Dandelion

dean

Dandelion

Here is a little forest,
Whose leaf is ever green;
Here is a brighter garden,
Where not a frost has been;
In its unfading flowers

***

Dandelion. Tentu tahu, bukan? Setangkai bunga yang tumbuh di tengah hutan, alam liar. Tetapi ia masih berdiri tegak disana, walaupun bunganya bergerak mengikuti angin, ia takkan pernah lepas dari akarnya. Walaupun anak-anak bunganya beterbangan untuk tumbuh di suatu tempat, bunga itu akan tumbuh lagi. Tumbuh besar, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa teduh.

Aku berdiri lagi disini. Bukan hobiku, bukan keinginanku, tapi rutinitasku. Aku hanya merasa bahwa aku memang harus berdiri disini. Meniup bunga itu lalu membuat harapan. Harapan yang tidak akan pernah terjadi padaku. Tidak akan mungkin, tetapi aku saja yang bodoh terus mengharapkannya.

“Aku harap ia mencintaiku..” Aku meniup anak-anak bunganya seraya menutup mata. Membiarkan anak-anak bunganya pergi mengikuti angin. Pergi membawa hidupnya ke tempat yang lebih indah. Lepas lelah dengan tempat ini. Suatu saat ia akan menetap di suatu tempat, tumbuh menjadi bunga yang baru.

Aku tersenyum, angin bergerak menerpa rambutku. Rasanya ingin sekali menjadi bunga dandelion, pergi kemanapun ia ingin pergi. Menetap di suatu tempat, menjalani kehidupan yang baru. Tetapi sekarang berbeda, ini aku- ini hidupku. Tentu saja aku harus menjalaninya. Sekeras apapun aku pergi, takdir itu tetap akan datang menghampiriku. Aku tak bisa menjauh. Tak sedikitpun. Begitu juga harapanku, dia tidak menjauh, aku juga tidak. Tetapi setidaknya aku mempunyai satu harapan pasti.

*

“Hai,” Sapa seseorang sesampai aku di rumah. Aku tersenyum, lagi-lagi harapan itu terucapkan di dalam hati.

“Ng- hai.” Ucapku kaku. Aku menatapnya hangat. Ia tidak memandangku, ia hanya tersenyum. Ia tidak bagaikan dandelion, tetapi ia seperti hujan, bukan- bukan gerimis, ia deras.

“Kau kesana lagi?” Tanyanya sambil menggandeng tanganku duduk di atas sofa. Aku mengangguk. Terus saja menatapnya, seperti terpikat saja.

“Apa yang kau lakukan disana?” Tanyanya sedikit penasaran. Aku terkekeh.

“Rahasia.” Kataku pelan. Ia mengernyitkan alisnya bingung.

“Kau selalu menghilang setiap pagi, aku sering panik. Memangnya tidak ada waktu lain dengan.. Ng- ‘hobi’mu?” Mataku membulat.

“Bukan hobi, tapi rutinitas. Kalau begitu jangan panik, aku akan baik-baik saja.” Kataku seraya bangkit berdiri kemudian membuka kulkas.

“Huh? Baik-baik saja katamu? Aku tidak pernah yakin dengan kata-kata ‘baik-baik saja’ yang keluar dari mulutmu.” Ia mengibaskan tangannya seraya menggeleng. Sejenak hening, aish- game gila itu lagi.

“Apa sih yang kau suka dari game tolol itu?” Kataku sedikit memekik. Aku sudah terlalu bosan melihat matanya yang berbinar-binar ketika memainkan game.

“Kalau begitu, apa sih yang kau suka dari rutinitasmu? Rutinitas pergi keluar rumah tiap pagi.” Jelasnya. Aku tersenyum simpul. Ia berani sekali berbelit.

“Jangan membuatku bingung.”

“Kau yang membuatku bingung.” Balasnya. Aku menggeleng seraya melenggang ke arah dapur. Aku tak ingin berbicara apa-apa lagi, kalau ia tahu aku melakukan hal yang menurutnya sepele ia akan mengomel tidak jelas. Hmm.. sepertinya yang kulakukan bukan hal yang sepele, sangat penting malah.

*

Lusa hari ulang tahunku, bukan hal yang istimewa memang, menurutku juga hari ulang tahun itu biasa-biasa saja. Tidak ada yang berubah, aku masih berada di rumah mungil itu bersamanya, bercakap-cakap tentang hal yang tak terlalu penting, dia masih asik dengan gamenya, akupun masih asik dengan harapanku.

Aku tidak mengerti jelasnya aku bisa bersamanya. Intinya aku tidak tahu, aku tidak ingat. Aku tidak ingat ia pernah menciumku, aku tidak ingat ia melamarku menikah, aku tidak ingat ia memelukku, aku tidak ingat ia tertawa di depanku, aku tidak ingat. Aku tidak ingat kenapa aku bisa mencintai seseorang yang tidak mencintaiku. Semuanya datar-datar saja, ia tidak pernah bertanya apapun kecuali tentang pelajaran, bagaimana keadaanku, masak apa hari ini. Kontak fisik yang pernah ia lakukan hanya memegang tanganku, itu saja. Ya, itu saja. Tapi kenapa aku merasa itu sudah lebih dari cukup? Rasanya itu sudah sangat terlalu cukup jika aku tahu ia mencintaiku. Ia mencintaiku tanpa paksaan, tanpa suruhan.

Ia selalu baik padaku, selalu saja. Tidak pernah membentak, tidak pernah memarahi, ia memaafkan segala kesalahanku. Aku tidak bisa menilai di sisi mana ia mencintaiku. Aku tidak pernah merasa ia merasa khawatir dengan keadaanku. Aku hanya sempat melihat ia menggertakkan giginya, tetapi tidak di hadapanku. Selebihnya ia tidak melakukan apapun. Tidurpun.. Tempat kami selalu diberi jarak.

Andaikan aku tidak merasa gengsi atau takut, aku akan mudah bertanya padanya apa ia mencintaiku. Aku ingin buktinya, aku ingin buktinya kalau ia tulus mencintaiku.

“Kita makan apa hari ini?” Tanyanya muncul dari ruang tengah. Aku tersentak kaget seraya menoleh menatapnya kaku.

“Mmm.. seul-gok-jang dan sup ikan” Kataku kecil sekali. Ia terdiam di belakangku tanpa mengatakan apapun. Aish- aku benci keadaan ini.

“Jae, maaf kalau aku menyinggungmu, tapi bolehkah kau.. tidak memasukkan sayur di setiap masakanmu? Itu membuat rasanya hancur, masakanmu sangat enak, tetapi dengan adanya sayur hijau itu.. aku jadi kehilangan rasa untuk memakannya.” Aku terdiam. Hampir saja aku menjatuhkan sendok. Ia berbicara sangat banyak- untuk pertama kalinya ia berbicara sebanyak itu padaku. Mungkinkah Tuhan mengabulkan harapanku? Mungkinkah ia mencintaiku?

“Kyuhyun…” Aku berbalik seraya berjalan kearahnya. Aku menundukkan kepalaku. Apa aku bisa menyatakannya?

“Ada apa? Kau sakit?” Tanyanya pelan- tidak terdengar nada khawatir sedikitpun.

Aku menunduk seraya terdiam. Aku bisa merasakan tatapannya, menunggu jawabanku. Lebih tepatnya menunggu pertanyaanku.

“Aku sudah terlanjur memasukkannya sayur.” Aish!

Mata Kyuhyun membulat seraya menahan tawa. Aku menatapnya kikuk.

“Kukira kau mau menyatakan sesuatu, ternyata hanya sayur. Tak apa kok, untuk kali ini saja.” Jelasnya berjalan melewatiku. Aku berdiri kaku, aku bisa merasakan belaian tidak sengajanya di punggungku. Berlebihan memang, tapi aku rasa itu adalah hal yang spektakuler sekali.

Ia mencicipnya kemudian bergumam tidak jelas, bisa kulihat ia tersenyum.

“Ini sudah masak. Apa kita makan sekarang?”

“Tentu saja!” Nyaris saja aku menjerit kegirangan. Ia terkikik kecil kemudian duduk di kursi makan.

*

“Kau terlambat lima menit” Tuntutnya. Ia menungguku di depan teras. Aku tersenyum kaku. Aish, kenapa aku tidak pernah bisa berhenti tersenyum?

“M-maaf.. Aku-“

“Ku maafkan.”

Ia memotongnya. Sekali lagi, ia tersenyum padaku. Senyum yang baru pertama kali kulihat dalam hidupku.

*

“Hey guys!” Sapa temanku ketika kami sampai di kampus. Aku tersenyum, ia membalasnya.

“Skripsimu sudah selesai?” Tanya Donghae terus saja memutar badannya di depan kami.

“Belum.” Jawabku.

“Tidak, sudah.” Balas Kyuhyun. Dahiku mengernyit, mengerjakannya saja tidak.

“Kyuhyun, ap-“

“Aku membantumu.” Jawab Kyuhyun sambil menoleh kearahku kemudian menatap ke Donghae.

“Kyu, berusahalah untuk tidak berbicara terlalu formal dengan istrimu sendiri.” Nasehat Donghae. Kyuhyun hanya diam sambil berjalan pergi, Donghae di depannya.

“Akan kulakukan, suatu saat.” Bisik Kyuhyun, dan hanya terdengar olehku.

*

Dandelion, kau tahu? Ini kekanak-kanakkan memang, tetapi aku benar-benar bahagia sekarang. Secara langsung atau tidak langsung, bukti-bukti itu mulai bermunculan, mungkin bagi segelintir orang itu tidak bermakna, tapi itu sangat bermakna dalam bagiku. Aku tidak pernah bisa mengekspresikannya, tapi hanya satu hal yang belum kuketahui.. Apa dia mencintaiku?

*

Besok ulang tahunku. Ya, besok, tapi ia sepertinya tidak mengingatnya sama sekali. Ia tidak bertanya, tidak melakukan hal yang benar-benar berarti. Mungkin aku saja yang terlalu heboh menganggap ia.. mengingatnya.

“Jae, kau ada kertas kosong?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba di belakangku. Aku menoleh dan tersenyum lagi.

“Di laci kamar kita.” Balasku pelan. Ia mengangguk kecil kemudian pergi meninggalkanku di ruang santai. Tidak terlalu canggung, tidak juga terlalu akrab. Yang penting kami ada berkomunikasi, itu saja. Itu sudah penting bagiku.

Sejenak aku berpikir, apa ia mencintai orang lain? Terdengar mengerikan, tapi aku.. hanya bisa diam.

“Kyu, kau sedang membuat apa?” Tanyaku sambil mendatanginya ke arah kamar.

“Ng- hanya abstrak yang tidak jelas.” Jawabnya singkat. Masih sibuk dengan kegiatan abstrak itu. Aku menaikkan bahuku kemudian mendatanginya.

“Boleh aku lihat?”

“Tidak. Kau tidak boleh melihatnya sampai besok.” Gumamnya. Bukankah abstrak itu hanya warna-warna yang dipadukan menjadi satu? Aku anggap itu tidak istimewa, jadi aku mengangguk kemudian merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

  • Afternoon

“Aku pergi dulu.” Katanya. Sepertinya abstrak itu sudah selesai.

“Kemana?”

“Tidak akan lama.”

Aish, tidak nyambung.

“Jam 7 aku akan pulang, jangan lupa pintu belakang di kunci, dan juga jendela jangan lupa di tutup. Ng- siram tanaman kita. Atau mungkin kau memetik buah-buahan di halaman belakang, itu sudah masak.” Katanya sebelum aku pergi. Aku mengangguk kepalaku cepat. Memangnya ada apa sih kalau aku diam dan tidak melakukan apapun? Kata-katanya terdengar aneh di telingaku.

“Oh ya,” Ia berbalik, “Kau tak perlu masak hari ini, kita akan pergi jam 9. Berdandanlah yang cantik.”

Aku menganga tidak percaya. Itu sangat merepotkan. Berdandan? Aku tidak suka berdandan.. Lagipula ingin pergi kemana sampai harus berdandan ‘secantik mungkin’?

“Kita mau pergi kem-“

“Aku pergi.”

Blam!

Pintu ditutup. Lagi-lagi aku menganga. Dia sekarang suka memotong pembicaraanku, aish..

*

Cho Kyuhyun’s Place

“Permisi,” Kata Kyuhyun pelan ketika sampai di studio. Studio dimana banyak orang melukis.

“Ya? Tumben kau kesini. Ada perlu apa?” Tanya seorang namja sambil mempersilahkan Kyuhyun masuk.

“Ng- ya, aku butuh bantuanmu. Hanya untuk melihat ini.” Sahut Kyuhyun sambil mengambil selembar kertas di dalam tas ranselnya.

“Ini.” Beri Kyuhyun pada namja itu. Ia menerimanya kemudian berdecak kagum.

“Apa itu bagus?” Tanya Kyuhyun hati-hati.

“Tentu saja bagus. Bagaimana kau bisa melukis seperti ini? Siluet wajahnya sangat indah untuk dipandang, tata letak pengambilan gambarnya juga, tapi… bagaimana kau bisa melukis senyuman yang misterius ini?” Tunjuk namja itu pada senyuman seorang yeoja diatas kertas kanvas.

“Itu butuh banyak waktu, karena aku sering melihat ia tersenyum dengan cara yang berbeda.” Tanggap Kyuhyun sendiri. Ia tersenyum simpul.

“Oh.. yeojachingumu ternyata? Aku paham..” Namja itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

“Tidak hanya itu, ia bagaikan bunga dandelion yang akan pergi kemanapun ia ingin pergi.”

*

Jae’s Place

Jae merenung melihat pantulan dirinya dicermin. Ia seperti ondel-ondel. Bukankah perempuan mempunyai bakat berdandan? Kenapa ia tidak memiliki itu? Aish.. ia baru saja benar-benar memikirkannya.

“Semua perintah Kyuhyun sudah kulakukan. Apa ada yang tertinggal?” Gumam Jae.

“Akh.. aku belum mandi!!” Jae Hyun terkaget-kaget sendiri, belum pernah ia mandi selarut ini. Bergegas ia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.

*

“Aku pulang.” Seru Kyuhyun seraya masuk ke dalam rumah kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa.

Tidak terdengar sahutan sama sekali.

“Jae?” Kyuhyun memanggilnya agak keras.

“Ya?!” Balasan suaranya seperti melolong.

“Kau dimana?”

“Kamar mandi.” Sahutnya lagi sambil berteriak. Kyuhyun mengangguk paham kemudian masuk ke dalam kamar.

“Kyu,” Jae keluar sudah berpakaian rapi, cocok sekali untuk pakaian keluar malam.

“Apa?” Kyuhyun masih berguling-guling di atas kasur.

“Kita berangkat?” Jae menyisir rambutnya kemudian berbedak asal-asalan.

“Hmm,” Kyuhyun membalas seadanya. Ia mengambil kunci mobil kemudian meluncur ke jalan raya.

*

“Ini kemana?” Tanya Jae sambil menoleh ke arah jalanan yang tampak sepi. Jelas sekali ini bukan Los Angeles, mana ada tempat di Los Angeles yang tak sepi.

“Ke Seoul.”

“MWO??!!” Jae hampir saja melompat kaget. Bayangkan saja, dari Los Angeles ke Seoul? Dan ia belum menyiapkan apapun.

“Kenapa kau tidak bilang-bilang? Aku belum menyiapkan apapun!” Jae sedikit menggertak. Kyuhyun menoleh menatapnya tak sabaran.

“Aku tidak menyuruhmu untuk menyiapkan apapun. Kita ke tempat appa dan eommamu.” Kata Kyuhyun datar, tidak ada ekspresi.

“Untuk apa?” Tanya Jae amat sangat polos.

Kyuhyun menoleh,

“Untuk apa? Itu pertanyaan paling bodoh yang pernah kudengar, Jae.”

*

–  Tomorrow

“Annyeong, appa, eomma.” Ketika Kyuhyun dan Jae sampai di rumah. Kyuhyun menguap lebar-lebar.

“Annyeong! Bagaimana keadaanmu disana, Jae? Kyuhyun tidak macam-macam denganmu, kan?” Eomma Jae berlari kemudian memeluk anaknya satu- persatu, Appa Jae hanya tersenyum sambil menepuk bahu Kyuhyun.

“Tentu tidak, Kyuhyun amat sangat baik padaku.”

Kyuhyun menoleh kemudian tersenyum aneh.

“Tidak selalu seperti itu, eommonim.” Balas Kyuhyun hati-hati.

“Hahaha! Sudahlah, anak appa ini. Appa tahu kok pasti kau menjaga anakku dengan baik.” Appa Jae mempersilahkan mereka masuk. Kemudian mereka mulai bercakap-cakap tentang Jae dan Kyuhyun. Mereka tertawa-tawa. Entah mengapa Jae merasa semua akan baik-baik saja.

*

“Appa, eomma, bisa minta waktu berdua dengan Jae sebentar? Aku ingin mengajaknya pergi, sepertinya dia sudah lupa dengan kota ini. Kota kelahirannya sendiri.” Ejek Kyuhyun tak langsung. Eomma Jae mengangguk paham, Jae menoleh sambil menggembungkan pipinya kesal.

*

“Coba teb-“ Kyuhyun ingin berbicara tetapi Jae segera memotongnya.

“AHH!! AKU TAHU INI APA! PASTI TAMAN KOTA SEOUL, YA KAN??” Jae memandang Kyuhyun senang, Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum.

“Ternyata kau ingat, kukira kau sudah mulai pikun..” Ejek Kyuhyun tak langsung. Spontan Jae memukul lengan Kyuhyun pelan.

“Cih-“ Kyuhyun mulai bergumam tidak jelas kemudian pergi meninggalkan Jae begitu saja di dalam mobil.

“Ya! Ya! Ya! Kau mau kemana?” Jae menahan lengan Kyuhyun cepat.

“Kau tunggu saja disini. Awas kalau kemana-mana!” Gertak Kyuhyun sambil menghentakkan kakinya cukup keras, Jae mencicit melihatnya.

5 menit kemudian..

“Aish.. ini benar-benar menyebalkan! Kemana sih anak itu? Di sini panas..” Keluh Jae sambil mengibas-ngibaskan tangannya, betapa bodohnya anak itu, kenapa dia tidak membuka sedikit kaca mobilnya atau keluar dari situ?

“Hei!” Kyuhyun mengetuk kaca mobil dari luar. Jae menoleh, tersenyum lagi.

“Ini” Kyuhyun memberikan Jae satu cup es krim, Jae yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam kemudian meraihnya dari tangan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum.

“Oya, ngomong-ngomong,” Kyuhyun memegang pinggang Jae kemudian mendudukkannya di kursi taman di pusat Kota Seoul.

“K-Kyu?” Jae bergumam tidak jelas, Kyuhyun hanya tersenyum kemudian ia duduk di sebelah Jae.

“Selamat ulang tahun.” Kyuhyun tersenyum kecil sambil menyerahkan sepotong cokelat untuk Jae.

“Eh? Ah? Uhm.. Ng- aish..” Jae mulai kehilangan kata-kata, terbujur kaku di tempatnya.

“Kenapa kau sebodoh ini, Jae.. Ck,” Decak Kyuhyun kesal sambil menjitak kepala yeoja itu.

“Ki- kita kesini hanya untuk hari ulang tahunku? Ini gila, Kyu!” Jae cepat-cepat menaruh tangannya di kening Kyuhyun, siapa tahu ia kelebihan dosis obat.

“Siapa bilang ini waras? Kau tahu? Aku hampir menghabiskan 12 juta hanya untuk kesini dari Los Angeles.” Kyuhyun menggumam kemudian mendongak menatap langit. Jae terus saja menatap Kyuhyun.

“Tapi.. terima kasih.”

Jae’s Pov

“Tapi.. terima kasih” Aku mengecup pipinya cepat, kemudian bersenandung kecil seraya menggoyang-goyangkan kakiku.

“Sepertinya kau akan berteriak histeris saat kita pulang ke LA..” Kata Kyuhyun tak menggubris ‘kecupan kilat’ku. Tapi aku hanya tersenyum. Mungkin ini saat yang tepat untuk menanyakannya. Akh.. aku tidak bisa menyusun kata-kata! Sudahlah, lupakan saja.

“Aku mulai ingat,” Kataku kecil kemudian menoleh ke arahnya, Kyuhyun masih tersenyum, masih mengadah ke langit.

“Ng?”

“Aku tidak ingat, kapan terakhir kali kau memelukku, menciumku, atau hanya sekedar tertawa di depanku. Aku tidak ingat semua hal itu. Aku bahkan tak ingat, kenapa kita.. menikah.” Sejenak hening. Kyuhyun terdiam, ia menatapku tajam. Aku terbujur kaku sendiri di tempatku, apa aku salah berkata tadi? Aish~

“Kau tidak ingat?” Geraman Kyuhyun terdengar sedikit dingin- jarang-jarang Kyuhyun berkata seperti ini padaku.

“Ng- ya” Kataku membalasnya kecil sekali.

“Kau gila.” Kyuhyun bangkit berdiri kemudian meninggalkanku begitu saja. Aish, dia marah. Jujur, perkataanku ini pasti menyinggung perasaannya.

Mana mungkin seorang istrinya sendiri lupa kapan pertama kali mereka berciuman atau berpelukan? Itu hal yang paling bodoh di dunia ini. Aish.. seharusnya aku tidak mengatakannya tadi! Kenapa kau sangat bodoh sekarang, Jae?!

Punggungnya semakin menjauh, apa aku harus mengejarnya?

“Tunggu!” Aku berlari mengejarnya, memeluknya dari belakang.

“Aku memang tidak ingat, aku bahkan tidak ingat kau mencintaiku, aku ragu- kau tidak pernah menunjukkan bahwa kau mencintaiku. Tidak sama sekali. Aku takut kau akan meninggalkanku, aku takut bahwa pernikahan itu bukan didasarkan cinta.” Aku terdiam sendiri. Perkataan demi perkataan terlontar begitu saja tepat dihadapannya. Aku menarik nafas panjang sekali. Mungkin aku tidak akan melihatnya lagi karena kesalahanku yang amat sangat fatal itu.

“Ah, begitu,” Kyuhyun berbalik kemudian tersenyum setan. Jelas sekali bahwa ia benar-benar marah.

“T-tunggu, aku tidak bermak- hmmph-“ Omonganku terputus. Ia menciumku. Dingin. Aku tersenyum dalam hati. Mungkin ini pertama kalinya dalam ingatanku bahwa ia menciumku. Ciuman pertama dalam ingatanku.

Bruk!

Kyuhyun mendorongku begitu saja ke batang pohon. Ia menghimpitku di antara pepohonan itu, aish- posisi ini dekat sekali. Aku mohon, jangan sampai aku gagal jantung!

“Kalau begitu aku akan membuatmu mengingatnya. Aku menciummu ribuan kali sebelum kita menikah, aku memelukmu jutaan kali dalam hidupku, dan satu lagi, aku HANYA mencintaimu seumur hidupku. Jadi kau tak perlu resah atau cemas, karena cintaku jauh lebih dalam dari yang kau pikirkan.” Kyuhyun mengucapkan itu bertubi-tubi di hadapanku, aku menarik nafas panjang, bisa-bisa aku pingsan dalam posisi sedekat ini.

“Dan saat kita telah menikah, aku tidak sanggup menyentuhmu karena.. aku bisa hilang kendali.” Kyuhyun berkata itu sangat pelan, namun terdengar sangat jelas di telingaku. Aku menganga tak percaya.

“Kau puas?” Tuntut Kyuhyun tajam, helaan nafasnya membelai halus kulit leherku. Ah, aku bisa gila. Nyaris- nyaris saja hidungnya bersentuhan dengan hidungku, aish- otakku kosong!

“Kukira kau tid-“

“Sekali lagi kudengar kau berkata seperti itu, awas! Kau akan menyesal seumur hidup.” Kyuhyun melepaskan himpitannya dari tubuhku, aku jatuh terduduk di bawah pohon.

“Mungkin karena kau sudah lama tidak memelukku, perlahan-lahan ingatan itu hilang” Gumamku sendiri.

“Sepertinya ini ulang tahun yang paling berkesan” Kataku pelan-pelan. Ia menoleh menatapku.

“Huh? Ini ulang tahun paling bodoh di dunia” Geram Kyuhyun sambil menarik tanganku kuat.

“Ngomong-ngomong, kenapa cokelatnya hanya sepotong?” Tanyaku pelan. Ia melotot menatapku.

“Kau itu ya..!” Geram Kyuhyun sambil menjitak kepalaku. Aku meringis tertahan.

“Bagaimana kalau kita naik roller coaster? Sepertinya itu asik.” Kata Kyuhyun sambil menunjuk ke permainan itu. Nada bicaranya terdengar rendah dan lembut. Ia bisa berubah begitu cepat. Aku mengangguk. Ia tersenyum lebar padaku.

“Kyu, bisa aku mendengarnya lagi?” Pintaku saat ia memasangkanku sabuk pengaman.

“Maksudmu?”

“It-“

“Oh, aku mencintaimu.”

*

EPILOG

Beberapa minggu setelah itu, keadaan mulai membaik. Ia bahkan sering mencumbuku setiap waktu, tapi kadang-kadang ia sering memarahiku karena katanya aku terlalu bodoh.. Aish, tapi aku benar-benar merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini.

Aku tidak lagi membutuhkan bunga dandelion, aku tidak lagi membuat harapan, karena aku sendiri sudah menjadi bunga dandelion itu. Pergi kemana ia ingin pergi.

“Tidak pergi dengan ‘rutinitas’mu?” Kata Kyuhyun tiba-tiba saja memelukku dari belakang. Aku tersenyum penuh arti.

“Aku tidak membutuhkannya lagi. Mungkin sekarang aku lebih membutuhkan hujan.” Kataku asal-asalan. Kyuhyun terdiam kemudian mencium bahuku hangat.

“Hujan?”

“Ya, dan itu kau.”

Kyuhyun membalikkan tubuhku kemudian mencium keningku.

“Aku akan menjelaskan satu hal. Jika aku adalah planet, maka kau adalah pusat tata suryaku. Jika kau adalah bunga dandelion, maka aku adalah angin yang mengiringimu pergi. Dan jika aku adalah hujan, maka kau adalah bumi tempat aku kembali dan berpijak.”

            Mengapa aku menyebutnya bagaikan hujan? Karena ia datang dan pergi begitu saja, walaupun air hujan dingin, anginnya yang bertiup kuat, tetapi ia tetap air. Mengalir setiap waktu. Seperti itu juga aku membayangkannya, aku mencintainya seperti aku mencintai air. Air yang selalu mengalir, tidak akan pernah habis dimakan waktu.

-Fin-

3 Comments (+add yours?)

  1. Indah
    May 28, 2017 @ 02:17:26

    Daebak!!!

    Reply

  2. femkim
    Jul 19, 2017 @ 09:42:10

    ceritanya masih kurang detail. seperti apa alasan kyu dan istrinya menikah.
    dan kenapa istri kyu lupa tentang hal penting dalam hidupnya.

    Reply

  3. kylajenny
    Aug 02, 2017 @ 07:36:59

    Bgs ceritanyaaa. Kenapa Kyu takut hlg kendali? Kan mereka udah nikaaah

    Reply

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: