Dandelion Wishes and Jajangmyeon Brought to You

tumblr_opjjm8g0P11vloheso1_1280

Dandelion Wishes and Jajangmyeon Brought to You

Author:  hsw_elf

 Cho Kyuhyun & Yoo Hana

Genre: Romance, School-life & PG13 | Recommended song: Falling – Park Jinyoung

Maybe it’s what people called “jealousy”, but I call it “fear of losing you”.


***

Seorang gadis berambut pirang berjalan perlahan, keluar dari sebuah gedung kokoh. Di depan gerbang, ia kembali membalikkan tubuhnya. Menatap gedung di depannya dengan mata berbinar. Awan senja dengan semburat jingga menghias garis horizon yang menjadi latar belakang menambah keindahan gedung itu. Matanya bergerak lambat memerhatikan setiap detail bangunan yang berdiri kokoh di depannya.

“Kau harus belajar dengan rajin kalau mau masuk sekolah ini.” Ujar suara seorang pria yang tahu-tahu datang dari balik gerbang. Hana tidak ingat kalau di dalam gedung itu ada orang lain selain dirinya.

“Ne?” Gadis itu refleks bertanya.

“Aku selalu lewat jalan ini setiap pulang sekolah dan melihatmu memandang sekolah ini dengan mata berbinar.” Pria itu menjawab apa adanya.

Gadis itu tersenyum kikuk,“Hm.. aku sangat ingin bersekolah disana ketika SMA nanti.”

“Kenapa kau ingin bersekolah disana?” Tanya pria itu penasaran.

Hana-ya, appa ingin melihatmu selalu bersekolah di sekolah terbaik di Seoul, belajar dari guru-guru hebat. Saat kau besar nanti, kau telah memiliki bekal yang matang untuk membawamu menjadi seorang yang sukses.

Perkataan ayahnya tiga tahun silam masih terekam jelas di memori otaknya. Tanpa sadar, Hana menghela napas panjang, dan menghembuskannya berat. “Aku hanya ingin membuat appa bahagia.”

“Kau harus yakin saat akan menggapai harapanmu.”

Hana menoleh. Menatap pria yang baru dikenalnya dengan ekspersi terkejut. “Apa.. aku bisa?”

“Nothing is impossible, because the word itself says “I’m possible!” Pria itu berujar yakin. Nada bicaranya yang tegas membuat Hana yakin pada dirinya sendiri–kalau ia bisa.

Pria itu tersenyum. “Aku akan membantumu.”

.

.

Hana duduk di sofa, menunggu Kyuhyun keluar dari kamarnya. Pandangannya tertuju pada foto keluarga yang terpampang di ruang tamu, tepat di depannya. Seandainya keluargaku masih utuh, batinnya.

Sudah lebih dari satu bulan Hana mengenal Kyuhyun. Kyuhyun sungguh-sungguh dengan perkataannya saat mereka pertama kali bertemu di gerbang sekolah SMA terbaik di Seoul. Sejak saat itu, Kyuhyun berbaik hati mengajari Hana, membantu gadis itu untuk mendapat beasiswa.

Sejak appanya meninggal dua tahun lalu, kehidupan Hana memang berubah total. Eommanya yang biasa hidup enak tidak terbiasa untuk menghemat biaya pengeluaran bulanan. Lama-kelamaan, harta peninggalan appanya habis. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah lamanya dan membeli rumah yang lebih kecil.

Melihat eommanya yang sekarang hanya bekerja di sebuah salon kecantikan kecil membuat Hana memendam dalam-dalam keinginannya untuk bersekolah di SMA idamannya. Hana berulang kali berdoa, meminta agar Tuhan menyampaikan maafnya pada ayahnya karena tidak bisa menuruti permintaan ayahnya. Tapi Tuhan berkehendak lain, Ia memiliki rencana yang indah bagi Hana yang diam-diam masih terus berharap.

Tiba-tiba Hana merasakan sensasi dingin di lehernya, membuatnya yang tadi sedang melamun terlonjak kaget. “Aw!” Pekiknya sambil memegang lehernya dan cepat-cepat menoleh untuk melihat siapa pelakunya.

“Kaget ya?” Kyuhyun bertanya sambil menyengir jail. Kyuhyun duduk di sebelah Hana sambil menyodorkan sebuah kaleng soda.

Hana tersenyum dan menerimanya. “Gomawo.”

“Hari ini kita tidak usah belajar.” Kata Kyuhyun, membuat Hana kontan menganga.

“Biasanya kau selalu menyemangatiku untuk terus belajar?” Tanya Hana heran.

Kyuhyun tidak menjawab, ia menarik lengan Hana. “Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.”

.

.

“Apa kau tidak pernah melihat taman dendelion sebelumnya?” Tanya Kyuhyun sambil tertawa kecil melihat gadis di sebelahnya menatap pemandangan di depannya tanpa berkedip.

Hana tersenyum miris, “Di rumah lamaku ada taman dandelion. Namaku juga terinspirasi dari dandelion. Yoo itu kelembutan dan Hana itu bunga.”

Kyuhyun menepuk bahu Hana keras, membuat gadis itu terbatuk. “Jangan sedih! Sekarang kau akan memiliki taman dandelion lagi.”

Kening Hana berkerut bingung, “Apa maksudmu?”

Kyuhyun memamerkan evil smirknya, “Taman ini milikmu.”

“MWO?!” Pekik Hana refleks, tidak percaya pada apa yang didengarnya.

“Tapi ada syaratnya,” Kyuhyun menatap Hana tajam, “Kau harus mendapat beasiswa itu.”

“Kau serius?” Tanyanya ragu-ragu sambil menatap Kyuhyun dalam-dalam, mencari letak kesungguhan di mata pria itu. Benar, Kyuhyun serius.

.

.

Dua minggu kemudian.

“Gimana?” Tanya Kyuhyun sambil tersenyum jail di sampingnya.

“Gomapta!” Seru Hana yang tanpa sadar langsung memeluk Kyuhyun erat.

Hana baru melepas pelukannya ketika seorang siswi menegur mereka yang terlalu lama menghalangi mading. Kyuhyun terkekeh pelan seraya menarik lengan Hana menjauh.

“Kau hebat!” Puji Kyuhyun sambil tersenyum bangga.

Hana tersenyum malu-malu, pipinya terasa panas. Hampir dua bulan Hana belajar hingga larut malam tanpa mengeluh. Hanya demi melihat senyum itu terlukis di wajah guru tampannya.

.

.

“Jangan asal masukin bumbu,” tegur Hana, merebut stoples lada dari tangan Kyuhyun.

“Hm,” gumam Kyuhyun, malas menanggapi Hana yang terus berceloteh.

“Kalau sausnya sudah meresap dan ayamnya sudah matang, iangkat pakai saringan yang digantung di dekat lemari. Terus,”

“Arraseo!” Potoh Kyuhyun kesal. “Bantu ahjumma beresin meja makan sana!”

Hana berderap meninggalkan dapur sambil menggerutu. Kyuhyun menatap yangnyeom tongdak ancur di depannya dan menambahkan minyak, bermaksud membuatnya cepat matang.

Kyuhyun meringis ketika tangannya terkena percikan minyak, “Hana-ya! Ini gimana matiinnya?!”

Hana segera berlari dari ruang makan dan langsung mematikan kompor. “Gwaenchanha?” Tanyanya cemas, buru-buru mengelap tangan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya mendengus, “Harusnya kau yang masak! Kau kan perempuan!”

Hana hanya terkikik geli, “Siapa suruh kau kalah taruhan?”

“Ulangan matematika minggu depan aku pasti menang. Kau harus masak jajangmyeon yang lezat untukku!” Seru Kyuhyun berapi-api.

Tidak terasa, sudah hampir satu tahun mereka duduk di bangku SMA. Merasakan betapa putih abu-abunya SMA. Dan selama itu, ada sebuah permintaan yang terus menghantui Hana. Permintaan yang sangat ingin dikabulkannya, tapi belum bisa. Hanya hanya bisa tersenyum tipis ketika permintaan itu kembali terdengar oleh telinganya –seperti sekarang. Aku sedang belajar, batinnya.

Hana ingat sekali hari itu. Hari dimana ia untuk kedua dan ketiga kalinya melihat senyum yang sama di wajah pria yang diam-diam disukainya, senyum penuh kebanggaan.

*

“Hhh..” Desah Hana, entah untuk kesekian kalinya. Ia menatap buku tulis matematikanya dengan tatapan pasrah. Sungguh, Hana memang paling tidak mengerti cara menyelesaikan soal-soal limit yang super ribet.

Hana menoleh. Menatap pria yang duduk tidak jauh darinya, sedang serius memainkan pspnya. “Yes!!” Kyuhyun tiba-tiba berteriak. Senyum bangga karena menyelesaikan game yang baru dibelinya kemarin menghiasi wajah tampannya. Lagi, jantung Hana kembali berdebar tidak karuan ketika melihat senyum itu!

“Minggu pertama bersekolah pasti membuat kalian lelah. Lebih baik kalian makan dulu, jajangmyeon lezat baru saja matang.” Eomma Kyuhyun muncul dari dapur, masih mengenakan celemek yang malah membuat wanita paruh baya itu terlihat semakin cantik.

Kyuhyun yang langsung melangkah lebar-lebar ke dapur. Hana hanya menatapnya dengan mulut mengaga saking herannya.

“Dia memang hobi sekali makan jajangmyeon. Tidak pernah bosan.” Eomma Kyuhyun menjawab pertanyaan yang tergambar jelas di wajah Hana.

Di meja makan yang lebar itu tersaji banyak hidangan khas Korea. Ada kimchi, jajangmyeon, japchae, soondubu jiggae, dan berbagai hidangan pelengkap. Tapi dari sekian hidangan lezat yang menggiurkan, Kyuhyun hanya memakan jajangmyeon –yang sudah dihidangkan di atas tiga piring– tanpa melirik hidangan lainnya.

Hana pun mengikuti Kyuhyun, hanya memakan jajangmyeon yang memang sudah diletakkan di depannya. Hanya dalam satu suap, Hana sudah bisa mengerti kenapa Kyuhyun tidak melirik hidangan lainnya.

“Mashitayo.” Puji Hana tulus. Jajangmyeon buatan eomma Kyuhyun memang jauh berbeda dengan jajangmyeon yang biasa ia makan, rasanya jauh lebih enak.

“Jajangmyeon buatan eomma memang tidak ada duanya,” kata Kyuhyun sambil tersenyum bangga.

Hana segera menunduk menatap jajangmyeon di depannya, berusaha mengendalikan irama jantungnya yang menjadi tidak teratur setelah melihat senyum pria itu untuk kedua kalinya dalam satu hari. Hana menatap jajangmyeon di hadapannya lekat, berharap suatu saat ia bisa membuat jajangmyeon yang lebih enak.

Detik itu, Hana bertekad akan membuat jajangmyeon yang lebih enak! Berharap Kyuhyun akan tersenyum untuknya, memuji masakannya dengan bangga.

.

.

“Kyu!” Panggil Hana sambil tersenyum riang, menghampiri Kyuhyun yang baru turun dari mobilnya.

Kyuhyun menatapnya heran, “Wae?”

“Ini.” Hana tersenyum malu-malu sambil menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru.

“Ige mwoya?” Tanya Kyuhyun sambil mengamati kotak yang diberikan Hana.

“Bekal.” Jawab Hana seakan Kyuhyun bodoh. Hari ini adalah hari pertama tes ujian akhir semester untuk kenaikan kelas, jadi Hana sengaja membawa bekal untuk pria itu. Bekal pertama yang diberikan Hana untuk Kyuhyun padahal mereka sudah hampir satu tahun duduk di bangku SMA.

Kyuhyun berdecak dan berjalan mendahului Hana ke taman belakang sekolah. Hana mengikutinya dari belakang sambil berdoa dalam hati. Semoga dia suka.

“Gimana?” Tanya Hana setelah Kyuhyun mencicipi masakannya.

“Lumayan.” Jawab Kyuhyun singkat.

Hana menatap bokkumbap yang susah payah dibuatnya dengan kecewa. Butuh waktu lama baginya untuk memberanikan diri memberikan hasil masakannya pada Kyuhyun.. dan hanya kata ‘lumayan’ yang menjadi kalimat pujian yang selama ini diharapkannya.

Hana segera menggelengkan kepalanya. Nggak boleh, harus tetap semangat, batinnya.

.

.

Satu tahun kemudian.

“Mana bekalku?” Tagih Kyuhyun sambil menengadahkan telapak tangannya. Hana segera merogoh tasnya dan mengambil sebuah tepak bekal berwarna peach pada pria itu.

Kyuhyun menerima bekal itu dan segera berjalan menuju taman belakang, tempatnya biasa nongkrong bersama Hana selama hampir dua tahun. Hari ini, sama seperti satu tahun yang lalu, adalah hari pertama tes akhir semester untuk kenaikan kelas.

“Mwo?! Kenapa gimbap?!” Kyuhyun mendengus kesal ketika membuka bekalnya.

Hana menyengir, “Aku kesiangan tadi, jadi nggak keburu masak jajangmyeon. Lagipula gimbap juga enak.”

Kyuhyun mendengus, “Pokoknya besok kau harus bawa jajangmyeon!”

Hana mangut-mangut sebagai formalitas. Sebenarnya Hana belum bisa memasak jajangmyeon yang lezat seperti buatan eomma Kyuhyun, membuatnya malu untuk memberikannya pada Kyuhyun.

“Gimana rasanya?” Tanya Hana penasaran.

“Lumayan,” jawab Kyuhyun dengan mulut penuh.

Hana mendesah kecewa. Sejak satu tahun yang lalu, Hana mulai berani membawakan bekal utnuk Kyuhyun. Ia belajar masak dengan semangat agar bisa membawakan bekal berbeda-beda pada Kyuhyun tiap harinya, tapi jawabannya selalu sama. Lumayan.

“Kapan kau puji masakanku?” Hana bergumam pelan tanpa sadar.

“Kalau kau masak jajangmyeon,” sahut Kyuhyun yang rupanya mendengar gumaman Hana.

.

.

Sebelas bulan kemudian.

Hana mencicipi jajangmyeon buatannya penuh harap. Dia mendesah kecewa, “Kenapa rasanya masih berbeda?”

“Kenapa tidak minta resepnya ke eomma Kyuhyun supaya jajangmyeonmu seenak buatannya?” Saran eommanya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.

Hana menggeleng pelan, “Hana akan berusaha sendiri. Kyuhyun bilang kita harus yakin kalau mau menggapai harapan kita.”

“Memang harapanmu selama tiga tahun ini hanya sebatas bisa memasak jajangmyeon seenak buatan eommanya?”

“Bukan begitu.” Bantah Hana mentah-mentah.

Eommanya tersenyum penuh arti, “Kau mau membuatnya senang dengan masakanmu?”

“Itu lebih salah lagi. Udah ah, Hana mau belajar.” Hana segera masuk ke kamarnya, takut eommanya melihat pipinya yang bersemu merah.

Sebenarnya jawaban eommanya sedikit meleset. Hana tidak ingin Kyuhyun hanya senang. Dia ingin Kyuhyun tersenyum padanya. Itu saja. Hana tersentak. Tapi.. apa eomma mulai tahu perasaanku, tanyanya dalam hati.

Hana mempercepat jalannya. Kakinya melangkah lebar-lebar menuju kamarnya. Ia buru-buru mengunci kamarnya. “Hahh..” Desahnya lega.

Hana duduk di tepi tempat tidur. Tangannya meraih tumpukan buku resep di atas nakas.

Hana sibuk mencoret-coret buku resepnya yang hanya berisi resep jajangmyeon dari berbagai blog maupun buku-buku resep yang ia pinjam di perpustakaan. Dia sempat mengkolaborasikan resep-resep dari berbagai sumber, namun hasilnya tetap berbeda dengan jajangmyeon buatan eomma Kyuhyun.

Hana menutup bukunya dan segera membuka laptopnya, mengetik beberapa kata sebagai keywords untuk memulai browsing; resep jajangmyeon terlezat sepanjang zaman.

“Arghh!” Erangnya kesal ketika semua blog yang muncul sudah pernah ia buka. Hana mengetik berbagai keywords lain, namun hasilnya tetap sama.

Hana menutup laptopnya dan menelungkupkan wajahnya frustasi. Sudah hampir tiga tahun seperti ini. Tidak ada kemajuan.

Yang membuat Hana gelisah adalah kemungkinan ia tetap belum bisa memasak jajangmyeon hingga hari kelulusan yang hanya tinggal satu bulan lagi. Hana takut kalau-kalau Kyuhyun memilih melanjutkan kuliahnya di luar negeri dan mereka tidak akan bertemu lagi. Hana merasa berhutang kalau belum menuruti permintaan pria itu.

Jajangmyeon. Jajangmyeon. Jajangmyeon.

Pikiran Hana penuh dengan kata ‘jajangmyeon’ yang terus menghantuinya. Pokoknya aku harus buat jajangmyeon sebelum kemungkinan itu terjadi, batinnya. Ujian yang tinggal satu minggu lagi sudah tidak dipikirkan Hana lagi.

“Kemarin ada seorang gadis cantik yang memberiku jajangmyeon…

“…jajangmyeon terenak yang pernah kumakan.”

Deg.

Jantung Hana seakan berhenti. Dia baru ingat, sekarang dia memiliki banyak saingan. Iya, Kyuhyun memiliki banyak fans di sekolah. Tidak heran, memang wajahnya tampan kan?

Tapi bukan itu masalahnya. Bukan gadis-gadis itu, tapi jajangmyeonnya yang diberi pujian setinggi langit oleh pria yang diam-diam disukainya yang bahkan tidak pernah memberi kata lain selain ‘lumayan’ pada setiap masakannya. Batinnya tertekan.

“…jajangmyeon terenak yang pernah kumakan.”

Sungguh, Hana merasa tidak akan pernah bisa membuat jajangmyeon yang bisa membuat Kyuhyun tersenyum.

*

“Ck, kapan jajangmyeonnya?!” Seru Kyuhyun kesal.

Hana hanya menyengir kaku, “Besok, ya.”

“Apa susahnya sih memasak jajangmyeon?!!” Kyuhyun memakan bekalnya dengan menggerutu. “Besok, bukan besok-besok. Titik!” Tegas Kyuhyun. Hana hanya tersenyum tipis, tidak berani mengangguk karena sudah terlalu sering berbohong.

“Kemarin ada seorang gadis cantik yang memberiku jajangmyeon.” Ujar Kyuhyun dengan mulut penuh. Hana meringis ketika hati dan telinganya merasa terganggu dengan topik pembicaraan yang dibuka Kyuhyun itu.

“Enak?” Tanya Hana. Dia menghela napas pelan ketika melihat Kyuhyun mengangguk pasti.

“Jajangmyeon terenak yang pernah kumakan.” Ujar Kyuhyun yakin.

Hana hampir tersedak ludahnya sendiri. Aku pasti bisa masak jajangmyeon yang lezat, batinnya.

*

Kyuhyun memakan bekalnya tanpa banyak bicara. Mulutnya terlalu lelah untuk meminta gadis di sampingnya memasakkan semangkuk jajangmyeon untuknya.

“Mian.” Gumam Hana pelan. Dia jadi merasa tidak enak sendiri melihat Kyuhyun –yang biasanya mengomel– tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Tidak apa. Kemarin malam aku sudah makan jajangmyeon yang enak buatan seorang chef handal.” Ujar Kyuhyun santai.

“Mwo?! Dimana kau bertemu seorang chef?” Tanya Hana penasaran, lebih tepatnya cemburu.

“Di rumah. Dia datang ke rumahku.” Jawab Kyuhyun santai, tidak memedulikan ekspresi kaget bercampur kecewa di wajah Hana.

Hana mengepalkan jemarinya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ini lebih sakit dari yang kemarin, batinnya merintih menyuarakan pedih di hatinya.

.

.

“Aishh… kenapa mikirin dia lagi, sih!?” Hana mengeluh seraya mengacak rambutnya. Mengingat percakapannya dengan Kyuhyun beberapa hari yang lalu membuat hatinya kembali merasakan pedih yang sangat dibencinya.

Pikirannya masih terfokus pada satu orang. Cho Kyuhyun. Pria yang tidak memasukkan namanya dalam daftar gadis yang dipikirkannya. Ujian besok seakan tidak ada artinya lagi, padahal ujian besok menentukan 60% nilainya yang berarti lebih dari setengah perjuangannya selama satu tahun.

Ujian! Hana baru ingat. Ia mengalihkan pandangannya ke meja belajar. Buku matematika yang terbuka membuatnya tersadar kalau minggu depan ujian akan dimulai. Bayangan ayahnya kembali memenuhi otaknya. Hana tersenyum. Bayangkan appa tersenyum, usir pria menyebalkan yang mahal senyum itu!! Seru Hana dalam hati.

Hana berjalan mendekati meja belajarnya, duduk tegap di kursi meja belajar. Lantas menatap buku matematikanya dengan wajah siap tempur.  Tangannya bergerak mengambil pensil, bersiap untuk mengerjakan soal-soal limit yang masih beum dikuasainya.

Drrt drrt.

Hana melirik ponselnya malas. Ada aja halangannya, pikirnya. Hana hampir saja mematikan ponselnya kalau tidak melihat nama yang tertera di layar ponselnya, dia buru-buru menyambar ponselnya dan membuka pesan yang masuk.

Jangan lupa belajar, pemalas. Mulai besok, aku akan menyiksamu selama seminggu.

Bodohnya, Hana malah berjingkrak senang setelah membaca pesan itu. Bahkan Hana tidak sabar menunggu hari esok datang. Dia merindukan waktu bersama Kyuhyun yang beberapa minggu ini terampas oleh gadis bernama Jung Minri.

.

.

Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling sekolah, berharap segera menemukan sosok yang dicarinya dari lima belas menit yang lalu.

Hana tersenyum menatap kota bekal di tangannya. Akhirnya Hana memberanikan diri memberikan jajangmyeon untuk Kyuhyun, meski rasanya masih berbeda dari buatan eommanya yang tiada tanding.  Pagi tadi Kyuhyun tidak menunggunya di gerbang sekolah, di kelasnya pun tidak ada. Jadilah Hana memberikan bekalnya siang ini, sekalian menagih janji Kyuhyun yang kemarin bilang akan mengajarinya sepulang sekolah.

Besok adalah hari pertama ujian, Hana ingin melunaskan hutangnya agar ia dapat belajar dengan tenang, dan keinginan terbesarnya masih sama; senyum itu. Senyum yang pasti akan membuat Hana sanggup belajar semalaman penuh, tidak tidur kalau perlu.

Bruk.

“Ah..” Hana mengaduh ketika seseorang menubruknya dari belakang hingga tubuhnya terdorong beberapa jengkal ke depan. Bayangan Kyuhyun yang sedang tersenyum padanya buyar seketika.

“Mianhae, Hana-ya. Tadi aku..”

Hana memutar tubuhnya, memicing ketika melihat Eunhee, teman sekelasnya, terlihat salah tingkah. Hana menatap lapangan basket indoor yang pintunya terbuka di seberang koridor kelas. Sedang ada latihan basket, dan disana ada Hyungmin, ketua tim basket, dan dia pasti alasan Eunhee menabraknya karena tidak melihat jalan di depannya.

“Gwaenchanha.” Hana tersenyum, maklum. “Ah, Eunhee-ah, apa kau lihat Kyuhyun?”

“Kyuhyun sedang makan di kantin.” Jawab Eunhee cepat, membuat Hana tersenyum lega. Akhirnya, batinnya. Kakinya memang sudah pegal karena mengelilingi sekolah yang luasnya entah berapa hektar.

“Gomawo.” Ujar Hana. Ia segera berjalan ke kantin.

Di dekat kantin, Hana menghentikan langkahnya tiba-tiba, berencana untuk melihat posisi Kyuhyun dan mengagetkannya. Namun detik berikutnya, Hanalah yang menjadi korban shock therapynya si evil, entah untuk kesekian kalinya.

Hana memicingkan matanya untuk melihat gadis yang sedang duduk di sebelah Kyuhyun. Hana menelan ludah ketika mengenal gadis itu. Dia adalah Jung Minri, teman sekelasnya yang pernah Kyuhyun ceritakan padanya. Minri duduk manis di sebelah Kyuhyun –di tempat yang biasanya menjadi tempat Hana selama hampir tiga tahun.

Hana menghela napas. Kyuhyun memang sering bercerita tentang Minri, si gadis yang menurutnya menarik, tapi Hana belum pernah melihatnya bersama gadis itu secara langsung. Entah ini cemburu, iri, atau perasaan takut kehilangan. But then again, he’s not even mine, hati Hana seakan berbisik lirih –mengingatkan Hana bahwa dia bukan siapa-siapa bagi pria yang sedang tertawa beberapa meter dari tempatnya berdiri mematung itu.

Tiba-tiba hatinya terasa sakit. Napasnya terasa sesak, seakan udara di sekitarnya menipis. Hana mencengkram paper bag yang dibawanya erat sekali. Pandangannya kabur, ada selaput bening menutupi matanya. Tanpa tunggu aba-aba, ia segera memaksa kakinya untuk melangkah menjauh. Otaknya yang kacau seakan lupa pada tujuan awalnya mencari pria itu, lupa akan ajakan belajar bersama yang sekarang terlihat sebatas ajakan basa basi baginya.

.

.

Hana berjalan santai ke arah kantin. Di istirahat yang singkat, sekaleng soda dingin pasti bisa menghilangkan dahaga setelah ujian matematika yang melelahkan. Hana menghentikan langkahnya ketika melihat Kyuhyun dan Minri sedang berdiri di dekat kantin.

Hana cepat-cepat berlindung di balik pintu ruang seni musik yang terbuka. Penasaran, dia mengintip dari balik pintu. Kyuhyun sedang mengobrol bersama Minri dan teman-temannya. Tiba-tiba Kyuhyun menoleh. Tatapannya mereka beradu, membuat Hana refleks bersembunyi di balik pintu.

Hana menunggu beberapa saat, lalu memutuskan meyudahi permainan petak umpetnya. Begitu menutup pintu, ternyata Kyuhyun berdiri di balik pintu itu.

“Hua!” Pekik Hana takut, seperti melihat hantu.

“Ngapain?” Tanya Kyuhyun datar.

“Ani, tadi janjian mau belajar bareng Eunhee.” Ujar Hana berbohong.

Kyuhyun memicingkan matanya. “Kemarin kemana?”

“Ehmm.. aku belajar sendiri aja ya di rumah.” Ujarnya pelan.

“Wae?” Tanya Kyuhyun, membuat Hana membatu di tempatnya.

“Kyu! Ikut ke kelas nggak?” Suara seorang gadis membuat Hana menoleh, menatap gadis itu sambil menelan ludah. Refleks, kepalanya tertunduk dan tangannya mengepal menahan perih di hatinya.

“Terserahlah kalau kau mau belajar sendiri.” Ujar Kyuhyun datar.

Hana mendongak dan mulutnya menganga tanpa sadar ketika melihat Kyuhyun sudah berdiri di dekat gadis itu dengan kalimat pamit yang sangat sopan.

.

.

Seminggu kemudian.

Waktu berjalan cepat, membawa ketidakpastian besar di hati Hana. Seminggu yang berjalan tanpa seru-seruan galak yang biasa ia dengar membuat tujuh hari berlalu dengan sepi.

Hana benar-benar tidak mengobrol dengan Kyuhyun selama satu minggu. Mereka memang tidak bertemu saat di sekolah. Hana tidak pernah keluar dari kelasnya hingga bel pulang berdiri, dan dia keluar kelas paling lama. Jelas dia tidak bertemu Kyuhyun yang akan keluar kelas paling pertama.

Hana menatap buku matematikanya kosong. Halaman yang terbuka masih sama; kumpulan latihan soal limit. Usahanya mengerjalakan soal-soal itu semakin berat karena tidak ada Kyuhyun yang mengajarinya.

Entah ini sudah kali ke sekian, Hana menatap layar ponselnya yang gelap dalam diam. Berdoa dalam hati agar layar itu menyala dan dalam hitungan sepersekian detik akan memunculkan namanya.

Drrt drrt.

Detik itu, tepat ketika Hana tanpa sengaja menyebutkan kata ‘amin’ dalam hati, ponselnya bergetar dengan layar menyala. Refleks, mata Hana membelalak tak percaya. Tangannya –tanpa disuruh– langsung menyambar ponselnya.

Saraf sensorik di matanya bekerja cepat dalam hitungan sepersejuta detik menyampaikan impuls pada otaknya yang langsung memerintahkan saraf motorik untuk menghantarkannya ke efektor. Kali ini lain dari biasanya, bukan tangannya yang menerima impuls itu dan membuka pesan itu, melainkan jantungnya. Debar jantungnya menjadi tidak karuan ketika matanya menemukan nama yang ditunggunya.

Hana tersenyum lebar. Tangannya buru-buru menekan tombol open. Loading sepersekian detik dan…

Besok. Buktikan hasil kerja kerasmu selama satu minggu. Aku ingin melihat apa kau bisa melakukannya sendiri. Kerja keras + #2H5 = kado.

Hana tersenyum-senyum sendiri ketika kalimat itu langsung melesat tanpa melalui otaknya, tapi langsung menuju jantungnya. Hana memekik tertahan, untung dia ingat kalau eommanya sedang tidur di kamarnya –yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.

Hana memang suka dengan yang namanya hadiah. Semua orang juga. Tapi kalau yang ngasihnya  orang yang special di hati kita kan pasti beda rasanya. Hana bertanya-tanya dalam hati. Kalau dulu Kyuhyun memberikanku taman dandelion, nanti apa?

Kerja keras + #2H5 = kado.

Hana membaca ulang pesan singkat yang terpampang di layar ponselnya. Otaknya yang sedang tidak dalam kondisi normal jadi sedikit lambat untuk mencerna  kalimat terakhir dari Kyuhyun.

“Hmm.. # itu peringkat, H-nya… oh, Hana?! Arasseo!” Hana bergumam sendiri sambil menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Sambil tersenyum, Hana mengambil pensil dan mulai menatap soal-soal di depannya dengan baterai yang sudah tercharge penuh.

Peringkat lima hingga dua–mungkin–tidak akan sulit diraih Hana, bukankah memang itu tujuan utama gadis itu ngotot ingin bersekolah di SMA elite itu? Namun Hana harus menelan bulat-bulat keinginannya untuk dapat merasakan bangganya mendapat peringkat pertama–karena itu hanya akan diraih oleh gurunya: Kyu songsaengnim.

.

.

1. Cho Kyuhyun.

3. Yoo Hana.

Hana mengerjapkan matanya berkali-kali. Di matanya, hanya dua baris nama yang benar-benar tertangkap jelas di matanya di antara ratusan daftar nama yang tersusun rapi di kertas pengumuman kelulusan beserta nomor peringkat secara umum itu.

“Aku.. masuk lima besar.. ani.. tiga besar! Kau harus menepati janjimu!” Seru Hana girang.

Kyuhyun memasang wajah datar, tapi sebenarnya hatinya ikut tersenyum bersama gadis di sampingnya. “Kau mau kado apa?”

Hana merengut karena Kyuhyun tidak memujinya seperti dua tahun lalu –ketika ia mendapat beasiswa penuh. “Kupikir kau sudah menyiapkannya.” Hana tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Kyuhyun tertawa kecil, “Memang sudah. Coba tebak apa kadomu?”

“Mana kutahu.” Sungut Hana kesal. Demi melihat wajah Kyuhyun yang langsung berubah mendung, Hana langsung menambahkan sebelum gelegar petir menyambarnya. “Ah, ara! Taman mawar?” Tebaknya asal, yang penting dia sudah menebak.

Lagipula Hana sudah bersyukur karena Kyuhyun ternyata menunggunya di depan gerbang, melihat pengumuman bersama, yang tadinya Hana pikir tidak mungkin terjadi mengingat seminggu ini mengobrol mereka tidak sama sekali –ditambah sosok Minri yang menempel terus di sebelahnya sebulan terakhir.

Kyuhyun mendengus, “Kau tidak mau yang berhubungan dengan dandelion lagi?”

“Mau!” Pekik Hana girang yang kekesalannya sudah terbang entah kemana, lenyap di balik benda penguasa langit yang ikut tersenyum.

“Besok. Setelah pembagian ijasah.” Sahut Kyuhyun sambil memamerkan evil smirknya yang khas. Hana merasakan deja vu ketika melihat evil smirk itu. Persis seperti tiga tahun lalu, pikirnya.

.

.

Hana mendengus ketika melihat Kyuhyun tidak ada di kelasnya. Apa dia lupa dengan janjinya, tanyanya dalam hati.

“Jonghwa-ssi, kau tahu Kyuhyun dimana?” Tanya Hana pada seorang teman Kyuhyun yang kebetulan lewat di dekatnya.

“Mwoyeyo?” Tanya Hana bingung ketika pria itu malah memberinya secarik kertas dan segera melenggang pergi tanpa memberi penjelasan.

Hana membuka lipatan kertas itu dan membacanya perlahan. Sudut-sudut bibirnya terangkat. Kutunggu di tamanmu.

.

.

Hana menatap sekeliling dan pandangannya tertuju pada sosok pria yang berdiri memunggunginya. Dengan langkah lebar, Hana menghampiri pria itu.

“Ehm.” Hana berdeham, membuat pria itu menoleh.

“Kenapa kau yang datang?” Tanya Kyuhyun dengan ekspresi heran.

Hana mengernyitkan dahi, “Bukankah kau yang memintaku kemari?”

Kyuhyun berdecak kesal, “Ck, Jonghwa pasti salah memberikan kertas itu.”

Hana menganga parah. Menatap Kyuhyun yang memunggunginya dan berjalan menduluinya. Hana mengikuti di belakangnya. Apa dia menunggu Minri, tanyanya dalam hati. Kepalanya tertunduk lemas memikirkan kemungkinan itu. Matanya menatap sneakersnya kosong. Tiba-tiba kepalanya menabrak punggung pria di depannya.

Kyuhyun berbalik. Mengangkat dagu Hana. “Aku bercanda,” bisiknya di telinga Hana. Tatapannya melembut, “Kau tidak akan percaya kalau aku bilang ‘saranghae’.”

“Mwo?” Tanya Hana dengan suara tercekat. Jantungnya berdebar tidak karuan begitu mendengar kalimat sederhana–yang tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut Kyuhyun–meski otaknya belum sempurna menerjemahkan makna seluruh kalimat yang bergaung di gendang telinga Hana. Genggaman tangannya pada paper bag yang dibawanya mengerat.

“Kubilang juga apa, kau tidak akan percaya.” Kyuhyun mendesah kecewa dan tersenyum miris. Senyumnya berubah menjadi seringai menyeramkan, “Tapi biar bagaimanapun kau tidak mungkin menolak pemberianku.”

“Apa dulu kadonya?” Tanya Hana refleks. Bodoh, otaknya masih konslet untuk mencerna perkataan Kyuhyun. Jutaan neuron di otaknya seakan jumpalitan mengirimkan impuls dari telinga, mata, jantung, entahlah. Banyak sekali reseptor dalam tubuh Hana yang menerima impuls saat itu.

“Tapi ada syaratnya,” Kyuhyun menatap Hana tajam, “Kau harus jadi yeojachinguku.”

Kyuhyun merogoh sakunya dan menunjukkan sesuatu di depan wajah Hana, membuat gadis itu menganga parah. Hana menatap benda itu dan tanpa sadar sebutir cairan bening mengalir membasahi pipinya.

Sebuah kalung berbandul kaca yang berbentuk tabung kecil yang di dalamnya terdapat dandelion kering yang sudah dua tahun tidak dilihatnya. Dandelion yang dipetik bersama ayahnya di taman belakang rumah lamanya, saat hidupnya masih sempurnya. Tidak, hidupnya tidak terlalu sempurna karena saat itu ia belum bertemu seorang evil baik hati bernama Cho Kyuhyun.

*

Hana menggenggam sesuatu di tangannya dan melangkah masuk ke gedung yang diidamkannya dengan hati berdebar. Ia tidak mengenal seluk beluk sekolah itu, karena baru pertama kali ia memberanikan diri memasuki gedung ini.

Setelah sepuluh menit berjalan tak tentu arah mengelilingi sekolah yang sudah sepi itu, langkah Hana terhenti ketika ia melewati mading sekolah. Ia membaca sebuah pamflet yang tertempel rapi di mading–yang membuatnya ingin sekali bersekolah di tempat ini.

Pamflet itu berisi testimoni seorang mahasiswa yang telah lulus dengan nilai cumlaude di salah satu universitas ternama di Seoul, dan di bawah pamflet itu tertulis bahwa akan ada beasiswa penuh yang hanya diberikan untuk siswa Gangnam Sangdan Kodeunghakkyo, sekolah incaran Hana, yang meraih peringkat lima besar. Gangnam Sangdan Kodeunghakkyo memang bekerja sama dengan universitas itu.

Hana sudah membaca pamflet itu belasan kali di sekolahnya. Memang pamflet itu ditempel di tiap sekolah SMP ternama agar siswa-siswinya tertarik untuk masuk ke sekolah menengah atas dan universitas yang tertera di pamflet itu. Melihat isi pamflet itu, Hana kembali mengingat mimpi ayahnya.

Hana-ya, appa ingin melihatmu selalu bersekolah di sekolah terbaik di Seoul, belajar dari guru-guru hebat. Saat kau besar nanti, kau telah memiliki bekal yang matang untuk membawamu menjadi seorang yang sukses.

Hana memang sudah bersekolah di SMP terbagus di Seoul, ayahnya sendiri yang mendaftarkannya di sekolah itu. Tapi, mungkin ia tidak akan bersekolah di salah satu SMA terbaik di Seoul, mengingat keuangan keluarganya yang menipis sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu.

Seandainya Hana bisa masuk di SMA itu, ia bisa memiliki kesempatan untuk mendapat beasiswa penuh di universitas ternama di Seoul. Dan tentu saja masa depannya akan terjamin kalau ia berhasil lulus sebagai mahasiswa dengan nilai yang baik di universitas itu. Itulah alasan Hana ingin sekali masuk di SMA itu, bersekolah disana memiliki dampak positif untuk masa depannya.

Hana mendesah. Ia kembali melangkahkan kakinya tak tentu arah hingga sampai di taman belakang sekolah. Hana menatap sekeliling. Tatapannya terpaku pada dinding taman itu. Hana melangkah mendekat. Tangannya memasang benda yang dibawanya pada tangkai tumbuhan merambat di dinding taman itu. Lama, Hana menatap benda yang menyimbolkan mimpi itu dengan sudut bibir yang terus terangkat membentuk seulas senyum.

Tangannya pelan menyentuh benda kecil yang sekarang tidak lagi ada di genggaman tangannya, melainkan menggantung di sebuah tangkai tumbuhan merambat.

Sejak ayahnya pergi untuk selamanya, posisi ayahnya sebagai pendengar setia setiap cerita Hana digantikan oleh teman kecilnya. Sebuah kalung dari ayahnya. Setiap malam, Hana selalu berbicara sendiri dengan teman kecilnya. Bercerita tentang mimpi-mimpinya. Kalung itu berisi semua mimpinya. Mimpi ayahnya.

Entah mengapa Hana hanya mengikuti kata hatinya–yang anehnya–menyuruhnya menaruh benda itu di sekolah ini. Bukankah Tuhan memang lebih sering berbicara dengan umatnya lewat hati? Itu pemikiran Hana yang membuatnya berani mengikuti kata hatinya, yang menurutnya adalah suara Tuhan yang berbicara padanya, meski itu berarti ia harus rela kehilangan salah satu barang berharga dari ayahnya.

Hana menutup matanya. Tuhan, peganglah benda kecil ini, dengar dan kabulkanlah mimpiku jika itu sesuai dengan kehendakMu.

Sebuah desahan keluar dari mulut gadis itu sebelum ia beranjak meninggalkan taman itu. Seorang lelaki berseragam SMP yang sedari tadi bersembunyi di balik tembok segera melangkah mendekat, mengambil benda yang ditinggalkan gadis tadi.

Pria itu tahu betul makna dari benda itu. Mimpi. Entah mengapa pria itu merasa bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi gadis tadi, yang bahkan belum diketahuinya.  Iya, pertama-tama dia harus mencari tahu mimpi gadis itu.

.

.

Mulut Hana terbuka, kemudian menutup lagi. Lidahnya terasa kaku untuk bertanya. “Bagaimana.. bagaimana kalung ini bisa..”

“Aku mengambilnya sebelum mengejarmu ke gerbang sekolah.” Kyuhyun menjawab cepat.

“Jadi.. kau melihatnya?”

Hana kembali teringat kata hatinya yang menyuruhnya menaruh kalungnya di dalam gedung sekolah idamannya. Mungkinkah benda itu ingin mempertemukannya dengan seseorang yang akan membantunya menwujudkan keinginannya?

Kyuhyun mengendikkan bahu. “Jawabannya sudah jelas, bukan?” Kyuhyun kemudian berdeham, “Cepat jawab. Mau nggak?” Tanya Kyuhyun seraya memainkan kalung yang ada di tangannya.

Hana menyengir dan buru-buru mengangguk, persis seperti orang bodoh. Sudut-sudut bibir Kyuhyun terangkat begitu saja, melukiskan kebahagiaan yang bergejolak di hatinya.

Senyum itu! Jantung Hana berdebar semakin kencang. Senyum itu bukan senyum penuh rasa bangga yang biasa Hana lihat, tapi senyum penuh kebahagiaan yang baru pertama kali Hana lihat. Astaga, seharusnya dari dulu aku melihatnya tersenyum seperti itu, rutuknya dalam hati. Seandainya aku bisa membuatnya tersenyum seperti itu, tunggu.. tadi itu..

Di saat Hana masih sibuk sibuk berbicara sendiri dalam hati, Kyuhyun memasangkan kalung itu di leher jenjang pemiliknya. Hana menunduk. Menatap kalung yang melingkari lehernya. Jemarinya terangkat, pelan menyentuh bantul kalung itu.

Hana menggigit bibirnya. “Ehm, Kyu.. kita.. pacaran?” Hana menyuarakan pertanyaan bodoh yang sedari tadi bergaung di benaknya dengan terbata.

Kyuhyun mengangguk, membuat Hana semakin bingung. “Minri gimana?” Tanyanya.

Kyuhyun tertawa kecil, “Kita hanya berteman.”

“Gadis cantik yang membuatkan jajangmyeon untukmu itu siapa?” Tanyanya, lagi.

“Eomma.” Ujar Kyuhyun santai, membuat gadis di depannya menganga lebar untuk kedua kalinya. Kyuhyun menggenggam tangan Hana, namun keningnya berkerut ketika melihat paper bag di tangan gadis itu. Kyuhyun mengambil paper bag yang dikenalnya itu, biasa Hana pakai untuk membawa bekal setiap hari, dan tersenyum.

“JAJANGMYEON!” Seru Kyuhyun refleks setelah menghirup isi tas itu.

Hana segera merebut tasnya, “Ada syaratnya.”

Kyuhyun mendengus, “Mwo?!”

Hana menatap Kyuhyun penuh selidik, “Jawab dulu. Apa hubunganmu dengan Minri? Waktu di kantin kalian terlihat mesra. Aku pikir kalian..”

“Cemburu?” Tembak Kyuhyun sambil menyengir jahil, membuat Hana mendengus. Kyuhyun segera merebut tas berisi kotak bekal itu, mengabaikan teriakan kesal Hana. Dia membuka kotak itu dan segera memakan jajangmyeon yang sudah tiga tahun ditunggunya.

“Mashita.” Puji Kyuhyun, membuat Hana berhenti berteriak dan menganga untuk kesekian kalinya. Kyuhyun tetap memakan jajangmyeon itu sambil tertawa geli. Dia masih tidak bisa membayangkan bagaimana Hana akan mengejeknya nanti kalau gadis bodoh itu tahu kejadian sebenarnya.

Kyuhyun memang menyukai gadis bodoh itu sejak pertama kali melihatnya di dekat gerbang sekolah. Mata berbinar milik gadis itu seakan menyedot perhatiannya. Membuatnya lupa pada pemandangan di sekelilingnya.

Tiga tahun ini, tanpa mereka berdua ketahui, mereka menyimpan perasaan yang sama, yang terlalu malu untuk mereka ungkapkan. Mungkin bukan kata malu yang tepat, tapi takut. Akan menyenangkan kalau mereka saling mencintai, tapi bagaimana kalau salah satu dari mereka hanya bertepuk sebelah tangan?

Bagi Hana yang berpikir dia hanya bertepuk sebelah tangan, mengungkapkan perasaannya mungkin akan mengancam kelangsungan persahabatan mereka. Jadi dia hanya berpikir bahwa, sometimes things are better left unsaid.

Tiga tahun ini, mereka hanya saling bercanda sebagai sebatas teman. Tidak lebih. Hingga akhirnya salah satu dari mereka berani mengambil langkah lebih jauh, langkah di jalan aman yang takkan berdampak apa pun pada persahabatan mereka; dengan mencari tahu. Cara yang sama yang dilakukannya tiga tahun lalu untuk mengenal gadis itu lebih jauh; sebagai teman.

Dan sekarang, ia ingin melangkah lebih jauh lagi.

*

“Dia sudah pergi.” Ujar Minri, membuat Kyuhyun menoleh ke tempat Hana berdiri beberapa detik yang lalu.

“Bagaimana ekspresinya tadi?” Tanya Kyuhyun pada Jonghwa yang duduk di sebelah kiri Minri.

“Dia terlihat cemburu,” ujar Jonghwa sambil tersenyum penuh arti.

“Kau yakin?” Tanya Kyuhyun memastikan.

“Ck, kenapa kau takut sekali ditolak? Bukankah itu hal yang wajar?” Tanya Minri heran, yang hanya ditanggapi dengan sebuah cengiran.

“Kau masih butuh bantuanku besok?” Tanya Minri kesal.

“Ani, aku sudah yakin sekarang.” Ujar Kyuhyun percaya diri.

 

Often, we fall in love with the most unexpected person, at the most unexpected time..

.

.

The End.

Thank you for reading. Please leave some comment and give a thumb up if you like my fanfiction. Remember my pen name, hsw_elf. J

P.S: Tadinya aku mau kasih judul “Dendelion Wishes and Jajangmyeon Brought [a Smile] to You” tapi itu keterlaluan panjangnya ._.v Semoga kalian suka! Mind to review? =))

http://rolinfanfictions.wordpress.com

Happy reading, guys. I hope you’ll enjoy it. J

1 Comment (+add yours?)

  1. kylajenny
    Aug 03, 2017 @ 20:18:45

    Suka ceritanyaaaa. Bgs bgs bgs

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: