Spring of Pyromania

nj ,

My whole life is despair. All my dreams in vain.

World like a death for me.

 But once you’re there, my love is real.

For years I wish I could live with you, but you still can not hear my words.

***

Chapter I #Pyro??# [Mirrelle POV]

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai, menendang beberapa kerikil kecil yang berserakan di depanku. Musim semi kali ini tidak terlalu bagus untuk diriku. Aku terlalu terluka di musim  yang sangat ku sukai ini. Terluka karena suatu hal yang sedikit pun tidak aku mengerti. Terluka karena sebuah cinta yang mati sebelum ia mekar. Aku menengadahkan kepalaku ke atas, memandang hamparan langit biru yang begitu luas. Ah… andai saja hatiku bisa selapang  itu, mungkin aku tak perlu merasa tersakiti seperti ini. Ini terlalu buruk bagi keadaanku.

Orang-orang berlalu lalang di sekitarku, berkicau pelan tentang diri mereka. Tak peduli banyak mata menusuk, aku tetap berdiri dengan kokohnya. Tidak benar-benar kokoh memang karena sebenarnya aku ini rapuh. Aku terluka di saat yang salah, di saat aku sudah terpuruk dengan keanehan diriku. Lucu memang karena mungkin inilah jalan takdir hidupku.

Aku berhenti melangkah. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Aku menatap batang korek api yang ku pegang. Sudah terbakar di bagian kepalanya. Ya, api ini adalah temanku satu-satunya. Aku  mengidap penyakit kejiwaan yang jarang sekali di alami oleh gadis berusia dua puluh tahun seperti diriku. Aku mengidap Pyromania. Kau tahu itu apa? Ku pastikan tidak jika kau bukan berasal dari bidang kedokteran.

Pyromania adalah  penyakit kejiwaan, di mana seseorang yang mengidap penyakit ini memiliki dorongan kuat untuk sengaja menyulut api. Bukan untuk membakar orang lain atau sesuatu tapi terlebih karena melihat cahaya dari api  ini menimbulkan perasaan lega dan puas. Di saat aku merasa gugup, di saat aku merasa sedih aku akan dengan sengaja membakar sebatang korek api. Aku tidak akan pernah berhenti membakar korek api sampai aku merasa tenang dan puas. Bahkan aku pernah tidak tidur seharian hanya karena butuh ketenangan dari  api kecil itu. Api kecil yang berkekuatan iblis bagiku.

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghilangkan kebiasaanku ini. Aku hidup sendiri. Orang tuaku sudah meninggal dan aku tinggal di sebuah apartemen kelas atas di Seoul. Aku merasa sedih? Tentu saja karena aku benci hidup sendirian. Aku benci melakukan semua hal tanpa siapapun. Aku ini gadis yang kesepian. Apakah aku memiliki teman? Tidak. Satu pun tidak ada yang mau berteman denganku, bahkan berbicara denganku pun enggan. Mereka takut padaku, takut diriku membakar mereka, takut jika mereka aku bunuh. Hahahaha. Dasar manusia-manusia bodoh. Aku ini Pyromaniak bukan Arson yang merupakan pembakar gedung. Mereka itu tolol.

Lalu apa hubungannya dengan cinta dan penyakitku? Aku di hempaskan. Aku di jatuhkan ke dalam lubang yang begitu gelap. Tidak ada api di sana hanya ada sebuah ilusi yang di tawarkan Tuhan. Aku mencintai seorang namja, seseorang yang ku cintai sepenuh hati dan bahkan aku butuh waktu yang cukup lama untuk mempercayainya. Aku yang salah memang tidak memberitahunya tentang penyakitku, aku yang membohonginya. Aku berpura-pura bahwa aku normal dan setiap kali aku merasa tersakiti dan marah kepadanya aku akan membakar api. Tapi ternyata aku memang tidak bisa menyembunyikan semua hal itu, aku memberitahunya dan berharap ia mau memaklumi. Setidaknya dia tidak membuangku.

Tapi seperti kata pepatah, kenyataan itu tidak seindah dengan khayalan. Kau mampu bermimpi tapi kau tidak bisa mewujudkan semuanya. Ia membuangku, menatapku dengan tatapan jijik. Kasih sayang yang ia berikan pun hilang tanpa sisa. Menyakitkan. Setelah aku memberikan semua hatiku dia menghilang dalam sekejap. Seolah tidak mengenalku dan takut terhadapku. Hah, ini menggelikan. Aku patut di kasihani seharusnya.

“Agashi…. Gwaenchana?” aku tersentak dan menoleh ke arah seseorang yang bertanya padaku. Seorang pria, memakai masker dan kacamata hitam menghiasi wajahnya. Aku sama sekali tidak mengenalinya.

“Siapa kau?” tanyaku skeptis tak perduli siapapun dia.

“Aku bukan siapa-siapa. Kau menangis?” tanyanya lagi dan aku segera memegang kedua pipiku. Benar, ada air mata yang mengalir di sana. Bodohnya aku sampai-sampai tidak tahu bahwa diriku sendiri menangis. Menyebalkan.

“Pergilah. Jangan berada di hadapanku.” Kataku sengit sambil menyeka sisa air mata yang ada di pipiku. Aku mendongak lagi dan ia tidak juga pergi dari hadapanku. Dia itu siapa sih?

“Ku bilang pergi.” Desisku tajam dan mendelik ke arahnya. Tak ku pedulikan siapa orang misterius ini.

“Ini tempat umum dan siapa saja boleh di sini.” Jawabnya pelan dan seperti tersenyum ke arahku. Garis wajahnya terlihat di sana.

“Aku yang pergi.” Putusku pada akhirnya. Aku melangkah namun ia menahan tanganku. Membuatku menoleh lagi dan batang korek api yang ku pegang terlepas. Itu batang korek api terakhir.

“Luapkanlah dengan hal yang wajar. Setidaknya carilah hal lain untuk bisa mengendalikannya.” Katanya tegas dan membuka kacamata serta maskernya.

Dia itu…

***

Chapter II #Become a Friend# [Cho Kyuhyun POV]

Aku melangkah keluar dari dorm dan segera pergi menuju sebuah taman yang tak jauh dari kompleks apartement. Aku memakai penyamaranku seadanya, tidak terlalu penting sekarang karena rinduku pada gadis itu meluap-luap. Ya, seorang gadis mungil yang sangat cantik. Wajahnya teduh namun menyiratkan kesedihan. Aku tak pernah tahu pasti apa yang menyebabkan gadis itu selalu menunjukkan wajah sedih.

Aku pertama kali bertemunya musim semi tahun lalu. Aku sedang berjalan-jalan di taman ini dan tak sengaja menabrak tubuhnya yang kurus itu. Ia terjungkal dan merintih kesakitan. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja karena itu kesalahanku. Wajahnya yang cantik mendelik marah ke arahku, ia bergumam sambil membersihkan bajunya yang sedikit kotor. Dia seperti malaikat kecil yang di turunkan oleh Tuhan untukku.

Semenjak hari itu aku akan menyempatkan diri pergi ke taman dan anehnya dia selalu ada di sana. Duduk termenung di salah satu kursi taman. Terkadang aku sendiri berpikir, mengapa aku bisa seperti ini? Mengamatinya diam-diam dan tidak peduli seberapa lelah dengan kegiatanku. Aku tidak mengenalnya, namanya pun aku tidak tahu.

Tapi melihatnya kini menjadi kebutuhan dasar dalam hidupku. Rasanya ada yang hilang dan tidak seimbang tanpa melihat dirinya. Dia itu, mungkin sudah menjadi bagian jantung hidupku. Cintakah ini? Aku tidak tahu. Karena aku takut perasaan ini adalah sebuah simpati karena kejadian buruk itu. Ya, kejadian buruk yang ku lihat darinya. Kejadian yang mampu membuat orang normal akan menjauhinya saat itu juga.

Malam itu adalah malam yang sangat dingin di Seoul. Maklumlah, karena semakin hari cuaca semakin tidak bersahabat. Aku tidak bertemu gadis itu hampir satu minggu karena kegiatan Super Junior yang begitu padat. Aku nyaris saja seperti mayat hidup saat itu. Entahlah, ku rasa dirinya sudah menyusup ke setiap sumsum tulangku. Dia begitu mempesona mungkin di mataku.

Aku melihatnya sedang duduk berlutut di pojok taman. Aku mendengar isak tangisnya yang tertahan. Saat itu aku tak berani menghampirinya. Takut-takut dia akan merasa terganggu dengan kehadiranku. Aku memandangnya, mengambil jarak dari tempatku berdiri, tapi mataku tak bisa ku alihkan darinya. Aku berpikir mungkin dia sedang bersedih atau merasa terluka dan jujur saja aku ingin memeluk dirinya yang begitu rapuh. Tiba-tiba saja dia mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk kotak persegi. Korek api. Ia mengeluarkan beberapa batang dan langsung menyulutkannya. Sedetik kemudian aku merasa kakiku sedikit lemas melihat wajahnya. Wajah yang bersimbah air mata itu tiba-tiba tersenyum bahkan tertawa geli ketika melihat api yang ia nyalakan. Saat itulah aku menyadari bahwa gadis ini adalah Pyromaniak.

Aku memang tidak mengetahui banyak hal tentang penyakit itu, yang ku tahu seseorang yang mengidap penyakit tersebut adalah orang-orang yang merasakan kesepian. Pyromaniak sering sekali menyalakan api hanya untuk membangkitkan euforia mereka sendiri. Membangkitkan sesuatu yang terpendam di dalam diri mereka. Mungkin aku tidak akan terlalu peduli jika hal ini terjadi pada orang lain. Tapi gadis ini, gadis  ini mampu membuat hatiku tertarik saat pertama kali melihatnya.

Merasa takutkah aku? Tidak sama sekali. Justru aku merasa ingin lebih mengenalnya, membantunya dari masalah yang ia hadapi. Lalu pernahkan ia pergi ke psikiater? Karena jujur saja aku takut ini bertambah parah dan bisa menyebabkan dirinya menjadi seseorang yang di kucilkan oleh masyarakat. Aku tidak ingin gadis ini menderita tentunya.

“Agashi… Gwaenchana?” tanyaku tak tahan lagi. Aku menghampirinya hari ini, melihatnya menangis membuat hatiku sedikit teriris. Ia membakar lagi sebatang korek api untuk menghilang kan kesedihannya.

“Siapa kau?”

“Aku bukan siapa-siapa. Kau menangis?” tanyaku lagi sambil menunjuk pipinya yang basah. Apakah dia tidak sadar jika dirinya menangis? Kekuatan api itu sungguh hebat.

“Pergilah. Jangan berada di hadapanku.” Aku tak bergeming, tetap berdiri di tempatku.

“Ku bilang pergi.” Desisnya lagi. Dia menatapku dengan tatapan menyedihkannya itu. Bolehkah aku memeluknya?

“Ini tempat umum dan siapa saja boleh di sini.”

“Aku yang pergi.” Katanya menyerah. Aku menahan tangannya dan membuatnya berbalik ke arahku.

“Luapkanlah dengan hal yang wajar. Setidaknya carilah hal lain untuk bisa mengendalikannya.” Kataku tegas dan terpaksa membuka semua penyamaranku.

“Kau…” lirihnya kaget melihat wajahku. Oh, baiklah ku pikir aku memang terlalu terkenal. Gadis gila ini saja mengenaliku.

“Cho Kyuhyun imnida.” Kataku memperkenalkan diri. Tanganku pun masih menggenggam tangan kecilnya.

“Aku tidak mengenalmu.”

“Aku juga, tapi jika kau sebutkan namamu kita bisa berteman.” Kataku lagi dan matanya langsung berbinar. Seolah-olah kalimat yang baru aku ucapkan adalah hal terindah yang ada di dunia.

“Teman?” tanyanya parau. Tiba-tiba saja air matanya mulai mengalir di pipinya yang mulus. Dia menangis lagi.

“Kau tidak apa?” tanyaku dan spontan aku mengusap air matanya. Aku ini heran dengan diriku sendiri. Ini pertama kalinya aku memperlakukan seorang gadis seperti ini.

“Kau ingin berteman denganku?”

“Ya, tentu saja. Tidak bisakah?” kataku. Ia menangis semakin kencang dan tiba-tiba saja memelukku.

“Eh.. mm agashi, bisa lepaskan pelukanmu?” tanyaku panik. Baru saja aku mengatakan ingin sekali memeluknya ternyata dia sendiri yang memelukku. Aku tidak keberatan sebenarnya tapi aku hanya takut orang lain melihat ini dan mengenaliku. Ini bisa membuat semua orang gempar dalam waktu sekejap.

“Shin…. Shin Mirrelle imnida.” Katanya pelan dan melepas pelukannya. Mirrelle, he? Miracle.

***

Chapter III #One Year# [Mirrelle POV]

Aku menatap poster besar di sebuah etalase toko musik sambil tersenyum. Dia ada di sana, tercetak indah bagaikan simfoni lagu yang mengalun merdu. Cho Kyuhyun, temanku, sahabatku dan juga seseorang yang teramat aku cintai. Satu-satunya pria yang mau berteman denganku, satu-satunya manusia berhati malaikat dalam hidupku.

Dia datang mengubah segalanya. Mengubah semua kesakitan itu menjadi sebuah pemandangan indah yang tak pernah ingin ku lupakan. Dia memperhatikanku, menyapaku dan terkadang memelukku. Dia tidak butuh alasan untuk mau berteman denganku. Tak peduli betapa sibuk dirinya sebagai idola, dia selalu berada di sisi hatiku. Aku tak pernah berhenti mengaguminya semenjak musim semi tahun lalu. Musim semi yang ku anggap buruk namun musim semi yang sangat manis untukku. Seperti coklat yang akan lumer ketika di kecap. Manis,pahit tapi menenangkan.

Namun meskipun dia membawa sejuta kebahagiaan, tak berarti penyakit kejiwaanku hilang begitu saja dari hidupku. Monster api ini masih ada, masih hidup dengan tenang dan nyaman. Dia… siap untuk dibangunkan kapanpun juga. Berada di dekat Kyuhyun membuatku bisa mengendalikan diriku, namun entah mengapa ketika dia tidak ada aku malah terpuruk dan semakin terjungkal. Dia mungkin adalah pengendali hatiku ini.

Aku melangkahkan kakiku melewati toko itu. Aku sudah memiliki banyak poster pribadinya. Bahkan berfoto bersama dia pun aku punya. Dia baik padaku, namun ada sedikit keraguan di hatiku. Dia, bisakah dia mencintai gadis seperti aku? Aku ini tidak normal bahkan aku seperti mayat hidup. Aku bisa bernafas, aku bisa bergerak dan hidup seperti orang normal tapi aku tidak bisa menikmati hidup dengan sebuah senyuman. Pusat duniaku mungkin ada di dirinya.

Aku terus melangkah, tak peduli seberapa jauh dan kemana arah tujuanku. Aku hanya ingin menghilangkan rasa bosan. Aku sudah berminggu-minggu tidak bertemu dengan Kyuhyun. Dia sibuk sekali tahun ini. Super show dan segala macam hal yang berkaitan dengan dunia hiburan. Aku merogoh tasku dan ku ambil handphone flip ku. Fotoku bersama Kyuhyun terpampang di sana, jika di lihat sekilas aku seperti kekasihnya. Haha, aku memang berharap itu jadi kenyataan. Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada namja tengil itu.

BRUKK!!

Aish…. Aku terjungkal ke belakang dan handphone milikku pun terjatuh. Aigo… pantatku sakit sekali.

“Kau tidak apa-apa?” aku mendongak dan seorang gadis remaja mengulurkan tangannya ke arahku. Aku meraih tangannya dan ia pun menarik tubuhku hingga aku berdiri. Kenapa sih aku senang sekali menabrak orang?

“Kamsamhamnida.” Kataku dan membungkukkan badanku ke arahnya.

“Kau berfoto bersama Kyuhyun Super Junior?!” pekiknya tiba-tiba dan aku langsung berdiri tegap. Gadis itu memegang handphoneku dan matanya membelalak lebar menatap layar handphone. Astaga…. Aku pun berusaha mengambilnya namun ia malah menghindar dan masih menatap dengan tidak percaya.

“Kembalikan!” teriakku marah. Oke, gadis ini benar-benar keterlaluan. Bahkan sekarang beberapa pasang mata menatap ke arahku.

“Apa hubunganmu dengan Kyuhyun oppa?!!” Tanya gadis itu sengit. Kenapa jadi dia yang memarahiku?

“Kembalikan handphoneku!” teriakku tak memperdulikan pertanyaannya.

“Shireo! Apa… apa kau pacarnya?!” tanyanya lagi dan beberapa gadis seusianya kini mengerubungi kami. Sial, tubuhku mulai gemetar. Tidak, ku mohon jangan keluar sekarang!

“Ku bilang kembalikan!” aku mencoba meraihnya namun ia malah menyerahkan handphoneku ke seorang gadis yang ku pikir juga temannya.

“Benar, ini Kyuhyun oppa! Kau benar-benar pacarnya?! Kau sama sekali tidak cantik!” teriak gadis yang satunya. Kini bisa ku lihat mereka menatapku seperti mangsa mereka. Argh!!! Tidak ada pilihan lain.

Aku memutuskan untuk lari dari keramaian. Aku tidak peduli pada handphoneku karena nyawaku sepertinya lebih penting sekarang. Aku terus berlari dan sama sekali enggan untuk menoleh ke belakang. Ku harap mereka tidak mengejarku sama sekali. Api. Api. Aku butuh cahaya itu sekarang. Aku berlari ke arah sudut taman yang biasa ku datangi. Aku merogoh tasku dengan tergesa-gesa dan mencari-cari korek api yang sering ku bawa. Di mana? Di mana korek apiku?

Aku terus mencari dan mengeluarkan semua apa yang ada di dalam tas. Tapi nihil. Barang yang kucari sama sekali tidak ada. Aku bisa merasakan kakiku bergetar dengan hebat. Aku tahu ini mulai tidak wajar. Aku membutuhkan perasaan itu. Perasaan terbang dan melayang.

“Argh.” Erangku kesakitan. Dadaku rasanya sangat sesak dan aku nyaris tidak bisa bernafas. Aku menjatuhkan tubuhku di atas rumput taman. Dingin. Itu yang ku rasakan. Tubuhku mulai menggigil. Apakah ini euforia yang tertahan? Argh. Ini benar-benar seperti membunuhku. Ku mohon. Ku mohon siapa saja tolong bakar aku jika perlu!

***

Chapter IV #Finally# [Cho Kyuhyun POV]

 

Aku baru saja tiba dari bandara. Minggu ini sungguh melelahkan dan jadwalku sangat padat. Aku merebahkan tubuhku di kasur dan menguap lebar. Ahh…. Aku merindukan Mirrelle. Sedang apa ya dia sekarang? Aku sampai lupa untuk menghubunginya minggu ini. Ck, terkadang aku lelah menjadi orang terkenal.

Brak!!!

Aku terlonjak kaget dan ku lihat Heenim berjalan ke arahku dengan tatapan aneh. Apa sih? Tidak bisakah aku beristirahat sebentar saja?

“Kyuhyun-ah kau punya pacar?” Tanya Heenim langsung dan beberapa member yang lain mengekornya dari belakang.

“Maksudmu? Aku tidak mengerti.” Kataku heran. Heenim tidak menjawab malah menyodorkan Iphone milliknya padaku. Aku mengambil Iphonenya dan seketika itu juga mataku membelalak lebar. Ya Tuhan bagaimana mungkin fotoku bersama Mirrelle bisa menyebar di internet seperti ini?

“Jawab Kyuhyun-ah, benar dia pacarmu?” kini Leeteuk hyung yang bertanya. Dia menatapku menuntut jawaban.

“Bukan. Dia hanya teman dekatku.” Jawabku pelan dan sedetik kemudian aku baru sadar. Tidak mungkin foto itu bisa tersebar di internet dengan sendirinya. Lagipula Mirrelle juga tidak punya teman di kampusnya. Dia selalu kemana-mana sendirian. Jadi bagaimana bisa ini semua tersebar?

“Apa kau mencintainya?” Tanya Teuki hyung tapi aku tidak menjawab. Aku bergegas mengambil penyamaranku dan kunci mobil. Baru saja aku ingin keluar kamar namun sebuah tangan menahan pundakku.

“Kau mencintai gadis ini? Ini skandal besar Kyuhyun-ah.” Kata Teuki hyung memastikan. Aku memutar bola mataku lelah. Haruskah aku menjawabnya?

“Aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi yang ku tahu aku tidak dapat hidup dengan normal tanpa dirinya. Apakah itu cukup hyung?” jawabku dan kurasakan tangan Teuki hyung mengendur di bahuku.

“Siapapun gadis itu, aku yakin dia gadis yang sangat berarti untukmu.”

“Terima kasih.” Balasku dan segera keluar dari dorm. Mirrelle-ah kau dimana?

***

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar taman. Aku tidak tahu pasti mengapa hal yang terlintas di otakku hanya taman ini. Berkali-kali aku menelponnya namun sama sekali tidak di jawab. Bahkan sekarang aku mendapatkan banyak pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Mungkinkah handphone Mirrelle di curi? Aigoo… di mana gadis itu sekarang? Aku mengitari taman dan berteriak frustasi. Aku melirik jam tanganku sekilas dan menunjukkan angka sepuluh. Ini sudah terlalu malam. Mungkinkah dia masih ada di tempat ini?

“Api…api…” lirih sebuah suara dan aku bisa mendengarnya dengan jelas. Itu suara Mirrelle.

“Mirrelle-ah kau di mana?” tanyaku dan tidak ku dapatkan jawaban apapun. Di mana gadis itu? Aku mencari ke sudut taman dan benar saja sesosok gadis meringkuk di sana.

“Mirrelle-ah, gwaenchana?” tanyaku langsung menghampirinya. Tubuhnya dingin sekali, meskipun sudah memasuki musim semi tapi udara malam ini cukup dingin.

Aku melepaskan jaket yang ku kenakan dan menyampirkannya di pundak Mirrelle.

“Kyuhyun-ah… api… ku mohon api…” katanya lirih dan nafasnya tersengal-sengal. Tidak. Ini tidak boleh. Dia tidak boleh lagi bergantung pada api. Dia hanya boleh tertawa karenaku. Selama ini dia bisa mengendalikan penyakitnya dengan baik. Tapi sekarang? Setelah sekian lamanya ia tidak seperti ini tapi monster itu muncul lagi dalam hidupnya.

“Tidak Mirrelle-ah, ku mohon kau harus mengendalikannya. Ku mohon jangan bergantung lagi pada api.”

“Ah… kau, kau tahu?” tanyanya dan tubuhnya bergetar hebat. Aku bisa tahu dengan jelas ia menahan rasa sakitnya.

“Sejak dulu. Bahkan sebelum aku mengetahui namamu. Aku… ku mohon kendalikan dirimu.” Aku mengakuinya. Cukup sudah aku menganggap dirinya seperti orang normal pada umumnya.

“Kau…. Kau mengapa mau berteman denganku?” dia mencakar rumput dengan kasar. Menahan setiap rasa sakit yang di alaminya.

“Karena, karena aku mencintaimu.”

“Tidak mungkin. Kau hanya kasihan padaku.”

“Aku mencintaimu sepenuh hatiku Mirrelle-ah. Ku mohon mengertilah dan jadikan aku api yang bisa membuatmu tertawa.” Kuakui aku tidak pandai berkata-kata dan ia mendongak. Air mata meluncur mulus di pipinya. Aku mengusapnya dan ku tatap kedua mata sayu itu. Ku dekatkan wajahku ke arahnya dan dia sama sekali tidak bergeming.

“Saranghae.” Kataku pelan lalu mencium bibirnya lembut. Ku peluk tubuhnya dan seketika itu tubuhnya berhenti gemetar.

“Gwaenchana?” tanyaku dan melihat wajahnya.

“Kau hebat.” Katanya pelan.

“He?”

“Ku rasa kau adalah api baruku Cho Kyuhyun. Bisakah kau hidup selamanya di sampingku Tuan Cho?” pintanya lirih di sertai senyuman kecilnya yang sangat aku suka.

“Seharusnya aku yang melamarmu Pyromaniak.” Jawabku dan kusapukan lagi bibirku ke bibirnya.

Api itu? Tidak harus selalu bercahaya bukan?

End.

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: