajahku yang sudah memerah seperti kepiting rebus. >o<

****

            Aku menyentuh bibirku dengan jemari tangaku. Sentuhan jari Eunhyuk masih terasa dan ini membuatku hampir gila. ‘Aigoo. Park heera ! Kembalilah ke alam sadar, apa yang sedang kau pikirkan ? Ingat dia itu seorang idol !’ Rutukku sambil membenamkan wajahku ke bantal keesayanganku.

Aku tidak boleh begini terus. Aku menatap buku berwarna biru safir hadiah untuk Eunhyuk yang masih terletak dengan rapihnya diatas meja belajarku. Ya benar, aku tidak boleh begini terus. Aku tidak ingin masalah ini menjadi rumit.

****

Kulangkahkan kaki ku ke gedung Sukira tempat dimana Eunhyuk menjadi DJ bersama Leeteuk. Aku melihatnya sedang tertawa ketika berbicara dengan Leeteuk. Hari ini dia mengenakan Jumper berwarna putih dengan jins biru. Ditambah topi berwarna hitam. Aku menunggunya sambil memegang buku berwarna biru safir itu dengan erat.

Ketika dia ingin berjalan keluar, kusadari dia melihatku. ‘Andwae ! Sekarang bukan waktu yang tepat. Kau harus pulang, Heera-ah !’ Batinku panik dan segera beranjak pergi. Samar-samar kudengar seseorang memanggil namaku namun aku tetap berlari.

Namun sepertinya aku kalah cepat dengan Eunhyuk, dia berhasil meraih tanganku dan menarikku untuk menghadap padanya. Kulihat Leeteuk oppa berada dibelakanganya namun jaraknya cuku jauh, wajahnya seperti kebingungan. Eunhyuk menatapku heran. “Kenapa kau lari begitu saja ?” Tanyanya. “Ani.. Aku hanya ingin memberikan ini. Kau sudah mendapatkan hadiah dariku, ‘kan ? Jadi kumohon jangan temui aku lagi untuk meminta hadiah untukmu itu.” Ucapku lirih sambil menyerahkan buku berwarna biru safir padanya.

Dia menatapku bingung. “Kenapa aku tidak boleh bertemu denganmu lagi ?” Tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya, bisa kurasakan air mataku jatuh. “Aku.. Aku harus pergi sekarang. Annyeong !” Ucapku cepat dan segera berlari. Aku mendengar Eunhyuk memanggil namaku beberapa kali.

‘Ini keputusan yang tepat. Annyeong, Lee hyukjae.’

****

.Author’s POV.

Setelah kejadian itu, Heera dan Eunhyuk tidak penah bertemu lagi. Justru akhir-akhir ini mata Heera hanya tertuju pada seorang Lee Donghae. Entahlah sepertinya sosok Lee Hyukjae sudah tidak ada lagi dihatinya.

Heera melangkahkan kakinya ke lokernya. Ketika membuka lokernya dia melihat secarik kertas didalamnya. ‘Temui aku diruang musik jam 5. Hari ini.’ Heera membacanya dan menghembuskan nafasnya. ‘Pasti hanya orang yang tidak ada kerjaan.’ Batinnya tak peduli.

Ketika Heera berjalan disekitar koridor dia berhenti didepan ruang musik. Dilihatnya jam tangannya tepat pukul 5 sore. ‘Andwae ! Pasti itu hanya orang tidak ada kerjaan !’ Batin Heera yakin sambil menganggukan kepalanya. Tepat saat dia ingin melangkahkan kakinya dia mendengar suara alunan piano dan dia sangat familiar dengan lagu yang dimainkan. “Ah ! Bukankah ini laguku ?” Kata Heera pelan.

Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ruang musik. Matanya membulat ketika melihat seseorang yang meainkan piano tersebut. “Jangan berteriak dan tutup pintunya.” Ucap pria itu datar masih memainkan piano. Ingin rasanya Heera pergi dari situ tapi bodohnya dia malah mengikuti perintah pria itu dan menutup pintunya.

Heera masih terdiam didepan pintu, terpesona dengan permainan piano pria yang berada dihadapannya. Namun permainan piano itu terhenti, pria itu berdiri dan berjalan kearah Heera. “Heera-sshi. Kenapa kau seenaknya pergi meninggalkanku kemarin ? Dan lagi kenapa kau menangis ?” Tanya pria itu datar.

Heera terdiam tidak ingin menjawab pertanyaan pria yang kini berada dihadapannya. “Kau tahu, tindakanmu kemarin itu membuatku hampir gila ! Kau menagis dihadapanku dan pergi begitu saja setelah memberikanku hadiah.” Teriak pria itu dengan nada marah.

Heera membuka mulutnya. “Aku.. Aku dan kau itu hanya hubungan antara Idol dengan fans jadi aku merasa kita tidak bisa bertemu secara terus-menerus. Apalagi ditambah sikapmu itu.. Itu bisa membuatku terlalu berharap dan aku tidak mau merasakan sakit pada akhirnya.” Jawab Heera sambil menunsukan kepalanya tidak berani menatap pria yang ada dihadapannya.

“Jadi hanya karena itu ?” Tanya pria itu memastikan. “Baiklah, bagaimana kalau kita mulai dari awal ?” Tanyanya. Heera menatap pria itu dengan tatapan bingung. “Ng ? Maksudmu ?” Tanyanya.

Pria tersebut mengulurkan tangannya “Annyeonghaseyo. Lee hyukjae imnida. Kau bisa memanggilku Eunhyuk.” Ucapnya sambil tersenyum.

Heera masih tidak mengerti tapi dia menyambut uluran tangan Eunhyuk. “Park Heera imnida.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Teman ?” Ucap Eunhyuk sambil menunjukan senyuman khasnya. “Ng ?” Gumam Heera pelan masih tidak mengerti. “Ya, teman. Jadi hubungan kita bukan lagi hubungan antara Idol dengan fans namun hubungan pertemanan. Dan satu lagi, panggil aku dengan sebutan ‘Oppa.’ Okay ?” Jelas Eunhyuk.

Heera tersenyum kecil mendengar penjelasan Eunhyuk “Ne, Teman.”

‘Namun suatu saat nanti kuyakin sebutan ‘teman’ akan berganti menjadi ‘sepasang kekasih.’ Batin Eunhyuk.

..The End..

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: