Bigger

jm

Bigger

***

 

SAEJIN POV

Annyeonghaseyo, Lee SaeJin imnida. Seperti biasa, setiap aku berangkat sekolah harus selalu berdesak-desakkan di dalam bis. Huh! Percuma sekali kalau dari rumah aku sudah rapih tapi ujung-ujungnya berantakan~ membuat moodku rusak. Aku heran, aku tinggal di kota kecil bernama kyongju tapi bisnya bisa sepenuh ini.

“SaeJin-ah! waeyo? Kau… bangun kesiangan terus langsung berangkat ya? Makanya penampilanmu seperti white witch…hahahaha~”

1 hal lagi yang sudah jadi kebiasaan tiap pagi di sekolah. Dia Cho KyuHyun. Namja aneh yang sudah jadi teman dekatku selama 1 tahun ini. Walaupun dia aneh, tapi KyuHyun selalu bisa membuatku tersenyum. Ya apalagi kalau bukan karena keanehannya itu.

“Kenapa sih tiap hari kau bicara seperti itu? Tidak ada kata-kata lain apa? Menyebalkan!” protesku.

“Haha… aku kan cuma bercanda, SaeJin-ah!

“Tapi kau selalu saja bilang kalau aku ini berantakan!  Ini kan bukan kemauanku. Asal kamu tahu ya, tadi pagi aku meyiapkan diri habis-habisan agar kau tidak menyindirku. Tapi mau bagaimana lagi… Huh! heran, memangnya bis cuma 1 apa?! Tiap hari penuh terus!” gerutuku tidak jelas, malah menyalahkan bis.

“Sudahlah SaeJin-ah. Kalau  memang kau berantakan, akui saja. Aku maklum kok dengan dirimu yang berantakan. Tidak usah sok-sok dandan. Aku suka kamu apa adanya…” kata KyuHyun sambil tersenyum jahil.

“Mwo?! Neo… bicara apa barusan!  Jangan harap aku mau dandan buatmu !” kataku sambil buang muka.

“SaeJin-ah, jangan marah. Aku kan cuma bercanda. Mianhae..”

Aku tetap diam lalu beranjak pergi.

“SaeJin-ah, Kau mau kemana? Tunggu!” teriak KyuHyun memanggilku. Aku tidak menghiraukannya. Aku terus saja berjalan dengan muka datar.

“SaeJin-ah, mianhe, jangan marah ok…” kata KyuHyun sambil terus mengikutiku. Aku tetap diam. “SaeJin-ah…” KyuHyun memotong jalanku dan berdiri didepanku dan memasang tampang memelas.

“SaeJin-ah…mianhe, tak akan kuulangi,” Melihat KyuHyun memasang tampang memelas begitu membuatku tidak kuat menahan tawa.

“Hahahaha… mukamu itu jelek sekali KyuHyun-ah! Mirip anak anjing yang hilang… sudahlah, tidak usah sok innocent!” kataku sambil tertawa keras.

“Ya Lee Saejin! Kenapa malah menertawaiku?!  Aish jinjja. Aku ini benar-benar mengira kau marah padaku!” sergah kyuhyun tidak terima.

“Hahahah mianhe… habis mukamu itu aneh sekali kyuhyun-ah…” kataku masih terkekeh.

“Selamat pagi semua…” sapa Kim seonsengnim, wali kelasku. Aku, kyuhyun dan seluruh isi kelas segera duduk di tempat masing-masing. Kyuhyun duduk di sebelahku.

“Hari ini kelas kita akan kedatangan murid baru pindahan dari Busan. Silahkan masuk…”

Melihat siapa yang masuk ke kelasku, aku langsung speechless. Bagaimana tidak? Sekarang di depan kelas ada seorang namja tinggi, bahu bidang, dengan postur tubuh seperti model catwalk. Wah… tipe idaman semua yeoja. Dia bahkan lebih tampan dari Edward Cullen.

“Annyeonghasaeyo, Choi Siwon-imnida..” katanya sambil membungkukkan badan.

Aku cuma bengong dibuatnya. Aku bahkan tidak sanggup menutup mulutku. “Ternyata di dunia ini benar-benar ada vampir!” gumamku pelan, masih menatapnya tidak percaya.

“SaeJin-ah!” panggil KyuHyun menyadarkan lamunanku.

“Aish! Kau mengagetkanku saja!” protesku tidak terima. Aku kan sedang asik membayangkan Edward Cullen ini.

“Neo… kenapa melamun pagi-pagi? Tadi kau bilang apa? Vampir?”

“A… aku tidak bilang apa-apa! Telingamu saja yang terlalu banyak bakterinya!” kataku gugup.

“Siwon-ssi, kamu bisa duduk di kursi sebelah sana…” kata Kim seonsengnim sambil menunjuk kursi kosong di belakangku.

“Ne, gamsahamnida seonsengnim…” Siwon pun berjalan dan duduk di meja dibelakangku.

“Annyeong, Siwon-ssi! Lee Saejin-imnida..” kataku sambil mengulurkan tangan.

Siwon membalas jabatan tanganku dan tersenyum.

“KyuHyun-imnida!” seru KyuHyun tiba-tiba sambil melepas tanganku dan tangan Siwon yang masih bersalaman. Dan sekarang dia yang bersalaman dengan Siwon. Kenapa makhluk ini? Aneh…

***

                Yah, beginilah rutinitasku tiap hari di sekolah. Bedanya, biasanya aku kemana-mana selalu dengan Kyuhyun, maksudku tidak kemana-mana juga sih, kalau ke toilet tentu saja sendiri, tapi seringnya aku main dengan kyuhyun. Sekarang, ada Siwon. Baguslah, biar aku tidak bosan meliat muka Kyuhyun terus.

“SaeJin-ah, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Siwon suatu pagi di kelas.

“Tentu saja, mau tanya apa?”

“Mmm… kau… dekat dengan Kyuhyun-ssi ya?” tanyanya hati-hati.

“Hah? Ne, aku  berteman baik dengannya. Waeyo?”

“ah, tidak apa-apa. Seberapa dekat dengan KyuHyun-ssi?” lanjutnya lagi.

“Hmm… lumayan dekat. Soalnya kita sekelas dan berteman baik semenjak kelas 10, jadi ya bisa dibilang sudah seperti soulmate.” Kataku menjelaskan.

“Soulmate? Kalian pacaran?”

“Ahh, aniyo! Bukan seperti itu, hanya saja aku bisa melakukan 1001 macam keanehan dengannya. Makanya kami soulmate, bukan Romeo dan Juliet tapi lebih mirip Spongebob dan Patrick.” Jawabku sambil tersenyum.

“Tentu saja aku Spongebob-nya. Mana mungkn aku Patrick, hahahha~,” lanjutku sambil membayangkan muka anehnya. “Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu?

“Aniyo saejin-ah. Aku cuma ingin tahu.  Dengan begini aku jadi lebih tau tentang kyuhyun-ssi.” Katanya.

“Aaah~ tapi… kenapa kau tidak bertanya langsung saja padanya?”

“Aku maunya bertanya padamu. Boleh kan?” katanya sambil tersenyum ala artis Korea.

Aku mulai berpikir. Ada apa dengan Siwon? Pertanyaannya aneh sekali.

***

“SaeJin-ah, kau dari mana?” kata kyuhyun menghampiri mejaku.

“Oh, tadi aku dan Siwon-ssi sedang ngobrol biasa…Harusnya aku yang bertanya, kau tadi dimana, menghilang begitu saja!” Jawabku.

“Justru daritadi aku berusaha mencarimu,” katanya. “Siwon-ssi eodisseo?”

“Lagi pesan makanan. Sini duduklah, kau mau makan tidak?”

“Ani. Aku tidak lapar. Aku duluan saja kalau begitu!” katanya lalu beranjak pergi, tapi tiba-tiba  Siwon datang, membawa 2 piring. Anehnya kyuhyun dengan otomatis membalikan badan dan langsung duduk disebelahku.

“Siwon-ah, kau makan banyak sekali, sampai 2 piring…” kataku sambil melihatnya ngeri. Ternyata orang tampan kalau makan porsinya porsi orang kelaparan.

“Ah. Ini untukmu Saejin-ah. Aku tidak suka makan sendiri. Jadi temani aku makan ya!” Katanya sambil menaruh piringnya di hadapanku lalu duduk.

“Oh, Kyuhyun-ssi, sejak kapan ada disini? Mian, aku tidak bawa apa-apa untukmu. Aku tidak tahu.  Atau tunggu sebentar ya! Aku akan pesankan untukmu, mau makan apa?” tanya Siwon sambil berdiri lagi.

“Aniyo Siwon-ssi. Gwencanha. Aku tidak lapar. Gomawoyo…” kata Kyuhyun.

Siwon pun duduk lagi. “Ne.Saejin-ah, ayo dimakan.”

“Ne! Gomawo siwon-ah~! Kau sudah mentraktirku makan. Kau baik sekali, tidak seperti temanku yang pelit ini,” kataku sambil menyikut kyuhyun. “Keunde… kyuhyun-ah, bukankah tadi kau bilang kau tidak lapar? Kenapa duduk disini?” tambahku.

“Mw…mwo? Memangnya salah kalau aku ingin menikmati pemandangan kantin? Aku kan bayar di sekolah ini.” Katanya sewot.

“Ne…ne…lanjutkan saja alibi bodohmu itu, bilang saja kau ingin berada di dekatku terus kan?”

“MWO? Jangan bicara hal yang tidak mungkin saejin-ah,” jawabnya sinis.

“Kalau begitu kenapa masih disini? Pergi sana!”

“Kau mengusirku?”

“Terserah apa namanya. Yang jelas cepatlah pergi sebelum orang mengira kau naksir padaku!”

“Andwe!”

“Baiklah… kalau begitu kau naksir padaku. Lalalalala~” aku menutup telingaku, dia tidak menjawab lagi dan memasang tampang cemberutnya.

***

Hal lain yang aku benci selain harus tiap pagi naik bis adalah pelajaran olahraga. Bukannya gara-gara aku tidak bisa olahraga, tapi aku tidak  suka berkeringat. Badanku suka gatal-gatal kalau berkeringat. Aku begini dari kecil.

“Saejin-ah, gwencanha? Mukamu  merah-merah…” ujar Kyuhyun. “Alergimu kambuh ya?”

“Ne. Ya sudahlah, kyuhyun-ah. Gwencanha, nanti hilang sendiri kok…”

“Ani saejin-ah. Kau tunggu sini ya, aku mau minta obat dan handuk buatmu. Sebentar ya…” katanya sambil beranjak pergi. Yak! aku sendirian…

“Saejin-ah, ini minumlah,” kata Siwon tiba-tiba sambil menyodorkan sebotol air mineral. “Loh? Kau sakit?” tanya Siwon ketika dia melihat mukaku yang merah karena gatal.

“Gwencanha siwon-ah. Memang setiap habis olahraga aku seperti ini. Tenang saja.” Jawabku sambil menepuk-nepuk pundaknya dan tersenyum.

Siwon masih memperhatikanku. “Ya sudah, ini buatmu. Minum dulu..”

“Gomawoyo..” kataku sambil menerima botol air mineralnya.

“SaeJin-ah, apakah kyuhyun-ssi memang berasal dari KyongJu?” tanya Siwon sekonyong-konyong. Ehh? Kenapa lagi dia?

“Aniyo, kyuhyun pindahan dari Seoul…”

“Wah, jauh juga ya dari Seoul. Berarti dia kaya?”

“Yaaa…mungkin?” jawabku seadanya.

“Saejin-ah!” panggil kyuhyun. “Ini obat dan handuknya. Mianhae lama sekali,” lanjutnya. Ketika melihat siwon, raut muka kyuhyun seketika berubah.

“Gomawo kyuhyun-ah,”

***

Tidak terasa kelas 11 sudah hampir berakhir. Kadang-kadang siwon masih menanyaiku soal kyuhyun. Seperti sekarang ini.

“Saejin-ah, mau menemaniku ke perpustakaan tidak?” tanya Siwon suatu hari ketika jam istirahat. “Ato kau mau ke kantin?”

“Hmm… ani. Aku tidak lapar, kita ke perpustakaan saja.” Kataku sambil tersenyum.

“Kyuhyun-ah,  aku ke perpustakaan dulu, kau duluan saja ke kantin. Nanti aku susul.” teriakku pada kyuhun. Aku melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi keburu aku tinggal. Aku pun ke perpustakaan dengan siwon.

“Saejin-ah, kau tahu tidak dimana rumahnya kyuhyun-ssi?” tanya siwon. Aish. Mulai lagi dia.

“Hah? Rumahnya kyuhyun?” Kenapa sekarang dia tanya-tanya rumahnya kyuhyun? Jangan-jangan…. “Eeh… tidak jauh kok dari sini. Wae?”

“Aniyo. Kalau rumahmu sendiri?”

“Rumahku cukup dekat rumah kyuhyun. Cuma beda beberapa jalan saja kok.” Kataku pelan.

“Wah, berarti kyuhyun-ssi suka main ke rumahmu ya?” tanyanya semangat sekali.

“Yaaah…kadang-kadang. Memangnya kenapa?”

“Keuromyeon, kalau kyuhun-ssi main kerumahmu aku juga mau ikut, boleh kan?” tanyanya lagi, kali ini sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja, nanti akan kukabari.” Jinjjayo. Dia makin mencurigakan.

“Keundae, apakah kau sering main ke rumah kyuhyun-ssi?”

“Eh, kalau itu tidak pernah…”

“Waeyo?” tanyanya masih merecokiku. Tahu begini aku ikut kyuhyun saja.

“Soalnya kyuhyun tidak pernah mengajakku main ke rumahnya. Sepertinya memang tidak ada yang pernah main ke rumahnya. Entahlah… aku tidak bertanya lebih jauh, takut dia tersinggung. Kamu mau ke rumah kyuhyun juga?”

“Ne. Aku ingin sekali! Aku ingin tahu rumahnya seperti apa,” jawabnya sambil tersenyum. Aku cuma terkekeh. Tapi pasti dia belum selesai.

“Apa kyuhyun-ssi tinggal dengan orang tuanya?” Tara! Aku benar kan, dia belum selesai bertanya. Harusnya aku dapat piring cantik.

“Setahuku tidak. Orangtuanya bekerja di Seoul. Kalau tidak salah sih, orang tuanya bercerai dan kyuhyun memilih tinggal sendiri…”

“Ah~ pasti kyuhyun-ssi kesepian ya di rumah…” Demi Tuhan. Kenapa dia peduli?

“Yah mungkin?” Aku harus cari tahu kenapa siwon selalu seperti ini.

“Siwon-ah, sekarang aku yang bertanya, boleh kan?”

“Tentu saja, kau mau tanya apa?”

“Tapi kau jangan marah…”

“Ne.”

“Chogi… siwon-ah, bukan maksudku men-judgemu tapi… apakah kau seorang gay?” tanyaku takut-takut. “Aku tidak  bermaksud apa-apa, tapi aku bingung, dari dulu kau selalu bertanya tentang kyuhyun, aku jadi berpikir, jangan-jangan kau suka ya dengan kyuhyun?”

Siwon lagi-lagi cuma tersenyum. Yang membuatku tambah yakin kalau ada sesuatu yang aneh. “Kalau iya, waeyo? Kau juga suka dengan kyuhyun kan? Berarti kita saingan…” katanya lagi sambil tersenyum.

“Mwo?” kata-katanya tidak masuk akal. Pasti dia sedang berbicara bahasa yunani. Kulihat siwon masih tersenyum. Senyum yang penuh arti sekaligus misterius. Ahhhh bagaimana ini??!

***

                Malamnya aku tidak bisa tidur. Jadi aku turun ke ruang keluarga dan menonton TV. Tapi aku mendengar suara samar-samar dari ruang kerja abeoji. Sebenarnya abeoji bekerja sebagai seorang intel, dia adalah detektif yang menyelidiki kasus-kasus lewat cara ‘belakang’.

Aku penasaran, abeoji sedang berbicara dengan seseorang. Aneh, selama ini aku selalu diperingatkan agar jangan masuk, dan memang tidak ada yang boleh masuk. Sekarang abeoji malah bawa orang.

“Ne, sunbaenim. Tadi siang saya sudah memerikasa semuanya. Memang benar dia orangnya. Kepala Polisi Lim sudah siap dengan surat penangkapan,” aku mendengarkan hati-hati. Tunggu sebentar, sepertinya aku tahu ini suara siapa. Ini… suara siwon! Dia memanggil abeoji dengan sebutan sunbaenim, maksudnya… dia bawahan abeoji? Di..dia… intel?!

“Lebih baik jangan terburu-buru. Lalu, kau bilang apa waktu itu? Dia ada hubungan dengan putriku?” tanya abeoji.

Jantungku berdetak keras. Siapa yang mereka bicarakan?

“Aniyo sunbaenim, setelah penyelidikan saya selama ini, ternyata saejin-ssi dan kyuhyun-ssi hanya berteman saja. Tidak lebih,”

“Baiklah. Aku akan memerintahkan Kepala Polisi Lim untuk merilis perintah penangkapan besok. Kau taruh saja copy-nya di mejaku. Kau boleh pulang,”

Ada apa sebenarnya? Aku tidak dapat berpikir sekarang. Diam-diam sebelum siwon keluar aku bersembunyi di dekat tangga. Aku takut sekali. Aku bukan takut karena siwon ternyata adalah intel. Tapi karena…

Besok… Kyuhyun dalam bahaya.

***

Aku sudah pernah bilang kalau aku benci bis kan? Tapi pagi ini aku sudah tidak peduli lagi bagaimana penampilanku. Aku cuma duduk diam di bis sambil melamun, terutama sejak kejadian tadi malam.

Jadi aku tidak tidur, jam 3 pagi aku menyusup ke ruang kerja abeoji. Dan akhirnya aku melihat semua dokumen penyelidikan siwon. Ternyata kyuhyun adalah anak dari pasangan cho minhyo dan jung hwanhyuk, tahun 2005 mereka membawa kabur uang dari Central Seoul Bank sebersar 250 juta won, dan berhasil melarikan diri. Karena tidak mau hidup menderita karena dikejar-kejar polisi, jung hwanhyuk, ibunya kyuhyun memalsukan akte kyuhyun dan menyuruhnya pindah ke kyongju, kota tempat tinggalku yang kecil ini.

Berarti selama ini siwon bertanya tentang kyuhyun bukan karena dia gay, tapi karena kyuhyun adalah buronan polisi. Para intel yakin kyuhyun tahu di negara mana orang tuanya sekarang. Dan sampai kemarin siang siwon berhasil meyusup ke rumah kyuhyun dan mengambil aktenya, setelah di registrasi ternyata benar, akte itu palsu.

Dan hari ini dia akan ditangkap. Andwe!!! Dia kan tidak bersalah!

“Saejin-ah, kenapa mukamu seperti itu? Hari ini kau terlihat seprti Aslan, bukan white witch,” tiba-tiba kyuhyun sudah ada di depanku. Jinjja micheosseo. Aku bahkan sudah sampai kelas dan tidak sadar.

“Kyuhyun-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” aku tidak menaggapi kicauannya. Biasanya setelah komentarnya setiap pagi aku akan pura-pura marah.

“Tanya apa?” katanya sok keren.

“Neo… sebelum pindah ke kyongju… ani. Maksudku, apakah kau punya sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”

“Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak…”

Geojitmal. Dia tidak mau bercerita padaku tentang keadaannya.

“Baiklah kalau begitu. Aku keluar dulu,” kataku lesu. Aku berjalan keluar kelas namun tangannya menarik tanganku.

“Mau kemana?” sergahnya.

“Neo pabo? Tadi kan aku sudah bilang, aku mau KELUAR. Aku mau ke toilet. Kenapa, kau mau ikut?” jawabku kesal. Aku menarik tanganku dan pergi keluar kelas. Aku butuh waktu untuk berpikir.

KYUHYUN POV

Aneh. Dia kenapa sih? Tidak biasanya dia seperti ini. Bertanya hal-hal aneh pula. Yang biasanya bertanya hal-hal aneh kan aku.

Jadi hari ini saejin bolos dua mata pelajaran. Yang membuatku tambah curiga adalah siwon juga menghilang. Sebenarnya aku sudah curiga pada si pabo itu, jangan-jangan dia adalah seorang intel, makanya aku berusaha selalu di dekat saejin supaya dia tidak bertanya macam-macam.

Saat istirahat aku menemukan saejin sedang meanangis di halaman belakang, dan tentu saja si tuan mencurigakan itu ada disebelahnya.

“Saejin-ah, kenapa kau menagis?” aku menghampirinya. Lalu mereka berdua mendongkak melihatku.

Saejin menghapus air matanya. “Aniyo… nan gwencanha,”

“ayo pergi,” ajakku sambil menarik tangannya, bermaksud menjauhkannya dari intel jadi-jadian itu.

“Shireo! Kenapa kau mengajakku pergi? Aku sedang ngobrol dengan siwon-ssi…”

Aish siwon lagi siwon lagi. “Saejin-ah, jebal. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya!” kataku hampir berteriak. Kata-kata itu meluncur begitu saja keluar dari mulutku.

Mereka menatapku tidak percaya. Haruskah aku mengatakannya? Perasaanku tidak enak, kecurigaanku pada siwon sudah sangat besar.

“Saejin-ah joahae. Ikut aku, kita bicara,” kataku memelankan suaraku. Tapi dia menarik tangannya lagi.

“Shireo! Bukankah kau tidak mau mengatakan apa-apa tadi pagi! Aku tidak mau ikut!” sekarang dia yang berteriak. Lalu dia pergi meninggalkanku begitu saja.

***

                Aku sedang melamun di kantin sendirian, bingung harus bagaimana. Aku bolos pelajaran dan diam disini.

“Kyuhyun-ah… aku sudah tahu semuanya,” tiba-tiba saejin ada disebelahku. Dia… benar-benar seperti the white witch kalau seperti ini. Jeongmalyo.

“Ne?”

“Cho Minhyo dan Jung hwanhyuk. Sudahlah tidak usah pura-pura. Aku sudah ta…”

“Saejin-ah saranghae…” kataku tiba-tiba. Aku sudah tidak tahan lagi. Akhirnya dia tahu rahasiaku selama ini. Tapi aku terlanjur meyukainya.

Kami terdiam. Sepertinya dia marah.

“Kyuhyun-ah, kau yakin kalau kau menyukaiku? Sampai-sampai kau tidak suka aku dekat dengan siwon-ssi?” tanyanya.

“Mungkin akan terdengar seperti memanfaatkanmu tapi… iya, aku menyukaimu lebih dari seorang teman, meskipun nyatanya kau pasti lebih suka intel daripada buronan,”

“Ani. Kau salah. Kau tidak menyukaiku sebesar itu. Aku yang menyukaimu lebih besar.” Aku tersentak.

“Kenapa bicaramu makin lama makin mirip the white witch?”

“Karena kau tidak bisa membuktikannya. Sudah jelas aku meyukaimu lebih besar.”

“Memangnya kau bisa?”

“Tentu saja. Akan kubuktikan malam ini,” katanya datar. Lalu dia mendekat. “Datanglah ke sekolah nanti malam jam 8, aku akan menunjukan sesuatu padamu. Kau tidak boleh terlambat,” bisiknya. Aku tidak mengerti . Kenapa harus sekolah? Apa ini ada hubungannya dengan siwon?

***

“Psst… psst… kyuhyun-ah! Ya cho kyuhyun!”

Aku kaget. Ternyata aku ketiduran di dekat gerbang sekolah. Lalu aku melihat saejin melambaikan tangannya, meyuruhku mendekat.

“Waeyo?”

“Aku tadi menyelinap ke rumahmu. Ini bajumu, aku ambil seadanya saja, ini paspor dan visamu. Ini uang dan kunci mobil. Bawa mobilku sampai incheon, beli tiket dan pergi dari negara terkutuk ini. Taruh kunci mobilku di bawah tempat sampah pertama di terminal keberangkatan pertama, aku akan ambil mobilku besok pagi saja. Arasseo?” katanya sambil menyerahkan peralatan hidup yang tadi disebutkan.

“Ige mwoya?”

“Mianhe kyuhyun-ah, aku tidak tahu kalau selama ini abeoji sedang menyelidiki kasusmu… dan Siwon-ssi adalah intel. Aku baru mengetahuinya kemarin. Dan dia sudah keburu punya rencana malam ini untuk menangkapmu. Makanya aku menyuruhmu kesini dan membawakanmu ini, sekarang pergilah…” lanjutnya.

Dia…

“Waktumu tidak banyak, mereka sedang dalam perjalanan ke rumahmu, dan abeoji tahu aku sedang pergi.”

Dia melakukan ini semua…

“Kyuhyun-ah, aku sudah membuktikan perkataanku kan? Perasaanku lebih besar. Aku tidak bohong kan?” katanya sambil mulai menangis. Aku langsung memeluknya, membenamkan wajahku di rambutnya yang panjang.

Dia melakukan ini semua… untuk menyelamatku.

“Mianheyo karena sering mangataimu the white witch…” kataku masih dipelukannya. Dia terkekeh pelan ditengah tangisannya. “Saejin-ah saranghae. Suatu saat, aku akan kembali dan berlutut dihadapanmu. Aku berjanji. Itu pembuktianku.” Kataku mantap dan menatap matanya yang basah. Pelan-pelan aku menghapus air matanya, lalu kucium keningnya.

“Saejin-ah, kau tidak akan melupakanku kan?”

“Aku? Mana mungkin aku melupakan komentator permanenku?” jawabnya.

Aku memeluknya lagi. Rasanya nyaman sekali. Aku makin tidak ingin beranjak pergi.

Dia melepaskan pelukannya. “Ini untukmu. Kalau kau melupakanku aku akan melaporkanmu ke polisi supaya kau dipenjara,” katanya sambil tersenyum jahil dan memberikanku sebuah kalung, liontinya adalah inisial namanya.

Aku benar-benar tidak tahan, kenapa semuanya harus berakhir sepetri ini?

Aku tertunduk, aku mengambil sebuah ranting di dekat kakiku, lalu menulis di tanah besar-besar : SAE-JIN-AH, GO-MA-WO-YO

Air matanya jatuh lagi setelah membaca tulisanku, aku mengumpulkan seluruh keberanianku, lalu mencium lembut bibirnya, dan dia membalas ciumanku. Tapi tidak sampai 30 detik, dia mendorongku dan berkata lirih, “Palliwa, kau tidak punya banyak waktu. Abeoji tahu plat nomor mobilku, dia akan segera melacaknya.. pergilah,”

Aku mengangguk dan memeluknya sekali  lagi. Saejin-ah, setelah ini selesai, aku akan kembali dan tidak akan pergi lagi. Aku akan membuktikan kalau cintaku lebih besar, bahkan 10000x lebih besar daripada takdirku ini.

Mianheyo…

SIWON POV

Aku dan rombonganku mencari-cari keseluruh sekolah, aku menemukan jejak mobil yang diparkir di halaman belakang sekolah. Aku mendongkak, ada sesuatu di tanah ini yang janggal.

SAE-JIN-AH GO-MA-WO-YO.

Ternyata benar. Saejin membawa mobilnya untuk menyuruhnya pergi. Mungkin… bandara?

“Siwon-sunbae, kami tidak menemukan apapun. Kita blocking saja jalan utama disekitar sini!” seru seorang hoobaeku.

Dia berlari kearahku, aku harus bertindak cepat. Kuhapus tulisan di tanah ini dengan kakiku.

“Ah ne. Daripada itu, lebih baik kita memeriksa beberapa tempat mencurigakan. Kajja!” aku harus menjauhkan mereka dari bandara.

Aku melakukannya demi Saejin. Kyuhyun-ah, semoga beruntung.

-the end-

Comment's Box

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: