F8

ed

F8

By: Nadia

***

Mata pria itu masih terpancang di depan sebuah laptop yang menyala. Karena tidak ada kerjaan, maka laki-laki itu membuka laptopnya dan memutuskan untuk berkeliling di sebuah site fanfiction favoritnya. Halaman itu akhirnya terbuka, dengan nuansa putih yang mendominasi aksen hitam di bar atasnya.

Ia mengarahkan mouse itu ke sebuah fanfiction yang sedang featured pada minggu itu. Kebetulan. Tentang Kyuhyun dan Sungmin. Dari authoress favoritnya pula. Pria itu menyeringai seraya membaca satu persatu kata berbahasa Inggris yang tertera di depan layar laptop tersebut. Sekedar remedi, pelampiasan karena tidak bisa bermain Starcraft seperti biasanya.

Mendesah bosan, ia menutup window di laptopnya dan mematikannya. Moodnya hilang seketika. Dengan sekilas lambaian bola matanya, laptop itu melayang lembut ke arah sebuah coffee table di dekatnya.

Pemuda itu memang memiliki sebuah kekuatan abnormal yang baru saja ia temukan sendiri beberapa tahun yang lalu. Ia memiliki kemampuan magis yang terkadang bisa dibilang tidak masuk akal. Ia bisa memindahkan barang dengan lambaian malas anggota tubuhnya (masih mempelajari bagaimana cara melakukannya dengan pikiran, sih), atau mempengaruhi pikiran seseorang. Bukan kekuatan yang umum, buatnya juga. Namun hal itu terkadang membantunya pada hal-hal kecil.

“Kyuhyun-ah, kau belum tidur?” Sosok seorang pria yang tubuhnya berbalut piyama warna pink lembut menyapa pemuda yang sedang termenung itu. Kyuhyun, nama pemuda itu, menoleh, dan mendapati Sungmin berdiri di depan daun pintu. Pemuda yang lebih muda itu tersenyum, lalu membisikkan kata-kata manis, merayu Sungmin untuk mendekat ke arahnya. Berhasil. Sungmin, yang kebingungan sendiri, berjalan tanpa sadar ke arah Kyuhyun. Lalu ia duduk di lengan sofa kecil yang diduduki Kyuhyun. Eksperimen kecil itu berhasil. Kyuhyun memoles senyum arogan di wajahnya.

Kalau pada Sungmin bisa, kenapa tidak pada gadis itu?

 

***

“Yah, itu mereka datang.”

Dari kejauhan tampak siluet garis tubuh dua orang wanita yang berjalan mendekati gedung yang bergaya arsitektur modern itu. Langkah kaki mereka seperti ringan, tidak terlihat berjalan, tetapi lebih seperti melayang.

Mereka berdua, Hwangrin dan Hanseo, adalah dua perempuan yang berkebangsaan Jepang tapi tinggal di Korea demi kepentingan akademis mereka. Hwangrin keturunan Jepang-Thailand-Filipina, sedangkan Hanseo keturunan Jepang murni. Mereka berdua adalah teman sekelas saat SMA dulu, tapi di kampus mereka berbeda jurusan. Hwangrin mengambil modern music sedangkan Hanseo mengambil jurusan broadcasting.

Park Hwangrin, atau Linnika Aozora Mikanami, bertubuh langsing semampai, dengan tinggi 163 cm dan tubuh yang cukup berisi, tidak kurus seperti model kebanyakan. Kulitnya putih susu, berpadu dengan rambut hitam panjang sepunggung model shaggy acak yang berantakan serta poni rata yang terkesan agak berantakan, namun malah memberi kesan manis pada wajahnya yang berfitur mungil. Iris matanya berwarna biru gelap, dengan nuansa kecoklatan yang tebal.

Kim Hanseo, atau Aoi Namida Harukina, berpotongan cuek dengan rambut kecoklatan sebahu. Tubuh gadis itu setinggi 160 cm, dengan tubuh agak sintal dan lebih berisi dibanding Hwangrin. Perempuan itu adalah teman baik Hwangrin sejak SMA.

“Linnika.” Sosok seorang pemuda dengan cengiran lebar dan rambut keriting berantakan muncul di depan gadis itu. Menyapanya dengan nama Jepangnya pula. Ia mengerutkan keningnya, lalu pemuda di hadapannya menirunya seperti cermin. Linni bergeser ke arah kanannya, dan lagi-lagi ia diikuti seperti cermin.

“Maumu apaan sih?!” Linni mulai naik darah. Ia melihat ke sekelilingnya. Aoi sudah tidak ada. Mungkin sudah ke kelas duluan. “Apa kau sangat kurang kerjaan sampai seperti ini, hm, Kyuhyun?”

Pemuda yang ternyata Kyuhyun itu hanya nyengir saja disemprot seperti itu. “Hanya ingin mengucapkan selamat pagi.” Jawabnya santai. Linni hanya memandangnya aneh, sebelum menghentakkan kakinya dan berjalan lagi ke kelasnya. Kyuhyun berusaha menyejajarkan langkahnya.

“Kembali ke kelasmu.” Linni memerintah dingin. Kyuhyun mengerjapkan matanya dan berkata polos, masih memandang postur langsing gadis yang hari itu mengenakan jeans kasual, kaus berwarna biru pucat dan hoodie putih tulang.

“Kita kan sekelas.” Katanya dengan nada polos. Sekilas dilihatnya wajah Linni agak memerah. Tapi perempuan itu segera mempercepat langkahnya. Mereka berdua sampai di kelas pertama mereka hari itu. Linni duduk diam-diam, sedangkan Kyuhyun masuk dengan penuh gaya. Tas ranselnya digantungkan dengan ujung tangan kanannya di bahu kanan pria itu dan tangan kirinya diselipkan di saku kiri celana jeans kasual yang ia kenakan. Kaus berwarna abu-abu gelap itu tampak pas di tubuhnya yang tinggi dan cukup kekar.

Linni memutar kedua bola matanya acuh melihat gaya Kyuhyun yang terlalu ‘oh-so-fabulous’. Dia sudah kebal dengan hal-hal yang seperti itu. Malah cenderung—kesal. Diva-like attitude seperti itu memang dari dulu tidak ia sukai, siapapun orangnya. Apalagi ini. Cho Kyuhyun. Memang. Memang dia magnae dari Super Junior yang terkenal. Memang wajahnya tampan sekali, seperti dewa. Memang—

Mendadak seseorang menjatuhkan tubuhnya di kursi di sebelah Linni. Gadis itu terperanjat, dan menoleh. Hanya untuk menemukan wajah Kyuhyun tersenyum lebar sekali di hadapannya. Manis sekali…

“Yah, yeppeo yeoja,” Kyuhyun menyapa Linni yang melengos. “Boleh duduk di sini kan?”

Linni memandang ke sekelilingnya, melihat gadis-gadis penggemar Kyuhyun melontarkan pandangan ganas ke arah gadis itu. Dia sangat mengenali aura neraka yang seperti itu. Fangirl. Tentu saja. Fans Kyuhyun itu sangat banyak, bukannya Linni tidak tahu. Apalagi sejak debutnya dengan Super Junior dan terkenal dengan julukan evil magnae. Namun ia tidak ambil pusing, lalu membalas kata-kata pemuda di sisinya itu.

“Terserah saja.”

***

Linni bergegas membereskan alat-alat tulisnya dan segera melangkah keluar. Ia tidak akan masuk ke kelas apapun lagi seharian ini, selain kelas pagi itu. Gadis itu memang sudah menunggu-nunggu saat dimana ia bisa bebas dari kelas teori yang membosankan. Ia lebih suka praktek.

“Linni!” Suara seseorang terdengar di belakangnya, membuat gadis itu mempercepat langkah kakinya. Namun ternyata ia masih kurang cepat juga, ketika ia menyadari tangan si pemilik suara itu menahan pergelangan tangannya.

“Nani wa?!” Bentak gadis itu tidak sabar. Namun pria yang menahannya itu malah menyeret gadis itu ke lorong yang lebih sepi, dan menahannya di tembok.

“Menghindariku, Linni?” Sindir lelaki itu.

“Aku sudah tidak punya hutang urusan apapun denganmu, Kitaru,” Linni berkata tajam. “Kupikir kita sudah selesai.”

Kitaru menyeringai jahat. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Linni, sementara gadis itu berusaha menghindar. Suaranya direndahkan satu oktaf, hingga terdengar nyaris berbisik. “Oh, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali kau dan teman kecilmu Aoi itu…”

“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi menurutku seorang gadis dan seorang pria berduaan di lorong yang sepi bukan pemandangan yang bagus.”

Suara bariton itu. Linni menoleh ke arah sosok pemuda yang bersender di tembok juga, dengan kaki kanannya naik ke tembok dan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. Siluetnya yang membelakangi cahaya mungkin bisa menipu siapa saja, tapi Linni tidak bisa tertipu dengan suara itu. Tidak mungkin ia tidak mengenalinya.

“Kyuhyun.” Bisik Linni, setengah tidak percaya bahwa saat itu ia bisa dibilang bahagia—lega melihat sosok pria itu di saat yang tepat.

“Kukira ini bukan urusanmu,” Kitaru berkata seraya masih memandang Linni, namun berbicara pada Kyuhyun, “Kau bukan siapa-siapa untukku.”

Tanpa disadarinya Kyuhyun sudah berada di antara Kitaru dan Linni, dengan punggungnya menghadap wajah Linni. Seolah-olah ia berniat melindungi gadis itu. Linni membelalakkan kedua matanya. Bagaimana dia bisa berada di depannya secepat itu? Dan sikap protektif itu—tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Padahal pemuda itu tidak tahu Kitaru, mantan pacarnya, seperti apa, dan apa hubungannya dengan Linni. Ia juga tidak bertanggung jawab dalam hal apapun mengenai Linni.

Tapi…

Ia melindungiku, batin Linni bingung.

“Tolong tinggalkan Linni, apapun hubungan yang kau punya dengannya dulu.” Kyuhyun berkata dengan nada suara yang berani, tidak terdengar getar apapun di dalam suaranya. Kitaru hanya menyeringai, seraya mengeluarkan sebilah pisau perak yang berkilat ditimpa sinar matahari.

“Kalau begitu aku harus memaksa,” ujarnya dalam suara rendah. “Sekarang atau tidak sama sekali.”

Kejadian itu berlangsung terlalu cepat untuk dapat ditangkap oleh indera manusia. Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Linni yang lunglai. Udara berputar di sekeliling mereka, dan Linni dapat merasakan seperti ada yang memblokir jalan masuk oksigen untuknya. Warna-warni koridor yang sepi itu mulai berputar di sekeliling mereka, tampak kabur. Suara teriakan Kitaru menggema di telinganya, namun mendadak ia merasakan sensasi tuli sementara. Sampai saat keadaan sudah kembali normal—namun dengan latar yang berbeda.

Dari sela-sela lengan pemuda yang memeluknya itu, Linni dapat melihat pohon nyiur yang tertiup angin dan bergerak lembut gemulai. Telinganya mendengar suara deburan ombak yang dramatis, memecah di antara batu karang. Udara nampaknya terasa lebih asin di indera gadis itu. Kakinya yang terbalut flat shoes dapat merasakan lembutnya pasir di bawah kakinya. Ini—di pantai?

Kyuhyun melepaskan pelukannya dari tubuh Linni perlahan, lalu menatap wajah gadis yang masih syok itu. Ia menyapukan jemarinya di wajah itu, lalu tersenyum lemah.

“Kau tidak apa-apa.” Gumamnya, nampak lega sekali. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas pasir putih yang halus.

“Omona…” Linni berkata bingung. “Ini—dimana?” Ia mengalihkan wajahnya ke arah Kyuhyun yang masih kolaps di atas pasir putih yang indah itu. Pemuda itu hanya mengedikkan bahunya, dan mengamati sebuah kulit kerang kosong yang cantik di sebelahnya.

“Sayangnya aku tidak tahu,” balas Kyuhyun, membuat Linni meliriknya ganas. “Aku benar-benar tidak tahu, lho.” Kata-kata Kyuhyun yang santai membuat Linni naik darah dan memungut segenggam pasir di dekat kakinya, lalu melemparkannya ke arah Kyuhyun. Pemuda itu terkejut, dan mengusap-usap wajahnya.

“Bagaimana bisa kau tidak tahu kau membawa kita kemana?!” Bentak Linni kasar. Kyuhyun bangkit dari posisi duduknya dan menghadap ke arah Linni hingga jarak mereka dekat sekali sehingga Linni harus mendongak untuk memandang mata pria itu.

“Kukira seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena sudah menolongmu dari si bajingan itu? Kenapa malah membentakku?!” Kyuhyun mulai naik darah juga, dan Linni menghela nafasnya kesal.

“Tapi bagaimana bisa kau membawaku ke tempat ini tanpa—wait,” omelan gadis itu terputus saat otaknya mulai bisa mengolah informasi paling krusial yang terunduh di otaknya. “Bagaimana—tepatnya bagaimana caranya kau membawa kita ke sini?”

Sesaat Kyuhyun terpana memandang sosok gadis di hadapannya itu. Ia ada benarnya juga. Bagaimana caranya ia membawa mereka berdua ke sebuah pulau terpencil, yang ia sendiri tidak tahu dimana, padahal beberapa menit yang lalu mereka masih berada di koridor paling sepi di Kyunghee. Pemuda itu memandangi kedua belah tangannya, masih heran dengan kejadian barusan. Memang ia memiliki kekuatan abnormal berupa sihir, tapi ia yakin sekali belum pernah mencoba melakukan hal itu. Memindahkan dirinya sendiri serta orang lain ke sebuah tempat yang ia bahkan tidak yakin masih di Korea atau sudah di luar negeri.

“Aku…” Ia berusaha mencari jawaban rasional, namun yang berputar di dalam kepalanya hanyalah alasan-alasan yang irasional, yang satu lebih lemah dari yang sebelumnya. “Aku punya kekuatan sihir.”

Hening sejenak.

“Kau apa?” Linni bertanya, jelas-jelas tidak percaya dengan pengakuan yang baru saja didengarkannya.

“Aku bisa—menyihir?” Kyuhyun mengulang kata-katanya, jelas masih terlihat bingung. Otak Linni yang akhirnya bisa memproses informasi itu, mulai berputar. Gadis itu mendengus meremehkan.

“Ha, as if.” Gumamnya. Kyuhyun mendekat lagi, hidungnya nyaris menyentuh puncak kepala Linni.

“Aku bisa.” Ia berkata dengan suara baritonnya yang rendah, membuat Linni terkesiap. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Pria itu, masih memandang intens ke dalam mata Linni, menunjuk ke arah sebuah kelapa muda yang ada di atas pohon. Dengan satu sentakan lembut jemarinya, kelapa itu melayang ke tangan Linni, yang menangkapnya dengan sigap. Lalu menjentikkan jemarinya, membuat lubang di atas buah kelapa itu.

“Whoa,” Linni masih tidak percaya, “Oke, oke. Aku percaya.” Gadis itu memutar kedua bola matanya dan menyorongkan buah kelapa itu ke arah Kyuhyun. Pemuda itu malah mengangkat sebelah alisnya bingung.

“Apa?” Katanya. Linni menelengkan kepalanya, nampak jelas sekali heran.

“Memangnya kau tidak haus?”

“Untukmu saja.”

Linni nampak berpikir sejenak. “Kalau begitu kita bergantian saja minumnya.” Anehnya, Kyuhyun tidak menolak. Pemuda itu duduk di atas pasir yang hangat terjemur sinar mentari, sedangkan Linni duduk di sebelahnya. Linni melirik postur pria di hadapannya itu, lalu menyeruput sedikit isi kelapa itu. Kyuhyun mengambil kelapa yang disodorkan oleh Linni, dan ikut meminum isinya. Sejenak suasananya hening.

“Habiskan saja sisanya.” Kyuhyun bergumam singkat kepada Linni. Gadis itu mengangguk kecil, tidak berusaha melawan ketika Kyuhyun menyuruhnya seperti itu. Setelah habis, ia mendesah lega. Mereka berdua masih duduk di atas pasir, memandangi matahari yang tenggelam perlahan.

“Apakah kau tahu,” Linni membuka percakapan, “Bagaimana cara mengembalikan kita sebelum—besok pagi?” Gadis itu nampak larut dalam pikirannya sendiri. Bagaimana jika mereka tidak bisa kembali sebelum sinar matahari pertama besok pagi bersinar…

“Aku tidak tahu,” Kyuhyun menggelengkan kepalanya lemah, berkata jujur. Linni meliriknya, dan mendesah kecewa. “Apakah—ada sesuatu yang harus kau lakukan besok pagi-pagi sekali?”

“Tidak juga.” Linni berkata miris. Sebenarnya ada. Dan yang ini menyangkut masa depannya. Kehidupannya selanjutnya. Daur hidup Linni. Jika ia tidak kembali besok pagi-pagi sekali...ia tidak akan bisa kembali. Tapi ia harus bisa berakting seolah-olah tidak punya masalah sama sekali, terutama hal kecil yang sensitif itu. “Kau,” kata Linni. “Sudah berapa lama tahu kalau kau punya kekuatan ini?”

“Sudah beberapa tahun ini,” jawab Kyuhyun. “Mulanya agak merepotkan, tapi akhirnya lumayan juga.”

“Begitu.” Linni menggumam, sementara mata mereka berdua tak lepas dari pemandangan matahari yang terbenam dan digantikan oleh tirai langit malam yang turun. Mata Linni memandangi bintang-bintang, yang hanya berkelip pasif. Tiba-tiba tubuhnya terasa lelah sekali, sehingga tidak sadar ia nyaris tertidur. Lalu ia berdiri, melepas hoodie yang ia kenakan, lalu melipatnya. Linni meletakkan hoodie itu di atas pasir di sebelah Kyuhyun, dan menjadikannya bantal.

Baru sebentar ia menikmati keempukan hoodie itu, kepala Linni terasa diangkat dan dipindahkan ke sesuatu yang lebih hangat dan lebih empuk. Ia mendongak, dan menemukan fakta bahwa Kyuhyun memindahkan kepala Linni ke atas paha pemuda itu sendiri. Lalu ia mengambil hoodie milik Linni, dan menyelimutkannya ke atas tubuh Linni yang masih kaku karena terkejut. Sekilas dilihatnya senyum khas Kyuhyun yang manis.

“Kau pasti lelah.” Katanya lembut, sementara ia sendiri menyender ke batang pohon kelapa yang ada di belakang punggungnya. Bibir pemuda itu menyenandungkan sebuah lagu anak-anak favorit Linni. Tiga Ekor Beruang. Linni tersenyum lembut. Ia pernah mendengar bahwa suara Kyuhyun itu bagus sekali, tapi baru sekali ini ia mendengar langsung suara yang indah itu. Setelah Kyuhyun menyanyikan lagu tersebut tiga kali, perlahan kelopak matanya menutup, dan ia pun terlelap.

Kyuhyun memandang wajah Linni yang terlelap itu dengan ekspresi lembut, serta senyum kecil terpoles di bibirnya. Gadis yang sekarang terlelap di pangkuannya ini—sebenarnya sudah cukup lama ia memperhatikannya. Tidak secantik gadis-gadis lain yang sudah ketahuan menyukai dirinya, tapi—ia unik. Fakta itu cukup. Lalu, entah apa yang menggerakannya, Kyuhyun merunduk untuk mengecup kening Linni perlahan. Pemuda itu menutup kedua kelopak matanya, dan bertahan di posisinya selama beberapa saat. Wangi vanilla khas perempuan itu menyeruak indera penciumannya, bekerja serupa ekstasi. Memabukkan. Hingga akhirnya Kyuhyun ikut terlelap, menyender di batang pohon kelapa, diiringi debur ombak dari kejauhan yang meninabobokan indera pendengarannya.

***

Kyuhyun terbangun dengan sebuah sentakan keras kepalanya. Ia tidak sadar sudah tertidur lama sekali, dan…

Tunggu.

Di mana ini?

Jelas bukan di sebuah pulau terpencil yang sama seperti malam sebelumnya. Dan Kyuhyun tidak bisa merasakan beban kepala Linni lagi di atas pahanya. Ia tersentak bagun, dan benarlah, sudah tidak nampak lagi bayang Linni. Yang tertinggal hanya hoodie berwarna putih tulang miliknya, yang selalu dikeluhkannya karena ukurannya yang kelewat besar. Jemari Kyuhyun bergetar. Ia tidak ingin momen itu berakhir—sebelum ia sempat bicara banyakdengan gadis itu. Sebelum ia sempat mengatakan satu kalimat itu.

Matanya yang nanar menelusuri daerah itu. Lorong di Kyunghee? Tempat terakhir kali mereka berdua berada, sebelum terbawa ke pulau yang tidak mereka ketahui itu. Kyuhyun mendesah kecewa. Ke mana gadis itu pergi? Ia bahkan tidak membangunkannya, atau mengucapkan selamat tinggal. Lalu pemuda itu menyadari sesuatu. Ada secarik kertas di kantong hoodie yang ditinggalkan Linni. Ia membukanya, lalu membaca isinya.

Maaf karena tidak memberitahumu terlebih dahulu, namun… Kukira aku tidak bisa kembali setelah pagi ini. Aku tidak akan menjadi temanmu lagi. Aku…tidak akan kembali, rasanya. Yah, inilah alasanku menanyakan apakah kita bisa kembali sebelum matahari terbit…hari ini.

Aku…bukan manusia biasa, seperti kau dan kekuatan sihirmu. Aku…agak unik. Well, tentu aku manusia, hanya saja aku memiliki daur hidup selama 5 tahun. Artinya, secara teknis aku akan hidup selama 5 tahun saja selama siklus itu berjalan. Setelah itu, aku akan bereinkarnasi menjadi manusia yang lain, ditempatkan di tempat yang lain, namun ingatan dan wajahku masih sama. Meskipun setelah reinkarnasi, aku tidak bisa memastikan pada usia berapa tahun hidupku akan bermula lagi. Dan pada daur hidupku yang ini, beruntung sekali aku ditempatkan di Seoul, bisa bertemu dengan Aoi sahabatku, dan…juga denganmu. Beruntung sekali diriku bisa mengenal orang-orang yang baik seperti kalian semua.

Ini adalah siklus terakhirku sebelum aku bisa hidup normal seperti manusia biasa. Setelah ini, tidak akan ada lagi siklus itu, aku bisa hidup sampai sisa usiaku habis secara normal. Kuharap kita bisa bertemu lagi, Cho Kyuhyun. Fate has been the one who set us apart, and fate will also be the one to set us together again.

Fate.

Love Sincerely,

Linnika Aozora Mikanami

Kyuhyun menyenderkan tubuhnya di tembok, masih tidak percaya dengan apa yang telah dibacanya. Ia bahkan belum sempat bicara mengenai hal itu dengannya. Tanpa ia sadari setitik air mata menjatuhi pipinya.

***

2 tahun kemudian…

Lima sosok pria muda berwajah tampan terlihat di tepi kota kecil Osaka yang sepi. Canda tawa mereka terdengar riuh ditingkahi oleh gemericik air sungai yang mengalir di bawah jembatan yang mereka lewati. Kyuhyun dengan Donghae, Eunhyuk, Henry, dan Sungmin, teman-temannya dari Super Junior sedang berlibur ke Jepang. Dari kejauhan, sosok seorang perempuan dengan cepat menutup tirai bambu yang menutupi kios kecil untuk minum teh itu.

“Linni, ada tamu di ruang 12, lima orang.” Suara berat seorang pria paruh baya memecah lamunannya. Buru-buru gadis itu menyiapkan seteko teh hijau, atau ocha, yang terkenal khas Jepang. Lalu dengan cekatan ia menata teko, lima buah cangkir kecil yang kesemuanya bernuansa hijau dengan aksen bambu, di atas sebuah nampan bening kehijauan. Ia merapikan kimononya, memeriksa riasannya, serta pipinya yang agak merona walaupun sudah dibedaki hingga seputih bulu angsa. Pekerjaan barunya sebagai geisha dianggapnya menantang, dan untungnya belum ada yang berani kurang ajar dengannya. Lalu gadis itu melangkah mantap menuju ruang 12, dimana tamu-tamunya sudah menunggunya.

Ketika Linni mendorong pintu geser tersebut, pandangan matanya langsung tertumbuk pada sosok seorang pria. Yang pernah mengisi kehidupannya di siklus sebelumnya. Dan lagi, tubuh pria itu berbalut hoodie warna putih tulang, hoodie yang sama dengan yang terakhir kali ditinggalkannya sebelum ia bereinkarnasi kembali. Pria itu juga nampaknya terkejut dengan kemunculan gadis yang dulu sempat menyita pikirannya, yang ternyata muncul begitu saja di hadapannya. Masih sama, bahkan esens vanilla yang sama memabukannya seperti kala itu. Takdir telah mempertemukan mereka kembali.

“Linnika Aozora Mikanami.”

“Cho Kyuhyun.”

Ruangan itu lalu sesak oleh kerinduan yang melarut.

-the end-

 

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: