Because You Are The L.O.V.E

hbj

Because You Are The L.O.V.E

Apa cinta butuh alasan? Apa cinta bisa memilih?

***

“Ya!! You blame it to me, huh? Dalam kehidupan itu harus ada konflik, kalau tidak manusia akan bosan, hidupnya akan terasa hambar,” sahutnya santai.

“Tapi kau itu menyusahkanku! Bagaimana kalau pria itu malah memilih wanita lain daripada jodoh yang ada di depan matanya sendiri? Hidupnya tidak akan bahagia!” seruku emosi.

It’s your job to open his eyes, you are Amore, angel of love, right?,” ia tertawa, “lagipula toh tugasmu sudah selesai, pria itu kembali pada wanita jodohnya itu.”

“Enak saja kau bilang! Gara-gara kau aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyatukan mereka! Aishh, pokoknya kau harus traktir! Mumpung kita di Korea, aku mau makan jajangmyeon, kajja!” kataku sambil segera  menarik tangannya.

“Hei, hei! Seenaknya saja kau ini!” sahutnya kesal. Tapi aku tidak peduli, pokoknya temanku ini harus mentraktirku, hehehe.

Aku Amore, seorang malaikat cinta. Eitss, tapi jangan pikir kalau aku ini sama seperti Cupid, malaikat cinta yang hobi membawa panah dan berwujud bayi montok seperti di dongeng-dongeng. Aku berwujud seperti halnya manusia, hanya saja manusia tidak bisa melihat wujudku. Sebenarnya bisa, kalau aku ingin memperlihatkannya pada mereka, tapi tentu saja aku akan merahasiakan identitasku. Tugasku adalah untuk mempertemukan manusia dengan jodohnya, belahan jiwanya. Tugas yang sangat mudah, sebenarnya, karena aku bisa mengetahui dengan mudah jodoh seseorang, tentu saja karena aku ini malaikat cinta hehehe. Hanya saja aku tidak bekerja sendiri, sehingga kadang tugasku menjadi rumit, karena harus bertabrakan dengan tugas malaikat lain. Selain aku, masih ada banyak malaikat-malaikat lain dengan tugasnya masing-masing, misalnya saja Fatreya temanku tadi, ia adalah seorang malaikat takdir, yang bertugas untuk mengatur jalannya hidup manusia, adapula Devone, malaikat maut. Tentu saja masih banyak malaikat lain yang bila kusebut namanya satu-persatu, sampai mulutku berbuih pun tidak akan habis hehehe. Oh ya, karena aku sekarang sedang berada di Korea dan aku sedang iseng untuk menggunakan wujud manusiaku, maka aku menggunakan nama Koreaku, Jung Hyena.

*

Hari sudah sangat malam, Sooya sudah kembali ke Nirvana, tempat tinggal kami para malaikat tinggal, sedangkan aku masih berada di bumi, masih ingin menikmati indahnya bumi. Ya, tentu saja Nirvana seribu kali jauh lebih indah daripada bumi, tapi aku merasa kalau bumi punya sejuta pesona tersendiri. Bahkan kadang aku merasa kalau aku ingin menjadi seorang manusia. Aku berjalan-jalan di tepi Sungai Han, kemudian pandanganku tertuju pada sesosok pria yang sedang duduk termenung di tepi sungai Han. Ada yang aneh dengan pria itu. Seharusnya dia punya jodoh, tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat jodoh pria itu. Hmm, orang ini benar-benar menarik, pikirku dalam hati.

*

“Jadi namanya Cho Kyuhyun?”

“23 tahun, tidak punya sahabat ataupun keluarga dekat, cerdas, manager  perusahaan IT, ukuran sepatunya 41, ukuran cela… Hmpphh.”

“Ya!! Kau ini! Aku hanya perlu tau namanya, tidak perlu sampai segitunya!” seruku sambil membekap mulut  Heechul atau Casey, sang malaikat identitas. Sebagai malaikat identitas, dia tau semua tentang manusia, baik itu identitas umum sampai hal pribadi, kemampuan yang sangat hebat bukan?

“Mian, keceplosan,” kata Heechul nyengir. “Ngomong-ngomong, dia tampan juga,” lanjut Heechul sambil senyum-senyum.

“Yaa!! Kau ini masih normalkan? Perlu kupertegas lagi, wujud manusiamu itu namja? NAMJAAAA….!!!!” seruku keras-keras di telinganya.

“YAAKKKK!!!! Aku tahu Jung Hyena!! Memangnya tidak boleh aku memujinya tampan hah!!!” seru Heechul tak mau kalah.

“Jadi pria itu yang kau bilang tidak punya jodoh?” tanya Sooya alias Fatreya, mengacuhkan pertengkaran antara diriku dan Heechul.

“Mm!” anggukku mantap. Kini kami bertiga sedang mengamati pria bernama Cho Kyuhyun itu. Tentu saja dengan wujud sebagai malaikat, kalau dengan wujud manusia tentu kami sudah ketahuan.

“Ini aneh, bahkan aku tidak bisa melihat dengan jelas takdirnya,” gumam Sooya.

“Jinjja? Apa mungkin jangan-jangan sebentar lagi dia akan meninggal, makanya takdirnya tidak jelas?” tanyaku.

“Aishh, walaupun dia sebentar lagi meninggalpun, harusnya takdirnya tetap tergambar jelas,”  jawab Sooya.

“Ah, aku baru ingat, kekasihnya baru menikah dengan orang lain 6 bulan yang lalu, apa mungkin karena itu dia tidak punya jodoh?” tanya Heechul padaku.

“Seharusnya tidak. Karena sebenarnya manusia itu punya lebih dari satu jodoh. Jadi kalau satu hilang, yang lain akan menggantikannya. Tapi aku tidak melihat satupun padanya,” jawabku bingung.

Kami bertiga menghela napas panjang. Alangkah kasihannya hidup pria ini, tidak punya jodoh, bahkan takdirnyapun kabur. Aku melihat wajahnya, ada rasa iba di dadaku. Selama aku mengamatinya sekalipun aku tidak pernah melihatnya tersenyum, ada kesedihan mendalam yang tampak dari sorot matanya. Tiba-tiba terbersit dalam benakku untuk membantunya, ya membantu agar hidupnya lebih berwarna, mungkin kalau saja dia sedikit bahagia, takdir dan jodohnya akan menjadi jelas. Yak, tunggu saja Cho Kyuhyun! Aku Jung Hyena, berjanji untuk mengantarkan kebahagiaan padamu!

*

Hari ini aku memutuskan untuk memulai aksiku, membantu pria bernama Cho Kyuhyun itu. Dan tentu saja aku akan menggunakan wujud manusiaku.

“Tuan, terimalah bunga ini,” kataku sambil tersenyum seceria mungkin sambil menyodorkan setangkai bunga matahari padanya.

“Maaf, tapi aku tidak perlu,” sahutnya ketus lalu meninggalkanku.

“Chankaman! Setidaknya kau bisa memberikannya pada yeojachingumu,” bujukku.

“Aisshh, merepotkan saja,” katanya lalu merebut bunga dari tanganku, namun tiba-tiba saja menjatuhkannya ke tanah lalu menginjak-injaknya.

Aku benar-benar shock melihat apa yang dilakukannya, dan hanya bisa terdiam di tempat sampai ia berlalu menjauh. Huffttt, Jung Hyena alias Amore, tampaknya tugas ini tidak semudah yang kau bayangkan.

*

“Ah, mianhae! Aku tidak sengaja,” seruku sambil segera membersihkan noda tumpahan kopi di kemejanya. Tentu saja aku berbohong, sebenarnya aku sengaja menabraknya untuk melancarkan aksiku hehehe.

“Sialan,” katanya sambil melihat kearah kemejanya yang kini kotor. “Aisshhh, kau lagi?!?!?!” serunya saat melihat wajahku. Aku nyengir, berusaha seaegyo mungkin.

“Mianhae, sebagai gantinya aku traktir kau makan, bagaimana?” ajakku.

“Huh, yeoja aneh,” gumamnya perlahan. Lalu ia segera melangkahkan kakinya menjauh.

“Yaakkk!! Mau kemana kau!!” seruku sambil memegang lengannya. “Ayo ikut aku! Dengan begitu kita impas!” Aku berusaha menarik lengannya, tapi tentu saja kekuatanku kalah dibanding dengannya. Dan sekali lagi aku gagal, ia meninggalkanku.

*

“Aisshhhh!!!” seruku kesal sambil mengacak-ngacak rambutku. “Bagaimana sih caranya melelehkan hatinya yang seperti es itu!”

Aku berjalan-jalan tanpa tujuan di jalanan kota Seoul, berusaha menyusun rencana jitu untuk meluluhkan pria dengan hati sekeras batu itu. Sudah berpuluh-puluh rencana aku laksanakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, namun selalu saja gagal. Kalau dipikir-pikir rasanya aku ingin menyerah saja, tapi aku adalah tipe seorang manusia, eh bukan, malaikat yang kalau sudah berjanji, maka janji itu harus kutepati dan kulaksanakan sampai selesai.

Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba! Baru saja aku sedang memikirkannya, sekarang dia ada di depanku. Tapi tunggu dulu, kenapa jalannya sempoyongan?  Jangan-jangan dia mabuk? Aku segera mendekatinya, dan benar saja, bau alkohol menyeruak memasuki indera penciuman manusiaku.

“Kyuhyun? Kau tidak apa-apa?” tanyaku padanya, sesaat setelah ia hampir saja rebah ke tanah, untung saja dengan sigap aku segera menahannya.

“Aku tidak apa-apa, aku tidak pernah apa-apa, aku selalu tidak apa-apa, hahahahahaha…” racaunya, sudah jelas dari kata-katanya yang kacau itu kalau ia mabuk berat.

“Ayo, kau harus pulang,” kataku sambil membopongnya menuju apartemennya. Tentu saja aku tau dimana apartemennya, kalau tidak apa gunanya aku jadi malaikat? Untungnya lagi apartemennya dekat, jadi aku tidak perlu dengan lama-lama membopongnya seperti ini dengan wujud manusiaku.

Aku merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya, lalu berniat untuk mengambil air hangat untuk menyeka badannya yang penuh keringat, tapi tiba-tiba saja ia menahan lenganku.

“Jangan pergi, jangan tinggalkan aku,” pintanya, tentu saja dalam keadaan mabuk.

“Aku hanya ingin mengambil air untuk menyeka tubuhmu,” jawabku.

“Jangan, aku tidak mau kesepian lagi,” sahutnya dengan mata tertutup, masih menahan lenganku erat.

Aku tersenyum. “Baiklah, kalau itu maumu.”

*

Besok paginya…

“Arrghh, apa yang kau lakukan di apartemenku hah?” serunya kaget saat melihatku yang ada di depannya.

“Kau tidak ingat kejadian semalam?” godaku nakal sambil mengerling kearahnya.

“Kau!! Memangnya apa yang terjadi?” tanyanya emosi.

“Kau benar-benar tidak ingat?” tanyaku, berpura-pura kecewa. “Padahal kau bernafsu sekali tadi malam, aku sampai kewalahan.”

“Mwo?? Apa maksudmu? Jelaskan padaku, atau segera pergi dari sini!!” ia mulai berteriak seperti kesetanan. Dengan susah payah aku menahan agar tawaku tidak keluar.

“Shireo!! Aku malu kalau harus menceritakannya lagi padamu,” jawabku, pura-pura tersipu malu. “Tapi aku juga tidak akan pergi dari sini, kau harus bertanggungjawab atas perlakuanmu tadi malam, bagaimana kalau aku hamil?” tambahku iseng, yang sukses membuatnya ternganga.

“Apa katamu? Aishh aku tidak percaya! Tidak mungkin aku tidak ingat sama sekali!” serunya frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya, membuatku semakin berusaha keras menahan tawa.

“Kau tidak percaya padaku, lalu ini apa?” kataku sambil menunjukkan bekas kemerahan di leherku, yang sebenarnya kubuat sendiri, hahaha. “Atau kau mau bukti yang lebih otentik lagi?” godaku sambil berpura-pura akan membuka kancing bajuku.

“Aisshh!!! Cukup!! Aku bisa gila!! Aku harus pergi bekerja!!” serunya lalu segera bangun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.

Hahahaha! Akhirnya, sedikit usaha lagi, aku bisa berhasil! Cho Kyuhyun! Bersiaplah, mungkin tak lama lagi hidupmu bisa berubah menjadi lebih baik!!

“Pulang cepat ya!! Nanti aku akan masakkan makan malam yang enak untukmu!! “ seruku pada Kyuhyun, saat ia berangkat menuju kantor.

“Aisshh, yeoja aneh,” ia mendengus pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya.

*

Dan beginilah hari-hariku saat tinggal bersama di apartemen  Kyuhyun. Mengantarnya sampai depan rumah saat ia akan pergi ke kantor, membereskan apartemennya, memasak  untuknya, lalu makan malam bersamanya. Kalau dipikir-pikir, aku bagaikan istrinya saja. Apa? Istri? Aishh, buang jauh-jauh pikiran itu Jung Hyena!

“Bagaimana? Enak?” tanyaku padanya saat makan malam.

“Terlalu banyak sayur!” serunya. “Tapi…mashita,” gumamnya.

“Ne? Apa katamu tadi?”

“Terlalu banyak sayur!!”

“Bukan, apa yang kau bilang setelahnya?” bujukku.

“Tidak ada! Aku hanya bilang terlalu banyak sayur!” sahutnya kesal.

“Jinjja? Bukannya kau tadi bilang ‘mashita’ ? aku anggap itu pujian,” kataku sambil tersenyum.

“Cih…”

Walaupun Kyuhyun protes karena masakanku terlalu banyak sayur, dan ia tidak berani mengakui kalau masakanku enak, tapi ia tetap menghabiskan makanannya, padahal aku tau ia paling tidak suka sayur. Senyumku terkembang. Kini kau belum bisa tersenyum, tapi aku tau, Cho Kyuhyun, kau mulai berubah.

*

Hyena, I think you’re going crazy right now .”

“Mwo? What do you mean, Sooya?” tanyaku bingung.

Yeah, you know, you’re an angel, and what are you doing? Try to be hero,huh? Being a human and try to save someone,” kata Sooya. “You know the rules, right? Kita tidak boleh berinteraksi terlalu lama dengan manusia.”

I know,” sahutku, “But, I don’t know why, I just think I have  responsible to help him, help him to find happiness.

You don’t have to do that, every human have their own fate, you can’t change that.

But he doesn’t have fate right? That’s why I help him to find his fate.

I know, it’s useless to tell you. Now it’s up to you, you have rights to choose your own way. I’ve already warn you. Don’t blame me if something bad happen to both of you. Thats right, I can’t see his fate, but I have strong feeling, if you don’t know,” ujar Sooya dengan ekspresi datar, membuatku semakin bingung. “Bye Hyena, I must go now.”

“Wait!” seruku.

What?”

“Thanks Sooya,and…..  we’re still friends, right?”  tanyaku.

“Ne, kita.. Chingu,” jawabnya sambil tersenyum lalu segera pergi.

Aku mendesah pelan. Ya, aku tau aturannya, seorang malaikat tidak boleh terlalu lama berinteraksi dengan manusia, karena kami berasal dari dua dunia yang berbeda. Sampai saat ini aku belum melihatnya tersenyum, dan itu berarti aku tidak akan meninggalkannya sebelum aku bisa melihat senyumnya. Tapi, akhir-akhir ini pun aku sering merasa ragu, kalau ia sudah tersenyum bahagia, apa aku bisa meninggalkannya? Karena selama ini, aku akui aku bergantung padanya. Ya, mungkin terdengar konyol, tapi aku tidak bisa jauh darinya, setiap melihatnya, jantung dalam raga manusiaku akan berdesir lebih cepat, apa inikah yang disebut cinta? Bahkan aku, Amore sang malaikat cinta, baru tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, dan ternyata rasanya sungguh tidak enak, karena membuat seluruh susunan syaraf otak akan berhenti berfungsi.

*

“Apa ini Kyu?” tanyaku bingung. Kyuhyun baru saja memberiku 2 tiket ke taman hiburan.

“Kau nggak bisa baca?” sahutnya ketus.

“Ya! Kau meremehkanku hah? Tentu saja bisa! Maksudku kenapa kau tiba-tiba memberikan ini padaku?”

“Aku dapat dari atasanku, daripada mubazir, lebih baik untukmu.”

“Tapi tiketnya ada 2, berarti kau juga ikut?”

“Menurutmu? Tentu saja tidak!” serunya.

“Ayolah! Kalau kau tidak ikut, sama saja tiketnya juga akan mubazir,” aku menggembungkan kedua pipiku.

“Aisshhh, baiklah!!”

“Jinjja?? Hore!!!!”

*

“Kyu, jangan cepat-cepat,aku capeekkkk….”

“Salahmu sendiri, kenapa dari tadi kesana-kemari, seperti anak-anak saja,” omelnya. “Kajja, ayo kita pulang.”

“Chankaman, kakiku sudah tidak kuat, kita istirahat dulu ya disitu,” tunjukku pada sebuah bangku yang ada.

“Aishh!! Sebentar saja, arraseo?”

“Ne, arraseo!”

Aku memijit-mijit betisku bergiliran kiri dan kanan. Aisshh, ternyata jadi manusia itu juga merepotkan, harus merasakan pegal seperti ini.

“Masih sakit?” tanyanya.

“Kalau tidak sakit ngapain aku mijit-mijit kaya gini,” keluhku.

“Caramu salah, harusnya begini,” katanya sambil memijat betisku. Mwo, dia memijat betisku? Biasanya juga dia tidak mau menyentuhku. Aku menatap wajahnya, dan sialnya dia juga menatap wajahku, membuat jantungku berdegup kencang.

“Ah, ayo kita pulang, sudah malam. Kajja.”

Aku menelan ludah. “Ne.”

Kami berdua berjalan dengan pelan. Kami memang pergi ke taman hiburan tadi berjalan kaki, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari apartemen Kyuhyun, dan tentu saja karena aku juga bersikeras mau jalan kaki, walaupun akhirnya aku sedikit menyesal, karena raga manusiaku ini tidak mau diajak berkompromi, kakiku rasanya sakit sekali. Tapi tampaknya penyesalan dan rasa sakit ini bisa terobati, karena sepanjang jalan Kyuhyun terus menggenggam tanganku, padahal selama ini, dia paling menghindari kontak fisik denganku. Yang paling aku suka, genggamannya.. sungguh hangat.

“Kyuhyun, boleh aku bertanya padamu?” tanyaku, memecah keheningan diantara kami berdua.

“Hm?”

“Kenapa kau tidak pernah tersenyum?”

“Haruskah aku menjawab pertanyaan konyol itu? Aku rasa tidak,” jawabnya datar.

“Aishh, Kyuhyun, jebal! Jawab saja pertanyaanku,” pintaku.

“Memangnya itu penting?” ia menatapku tajam.

“Ne, itu penting bagiku! Jebal, jawablah Kyu!”

“Ckkk, aku benci tersenyum, arraseo?”

“Kenapa kau benci tersenyum?”

“Jangan tanyakan kenapa,” jawabnya tegas.

“Kenapa?” aku menarik-narik lengan bajunya.

“Sudah kubilang jangan tanya kenapa!!”  serunya nyaring, lalu menyentakkan tanganku yang menarik lengan bajunya.

“SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN JAWAB DAN AKU TIDAK AKAN PERNAH TERSENYUM! JADI JANGAN PERNAH PAKSA AKU!!”

Tanpa terasa airmataku mengalir. “Sekeras itukah hatimu, Cho Kyuhyun? Kalau tau begini, harusnya aku menyerah dari awal…” gumamku, lalu segera pergi.

“Hyena, tunggu!!” serunya dibelakangku. Tapi aku tidak peduli, aku terus saja berlari menjauh darinya. Dan sekali lagi, raga manusiaku ini tidak bisa diajak berkompromi. Tentu saja ia bisa mengejarku. Kyuhyun menarik tanganku, lalu merengkuhku kedalam pelukannya.

“Mianhae, aku tau aku salah membentakmu,” ujarnya lirih. “Jangan pergi, jebal.”

Aku hanya bisa semakin terisak dalam pelukannya.

“Aku tau aku kasar, tidak berperasaan, temperamen, tapi tolong, jangan jadikan itu alasan kau untuk meninggalkanku, karena….. aku tak bisa hidup tanpamu…”

“Kalau begitu, tersenyumlah untukku,” pintaku.

“Mianhae, tapi aku tidak bisa,” jawabnya lirih.

“Lepaskan aku,” aku berusaha memberontak, tapi Kyuhyun malah semakin mempererat pelukannya, membuatku hampir kehabisan napas.

“Jeongmal mianhae, tapi aku benar-benar tidak bisa… karena kalau aku tersenyum, semua yang kucintai malah pergi meninggalkanku.”

“Sebaliknya aku akan meninggalkanmu jika kau tidak mau tersenyum,” kataku sambil mengontrol emosi dan airmataku, “dan karena kau tidak mau tersenyum, maka lepaskan aku.” Ya, aku sudah menyerah. Aku sudah terlalu lelah untuk bisa membuatnya tersenyum.

“Kalau aku tersenyum, apa kau mau terus berada di sisiku?” ia melonggarkan pelukannya, memegang bahuku dan menatapku tajam.

Aku mengangguk pelan. Maafkan aku Kyu, sebenarnya aku tidak bisa berjanji untuk terus ada di sisimu, tapi… aku harus membuatmu tersenyum.

Lalu ia memegang wajahku dengan kedua tangannya, memaksaku untuk menatap wajahnya. Ia menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk lekukan yang sungguh indah. Ya, ia tersenyum!! untuk pertama kalinya ia tersenyum padaku, dan senyumnya benar-benar indah! Bahkan mungkin bisa mengalahkan senyum Aiden, sang malaikat ketampanan. Untuk beberapa saat, aku telah terhipnotis olehnya.

“Hyena..” panggilnya menyadarkanku.

“Indah sekali….” gumamku.

“Saranghae, Hyena,” ujarnya lalu mengecup bibirku singkat. Tubuhku sontak membeku. Seorang Cho Kyuhyun menciumku?

“Hyena, aku tau ini terlalu cepat. Tapi, aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Would you marry me?” tanyanya tulus.

Aku terdiam. Ohtokke? Apa yang harus kujawab? Aku berusaha mencari kata-kata yang tepat.

“A..aku belum bisa menjawabnya, aku belum tau perasaanku sendiri, mianhae Kyuhyun..” jawabku tertunduk.

“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kau bisa menjawabnya,” jawabnya sambil tersenyum, namun tidak bisa menutupi rasa kecewa di wajahnya. “Ayo kita pulang.”

Aku tersadar. Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Membiarkan cinta terlarang ini tumbuh.

*

I’m so stupid Sooya. If I know it would be end like this, I won’t do it. It’s useless, even getting worse,” kataku pada Sooya. Malam itu, dengan berat hati aku meninggalkan Kyuhyun diam-diam. Hatiku ini sakit, berontak, tak mau berpisah darinya, tapi keadaan yang membuatku harus meninggalkannya, kami berasal dari dunia yang berbeda. Semenjak itu pula, Kyuhyun tak ubahnya zombie, bahkan jauh lebih buruk dari keadaannya yang dulu. Dan semua karena kecerobohanku yang mencoba masuk dalam kehidupannya.

You think so? Actually, nothing’s useless,” jawab Sooya singkat.

“Maksudmu?”

“Ya, tidak ada usaha yang sia-sia. Kau harus tau itu,”

“Aku tahu. Usahaku sukses membuatnya lebih terpuruk,” jawabku  lirih.

“Yah, mungkin memang taldirnya seperti itu, mau bagaimana lagi,” Sooya tersenyum.

You mean, now  you can see his fate?” tanyaku penasaran. Karena sampai saat inipun aku belum dapat melihat jodohnya.

Sooya menggeleng. “It’s better for him, maybe he will have different fate than other human.”

 

 

Aku tidak mampu mencerna apa yang Sooya katakan. Different fate? What is that mean?

I just hope, you’ll found your happines with your own way. Aku minta maaf, telah masuk dalam hidupmu, dan menggoreskan luka lebih dalam di hatimu. Saranghae… Cho Kyuhyun….

*

Finish your job for today, Amore?” tanya Devone, malaikat kematian. Ini pertama kalinya  ia menegurku, kami tidak pernah bertegur sapa sebelumnya.

Yeah, how about you?” tanyaku singkat.

Just wait for the last one,” jawabnya tersenyum. Setauku, walaupun Dovone adalah malaikat kematian, tapi ia punya hati dan lembut.

Oh yeah? Who’s the lucky one?” tanyaku berbasa-basi.

He,” tunjuknya pada seorang laki-laki. “You see that car?” tunjuknya lagi pada mobil yang sedang melaju cepat dengan ugal-ugalan dibelakang pria itu.

Aku melebarkan kedua mataku. Ini tidak mungkin, aku harus mencegahnya, bagaimanapun caranya.

*

Aku membuka mataku. Pandanganku kabur, kepalaku terasa sangat sakit. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berusaha memperjelas penglihatanku. Semua bernuansa putih. Dimana aku?

“Hyena, kau sudah sadar?” tanya seorang pria seraya mendekat dan menggenggam tanganku.

“Kyu… Kyuhyun?” tanyaku pada pria itu.

“Syukurlah, kau masih mengingatku, aku pikir kau akan meninggalkanku. Jangan pergi lagi dariku, Hyena…. “

 

_THE END_

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: