After All

huf

After All

Written By: IJaggys

Lee Donghae & Han Cheonsa (OC) | Ficlet – Angst – Romance

 .

.

I keep thinking there is nothing left in me to break. Then I wake up and break all over again. Yet somehow, I’m never broken. I survive.

 .

.

Suara dentingan ponsel yang terlerak di ujung sofa, memecah keheningan disana.

Aku mengalihkan pandanganku dari jendela besar yang terdapat di apartemen ini, pemandangan akan sibuknya lalu lintas, serta orang-orang yang berjalan cepat di bawah sana—selalu menjadi pengisi waktu luangku di dalam apartemen mewah yang terasa sangat kosong.

Aku menatap layar ponsel itu seklilas, melihat satu baris pesan baru. Itu dari dia.

“I’m sorry, Han Cheonsa.”

Mungkin itu adalah kata paling sederhana yang pernah dia ungkapkan kepadaku. Dia selalu menjadi seorang pria yang menguasai keadaan dengan pemikirannya yang cerdas, atau kata-katanya yang bisa membuat semua orang terkesima dengan apa yang dia utarakan.

Aku memutuskan untuk duduk di sofa itu, menatap layar ponsel dengan waktu yang cukup lama—berusaha untuk membentuk sebuah jawaban yang koheren di dalam kepalaku, untuk membalas pesan singkatnya.

Aku tidak yakin apa yang lebih buruk; luka dan pengkhianatan yang dia torehkan, atau gagasan bahwa dia akan memperbaiki itu semua dan memulai semuanya lagi dari awal bersamaku.

Kalian tahu, kekuatan hubungan kami tidak pernah dipertanyakan, semuanya sudah jelas. Kami telah melalui banyak waktu sulit bersama, tapi bukankah semua hubungan selalu memiliki waktu sulitnya sendiri?

Dia memang bisa menjadi seorang pria yang menyulitkan, tapi aku mencintainya karena itu. Pembicaraan kita selalu mengalir secara ringan, bebas, dan kita selalu mengerti apa yang kita pikirkan tanpa harus berbicara banyak.

Tapi kemudian semua itu berubah.

Sedikit berubah.

Awalnya aku tidak menyadarinya, tapi hubunganku dengannya secara perlahan mulai memudar. Dia mulai membatasi pembicaraannya dengan diriku, dia mulai merahasiakan sesuatu, dan menolak untuk menjelaskan apa yang tengah terjadi di dalam hidupnya.

Dia mulai mengalihkan perhatiannya ke hal lain, dia seakan mengenyahkan kehadiranku—dia tidak lebih memperlakukanku sebagai sebuah pajangan yang selalu dia banggakan setiap kali teman-temannya datang dan menatapku penuh harap.

Baginya, aku tidak lebih dari sebuah tropi yang mengangkat harga dirinya sebagai seorang laki-laki dan kepuasan emosionalnya ketika semua pria melemparkan tatapan iri mereka setiap kali dia memperkenalkanku sebagai tunangannya.

Tanggapannya menjadi lebih singkat, lebih samar, dan tidak tertarik seakan dia tidak sabar lagi menungguku. Sebenarnya, aku belum pernah mendengar kabar darinya dalam beberapa minggu terakhir, meski diriku sempat mencoba menghubungi dirinya beberapa kali.

Namun, dia tidak pernah membalasnya—dan aku tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu.

Pertanyaan atas kepergiannya setelah kabar perselingkuhannya terkuak selalu memenuhi kepalaku. Apakah dia sudah tidak perduli lagi denganku? Apakah dia akan mengakhiri ini semua dengan jelas dan mengakhiri pertunangan ini? Apakah dia akan memulai hidupnya dengan wanita lain?

Tapi mengapa?

Mengapa setelah sekian lama, dia memutuskan untuk mengirimkan pesan itu seakan-akan dia tahu bahwa aku akan selalu menerimanya kembali.

Mengapa dia tidak bisa mengatakan sesuatu sebelumnya?

Aku hanya ingin semuanya berjalan seperti dahulu kala, seperti yang seharusnya. Tapi aku juga tidak bisa terus berpua-pura seakan tidak ada yang terjadi di antara kita.

Aku telah melalui banyak rasa sakit atas semua penghianatan dan semua prilaku tak adil yang dia lakukan dibalik pintu yang tertutup rapat.

I keep thinking there is nothing left in me to break. Then I wake up and break all over again. Yet somehow, I’m never broken. I survive.

Tapi menyimpan semua kebencian ini, tidak akan mengubah fakta bahwa diriku masih mencintainya. Dan aku pikir dia juga masih sangat mencintaiku, bahkan jika dia memiliki cara yang lain untuk menunjukan itu semua.

Aku mengetikan beberapa huruf di layar ponsel itu, jari-jariku terhenti beberapa saat sebelum aku mengirimkan pesan tersebut—dan beberapa saat aku memikirkan apa yang mungkin akan terjadi jika aku mengirimkan pesan ini.

Aku menarik nafasku dengan dalam sebelum menekan tombol itu, dan memutuskan untuk kembali menatap jendela besar yang berada disana dengan tenang.

“It’s okay. I still love you, Lee Donghae.”

 .

.

“One day the universe will fold, and even the galaxies apart—we’ll be close again.” – Han Cheonsa

.

.

 

 

 

-fin-

It’s me IJaggys, comments are greatly appreciated! (again originally written in English lmao)

xo

IJaggys

 

 

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Indah
    May 22, 2017 @ 21:30:42

    Ishhhhh. Kenapa harus mengalah? Bukan tidak mungkin dia akan mengulanginya. Nomor 2 ada karena nomor 1 ada… Aku malah gak suka sama cheonsa bukan sama donghae.ishhhh

    Reply

  2. Zii
    May 23, 2017 @ 05:51:09

    Nyesss banget rasanya baca ini. Bagaimana Cheonsa masih begitu mencintai Lee Donghae.. Oh No..!!

    Reply

  3. aphroditeinme
    May 23, 2017 @ 18:04:24

    glad to know u still writting ’bout Lee Han couple even just a ficlet❤️
    Tetap jatuh cinta sama karakter Han Cheonsa!;) Tenang, keep calm, keep elegant gak norak ngamuk2 gajelas begitu tau Donghae punya “kesalahan.”

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: